Senin, 19 September 2011

Bush dan 9/11 di Mata Seorang Bocah

Bush dan 9/11 di Mata Seorang Bocah:




Sikap tenang mantan Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush ketika mendapat kabar serangan teroris 11 September 2001, membekas cukup dalam bagi seorang murid sekolah dasar. Seperti apa?


Pagi hari 11 September 2001 itu amat dinantikan bocah-bocah di SD Booker Elementary, Florida, termasuk Lazaro Dubrocq alias Laz. Ia akan menjadi keturunan Amerika pertama di keluarganya dan mendapat kesempatan istimewa bertemu presiden.


Laz melihat Secret Service dan unit K-9 berjaga di depan sekolah, Laz tak keberatan harus mengantri untuk diperiksa. Guru Laz, Bu Daniels, berpesan agar semua anak tak bandel saat presiden di dalam kelas mereka. Tiba saatnya Bush masuk ke dalam kelas dan Laz tersenyum lebar.


Good morning!” sapa Bush. Anak-anak pun bersiap untuk pelajaran membaca, siap membuka buku bertajuk ‘The Pet Goat’. Di tengah-tengah membaca bersama, Laz mendongak karena seseorang tiba-tiba masuk kelas dan berbisik kepada Bush. Tak lama, ekspresi presiden berubah.


Itulah saat mantan Kepala Staf Andrew Card memberitahu Amerika sedang diserang. Meski masih bocah, ia langsung merasa ada yang tak beres. Ia ikut merasa berdebar-debar, namun tetap konsentrasi pada buku di tangannya. Ekspresi Bush, tak bisa dilupakan oleh Laz yang kini berusia 17 tahun.


“Bush tak memperhatikan apa yang sedang terjadi di kelas. Ia sama sekali tak fokus,” kata Laz. Ia memperhatikan Bush menjawab, “I know,” melihat ke sekeliling ruangan dan ke arah kamera. Bush kemudian keluar kelas dan kembali lagi, membagikan permen M&M kepada anak-anak.


Tak lama, Bu Daniels membawa televisi ke dalam kelas, menyalakannya dan anak-anak menyaksikan menara kembar WTC di New York ditabrak dua pesawat hingga rata dengan tanah. “Saya mengira kami sedang nonton film action,” kata Laz.


Bu Daniels menjelaskan, teroris mencuri pesawat dan menabrakkannya ke WTC. Laz cilik berpikir, “Apa itu teroris?” dan sayang tak sempat ditanyakan karena sekolah itu langsung diamankan, khawatir akan diserang juga. Orangtua pun diminta menjemput anak-anaknya.


Laz yang telah menjadi pemuda teringat tragedi 9/11 setiap membuka lemari es. Di bagian pintunya ada kotak kecil M&M dari Bush, kenangan Laz akan hari terburuk itu. Ia melindungi permen itu seperti melindungi bendera negara. Ia selalu ingin mengingatnya.


Bagi pemuda keturunan Kuba dan Meksiko ini, menjadi warga Amerika merupakan hal yang amat membanggakan. Ia ingin menjadi Dubrocq pertama yang lulus dari universitas Amerika. Laz membuktikannya dengan menjadi pelajar pandai sekaligus atlet berbakat.


Ia memilih gulat dan sedang berlatih saat diwawancarai jurnalis. Laz jadi bagian programinternational baccalaureate di sekolahnya dan berada di tempat itu karena ikut kelas akselerasi. Ia tahu apa yang inginkan, termasuk karir yang ia rencanakan sebagai insinyur.


“Saya ingin menjadi pemimpin. Seseorang yang memilih apa yang ia inginkan dan menyelesaikannya, tak peduli apapun yang terjadi,” ujarnya. Laz berjanji akan memulainya di lokasi Ground Zero, bekas tempat berdirinya menara kembar WTC.


Untuk itulah ia berencana kuliah di Columbia University, New York. Ia juga mengaku tak mendendam pada teroris atau merencanakan pembalasan. Pemuda ini secara bijaksana memilih untuk konsentrasi pada masa depannya.


“Tragedi 9/11 membantu saya menjadi lebih dewasa dan memberi sebuah arti baru,” ujarnya. Ia memang masih tujuh tahun saat melihat sorot mata khawatir seorang presiden. Namun kini, Laz menjadi simbol betapa Amerika pernah ringkih dan ia punya sebuahAmerican story untuk membuktikannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman