Rabu, 29 Oktober 2008

KEBAHAGIAAN “INTERNAL” DAN “EKSTERNAL”

Oleh: A. Asep Syarifuddin


KAPAN Anda merasa bahagia? Apakah ketika memperoleh hadiah? Habis bulan? Mendapatkan ucapan selamat? Atau... semua itu bisa menjadikan kita bahagia karena ada stimulus dari luar yang membuat kita dapat memenuhi kebutuhan. Tapi, bagaimana ceritanya ketika semua yang datang kepada kita itu habis? Hilang? Lenyap atau tidak lagi menjadi milik kita? Sudah tentu bila sumber kebahagiaan tersebut tidak ada maka yang muncul adalah ketidakbahagiaan. Dengan sendirinya kita harus mengejar kembali sesuatu yang dapat membuat kita bahagia tadi. Apakah ini model kebahagiaan yang salah? Tidak juga, tapi kalau Anda merasa bahagia karena sesuatu yang datang dari luar, maka siap-siap saja untuk kecewa karena sesuatu yang datangnya dari luar tidak abadi sifatnya. Ironisnya model kebahagiaan seperti ini nyaris diyakini oleh 80 persen orang kebanyakan yang hidup di dunia ini.

Lantas, apakah ada model kebahagiaan yang lain? Ada dan ini sifatnya abadi. Model kebahagiaan kedua adalah kebahagiaan "internal". Kebahagiaan ini datangnya dari dalam diri kita dan bukan dari luar diri kita. Tapi, bagaimana caranya kita memiliki model kebahagiaan seperti ini? Sepertinya susah untuk merealisasikannya. Lagi pula, kebanyakan orang bisa merasakan kebahagiaan apabila mencapai sesuatu dan mengejar hal lain bila sesuatu itu sudah tercapai. Kita bisa mencapai kebahagiaan internal dan kabar gembiranya, bila kita memiliki kebahagiaan internal, maka kebahagiaan eksternal bisa tercapai. Sementara, bila hanya mencapai kebahagiaan eksternal, maka kebahagiaan internal tidak bisa dimiliki. Caranya sederhana, ciptakan batin kita menjadi bahagia. Caranya bermacam-macam, salah satunya dengan selalu memiliki rasa bersyukur.

Coba hitung, anugerah yang sudah kita peroleh sejak lahir sampai sekarang. Kita diberi nikmat hidup, bentuk tubuh yang indah, bernapas, diberi mata, diberi hidung, mulut, lidah, paru-paru, jantung, ginjal, hati, dan pikiran. Belum lagi di luar kita, kita memiliki orangtua, saudara, tetangga, dll. Allah SWT sudah memberikan segala kebutuhan kita di dunia ini lengkap dengan segala fasilitasnya. Apakah masih kurang segala sesuatu yang sudah diberikan kepada kita? Sepertinya kita memang kurang memiliki rasa bersyukur atas hal-hal di atas yang selama ini sudah menopang hidup kita. Cobalah kita syukuri satu per satu, maka hasilnya akan sangat luar biasa bahagia.

Ya Allah ...
Aku bersyukur hari ini masih diberikan kesempatan untuk hidup.
Aku bersyukur hari ini masih bisa bernafas, terimakasih hidung, terimakasih paru-paru, terimakasih oksigen, terimakasih matahari dan pepohonan yang sudah mengubah karbondioksida menjadi oksigen dan udara bersih di pagi hari.
Aku bersyukur diberikan kesehatan, sehingga aku bisa menjalankan aktivitas sehari-hari.
Aku bersyukur atas segala nikmat yang sudah diberikan kepadaku baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Betapa banyaknya, dan aku tidak bisa menghitungnya.
Terimakasih Tuhan, terimakasih alam, terimakasih anggota tubuhku, terimakasih alam, aku sayang kepadamu, aku mencintaimu.

Ucapkan kata-kata di atas dalam suasana hening, penuh dengan perasaan, bayangkan semuanya memberikan ucapan selamat kepada Anda, menepuk-nepuk bahu Anda, bersalaman kepada Anda. Tuhan pun tersenyum melihat Anda penuh rasa syukur dan Dia berjanji akan menambah nikmat-nikmat yang lain walaupun tidak kamu minta. Subhanallah.... Cara lain yang biasa saya lakukan adalah bangun malam untuk salat Tahajud dan tadarus Alquran. Agar dipermudah bangun malam baca tulisan saya yang berjudul 'Berdamai dengan Diri Sendiri'. Ada satu perasaan bahagia yang tiada tara ketika membuka mata pada pukul 03.00. Sambil mengucapkan alhamdulillah saya bangun dengan penuh senyum dengan perasaan Allah juga senang melihat hambanya bangun pada dini hari.

Saya ambil air wudu, saya basuh satu per satu anggota rukun wudu sampai selesai. Saya ambil sajadah, kain sarung, dan baju sopan yang bersih serta mengenakan tutup kepala. Allahu Akbar.... Kuucapkan kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa di keheningan malam. Lagi-lagi aku melihat Tuhan tersenyum lebar, gembira melihat hambanya bertafakur, berdoa, bermunajat, merendahkan diri, bersujud di depan Sang Pencipta. "Sesungguhnya salatku, hidup, dan matiku hanyalah milik Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu." Ayat demi ayat dilantunkan secara perlahan, benar-benar terasa nikmat dan lapang dada. Ketika saya ingat dosa-dosa saya tak terasa air mata pun berlinang, apakah Allah masih mau untuk memaafkan saya? Padahal dosa selama hidup baik yang terasa maupun yang tidak terasa jumlahnya sangat banyak. Saya pasrahkan kepada kebesaran Zat Yang Maha Pengampun, mudah-mudahan masih mau untuk mengampuni hamba yang zalim ini.

Saya benar-benar menikmati gerakan demi gerakan salat sampai salam. Lagi-lagi entah mengapa rasa bahagia tersebut seolah masuk ke dalam diri dan memeluk erat-erat seakan tidak mau terlepas dari batin dan tubuh saya. Setelah berdoa saya ambil HP untuk mengirimkan SMS kepada teman-teman yang biasa qiamulail (salat di tengah malam secara teratur: red) atau kepada siapa saja yang sekiranya saya kenal. Siapa tahu dia terbangun dan menjalankan salat malam juga. Isinya kira-kira, "Ass wr wb. Dengan segala kerendahan hati, marilah kita menyerahkan diri kepada Zat Sang Maha Pencipta untuk salat malam, tadarus Alquran." Kalau kebetulan hari Senin atau Kamis pagi ditambah dengan kata-kata, “ .... bagi yang berniat puasa sunah Senin atau Kamis dipersilakan untuk makan sahur." Kemudian saya kembali salat sampai beberapa kali takbiratulihram (takbir yang diucapkan pada awal salat: red) dan salam. Selesai salat ada yang membalas SMS tersebut. Muncul lagi perasaan bahagia karena bisa berbagi kebahagiaan dengan sesama. Usai salat dilanjutkan dengan tadarus Alquran sampai datang waktu salat subuh.

Keesokan harinya rasa bahagia tersebut menjadi teman sampai sore hari bahkan sampai malam harinya lagi. Ketika berjalan seakan-akan alam menyapa dan senyuman dan lambaian. Semuanya tersenyum, semuanya melambai, semuanya mendukung. Kondisi seperti itu benar-benar memengaruhi kita ketika berkomunikasi dengan orang-orang. Terlihat penuh semangat, antusias, percaya diri, dan yang lebih penting muncul ketulusan dalam berbagai bentuk pembicaraan. Pekerjaan tidak terasa sebagai beban tapi terasa senang menjalankannya. Kebahagiaan internal benar-benar dapat mempengaruhi kondisi eksternal dan akhirnya bisa mencapai kebahagiaan eksternal. Sampai di sini saya dapat mengambil kesimpulan, apabila kita menggapai kebahagiaan internal, maka kebahagiaan eksternal dengan sendirinya dapat dicapai. Memang untuk mencapai kebahagiaan ekstrnal berupa materi membutuhkan waktu. Sesuatu kalau ingin terwujud secara materi ada hukum-hukum tersendiri yang tidak bisa dilawan. Misalnya saja, kalau kita ingin berhasil sudah tentu kita harus ulet, rajin, konsisten, dan berusaha terus-menerus. Demikian juga kalau ingin mencapai yang kita inginkan, ada jeda waktu untuk mencapainya. Tapi, kalau kondisi kita berada dalam positive feeling, maka waktu tersebut tidak menjadi masalah asalkan bisa tercapai. Kita memiliki sikap sabar dan tawakal.

Hidup Penuh Makna, Bahagia,
Damai dan Sejahtera. [aas]

* A. Asep Syarifuddin adalah pimpinan redaksi sebuah koran di Jawa Tengah. Ia dapat dihubungi melalui blog: http://hidupbermakna.wordpress.com

MENULIS UNTUK MEMBERDAYA DIRI: MELUKIS KEHIDUPAN

Oleh: Adjie

“People have all the resources they need to bring about change and success.”

Pembelajar yang menyukai pendekatan berbasis NLP (Neuro Linguistic Programming), pasti sudah sering mendengar pernyataan di atas. Ada semacam nilai atau keyakinan yang hendak ditawarkan kepada khalayak, seraya mengingatkan kita semua tentang dahsyatnya sumber daya dalam diri.

Dalam kalimat yang senada, seorang kawan pernah menulis bahwa, “Setiap orang adalah ahli tentang masalah-masalah yang dialami dalam hidupnya. Orang memiliki keterampilan, kompetensi, keyakinan, nilai, komitmen, dan kemampuan untuk mengurangi pengaruh dari masalah-masalah yang dialaminya.” Lagi-lagi, seharusnya ini juga bukan pernyataan bombastis yang aneh. Ini mestinya menjadi kalimat biasa saja, apalagi ketika kita memandang dengan kaca mata berbau agama, di mana sudah ditegaskan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan yang sempurna. Dengan kesempurnaannya, manusia mestinya memiliki modal lebih dari cukup untuk mendapat dan meraih yang ia mau, bukan?

Kalau kemudian realitasnya masih banyak di antara kita yang tak mulus berubah dan meraih sukses, tentu ada yang perlu kita cermati lebih dalam. Kalau fakta hari ini memberi data tentang betapa banyak di antara kita yang justru merasa gagal dan bingung, mungkin ini pertanda ada yang perlu ditelaah lebih lanjut. Kita perlu mencari tahu, apa yang kurang pas dan tidak efektif yang membuat kita mengalami kegagalan? Apa yang salah sehingga kita bahkan tak tahu apa saja sumber daya yang kita miliki itu?

Bahkan, ketika telah banyak pelatihan kita ikuti, banyak buku kita baca, banyak ceramah kita dengar, pada kenyataannya saya menduga bahwa jumlah orang yang merasa sukses jauh lebih sedikit ketimbang jumlah yang orang yang ikut pelatihan, mendengar pencerahan, dan membaca buku-buku pengembangan diri.

Ini tentu hanya hipotesis permukaan yang memiliki banyak kelemahan. Apalagi ketika tidak didukung banyak data ilmiah. Dan saya juga tak hendak bersibuk mempertahankan hipothesis ini, karena lebih penting buat saya justru mengajak kita semua berkaca, melihat ke dalam dan menggali pengalaman keseharian, atau sekadar melihat pengalaman kawan-kawan di sekitar. Coba saja lihat dan bertanya pada mereka. Seorang penulis buku bahkan sempat mengaku, bahwa ia pun mengalami kejadian serupa: success rate-nya pernah berada pada tingkatan yang tidak memuaskannya.

Tentu tak ada yang salah dengan banyak buku, beragam pelatihan, dan hiruk pikuk ceramah pencerahan yang pernah kita ikuti, baca, dan dengar. Jelas, semua pasti ada manfaatnya. Persoalan kita kali ini adalah bagaimana mengakselerasi proses sukses yang kita maksud dan kita impikan itu.

Mengingat bahwa saya sendiri pernah mengikuti sejumlah pelatihan yang bahkan berbiaya belasan juta, saya bahkan pernah mengajukan pertanyaan bernada sinis pada diri sendiri: ”Benarkah aku sedemikian parah? Sehingga untuk sebuah perubahan, aku harus mengeluarkan uang demikian banyak?” Jangan-jangan, kalau kita sungguh disiplin mengikuti petunjuk dari satu saja buku tentang kesuksesan, maka besar kemungkinan keberhasilan yang kita impikan bakal dengan cepat terwujud.

Kabar miris jenis inilah yang kemudian mendorong saya untuk mulai mencari gagasan alternatif, yang paling sedikit akan dapat melengkapi gagasan lain dalam jagat pengembangan diri.

Maka, sampailah saya pada gagasan yang hendak mengeksplorasi aktivitas tulis-menulis justru sebagai media untuk memberdaya diri.

Aktivitas dan dunia tulis menulis yang sekarang saya pikirkan ini bisa sangat berbeda dengan arus utama yang mewarnai pemahaman umum masyarakat. Coba saja, silahkan Anda lihat apa yang belakangan ini semarak ditawarkan di pasar pelatihan dan perbukuan, khususnya yang mendalami aktivitas tulis-menulis.

Sepanjang yang saya cermati, yang selama ini banyak ditawarkan adalah aktivitas tulis-menulis dalam kerangka yang berbeda. Kalau ada pelatihan tentang tulis-menulis, biasanya ditujukan untuk meningkatkan keterampilan seseorang dalam menulis. Ada yang menjanjikan percepatan peningkatan kompetensi membuat cerita pendek dan tak sedikit yang mengajarkan bagaimana cara menulis sebuah buku. Jadi, yang coba ditingkatkan adalah keterampilan menulisnya. Jadi, yang banyak diulas adalah persoalan teknik seputar penulisan, semisal mencari ide, memfokuskan ide, hingga menerjemahkan ide jadi bahan tulisan.

Nah, yang saya pikirkan sangat berbeda. Saya justru tak terlalu peduli dengan persoalan kemampuan mengeksplorasi bahasa dan menuangkannya jadi tulisan. Paling tidak di tahap awal, saya justru tak memikirkan persoalan gaya menulis dan pakem-pakem teknik penulisan. Yang penting orang itu sekedar bisa menulis, maka cukuplah modal untuk memanfaatkan pendekatan ini. Sambil senyum, saya sendiri jadi makin disadarkan betapa gagasan ini memiliki faktor pembeda dari yang sudah banyak diungkap di pasaran. Pun ketika disandingkan dengan keyakinan bahwa tak ada yang terlalu baru di kolong langit ini, maka paling tidak coretan ini bisa menjadi gagasan alternatif. Kalau gagasan ini selaras dan bersinggungan dengan gagasan besar lain, maka semoga ini menjadi sebuah upaya yang akan memperkaya warna dan dinamika proses pemberdayaan itu sendiri.

Aktivitas tulis-menulis yang saya maksud di sini justru adalah bagaimana kita memanfaatkan tulis-menulis untuk mulai mengenali diri sendiri, makin bersahabat dengan kekuatan-kekuatan yang terpendam, makin percaya pada potensi besar dalam diri, dan akhirnya menjadikan itu semua sebagai modal untuk melesatkan busur sukses yang kita impikan.

Lihatlah betapa gagasan ini cenderung tak ingin bersibuk dengan perkara teknik dan kemampuan membuat tulisan. Ia justru lebih mementingkan proses menulisnya itu sendiri dan kemudian mengambil manfaat dari tulisan-tulisan itu. Tulisan yang saya yakini bisa menjadi alat memberdaya diri itu tak lain adalah narasi kehidupan kita sendiri. Jadi, yang dituliskan sungguh hanyalah kisah tentang diri kita sendiri.

Karena, akarnya tertancap di dalam diri, maka awalnya adalah mengenal diri sendiri. Untuk mengenal diri sendiri dengan begitu kita perlu membaca kembali kisah perjuangan, sepak terjang, cerita sukses dan sedih yang kita alami sendiri. Jadi, tulisan untuk pemberdayaan diri ini tak lain adalah tulisan tentang diri sendiri. Ini adalah narasi diri kita sendiri. Tulisan-tulisan macam inilah yang kemudian menjadi cermin pembelajaran bagi kita, sang tokoh dalam kisah yang kita tulis sendiri itu.

Inilah sisi unik lainnya. Kalau selama ini kita mungkin sibuk membaca tulisan tentang orang lain, maka kini kita diajak untuk mulai membaca tulisan berisi kisah kita sendiri. Kalau selama ini kita kagum pada banyak kisah sukses orang lain, maka dengan cara ini kita diajak berkaca dan perlahan menumbuhkan kekaguman, rasa syukur atas apa yang sudah kita capai. Ini semua akan membantu kita membangun percaya diri.

Menariknya lagi, dengan disiplin menjalankan langkah sederhana itu, kita tak akan berhenti pada masa lalu. Setelah membangun percaya diri dari kisah sukses masa lalu—sekecil apa pun itu—maka pelahan diharapkan akan tumbuh kesadaran yang makin kokoh betapa kita memiliki sejumlah sumber daya lain yang selama ini terpendam sebatas menjadi potensi saja.

Berbekal percaya diri, berbekal pemahaman akan potensi diri itu kita juga akan makin dikuatkan untuk mulai memanfaatkan kekuatan yang kita punya untuk merancang masa depan kita, merancang sukses kita, merancang narasi baru kehidupan kita. Jelas dan tegas bahwa Andalah penggagas masa depan Anda sendiri. Pemahaman diri, rasa percaya diri, penerimaan diri ibarat kuas dan warna-warni tinta sang pelukis. Ketika pada saat yang sama kanvas kehidupan telah terhampar di semesta ini, maka tinggal tangan pelukislah yang memutuskan hendak menggambar apa di atas kanvas itu. Terserah sang pelukis hendak menggunakan warna apa untuk gambar indahnya. Dan, Andalah pelukis itu.

Dengan begitu, melalui tulisan kita juga bisa merancang masa depan dan kisah sukses kita sendiri. Gagasan ini menjadi semacam penegasan betapa pentingnya menuliskan visi dan impian Anda. Setelah itu fokuskan perhatian, pikiran, dan usaha pada impian yang sudah Anda tulis itu. Kelak Anda tak perlu terkejut ketika menyadari bahwa perlahan Anda akan meraih apa yang pernah Anda tulis hari itu. Jadi, mulailah membangun masa depan dengan mulai menuliskannya. Mulailah menulis narasi masa depan kehidupan Anda pada hari ini. Tulislah kisah sukses masa depan Anda sekarang juga. Sungguh, mulailah menulis sepanjang kata yang Anda mampu, karena dari sanalah kisah panjang tentang sukses masa depan Anda justru dimulai.

Lalu, bagaimana teknik memanfaatkan aktivitas tulis menulis agar ia menjadi efektif sebagai alat memberdaya diri? Tentang ini akan saya tuangkan dalam tulisan terpisah.

Sebagai penutup bagian ini, saya teringat salah satu prinsip lain (presuposisi) yang dianut NLP, yang menyebut bahwa, “People create their own experience”. Saya ingin memahaminya secara sederhana dan mengaitkannya dengan gagasan inti tulisan kali ini. Selaras dengan gagasan yang saya usung, maka ketika kita mulai menuliskan narasi kita, maka sesungguhnya kita tengah memulai proses penciptaan pengalaman dan masa depan kita.[adjie]

* Adjie adalah karyawan sebuah perusahaan multi-national. Sehari-hari, selain terus berlatih menulis, ia juga menempatkan diri sebagai Facilitator for Human Resiliency Development (FHRD). Ayah empat orang anak ini adalah peminat tema life balance dan mind empowerment. Ia dapat dihubungi di: purwaji.purwaji@cognis.com

MENGEMBANGKAN IDE-IDE KREATIF YANG SIAP DILAKSANAKAN -

Oleh: Risfan Munir


“If your mind can conceive it, and your heart can believe it, you can achieve it.”
~ Jesse Jackson

Dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan terutama di tempat kerja, kita sering harus berpikir dan mengerahkan kreativitas dalam menyusun rencana, merancang produk/jasa ataupun acara. Dalam situasi itu biasanya disarankan untuk bisa berpikir sebebas-bebasnya, agar semua kretivitas dapat dimunculkan tanpa kendala. Namun kenyataannya, berpikir bebas itu ternyata sulit karena pada saat itu juga kita dihantui oleh risiko-risiko gagal, malu kalau tidak perfect, dst. Akibatnya, proses berpikir kreatif menjadi terkendala dan ide cemerlang menjadi buyar.

Peoses berpikir kreatif memang sering bertabrakan, konflik dengan pemikiran kritis yang terjadi di kepala. Oleh karena itu, diperlukan strategi berpikir yang lebih positif, tidak saling meniadakan. Untuk permasalahan seperti itu NLP (neuro linguistic programming) punya kiat yang dipelajari oleh penemunya. Kiat ini disebut model berpikir ala Walt Disney, yang terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap kreatif, tahap realitis, dan tahap kritis.

Pertama, berpikir kreatif. Sarannya adalah perankan diri kita sebagai si Kreatif yang memulai rancangan dengan menggali dan mengungkapkan, menulis ide secara bebas. Seperti seniman "urakan" yang duduk di sebuah taman yang hijau, diteduhi pohon rindang, tanpa peduli keadaan sekeliling, apalagi komentar orang. Ide-ide dibiarkan mengalir secara bebas, tanpa peduli logika atau format, tata bahasa atau aturan lainnya. Yang penting adalah mengungkap ide seluas-luasnya, dengan cepat. Mengapa harus cepat? Karena daya konsentrasi pikiran tidak bisa berlangsung terlalu lama. Kalau sudah terinterupsi hal lain biasanya kembalinya juga butuh waktu yang lama. Jangan pula risau soal bahan, referensi, nanti saja itu, yang penting semua ide tertuang dahulu. Mencari referensi, membaca buku/artikel bisa membuyarkan ide orisinal, dan memudarkan momentum menulis atau merancang ide lainnya.

Kedua, berpikir logis/realistis. Setelah tahap kreatif di atas dianggap memadai, kita berganti peran sebagai si Logis. Bayangkan kita menghadapi setumpuk naskah, atau draf desain, yang diserahkan oleh seorang penulis atau seniman. Tugas kita harus mematangkannya. Maka, yang akan kita lakukan adalah melihat sistematika dan kelengkapannya, lalu menilai apakah kerangka sudah logis, strukturnya mengikuti kaidah-kaidah yang standar, wajar, dan konsisten? Apakah detail-detailnya sudah memadai, lengkap dengan unsur spesifik yang menguatkan keunikan dan citra yang ingin ditonjolkan? Tugas si Logis di sini yang menyistematisasi, membuatnya lebih fokus dan konsisten pada tema utama, serta melengkapinya dengan detail, gaya, unsur-unsur yang unik, menggugah perasaan penikmat.

Ketiga, berpikir kritis. Kini saatnya pekerjaan dialihkan kepada si Kritikus. Sesuai namanya, di sini kita berperan sebagai tukang kritik. Mulai dari menantang tema, tujuan, hipotesis, hingga asumsi yang digunakan. Menantang sistematika, konsistensi pengungkapan atau penulisan. Hingga sikap kritis terhadap aspek-aspek teknis dan finishing, seperti tata bahasa, titik koma, dan kaidah-kaidah dasar lainnya.

Si Kritikus perlu bersikap sebagai lawan, penguji, atau anggota tim penilai atas proposal (karya). Memosisikan diri sebagai pembeli, konsumen, atau pengguna sehingga hasil yang diharapkan adalah karya yang tahan uji dan layak jual.

Dengan memerankan ketiga aktor/aktris tersebut, maka ketiga peran masing-masing tadi diberi kesempatan untuk berkontribusi. Karena kalau tidak, biasanya, ketiganya bisa saling mengganggu. Saat menggali ide dan mengungkapkan gagasan, muncul gangguan untuk mengoreksi, mengedit; atau "ancaman" dan kekhawatiran kalau ditolak, ditertawakan oleh penguji atau konsumen.

Ketiga tahapan tersebut bisa diulang (iterasi), sampai dirasa lengkap dan meyakinkan untuk disajikan kepada penikmat.

Ikat Makna:
1. Silakan Anda mengambil posisi relaks, santai, bernapas dengan teratur, lupakan sejenak urusan apa pun.
2. Cobalah mengingat suatu saat di mana Anda merasa sangat kreatif, cobalah ingat kapan dan peristiwa apakah itu. Kalau sudah, beralih ke saat Anda merasa sangat realistis, bayangkan peristiwanya, apa yang Anda pikir dan rasakan. Kemudian, beralih ke saat-saat di mana Anda sangat kritis, tajam melihat persoalan, ingat-ingat peristiwa apa itu, bagaimana pikiran dan perasaan Anda saat itu.
3. Cobalah ambil ide, rencana kegiatan, atau rancangan produk yang akan Anda garap.

4. Bawalah ide tersebut ke situasi di mana Anda dalam kondisi yang kreatif, secara bebas keluarkan gagasan apa pun, seideal-idealnya, seaneh-anehnya, hingga jadi ide yang betul-betul Anda inginkan.
5. Bawalah ide yang kreatif itu ke situasi di mana Anda sangat realistis. Kaitkan dengan sumber daya yang ada, baik waktu, dana, kapasitas organisasi, dan manusia yang ada atau bisa diadakan, dan sesuaikan ide Anda dengan pikiran-pikiran realistis.
6. Berikutnya, bawa ide dan usulan penyempurnaan si Realis itu ke situasi di mana Anda merasa jadi kritikus. Cobalah mengkritisi ide tersebut secara konstruktif, adakah yang kurang, risiko gagal atau 'diserang' lawan, dan seterusnya. Lalu, sesuaikan ide tersebut, sehingga menjadi ide kreatif yang sudah disesuaikan dengan realitas kondisi dan diuji secara kritikal.
7. Kalau Anda kurang puas, masih ada yang mengganjal, maka silakan mengulang proses kreatif, realistis, dan kritis tersebut sekali lagi, sampai dirasa siap dilaksanakan.[rm]

* Risfan Munir, konsultan, pelatih di bidang manajemen dan perencanaan, serta penulis buku “Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif” (2006). Tinggal di Jakarta dan bisa dihubungi melalui email: risfano@yahoo.com.

UNIK: TAK ADA YANG BISA MENJAMIN ANDA SUKSES

Oleh: Syahril Syam

“Engkau harus berjalan, para Buddha hanya menunjukkan jalannya.
~ Dhammapada 276

“Obat bagi kebodohan adalah bertanya dan belajar.”
~ Nabi Muhammad SAW

Saya ingin mengawali tulisan saya ini dengan mengutip sebuah penjelasan menarik yang saya ambil dari buku What Would Buddha Do At Work, berikut ini:

“Berulangkali Buddha mencegah kita mematok pelajarannya menjadi sistem kecil yang rapi. Ia paham betapa kita menginginkan kepastian dan jaminan dalam dunia yang selalu berubah ini. Kita ingin agar dia memberikan “Tujuh Langkah Mudah Menuju Pencerahan”, atau “Sepuluh Cara Agung untuk Mendapatkan Nirwana Sekarang.” Cobalah Saudara melihat-lihat toko buku sekarang—beribu-ribu buku menuliskan tentang cara berpikir manusia. Kita menyukai buku yang menjanjikan kehidupan yang gemilang karena mengikuti sejumlah X langkah, petunjuk, atau daftar.
… Buddha mengatakan bahwa para pengajar harus bisa menahan diri agar tidak merebus semua bahan menurut resep tertentu. Para pelatih tidak boleh memberikan janji-janji palsu dengan menyederhanakan kerumitan dunia usaha. Belajar tidak pernah bisa sistematis karena setiap orang mempunyai caranya tersendiri. Setiap orang harus membuat percobaan, membuat kesalahan, berjuang, bertanya-tanya, menggali berbagai alternatif, dan menemukan caranya sendiri ke jalan menuju pekerjaan yang menyenangkan.
Buddha tinggal bersama para muridnya untuk membantu mereka menemukan jalannya masing-masing.
… mungkin saja Saudara memang memerlukan sedikit pertolongan, memerlukan seseorang tempat bertanya untuk memecahkan masalah, menggali alternatif-alternatif, dan menciptakan kesempatan baru. Akan tetapi, jangan biarkan orang lain mendikte cara-cara mengurus departemen atau organisasi Saudara. Seorang konsultan yang baik adalah seperti seorang dokter: Ia bisa mendiagnosis penyakit Saudara, ia dapat mempelajari kekuatan Saudara, dan ia bisa memberikan informasi serta cara-cara untuk membantu Saudara menjadi sembuh. Namun, pada akhirnya, Saudara sendirilah yang harus makan makanan sehat, menjalani terapi fisik, beristirahat, makan obat yang benar pada waktunya, dan mengerahkan segala upaya untuk menjadi sehat. Saudara sendirilah yang harus mengerjakan dan menyembuhkan diri. Tak ada orang yang bisa menggantikan kewajiban itu, bahkan bila orang itu telah menulis buku tentang bisnis yang sangat laku dan telah tercantum di daftar NY Times. Jadi, jangan sekali-kali bergantung pada kekuasaan orang lain, sekali pun kepada Buddha. Berusahalah!”

Setelah Anda membaca petikan di atas, cobalah untuk melakukan eksperimen sederhana berikut ini: Ambillah sebuah benda (bisa berupa batu, pulpen, atau apa saja) dan kemudian lemparkanlah benda tersebut ke depan Anda sejauh beberapa meter. Sebelum melempar, tandailah terlebih dahulu di mana posisi Anda ketika melempar benda itu. Begitu juga setelah melempar benda tersebut, tandailah juga di mana benda itu jatuh dan berhenti. Nah, sekarang (setelah Anda melempar untuk pertama kalinya) cobalah lagi untuk melempar benda yang sama, dan usahakan agar benda itu jatuh di tempat yang sama. Dan, cobalah untuk melakukannya beberapa kali.

Jika Anda melakukan eksperimen tadi dengan teman Anda, maka kemungkinan teman Anda akan meragukan Anda bisa melempar dan mengenai tempat semula benda itu jatuh. Atau paling tidak, jika Anda masih berhasil melakukannya untuk yang kedua kalinya, maka teman Anda mungkin akan berkata: “Ah, itu kan kebetulan saja.” Tapi, sesungguhnya hal itu bukanlah suatu kebetulan. Artinya, jika Anda memiliki syarat-syarat yang sama ketika pertama kali Anda melempar, maka Anda bisa melakukannya untuk beberapa kali, bahkan dalam percobaan yang tak terhingga sekali pun.

Apa saja syarat-syarat tersebut? Tenaga yang Anda berikan kepada benda tadi, fokus, dan perhatian Anda, kekuatan hembusan angin ketika Anda melempar, dan berbagai macam syarat yang bisa Anda tambahkan. Jadi, jika Anda memberikan tenaga yang sama pada saat melempar kali pertama, begitu juga dengan syarat-syarat yang lain, maka berapa kali pun Anda melempar Anda bisa membuat benda tersebut jatuh di tempat yang sama.

Eksperimen ini menunjukkan kepada kita beberapa hal: Pertama, kita bisa berhasil melakukan apa pun yang kita inginkan jika kita melakukan semua syarat secara persis sama dengan yang dilakukan oleh orang lain yang kita tiru. Namun, hal ini pun menyisakan satu variabel lain yang menjadi pelajaran berikutnya. Kedua, pada saat melempar sebuah benda, tidak selamanya seseorang itu berhasil melakukannya berkali-kali untuk melemparkannya dan mengenai sasaran yang sama. Kenapa demikian? Jawaban yang mungkin adalah: Tidak setiap saat seseorang selalu berada dalam kondisi yang sama yang sesuai dengan syarat-syarat yang dibutuhkan. Untuk menyiapkan kondisi diri supaya selalu persis sama dalam semua syarat sebagaimana keadaan yang diinginkan itu bukanlah hal mudah. Bahkan, itu membutuhkan usaha yang terus-menerus, tanpa henti.

Jawaban yang lain adalah: Masih banyak variabel lain yang mungkin menjadi syarat terpenuhinya suatu keadaan, tapi kita tidak mengetahuinya. Sebagai contoh, ketika kita melemparkan sebuah benda, telah disebutkan variabel-variabel yang menjadi syarat-syarat seperti kekuatan tenaga, kekuatan hembusan angin, fokus dan perhatian. Ini adalah variabel-variabel yang menjadi syarat-syarat terpenuhinya kondisi yang diinginkan. Tapi, kita tidak bisa menutup kemungkinan akan selalu ada variabel lain yang menjadi syarat terhadap kondisi yang kita inginkan. Hanya saja, kita belum mengetahuinya.

Contoh bagus untuk hal ini adalah penelitian-penelitian yang dilakukan oleh begitu banyak peneliti yang meneliti bidang tertentu. Misalkan saja kita ambil satu bidang, yaitu kesuksesan. Begitu banyak penelitian yang dilakukan, yang selalu saja melahirkan variabel baru yang menjadi syarat bagi terpenuhinya kesuksesan seseorang. Belum lagi jika kita memerhatikan faktor keunikan setiap orang.

Penting untuk Anda ketahui bahwa setiap orang tidak sama dengan yang lain. Adalah betul bahwa kita ini sama-sama manusia, namun di balik kesamaan itu, kita pun memiliki berbagai macam perbedaan. Jika kita meninjau argumen ini dari sudut pandang filsafat, maka dua hal yang sama persis itu seharusnya tidak menunjukkan dua hal. Jika kedua benda itu sama persis, maka yang ada semestinya hanya satu benda, dan bukan dua buah benda. Adanya dua buah benda mengisyaratkan kepada kita bahwa ada sesuatu yang berbeda yang dimiliki oleh masing-masing benda tersebut, walaupun juga memiliki beberapa kesamaan.

Nah, perbedaan antara satu manusia dengan manusia lainnya ini, dalam bahasa popular, disebut sebagai UNIK. Penelitian di bidang genetika pun telah membuktikan hal ini, bahwa tidak ada satu pun manusia yang sama persis. Semuanya memiliki keunikan tersendiri. Penelitian ini juga telah membuktikan bahwa untuk setiap satu orang terdapat 70 triliun kombinasi gen yang mungkin terjadi. Dengan demikian, adanya kombinasi gen yang tak terhingga memastikan bahwa tidak akan pernah ada dua makhluk yang sama persis. Anda begitu unik, lho…!

Dengan melihat keunikan ini saja, maka dapat diambil kesimpulan bahwa masih terbuka kemungkinan yang sangat besar untuk adanya variabel lain yang menjadi syarat bagi terpenuhinya keadaan yang diinginkan. Keunikan ini juga mengisyaratkan kepada kita bahwa kondisi yang dimiliki oleh setiap orang itu berbeda-beda. Sebagai contoh, kesabaran. Untuk keperluan tulisan ini, saya ingin mengartikan kesabaran sebagai kemampuan untuk selalu intens melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri. Kita juga bisa melihat dengan sudut pandang yang sedikit berbeda, yaitu kemampuan untuk selalu intens keluar dari zona kenyamanan.

Nah, melakukan hal-hal yang bermanfaat secara rutin itu memerlukan usaha tersendiri, yang takkan bisa jika orang tersebut tidak sabar; karena bisa saja “ketersiksaan” yang dialami pada saat melakukan sesuatu itu akan dipandang sebagai penderitaan. Oleh sebab itu, kesabaran sangat erat kaitannya dengan bersyukur, karena bersyukur bisa diartikan sebagai kemampuan untuk menerima keadaan/kenyataan hidup. Jika Anda merasa “tersiksa” dan mengartikannya sebagai penderitaan, maka kemungkinan besar Anda akan berhenti untuk bersabar.

Kondisi-kondisi seperti ini adalah variabel-variabel yang menjadi syarat untuk sukses, tetapi memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Kita tidak bisa serta-merta mengatakan bahwa kita sudah bersabar, karena sesungguhnya kesabaran itu memiliki tingkatan nilai yang berbeda-beda. Perbedaan kondisi ini antara setiap orang berbeda, karena keunikan yang dimiliki oleh masing-masing orang. Jadi tidak alasan untuk menjamin kesuseksan seseorang.

Namun, penting untuk diingat bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan bahwa Anda harus berhenti mengikuti berbagai seminar atau workshop, terlebih lagi bagi yang memberikan jaminan kesuksesan bagi Anda. Justru sebaliknya, karena keunikan Anda, maka Anda membutuhkan banyak varibel lain yang membuka peluang besar bagi Anda, sehingga syarat-syarat yang dibutuhkan untuk menggapai kesuksesan bisa terpenuhi. Mengikuti berbagai pelatihan akan membuka wawasan Anda, dan Anda memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk menemukan variabel kesuksesan Anda.

Oleh sebab itu, marilah kita mengikuti anjuran Nabi Muhammad SAW: Obat bagi kebodohan adalah bertanya dan belajar. Bukankah kesuksesan itu adalah sebuah proses belajar terus-menerus?[ss]

* Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Beliau memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril_faqir@yahoo.com

UNIK: TAK ADA YANG BISA MENJAMIN ANDA SUKSES

Oleh: Syahril Syam

“Engkau harus berjalan, para Buddha hanya menunjukkan jalannya.
~ Dhammapada 276

“Obat bagi kebodohan adalah bertanya dan belajar.”
~ Nabi Muhammad SAW

Saya ingin mengawali tulisan saya ini dengan mengutip sebuah penjelasan menarik yang saya ambil dari buku What Would Buddha Do At Work, berikut ini:

“Berulangkali Buddha mencegah kita mematok pelajarannya menjadi sistem kecil yang rapi. Ia paham betapa kita menginginkan kepastian dan jaminan dalam dunia yang selalu berubah ini. Kita ingin agar dia memberikan “Tujuh Langkah Mudah Menuju Pencerahan”, atau “Sepuluh Cara Agung untuk Mendapatkan Nirwana Sekarang.” Cobalah Saudara melihat-lihat toko buku sekarang—beribu-ribu buku menuliskan tentang cara berpikir manusia. Kita menyukai buku yang menjanjikan kehidupan yang gemilang karena mengikuti sejumlah X langkah, petunjuk, atau daftar.
… Buddha mengatakan bahwa para pengajar harus bisa menahan diri agar tidak merebus semua bahan menurut resep tertentu. Para pelatih tidak boleh memberikan janji-janji palsu dengan menyederhanakan kerumitan dunia usaha. Belajar tidak pernah bisa sistematis karena setiap orang mempunyai caranya tersendiri. Setiap orang harus membuat percobaan, membuat kesalahan, berjuang, bertanya-tanya, menggali berbagai alternatif, dan menemukan caranya sendiri ke jalan menuju pekerjaan yang menyenangkan.
Buddha tinggal bersama para muridnya untuk membantu mereka menemukan jalannya masing-masing.
… mungkin saja Saudara memang memerlukan sedikit pertolongan, memerlukan seseorang tempat bertanya untuk memecahkan masalah, menggali alternatif-alternatif, dan menciptakan kesempatan baru. Akan tetapi, jangan biarkan orang lain mendikte cara-cara mengurus departemen atau organisasi Saudara. Seorang konsultan yang baik adalah seperti seorang dokter: Ia bisa mendiagnosis penyakit Saudara, ia dapat mempelajari kekuatan Saudara, dan ia bisa memberikan informasi serta cara-cara untuk membantu Saudara menjadi sembuh. Namun, pada akhirnya, Saudara sendirilah yang harus makan makanan sehat, menjalani terapi fisik, beristirahat, makan obat yang benar pada waktunya, dan mengerahkan segala upaya untuk menjadi sehat. Saudara sendirilah yang harus mengerjakan dan menyembuhkan diri. Tak ada orang yang bisa menggantikan kewajiban itu, bahkan bila orang itu telah menulis buku tentang bisnis yang sangat laku dan telah tercantum di daftar NY Times. Jadi, jangan sekali-kali bergantung pada kekuasaan orang lain, sekali pun kepada Buddha. Berusahalah!”

Setelah Anda membaca petikan di atas, cobalah untuk melakukan eksperimen sederhana berikut ini: Ambillah sebuah benda (bisa berupa batu, pulpen, atau apa saja) dan kemudian lemparkanlah benda tersebut ke depan Anda sejauh beberapa meter. Sebelum melempar, tandailah terlebih dahulu di mana posisi Anda ketika melempar benda itu. Begitu juga setelah melempar benda tersebut, tandailah juga di mana benda itu jatuh dan berhenti. Nah, sekarang (setelah Anda melempar untuk pertama kalinya) cobalah lagi untuk melempar benda yang sama, dan usahakan agar benda itu jatuh di tempat yang sama. Dan, cobalah untuk melakukannya beberapa kali.

Jika Anda melakukan eksperimen tadi dengan teman Anda, maka kemungkinan teman Anda akan meragukan Anda bisa melempar dan mengenai tempat semula benda itu jatuh. Atau paling tidak, jika Anda masih berhasil melakukannya untuk yang kedua kalinya, maka teman Anda mungkin akan berkata: “Ah, itu kan kebetulan saja.” Tapi, sesungguhnya hal itu bukanlah suatu kebetulan. Artinya, jika Anda memiliki syarat-syarat yang sama ketika pertama kali Anda melempar, maka Anda bisa melakukannya untuk beberapa kali, bahkan dalam percobaan yang tak terhingga sekali pun.

Apa saja syarat-syarat tersebut? Tenaga yang Anda berikan kepada benda tadi, fokus, dan perhatian Anda, kekuatan hembusan angin ketika Anda melempar, dan berbagai macam syarat yang bisa Anda tambahkan. Jadi, jika Anda memberikan tenaga yang sama pada saat melempar kali pertama, begitu juga dengan syarat-syarat yang lain, maka berapa kali pun Anda melempar Anda bisa membuat benda tersebut jatuh di tempat yang sama.

Eksperimen ini menunjukkan kepada kita beberapa hal: Pertama, kita bisa berhasil melakukan apa pun yang kita inginkan jika kita melakukan semua syarat secara persis sama dengan yang dilakukan oleh orang lain yang kita tiru. Namun, hal ini pun menyisakan satu variabel lain yang menjadi pelajaran berikutnya. Kedua, pada saat melempar sebuah benda, tidak selamanya seseorang itu berhasil melakukannya berkali-kali untuk melemparkannya dan mengenai sasaran yang sama. Kenapa demikian? Jawaban yang mungkin adalah: Tidak setiap saat seseorang selalu berada dalam kondisi yang sama yang sesuai dengan syarat-syarat yang dibutuhkan. Untuk menyiapkan kondisi diri supaya selalu persis sama dalam semua syarat sebagaimana keadaan yang diinginkan itu bukanlah hal mudah. Bahkan, itu membutuhkan usaha yang terus-menerus, tanpa henti.

Jawaban yang lain adalah: Masih banyak variabel lain yang mungkin menjadi syarat terpenuhinya suatu keadaan, tapi kita tidak mengetahuinya. Sebagai contoh, ketika kita melemparkan sebuah benda, telah disebutkan variabel-variabel yang menjadi syarat-syarat seperti kekuatan tenaga, kekuatan hembusan angin, fokus dan perhatian. Ini adalah variabel-variabel yang menjadi syarat-syarat terpenuhinya kondisi yang diinginkan. Tapi, kita tidak bisa menutup kemungkinan akan selalu ada variabel lain yang menjadi syarat terhadap kondisi yang kita inginkan. Hanya saja, kita belum mengetahuinya.

Contoh bagus untuk hal ini adalah penelitian-penelitian yang dilakukan oleh begitu banyak peneliti yang meneliti bidang tertentu. Misalkan saja kita ambil satu bidang, yaitu kesuksesan. Begitu banyak penelitian yang dilakukan, yang selalu saja melahirkan variabel baru yang menjadi syarat bagi terpenuhinya kesuksesan seseorang. Belum lagi jika kita memerhatikan faktor keunikan setiap orang.

Penting untuk Anda ketahui bahwa setiap orang tidak sama dengan yang lain. Adalah betul bahwa kita ini sama-sama manusia, namun di balik kesamaan itu, kita pun memiliki berbagai macam perbedaan. Jika kita meninjau argumen ini dari sudut pandang filsafat, maka dua hal yang sama persis itu seharusnya tidak menunjukkan dua hal. Jika kedua benda itu sama persis, maka yang ada semestinya hanya satu benda, dan bukan dua buah benda. Adanya dua buah benda mengisyaratkan kepada kita bahwa ada sesuatu yang berbeda yang dimiliki oleh masing-masing benda tersebut, walaupun juga memiliki beberapa kesamaan.

Nah, perbedaan antara satu manusia dengan manusia lainnya ini, dalam bahasa popular, disebut sebagai UNIK. Penelitian di bidang genetika pun telah membuktikan hal ini, bahwa tidak ada satu pun manusia yang sama persis. Semuanya memiliki keunikan tersendiri. Penelitian ini juga telah membuktikan bahwa untuk setiap satu orang terdapat 70 triliun kombinasi gen yang mungkin terjadi. Dengan demikian, adanya kombinasi gen yang tak terhingga memastikan bahwa tidak akan pernah ada dua makhluk yang sama persis. Anda begitu unik, lho…!

Dengan melihat keunikan ini saja, maka dapat diambil kesimpulan bahwa masih terbuka kemungkinan yang sangat besar untuk adanya variabel lain yang menjadi syarat bagi terpenuhinya keadaan yang diinginkan. Keunikan ini juga mengisyaratkan kepada kita bahwa kondisi yang dimiliki oleh setiap orang itu berbeda-beda. Sebagai contoh, kesabaran. Untuk keperluan tulisan ini, saya ingin mengartikan kesabaran sebagai kemampuan untuk selalu intens melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri. Kita juga bisa melihat dengan sudut pandang yang sedikit berbeda, yaitu kemampuan untuk selalu intens keluar dari zona kenyamanan.

Nah, melakukan hal-hal yang bermanfaat secara rutin itu memerlukan usaha tersendiri, yang takkan bisa jika orang tersebut tidak sabar; karena bisa saja “ketersiksaan” yang dialami pada saat melakukan sesuatu itu akan dipandang sebagai penderitaan. Oleh sebab itu, kesabaran sangat erat kaitannya dengan bersyukur, karena bersyukur bisa diartikan sebagai kemampuan untuk menerima keadaan/kenyataan hidup. Jika Anda merasa “tersiksa” dan mengartikannya sebagai penderitaan, maka kemungkinan besar Anda akan berhenti untuk bersabar.

Kondisi-kondisi seperti ini adalah variabel-variabel yang menjadi syarat untuk sukses, tetapi memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Kita tidak bisa serta-merta mengatakan bahwa kita sudah bersabar, karena sesungguhnya kesabaran itu memiliki tingkatan nilai yang berbeda-beda. Perbedaan kondisi ini antara setiap orang berbeda, karena keunikan yang dimiliki oleh masing-masing orang. Jadi tidak alasan untuk menjamin kesuseksan seseorang.

Namun, penting untuk diingat bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan bahwa Anda harus berhenti mengikuti berbagai seminar atau workshop, terlebih lagi bagi yang memberikan jaminan kesuksesan bagi Anda. Justru sebaliknya, karena keunikan Anda, maka Anda membutuhkan banyak varibel lain yang membuka peluang besar bagi Anda, sehingga syarat-syarat yang dibutuhkan untuk menggapai kesuksesan bisa terpenuhi. Mengikuti berbagai pelatihan akan membuka wawasan Anda, dan Anda memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk menemukan variabel kesuksesan Anda.

Oleh sebab itu, marilah kita mengikuti anjuran Nabi Muhammad SAW: Obat bagi kebodohan adalah bertanya dan belajar. Bukankah kesuksesan itu adalah sebuah proses belajar terus-menerus?[ss]

* Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Beliau memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril_faqir@yahoo.com

UNIK: TAK ADA YANG BISA MENJAMIN ANDA SUKSES

Oleh: Syahril Syam

“Engkau harus berjalan, para Buddha hanya menunjukkan jalannya.
~ Dhammapada 276

“Obat bagi kebodohan adalah bertanya dan belajar.”
~ Nabi Muhammad SAW

Saya ingin mengawali tulisan saya ini dengan mengutip sebuah penjelasan menarik yang saya ambil dari buku What Would Buddha Do At Work, berikut ini:

“Berulangkali Buddha mencegah kita mematok pelajarannya menjadi sistem kecil yang rapi. Ia paham betapa kita menginginkan kepastian dan jaminan dalam dunia yang selalu berubah ini. Kita ingin agar dia memberikan “Tujuh Langkah Mudah Menuju Pencerahan”, atau “Sepuluh Cara Agung untuk Mendapatkan Nirwana Sekarang.” Cobalah Saudara melihat-lihat toko buku sekarang—beribu-ribu buku menuliskan tentang cara berpikir manusia. Kita menyukai buku yang menjanjikan kehidupan yang gemilang karena mengikuti sejumlah X langkah, petunjuk, atau daftar.
… Buddha mengatakan bahwa para pengajar harus bisa menahan diri agar tidak merebus semua bahan menurut resep tertentu. Para pelatih tidak boleh memberikan janji-janji palsu dengan menyederhanakan kerumitan dunia usaha. Belajar tidak pernah bisa sistematis karena setiap orang mempunyai caranya tersendiri. Setiap orang harus membuat percobaan, membuat kesalahan, berjuang, bertanya-tanya, menggali berbagai alternatif, dan menemukan caranya sendiri ke jalan menuju pekerjaan yang menyenangkan.
Buddha tinggal bersama para muridnya untuk membantu mereka menemukan jalannya masing-masing.
… mungkin saja Saudara memang memerlukan sedikit pertolongan, memerlukan seseorang tempat bertanya untuk memecahkan masalah, menggali alternatif-alternatif, dan menciptakan kesempatan baru. Akan tetapi, jangan biarkan orang lain mendikte cara-cara mengurus departemen atau organisasi Saudara. Seorang konsultan yang baik adalah seperti seorang dokter: Ia bisa mendiagnosis penyakit Saudara, ia dapat mempelajari kekuatan Saudara, dan ia bisa memberikan informasi serta cara-cara untuk membantu Saudara menjadi sembuh. Namun, pada akhirnya, Saudara sendirilah yang harus makan makanan sehat, menjalani terapi fisik, beristirahat, makan obat yang benar pada waktunya, dan mengerahkan segala upaya untuk menjadi sehat. Saudara sendirilah yang harus mengerjakan dan menyembuhkan diri. Tak ada orang yang bisa menggantikan kewajiban itu, bahkan bila orang itu telah menulis buku tentang bisnis yang sangat laku dan telah tercantum di daftar NY Times. Jadi, jangan sekali-kali bergantung pada kekuasaan orang lain, sekali pun kepada Buddha. Berusahalah!”

Setelah Anda membaca petikan di atas, cobalah untuk melakukan eksperimen sederhana berikut ini: Ambillah sebuah benda (bisa berupa batu, pulpen, atau apa saja) dan kemudian lemparkanlah benda tersebut ke depan Anda sejauh beberapa meter. Sebelum melempar, tandailah terlebih dahulu di mana posisi Anda ketika melempar benda itu. Begitu juga setelah melempar benda tersebut, tandailah juga di mana benda itu jatuh dan berhenti. Nah, sekarang (setelah Anda melempar untuk pertama kalinya) cobalah lagi untuk melempar benda yang sama, dan usahakan agar benda itu jatuh di tempat yang sama. Dan, cobalah untuk melakukannya beberapa kali.

Jika Anda melakukan eksperimen tadi dengan teman Anda, maka kemungkinan teman Anda akan meragukan Anda bisa melempar dan mengenai tempat semula benda itu jatuh. Atau paling tidak, jika Anda masih berhasil melakukannya untuk yang kedua kalinya, maka teman Anda mungkin akan berkata: “Ah, itu kan kebetulan saja.” Tapi, sesungguhnya hal itu bukanlah suatu kebetulan. Artinya, jika Anda memiliki syarat-syarat yang sama ketika pertama kali Anda melempar, maka Anda bisa melakukannya untuk beberapa kali, bahkan dalam percobaan yang tak terhingga sekali pun.

Apa saja syarat-syarat tersebut? Tenaga yang Anda berikan kepada benda tadi, fokus, dan perhatian Anda, kekuatan hembusan angin ketika Anda melempar, dan berbagai macam syarat yang bisa Anda tambahkan. Jadi, jika Anda memberikan tenaga yang sama pada saat melempar kali pertama, begitu juga dengan syarat-syarat yang lain, maka berapa kali pun Anda melempar Anda bisa membuat benda tersebut jatuh di tempat yang sama.

Eksperimen ini menunjukkan kepada kita beberapa hal: Pertama, kita bisa berhasil melakukan apa pun yang kita inginkan jika kita melakukan semua syarat secara persis sama dengan yang dilakukan oleh orang lain yang kita tiru. Namun, hal ini pun menyisakan satu variabel lain yang menjadi pelajaran berikutnya. Kedua, pada saat melempar sebuah benda, tidak selamanya seseorang itu berhasil melakukannya berkali-kali untuk melemparkannya dan mengenai sasaran yang sama. Kenapa demikian? Jawaban yang mungkin adalah: Tidak setiap saat seseorang selalu berada dalam kondisi yang sama yang sesuai dengan syarat-syarat yang dibutuhkan. Untuk menyiapkan kondisi diri supaya selalu persis sama dalam semua syarat sebagaimana keadaan yang diinginkan itu bukanlah hal mudah. Bahkan, itu membutuhkan usaha yang terus-menerus, tanpa henti.

Jawaban yang lain adalah: Masih banyak variabel lain yang mungkin menjadi syarat terpenuhinya suatu keadaan, tapi kita tidak mengetahuinya. Sebagai contoh, ketika kita melemparkan sebuah benda, telah disebutkan variabel-variabel yang menjadi syarat-syarat seperti kekuatan tenaga, kekuatan hembusan angin, fokus dan perhatian. Ini adalah variabel-variabel yang menjadi syarat-syarat terpenuhinya kondisi yang diinginkan. Tapi, kita tidak bisa menutup kemungkinan akan selalu ada variabel lain yang menjadi syarat terhadap kondisi yang kita inginkan. Hanya saja, kita belum mengetahuinya.

Contoh bagus untuk hal ini adalah penelitian-penelitian yang dilakukan oleh begitu banyak peneliti yang meneliti bidang tertentu. Misalkan saja kita ambil satu bidang, yaitu kesuksesan. Begitu banyak penelitian yang dilakukan, yang selalu saja melahirkan variabel baru yang menjadi syarat bagi terpenuhinya kesuksesan seseorang. Belum lagi jika kita memerhatikan faktor keunikan setiap orang.

Penting untuk Anda ketahui bahwa setiap orang tidak sama dengan yang lain. Adalah betul bahwa kita ini sama-sama manusia, namun di balik kesamaan itu, kita pun memiliki berbagai macam perbedaan. Jika kita meninjau argumen ini dari sudut pandang filsafat, maka dua hal yang sama persis itu seharusnya tidak menunjukkan dua hal. Jika kedua benda itu sama persis, maka yang ada semestinya hanya satu benda, dan bukan dua buah benda. Adanya dua buah benda mengisyaratkan kepada kita bahwa ada sesuatu yang berbeda yang dimiliki oleh masing-masing benda tersebut, walaupun juga memiliki beberapa kesamaan.

Nah, perbedaan antara satu manusia dengan manusia lainnya ini, dalam bahasa popular, disebut sebagai UNIK. Penelitian di bidang genetika pun telah membuktikan hal ini, bahwa tidak ada satu pun manusia yang sama persis. Semuanya memiliki keunikan tersendiri. Penelitian ini juga telah membuktikan bahwa untuk setiap satu orang terdapat 70 triliun kombinasi gen yang mungkin terjadi. Dengan demikian, adanya kombinasi gen yang tak terhingga memastikan bahwa tidak akan pernah ada dua makhluk yang sama persis. Anda begitu unik, lho…!

Dengan melihat keunikan ini saja, maka dapat diambil kesimpulan bahwa masih terbuka kemungkinan yang sangat besar untuk adanya variabel lain yang menjadi syarat bagi terpenuhinya keadaan yang diinginkan. Keunikan ini juga mengisyaratkan kepada kita bahwa kondisi yang dimiliki oleh setiap orang itu berbeda-beda. Sebagai contoh, kesabaran. Untuk keperluan tulisan ini, saya ingin mengartikan kesabaran sebagai kemampuan untuk selalu intens melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri. Kita juga bisa melihat dengan sudut pandang yang sedikit berbeda, yaitu kemampuan untuk selalu intens keluar dari zona kenyamanan.

Nah, melakukan hal-hal yang bermanfaat secara rutin itu memerlukan usaha tersendiri, yang takkan bisa jika orang tersebut tidak sabar; karena bisa saja “ketersiksaan” yang dialami pada saat melakukan sesuatu itu akan dipandang sebagai penderitaan. Oleh sebab itu, kesabaran sangat erat kaitannya dengan bersyukur, karena bersyukur bisa diartikan sebagai kemampuan untuk menerima keadaan/kenyataan hidup. Jika Anda merasa “tersiksa” dan mengartikannya sebagai penderitaan, maka kemungkinan besar Anda akan berhenti untuk bersabar.

Kondisi-kondisi seperti ini adalah variabel-variabel yang menjadi syarat untuk sukses, tetapi memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Kita tidak bisa serta-merta mengatakan bahwa kita sudah bersabar, karena sesungguhnya kesabaran itu memiliki tingkatan nilai yang berbeda-beda. Perbedaan kondisi ini antara setiap orang berbeda, karena keunikan yang dimiliki oleh masing-masing orang. Jadi tidak alasan untuk menjamin kesuseksan seseorang.

Namun, penting untuk diingat bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan bahwa Anda harus berhenti mengikuti berbagai seminar atau workshop, terlebih lagi bagi yang memberikan jaminan kesuksesan bagi Anda. Justru sebaliknya, karena keunikan Anda, maka Anda membutuhkan banyak varibel lain yang membuka peluang besar bagi Anda, sehingga syarat-syarat yang dibutuhkan untuk menggapai kesuksesan bisa terpenuhi. Mengikuti berbagai pelatihan akan membuka wawasan Anda, dan Anda memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk menemukan variabel kesuksesan Anda.

Oleh sebab itu, marilah kita mengikuti anjuran Nabi Muhammad SAW: Obat bagi kebodohan adalah bertanya dan belajar. Bukankah kesuksesan itu adalah sebuah proses belajar terus-menerus?[ss]

* Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Beliau memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril_faqir@yahoo.com

KONGLOMERAT PUN DIMULAI DARI YANG TIDAK TERLALU BESAR

Oleh: M. Kuncara Budi Santosa

Selamat dan Sukses! Itu kata-kata yang ingin saya ucapkan pagi ini kepada seorang teman yang satu hari yang lalu memberikan sebuah kabar baik kepada saya. "Mas....saya sudah putuskan untuk memulai bisnis plastik di Pasar Godean Yogyakarta dan sudah mendapat sebuah ruko dengah harga sewa sebear Rp 4,5 juta setahun," katanya.

Sungguh, saya terkejut dan kaget. Baru beberapa hari yang lalu, teman saya tersebut bercerita akan keinginannya untuk membuka sebuah usaha selain menekuni pekerjaan tetap di sebuah institusi pendidikan.

"Istri saya sudah keluar dari pekerjaannya beberapa minggu yang lalu," katanya. "Saat ini saya bermaksud mencarikan pekerjaan buat istri saya." Ia melanjutkan, "Tetapi, saya juga ingin membuka usaha. Sepertinya, prospeknya jauh lebih bagus untuk mempunyai usaha sendiri. Dengan memiliki usaha, saya akan menjadi majikan bagi diri sendiri. Tidak disuruh-suruh ke sana kemari oleh atasan saya."

Kemudian saya bertanya, sebelumnya istrinya kerja di mana dan orangtua istri kerja apa. Dengan semangat, dia menceritakan latar belakang pekerjaan istri dan latar belakang mertua yang kebetulan adalah pedagang pasar. Saya bilang ke teman saya tersebut, "Wah....bagus....dengan latar belakang pedagang, secara langsung atau tidak langsung...istrimu sudah melakukan pembelajaran bisnis dari orangtuanya sejak kecil. Bagaimana cara mengelola keuangan, bagaimana cara mengelola produk, bagaimana cara membuat calon konsumen bersedia untuk bertransaksi, bagaimana cara menawar harga murah dari supplier, dan sebagainya."

"Iya Mas....saya ingin meminjam dana dari koperasi untuk modal usaha," katanya.

Kemudian kami sempat terlibat dalam diskusi panjang tentang jenis-jenis bisnis apa yang bisa dilakukan bersama istrinya. Mulai dari bisnis yang paling sederhana seperti bisnis rental VCD, bisnis rental komputer, bisnis potong rambut, bisnis sewa mainan anak, sampai bisnis yang membutuhkan modal agak besar seperti sistem franchise bimbingan belajar.

Percakapan yang terjadi minggu lalu yang bagi kebanyakan orang seperti sekadar percakapan untuk menghabiskan waktu, ternyata menjadi riil di minggu ini. Ternyata, teman saya tersebut telah mendapatkan sewa ruko untuk memulai usahahnya di Pasar Godean Yogyakarta. Dan yang terutama dan utama, teman saya tersebut sudah membulatkan tekad untuk memulai bisnis. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia berhasil memilih jenis bisnis yang mempunyai potensi pasar yang luar biasa. Bisnis berjulanan plastik ....

"Saya ingin menjadi grosir plastik di pasar. Awal pertama, saya akan antar plastik-plastik itu ke berbagai pedagang di pasar. Bisa pedagang makanan, pedagang sayur, pedagang buah, dan pedagang kebutuhan hidup lainnya. Saya mengamati, setiap pembeli pasti diberikan plastik sebagai kantong untuk menaruh barang yang dibelinya. Kemudian, ketika sore hari, saya akan minta sisa plastik yang tidak terpakai dan uang hasil pemakaian plastik oleh para pedagang. Saya juga sudah mengamati, bahwa di Pasar Godean Yogyakarta belum ada grosir plastik. Saya juga sudah membanding-bandingkan harga pembelian plastik eceran di Pasar Godean yang ternyata harganya jauh lebih mahal daripada harga plastik grosiran di pasar lain," papar teman saya tersebut akan rencana bisnisnya.

Kemudian, dia bertanya apakah saya mempunyai kenalan pedagang plastik besar yang bisa memberikan harga diskon. Karena saya tidak mempunyai teman yang pedagang plastik, saya hanya menunjukkan nama, alamat, dan telepon para pedagang plastik besar di buku kuning dari PT Telkom. Saya juga menyarankan untuk mencegat mobil-mobil boks yang men-supply plastik di berbagai toko grosir untuk mendapatkan diskon dari distributor besar. Juga jangan melakukan pembelian sekaligus, tetapi dengan cara melakukan pembelian dalam beberapa paket untuk dapat membandingkan harga dari beberapa toko grosir. Saya sarankan untuk melakukan pembelian dalam jumlah besar apabila pasar sudah terbentuk dan merasa yakin telah mendapatkan harga paling rendah dan kualitas yang paling baik dari distributor. Dan yang terutama, jangan lupa untuk melakukan pencatatan yang rapi, supaya dapat dijadikan bahan evaluasi untuk mendapatkan harga grosir termurah dan untuk kalkulasi penetapan harga jual.

Perasaan saya ketika mendengar paparan teman saya tersebut sungguh senang luar biasa. Dia ingin merubah hidupnya ke arah yang lebih baik. Dia ingin merasa lebih hidup dengan cara melakukan apa yang dia inginkan dan dia cita-citakan. Dan dia melakukan hal itu dengan apa yang dia miliki. Bakat, talenta, pengalaman masa lalu keluarga dan semangat.

"Saya ingin usaha ini nantinya akan menjadi sumber penghasilan pokok bagi keluarga saya. Sedangkan bekerja seperti sekarang ini lebih sebagai status. Status bahwa saya, sebagai kepala keluarga dan sebagai anggota masyarakat mempunyai pekerjaan yang lumayan terpandang di masyarakat," tambah teman saya tersebut.

Luar biasa…! Luar biasa jalan pikiran teman saya tersebut. Dia berhasil menggabungkan antara semangat, cita-cita, dan action. Teman saya tersebut dapat bekerja sama dengan istrinya untuk memulai bisnisnya. Dan teman saya itu tidak gegabah untuk langsung melepaskan pekerjaannya demi sebuah bisnis yang belum pasti.

“Saya akan keluar dari pekerjaan saya setelah saya merasa yakin bahwa bisnis yang kami geluti telah berjalan lancar. Pekerjaan saat ini, walaupun gajinya tidak terlalu besar, akan tetapi dapat untuk mencukupi kebutuhan pokok keluarga, seandainya penghasilan dari bisnis belum bisa diharapkan,” imbuhnya. Dan itu merupakan salah satu kunci yang sangat penting bagi keberhasilan suatu bisnis.

Tekad dan semangat teman saya tersebut mengingatkan pengalaman saya empat tahun yang lalu. Tepatnya tahun 2003, ketika saya dan istri memutuskan untuk membuka sebuah sekolah musik. Waktu itu, tidak ada modal yang kami punya selain sebuah organ tua dan sebongkah semangat. Kemudian kami memulai proses berpikir dan berpikir untuk mengubah rencana bisnis menjadi sebuah aksi bisnis yaitu mewujudkan sebuah sekolah musik. Karena nomor rumah kami adalah Jl. Monjali No. 126, Yogyakarta, maka kami menamakan sekolah musik itu DO-RE-LA MUSIC SCHOOL.

Karena keterbatasan dana, maka setiap bulan, kami menambah satu alat musik yang kami beli dari gaji bulanan, mulai dari keyboard di bulan pertama, disusul piano elektrik pada bulan kedua, kemudian gitar elektrik pada bulan ketiga, dan seterusnya. Kemudian, kami mulai buat spanduk dan iklan di harian surat kabar daerah, serta mencetak brosur yang kami bagikan sendiri di berbagai sekolah, mal, gereja, dan tempat keramaian lainnya. Dengan penuh semangat, kami mencoba segala cara yang mungkin kami lakukan untuk mempromosikan sekolah musik kami, baik kepada kerabat, kepada teman-teman lama ataupun kepada tetangga-tetangga kami. Dan pada bulan pertama, bulan kedua, dan bulan ketiga, walau tidak terlalu banyak murid, akan tetapi ada penambahan murid yang cukup menggembirakan. Ketika jalan 6 bulan, jumlah murid yang kami punya sekitar 40 orang.

Kemudian, setelah melakukan beberapa kali evaluasi, akhirnya kami memutuskan untuk mencari partner yang sudah mempunyai brand name (merek) yang kuat untuk dapat meningkatkan pertumbuhan dan cashflow yang lebih cepat. Akhirnya, setelah perjalanan yang cukup panjang, ber-partnerlah kami dengan Purwacaraka Music Studio. Hambatan pertama yang kita temui, selain komunikasi untuk mendapatkan partnership juga masalah modal. Akhirnya, dengan nekat kami pinjam sebagian modal dari orangtua, sebagian modal dari mertua, dan sebagian modal lainnya dari utang di bank. Proses mendapatkan utang di bank juga cukup rumit, termasuk bagaimana kami menyakinkan bank dengan memberikan jaminan gaji bulanan kami dan sertifikat tanah yang kami miliki.

Sedikit demi sedikit, kesalahan demi kesalahan, perbaikan demi perbaikan terus menerus kami lakukan. Akhirnya, setelah perjalanan cukup panjang, empat tahun pertama kami sudah berhasil mempunyai tiga cabang di Yogyakarta dan Solo, dengan melibatkan lebih dari 75 guru dan 25 staf administrasi. Dan yang lebih menggembirakan lagi, kami akan segera membuka satu cabang lagi di Solo. Buat saya, sungguh ini sebuah pencapain yang luar biasa. Dan acungan jempol saya berikan kepada istri tercinta saya, yang tanpa mengenal lelah, dan dengan linangan keringat dan air mata, berhasil membuat semua hal itu terjadi. Kami selalu berpikir positif dan selalu mengingat kata-kata bijak, bisnis konglomeratpun dimulai dari sebuah bisnis yang tidak terlalu besar.

Akhirnya, setelah memasuki bisnis tahun ketiga, istri saya "memaksa" saya untuk keluar dari pekerjaan di Jakarta dan menetap tinggal di Yogyakarta. Meninggalkan sebuah perjalanan panjang karier saya di sebuah konglomerat bisnis dengan omzet tahunan lebih dari Rp2 trilliun. Hikmat yang saya dapatkan adalah adanya kedekatan yang luar biasa dengan istri dan anak-anak, yang jika dinilai dengan uang, sebuah kalkulator 16 digit pun tidak akan cukup untuk menghitungnya.

Akhirnya, Selamat dan Sukses…! Kembali saya ucapkan kepada teman baik saya dengan bisnis plastiknya. Semoga, kesuksesan, kegembiraan dan semangat selalu menyertai perjalanan bisnisnya.[mkbs] * M. Kuncara Budi Santosa, S.E., Akt, M.M., saat ini bekerja sebagai Chief Finance Officer di ICRS-Yogya, sebuah program international, interdisipliner dan interreligius studies di Pascasarjana UGM, yang merupakan konsorsium tiga universitas besar di Yogyakarta, UGM (Universitas Gadjah Mada), UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga dan UKDW (Universitas Duta Wacana Yogyakarta). Karier profesionalnya dimulai sebagai eksternal auditor selama empat tahun dengan posisi terakhir sebagai Supervisor Auditor di sebuah kantor akuntan besar (The Big Four) di Jakarta, yang kemudian dilanjutkan sebagai konsultan keuangan selama dua tahun di divisi yang berbeda. Setelah itu, selama dua tahun menjadi salah satu tim manajemen di perusahaan konglomerat besar, yang pada saat ini pemiliknya berhasil menempati rangking 26 orang terkaya di Indonesia. Kuncara telah mengalami jatuh bangun didalam menekuni berbagai jenis bisnis berskala kecil atau UKM. Di samping menekuni bisnis dan pekerjaan sehari-hari, Kuncara juga menjadi salah satu pembaca setia Pembelajar.com.

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman