Oleh: Mugi Subagyo
Kesalahan utama penyebab jatuhnya perusahaan yang pernah saya bangun lebih dari 3 tahun adalah sebuah idiom: “Customer is a King”. Idiom ini cukup melekat kuat di hati dan pikiran kami sebagai pelaku dunia usaha, bahkan menjadi nyawa dalam menjalankan bisnis. Langkah-langkah kebijakan yang kami buat berlandaskan slogan tersebut, membuat keputusan menjadi tidak realistis, lebih mengutamakan pelanggan, bahkan banyak strategi bisnis yang digelontorkan adalah hasil dari intimidasi pelanggan.
Keyakinan menganggap pelanggan sebagai seorang raja, membuat situasi menjadi tidak kondusif. Sebagai contoh, ada seorang karyawan yang demi kedekatannya dengan pelanggan, menceritakan keburukan-keburukan manajemen perusahaan atau kejelekan rekan kerjanya, padahal si pelanggan tersebut tidak menanyakannya. Hal ini dimungkinkan, sebab si karyawan beranggapan dengan bercerita lebih dalam, akan membawa kedekatan yang lebih intim (personal) pada pelanggannya. Bahkan tidak jarang mereka melanggar aturan atau prosedur kerja yang telah ditetapkan, dengan alasan, bahwa itu semua keinginan pelanggan. Mereka berpikir bahwa Pelanggan adalah Raja, jadi harus dituruti semua keinginannya, karena keinginan seorang raja adalah titah.
Benarkah pelanggan adalah raja? Benarkah Pelanggan tidak pernah salah? Karena seorang raja selalu benar. Mengapa tidak jujur saja, bahwa dalam bisnis kita mencari keuntungan, bukan sekedar mencari pelanggan sebanyak-banyaknya. Karena pelanggan yang banyak jika hanya merugikan perusahaan, untuk apa dipertahankan. Apalagi banyak dunia usaha yang menjadikan idiom ini hanya sebagai pemikat terhadap calon pelanggan.
Pelanggan bukanlah raja.
Sikap yang tepat dalam memperlakukan dan menganggap pelanggan, adalah dengan memperhatikan hal-hal nyata berikut ini:
Memposisikan Pelanggan
Slogan yang dicanangkan perusahaan dengan menempatkan pelanggan sebagai raja, adalah sebuah pedagogi yang buruk, bahkan menjadikan citra pelanggan sebagai orang bodoh yang tak mengerti teknis. Pelanggan akan tinggi hati dan menuntut dunia usaha untuk melayaninya dengan bekerja benar (menurut kepentingan pelanggan), karena si Pelanggan merasa telah mengeluarkan uang untuk membayar. Seorang customer service atau karyawan lain yang berurusan dengan pelanggan macam ini, akan berpikir bahwa mereka berurusan dengan orang kaya yang tidak pintar. Karena setelah diberi penjelasan atas keluhannya, si Raja ini tidak mau tahu masalahnya, dia hanya mau beres. Padahal tiap permasalahan yang ada, bagi si karyawan atau dunia bisnis lainnya adalah sesuatu yang perlu dibereskan secepatnya, mereka sendiri tidak menginginkan ada masalah.
Inti dari slogan ini sebenarnya adalah pola pikir yang berorientasi pada kepuasan konsumen/pelanggan. Sekilas jargon ini tampak cocok untuk sebuah bisnis dengan komoditas utamanya adalah produk, atau lebih spesifik lagi berjenis consumer product. Selain itu, beberapa karakter bisnis bidang jasa juga bisa nampak seperti ini; misalnya transportasi. Di mana hampir semua maskapai penerbangan berusaha sebaik-baiknya dalam memberikan pelayanan. Ada model membership seperti GFF (Garuda Friquent Flyer), ada online reservation seperti Air Asia, pelayanan yang sangat ramah dan masih banyak lagi.
Tidak semua bisnis jasa bisa menganggap konsumennya adalah raja, misalnya kesehatan atau bisnis pendidikan. Sebagai contoh adalah rumah sakit, di mana pasien adalah konsumen. Kepuasan konsumen disini adalah kesembuhan bagi dirinya. Lantas masihkah berlaku dengan mengatakan pasien adalah raja? Jika jawabannya: Ya, maka pihak rumah sakit wajib melakukan apa saja yang diinginkan pasien. Sedangkan dalam proses penyembuhan atau proses terapi, membutuhkan keterlibatan dari pasien itu sendiri. Pasien dapat berkompromi selama masih dalam anjuran pihak rumah sakit. Proses penyembuhan ini terkadang malah tidak menyenangkan, namun selama pasien dapat bekerjasama, niscaya kesembuhan bisa didapat. Begitu pula dalam dunia pendidikan, kepuasan konsumen atau para siswa adalah mendapat ilmu atau keterampilan yang baik. Hal ini juga melibatkan siswa untuk memperoleh tujuan dengan didampingi guru/instruktur, karena perlu diingat, bahwa sebaik apa pun sebuah sekolah atau lembaga pelatihan keterampilan, tidak ada yang bisa mencetak siswa menjadi sempurna, tanpa kemauan atau keterlibatan dari diri siswa itu sendiri.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa menempatkan konsumen sebagai raja, akan membawa dampak buruk bagi kemajuan dunia usaha. Bukankah lebih baik, bila kita menempatkan konsumen sebagai mitra/rekan kerja yang saling berkorelasi. Rekan kerja harus mempunyai andil dalam mencapai tujuan bersama. Artinya bila konsumen mengharapkan kepuasan akan sebuah produk baik barang ataupun jasa, maka pelanggan tersebut juga ikut memenuhi kewajibannya untuk dapat memperoleh haknya.
Win-win Transaction
Bila konsumen/pelanggan/customer adalah mitra dari perusahaan, maka ia akan memberikan andil yang berguna bagi kemajuan usaha. Dari produk barang atau jasa yang ia pilih, ada timbal balik yang sesuai dengan nilai yang dibayarnya, sehingga kedua pihak mendapat keuntungan. Perusahaan memberikan produk terbaiknya, pelayanan yang diutamakan, juga ajakan kepada konsumen untuk menyumbang saran demi perbaikan yang berkelanjutan. Disini terjadi simbiosis yang saling menguntungkan kedua belah pihak.
Berbeda jika dunia usaha menganggap konsumennya raja, maka dengan alasan takut kehilangan pelanggan, kemudian melakukan semua permintaan pelanggan. Banyak kita jumpai pelanggan yang berpura-pura mengeluh tentang buruknya suatu produk, agar mereka mendapatkan potongan harga sebanyak-banyak, bahkan jika mungkin; gratis. Ada pula pelanggan yang memberitahu tentang harga yang terlalu tinggi dibandingkan tempat lain, maka sebagai pihak penjual produk, kita harus dapat meyakinkan ke pelanggan akan kelebihan atau keistimewaan dari produk bila dibandingkan dengan tempat lain.
Bob Sadino, seorang entrepreneur sejati, pernah mencontohkan tentang karyawannya yang menurunkan harga kangkung di supermarketnya dari Rp 6.000,- menjadi Rp 400,-; hasilnya kangkung tersebut tidak laku terjual. Konsumen merasa kangkung yang dijual adalah kangkung mutu rendah, sehingga pasti tidak baik dan tidak enak untuk dikonsumsi. Ada nilai psikologis yang membuat pembeli merasa berbeda saat mengonsumsi kangkung mahal, mereka makan sambil menghitung diam-diam kangkung mahal tersebut, dan ia nikmati. Ini adalah contoh bagus tentang trik marketing.
Bedakan Pelanggan dengan Kriminal
Seorang pengusaha harus mampu membedakan potensi yang dimiliki masing-masing pelanggan, artinya tidak hanya memandang pelanggan yang notabene sebuah perusahaan besar, tapi perlu juga dilihat track record-nya. Beberapa perusahaan besar tidak memiliki potensi yang juga besar sebagai pelanggan. Mereka cenderung mengulur waktu pembayaran, dan tak jarang berbilang bulan bahkan tahunan. Pelanggan seperti ini, menurut FX Tjokro Hadi Soesilo (Pakar Sales & Manajemen) masuk dalam kategori pelaku kriminal. Meskipun besar, perusahaan seperti ini tidak selayaknya dipertahankan sebagai pelanggan.
Anda Tak Dapat Memuaskan Semua Pihak
Dengan mengikuti penuh apa yang disarankan pelanggan, tidak berarti Anda dapat memuaskan mereka. Selain kepuasan adalah hal nisbi, kepuasan seorang pelanggan bisa jadi ketidakpuasan pelanggan lainnya. Kebijakan yang dibuat perusahaan untuk memuaskan seseorang pelanggan, dapat menjadi kekecewaan pelanggan yang lain.
Sebagai contoh mudah: Jika Anda seorang pengusaha yang memproduksi sepatu misalnya. Kemudian Anda mengikuti saran pelanggan yang meminta harga lebih rendah dari yang ditetapkan sebelumnya, dan mereka menerima jika beberapa bahan baku diturunkan kualitasnya, sebagai konsekuensi dalam biaya pembuatan. Boleh jadi pelanggan tersebut menerima dengan senang hati dan menjalankan usahanya lebih lancar. Tapi bagaimana dengan pelanggan yang lain? Pelanggan yang mengutamakan mutu, kualitas dari sepatu yang Anda produksi. Mereka akan kecewa dan kemungkinannya mereka akan menarik diri sebagai pelanggan, untuk kemudian mencari produsen sepatu lainnya.
Jadi sebagai pengusaha, Anda perlu membuat kebijakan yang menguntungkan kedua pihak, pihak pertama adalah Anda sendiri dan pihak lain adalah pelanggan secara umum. Dalam arti segala kebijakan yang dibuat perlu diperhatikan kepuasan rata-rata pelanggan, dan tentunya tidak membuat rugi usaha yang Anda jalankan.
Kapan Berkata “Ya” dan Kapan Bilang “Tidak, tapi...”
Ada seorang customer service yang membuat saya salut atas jawaban yang diberikan, ketika saya memintanya untuk memberikan kualitas terbaik namun dengan potongan harga yang lumayan. Saat itu saya merasa telah cukup lama menjadi pelanggan tetapnya yang setia. Jawaban yang diberikan adalah:
“Maaf, Pak kami tidak bisa memberikan potongan harga untuk produk berkualitas. Kami, namun karena Bapak adalah pelanggan setia kami, maka permintaan Bapak akan saya sampaikan kepada pihak manajemen.”
Disini, si karyawan jelas mengatakan “Tidak!”, namun ia pandai dengan jawabannya yang membuat saya tidak tersinggung dan memberikan sedikit harapan. Perusahaan tempat karyawan tersebut bekerja, benar-benar tahu memposisikan pelanggan. Mereka tidak menganggap pelanggan adalah raja (karena tidak terdapat slogan ini yang biasanya ditempel pada dinding ruang kerja mereka), tapi mereka tahu kapan berkata “Ya” dan kapan berkata “Tidak, tapi...”
Pernah juga di lain kesempatan saya memintanya untuk melakukan sesuatu yang di luar prosedur kerjanya. Karyawan tersebut dengan tegas mengatakan “Tidak” sambil menjelaskan alasannya, bahwa itu semua sudah ada dalam prosedur kerja yang telah kami sepakati, jadi tak bisa dilanggar.
Bisa Anda bayangkan jika karyawan tersebut selalu menjawab “Ya”, karena alasannya pelanggan adalah raja, maka usaha Anda akan bangkrut dalam waktu singkat. Anda tidak dapat menyalahkan karyawan, karena ia bekerja sesuai dengan apa yang telah Anda doktrinkan.
Buat Segalanya Tertulis
Meskipun Anda telah menjalin kerjasama yang cukup lama dengan seorang pelanggan, sebaiknya segala transaksi atau kesepakatan yang dibuat, semuanya tertera di atas kertas, tertulis dengan tanda-tangan masing-masing pihak, bila perlu gunakan saksi. Ini berguna untuk mencegah hal-hal yan tidak diinginkan yan mungkin terjadi di waktu yang akan datang. Perjanjian yang tertulis juga dapat memotivasi pihak terkait, untuk melakukan segala kesepakatan dan tidak bermaksud melanggar, karena ada sanksi yang dikenakan.
Jika Anda tidak melakukan ini dengan hanya mengandalkan kepercayaan, niscaya akan menemui kesulitan yang kemungkinan besar terjadi di masa datang, belum lagi ditambah dengan sifat dasar manusia yang pelupa. Saat ini mungkin Anda ingat, tapi nanti. Urusan Anda bukan hanya memikirkan satu hal saja bukan? Pelanggan Anda pun bukan hanya seorang, dan urusan Anda tidak melulu tentang bisnis, banyak hal lain yang juga Anda pikirkan, mulai dari keluarga, orangtua, saudara dan banyak lagi.
Kunci Sukses Menjual Lebih Banyak
Robert W. Bly dalam bukunya Fool-Proof Marketing menjelaskan beberapa metode yang efektif dalam menjual produk atau jasa apa pun, bahkan dalam kondisi ekonomi apa pun. Buku ini menjelaskan meski kondisi ekonomi secara umum sedang buruk, keberhasilan untuk menjual lebih banyak produk ataupun jasa kepada pelanggan, sangat bergantung pada kemampuan Anda dalam membangun hubungan baik dengan mereka. Melalui perjanjian yang adil bagi kedua pihak, frekuensi berhubungan dan komunikasi langsung, akan mampu meningkatkan tujuan Anda. Berikut ini adalah beberapa idenya:
Buat penawaran khusus bagi pelanggan aktif Anda dengan tenggat waktu yang pendek, sehingga mereka harus mengambil keputusan dalam waktu dekat. Sampaikan penawaran ini melalui media komunikasi yang cepat dan murah, misal: email, faks atau telepon.
Luangkan waktu untuk pelanggan inti, meski kondisi bisnis mereka saat ini sedang memburuk, tapi perhatian pribadi yang Anda berikan, misalnya mengundang mereka makan siang, makan malam atau mengajak mereka untuk melakukan hobinya, akan membuat mereka selalu ingat dan dihargai pada saat kondisi bisnisnya membaik kembali. Hubungi pula pelanggan setia Anda yang mungkin belakangan ini tidak Anda pedulikan.
Selalu berhubungan dengan pelanggan, meski saat ini mereka tidak sedang berbisnis dengan Anda. Juga hubungi pelanggan inti yang masih aktif, tanyakan pada mereka, apakah puas dengan produk yang mereka beli, apa saran mereka untuk dapat Anda lakukan agar mereka lebih puas lagi.
Salah satu kesalahan utama dari pemasaran adalah selalu berusaha meluaskan usaha untuk memperoleh hasil lebih banyak. Lebih baik Anda fokus pada bagaimana dapat memberikan pelayanan yang lebih baik bagi pelanggan yang sudah ada.
Memahami kondisi pelanggan Anda. Dalam perusahaan langganan Anda mungkin terjadi perubahan rencana hingga membatasi anggaran, di sini Anda dapat membantu mereka mengatasi masalah tersebut dengan memberikan penawaran yang dapat menggunakan sisa anggaran yang ada atau yang tidak memerlukan pengesahan dari manajemen senior.
Jadi berikan perhatian khusus bagi kepuasan konsumen atau pelanggan Anda, bukan menganggap mereka sebagai raja. Bedakan konsep Kepuasan Pelanggan dengan konsep Pelanggan adalah Raja. Raja tidak bisa salah, pelanggan bisa salah, meski salah dan benar juga tidak absolut, tapi merajakan pelanggan berarti Anda harus memberikan pelayanan apapun, tanpa melihat benar atau salah. Ini sangat berbahaya dan tidak termasuk dalam konsep kepuasan pelanggan.
Semoga Berbahagia.[ms]
* Mugi Subagyo adalah praktisi SDM di perusahaan multinasional, pengamat Teknologi Informasi, graphic designer, senior di dunia percetakan dan pemerhati Bahasa & Sastra Indonesia. Mugi adalah alumnus SPP Angkatan ke-2 dan dapat dihubungi melalui email: mugisby@yahoo.co.id
Kamis, 30 Oktober 2008
JIKA ANDA MERASA SAKIT HATI
Oleh: Saumiman Saud
Seandainya kita tidak mempunyai perasaan lagi, maka apa pun yang dilakukan orang terhadap kita tentu responnya biasa saja. Namun karena kita manusia yang normal, oleh sebab itu bila ada sikap seseorang yang kelewatan (kebangetan) terhadap kita maka kita akan merasa sakit hati.
Sakit hati itu adalah sikap yang wajar dan dapat muncul secara mendadak, biasanya karena ulah dan tingkah orang lain terhadap kita atau sebaliknya. Berbagai sebab yang mengakibatkan kita sakit hati, antara lain karena kita merasa tidak dihargai, kita merasa dikesampingkan atau diremehkan serta dihina. Sakit hati itu dapat timbul tanpa harus kita disakiti atau dilukai, kita tidak harus dipukul juga. Namun dari sikap dan perlakukan serta kata-kata yang disampaikan dengan cara menyindir dan kritik dapat membuat kita merasa sakit hati. Sakit hati itu akan lebih cepat terasa lagi bila yang meperlakukannya itu adalah orang-orang yang kita kasihi.
Orang yang sakit hati tentu akan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan dan tidur tidak nyenyak makan tidak enak. Pemazmur mengatakan di dalam Mazmur 31: 9-10, “Orang yang sakit hati akan merasa sangat susah dan merana.” Sakit hati juga dapat merampas suka cita dan selera hidup kita, dengan demikian orang yang sedang sakit hati akan terlihat diwajahnya selalu cemberut dan hidupnya menderita dan pekerjaannya agak berantakan. Oleh sebab itu jika kita coba mengkaji ulang, sebenarnya kita akan merasa sangat rugi jika kita harus mengalami sakit hati, sementara orang yang menyakiti kita itu tidak tahu-menahu atau bahkan saat ini sedang bersenang-senang.
Konon cerita ada dua orang sahabat karib yang sedang mengembara. Mereka berjalan menuju ke padang belantara, masuk hutan keluar hutan, masuk desa keluar desa. Suatu hari kedua sahabat itu bertengkar, dan akhirnya terjadi perkelahian. Salah seorang tiba-tiba menempeleng wajah sahabatnya. Sahabat yang ditempeleng itu tidak membalasnya, namun ia merasa sakit hati. Lalu ia menulis tulisan di atas pasir, bunyinya demikian, “ Hari ini sahabat baikku menempeleng aku.” Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan lagi.
Di tengah perjalanan karena sengat terik matahari membuat mereka haus dan lapar. Itu sebabnya mereka berhenti di tepi sungai untuk menyantap makanan. Tatkala sahabat yang ditempeleng itu pergi ke sungai mengambil air, tiba-tiba ia terpeleset ke dalam sungai dan ia tidak bisa berenang. Ia menjerit minta tolong, dan sahabatnya dengan sigap dan cekatan terjun ke sungai menolong dan menyelamatkannya dari maut. Setelah siuman, ia menulis lagi tulisan di atas sebuah batu, bunyinya demikain, “Hari ini sahabatku yang baik menyelamatkan aku.”
Si sahabat yang tadinya menempeleng dan menyelamatkan ini bertanya-tanya, kenapa sahabatnya tadi menulis di atas pasir, sekarang menulisnya di atas batu? Kemudian sahabat itu menjawab demikian, “Jika ada orang yang menyakitimu, cukuplah kita tulis di atas pasir saja, sebab sebentar akan datang angin kencang, hujan deras, dan ombak air melenyapkan tulisan itu, sehingga engkau segera melupakannya. Namun jika ada orang berbuat baik kepadamu, tulislah di atas batu, supaya kalau ada angin kencang hujan dan badai menerpa, tulisannya tidak pernah akan hilang dan kamu akan ingat selalu kebaikannya.”
Pelajaran ini sangat berharga bagi kita yang sedang sakit hati, biarlah kita tulis di atas pasir, supaya semua itu cepat dihanyutkan dan hilang, dengan demikian kita segera melupakannya. Mari ingatlah kebaikan orang lain, jangan ingat kejahatannya, sehingga kita tidak perlu merasa sakit hati. Hidup kita semestinya maju terus, karena hari-hari berjalan tanpa berhenti, namun jika kita mandek hanya karena sakit hati, maka kita akan merasa rugi. Mari tinggalkan rasa sakit hati, supaya hidup yang Anda jalani nampak lebih indah dan penuh suka-cita.[ss]
* Saumiman Saud adalah rohaniwan, penulis buku, dan pemerhati yang saat ini berdomisili di San Jose, California, USA. Ia dapat dihubungi via email saumiman@gmail.com.
Seandainya kita tidak mempunyai perasaan lagi, maka apa pun yang dilakukan orang terhadap kita tentu responnya biasa saja. Namun karena kita manusia yang normal, oleh sebab itu bila ada sikap seseorang yang kelewatan (kebangetan) terhadap kita maka kita akan merasa sakit hati.
Sakit hati itu adalah sikap yang wajar dan dapat muncul secara mendadak, biasanya karena ulah dan tingkah orang lain terhadap kita atau sebaliknya. Berbagai sebab yang mengakibatkan kita sakit hati, antara lain karena kita merasa tidak dihargai, kita merasa dikesampingkan atau diremehkan serta dihina. Sakit hati itu dapat timbul tanpa harus kita disakiti atau dilukai, kita tidak harus dipukul juga. Namun dari sikap dan perlakukan serta kata-kata yang disampaikan dengan cara menyindir dan kritik dapat membuat kita merasa sakit hati. Sakit hati itu akan lebih cepat terasa lagi bila yang meperlakukannya itu adalah orang-orang yang kita kasihi.
Orang yang sakit hati tentu akan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan dan tidur tidak nyenyak makan tidak enak. Pemazmur mengatakan di dalam Mazmur 31: 9-10, “Orang yang sakit hati akan merasa sangat susah dan merana.” Sakit hati juga dapat merampas suka cita dan selera hidup kita, dengan demikian orang yang sedang sakit hati akan terlihat diwajahnya selalu cemberut dan hidupnya menderita dan pekerjaannya agak berantakan. Oleh sebab itu jika kita coba mengkaji ulang, sebenarnya kita akan merasa sangat rugi jika kita harus mengalami sakit hati, sementara orang yang menyakiti kita itu tidak tahu-menahu atau bahkan saat ini sedang bersenang-senang.
Konon cerita ada dua orang sahabat karib yang sedang mengembara. Mereka berjalan menuju ke padang belantara, masuk hutan keluar hutan, masuk desa keluar desa. Suatu hari kedua sahabat itu bertengkar, dan akhirnya terjadi perkelahian. Salah seorang tiba-tiba menempeleng wajah sahabatnya. Sahabat yang ditempeleng itu tidak membalasnya, namun ia merasa sakit hati. Lalu ia menulis tulisan di atas pasir, bunyinya demikian, “ Hari ini sahabat baikku menempeleng aku.” Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan lagi.
Di tengah perjalanan karena sengat terik matahari membuat mereka haus dan lapar. Itu sebabnya mereka berhenti di tepi sungai untuk menyantap makanan. Tatkala sahabat yang ditempeleng itu pergi ke sungai mengambil air, tiba-tiba ia terpeleset ke dalam sungai dan ia tidak bisa berenang. Ia menjerit minta tolong, dan sahabatnya dengan sigap dan cekatan terjun ke sungai menolong dan menyelamatkannya dari maut. Setelah siuman, ia menulis lagi tulisan di atas sebuah batu, bunyinya demikain, “Hari ini sahabatku yang baik menyelamatkan aku.”
Si sahabat yang tadinya menempeleng dan menyelamatkan ini bertanya-tanya, kenapa sahabatnya tadi menulis di atas pasir, sekarang menulisnya di atas batu? Kemudian sahabat itu menjawab demikian, “Jika ada orang yang menyakitimu, cukuplah kita tulis di atas pasir saja, sebab sebentar akan datang angin kencang, hujan deras, dan ombak air melenyapkan tulisan itu, sehingga engkau segera melupakannya. Namun jika ada orang berbuat baik kepadamu, tulislah di atas batu, supaya kalau ada angin kencang hujan dan badai menerpa, tulisannya tidak pernah akan hilang dan kamu akan ingat selalu kebaikannya.”
Pelajaran ini sangat berharga bagi kita yang sedang sakit hati, biarlah kita tulis di atas pasir, supaya semua itu cepat dihanyutkan dan hilang, dengan demikian kita segera melupakannya. Mari ingatlah kebaikan orang lain, jangan ingat kejahatannya, sehingga kita tidak perlu merasa sakit hati. Hidup kita semestinya maju terus, karena hari-hari berjalan tanpa berhenti, namun jika kita mandek hanya karena sakit hati, maka kita akan merasa rugi. Mari tinggalkan rasa sakit hati, supaya hidup yang Anda jalani nampak lebih indah dan penuh suka-cita.[ss]
* Saumiman Saud adalah rohaniwan, penulis buku, dan pemerhati yang saat ini berdomisili di San Jose, California, USA. Ia dapat dihubungi via email saumiman@gmail.com.
SUKSES BERKAT SILATURAHMI
Oleh: Gagan Gartika
Silaturahmi ternyata tak hanya bisa menyambung tali persaudaraan. Lebih jauh, silaturahmi juga sangat bermanfaat untuk menunjang kesuksesan. Bukan hanya individu, bahkan perusahaan yang memanfaatkan silaturahmi pun bisa mencapai kemajuan.
Tupperware misalnya. Produsen kebutuhan rumah tangga yang menggunakan sistem direct selling ini memanfaatkan arisan sebagai media silaturahmi. Tupperware sadar, arisan adalah ajang kumpul para ibu yang sangat potensial untuk penjualan produknya. Karena itu, dengan media arisan, Tupperware berhasil menjalin silaturahmi dengan para ibu sehingga produknya makin dikenal masyarakat. Ujung-ujungnya, mereka jadi pelanggan tetap produk Tupperware.
Contoh lain adalah kedai kopi Starbucks. Mereka sebenarnya menjual kopi dengan mempraktikkan pola silaturahmi. Pelayan berusaha mengenal apa yang diinginkan pembeli dengan langsung bertanya kepada pembeli yang datang. Melalui sentuhan pelayanan dan keramahan seperti di rumah sendiri, penikmat kopi akan kembali datang.
Lain lagi dengan perusahaan minuman kesehatan, Yakult. Mereka menjalankan pola silaturahmi dengan mengundang masyarakat berkunjung ke pabriknya. Pengunjung diperlihatkan proses pembuatannya. Dengan begitu, mereka akan bercerita tentang higienitas pabrik Yakult kepada orang lain. Harapannya, semua orang akan makin percaya bahwa Yakult sebagai minuman kesehatan terjamin mutunya.
Contoh-contoh tersebut menggambarkan betapa silaturahmi bukan hanya berfungsi untuk mempererat tali persaudaraan. Namun, juga bisa dimaksimalkan sebagai sarana penunjang bagi kesuksesan perusahaan. Pertanyaannya kemudian, bagaimana mengembangkan silaturahmi agar bisa memberikan manfaat yang maksimal? Beberapa hal berikut merupakan hal-hal yang bisa dilakukan.
Selalu Memperluas Jaringan
Memperluas jaringan merupakan inti dari silaturahmi. Makin luas jaringan yang kita miliki, akan makin kuat pula akses kita ke berbagai channel yang bisa mendukung kesuksesan kita.
Untuk memperluas jaringan, kita perlu modal. Sebagai individu, modal kita yaitu sopan santun dalam pergaulan, menghargai pendapat orang lain, berjiwa penolong, berusaha menjadi panutan. Selain itu, mempunyai keahlian tertentu dan berwawasan luas juga menjadi modal yang bermanfaat untuk memperluas jaringan.
Sedangkan bagi perusahaan, modalnya yaitu dengan mengetahui kebutuhan konsumen. Dengan memahami kebutuhan konsumen, perusahaan dapat menemukan cara silaturahmi yang sesuai dengan keinginan konsumen. Misalnya dengan menggelar pasar murah, mudik bersama, atau kunjungan ke pabrik.
Dengan Membuat Media Pertemuan
Untuk mempererat tali silaturahmi, perlu media sebagai sarana pertemuan. Pemilihan media yang tepat mempengaruhi efektivitas silaturahmi. Seperti contoh di atas, ada beberapa perusahaan yang menggunakan media arisan atau mengundang langsung konsumen sebagai media silaturahmi.
Adapun media lain yang bisa dikembangkan oleh perusahaan di antaranya seperti membuat tempat pelatihan, membangun jaringan internet, membangun sarana dan komunitas olahraga, serta masih banyak media lainnya. Intinya, dengan menggunakan media pertemuan yang tepat, akan memudahkan kita menjalin hubungan yang akrab dengan orang lain, maupun konsumen bagi perusahaan kita.
Selalu Memelihara Hubungan Baik
Silaturahmi juga perlu dipelihara. Sebab, jika ini bisa dipelihara dengan baik, relasi akan semakin dekat dengan kita. Kita pun bisa selalu meng-update perkembangan yang terjadi. Sebagai contoh, jika seorang rekan punya proyek yang harus dikerjakan. Biasanya, ia akan mencari orang yang dikenalnya lebih dulu untuk membantunya. Maka, dengan memelihara silaturahmi, peluang-peluang seperti ini bisa kita dapatkan.
Sedangkan bagi perusahaan, dengan menjaga silaturahmi, akan menghasilkan citra positif bagi perusahaan di mata konsumen. Citra positif ini akan melanggengkan kedekatan perusahaan dengan konsumen. Dengan cara ini, konsumen akan makin loyal.
Begitulah, dengan menjaga silaturahmi, ada banyak keuntungan yang bisa diraih. Pencari kerja lebih mudah memperoleh pekerjaan. Para pebisnis bisa mendapat kesempatan luas mengembangkan bisnis. Modal pun akan lebih mudah diperoleh. Bagi atlet, akan lebih mudah mendapatkan tempat dan lawan tanding untuk meningkatkan prestasi. Para peneliti lebih mudah memantau akses data. Pasien bisa mendapat dokter yang andal. Order dalam bentuk apa pun bisa datang dari relasi yang dibangun. Semua berkat silaturahmi yang intensif dengan jejaring yang dimiliki. Bisa dikatakan, silaturahmi bisa memperpanjang jalan rejeki dan membuka pintu sukses bagi kita.[gg]
* Gagan Gartika adalah pelaku Silaturahmi Marketing, pemilik beberapa bidang usaha, Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi, dan Alumni Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) Angkatan ke-5. Ia dapat dihubungi melalui email: gagan@kumaitucargo.co.id.
Silaturahmi ternyata tak hanya bisa menyambung tali persaudaraan. Lebih jauh, silaturahmi juga sangat bermanfaat untuk menunjang kesuksesan. Bukan hanya individu, bahkan perusahaan yang memanfaatkan silaturahmi pun bisa mencapai kemajuan.
Tupperware misalnya. Produsen kebutuhan rumah tangga yang menggunakan sistem direct selling ini memanfaatkan arisan sebagai media silaturahmi. Tupperware sadar, arisan adalah ajang kumpul para ibu yang sangat potensial untuk penjualan produknya. Karena itu, dengan media arisan, Tupperware berhasil menjalin silaturahmi dengan para ibu sehingga produknya makin dikenal masyarakat. Ujung-ujungnya, mereka jadi pelanggan tetap produk Tupperware.
Contoh lain adalah kedai kopi Starbucks. Mereka sebenarnya menjual kopi dengan mempraktikkan pola silaturahmi. Pelayan berusaha mengenal apa yang diinginkan pembeli dengan langsung bertanya kepada pembeli yang datang. Melalui sentuhan pelayanan dan keramahan seperti di rumah sendiri, penikmat kopi akan kembali datang.
Lain lagi dengan perusahaan minuman kesehatan, Yakult. Mereka menjalankan pola silaturahmi dengan mengundang masyarakat berkunjung ke pabriknya. Pengunjung diperlihatkan proses pembuatannya. Dengan begitu, mereka akan bercerita tentang higienitas pabrik Yakult kepada orang lain. Harapannya, semua orang akan makin percaya bahwa Yakult sebagai minuman kesehatan terjamin mutunya.
Contoh-contoh tersebut menggambarkan betapa silaturahmi bukan hanya berfungsi untuk mempererat tali persaudaraan. Namun, juga bisa dimaksimalkan sebagai sarana penunjang bagi kesuksesan perusahaan. Pertanyaannya kemudian, bagaimana mengembangkan silaturahmi agar bisa memberikan manfaat yang maksimal? Beberapa hal berikut merupakan hal-hal yang bisa dilakukan.
Selalu Memperluas Jaringan
Memperluas jaringan merupakan inti dari silaturahmi. Makin luas jaringan yang kita miliki, akan makin kuat pula akses kita ke berbagai channel yang bisa mendukung kesuksesan kita.
Untuk memperluas jaringan, kita perlu modal. Sebagai individu, modal kita yaitu sopan santun dalam pergaulan, menghargai pendapat orang lain, berjiwa penolong, berusaha menjadi panutan. Selain itu, mempunyai keahlian tertentu dan berwawasan luas juga menjadi modal yang bermanfaat untuk memperluas jaringan.
Sedangkan bagi perusahaan, modalnya yaitu dengan mengetahui kebutuhan konsumen. Dengan memahami kebutuhan konsumen, perusahaan dapat menemukan cara silaturahmi yang sesuai dengan keinginan konsumen. Misalnya dengan menggelar pasar murah, mudik bersama, atau kunjungan ke pabrik.
Dengan Membuat Media Pertemuan
Untuk mempererat tali silaturahmi, perlu media sebagai sarana pertemuan. Pemilihan media yang tepat mempengaruhi efektivitas silaturahmi. Seperti contoh di atas, ada beberapa perusahaan yang menggunakan media arisan atau mengundang langsung konsumen sebagai media silaturahmi.
Adapun media lain yang bisa dikembangkan oleh perusahaan di antaranya seperti membuat tempat pelatihan, membangun jaringan internet, membangun sarana dan komunitas olahraga, serta masih banyak media lainnya. Intinya, dengan menggunakan media pertemuan yang tepat, akan memudahkan kita menjalin hubungan yang akrab dengan orang lain, maupun konsumen bagi perusahaan kita.
Selalu Memelihara Hubungan Baik
Silaturahmi juga perlu dipelihara. Sebab, jika ini bisa dipelihara dengan baik, relasi akan semakin dekat dengan kita. Kita pun bisa selalu meng-update perkembangan yang terjadi. Sebagai contoh, jika seorang rekan punya proyek yang harus dikerjakan. Biasanya, ia akan mencari orang yang dikenalnya lebih dulu untuk membantunya. Maka, dengan memelihara silaturahmi, peluang-peluang seperti ini bisa kita dapatkan.
Sedangkan bagi perusahaan, dengan menjaga silaturahmi, akan menghasilkan citra positif bagi perusahaan di mata konsumen. Citra positif ini akan melanggengkan kedekatan perusahaan dengan konsumen. Dengan cara ini, konsumen akan makin loyal.
Begitulah, dengan menjaga silaturahmi, ada banyak keuntungan yang bisa diraih. Pencari kerja lebih mudah memperoleh pekerjaan. Para pebisnis bisa mendapat kesempatan luas mengembangkan bisnis. Modal pun akan lebih mudah diperoleh. Bagi atlet, akan lebih mudah mendapatkan tempat dan lawan tanding untuk meningkatkan prestasi. Para peneliti lebih mudah memantau akses data. Pasien bisa mendapat dokter yang andal. Order dalam bentuk apa pun bisa datang dari relasi yang dibangun. Semua berkat silaturahmi yang intensif dengan jejaring yang dimiliki. Bisa dikatakan, silaturahmi bisa memperpanjang jalan rejeki dan membuka pintu sukses bagi kita.[gg]
* Gagan Gartika adalah pelaku Silaturahmi Marketing, pemilik beberapa bidang usaha, Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi, dan Alumni Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) Angkatan ke-5. Ia dapat dihubungi melalui email: gagan@kumaitucargo.co.id.
INGIN SUKSES? BERSEGERALAH MENUJU MAGFIRAH ALLAH SWT
Oleh: Ir. Anom Wiratnoyo, MM
Allah SWT berfirman (QS 3:133) yang artinya:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Hai manusia bertobatlah kalian kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya saya bertobat seratus kali setiap hari.”
Pernahkah Anda naik mobil? Saya yakin pernah. Sebagian bisa menyupir sendiri, sebagian hanya ikut saja. Pernahkah mengalami ketika sudah siap berangkat, transmisi sudah masuk gigi satu, gas pun diinjak, ternyata rem tangan belum dilepas? Bagaimana rasanya?
Orang yang perasaannya sensitif akan terkejut, berteriak, dan mungkin menggigit bibirnya. Pemilik mobil yang mengerti mesin dan mekanisme mobil akan tersentak dan terbayang kerusakan beberapa komponen. Kalau dia sendiri yang menyupir, dia hanya bisa menyesali berkepanjangan. Jika supir yang melakukannya, bisa jadi dampratan panjang yang keluar. Ada lagi pemilik yang terkejut sebentar, kemudian tenang lagi. Saya yakin pemilik ini tidak mengerti mekanisme kerja mobil. Atau, mungkin dia terlalu kaya hanya untuk mengurusi kerusakan pada rem. Ada pula supir yang walaupun mengerti mekanisme mobil dia santai saja. Supir ini pasti sedang sendiri, dia pikir ini bukan mobilnya dan tidak ada pemiliknya yang melihat.
Gas berarti laju kecepatan ibadah kita menuju ridha Allah SWT. Rem tangan ibarat dosa yang menghambat laju ibadah. Bagaimana mungkin bisa berangkat ibadah, apalagi melaju dengan kencang, jika dosa masih melekat dan belum bertobat kepada Allah?
Jadi, dosa menghalangi seseorang untuk melaksanakan ibadah. Al-Imam Al-Ghozali dalam Kitab Minhajul Abidin menjelaskan bahwa dosa menghalangi ibadah pada dua tempat, yaitu: taufik-hidayah dan dikabulkannya ibadah. Taufik dan hidayah dibutuhkan oleh manusia untuk mengerti bahwa dia harus beribadah kepada Allah, kemudian mau beribadah, mengerti jalan-jalannya, mau mengambil jalan yang terbaik, dan sangat berharap agar ibadahnya diterima. Karena setelah beribadah belum tentu diterima oleh Allah. Dosa yang masih melekat dan belum ditobati akan menutup jalan diterimanya ibadah itu.
Malam ini malam kesebelas. Pak Bakri menyimak dengan baik pengajian Ustaz Sobar yang disampaikan sebelum tarawih. “Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT kita memasuki puluhan kedua Ramadhan, yaitu puluhan magfirah (ampunan) Allah SWT. Allah SWT meluaskan magfirah-Nya seluas-luasnya. Barang siapa bertobat dan memohon ampun kepada Allah pasti diterima tobatnya. Oleh karena itu, bersegeralah menuju magfirah Allah dan menuju surganya yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” Tak terasa bayangan pikiran Pak Bakri sampai pada peristiwa salat yang sering ditundanya sambil tidak berjamaah. Satu dua orang teman guru mengajaknya untuk salat zuhur berjamaah di masjid sekolah tapi dia lebih memilih duduk di kantor sambil ngobrol atau sekadar meluruskan kaki. “Ya Allah, mengapa aku begitu? Sepertinya ada hawa yang menahanku untuk tidak salat berjamaah.” Pak Bakri tidak sadar bahwa ada kabut dosa yang menghalanginya. Dosa emosional dan ringan tangan di rumah. Kabut dosa ini mengalir masuk ke dalam hatinya. Menyekat cahaya niat yang memancar untuk menyentuh tombol energi salat. Jika beruntung cahaya niat ini cukup kuat menembus kabut penyekat. Masih cukup lurus untuk sampai ke tombol pengaktif energi salat. Tentu dengan intensitas cahaya yang tidak sebesar jika tidak ada kabut penyekat. Jika cukup kuat untuk mengaktifkannya, maka Pak Bakri akan salat dengan ogah-ogahan. Jika tidak cukup kuat maka dia akan menunda salatnya.
Apakah Pak Bakri tidak mendapat hidayah dari Allah SWT untuk salat zuhur berjamaah pada awal waktu? Dalam satu pengajian Pak Bakri pernah mendengar ustaznya menyampaikan hadis Rasulullah SAW (HR Muslim) yang artinya, “Seandainya kalian melaksanakan salat di rumah sebagai kebiasaan orang yang tidak suka berjamaah, niscaya kalian telah meninggalkan sunah Nabi, pasti kalian sesat. Aku benar-benar melihat di antara kita tidak ada yang meninggalkan salat berjamaah kecuali orang-orang munafik yang benar-benar munafik. Sungguh pernah terjadi seorang laki-laki diantar ke masjid, ia terhuyung-huyung di antara dua orang, sampai ia diberdirikan dalam shaf.”
Sampainya hadis ini kepada Pak Bakri adalah wujud cahaya hidayah Allah SWT. Hidayah Allah SWT senantiasa sampai kepada hambanya dalam wujud Alquran, Alhadis, dan tanda-tanda kebesaran Allah lainnya. Jika kemudian Pak Bakri tetap tidak melaksanakan perintah dalam hadis itu, maka yakinlah ada kabut dosa yang membentuk sekat penghalang antara cahaya hidayah dengan hatinya. Allah SWT berfirman (QS 4:79) yang artinya, “Apa saja bentuk bencana yang menimpamu, maka itu adalah dari kesalahanmu sendiri.” Juga tidak bisa menimpakan kesalahan kepada setan atau siapa pun, sebagaimana firman Allah SWT (QS 14:22) bahwa setan berkata yang artinya, “Maka janganlah engkau menyalahkan kepadaku, tetapi salahkanlah dirimu sendiri.”
Akhirnya, Pak Bakri melaksanakan salat zuhur pukul 13.00. Ketika salat Pak Bakri berusaha untuk khusyuk. Cahaya khusyuk yang aktif memancar lurus siap menyentuh tombol energi penghubung ibadah salat dengan niat akhiratnya. Tiba-tiba merambat masuk kabut “makanan haram”. Membentuk sekat penghambat sampainya cahaya khusyuk ke tombol energi penghubung di dalam hatinya. Cahaya khusyuk masih mampu menembusnya. Tapi, sinarnya sudah tidak sempurna lagi. Kadang-kadang sampai kadang-kadang tidak. Ketika cahaya ini sampai dia khusyuk. Ketika tidak sampai pikirannya pun menjadi liar. Bayangan-bayangan pengalaman yang tidak layak tiba-tiba muncul di tengah salatnya. Semakin berusaha dihilangkan semakin banyak yang datang. Silih berganti tak terkendali.
Di suatu pertemuan di kampungnya Pak Bakri mendengar obrolan antartetangga, “Heran, setiap salat dari awal silih berganti bayang-bayang peristiwa dalam pikiranku. Mulai dari perjalanan di tol, loncat ke si Fulan yang tertawa terbahak-bahak, sapu yang tergeletak di dapur, hutang yang belum dibayar, terus dan terus sampai akhir salat. Bagaimana, ya?” Tetangganya yang lain dengan tertawa menjawab, “Ah biasa, aku juga begitu. Setiap aku lupa menyimpan sesuatu, sewaktu salat langsung terbayang lagi tempat aku menyimpannya tadi. Ha ha ha...”
Pembicaraan seperti ini menjadi topik yang sangat biasa di kalangan kebanyakan umat Islam. Bahkan di seluruh dunia. Karena sangat biasa maka tertanamlah dalam pola pikirnya bahwa keadaan salat seperti itu adalah sesuatu yang wajar. Tidak pernah terlintas sedikit pun ada orang yang mampu khusyuk sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT (QS 23:2). Jika pun ada dianggapnya mitos para wali dahulu, yang tidaklah mungkin dicapai olehnya. Sesungguhnyalah yang menghalanginya untuk khusyuk adalah dosa yang masih melekat yang membantuk kabut di hatinya.
Kabut dosa menghalangi sampainya taufik-hidayah ke dalam diri seseorang. Taufik-hidayah senantiasa memancar dari Allah Ar-Rohman Ar-Rohim. Memancar bersama rahmat lain yang bersifat universal (rahmatan lil ‘alamin). Kabut dosa “musyrik” membentuk sekat hitam yang tebal dan kuat yang mencegah seluruh cahaya taufik-hidayah. Pemilik kabut dosa ini akan menjadi kufur. Na’udzubillah. Dia tidak mengerti bahwa harus beribadah kepada Allah SWT. Dia berkata, “Saya beribadah dan punya tuhan juga. Tapi namanya bukan Allah SWT. Dan, apa bedanya? Yang penting hati dan keyakinan saya mengatakan begitu. Tuhan inilah yang menciptakan saya dan harus saya ibadahi.” Orang seperti ini termasuk kafir (QS 23:117) dan akan mendapat azab Allah (QS 26:213). Karena hidayah Allah SWT dalam bentuk Alquran, Alhadis, dan ayat-ayat Allah lainnya terpampang jelas di hadapannya, tapi dia tidak mau memandangnya.
Pak Bakri sudah berdiri di antara jamaah Tarawih di barisan pertama. Sungguh, hatinya sangat rindu untuk bisa salat khusyuk. Rindu pula dia untuk salat berjamaah di awal waktu. Dari pengajian tadi dia paham bahwa dosanyalah yang menghalanginya selama ini. “Ya Allah, sungguh banyak dosa yang telah kuperbuat. Selama ini aku tidak menyadarinya. Kalau bukan karena rahmat-Mu aku tak akan mengetahuinya. Sebagaimana Engkau telah membukakan hatiku untuk menyadari dosa-dosaku, Ya Allah, bukakanlah hatiku untuk bersegera menuju magfirah-Mu dan menuju surga-Mu yang luasnya seluas langit dan bumi yang Engkau sediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Amin.”
MUTIARA HIKMAH:
1.Manusia sering tidak menyadari dosanya yang banyak. Yang diketahuinya adalah dia tidak pernah salat awal waktu, tidak berjamaah, dan tidak pernah bisa khusyuk dalam salatnya. Dan banyak lagi ibadah mahdhoh yang tidak bisa dikerjakannya dengan baik, seperti tidak salat sunah, tidak bisa tadarus Alquran dan sebagainya.
2.Ternyata lemah bahkan terhalangnya dia beribadah kepada Allah SWT adalah tanda-tanda akan dosanya yang banyak.
3.Agar manusia mau dan mampu rajin beribadah dan merasakan nikmatnya ibadah, tidak ada jalan lain kecuali membersihkan diri dan dosa-dosanya.[aw]
* Ir. Anom Wiratnoyo, MM adalah Kepala SMA pada Yayasan Pendidikan Insan Kamil, Bogor, Jawa Barat. Artikel ini merupakan penggalan dari seri tulisan renungan ramadhan untuk Jam’an Marhuman Indonesia. Alumnus Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) Angkatan ke-4 ini juga seorang ustaz senior dan dapat dihubungi di telepon: 0251-332307.
Allah SWT berfirman (QS 3:133) yang artinya:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Hai manusia bertobatlah kalian kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya saya bertobat seratus kali setiap hari.”
Pernahkah Anda naik mobil? Saya yakin pernah. Sebagian bisa menyupir sendiri, sebagian hanya ikut saja. Pernahkah mengalami ketika sudah siap berangkat, transmisi sudah masuk gigi satu, gas pun diinjak, ternyata rem tangan belum dilepas? Bagaimana rasanya?
Orang yang perasaannya sensitif akan terkejut, berteriak, dan mungkin menggigit bibirnya. Pemilik mobil yang mengerti mesin dan mekanisme mobil akan tersentak dan terbayang kerusakan beberapa komponen. Kalau dia sendiri yang menyupir, dia hanya bisa menyesali berkepanjangan. Jika supir yang melakukannya, bisa jadi dampratan panjang yang keluar. Ada lagi pemilik yang terkejut sebentar, kemudian tenang lagi. Saya yakin pemilik ini tidak mengerti mekanisme kerja mobil. Atau, mungkin dia terlalu kaya hanya untuk mengurusi kerusakan pada rem. Ada pula supir yang walaupun mengerti mekanisme mobil dia santai saja. Supir ini pasti sedang sendiri, dia pikir ini bukan mobilnya dan tidak ada pemiliknya yang melihat.
Gas berarti laju kecepatan ibadah kita menuju ridha Allah SWT. Rem tangan ibarat dosa yang menghambat laju ibadah. Bagaimana mungkin bisa berangkat ibadah, apalagi melaju dengan kencang, jika dosa masih melekat dan belum bertobat kepada Allah?
Jadi, dosa menghalangi seseorang untuk melaksanakan ibadah. Al-Imam Al-Ghozali dalam Kitab Minhajul Abidin menjelaskan bahwa dosa menghalangi ibadah pada dua tempat, yaitu: taufik-hidayah dan dikabulkannya ibadah. Taufik dan hidayah dibutuhkan oleh manusia untuk mengerti bahwa dia harus beribadah kepada Allah, kemudian mau beribadah, mengerti jalan-jalannya, mau mengambil jalan yang terbaik, dan sangat berharap agar ibadahnya diterima. Karena setelah beribadah belum tentu diterima oleh Allah. Dosa yang masih melekat dan belum ditobati akan menutup jalan diterimanya ibadah itu.
Malam ini malam kesebelas. Pak Bakri menyimak dengan baik pengajian Ustaz Sobar yang disampaikan sebelum tarawih. “Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT kita memasuki puluhan kedua Ramadhan, yaitu puluhan magfirah (ampunan) Allah SWT. Allah SWT meluaskan magfirah-Nya seluas-luasnya. Barang siapa bertobat dan memohon ampun kepada Allah pasti diterima tobatnya. Oleh karena itu, bersegeralah menuju magfirah Allah dan menuju surganya yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” Tak terasa bayangan pikiran Pak Bakri sampai pada peristiwa salat yang sering ditundanya sambil tidak berjamaah. Satu dua orang teman guru mengajaknya untuk salat zuhur berjamaah di masjid sekolah tapi dia lebih memilih duduk di kantor sambil ngobrol atau sekadar meluruskan kaki. “Ya Allah, mengapa aku begitu? Sepertinya ada hawa yang menahanku untuk tidak salat berjamaah.” Pak Bakri tidak sadar bahwa ada kabut dosa yang menghalanginya. Dosa emosional dan ringan tangan di rumah. Kabut dosa ini mengalir masuk ke dalam hatinya. Menyekat cahaya niat yang memancar untuk menyentuh tombol energi salat. Jika beruntung cahaya niat ini cukup kuat menembus kabut penyekat. Masih cukup lurus untuk sampai ke tombol pengaktif energi salat. Tentu dengan intensitas cahaya yang tidak sebesar jika tidak ada kabut penyekat. Jika cukup kuat untuk mengaktifkannya, maka Pak Bakri akan salat dengan ogah-ogahan. Jika tidak cukup kuat maka dia akan menunda salatnya.
Apakah Pak Bakri tidak mendapat hidayah dari Allah SWT untuk salat zuhur berjamaah pada awal waktu? Dalam satu pengajian Pak Bakri pernah mendengar ustaznya menyampaikan hadis Rasulullah SAW (HR Muslim) yang artinya, “Seandainya kalian melaksanakan salat di rumah sebagai kebiasaan orang yang tidak suka berjamaah, niscaya kalian telah meninggalkan sunah Nabi, pasti kalian sesat. Aku benar-benar melihat di antara kita tidak ada yang meninggalkan salat berjamaah kecuali orang-orang munafik yang benar-benar munafik. Sungguh pernah terjadi seorang laki-laki diantar ke masjid, ia terhuyung-huyung di antara dua orang, sampai ia diberdirikan dalam shaf.”
Sampainya hadis ini kepada Pak Bakri adalah wujud cahaya hidayah Allah SWT. Hidayah Allah SWT senantiasa sampai kepada hambanya dalam wujud Alquran, Alhadis, dan tanda-tanda kebesaran Allah lainnya. Jika kemudian Pak Bakri tetap tidak melaksanakan perintah dalam hadis itu, maka yakinlah ada kabut dosa yang membentuk sekat penghalang antara cahaya hidayah dengan hatinya. Allah SWT berfirman (QS 4:79) yang artinya, “Apa saja bentuk bencana yang menimpamu, maka itu adalah dari kesalahanmu sendiri.” Juga tidak bisa menimpakan kesalahan kepada setan atau siapa pun, sebagaimana firman Allah SWT (QS 14:22) bahwa setan berkata yang artinya, “Maka janganlah engkau menyalahkan kepadaku, tetapi salahkanlah dirimu sendiri.”
Akhirnya, Pak Bakri melaksanakan salat zuhur pukul 13.00. Ketika salat Pak Bakri berusaha untuk khusyuk. Cahaya khusyuk yang aktif memancar lurus siap menyentuh tombol energi penghubung ibadah salat dengan niat akhiratnya. Tiba-tiba merambat masuk kabut “makanan haram”. Membentuk sekat penghambat sampainya cahaya khusyuk ke tombol energi penghubung di dalam hatinya. Cahaya khusyuk masih mampu menembusnya. Tapi, sinarnya sudah tidak sempurna lagi. Kadang-kadang sampai kadang-kadang tidak. Ketika cahaya ini sampai dia khusyuk. Ketika tidak sampai pikirannya pun menjadi liar. Bayangan-bayangan pengalaman yang tidak layak tiba-tiba muncul di tengah salatnya. Semakin berusaha dihilangkan semakin banyak yang datang. Silih berganti tak terkendali.
Di suatu pertemuan di kampungnya Pak Bakri mendengar obrolan antartetangga, “Heran, setiap salat dari awal silih berganti bayang-bayang peristiwa dalam pikiranku. Mulai dari perjalanan di tol, loncat ke si Fulan yang tertawa terbahak-bahak, sapu yang tergeletak di dapur, hutang yang belum dibayar, terus dan terus sampai akhir salat. Bagaimana, ya?” Tetangganya yang lain dengan tertawa menjawab, “Ah biasa, aku juga begitu. Setiap aku lupa menyimpan sesuatu, sewaktu salat langsung terbayang lagi tempat aku menyimpannya tadi. Ha ha ha...”
Pembicaraan seperti ini menjadi topik yang sangat biasa di kalangan kebanyakan umat Islam. Bahkan di seluruh dunia. Karena sangat biasa maka tertanamlah dalam pola pikirnya bahwa keadaan salat seperti itu adalah sesuatu yang wajar. Tidak pernah terlintas sedikit pun ada orang yang mampu khusyuk sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT (QS 23:2). Jika pun ada dianggapnya mitos para wali dahulu, yang tidaklah mungkin dicapai olehnya. Sesungguhnyalah yang menghalanginya untuk khusyuk adalah dosa yang masih melekat yang membantuk kabut di hatinya.
Kabut dosa menghalangi sampainya taufik-hidayah ke dalam diri seseorang. Taufik-hidayah senantiasa memancar dari Allah Ar-Rohman Ar-Rohim. Memancar bersama rahmat lain yang bersifat universal (rahmatan lil ‘alamin). Kabut dosa “musyrik” membentuk sekat hitam yang tebal dan kuat yang mencegah seluruh cahaya taufik-hidayah. Pemilik kabut dosa ini akan menjadi kufur. Na’udzubillah. Dia tidak mengerti bahwa harus beribadah kepada Allah SWT. Dia berkata, “Saya beribadah dan punya tuhan juga. Tapi namanya bukan Allah SWT. Dan, apa bedanya? Yang penting hati dan keyakinan saya mengatakan begitu. Tuhan inilah yang menciptakan saya dan harus saya ibadahi.” Orang seperti ini termasuk kafir (QS 23:117) dan akan mendapat azab Allah (QS 26:213). Karena hidayah Allah SWT dalam bentuk Alquran, Alhadis, dan ayat-ayat Allah lainnya terpampang jelas di hadapannya, tapi dia tidak mau memandangnya.
Pak Bakri sudah berdiri di antara jamaah Tarawih di barisan pertama. Sungguh, hatinya sangat rindu untuk bisa salat khusyuk. Rindu pula dia untuk salat berjamaah di awal waktu. Dari pengajian tadi dia paham bahwa dosanyalah yang menghalanginya selama ini. “Ya Allah, sungguh banyak dosa yang telah kuperbuat. Selama ini aku tidak menyadarinya. Kalau bukan karena rahmat-Mu aku tak akan mengetahuinya. Sebagaimana Engkau telah membukakan hatiku untuk menyadari dosa-dosaku, Ya Allah, bukakanlah hatiku untuk bersegera menuju magfirah-Mu dan menuju surga-Mu yang luasnya seluas langit dan bumi yang Engkau sediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Amin.”
MUTIARA HIKMAH:
1.Manusia sering tidak menyadari dosanya yang banyak. Yang diketahuinya adalah dia tidak pernah salat awal waktu, tidak berjamaah, dan tidak pernah bisa khusyuk dalam salatnya. Dan banyak lagi ibadah mahdhoh yang tidak bisa dikerjakannya dengan baik, seperti tidak salat sunah, tidak bisa tadarus Alquran dan sebagainya.
2.Ternyata lemah bahkan terhalangnya dia beribadah kepada Allah SWT adalah tanda-tanda akan dosanya yang banyak.
3.Agar manusia mau dan mampu rajin beribadah dan merasakan nikmatnya ibadah, tidak ada jalan lain kecuali membersihkan diri dan dosa-dosanya.[aw]
* Ir. Anom Wiratnoyo, MM adalah Kepala SMA pada Yayasan Pendidikan Insan Kamil, Bogor, Jawa Barat. Artikel ini merupakan penggalan dari seri tulisan renungan ramadhan untuk Jam’an Marhuman Indonesia. Alumnus Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) Angkatan ke-4 ini juga seorang ustaz senior dan dapat dihubungi di telepon: 0251-332307.
APAKAH KITA BEBAS MEMILIH?
Oleh: Ahmad Arwani R
Ketika semua orang ditanya apa sebenarnya tujuan hidup ini, maka beragam jawaban akan muncul. Dari alasan yang paling simpel hingga yang paling njelimet akan kita temukan di sini. Ada yang menjawab ingin kaya, ingin sukses, ingin menjadi orang yang berguna, selamat dunia akhirat dan masih banyak lagi. Ujung-ujungnya motif jawaban dari semua orang tersebut jika kita tarik benang merah hanya satu yaitu ingin bahagia. Saat orang menjawab ingin kaya mereka beranggapan dengan menjadi kaya pastilah akan tercapai kebahagiaan. Saat orang menjawab ingin kaya mereka berpikir dengan menjadi orang kaya maka pasti bahagia akan datang sendirinya. Apakah itu semua benar?
Anda pernah mendengar atau membaca mengenai Jesse Lauriston Livermore?
Terlahir di Maaschusets Dikenal sebagai salah satu tokoh besar dalam sejarah penjualan saham di Amreika. Bearwal lari dari rumah karena tidak setuju pilihan orangtuanya untuk berkarir sebagai petani, dia kemudian memulia bisnis di bidang saham saat masih belia. Pada usia 15 tahun dia berhasil mendapatkan profit 1.000 dollar AS (atatu setara dengan 20.000 dollar saat ini). Bayangkan betapa luar biasanya dia. Saat pasar sedang hancur tahun 1907 dan 1929 dia berhasil mendapatkan profit 3 juta dollar dan 100 juta dollar. Luar biasa. Tapi tahukah anda bagaimana dia mengakhiri hidup? Dia meninggal dengan bunuh diri menggunakan sebuah pistol yang diarahkan ke telinganya. Dalam sebuah surat terakhir sebelum dia memutuskan bunuh diri, dia menulis bahwa dirinya sudah tidak sanggup lagi untuk berjuang, tidak pantas dicintai dan gagal.
Apakah pilihan seperti ini yang anda ingin ciptakan? Apakah benar ini yang kita cari? Tentu tidak jawabnya.
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Namun apakah kita semua menyadarinya dan dengan penuh kesadaran bertindak dengan tepat? Jika kita diciptakan dengan begitu sempurnanya, kenapa ada yang sukses, ada yang gagal, ada yang miskin ada yang kaya dan ada pula yang menyerah ditengah jalan?
Jadi sebenarnya apakah manusia diberi kebebasan memilih atau hanya menjalankan peran yang diberikan? Adakah kemungkinan diberi kesempatan mengubah peran tersebut di tengah jalan atau sekadar mengalir laksana air?
Mulailah bertanya pada diri sendiri: Apakah kita merasa dipaksa oleh seseorang atau sesuatu untuk memilih pekerjaan yang kita geluti saat ini? Apakah kita memilih pasangan hidup yang kita inginkan? Memilih jenis mobil yang kita impikan? Dan, berbagai pertanyaan lain serupa lainya. Maka akan tampak jelas jawaban tentang apakah kita dijalankan atau diberikan kebebasan memilih.
Sesungguhnya segala perbuatandan tindakan yang kita lakukan dengan akal sehatnya jelaslah kiranya merupakan hasil dari kebebasan memilih. Anda ingin bukti, simaklah firman Allah.
"Artinya: Maka barangsiapa menghendaki, maka dia mengambil jalan menuju Rabb-Nya" [An-Naba : 39]
Dan firman Allah.
"Artinya: Sebagian dari kamu ada orang yang menghendaki dunia dan sebagian dari kamu ada orang yang menghendaki akhirat" [Ali-Imran : 152]
Dan firman Allah.
"Artinya: Barangsiapa menghendaki akhirat dan menempuh jalan kepadanya dan dia beriman, maka semua perbuatannya disyukuri (diterima)". [Al-Isra' : 19]
Mulai saat ini, yakinlah segala sesuatu yang membutuhkan campur tangan akal sehat adalah sebuah pilihan. Seperti halnya hidup adalah pilihan, warna apa yang kita pilih untuk disapukan di perjalanan hari. Tantangan terbesar bagi kita adalah bagaimana memilih peran dan tujuan yang tepat dengan segala apa yang kita punya.
Jangan pernah lupa kita diberikan modal paling lengkap dibanding makhluk lainnya. Cobalah belajar dari induk burung. Dengan segala susah payah dia mencari makanan untuk anak-anaknya dalam sangkar. Jika pun dia belum mendapatkan makanan, dengan perut keroncongan dia tetap bersemangat berusaha mencari makanan untuk kelangsungan hidup anak-anaknya. Tidak pernah kita dengar sebuah burung “bunuh diri” dengan menjatuhkan diri ke tebing yang curam. Bayangkan.
Atau cobalah bayangkan seekor cacing dalam mengarungi hidup, tanpa tangan dan kaki dia tetap sanggup bertahan hidup. Tidak pernah kita mendengar ada cacing yang “menyerah” kepada kehidupan. Bahkan saat cacing kita tangkap untuk umpan memancing ikan, sampai titik darah penghabisan dia berusaha melarikan diri dan bertahan hidup. Subhanallah.
“Engkau berpikir tentang dirimu sebagai seonggok materi semata, padahal di dalam dirimu tersimpan kekuatan tak terbatas.”
~ Imam Ali bin Abi Thalib
Selamat memilih.[aar]
* Ahmad Arwani R lahir di Semarang pada 1 Juni 1977. Ia tinggal di Kompleks Mutiara Elok Blok B-16 Kreo Selatan, Ciledug, Tangerang, Banten.
Ketika semua orang ditanya apa sebenarnya tujuan hidup ini, maka beragam jawaban akan muncul. Dari alasan yang paling simpel hingga yang paling njelimet akan kita temukan di sini. Ada yang menjawab ingin kaya, ingin sukses, ingin menjadi orang yang berguna, selamat dunia akhirat dan masih banyak lagi. Ujung-ujungnya motif jawaban dari semua orang tersebut jika kita tarik benang merah hanya satu yaitu ingin bahagia. Saat orang menjawab ingin kaya mereka beranggapan dengan menjadi kaya pastilah akan tercapai kebahagiaan. Saat orang menjawab ingin kaya mereka berpikir dengan menjadi orang kaya maka pasti bahagia akan datang sendirinya. Apakah itu semua benar?
Anda pernah mendengar atau membaca mengenai Jesse Lauriston Livermore?
Terlahir di Maaschusets Dikenal sebagai salah satu tokoh besar dalam sejarah penjualan saham di Amreika. Bearwal lari dari rumah karena tidak setuju pilihan orangtuanya untuk berkarir sebagai petani, dia kemudian memulia bisnis di bidang saham saat masih belia. Pada usia 15 tahun dia berhasil mendapatkan profit 1.000 dollar AS (atatu setara dengan 20.000 dollar saat ini). Bayangkan betapa luar biasanya dia. Saat pasar sedang hancur tahun 1907 dan 1929 dia berhasil mendapatkan profit 3 juta dollar dan 100 juta dollar. Luar biasa. Tapi tahukah anda bagaimana dia mengakhiri hidup? Dia meninggal dengan bunuh diri menggunakan sebuah pistol yang diarahkan ke telinganya. Dalam sebuah surat terakhir sebelum dia memutuskan bunuh diri, dia menulis bahwa dirinya sudah tidak sanggup lagi untuk berjuang, tidak pantas dicintai dan gagal.
Apakah pilihan seperti ini yang anda ingin ciptakan? Apakah benar ini yang kita cari? Tentu tidak jawabnya.
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Namun apakah kita semua menyadarinya dan dengan penuh kesadaran bertindak dengan tepat? Jika kita diciptakan dengan begitu sempurnanya, kenapa ada yang sukses, ada yang gagal, ada yang miskin ada yang kaya dan ada pula yang menyerah ditengah jalan?
Jadi sebenarnya apakah manusia diberi kebebasan memilih atau hanya menjalankan peran yang diberikan? Adakah kemungkinan diberi kesempatan mengubah peran tersebut di tengah jalan atau sekadar mengalir laksana air?
Mulailah bertanya pada diri sendiri: Apakah kita merasa dipaksa oleh seseorang atau sesuatu untuk memilih pekerjaan yang kita geluti saat ini? Apakah kita memilih pasangan hidup yang kita inginkan? Memilih jenis mobil yang kita impikan? Dan, berbagai pertanyaan lain serupa lainya. Maka akan tampak jelas jawaban tentang apakah kita dijalankan atau diberikan kebebasan memilih.
Sesungguhnya segala perbuatandan tindakan yang kita lakukan dengan akal sehatnya jelaslah kiranya merupakan hasil dari kebebasan memilih. Anda ingin bukti, simaklah firman Allah.
"Artinya: Maka barangsiapa menghendaki, maka dia mengambil jalan menuju Rabb-Nya" [An-Naba : 39]
Dan firman Allah.
"Artinya: Sebagian dari kamu ada orang yang menghendaki dunia dan sebagian dari kamu ada orang yang menghendaki akhirat" [Ali-Imran : 152]
Dan firman Allah.
"Artinya: Barangsiapa menghendaki akhirat dan menempuh jalan kepadanya dan dia beriman, maka semua perbuatannya disyukuri (diterima)". [Al-Isra' : 19]
Mulai saat ini, yakinlah segala sesuatu yang membutuhkan campur tangan akal sehat adalah sebuah pilihan. Seperti halnya hidup adalah pilihan, warna apa yang kita pilih untuk disapukan di perjalanan hari. Tantangan terbesar bagi kita adalah bagaimana memilih peran dan tujuan yang tepat dengan segala apa yang kita punya.
Jangan pernah lupa kita diberikan modal paling lengkap dibanding makhluk lainnya. Cobalah belajar dari induk burung. Dengan segala susah payah dia mencari makanan untuk anak-anaknya dalam sangkar. Jika pun dia belum mendapatkan makanan, dengan perut keroncongan dia tetap bersemangat berusaha mencari makanan untuk kelangsungan hidup anak-anaknya. Tidak pernah kita dengar sebuah burung “bunuh diri” dengan menjatuhkan diri ke tebing yang curam. Bayangkan.
Atau cobalah bayangkan seekor cacing dalam mengarungi hidup, tanpa tangan dan kaki dia tetap sanggup bertahan hidup. Tidak pernah kita mendengar ada cacing yang “menyerah” kepada kehidupan. Bahkan saat cacing kita tangkap untuk umpan memancing ikan, sampai titik darah penghabisan dia berusaha melarikan diri dan bertahan hidup. Subhanallah.
“Engkau berpikir tentang dirimu sebagai seonggok materi semata, padahal di dalam dirimu tersimpan kekuatan tak terbatas.”
~ Imam Ali bin Abi Thalib
Selamat memilih.[aar]
* Ahmad Arwani R lahir di Semarang pada 1 Juni 1977. Ia tinggal di Kompleks Mutiara Elok Blok B-16 Kreo Selatan, Ciledug, Tangerang, Banten.
BAHAGIA DIPANGGIL DENGAN NAMA ASLI
Oleh: Marsudijono
“Apalah artinya nama,” kata William Shakespeare.
DALAM kehidupan sehari-hari di Indonesia, terutama di kota-kota besar, nama seseorang sering diperlakukan tidak sebagaimana mestinya. Nama dijadikan sebagai anekdot, bahan olok-olok, bahkan akronim. Misalnya, Gatot, merupakan singkatan dari ‘gagal total’, Gunawan sama dengan ‘gundul tapi menawan’, dan Sumoko menjadi ‘selalu omong kosong’.
Fakta lain dalam keseharian, yang entah dimulai sejak kapan—yang jelas merupakan produk asing, tetapi amat tragis, karena sudah menjadi “budaya” di Indonesia—di mana telinga kita akrab dengan sapaan “bos”. Pernah dalam suatu kesempatan Menteri BUMN Sofjan Djalil akan memanggil “bos” kepada direksi BUMN yang dia hafal namanya.
Gara-gara nama sebuah makanan yang dijual di Amerika, yaitu kentang goreng dengan bentuk batang-batang tipis, yang memakai nama french fries, memunculkan perdebatan di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat. Dua anggotanya Bob Ney dan Welter Jones mengusulkan agar nama penganan itu–karena berbau Perancis–diubah namanya menjadi “freedom fries”. Padahal, orang Perancis sendiri tidak tahu menahu mengenai hal ini.
Walaupun nama seseorang kedengarannya asing atau tidak enak di telinga kita, Dale Carnegie pengarang buku How to Win Friends and Influence People, menuturkan bahwa nama sesorang bagi pemiliknya adalah bunyi yang terindah dalam bahasa apa pun; nama adalah identitas pribadi seseorang.
Sebagai identitas pribadi maka nama merupakan aset yang berharga bagi pemiliknya dan selayaknya kita hargai. Bagaimana caranya? Panggil atau sebutlah nama seseorang dengan nama sebenarnya atau nama aslinya. Orang akan senang apabila dipanggil nama aslinya, demikian juga dengan kita.
Mengingat-ngingat nama seseorang adalah sebuah langkah untuk mengenali orangnya dan sebagai salah satu bentuk perhatian terhadap sesamanya. Menghafal nama semua orang adalah mustahil. Setidaknya, kita harus hafal nama atasan, anak buah, anggota keluarga, kerabat, dan anggota komunitas di mana kita menjadi bagian di dalamnya.
Sistem ingatan atau memori kita, semua disimpan di dalam otak besar. Besar kecilnya otak seseorang tidak banyak berpengaruh terhadap memori, tetapi jumlah lipatan-lipatan lapisan luar di otak yang banyak berpengaruh untuk memori seseorang. Bagaimanapun juga, memori seseorang memang terbatas. Namun, memori bisa dilatih. Semakin aktif kita mengingat banyak hal atau belajar, semakin banyak sel otak kita yang akan teraktifkan.
Ada beberapa kiat untuk mengingat nama orang. Yakni dengan mengasosiasikannya dengan hal-hal positif. Misalnya, Anda berkenalan dengan orang yang bernama Yupiter, maka bisa diasosiasikan dengan sebuah planet. Ingat planet, ingat Yupiter.
Selanjutnya, Carnegie menyampaikan bahwa mengingat nama orang bermanfaat untuk meningkatkan popularitas, membantu dalam bisnis atau profesi, membantu memperoleh teman baru, memberi warna dalam pergaulan, mencegah perasaan malu dengan menaruh perhatian yang tulus terhadap orang lain, serta mempraktikkan Hukum Emas “memperlakukan orang sebagaimana Anda ingin diperlakukan”.
Bagi orang tua di Malaysia, pemberian nama kepada anak-anak diatur oleh negara melalui Departement Pendaftaran Nasional Malaysia. Peraturan ini bertujuan agar tidak digunakan nama-nama yang mempunyai arti tidak pantas. Zani, dalam bahasa Melayu artinya laki-laki pezinah. Sumseng, dalam bahasa China berarti penjahat. Penduduk Malaysia terdiri dari etnis Melayu 64 persen, India 15 persen, dan China 12 persen.
Untuk memberi nama putra-putri dengan nama-nama yang baik Anda tidak perlu pusing karena sekarang sudah tersedia buku-buku yang memuat nama-nama bayi disertai dengan artinya.
Salah satu agama besar menganjurkan memberi nama yang baik kepada anak-anak kita, agar kelak mereka tidak malu menyandang namanya. Salah satu nama yang dianjurkan adalah Hammam, yang bermakna “mempunyai kemauan yang keras”.
Pada dasarnya, manusia membutuhkan perhatian. Untuk itu perlu ditumbuh kembangkan minat mengingat nama orang dan memanggil atau menyapa seseorang dengan nama aslinya, sebagai wujud dari perhatian dan penghargaan. Hal ini akan menimbulkan rasa simpati dan bahagia secara timbal balik.[mar]
* Marsudijono adalah karyawan di Pertamina dan alumnus SPP Angkatan 4. Saat ini, ia sedang menyusun sebuah buku. Ia dapat dihubungi di: muda_abadi@yahoo.com
“Apalah artinya nama,” kata William Shakespeare.
DALAM kehidupan sehari-hari di Indonesia, terutama di kota-kota besar, nama seseorang sering diperlakukan tidak sebagaimana mestinya. Nama dijadikan sebagai anekdot, bahan olok-olok, bahkan akronim. Misalnya, Gatot, merupakan singkatan dari ‘gagal total’, Gunawan sama dengan ‘gundul tapi menawan’, dan Sumoko menjadi ‘selalu omong kosong’.
Fakta lain dalam keseharian, yang entah dimulai sejak kapan—yang jelas merupakan produk asing, tetapi amat tragis, karena sudah menjadi “budaya” di Indonesia—di mana telinga kita akrab dengan sapaan “bos”. Pernah dalam suatu kesempatan Menteri BUMN Sofjan Djalil akan memanggil “bos” kepada direksi BUMN yang dia hafal namanya.
Gara-gara nama sebuah makanan yang dijual di Amerika, yaitu kentang goreng dengan bentuk batang-batang tipis, yang memakai nama french fries, memunculkan perdebatan di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat. Dua anggotanya Bob Ney dan Welter Jones mengusulkan agar nama penganan itu–karena berbau Perancis–diubah namanya menjadi “freedom fries”. Padahal, orang Perancis sendiri tidak tahu menahu mengenai hal ini.
Walaupun nama seseorang kedengarannya asing atau tidak enak di telinga kita, Dale Carnegie pengarang buku How to Win Friends and Influence People, menuturkan bahwa nama sesorang bagi pemiliknya adalah bunyi yang terindah dalam bahasa apa pun; nama adalah identitas pribadi seseorang.
Sebagai identitas pribadi maka nama merupakan aset yang berharga bagi pemiliknya dan selayaknya kita hargai. Bagaimana caranya? Panggil atau sebutlah nama seseorang dengan nama sebenarnya atau nama aslinya. Orang akan senang apabila dipanggil nama aslinya, demikian juga dengan kita.
Mengingat-ngingat nama seseorang adalah sebuah langkah untuk mengenali orangnya dan sebagai salah satu bentuk perhatian terhadap sesamanya. Menghafal nama semua orang adalah mustahil. Setidaknya, kita harus hafal nama atasan, anak buah, anggota keluarga, kerabat, dan anggota komunitas di mana kita menjadi bagian di dalamnya.
Sistem ingatan atau memori kita, semua disimpan di dalam otak besar. Besar kecilnya otak seseorang tidak banyak berpengaruh terhadap memori, tetapi jumlah lipatan-lipatan lapisan luar di otak yang banyak berpengaruh untuk memori seseorang. Bagaimanapun juga, memori seseorang memang terbatas. Namun, memori bisa dilatih. Semakin aktif kita mengingat banyak hal atau belajar, semakin banyak sel otak kita yang akan teraktifkan.
Ada beberapa kiat untuk mengingat nama orang. Yakni dengan mengasosiasikannya dengan hal-hal positif. Misalnya, Anda berkenalan dengan orang yang bernama Yupiter, maka bisa diasosiasikan dengan sebuah planet. Ingat planet, ingat Yupiter.
Selanjutnya, Carnegie menyampaikan bahwa mengingat nama orang bermanfaat untuk meningkatkan popularitas, membantu dalam bisnis atau profesi, membantu memperoleh teman baru, memberi warna dalam pergaulan, mencegah perasaan malu dengan menaruh perhatian yang tulus terhadap orang lain, serta mempraktikkan Hukum Emas “memperlakukan orang sebagaimana Anda ingin diperlakukan”.
Bagi orang tua di Malaysia, pemberian nama kepada anak-anak diatur oleh negara melalui Departement Pendaftaran Nasional Malaysia. Peraturan ini bertujuan agar tidak digunakan nama-nama yang mempunyai arti tidak pantas. Zani, dalam bahasa Melayu artinya laki-laki pezinah. Sumseng, dalam bahasa China berarti penjahat. Penduduk Malaysia terdiri dari etnis Melayu 64 persen, India 15 persen, dan China 12 persen.
Untuk memberi nama putra-putri dengan nama-nama yang baik Anda tidak perlu pusing karena sekarang sudah tersedia buku-buku yang memuat nama-nama bayi disertai dengan artinya.
Salah satu agama besar menganjurkan memberi nama yang baik kepada anak-anak kita, agar kelak mereka tidak malu menyandang namanya. Salah satu nama yang dianjurkan adalah Hammam, yang bermakna “mempunyai kemauan yang keras”.
Pada dasarnya, manusia membutuhkan perhatian. Untuk itu perlu ditumbuh kembangkan minat mengingat nama orang dan memanggil atau menyapa seseorang dengan nama aslinya, sebagai wujud dari perhatian dan penghargaan. Hal ini akan menimbulkan rasa simpati dan bahagia secara timbal balik.[mar]
* Marsudijono adalah karyawan di Pertamina dan alumnus SPP Angkatan 4. Saat ini, ia sedang menyusun sebuah buku. Ia dapat dihubungi di: muda_abadi@yahoo.com
Rabu, 29 Oktober 2008
CAREER AUDIT
Oleh: Adjie
Apa yang ada di benak Anda kala mendengar konsep “audit”? Dengan latar belakang yang berbeda, Anda bisa punya pandangan yang berbeda atas konsep di atas. Sementara bagi Anda yang bekerja di kantoran, sebagai karyawan, maka konsep audit akan memiliki warna yang nyaris senada. Secara khusus, sebagian dari Anda mungkin tak sedikit yang pernah terlibat dalam audit manajemen mutu, audit lingkungan, audit kesehatan dan keselamatan kerja (K3), atau audit jenis lainnya.
Sempat beberapa tahun merasakan diaudit oleh auditor luar (external auditor) dan juga berperan sebagai internal audit, maka terus terang saya sampaikan bahwa proses audit adalah salah satu bagian pengalaman yang kurang menyenangkan buat saya. Saya pernah sedemikian terganggu oleh proses audit.
Karena tak bisa menghindari, maka perlahan saya berupaya membangun sudut pandang baru terhadap audit. Melakukan ”reframing” sedikit mampu menghibur saya. Melihat dengan kaca mata berbeda sempat membuat audit sedikit menarik. Paling tidak saya dapat menemukan sejumlah hal positif, yang antara lain adalah terkait dengan aplikasi proses audit dalam konteks kehidupan kita. Menurut saya, kita juga perlu melakukan audit atas aspek ”karier”, ”keuangan”, ”hubungan dengan keluarga”, ”kepuasan” dan aspek lain dalam kehidupan kita. Untuk yang ini, saya membayangkan proses audit akan jadi lebih berwarna dan menggairahkan!
***
”Saya menyesal, Mas. Saya sudah amat terlambat untuk sadar situasi saya. Baru belakangan ini saya tahu bahwa saya mungkin terjebak di tempat ini. Awalnya mungkin karena saya sendiri nggak tahu apa yang saya mau,” begitu kira-kira lontaran ’nelangsa’ seorang kawan. Ia mengungkap betapa ia tengah dalam pergulatan yang berat terkait dengan masa depan kariernya. Ia merasakan banyak tekanan dan benturan, dan kini merasa harus segera keluar dari tempatnya bekerja.
Waktu itu, saya hanya bisa bengong mendengar kisahnya. Awalnya saya tak terlalu mendalami persoalannya. Diskusi yang kami lakukan cuma berakhir pada sebatas empati kelas permukaan. Namun, lama-kelamaan saya makin memahami betapa berat bebannya. Dan ia benar: ia memang harus segera mengambil langkah konkret terkait dengan karier dan masa depannya.
Seorang manajer usia muda juga sempat ”curhat” pada saya. ”Saya bingung nih, habis ini saya mau ngapain lagi. Jadi manager sudah. Gaji besar sudah saya dapat seperti yang saya mau,” suaranya bergetar tanpa maksud menyombongkan diri. Ia memang dalam situasi genting dan harus mengambil langkah terkait dengan kariernya.
Pasti ada banyak lagi contoh nyata yang bisa jadi Anda temui dalam keseharian di lingkungan kantor. Persoalan karier bergerak dalam dimensi yang luas. Ada yang mulai sekadar isu gaji hingga perkara aktualisasi diri dan keseimbangan hidup. Menarik!
Memahami peta persoalan karier yang demikian berwarna, maka gagasan untuk melakukan ”career audit” kian menjadi penting. Ini adalah langkah awal untuk kelanjutan masa depan karier Anda. Sebagaimana layaknya audit-audit lain, ”career audit” bisa membantu kita menemukan akar masalah lalu menuntun kita menemukan ”corrective dan preventive action”. Ada langkah pencegahan yang bisa dilakukan agar kita tak terperangkap dalam lubang hitam karier Anda. Untuk yang sudah dan tengah terperangkap dalam lubang itu, maka terbuka kesempatan untuk memperbaiki permasalahan.
***
Audit adalah proses dialog, komunikasi dua arah bermodalkan ketajaman dalam melontarkan pertanyaan. Bedanya, dalam ”career audit” Andalah yang juga harus menyiapkan jawaban atas pertanyaan yang muncul. Dalam hubungannya dengan ”career audit”, maka sejumlah pertanyaan yang bisa diajukan antara lain adalah:
1. Apakah hari ini Anda merasa bahwa karier Anda masih dalam bentuk yang Anda inginkan? Kita perlu waspada agar karier kita tak tumbuh berantakan tak proporsional.
2. Apakah sudah mulai ada rasa muak terhadap karier Anda?
3. Apakah sudah ada tanda-tanda meningkatnya tekanan darah sebagai akibat stres kerja? Saya beruntung di kantor saya ada program cek tekanan darah secara rutin.
4. masihkah Anda bahagia dengan apa yang Anda kerjakan setiap hari di kantor?
Pertanyaan sederhana yang tentu tak selalu mudah untuk dijawab. Apalagi ketika ini melibatkan masa depan karier kita yang pada banyak titik juga berarti masa depan hidup kita.
Terus terang saja, menuliskan coretan ini adalah bagian dari usaha saya untuk juga mengontrol arah karier pribadi saya. Tegasnya, ini adalah skenario versi saya sendiri dalam melakukan ”career audit”. Saya berkepentingan melakukan ”career audit” antara lain ketika saya mendapat sejumlah tawaran untuk pindah ke perusahaan lain. Ini bukan pola yang tepat.
Idealnya Anda tetap melakukan ”career audit” tanpa menunggu sesuatu terjadi di luar sana. Pendekatan yang proaktif akan membuat Anda lebih tenang melihat permasalahan. Ketajaman dalam menemukan dan menimbang persoalan akan membantu Anda sampai pada alternatif solusi.
Melakukan ”career audit” secara sederhana akan membantu kita sampai pada beberapa pencerahan, antara lain:
1. Akan sampai pada pemahaman akan siapa diri Anda, pada pekerjaan apa Anda mampu memberikan kinerja terbaik, dan bagaimana biasanya Anda melakukan sesuatu agar dapat memberi hasil optimal.
2. Anda akan mengenali keterampilan, minat, nilai-nilai, kecenderungan preferensi pribadi dan juga pengalaman-pengalaman Anda. Apakah hal-hal tersebut masih bisa diandalkan untuk bersaing?
3. Anda akan menemukan apa saja prestasi yang sudah Anda peroleh. Dari prestasi tersebut, kompetensi apa saja yang berhasil Anda kembangkan. Ke depan, kompetensi apa lagi yang harus Anda improve? Bagaimana caranya?
4. Anda disadarkan akan prioritas Anda. Mau apa? Mau ke mana Anda? Dengan bekerja apa saja yang Anda harapkan? Berdasarkan pemahaman akan diri sendiri tersebut, coba jajaki pilihan-pilhan yang tersedia untuk pengembangan ke depan. hal-hal di atas akan mengantar kita pada titik keseimbangan yang sebenarnya kita cari.
5. Mengenali seberapa besar sebenarnya harapan dan kebutuhan Anda akan penghargaan orang lain. Apakah penghargaan jadi hal yang penting? Penghargaan seperti apa yang sebenarnya Anda butuhkan?
Buat saya, kesadaran seperti di atas sungguh menjadi modal untuk melakukan tindak lanjut. Karenanya, saya pun merekomendasikan langkah ini bagi Anda semua. Perlahan Anda pasti akan menemukan pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih tajam, yang akan mendorong Anda untuk lebih jujur. Semakin tajam pertanyaan, makin jujur Anda merespon, maka makin jelaslah gambar karier yang Anda maksud.
***
Menjalani “career audit” yang sederhana juga membuat saya teringat pada apa yang pernah disampaikan oleh Paul Stevens, pakar dan penulis buku tema “Career Management”, yang berujar sebagai berikut:
"...employees will need to act as if they are self-employed in order to preserve their employability. They will need to analyse what they want, what they can contribute and provide a Career Action Step Proposal to their employer. Neglect of this will threaten their job security."
Buat saya, pernyataan di atas menarik. Pertama, karena ini sekali lagi berhubungan dengan konsep employability expired date. Ya, pada dasarnya kita memang harus menaruh perhatian pada sejauh mana keterampilan yang kita miliki masih layak pakai. Tak sedikit orang yang terperangkap sehingga lupa mengasah gergajinya. Pada satu saat mereka terkejut karena apa yang mereka miliki tak lagi dibutuhkan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Kita harus waspada pada sejauh mana ”employability” kita.
Kedua, hal di atas berarti terkait dengan gagasan untuk melihat diri sendiri sebagai satu product atau barang jasa (service). Kerangka besarnya adalah tantangan kita semua untuk memuaskan customer kita, yakni perusahaan tempat kita bekerja. Untuk memuaskan ”customer” kita, maka ada banyak tindakan yang tentunya menuntut keterampilan tertentu.
Ketiga, tulisan kutipan di atas kembali mengajak kita untuk terus melakukan action, terus melakukan aktivitas pengembangan diri. Ini sejalan dengan dua poin sebelumnya. Kata kuncinya adalah mempertahankan spirit pembelajar dalam diri kita. Terus mengasah diri adalah kewajiban.
Jadi, jelas bahwa “career audit” pada dasarnya adalah salah satu langkah untuk mempertahankan ”employability” kita. Melakukan “career audit” lalu memperhatikan ”employability” tampaknya juga sejalan dengan gagasan tentang ”self-employed mind set”. Karyawan perlu berpikir seakan dia adalah “self employee”. Dia tak bisa lagi banyak bergantung pada orang lain atau bahkan perusahaan. Tak ada ”job security”. ”Security” hanya berarti terus mengasah diri dan meningkatkan keterampilan. ”Security” akan tercapai tergantung kepada sejauh mana Anda mampu menjual keterampilan Anda.
Mudah-mudahan tulisan singkat ini bisa menjadi reminder buat kita semua.[adjie] * Adjie adalah karyawan sebuah perusahaan multi-national. Sehari-hari, selain terus berlatih menulis, ia juga menempatkan diri sebagai Facilitator for Human Resiliency Development (FHRD). Ayah empat orang anak ini adalah peminat tema life balance dan mind empowerment. Ia dapat dihubungi di:
Apa yang ada di benak Anda kala mendengar konsep “audit”? Dengan latar belakang yang berbeda, Anda bisa punya pandangan yang berbeda atas konsep di atas. Sementara bagi Anda yang bekerja di kantoran, sebagai karyawan, maka konsep audit akan memiliki warna yang nyaris senada. Secara khusus, sebagian dari Anda mungkin tak sedikit yang pernah terlibat dalam audit manajemen mutu, audit lingkungan, audit kesehatan dan keselamatan kerja (K3), atau audit jenis lainnya.
Sempat beberapa tahun merasakan diaudit oleh auditor luar (external auditor) dan juga berperan sebagai internal audit, maka terus terang saya sampaikan bahwa proses audit adalah salah satu bagian pengalaman yang kurang menyenangkan buat saya. Saya pernah sedemikian terganggu oleh proses audit.
Karena tak bisa menghindari, maka perlahan saya berupaya membangun sudut pandang baru terhadap audit. Melakukan ”reframing” sedikit mampu menghibur saya. Melihat dengan kaca mata berbeda sempat membuat audit sedikit menarik. Paling tidak saya dapat menemukan sejumlah hal positif, yang antara lain adalah terkait dengan aplikasi proses audit dalam konteks kehidupan kita. Menurut saya, kita juga perlu melakukan audit atas aspek ”karier”, ”keuangan”, ”hubungan dengan keluarga”, ”kepuasan” dan aspek lain dalam kehidupan kita. Untuk yang ini, saya membayangkan proses audit akan jadi lebih berwarna dan menggairahkan!
***
”Saya menyesal, Mas. Saya sudah amat terlambat untuk sadar situasi saya. Baru belakangan ini saya tahu bahwa saya mungkin terjebak di tempat ini. Awalnya mungkin karena saya sendiri nggak tahu apa yang saya mau,” begitu kira-kira lontaran ’nelangsa’ seorang kawan. Ia mengungkap betapa ia tengah dalam pergulatan yang berat terkait dengan masa depan kariernya. Ia merasakan banyak tekanan dan benturan, dan kini merasa harus segera keluar dari tempatnya bekerja.
Waktu itu, saya hanya bisa bengong mendengar kisahnya. Awalnya saya tak terlalu mendalami persoalannya. Diskusi yang kami lakukan cuma berakhir pada sebatas empati kelas permukaan. Namun, lama-kelamaan saya makin memahami betapa berat bebannya. Dan ia benar: ia memang harus segera mengambil langkah konkret terkait dengan karier dan masa depannya.
Seorang manajer usia muda juga sempat ”curhat” pada saya. ”Saya bingung nih, habis ini saya mau ngapain lagi. Jadi manager sudah. Gaji besar sudah saya dapat seperti yang saya mau,” suaranya bergetar tanpa maksud menyombongkan diri. Ia memang dalam situasi genting dan harus mengambil langkah terkait dengan kariernya.
Pasti ada banyak lagi contoh nyata yang bisa jadi Anda temui dalam keseharian di lingkungan kantor. Persoalan karier bergerak dalam dimensi yang luas. Ada yang mulai sekadar isu gaji hingga perkara aktualisasi diri dan keseimbangan hidup. Menarik!
Memahami peta persoalan karier yang demikian berwarna, maka gagasan untuk melakukan ”career audit” kian menjadi penting. Ini adalah langkah awal untuk kelanjutan masa depan karier Anda. Sebagaimana layaknya audit-audit lain, ”career audit” bisa membantu kita menemukan akar masalah lalu menuntun kita menemukan ”corrective dan preventive action”. Ada langkah pencegahan yang bisa dilakukan agar kita tak terperangkap dalam lubang hitam karier Anda. Untuk yang sudah dan tengah terperangkap dalam lubang itu, maka terbuka kesempatan untuk memperbaiki permasalahan.
***
Audit adalah proses dialog, komunikasi dua arah bermodalkan ketajaman dalam melontarkan pertanyaan. Bedanya, dalam ”career audit” Andalah yang juga harus menyiapkan jawaban atas pertanyaan yang muncul. Dalam hubungannya dengan ”career audit”, maka sejumlah pertanyaan yang bisa diajukan antara lain adalah:
1. Apakah hari ini Anda merasa bahwa karier Anda masih dalam bentuk yang Anda inginkan? Kita perlu waspada agar karier kita tak tumbuh berantakan tak proporsional.
2. Apakah sudah mulai ada rasa muak terhadap karier Anda?
3. Apakah sudah ada tanda-tanda meningkatnya tekanan darah sebagai akibat stres kerja? Saya beruntung di kantor saya ada program cek tekanan darah secara rutin.
4. masihkah Anda bahagia dengan apa yang Anda kerjakan setiap hari di kantor?
Pertanyaan sederhana yang tentu tak selalu mudah untuk dijawab. Apalagi ketika ini melibatkan masa depan karier kita yang pada banyak titik juga berarti masa depan hidup kita.
Terus terang saja, menuliskan coretan ini adalah bagian dari usaha saya untuk juga mengontrol arah karier pribadi saya. Tegasnya, ini adalah skenario versi saya sendiri dalam melakukan ”career audit”. Saya berkepentingan melakukan ”career audit” antara lain ketika saya mendapat sejumlah tawaran untuk pindah ke perusahaan lain. Ini bukan pola yang tepat.
Idealnya Anda tetap melakukan ”career audit” tanpa menunggu sesuatu terjadi di luar sana. Pendekatan yang proaktif akan membuat Anda lebih tenang melihat permasalahan. Ketajaman dalam menemukan dan menimbang persoalan akan membantu Anda sampai pada alternatif solusi.
Melakukan ”career audit” secara sederhana akan membantu kita sampai pada beberapa pencerahan, antara lain:
1. Akan sampai pada pemahaman akan siapa diri Anda, pada pekerjaan apa Anda mampu memberikan kinerja terbaik, dan bagaimana biasanya Anda melakukan sesuatu agar dapat memberi hasil optimal.
2. Anda akan mengenali keterampilan, minat, nilai-nilai, kecenderungan preferensi pribadi dan juga pengalaman-pengalaman Anda. Apakah hal-hal tersebut masih bisa diandalkan untuk bersaing?
3. Anda akan menemukan apa saja prestasi yang sudah Anda peroleh. Dari prestasi tersebut, kompetensi apa saja yang berhasil Anda kembangkan. Ke depan, kompetensi apa lagi yang harus Anda improve? Bagaimana caranya?
4. Anda disadarkan akan prioritas Anda. Mau apa? Mau ke mana Anda? Dengan bekerja apa saja yang Anda harapkan? Berdasarkan pemahaman akan diri sendiri tersebut, coba jajaki pilihan-pilhan yang tersedia untuk pengembangan ke depan. hal-hal di atas akan mengantar kita pada titik keseimbangan yang sebenarnya kita cari.
5. Mengenali seberapa besar sebenarnya harapan dan kebutuhan Anda akan penghargaan orang lain. Apakah penghargaan jadi hal yang penting? Penghargaan seperti apa yang sebenarnya Anda butuhkan?
Buat saya, kesadaran seperti di atas sungguh menjadi modal untuk melakukan tindak lanjut. Karenanya, saya pun merekomendasikan langkah ini bagi Anda semua. Perlahan Anda pasti akan menemukan pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih tajam, yang akan mendorong Anda untuk lebih jujur. Semakin tajam pertanyaan, makin jujur Anda merespon, maka makin jelaslah gambar karier yang Anda maksud.
***
Menjalani “career audit” yang sederhana juga membuat saya teringat pada apa yang pernah disampaikan oleh Paul Stevens, pakar dan penulis buku tema “Career Management”, yang berujar sebagai berikut:
"...employees will need to act as if they are self-employed in order to preserve their employability. They will need to analyse what they want, what they can contribute and provide a Career Action Step Proposal to their employer. Neglect of this will threaten their job security."
Buat saya, pernyataan di atas menarik. Pertama, karena ini sekali lagi berhubungan dengan konsep employability expired date. Ya, pada dasarnya kita memang harus menaruh perhatian pada sejauh mana keterampilan yang kita miliki masih layak pakai. Tak sedikit orang yang terperangkap sehingga lupa mengasah gergajinya. Pada satu saat mereka terkejut karena apa yang mereka miliki tak lagi dibutuhkan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Kita harus waspada pada sejauh mana ”employability” kita.
Kedua, hal di atas berarti terkait dengan gagasan untuk melihat diri sendiri sebagai satu product atau barang jasa (service). Kerangka besarnya adalah tantangan kita semua untuk memuaskan customer kita, yakni perusahaan tempat kita bekerja. Untuk memuaskan ”customer” kita, maka ada banyak tindakan yang tentunya menuntut keterampilan tertentu.
Ketiga, tulisan kutipan di atas kembali mengajak kita untuk terus melakukan action, terus melakukan aktivitas pengembangan diri. Ini sejalan dengan dua poin sebelumnya. Kata kuncinya adalah mempertahankan spirit pembelajar dalam diri kita. Terus mengasah diri adalah kewajiban.
Jadi, jelas bahwa “career audit” pada dasarnya adalah salah satu langkah untuk mempertahankan ”employability” kita. Melakukan “career audit” lalu memperhatikan ”employability” tampaknya juga sejalan dengan gagasan tentang ”self-employed mind set”. Karyawan perlu berpikir seakan dia adalah “self employee”. Dia tak bisa lagi banyak bergantung pada orang lain atau bahkan perusahaan. Tak ada ”job security”. ”Security” hanya berarti terus mengasah diri dan meningkatkan keterampilan. ”Security” akan tercapai tergantung kepada sejauh mana Anda mampu menjual keterampilan Anda.
Mudah-mudahan tulisan singkat ini bisa menjadi reminder buat kita semua.[adjie] * Adjie adalah karyawan sebuah perusahaan multi-national. Sehari-hari, selain terus berlatih menulis, ia juga menempatkan diri sebagai Facilitator for Human Resiliency Development (FHRD). Ayah empat orang anak ini adalah peminat tema life balance dan mind empowerment. Ia dapat dihubungi di:
Langganan:
Postingan (Atom)
instanx
Total Tayangan Halaman
Categories
- abdul muid badrun (2)
- Acha Septriasa (4)
- ade asep syafruddin (4)
- alexandra dewi (1)
- alpiyanto (1)
- andrew ho (91)
- Ardian syam (22)
- arief yuntanu (2)
- arif gunawan (40)
- arif yustanu (1)
- artikel (13118)
- bambang trim (1)
- beni bevly (1)
- berita (3795)
- BLOGERNAS (1)
- damardi darmawangsa (13)
- danang a akbarona (2)
- dany chandra (3)
- dewi lestari (1)
- Dian Sastro (1)
- didik darmanto (2)
- dodi mawardi (2)
- DOWNLOAD EBOOK GRATIS (234)
- edi zaqeus (1)
- edit (110)
- eko jalu santoso (1)
- eni kusuma (11)
- goenardjoadi goenawan (1)
- hari subagya (7)
- haryanto kandani (4)
- hendra (10)
- ida kuraeny (1)
- indra cahya (1)
- iqnatius muk kuang (8)
- jennie s bev (1)
- johanes koraang (1)
- joko susilo (47)
- joni liu (2)
- joshua w utomo (2)
- joycelina (1)
- kerjadarirumah (4)
- kristopher david (1)
- lamser aritonang (1)
- Luna maya (15)
- m ichsan (41)
- m ikbal (1)
- Mariana Renata (1)
- marsello ginting (1)
- marzuki usman (3)
- Mieke Amalia (1)
- mugi subagya (1)
- muk kuang (1)
- Mulan Jameela (1)
- original artikel (103)
- profil (3)
- pujiono (1)
- rab a broto (4)
- Revalina S. Temat (3)
- riyanto s (4)
- ronal frank (2)
- roni jamaludin (1)
- ruby herman (1)
- ruddy kusnadi (1)
- rudy lim (19)
- sansulung john sum (1)
- saumimam saud (1)
- stephen barnabas (1)
- suryanto wijaya (3)
- syahril syam (17)
- tan bonaventura andika sumarjo (1)
- tanadi santoso (1)
- tante girang (454)
- thomas sugiarto (8)
- tung desem waringin (4)
- undang a halim (1)
- walpaper (50)