Tampilkan postingan dengan label ade asep syafruddin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ade asep syafruddin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 November 2008

Menceburkan Diri ke Dalam Lautan Masalah

Oleh: Ade Asep Syarifuddin


KATA masalah atau persoalan bagi sekelompok orang merupakan kata yang "menakutkan". Terbayang dalam pikirannya situasi yang tidak menentu yang bisa mengganggu kenyamanan dirinya. Tapi bagi sekelompok yang lainnya, kata masalah disimbolkan sebagai sesuatu peluang di dalam pikirannya, karena dengan datangnya masalah berarti dirinya tengah diuji dengan salah satu bentuk soal yang harus dijawab. Tingkat kesulitan soal tersebut menentukan grade kita dalam salah satu mata kuliah kehidupan ini. Semakin sulit, maka akan semakin advanced level mentalitas kita dalam hidup ini, sementara bila masalahnya biasa-biasa saja, sama saja dengan siswa SMA mengerjakan soal-soal ujian anak kelas 6 SD, mudah dijawab, tapi tidak memberikan peningkatan kualitas dirinya. Jadi, apa inti masalah dalam sudut pandang orang-orang sukses?

Kita tahu, sebilah pedang atau golok untuk menjadi pedang yang indah dan tajam, awalnya dari sebatang besi yang harus melalui proses pemanasan dalam suhu yang sangat tinggi sampai membara, kemudian dipukul berkali-kali sampai membentuk pedang. Tanpa dipanaskan, tidak mungkin besi batangan akan menjadi pedang yang indah dan tajam. Demikian halnya peralatan rumah tangga yang dibuat dari kayu jati yang indah, apakah kursi, buffet, mebeul, meja, awalnya adalah kayu gelondongan yang tidak memiliki bentuk. Oleh pengrajin digergaji, dibuang bagian-bagian yang tidak bermanfaat, digosok-gosok dengan ampelas sampai halus, diukir, dirakit menjadi barang rumah tangga yang indah dan mahal harganya. Bahan baku yang bagus, pengolahan yang baik akan menghasilkan kualitas yang bagus dan harganya yang tinggi. Sementara bahan baku yang kurang baik, pengolahannya asal-asalan, harganya juga bisa-biasa saja.

Cerita di atas bisa juga diterapkan untuk manusia. Bila kita ingin menjadi manusia yang berkualiktas dengan harga tinggi, maka harus berani membayar dengan harga tinggi pula dalam melalui proses "pencetakan" SDM berkualitas. Anggap saja kita ibarat sepotong besi yang belum memiliki bentuk, api yang membara ratusan derajat celcius ibarat beratnya beban persoalan hidup yang menghimpit dan terjadi sehari-hari dan pedang yang bagus adalah mentalitas matang, pantang menyerah dan keterampilan yang tinggi dalam mengelola hidup ini. Dengan demikian, bila ingin menjadi manusia berkualitas maka secara sengaja kita harus menceburkan diri ke dalam lautan persoalan yang lebih banyak –bukan hanya persolan-persoalan kecil yang datang kepada kita—tapi sengaja kita mencari persoalan tadi. Dengan catatan, di tengah banyaknya persoalan tadi kita mengurai benang persoalan satu per satu sampai semuanya tuntas, dan tidak mundur sebelum selesai. Setelah menyelesaikan persoalan yang satu, cari lagi persoalan yang lain yang lebih berat, demikian terus menerus dilakukan tiada henti. Bila mengacu kepada analogi di atas, ketika terus menerus berltih menyelesaikan persoalan maka kita sudah memiliki pedang-pedang yang tajam dalam jumlah banyak, golok, kelewang, celurit atau bahkan senjata lainnya untuk memudahkan jalannya hidup. Bagaimana kalau kita tidak memiliki alat atau senjata sementara kita hidup di tengah hutan belantara? Bisa dibayangkan, kondisinya jauh lebih sulit bila dibandingkan dengan memiliki senjata yang lengkap.

Senjata dalam hidup memang tidak terlihat seperti pedang. Tapi bisa dibedakan siapa yang memiliki senjata yang lengkap dan siapa yang tidak dalam mengarungi hidup ini ketika benar-benar menghadapi situasi krusial. Senjata-senjata manusia yang harus dimiliki adalah, mentalitas pantang menyerah, ulet, disiplin, kesabaran melalui proses, kejujuran dalam berkata dan bersikap, optimis menghadapi semua kondisi yang terlihat menyenangkan dan tidak menyenangkan. Bila senjata-senjata itu terus dipelihara, dipertajam, dan digunkan setiap saat, maka manfaatnya akan langsung kita rasakan. Sebaliknya, bila senjata-senjata yang dimiliki tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin, bisa jadi akan menjadi karatan, tumpul dan akhirnya menjadi besi biasa yang hanya laku di mata tukang lowak yang berkeliling dari rumah ke rumah yang harganya sangat-sangat murah.

Jadi, untuk apa mengeluh kalau menghadapi persoalan. Lebih baik persoalan tersebut diajak dialog, mengapa persoalan itu datang, apakah manfaat yang menyertai persoalan tersebut dan yang lebih penting lagi bagimana solusi atau cara menyelesiakannya dan sisi positif apa yang menyertai persoalan tadi. Alhasil, bila persoalan dilihat dari sudut pandang yang berbeda, maka akan memunculkan kreatifitas yang cukup tinggi bagi si penemunya. Mungkin Edison tidak akan menemukan lampu pijar listrik kalau ia tidak penasaran melakukan eksperimen, kendaraan tidak akan ditemukan kalau kita merasa puas dengan jalan kaki atau naik kuda, dan lain-lain. Masalah, bagi orang kreatif dan positif thinking adalah peluang. Karena dari sana dituntut untuk menemukan jawaban untuk mengatasinya. Berbeda dengan watak orang pesimis, masalah yang datang bisa menciutkan nyalinya untuk mencoba sesuatu yang lain yang lebih menantang, atau masalah diibaratkan sebagai penghalang untuk mencapi tujunnya.

Berbahagialah kalau dalam kehidupan sehari-hari masih menjumpai masalah. Carilah hikmah di balik sesuatu yang tidak mengenakkan. Garam akan terasa asin kalau langsung mengunyahnya, tapi akan melezatkan masakan kalau komposisinya tepat oleh juru masak yang lihai. Gula pun bila langsung dimakan akan muncul sakit perut, tapi kalau dituang ke dalam air panas ditambah sedikit teh atau kopi, aromanya akan sangat menggoda. Hidup ini lebih banyak dibutuhkan banyak seni dalam menghadapinya. Tidak cukup hanya mengetahui ilmu hidup. Seni artinya seperti juru masak, satu jenis masakan dibutuhkan garam yang banyak, tapi masakan yang lain hanya butuh sedikit garam. Bagaimana kita tahu apakah satu masakan butuh lebih banyak garam daripada masakan lainnya? Banyak-banyaklah belajar memasak, nanti Anda tahu sendiri bagaimana menghasilkan masakan yang lezat. Banyak-banyaklah mencoba resep-resep yang ada kalau kita ingin menjadi juru masak handal.

Kita adalah "juru masak" untuk kehidupan kita sendiri. Kalau ingin mahir, maka harus sering latihan mencoba resep-resep kehidupan ini yang pernah dicoba orang lain. Karena belum tentu resep orang lain yang bagus, akan langsung bagus ketika dicoba hanya sekali oleh kita. Dibutuhkan latihan yang sering, terus menerus sampai resep-resep tersebut terasa enak. Bahkan tanpa disadari, suatu ketika, kita akan menciptakan resep-resep baru, original buatan kita sendiri yang akan diikuti dan dicoba oleh ribuan orang. Bila resep kita terbukti dirasakan enak oleh orang lain, jangan kaget kalau banyak orang mencari kita untuk berguru dan bertanya bagaimana sampai resep tersebut terasa enak.(aas)

* Ade Asep Syarifuddin adalah trainer yang berbasiskan NLP. Tulisan dan artikelnya tersebar di berbagai media massa. Sehari-hari ia adalah Editor in Chief dan General Manager Harian Radar Banyumas. Bisa dihubungi lewat e-mail ade_asep@yahoo.com

Mengatasi Perasaan Takut Gagal

Oleh Ade Asep Syarifuddin


KAWAN saya sudah lima tahun berpacaran, tapi belum juga melangsungkan pernikahan. Dia bilang takut bercerai setelah menikah. Sementara tetangga saya ingin sekali mengembangkan bisnis jual beli pakaian seperti pamannya, tapi setelah ditimbang-timbang nggak mulai-mulai. Di bilang takut rugi, apalagi kondisi perekonomian sedang lesu. Kalau untung tidak masalah, kalau rugi kan risikonya cukup besar. Dan banyak lagi cerita-cerita yang sering kita dengar sehari-hari yang intinya takut melangkah karena takut dengan risiko kegagalan.

Pandangan-pandangan tersebut jelas merupakan cara berpikir yang tidak tepat. Hidup ini pilihan-pilihan, kita sendiri yang menentukan jadi apa, apakah jadi pengusaha, pegawai negeri, pedagang, tentara, polisi, wartawan, penyiar radio, konsultan atau apa pun profesi yang ada dan setiap pilihan ada risiko-risiko yang mesti ditanggung. Seorang polisi lalulitas misalnya, memiliki risiko berpanas-panasan apabila jalanan macet. Itu benar-benar terjadi di kota-kota besar, sementara seorang wartawan pun tidak lepas dari risiko komplain dari pembacanya apabila beritanya cukup kritis kepada kelompok tertentu. Jadi, profesi apa yang tidak memiliki risiko? Apakah pegawai negeri lantas tidak mempunyai risiko? Tidak juga, pegawai negeri sipil risikonya memiliki pendapatan bulanan yang pas-pasan karena usahanya juga pas-pasan dan sangat minimal. Karena semua profesi rentan dengan risiko, berarti kita harus selalu siap menghadapi perubahan-perubahan jaman dan kompetisi dengan pihak lain dan tidak lantas bermalas-malasan karena merasa pekerjaannya ada di wilayah yang aman.

Bagaimana hubungan antara risiko dengan takut gagal? Sebelum membahas risiko dan kegagalan ada baiknya kita membahas dulu cara kerja pikiran kita. Bila ada sesuatu kejadian di luar diri kita, sesuatu kejadian itu sifatnya netral, yang memberikan makna kepda kejadian itu adalah pikiran kita sendiri. Ketika mendengar satu kata, pikiran lantas membuat makna berupa simbol terhadap kata tadi sekaligus membuat makna yang berisi nilai—positif maupu negatif—dari kata tadi. Kalau referensi awal tentang satu kata tersebut negatif, maka setiap mendengar kata tersebut akan negatif terus. Sebaliknya, apabila referensi awalnya positif, akan positif selamanya. Tapi tidak usah khawatir, ada satu cara untuk me-reporgramming pikiran kita, sehingga mindset awal yang negatif bisa diubah menjadi positif dengan suatu metode.

Kalau pikiran bisa diprogram, berarti kesuksesan pun apakah bisa diprogram? Betul sekali, kesuksesan bisa diprogram asalkan memiliki komitmen dan kemauan untuk senantiasa memelihara pikiran ke arah yang kita inginkan. Kita mengendalikan pikiran, bukan kita yang dikendalikan oleh pikiran. Sukses misalnya, itu bisa diprogram lewat pikiran dengan cara kita selalu berpikir tentang kesuksesan yang kita inginkan. Contoh, kita ingin menjadi pengusaha yang memiliki keuntungan sebulan Rp50 juta. Namun pada bulan pertama keinginan tersebut belum tercapai. Tapi terus menerus dicoba lagi dan dicoba lagi sampai akhirnya tercapai. Selagi pikiran kita berpikir sukses, maka kemungkinan sukses itu akan datang. Persoalannya hanya waktu yang mungkin tidak sesuai dengan yang kira harapkan. Bila kita cukup sabar dan yakin suatu ketika akan sukses, ini merupakan modal awal yang cukup berharga. Sebab, waktu kita bukanlah waktu Tuhan. Kita ingin secepatnya mencapai suatu tujuan. Kesannya tergesa-gesa, terburu-buru, sementara Tuhan sendiri memiliki waktu sendiri. Artinya, selagi orang itu memelihara keinginan disertai dengan usaha dan berdoa, maka suatu ketika akan sampai juga. Problemnya, kita tidak mengetahui jarak tempuh untuk mencapai tujuan kita itu berapa lama. Ini merupakan rahasia Tuhan yang harus dilengkapi dengan senjata optimisme terus menerus. Jadi, sukses = usaha terus menerus + optimisme yang membara.

Bila kita melakukan sesuatu dan belum tercapai, itulah sebenarnya yang menurut kamus orang yang tidak sukses disebut g-a-g-a-l. Padahal menurut kamus orang sukses, hal itu hanyalah keinginan yang belum tercapai. Keinginan yang belum tercapai tersebut bisa jadi rugi, untung kecil, atau kondisi pasar tidak kondusif. Kondisi-kondisi tersebut dinamakan risiko. Artinya, ketika kita merencanakan sesuatu dalam kehidupan ini, hal apa saja, kemudian kita sudah siap risiko yang paling tidak enak sekalipun, maka pada saat itu juga tidak ada kata g-a-g-a-l. Maju terus pantang mundur.

Jadi, ketika sudah mematangkan suatu rencana berikut untung rugi dan risikonya, langkah kedua adalah berbuat. Setelah berbuat, kita akan tahu, mengapa belum tercapai rencana-rencana yang kita tetakan dan dari sana kita bisa mengetahui penyebabnya. Tapi kalau belum apa-apa sudah takut melangkah karena takut g-a-g-a-l, dan mengeset pikirannya untuk g-a-g-a-l, maka yang dipikirkannya akan terjadi. Wong sewaktu kita menetapkan tujuan, salah satu risikonya adalah tidak tercapai, mengapa kita merasa takut tujuan itu tidak tercapai. Kalau belum tercapai ya coba lagi dan coba lagi sampai tercapai, titik. Beres kan. Mengapa terlalu banyak pertimbangan yang akhirnya tidak melakukan perbuatan apa-apa. Lebih baik gagal lima kali, tapi mencoba 15 kali, ketimbang tidak gagal tapi tidak pernah berbuat apa pun.

Tipe-tipe orang yang tidak mau menghadapi risiko adalah tipe orang yang mencari aman, berada di wilayah comfort zone. Menurut Robert K. Tiyosaki orang yang berada di comfort zone salah satunya adalah karyawan. Setiap bulan dia mendapatkan kepastian finansial.,Kerja keras atau tidak keras pendapatannya tetap segitu-gitu saja sebelum gajinya dinaikkan. Tapi memang secara risiko mereka aman, tidak akan dipusingkan oleh harga-harga di luar yang naik turun, fluktuasi dollar terhadap rupiah. Tapi lagi-lagi “tipe karyawan” --saya sebutkan di sini tipe karyawan, tidak semua karayawan seperti ini karena banyak karyawan yang memiliki usaha sendiri—sangat sulit untuk berkembang, karena dirinya telah membuat tembok-tembok yang kuat untuk membentengi dirinya supaya aman dan nyaman dan tidak ada badai risiko yang bisa tembus ke benteng tadi.

Sementara tipe pengusaha, entrepreneur, adalah orang yang memiliki watak dare to fail berani gagal (judul buku Billi PS Liem). Ini adalah dunia yang sebenar-benarnya. Manusia hidup dalam sebuah reality show yang menarik. Dibutuhkan seni untuk menghadapinya, sehingga kasus demi kasus yang terjadi dapat disikapi dengan tepat dan membawa kita ke arah pola hidup dan cara pikir yang lebih baik lagi. Bagaimana kalau pengusaha tidak berani, khawatir tujuannya tidak tercapai, terlalu banyak pertimbangan, lebih banyak memikirkan risiko ketimbang fokus ke tujuan. Saya jamin dia akan batal jadi pengusaha. Karena tipe pengusaha itu coba dulu baru evaluasi, bahkan prinsip mereka agak dekat ke nekat-nekat gitu, risiko belakangan.

Acara-acara reality show di televisi yang menguji ketangguhan dan keberanian seseorang apakah Fear Factor, atau yang lainnya, cukup positif untuk dijadikan bahan perbandingan kita dalam menginspirasi untuk mencapai tujuan. Hanya yang berani, ulet, tekun, gigih, pantang menyerah dan mental baja sajalah yang dapat menjadi juara alias mencapai tujuan yang diinginkan. Sementara yang pesimis, negatif thingking, buruk sangka, mengambil kesimpulan jelek sebelum sesuatu terjadi, dia hanya akan menjadi pecundang dan merugikan dirinya sendiri. Jadi tinggal pilih juga sebenarnya, mau sukses atau mau g-a-g-a-l. Kalau ingin sukses, sekali lagi, pikirkah tentang kesuksesan setip saat, kapan pun dan di mana pun, sebeliknya kalau mau jadi pecundang, pikirlah yang tidak enak-tidak enak.

Dalam kenyataannya, pikiran memiliki hukum-hukum sendiri. Pikiran itu bukan kita dan kita buka pikiran. Pikiran itu sangat liar dan tidak bisa diatur kecuali oleh pawangnya. Hukum pikiran yang pertama, pikirkan segala sesuatu yang ingin kita pikirkan, kedua, hentikan berpikir apabila kita tidak ingin memikirkan sesuatu pikiran, yang ketiga, kontrol pikiran dengan kesadaran. Kesadaran itulah yang menjadi pawang pikiran, asalkan segala pikiran yang muncul dikonfirmasi ulang kepada kesadaran, maka kita akan senantisa berpikir yang kita inginkan. Contoh sederhana, kita berpikir tentang sesuatu, ingin ke luar negeri misalnya karena mendapatkan bonus akhir tahun, kalau kita bertanya ulang kepada diri sendiri, mengapa saya harus ke luar negeri, apa manfaatnya, apakah bukan pemborosan? Setelah ditimbang-timbang ternyata disimpulkan, memang harus ke luar negeri untuk mengadopsi pengalaman dan kultur negeri lain yang sudah maju. Proses berpikir ulang dan menimbang-nimbang itu adalah posisi kesadaran mengontrol pikiran. Demikian halnya apabila kita berpikir tentang keburukan seseorang, tanyakan kembali, mengapa kita harus berburuk sangka pada orang itu, apa manfaatnya, apakah lebih baik berbaik sangka saja karena belum ada bukti yang kuat bahwa orang itu berbuat salah. Proses memikirkan kembali itu adalah posisi kesadaran juga. Di sini kesadaran sudah berbuat sesuai dengan yang kita inginkan, bukan sebaliknya, berbuat sesuatu yang pikiran inginkan.

Kembali kepada gagasan awal, tidak ada alasan untuk takut gagal karena mencoba sesuatu. Kalu mau mencoba ya, lakukan saja kalau sudah melalui tahap pertimbangan yang cukup matang dan tidak lantas terjebak dalam kebingungan, bimbang, ragu dan sikap-sikap sejenisnya. Dan yang perlu dicatat, orang yang berani mengambil risiko hanyalah orang-orang yang sukses. Terserah, tinggal pilih yang mana. Kegagalan atau keberhasilan dimulai dari pikiran kita sendiri.[] * Ade Asep Syarifuddin adalah trainer yang berbasiskan NLP, motivator SDM. Selain menekuni training SDM, ia juga adalah Editor in Chief dan General Manager pada Harian Radar Banyumas di Purwokerto. Dia dapat dihubungi lewat e-mail: ade_asep@yahoo.com atau Hp: +628122670444.

Selasa, 04 November 2008

BELI BUKU, APA BELANJA DI MAL?

Oleh: Ade Asep Syarifuddin


PEPATAH mengatakan, buku adalah gudang ilmu, membaca adalah kuncinya. Sekarang, pepatah tersebut tinggal menjadi pepatah yang kurang memiliki arti di kalangan masyarakat pada umumnya. Hanya segelintir orang, bisa dihitung dengan jari yang benar-benar memberikan perhatian dan porsi yang cukup serius kepada buku. Nyaris setelah selesai kuliah atau sekolah buku hanya menjadi barang antik yang tidak pernah disentuh. Persis seperti jimat yang diwariskan oleh leluhur, dibuang takut kewalat, sementara untuk dipergunakan sudah merasa tidak membutuhkan lagi.

Penulis seringkali memberikan saran dan masukan kepada orang-orang yang ingin sukses agar rajin membaca buku. Mengapa membaca buku? Sebab membaca buku merupakan belajar yang paling hemat. Untuk mengikuti seminar, workshop, training, biaya yang diperlukan lumayan tinggi. Training pengembangan diri oleh pembicara-pembicara handal sekelas Tung Desem Waringin, Andrie Wongso, Ary Ginanjar membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Memang ada cara lain, belajar kepada orang yang sudah sukses, tapi waktu mereka pun sangat terbatas. Kalau orang sukses itu ayah kita atau paman kita bisa saja kita ngobrol dengan mereka secara leluasa.

Sementara dengan membaca buku, kita dapat menghemat biaya dan waktu. Dengan catatan kita memberikan waktu yang cukup untuk membaca minimal sehari 2 jam. Satu buku merupakan refleksi pengalaman seseorang selama beberapa tahun. Ada penulis yang melakukan penelitian selama 25 tahun dan dituangkan ke dalam buku, ini berarti, kita tidak usah mencoba selama 25 tahun untuk meniru seperti penulis tersebut. Cukup seminggu atau dua minggu sudah dapat mendapatkan informasi yang lengkap tentang pengalaman mereka. Kita juga dapat menghindari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh penulis tersebut karena kita sudah mengetahui titik kelemahannya dan cara mengantisipasinya.

Kalau kita dapat membaca 2 jam sehari dengan asumsi 50 halaman selama 2 jam, tebal buku 200 halaman maka dalam waktu empat hari kita dapat membaca satu buku. Tarolah satu buku diselesaikan dalam satu minggu, itu berarti dalam satu bulan empat buku, dalam waktu satu tahun 4 X 12 buku = 48 buku. Menurut Brian Tracy, literatur yang dibaca sebanyak itu sama dengan syarat untuk meraih gelar magister atau doktor. Bila setahun kita menekuni satu bidang, berati kita dapat ahli dalam bidang tersebut. Dan secara tidak disadari kualitas diri kita setiap saat berkembang terus seiring dengan makin banyaknya wawasan yang kita miliki. Sudah tentu jangan melupakan aktifitas real di lapangan. Teori dan pengalaman orang yang ada di buku bisa menjadi bekal untuk menghadapi persoalan sehari-hari.

Namun demikian banyak juga cemoohan yang dilontarkan kepada para kutu buku dengan mengatakan terlalu teoritis lah, terlalu text book lah dll. Entah apa alasan mereka mengungkapkan hal tersebut. Apakah karena justifikasi dari kemalasan mereka dalam membaca buku atau memang mereka -melihat ketidak-signifikan-an antara pendapat orang yang rajin membaca buku dengan kemampuan menghadapi persoalan yang ada. Bila ada ketidak-signifikan-an itu tidak berarti membaca buku tidak bermanfaat atau keliru. Aplikasinya saja yang tidak tepat untuk konteks persoalan yang sedang dihadapi.

Belanja vs. Beli Buku
Setiap bulan setelah gajian, biasanya ibu-ibu minta diantar suaminya ke Mal. Mereka belanja berbagai kebutuhan sehari-hari mulai dari beras, minyak goreng, gas, pasta gigi, sabun, susu anak dll. Besarnya belanja bervariasi, antara Rp300 – Rp500 ribu per bulan. Itu belum untuk membayar tagihan-tagihan. Alhasil kebutuhan bulanan tidak kurang dari Rp 1 juta. Mengeluarkan Rp 1 juta untuk kebutuhan bulanan sangat mudah. Coba bilang ke istri Anda untuk dibelikan 1 atau 2 buah buku saja selama satu bulan, bagaimana reaksi mereka? Bervariasi, yang mengerti akan mempersilakan untuk membeli, tapi yang tdak mengerti akan mengatkan, buat apa beli buku? Padahal budget buku yang berkualitas rata-rata antara Rp 40 ribu- Rp 50 biru. Dua buku sekitar Rp 100 ribu. Tidak terlalu mahal dibanding budget belanja lainnya.

Kalau dilakukan penelitian, maka para istri lebih banyak yang menolak mengeluarkan anggaran membeli buku daripada yang menyetujui. Mengapa? Banyak sekali alasannya. Kebanyakan kita masih memberikan porsi untuk kebutuhan fisik jauh lebih besar daripada kebutuhan pikiran. Padahal kalau dikaji secara seksama, buku adalah makanan pikiran, untuk memperoleh kesuksesan di masa mendatang, maka pikiran kita harus terus menerus diberi masukan-masukan yang bermanfaat, pikiran kita harus terus di-charge. Kalau sehari-hari pikiran kita hanya menonton gosip selebritis, ngerumpi, berpikir negatif tentang keburukan orang lain, membuat pembenaran-pembenaran atas kemalasan mereka, sudah tentu output-nya pun akan menghasilkan pikiran yang pesimis, negative thinking, buruk sangka dll. Apakah itu yang diinginkan oleh kita.

Pikiran kita terlalu berharga untuk diisi oleh sampah-sampah yang tidak bermanfat. Oleh karenanya sejak sekarang mestinya buku menjadi salah satu item belanja bulanan, setelah membeli beras, kopi, susu, gas, tagihan telepon dan listrik. Jika tidak, entah apa jadinya diri kita dan kultur masyarakat kita di masa mendatang. Sementara di sisi lain, kalau kita tengok pergerakan buku di negeri lain sangat pesat. Masyarakatnya sudah sangat mencintai membaca, belajar setiap saat. Orang Jepang malahan kalau mau masuk ke (maaf) toilet pun mereka membawa buku. Karena di sana ada waktu senggang yang bisa dimanfaatkan. Sementara kita, masyarakat Indonesia, masuk toilet harus menyalakan rokok dulu sambil melamun ke sana kemari tidak karu-karuan.

Bagaimana mencintai buku? Ini PR terbesar bagi kita, bagaimana agar masyarakat kita tumbuh rasa cinta kepada buku, ke mana-mana membawa buku, menyiapkan anggaran tiap bulan untuk membeli buku, mengajarkan anak-anak untuk menyukai buku. Banyak alasan yang dikemukakan dan sangat sering terdengar. Ada yang beralasan karena persoalan ekonomi, sehingga anggaran untuk belanja saja kurang, jangankan membeli buku. Akhirnya buku menjadi sesuatu yang tidak menjadi skala prioritas.

Alasan memang sangat banyak dan bisa dicari-cari. Tapi demi menyelamatkan generasi mendatang agar menjadi manusia yang berkualitas, maka mencintai buku menjadi sesuatu yang tidak dapat diabaikan. Gerakan mencitai buku harus dimulai dari rumah ke rumah, dari pribadi-pribadi yang memiliki hobi membaca. Pengalaman membuktikan bahwa yang memiliki bacaan luas, memiliki peluang sukses lebih besar daripada yang tidak memiliki wawasan.[]

* Ade Asep Syarifuddin adalah seorang pecinta buku, trainer SDM, dan motivator. Ia menjabat General Manager dan Editor in Chief Harian Radar Banyumas di Purwokerto. Ia dapat dihubungi di ade_asep@yahoo.com atau +628122670444

Senin, 20 Oktober 2008

PIKIRANMU ADALAH DUKUNMU



Oleh Ade Asep Syarifuddin

TEMAN saya seorang ahli hypnotherapy. Tapi dia tetap berpenampilan alakadarnya, baik pakaian, rumah dan apapun yang dia kenakan. Tidak berpakaian ala dukun dengan wewangian yang menyengat Tapi orang-orang sekitar menyebut dia seorang dukun. Mengapa, karena orang-orang yang datang kepada dia, beberapa bulan kemudian hidupnya mengalami kemajuan. Apakah dagangnya semakin laris, karirnya semakin maju atau bahkan rumahnya semakin bagus.

Kabar tersebut sampai juga kepada seseorang yang cukup jauh. Karena Word of Mouth (WOM) orang tersebut sangat menyakini kesaktian teman saya tadi. Sampailah pada suatu hari ia datang ke teman saya. Sesampainya di dalam ruang tamu yang cukup terbuka, teman saya mulai membuka pembicaraan. "Apa yang bisa saya bantu Pak?" "Begini pak, saya sudah mengenal banyak tentang Bapak dari orang-orang yang saya kenal. Katanya bapak orang yang cukup pinter. Saya ingin dagangan saya laris karena selama ini terlalu banyak saingan. Intinya saya minta jimat," tutur tamu tadi tanpa ragu-ragu mengutarakan maksudnya.

Teman saya termenung sejenak. Entah siapa yang menyebarkan gosip tersebut. Sampai-sampai dirinya seakan-akan diberi gelar dukun di luar sana. "Tapi saya bukan dukun pak. Saya tidak bisa apa-apa. Saya memang banyak membantu orang, tapi tidak dengan cara demikian." Teman saya berkelit dan tidak mau untuk melakukan praktek perdukunan tadi. Tapi si tamu tadi tetap mendesak tidak mau menyerah dengan keyakinannya.

Dengan niat tidak mau mengecewakan tamunya, teman saya pergi ke belakang. Dia mencari kertas dan pulpen. Kertas tadi dipotong dua sebesar dua kali kartu nama. Kedua kertas tadi ditulis sebuah rumus relativitas Einstain E= mc2. Kemudian kertas tadi dibungkus kain putih dan dijahit. Sebelum diserahkan ditaburi minyak misik Arab. "Ini saya kasih rajah, yang satu ditaruh di dompet dan yang satunya dikubur di depan rumah. Insya Allah segala keinginan bisa tercapai. Demikian, dengan harapan tamuanya cepat pergi.

Ketika sampai di rumahnya, orang tadi membayangkan terus menerus segala keinginannya. Dia membayangkan banyak orang yang datang ke tokonya memborong semua barang yang ada. Dia juga membayangkan jumlah tabungannya terus menerus bertambah, dia membayangkan rumahnya menjadi baru dan sangat bagus, dia membayangkan kendaraannya ganti baru. Semua keinginannya dia bayangkan hampir setiap saat tanpa henti dengan gairah yang dalam dan keyakinan yang tinggi.

Tiba-tiba keajaiban terjadi. Dari bulan ke bulan omzet bisnisnya penjualannya terus menerus naik. Ada saja jalannya. Ada yang memesan barang dalam jumlah banyak, ada sekolah yang pesan buku, ada juga tetangga yang hajatan. Hampir setiap orang datang melakukan transaksi jual beli. Sampai-sampai tetangganya pada ngiri. "Wuih dukunnya dari mana ya. Mantap juga."

***

APA sesungguhnya yang terjadi dengan pedagang tadi? Apakah karena dia diberi jimat sehingga dagangannya laris? Atau ada faktor lain yang membuat hidupnya jauh lebih beruntung ketimbang waktu-waktu sebelumnya. Setelah diteliti, orang tersebut dulu pernah memiliki usaha yang besar juga. Tapi karena satu dan lain hal usahanya bangkrut. Satu hal yang hilang dalam dirinya, dia tidak mempunyai keyakinan yang kuat untuk membangunkan dirinya sendiri. Sampai suatu ketika ia meminta jimat dari teman saya tadi.

Apakah ada kaitannya antara jimat dengan keberuntungan? Inilah yang perlu dikupas oleh kita semua supaya kita memahami cara kerja pikiran. Sebelum datang ke teman saya pedagang tadi tidak memiliki keyakinan kuat untuk sukses karena trauma kebangkrutan. Setelah memperoleh jimat dengan serta merta dalam pikirannya muncul keyakinan kuat untuk sukses, citra dirinya menjadi positif, percaya dirinya tinggi, komunikasinya lancar dan visualisasinya positif juga. Jadi dalam hal ini "jimat" adalah pemicu untuk membuka keyakinan.

Artinya apa? Artinya, sesungguhnya yang membuat orang tersebut sukses bukan jimatnya, tapi keyakinannya. Memang jalannya diberi jimat, tapi bukan jimat itu sendiri yang menjadikannya sukses. Kalau demikian, kita bisa sukses tanpa jimat? Betul sekali. Saya punya cerita lain dari seorang Kiyai. Dia Kiyai yang cukup rasional. Tapi yang namanya orang awam, tetap saja meminta petunjuk-petunjuk praktis untuk mencapai keinginan-keinginannya.Suatu hari ada tamu yang datang kepada Kiyai tadi. Tamu tadi mau ziarah ke makam Wali Songo. Dia membeberkan segala keinginannya. Kemudian dia bertanya, "Pak Kiyai, bacaan apa yang bisa mengabulkan segala keinginan saya?" Kiyai tadi dengan enteng menjawab dalam bahasa Jawa, "Baca 'Sebisa bae' (sebisanya saja) pak.

Setelah itu tamu tadi datang ke makam Sunan Gunung Djati di Cirebon. Selama ziarah dia hanya mengcapkan kata-kata "Sebisae bae, sebisae bae, sebisae bae." Entah berapa ribu dia ungkapkan kata-kata 'Sebisae bae' selama ziarah dengan suatu keyakinan yang tinggi. Tiga bulan kemudian terjadi perubahan dalam hidupnya, lebih mujur, lebih makmur dan lebih baik dari sebelumnya. Sebagai ucapan terimakasih, dia datang ke Kiyai tadi. Kiyai tadi bertanya, "Wah hebat ya usahanya maju. Apa wiridannya?" Dengan polos pedagang tadi menjawab, " Saya wiridan 'Sebisae bae" Pak Kiyai. Alhamdulillah mujarab. Saya baca tidak kurang dari 1000 kali sehari setelah pulang ziarah," katanya.

Mendengar ucapan itu Kiyai tadi cukup kaget. Maksud dia bukan kata 'Sebisae bae' yang dijadikan wiridan, tapi bisanya apa. Mau Al Fatihah, Al Ikhlas, Ayat Kursi, tasbih dll. Tanpa mengurangi rasa hormat, Kiyai tadi menambahkan. Kalau mau lebih mantap dan maju usahanya wiridnya harus diganti. "Wirid apa Pak Kiyai, saya akan menjalankan segala perintah," katanya dengan antusias. "Yang dulu tinggalkan, ganti wiridnya dengan Subhanallah, Alhamdulillah, Laailahaillallah, Allahuakbar. Pasti akan lebih afdol.

***

Dua kejadian di atas benar-benar terjadi yang pernah saya dengar. Saya mencoba untuk merenungkan lebih dalam lagi yang intinya, segala keinginan manusia bisa tercapai asalkan kita mempunyai keyakinan. Persoalannya, keyakinan manusia tidak bisa datang dengan sendirinya, harus dipicu oleh sesuatu. Orang awam mungkin dengan jimat, orang beragama mungkin dengan wiridan, shalat sunnah dll. Pertanyaannya, orang yang sukses itu kan bukan hanya orang yang beragama. Orang yang tidak beragama pun bisa sukses juga, walaupun ukuran suksesnya jelas berbeda. Ini artinya, setiap orang sebenarnya memiliki potensi sukses yang luar biasa besar, tergantung bagaimana cara memanfaatkan pikirannya.

Bagi kelompok orang-orang rasional dan taat beragama bisa saja jimat-jimat pemicu keyakinan tadi diganti dengan beberapa ujud lain. Misalnya saja, yang menjalankan puasa sunah Senin-Kamis maka usahanya akan lancar, yang shalatnya khusuk maka akan dimudahkan dalam hidup, yang rajin shalat tahajud maka tidak ada yang bisa menghalangi keinginannya dll.

Tapi intinya harus ada pemicu pikiran di mana kita yakin akan mendapatkan sukses kalau menjalani sesuatu. Di sini dalam pikiran kita muncul hukum sebab akibat. Kalau menjalankan ini maka akan sukses. Keyakinan yang dimunculkan dalam bentuk kalimat, "Kalau menjalankan ini atau mempunyai ini maka akan sukses" itulah sejatinya yang menjadikan seseorang benar-benar sukses. Inilah yang dinamakan --dalam bahasa saya-- Jimat afirmasi, Jimat kata-kata. Setiap orang bisa membuat sesuai dengan tingkat keyakinannya.

Sebenarnya ini termasuk hukum universal, hukum pikiran yang berlaku bagi siapa saja. Siapa yang membayangkan dan menginginkan sesuatu secara sungguh-sungguh, maka yang dibayangkan tadi bisa terwujud. Belakangan populer dengan Hukum Tarik Menarik atau Law of Attraction (LoA). Hukum ini benar-benar menjadi inspirasi bagi semua orang bahwa segala yang terpikir di dalam pikiran kita, apakah sadar atau tidak kita memikirkan hal tersebut, maka yang kita pikirkan tadi bakal terwujud. Menarik bukan?

Walaupun hukum-hukum tersebut yang mempopulerkan adalah orang-orang yang datang dari Barat, pemikir sekuler, sebenarnya di Indonesia pun sudah ada sejak lama. Hanya kemasannya yang agak berbau mistik dan irasional. Padahal kalau kita kejar lebih jauh lagi, maka secara prinsip cara kerjanya tetap sama. Alhasil, dukun kita adalah pikiran dan hati kita sendiri.

Tidak usah jauh-jauh mencari dukun yang sakti. Apapun yang kita inginkan dapat tercapai. Ini berlaku untuk meningkatkan omzet perusahaan, modal bagi para pelaku marketing dalam menjalankan usahanya. Jadi sebelum bertemu orang, milikilah keyakinan akan berhasil dengan cara membayangkan terjadi deal-deal bisnis dengan orang yang kita tuju. Terimakasih. (*)

*) Penulis adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan. Bisa dihubungi di asepradar@gmail.com atau di http://hidupbermakna.wordpress.com.

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman