Selasa, 04 November 2008

NO REGRET!

Oleh: Ignatius Muk Kuang


Anda pasti sangat akrab dengan istilah "Nasi sudah menjadi Bubur". Artinya segala sesuatu sudah terjadi, dan terlambat jika kita menyesali.

Manusia seringkali menyesali tindakan yang sudah dilakukannya kalau hasilnya negatif.
Sebut saja contohnya seseorang yang sudah menginvestasikan sejumlah uangnya untuk bisnis, dan ternyata bisnisnya tidak berhasil, akhirnya dia menyesali. "Kalau saja uang itu saya depositokan, Kalau saja uang itu saya biarkan saja di bank", pasti tidak akan seperti sekarang kondisi saya.

Kalau hasil yang diterima sekarang kurang memuaskan atau diluar harapan, saat itulah manusia memiliki kecenderungan menyesali tindakan yang diambilnya dimasa yang lalu.
Menyesal karena tidak serius sewaktu di bangku pendidikan, Menyesal karena harus meninggalkan karir profesional dan menjadi entrepreneur, Menyesal karena ganti profesi, Menyesal karena pindah tempat kerja, Menyesal tidak mengambil proyek besar, Menyesal tidak mengambil kesempatan yang ditawarkan dan masih banyak penyesalan lainnya yang sebetulnya tidak akan membawa dampak positif bagi kita.

Sekarang apa untungnya bagi Anda jika menyesal?
Apakah Anda bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki keputusan Anda?

Jika Anda tidak mendapat apa-apa atau tidak bisa kembali ke masa lalu, alihkan fokus Anda menjadi Apa yang harus dilakukan sekarang dengan kondisi yang ada.
Anda tidak bisa mengubah masa lampau, tapi Anda bisa melakukan yang terbaik hari ini untuk mewujudkan masa depan sesuai keinginan Anda.

Banyak orang tidak mau menyesal untuk kedua kalinya, dan mereka umumnya mulai berhati-hati dalam mengambil setiap keputusan. Apakah Anda termasuk golongan ini?
Apapun jalan yang Anda ambil adalah keputusan Anda, asalkan jangan sampai karena terlalu berhati-hati Anda tidak mengambil tindakan apa-apa. Dan inipun nantinya akan membawa penyesalan kepada Anda di masa yang akan datang "Kalau saja saya ambil keputusan di masa lalu, Kalau saja saya agak berani memutuskan apa yang harus saya lakukan", pasti tidak akan seperti sekarang kondisi saya.

Jadi Anda seharusnya memiliki gambaran bahwa apapun yang Anda lakukan atau tidak Anda lakukan memungkinkan Anda menyesal jika hasil yang diterima tidak memuaskan.
Apapun keputusan yang Anda ambil, lakukanlah yang terbaik untuk saat ini. Tidak ada kata penyesalan. Yang ada hanya kata pembelajaran dan perjuangan.
Fight for your better future, No Regret for the past.

Salam Sukses!
Ignatius Muk Kuang
“Think and Act like a Winner”


* Ignatius Muk Kuang adalah seorang trainer, speaker (Motivation, Self-Development, Salesmanship, Presentation, Public Speaking). Ia dapat dihubungi di: mukkuang@gmail.com.

KEBUTUHAN PELANGGAN

Oleh: Ardian Syam


Sebagian besar tulisan tentang pemasaran selalu menyatakan kebutuhan pelanggan harus segera dipenuhi sebelum mereka berpindah dan membeli dari produsen lain. Saya jadi ingat tentang sebuah cerita.

Suatu perusahaan pembuat dan penjual sepatu kebetulan hanya memiliki dua orang yang bertanggung jawab untuk pemasaran, kita sebut saja sebagai pemasar A dan pemasar B. Maka diberangkatkan lah pemasar A ke sebuah daerah yang cukup kaya tetapi cukup terpencil. Sehingga mereka punya cukup banyak uang tetapi tidak pernah terfikir untuk memakai sepatu. Pemasar A kembali dengan laporan bahwa di daerah tersebut tidak ada seorangpun memiliki sepatu, maka bisa disimpulkan bahwa mereka memang tidak butuh sepatu. Maka akan sia-sia bila kita mengirim sepatu ke sana.

Pimpinan perusahaan tidak mau percaya begitu saja dengan kesimpulan tersebut dan mengirim pemasar B ke daerah yang sama. Pemasar B lalu pulang dengan laporan bahwa tidak seorangpun penduduk daerah tersebut yang memiliki sepatu, itu berarti mereka akan sangat tertarik bila kita memamerkan sepatu dan membuat mereka jadi membutuhkan sepatu. Sang pemimpin perusahaan kebetulan adalah seorang risk taker, maka dikirimlah beberapa jenis dan model sepatu serta sebuah toko dibuka di daerah tersebut. Yang terjadi kemudian adalah bahwa sepatu-sepatu yang dikirim laris terbeli.

Kebutuhan pelanggan. Andaipun pemasar A melakukan survei, masyarakat di daerah tersebut memang belum mengerti apa yang bernama sepatu, dan apa manfaat sepatu bagi mereka, maka jawaban survei pasti sama: mereka tidak butuh sepatu! Tetapi pemasar B merasa yakin bahwa mereka memang akan lebih baik bila memakai sepatu, maka dikirimlah sepatu, dibukalah toko, dan ditunjukkan gambar-gambar maupun film tentang orang-orang yang menggunakan sepatu serta manfaat sepatu. Maka sepatu yang dikirim menjadi laris terbeli.

Sekarang masih percayakah Anda bahwa pelanggan benar-benar tahu apa yang mereka butuhkan? Saya tidak sedang merendahkan pelanggan bahwa sama sekali bodoh. Tetapi berbuat hanya untuk merespon kebutuhan pelanggan dengan memenuhi permintaan mereka bukanlah hal yang benar-benar tepat.

Percayakah Anda bahwa Sony melakukan survei kepada para pelanggan dan konsumen mereka sehingga mendapatkan jawaban bahwa pelanggan membutuhkan sebuah alat pemutar rekaman suara yang dapat dibawa ke mana-mana, ketika mereka menciptakan walkman? Sangat percayakah Anda bahwa Motorola atau Nokia membuat survei yang menghasilkan jawaban bahwa pengguna jasa telekomunikasi butuh dihubungi di mana saja berada, ketika mereka menciptakan handphone? Bahkan Nokia saja tidak kita kenal memiliki produk lain selain handphone dan asesoris handphone.

Lalu bagaimana kita mengetahui kebutuhan pelanggan? Atau apakah kita tidak perlu melakukan survei sama sekali? Kalau Anda membaca Marketing Wise karya Sunny TH Goh dan Kho Kheng-Hor Anda akan membaca bahwa mereka menyatakan survei hanya akan memperkaya AC Nielsen dan perusahaan lain sejenis. Tetapi Anda juga disarankan oleh mereka untuk tetap melakukan survei.

Ya, Anda boleh memilih untuk bekerja sama dengan perusahaan yang profesional dalam melakukan survei atau melakukan survei sendiri. Tetapi yang paling penting adalah bahwa Anda ikut serta dalam mempersiapkan pertanyaan dalam survei tersebut. Begitu pula ketika data lengkap dan detail dari hasil survei telah terkumpul, Anda juga perlu memiliki.

Memang akan lebih mudah bila Anda mendapatkan langsung kesimpulan dari perusahaan pelaksana survei. Tetapi bila Anda serius dengan bisnis Anda, maka akan tertemukan hal-hal yang tidak tersimpulkan oleh para profesional survei tetapi dijawab secara implisit oleh pelanggan Anda.

Kita tidak sedang mempertanyakan kapabilitas dan kompetensi perusahaan pelaksana survei dalam membuat kesimpulan. Tetapi mereka bukanlah tim yang seumur hidup menjalankan bisnis yang Anda jalankan, maka intuisi mereka tidak akan bisa menyamai ketajaman intuisi Anda. Coba lihat buku dengan judul Blink karya Malcolm Gladwell yang akan menjelaskan kepada Anda betapa orang-orang yang seumur hidup atau paling tidak, bertahun-tahun melakukan sesuatu sebagai profesi mereka akan bisa melihat sesuatu sebelum memastikan melalui penelitian yang lebih sophisticated.

Banyak penulis menggunakan kata turbulens untuk menyatakan lingkungan bisnis saat ini. Padahal sebuah gerakan yang turbulens mengandung makna membingungkan, terus-menerus berbalik arah atau commotion.

Bila analogi angin kita bawa untuk menjelaskan hal ini, kita tahu bahwa angin berhembus (atau mengalir?) dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan rendah. Ketika selisih beda tekanan antara dua tempat begitu banyak maka ketika angin mengalir maka tempat yang tadi bertekanan rendah akan menjadi bertekanan tinggi dan terjadi pula kebalikan pada tempat yang tadi bertekanan tinggi, sehingga angin mengalir kembali ke tempat awal. Kejadian ini begitu cepat sehingga angin berubah arah secara terus-menerus yang kemudian menjadi pusaran angin. (Kepada Anda yang lebih ahli mohon pernyataan tentang arah angin mengalir dikoreksi bila saya salah).

Secara umum dapat disimpulkan angin akan mengalir ke arah yang menarik dan meninggalkan tempat yang menolak mereka. Tetapi karena turbulens harus mempunyai sebab maka saya lebih memilih kondisi hiper-kompetisi lah yang menjadi penyebab. Karena itu mulai saat ini, mari kita nyatakan bahwa lingkungan bisnis saat ini berada dalam kondisi hiper-kompetisi.

Mengapa demikian? Ya setiap pebisnis memang sudah begitu serius dalam bisnis mereka masing-masing, sama seperti Anda. Maka pelanggan atau konsumen akan mengalir dari satu pebisnis ke pebisnis lain atau dari satu perusahaan ke perusahaan lain tergantung siapa yang menarik minat mereka, atau tergantung siapa yang membuat mereka kesal. Dalam kata lain, yang sering ditulis oleh banyak ahli, bahwa pelanggan atau konsumen akan memilih perusahaan yang easy to do business with (ETDBW).

Hal inilah yang membuat lingkungan bisnis terlihat turbulens. Setiap perusahaan yang menjual produk atau jasa sejenis akan berusaha mengungguli kompetitor mereka masing-masing. Setiap kali sebuah perusahaan berhasil mengungguli kompetitor mereka akan menyebabkan pelanggan atau konsumen beralih ke perusahaan tersebut. Maka kompetitor mereka kemudian tidak mau kalah dan terus berusaha mengungguli perusahaan tadi yang mengakibatkan pelanggan atau konsumen berpindah lagi ke perusahaan semula. Inilah yang kemudian disebut hiper-kompetisi.

Tidak adakah lagi pelanggan atau konsumen yang loyal? Saya jadi tergelitik dengan pertanyaan Anda itu. Pernahkah ada pelanggan yang loyal? Silahkan baca tulisan saya berjudul “Diberi”. Produsen yang bergantung pada konsumen, bukan pelanggan atau konsumen yang bergantung pada perusahaan, sehingga paradigma harus diubah. Tidak ada konsumen yang loyal, yang harus ada adalah produsen yang loyal.

Mungkin Anda pernah mengalami masa keemasan saat konsumen Anda selalu membeli dan berulangkali membeli produk atau jasa dari perusahaan Anda. Coba Anda cari iklan di media massa ketika itu, benarkah bila saya katakan bahwa tidak ada kompetitor yang berhasil mengungguli produk atau jasa yang Anda jual? Bila jawaban Anda, ya, maka konsumen bukan loyal kepada Anda, tetapi konsumen belum melihat ada produk atau jasa dari perusahaan lain yang lebih baik dari yang Anda miliki.

Maka mau tidak mau Anda harus mulai mengubah paradigma Anda sendiri. Jangan pernah berfikir ada konsumen yang loyal, Andalah yang harus loyal pada konsumen. Komitlah pada kepentingan konsumen, bukan hanya sekedar slogan perusahaan Anda.

Konsumen seringkali tidak mengetahui ada kondisi yang lebih baik dari setiap produk atau jasa. Sebelum Motorola dan Nokia memperkenalkan handphone, setiap konsumen sudah sangat bangga bila memiliki dua saluran telepon tetap di rumah mereka. Sebelum Makro dibuka maka konsumen sudah bangga bila di kota mereka telah ada Matahari atau Hero Department Store. Begitu pula ketika Carrefour, Giant dan Hypermart belum ada, maka konsumen sudah bangga bila ada Makro.

Dulu Centralindo Panca Sakti (masih ingat nama perusahaan ini?) adalah kebanggaan konsumen telepon bergerak sebelum muncul Telkomsel, dan kemudian orang mulai mempertimbangkan kartu Halo, Simpati dan As mereka untuk diganti dengan Esia, Flexi, Fren atau StarOne.

Anda yang tahu teknologi yang berkembang di jenis bisnis Anda. Konsumen mungkin tidak mengetahui, atau andaipun ada yang mengetahui perkembangan teknologi di bisnis Anda, tetap tidak banyak. Maka teruslah ikuti perkembangan teknologi, sistem produksi dan apa saja yang mungkin berkaitan dengan produk dan jasa yang Anda jual. Jangan pernah lupa, kompetitor Anda juga sedang mengikuti setiap perkembangan yang ada.

Percayalah bahwa Anda lebih tahu apa yang dibutuhkan konsumen. Lebih tahu daripada semua lembaga pelaksana survei, bahkan lebih tahu daripada konsumen Anda sendiri. Jangan pernah biarkan siapapun menghalangi Anda untuk memperkenalkan hal-hal baru yang berasal dari perkembangan yang terjadi pada produk atau jasa Anda. Ya, siapapun! Tidak pemerintah, tidak asosiasi bisnis tempat Anda bernaung, bahkan tidak Anda sendiri. Jangan pernah mau dihalangi.

Bila halangan datang dari pemerintah, lakukan negosiasi yang keras dan nyatakan bahwa masyarakat akan mendapatkan produk yang lebih bernilai, lebih bermanfaat dengan harga yang tetap. Pada saat awal, mungkin sebuah teknologi baru akan terlihat berharga tinggi, tetapi kemudian akan terlihat bahwa setiap teknologi baru akan memiliki harga yang lebih rendah daripada teknologi yang sudah obsolete.

Bila halangan datang dari asosiasi, jelaskan bahwa setiap perusahaan yang akan menggunakan teknologi atau sistem produksi baru akan mampu memberikan nilai tambah pada produk atau jasa masing-masing dengan biaya yang lebih murah, sehingga akan lebih banyak orang yang mengkonsumsi produk atau jasa tersebut. Dengan kata lain semua perusahaan akan mendapatkan bagian laba yang lebih besar dibandingkan tidak menggunakan ‘barang’ baru itu.

Bila diri Anda sendiri yang menghalangi, maka menghadaplah ke sebuah cermin, ubah ekspresi Anda menjadi lebih tegas, katakan “Sayalah yang lebih tahu apa yang dibutuhkan konsumen saya”

Teruslah beri yang lebih baik pada konsumen, dari sisi kualitas maupun harga, maka konsumen akan mempersepsi bahwa perusahaan Anda ETDBW. Menangkan kompetisi kali ini.[as]

* Ardian Syam adalah penulis buku bisnis “Kacamata Kuda”. Ia dapat dihubungi di: ardian.syam@gmail.com

APAKAH TULISAN SAYA BAGUS?

Oleh: Eni Kusuma


Jika pertanyaan ini ditujukan pada saya, saya pasti akan mengerenyitkan dahi. Seperti yang telah diutarakan oleh Edy Zaqeus (editor Pembelajar.com dan penulis buku-buku best seller), bahwa yang menilai tulisan kita adalah pembaca dan pembaca ini pun macam-macam. Saat menulis artikel ini pun, saya sempat bertanya pada diri, "Apakah tulisan saya kali ini lebih bagus atau malah tambah 'ancur' dari tulisan saya sebelumnya?"

Relatif, itulah jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan ini. Tergantung siapa yang mengkonsumsi. Dan masih seperti Bung Edy bilang, bahwa semua jenis tulisan mempunyai segmen pembacanya sendiri-sendiri. Seperti halnya masakan. Semua jenis makanan mempunyai segmen konsumen masing-masing. Sushi misalnya, makanan khas dari Jepang ini pun, selezat apa pun tetap tak disukai oleh sebagian orang.

Namun yang pasti, sesuatu yang bermutu akan lebih disukai. Apa pun jenis tulisan kita—baik itu fiksi maupun nonfiksi—akan lebih disukai yang bermutu daripada yang tidak bermutu. Bagaimana kita bisa membedakannya? Sebenarnya ada bedanya kok antara sesuatu yang bermutu dengan sesuatu yang tidak bermutu. Entah itu mainan anak-anak, kaset, makanan, pakaian, dan lain-lain, pun dengan tulisan kita.

Seseorang yang bisa melihat dan menilai tulisan kita adalah tentu yang sudah berkecimpung lama di dunia kepenulisan. Dan umumnya, apa yang mereka bilang bagus, akan bagus pula untuk sebagian orang. Sama halnya ketika seorang "sifu" atau koki—yang sudah tak diragukan lagi kepiawaiannya dalam hal masak-memasak—bilang "enak" pada sebuah masakan. Tentu akan sama juga yang dirasakan oleh sebagian orang yang suka pada jenis makanan itu.

Saya akan mencoba membahas bagaimana melihat "mutu" menurut sudut pandang saya. Sebagai contoh, dalam hal mencuci piring, misalnya. Ini merupakan bagian dari pekerjaan utama saya sebagai pembantu rumah tangga di Hong Kong. Saya akan bangga jika mampu mencuci piring dengan bersih dan lebih cepat dari waktu yang saya targetkan, serta tak satu pun piring yang pecah. Ini adalah kualitas atau mutu dalam mencuci piring ala Eni Kusuma.

Lalu, bila ada seseorang yang bertanya pada saya, apakah dia sudah mencuci piring dengan baik, saya tentu bisa menjawabnya. Karena, saya sudah mempunyai pengalaman lima tahun lebih dalam hal mencuci piring. Jadi, kita tentu bisa menilai sesuatu hal tentunya setelah kita sendiri terjun dan mendalami bidang atau sesuatu hal tersebut.

Saya jadi teringat akan sebuah peristiwa ketika saya bersama teman-teman sepenampungan dulu, di sebuah PJTKI. Saya bersama lima teman sedang mendapat tugas mengiris kecil-kecil kacang panjang untuk dimasak. Ada seorang teman yang suka sekali mengobrol. Dia mencoba mengajak kami mengobrol. Tetapi dia tak mendapat respon seperti yang dia harapkan. Dia pun tak putus asa. Dia mendekati saya dan menawarkan sesuatu, mengajak bincang-bincang sambil memijit saya. Saya menolak, bukan karena saya tak mau dipijit. Tapi saya berpikir, "Apakah pijitannya nanti berkualitas? Sedangkan untuk melakukan pekerjaan mengiris kacang panjang saja dia enggan?" Atau malah bisa-bisa badan saya remuk, salah urat karena pijatan yang tak bermutu itu.

Saya bisa menilai pijitannya yang tak bermutu karena saya lebih tahu dari kebanyakan teman-teman saya. Karena, saya lebih banyak membaca dan menganalisis daripada teman-teman saya itu. Jadi di sini, untuk dapat meraih sesuatu yang bermutu dan bahkan dapat menilai sesuatu itu bermutu atau tidak, kita harus rajin-rajin belajar dan latihan. Jika kita bisa melakukan pekerjaan yang ringan dengan baik, tentu akan dapat melakukan pekerjaan yang lebih sulit dengan baik pula alias bermutu.

Tak mungkin orang yang bisa melakukan dengan baik pekerjaan yang lebih berat tanpa melakukan dengan baik pekerjaan yang lebih ringan. Karena segala sesuatu itu ada prosesnya. Dan dalam mendaki tangga pun, kita harus mendaki dari bawah dulu dengan baik.

Jadi, mulai sekarang apa pun yang Anda kerjakan, pastikan soal kualitas atau mutunya. Karena, mutu yang baik pasti lebih disukai. Sebaliknya, mutu yang jelek pasti dihindari.[ek] * Eni Kusuma adalah alumnus SMU 1 Banyuwangi yang saat ini bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga (TKW) di Hongkong. Di sela-sela “kesibukannya” sebagai “pemburu devisa”, ia masih sempat aktif sebagai moderator milis Backhomers, serta jadi “aktivis” di milis De Kossta dan milis Penulis Best Seller. Eni adalah penggagas rubrik "So What Gitu Loh!" di majalah “PEDULI” yang terbit di Hongkong. Eni suka menulis cerpen, puisi, dan pernah menulis sebuah naskah novel. Puisi Eni bersama 100 penyair Indonesia dibukukan dalam buku berjudul "Jogja 5,9 Skala Richter". Eni suka menulis artikel yang ditulis berdasarkan pengalaman hidupnya sebagai pembantu rumah tangga, serta proses pembelajarannya melalui bahasa tulisan. Saat ini, kumpulan artikel motivasi Eni sedang diproses menjadi sebuah buku oleh sebuah penerbit di Jakarta. Eni dapat dihubungi di: ek_virgeus@yahoo.co.id.

Sudah Penuhkah Gelas Saya?

Oleh: Indra Cahya

Pada suatu hari, seorang dosen hendak bertanya pada murid-muridnya. Ia membawa sebuah gelas besar sebagai alat peraga untuk membantunya menyampaikan maksudnya. Dosen itu kemudian mengisi gelas besar itu dengan batu-batu yang agak besar, sehingga mencapai tinggi mulut gelas tersebut. Bertanyalah ia pada murid-muridnya, “Sudah penuhkah gelas saya?” “Sudah!” jawab murid-muridnya lantang.

Tetapi kemudian, ia mengambil batu-batu kerikil yang kecil, dan kembali ia tuangkan ke dalam gelas tadi. Batu-batu kerikil itu mengisi rongga-rongga yang dibuat oleh batu-batu besar tersebut. Sekali lagi dosen itu bertanya pada murid-muridnya,”Sudah penuhkah gelas saya?” Sekali lagi, murid-murid tersebut menjawab, ”Sudah penuh!”

Kemudian dosen tersebut menjawab dengan perlahan-lahan mengisikan pasir ke dalam gelas tersebut, dan pasir tersebut mengisi rongga-rongga yang masih ditinggalkan oleh batu besar dan kerikil. Sehingga terlihat lebih penuhlah gelas tersebut. Sekali lagi ia bertanya, ”Sudah penuhkah gelas saya?” Murid-murid hanya bisa tertegun kaget, tidak menyangka gelas tersebut akan diisikan oleh pasir. Lagi-lagi mereka menjawab dengan penuh keyakinan, ”Sudah! Kali ini pasti sudah penuh.”

Kemudian, si dosen mengambil segelas air, dan menuangkannya ke dalam gelas yang telah berisi batu besar, kerikil, dan pasir. Air mengalir perlahan, mengisi kekosongan yang ditinggalkan bahkan oleh pasir sekalipun. Tertegunlah murid-murid, rupanya gelas baru penuh setelah diisikan air.

Dahulukan Batu Besar
”Gelas ini adalah hidup kita,” kata si dosen menjelaskan. ”Batu-batu besar tersebut, adalah hal-hal yang kita anggap paling penting dalam hidup kita ini. Batu-batu ini akan memerlukan perhatian ekstra, prioritas ekstra, dan tenaga ekstra. Maka kita harus mendahulukan batu-batu besar tersebut dalam hidup kita ini,” sambung si dosen. ”Jikalau kita meletakkan batu kerikil atau pasir terlebih dahulu dalam gelas kita, maka tidak akan ada tempat yang tersisa dalam gelas ini, dan selamanya batu besar itu akan berada di luar gelas(hidup) kita ini,” katanya lagi.

Apakah yang dimaksud dengan batu besar itu? Keluarga adalah contoh yang paling baik. Orang-orang yang kita cintai dalam hidup kita. Janganlah mendahulukan pekerjaan, hobi, ataupun uang daripada mereka. Selamanya, keluarga kita akan berada di luar gelas kehidupan kita. Sudah sering terjadi contoh kasus nyata, seberapapun suksesnya kita, akan menjadi kekosongan dan kehampaan belaka, bila keluarga kita berantakan, bila kita tidak pernah punya waktu untuk bersama-sama dengan mereka. Justru, bagi orang-orang sukses yang telah memiliki harta segudang, kebahagiaan terbesar adalah saat mereka bisa kembali rukun dan hidup bahagia bersama orang-orang yang paling mereka cintai.

Rongga-rongga dalam Gelas
Sering kali, kita sudah merasa gelas kita sudah penuh, tetapi sesungguhnya gelas tersebut masih mempunyai banyak rongga kosong yang bisa kita isi. Sama seperti waktu dalam kehidupan kita. Seringkali kita merasa jadwal kita sudah penuh, dan tidak bisa diisi apa-apa lagi. Keadaan seperti itu sama seperti keadaan gelas yang baru diisi dengan batu besar dan kerikil. Kita tidak memanfaatkan kekosongan ruang (rongga) yang terbentuk oleh batu besar dan kerikil untuk mengisinya dengan pasir dan air.

Dengan mengabaikan rongga-rongga itu, kita telah membuang banyak kesempatan dan hal-hal lain yang sebenarnya masih bisa kita lakukan di antara hal-hal penting dan utama dalam keseharian kita. Kita tidak memanfaatkan gelas tersebut secara maksimal.

Hal yang nyata mungkin bisa dijadikan contoh, adalah seseorang yang terlalu malas untuk mengembangkan dirinya selagi ia memiliki banyak waktu luang. Katakanlah, seseorang yang masih kuliah. Ia belajar dengan baik dan selalu menyempatkan waktu untuk keluarga. Ia melakukan hal yang benar dengan menempatkan batu-batu besar dan kerikil terlebih dahulu. Tetapi, bagaimana dengan rongga-rongganya ? Sebetulnya ia masih bisa mengisi waktu yang ia punya dengan kegiatan yang lebih positif, ia bisa mengajar, ia bisa ikut kegiatan ekstra-kurikuler, ia bisa mengembangkan diri, belajar lagi, dan segudang hal positif lain yang bisa ia lakukan. Tetapi, ia tidak mau mengisi rongga-rongga tersebut, entah karena ia memang tidak mampu melihat rongga-rongganya, ataukah karena kemalasan semata. Setelah beberapa tahun berlalu, ia mungkin baru akan menyadari hal tersebut, dan yang tersisa hanyalah penyesalan semata.

Selagi masih ada waktu dan kesempatan, seberapa kecil pun itu ataupun kita pikir sudah terlambat, cobalah untuk terus mengisi gelas kehidupan kita sampai penuh. Cobalah lihat kembali jadwal rutinitas kita, hal-hal apakah yang sesungguhnya masih kurang dari kita, dan yang ingin kita lakukan, untuk membuat hidup kita ini ’penuh’.

Ingatlah, kesuksesan yang sesungguhnya, hanya bila kita mampu meletakkan batu besar, kerikil, pasir, dan air dalam gelas kehidupan kita dalam urutan yang benar, dan sampai ’penuh’.

"I don't want to get to the end of my life and find that I have just lived the length of it. I want to have lived the width of it as well."
~ Diane Ackerman

* Indra Cahya adalah Management Development Trainee untuk sebuah bank swasta nasional terkemuka (saat ini) dan Vice President Bina Nusantara English Club masa bakti 2005/2006. ia dapat dihubungi di: indra.cahya@gmail.com

Ternyata Anda Bisa Lebih Kaya Dibanding Bill Gate!

Oleh: Hari Subagya


Alkisah seorang lelaki muda merasa hidupnya terpuruk. Rumah tidak punya, kekasih tidak punya, dan hanya memiliki pekerjaan yang tidak mentereng. Dia seorang penjaga toko di sebuah desa yang juga tidak terlalu rame. Gubug reot yang ia tinggali di tepian sungai, juga terlihat kumuh dan tak terurus. Karena sang pemuda ini sedang jatuh cinta, dan ternyata perasaan cintanya mendapat balasan yang menyakitkan, maka baru muncul keinginannya untuk menjadi sukses. Menjadi seorang yang kaya dan bisa membeli apa pun yang diinginkanya.

Sang pemuda melamun di tepian sungai dekat rumahnya. Malam yang gelap gulita tidak digubrisnya. Ia terus melamun dan melamun, berdoa dan berharap agar bisa menjadi orang yang kaya. Ingin memiliki istri yang cantik dan keluarga yang berkecukupan. Gedebug! Seorang lelaki hitam legam mengejutkan lamunanya. "Hahahahaha! Apa yang engkau inginkan pasti bisa terlaksana, asal aku boleh membeli harta yang tidak berharga dan tidak ada manfaatnya darimu.."

Sang pemuda terheran-heran dan kaget. "Apa yang kamu inginkan? Aku tidak memiliki apa-apa..."

"Aku akan membayar berapa pun harga yang kau mau, bila kau mengijinkan untuk menjual bayanganmu."

"Bayangan?" Si Pemuda terheran-heran. Kalau hanya bayangan, sepertinya tidak masalah, pikir sang pemuda. Maka segera saja menyanggupinya. Lelaki besar hitam itu pun mengeluarkan uang berkarung-karung sampai penuh seisi rumah si pemuda. Bahkan berapa pun yang pemuda itu minta akan dipenuhi.

Diambilnya gunting dan mulai dipotongnya bayangan si pemuda. Sekarang sang pemuda menjadi manusia terkaya di kotanya, namun tidak memiliki bayangan. Pertama-tama tidak menjadi masalah, namun lambat laun mulai bermunculan masalah. Banyak orang mulai mengetahui kalau Sang Pemuda yang kaya raya ini tidak memiliki bayangan. Orang mulai menjauhinya, orang mulai mengucilkanya.

Singkat cerita, sang pemuda mulai menyesali keputusanya yang gegabah. Dia menyesal dan mulai mencari lelaki hitam yang membeli bayangannya. Sang pemuda ingin mengembalikan seluruh hartanya asal lelaki hitam itu mau mengembalikan bayanganya.

****

Bayangan yang tampaknya tidak berharga, ternyata bisa menjadi sangat memiliki nilai. Dan itu baru disadari setelah ketiadaanya. Apakah Anda juga pernah merasakan sesuatu menjadi sangat berharga ketika sesuatu itu hilang dari hadapan Anda? Pembantu mungkin? Bawahan anda mungkin? Tukang sampah di komplek anda mungkin? Coba mulai anda renungkan dan ingat kembali. Mereka itupun "harta" milik Anda.

Saat ini, coba kembali anda hitung harta milik anda yang mungkin sering anda lewatkan. Mari kita mulai menginventarisir "harta" kita: rumah, villa, mobil, motor, sepeda, komputer, AC, furniture, kebun, ruko, pakaian, handphone, perusahaan. Coba ingat kembali! Apa ada yang terlewat? Berapa total aset anda? Rp400 juta? 500 Juta? 1 Miliar?

Kalau begitu tentu anda sangat miskin dibanding Pak Harto, Abdul Latief, Abu Rizal Bakrie. Ayo hitung kembali asset anda, siapa tahu masih ada yang tertinggal? Bagaimana? Masih ada? Baik mari kita teliti lagi harta kita. Istri atau suami, anak-anak, saudara, teman, tetangga. Ya boleh itu juga bisa menjadi asset kita. Ada lagi?

OK! Sekarang saatnya kita menghitung harta yang satu ini.

Berapa harga satu jari anda? Berapa bila satu jari anda dipotong? Berapa harga Satu tangan anda? Dua tangan?... Berapa harga satu mata anda? Boleh satu miliar? Rp10 miliar untuk kedua mata anda? Nah... sekarang, berapa harga ginjal anda? berapa harga jantung anda? Harga hati anda? harga usus anda? harga kaki anda? harga lidah anda?

Berapa akan anda jual lidah anda? Boleh satu miliar? Apakah anda akan menjual jantung anda dengan Rp10 miliar? Berapa harga kehidupan anda? Apakah masih ada yang terlewat? Temukan dan beri label harga semua organ tubuh yang anda miliki. WOW! Ternyata Anda seorang jutawan, ohhhh bukan! Bahkan anda seorang miliarder!

Tunggu! Ternyata belum selesai Anda menginventarisir harta anda. Ayo lebih cermat lagi! Bagaimana dengan kenikmatan anda melihat mentari pagi? Berapa anda akan hargai hal ini? Apakah Boleh dibeli satu miliar, dan anda mulai tidak bisa menikmati mentari pagi? Bagaimana dengan kenikmatan menikmati gemericik air atau deburan ombak? Bisa menikmati rintik hujan dan kehangatan secangkir kopi? Berapa harga kenikmatan aroma bau rumput dan tetumbuhan yang bisa anda hirup dipagi hari yang segar dan indah?

Anda pasti belum bisa selesai mencatat limpahan karunia Tuhan yang anda terima. Anda pasti belum bisa selesai menuiliskan apa saja yang bisa anda nikmati dalam hidup ini, bila saya berikan waktu hingga minggu depan? Bagaimana? Anda ingin membuat listingnya. Ok Anda boleh kirim ke advice@bisnispartner.com Listing anda akan memperkaya atau memperpanjang deretan "aset" saya juga.

Bagaimana dengan fasilitas yang anda nikmati saat ini. Air minum yang tersedia di kedalaman tanah, angin yang bergerak meniupkan berbagai macam kandungan, udara yang kita hidup, proses detoksinasi saat kita tertidur pulas, rasa ngantuk, rasa lelah dan proses pulihnya kelelahan dengan istirahat., menempelnya diri kita dikulit bumi, tumbuhnya rambut di kepala dan tumbuhnya rambut di alis yang dengan terbatas. Keluarnya cairan keringat saat kita berlari dan juga munculnya rasa haus untuk menjaga agar kita tidak dehidrasi. Barapa anda beri harga?

Oh!!! Wow! Anda benar-benar seorang milyader! Berapa uang yang akan anda terima bila semua itu bisa anda jual secara ketengan pada lelaki hitam pembeli bayangan? Sang pemuda yang terlanjur menjual bayangannyapun menyesal dan mengembalikan seluruh hartanya pada lelaki hitam. Bayangan yang seakan tidak berharga itupun, ternyata sangat berharga buat kehidupanya. Rumah mewah dan uang banyak, tidak memiliki arti apa-apa bila dibanding dengan sebuah bayangan diri.

Bukankah bayangan itu tidak memiliki fungsi apapun? Tanpa bayangan, tentu akan melihat Anda sebagai makluk aneh dan anda akan dikucilkan. Menjadi kayaraya dengan jalan yang tidak benar, juga akan membuat anda seperti manusia tanpa bayangan. Anda akan dikucilkan dan harta anda tidak akan memiliki arti apapun. Karena tanpa "bayangan" anda bukan manusia!

Saat ini di penjara Nusa Kambangan, telah bermukim "manusia-manusia tanpa bayangan". Berlimpah harta, namun kurang bisa dinikmati. Hartanya tidak bisa menghapus kegelisahanya atas kehilangan "bayangan".

"Bayanganlah" yang membuat jatidiri kita sebagai manusia. Bukan kekayaan yang berlimpah. Anda boleh memiliki apa pun: mobil, rumah megah, pesawat pribadi dan jenis harta lainya, namun tanpa "bayangan" anda bukanlah manusia. Tanpa "bayangan" anda tidak layak disebut manusia. Jadi apa pun pencapaian anda, jati diri anda sebagai manusia harus tetap dijaga.

Saya begitu prihatin dengan kondisi dunia saat ini yang tata pergaulanya sangat rentan dengan perselisihan dan pertengkaran, saling curiga dan peperangan. Apa yang mereka perebutkan? Mereka beperang memperebutkan kekuasaan, harta, kelompok, gengsi, pamor, kedudukan, namun mereka melupakan "Bayangannya" yang akan terpotong, sehingga hilang jati dirinya sebagai manusia mulia.

Sahabatku semua pengunjung pembelajar.com, sekarang saatnya kita kembali menghitung "kekayaan" yang kita miliki. Ayo hitung dan hargai semuai kekayaan dan fasilitas yang bisa anda nikmati dalam hidup ini. Ternyata kita hanya sedikit lebih miskin dibanding Bill Gate, atau bahkan kita bisa lebih kaya dari Bill Gate, karena kita pandai menghargai karunia-karuniaNya, karena kita lebih pandai menghitung "aset-aset" kita.

Sahabat, saatnya kita menghitung terus "aset-aset" kita yang tidak bisa dibeli oleh uang. Saatnya kita mulai membangun harapan menjalani hidup lebih baik, meluruskan jalan yang kita telah tetapkan. Membangun optimisme dan persabatan sekaligus memiliki kekuatan untuk tidak menjual "bayangan" kita dengan harga berapapun, apalagi dengan harga yang murah.

* Hari Subagya adalah Founder BisnisPartner.com

IMPIAN SAYA: JUALAN BUKU DI SEMUA TEMPAT

Oleh: Dodi Mawardi

Suatu hari di bulan Januari 2005, saya mendapatkan email yang mengejutkan sekaligus menggembirakan. Pengirimnya, Geonardjoadi Goenawan seorang pengusaha rekaman instant Talnet Box. Dalam emailnya, dia meminta saya mengedit (tepatnya merombak) tulisannya yang dia kirim ke Elex Media. Saya terima permintaan itu, dan sampai sekarang sudah tujuh buku Goenardjoadi yang saya editori, lima di antaranya sudah terbit. Rangkaian peristiwa itu menjadi moment awal saya memasuki dunia buku, dunia yang sebelumnya hanya ada di angan-angan.

Saya memang hobi menulis, tapi hobi itu sempat tenggelam selepas kuliah dan mulai bekerja di radio. Keinginan untuk menulis dan membuat buku, hanya ada di awing-awang yang seolah sangat jauh untuk dicapai. Email Pak Goen itulah, yang menjadi awal pijakan saya menerjuni dunia buku. Mulai dari mengedit, menulis sendiri, menulis bareng sampai menerbitkan dan menjual sendiri bukunya.

Setelah lebih jauh mengetahui seluk beluk dunia buku, saya makin tertantang untuk melakukan langkah-langkah yang belum dilakukan orang lain. Saya lihat, buku hanya dijajakan di toko buku, baik toko buku modern maupun tradisional. Tapi judulnya tetap toko buku. Kalau ada yang bukan toko buku adalah lapak-lapak pusat penjualan buku seperti di kawasan Senen Jakarta Pusat. Akibatnya, buku hanya bisa dijangkau oleh kalangan tertentu. Kalangan yang melek buku, kalangan menengah terus sampai atas. Lah, lalu bagaimana kalangan bawah? Apakah mereka tidak boleh membaca buku?

Betul, budaya membaca memang belum oke di negeri ini, apalagi di kelas bawah. Buat mereka makan dan merokok jauh lebih penting ketimbang berbelanja buku. Tapi kondisi itu jelas bukan kesalahan mereka sendiri. Sistem yang berjalan ikut menyumbang terbentuknya budaya semacam itu. Percuma kita berkoar-koar agar masyarakat lebih giat membaca buku, tapi buku hanya tersebar di toko buku. Kalaupun ada perpustakaan, jumlahnya amat sangat sedikit dan baru menjangkau masyarakat tertentu. Lagi-lagi masyarakat tertentu yang dijangkau, sedangkan kelas masyarakat lainnya tidak.

Nah, muncullah ide untuk memasarkan buku bukan hanya di took buku. Intinya, buku harus menyebar melalui saluran yang lebih banyak dan menyentuh kalangan yang leih luas. Kenapa buku tidak dijajakan sekalian dengan koran? Pengecer koran bisa masuk ke wilayah yang lebih luas. Mereka ada di perempatan lampu merah, ada di stasiun kereta api, di perempatan jalan, di atas bus kota, dll. Kenapa buku tidak bisa menyebar ke sana? Pasti banyak alasan yang mengemuka dari para pakar perbukuan. Inilah… itulah… intinya, buku tidak bisa disamakan dengan koran atau majalah.

Akhirnya daripada saya juga berkoar-koar, pada Agustus lalu, saya meluncurkan sebuah buku, yang dilabeli embel-embel “hanya dijual di atas KRL”. Ya… buku ini hanya bisa Anda peroleh di atas gerbong-gerbong Kereta Rel/Rangkaian Listrik. Anda tidak akan bisa menemukan buku ini di Gramedia, Gunung Agung, Utama, Kharisma dll. Buku yang berjudul 1001 Cerita Seru di KRL Dari fisiknya, tentu buku ini tidak layak dibandingkan dengan buku-buku top keluaran penerbit kawakan. Buku ini sangat tipis, hanya 50 halaman dengan biaya cetak yang minimal dan harga jual yang minimal pula (tapi bentuknya tetap buku). Ingat, kami menjualnya di atas KRL yang penumpangnya adalah kalangan masyarakat menengah bawah. Syukur, ternyata dari ratusan ribu penumpang yang tiap hari hilir mudik di Jabotabek, 1.500 di antaranya sejauh ini mau membeli buku tersebut. Saya menyebutnya sebagai buku hasil Low Cost Publishing!. Tidak mau kalah dengan maraknya LCC (Low Cost Carrier).

Berdasarkan hasil buku KRL tersebut (saya menganggapnya sebagai proyek sukses, meski secara materi masih rugi), beberapa proyek lain akan segera menyusul. Tetap mengusung tema, menjual buku tidak harus di toko buku. Orang Indonesia yang datang ke toko buku sangat terbatas, sedangkan mereka yang berhak mendapatkan pengetahuan melalui buku, masih terlalu banyak di luar toko buku.

Salah satu yang akan segera meluncur adalah berjualan buku seperti berdagang koran atau air minum dalam kemasan, dari sebuah bis ke bis yang lain, di terminal bis, di perempatan jalan dll. Seperti buku KRL, sebagai penerbit, saya harus mencari tema yang cocok, agar buku tersebut diserap pasar. Percuma melemparkan buku dengan cara ala pengasong, bila tema bukunya tidak sesuai dengan pasar yang dituju. Mungkin ke depan, akan berhasil tapi masih perlu waktu yang sangat panjang.

Lalu, pada pertengahan 2007 mendatang, saya pun sudah mengincar moment penting sepakbola sebagai pasar yang potensial, yaitu perhelatan Piala Asia. Indonesia mendapatkan kehormatan sebagai tuan rumah pembukaan, partai penyisihan dan final. Dalam ajang semacam ini, pasti ribuan bahkan puluhan ribu orang akan berbondong-bondong mendatangi stadion. Ini pasar yang sangat potensial, sama seperti potensi pasar di KRL Jabotabek yang angkanya mencapai ratusan ribu orang. Sebuah tema sudah dipersiapkan untuk menyongsong pesta tersebut.

Masih banyak celah pasar yang bisa dimanfaatkan untuk mendobrak hegemoni toko buku dalam memasarkan sebuah buku. Sekarang mungkin harus memilah-milah tema sesuai pasarnya, tapi saya yakin ke depan, pemasaran buku akan lebih luas lagi ketimbang saat ini. Beberapa pihak malah sudah mulai dengan cara pemasaran langsung ala MLM. Semua layak dicoba, yang penting tujuannya bukan hanya mengeruk keuntungan tapi juga memperluas budaya membaca, memberikan kesempatan semua kalangan mendapatkan ilmu melalui buku, yang ujung-ujungnya akan ikut mencerdaskan bangsa ini.

Saya yakin dengan izin Yang Maha Kuasa, semua impian tersebut bakal terwujud. Tentu dengan bantuan Anda semua…[dm]

* Dodi Mawardi adalah seorang jurnalis, penulis dan editor sejumlah buku, praktisi self-publishing, produser radio Pas FM, dan saat ini juga menjabat sebagai direktur sebuah rumah produksi. Ia dapat dihubungi di +62.815.823 7831 atau email: dmawardi2000@yahoo.com

MESTAPON (SEMESTA MERESPON)

Oleh: Eni Kusuma

"Setiap prilaku manusia akan direspon oleh alam semesta, entah itu didukung (Mestakung=Semesta Mendukung) atau ditolak (Mestalak=Semesta Menolak). Sedangkan alam semesta bergerak menuju keseimbangannya."
~ Eni Kusuma

* Mestakung dipopulerkan pertama kali oleh Prof. Yohanes Surya, yang telah membawa nama Indonesia menjadi juara dunia Olimpiade Fisika Internasional di Singapura tahun 2006. Sebuah prestasi yang spektakuler.

* Mestakung, istilah ini diambil dari konsep sederhana fisika, bahwa ketika sesuatu berada dalam kondisi kritis maka setiap partikel disekelilingnya akan bekerja serentak demi mencapai titik ideal.

"Mestakung menempatkan masalah dan rintangan menjadi kondisi kritis yang mendorong kekuatan-kekuatan alam mendukung upaya mewujudkan mimpi. Dalam setiap keadaan kritis, mestakung pasti terjadi dimanapun dan dalam bidang apapun. Bahkan dalam kehidupan pribadi Anda."
~ Prof. Yohanes Surya

Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut, terlebih dahulu saya akan menguraikan tentang "keseimbangan" atau "titik ideal".

Dalam hal apa pun dan dalam keadaan bagaimanapun, keseimbangan atau titik ideal menjadi simbol bagi kesempurnaan dan kesuksesan. Alam semesta diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan sempurna atau seimbang. Seluruh gerakan orbital bintang-bintang dan planet-planet bergerak menurut orbitnya masing-masing dengan seimbang. Dan seluruh partikel-partikel atom, molekul di alam semesta bergerak menuju keseimbangan. Jika ada "masalah" atau menurut istilah fisika yang saya dapat dari Prof. Yohanes Surya adalah "kondisi kritis", maka ia akan mencari cara menuju keseimbangan atau titik ideal. Begitu juga dengan manusia sebagai individu atau sebagai kelompok/masyarakat.

Sebagai contoh keseimbangan alam adalah dalam proses bergeraknya air. Air dari dataran tinggi akan mengalir ke dataran rendah menuju ke laut. Menuju keseimbangan. Demikian juga dengan lumpur panas Lapindo yang muncrat dari perut bumi karena mengalami "masalah". Pada saat dalam kondisi kritis itulah ia akan mencari jalan untuk menuju keseimbangan. Tak ayal lagi, pemukiman penduduk yang terletak di dataran lebih rendah dari lokasi kejadian pun terendam lumpur panas tersebut. Sampai kapankah muncratan lumpur panas tersebut akan berakhir? Pastilah ketika keseimbangan atau titik ideal tercapai.

Manusia misalnya. Jika kita berada dalam masalah—dalam hal ini mengalami kondisi panas yang berlebihan atau kondisi kritis—tentu kita akan mencari kesejukan, menuju keseimbangan. Misalnya, entah itu dengan membuka baju (ini hanya jika memungkinkan saja), menghidupkan kipas angin, AC, atau dengan berteduh di bawah pohon yang rindang dengan angin sepoi-sepoi sambil minum sesuatu yang dingin, es cendol misalnya.

Sebaliknya, jika kita berada dalam kondisi dingin yang berlebihan (kondisi kritis) tentulah kita akan mencari kehangatan, menuju keseimbangan. Entah itu dengan selimut, jaket, penghangat ruangan sambil minum sesuatu yang hangat-hangat, seperti minuman teh, susu atau coklat hangat. Atau melakukan aktivitas yang bisa menghangatkan badan seperti olah raga atau aktivitas kehangatan yang lain yang enggan saya ceritakan di sini.

Begitu juga dengan kondisi badan kita. Jika aktivitas kita antara istirahat dan bekerja tidak seimbang, maka tubuh kita akan dalam kondisi kritis alias sakit. Pada saat itulah pasti kita akan mencari cara untuk menyeimbangkan kembali atau menuju titik ideal. Dengan ke dokter, minum obat dan istirahat. Atau dengan banyak-banyak istirahat sampai tubuh mencapai titik ideal dengan sendirinya.

Kondisi jiwa kita juga demikian. Kondisi jiwa yang ideal disimbolkan oleh ketenangan, ketentraman dan kedamaian. Jika jiwa kita dalam kondisi marah, kecewa, dendam, dan berbagai emosi yang jauh dari rasa damai maka di saat itulah jiwa kita dalam kondisi kritis atau kondisi bermasalah. Apa yang akan terjadi? Kita cenderung mencari jalan untuk menetralkan kembali alias menyeimbangkan kembali. Dan tak jarang manusia dalam mencari jalan tersebut bukannya menuju titik ideal malah semakin memperparah keadaan. Seperti melampiaskannya kepada sesuatu atau kepada seseorang. Hal inilah yang harus disadari. Hendaknya jalan untuk menuju keseimbangan tersebut dengan mengontrol dan mengendalikan diri dengan akal dan keterbukaan hati.

Demikian juga ketika kita dihadapkan oleh berbagai macam masalah (kondisi kritis), pastilah kita tentu akan berusaha mencari jalan dalam penyelesaiannya.

Sampai disini, saya akan menjelaskan hubungan antara prilaku manusia dengan respon dari alam semesta—entah itu didukung atau ditolak oleh semesta.

Apa pun yang kita lakukan pastilah akan mendapat respon dari lingkungan tempat kita berinteraksi. Contohnya, jika seseorang dalam kondisi kritis secara finansial atau ada masalah dengan kondisi keuangannya, maka ia akan mencari jalan untuk memperoleh keseimbangan dalam hal finansialnya.

Katakanlah jalan yang dia tempuh dengan berjualan di pinggir jalan. Yang pasti ia akan mendapat respon dari sekitar. Entah itu dari pejalan kaki yang ingin membeli dagangannya, dari pengunjung yang hanya melihat-lihat saja tanpa berniat untuk membeli ataupun dari orang-orang yang tak sedetik pun melirik dagangannya. Bahkan dari petugas penertiban jalan raya. Ada yang mendukung usahanya (Mestakung) dan ada pula yang menolak (Mestalak).

Kenapa sih kok ada Mestalak? Karena usaha yang dilakukan oleh kita mungkin bersinggungan oleh kepentingan orang lain. Misalnya, oleh pengunjung yang tidak membeli barang dagangannya, karena berbeda kepentingannya, atau dengan diusirnya pedagang tadi oleh petugas penertiban jalan raya yang dalam usahanya untuk menertibkan atau menginginkan jalan raya dalam kondisi ideal. Bersih dari pedagang kaki lima.

Jika sudah disediakan tempat untuk berjualan, namun masih ada saja pedagang-pedagang liar yang melakukan aksinya yang tidak mendukung perintah petugas penertiban jalan raya (di sini petugas tersebut mengalami mestalak juga dari para pedagang-pedagang liar itu), tentulah kondisi masyarakat tersebut sudah dalam kondisi yang kritis atau ada masalah. Karena semua mencari jalan untuk menyeimbangkan kondisinya masing-masing, tidak peduli apakah kepentingannya berbentrokan dengan kepentingan orang lain yang menggunakan jalan raya tersebut.

Sampai kapankah kondisi ini akan berakhir? Tentu saja sampai tercapai keseimbangan atau tercapai titik ideal. Yaitu, jika semua masyarakat di suatu wilayah tersebut telah mencapai keseimbangan dalam berbagai hal. Secara finansial dan kepribadian. Mungkinkah kita akan bisa mencapai titik ideal tersebut?

Sayangnya, manusia itu tidak seperti semut yang selalu bekerja sama untuk mencapai keseimbangan atau titik ideal bagi warganya. Masih ada yang egois, possesive dan serakah serta tidak mau berbagi. Penyeimbangnya adalah manusia-manusia dengan pribadi-pribadi yang tidak egois, tidak posesive, tidak serakah serta mau berbagi dengan segala daya upaya dan usahanya untuk menyeimbangkan kembali tatanan masyarakat yang tidak seimbang itu. Sampai kapankah usaha ini akan berakhir? Sampai kondisi sudah mengalami keseimbangan atau titik ideal. Sayangnya, kondisi ideal masih jauh dari harapan kita yang masih dalam kondisi kritis dan semrawut ini. Entah sampai kapan.

PR berat bagi orang-orang yang mengupayakan keseimbangan ini. Karena masih sedikit masyarakat yang mendukung orang-orang tersebut. Buktinya, media-media lebih suka menyajikan hal-hal yang tidak membangun. Lebih senang dan lebih mengutamakan berita-berita tentang suatu aib yang dilakukan seseorang. Entah itu korupsi, perselingkuhan dan lain-lain. Dan sepertinya tokoh-tokoh itu lebih terkenal dan populer daripada tokoh-tokoh yang mendukung usaha perbaikan dan keseimbangan. Parahnya aib yang dilakukan oleh mereka itu mendapat opini sana sini yang mencoba membenarkan tindakan mereka. Seperti misalnya, mencoba mencari sisi baik atau sisi positif dari seorang yang sudah terkenal akan aibnya, misalnya seorang koruptor.. Padahal akan butuh energi besar untuk membalikkan kenyataan tersebut supaya dia terbalik menjadi seseorang yang terkenal karena kebaikannya.

Saya sampai bermimpi akan menjumpai media yang berlomba-lomba membicarakan atau mengabarkan (juga) tentang kabar dari orang -orang yang berbuat kebaikan atau bahkan menyajikannya sebagai berita utama atau ditampilkan sebagai kaver depan. Sehingga perbuatan mereka mampu menghipnotis yang lain untuk berbuat yang sama. Ironisnya, kebaikan sepertinya enggan untuk dipublikasikan. Bahkan oleh yang bersangkutan sekalipun. Entahlah, mungkin enggan populer sebagai simbol rasa kerendahatian. Atau saya saja yang tidak mengetahuinya, karena keterbatasan saya?

Demikianlah, apa pun yang kita lakukan pasti akan direspon oleh alam. Jadi didukung atau ditolak itu adalah sebagai reaksi saja dari suatu aksi kita. Maka pandai-pandai kita sajalah dalam memilih aksi yang akan menimbulkan reaksi yang mendukung aksi kita. Jika aksi kita positif cepat atau lambat akan berhasil dan sukses. Sebaliknya jika aksi kita negatif, cepat atau lambat pasti akan hancur karena alam semesta selalu bergerak menuju keseimbangan. Sedangkan keseimbangan adalah kesempurnaan dan kesuksesan atau kebaikan itu sendiri. Jika ada "masalah " pastilah sedang terjadi kondisi kritis. Dan secara alami sesuatu akan selalu mencari dan mencari jalan atau cara untuk mengatasinya demi tercapainya keseimbangan atau kebaikan. Bagaimana pendapat Anda?[ek]

* Eni Kusuma adalah alumnus SMU 1 Banyuwangi yang saat ini bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga (TKW) di Hongkong. Di sela-sela “kesibukannya” sebagai “pemburu devisa”, ia masih sempat aktif sebagai moderator milis Backhomers, serta jadi “aktivis” di milis De Kossta dan milis Penulis Best Seller. Eni adalah penggagas rubrik "So What Gitu Loh!" di majalah “PEDULI” yang terbit di Hongkong. Eni suka menulis cerpen, puisi, dan pernah menulis sebuah naskah novel. Puisi Eni bersama 100 penyair Indonesia dibukukan dalam buku berjudul "Jogja 5,9 Skala Richter". Eni suka menulis artikel yang ditulis berdasarkan pengalaman hidupnya sebagai pembantu rumah tangga, serta proses pembelajarannya melalui bahasa tulisan. Saat ini, kumpulan artikel motivasi Eni sedang diproses menjadi sebuah buku oleh sebuah penerbit di Jakarta. Eni dapat dihubungi di: ek_virgeus@yahoo.co.id

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman