Minggu, 02 November 2008

SERI BERPIKIR TERBALIK: ULANG TAHUN

Oleh: Mugi Subagyo


Ingat syair ini..?

Hari ini…
hari yang kautunggu...
bertambah satu tahun… usiamu…
bahagialah kamu….

Sepertinya, sebagian besar dari kita seragam pola pikirnya dengan lagu yang dipopulerkan oleh kelompok musik Jamrud tersebut. Setiap kita berulang tahun, berarti usia kita bertambah, sehingga membuat kita lebih dewasa, lebih maju dalam berpikir dan bertindak, lebih bijaksana, dan lebih banyak lagi harapan yang tidak jelas juntrungannya.

Benarkah usia kita bertambah 1 tahun saat berulang tahun? Siapa yang menjamin dengan bertambah umur, kita menjadi lebih dewasa? Lebih maju dalam berpikir atau bertindak? Lebih bijaksana? Kalau benar, bagaimana jalan ceritanya?

Bila Anda yang merasa bertambah dewasa, bijak, maju dalam berpikir, setelah meniup mati lilin lampu berbentuk angka yang menunjukkan umur, maka maaf saja bila saya meragukannya.

Pemikiran Terbalik
Setiap berulang tahun, sesungguhnya makin berkuranglah umur hidup kita.

Jadi, berapa umur kita yang tersisa? Kita buat perumpamaan, misalkan saat ini kita berulang tahun yang ke-38, batas umur tertinggi kita 65 (silahkan naikkan batas ini, tapi perlu diingat batas usia produktif manusia), maka usia tersisa tinggal 17 tahun. Sudah berhasil/sukseskah kita di usia sekarang? Kalau sudah, lalu apa? Berbuat apa lagi? Perlukah menembus ambang batas kesuksesan? Atau malah terperangkap? Bagaimana bila saat ini belum ada kesuksesan yang telah diraih? Berapa tahun lagi persiapan, usaha dan kerja keras untuk sukses? Kalau Anda seorang karyawan, mungkinkah mengalahkan pemikiran dan fisik karyawan lain yang jauh lebih muda dan energik? Kalau pun melamar pekerjaan ke perusahaan lain, perusahaan mana yang masih bersedia menerima karyawan dengan umur yang masuk dalam kategori “tua”? Bagaimana membuat dan atau meningkatkan skill yang dapat dijadikan penghasilan, baik sebagai sumber atau sampingan?

Dengan mengetahui bahwa tinggal sedikit umur kita yang tersisa, maka kita akan berpikir keras guna meningkatkan kualitas hidup, yang otomatis akan membawa kita pada kedewasaan. Sama halnya dengan ucapan seorang motivator tentang sebuah gelas berisi air setengahnya, dikatakan bahwa pemikir positif akan bilang bahwa “Masih ada air setengah gelas”, sementara si pemikir negatif bilang “Air di gelas tinggal setengah”.

Kondisi pemikiran seperti ini cenderung membuat orang berpikir dan bertindak tenang (atau santai?) karena “aman” dengan adanya setengah air dalam gelas. Jika berpikir terbalik, maka kita sudah sibuk memutar otak, untuk mengisi kembali gelas tersebut dengan air. Berpikir terbalik akan membuat otak bekerja lebih banyak dengan adanya faktor yang menjadi pendorong. Semakin sering otak berpikir, bukan semakin tumpul, justru sebaliknya.

Lebih banyak orang yang sukses, menjalani prosesnya dari bawah, dari kebertiadaan, bukan dari rasa tenang, aman dan jaminan hidup enak yang diwariskan orangtuanya. Orang-orang sukses tahu bahwa jalan menuju keberhasilan, bukanlah jalan terang yang lurus mulus. Melainkan jalan yang mesti dilalui setapak demi setapak, sambil terus menyusun langkah dan mengawasi jalan.

Proses menjadi orang yang sukses tidak dengan sendirinya terjadi bersamaan dengan bertambahnya usia, namun sebuah jalan yang sering dipenuhi penderitaan, penderitaan yang harus kita kalahkan dengan kesabaran. Kesabaran adalah hasil dari kesulitan, kesabaran tidak dihadiahkan Tuhan setiap kita berulang tahun, tapi harus dipelajari.

Semakin kita menyadari bahwa cuma tersisa sedikit usia, maka kita dapat bercermin diri tentang apa-apa yang sudah diperoleh, dan apa yang perlu dibuat untuk menghasilkan karya.

Mari Berkarya![ms]

* Mugi Subagyo dapat dihubungi melalui email: mugisby@yahoo.co.id

SENI BERPIKIR TERBALIK: KITA BUTUH MUSUH

Oleh: Mugi Subagyo


Sering kita dengar, ajaran yang mengatakan agar menjauhi permusuhan, karena hanya akan mendatangkan kerugian bahkan malapetaka, sehingga orang yang tidak memiliki musuh akan merasa tenang tentram hidupnya.

Pada orang yang memiliki kebesaran jiwa dan kematangan berpikirnya telah mencapai level yang tinggi, di mana dia telah bisa meninggalkan segala hal yang bersifat duniawi, 100 persen ajaran ini bisa kita terima. Namun bagi kita yang baru saja bertolak menuju ke arah tersebut lewat jalan pembelajaran, maka ajaran ini menempatkan kita pada posisi yang memaksa kita menjadi malas berpikir dan bertindak, lantaran tidak adanya motivasi yang tersemat.

Pemikiran Terbalik
Pelajaran Sejarah atau PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) yang didoktrinkan kepada siswa-siswi, mulai dari Sekolah Dasar, hingga ke jenjang pendidikan formal yang lebih tinggi tentang PKI, yang terkenal dengan G30S/PKI (Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia)? Karena tindakan tersebut, partai ini masuk dalam partai pengkhianat bangsa, partai yang berisi orang-orang kejam, dan tidak mengenal Tuhan. Status pengkhianat melekat kuat di seluruh buku yang bertutur sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Akankah sama jika saat itu PKI dengan G30S-nya berhasil menguasai pemerintahan dan memegang tampuk pimpinan? Tentu buku-buku sejarah akan berkata lain. Sejarah akan berkata, “PKI adalah partai terbaik, penyelamat bangsa, pahlawan negara, bla bla bla....”

Partai lain yang ketika itu memiliki ajaran bertentangan dengan PKI sudah melihat jelas, bahwa partai beraliran komunis ini adalah sebuah ancaman, musuh yang perlu dibasmi, sehingga perlu dicarikan penyelesaian sebagai jalan keluar. Maka peristiwa G30S tersebut lantas dijadikan pemicu pemberantasan PKI hingga ke akarnya.

Kita patut bersyukur kepada Tuhan YME, karena partai ini berhasil dihapuskan oleh partai lain yang saat itu masih berjuang demi bangsa dan negara, meski caranya tidak berbeda dengan partai yang “dihapuskan” (karena terjadi pembenaran dalam buku-buku sejarah bangsa Indonesia ).

Ini membuktikan bahwa memiliki musuh tidaklah buruk. Memiliki musuh berarti ada lawan yang harus dikalahkan, ada rival yang mesti ditaklukkan. Memiliki musuh akan membuat kita berpikir mengenai teknik ataupun strategi apa yang akan dijalankan, kapan menyerang, dan kapan bertahan. Memiliki musuh akan timbul harapan dan perjuangan untuk mencapai keberhasilan. Bukankah kalau mau hidup aman, kita harus siap untuk berperang? Sehingga tidak ada negara lain yang berani mengambil pulau-pulau di wilayah Republik Indonesia, tidak ada yang berani mendikte tindakan yang diambil oleh negara kita, menginjak-injak kehormatan bangsa. Hal ini hanya mungkin terjadi kalau negara ini siap, siap berperang untuk mempertahankan keutuhan dan kedaulatan negara. Kesiapan ini pun hanya mungkin terjadi bila negara ini memiliki musuh.

Memiliki musuh, tidak harus musuh nyata (kasat mata), di mana berperang dengannya akan ada tindakan penghilangan nyawa manusia. Sudah jadi kodrat manusia yang berketuhanan memiliki musuh, baik nyata atau maya. Setan melalui godaannya akan senantiasa menjadi musuh utama. Diri sendiri dengan hawa nafsu, amarah, dan keinginan bertindak salah juga musuh yang juga harus ditaklukkan.

Bagaimana bisa enak menyaksikan pertandingan sepak bola, jika kedua kesebelasan tersebut berteman, sehingga tidak ada keinginan untuk menciptakan sebuah gol yang dapat menaklukkan lawannya? Apa yang kita banggakan dari sebuah prestasi di sekolah misalnya, jika muridnya cuma satu orang? Bagaimana bisa menjadi yang tercepat, terbaik, terindah, jika tidak ada memiliki musuh sebagai pembanding?

Jadi, mari kita ciptakan musuh kita (bukan cari musuh). Jika Anda pemeluk agama yang taat, setanlah musuh Anda. Jika hawa nafsu dan keburukan hati selalu membisik di telinga Anda, maka “diri Anda”-lah musuh itu. Jika Anda seorang penulis pemula atau baru saja akan memulai menjadi penulis, maka penulis profesional/kawakan adalah musuh Anda. Cari tahu kekuatan musuh Anda dan dari mana dia memperolehnya, pelajari hingga Anda memiliki kekuatan yang sama, lalu cari tahu kelemahan musuh Anda, kemudian jadikan kelemahan tersebut sebagai kekuatan Anda. Maka Anda akan benar-benar merasakan nikmatnya dapat mengalahkan musuh Anda. Keberhasilan hanya indah dirasakan bila kita menjalani prosesnya dari awal, bukan sebuah pemberian.

Salam Bahagia.[ms]

* Mugi Subagyo adalah praktisi SDM di perusahaan multinasional, pengamat Teknologi Informasi, graphic designer, senior di dunia percetakan, dan pemerhati bahasa & sastra Indonesia. Mugi dapat dihubungi melalui email: mugisby@yahoo.co.id

RUMPUT TETANGGA LEBIH HIJAU? BAGUS!

Oleh: Ardian Syam


Saya tidak sedang membantah kata-kata Toni Yoyo yang menulis “Rumput Tetangga Tidak Selalu Lebih Hijau” di www.andriewongso.com. Apalagi cerita beliau tentang dua orang anak sang hartawan. Tidak pula sedang membantah pesan moral yang beliau sampaikan tentang hidup dengan kemampuan untuk menerima keadaan diri sendiri apa adanya, mempertahankan apa-apa yang sudah baik.... Bahwa jadi orang harus mudah bersyukur.

Seorang teman saya kalah dalam sebuah kontes. Dia cukup sedih karena kekalahan tersebut dan karena itu seorang rekan lain berusaha meredakan kesedihannya. Dia mengajak teman saya bersenang-senang dengan tujuan melupakan kesedihan akibat kekalahan tersebut. Namun teman saya tidak bersedia ikut bersenang karena tetap saja dia bersedih.

Kemudian sang kawan mengingatkan kepada teman saya bahwa rumput tetangga memang selallu lebih hijau. Jelas bahwa mangsung sang kawan adalah bahwa bila kita memang tidak bisa menang, terima saja kondisi tersebut dan bersyukurlah dengan kondisi yang ada sekarang.

Ketika itulah guru saya datang dan bilang bahwa, justru bagus kalau kita tahu bahwa rumput tetangga lebih hijau. Justru bagus ketika kita sadar bahwa rumput tetangga lebih hijau. Justru bagus bila kita iri dengan pencapaian yang didapatkan oleh orang lain. Tetapi, jangan hanya diam ketika rumput tetangga lebih hijau, karena bila memang rumput tetangga lebih hijau, maka ada yang harus dilakukan untuk rumput di halaman Anda.

Mau apa lagi. Rumput tetangga toh sudah terbukti memang lebih hijau dari rumput Anda, walaupun dari jauh. Sekarang mari kita pastikan apakah dari jarak yang sama, rumput tetangga memang lebih hijau dari rumput Anda. Berusahalah membanding-bandingkan dengan lebih objektif.

Mungkin Anda mendapatkan kesadaran bahwa ternyata rumput di halaman Anda justru yang lebih hijau. Maka, biarkan saja. Berarti apa yang Anda lakukan terhadap rumput di halaman Anda, telah sangat baik. Tetapi bukan tidak mungkin, setelah melakukan pembandingan dengan objektif, ternyata rumput di halaman tetangga memang lebih hijau. Jadi?

Mengapa tidak Anda ketuk pintu rumah tetangga. Tanyakan pupuk apa yang dia pakai untuk rumput yang lebih hijau itu. Berapa kali dia menyiram rumput itu dalam seminggu, dalam sehari?

Mengapa demikian? Bukankah kita sebaiknya bersyukur dengan hal-hal yang telah kita miliki? Anda sangat benar. Tidak ada larangan untuk bersyukur tentang hal-hal yang dimiliki, kondisi yang Anda rasakan saat ini. Tetapi itu saja tidak cukup.

Anda juga perlu meningkat setiap hari. Bukan hanya kuantitas. Tetapi juga kualitas. Mungkin Anda bahkan tidak perlu atau tidak bisa lagi meningkatkan kuantitas, maka ini saat Anda meningkatkan kualitas.

Ketika Anda memiliki satu pohon di halaman Anda yang hanya 5 x 7 meter itu cukup. Tetapi berapa banyak pohon yang bisa Anda tanam di wilayah yang ‘seluas’ itu? Tidak banyak, paling banyak ya sekitar 4 atau 5 pohon saja dengan diameter batang kurang lebih 75 cm. Lebih banyak dari 5 pohon, maka Anda tidak punya tempat untuk melintasi halaman dan berusaha masuk ke dalam bangunan rumah Anda.

Itu berarti saatnya Anda meningkatkan kualitas pohon tersebut. Ketika Anda menanam sebuah pohon buah, maka Anda ingin buah dari masing-masing pohon akan sangat lebat dan sangat baik untuk dimakan. Itulah peningkatan kualitas. Bahkan bila perlu karena sangat banyak buah yang dihasilkan, maka Anda perlu membagi buah-buahan tersebut kepada para tetangga. Bila Anda menanam pohon hias maka target Anda menaikkan kualitas adalah pohon yang berhasil memberikan keindahan dan menyenangkan bagi setiap orang yang memandang pohon tersebut.

Maka, jangan pernah biarkan rumput tetangga menjadi lebih hijau. Ketika rumput tetangga terlihat lebih hijau, itu berarti saat untuk Anda memperhatikan rumput Anda. Jadi bersyukurlah ketika rumput tetangga lebih hijau karena berarti Anda diingatkan untuk melakukan peningkatan yang masih perlu dilakukan.[as]

* Ardian Syam adalah penulis buku bisnis “Kacamata Kuda”.

ANTARA KEMAUAN DAN KEHARUSAN

Oleh: Afra Mayriani

Hari ini kantor saya mengadakan casting untuk mencari seorang icon cilik. Icon yang akan mewakili perusahaan saya, yang kebetulan bergerak di dunia pertelevisian. Pesertanya lumayan banyak. Kesemuanya berasal dari dunia keartisan negeri ini. Rata-rata mereka pernah bermain sinetron. Di antaranya bahkan telah malang melintang sebagai ”bintang iklan” berbagai produk.

Banyak kejadian lucu dan tidak terduga selama casting berlangsung. Spontanitas dan keberanian mereka mengeluarkan berbagai ekspresi patut dibanggakan. Sebagai generasi muda, mereka sudah tidak malu atau sungkan lagi menuangkan gagasan dan isi kepala mereka. Tidak seperti zaman saya dulu. Paling malu jika sudah disuruh menyanyi atau bicara di depan kelas.

Para artis cilik ini terlihat sangat antusias dan semangat mengikuti casting. Walaupun mereka harus rela lama menunggu giliran untuk dipanggil. Namun, ada hal yang sangat tidak saya duga. Hampir keseluruhan peserta tidak mengetahui tujuan mereka mengikuti casting. ”Wah, Mama nggak kasih tahu tuh. Aku sih dibilangin ikut casting doang,” jawaban polos dan singkat.

Mereka rata-rata tidak mengetahui tujuan yang sesungguhnya dari kegiatan yang mereka ikuti barusan. Ironis, bukan? Bukankah seharusnya orangtua (dalam hal ini mama) memberikan informasi yang jelas tentang tujuan anak-anaknya melakukan suatu kegiatan tertentu? Tidak saja sekedar menyuruh ini dan itu tanpa disertai alasan yang jelas.

Tetapi, di sini kenyataan yang saya temui sungguh berbeda. Para ibu ini membuat deal tertentu tanpa sepengetahuan anaknya. Kemudian, mereka membuat jadwal temu casting pemilihan yang wajib diikuti anaknya. Lucunya, si anak tanpa tahu tujuan apa pun tetap saja ikut pergi dengan si mama. Semangat kemenangan dan antusiasme mereka pun terlihat jelas pada sinar bola mata kepolosan.

Kemauan dan keharusan menjadi tipis bedanya atau malah tidak berbeda lagi sekarang. Kemauan yang datang bukan dari si anak. Melainkan dari sang bunda. Dan, keharusan yang harus dilakoni si anak, keduanya melebur melahirkan nilai kehendak lebih pada diri si anak. Terutama kehendak yang telah menjadi keinginan terdalam untuk terpilih atau menang.

Dari kejadian tersebut, terpikir dalam benak saya, sebenarnya yang ingin jadi artis itu siapa? Si anak atau orangtua, ya? Bukankah seharusnya kemauan itu datangnya harus dari si anak? Dan, di sini orangtua hanyalah sebagai pendukung bukan pendorong. Ataukah sudah terbalik peranannya? Bagaimana menurut Anda?

Si anak terlihat sangat keras mempelajari materi yang saya berikan di awal. Mereka membaca dan menanyakan apa yang perlu mereka ketahui, secara langsung di tempat. Mereka belajar secara cepat. Mereka melakukan improvisasi bersamaan dengan saat kamera merekam. Tidak ada banyak waktu untuk belajar.

Di dunia entertainment ini memang harus langsung action. Di sini peranan sang bunda terlihat begitu menonjol. Bunda sebagai sosok utama yang mendorong serta menyemplungkan cita-cita dirinya ke dalam diri anak-anak mereka. Orangtua menjadi rancu akan cita-cita awal si anak. Mereka membalikkan cita-cita awal anak-anak tersebut, yang tadinya ingin jadi dokter atau astronot, kini berubah menjadi public figure.

Dalam kasus ini anak-anak dituntut untuk menjalani dua peranan sekaligus. Peran pertama adalah sebagaimana layaknya anak-anak. Yang harus bersekolah, mencapai nilai bagus, dan mengikuti berbagai les di luar sekolah. Peranan kedua adalah menjadi seorang artis yang laris dan menerima banyak tawaran di mana-mana.

Si anak harus belajar giat, tekun, sambil mengasah terus kemampuannya di bidang keartisannya. Tapi, bukankah orangtua mereka juga patut belajar? Belajar untuk menemukan apa yang benar-benar diingini oleh anak-anaknya. Belajar memahami, mendalami, dan mendengarkan keinginan-keinginan murni mereka. Belajar berkomunikasi dua arah dengan anak-anaknya. Dan, belajar menginformasikan segala sesuatu yang berkaitan apalagi dijalani oleh anak-anaknya.

Jika sudah begitu, maka tidak akan ada lagi dorongan yang sifatnya paksaan. Tidak ada lagi anak-anak yang diharuskan menjadi artis atau komoditas dunia hiburan. Anak-anak juga perlu tahu tujuan-tujuan dari apa yang mereka lakukan. Karena, hal itu berkaitan dengan tujuan hidup mereka ke depan. Siapkah Anda sebagai orangtua untuk mulai belajar? Bahwa, kemauan dan keharusan itu memang berbeda.[am]

* Afra Mayriani adalah seorang programer. Ia dapat dihubungi di email: aframayriani@yahoo.com

WHY JUST 100%?

Oleh: Men Jung

Anda pasti pernah menerima tugas dari seseorang yang anda kenal dekat di lingkungan Anda. Orang tersebut bisa jadi adalah orangtua Anda, guru, dosen, atau bahkan atasan Anda. Bila Anda ingat-ingat kembali apa yang Anda lakukan terhadap tugas yang diberikan tentunya akan menjadi suatu renungan yang cukup berarti untuk tugas-tugas Anda selanjutnya. Tidak jarang kita menganggap tugas tersebut hanya sekedar sebagai tugas biasa sehingga saat kita mengerjakannya, kita pun bersikap biasa-biasa saja.

Anda pasti pernah mendengarkan cerita seorang bapak yang diminta atasannya untuk membangun sebuah rumah. Lantaran bapak ini berpikir bahwa ini hanya sebagai salah satu bentuk rutinitas pekerjaannya, dia melakukannya hanya dengan setengah hati dan membangun rumah tersebut dengan ’sedikit asal’, kualitas bahan bangunan serta cat yang digunakan adalah kelas ekonomis. Segera setelah rumah itu selesai dibangun, atasannya menyerahkan rumah tersebut kepada si bapak sebagai hadiah karena telah bekerja cukup lama di dalam perusahaan.

Dapat Anda bayangkan bagaimana perasaan si bapak ketika menerimanya. Tentunya, saya percaya ada sebuah penyesalan dalam hati karena tidak melakukan yang terbaik. Seandainya saja dia melakukannya dengan baik. Sayang memang, tapi apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur.

Suatu ketika, Anda dimintai oleh atasan Anda untuk melakukan sesuatu. Anda melakukannya hanya sebatas karena itu tanggungjawab Anda. Hasil dari yang Anda lakukan ternyata biasa-biasa saja. Akibatnya atasan Anda pun hanya biasa-biasa saja terhadap Anda. Sementara rekan Anda yang lain melakukannya dengan lebih baik dari yang seharusnya. Alhasil, dia mendapat pujian, bonus dan lain-lain. Anda mulai mengeluh dan mulai berpikir bahwa atasan Anda tidak adil. Benarkah? Kita cenderung melihat segala sesuatu dari kacamata kita. Mari kita berganti posisi. Anggaplah Anda adalah atasan dari dua orang pekerja yang Anda beri tugas yang sama. Satu dari kedua orang tersebut melakukan dengan sangat baik, hasil yang baik bahkan di luar ekspektasi Anda. Sementara yang lain hanya biasa-biasa saja. Mana yang akan Anda hargai lebih? Silahkan Anda jawab sendiri.

Dalam kehidupan ini, sering kita hanya berbuat 100 persen bahkan mungkin kurang dari itu. Anda sendiri yang membuat potongan/diskon khusus sehingga menjadi hanya 90 persen, 80 persen, 5 persen, atau bahkan yang paling mengkhawatirkan hanya 10 persen. Lebih ironis lagi, Anda mengharapkan mendapat perlakuan yang sama dengan orang lain. Berapa kali Anda melakukannya 110 persen, 125 persen, 200 persen, atau bahkan lebih dari itu? Saya teringat sebuah pepatah dari orangtua saya yang mengatakan ”Apa yang Anda tabur, itulah yang Anda tuai”. Jika Anda berbuat baik maka niscaya hasilnya pun akan baik. Bila Anda berbuat lebih banyak dan lebih baik, maka hasilnya juga akan setimpal, lebih banyak dan lebih baik.

Martin Luther King, Jr. mengatakan ”If a man is called to be streetsweeper, he should sweep streets even as Michael Angelo painted, or Beethoven composed music, or Shakespeare wrote poetry. He should sweep streets so well that all the hosts of heaven and earth will pause to say, here lived a great streetsweeper who did his job well. Oleh karena itu, lakukanlah sesuatu dengan sebaik-baiknya. Para konsultan di McKinsey di dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya memiliki budaya perusahaan di mana setiap konsultan akan menanyakan kepada diri mereka sendiri apakah ada cara yang lebih baik mengerjakan sesuatu, bila masih ada lakukanlah itu. Sungguh budaya yang luar biasa. Semoga dapat menjadi inspirasi bagi kita bersama dan kita dapat mulai mengambil tindakan dari hal terkecil yang ada di sekeliling kita.[mj]

Catatan: Artikel ini dimuat di majalah People & Business, Edisi: Desember 2006.

* Men Jung adalah Transformation Coach dan People Development Trainer yang dapat dihubungi melalui email di menjung@gmail.com atau untuk informasi lebih lanjut tentang Men Jung dapat mengunjungi website www.menjung.com.

SUKSES BERBICARA DI DEPAN UMUM

Oleh: Ollie

Saat itu saya diundang menjadi salah satu pembicara tamu dalam pelatihan yang diadakan oleh majalah internal sebuah perusahaan BUMN bagi staf redaksi dalam majalah itu. Saya sendiri hadir dalam kapasitas saya sebagai penulis yang diharapkan dapat membagi pengalaman kepada mereka, dan membangun kemampuan serta semangat menulis staf redaksi yang rata-rata tidak berpengalaman dibidang tulis menulis.

Karena sifatnya yang berbagi pengalaman, saya tidak merasa perlu untuk mempersiapkan apa pun untuk pelatihan ini. Maklum, pengalaman hidup semua masih ada di otak saya. Saya merasa tidak perlu catatan apalagi poin-poin presentasi. Alasan lain adalah karena kesibukan saya sehari-hari yang membuat saya sama sekali tidak punya waktu untuk membuat persiapan khusus.

Saya tiba satu jam lebih cepat dari jadwal dan sempat melirik ke dalam ruangan tempat pelatihan berlangsung. Astaga, di dalam sedang terjadi ’diskusi berat’ yang disertai slide-slide bergantian dipresentasikan. Saya langsung merasa gugup. Saya jelas tidak siap.

Saya kemudian disambut hangat oleh salah satu pimpinan redaksi. Dalam pertemuan singkat selama 15 menit, beliau memaparkan maksud dan tujuannya mengundang saya. Antara lain agar staf redaksi yang dipimpinnya mampu membuat tulisan yang lebih menarik. Saya juga diharapkan memberikan sedikit latihan pada mereka. Saya semakin gugup. Ini jelas diluar skenario saya.

Saya lalu menyusun strategi. Waktu saya 45 menit lagi. Saya segera meminjam contoh majalah internal yang telah mereka terbitkan. Melakukan studi kasus adalah cara paling efektif untuk menyampaikan maksud kita kepada audience. Saya juga langsung membuat poin-poin hal yang harus saya sampaikan beserta kilasan cerita pengalaman saya di dalamnya. Itu akan membuat audience lebih mudah untuk mencerna dan membayangkannya.

Waktu saya tinggal 15 menit lagi, saya harus menentukan akan memberi latihan menulis seperti apa. Saya teringat akan pengalaman saya saat diajar guru menulis saya di Jakarta School. Saya kemudian menggunakan pengalaman diajar itu untuk mengajari orang lain. Saya menemukan formulanya! Saya mencoba menciptakan suatu latihan dengan syarat tertentu, dalam waktu yang sempit dan libatkan audience untuk memberi apresiasi setelahnya. Dari situlah diharapkan muncul antusiasme dari audience!

Pada saat waktu yang ditentukan tiba, dengan berbagai catatan di tangan, saya tetap merasa tidak siap. Saya mulai melirik ke poin-poin yang saya buat dan mendapatkan diri saya berbicara seperti robot di hadapan mereka. Otak saya lalu tiba-tiba mengibas. Apa yang saya takutkan? Audience saya adalah orang-orang yang ingin mendengar yang terbaik dari saya. Ingin terinspirasi. Ingin bersemangat. Ingin maju. Mereka adalah sahabat yang ingin diberi nasihat dan masukan. Kenapa saya memperlakukan mereka seperti orang lain?

Dalam hitungan detik setelah saya menyadari kesalahan saya, saya pun menjadi rileks. Saya bicara seakan-akan mereka adalah teman lama saya yang sedang curhat dan sedang saya beri masukan. Sesekali saya melirik ke catatan saya untuk melihat poin apa yang harus saya sampaikan, agar tidak keluar jalur dan tetap mencapai sasaran.

Contoh-contoh kasus dan perbaikannya pun saya tunjukkan dengan gamblang namun dalam nuansa humor, sehingga tidak ada yang merasa tersinggung saat dikritik. Beberapa orang saya lihat mengangguk-anggukan kepala. Namun... ups. Di sebelah sana ada bapak yang tertidur. Saya coba untuk melibatkannya dalam cerita saya. ”Menurut Bapak bagaimana?” Ia terbangun dengan kaget, namun akhirnya terus menyimak saya hingga akhir acara. Melibatkan audience dalam pembahasan, sedikit banyak akan membuat mereka merasa terikat untuk terus menyimak. Ini sudah saya buktikan.

Di penghujung acara, saya lemparkan latihan penulisan yang sudah saya siapkan. Saya minta mereka membuat satu paragraf 100 kata berisi tiga kata yang sudah saya pilihkan untuk mereka. Waktunya? Lima menit.

Hasil yang saya dapat mengejutkan. Kreativitas yang timbul di luar dugaan. Apresiasi yang diberikan pun beragam. Saya bisa melihat kobaran api menyala di mata mereka. Saya bangga bisa menjadi bagian dari semangat itu. Anda mau coba? [ollie]

* Ollie adalah penulis novel sekaligus entreprenur pemilik toko buku online kutukutubuku.com. Ia dapat dihubungi via email auliah5@gmail.com atau blog http://blog.salsabeela.com.

Jumat, 31 Oktober 2008

SEKETIKA DUNIA BERUBAH

-
Oleh: Nathalia Sunaidi


Malam lalu mobil saya terserempet sebuah sepeda motor ketika hendak ambil jalur kiri untuk keluar dari antrian macet. Tiba-tiba dari sebelah kiri sebuah motor menabrak kaca spion saya dan terjatuh. Kontan saja sopir saya turun untuk melihat keadaan pengendara motor itu. Di sana sudah berhenti seorang pengendara motor lainnya untuk membantu. Masih ada orang yang berniat menolong, pikir saya.

Setelah dilihat ternyata keadaan kedua pengendara motor yang terjatuh itu baik-baik saja. Celakanya, kedua orang itu dalam keadaan mabuk dan tubuhnya penuh tato. Begitu melihat penampilan mereka, pengendara motor yang tadinya berniat menolong langsung tancap gas dan pergi. Gawat, pikir saya.

Untung sekali sopir saya orang yang sabar dan tidak penuh emosi. Dia meminta maaf tanpa berpikir lagi siapa yang sebenarnya salah. Tapi mereka menampar sopir saya dan mengancam supaya sopir saya memberi mereka uang seratus ribu atau dia tidak akan selamat.

Lebih baik mengalah, mungkin begitu yang ada di dalam pikiran sopir saya. Lalu, dia langsung memberikan uang itu. Ketika kami hendak pergi, tiba-tiba pengendara motor itu meninju pintu mobil saya dan meminta dibukakan kaca jendela, atau “Kalian semua tidak selamat!” begitu ancamnya. Setelah dibukakan kaca jendela, ternyata mereka meminta uang lagi untuk pengobatan, walaupun mereka terlihat sangat sehat. Dengan menimbang kondisi mereka yang dalam keadaan mabuk, saya berikan uang yang mereka minta. Setelah menerima uang mereka menancap gas dan pergi dengan kencang.

Setelah kejadian itu kami semua terdiam. Walaupun saya terlihat tenang ketika menghadapi pengendara mabuk itu, tapi terasa juga dengkul saya lemas dan jantung berdetak keras.

Setiba di rumah, mama saya membahas kejadian tadi. Menurut mama, kejadian itu merupakan faktor disengaja, seperti yang biasa dia tonton dalam acara-acara kriminal di televisi. Pacar saya juga bercerita beberapa hari lalu di komplek perumahannya ada seorang polisi yang ditembak di kepalanya ketika memergoki pencurian mobil.

Dia juga pernah diintai sepeda motor lainnya ketika ia sedang mengendarai motor di larut malam hari. “Kamu ya yang kemarin menabrak adik saya?!” teriak si pengendara sementara teman boncengannya memegang sebuah kayu. Melihat itu, pacar saya langsung menghindar dan memasuki daerah yang cukup ramai. Sudah banyak kejadian, jika terpancing, mereka akan menggiring ke daerah sepi untuk diambil motornya.

Setelah mendengar semua cerita itu, dan ditambah baru saja mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, seketika itu saya merasa dunia berubah menjadi sebuah tempat yang sangat mengerikan. Namun, saya merasa sangat beruntung karena bisa tetap hidup di dunia yang penuh bahaya ini.

Selama beberapa jam saya merasakan dunia ini begitu negatif dan sangat suram. Walaupun pada saat itu saya juga menyadari perubahan persepsi saya yang sangat drastis dan bertanya-tanya, “Mengapa segalanya langsung menjadi sangat mengerikan?” Baru setelah pikiran saya jernih kembali, berangsur-angsur dunia menjadi lebih baik. Dan, saya bisa menertawakan pikiran-pikiran buruk yang baru saja membombardir kepala saya, serta membuat saya memandang dunia dari sisi yang sangat suram.

Saat itu saya menyadari, bukan dunia yang berubah, tapi pikiran saya yang berubah menjadi negatif. Dunia hanyalah dunia seperti itu adanya, tidak bisa disebut baik atau buruk. Tapi, pikiran sayalah yang membuat persepsi buruk pada dunia. Dan, ketika persepsi pikiran kita berubah maka kita akan menganggap segala sesuatu di sekitar kita yang berubah.

Persepsi pikiran kita bisa berubah dengan sangat cepat dan mengubah cara pandang kita dalam hitungan jentikan jari. Dengan kejadian terserempetnya mobil saya malam itu, saya menyadari betapa beruntungnya saya yang masih bisa memandang dunia ini sebagai tempat yang bahagia, sehingga dunia ini bisa diisi dengan hal-hal yang baik dan berkualitas.

Malam itu saya menyadari bahwa pikiran kitalah yang menciptakan dunia kita. Faktor-faktor di luar kita hanyalah sebagai objek seperti itu adanya, tidak bisa disebut baik atau buruk, tapi persepsi pikiran kitalah yang memberikan label penilaian tentang hal-hal di luar kita.

Persepsi pikiran kitalah yang mempermainkan kita, kita hidup di dalam persepsi kita, dan persepsi pikiran itulah yang menciptakan dunia kita. Tapi, berita baiknya adalah kita bisa melihat seperti apa persepsi pikiran kita dengan menyadari pikiran-pikiran apa yang muncul setiap kali kita berinteraksi dengan objek-objek di luar kita.

Kita bisa memeriksa pikiran apa yang muncul pada saat kita sedang mengantri di bank, berkenalan dengan orang baru, ketika kaki kita terinjak oleh orang lain, mendengar kenaikan gaji teman kerja kita, pada saat teman kita curhat tentang usahanya yang bangkrut, dll. Sadari dan dengarkan pikiran-pikiran apa yang muncul di benak kita saat itu, mana yang sering muncul, pikiran baik atau pikiran buruk, maka seperti itulah sesungguhya isi diri kita.

Dengan cara demikian kita bisa memeriksa diri kita sendiri, apakah isi diri kita lebih banyak hal yang baik atau hal yang buruk. Dan, semakin sering kita memeriksa pikiran-pikiran yang muncul dalam benak kita, maka semakin kita lebih mengenali diri kita sendiri.

Setelah kita lebih mengenali diri kita sendiri maka tentu kita akan bisa menentukan lebih bijaksana hal-hal apa yang perlu diperbaiki/ditingkatkan atau bahkan dibuang dari diri kita, sehingga kita bisa menjadi pemegang kendali dalam proses pembelajaran kita menuju kesadaran yang lebih tinggi.[ns]

* Nathalia Sunaidi adalah seorang hipnoterapis dan penulis buku “Journey to My Past Lives” (Bornrich, 2006).

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman