Senin, 10 November 2008

Timbangan Tanpa Keseimbangan

Oleh: Handy Pramudianto


Apakah arti “Timbangan” bagi anda? Hanya sekedar alat bantu beli gula, daging, beras, dan cabai merah keriting? Atau hanya penting bagi para wanita untuk tetap waspada terhadap serangan kegemukan?

Sadarkah anda bahwa timbangan itu merupakan Tujuan Hidup setiap mahluk yang bernafas ataupun bagi benda mati sekalipun, terutama manusia yang berakal?

Mengapa saya berkata demikian? Konsep adanya timbangan didasari pada proses aksi reaksi, di mana adanya tekanan di satu sisi akan menciptakan reaksi terhadap sisi lainnya, yang menjadi indikator penunjuk satuan berat sedemikian rupa, sehingga antara sisi yang satu dengan sisi yang lain saling menyeimbangkan, dan akhirnya terjadi suatu keadaan yang saling impas atau seimbang.

Baik, saya mungkin bukan seorang yang ahli dalam bidang Mekanika dan Fisika. Tetapi sadarkan anda, baik sadar ataupun tidak sadar kita sedang menuju ke arah keseimbangan seperti timbangan tersebut? Saya tidak akan berbicara mengenai konsep yang canggih ataupun teori-teori yang tidak terbantahkan. Tetapi saya mencoba untuk membuka pikiran kita secara simple bahwa apa pun yang dilakukan setiap orang, baik sendiri ataupun berkelompok yang biasa kita sebut berorganisasi, baik organisasi kecil ataupun organisasi dengan skala dunia, sedang mencari suatu keseimbangan yang terus mencari.

Pernahkah anda sadari, mengapa begitu banyak teori marketing yang bermunculan bahkan dari zaman batu dahulu hingga saat ini yang saling bergantian, dan tidak sedikit pula yang saling bertentangan? Dan mengapa banyak teori marketing yang dahulu muncul dan sangat populer, jika diterapkan saat ini, jangan harap bisa berhasil? Dan saya pun yakin 212 persennya Wiro Sableng, bahwa teori marketing saat ini, seperti Customer Centric, Blue Ocean Marketing, dan seluruh konsep marketing yang katanya modern itu tidak akan dapat digunakan kembali 3, 4 atau mungking 5 tahun lagi.

Jawabannya sangat simple sekali, Teman...

Semuanya berasal dari satu kata yang disebut “Keseimbangan”. Ha..ha.. Anda pasti bingung, kan? Bagus!.. anda sedang menuju ke bentuk keseimbangan otak anda antara jawaban ya dan tidak. Bahkan anda mungkin berpikir ini adalah tulisan sampah yang tidak menarik sama sekali, yang berarti kebingungan ini tidak merusak keseimbangan otak anda.

Mungkinkah terjadi yang namanya keseimbangan? Jawabannya mungkin sekali terjadi, tetapi tidak akan pernah ada yang namanya keseimbangan abadi terhadap satu hal. Penyebab utama yang paling mempercepat terjadinya ketidak keseimbangan adalah manusia itu sendiri dengan pikiran dan egonya yang mengklaim dirinya sebagai satu-satunya mahluk yang memiliki akal budi. Dan saya berbicara bukan hanya manusia perorangan, melainkan juga manusia secara keseluruhan. Selama manusia ada, tidak akan pernah terjadi keseimbangan yang abadi.

“Tidak ada satu pun hal yang abadi, karena yang abadi itu hanyalah perubahan.” Katanya... Oleh karena itu, teruslah berubah saudaraku. Jika ingin sukses dan unggul, jadilah aksi yang menciptakan suatu reaksi keseimbangan, dan janganlah selalu menunggu bereaksi terhadap aksi yang muncul. Percayalah, apa pun yang anda lakukan dalam segala hal, pasti akan timbul suatu keseimbangan di luar anda dengan berbagai bentuknya yang disebut reaksi, hingga akhirnya terjadi keseimbangan walaupun mungkin tidak akan pernah terjadi.

Jika anda bingung dengan tulisan saya ini, percayalah, saya pun juga masih bingung. Tetapi saya senang menjadi bingung, karena dengan merasa bingung ternyata saya dapat menikmati hidup yang indah ini. Keputusan yang menilai bahwa tulisan ini aksi yang besar atau aksi yang kecil adalah keputusan anda masing-masing untuk bereaksi terhadap tulisan ini.

Terakhir dari saya, “selamat menikmati timbangan hidup tanpa Keseimbangan, teman...” Ha..ha..

* Handy Pramudianto adalah lulusan Teknik Industri, Universitas Pelita Harapan, Jakarta. Saat ini bekerja sebagai Marketing Analis Divisi Regional I Sumatra, PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk

ABS BUKAN AMANAH

Oleh: Ardian Syam


Pasti banyak yang sudah tahu istilah Asal Boss Senang. Laporan yang hanya menyajikan keunggulan kinerja yang direkayasa untuk menjadi laporan yang baik, dapat dikategorikan ABS. Menyampaikan informasi yang direkayasa sehingga terlihat hanya yang dapat memuaskan atasan, dapat dikategorikan ABS. Memilih untuk mengikuti keinginan atasan walaupun berdampak buruk ke perusahaan, juga dapat dikategorikan ABS. Menyembunyikan hal-hal buruk untuk tidak dilaporkan ke atasan, juga berkategori ABS.

Jadi yang sedang kita bahas di sini adalah ABS yang berkonotasi negatif. Beberapa teman pernah ‘memplesetkan’ istilah ABS dengan maksud melaporkan setiap keberhasilan. Yang saya maksud dalam tulisan ini hanya ABS yang melaporkan laporan palsu sehingga bagi atasan seolah-olah tidak ada masalah yang terjadi di organisasi yang dia pimpin.

Beberapa unit organisasi seringkali berusaha menyenangkan atasan dengan memodifikasi laporan sehingga terlihat baik-baik saja. Hanya 2 hal yang mereka dapatkan (1) mereka tidak dimarahi atasan karena performansi yang buruk. (2) mendapatkan bonus karena performansi yang dilaporkan baik padahal secara real performansi mereka buruk.

Sekedar mengingatkan ada hal yang sangat baik dalam laporan yang buruk. Dari laporan yang buruk seluruh pimpinan dalam jalur unit kerja tersebut ke atas akan dengan segera mengetahui kelemahan perusahaan. Dengan laporan yang buruk maka akan segera dapat diketahui di faktor apa saja perbaikan perlu dilakukan. Dengan laporan yang buruk pula dapat ditentukan berapa biaya yang dibutuhkan untuk perbaikan. Sehingga laporan yang buruk dapat jadi pendamping untuk usulan permintaan penambahan anggaran.

Laporan yang buruk tentang penjualan beberapa jenis produk bahkan dapat menjadi indikasi tentang posisi produk tertentu dalam kurva product life cycle. Sehingga laporan yang buruk ini dapat membantu pimpinan dalam pengambilan keputusan apakah perusahaan akan terus menjual produk tersebut dengan beberapa perbaikan atau lebih baik produk tersebut tidak dijual lagi.

Pengusulan tambahan anggaran tanpa bukti bahwa memang ada hal yang perlu mendapat perhatian untuk segera diperbaiki, akan menyebabkan pengambil keputusan akan menunda pemberian tambahan anggaran yang diminta. Sehingga bila pengusulan tambahan anggaran bila didampingi oleh laporan yang buruk akan memudahkan pimpinan untuk memberikan tambahan anggaran.

Produk yang sudah mulai decline dalam product life cycle seringkali menyebabkan biaya yang dikeluarkan akan lebih besar dari pendapatan yang dapat diperoleh. Sehingga bila produk tersebut masih tetap dijual perusahaan akan banyak menanggung kerugian. Penghentian penjualan produk tersebut mungkin saja akan menyebabkan biaya yang cukup besar dalam proses pengehentian, tetapi sekaligus juga menghentikan biaya-biaya yang akan terus muncul untuk usaha mempertahankan produk tersebut tetap dapat dijual. Sehingga penghentian produk yang sudah decline akan mempertinggi laba yang dapat diraih perusahaan, berarti laporan yang buruk bahkan dapat meningkatkan laba perusahaan.

Dalam pelaporan keuangan, laporan yang buruk justru menjadi sangat penting. Laporan buruk tentang piutang usaha, dalam arti banyak piutang usaha yang sudah lama tidak tertagih akan menyebabkan perusahaan melakukan beberapa strategi yang cukup tepat untuk penagihan. Di sisi laporan laba rugi piutang akan diindikasikan dengan pendapatan tetapi pendapatan tersebut sama sekali masih semu, karena bila pendapatan tersebut tidak tertagih maka tidak ada uang yang masuk untuk digunakan membayar biaya operasi atau membayar gaji.

Begitu pula laporan yang buruk dalam persediaan barang dagang, dalam arti banyak persediaan yang belum terjual. Hal ini berarti akan muncul banyak biaya untuk penyimpanan, belum lagi resiko yang harus ditanggung karena telah banyak uang yang keluar sementara barang tersebut kemungkinan akan rusak dalam tempat penyimpanan. Dengan laporan yang buruk pimpinan perusahaan dapat mengambil keputusan apakah persediaan yang telah lama disimpan dapat segera dijual walau dengan harga yang rendah, bahkan di bawah biaya produksi agar dapat mengurangi resiko keluar biaya yang lebih besar untuk penyimpanan.

Maka seluruh laporan yang buruk dalam laporan keuangan sangat penting bagi perusahaan karena berarti pimpinan dapat segera mengambil keputusan untuk menyelamatkan keuangan perusahaan.

Posisi yang kita pegang dalam perusahaan berarti 2 hal. (1) Kita memiliki kompetensi dan sekaligus dipercaya untuk menjalankan fungsi yang diharapkan dari posisi tersebut. (2) diberi amanah oleh perusahaan untuk menjalankan fungsi yang diharapkan dari posisi tersebut.

Amanah yang kita emban pada saat kita menduduki posisi tertentu bukan hanya dari perusahaan. Setiap pejabat yang membuat laporan mendapat amanah dari perusahaan untuk menjaga perusahaan tetap menjadi wealth multiplying organization dengan mengusahakan perusahaan mendapatkan sustainable outstanding financial performance. Setelah mendapatkan sustainable outstanding financial performance, berarti perusahaan dapat meningkatkan laba karena berhasil mengambil keputusan yang tepat, maka perusahaan dapat memberikan tambahan penghasilan berupa bonus, jasa produksi, bahkan menaikkan gaji karyawan.

Dengan peningkatan pada penghasilan pribadi kita berarti kita juga sedang meningkatkan pemenuhan kebutuhan utama seluruh anggota keluarga kita, makanan yang baik-sehat-cukup jumlah untuk setiap anggota keluarga, pendidikan yang lebih layak untuk anak-anak, rumah yang lebih sehat dan banyak lagi kebutuhan utama yang sudah dapat kita penuhi karena tambahan penghasilan. Dengan demikian berarti kita juga memegang amanah dari keluarga untuk meningkatkan penghasilan yang akan digunakan untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan utama. Sehingga dengan laporan yang buruk, bahkan kita sedang berusaha menunaikan amanah kita terhadap keluarga.

Padahal dengan berbagai cara dan dari berbagai sisi laporan yang buruk justru akan berakhir pada kebaikan. Dengan melaporkan apa adanya maka kita justru sedang menunaikan banyak amanah yang kita emban. Sedangkan bila kita melaporkan dengan ABS atau laporan yang ada apa-apanya (bukan yang apa adanya) maka kita berarti sedang mengkhianati amanah yang kita emban.

Selain itu, melaporkan apa adanya berarti kita tidak sedang berbohong kepada siapapun, salah satu amanah yang diturunkan SANG PEMILIK KEHIDUPAN kepada kita.

Masih perlukah anda membuat laporan yang ABS?

* Ardian Syam menempuh pendidikan terakhir di Magister Akuntansi, UGM, Yogyakarta, 2004. Saat ini ia bekerja sebagai Financial Analyst di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., Divisi Regional I Sumatera, sekaligus menjadi dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ardian dapat dihubungi di: ardian.syam@gmail.com

Destiny

Oleh: Agung Prabowo, ObTpH


Everything that irritates us about others can lead us to an understanding of ourselves.
[Carl Jung]

Kerja! Kata yang begitu mempesonanya sehingga berpengaruh dalam urat nadi kehidupan kita. Ada sebagian diantara anda dan juga saya, rela menghabiskan waktunya di sekolahan sekedar sebagai penantian. Bisa penantian yang diisi sambil belajar, bergembira, berfoya-foya atau bisa juga merenung bahkan meratapi. Pastinya, penantian itu menghantar ke jurusan pintu gerbang yang disebut “kerja”. Mungkin sebagian dari anda pun ada yang sudah tak sabar menanti di bangku sekolah. Sehingga memutuskan untuk sekolah sembari bekerja. Juga tak sedikit yang langsung memutuskan untuk bekerja tanpa repot-repot menanti di sekolah.

Disisi lain, tak sedikit pula orang tua yang sibuk mengusung kata kerja sebagai gerbang keberhasilan anak-anaknya. Sampai-sampai ada orang yang harus rela membeli dengan kecongkakan selembar ijazah sebagai syarat untuk bekerja.

Begitu mempesonanya kerja itu sehingga (dalam kehidupan seperti tadi) tidak memberikan ruang-ruang kepada kita untuk sekedar mencicipi selain dari gerbang yang disebut kerja. Setiap kita bernafas, menoleh, berjalan, berlari, bercinta, makan, berbicara, bahkan tidur sekalipun selalu kita menjumpai gerbang mempesona yang disebut kerja. Saking mempesonanya kata “kerja”, sehingga begitu tidak banyaknya pilihan selain kata kerja sebagai pilihan hidup.

Anehnya, ketika kita sudah sampai dan masuk pada gerbang yang disebut kerja, tak sedikit diantara kita yang kemudian merasa kecewa. Bahwa yang terjadi bukan pesona kerja seperti yang dibayangkan saat menunggu di persekolahan. Malahan sebaliknya kerja bukan menjadi pesona lagi, malahan menjadi malapetaka dalam hidup kita.

Bagaimana itu bisa terjadi? Salah satu persoalannya adalah bahwa kerja itu tidak diresapi sebagai destiny (panggilan) kita. Sehingga kerja dimaknai sebagai rutinitas belaka, yang apabila hal itu terus-menerus terpupuk, bisa berujung pada virus keterpaksaan. Virus inilah yang harus kita cegah karena bisa menggerogoti keluhuran dari makna kerja yang mempesona itu.

Bagaimana kita mengantisipasi hal itu? Salah satunya adalah dengan menemukenali destiny kita. Bagaimana menemukenalinya? Jung, seorang pemikir dalam bidang psikologi menterjemahkannya dengan istilah yang lebih genuine, yakni kesadaran kolektif. Semacam kesadaran akan sesuatu yang kemudian juga disadari juga oleh orang lain. Sehingga membentuk pola dalam sebuah masyarakat.

Bentuk dari menemukenali destiny gaya Jung adalah dengan mencari persamaan karakter kita dengan tokoh-tokoh. Bisa tokoh dari dalam kisah kitab suci, pewayangan, komik, film kartun, tokoh-tokoh berpengaruh abad ini, bahkan orang yang kita jumpai dalam perjalanan hidup ini. Kita dapat menemukan karakter-karakter yang nyaris sempurna mirip dengan karakter kita.

Sahabat dan inspirator belajar saya(Andrias Harefa) dalam buku best seller-nya Sukses Tanpa Gelar, menuliskan 15 tokoh yang sukses tanpa gelar di dunia ini. Itu adalah cara praktis menemukenali destiny kita. Yang terpenting ketika kita menemukan kemiripan itu adalah timbul dalam diri kita kemiripan-kemiripan yang berbuah pada sebuah kesadaran. Dan ketika kita menemukan kesadaran itu, kita seperti dibimbing menuju pada destiny kita. Itulah salah satu cara menjaga makna kerja yang mempesona. Bagaimana dengan kita?

* AgUNg PrABOwO,ObTpH adalah alumnus Fakultas Psikologi Universitas Surabaya dan Pendidikan Sistem Bisnis Terapan jurusan Teknik Industri, ITS Surabaya. Ia suka menyandang gelar informal ObTpH [Orang Bodoh Tapi Pengen Hebat]. Bagong, demikian nama panggilannya, sekarang sedang menyelesaikan metode BAHASA IMAJINASI (Imagined Associate Program). Gagasan yang sempat ditelurkannya ke dalam buku adalah “Memimpin Perubahan” [Indybook press] dan sekarang sedang menuliskan konsep Bahasa Imajinasi. Ia dapat dihubungi di: bagong-obtph@cbn.net.id

Menjadi Penulis Bisakah Diandalkan? -

Oleh: M. Iqbal Dawami


Ajaib! Saya bisa menyelesaikan bacaan dalam waktu kurang dari tiga jam, yaitu sebuah buku yang berjudul Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang karya Andrias Harefa yang bertebal 105 termasuk daftar isi dan biografinya. Saya semangat membacanya karena dua hal: pertama, buku itu aku pinjam dari perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, jadi waktu dan pinjaman tersebut membuatku terpacu ingin cepat meyelesaikannya. Kedua, buku tersebut tentang menulis. Pasti saya akan semangat membacanya, karena itu akan membantu saya dalam menempuh impian. Impianku adalah ingin menjadi seorag penulis profesional. Saya berharap bisa mendapatkan uang dari menulis dan dijadikan sebagai karir. Selain itu karena penulisnya sangat terkenal di belantika tulis-menulis dan juga beliau seorang pakar motivasi. Semua itu menggerakanku untuk membaca dan ingin terus membacanya sampai-sampai aku tak bisa tidur karena tak tenang, karena belum selesai membacanya dan rasa penasarannya. Aku telah mengalami flow.

Ada beberapa hal yang kudapatkan dari bacaanku tadi. Jika saya membandingkan dengan buku-buku lain tentang motivasi menulis, buku ini terasa beda. Buku ini terasa membangkitkan semangat, terutama tentang “Menopang Hidup” bab ke 12. Tidak munafik, saya yakin semua orang—mayoritas—menerjunkan diri dalam dunia kepenulisan bukan hanya sekadar hobi tapi ada juga sisi lainnya yaitu ingin mendapatkan uang. Saya kira ini alasan yang logis selain tulisan kita dimuat di media massa. Dalam bab tersebut telah menjawab pertanyaanku yang selama ini saya cari, “Apakah menulis bisa diandalkan untuk menopang hidup, sebagai tempat mendapatkan rizki?”, Andrias menjawab, bahwa orang yang sudah profesional, menulis bisa dijadikan andalan untuk menopang hidup, bahkan gajinya lebih besar dengan manajer perusahaan atau seorang profesor, asalkan ia bisa menghasilkan, contohnya, 3 tulisan dalam satu minggu. 1 tulisan biasanya mendapatkan honor antara Rp.200.000 hingga Rp.600.000. Jika seandainya 1 minggu 3 tulisan, satu tulisan, misalnya, dihargai Rp.300.000, kemudian dikali 1 bulan, rinciannya (4 minggu X 12 X 300.000), berapa hayo?

Wah sangat menggiurkan bukan? Sungguh kalkulasi itu menggiurkan saya sebagai penulis pemula yang baru belajar (dari dulu-dulu). Ini membuatku semangat dan tak putus asa untuk tetap belajar menulis. Dia juga menceritakan kalau kita menulis itu harus disiplin, komitmen, atau janji pada diri sendiri. Belum lagi misalkan kalau kita menulis buku. Dari menulis buku kita akan mendapatkan royalti minimal (biasanya) 10% per eksemplar. Walau dia sendiri tidak menjamin kalau profesi menulis itu bisa menjamin kelangsungan hidup seorang pengarang, tetapi arah ke sana telah ada dan bahkan sangat memungkinkan karena jaman sekarang adalah zaman knowledge economy. Pengen bukti yang telah ada? Selain dirinya sendiri ada juga yang lainnya misalnya Iwan Gayo yang terkenal dengan Buku Pintar-nya, Ayu Utami dengan novel Saman-nya yang mendapat penghargaan, Dewi Lestari dengan Super Nova-nya, dan atau Helvi Tiana Rosa.

Saya kira itu merupakan bukti kalau jadi penulis pun bisa dijadikan andalan hidup kita, artinya, kita mencari rizqi bisa lewat menulis. Namun untuk menjadi penulis sebagai profesi tidaklah gampang, butuh pengorbanan yang banyak. Masalahnya adalah tulisan yang kita buat adalah untuk konsumsi orang lain, maka belum tentu bisa dimuat ketika mengirimkannya ke media massa atau penerbit. Ada beberapa hal yang saya salutkan dari Andrias mengenai latihan atau pun komitmennya yang tinggi untuk jadi penulis profesional. Dan kita patut mencontohnya. Di bawah ini adalah ungkapan-ungkapannya yang begitu menggugah saya:

“Apa yang disebut komitmen dapat dipahami sebagai “janji pada diri sendiri”. Dan mengarang akan gampang kalau kita mau berjanji pada diri sendiri, bahwa “saya akan menulis dan terus menulis sampai menjadi penulis profesional”.

“Saya berjanji pada diri sendiri untuk meluangkan waktu mengarang sedikitnya 1 halaman per hari, 7 halaman per minggu, selama 12 bulan. Kalau dalam satu hari saya sempat menyelesaikan satu artikel yang panjangnya 7 halaman, maka saya mengijinkan diri saya untuk “berlibur” 6 hari berikutnya. Kalau saya berhasil menyelesaikan beberapa artikel yang total berjumlah 30 halaman dalam seminggu, maka saya boleh cuti selama 3 minggu berikutnya. Itu saja janji atau komitmen saya."

Alangkah dahsyat kata-katanya itu, sampai-sampai saya begitu merinding membacanya. Ungkapan-ungkapannya itu telah merasuk dan mengalir dengan darah saya. Sekali lagi bahwa menjadi penulis pun kita bisa hidup. Sudah banyak orang-orang yang telah membuktikannya. Sekarang tinggal bagaimana kita berlatih, berlatih, sekali lagi berlatih menulis yang baik. Untuk menjadi penulis yang baik, Onno W. Purbo telah memberikan modalnya, yaitu (1) banyak membaca dan mendalami hal-hal yang kita sukai dan (2) fokus dan berdedikasi pada hal yang kita sukai.

Menurut novelis Amerika, William Faulkner, Menulis adalah 90 % kerja keras, 10 % bakat. Itu pendapat novelis terkenal lho? Lantas bagaimana menurut kita yang baru saja mau belajar menulis? Mungkin bagi saya menulis adalah 100% kerja keras dan 0% bakat. Bagaimana tidak? Saya semenjak SD belajar menulis hingga duduk di bangku kuliah masih saja selalu kesulitan menulis. Beberapa kali saya mengirimkan cerpen atau pun tulisan yang lain selalu saja ditolak. Tapi, aku selalu menghibur diri sendiri, mungkin bukan saat ini aku jadi penulis, mungkin suatu hari nanti, ya suatu hari nanti. Kata-kata itu selalu saya ucap dalam hati kala tulisan saya ditolak oleh media massa. Dan yang penting bagiku adalah selalu belajar, belajar dan belajar menulis hingga semua yang aku cita-citakan tercapai.

Kini peluang menjadi penulis sangat lebar sekali di tanah air kita. Berbagai media massa baik cetak maupun elektrik telah melimpah-ruah. Dan tinggal pilih saja media- media massa yang bisa memuat cerpen-cerpen kita. Kesempatan begitu luas untuk mengarah pada profesi penulis. Karena hampir semua—mayoritas—berbagai media massa memuat karya fiksi terutama cerpen. Sebut saja misalnya, Kompas, Republika, Koran Tempo, Jawa Pos, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, dan masih banyak lagi. Kemudian majalah-majalah seperti An Nida, Ummi, Sabili, Aneka Yess, Hai, Femina, Kartini, dan yang lainnya. Belum lagi tabloid-tabloidnya, belum lagi media-media elektrik di dunia cyber. Semuanya sedang menanti tulisan-tulisan kita. Yang pentiing bagi kita adalah siapkah kita menjadi seorang penulis profesional? Dalam arti siapkah kita melejitkan diri dalam menulis dengan cara terus belajar, menambah wawasannya, dan berdisiplin? Karena, sebagaimana perkataan Helvy Tiana Rosa bahwa belajar menulis adalah belajar seumur hidup, sampai kapanpun. Selamat berkarya dan ditolak!

*M. IQBAL DAWAMI Lahir di Pandeglang, 02 Mei 1982 telah menyelesaikan program pendidikan S-1 jurusan Bahasa dan Sastra Arab di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta . Pernah aktif di HMI cabang Yogyakarta komisariat fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan sebagai redaktur pelaksana bulletin Progress HMI. Selain itu juga pernah mengurus media kampus yaitu jurnal Wahatul Adab sebagai sekretaris redaksi. Sekarang mengurus lembaga penerjemahan Tape Translation, dan koordinator komunitas GARIS.

(2) Psikologi Duit: Konsisten Pangkal Kaya

Oleh: Rab A. Broto


Perubahan dari khawatir kondisi akan lebih buruk bila melakukan hal lain ke pola pikir ‘apa yang mungkin’ jelas memberi konsekuensi berbeda. Berpikir tentang ‘apa yang mungkin’ memperluas wawasan sadar dan bawah sadar tentang keberlimpahan. Kasus nyata bisa diamati adalah pada sejumlah anggota komunitas manusia perahu Vietnam yang berimigrasi ke AS. Banyak warga Amerika mengkhawatirkan dampak negatif yang bisa terjadi pada kesejahteraan dan layanan publik lainnya saat mereka masuk.

Tapi menariknya banyak imigran Vietnam yang masuk ke dunia bisnis dengan inisiatif sendiri sering akhirnya menuai kesuksesan besar. Jawaban jelas kenapa mereka sukses adalah bahwa para manusia perahu itu telah melampaui ambang batas ketertindasan.

Dari awalnya berada di negeri yang bila berkata salah saja konsekuensinya adalah kepalanya ditembus pelor, mereka kini masuk ke negeri di mana hal terburuk yang mungkin terjadi adalah orang akan menelepon atau menghinanya saat tak bayar utang.

“Jika Anda datang dari dunia di mana kematian adalah kenyataan yang sering sekali dihadapi ke dunia di mana pilihan tak terbatas, jelas sama sekali tak ada alasan untuk tidak mencoba berbagai kemungkinan yang tersedia.”

Jadi alih-alih marah atau nelangsa karena mesti meninggalkan negeri tumpah darahnya, mereka tampak sangat mensyukuri hidup. Alih-alih tenggelam dalam kesesalan atau mengasihani diri sendiri, banyak di antara manusia perahu mengadopsi sikap kreatif.

Sikap kreatif ini terutama berada di seputar pertanyaan ‘apa yang mungkin?’ Meskipun jelas saat di awal kedatangannya dua atau tiga keluarga harus berdesakan tinggal dalam satu apartemen sempit dan mendapat gaji minimum saat mulai mencari nafkah.

Kreatifnya dalam keterbatasan itu justru mereka mengumpulkan sisa gaji dari yang dibelanjakan bagi kebutuhan hidup rutin. Saat uang tabungan bersama itu mencapai jumlah cukup, mereka memutuskan memulai usaha sendiri dan semua keluarga membantu di situ.

Begitu bisnis berkembang dan memberikan hasil, mereka membeli aset properti untuk investasi. Begitu seterusnya. Bagi para mantan manusia perahu itu, sukses merupakan satu penegasan tentang apa yang mungkin bagi mereka.

Mereka mau dengan sepenuh hati menderita beberapa waktu untuk meraih tujuan jangka panjangnya agar makmur dan sejahtera. Ini jelas hanya masalah menentukan prioritas dan bagaimana mereka mengelompokkan sejumlah kemungkinan yang berbeda.

Jadi prinsipnya setiap orang bisa melakukan apapun yang diinginkan. Pertanyaannya: apa yang akan mereka lakukan untuk mendapatkan kemungkinan hasil tersebut?

Kesabaran menentukan
Dalam soal itu mungkin kebanyakan orang Jerman bisa diteladani. Merupakan satu hal yang lazim bagi kebanyakan orang Jerman untuk menabung uangnya sebelum melakukan pembelian barang yang mahal agar bisa membayar secara kontan pada saatnya.

Di Jerman, satu-satunya utang yang kebanyakan orang miliki adalah cicilan rumah dan mobilnya. Sementara di negeri ini sangat sering warganya menulis surat pembaca karena diperlakukan kasar debt collector karena tak bisa membayar cicilan minimum kartu kreditnya.

Tampaknya orang Jerman menikmati menabung sedikit demi sedikit untuk sesuatu yang spesial. Sebabnya mereka melihat jauh ke depan, pada ganjaran mendapatkan apa yang diinginkan. Segera setelah merasakan kepuasan, mereka segera mulai menabung lagi untuk barang mahal selanjutnya atau liburan petualangannya.

Fenomena warga Jerman yang berkemampuan menunda pemuasan segera yang bisa diberikan kartu kredit ini menarik. Mereka bisa melihat ke depan saat mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan degnan antisipasi dan rasa ekstase.

Mereka tak mengeluh sama sekali karena harus menyisihkan uang setiap waktu untuk bisa mencapai tujuan selanjutnya. Mereka bahkan memusatkan diri pada rasa betapa bersyukurnya mereka atas apa yang dimiliki dan dengan sabar terus melihat apa yang akan mereka dapat.

Kemampuan menunda pemuasan adalah keterampilan yang mumpuni. Menurut Daniel Goleman, penulis buku Emotional Intelligence pada 1995, ini merupakan satu kemenangan penalaran otak atas kehendak impulsif.

“Orang yang mampu mengasah kesabarannya dengan menunda pemuasan kebutuhannya seketika cenderung akan lebih berhasil dalam hidup,” tambah Goleman yang mengutip satu hasil penelitian pada 1960-an tentang sekelompok anak yang diberi melon untuk mengetes kesabarannya.

Anak-anak dalam eksperimen tersebut diundang satu per satu masuk ke satu ruangan oleh peneliti dan masing-masing diberi satu melon. Kamu bisa memiliki satu melon ini sekarang, kata si peneliti, tapi jika menunggu sesaat saat aku pergi kamu akan mendapat dua melon saat aku kembali. Dan si anak ditinggal pergi.

Sebagian anak langsung mengambil buah itu dan sebagian mau menunggu sebelum akhirnya tak bisa menahan godaan ingin segera memakannya. Tapi ada pula yang tetap menunggu. Mereka menutup mata, bersenandung, menundukkan kepala, bermain atau bahkan tidur. Mereka melakukan apa saja untuk bertahan.

Berdasarkan survei kepada orangtua dan guru, anak-anak yang dalam usia empat tahun berkemampuan menunggu beberapa waktu untuk mendapatkan melon kedua, itu memang beda. “Mereka biasanya tumbuh dengan adaptasi diri yang lebih baik, lebih populer, suka tantangan, percaya diri dan bisa diandalkan.”

Berdasarkan uraian Goleman, bukti ini memastikan bahwa kesabaran sepertinya memainkan peran penting dalam kesuksesan banyak orang. Terkait dengan mereka yang sudah dewasa, kemampuan untuk menolak atau mengendalikan hasrat (impuls) dapat dikembangkan lewat praktik.

Saat tiba-tiba dilanda godaan kuat membelanjakan uang untuk sesuatu yang tidak sungguh Anda perlukan, ingatkan pada diri tentang berbagai tujuan jangka panjang keuangan Anda. Benturkan pula dengan situasi keuangan saat ini dengan menyadari bahwa Anda menabung sungguh untuk masa depan yang sejahtera dan berkelimpahahan.

* Rab A. Broto adalah penulis dan editor alumni Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Pengembangan Yogyakarta (LP3Y) dengan pengalaman 10 tahun. Sebelumnya, ia bekerja sebagai wartawan dan redaktur di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia. Hingga kini ia telah menulis 2.000 straight news (berita pendek ekonomi, politik dan budaya), 400 features (ekonomi, psikologi, iptek dan kesehatan), 5 makalah seminar dan buku Parent Guide (bagian dari paket pendidikan anak My First One Year Activity Book produksi Pustaka Lebah). Kini Rab A. Broto adalah ketua dewan redaksi pada majalah bulanan Indonesian Tax Review Digest dan Buletin Bee Parent yang diterbitkan Lembaga Manajemen Formasi. Ia dapat dihubungi melalui e-mail: nauram@yahoo.com

INI BARU TRENDY

Oleh: Ardian Syam


Sampai tahun lalu Indonesia mulai menjadi negara yang tidak menarik untuk didiami. Bayangkan saja sejak tahun 1970-an akhir selalu saja berita di koran tentang korupsi, kemudian berlanjut dengan berita bahwa tindakan korupsi tersebut tidak terbukti. Bayangkan, 20 tahun lebih urut-urutan berita yang terjadi selalu begitu. Cerita yang sama dengan tertuduh yang berbeda. Pernah anda bayangkan, anda sedang menonton film, berulang-ulang dengan aktor dan aktris yang berbeda tetapi dengan cerita yang tetap sama. Bahkan urut-urutan adegan yang terjadi dalam film tersebut sama. Setiap menonton suatu adegan, anda sudah bisa menebak adegan apa yang kemudian akan muncul. Mungkin hanya satu hal lain yang berubah, Benar-benar membosankan!

Lebih membosankan lagi adalah bahwa kasus korupsi tersebut terjadi seperti sebuah antrian tiket. Lihat saja bahwa Akbar Tanjung ketika masih menjadi mahasiswa menjadi salah satu pendemo tindak korupsi yang dilakukan pemerintah saat itu, kemudian ternyata yang bersangkutan naik ke posisi pemerintahan dan diakhiri dengan berita bahwa yang bersangkutan melakukan tindak pidana korupsi dan ternyata tidak cukup bukti untuk menghukum. Lalu ingatkah anda pada tahun 1998 Anas Orbaningrum merupakan pimpinan demo terhadap kekisruhan pemerintah yang saat itu diduga korupsi. Cerita kemudian seperti berulang, Anas menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum. Belakangan ini muncul berita, terutama dari pernyataan bendahara KPU bahwa seluruh anggota KPU memperoleh dana dengan kegunaan yang tidak jelas, sekali lagi dugaan korupsi muncul.

Seorang teman berkata, dulu Akbar mendemo kemudian Akbar korupsi. Dulu Anas mendemo, kemudian Anas diduga ikut korupsi. Sekarang kita tinggal lihat siapa saja yang jadi pimpinan demo. Ketika Anas nanti tidak dihukum karena tidak cukup bukti maka tinggal diingat-ingat wajah para pimpinan demo, kalau mereka-mereka itu nanti masuk ke jajaran pemerintahan, maka jangan kaget bila mereka kemudian akan menjadi koruptor. Teman lain juga mengingatkan bahwa hal tersebut sudah terjadi pada Mulyana Wira Kusumah yang sekarang ditahan dan Husnul Mar’iyah yang tidak bisa dihubungi oleh wartawan. Mereka berdua dulu juga pernah memprotes dengan keras urusan korupsi di pemerintahan.

Berita terbaru terdapat 21 BUMN yang terdapat korupsi di dalam perusahaan tersebut. PLN salah satu perusahaan yang membukukan kerugian perusahaan malah memberikan bonus kepada direksi mereka dan kemudian diduga terjadi korupsi di perusahaan tersebut sebesar 4,3 miliar rupiah. Total di seluruh perusahaan BUMN tersebut diperkirakan sekitar 50 triliun rupiah. KPU yang merupakan orang-orang independen dan berasal dari banyak Lembaga Swadaya Masyarakat juga tanpa tanggung-tanggung melakukan pembagian dana taktis kepada seluruh anggota dan diduga merupakan korupsi dengan total senilai 11 milyar rupiah. Bank BUMN juga ikut melakukan korupsi (dengan 150.000 berkas di Kejaksaan) senilai 16 triliun rupiah. Tidak tanggung-tanggung, Kantor Kementrian BUMN Mei 2005 mengumumkan bahwa sekitar 16 perusahaan BUMN yang diindikasikan korupsi. Masyarakat Profesional Madani menambahkan 4 perusahaan BUMN lagi sehingga total terdapat 20 BUMN yang secara total dinilai kerugian sebesar 50 triliun rupiah tersebut.

Kemudian muncul pula berita menggelikan dari Departemen Keuangan, terutama yang disampaikan oleh Kantor Lelang Negara, bahwa utang sampai dengan 2 triliun rupiah akan dipilah pilah dan utang dengan nilai sampai dengan 10 milyar rupiah akan dihapus. Hal yang bertentangan dengan yang dilakukan Bank Indonesia yang menginginkan para pengutang yang macet tersebut dituntut secara hukum.

Bukan hanya Departemen Keuangan, korupsi terjadi juga di departemen dan kementrian lain termasuk Departemen Agama. Sebuah prestasi yang sangat memalukan! Presiden Yudhoyono bahkan menyatakan keheranan, bagaimana negara dengan penduduk yang taat beragama bisa menyimpan begitu banyak kasus korupsi. Saat-saat kedatangan Presiden Yudhoyono ke Amerika Serikat, bahkan disambut dengan pertanyaan banyak masyarakat Amerika Serikat akan isu-isu penting yang terjadi di Indonesia, terutama tentang pemberantasan korupsi.

Ada sebuah joke beberapa negarawan diajak keliling neraka tempat sebuah ruangan yang memonitor tindakan korupsi setiap negara di dunia. Terdapat banyak jam di ruangan itu dan seorang penjaga sedang duduk. Penerima tamu menjelaskan negara dengan jam yang berjalan lambat berarti sedikit korupsi terjadi di negara tersebut. Semua negarawan melihat bahwa jam dengan label RRC berjalan agak cepat, begitu pula dengan India dan beberapa negara Asia dan Afrika. “Itu berarti di negara-negara tersebut korupsi terjadi cukup banyak”, kata petugas pengantar. Jam dengan label Amerika Serikat, Swedia dan Swis berjalan sangat lambat. “Itu berarti korupsi di negara-negara tersebut tidak banyak terjadi”. Semua negarawan lalu mencari-cari sesuatu, hingga salah seorang bertanya “mana jam yang berlabel Indonesia”. Tiba-tiba si penjaga ruangan yang tadi duduk terkantuk-kantuk menjawab “ruangan ini kan panas karena dekat neraka. Nah ini jam Indonesia saya bawa ke dekat saya, lumayan kan bisa jadi kipas angin”.

Prof. JE Sahetapy pernah mengatakan bahwa untuk menangkap tindakan korupsi yang dilakukan Suharto harus dimulai dengan menangkap tindak korupsi yang kecil-kecil di bawah. Saya menyimpulkan bahwa beliau menyatakan bahwa benar memang akan lebih populer bila kita mengejar pelaku yang korupsi di level tinggi dan nilai korupsi yang besar, tetapi juga perlu dikejar para pelaku korupsi di tingkat bawah dengan nilai korupsi yang kecil-kecil. Sehingga selain dapat mengungkap lebih jelas (mencukupkan bukti) bagi pelaku tindakan di atas dengan nilai besar, juga untuk menjaga agar yang kecil tidak menjadi besar.

Analogi yang sama dengan pemadaman kebakaran hutan. Di pusat kebakaran akan terdapat api yang sangat besar, dan di pinggir akan terdapat api yang kecil-kecil. Dengan demikian kebakaran tidak meluas terdeteksi dengan baik dan dapat padam dengan sendiri. Dengan kata lain, untuk masalah korupsi, mulailah dengan menangkap yang kecil-kecil, maka yang kecil-kecil akan mulai bicara tentang yang besar-besar, bahkan mungkin mereka akan mengajukan data-data, dokumen-dokumen dan banyak bukti yang dapat menunjukkan tindak korupsi yang dilakukan oleh yang besar-besar. Bukti yang selama ini selalu tersimpan rapat dan menyebabkan upaya pemberantasan korupsi bagi koruptor besar berakhir dengan kata “tidak cukup bukti”.

Lihat saja kasus yang ada sekarang. Sejak Mulyana Wira Kusuma mulai ditahan karena dugaan korupsi atas pengadaan alat-alat pemungutan suara, kemudian bahwa Chusnul Mar’iah juga mulai dikejar-kejar wartawan, maka bendahara KPU mulai gerah dan membuka cerita baru bahwa terdapat sejumlah uang yang dibagikan dari dana taktis KPU kepada seluruh anggota KPU. Cerita yang kemungkinan besar dilengkapi banyak dokumen yang dapat dijadikan bukti tersebut kemudian menggiring Nazarudin Amin untuk menemani Mulyana.

Ini cerita baru, ini baru cerita. Ini baru trendy. Kita sudah begitu bosan mendengar banyak orang diduga korupsi, kemudian dilakukan proses hukum yang diakhir penghentian pengusutan karena ketidakcukupan bukti.

Perlu diperhitungkan kembali tentang Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi terutama tentang tiga hal bila undang-undang tersebut dapat dianggap sejajar dengan Whistleblower Act di Amerika Serikat. Pertama, perlindungan bagi para whistleblower yang belum terlalu jelas. Terutama perlu dukungan dari media tentang perlindungan pada whistleblower untuk kasus KPU terutama dari BPK dan KPU.

Kedua, nilai uang yang harus dikembalikan oleh para koruptor kepada negara. Di Amerika Serikat, seorang koruptor yang terbukti melakukan korupsi harus mengembalikan uang yang diambil termasuk bunga, yang dihitung dari suku bunga rata-rata bank komersial di Amerika Serikat, dihitung sejak uang tersebut dikorupsi hingga saat pengembalian. Perhitungan bunga tersebut tentu saja masih cukup kecil dengan multiplying effect yang dapat dihasilkan uang tersebut bila digunakan pemerintah untuk membangun perekonomian negara. Namun paling tidak nilai itu dianggap dapat menutupi sebagian besar multiplying effect tersebut.

Ketiga, nilai uang yang akan diberikan kepada para whistleblower. Di Indonesia hanya diberikan sebesar 2 permil dari nilai yang dikorupsi, sehingga bila diperhitungkan korupsi yang didugakan kepada Mulyana sebesar 150 milyar rupiah, maka Khairiansyah, sang auditor BPK, sebagai whisleblower akan mendapat sekitar 300 juta rupiah. Sebuah nilai yang agak tidak sesuai dengan resiko yang akan ditanggung sebagai whistleblower. Akan lebih terbayar resiko tersebut bila paling tidak sang whistleblower dibayar senilai 1% dari nilai yang dikorupsi, sehingga bila terbukti korupsi yang dilakukan Mulyana senilai 150 milyar rupiah maka Khairiansyah akan mendapat 1,5 milyar rupiah. Selain dapat membayar resiko yang akan ditanggung, nilai tersebut juga akan menggugah banyak orang untuk menjadi whistleblower, terutama orang-orang yang memiliki dokumen yang dapat dijadikan bukti.

Bagaimanapun kita acungkan jempol pada KPK, saya memang belum pernah meragukan niat baik Eri Riana Harjapamekas untuk memperbaiki negara ini. KPK benar-benar telah bekerja keras untuk membongkar satu per satu tindak pidana korupsi di negara tercinta ini. Salut juga pada jajaran Kejaksaan yang dipimpin orang yang selama ini saya hormati, Bang Arman (Abdurrahman Saleh). Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) juga perlu dapat acungan jempol tersendiri dengan keseriusan beliau membentuk Timtas Korupsi. Para pihak yang membantu Timtas juga perlu diacungi jempol, tentu saja dengan sedikit saran, kinerja anda akan membuktikan apakah anda melakukan sesuatu yang trendy atau hanya ‘lagu lama’. Terakhir, di atas semua itu tentu saja pada Presiden Yudhoyono yang berhasil menunjukkan keseriusan beliau dalam menciptakan trend baru, tidak kenal takut dengan korupsi. Sikat terus yang skala kecil dan menengah karena mereka nanti yang akan mengantar kita ke koruptor dengan skala besar.

Saya, seperti juga anda ingin merasakan trend baru tersebut karena kita memang sudah sama-sama bosan dengan cerita lama. Kita sama-sama ingin mendengar keluhan dari penjaga ruangan di dekat neraka itu, “payah sekarang tidak bisa lagi memakai jam Indonesia untuk menjadi kipas angin”

*Ardian Syam – Medan – Mei 2005

Dinosaurus, di Mana Dikau Berada?

Oleh: Hari Subagya

“Every human has four endowments - self awareness, conscience, independent will and creative imagination. These give us the ultimate human freedom... The power to choose, to respond, to change.”
-- Stephen R. Covey

Sahabat sukses, kalau anda saya tanya di mana dinosaurus sekarang berada, apa jawaban anda? Anda akan menjawab "Sudah punah." Kalau saya tanya di mana macan india, macan jawa, atau jenis-jenis binatang kuat dan perkasa lainnya, saya yakin jawaban anda adalah "Sudah Punah, atau hampir punah" sehingga anda jarang melihatnya kecuali di TV atau di kebun binatang.

Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari hal ini. Ternyata besar dan kuat tidak menjamin kita menjadi bisa bertahan. Dinosaurus adalah jenis binatang yang sangat kuat. Tidak ada makluk di muka bumi ini yang berani melawan dan mampu mengalahkannya. Lalu mengapa dinosaurus punah?

Jawabanya adalah PASTI, hanya makluk yang bisa beradaptasi lebih baik yang bisa bertahan. Dalam hal ini, manusia adalah salah satu jenis makluk yang paling bisa beradaptasi. Kuat bukan sebuah jaminan, IQ juga bukan jaminan. Kalau anda ingin survive maka CHANGE adalah garansi, anda akan menjadi orang terakhir yang "punah".

Sahabat sukses, segala sesuatu berubah. Cara makan, cara bicara, jenis makanan, alat yang digunakan, selera, teknologi dan hampir semuanya berubah. Apa akibatnya bila anda tidak menjadi orang yang adaptif dan susah berubah serta enggan melakukan perubahan?

ANDA AKAN TERSINGKIR
Salah satu ciri orang yang susah berubah, adalah orang yang malas belajar. Sudah merasa senang di zona nyaman, berfikir kalau segala sesuatunya stabil, tidak memiliki cita-cita yang tinggi, takut terhadap tantangan dan tidak berani mengambil risiko. Masih banyak lagi ciri dan hal-hal yang bisa membuat orang susah untuk berubah.

Belajar adalah salah satu yang paling mempengaruhi orang berubah, tumbuh dan maju. Karena dengan belajar akan terbangun "Kegelisahan positif" untuk melakukan perubahan-perubahan, perbaikan perbaikan dan menjadikan kehidupannya menjadi dinamis dan menarik.

Apakah anda jenis "dinosaurus" yang kuat dan perkasa, namun punah paling pertama? Mungkin anda masih ingat konglemarat-konglomerat yang ternyata bisnisnya hancur dan bangkrut duluan. Mungkin juga anda ingat pembesar-pembesar yang merasa aman dan nyaman, ternyata terpuruk dan menjadi bulan-bulanan media, bahkan sampai sekarang masih menjadi tahanan, atau boronan.

Sahabat sukses, sebaiknya kita mulai menyiapkan diri untuk perubahan, memulai membangun diri menjadi manusia dan pribadi yang siap terhadap perubahan dan jika anda ingin lebih dan berkontribusi, jadilah agen-agen perubahan dalam diri, keluarga, perusahaan atau organisasi organisasi anda. Agar kita bisa menjadi manusia yang lebih bisa memiliki kemampuan bertahan. Lebih tumbuh. Lebih maju.

Have a fantastic day! Salam Perubahan buat anda, dan tinggalkan secara bertahap sifat-sifat dinosaurus yang ada pada diri kita. Sukses untuk anda!

Hari ini adalah hari pertama dalam sisa hidup kita, maka hari ini adalah hari yang paling baik untuk mulai belajar dan mulai perubahan-perubahan itu. Semoga bisa membangun kegelisahan anda untuk berubah dan terima kasih bila anda mau memberitahu teman anda tentang http://www.pembelajar.com pada teman dan sahabat, karena berarti anda sudah mulai menjadi agen-agen perubahan.

Salam Perubahan!

* Hari Subagya adalah penulis buku laris Time To Change

Kekerasan Atas Nama Cinta

Oleh: M. Iqbal Dawami


Akibat dari adanya tragedi Perang Dunia II, penduduk Jepang sering kali merasa bersalah pada setiap makhluk hidup, baik pada sesama manusia maupun hewan serta tumbuh-tumbuhan. Anggapan mereka bahwa terjadinya perang tersebut adalah karena dimulai dari bangsa mereka yang kemudian merambat ke semua negara. Dalam hidupnya mereka mudah sekali meminta maaf, dan merasa bersalah yang berlebihan jika mereka melakukan kesalahan, baik sengaja maupun tidak. Maka tak aneh jika bagi penduduk Jepang budaya bunuh diri sudah mendarah daging, karena berangkat dari perasaan bersalah tadi. Perasaan bersalah tersebut telah diwariskan pada anak-cucu mereka, dari generasi ke generasi. Mereka diajarkan untuk saling menghormati dan menghargai dengan --salah satunya-- membungkukkan punggungnya kepada siapa pun, tak terkecuali pada anak-anak.

Lalu, bagaimana dengan penduduk Indonesia? Padahal saat ini kekerasan dan anarki telah menjadi budaya. Apakah itu yang akan kita wariskan pada anak-cucu kita? Apakah kita bisa menjamin budaya kekerasan itu tidak akan terwariskan pada generasi mendatang bila mereka (anak-anak) saat ini selalu saja disodori budaya kekerasan, baik dalam media cetak maupun elektronik?

Selain kekerasan antar ‘orang dewasa’, kekerasan pada anak-anak juga semakin marak, mulai dari pemukulan, pelecehan, pemerkosaan, pencabulan, dan segala macam eksploitasinya. Saya tak bisa membayangkan masa depan anak-anak yang masa kecilnya mengalami kekerasan. Yang jelas mereka akan mengalami trauma, dan selalu mengingatnya sampai kapan pun. Trauma tersebut kemudian akan mempengaruhi kepribadian dan bisa berdampak negatif pada diri sendiri dan orang lain.

Adalah sebuah hal alamiah jika anak-anak mencontoh orang dewasa. Dengan kata lain, orang dewasa merupakan referensi utama anak-anak, baik secara verbal maupun non-verbal. Baik yang positif maupun negatif. Maka wajar juga jika ada pepatah mengatakan bahwa anak akan belajar menghargai jika ia tumbuh dalam kasih sayang. Sebaliknya anak akan belajar melawan jika ia tumbuh dalam penindasan, masuk akal bukan? Bukankah agama juga mengatakan kalau anak adalah titipan/amanat Tuhan. Artinya, kita wajib menjaga dan menyayangi anak-anak, bukan sebaliknya.

Seringkali orangtua tak menyadari ketika mereka memarahi anak-anaknya dengan bentakan, caci dan makian, dan bahkan terkadang dengan fisik juga. Padahal secara tak langsung mereka telah mengajarkan kekerasan pada anak-anaknya, walau mereka mengatakan atas dasar cinta dan kasih sayang. Oleh karena itu, jika kita ingin menyelamatkan generasi mendatang, kita harus mengajarkan dan memberi contoh yang baik sejak dini. Kasih sayang, perhatian, dan perlindungan adalah komponen yang harus kita berikan pada anak-anak kita, sehingga di masa depannya mereka akan menjadi manusia yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Kemudian mereka pun akan mewariskan hal yang sama pada anak-cucu mereka. Begitu seterusnya.

Lalu bagaimana jika nanti ternyata proses penanaman pengajaran dan pemberian contoh yang telah disebut di atas gagal? Yang pasti orang-orang dewasa baru akan tumbuh menjadi penerus generasi orang-orang dewasa terdahulu, yaitu yang suka membuat kerusuhan, kekerasan atas nama keadilan, dan sebagainya. Mereka akan menjadi orang brutal, haus kekuasaan, dan melakukan segala cara untuk memenuhi hawa nafsunya seperti yang dilakukan para seniornya terdahulu. Jutaan anak tengah siap meneruskan perilaku orang-orang dewasa yang brutal saat mereka menggantikannya. Mereka yang dibesarkan di jalanan seperti pengamen, pedagang asongan, pengemis adalah calon-calon pelaku kerusuhan yang dikomandoi oleh mereka yang dibesarkan di lingkungan borjuis yang melakukan praktik KKN. Itu yang akan terjadi jika mereka semua tak diselamatkan oleh generasi dewasa saat ini. Anak-anak yang ditindas akan menjadi penindas saat dewasa. Anak-anak yang pernah diperlakukan secara tidak manusiawi akan balik menjadi pelaku kekerasan saat dewasanya. Itulah hukum alam. Buah yang jatuh takkan jauh dari pohonnya, begitu pepatah lama mengatakan.

Salah satu yang patut kita perhatikan adalah orangtua dan kebijakan negara. Bagaimana pun peranan kedua pihak tersebut sangatlah signifikan dalam menentukan baik buruknya dunia anak-anak. Orangtua adalah penentu pertama terhadap baik buruknya pertumbuhan anak-anak. Sebagaimana Dorothy Nolte mengatakan, “Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi, jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri, jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali, jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri, jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri, jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.”

Orangtua adalah guru pertama dan yang utama untuk anak-anak. Orangtua merupakan titik tolak anak-anak. Sedang negara merupakan guru kedua yaitu dengan menerapkan kebijakan-kebijakannya melalui lembaga yang bernama sekolah. Nah, jika keduanya bisa mendidik dengan baik dan benar maka anak-anak akan menjadi generasi unggul dan siap menjadi agent of change bagi negara Indonesia ini. Orangtua melalui pendidikannya dengan cara tak mengajarkan kekerasan, namun tak juga memanjainya secara over. Dan negara mendidik melalui kebijakan-kebijakan yang apik di sekolah-sekolah, atau dengan dibuatnya (dan tentunya dilaksanakan juga) UU tentang hak atau memberi perlindungan terhadap anak-anak. Dari situ saya yakin anak-anak bisa menjadi orang-orang yang kita harapkan. Semoga saja.

* M. Iqbal Dawami adalah penulis yang aktif di komunitas GARIS, Yogyakarta

Saham Impian

Oleh: Handy Pramudianto


Apakah anda tahu bahwa kekuatan manusia tidak terbatas? Petuah mengatakan “Gantungkanlah cita-cita/impian anda setinggi langit”.

“Impian” merupakan kekuatan yang tidak ada batasnya karena kita bisa bebas untuk bermimpi apa saja. Dahulu manusia bermimpi untuk memiliki kuda dari besi yang kuat, tidak sakit, dan lebih cepat, sekarang telah berseliweran motor-motor dan kendaraan yang jauh lebih nyaman dibandingkan kuda. Dahulu orang bermimpi dapat berbicara langsung dengan seseorang yang sangat jauh tempatnya tanpa harus ke tempat orang itu, terwujudlah alat telekomunikasi yang saat ini sudah sedemikian canggihnya bahkan dapat berkomunikasi tatap muka. Dahulu manusia bermimpi bisa terbang, sekarang terbang bukanlah sebuah hal yang aneh, bahkan untuk perjalanan ke bulan.

Bayangkan jika saat ini orang saling berlomba untuk bermimpi tanpa dibatasi oleh logika kemungkinan, bagaimanakah jadinya dunia ini 50 atau 100 tahun dari sekarang… Wow…

Nah, berbicara mengenai impian, setiap organisasi ataupun perusahaan sudah sewajarnya memiliki impian pula yang dituangkan pada visi dan misi perusahaan. Dan semakin besar dan tinggi visi dan misi perusahaan tersebut, maka dapat dipastikan perusahaan tersebut semakin besar dan semakin leading dalam kompetisi pasar, siapapun yang memimpin perusahaan tersebut. Permasalahannya adalah seberapa beranikah perusahaan tersebut menyangkutkan visi dan misinya dibandingkan dengan perusahaan lainnya, terlepas dari jenis usahanya.

Lalu apakah mungkin sebuah organisasi dapat seenaknya saja membuat visi dan misinya yang begitu hebat dan tingginya dan dapat merealisasikan visi dan misi tersebut, baik cepat ataupun lambat? Menurut saya 100% sangat mungkin dengan “catatan”… yaitu jika setiap orang yang ada di organisasi itu baik langsung ataupun tidak langsung memiliki padangan visi dan misi yang sama dengan organisasi tersebut dan memiliki keinginan yang sangat kuat untuk mewujudkan visi dan misi tersebut seperti organisasi itu ingin mewujudkannya. Lalu apakah mungkin hal itu dapat terjadi? Ha..ha…perlu usaha yang sangat luar biasa besarnya, anggap saja usaha untuk memindahkan air laut ke daratan.

Saat ini paling tidak setiap organisasi/perusahaan telah berusaha menuju ke arah tersebut dengan menganggarkan biaya yang tidak sedikit untuk mendoktrinasi visi dan misi organisasi tersebut kepada setiap orang di organisasi itu, sehingga sedikit banyak orang yang ada di organisasi tersebut terpengaruh dalam pekerjaannya walaupun tidak 100%. Contohnya seperti implementasi ISO yang memulai segala standarisasinya dengan Visi dan Misi perusahaan, lalu sama halnya dengan penghargaan Malcolm Baldrige yang juga selalu mulai dengan visi dan misi atau tujuan perusahaan.

Semakin tinggi visi/misi organisasi dan semakin banyak orang yang ada di organisasi tersebut searah dan mendukung visi dan misi organisasi, maka semakin besarlah organisasi tersebut, dibandingkan dengan organisasi lainnya.

Jika sekarang persepsi kita saat ini dibalik 180 derajat, yaitu Visi dan Misi organisasi/perusahaan searah dengan visi, misi (Impian) setiap orang yang ada di organisasi tersebut… lalu apakah yang akan terjadi? Jika ada organisasi yang sehebat ini, dapat dipastikan bahwa organisasi atau perusahaan tersebut pasti akan MEMIMPIN DUNIA baik cepat ataupun lambat. Mengapa? Karena setiap individu pada dasarnya ingin “bebas”, termasuk untuk bermimpi dan mimpi setiap individu bisa jadi di luar garis logika yang mungkin. Bayangkan jika anda bermimpi “sangat ingin sekali” sesuatu yang hampir tidak mungkin dicapai, tetapi ada organisasi/perusahaan yang mendukung impian anda 100% untuk mencapainya, apakah anda akan menolaknya? Anda pasti sudah gila jika menolaknya… ha..ha...ha…

Dan bayangkan pula jika setiap orang yang bermimpi di luar batas logika normal saling berkumpul satu sama lain dan saling bekerja sama dalam suatu perusahaan untuk mewujudkan impian masing-masing, di mana perusahaan tersebut memiliki visi/misi “mewujudkan impian karyawannya”….

Mungkinkah perusahaan itu akan hancur? Sementara perusahaan tersebut memiliki saham penting yang berupa impian dari setiap karyawannya?

“Mungkin tulisan ini hanya merupakan impian saya”

* Handy Pramudianto adalah alumnus Jurusan Teknik Industri Universitas Pelita Harapan dan menamatkan sekolah menengahnya di SMA Taruna Nusantara Magelang (1997). Saat ini ia bekerja sebagai Marketing Analis Divisi Regional I Sumatra - PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Ia dapat dihubungi melalui email:

BERANI TUKAR

Oleh: Ardian Syam


Ini memang diinspirasi juga oleh acara di televisi yang dipandu oleh Adi Bing Slamet dengan judul yang mirip. Acara yang begitu berani menukar barang-barang lama yang kita miliki dengan barang baru yang sejenis. Dari televisi terlihat barang baru yang ditukarkan kira-kira memiliki kualitas yang setara dengan barang lama yang dimiliki. Memang ada resiko dalam pertukaran tersebut, karena kita baru mendapatkan barang baru yang ditawarkan bila bisa menjawab dengan benar pertanyaan yang diajukan Adi. Bila tidak terjawab maka barang lama kita akan diambil tetapi kita tidak mendapatkan barang baru yang dijanjikan, tetapi pertanyaan yang diajukan tidak terlalu berat sejauh kita memang sering membaca koran atau menonton berita di televisi.

Belum lagi, barang lama kita akan dilelang. Hasil lelang akan diserahkan pula kepada kita. Sebuah acara yang sangat menguntungkan bagi orang-orang yang mendaftarkan diri untuk ikut acara tersebut. Kira-kira apa yang diharapkan oleh pembuat acara? Sama sekali tidak dapat diduga, karena Adi sama sekali tidak menyebut merek barang, baik barang lama yang dimiliki maupun barang baru yang akan diberikan. Lagipula tidak semua barang tersebut adalah barang spesifik atau barang yang sangat populer sehingga dapat dikenali merek barang hanya dari melihat barang-barang tersebut.

Saya juga tidak akan berpanjang-panjang kata untuk membahas acara televisi tersebut, tetapi ada hal yang saya anggap baru bagi saya mungkin juga bagi Anda.

Ada sebuah jalan di sekitar Jalan HZ Arifin, Medan yang di kiri kanan jalan tersebut dibangun tenda-tenda untuk berjualan makanan tiap malam. Suatu malam saya dan teman-teman makan di sana. Ketika sedang makan, meja kami didatangi oleh 2 orang perempuan dengan dandanan yang sangat bisa ditebak. Sales Promotion Girl. Mereka menawarkan produk rokok. Salah satu rokok yang memiliki kata “mild” sebagai merek produk mereka.

Mereka langsung menawarkan produk tersebut kepada kami. Ditawarkan dengan harga yang sama dengan harga yang bisa didapat di supermarket. Agar tidak lama-lama terganggu kami segera mengeluarkan uang senilai yang dikatakan dan mengambil sebungkus rokok dari mereka. Tetapi ternyata mereka tidak mau pergi. Salah satu dari perempuan itu berbisik ke yang seorang lagi sambil menunjuk rokok “mild” dari perusahaan lain yang terletak di atas meja kami. Kebetulan memang rokok itu yang terletak di meja kami dan memang hanya 1 bungkus, tentu saja selain rokok dari merek yang baru mereka jual.

Si perempuan bertanya kepada kami, “...’Mild’ nya masih ada Pak?” Seorang teman saya membukakan bungkus rokok itu dan memperlihatkan bahwa dalam bungkus tersebut masih terdapat 4 batang rokok. Si perempuan lalu bertanya “Kalau mau tukar, rokok itu buat kami, kami ganti dengan satu bungkus utuh rokok dari kami” Seorang teman saya memberikan saja sambil tertawa tidak percaya. Ternyata benar mereka memberikan 1 lagi gratis, rokok dari mereka. Sehingga di meja kami tidak ada rokok merek lain selain rokok dari mereka.

Benar-benar taktik pemasaran yang sangat berani. Dengan melakukan pertukaran tersebut, secara nyata mereka ingin mengeluarkan pernyataan bahwa saat produk mereka ada di meja, maka tidak ada produk lain yang pantas mendampingi sehingga mereka berani menukarkan produk lain dengan produk mereka. Hal itu mereka lakukan untuk setiap rokok yang diletakkan di atas masing-masing meja. Mungkin saja beberapa orang akan mengeluarkan kembali bungkus lain dari produsen rokok yang berbeda ke atas meja, tetapi bila pengunjung malam itu bersedia menukarkan bungkus rokok mereka masing-masing dan tidak mengeluarkan bungkus lain dari merek yang berbeda maka malam itu di setiap meja hanya akan ada bungkus rokok dari produsen tersebut.

Terbayangkankah oleh Anda efek dari taktik mereka pada malam itu? Setiap pengunjung yang baru datang dan masuk ke dalam salah satu tempat makan yang tersebar di wilayah tersebut. Pengunjung baru itu akan memperhatikan bahwa di setiap meja hanya ada rokok dari perusahaan tersebut.

Efek mengingatkan sudah pasti muncul saat itu. Setiap pengunjung akan teringat pada produk yang mereka jual selama ini. Efek provokatif juga akan segera muncul kemudian. Pengunjung akan terniat untuk mencoba produk mereka karena melihat ada sekian banyak produk tersebut tersebar di hampir setiap meja yang ada. Andaipun ada meja yang tetap mengeluarkan rokok lain, produk mereka tentu masih mendominasi di setiap meja.

Wilayah itu buka hingga pukul 12 malam hari dan mereka turun berpasangan berdua, ada kurang lebih 3 pasang SPG berkeliling wilayah itu sehingga ketersediaan produk di saat itu juga tidak menjadi masalah. Sehingga akan semakin banyak yang mengetahui, mencoba dan kemungkinan akan menjadi pembeli aktif produk mereka.

Bukan cara yang susah ditiru, bukan pula cara yang sama sekali baru. Banyak sekali yang dapat melakukan cara ini. Hanya membutuhkan keberanian SPG untuk menawarkan pertukaran tersebut. Siapapun tidak akan merasa terlalu dirugikan karena tidak perlu bungkus rokok yang masih penuh yang dipertukarkan. Kualitas dan rasa produk mereka juga tidak lebih buruk dari rokok “mild” lain.

Mungkin Anda merasa produk Anda sudah menjadi market leader dan tidak merasa perlu untuk menancapkan ingatan baru kepada konsumen. Boleh saja, tetapi bila produk Anda tidak berada di posisi tersebut, maka tindakan tersebut sangat perlu dipertimbangkan karena dengan begitu Anda bisa mulai ‘mengganggu’ kepemimpinan market leader.

* Ardian Syam menempuh pendidikan terakhir di Magister Akuntansi, UGM, Yogyakarta, 2004. Saat ini ia bekerja sebagai Financial Analyst di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., Divisi Regional I Sumatera, sekaligus menjadi dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ardian dapat dihubungi di: ardian.syam@gmail.com.

Diam! Dengar-Dengar. Lihat-Lihat. Bicara

Oleh: Hari Subagya



Diam! Tanpa sadar, banyak diantara kita sangat pandai berbicara, namun bukan dalam konteks kerja dan berkarya. Sering anda berbicara, berteori, berfalsafah dan menghabiskan waktu dan tenaga hanya untuk menganalisa masalah dengan mem-perbincangkan saja.

Atau lebih parah, anda hanya berbicara soal-soal yang sangat tidak bermanfaat. Gosip, infotainment murahan, ngrumpi, membicarakan tetangga, rekan kerja, atasan dan banyak lagi hal-hal negatif yang akan menghabiskan waktu anda dan memasukan “sampah” dalam pikiran anda.

Diam tidak bicara, adalah pilihan yang bijak untuk anda. Dalam suatu kekacauan, diam bisa menjadi kontribusi untuk semua penyelesaian masalah.

Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya. Diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya "ruang". Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomeli

“Diam itu emas, namun bicara baik dan benar itu berlian”

Inilah ungkapan yang sangat tepat untuk alat bicara kita. Anda memiliki sesuatu yang baik dan benar? Silahkan bicara, jika tidak, sangat bagus jika anda diam. Kesuksesan anda juga sangat ditentukan oleh keahlian anda mengendalikan diri dalam berkata-kata dan berbicara.

Itu pula sebabnya alat output anda jumlahnya lebih sedikit dibanding alat input. Tuhan ciptakan mulut hanya satu, sedang mata dan telinga, masing-masing dua. Orang bijak mengatakan, agar kita lebih banyak melihat dan mendengar dibanding harus berbicara.

Keseimbangan antara bicara dan diam, juga merupakan kunci sukses anda. Anda harus tahu, kapan harus bicara dan kapan harus diam. Keseimbangan ini, hanya anda yang tahu. Coba renungkan! Jika saat ini anda terlalu diam dan kurang bisa bicara, maka belajarlah untuk mengeluarkan pendapat anda. Namun bila anda sudah terlalu bancak bicara, maka sebaiknya anda diam.

Segera berubahlah menuju titik keseimbangan anda dalam diam dan bicara. Perbanyak pula keheningan dalam lingkungan anda, untuk mendapatkan kejernihan dalam berfikir, kejernihan dalam mengambil keputusan.

Silence is the true friend that never betrays. Diam, akan memberi ruang untuk anda. Diam akan memberi ruang untuk lingkungan anda. Diam akan memberi ruang untuk telinga anda mendengar. Mendengar kebijakan, mendengar keindahan, mendengar kebaikan, mendengar bisikan-bisikan kesuksesan yang hanya bisa anda dengar, saat-saat anda diam.

Diam! Jangan berfikir.
Perbanyak gunakan hati.
Diam! Jangan mengeluh.
Perbanyak mensyukuri, apa yang telah anda miliki.

Diam! Berhentilah meminta.
Perbanyak memberi.
Diam! Jangan banyak mengatur.
Perbanyak, memberi ruang dan kebebasan.

Diam! Jangan mengritisi.
Perbanyak merenungkan dan perbaiki diri.
Diam! Berhentilah bicara.
Perbanyak menikmati ketenangan.

Diam! Perbanyak mendengar petunjuk-petunjuk kesuksesan anda.

"Growth takes place in a person by working at a deep inner level in a sustained atmosphere of silence." -- Dr. Ira Progoff

* Hari Subagya adalah penulis buku best seller Time To Change dan buku Success Proposal

Anak-anak yang Bingung

Oleh: Ariesandi Setyono


Pada suatu hari di rumah tetangga, Anton sedang bermain dengan adiknya dan tiba-tiba saja si adik menangis dengan keras karena mainannya direbut. Anton tidak mau mengalah dan malahan mengejek adiknya. Ibunya melihat hal itu terjadi dan dengan serta merta berteriak dengan suara nyaring nan merdu, “Ayooo..., teruskan... ya ganggu adikmu terus. Nanti Mama hukum kamu kalau terus ganggu adikmu. Kan adikmu masih kecil kamu yang lebih tua ngalah dong?“

Anton terdiam kebingungan, dalam hatinya ia berkata, “Lho, tadi katanya disuruh terus, lha kok kalau saya teruskan malah dihukum dan kapan adik akan lebih tua daripada kakak, ya?”

Anton mempunyai pikiran seperti itu karena telah sering mendengar ucapan ibunya yang seperti tadi. Setiap kali ia dan adiknya berebut mainan selalu saja adiknya akan menangis untuk menarik perhatian ibunya. Dan anehnya ibunya selalu mengatakan hal yang sama seperti di atas kepadanya.

Cerita yang lain lagi terjadi ketika saya mengunjungi seorang teman yang anaknya merayakan pesta ulang tahun pertama dalam satu tahun kehidupannya yang membingungkan. Orangtuanya dengan bangga memuji anaknya di depan banyak tamu, ”Aduh cantiknya anak ini. Anak siapa ya ... kok cantik sekali? Mari kemari ini ada hadiah untuk Putri yang begitu cantik.”

Anda perhatikan kalimat yang digunakan oleh orangtua Putri untuk memuji anaknya. Seringkah anda mendengar orangtua memuji seperti itu? Bisakah anda menemukan sesuatu yang janggal dalam kalimat tersebut?

Jika anda analisa lebih dalam anda akan menemukan bahwa pada suatu saat jika kalimat pujian seperti di atas sering diucapkan, anak akan mempunyai pertanyaan besar dalam dirinya; ”Sebenarnya aku ini anak siapa ya? Apa benar anak papa dan mama? Tapi kok mereka sering menanyakan aku ini anak siapa?”

Seandainya pertanyaan itu muncul dalam diri anak, apakah itu wajar? Ya... tentu saja. Orangtua sudah memancing pertanyaan itu untuk muncul tanpa disadari. Apalagi jika anak bertindak tidak sesuai dengan keinginan orangtua lalu dihukum, maka pertanyaan itu akan semakin terdorong keluar. Dalam hati si anak akan mempunyai pertanyaan lagi, ”Eh benar juga ya. Kalau aku benar-benar anak papa dan mama kenapa mereka menghukum aku seperti ini ya. Kalau adik yang melakukannya tidak dihukum seberat ini? Kenapa ya kok aku selalu dihukum lebih berat daripada adik. Jangan-jangan ... Aku ini sebenarnya anak siapa, ya?”

Sampai di sini anda tentu berpikir, ”Wah susah sekali menjadi orangtua. Kok ini salah dan itu salah ya. Saya dulu juga diperlakukan seperti itu oleh orangtua saya. Tapi kok ya .... tidak apa-apa tuh? Sekarang hidup saya juga sukses?”

Oh yaaaa... Pernahkah anda merenung dan menggali dalam diri anda apakah ada konflik-konflik kecil yang timbul yang anda abaikan saja karena tidak tahu jawabannya. Dan anda mengabaikan karena anda melihat sepintas tidak ada pengaruh besar bagi kehidupan anda. Sesekali saja muncul tapiiii .... ya tidak perlu diungkit lagi ah.

Anda benar. Anda bisa sukses dengan apa yang orangtua anda telah lakukan pada anda. Tahukah anda seandainya orangtua kita melakukan sesuatu yang lebih positif lagi dari apa yang telah dilakukannya maka kita bisa jadi lebih sukses daripada sekarang. Bukankah setiap akibat merupakan hasil dari suatu sebab. Dan jika sebabnya berbeda maka akibatnya berbeda juga, betul kan?

Bayangkan ketika anak masih kecil saja kita sudah menanamkan pandangan-pandangan yang menyebabkan konflik diri. Bagaimana jika konflik ini semakin banyak muncul dalam dirinya, apa jadinya anak-anak? Apakah setiap anak mampu dan mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan setiap konflik diri ini? Apakah kita sebagai orangtua tahu dan sadar bahwa ada banyak perkataan dan tingkah laku kita yang menyebabkan konflik diri pada anak? Bagaimanakah bersikap konsisten dengan perkataan dan tindakan kita?

Berhati-hatilah dengan apa yang kita ucapkan dan lakukan kepada anak-anak kita. Jika perkataan dan perbuatan itu sering diulang maka pikiran bawah sadar anak akan menangkapnya dan menyimpannya sebagai fakta kebenaran. Apapun faktanya, positif ataupun negatif, akan dianggap sebagai kebenaran dan diwujudkan dalam realita fisik si anak. Itulah yang disebut hipnosis. Kita sadari atau tidak, kita telah menghipnosis anak-anak dengan perkataan dan perbuatan kita. Karena semua yang kita lakukan dan ucapkan pada anak-anak kita sekarang kelak juga akan menjadi program dan cara pikirnya.

Apakah yang kita inginkan?
Sebagai orangtua kita tentunya berharap bahwa anak-anak kita kelak bertumbuh sebagai anak yang penuh percaya diri, mempunyai daya juang yang kuat, berbakti pada orangtua, menjalani kehidupan yang sukses di masyarakat. Kita menginginkan mereka hidup mandiri – bukannya tinggal bersama kita ketika mereka sudah berumur tiga puluhan.

Masyarakat seringkali menilai keberhasilan kita sebagai orangtua dari keberhasilan mendidik anak-anak kita. Dan karena itu banyak orangtua juga terjebak dengan hal ini. Demi pandangan masyarakat terkadang kita mengorbankan, mengabaikan dan melalaikan keinginan dan hak anak-anak untuk mempunyai pilihan bebas. Ada orangtua merasa malu kalau anaknya masuk sekolah kejuruan karena menurunkan martabatnya. ”Lha, masa saya ini Doktor, Phd dari luar negeri, anaknya masuk kejuruan. Taruh di mana muka saya ini?” Bisakah anda melihat hubungan antara gelar orangtua dengan apa keinginan anak atau level pendidikan anak?

Ada kasus menarik juga mengenai pendidikan, seorang ibu yang malu kalau anaknya mendapat nilai jelek di sekolah. Si ibu yang berkonsultasi pada saya sudah saya ingatkan jangan membuat anak merasa bersalah kalau mendapat nilai 80. Saya katakan suatu saat akan terjadi pemberontakan dalam dirinya. Karena si anak merasa terlalu dituntut. Si ibu tidak percaya. Dia mengatakan bahwa teman-teman sekelasnya nilainya bagus-bagus, rata-rata 90. Jadi kalau anaknya mendapat nilai 80 itu berarti anaknya bodoh.

Ketika suatu hari anaknya pulang dengan nilai ulangan 85 si ibu mengomel lagi. ”Aduh kamu ini gimana sih, masa teman-temanmu dapat nilai 90 semua kok kamu cuman dapat segini aja. Ini kan soal yang gampang? Bikin malu mama aja kamu ini.” Si anak, yang kelas 2 SD ini terdiam dan masuk ke kamarnya. Pada malam hari, ketika si anak selesai belajar untuk menghadapi ulangan keesokan harinya, si anak mendekat ke mamanya dan mengatakan, ”Mam, besok saya gak usah ke sekolah aja ya?” Lalu mamanya dengan bingung balik bertanya, ”Lha kenapa kamu tidak mau ke sekolah?” Si anak dengan agak ketakutan balik menjawab; ”Besok ada ulangan, Ma dan saya takut kecewakan Mama lagi kalau ulangan saya nilainya tidak bagus.”

Blaaaaarrrrr... Mamanya langsung menelepon saya. Tidak tahu harus menjawab apa. Dan saya juga bingung mendapat pertanyaan si mama. Saya hanya mengatakan kepada si mama untuk memeluk anaknya dan memintanya berjanji untuk menerima apapun hasil ulangan anaknya di depan anaknya sendiri.

Saya banyak menjumpai orangtua yang mengatakan bahwa anak-anaknya tidak berbakti kepadanya. Ketika saya tanya apa alasannya, maka mereka menjawab bahwa anak-anaknya tidak mau menuruti keinginannya. Dalam hati saya bertanya kepada diri sendiri, ”Apakah tidak terlalu dangkal menilai bakti anak hanya dari apakah anak menurut atau tidak kehendak orangtuanya?”

Kita harus menyadari anak-anak kita bukanlah kita. Kita bisa mengajarkan sesuatu kepada mereka tetapi kita tidak bisa memaksakan pemikiran kita kepadanya karena mereka mempunyai alam pikiran sendiri. Ada suatu pemikiran yang sangat bagus dari seorang pemikir besar. Saya kutipkan di sini agar kita menjadi semakin terbuka dan semakin memahami peran sebagai orangtua dan tidak membuat anak-anak ... bingung.

Anak


Anakmu bukan milikmu

Mereka adalah putra-putri sang hidup,

yang rindu akan dirinya sendiri

Mereka lahir lewat engkau tetapi bukan dari engkau

Mereka ada padamu, tetapi bukan milikmu

Berilah mereka kasih sayang,

namun jangan berikan pemikiranmu

Karena pada mereka ada alam pikiran sendiri

Patut kau berikan rumah bagi raganya,

namun tidak bagi jiwanya

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan

yang tiada dapat kau kunjungi,

sekalipun dalam mimpimu

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,

namun tidak boleh membuat mereka menyerupai engkau

Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur

ataupun tenggelam ke masa lampau

Engkaulah busur tempat anakmu,

anak panah hidup, melesat pergi

(Kahlil Gibran)

Saya Bangga jadi Orang Indonesia (01): Tetangga Kami yang Baik

-
Oleh Ebenezer Siadari


Di kampung halaman kami dahulu, di sebuah desa bernama Sarimatondang di Sumatera Utara, ada tradisi yang saya sangat sukai. Kami anak-anak menyebutnya kebiasaan kirim-mengirim. Kalau tiba Tahun Baru, di kampung kami yang mayoritas penduduknya beragama Kristen itu biasanya kami mengirimkan kue-kue buatan orang tua kami (kembang loyang, dodol, kue bakar, kacang tojin, wajik Bandung dst) kepada tetangga-tetangga muslim. Mereka sebenarnya tak bisa kami sebut tetangga karena mereka tinggal agak jauh, berseberangan kampung. Tetapi pekerjaan 'mengirim' itu kami lakoni dengan senang hati.

Yang kami kirimi kue-kue itu biasanya adalah kawan-kawan muslim yang mempunyai pertalian sosial dengan kami. Apakah karena mereka adalah langganan tempat kami belanja sayur-mayur atau pecal, teman sejawat orang tua kami, tukang membetulkan rumah kalau bocor, kawan sekolah kami, dan sebagainya.

Sebagai balasannya, nanti pada Hari Raya, kami akan mendapatkan lagi kiriman dari tetangga Muslim itu. Aneka rupa isi kiriman itu. Kembang loyang, dodol dan sejenisnya tetap ada. Tetapi para tetangga Muslim itu, yang banyak juga diantaranya kawan-kawan dari bersuku Jawa, biasanya lebih kreatif. Maka seringkali juga ada lontong sayur, getuk, kue lapis, nagasari dan sejenisnya.

Sesama kami anak-anak biasanya saling membanggakan jumlah kiriman yang kami terima. Memang seringkali berbeda jumlahnya antar satu rumah dengan rumah lainnya. Jumlah kiriman itu secara tidak langsung menggambarkan seberapa luas relasi kita dengan tetangga Muslim.

Di Jakarta, saya mendapati pengalaman yang unik. Saya sebagai anggota komunitas baru di sekitar rumah, di desa Sarua, Ciputat, bertetangga dengan sebuah keluarga muslim yang, dari pengamatan saya, sangat taat. Sama seperti keluarga saya, mereka baru memiliki seorang putra. Semula saya sudah was-was. Sebagai seorang kristen yang kadang-kadang merasa minoritas di Jakarta ini, dalam hati saya sering berpikir-pikir, wah, bakal ada masalah nggak sama ini tetangga. Apakah dia akan cukup nyaman bertetangga dengan saya yang selain kristen, Batak lagi. (Istilahnya, minoritas ganda).

Ternyata kebalikannya. Tetangga kami itu demikian ramah. Mereka yang pertama menyapa kami, bahkan datang bertamu. (Wah, saya jadi malu, padahal, kami yang seharusnya datang memperkenalkan diri). Belakangan, istri-istri kami jadi demikian akrabnya. Berboncengan naik motor mereka belanja ke mana-mana. Dan, yang membuat saya agak terenyuh, suatu hari si Ibu tetangga itu bahkan menjelaskan kepada istri saya begini. "Bu, kapan-kapan kita ke pasar X yuk. Di sana kalau beli daging murah-murah dan masih segar. Daging Babi juga ada di sana. Kalau mau beli ke sana saja. Nanti kita bareng ya…."

Belakangan ini, ada lagi kebiasaan tetangga baru kami itu yang membuat kami sekeluarga (yang hobinya makan)makin ternanti-nanti. Beberapa kali saat berbuka puasa, kami juga mendapat kiriman hidangan berbuka puasa. Unik-unik. Kadang-kadang ada onde-onde yang tidak terbuat dari ketan melainkan dari tepung ubi.

Kala lain, lontong sayur yang ada baksonya. Kalau pisang molen, entah sudah berapa kali mampir di rumah kami. Kalau mengingat kata istri saya bahwa si ibu tetangga itu sebenarnya nggak pintar masak (dan mereka sering belajar sama-sama bikin masakan tertentu), pastilah kiriman si ibu tetangga itu datangnya dari tempat lain juga. Entah itu dari sanak saudaranya yang sering berkunjung ke rumah mereka atau mungkin dia beli.

Tentu saja, kami juga harus cukup tahu diri. Istri saya yang pernah bekerja di sebuah restoran, kadang-kadang berinisiatif juga mengirimkan masakannya kepada tetangga kami itu. Sebetulnya, kirim-mengirim ini sudah agak berlangsung lama, jauh sebelum bulan puasa. Kalau suami si Ibu tadi tugas ke luar kota, ketika kembali ke Jakarta, si Ibu tadi sering pula membagi oleh-oleh si Bapak kepada kami. Sebaliknya, manakala saya ke luar kota, istri saya juga tidak lupa membagikannya kepada mereka.

Tiap kali saya menikmati 'kiriman' dari sang tetangga, saya merasa bersyukur dan merasa bangga sebagai orang Indonesia. Indonesia yang begini luas, begini beragam penduduknya, begitu kaya budaya dan tradisinya ternyata bukan hanya diisi oleh orang-orang yang membuat kita merasa malu sebagai orang Indonesia seperti yang sering kita saksikan di tayangan-tayangan televisi tentang para koruptor dan pelaku kriminal.

Orang-orang baik di Indonesia masih ada dan saya kira masih banyak. Kebiasaan-kebiasaan baik dan kebiasaan-kebiasaan luhur juga masih dapat kita temukan dalam keseharian kita. Dan, itu bukan di tempat-tempat yang kita anggap seharusnya tempat orang untuk berbuat baik, seperti di tempat-tempat ibadah.

Tetapi di dekat-dekat kita, di tetangga kita, di jalanan yang mungkin kita lalui setiap hari dan juga mungkin di tempat kita mencari nafkah.

Kebaikan-kebaikan kecil yang kami nikmati dari tetangga itu ternyata menghasilkan banyak lagi kebaikan-kebaikan besar di kemudian hari. Kami pernah lupa mengunci pintu pagar ketika bepergian. Dan tetangga kami menguncikannya sambil mengirimkan SMS kepada istri saya memberitahu bahwa mereka sudah menguncikan pintu pagar kami. Kala lain, ada ular tiba-tiba masuk ke rumah mereka dan si Ibu berteriak lewat jendela rumah kami meminta tolong. Kami kemudian bersama-sama meminta tolong kepada tukang ojek yang lewat untuk menolong kami (sebab diantara kami sendiri tidak ada yang berani menangkap ular).

Saya lantas berujar dalam hati, alangkah bangganya kita menjadi bangsa Indonesia jika setiap hari kita dapat mengisi kebaikan-kebaikan dengan sesama. Tidak perlu dengan kebaikan-kebaikan besar. Kebaikan-kebaikan kecil, kemurahan-kemurahan yang kelihatannya remeh temeh, pada saatnya akan sangat berarti menjadikan kita sebagai bangsa yang besar. Sungguh saya bangga jadi orang Indonesia. Anda juga, bukan?

* Eben Ezer Siadari adalah wartawan, pemimpin redaksi majalah WartaBisnis dan BisnisKita, tinggal di Jakarta. Lahir di Sarimatondang, Sumatera Utara, 27 Juli 1966, ia menamatkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung. Menimba pengetahuan jurnalistik di Thomson Foundation, Cardiff, Inggris (1994), ia juga adalah alumni International Visitor Leader Program (1997) yang diselenggarakan oleh United States of Information Agency (USIA), Washington. Tercatat sebagai associate pada Pusat Kajian Komunikasi FISIP UI, karyanya sebagai penyunting antara lain Sketsa 50 Eksekutif Indonesia (1997), Gubernur Gorontalo menjawab Rakyat (2005) dan The Power of Value in Uncertainty World, Reflesi seorang CEO, Herris Simanjuntak (2005). Menikah, dengan satu putri (6 tahun) waktu senggangnya dihabiskan dengan tidur dan berburu makanan etnik murah dan ramah di sekitar tempatnya tinggal. Ia dapat dihubungi melalui email: ebenezersiadari@yahoo.com.

KONSEP MANAJEMEN

Oleh: Ardian Syam


Ada begitu banyak konsep manajemen yang pernah dipergunakan hingga saat ini. Ada Total Quality Management, Value Based Concept, Kaizen, Just in Time, Balanced Scorecard, Six Sigma, Management by Objective, Competency Based Human Resources Management, dan banyak lagi yang lain. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Charles Darwin the survival of the fittest maka semua konsep manajemen tersebut satu persatu hilang bersama waktu yang berlalu. Beberapa masih bisa terpakai tetapi beberapa sudah tidak bergaung lagi.

Beberapa orang dengan sinis mengatakan bahwa semua konsep manajemen tersebut lebih banyak mudarat dibanding manfaat bagi perusahaan. Tetapi di sisi lain, konsep manajemen memberikan banyak sekali manfaat bagi konsultan manajemen. Pernahkah Anda bertemu dengan konsultan manajemen atau bisnis yang telah berhasil? Di mana mereka berkantor? Di sebuah ruko? Di perumahan kelas menengah? Tidak, mereka berkantor di kawasan bisnis elite, di salah satu atau beberapa lantai dari sebuah gedung pencakar langit.

Bagaimana dengan client mereka? Setiap orang dari perusahaan pengguna jasa mereka akan bekerja di dengan berlumur keringat, berpanas-panas di ruang-ruang pabrik. Tidak hanya pegawai dari kelas pekerja tetapi bahkan CEO mereka akan sering turun ke tempat-tempat tersebut lebih sering untuk memastikan apakah seluruh konsep yang mereka implementasikan berjalan lancar. Sebuah ironi yang sangat tajam.

Lalu apa yang Anda cari sehingga menyewa konsultan manajemen bagi perusahaan yang Anda pimpin? Semua yang Anda cari adalah sebuah pertumbuhan yang lebih baik daripada yang selama ini didapatkan. Perkembangan yang merupakan loncatan atau lonjakan dari posisi sekarang.

Tahap pertama tentu saja sang konsultan akan melakukan observasi dan wawancara ke banyak pihak di tempat Anda. Sebuah upaya mengidentifikasi masalah yang mungkin terjadi. Kemudian bersama-sama dengan Anda, mereka akan mendiskusikan konsep manajemen yang dianggap paling cocok untuk perusahaan Anda, atau mereka sudah punya konsep yang akan diajukan maka diskusi yang dilakukan hanya bagaimana mengimplementasikan konsep tersebut di tempat Anda.

Dari tahap observasi dan wawancara seringkali terdapat kelemahan. Setiap orang di perusahaan Anda akan melihat dan mengetahui bahwa perusahaan Anda sedang akan melakukan perubahan. Apa yang mungkin terjadi dalam setiap perubahan di perusahaan? Beberapa posisi atau hilang, atau bahkan akan muncul beberapa posisi baru.

Apa yang kemudian terjadi? Pada kondisi bila beberapa posisi akan hilang, maka beberapa pejabat dalam posisi yang akan hilang, juga akan kehilangan jabatan yang selama ini dia pegang. Itu berarti akan hilang pula beberapa fasilitas dan ada kemungkinan akan berkurang pula penghasilan mereka. Coba Anda bayangkan berada di posisi mereka. Bersediakah Anda kehilangan penghasilan? Seratus ribu, lima ratus ribu, atau bahkan hingga dua juta rupiah per bulan?

Apa yang akan Anda lakukan agar Anda tidak kehilangan penghasilan tersebut? Yang perlu Anda lakukan adalah membuat Anda atau unit kerja yang Anda pimpin terlihat baik, kan? Lalu bagaimana bila orang-orang di perusahaan Anda mengira akan ada beberapa posisi lowong yang akan muncul?

Akibat dari dua kemungkinan dugaan tersebut tidak jauh berbeda. Bila beberapa posisi yang akan dihilangkan maka hanya para pimpinan saja yang “bersolek” dan membuat diri mereka terlihat lebih baik. Tetapi bila dugaan yang muncul adalah bahwa akan ada beberapa posisi baru yang akan muncul maka pejabat menengah akan berharap bisa menduduki posisi baru dengan level hirarki lebih tinggi. Kemudian para pegawai yang belum menduduki posisi apapun juga akan “bersolek” untuk mendapatkan posisi baru yang akan muncul atau paling tidak menduduki posisi kosong yang ditinggalkan pejabat lama yang mendapatkan promosi.

Lalu apakah sang konsultan bisa mendapatkan gambaran menyeluruh, lengkap dan akurat bila demikian? Sangat tidak mungkin. Belum lagi bahwa observasi dan wawancara tersebut hanya dilakukan dalam beberapa minggu saja.

Hal berat berikut yang mungkin akan Anda hadapi adalah tahap implementasi konsep baru yang akan ditanamkan dalam perusahaan. Ada perilaku individu dan perilaku organisasi yang telah terbentuk sekian lama dan cukup susah diubah. Anda bayangkan analogi yang sering digunakan oleh para konsultan manajemen, es batu. Sebuah perilaku sama seperti sebuah es batu. Bila air Anda masukkan ke dalam wadah yang bulat maka akan menjadi es batu yang berbentuk bulat. Sekarang Anda ingin membuat es batu tersebut berbentuk persegi.

Yang Anda perlu lakukan pertama, menurut konsultan manajemen, adalah defrosting. Ya benar, es batu tersebut harus mencair terlebih dahulu. Hampir sama dengan es batu dan air. Es batu bisa dengan mudah Anda letakkan di tempat yang bersuhu lebih tinggi daripada suhu tempat mereka berada selama ini, baru kemudian es batu tersebut mencair atau menjadi air. Tempat yang lebih panas! Masalah juga sama dengan mencairkan es. Bila es tersebut terbungkus dalam plastik maka air tidak akan berpencaran ke segala arah, tetapi bila Anda tempatkan di wadah lain yang mungkin memiliki volume yang lebih kecil dari volume es, maka air akan tumpah karena wadah yang tersedia tidak cukup.

Sayang sekali tidak ada “kantong plastik” buat orang-orang dalam perusahaan. Sehingga Anda tidak dapat meletakkan mereka dalam satu “kantong plastik” sehingga tidak berpencaran ketika es batu menjadi air. Padahal tidak demikian yang terjadi dengan manusia. Wadah yang disediakan tetap saja tidak akan mencukupi. Sedangkan untuk melakukan defrosting, perusahaan harus menciptakan suasana yang sedikit ‘lebih panas’ daripada kondisi sehari-hari.

Suasana yang lebih panas, wadah yang tidak mencukupi, maka air akan tumpah keluar dari wadah. Dalam kasus air, tidak ada beda fungsi atau manfaat antara air yang tertumpah maupun air yang masih tertampung di dalam wadah. Beda dengan manusia. Dalam perusahaan kita punya beberapa orang yang bisa dikategorikan sebagai key person. Beberapa dari mereka mungkin telah Anda tempatkan di posisi yang memiliki penghasilan yang baik, namun beberapa di antara mereka bahkan belum sempat Anda berikan tempat yang berpenghasilan cukup tinggi.

Mari kita lihat paragraf terdahulu, beberapa orang yang sudah memiliki posisi ‘bersolek’ karena khawatir kehilangan jabatan. Beberapa orang yang belum memiliki posisi ‘bersolek’ karena khawatir tidak mendapatkan jabatan di organisasi baru. Kekhawatiran tersebut mungkin saja juga menyerang pada key person Anda.

Suasana yang panas, wadah yang tidak cukup besar, dan air akan berpencar serta sebagian keluar dari wadah. Terbayangkankah bagi Anda sekarang, bahwa ‘air’ yang keluar dari wadah adalah key person Anda? Lalu siapa yang tertinggal?

Tahap berikut adalah refrosting. Analogi air ini memang sangat baik. Pernahkah Anda melihat bahwa pada saat refrosting kadang-kadang ada wilayah tertentu dari wadah yang berisi angin dan berlubang? Sama dengan kondisi perusahaan Anda. Analogi tersebut menunjuk pada sebuah posisi yang tidak diisi oleh seorangpun karena Anda terlalu ragu-ragu. Karena ada lebih dari satu orang yang Anda anggap menduduki posisi tersebut, sementara Anda ragu apakah orang yang tidak Anda pilih tidak akan merusak unit kerja secara keseluruhan. Kondisi tersebut juga bisa menunjuk pada kesalahan Anda memilih orang yang mengisi posisi tersebut, mungkin saja orang tersebut terlihat berisi sehingga pantas menduduki posisi itu, sementara kenyataan kemudian menunjukkan bahwa isi kepala orang tersebut hanya ‘angin’.

Akan mudah bagi Anda, memang, bila perusahaan yang Anda pimpin berkapasitas kecil. Karena semua orang dalam perusahaan bisa Anda kenal bukan hanya performansi mereka, bukan hanya perilaku mereka, bahkan Anda bisa saja mengenal anggota keluarga mereka.

Sekarang Anda pasti bertanya, apakah bila orang-orang dalam perusahaan tidak dikenal dengan baik, maka perusahaan tidak boleh melakukan transformasi? Tidak boleh melakukan pengubahan pada konsep manajemen? Tidak boleh melakukan quantum leap? Tidak boleh mendapatkan perkembangan yang tidak incremental?

Apa boleh buat karena saya terpaksa menjawab dengan: ya! Orang-orang dalam perusahaan tidak boleh hanya merupakan data statistik bagi Anda. Sama seperti Anda, mereka juga individu yang unik. Mereka mempunyai perilaku individu yang dibentuk oleh perusahaan dan secara bersama-sama dengan individu yang lain membentuk perilaku organisasi. Mereka juga memiliki kebutuhan yang unique, kenali mereka dan selamatkan transformasi di perusahaan Anda.

* Ardian Syam menempuh pendidikan terakhir di Magister Akuntansi, UGM, Yogyakarta, 2004. Saat ini ia bekerja sebagai Financial Analyst di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., Divisi Regional I Sumatera, sekaligus menjadi dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ardian dapat dihubungi di: ardian.syam@gmail.com.

POPULIS TAPI TIDAK POPULER

Oleh Ardian Syam


Bukan hal yang baru bila belakangan ini kita sering mendengar bahwa beberapa kasus korupsi mulai dibuka. Bukan pula hal yang baru, bahkan sudah sejak tahun 1998, sejak 7 tahun lalu banyak Lembaga Swadaya Masyarakat atau Non Governmental Organization berteriak-teriak soal korupsi, soal pendidikan dan soal perbaikan moral.

Suatu pagi (8/6/05) ada berita di televisi bahwa beberapa selebritis mulai membuka sekolah. Beberapa membuka sekolah sesuai dengan profesi masing-masing seperti Dewi Hughes, Purwa Tjaraka, Oki Asokawati. Tetapi beberapa membuka sekolah biasa, dan bahkan Susan Bachtiar mengajar bahasa inggris di sebuah SD Swasta.

Kusuma Andrianto menulis artikel Pendidikan Awal ‘Economics of Corruption’ di Pembelajar.Com (yang juga pernah dimuat di Kompas Minggu 13 April 2005), menyarankan agar pendidikan tentang korupsi dilakukan sejak dini. Andrianto menulis “Ambil contoh misalnya pengalaman negara Kamboja (Integrating Anti-Corruption into School Curricula, hal. 53-59) yang mengintegrasikan pendidikan anti-korupsi ke dalam kurikulum pendidikan di negara tersebut. Mirip dengan pengalaman Amerika Serikat (Ethics at School: A Model Programme, hal. 38-44) dan Italia (Taking Anti-Corruption Heroes into Schools, hal. 25-29). Tulisan tentang tiga negara yang masing-masing mewakili tiga benua yang berbeda ini, Asia, Amerika, dan Eropa, menunjukkan betapa kewaspadaan akan bahaya korupsi memang seyogyanya diusahakan sejak usia dini peserta didik.”

Kusuma kemudian menulis upaya anti-korupsi yang dilakukan di Georgia (Youth Against Corruption: A National Essay Contest, hal.45-52) dan Uganda (The Power of Information, Training Young Journalists, hal 60-73) yang menggunakan jurnalisme, Moldova (An Anti-Corruption Day in a Youth Camp, hal.74-80) yang menggunakan program pelatihan dan training. Brazil, Zambia dan Kolombia dengan tulisan-tulisan (Go: Fiscal Education for Citizenship, hal 11-16, Working With Universities: The Cátedra Programme, hal.17-24, dan Educating Future Leaders: Good Governance in Schools, hal. 30-37), termasuk juga yang buku-buku yang diterbitkan oleh penulis dari Argentina dan Makau. Kusuma menyarankan agar buku-buku tersebut diterjemahkan dengan baik dan disediakan di pustaka-pustaka di sekolah-sekolah di Indonesia.

Mengapa tulisan ini saya awali dengan sikap yang dijalankan oleh para aktivis LSM atau NGO? Mengapa kemudian tulisan ini diarahkan pada berita yang didapat dari infotaintment? Kemudian saya lanjutkan dengan cuplikan dari tulisan Kusuma Andrianto?

Para aktivis LSM adalah orang-orang pintar yang kemungkinan telah membaca tulisan yang disebutkan oleh Kusuma dan mungkin pula membaca lebih banyak tulisan daripada tulisan yang dibaca oleh Kusuma, apalagi dibandingkan dengan yang saya baca. Maka tidak ada masalah lagi tentang definisi korupsi bagi semua aktivis LSM. Mereka pasti bisa menjawab dengan tegas definisi tersebut, dan menjawab dengan lantang karena mereka tidak melakukan korupsi apapun seperti Umar (silakan lihat bagian awal tulisan Kusuma tersebut).

Saya mencoba mengungkap salah satu pendapat istri saya. Kritik paling tajam bagi para koruptor adalah kritik yang datang dari anak mereka. Bayangkan bila anak mereka bertanya “Pak, mobil yang aku pakai ke sekolah ini dibeli pakai uang dari mana? Kan Bapak hanya pejabat di Pemerintahan yang gajinya nggak lebih dari 10juta sebulan?” Atau bila si anak bertanya “Pak kenapa kita bisa beli dan pasang 5 AC Split yang harganya (masing-masing) di atas 2juta dan kita juga berarti butuh daya listrik yang tinggi dan bayar listriknya mahal padahal gaji Bapak hanya berapa?”

Sang Bapak cenderung melakukan korupsi justru untuk memenuhi kebutuhan utama maupun kebutuhan tambahan para anggota keluarga. Maka, bila anggota keluarga yang menyampaikan kritik tentang korupsi si Bapak akan menyebabkan si Bapak berpikir lebih bijaksana. Karena tidak ada kebajikan yang bisa dia ajarkan kepada anak bila si Bapak tidak bisa menjelaskan dengan uang dari mana semua barang tersebut dibeli.

Usul Kusuma dengan menyediakan buku-buku anti-korupsi di pustaka-pustaka sekolah-sekolah sangat bagus. Masalah yang muncul di negara kita adalah keinginan membaca kita, terutama di diri anak-anak belum cukup tinggi. Sehingga, buku tersebut akan sangat sedikit kemungkinan dibaca.

Anak-anak di Indonesia justru lebih cenderung percaya akan semua hal yang dikatakan guru mereka. Seringkali bahkan mereka berani mengkritik orang tua masing-masing bila sang orangtua menyampaikan sesuatu yang berbeda dengan yang disampaikan oleh guru mereka.

Maka akan lebih baik, bila orang-orang pintar yang menjadi aktivis LSM tersebut, masuk ke sekolah-sekolah. Menjadi guru. Bisa guru apa saja. Fisika, Biologi, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, pelajaran apapun yang mereka mampu ajarkan. Tentu saja termasuk pelajaran Pendidikan dan Pengetahuan Kewarga Negaraan (mungkin saya salah, tetapi yang saya maksud adalah pelajaran yang lebih dikenal dengan sebutan PPKn).

Pelajaran apa pun yang diajarkan para aktivis, akan selalu ada waktu luang yang dapat diisi dengan pelajaran tentang moral. Saat-saat inilah para aktivis dapat memasukkan ide-ide anti-korupsi ke dalam kepala masing-masing siswa. Bila konsep anti-korupsi telah masuk, maka seluruh siswa mereka akan menjadi penentang korupsi yang paling tangguh.

Dengan demikian akan sangat banyak orang yang melakukan pergerakan anti-korupsi di negara ini. Orang-orang yang masih berhati tulus (anak-anak) seperti yang diinginkan Kusuma. Anak-anak yang menyebar di semua kalangan, dan akan memimpin bangsa dan negara ini di saat yang tepat, nanti. Sebuah gerakan yang cukup populis. Gerakan yang dilakukan oleh sangat banyak orang, terjadi di banyak lapisan, di banyak lingkungan. Sebuah gerakan yang seperti bom atom, merayap pelan, tapi secara bertahap akan menutupi seluruh wilayah.

Masalah yang terjadi adalah, bila para aktivis melakukan hal tersebut di sekolah-sekolah, kepada para siswa SD dan SMP maka tidak akan ada wartawan surat kabar harian, tidak akan ada wartawan majalah, tidak akan ada wartawan radio, tidak akan ada wartawan televisi yang meliput dan memberitakan kegiatan mereka. Sebuah gerakan yang memiliki daya sebar yang sangat luas, memiliki tingkat keefektifan yang sangat tinggi, tapi dijamin tidak akan membuat mereka menjadi terkenal, tidak akan membuat mereka menjadi populer.

Maka pertanyaan bagi semua aktivis LSM: siapkah anda melakukan tindakan yang sangat populis tetapi tidak akan membuat anda populer? Apakah pemberantasan korupsi yang menjadi prioritas anda? Ataukah pemberantasan korupsi hanya menjadi alat untuk membuat anda menjadi populer? Jawaban ada pada anda semua.

* Ardian Syam menempuh pendidikan terakhir di Magister Akuntansi, UGM, Yogyakarta, 2004. Saat ini ia bekerja sebagai Financial Analyst di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., Divisi Regional I Sumatera, sekaligus menjadi dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ardian dapat dihubungi di: ardian.syam@gmail.com.

Mengubah Kekalahan Menjadi Kemenangan -

Oleh: M. Iqbal*


Judul di atas adalah sub judul yang saya dapatkan dari buku “Berpikir dan Berjiwa Besar” yang ditulis David J. Schwartz. Di dalam sub judul tersebut lengkapnya ialah, “Bagaimana Mengubah Kekalahan Menjadi Kemenangan”. Sengaja saya hilangkan kata ‘bagaimana’ agar judul di atas sedikit nyastra. Dan tulisan ini memang terinspirasi dari buku tersebut. Saat saya membacanya saya mendapatkan kesan yang begitu mendalam.

Kita temukan di kalangan kelas menengah ke bawah, apa pun profesinya sering mengalami kekalahan, keletihan, dan ketakberdayaan. Di antara mereka ada yang bercerita tentang situasi yang saya sebutkan di atas, dan ada juga yang hanya dipendam saja, mengutuk dirinya, dan membiarkan dirinya dalam keadaan seperti itu. Kata-kata negatif bermunculan dari mulutnya entah menyalahkan diri sendiri atau pun orang lain. Di antara kata semacam itu ialah seperti “semua yang aku lakukan sia-sia saja”, “aku merasa bodoh sekali”, “sudah berkali-kali aku menulis namun tak juga dimuat, aku memang tak bakat” dan masih banyak lagi. Akhirnya, mereka putus asa dan membiarkan dirinya dalam keadaan seperti itu, tak ada usaha lagi, menyalahkan nasib, dan menghindar untuk maju lagi, serta tetap berada di zona kenyamanannya. Kenyamanan dalam keresahan, karena kalah. Itulah gambaran dalam dunia orang-orang kalah.

Namun lain halnya dalam dunia orang-orang berhasil. Kita temukan mereka dari kalangan bawah (miskin), menengah (standar), maupun atas (kaya). Dan satu hal yang sama-sama mereka pernah alami dalam menempuh keberhasilannya yaitu “sama-sama pernah mengalami situasi keras” ujar David J. Schwartz dan bisa mengatasinya, tak kenal kalah. Adapun perbedaan antara orang (menjadi) sukses dengan orang (menjadi) gagal ialah “respon mereka terhadap kekalahan“, begitu David membedakannya. “Ketika orang yang sekarang menjadi orang terbuang terpukul jatuh, ia gagal untuk bangkit kembali. Ia cuma berbaring di tempatnya terjatuh. Tuan menengah bangkit berlutut, merangkak menjauh, dan ketika sudah tidak terlihat, berlari ke arah yang berlawanan sehingga ia akan yakin tidak akan terpukul jatuh lagi. Akan tetapi tuan sukses bereaksi secara berbeda ketika ia terpukul jatuh. Ia bangkit, belajar dari kesalahannya, melupakan pukulan tersebut, dan bergerak maju.”. Itulah penjelasan David mengenai perbedaan orang yang gagal dan sukses dalam merespon terhadap kekalahan.

Dalam bukunya, David menyarankan agar kita membaca biografi ataupun autobiografi orang-orang besar, karena kita akan menemukan mereka sebagai seorang individu yang telah mengatasi rintangan besar dan riil. Sungguh, sudah menjadi keniscayaan dalam menuju keberhasilan akan menjumpai kesulitan-kesulitan, seperti yang dialami orang-orang dalam biografi dan autobiografi, yang menggoda kita untuk kalah dan menyerah. Namun bisakah kita menjalani hidup tanpa kekalahan? Dan bisakah kemunduran kita dijadikan sebagai pendorong untuk kemajuan kita?

Ada beberapa kisah menarik mengenai jawaban pertanyaan di atas tersebut, sebagaimana yang ditutur oleh David juga.

”Para penonton film bioskop yang mengenal Lionel Barrymore tidak akan pernah melupakannya. Pada tahun 1936, bintang besar ini mengalami retak pada tulang pinggul. Retakan ini tidak pernah sembuh. Kebanyakan orang mengira bahwa karier Barrymore pun tamat. Akan tetapi tidak untuk Barrymore. Ia menggunakan rintangan ini untuk melicinkan jalan menuju keberhasilan acting yang lebih besar. Selama delapan belas tahun berikutnya, walaupun mengalami nyeri yang tidak pernah berkurang, ia memainkan lusinan peran yang berhasil di atas kursi roda.

“Bintang besar Opera Metropolitan, Risa Stevens, berkata di dalam Reader’s Digest (Juli 1955) bahwa pada saat paling tidak bahagia dalam hidupnya ia mendapat nasihat terbaik yang pernah ia peroleh. Pada awal karirnya, Nona Stevens gagal mendapatkan peran dalam Opera Metropolitan “Auditions of the Air”. Sesudah gagal mendapatkan peran tersebut, Nona Stevens menjadi sangat kecewa. “Saya sangat ingin mendengar,” ujarnya, “Bahwa suara saya benar-benar lebih baik daripada suara gadis lain itu, bahwa putusan itu tidak adil, bahwa saya kekurangan koneksi yang tepat untuk menang. Sering ketika saya ingin mengasihani diri,” Nona Stevens melanjutkan, “kata-kata itu terus terdengar oleh saya. Malam itu kata-kata tadi membangunkan saya. Saya tidak dapat tidur hingga saya menghadapi kelemahan saya. Berbaring di sana di dalam gelap, saya bertanya kepada diri sendiri, ‘mengapa saya gagal?’ bagaimana saya dapat menang pada kesempatan berikutnya?’ dan saya mengakui kepada diri sendiri bahwa suara saya tidak sebagus yang seharusnya, bahwa saya harus menyempurnakan bahasa saya, bahwa saya harus mempelajari lebih banyak peran.”

“Nona Stevens melanjutkan untuk mengatakan bagaimana tindakan menghadapi kesalahannya tidak hanya membantunya berhasil di atas pentas, tetapi juga membantunya mendapatkan lebih banyak teman dan mengembangkan kepribadian yang lebih menyenangkan.”

Mempelajari kesalahan dan lalu memperbaikinya adalah salah satu cara untuk mengatasi kegagalan dimana kegagalan tidak akan terulangi lagi untuk yang kedua kalinya. Seperti halnya dua contoh di atas. Saat Stevens gagal mendapatkan peran dalam suatu opera bergengsi, yang ia lakukan kemudian adalah menasihati dirinya dengan memberikan sugesti positif, dan belajar lebih giat lagi, mempelajari kelemahan-kelemahannya, dan akhirnya ia berhasil. Begitu juga dengan Lionel Barrymore, walau ia mengalami keretakan pada tulang pinggulnya tapi ia tak menjadikannya patah arang, justru menjadikannya ‘mengubah kelemahan menjadi keunggulan’. Walhasil, ia tetap mendapatkan acting walau dalam kursi roda. “Jangan melarikan diri dari kekurangan. Cari tahu kesalahan dan kelemahan anda, kemudian perbaiki.” Begitulah nasihat David J. Schwartz.

Betul, semua orang pernah melakukan kesalahan, siapa saja, dan juga mempunyai kekurangan. Letak perbedaannya adalah dalam SIKAP. Ya, semua orang akan berbeda dalam menyikapi kesalahan dan kelemahannya. Namun, secara garis besar ada tiga golongan dalam menyikapi keduanya:

Pertama, golongan negatif. Golongan ini selalu melihat dari kacamata negatif entah pada diri sendiri maupun orang lain. Mereka selalu mencari kambing hitam atau mencari kesalahan-kesalahan mengapa mereka bisa gagal atau kalah. Ketika mereka ditimpa kedua hal tersebut mereka mengatakan, “gara-gara dia/aku melakukan itu aku jadi gagal, “atau “dia memang jauh lebih pintar dibanding saya, jadi wajarlah kalau saya kalah,” “aku memang bodoh dan sudah ditakdirkan seperti ini, “ “lantaran ia kita jadi kalah dalam pertandingan ini,” “setekun apa pun aku tak kan bisa” dan masih banyak lagi kata-kata negatif seperti itu. Atau bisa juga mereka selalu melihat masa lalu yang kelam yang memberikan efek pada saat ini.

Kedua, golongan objektif. Golongan ini memandang kedua hal itu biasa saja, artinya tidak menyalahkan orang lain maupun diri sendiri, namun cenderung apatis dan tidak juga memperbaiki nasibnya. Mereka menerima hal itu dengan lapang dada, tapi tak berniat untuk memperbaikinya. Kata-kata yang sering dikatakan oleh golongan ini adalah, “mungkin ini sudah takdir saya”, atau “nasib kita memang lagi sial”.

Ketiga, golongan positif. Golongan ini sebetulnya hampir sama dengan golongan kedua, tapi perbedaannya ialah saat terjadi kegagalan mereka menerima dan memperbaiki kesalahannya, tak putus asa, tak menyalahkan nasib, belajar lebih giat lagi, inovatif, dan kreatif. Dengan cara-cara seperti itu dia tak akan mengalami kesalahan yang serupa. Dia terus maju dan maju. Dengan memandang positif terhadap kegagalan akan membantu memecahkan persoalan, dan mempunyai motivasi yang sangat tinggi. Adapun kata-kata yang sering diucap oleh golongan positif ini yaitu, “kegagalan ini adalah salah satu cara lain untuk menjadi pemenang,” “saya bukan gagal, justru saya sedang belajar menuju sukses”, “ah, baru 10 kali tulisanku ditolak media, belum 100 kali. Saya akan coba lagi”, “besok aku akan cari lain untuk melakukannya”, dan masih banyak lagi.

So, kita ingin masuk masuk golongan mana kalau benar-benar ingin sukses? Sungguh. keputusan ada di tangan kita sendiri.

* M. Iqbal Dawami adalah penulis yang aktif di komunitas GARIS, Yogyakarta

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman