Sabtu, 04 Oktober 2008

SENI BERNEGOSIASI

The only way to negotiate anything is to give one thing in return for another. Satu-satunya cara menegosiasikan apapun adalah memberikan imbalan kepada yang lain.”
~ Denis Waitley

Negosiasi sebelum terjadi transaksi barang atau jasa sudah menjadi bagian dari aktivitas manusia sejak jaman purbakala sampai sekarang. Kemampuan bernegosiasi lebih dibutuhkan dalam dunia bisnis yang bergerak cepat dan penuh dengan persaingan ketat seperti saat ini. Karena disamping memberikan hasil lebih memuaskan, melakukan negosiasi akan sangat menyenangkan bila kita mengetahui caranya. Berikut ini ada beberapa tips sukses bernegosiasi.

Langkah pertama adalah mencari informasi yang relevan untuk bernegosiasi, di antaranya tentang tujuan, lawan bicara, agenda, dan hasil yang ingin kita capai, sekaligus seberapa besar keinginan mereka untuk menciptakan transaksi dengan kita. Jika kita ingin membeli sebuah rak buku, setidaknya kita harus mengetahui kisaran harga rak buku dengan berbagai model dan bahan. Pengetahuan tersebut merupakan kunci penawaran kita.

Proses pertama akan terjadi jika ada pertanyaan. Maka kita mulai dengan memberikan pertanyaan yang memerlukan jawaban cukup panjang, bukan sekedar jawaban ya atau tidak. Tetapi jangan sampai kita mengajukan pertanyaan yang sifatnya mengintimidasi. Sampaikan pertanyaan yang menunjukkan rasa hormat kita. Misalnya bertanya kepada mereka dengan memberikan alternatif, “Bagaimana kalau 100 ribu saja?”

Sedangkan untuk mengetahui penawaran terendah, langkah yang bisa Anda lakukan adalah membiarkan mereka memulai penawaran terlebih dahulu. Mereka mungkin memberikan penawaran tertinggi. Tetapi jika Anda memulai terlebih dulu, mungkin mereka akan mendapatkan lebih tinggi dari nilai harga yang sebenarnya.

Oleh sebab itu, kita jangan langsung menerima penawaran pertama. Jika kita langsung menerima, mungkin mereka merasa terlalu mudah dan berpikir masih bisa mendapatkan lebih dari kita. Mungkin jika kita menolak penawaran pertama mereka akan lebih puas. Mungkin mereka berkesimpulan sudah berhasil menekan kita sampai batas terendah.

Dalam proses negosiasi, penjual menawarkan lebih dari jumlah yang sebenarnya ia harapkan. Sementara pembeli akan menawar lebih rendah dari harga yang berani ia bayarkan. Dua kepentingan tersebut jelas bertolak belakang, tetapi jangan sampai perbedaan kepentingan itu menyebabkan kita bertutur kata atau bersikap yang dapat menyakiti lawan bicara. Karena bila hal itu terjadi, pasti akan menimbulkan perselisihan atau pertengkaran.

Sehingga pada proses tersebut diperlukan sikap yang berorientasi pada hasil. Orientasi tersebut akan menjaga sikap dan tutur kata kita. Semakin tinggi hasil yang ingin kita capai, akan semakin baik sikap dan tutur kata kita. Sehingga pada akhirnya kedua belah pihak sama-sama mendapatkan kesepakatan atau hasil.

Siapa pun yang memiliki waktu lebih banyak akan mendapatkan lebih banyak keuntungan dalam bernegosiasi. Kesabaran dapat menghancurkan orang lain yang bersikap terburu-buru. Misalnya dalam proses negosiasi kita harus berhadapan dengan kata ‘tidak’, hal itu bukan berarti proses sudah berakhir.

Mungkin kita akan mendapatkan kesepakatan harga terbaik setelah kita melontarkan beberapa pertanyaan dan menunjukkan keseriusan untuk bertransaksi dengan mereka. Meskipun mungkin kita harus menghabiskan waktu 4 jam untuk proses tawar menawar, tetapi kita akan lebih puas karena berhasil mencapai kesepakatan harga yang terbaik untuk kedua belah pihak. Puas dalam arti keinginan yang paling mendasar dari kedua belah pihak terpenuhi.

Salah satu seni bernegosiasi adalah jangan pernah bernegosiasi tanpa pilihan. Jika kita terlalu berharap akan hasil yang menguntungkan, berarti kita akan kehilangan kemampuan untuk bernegosiasi. Sehingga, apa pun yang kita berikan harus ada imbalannya. Salah satu contoh yaitu, “Jika Anda menginginkan A, maka Anda harus melakukan B.” Tetapi jika kita tidak memiliki alternatif atau pilihan seperti itu, mungkin orang lain akan meminta dan bahkan mendapatkan lebih banyak dari kita.

Di antara sekian banyak seni dalam bernegosiasi, menyisipkan humor dalam proses bernegosiasi adalah langkah yang sangat menguntungkan. Humor akan meredakan ketegangan. Humor akan membuat setiap orang yang terlibat dalam negosiasi merasa senang. Bahkan humor mempermudah kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan melalui proses negosiasi dengan harga yang jauh lebih murah tetapi tak melukai perasaan orang lain.

Itulah beberapa strategi supaya sukses bernegosiasi. Sebenarnya masih ada banyak cara untuk mendapatkan keuntungan dalam negosiasi, contohnya adalah menjadi pendengar yang baik atau membiarkan orang lain lebih banyak berbicara. Atau jika proses semakin sulit dicapai kesepakatan, maka strategi paling ampuh adalah berpura-pura seakan-akan kita akan segera meninggalkan tempat tersebut, serta masih banyak strategi lainnya.

Meskipun upaya negosiasi tidak selalu berhasil, sebagian besar negosiasi menghasilkan keuntungan. Apalagi jika kita sudah merasa cukup siap untuk bernegosiasi, maka keuntungan yang akan kita peroleh akan lebih besar. Negosiasi adalah salah satu bentuk seni panawaran yang paling dihargai dan dinikmati oleh penjual maupun pembeli.[aho]

* Andrew Ho seorang motivator, pengusaha, dan penulis buku-buku bestseller.

MELIHAT KEMAJUAN DAN KELEMAHAN DUBAI

Beberapa waktu yang lalu kami berkunjung ke Dubai, setelah sebelumnya mengunjungi Kairo dan Istambul. Setibanya di bandara jam 2 pagi, kami langsung terpukau pada kemewahan bandara di Dubai, karena fasilitasnya sama seperti pusat perbelanjaan mewah. Dari informasi yang saya peroleh, rata-rata setiap tahun tak kurang dari 6 juta turis asing berkunjung ke salah satu di antara 7 negara bagian Uni Emirat Arab itu. Padahal luas Dubai hanya berkisar 4.114 km2 dengan populasi penduduk tak lebih dari 1,5 juta jiwa. Itu pun mayoritas penduduk terdiri dari urban asal 100 negara di penjuru dunia.

Selama mengunjungi negeri tersebut, kami melihat begitu banyak bangunan megah dan hotel super mewah, misalnya hotel Burj Al-Arab yang bertarif USD 4.000 per hari. Kami juga mendengar bahwa pemerintah negara bagian Dubai juga sedang merencanakan pembangunan hotel super megah, mewah dan canggih, misalnya Burj Dubai setinggi 810 m2, pusat perbelanjaan terbesar di dunia yaitu Asia, Asia, dan sebuah kawasan revolusioner yang diberi nama Dubailand Complex.

Kami hanya dapat membayangkan betapa kaya negeri tersebut, karena dalam waktu dekat pemerintahnya juga berencana membangun sebuah bandara udara baru yang 10 kali lipat lebih luas dibandingkan bandara yang ada saat ini atau dua kali lipat dari luas kawasan pulau Hong Kong. Singkat kata, Dubai seakan memiliki semua kemewahan dan keagungan dengan segala fasilitas nomor 1 di dunia untuk menarik wisatawan asing berkunjung ke negeri tersebut.

Di balik segala kemewahan dan keagungan Dubai ternyata tak lepas dari dukungan para migran asing asal negara-negara ketiga, misalnya India, Pakistan, dan negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Tragisnya, terlalu banyak kisah pilu tentang para pekerja asing tersebut, misalnya tidak mampu mengirim uang ke kampung halaman karena gaji yang terlampau kecil dari yang dijanjikan, disiksa majikan lalu stres atau bunuh diri, dibunuh, dan lain sebagainya. Saya mendengar dalam kurun waktu sampai tahun 2004 saja, setidaknya 880 migran meninggal dunia dengan berbagai sebab selama masa kerja di Arab Saudi.

Tiba-tiba saya membayangkan banyaknya kisah tragis yang juga telah merenggut nyawa tenaga kerja Indonesia selama ini. Dari informasi yang saya baca, selama bulan Januari sampai April 2007 sudah 44 pembantu rumah tangga asal Indonesia meninggal dunia di Malaysia, Singapura, Arab Saudi, Yordania, Taiwan, Hong Kong, dan Jepang, akibat kecelakaan kerja, sakit, disiksa, dibunuh majikan, dan lain sebagainya. Belum lagi nyawa 32 TKI yang terancam hukuman mati dan ketidakjelasan nasib dari 40 ribu TKI di Arab Saudi yang terancam dideportasi. Meskipun mereka berangkat meninggalkan kampung halaman dengan tekad dan semangat kerja memperjuangkan sebuah kehidupan yang lebih layak, tetapi pada kenyataannya perlindungan terhadap nasib mereka di negeri orang tidaklah terjamin.

Di era globalisasi, sebenarnya bangsa Indonesia dapat mengambil manfaat cukup besar dari ketersediaan potensi kerja di negara-negara lain untuk sementara waktu. Di samping mengurangi tingkat pengangguran, TKI dapat mengalirkan devisa yang sangat besar ke dalam negeri. Terbukti dari Bank Mandiri saja, sudah tercatat lebih dari Rp2 triliun devisa yang mengalir hingga akhir triwulan 4 tahun 2006. Selain menciptakan devisa, pengiriman TKI ke luar negeri dapat menciptakan tenaga kerja yang lebih berkualitas setelah mendapatkan pengalaman kerja maupun ilmu pengetahuan selama berinteraksi sosial di luar negeri.
Persoalannya adalah bagaimana upaya peningkatan kualitas tenaga kerja Indonesia, baik dari segi keahlian maupun keterampilan. Para TKI sangat membutuhkan pelatihan tentang berbagai ilmu pengetahuan seputar tanggung jawab kerja mereka. Selain itu TKI juga harus diberi pelatihan misalnya tentang asuransi, prosedur bagaimana mencari dan mendapatkan perlindungan hukum, dan lain sebagainya. Terlepas menjadi TKI atau tidak, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan modal yang sangat penting bagi siapa pun dan negara mana pun untuk mencapai kemajuan.

Kualitas sumber daya manusia yang lebih baik memungkinkan mereka mampu melakukan tindakan-tindakan yang positif dan kreatif. Menurut Henry David Thoreau, kapasitas manusia tidak terbatas. Kita juga tidak dapat mengukur apakah seseorang dapat melakukan sesuatu berdasarkan contoh-contoh, karena sedikit sekali tindakan yang sudah dilakukan. “Man's capacities have never been measured. Nor are we to judge of what he can do by precedents, so little has been tried,” demikian kata filosof dan penulis berkebangsaan Amerika itu.

Sementara itu, saya sempat berbincang dengan seorang sopir taksi asal India sewaktu melakukan Safari Desert. Ia sudah merantau ke Dubai selama 13 tahun. Ia sangat berharap bekerja di negeri kaya raya seperti di Dubai, meskipun jauh dari kampung halaman, akan membuahkan hasil lebih besar untuk membangun kehidupan ekonomi keluarga.

Tetapi sayang, katanya biaya hidup di Dubai semakin tinggi dalam tiga tahun belakangan ini. Sehingga uang yang ia dapatkan dari bekerja sebagai sopir di Dubai saat ini tak lebih baik dari penghasilan para kerabatnya yang masih berada di India. Pasalnya, India sendiri sekarang sedang gencar melakukan pembangunan dan membutuhkan sumber daya manusia cukup besar. Oleh sebab itu, ia tak ingin lagi berlama-lama di Dubai dan berencana akan segera kembali ke India.

Setelah berbincang dengan sopir taksi asal India tadi, saya berpikir bukankah sumber daya alam Indonesia yang terdiri dari 17.500 pulau sangatlah besar? Sedangkan jumlah penduduk Indonesia juga sangat besar, bahkan menempati peringkat ke-4 di dunia dengan jumlah 230 juta jiwa. Dari 40 orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes Asia September 2006, lebih dari setengah di antara mereka memperoleh kekayaan dari sumber daya alam dan sumber daya manusia di Indonesia yang berlimpah tadi. Kekayaan terkecil dari 40 orang terkaya di Indonesia itu berkisar di antara Rp700 miliar.

Kenyataan itu merupakan bukti hanya sebagian kecil bangsa Indonesia yang berhasil memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia di Indonesia yang berlimpah. Artinya, kemungkinan bangsa Indonesia juga bisa menjadi negara yang lebih maju dibandingkan Dubai sangatlah besar. Persoalannya adalah seberapa besar usaha dan kesungguhan bangsa ini meningkatkan kualitas sumberdaya manusia sehingga dapat mengelola sumber daya alam yang sangat besar ini secara efektif dan efisien.

Pengalaman selama mengunjungi Dubai membuat saya begitu berharap ada kesungguhan dan kerja keras dari bangsa Indonesia sendiri untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia sekaligus mengelola sumber daya alam secara profesional, etos kerja dan kejujuran yang tinggi. Dengan demikian, saya yakin status negara Indonesia akan segera berubah dari negara pengirim tenaga kerja menjadi negara penerima tenaga kerja. Namanya juga berharap![aho]

* Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best-seller.

SEMANGAT TOLERANSI

Laws alone can not secure freedom of expression; in order that every man present his views without penalty, there must be spirit of tolerance in the entire population. – Hukum pun tak dapat menjamin kebebasan berekspresi; agar setiap orang bebas mengungkapkan pandangannya, maka harus ada semangat toleransi di seluruh penjuru dunia ini.”
~ Albert Einstein

Rangkaian kata Albert Einstein mencerminkan sebuah pandangan tentang arti penting semangat toleransi di dunia ini. Ide untuk membahas tentang semangat toleransi itu pun muncul begitu saja di dalam benak saya saat berkunjung ke Istambul pada tanggal 22 Maret 2007 lalu. Istambul merupakan kota strategis di wilayah Turki.

Dikatakan strategis karena di sebelah utara kota tersebut adalah benua Eropa, sedangkan benua Afrika di selatannya, sementara benua Asia berada di sebelah timur Istambul. Letak yang strategis menjadikan kota tersebut berkali-kali dipilih sebagai ibu kota negara, di antaranya oleh pemerintahan Roman (330-395), Byzantine (395-1204 dan 1261-1453), Latin (1204-1261) dan Ottoman (1453-1922). Kota bersejarah itu juga mendapatkan predikat Joint European Capital of Culture for 2010 berkat keunikannya.

Istambul lebih mirip kota-kota di Eropa, karena model bangunan di sana mayoritas bergaya Eropa. Dalam kesempatan tersebut kami sempat mengunjungi Blue Mosque, Hippodrome Square, Haghia Sophia, Topkapi Palace, Harem Section, Grand Bazzar, jembatan Bosphorus yang menghubungkan benua Asia dan Eropa. Kami sangat terkesan saat melongok kedalam gedung Haghia Sophia, sebuah bangunan yang disebut-sebut termegah dan terindah sepanjang sejarah.

Di dalam Haghia Sophia kami melihat-lihat lukisan Christus Pantocrator, orang suci John Chrysostom, lukisan pada batu abad ke-12 yang menggambarkan Maria dan putranya, Raja Johannes Komnenos II dan Ratu Irene, dan juga mihrab Islam. Kami melihat budaya dari dua agama itu saling mengisi sejarah mewarnai keindahan dan kemegahan Haghia Sophia.

Haghia Sophia seakan cermin kecil dari kehidupan kita yang juga diwarnai kemajemukan agama, ras, budaya, bahasa, suku, bangsa, kondisi ekonomi dan lain sebagainya. Kemegahan dan keindahannya menyiratkan begitu penting semangat toleransi atas perbedaan yang ada. Selayaknya kita mengerti fungsi dan makna toleransi itu sendiri, agar kita semua dapat hidup dalam keharmonisan dan ketentraman, sevisi dan misi membangun masa depan yang lebih baik.

Prinsip toleransi menurut saya bukanlah menyamakan perbedaan yang ada, melainkan kesadaran akan adanya perbedaan. “Your neighbor's vision is as true for him as your own vision is true for you. – Visi tetangga Anda tentu benar beginya, sebagaimana visi Anda tentu juga benar bagi Anda sendiri,” kata Miguel de Unamuno. Dengan akal dan hati nurani karunia Tuhan YME, kita pasti mampu bertindak arif dan cerdas, yaitu menghayati adanya perbedaan. Sehingga kita mampu berinteraksi dengan saling menghargai.
Tengoklah contoh realitas yang ada di Rusia, di mana warga muslim di sana hidup damai berdampingan dengan agama-agama lain. Kehidupan toleransi yang saling menghargai telah berhasil mempererat persahabatan berbagai suku bangsa Rusia seperti Tatar, Chechnya, Inghus, Kabardin, dan Dagestan. Tak hanya itu, semangat toleransi sangat membantu suku-suku itu melestarikan identitas budaya dan peradaban masing-masing di antara mereka.

Prinsip toleransi berikutnya adalah tidak mempersoalkan perbedaan. Sebaliknya, kemajemukan dalam prinsip toleransi justru menjadi sarana bagi satu sama lain di antara kita untuk memperkaya budaya dan memajukan kehidupan. “Tolerance can lead to learning something. – Toleransi dapat membimbing kita untuk mempelajari sesuatu,” kata Jakob Dylan.

Prinsip toleransi juga mengedepankan antusiasme kita dalam berbuat kebaikan sebanyak mungkin dan meninggalkan perbuatan melanggar hukum atau kejahatan sejauh mungkin. Tolok ukur sebagai manusia yang lebih baik atau tidak dalam prinsip toleransi bukan berdasarkan pada perbedaan. Ukuran manusia dikategorikan lebih baik atau tidak berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan.

“What is tolerance? It is the consequence of humanity. We are all formed of frailty and error; let us pardon reciprocally each other's folly – that is the first law of nature. – Apakah arti toleransi? Toleransi merupakan konsekuensi atas nilai-nilai kemanusiaan. Kita semua mempunyai kekurangan dan kesalahan; jadikan masing-masing diantara kita saling memaafkan satu sama lain – itulah hukum alam yang pertama,” papar Voltaire.

Sebut saja wanita mulia seperti Cheng Yen atau Bunda Teresa yang sama-sama berjuang atas nama kemanusiaan untuk seluruh umat manusia di dunia tanpa membedakan warga negara, agama, ras, suku dan lain sebagainya. Padahal Cheng Yen merupakan tokoh agama Budha yang sangat disegani di Taiwan, sedangkan Bunda Teresa juga seorang tokoh agama Katolik terkemuka dari Kalkuta – India. Bukankah kemuliaan mereka bukan dikarenakan kelebihan dari perbedaan yang mereka miliki? Mereka menjadi tokoh ternama dan mulia karena semangat toleransi dalam diri mereka yang lebih mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Perbedaan adalah anugerah terbesar dan terindah dari Tuhan YME kepada kita. Demikian pula dengan toleransi, “Toleration is the greatest gift of the mind,…- Toleransi adalah anugrah dari pikiran yang paling luar biasa,” ucap Helen Keller. Di atas segala perbedaan yang ada, dengan semangat toleransi kita akan mendapatkan manfaat yang jauh lebih besar dan kemampuan meningkatkan nilai diri kita sebagai manusia yang berakal dan berhati nurani.[aho]

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller. Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com.

MEMBANGUN BUDAYA POSITIF

A great civilization is not conquered from without until it has destroyed itself from within. – Sebuah bangsa yang agung tidak dapat terkalahkan kecuali diakibatkan budaya-budaya di dalam masyarakat itu sendiri.”
~ Will Durant

Budaya adalah sesuatu yang mempengaruhi pola kehidupan sekaligus dipengaruhi dinamika masyarakatnya. Sehingga perubahan budaya itu sendiri bersifat statis atau tak dapat kita elakkan. Salah satu contohnya adalah budaya Republik Rakyat Tiongkok yang sudah ikut mewarnai kehidupan dan budaya bangsa Indonesia.

Hal itu dikemukakan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, pada acara Malam Peringatan 50 Tahun Kerjasama Kebudayaan RI dan RRT. Kebetulan saya menjadi salah seorang tamu undangan pada acara yang diselenggarakan pada tanggal 28 Februari 2007 lalu. Dalam kesempatan tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa selama ini telah terjalin komunikasi lintas etnis antara bangsa Indonesia dan Tionghoa dan sudah mempengaruhi budaya bangsa Indonesia.

Dalam acara pertunjukan budaya yang dimeriahkan oleh artis-artis RRT dan Indonesia serta dihadiri sejumlah pejabat negara dan sekitar 5.000 orang itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan tegas menyatakan bahwa masyarakat Indonesia sudah terbuka dan mampu menyesuaikan diri lewat komunikasi budaya. Pemerintah RI pun mendukung perubahan tersebut, salah satunya adalah menetapkan Hari Raya Imlek sebagai hari libur nasional.

Berbicara tentang ragam budaya yang dinamis dan saling mempengaruhi, sesungguhnya yang terpenting bagi kita adalah mengambil nilai positif dari pengaruh budaya yang ada, terutama di tengah gencarnya pengaruh gaya hidup modern di era globalisasi ini. Sebagaimana seorang ahli sejarah, yaitu Will Durant, menyebutkan bahwa sebuah bangsa yang agung sekalipun dapat hancur akibat budaya bangsa itu sendiri. Sehingga kita harus pandai menyeleksi apakah budaya yang masuk itu menjadikan kita lebih maju ataukah tidak.

Salah satu faktor yang harus kita perhatikan apakah nilai-nilai budaya tersebut membuat kita mampu bersikap saling menghargai? Karena budaya sikap yang membeda-bedakan berdasarkan status, jabatan, pendidikan dan lain sebagainya menjadikan kita sulit mencapai kemajuan. “The way you give your name to others is a measure of how much you like and respect yourself. – Cara Anda menghargai orang lain merupakan tolok ukur seberapa besar cinta dan penghargaan Anda terhadap diri sendiri,” kata Brian Tracy. Sikap saling menghargai memungkinkan kita dapat mengesampingkan perbedaan dan sama-sama aktif mengembangkan diri, berkreasi, berinovasi dan mencapai kemandirian.

Selain itu kita dapat melihat kemajuan pesat yang dicapai bangsa Jepang dalam waktu relatif singkat. Salah satu faktor yang menstimulasi kemajuan tersebut adalah kerja keras bangsa Jepang sendiri. Sedangkan mekanisme di negara tersebut bersifat mendukung dan menghargai kerja keras seseorang. Kita pun kemungkinan besar dapat mencapai kemajuan dalam kurun waktu yang cukup cepat jika kita berusaha menyerap dan menerapkan budaya sikap aktif dan kerja keras seperti yang dilakukan oleh bangsa Jepang.

Salah satu budaya positif lain yang mesti kita miliki adalah kesederhanaan, meskipun mungkin kita dapat hidup serba mewah dan modern. Hidup sederhana bukan berarti tidak memanfaatkan segala fasilitas yang memungkinkan kita lebih maju dalam waktu cukup cepat, melainkan hidup hemat, tidak boros atau berlebih-lebihan. Kata Henry David Thoreau, “A man is rich in proportion to the things he can afford to let alone. – Seseorang yang mampu hidup sederhana, maka ia tidak akan pernah merasa kekurangan.”

Selain itu kita juga harus memperhatikan apakah budaya yang akan kita ikuti bermanfaat bagi kehidupan dan kemanusiaan? Budaya positif haruslah menumbuhkan empati dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena dunia ini penuh dengan orang-orang yang malang. Bagi diri kita sendiri membudayakan sikap yang penuh empati merupakan sumber semangat untuk terus berupaya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Budaya positif lainnya yang mesti kita serap dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah budaya untuk menjadi subjek bukan sekedar menjadi objek. Artinya, kita harus terbiasa bersikap aktif dan kreatif menciptakan karya baru yang bernilai jual tinggi. Budaya tersebut tentu saja memerlukan kesadaran untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, misalnya; senantiasa meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan melalui kursus, seminar, belajar dari buku dan orang-orang yang sudah berpengalaman dan lain sebagainya.

Sebenarnya masih sangat banyak budaya positif yang sangat bermanfaat untuk membangun kehidupan kita agar menjadi bangsa yang lebih sukses, kuat dan bermartabat. Terlebih di tengah derasnya modernisasi informasi dan serba cepat, kita dapat dengan mudah mengakses budaya-budaya positif dari berbagai macam etnis, suku, atau bangsa lain di seluruh bagian dunia ini. Meskipun mungkin agak sulit memulai, tetapi selama ada kemauan dan kita terus mencoba maka budaya-budaya positif itu lambat laun akan benar-benar menjadi warna kehidupan kita sehari-hari. Michael Jordan mengatakan, “I can accept failure. But I can’t accept not trying. – Saya dapat menerima kegagalan. Tetapi saya tidak dapat menerima jika tidak mencobanya.”

[aho] * Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator dan penulis buku-buku bestseller. Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com.

BANGKITKAN SEMANGAT MENCAPAI KEMAKMURAN DENGAN VISI

Where there is no vision, the people perish/ die.
– Ketiadaan visi membuat manusia mati.”
~ King Solomon

Saya terinspirasi begitu besarnya kekuatan visi ketika saya menyaksikan semangat bangsa China menyambut Olimpiade Beijing 2008 yang sangat luar biasa. Semangat dan kesatuan mereka membuat presiden Perancis, Nicolas Sarkozy, berkomentar, “Ini (olimpiade) bagi rakyat China adalah acara yang sangat berarti.”

Dulu China adalah negara yang sangat konservatif terhadap budaya asing. Tetapi beberapa tahun belakangan negeri tersebut sudah mulai terbuka terhadap masuknya budaya asing. Ajang olahraga olimpiade menjadi salah satu bukti sikap terbuka bangsa tersebut menerima dunia luar dan menjadi bagian dari era globalisasi.

Seluruh masyarakat dari anak-anak sampai lansia ingin menyukseskan agenda penting pemerintah China tersebut. Menjelang olimpiade digelar sejumlah aturan sudah diterapkan di Beijing, ibu kota China. Aturan tersebut diantaranya adalah dilarang mengupil, menguap, menggaruk kepala saat berbicara dengan orang asing, selalu tersenyum, dan diminta selalu mengatakan ‘kamu sungguh luar biasa’.

Bahkan beberapa kali sudah diselenggarakan kampanye mengubah kebiasaan buruk warga Beijing. Seluruh wargapun mendukung kampanye tersebut, karena dianggap sangat membantu terciptanya budaya berperilaku baik. Ketika saya baru tiba di kota tersebut, saya terkesan dari cara mereka menyambut tamu asing karena begitu banyak kemajuan positif.

Kesungguhan pemerintah China menyukseskan olimpiade yang mulai digelar 8 Agustus mendatang diikuti keputusan pemerintah setempat menarik 1 juta mobil dari jalanan selama 4 hari, dari tanggal 17-20 Agustus 2008. Langkah tersebut merupakan upaya untuk memperbaiki kualitas udara di Beijing. Beberapa upaya lain juga dilakukan untuk mengatasi polusi sebelum dan selama olimpiade digelar.

Tak heran jika jalan-jalan dan fasilitas-fasilitas umum di sana terlihat sangat bersih. Ini menunjukkan antusiasme warga menyambut penyelenggaran olimpiade tersebut. Alangkah besar kekuatan sebuah visi, sampai-sampai semua orang di China dengan suka rela menjalankan budaya yang lebih baik.

Visi adalah sumber semangat untuk melakukan yang terbaik dan berusaha sekeras mungkin untuk lebih maju. Bill gates mengatakan, “If you have a clear vision, you’ll even forget your breakfast. – Jika Anda mempunyai visi yang jelas, mungkin Anda akan lupa sarapan.” Lantas saya berpikir mengapa kita tidak mencontoh bagaimana bangsa China begitu bersemangat melakukan banyak perubahan demi tercapainya sebuah visi.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa tantangan hidup akhir-akhir ini semakin sulit. Kenaikan harga BBM diklaim sebagai biang atau penyebab kehidupan masyarakat lebih berat. Padahal sangat kecil kemungkinan BBM bakal turun harga. Lalu apakah artinya tak akan pernah ada harapan kehidupan kita lebih baik?

Tentu saja semua orang tak ingin kehidupannya terus terpuruk. Bukankah hidup makmur adalah keinginan semua orang? Mengapa tidak kita manfaatkan keinginan tersebut sebagai visi untuk membangkitkan semangat juang kita?

Visi mampu berfungsi sebagai sumber semangat jika kita memiliki keyakinan akan adanya harapan kehidupan yang lebih baik jika kelak berhasil mencapai visi tersebut. Keyakinan adalah sumber semangat yang tidak akan pernah padam untuk terus melakukan sesuatu walaupun harus menghadapi banyak kesulitan.

Di China semua orang antusias melakukan banyak program menjelang olimpiade misalnya fashions show olimpiade, pawai obor, dan lain sebagainya. Semangat mereka begitu besar, walaupun di negeri tersebut sebenarnya sempat terjadi konflik di Tibet, protes dari luar negri tentang penegakan HAM, bencana banjir, dan gempa bumi di Sichuan. Semangat mereka melaksanakan berbagai agenda kegiatan dikarenakan mereka begitu menginginkan olimpiade tersebut terselenggara dengan baik.

Menciptakan kemakmuran hanya dapat dicapai dengan melakukan perubahan-perubahan positif, yaitu perubahan yang membuat kita cepat mengidentifikasi sekaligus menyelesaikan masalah yang menghalangi tujuan kita mencapai kemakmuran. Bila visi itu sudah menjadi bagian dari emosi kita, maka kita akan bersemangat melakukan perubahan, misalnya melakukan peningkatan etos kerja, moralitas, kreativitas, integritas, spiritual, toleransi, keahlian atau intelektual, dan lain sebagainya.

Itulah kesan tentang kedahsyatan sebuah visi yang saya rasakan di China, khususnya di Beijing menjelang penyelenggaraan olimpiade. Alangkah beruntungnya bila kita juga dapat memanfaatkan kekuatan visi untuk membangkitkan semangat juang dan melakukan perubahan. Karena semangat adalah satu diantara beberapa modal maya penting untuk meraih kemakmuran.[aho]

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com.

SEKILAS TENTANG PHELPS, SANG PEMECAH REKOR RENANG DI OLIMPIADE BEIJING 2008





Potensi manusia begitu besar dan tidak terbatas. Terbukti selalu ada rekor baru dalam setiap penyelenggaraan olimpiade. Dalam sejarah Olimpiade muncul para pemecah rekor yaitu Michael Phelps (perenang), Carl Lewis (pelari), Mark spitz (perenang), Paavo Nurmi (pelari jarak jauh) dan Larysa Latynina (pesenam peraih 9 medali emas).

Michael Fred Phelps, kelahiran Baltimore-AS, berhasil merebut 8 medali emas, memecahkan rekor Mark Spitz yang pernah meraih 7 medali emas pada olimpiade Munchen tahun 1972. Puluhan medali emas selalu ia dapatkan dalam berbagai kompetisi kelas dunia, misalnya World Championships (Yokohama, Jepang 2002), Pan Pacific Championship (Kanada 2006), dan lain sebagainya. Prestasi Phelps menginspirasi kita begitu besar potensi di dalam diri manusia. Bahkan beberapa hal tentang Phelps berikut ini menjadi acuan penting untuk mengeksplorasi potensi tersebut.

Salah satu yang dapat kita teladani dari pemuda usia 23 tahun ini adalah kebiasaan Phelps yang selalu fokus pada aktifitas-aktifitas penting untuk mencapai tujuan. Contohnya Phelps tidak berusaha melakukan sesuatu yang dilakukan orang lain. Sebaliknya, ia hanya fokus untuk terus berlatih dan meningkatkan kemampuannya berenang cepat.

“Saya mengerti jika saya berlatih sekeras mungkin dan melakukan sesuatu yang berbeda, maka saya akan baik-baik saja. Saya senang bertanding sebaik mungkin. Saya dapat mengontrol apa yang saya lakukan dan mempersiapkan diri sebaik mungkin, lalu saya akan senang. Hanya itu persoalannya,” kata Phelps saat diwawancara.

Phelps sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum Olimpiade Beijing diselenggarakan. Selama lebih dari 300 hari sebelumnya Phelps sudah berlatih berenang. Bagi Phelps, tiada hari tanpa melatih kecepatan berenang, walaupun itu hari libur ataupun hari-hari istimewa lainnya.

Phelps begitu yakin akan kemampuannya. Ia tidak merasa ragu untuk menyingkirkan penghalang yang dapat menghambat dirinya menuju kemenangan dengan terus berlatih tanpa kenal lelah. Begitupun bila kita ingin mengekplorasi potensi diri, buatlah semacam daftar hal-hal yang mungkin dapat menghambat produktifitas, menyebabkan pemborosan waktu dan energi, atau bahkan sumber stres. Usahakan untuk mengurangi sedikit demi sedikit sampai hambatan-hambatan itu benar-benar hilang.

Milikilah komitmen yang besar untuk menciptakan perubahan. Jangan malas untuk terus berbenah dan mengerjakan tanggung jawab secara sistematis yang mendukung pencapaian kesuksesan. Dengan demikian prestasi terbaik sekalipun akan mudah diraih. Sebagaimana Phelps meyakini ia dapat mengontrol persiapan dan aktifitas yang ingin ia lakukan, meskipun ia tidak dapat mengontrol orang lain maupun hasil yang akan ia dapatkan.

Ketika diwawancara Phelps menjelaskan bahwa tak ada hal penting yang ia pikirkan. Sebab ia mengaku tidak dapat bertanding sekaligus berpikir. Yang ada di benaknya hanyalah berusaha sebaik dan sekeras mungkin. “During the heat of competition is no time for thinking, it is a time for doing. – Di puncak kompetisi tak ada waktu untuk berpikir, itu waktu untuk berusaha,” tandasnya
Ungkapan Phelps sekaligus menjelaskan begitu besar keyakinannya untuk menang. Ia tidak membuang waktu untuk terus berpikir. Ia hanya berusaha berbuat sebaik mungkin. Jika Anda ingin berhasil, maka pastikan Anda selalu berbuat yang terbaik dan berusaha sekuat tenaga.

Sejak 4 tahun yang lalu Phelps sudah optimis bakal meraih keberhasilan di olimpiade Beijing (2008). Sikap Phelps yang selalu optimis adalah salah satu faktor yang membuat pria tersebut selalu berusaha melakukan hal terbaik. Tak heran jika ia begitu bersemangat, mampu fokus pada hasil positif dan mengabaikan hal-hal yang kurang bermanfaat. “Saya senang bertanding. Saya suka berdiri di pinggir kolam renang lalu menyebur ke kolam renang bertanding dengan siapapun yang menjadi lawan saya,” katanya.

Begitu besar kekuatan pikiran, terutama kekuatan pikiran bawah sadar. Phelps begitu optimis, artinya kondisi pikiran bawah sadar Phelps sudah terprogram bahwa ia pasti mampu meraih keberhasilan. Keyakinan yang begitu kuat membuat Phelps tak kenal lelah berlatih, penuh semangat, dan mampu melakukan yang terbaik.

Hal serupa dapat terjadi pada kita, jika kita memiliki keyakinan yang kuat untuk berhasil. Keyakinan tak akan membuat kita membuang waktu percuma, karena ragu-ragu setelah melihat tantangan di depan. Keyakinan akan membuat kita mampu memfokuskan diri pada hal-hal yang bermanfaat dan mendukung usaha kita menciptakan prestasi mengagumkan.

Sementara bila kita perhatikan, keberhasilan Phelps tak lepas dari orang-orang di sekitarnya. Mereka adalah orang-orang yang mendukung cita-cita Phelps tercapai, diantaranya adalah para ahli fisika yang mendesainkan pakaian renang ‘hiu’ untuknya. Diyakini bahwa pakaian renang tersebut memudahkan Phelps mengarungi air dan menambah kecepatan renangnya sampai 4%. Para ahli fisika itu adalah orang-orang penting di balik keberhasilan Phelps menciptakan rekor cemerlang di pesta olah raga akbar tersebut.

Diantara orang-orang yang mematahkan semangat juang tentu masih ada orang-orang yang menyediakan dukungan dan membantu kita meraih keberhasilan. Berusahalah untuk membina hubungan yang baik dengan mereka. Karena peran mereka pasti sangat penting dalam membantu kita meraih keberhasilan.

Sedikit kisah tentang Phelps telah menginspirasi begitu banyak hal yang dapat membantu kita mencapai keberhasilan di bidang yang kita inginkan. Seandainya kita mencermati, masing-masing diantara kita mempunyai semua kekuatan tersebut. Satu-satunya yang kita butuhkan lagi hanyalah keberanian untuk segera melangkah menciptakan keajaiban yang kita harapkan.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com

Senin, 22 September 2008

BELAJARLAH UNTUK SELAMANYA

“Learning is like rowing against the current, as soon as you stop, you are swept back. – Belajar layaknya berenang melawan arus. Bila Anda berhenti seketika itu pula Anda akan terdorong ke belakang.”
~ Confucius

Ungkapan Confucius menegaskan agar kita tidak berhenti belajar. Seseorang yang berpotensi besar mempunyai masa depan cerah di era globalisasi modern ini adalah mereka yang menguasai ilmu pengetahuan. Hanya dengan belajar atau selalu memperbanyak bendahara ilmu pengetahuan maka proses pertumbuhan dalam kehidupan kita dapat terus berlangsung. “Meski miskin seorang yang berilmu akan tetap berharga,” demikian tandas Iukuzawa Yukichi (1835-1901) yang hidup di zaman Sakoku (Isolasi). Untuk itu coba kita perhatikan beberapa langkah agar semangat dan kemauan belajar kita terus berkobar.

Yang pertama adalah menanamkan dalam pikiran kita bahwa ilmu pengetahuan itu sangat penting berapapun usia dan bagaimanapun keadaan kita. Seiring dengan perubahan sebagai hasil dari inovasi tehnologi, maka masalah juga akan terus berkembang. Karena itulah kita perlu belajar untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan agar dapat mengatasi persoalan-persoalan yang terus berkembang tersebut dengan lebih baik.

Dari sebuah berita di media cetak saya membaca kisah tentang seorang tokoh lansia bernama Plaut. Meskipun sudah berusia 88 tahun tetapi ia tidak kehilangan semangat untuk belajar teologi, sejarah dan bahasa Perancis di Universitas Toronto. Selama 12 tahun menempuh pendidikan, ia dinyatakan lulus pada tanggal 11 Juni 1990, di usianya yang ke 100 tahun. Saat diwisuda, ia dinyatakan sebagai alumni berusia tertua.

Dari sebuah media elektronik nasional diberitakan tentang Mansur yang mengikuti ujian kesetaraan paket B pada tanggal 26 Juni hingga 28 Juni 2007. Dengan kendaraan pinjaman tetangga, Mansur, ayah dua anak itu, bersama rekan yang lain berangkat ke pusat belajar-mengajar Bintang Terang Jagakarsa, Jakarta Selatan. Mansur dan 238 peserta ujian lainnya bertekad untuk mengubah hidup.

Berita lain juga menyebutkan tentang para narapidana yang masih bersemangat menuntut ilmu. Di Lembaga Pemasyarakatan Parepare, Sulawesi Selatan, terdapat 38 narapidana baru-baru ini mengikuti ujian paket A atau setara sekolah dasar. Belasan penghuni LP Sukabumi, Jawa Barat juga serius saat mengikuti ujian paket A. Di Lapas Muara Padang, Sumatara Barat terdapat sekitar 28 napi mengikuti ujian paket B atau setara sekolah menengah pertama. Bagi mereka, tidak ada kata terlambat untuk belajar.

Semangat mereka masih tinggi untuk terus belajar, karena mereka merasa perlu untuk meningkatkan ilmu pengetahuan. Semangat untuk belajar juga dapat terus kita pupuk bila kita memiliki kerendahan hati. Contohnya Confucious pada 2.500 tahun yang lalu menyatakan, “Di antara 3 orang berkumpul pasti ada seorang yang bisa menjadi guruku.” Dunia sudah mengakui dirinya sebagai seorang filosof yang jenius, tetapi ungkapan tersebut menunjukkan kerendahan hatinya yang masih merasa perlu untuk terus belajar.

Sementara itu, kesediaan belajar tanpa tujuan yang jelas justru menyia-nyiakan waktu dan mengurangi antusiasme belajar. Karenanya tetapkan fokus untuk mempelajari bidang tertentu dalam rentang waktu tertentu pula. Misalnya jika tahun ini Anda ingin mendalami ilmu pengetahuan tentang kepemimpinan, maka Anda akan berusaha mencari sumber informasi tentang segala hal yang berkaitan dengan ilmu kepemimpinan entah melalui internet, buku, seminar dan lain sebagainya.

Dengan demikian, Anda akan mengetahui banyak hal secara mendalam tentang materi yang sedang Anda pelajari. Semakin banyak yang Anda ketahui akan membuat Anda termotivasi untuk menggali informasi lebih dalam lagi. Sebagaimana sebuah pepatah bijak menyebutkan, “The more you know, the less you get. – Semakin Anda mengetahui, maka Anda semakin merasa tidak mengerti.”

Selanjutnya miliki sikap konsisten dengan apa yang sudah dipelajari. Sebuah ilmu pengetahuan sebaik apapun hanya akan menjadi wacana yang sia-sia dan tidak berpengaruh terhadap semangat belajar jika tidak kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jim Rohn mengemukakan tentang pentingnya menerapkan ilmu pengetahuan yang kita ketahui.

“We must learn to apply all that we know so that we can attract all that we want. – Kita harus belajar untuk menerapkan apa yang kita ketahui, sehingga kita dapat menarik segala sesuatu yang kita inginkan,” ungkapnya.

Demikian pula kata Confucius, “The essence of knowledge is, having it, to apply it; not having it, to confess your ignorance. – Nilai ilmu pengetahuan adalah dengan memiliki dan menerapkannya, bukan sekedar memilikinya untuk memenuhi ketidaktahuan saja.”

Kita akan mencapai kemajuan pesat di segala bidang bila kita konsisten menerapkan ilmu pengetahuan yang kita miliki. Ilmu pengetahuan tentang mode, politik, keagamaan, tehnik, dan lain sebagainya tak hanya menjadi wacana di pusat-pusat pendidikan. Dengan melaksanakan semua ilmu pengetahuan yang kita miliki kedalam kehidupan sehari-hari, maka semangat belajar kita akan terus meningkat.

Selain cara-cara yang saya uraikan di atas, sebenarnya masih banyak cara lain yang dapat kita tempuh untuk menjaga semangat belajar kita. Yang terpenting adalah tetap mengupayakan belajar kapanpun dan bagaimanapun kondisi kita agar ilmu pengetahuan atau wawasan dan kualitas berpikir kita senantiasa lebih baik. Dengan demikian, kita tak hanya mampu melakukan tindakan-tindakan yang relevan dengan perubahan yang terus terjadi tetapi juga mampu menjangkau cita-cita tertinggi.[aho]

* Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator dan penulis buku-buku bestseller. Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com.

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman