Senin, 22 Agustus 2011

10 Jagoan WWE Dengan Gaji Tertinggi

10 Jagoan WWE Dengan Gaji Tertinggi:

10. Edge
ADV1081 l 10 Jagoan WWE Dengan Gaji Tertinggi
edge mendapat US$ 704,000 per tahun, yang berarti kira kira 6 milyar 500 juta pertahun. sama dengan 544 juta per bulan !


9. Randy Orton
Randy Orton 08 Cropped 10 Jagoan WWE Dengan Gaji Tertinggi
the legend killer, randy orton adalah juara dunia termuda wwe. jumlah gajinya dalam setahun adalah US$711,000 atau sama dengan Rp. 6,601,990,500. dalam sebulan randy orton mendapat 550 juta! ditambah tiket pesawat first class tiap minggunya


8. Batista
ADV1018 l 10 Jagoan WWE Dengan Gaji Tertinggi
batista dalam setahun mendapat gaji US$813,000 atau sama dengan 7milyar 550juta. dalam sebulan batista mendapat 621 juta rupiah! ditambah tiket pesawat first class tiap minggu


7. Kane


kane 10 Jagoan WWE Dengan Gaji Tertinggi
dalam setahun, kane mendapat US$851,000 atau sama dengan 7milyar 900juta yang dalam sebulan mendapat 658 juta ditambah tiket pesawat first class tiap minggu


6. Big Show


big show, atlit terbesar di dunia mendapat gaji US$1,000,000 atau sama dengan 9milyar 285juta pertahun. dalam sebulan, ia mendapatkan 773juta !


5. Kurt Angle
Kurt%20Angle%20003 10 Jagoan WWE Dengan Gaji Tertinggi
kurt angle mendapatkan US$1,023,000 pertahun, sama dengan 9 milyar 500 juta, sebulan ia mendapatkan 791juta ditambah tiket pesawat first class tiap minggu


4. Shawn Michaels
hbk 10 Jagoan WWE Dengan Gaji Tertinggi
mr. wrsetlemania, shawn michaels mendapat gaji US$1,045,000 atau 9milyar 700juta. dalam sebulan ia dapat 808 juta, serta mendapatkan tiket pesawat first class, hotel, dan kendaraan darat.


3. John Cena
ADV1153 l 10 Jagoan WWE Dengan Gaji Tertinggi
john cena mendapatkan gaji US$1,743,000 yang sama dengan 16milyar 184juta !! dalam sebulan mendapatkan 1milyar 348juta serta fasilitas lainnya


2. The Undertaker
ADV1329 l 10 Jagoan WWE Dengan Gaji Tertinggi
mark calaway, yang lebih dikenal sebagai the undertaker adalah superstar wwe bergaji paling tinggi nomor dua di wwe, undertaker mendapat US$1,811,000 atau Rp16,816,000,000. dalam sebulan ia mendapatkan 1milyar 400juta, serta mendapat tiket pesawat first class, hotel gratis dan fasilitas kendaraan darat


1. Triple H
ADV1319 l 10 Jagoan WWE Dengan Gaji Tertinggi
triple h, adalah superstar wwe bergaji paling tinggi dangan jumlah US$2,013,000 sama dengan Rp18,690,000,000. dalam sebulan mendapatkan 1milyar 550juta, serta medapatkan fasilitas sama seperti undertaker. hanya saja triple h mendapat fasilitas menggunakan jet pribadi wwe 10 kali dalam setahun.



 10 Jagoan WWE Dengan Gaji Tertinggi

Makanan Paling Seram Dari Eropa


Mungkin bagi masyarakat dunia, makanan Eropa merupakan salah satu makanan yang paling elegan dan dianggap paling halus serta membuat lidah penikmatnya menari-nari. Tapi mungkin sudah saatnya anda mengubah pikiran, orang Asia yang terkenal paling “berani” untuk urusan makan, mungkin harus mengakui bahwa beberapa makanan Eropa lebih berani, bahkan beberapa bahan makanan di Eropa bakal lebih mengerikan buat kita.


Bahan seperti daging ikan yang digantung begitu saja, atau bahkan beberapa makanan sengaja dibusukkan demi mendapatkan rasa yang lebih kuat. Nah, mungkin biar lebih jelas, kita bahas saja satu persatu


1. Sosis Darah


blood sausageb Makanan Paling Seram Dari Eropa


Sosis yang dikenal dengan nama Black Pudding (kalau diterjemahkan berarti Puding Hitam) di Inggris, Boudin di Perancis dan Blutwurst di Jerman. Sosis ini biasanya dibuat pada saat si hewan dibantai, karena sosis ini terasa lebih enak jika dibuat dengan darah segar yang belum menggumpal.


Hampir tiap daerah atau kota memiliki resep sosis darah tersendiri, tapi pada umumnya, sosis ini terdiri dari darah, lemak, dan (terkadang) daging cacah. Yang jelas, semua jenis sosis darah adalah makanan khas, dan pada umumnya, para pecinta makanan ini menyukainya karena rasa darah yang kuat dari sosis ini. Makanan ini dianggap sangat mudah rusak dan sangat halus, oleh karena itu walaupun dibekukan, setelah beberapa hari, sosis ini sudah dianggap tidak layak lagi dikonsumsi


2. Casu Marzu


casu marzub Makanan Paling Seram Dari Eropa

Jika diterjemahkan apa adanya, Casu Marzu berarti keju busuk. tapi orang lebih banyak mengenal makanan ini sebagai keju belatung. Keju yang secara tradisional dibuat dari susu kambing ini dipenuhi dengan larva serangga, dan karena itu dianggap sebagai makanan paling menjijikkan di dunia.


Keju yang pada awalnya adalah keju Pecorino ini, harus melewati proses fermentasi, dan terus didiamkan sampai berada dalam proses pembusukan. Biasanya larva lalat di letakkan dalam keju ini, dengan tujuan untuk memecahkan kandungan lemak. Larva yang digunakan dalam proses pembusukan ini tampak seperti larva setengah tembus pandang, dengan panjang hampir 1 cm, dan bisa melompat setinggi 30 cm jika diganggu.


Pada saat mengkonsumsi, seringkali larva yang ada dibuang dulu, tapi beberapa orang tidak peduli dan menyantap keju ini bersamaan dengan larva yang ada. Secara hukum, sebenarnya keju ini sudah dilarang beredar, tapi karena rasa yang ditimbulkan, masih saja banyak orang berusaha membuat dan menjualnya dengan diam-diam.


3. Hakari


hakarlb Makanan Paling Seram Dari Eropa


Makanan tradisional Islandia yang dibuat dari daging ikan hiu ini melewati proses fermentasi khusus, dan kemudian digantung begitu saja sampai kering dalam waktu 4 sampai 5 tahun. Walaupun makanan ini banyak sekali ditemui di berbagai toko makanan di Islandia, ternyata banyak sekali orang Islandia sendiri tidak mau mencicipi makanan ini, karena rasanya yang sangat menusuk.


Hakarl dibuat dengan cara membuang isi perut ikan dan memotong kepalanya, kemudian diletakkan dalam lubang pasir yang dangkal dan kemudian ditutupi dengan batu, sehingga cairan tubuh ikan ini akan keluar. Setelah jangka waktu 6-12 minggu, ikan ini kemudian diangkat dari lubang dan digantung sampai kering.


Bau dan rasa Hakarl ini mengandung amoniak yang sangat kuat, jadi memang bisa dibayangkan bahwa Hakarl bukan makanan yang bisa diterima semua orang.


4. Sup Tikus


stew2b Makanan Paling Seram Dari Eropa

Tikus yang dimasak ini tikus khusus yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Dormouse, dan pada masyarakat Romawi kuno, tikus ini dianggap makanan lezat yang biasa dihidangkan dengan dicelup madu dan biji bunga poppy. Bahkan sampai sekarang makanan ini masih juga dikonsumsi masyarakat Slovenia, Kroasia dan Italia.


Di Italia, tikus ini mulai dilindungi undang-undang karena mulai langka. Tapi pada kenyataannya, makanan ini ternyata sangat populer sehingga 20.000 ekor tikus diburu tiap tahunnya dan sekarang tikus jenis ini masuk dalam kategori dilindungi dan mulai dianggap langka


Sebelum dimasak, tikus ini dikuliti, kemudian diletakkan dalam air mengalir selama 24 jam, kemudian di rendam dalam campuran cuka dan air, dicuci lagi, dan barulah kemudian dimasukkan dalam panci untuk dimasak.


5. Criadillas


Criicadillab Makanan Paling Seram Dari Eropa

Kira-kira apa lagi yang satu ini ya? Criadilla adalah nama dari buah zakar baik yang berasal dari Banteng ataupun dari Kambing! Di Amerika, makanan ini dikenal sebagai Prairie Oysters, dan di Kanada sebagai Rocky Mountain Oysters. Di Amerika dan Kanada, olahan yang paling umum adalah dengan melumuri bahan ini dengan tepung atau adonan tepung, dan digoreng dalam minyak panas yang banyak. Jangan salah, banyak orang mengaku makanan ini sangat nikmat, sampai akhirnya setelah diberitahu bahwa makanan yang baru mereka barusan nikmati dengan nikmat tadi adalah buah zakar, baru mereka ini bereaksi negatif! Jadi berani coba?



 Makanan Paling Seram Dari Eropa

5 Ritual Kuno dan Aneh dari Bangsa Pagan


Dalam dunia kuno, sebuah Pagan adalah orang yang menyembah dewa-dewa yang baru yang berbeda dengan yang disembah oleh orang-orang Romawi dan Yunani sebelum mereka. Secara khusus, Viking, Anglo-Saxon dan Celtic digolongkan sebagai musyrik dan ritual keagamaan mereka dilihat sebagai aneh, sering kali karena mereka!


1. The Druid Ritual of Oak and Mistletoe

the druid ritual of oak and mistletoe 5 Ritual Kuno dan Aneh dari Bangsa Pagan

Sampai awal pendeta Druid dari Galia dan Britania, pohon ek diadakan sangat penting dalam ritual dan dianggap suci. Demikian juga mistletoe, yang dapat tumbuh di pohon ek, juga memiliki peran penting dalam agama mereka. Menurut penulis sejarah Romawi ‘Pliny the Elder’ menulis pada abad ke-1 Masehi, diyakini bahwa ketika mistletoe jatuh dari pohon ek, itu adalah tanda bahwa pohon telah dipilih oleh dewa mereka.


Pliny menyatakan bahwa pada hari ke-6 bulan, Druid imam mengenakan jubah putih akan menyiapkan sebuah pesta di bawah pohon dan membesarkan ke dua sapi jantan putih. Seorang pendeta akan kemudian memanjat pohon dan memotong cabang mistletoe dengan sabit emas. Lembu jantan putih akan dikorbankan sementara petugas berdoa kepada dewa; yang mistletoe kemudian diberikan kepada ternak dalam suatu minuman yang, diyakini, adalah obat penawar bagi semua racun dan akan membuat binatang baron subur.


02. Anglo-Saxon’s and the Wild Boar


anglo saxon and wild boar 5 Ritual Kuno dan Aneh dari Bangsa Pagan


Celeng adalah simbol yang sangat penting dalam banyak masyarakat pagan dan dikaitkan dengan kedua prajurit dan dewa dan dewi kesuburan. Dalam Anglo-Saxon pesta pertengahan musim dingin, babi hutan liar akan dikorbankan dan sumpah dibuat untuk tahun berikutnya, memberi kami tradisi Resolusi Tahun Baru. Menurut komentator Romawi Tacitus, mereka akan memakai kulit babi hutan menjadi bukan tempur lapis baja, percaya hal itu akan memberi mereka perlindungan “Bunda para dewa ‘dan menjamin prajurit akan takut dalam panasnya pertempuran.


03. The Pagan Origins of Easter


the pagan origins of easter 5 Ritual Kuno dan Aneh dari Bangsa Pagan


Kata ‘Paskah’ pertama kali diusulkan sebagai nama untuk perayaan Kristen kebangkitan Yesus oleh biarawan abad ke-8 St Bede. Ia berasal dari kata Anglo-Saxon ibu dewi musim semi, fajar dan kehidupan baru dan awal, yang disebut Eastre.


Pada hari ekuinoks musim semi, 21 Maret, Anglo-Saxon menggelar festival untuk menghormati Eastre, di mana kelinci digunakan sebagai simbol kesuburan dan telur dicat dengan warna-warna cerah untuk mewakili sinar matahari dibawa oleh kedatangan musim semi. Telur itu kemudian diberikan kepada teman-teman dan keluarga sebagai hadiah, atau digunakan dalam isi telur bergulir.


04. Viking Blood Sacrifice (Blot)


viking blood sacrifice blot2 5 Ritual Kuno dan Aneh dari Bangsa Pagan


Viking pengorbanan darah atau Blot dipraktekkan di berbagai waktu setahun untuk mengucap syukur kepada para dewa atau untuk mencoba dan menyenangkan mereka. Sementara noda itu biasanya dilakukan dengan darah binatang, salah satu menyebutkan hikayat Raja Swedia yang dikorbankan untuk Odin


Ritual akan dilakukan di tempat terbuka dan tidak ada kekerasan yang diizinkan di tempat pertemuan. Binatang akan dikorbankan lebih dari satu mengubah pilled terbuat dari batu dan darah dikumpulkan dalam sebuah mangkuk. Pastor melantunkan lagu-lagu untuk menghormati dewa yang dipuja kemudian melewati mangkuk sekitar api tiga kali sementara membaca kata-kata ajaib. Hal yang sama dilakukan dengan daging binatang sebelum akhirnya, imam memercikkan darah binatang yang dikurbankan pada dirinya sendiri dan semua mengikuti dan menuangkan apa yang tersisa di altar.


05. The Wicker Man


the wicker man 5 Ritual Kuno dan Aneh dari Bangsa Pagan


Mungkin yang paling aneh dan paling terkenal ritual Pagan kuno adalah pengorbanan manusia. Sejarawan perdebatan apakah benar-benar dipraktekkan budaya Pagan korban manusia karena kebanyakan menulis mengenai masalah berasal dari musuh-musuh mereka. Kisah pengorbanan manusia dapat menjadi nyata atau hanya propaganda Yunani dan Romawi yang dirancang untuk mendorong dukungan bagi perang melawan Pagan budaya dari warga kembali ke rumah.


Dalam ‘Komentar mengenai Perang Galia’, Julius Caesar berbicara tentang ritual yang tidak biasa berlatih, menurut dia, oleh Galia pada abad ke-1 SM. Meskipun mengakui bahwa ia tidak melihat ritual dengan mata kepala sendiri, Caesar menyatakan bahwa besar patung berbentuk manusia disebut Wicker Man akan dibangun keluar dari tongkat dan dibakar, dengan orang-orang yang akan dikorbankan untuk para dewa terperangkap di dalamnya. Biasanya penjahat akan digunakan namun jika tidak dapat ditemukan maka orang-orang tak bersalah akan dibakar hidup-hidup sebagai gantinya.




 5 Ritual Kuno dan Aneh dari Bangsa Pagan

Aksesoris Wanita yang Unik


http://www.sentralsolusi.com/wp-content/uploads/2011/08/Knick_knackeries_20.jpg


http://www.sentralsolusi.com/wp-content/uploads/2011/08/Knick_knackeries_19.jpghttp://www.sentralsolusi.com/wp-content/uploads/2011/08/Knick_knackeries_21.jpg


http://www.sentralsolusi.com/wp-content/uploads/2011/08/Knick_knackeries_12.jpghttp://www.sentralsolusi.com/wp-content/uploads/2011/08/Knick_knackeries_14.jpghttp://www.sentralsolusi.com/wp-content/uploads/2011/08/Knick_knackeries_16.jpghttp://www.sentralsolusi.com/wp-content/uploads/2011/08/Knick_knackeries_09.jpghttp://www.sentralsolusi.com/wp-content/uploads/2011/08/Knick_knackeries_11.jpghttp://www.sentralsolusi.com/wp-content/uploads/2011/08/Knick_knackeries_08.jpghttp://www.sentralsolusi.com/wp-content/uploads/2011/08/Knick_knackeries_02.jpghttp://www.sentralsolusi.com/wp-content/uploads/2011/08/Knick_knackeries_05.jpghttp://www.sentralsolusi.com/wp-content/uploads/2011/08/Knick_knackeries_06.jpg





sumber: http://unic77.blogspot.com/2010/09/pernak-pernik-unik-cek-dong-gan.html




 Aksesoris Wanita yang Unik

Sejarah Indonesia Tahun 1965 Yang Terlupakan


Wax%20propaganda%20 %20Communists%20torturing%20and%20killing%20generals%20in%201965 Sejarah Indonesia Tahun 1965 Yang Terlupakan

Ini adalah Makalah Prof. Wertheim yang diterbitkan sebagai suplemen pada majalah ARAH, No. 1 tahun 1990. Makalah Prof. Wertheim ini pernah disampaikan dalam sebuah ceramah pada tanggal 23September 1990 di Amsterdam. berikut artikelnya:


Para hadirin yang terhormat!


Saya minta ijin untuk, sebelum mencoba memberi analisa tentang peristiwa 1965, lebih dahulu menceritakan bagaimana terjadinya bahwa saya, walaupun mata pelajaran saya sosiologi, lama kelamaan mulai merasa diri sebagai pembaca suatu detective story yang cari pemecahan suatu teka-teki.


Dalam tahun 1957 saya bersama isteri saya mengajar sebagai guru besar tamu di Bogor. Saya pernah bertemu dengan ketua PKI Aidit dan beberapa tokoh lain dalam pimpinan partai. Aidit menceritakan tentang kunjungannya ke RRC, baru itu; dari orang lain saya dengar bahwa Mao Zedong bertanya pada Aidit: “Kapan kamu akan mundur ke daerah pedesaan?” Ucapan itu saya masih ingat waktu dalam tahun 1964 saya terima kunjungan di Amsterdam dari tokoh terkemuka lain dari PKI, Nyoto, yang pada waktu itu ada di Eropa untuk menghadiri suatu konperensi di Helsinki. Saya engingatkannya bahwa keadaan di Indonesia pada saat itu mirip sekadarnya kepada keadaan di Tiongkok dalam tahun 1927, sebelum kup Ciang Kaisyek. Pendapat saya ialah bahwa ada bahaya besar bahwa militer di Indonesia juga akan merebut kekuasaan. Saya anjurkan dengan kera s supaya golongan kiri di Indonesia mempersiapkan diri untuk perlawanan dibawah tanah, dan mundur ke udik. Jawaban Nyoto ialah bahwa saat bagi militer untuk dapat rebut kekuasaan sudah terlambat. PKI telah terlalu kuat baik dalam badan perwira maupun dalam badan bawahan tentara dan angkatan militer yang lain.



aidit dn Sejarah Indonesia Tahun 1965 Yang Terlupakan
D.N. Aidit

Saya tidak berhasil meyakinkan Njoto. Pagi 1 Oktober ’65 kami dengar siaran melalui radio tentang formasi Dewan Revolusi di Jakarta. Sahabat saya, Prof. De Haas menelpon saya dan menyatakan: “Itu tentu revolusi kiri!” Saya menjawab: “Awas, menurut saya lebih masuk akal: provokasi!”. Pada tanggal 12 Oktober kami dengar bahwa Jendral Soeharto, yang belum kenal kami namanya, telah berhasil tangkap kekuasaan. De Haas telepon saya lagi, dan mengatakan: “Saya takut mungkin kemarin Anda benar!”


Seminggu sesudahnya saya terima kunjungan dari kepala sementara kedutaan RRC di Den Haag. Ia rupanya memandang saya sebagai ahli politik tentang Indonesia, dan ia hendak mengetahui: “Apa yang sebenarnya situasi politik di Indonesia sekarang?” Jawaban saya ialah: “Tentu Anda sebagai orang Tionghoa dapat mengerti keadaan! Sangat mirip kepada yang terjadi di Tiongkok dalam tahun 1927 waktu Ciang Kaisyek mulai kup kanan dengan tentaranya, dan komunis kalah, di Syanghai, dan lantar di Hankau (Wuhan) dan di Canton (Guangzhou)”. Ia tidak mau setuju. Di bulan Januari tahun 1966 saya terima dari beberapa rekan yang saya kenal, yang mengajar di Cornell Univesity di A.S., suatu ‘Laporan Sementara’ tentang peristiwa September-Oktober di Indonesia. Mereka sangat menyangsikan apakah peristiwa itu benar suatu kup komunis, seperti dikatakan oleh penguasa di Indonesia dan oleh dunia Barat.


Yang terima laporan itu, boleh memakai bahannya (begitu mereka tulis kepada saya), tetapi untuk sementara tanpa menyebut sumbernya, oleh karena mereka masih mencari bahan tambahan, dan meminta reaksi dan informasi lagi. Dengan mempergunakan bahan dari laporan Cornell itu, saya menulis suatu karangan yang dimuat dalam mingguan Belanda “De Groene Amsterdammer” pada tanggal 19 Februari 1966, dengan judul “Indonesia berhaluan kanan” Dalam karangan itu saya tanya: mengapa di dunia Barat sedikit saja perhatian terhadap pembunuhan massal di Indonesia, kalau dibanding dengan tragedi lain di dunia, yang kadang- kadang jauh lebih enteng daripada yang terjadi di Indonesia baru-baru ini? Barangkali alasannya bahwa pandangan umum seolah-olah golongan kiri sendirilah yang bersalah, apakah bukan mereka sendiri yang mengorganisir ku p 30 September dan yang bersalah dalam pembunuhan 6 jendral itu?


Maka dalam karangan itu saya mencoba memberi rekonstruksi peristiwa- peristiwa dan menarik kesimpulan bahwa sedikit sekali bukti tentang golongan PKI bersalah dalam peristiwa itu. Saya juga tambah bahwa cara perbuatan dengan menculik dan membunuhi jenderal tidak mungkin berguna untuk PKI – jadi salah mereka tidak masuk akal. Lagi hampir tidak ada persiapan dari golongan kiri untuk menghadapi situasi yang akan muncul sesudah kup. Dalam karangan itu saya juga menyebut kemiripan kepada peristiwa di Shanghai dalam tahun 1927, yang juga sebenarnya ada kup dari golongan reaksioner. Kesimpulan saya dalam karangan di “Groene Amsterdammer” itu: “Terminologi resmi di Indonesia masih adalah kiri, akan tetapi jurusannya adalah kanan”. Kemudian, dalam bulan Februari tahun ’67, Mingguan Perancis “Le Monde” mengumumkan wawancara dengan saya.


Dalam wawancara saya bertanya: “Mengapa Pono dan Sjam, yang rupanya tokoh penting dalam peristiwa 65 itu, tidak diadili? Dikatakan dalam proses yang telah diadakan, misalnya proses terhadap Obrus Untung, bahwa mereka itu orang komunis yang terkemuka.


Apa yang terjadi dengan mereka itu, khususnya dengan Sjam, yang agaknya seorang provokatir, yang pakai nama palsu?” Mencolok mata bahwa beberapa minggu sesudah wawancaranya itu ada berita dari Indonesia bahwa Sjam, yang namanya sebenarnya Kamaruzzaman, ditangkap. Saya dengar kabar itu di radio Belanda, pagi jam 7. Dikatakan bahwa Sjam itu sebagai seorang Double agent! Saya ingin dengar lagi siaran jam 8 diulangi bahwa Sjam ditangkap, tetapi kali ini TIDAK ditambah bahwa ia double agent! Rupanya dari kedutaan Indonesia ada pesan supaya istilah itu jangan dipakai! Tetapi saya dapat Sinar Harapan dari 13 Maret ’67, dan di sana ada cerita tentang cara Sjam itu ditangkap. Dan judul berita itu: “Apakah Sjam double agent?”


Tetapi sesudahnya di pers Indonesia istilah double agent itu tidak pernah diulangi lagi. Dalam semua proses di mana Sjam muncul sebagai saksi atau terdakwa, Sjam selamanya dilukiskan sebagai seorang komunis yang sejati, yang dekat sekali dengan ketua Aidit. Ia selalu MENGAKU bahwa dia yang memberi semua perintah dalam peristiwa 1 Oktober, tetapi ia selalu tambah bahwa yang sebenanrya memberi perintah itu Aidit yang juga ada pada hari itu di Halim, dan yang sebenarnya menurut Sjam dalang dibelakang segala yang terjadi. Tentu Aidit tidak dapat membela diri dan membantah segala bohong dari Sjam, oleh karena ia dibunuh dalam bulan November 1965 tanpa suatu proses, ditembak mati oleh Kolonel Jasir Hadibroto. Begitu juga pemimpin PKI lain, seperti Njoto dan Lukman, tidak dapat membela diri di pengadilan.


Tentulah segala eksekusi tanpa proses itu membantu Orde Baru dalam menyembunyikan kebenaran. Sudisman diadili, tetapi pembelaannya tidak mendapat kemungkinan untuk mengajukan hal-hal yang melepaskan PKI dari sejumlah tuduhan: ia dipaksa untuk mencoret bagian tentang hal itu dari pleidoinya! Waktu Sjam kedapatan sebagai double agent yang sebagai militer masuk kedalam PKI untuk mengintai, saya mulai menduga pula bahwa Soeharto sendiri mungkin terlibat dalam permainan-munafik. Pada tanggal 8 April 1967 di mingguan “De Nieuwe Linie” dimuat lagi wawancara dengan saya. Dalam wawancara ini saya telah menyebut kemungkinan bahwa “kup” dari 1 Oktober 1965 adalah satu provokasi dari kalangan perwira; dan waktu itu saya telah TAMBAH bahwa Soehartolah yang paling memanfaatkan kejadian-kejadian. Saya mengatakan begitu: “Aneh sekali: kalau semua itu akan terjadi di suatu cerita detektif, segala tanda akan menuju kepada dia, Soeharto, paling sedikit sebagai orang yang sebelumnya telah punya informasi. Misalnya setahun sebelum peristiwa 65, Soeharto turut menghadiri pernikahan Obrus Untung yang diadakan di Kebumen. Untung dahulu menjadi orang bawahan Soeharto di tentara. Lagi, dalam bulan Agustus tahun 65, Soeharto juga bertemu dengan Jenderal Supardjo, di Kalimantan. Dan mereka, Untung dan Supardjo, telah main peranan yang utama dalam komplotan.


Aneh lagi, bahwa Soeharto tidak ditangkap dalam kup, dan malahan KOSTRAD tidak diduduki dan dijaga pasukan yang memberontak, walaupun letaknya di Medan Merdeka dimana banyak gedung diduduki atau dijaga. Semua militer mengetahui bahwa kalau Yani tidak di Jakarta atau sakit, Soehartolah sebagai jenderal senior yang menggantikannya. Aneh juga bahwa Soeharto bertindak secara sangat efisien untuk menginjak pemberontakan, sedangkan grup Untung dan kawannya semua bingung.” Wawancara itu saya akhiri dengan mengatakan: “Tetapi sejarahpun lebih ruwet dan sukar daripada detective-story” .


Begitulah pendapat saya di tahun 1967. Tetapi dalam tahun 1970 terbit buku Arnold Brackman, jurnalis A.S. yang sangat reaksioner; judulnya “The Communist Collapse in Indonesia”. Di halaman 100 Brackman menceritakan isi suatu wawancara dengan Soeharto, agaknya dalam tahun 1968 atau 1969, tentang suatu pertemuan Soeharto dengan Kolonel Latief, tokoh yang ketiga dari pimpinan kup tahun 65. Isinya: “Dua hari sebelum 30 September anak lelaki kami, yang umurnya 3 tahun, dapat celaka di rumah. Ia ketumpahan sup panas, dan kami dengan buru-buru perlu mengantarkannya ke rumah sakit.


Banyak teman menjenguk anak saya di sana pada malam 30 September, dan saya juga berada di rumah sakit. Lucu juga kalau diingat kembali. Saya ingat Kolonel Latief datang ke rumah sakit malam itu untuk menanyakan kesehatan anak saya. Saya terharu at as keprihatinannya. Ternyata kemudian Latief adalah orang terkemuka dalam kejadian yang sesudahnya. Kini menjadi jelas bagi saya malam itu Latief ke rumah sakit bukan untuk menjenguk anak saya, melainkan sebenar-nya UNTUK MENCEK SAYA. Ia hendak tahu betapa genting celaka anak saya dan ia dapat memastikan bahwa saya akan terlampau prihatin dengan keadaan anak saya. Saya tetap di rumah sakit sampai menjelang tengah malam dan kemudian pulang ke rumah”. Begitulah kutipan dari buku Brackman tentang wawancaranya dengan Soeharto. Untuk saya pengakuan ini dari Soeharto, bahwa ia bertemu dengan Kolonel Latief kira-kira empat jam sebelum aksi terhadap 7 jenderal mulai, sungguh merupakan ‘rantai yang hilang’ – the missing link dalam detective story. Hal ini dengan jelas membuktikan hubungan Soeharto dengan tokoh utama dalam peristiwa tahun 1965.


Tentu Latief, yang pergi ke R.S. Gatot Subroto, yaitu Rumah Sakit Militer, 3 atau 4 jam sebelum serangan terhadap rumah-rumah 7 jenderal mulai, maksudnya untuk menceritakan pada Soeharto tentang rencana mereka ¡V tetapi sukar membuktikan itu selama Soeharto berkuasa, dan Latief dalam situasi orang tahanan. Hanya satu hal yang kurang terang. Mengapa Soeharto mencerita-kan pada Brackman tentang pertemuan ini? Agaknya ada orang yang memperhatikan kedatangan Latief ke rumah sakit. Oleh karena itu Soeharto merasa perlu memberi alasan kunjungan itu yang dalam dipahami: Latief mau periksa apakah Soeharto begitu susah oleh karena keadaan sehingga ia tak mungkin bertindak pada esok harinya! Pengakuan Soeharto itu menjadi untuk saya kesempatan untuk mengumumkan karangan di mingguan “Vrij Nederland” pada tanggal 29 Agustus 1970, dengan judul “De schakel die ontbrak: Wat deed Soeharto in de nacht van de staatsgreep? ” (Rantai yang hilang: apa yang diperbuat Soeharto pada malam kup?).


Dalam karangan itu saya menguraikan segala petunjuk bahwa Soeharto benar terlibat di dalam peristiwa tahun 65. Karangan ini dimuat satu hari sebelum Soeharto datang ke Belanda untuk kunjungan resmi – kunjungan yang gagal sama sekali. Karangan yang serupa itu juga saya umumkan dalam bahasa Inggris di dalam majalah ilmiah “Journal of Contemporary Asia” tahun 1979, dengan judul: “Soeharto and the Untung Coup: The Missing Link”. Waktu saya mengumumkan dua karangan itu, saya belum mengetahui bahwa dalam wawancara lain, sebelum bulan Agustus 1970 itu, Soeharto sekali lagi menyebut pertemuannya dengan Kolonel Latief itu – tetapi kali ini dengan nada yang sangat berlainan. Wawancara itu dimuat dalam mingguan Jerman Barat, “Der Spiegel”, tanggal 27 Juni, halaman 98. Wartawan Jerman itu bertanya: “Mengapa tuan Soeharto tidak termasuk daftar jenderal-jenderal yang harus dibunuh?” Jawaban Soeharto yaitu: “Pada jam 11 malam Kolonel Latief, seorang dari komplotan kup itu, datang ke rumah sakit untuk membunuh saya, tetapi nampak akhirnya ia tidak elaksanakan rencananya karena tidak berani melakukannya di tempat umum.”


Masa, heran seolah-olah Kolonel Latief ada rencana untuk membunuh Soeharto, 4 jam sebelum aksi terhadap 7 jenderal yang lain akan dimulai, yang tentu berakibat seluruh komplotan akan gagal! Kebohongan Soeharto itu suatu bukti lagi bahwa Soeharto mau menyembunyikan apa-apa, dan cari akal untuk luput dari persangkaan ia terlibat dalam kup! Sedangkan tokoh lain dari komplotan, sebagai Obrus Untung, Jenderal Supardjo dan Mayor Sudjono sudah lama terkena hukuman mati dan diekseskusi, Kolonel Latief selama lebih dari 10 tahun tidak diadili.


Alasan yang disebut oleh pemerintah, yaitu bahwa ia ‘sakit-sakitan’ an tidak dapat menghadiri sidang pengadilan. Benar bahwa ia kena luka berat di kaki waktu tertangkap; tetapi kawannya di penjara mengatakan bahwa ia sudah lama dapat menghadap di sidang sebagai saksi atau terdakwa. Akhirnya, dalam tahun 1978 sidang dalam perkara Latief mulai. Dalam eksepsinya dari tanggal 5 Mei, Latief telah memberi keterangan, bahwa ia besama keluarganya berkunjung di rumah Soeharto dengan dihadiri Ibu Tien, dua hari sebelum tanggal 30 September; ia juga menceritakan bahwa ia mengunjungi Soeharto pada malam 30 September di Rumah Sakit Militer. Ia menerangkan bahwa ia, Obrus Untung dan Jenderal Supardjo, yang baru pulang dari Kalimantan, bertiga pimpinan militer dari aksi keesokan harinya, berkumpul di rumahnya pada jam 8 untuk berunding.


Mereka memutuskan untuk malam itu juga menemui Soeharto, untuk memperoleh dukungannya dalam rencana. Latief mengusulkan supaya mereka akan bertiga menghadap Soeharto, tetapi Untung tidak berani, dan mereka akhirnya mengutus Latief oleh karena ia yang paling dekat dengan Soeharto. Untung dan Supardjo masih punya urusan lain yang penting. Latief telah menjadi bawahan dari Soeharto waktu Jogya diduduki Belanda, tahun 1949. Malahan, menurut keterangan Latief dalam eksepsinya, waktu serangan ke Jogya pada tanggal 1 Maret 1949, dengan Jogya diduduki pasukan Republik selama 6 jam, bukan Soeharto yang sebenarnya masuk Jogya melainkan Latief sendiri! Waktu Latief pulang ke komandonya di pegunungan bersama grupnya, Soeharto bersama ajudannya sedang makan soto! Pada waktu komando Mandala yang dibawah komando Soeharto, Latief menjadi kepala intellijen dari Komando di Makasar.


Dalam eksepsinya Latief dengan terang menjelaskan bahwa waktu ia bertemu dengan Soeharto di rumah sakit, ia menceritakan padanya seluruh rencana untuk malam itu. Ia minta pengadilan supaya Soeharto dan istrinya akan dipanggil sebagai saksi. Putusan pengadilan: tidak, karena kesaksiannya tak akan ‘relevan’. Dalam pledoinya yang tertulis Latief mengulangi lebih jelas lagi tentang pembicaraannya di rumah sakit. Dia menerangkan: “Setelah saya lapor kepada Jenderal Soeharto mengenai Dewan Jenderal dan lapor pula mengenai Gerakan, Jenderal Soeharto menyetujuinya dan tidak pernah mengeluarkan perintah melarang” (hal. 128). Pledoi dan Eksepsi Latief kami punya seluruhnya dalam bahasa Indonesia. Dalam pers Indonesia segala keterangannya tentang pertemuan dengan Soeharto itu sama sekali tidak diumumkan dan tidak diperhatikan.


Mengapa begitu? Untuk saya dari mulanya jelas bahwa keterangan yang lebih sempurna lagi disimpan di suatu tempat DILUAR Indonesia, dengan pesan supaya lantas diumumkan kalau Latief akan dibunuh! Soeharto agaknya takut kalau kebenaran tentang pertemuan dengan Latief akan diumumkan! Dalam otobiografinya ia bohong sekali lagi: ia menceritakan bahwa ia bukan BERTEMU dengan Latief di rumah sakit, melainkan hanya lihat dari ruangan di mana anaknya dirawat dan di mana ia berjaga bersama Ibu Tien, bahwa Latief jalan di koridor melalui kamar itu! Siapa sudi percaya? Juga aneh sekali bahwa Soeharto ,menurut keterangannya sendiri, jam 12 malam waktu keluar dari rumah sakit, bukan terus mencoba memberikan tanda berwaspada kepada jenderal-jenderal kawannya yang dalam tempo tiga atau empat jam kemudian akan ditimpa nasib malang, m elainkan terus pulang ke rumah untuk tidur! Hal yang menarik yaitu bahwa Kolonel Latief beberapa waktu silam telah meminta pada Soeharto supaya hukumannya dikurangi.


Dalam Far Eastern Economic Review dari 2 Agustus tahun ini (1990) diberitahukan bahwa memoirenya disimpan di satu bank – entah di mana. Jadi, telah agak tentu bahwa Soeharto terlibat dalam peristiwa 65 dengan berat. Menurut fasal 4 dari Keputusan Kepala Kopkamtib bertanggal 18 Oktober tahun 1968, dalam Golongan A yang paling berat termasuk semua orang yang terlibat dengan langsung, di antaranya dalam grup itu juga segala orang yang mempunyai pengetahuan lebih dahulu terhadap rencana kup dan yang lalui dalam melapor kepada yang berwajib. Jadi, Soeharto pada malam itu seharusnya mesti melapor paling sedikit kepada Jenderal Yani! Dan tentu juga kepada Jenderal Nasution. Artinya bahwa Soeharto jauh lebih jelas ‘terlibat’ dalam peristiwa 1 Oktober ’65 daripada semua korbannya yang selama 10 tahun atau 14 tahun ditahan di penjara atau di kamp konsentrasi seperti di pulau Buru, dengan alasan bahwa mereka terlibat ‘tidak langsung’ dalam peristiwa G30S!


Jadi, sekarang telah jelas bahwa Soeharto terlibat oleh karena mempunyai pengetahuan lebih dahulu. Lebih sukar membuktikan, bahwa ia juga aktip dalam suatu PROVOKASI. Soeharto tentu bukan satu-satunya orang yang punya pengetahuan lebih dahulu. Terang bahwa Kamaruzzaman (Sjam) memainkan peran penting sekali dalam provokasi. Ia militer, agaknya dalam Kodam V Jakarta.


Tetapi siapa atasannya yang mendorongnya untuk mempersiapkan kup bersama tiga perwira tinggi itu, dengan maksud untuk memkompromitir baik PKI maupun Soekarno? Sekarang saya akan coba memberi analisa yang sedikit mendalam. Memang ada orang lain yang punya pengetahuan lebih dahulu. Barangkali Soekarno sendiri punya sedikit pengetahuan lebih dahulu.


Tetapi tentu ia tidak ingin PEMBUNUHAN jenderal yang dituduhi membangun Dewan Jenderal. Barangkali maksudnya hanya untuk menuntut pertanggungjawaban mereka. Sesudah ia dengar bahwa ada beberapa jenderal yang mati, ia memberi perintah supaya seluruh aksi itu berhenti. Mungkin juga bahwa tiga perwira tinggi itu, Untung, Latief dan Supardjo, bukan menghendaki pembunuhan, melainkan hanya menuntut pertanggungjawaban mereka. Juga tidak jelas mengapa Aidit, ketua PKI, dijemput dari rumahnya pada malam itu dan diantarkan ke Halim.


Rupanya pada saat itu ia punya kepercayaan kepada Sjam. Tetapi kami sama sekali tidak tahu peranan Aidit sesudah ia disembunyikan di rumah seorang bintara di Halim; menurut segala kesaksian ia tidak muncul dalam perundingan- perundingan dan pertemuan-pertemuan , lagi pula tidak bertemu dengan Presiden Soekarno yang juga dibawa ke Halim. Oleh karena ia dibunuh tanpa proses, kami tidak punya keterangan dari dia sendiri – kami hanya punya keterangan dari Sjam yang membohong seolah-olah semua ia, Sjam, berbuat, terjadi atas perintah Aidit.


Misalnya dalam proses Latief di tahun 1978 Sjam ‘mengaku’ bahwa bukan Latief, melainkan DIA yang memberi perintah untuk m embunuhi jenderal- jenderal yang masih hidup waktu dibawa ke Lubang Buaya ¡V tetapi ia tambah seolah- olah pembunuhan itu juga atas perintah Aidit. Jadi seluruh perbuatan Sjam dimaksud untuk memburukkan nama PKI. Dan suatu alasan mengapa Latief TIDAK dapat hukuman mati, ialah oleh karena ia mungkir bahwa dia yang perintahkan membunuhi jenderal, dan Sjam dalam proses itu mengakui bahwa ia sendiri yang memerintahkannya. Tetapi segala ‘jasanya’ kepada grup Soeharto tidak berguna untuk dia pribadi: beberapa tahun silam ia dieksekusi bersama pembantunya Pono dan Bono.


Agak jelas bahwa pada malam 30 September, dua-duanya, Soekarno dan Aidit yakin bahwa Dewan Jenderal sebenarnya ada dan bahwa Dewan itu berencana untuk merebut kekuasaan pada tanggal 5 Oktober 1965. Begitu juga grup Untung, Latief dan Supardjo memang yakin bahwa Dewan Jenderal itu memang ada. Dalam prosesnya dalam tahun 1967 Sudisman turut menjelaskan bahwa ia masih yakin tentang eksistensi Dewan Jenderal itu dan rencana mereka.


Soeharto Dalang G30S?
Dalam tahun 1970 saya juga masih berpendapat bahwa Dewan Jenderal itu benar ADA. Begitu juga pendapat PKI, misalnya dalam otokritik mereka. Tetapi lama kelamaan saya mulai sangsikan apakah dewan itu benar ada dan aktip dalam tahun 1965. Sudah tentu, kalu peristiwa 65 memang suatu provokasi, bagaimana mungkin apa yang dimanakan Dewan Jenderal itu menjadi dalangnya: terlalu aneh kalau orang mengorbankan diri sendiri dengan tujuan politik! Apalagi telah ada cukup tanda bahwa Jenderal Yani agak taat kepada Soekarno.


Pikiran saya berubah sewaktu saya baca sekali lagi keterangan bekas Mayor Rudhito dalam proses Untung. Ia memberi suatu keterangan tentang suatu pita yang ia dengar, dan catatan tentang isinya yang ia terima pada tanggal 26 September 1965 dimuka gedung Front Nasional tentang Dewan Jenderal. Ia terima bukti itu dari empat orang, yaitu: Muchlis Bratanata, dan Nawawi Nasution, dua-dua dari N.U. dan Sumantri Singamenggala dan Agus Herman Simatoepang, dua-dua dari IPKI. Mereka itu mengajak Rudhito akan membantu pelaksanaan rencana Dewan Jenderal. Di tape itu dapat didengar pembicaraan dalam suatu pertemuan yang diadakan pada tanggal 21 September di gedung Akademi Hukum Militer di Jakarta. Rudhito ingat bahwa ia dengar suara dari Jenderal Mayor S. Parman, satu dari 6 jenderal yang lantas dibunuh pada tanggal 1 Oktober pagi . Parman menyebut, menurut pita dan catatan yang Rudhito dengar dan baca, suatu daftar orang yang harus diangkat sebagai menteri: di antara mereka juga sejumlah jenderal yang lantas diserang dan diculik pada 1 Oktober. Nasution disebut sebagai calon perdana menteri; Suprapto akan menjadi menteri dalam negeri, Yani diusulkan sebagai menteri HANKAM, Harjono menteri luar negeri, Sutojo menteri kehakiman dan Parman sendiri akan menjadi jaksa agung. Ada juga nama lain yang disebut, diantaranya Jenderal Sukendro.


Rupanya tape itu tidak ditunjukkan sebagai bahan bukti pada sidang
Obrus Untung; juga di sidang lain tidak muncul. Menurut Rudhito dan terdakwa Untung tape itu juga diserahkan kepada Jenderal Supardjo, yang pada tanggal 29 September baru tiba di Jakarta dari Kalimantan. Supardjo rupanya terus memberikan dokumen itu pada Presiden Soekarno; dan menurut Rudhito dukumen itu juga ada di tangan kejaksaan Agung dan KOTRAR.


Kesimpulan saya: kemungkinan besar bawha tape (yang tidak pernah muncul!) dan teks itu yang diberikan pada Rudhito, suatu pelancungan, pemalsuan. Maksudnya dan akibatnya: ialah sehingga grup Untung, pimpinan PKI dan Presiden Soekarno DIYAKINKAN DAN PERCAYA, bahwa komplotan Dewan Jenderal yang telah seringkali disebut sebagai kabar angin, sebenarnya ADA dengan rencana untuk merebut kekuasaan dari Soekarno dan kabinetnya.


Dengan tipu muslihat ini, yang sebenarnya suatu provokasi, baik Soekarno maupun pimpinan PKI, termasuk Aidit, didorong supaya meneruskan usahanya agar aksi Dewan Jenderal itu pada tanggal 5 Oktober 1965 dapat dihalangi! Jadi sekarang timbul pertanyaan, golongan mana yang sebagai dalang merencanakan seluruh provokasi itu, dengan mengorbankan jiwa enam atau tujuh jenderal.


Untuk saya, pada saat ini, sulit memberi jawaban. Saya sudah lanjut usia. Saya harap dalam ruangan ini barangkali orang Indonesia dapat meneruskan penyelidikan itu untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang masih ada.


Tentu gampang menyangka bahwa rencana itu tercipta dikalangan militer dan bahwa Kamaruzzaman- Sjam telah memainkan suatu peranan yang berarti dalam hal ini. Sangat mungkin juga, bahwa beberapa perwira agak tinggi dari angkatan udara, seperti BARANGKALI Obrus Heru Atmodjo, dan sudah tentu Mayor Sujono – yang sebagai saksi dan sebagai terdakwa seringkali memberi keterangan yang tidak masuk akal dan saling bertentangan – pastilah sangat aktip dalam merencanakan seluruh aksi. Sujonolah yang memperkenalkan Untung dan Latief dengan Sjam dan dua pembantuanya, Pono dan Bono.


Juga ada kesaksian bahwa yang sebenarnya memberi perintah pada Gathut Sukrisno untuk membunuh jenderal-jenderal dan kapten Tendean yang masih hidup di Lubang Buaya, bukan Sjam melainkan Sujono. Begitu juga pendapat Dr. Holtzappel yang telah menulis suatu nalisa penting tentang peristiwa 1965 dalam “Journal of Contemporary Asia” pada tahun 1979.


Pembunuhan yang sengaja itu juga tentu merupakan bagian dari seluruh provokasi terhadap PKI. Menurut Holtzappel, sebagai DALANG dalam Angkatan Bersenjata barangkali harus dianggap Jenderal Sukendro, pernah kepala military intelligence, dan kolonel Supardjo, Sekretaris KOTRAR yang pernah menjadi pembantu dari Sukendro. Presiden Soekarno agaknya sangat benar dalam analisa pendeknya, waktu ia membela diri dimuka MPRS dengan keterangan tertulis ‘Nawaksara’ pada tanggal 10 Januari 1967 terhadap tuduhan-tuduhan. Kesimpulannya ialah: “1) keblingernya pimpinan PKI, 2) kelihaian subversi Nekolim, dan 3) memang adanya oknum-oknum yang tidak benar”. Arti istilah Nekolim pada masa itu ialah: Neokolonialisme, kolonialisme dan imperialisme.


Tentu maksudnya Soekarno bahwa ada dalang sebenarnya yang dari luar negeri. Bagaimana dengan Amerika Serikat, dan CIA? Sudah dari awal tahun 50an A.S. campur tangan dengan politik Indonesia. Telah mulai dengan Mutual Security Act dari tahun 1952, yang dahulu ditandatangani oleh menteri luar negeri Subardjo dari kabinet-Sukiman, dan yang lantas dibatalkan. Juga ada campurtangan AS sewaktu pemberontakan Dewan Banteng dan Permesta, dan sesudahnya waktu didirikan PRRI, dalam tahun 57-58. Peter Dale Scott, yang dulu menjadi diplomat dan sekarang guru besar di Universitas California, menulis beberapa karangan penting tentang campurtangan A.S. dalam tahun 60an: dahulu karangannya diumumkan dalam tahun 1975, dan lantas di “Pacific Affairs” tahun 1985: “The U.S. and the Overthrow of Soekarno”. (Ada terjemahan dalam bahasa Bel anda yang diterbitkan oleh Indonesia Media).


Dalam tahun 1990 ini seorang ahli sejarah yang saya tidak kenal namanya Brands, menulis seolah-olah sejak permulaan tahun 65 U.S.A. sama sekali tidak campur tangan lagi dalam politik Indonesia; beliau dengar ini dari tokoh CIA – masa dapat dipercaya? Sekarang kita sudah tahu dengan pasti bahwa dari awal Oktober 65 baik kedutaan A.S. maupun CIA sangat campur tangan, misalnya dengan memberi daftar berisi nama 5000 tokoh PKI dan organisasi kiri lain pada KOSTRAD – supaya mereka ditangkap; diplomat dan staf CIA tidak perduli kalau korbannya juga akan dibunuh! Tetapi bagaimana SEBELUM 1 Oktober? Ada suatu keterangan dari ahli sejarah Amerika yang termasyur: Gabriel Kolko. Ia menulis dalam buku yang diumumkan dalam tahun 1988 (yang judulnya “Confronting the Third: U.S. Foreign Policy 1945-1980″), bahwa semua bahan dari ked utaan A.S. di Jakarta dan dari State Department (yaitu kementerian Luar Negeri) untuk tiga bulan SEBELUM 1 Oktober tahun 1965 sama sekali ditutup, dan tidak boleh diselidiki oleh siapapun juga.


Dalam suatu keterangan yang ia tambah dari tanggal 13 Agustus 1990 ia mengatakan bahwa ia tidak kenal suatu masa manapun juga di kurun 1945 sampai 1968 yang ditutup dengan rahasia yang demikian untuk menyembunyikan informasi yang sungguh penting. Hal itu sangat aneh, dan menimbulkan persangkaan bahwa ada kejadian yang sangat rahasia yang harus ditutupi. Moga-moga penyelidikan yang sekarang akan dijalankan oleh Congress di Washington tentang daftar yang dibuat sesudah 1 Oktober 1965 oleh suatu tokoh dari kedutaan A.S. di Jakarta, tuan Martens, akan memberi kesempatan untuk anggota Congress supaya menuntut informasi tentang periode tiga bulan itu, dan supaya arsip itu akan ‘de-classified’ , jadi akan dibuka untuk diselidiki oleh ahli sejarah dan dunia keilmuan umumnya. Kolko juga memberitahu bahwa Jenderal Sukendro pada tanggal 5 November 1965 minta pertolongan yang tersembunyi dari A.S. untuk menerima pesenjataan kecil dan alat komunikasi yang akan dipakai oleh pemuda Islam (ANSOR) dan nasionalis bagi menghantem PKI. Kedutaan A.S. setuju akan mengirim barang-barang itu yang disembunyikan sebagai obat-obatan (Kolko, hal. 181), dan teks kawat-kawat dari Kedutaan A.S . ke Washington dari 5/11, 7/11, … dan 11/11-65.


Tetapi kita harus insyaf bahwa selain dari CIA badan A.S. masih ada badan intelijens negara lain yang 25 tahun yang silam mungkin berkepentingan dalam menjatuhkan rezim Soekarno: misalnya Pemerintah Inggris, yang pada masa itu masih terlibat dalam pertentangan antara Indonesia dan negeri baru yang didirikan oleh Inggris: Malaysia. Dan lagi negara Jepang mungkin juga harus diperhatikan sebagai calon dalang kejadian itu. Heran bahwa pada tanggal 2 Oktober 1965 hanya ada SATU surat kabar diluar negeri yang tahu siapa Jenderal Soeharto dan dapat mengumumkan biografinya: Asahi Shimbun. Jepang lagi banyak mendapat manfaat dalam kerjasama dengan Orde Baru. Mengapa masih penting untuk menyelidiki sejarah peristiwa tahun 1965?


Saya akan baca pendapat saya yang baru ini saya umumkan dalam pendahuluan saya untuk buku kecil yang berisi sajak dari Magusig O. Bungai. Judul kumpulan sajak itu ialah “Sansana Anak Naga dan Tahun-Tahun Pembunuhan”. Dalam sajaknya Hutan pun bukan lagi di mana rahasia bisa berlindung, Magusig O. Bungai menulis tentang pembunuhan massal antas perintah Stalin: 50 tahun berlalu 50 tahun hutan Katyn menutup rahasia 15.000 prajurit polan dimasakre di tengah rimba 50 tahun kemudian waktu memaksa kekuasaan terkuat membuka suara menutur kebenaran. Menurut saya penting sekali bahwa Magusig mendorong anak-anak negerinya agar mencari kebenaran. Ahli sejarah Abdurahcman Suriomihardjo dalam “Editor” 2 Juni 1990 menulis, bahwa “pembukaan dokumen yang semula rahasia itu sangat membantu rekonstruksi sejarah”. Akan tetapi duduknya perkara masakre di Indonesia 25 tahun yang lalu agak berlainan dari pembunuhan Katyn yang menimpa 15.000 orang perwira Polandia. Kelainannya ialah oleh karena masakre di Indonesia itu pada hakikatnya tidak ada rahasianya sama sekali. Pembunuhan massal di Indonesia atas tanggung jawab Jenderal Soeharto bukanlah suatu rahasia.


Si penanggungjawab ini justru terus-menerus bangga akan perbuatannya. Terhadap masakre benar-besaran dalam tahun-tahun pembunuhan sesudah 1965, Soeharto tidak pernah memperlihatkan penyesalannya atas pelanggaran hak azasi manusia yang luar biasa itu. Sebaliknya, ia selalu memamerkan dengan bangga tindakannya yang durjana itu. Tentang ini telah terbukti sekali lagi baru-baru ini.


Dengan adanya pengakuan pers Amerika Serikat, bahwa staf kedubes Amerika Serikat di Jakarta menyerahkan daftar nama-nama kader PKI dan ormas yang dekat dengannya kepada Angkatan Darat Indonesia agar mereka itu ditangkap dan dibunuh, tidak seorangpun juru bicara pemerintah Orde Baru yang memungkiri telah terjadinya pembantaian massal, ataupun mengucapkan penyesalan mereka terhadap peristiwa yang terjadi 25 tahun yang lalu itu.


Mereka ini cukup berpuas diri dengan penegasan pengakuan: bahwa militer Indonesia sama sekali tidak perlu menerima daftar tersebut dari pihak asing, oleh karena mereka sendiri cukup mengetahui siapa-siapa kader-kader PKI! Juga di dalam otobiografinya, Soeharto sama sekali tidak menunjukkan tanda, bahwa ia menyesali terhadap jatuhnya korban rakyat sebanyak setengah atau satu juta.


Justru sebaliknyalah, terhadap prajurit-prajurit pembunuh pun ia tidak mencela perbuatan mereka. Misalnya dalam hal kolonel Jasir Hadibroto, dalam “Kompas Minggu”, 5 Oktober 1980 ia menceritakan pengakuannya kepada Soeharto, yaitu bahwa ia telah membunuh ketua PKI DN Aidit tanpa keputusan pengadilan. Dengan jalan demikian Aidit tidak bisa membela diri di depan sidang pengadilan, dan karenanya pula penguasa dengan leluasa dapat menyiar- kan ‘pengakuan’ Aidit yang palsu. Kolonel ini justru dihadiahi Soeharto dengan kedudukan sebagai gubernur Lampung. Dalam hal ini tentu saja Soeharto sendirilah yang bertanggung- jawab. Karena pembunuhan itu hanya terjadi sesudah Jasir Hadibroto menerima perintah dari Soeharto yang, menurut Jasir, mengatakan: “Bereskan itu semua!”.


Masih cukup banyak hal yang harus dibukakan di depan mata seluruh rakyat Indonesia. Sejarah peristiwa 1965 dan lanjutannya, seperti yang tertera didalam tulisan resmi para pendukung Orde Baru, seluruhnya harus ditinjau kembali dan dikoreksi. Misalnya tentang pembunuhan terhadap para anggota PKI atau BTI (Barisan Tani Indonesia) yang selalu dibenarkan dengan dalih, seakan- akan mereka dibunuh karena “terlibat dalam Gestapu/PKI 1965″. Barangkali benar, ada beberapa kader PKI yang telah ikut memainkan peranan dalam peristiwa 1 Oktober 1965 itu. Tetapi bisakah ratusan ribu kaum tani di Jawa dituduh terlibat dalam peristiwa penyerangan terhadap 7 orang jenderal pada pagi-pagi buta 1 Oktober 1965 saat itu di Jakarta? Dari berita “The Washington Post” 21 Mei 1990 menjadi jelas, bahwa sejak semula Soeharto telah berketetapan hati untuk menghancur-leburkan PKI.


Dalih umum yang dikemukakan oleh Mahmilub atau pengadilan semacamnya adalah bahwa semua anggota atau simpatisan PKI ‘ terlibat dalam peristiwa G30S-PKI ‘. Dalih demikian pulalah yang dipakai pemerintah untuk membenarkan pembuangan tanpa pemeriksaan pengadilan lebih dari 10.000 orang yang dipandang sebagai simpatisan gerakan kiri ke Pulau Buru, yang pada umumnya selama 10 tahun lebih.


Mereka itu dianggap sebagai ‘terlibat secara tidak langsung dalam Gestapu/PKI’ . Lalu, siapakah yang terlibat langsung? Yang betul-betul terlibat LANGSUNG adalah seorang yang paling memperoleh untung dari kejadian itu, tak lain tak bukan ialah Jenderal Soeharto sendiri. Semua bahan-bahan itu tentu sangat penting untuk meninjau kembali sejarah peristiwa 1 Oktober 1965. Ada beberapa hal lagi yang perlu diterangkan.


Di tengah-tengah terjadinya pembantaian massal terhadap orang-orang yang dianggap PKI di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sejumlah kader PKI yang berhasil terluput dari malapetaka berhasil mendapatkan tempat berlindung di daerah pegunungan di Kabupaten Blitar Selatan. Di sini mereka hidup bersatu dengan kaum tani miskin setempat, sehingga untuk sementara mereka berhasil membangun lubang perlindungan untuk menyelamatkan jiwa mereka. Akan tetapi pada 1968 tentara dengan operasi Trisula menghancurkan tempat perlindungan ini, dan menangkap serta membunuh sebagian besar mereka itu.


Dalam tahun 70an ‘tokoh-tokoh Blitar Selatan’ ini dihadapkan ke muka pengadilan.


Di pengadilan umumnya mereka tidak dituduh ‘ terlibat persitiwa G30S/PKI ‘.


Jelas, bahwa pengadilan tidak bisa membuktikan ‘keterlibatan’ demikian. Maka merekapun lalu dituduh sebagai ‘subversi’, yang sejak 1963 juga bisa mengakibatkan jatuhnya hukuman mati bagi siterdakwa. Ini berarti, bahwa pada hakikatnya mereka dituduh subversi untuk kebanyakan dijatuhi hukuman mati, semata-mata karena mereka berusaha menyelamatkan diri dari pembunuhan massal yang sama sekali haram itu. Rencana pembunuhan massal ini ternyata akhirnya terbukti jelas oleh siaran pengakuan-pengakuan di dalam pers Amerika Serikat tersebut di atas.


Tokoh-tokoh seperti Munir, Gatot Lestaryo, Rustomo dan Djoko Untung tewas dieksekusi dalam tahun 1985. Tapi pada saat inipun masih ada empat tokoh lagi, yang semuanya berasal dari peristiwa Blitar Selatan itu, yang diancam oleh pelaksanaan eksekusi. Penting sekali bagi dunia luar agar berusaha dengan segala daya untuk menyelamatkan jiwa Ruslan Wijayasastra, Asep Suryaman, Iskandar Subekti dan Sukatno – dan lebih dari itu untuk menyelamatkan jalannya kebenaran sejarah. Untuk ini penelitian kembali sejarah tahun-tahun 1965 dan seterusnya merupakan sarana dan wahana pertolongan satu-satunya. Ada sebuah kewajiban lagi yang penting, yaitu meneliti kembali duduk perkara Gerwani di dalam peristiwa 1 Oktober 1965.


Dari semula penguasa menuduh gadis-gadis Gerwani di Lubang Buaya berbuat paling keji dan tak tahu malu. Melalui media pers bertahun-tahun disiarkan, seolah-olah mereka dihadirkan di sana oleh PKI untuk melakukan upacara ‘harum bunga’ sambil menari-nari lenso untuk mengantar jiwa jenderal- jenderal itu, melakukan perbuatan-perbuatan tak senonoh, dibagi-bagikan pisau silet, dan lantas ikut ambil bagian dalam perbuat jahat serta menyiksa jenderal- jenderal itu sebelum mereka tewas. Sebagai akibat dari cerita-cerita demikian terbentuklah bayangan, seakan-akan Gerwani adalah perkumpulan perempuan lacur, jahat dan bengis yang harus dihinakan dan bahkan dibinasakan.


Cerita-cerita demikian sebenarnya tidak terbukti. Tidak pernah ada suatu proses, di mana dakwaan demikian bisa dibenarkan. Seorang saksi dalam sidang yang, menurut Sudisman ‘terbuka tapi tertutup’ dan ‘serba umum tapi tidak umum’, bernama Jamilah dan yang mereka gunakan sebagai dasar bangunan dongengan itu, adalah soerang perempuan bayaran belaka.


Beberapa tahun yang lalu Profesor Benedict Anderson, di dalam majalan ilmiah “Indonesia”, memuat keterangan resmi dari lima dokter yang memeriksa mayat-mayat para jenderal itu sesudah diangkat dari Lubang Buaya. Jauh sebelum itu, keterangan resmi para dokter ini pun telah diumumkan oleh Soekarno di depan sidang kabinet, sengaja untuk membantah dongengan yang beredar saat itu, yang antara lain mengatakan bahwa mata para jenderal itu telah dicungkil dan bahwa kemaluan mereka dipotong-potong sebelum ditembak mati. Keterangan dokter-dokter resmi itu ringkasnya mengatakan, bahwa tiddak ada tanda penyiksaan pada korban, dan tidak sebiji matapun dicungkil sebelum mereka dibunuh. Penting sekali membersihkan Gerwani dari tuduhan yang tidak adil itu.


Terutama sangat perlu, oleh karena sebelum 1965 Gerwani sangat aktif dalam membela dan memperjuangkan hak-hak perempuan. Seperti diketahui, sejak Orde Baru berkuasa semua perjuangan untuk kepentingan perempuan melalui pergerakan yang bebas dan mandiri, dianggap oleh penguasa sebagai kegiatan yang harus diharamkan dengan mengingat kepada ‘perbuatan Gerwani’ dalam akhir taun 1965 itu. Ada satu tuduhan lagi yang harus dibantah. Dari sejak awal telah disiarkan cerita, bahwa seolah-olah di rumah-rumah orang PKI terdapat (kecuali cungkil mata dan kursi listrik) daftar nama-nama orang yang memusuhi komunisme, dan yang harus dibinasakan sesudah PKI beroleh kemenangan dengan gerakannya di akhir 1965 itu.


Tidak selembar daftar seperti itu bisa dipertunjukkan di pengadilan manapun. Sekaranglah, sesudah adanya pengakuan pers Amerika Serikat itu, kita ketahui bahwa sesungguhnya daftar orang-orang yuang harus dibinasakan itu memang ada. Tetapi, inilah bedanya, daftar yang ada justru bukan daftar bikinan komunis, melainkan daftar yang diberikan oleh Kedubes Amerika Serikat kepada Soeharto yang memuat ribuan nama komunis Indonesia yang harus dibunuh! Dongeng ini seperti dongeng tentang maling yang teriak “Tangkap Maling!”


Penting sekali kesadaran dibangun kembali: Bahwa sebelum 1965 PKI merupakan kekuatan yang patut dibanggakan, oleh karena banyak hal yang telah berhasil dicapai oleh partai dan gerakannya itu. Di dunia Barat sekarang timbul kecenderungan anggapan, bahwa komunisme, dan bahkan sosialisme, telah gagal sebagai ideologi.


Kesimpulan seperti ini salah sama sekali! Yang gagal adalah SEJUMLAH PEMERINTAH yang dikuasai oleh berbagai partai komunis. Yang terbukti gagal adalah, bahwa sistem diktatorial tanpa cukup peranan dari rakyat bawah tidak bisa bertahan dalam jangka panjang. Jadi, untuk Indonesia, kegagalan seperti itu hanya bisa berlaku bagi rezim Soeharto. Rezim Soeharto pada hakikatnya juga merupakan suatu sistem diktatorial, dengan berbedak demokrasi yang semu belaka.


Tetapi sebaliknya, baik ideologi maupun praktek, komunis di Indonesia sama sekali tidak mengalami kegagalan. Ia hanya ditimpa oleh malapetaka dan penindasan secara perkosa, yang ditolong oleh kekuatan anti komunis luar negeri. Tentu saja ada sementara tokoh komunis yang, dalam menghadapi keadaan baru dan sangat sulit pada tahun-tahun 60an, melakukan kesalahan penting. Dalam hal ini tentu saja sangat perlu adanya otokritik yang mendalam. Tetapi cukup alasan bagi setiap penganut ideologi kiri untuk mencamkan kata-kata penulis kumpulan puisi itu, yaitu agar ‘mulai menghargai harkat diri’ dan memulihkan perasaan bangga diri.




 Sejarah Indonesia Tahun 1965 Yang Terlupakan

Minggu, 21 Agustus 2011

Waduh, Boaz Solossa Tinggalkan Timnas



Timnas kembali kehilangan pemain andalan. Striker Persipura Boaz Solosa meminta izin meninggalkan pelatnas di Solo untuk pulang ke Papua. Dengan demikian, dirinya dipastikan absen memperkuat timnas senior saat menjalani laga uji coba menghadapi Palestina di Stadion Manahan Solo, Senin (22/8) malam ini.

Boaz mengikuti jejak rekan satu klub, Ian Kabes, yang memilih pulang ke Papua karena alasan keluarga. MenurutMedia Officer timnas Desy Christina, Boaz mendatangi kamar pelatih Wim Rijsbergen dan mengungkapkan keinginannya agar diizinkan pulang ke Papua. Alasannya, ada urusan keluarga yang sangat mendesak. Apalagi, kondisi istri yang tengah hamil besar.

"Saya sebenarnya ingin bertahan. Namun sama seperti Kabes, urusan keluarga sudah sangat mendesak. Saya meminta izin pulang," kata? Boaz kepada manajemen timnas.

Rijsbergen tak keberatan dan mengizinkan Boaz untuk pulang kampung. Apalagi, Boaz menyatakan akan kembali bergabung sebelum laga menghadapi Bahrain, 6 September mendatang.

"Tidak bisa dipungkiri, kita akan kehilangan Boaz. Namun, saya percaya dengan materi pemain tersisa. Mereka semua memiliki kualitas," kata Rijsbergen.

Bila baru bergabung saat menghadapi Bahrain, ini berarti Boaz juga absen saat tim Merah Putih menantang Iran, 2 September. Demikian pula saat beruji coba melawan Yordania yang merupakan uji coba terakhir sebelum menghadapi Iran.[bolalob.com]

Jangan lupa di like...
Follow Juga Ya....

Dewi Persik Tak Takut Diancam Hakim






Dewi Persik (Depe) menjalani sidang perdana atas perkara penganiayaan terhadap Julia Perez (Jupe). Dalam persidangan, janda Saipul Jamil itu sempat diancam hakim untuk ditahan.



"Tadi kan sempat diancam mau ditahan. Saya sih silakan saja. Enggak takut saya," tegas Depe saat ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Jalan Ahmad Yani, Jakarta, Selasa (16/8/2011).



Pelantun Diam-Diam itu menolak semua dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuduhnya melakukan kekerasan. Pemilik goyang gergaji itupun merasa heran bisa duduk di kursi pesakitan.



"Sidang hari ini saya jadi terdakwa. Itu harusnya pengajuan saya. Sebenarnya masalah yang dilaporkan Jupe itu sebenarnya laporan saya. Sekarang kalaupun terjadi kepada saya ya sudahlah," tandasnya.



Sebagai bentuk penolakan terhadap tuntutan jaksa, janda Aldi Taher itu sudah menyiapkan keberatannya. Sejumlah bukti juga sudah disiapkan Depe dan tim pengacaranya.



"Kita eksepsi, kita akan membantah dakwaan JPU karena materi dakwaan semuanya pelintiran. Banyak bukti-bukti yang akan kita ajukan, bukan hanya Jupe saja yang bisa," ujar pengacara Depe, Januar Bagus Sasmito.



Galeri Foto Dewi Persik








Foto Seksi Dewi Persik







Foto Seksi Dewi Persik







Foto Seksi Dewi Persik







Foto Seksi Dewi Persik







Foto Seksi Dewi Persik











Foto Seksi Dewi Persik











Foto Seksi Dewi Persik







Foto Seksi Dewi Persik



Foto Seksi Dewi Persik







Foto Seksi Dewi Persik












Sumber : Celebrity Zone

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman