Senin, 28 Februari 2011

5 Seleb yang Jadi Korban KDRT

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bisa terjadi pada siapa saja, tak terkecuali pada mereka yang punya profesi sebagai aktris atau penyanyi. Mereka mengungkapkan pengalaman menyakitkan tersebut setelah bertahun-tahun berusaha melupakannya. Dari mereka, kita tahu betapa pengalaman kekerasan sewaktu kecil bisa membekas hingga dewasa, bahkan memengaruhi kehidupan kita. Banyak dari mereka yang sekarang menjadi pendukung dan penggalang dana untuk yayasan yang menangani kasus-kasus KDRT.

Rihanna
Inilah selebriti pertama yang pengalaman KDRT-nya menjadi pembicaraan selama berbulan-bulan. Tahun 2009, Rihanna batal tampil di acara Grammy Awards lantaran wajahnya memar-memar setelah sehari sebelumnya dianiaya kekasihnya waktu itu, Chris Brown. Pada Diane Sawyer dari ABC News, dan majalah Glamour, pelantun Love the Way You Lie ini mengisahkan bagaimana mengatasi rasa malunya karena terlibat dalam hubungan yang penuh kekerasan, dan penghinaan setelah foto yang menampakkan wajahnya yang babak belur beredar melalui situs gosip.

Namun perempuan asal Barbados ini lalu menggunakan kemarahannya untuk menghasilkan album baru, dan menjadi role model untuk perempuan lain yang mengalami KDRT dari orang yang dikasihi.

Halle Berry
"Ibu saya adalah korban KDRT, dan masa kecil saya merupakan bagian dari hal itu," tutur Halle pada NBC. Perempuan yang menjadi pendukung Jenesse Center, shelter untuk korban kekerasan domestik di Los Angeles, ini mengatakan bahwa ketika kecil ia sering melihat ayahnya menganiaya ibu dan kakak perempuannya. Pola ini lalu terulang dalam kehidupan Halle. Pada majalah Ebony (1993), ia mengisahkan bagaimana seorang mantan kekasihnya memukulinya hingga ia kehilangan 80 persen indera pendengarannya yang sebelah kanan.

"Begitu ia melakukan hal itu, saya pergi," katanya pada Daily Mail pada tahun 2007. "Ibu saya selalu mengatakan, 'Kalau ada pria yang memukulmu, kamu harus meninggalkannya."

Lepas dari kekasihnya itu, Halle masih merasakan pengalaman buruk bersama pasangannya. Ia sempat mencoba bunuh diri setelah bercerai dari suami pertamanya, David Justice. Tahun 2001 ia menikah dengan penyanyi Eric Benet, yang ternyata kecanduan seks. Lelah mendampingi suaminya yang bolak-balik masuk pusat rehabilitasi, Halle akhirnya memutuskan bercerai.

Charlize Theron
Perempuan ini boleh saja menjadi pembawa misi perdamaian untuk PBB, namun ketika kecil di tempat tinggalnya di Benoni, Afrika Selatan, Charlize hidup bersama ayahnya yang alkoholik dan sering menganiaya. Sang ayah bahkan pernah mengancam untuk membunuh Charlize dan ibunya.

Ketika peraih Oscar lewat film Monster ini berusia 15 tahun,  ibunya menembak mati sang suami sebagai pertahanan diri. Begitu menyakitkan pengalaman ini, sehingga pada tahun 1999 Charlize mendirikan pusat krisis perkosaan pertama di Afrika Selatan, yang kelak menemukan banyak kasus kekerasan intim antarpasangan. Ia juga berpartisipasi dalam Eve Ensler's V-Day Project, yang menggalang dana dan kesadaran untuk membantu perempuan korban KDRT.

Christina Aguilera
Penyanyi yang tengah mempromosikan film pertamanya, Burlesque, ini pernah mengutarakan bagaimana ia tumbuh besar dengan ayahnya yang sering menganiaya. Dalam sebuah rekaman dokumenter untuk tayangan E! Entertainment, Christina mengatakan bahwa ayahnya, Fausto,  punya pendirian yang berubah-ubah, dan penuh kekerasan.

"Saya sudah menjadi saksi tentang begitu banyak hal yang tidak menyenangkan; perkelahian, pertengkaran, perdebatan," katanya. "Saat itu saya merasa tidak aman. Merasa tak punya kuasa itu adalah perasaan terburuk di dunia. Saya beralih menyanyi sebagai solusinya. Rasa sakit yang saya rasakan di rumah adalah asal kecintaan saya terhadap musik."

Christina kerap melelang tiket konser dan memorabilia untuk disumbangkan ke yayasan yang menangani masalah kekerasan domestik. Ia juga berencana untuk membuka rumah penampungan untuk perempuan korban KDRT.

Teri Hatcher
Salah satu bintang serial Desperate Housewives ini pernah mengungkapkan bahwaketika masih kecil ia mengalami penganiayaan seksual dari pamannya.

Ia memaparkan bagaimana penganiayaan ketika seseorang masih kecil bisa memengaruhi kehidupannya sebagai orang dewasa kelak. Dalam suatu wawancara bersama majalah Vanity fair, Teri mengisahkan apa yang terjadi.

Misalnya saja, suatu ketika ia tidak mampu membangun hubungan intim dengan mantan suaminya, saat mereka masih menikah. Teri juga mengatakan kapan tepatnya terjadi pembuahan (yang menghasilkan Emerson, putrinya sekarang), karena itulah satu-satunya hari dalam tahun tersebut dimana ia berhubungan intim dengan sang suami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman