Selasa, 28 Oktober 2008

POHON REZEKI

-Oleh: Yeni Lefrina

Pembaca…

Teman saya seorang dokter gigi bercerita, klinik tempat dia selama ini bekerja bangkrut. Syukurnya praktik teman saya itu tidak harus ikut gulung tikar karena apotek di sebelah klinik menawarkan pada dia dan teman sejawat yang lain untuk praktik di sana. Tapi karena bentuknya hanya sebuah apotek, maka untuk private practice dia harus menyediakan peralatan sendiri.

Teman saya bingung. Membeli dental unit (kursi pemeriksaan gigi) dalam waktu yang mendesak akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Karena itulah ketika mendengar pemilik klinik lama akan menjual dental unitnya, segera saja teman saya ini mengajukan diri sebagai pembelinya. Cuma dia minta diberi keringanan agar bisa mengangsur uang pembelian beberapa bulan ke depan. Permintaannya ternyata ditolak. Sepertinya pemilik klinik sedang benar-benar butuh uang sehingga tidak bisa memberi kredit.

Beberapa hari kemudian, di klinik muncul seorang dokter gigi lain yang pernah bekerja di situ sewaktu klinik baru berdiri. Dokter gigi ini dulu mengundurkan diri karena tidak sabar membina pasien yang masih satu dua. Ia juga tidak tahan dengan klinik yang memotong biaya perawatan gigi yang terlalu besar. Ia mengaku datang ke klinik karena dimintai tolong oleh si pemilik klinik untuk menjualkan dental unit yang menurutnya sudah rusak.

Dokter gigi ini sempat berbicara dengan teman saya. Waktu itu ia berandai-andai bagaimana kalau misalnya yang membeli dental unit itulah yang berhak untuk praktik di tempat yang baru. Teman saya langsung menyanggahnya. ”Aturan dari mana itu? Siapa pun boleh membeli dental unit itu, tapi yang praktik di tempat yang baru tetap saya. Tidak ada hubungannya dengan yang membeli unit,” ujar teman saya mempertahankan prinsipnya. “Kan bisa saja,” kata dia ”misalkan saja yang membeli dental unit keponakan pemilik klinik, bisa saja kan pemilik klinik bernegosiasi dengan pengelola apotek agar ponakannya diizinkan praktik di apotek?”

Pembaca….

Saat itu perasaan teman saya sudah tidak enak. Dia sudah dapat merasakan dokter yang baru muncul ini tidak bermaksud mencari pembeli untuk dental unit itu. Tapi, dialah yang ingin memilikinya dan dia juga sekaligus menginginkan tempat praktik teman saya yang pasiennya sudah cukup banyak. Dia ingin memanfaatkan kesempatan di tengah ketidakmampuan teman saya dalam membeli dental unit saat itu.

Dugaan teman saya benar. Ternyata, dental unit milik klinik itu akhirnya jatuh ke tangan dokter gigi ini. Dan, teman saya juga mendengar dia mulai kong kalikong dengan orang-orang tertentu agar bisa mengambil tempat praktik dengan alasan teman saya tidak punya dental unit. Dia sepertinya begitu berusaha keras mengambil alih karena dia tahu di apotek nanti tidak ada potongan-potongan yang dialaminya seperti saat masih bekerja di bawah klinik.

Teman sejawat lain yang mendengar ini geleng-geleng kepala. Mereka kemudian kompak dan bertekad akan menolong teman saya agar dia bisa segera memiliki unit sebelum tempatnya diserobot orang lain. Tapi, subhanallah pembaca, sebelum mereka sempat menolongnya, di saat paling genting, suami teman saya itu mendapat rezeki yang tidak terduga dari proyeknya. Dan, dia bisa membelikan istrinya dental unit yang harganya tiga kali lipat dari dental unit bekas yang ditawarnya secara kredit itu. Adapun orang yang bermaksud menyingkirkan teman saya itu pergi membawa dental unit-nya yang rusak entah ke mana. Saya kira bila dia masih waras, mestinya dia malu sudah menganggap orang-orang di sekitarnya tolol karena tidak bisa membaca niat buruknya. Dan, malu juga karena sudah meremehkan teman saya.

Pembaca…

Saya selalu percaya, setiap orang punya pohon rezekinya masing-masing. Pohon rezeki yang sudah ditakdirkan Tuhan menjadi milik seseorang, bahkan sebelum dia lahir. Pohon rezeki itu buahnya hanya bisa dipetik oleh orang yang memang punya password untuk mengaksesnya. Dan, yang punya itu hanya pemiliknya atau orang lain yang sudah diizinkan pemiliknya untuk ikut menikmatinya. Jadi, percuma saja bila kita mati-matian mencoba memetik buah itu dengan galah, karena pasti pohonnya sendiri tidak akan melepas buahnya. Kalaupun kita berhasil mengambilnya, pasti buah yang kelihatan ranum di tangan kita itu berubah menjadi busuk dan berulat. Jangan juga pernah mencoba memanjat batangnya, karena bisa saja Anda terpeleset dan jatuh. Atau bila Anda memaksa juga merampok pohon rezeki orang lain, Anda bisa berakhir di penjara.

Menurut saya, dari pada kita repot-repot mengurusi pohon orang lain yang pasti tidak akan pernah menjadi milik kita, lebih baik kita mengurus pohon kita sendiri. Mungkin sekarang kita masih punya batang pohon yang kurus dan kurang gizi, daun yang kuning dan kering, atau buah yang kecil-kecil dan kecut. Tapi, kalau kita rajin menyirami dan memupuknya suatu saat pohon rezeki kita bisa juga berbuah ranum dan menjadi kebanggan kita.

Kemudian, jangan lupa kalau juga kita memerlukan orang lain untuk membuat pohon rezeki ini lebih cepat tinggi dan lebih banyak berbuah. Karena, orang yang banyak berhubungan dengan orang lain rezekinya akan lebih banyak dan luas. Jadi, sudahkah Anda ikhlas mengurus pohon rezeki Anda sendiri dan tidak iri dengan pohon orang lain? (yl)

* Yeni Lefrina adalah alumnus Fakultas Kedokteran Umum Universitas Padjadjaran Bandung. Saat ini, ia berdomisili di Bandung dan membuka praktik dokter gigi di rumah dan di sebuah di Cinunuk, Bandung. Ia mulai aktif berlatih menulis setelah ikut serta di klub penulisan Hardim Bandung. Yeni yang mulai aktif menulis artikel kesehatan dan parenting ini pernah jadi juara ke-2 lomba penulisan yang diadakan Majalah Dokter Kita. Menikah dengan Yuliardi SE Ak, Yeni sudah dikaruniai dua orang anak, yaitu Leo (12 tahun) dan Vani (8 tahun). Ia dapat dihubungi melalui yenilefrina@yahoo.co.id.

KUNCI DALAM MEMBERIKAN NASIHAT -

Oleh: Mugi Subagyo

Anda tentu merasa senang jika ada seseorang atau kerabat dekat yang meminta nasihat pada Anda, terlebih lagi nasihat itu ternyata membawa efek positif pada orang yang meminta nasihat. Tapi sadarkah kita, bahwa ada banyak situasi yang di dalamnya tidak bijaksana jika kita memberikan nasihat?

Jika Anda seorang guru, sebaiknya Anda memberikan nasihat pada murid yang bertanya mengenai hal-hal yang akan dihadapi si murid dalam menghadapi ujian. Atau Anda berprofesi sebagai dokter, tentu Anda akan memberikan nasihat kepada pasien demi kesehatannya. Juga bila Anda seorang manajer yang mengetahui ada seseorang atau beberapa bawahan melakukan tindakan yang berdampak negatif, maka Anda bertanggung jawab untuk memberikan nasihat. Hal ini merupakan contoh dari banyaknya situasi di mana Anda sebaiknya memberikan nasihat.

Tapi kita sering menemui banyak situasi di mana sebaiknya kita tidak memberikan nasihat, karena justru nasihat itu tidak akan berdampak positif, apalagi jika yang meminta nasihat adalah “orang-orang dekat” kita. Karena ada tiga pandangan penting yang wajib kita sadari sebelum memberikan nasihat. Ketiga hal tersebut adalah:

Pertama, nasihat yang Anda berikan bisa jadi cocok dengan diri Anda, tetapi tidak untuk orang lain, sehingga orang lain boleh saja menolak, mungkin menerima tapi tidak akan dilaksanakan atau orang tersebut tidak mampu melaksanakan nasihat yang Anda berikan. Intinya orang tersebut akan merasa tidak enak, karena setelah berbicara dan meminta nasihat Anda, ternyata dia menolak nasihat Anda.

Kedua, nasihat Anda diterima dan dijalankan bahkan menuai sukses. Anda tentu merasa senang, tetapi hal ini juga berbahaya. Orang tersebut akan mempercayai dan menganggap Anda orang pintar atau bijak dan pantas dijadikan sebagai tempat mengonsultasikan segala masalah. Ini berarti Anda telah menghilangkan rasa percaya diri orang tersebut untuk membuat keputusan berdasarkan kemampuan diri sendiri. Di samping itu Anda juga akan kehilangan banyak waktu, karena di setiap saat banyak digunakan untuk meladeni orang tersebut.

Ketiga, nasihat Anda dijalankan namun menuai hasil negatif, mungkin hal ini akan membuat orang tersebut marah pada Anda. Lebih berbahaya lagi jika orang ini menyebarkan berita mengenai alasannya terpuruk gagal karena menjalankan nasihat yang Anda berikan.

Kenali batas kemampuan diri Anda
Sebaiknya kita sadar, bahwa orang yang meminta nasihat dikarenakan mereka memercayai kita. Jadi sudah sepatutnya kita mewaspadai, jangan sampai nasihat yang kita berikan akan berdampak buruk, terutama hilangnya kepercayaan dari orang yang meminta nasihat, di mana notabene adalah orang-orang yang dekat bahkan mungkin dia adalah sahabat kita.

Di sini penulis menyarankan agar Anda segera meresponnya dengan menjelaskan apa yang baik baginya, bukan baik bagi Anda. Mungkin Anda pernah menjumpai situasi di mana seseorang meminta nasihat Anda dengan mengatakan, “Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan? Jika Anda jadi saya, apa yang akan Anda lakukan?” Anda bisa menjawabnya, contoh:

“Menurut saya, yang terpenting lakukanlah apa yang baik bagimu, dan sekarang mungkin kamu punya beberapa alternatif solusinya?”

Di sini Anda telah memberikan langkah awal dalam membantu orang tersebut untuk mencoba memecahkan sendiri dilema yang dihadapinya, dengan cara menggali potensi yang dimiliki masing-masing individu. Dengan begitu akan membentuk kepribadiannya menjadi lebih baik, sehingga di masa mendatang dia akan mampu memecahkan masalah-masalahnya sendiri secara efektif. Karena tiap manusia berpotensi menemukan solusi-solusinya sendiri atas masalah yang dihadapi.

Setelah respon yang Anda katakan, mungkin saja dia akan menekan Anda untuk segera memberikan solusinya, karena dia merasa tidak mampu lagi memecahkan masalahnya. Bisa jadi dia mengatakan “Saya tidak punya solusinya, makanya saya meminta nasihatmu.” Meskipun Anda telah memiliki gambaran akan solusi yang bisa diberikan, jangan tergoda untuk memberikan nasihat. Anda dapat mengatakan:

“Saya tidak punya solusi terbaik buat menyelesaikan masalahmu. Namun solusinya akan kita temukan jika kita bicarakan hal ini lebih jauh.”

Namun untuk membicarakan lebih jauh masalah tersebut, Anda harus mengenali batas kemampuan Anda. Karena itu berarti Anda mengajak orang lain untuk membicarakan hal-hal pribadi dirinya. Dengan mengenali keterbatasan, Anda akan tahu kapan harus menunjuk atau merekomendasikan sesorang yang berkualifikasi, berkompeten, berpendidikan, atau berpengalaman untuk membantu orang yang membutuhkannya.

Kadang kala saat mendengarkan cerita dari permasalahan orang lain, sering timbul kenangan yang membuka luka lama dalam diri kita. Hal ini akan memengaruhi pembicaraan yang terjadi, karena kemungkinan besar Anda akan membelokkan arah pembicaraan dari hal-hal yang membuka luka lama. Tentunya akan berakibat terpotong-potongnya informasi yang bisa Anda dapatkan dari cerita tersebut, sehingga memengaruhi efektivitas bantuan yang Anda berikan. Untuk itu Anda perlu mengenali kemampuan dan batas kemampuan dari diri Anda.

Ada lima pertanyaan yang sebaiknya Anda lontarkan untuk Anda jawab, yaitu:

1.Hubungan seperti apakah yang saya harapkan dengan seseorang dari hasil yang dapat dicapai dari pembicaraan ini?
2.Apakah saya cukup mempunyai kesiapan mental untuk mendengarkan masalah orang lain?
3.Apakah saya dapat membangun hubungan saling percaya dengan orang lain?
4.Apakah tempat pembicaraannya cukup menjamin privasi?
5.Apakah saya mampu menjamin kerahasiaan seseorang?

Dari pertanyaan di atas, Anda akan menyadari bahwa Anda menanggung kewajiban moral terhadap orang-orang yang hendak Anda bantu. Jika seseorang membicarakan masalahnya yang bersifat sensitif atau pribadi, sebaiknya Anda menjamin kerahasiaannya dan meyakinkan orang lain bahwa Anda dapat dipercaya. Hal yang lebih utama adalah apa yang Anda harapkan dengan membantu orang lain. Ada banyak alasan mengapa seseorang tergugah untuk membantu orang lain, namun Anda perlu mencermati alasan-alasan Anda sendiri, karena alasan itu dapat mempengaruhi cara Anda dalam memberikan bantuan.

Mungkin pengalaman Anda ketika dibantu oleh seseorang dapat menguatkan kesadaran dan motivasi Anda untuk membantu orang lain. Atau Anda meyakini bahwa kekayaan pengalaman hidup akan membuat Anda mempunyai jawaban atas dilema yang umumnya dihadapi orang-orang. Sehingga dengan kekayaan pengalaman hidup itu dapat membantu Anda menjalin hubungan dengan orang lain, juga membuat Anda memahami sikap atau keputusan yang diambil dari seseorang atas masalah-masalah serupa atau masalah-masalah yang pernah Anda jumpai. Namun akan berbahaya jika Anda menganggap solusi atau sikap yang diambil sama persis dengan masalah yang dialami orang lain.

Kunci dalam memberikan nasihat
Menyadari bahwa manusia diciptakan berbeda, sangat membantu Anda untuk menghargai keunikan dari orang-orang yang Anda bantu. Menyadari bahwa hubungan antarindividu lebih penting dari masalah atau solusi atas masalah itu sendiri, akan membuat orang yang dibantu merasa dipandang sederajat dengan orang yang membantu. Karena Anda tidak memberikan solusi dengan menasihatinya, melainkan membantu orang tersebut menggali potensi dalam menemukan sendiri solusi atas permasalahannya.

Jika Anda memilik keterbatasan dalam membantu orang lain untuk dapat memecahkan sendiri masalah-masalahnya. Jangan berikan nasihat kepada orang lain yang meski terbukti baik buat Anda, akan lebih bijaksana bila Anda memberi informasi dengan rujukan atau referensi orang-orang yang berkompeten.

Mari saling menasihati dalam kebaikan.[ms]

* Mugi Subagyo adalah praktisi SDM di perusahaan multinasional, pengamat Teknologi Informasi, Graphic Designer, Senior di dunia percetakan dan pemerhati Bahasa & Sastra Indonesia. Mugi dapat dihubungi melalui email: mugisby@yahoo.co.id.

SIKAP SEORANG PEMIMPIN -

Oleh: Nilna Iqbal

Sebagian kita adalah pemimpin bagi sebagian yang lain.
Jika Anda punya satu orang anggota saja, maka Anda adalah seorang pemimpin.

Dalam bukunya yang amat terkenal, Mengembangkan Kepemimpinan di Dalam Diri Anda, John C. Maxwell berkata, “Mengubah pemimpin berarti mengubah organisasi. Menumbuhkan pemimpin, menumbuhkan organisasi.”

Artinya? Perusahaan atau organisasi tidak akan berubah dan tidak akan berjalan ke arah yang dicita-citakan, apabila para pemimpinnya sendiri, di bagian apa pun, tidak berubah dan tidak tumbuh. Sebuah organisasi tidak bisa tumbuh di luar sampai para pemimpinnya sendiri tumbuh di dalam.

Jika seluruh unit kepemimpinan berubah secara positif, maka pertumbuhan organisasi atau perusahaan akan terjadi secara otomatis. Pemimpin yang lemah sama dengan organisasi yang lemah. Pemimpin yang kuat sama dengan organisasi yang kuat. Segala-galanya akan naik atau turun, sesuai dengan kekuatan kepemimpinan.

Kita mungkin juga bisa sepakat bahwa perbedaan antara perusahaan yang baik dengan perusahaan yang hebat juga adalah kepemimpinan. Apakah Anda bersedia jadi pemimpin yang hebat?

Syaratnya, mau berubah! Apa ada pemimpin yang menolak perubahan? Banyak…! Perlawanan terhadap perubahan adalah sesuatu yang universal sifatnya, menyerang semua kelas dan budaya. Sekalipun sudah ditunjukkan berbagai fakta kebenaran dan bukti nyata, tetap saja banyak pemimpin yang tidak mau mengubah sikap dan pikirannya.

Maxwell mengambil sebuah kisah yang amat menarik tentang Henry Ford yang gagal memimpin dunia otomotif lantaran ia tidak mau berubah, seperti yang dilukiskan dalam biografi Robert Lacy yang laris, Ford: The Man and the Machine. Lacy mengatakan Ford adalah orang yang begitu mencintai mobil model T yang diciptakannya sehingga ia tidak mau mengubah satu baut pun pada mobil itu. Dia bahkan mendepak William Knudsen, karena Knudsen berpikir dia melihat kemerosotan Model T.

Itu terjadi tahun 1912, ketika Model T baru berumur empat tahun dan sedang berada di puncak popularitasnya. Saat itu Ford baru saja kembali dari perjalanan pesiar di Eropa, dan dia pergi ke garasi Highland Park, Michigan, dan melihat rancangan baru yang diciptakan Knudsen.

Para montir yang ada di sana mencatat bagaimana Ford sesaat menjadi mata gelap. Dia memandangi kilatan cat merah pada versi Model T yang rendah yang dianggapnya sebagai versi yang buruk dari rancangan Model T yang disayanginya. “Ford memasukkan tangan ke dalam sakunya, dan dia berjalan mengelilingi mobil tiga atau empat kali,” kata para saksi mata menceritakan. “Itu adalah mobil empat pintu, dan atapnya diturunkan. Akhirnya, dia pergi ke sisi kiri mobil, dan dia mengeluarkan tangannya, memegang pintu, dan gubrak! Dia merenggutkan pintu sampai copot! … Bagaimana orang itu melakukannya, saya tidak tahu! Dia melompat masuk, dan gubrak! Copot pula pintu lainnya. Hancurlah kaca depan. Dia melompat ke jok belakang dan mulai memukuli atap. Dia merobek atap dengan tumit sepatunya. Dia menghancurkan mobil sebisa-bisanya.”

Knudsen keluar dan pergi ke General Motors. Henry Ford terus memelihara Model T. Tetapi perubahan desain dalam model pesaing membuatnya menjadi lebih kuno daripada yang diakuinya. Kendati General Motor mengancam akan mendahului Ford, sang pencipta tetap menginginkan kehidupan membeku di tempatnya.

Contoh berikut pun cukup menarik. Selama berabad-abad orang percaya bahwa Aristoteles benar, dengan teorinya: bahwa semakin berat suatu benda, semakin cepat benda itu jatuh ke tanah. Pada waktu itu Aristoteles dipandang sebagai pemikir terbesar sepanjang zaman dan karena itu tentu saja dia tidak mungkin salah. Padahal yang diperlukan hanyalah seorang yang berani untuk mengambil dua buah benda, yang satu berat dan lainnya ringan, lalu menjatuhkannya dari ketinggian yang cukup untuk melihat apakah benda yang berat memang jatuh lebih dahulu atau tidak. Tetapi saat itu tidak ada orang yang tampil ke depan sampai hampir 2000 tahun setelah kematiannya.

Pada tahun 1589, Galileo memanggil para profesor yang terpelajar ke landasan Menara Miring Pisa. Kemudian dia naik ke puncak dan mendorong jatuh dua buah beban, yang satu seberat sepuluh pon dan yang lainnya satu pon. Hasilnya, keduanya ternyata mendarat pada saat yang sama!

Apa kata para profesor? Karena mereka tetap yakin dengan kekuatan kebijaksanaan konvensional yang demikian kokoh bersemayam dalam diri mereka, para profesor itu tetap menyangkal apa yang mereka lihat. Mereka tetap mengatakan bahwa Aristoteles benar, lalu lemparkan Galileo ke penjara dan melewatkan sisa hidupnya dalam tahanan rumah.

Pertanyaannya, masih adakah sesuatu yang begitu kuat Anda yakini sehingga sekalipun sudah berulang kali diperlihatkan fakta-fakta betapa pentingnya kita segera berubah, tetap saja Anda tidak mau berubah?

Karena itulah, Howard Hendrick, dalam Teaching to Change Lives mengingatkan: Kalau Anda ingin terus memimpin, maka Anda harus berubah. Begitu para pemimpin secara pribadi mau berubah dan mulai melakukannya, maka segala sesuatu yang berada dalam tanggung jawabnya pasti segera berubah. Para pemimpin adalah motor perubahan, dan karena itu ia harus berada di depan untuk menggerakkan perubahan dan mendorong pertumbuhan serta menunjukkan jalan untuk mencapainya.

Tapi terkadang ada pula sebagian pemimpin kita yang mungkin berperilaku seperti Lucy dalam kartun “Peanuts”. Sambil menyandar ke pagar ia berkata pada Charlie Brown, “Saya ingin mengubah dunia.” Charlie bertanya, “Darimana kamu akan memulai?” Lucy menjawab, “Saya akan mulai dengan kamu!”

Para pemimpin yang ada di seluruh bagian perusahaan di mana pun ia berada, harus mampu menjadi motor perubahan. “Mereka harus lebih menjadi termostat daripada termometer,” kata Maxwell, dalam bukunya Mengembangkan Kepemimpinan di Sekeliling Anda.

Apa bedanya? Kedua alat ini memang sama-sama bisa mengukur panas, tapi ada bedanya. Termometer bersifat pasif. Ia hanya mencatat suhu lingkungan tetapi tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubah lingkungan. Termostat adalah alat yang aktif. Alat ini menentukan akan menjadi apa sebuah lingkungan. Termostat mempengaruhi perubahan supaya bisa menciptakan iklim. Pemimpin yang baik, mampu menjadi motor perubahan yang menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan cita-cita perusahaan.

Perubahan Apa?
John C. Maxwell dalam buku The Winning Attitude menggambarkan, “Orang berubah ketika mereka cukup sakit sehingga harus berubah; cukup belajar sehingga ingin berubah; cukup menerima sehingga mereka bisa berubah.” Karena itu para pemimpin perlu mengenali siapa-siapa saja orang-orangnya yang berada dalam salah satu dari tiga tahap ini. Sedangkan para pemimpin puncak akan menciptakan suasana yang menyebabkan salah satu dari tiga hal ini terjadi.

Apa yang pertama dan utama sekali perlu diubah oleh para pemimpin, sehingga ia mampu menciptakan suasana yang akan mendorong orang lain ikut berubah?

Maxwell, mengajarkan:
Pertama, pemimpin harus mengembangkan kepercayaan dengan orang lain. Kalau anggota tim percaya kepada pemimpin, itu sudah lumayan hebat. Akan tetapi jauh lebih hebat lagi jika justru pemimpin yang percaya kepada para anggotanya. Bila ini benar-benar terjadi, kepercayaan adalah hasilnya, maka semua pun akan mengikuti. Abraham Lincoln berkata, “Kalau Anda ingin merebut hati seseorang agar mendukung perjuangan Anda, mula-mula yakinkan dia bahwa Anda sahabatnya yang sejati. Lalu selidikilah apa yang ingin dicapainya.” Ujian praktis bagi seorang pemimpin adalah pertanyaan, “Bagaimana hubungan Anda dengan para pengikut Anda?” Kalau hubungannya positif, maka pemimpin itu telah siap untuk mengambil langkah-langkah berikutnya.

Kedua, pemimpin harus membuat perubahan pribadi pada dirinya sendiri, sebelum meminta orang lain berubah. Para pemimpin sukses bukan hanya mengatakan apa yang harus dilakukan, mereka memperlihatkannya! Orang meniru apa yang mereka lihat dari sang pemimpin. Apa yang dihargainya akan dihargai pula oleh anak buahnya. Tujuan pemimpin menjadi tujuan mereka. Lee Iacocca berkata, “Kecepatan bos adalah kecepatan tim.” Kita perlu ingat bahwa kalau orang mengikuti kita, mereka hanya bisa pergi sejauh kita pergi. Kalau pertumbuhan kita berhenti, kemampuan kita untuk memimpin pun akan berhenti. Karena itu mulailah belajar dan tumbuh sejak hari ini, maka lihatlah mereka yang ada di sekeliling Anda, mereka pun ternyata tumbuh dan berubah. Ambil contoh saja, mulailah menghilangkan sikap takut mengatakan hal-hal yang tidak ingin didengar oleh atasan Anda. Sebagai pemimpin Anda harus melaporkan dan menyampaikan apa yang perlu anda laporkan, bukan apa yang sebaiknya dilaporkan. Lalu rangsanglah anggota organisasi anda untuk berani pula menyampaikan apa yang perlu Anda dengar, bukan apa yang ingin anda dengar.

Ketiga, perlihatkan kepada tim anda bagaimana perubahan itu sebenarnya akan sangat menguntungkan bagi mereka. Sebab perubahan yang sedang kita lakukan saat ini adalah jalan terbaik bagi seluruh pihak, demi masa depan semua orang, bukan bagi Anda sebagai pimpinannya. Kepentingan orang banyak itulah yang harus didahulukan.

Keempat, beri mereka andil kepemilikan atas perubahan itu. Kalau orang kurang ikut memiliki suatu gagasan, mereka biasanya menentangnya, bahkan seandainya pun gagasan itu sebetulnya untuk kepentingan mereka yang terbaik! Pemimpin yang bijaksana memungkinkan pengikut bisa memberikan masukan dan menjadi bagian dari proses perubahan. Tanpa rasa memiliki ini, perubahan hanya akan berjangka pendek. Mengubah kebiasaan dan cara berpikir orang banyak seperti menulis perintah di atas salju dalam badai. Setiap duapuluh menit perintah harus ditulis kembali, kecuali kalau kepemilikan diberikan bersama dengan perintah.

Karena itu, kata Trusell dalam Helping Employees Cope with Change: A Manager’s GuideBook, “Tunjukkan kepada orang lain bagaimana perubahan akan menguntungkan mereka. Mintalah mereka untuk berperan serta dalam semua tahap proses perubahan. Bersikaplah lentur, terbuka, dan bisa menyesuaikan diri sepanjang proses perubahan. Akuilah kesalahan dan buatlah perubahan kalau sesuai dengan keadaan. Doronglah setiap anggota tim untuk membicarakan perubahan. Mintalah pertanyaan, komentar, dan umpan balik mereka. Tunjukkan keyakinan anda atas kemampuan mereka untuk melaksanakan perubahan. Akhirnya jangan lupa berilah selalu antusiasme, bantuan, penghargaan, dan pengakuan kepada mereka yang melaksanakan perubahan.”[ni]

* Nilna Iqbal adalah alumni Jurusan Astronomi ITB. Saat ini, kelahiran 8 Mei 1967 ini menekuni pekerjaanya sebagai penulis, trainer, dan entrepreneur. Nilna tercatat pernah aktif sebagai anggota redaksi sejumlah media serta mendapat tiga penghargaan penulisan tingkat nasional dari 1990-1992. Ia dapat dihubungi di: nilnaiqbal@yahoo.com

NIKMATNYA PENDERITAAN

Oleh: Victor Asih

Saya ingat sewaktu masih menjadi siswa SMA di Cirebon, sekitar 22 tahun yang lalu, di saat liburan saya pernah beberapa kali mendaki Gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat. Setelah jam 6 sore saya biasanya memulai pendakian dari satu desa terpencil di lereng Gunung Ciremai. Selama perjalanan melewati medan yang cukup sulit buat orang awam (apalagi di musim hujan) dalam kesunyian, gelap gulita, kedinginan, saya harus waspada saat menembus hutan lebat yang masih alami.

Tak jarang saya harus mencari-cari jalan, naik pohon, melintasi pinggir jurang atau melewati jalan-jalan yang cukup sulit karena memang tidak ada jalan buatan manusia. Yang ada hanya jalan yang secara alami terbentuk dari aliran air hujan menuju bawah gunung. Dalam perjalanan, saya sering berpikir bahwa betapa enaknya kalau saat itu saya berada di rumah saja. Santai di sofa, menonton TV ditemani makanan yang hangat. Sangat kontras dengan keadaan saya saat itu.

Mengapa saya bersusah payah mendaki gunung? Lelah, sunyi, gelap, dingin, belum lagi kadang pikiran saya terusik dengan berbagai cerita kejadian magis di gunung ini (saya sendiri pernah mengalaminya). Belum lagi, berita di media massa tentang beberapa pendaki yang hilang, bahkan tewas di gunung yang sedang saya daki ini.

Sampai di puncak Gunung Ciremai biasanya sekitar jam 6 pagi jika terus berjalan sepanjang malam. Di puncak Gunung Ciremai, saya hanya sebentar saja menikmati pemandangan luar biasa yang memang “tidak bisa di lihat dari tempat lain” dan memetik bunga Edelweiss secukupnya sebagai oleh-oleh yang biasanya diminta oleh teman-teman sekolah. Perasaan puas timbul saat sampai di dataran tertinggi di puncak gunung. Bukan karena berhasil menaklukkan puncak Gunung Ciremai atau berhasil berdiri di tempat paling tinggi di Jawa Barat. Tetapi, karena saya berhasil menaklukkan penderitaan, ketakutan, kedinginan, kesunyian, keengganan, dan berbagai hambatan dalam diri saya supaya dapat naik ke puncak gunung ini.

Saat saya sudah kembali berada di rumah, selalu muncul keinginan untuk mendaki Gunung Ciremai lagi (bahkan sampai sekarang). Hal yang paling membuat saya ingin kembali lagi adalah karena saya menikmati proses perjuangan (dengan segala penderitaannya) dalam perjalanan menuju puncak Gunung Ciremai selama kurang lebih 10 jam mendaki, ditambah 9 jam turun gunung, lebih daripada menikmati keberhasilan berada di puncak gunung yang hanya setengah jam.

Saya berkesimpulan bahwa menikmati proses perjuangan jauh lebih nikmat daripada menikmati hasil. Mari kita nikmati “proses perjuangan menuju keberhasilan”, lebih daripada menikmati “keberhasilan” itu sendiri. Apa pun kondisi Anda saat ini, hidup anda akan terasa lebih nikmat kalau Anda menikmati proses perjuangan Anda.[va]

* Victor Asih adalah seorang konsultan bisnis dan SDM yang bergerak di bidang pengembangan piranti lunak serta teknologi informasi. Pada tahun 1999-2001 ia tercatat pernah mendapatkan pernghargaan sebagai seorang profesional di tingkat nasional hingga Asean. Ia dapat dihubungi di:

BANGKIT DARI PUING-PUING RERUNTUHAN

Oleh: Soesilowati

Saya seorang guru. Setiap hari saya berangkat ke sekolah dengan naik sepeda motor untuk bergaul, bercanda, bergembira, dan berbagi kebahagiaan yang terarah bersama anak-anak didik saya. Panas terik matahari kalau musim kemarau atau dinginnya air hujan yang menusuk tulang-tulang tangan di balik jas hujan manakala musim hujan. Belum lagi di tambah hirupan bau asap kendaraan bermotor, terutama yang berbahan bakar solar, sudah akrab dan biasa bagi saya. Bisa Anda membayangkannya?

Tiba-tiba pada suatu hari saya diberi kabar bahwa saya memenangkan sebuah undian yang sangat istimewa. Ya, bisa Anda bayangkan perasaan gembira, bahagia, syukur, takjub…., yang membuncah dalam hati saya. Saya mendapatkan hadiah “sebuah mobil Mercedes New S-Class”. Ya, seolah-olah seperti itu rasanya. Pasti Anda juga senang, gembira, syukur dan ……, pokoknya bahagia bangetlah jika mengalami keberuntungan seperti saya.

Segeralah rencana macam-macam yang indah-indah muncul dan menari-nari di benak kepala untuk menyambut kehadiran ‘hadiah istimewa’ itu. Yes!

Ya, pada tanggal 13 Nopember 2007 malam itu, untuk yang pertama kali, saya diberitahu oleh dokter kandungan saya kalau saya sedang mengandung anak kembar. “Oh! Twins! Two girls! Very very much thank you, my God!” Saat itu usia kandungan saya baru lima bulan. Semalaman saya tidak bisa tidur, memikirkan bakal kehadiran dua buah hati sekaligus. Sebelum hari itu, saya sudah bahagia bakal menerima hadiah ‘seorang’ bayi dari Tuhan, eh ternyata akhirnya malah diberi dua sekaligus.

Kebahagiaan saya dan suami jadi berlipat ganda. Sahabat pembelajar yang sudah menjadi orangtua dan terutama para ibu yang pernah mengandung, pasti bisa ikut merasakan kebahagiaan saya. Kehamilan selalu memberikan pengharapan dan kebahagiaan bagi seorang ibu. Apalagi jika kehamilan itu adalah kehamilan kembar. Malam itu saya merasa seperti kata pepatah ‘bak mendapat durian runtuh’. Ya, saya bahagia dan senang sekali, ibaratnya seperti mendapat hadiah Mercedes New S-Class, dua sekaligus!

Hari demi hari saya lalui dengan bahagia. Saya jadi ingat bahwa bertahun-tahun yang lalu saya pernah berkeinginan punya anak kembar. Saya berdoa Novena kepada Tuhan setiap malam, berkonsentrasi meminta anak kembar. Waktu itu saya belum mengerti tentang cara kerja pikiran dan cara memprogram pikiran bawah sadar. Kini, ketika saya mendapatkan kehamilan kembar, saya bersyukur karena Tuhan telah mengabulkan doa saya yang ‘dulu sekali’ pernah saya minta. Dan, saya kagum betapa hebatnya program pikiran bawah sadar itu dan juga betapa baik dan sayangnya Tuhan pada saya! Terima kasih, Tuhan.

Kehamilan kembar bukannya tidak ada risikonya. Apalagi kehamilan saya adalah kehamilan kembar identik (satu ketuban). Risikonya sangat tinggi. Dokter, banyak teman, dan saudara bilang, harus dijaga baik-baik supaya mereka bisa lahir sehat dan tidak premature. Pada umumnya, kelahiran kembar terjadi di bulan kedelapan dari kehamilan. Dengan program pikiran yang pernah dan sedang saya pelajari dari buku-buku dan para pakar pikiran, saya selalu memprogram pikiran saya agar kedua janin saya baik-baik di dalam kandungan dan bisa lahir dengan sehat serta selamat pada waktunya. Tiap malam, bersama putri sulung saya, kedua janin tersebut kami ajak bicara agar mereka bisa saling menyayangi, saling berbagi makanan, dan saling melindungi satu sama lain.

Saya menginginkan bayi kembar yang lahir sehat, cantik, pintar, beruntung, dan memiliki berat badan yang tidak berbeda terlalu jauh satu dengan lainnya. Jadi, nantinya tidak ada bayi yang lebih kuat atau yang lebih lemah. Saya ingin keduanya sama-sama kuat, sama-sama pintar, sama-sama lucu. Akhirnya, hasil USG medio Desember 2007, cukup memuaskan dan membuktikan bahwa program pikiran yang saya tanamkan pada kedua janin saya bisa mereka terima. Saya senang mereka memiliki berat badan yang tidak terlalu jauh; 1,9 kg dan 1,8 kg. Berarti mereka mau mendengarkan pesan-pesan kami setiap malam agar mau saling berbagi dan saling menyayangi, tidak berebut makanan dan tempat.

Akan tetapi, sehebat-hebatnya rencana rancangan manusia, bila Tuhan menghendaki lain, maka terjadilah kehendak-Nya, bukan kehendak saya. Pada saat orang-orang bergembira merayakan acara tutup tahun 2007, saya merasakan sebuah kejanggalan. Kandungan saya diam seharian, tidak ada gerakan. Dan, pada tanggal 2 Januari 2008 pagi itu, ketika saya berhasil menghubungi dokter kandungan saya, saya diberitahu oleh dokter kandungan saya bahwa kedua janin saya sudah tidak ada (meninggal). Ya Tuhaaannnn…..! Kosakata janin meninggal dalam kandungan belum pernah saya ketahui, dan tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiran saya bakal terjadi seperti ini, tapi ternyata terjadi pada saya. Saya menangis, bingung, kaget, kecewa, dan tidak mengerti apa maksud Tuhan mencobai saya seperti ini. Yang saya pernah minta dulu adalah anak kembar yang sehat dan lucu, bukan kehamilan kembar?!

Selanjutnya, tahun baru 2008 yang saya anggap tahun membahagiakan dan akan saya sambut dengan penuh sukacita dengan kehadiran kedua buah hati kembar saya tiba-tiba berubah menjadi tahun 2008 yang penuh duka, kelabu, dan mencekam. Saya harus berjuang selama enam hari di rumah sakit, diinduksi, agar kedua janin saya yang sudah tidak bernyawa bisa lahir. Saya menangis sendiri, menyalahkan diri saya karena tidak bisa menjadi ibu yang baik, yang bisa melindungi kedua calon bayinya. Saya menangis sendiri di atas ranjang eksekusi saya di rumah sakit, setiap menyaksikan ibu-ibu lain yang berbahagia memeluk, menciumi, dan menyusui bayi mereka. Saya menangis sendiri, atas ketidaktahuan saya pada maksud atau rencana Tuhan pada saya. Sekaligus saya kehilangan dua buah hati ! Padahal tinggal enam minggu lagi, bila tragedyiini tidak terjadi, maka saya sudah bisa menggendong, memeluk, menciumi, menyusui, bermain, bercanda dan berbagi cinta, serta kebahagiaan bersama mereka.

Mercedes New S-Class saya tiba-tiba nabrak dan jatuh ke jurang, hancur berkeping-keping.

Menurut para pakar pikiran, rasa sedih yang sangat dalam itu memiliki level energi yang sangat rendah dan sebaiknya kita segera netralisir. Perasaan atau emosi sedih sebenarnya adalah bentuk pikiran juga. Dengan mengubah pikiran, perasaan akan berubah.

Saya berusaha mengusir rasa sedih itu dengan mencari-cari kesibukan. Saya maknai ulang kejadian itu dengan membuat cerita-cerita yang menenangkan hati dan perasaan saya. Saya baca artikel-artikel di internet. Saya cari tahu penyebab lilitan tali pusat pada janin (biang keladi yang telah mengambil nyawa kedua buah hati terkasih saya). Saya bermain dan bercanda dengan putri sulung saya. Saya masih punya seorang putri yang masih memerlukan perawatan, pendidikan, pengajaran, pengarahan, kasih sayang, dan cinta dari saya. Saya tulis ide-ide kreatif saya untuk membangkitkan gairah dan semangat saya lagi.

Berbagai macam hal saya lakukan supaya pikiran saya menjadi sibuk. Dengan menyibukkan pikiran, saya berharap perasaan saya berubah. Saya ingin bahagia lagi menghabiskan sisa hidup saya yang masih panjang (?) menurut saya. Nggak tahu lagi kalau menurut Tuhan, (he..he..he..). Maklum, semua perawat dan dokter di rumah sakit selalu bilang, “Sudah kehendak-Nya” bila bersangkutan dengan nyawa manusia.

Saya harus bahagia!

Ucapkan kalimat itu terus, dengan segenap hati dan segenap jiwa, maka gairah dan semangat untuk mengejar kebahagiaan itu akan muncul dan kita akan diberi-Nya jalan untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Dan, apabila kebahagiaan itu telah dapat kita rasakan, kita boleh mengganti ucapan itu dengan kalimat, “Saya sedang bahagia.” Rasakan perubahan yang terjadi dalam diri kita.

Saya harus bahagia![soe]

* Soesilowati mengawali kariernya sebagai staf IT di Kasogi. Kecintaannya pada dunia anak, dan apa yang dapat membantu anak dalam belajar mendorongnya mempelajari sempoa dan metode memori, akhirnya mempertemukannya dengan Adi W. Gunawan (pemilik sekolah Anugerah Pekerti). Sekarang, ia menjadi guru di sekolah tersebut. Soesilowati dapat dihubungi di soesi_wati@yahoo.com.

[Pembelajar.Com::]

MAUKAH ANDA BERUBAH?

Oleh: Duddy Indarto

Pernahkah Anda mengutuk diri sendiri, terlalu banyak mengeluh sambil menyalahkah Tuhan? Menyalahkan karena berprasangka tidak adil. Atau, terlalu iri pada sesama. Berpandangan bahwa orang lain diberikan rezeki dan keadaan yang serba ada. Serba enak. Sedangkan, ketika Anda menengok diri sendiri, masih jauh dari kata cukup.

Masih hidup serba kekurangan. Atau, Anda merasa hidup selalu sial. Nasib selalu buruk. Dalam kehidupan keseharian hanya dipenuhi duka lara. Nyaris, tak ada cerita bahagia di dalamnya. Hidup serasa suram, harapan akan datangnya kebahagiaan seperti fatamorgana. Harapan yang belum pasti kapan datangnya. Ditambah lagi, merasa tak ada potensi terbaik dalam diri. Pesimis akan masa depan. Hati selalu terpuruk. Bahkan, tampaknya hidup terasa gelap.

Ah, semoga saja itu tak terjadi. Saya sekadar ingin bicara tentang optimisme, bukan pesimisme. Hasrat untuk membahas optimisme berawal dari curhat seorang kakak ipar saya. Dia, merasa seperti yang saya ceritakan di awal. Lebih banyak diam ketika saya mendengar ceritanya. Hanya saja, saya merasa ada yang perlu diluruskan. Ada yang sepertinya perlu pemikiran berbeda dalam mennyikapi fenomena nasib kita. Ya, pandanglah dunia dengan cara yang berbeda. Karena, dunia pun begitu. Di balik sisi gelap, ada cahaya yang terang benderang. Gelap terang dunia itu niscaya. Tinggal, pandai-pandai kita dalam memilihnya.

Orang Jawa bilang, hidup ini sawang sinawang (saling melihat). Orang yang merasa miskin, kadang terlalu melihat dan mendongak ke atas. Sambil berandai-andai, memimpikan betapa enaknya jadi orang kaya. Sementara, kadang, orang yang dipandang kaya itu rupanya tak seindah yang dibayangkan oleh si miskin. Hidup selalu sibuk. Urusan banyak. Kadang persoalan datang silih berganti. Tak ada hentinya. Setiap pulang ke rumah, tinggal capeknya saja.

Singkatnya, nyaris tak ada waktu senggang untuk menikmati hidup. Menikmati kekayaan yang dimilikinya. Begitulah hidup dalam bingkai sawang sinawang.

Saya tak hendak mengatakan bahwa jangan jadi orang kaya. Justru, kita perlu kaya. Hanya, tak sekadar kaya materi. Kaya jiwa juga perlu. Karena, inilah sebenarnya kekayaan yang mendatangkan kebahagiaan. Dalam kondisi apa pun. Untuk bisa meraihnya, kita memang perlu menggelorakan semangat untuk berubah. Agama sendiri telah mengajarkan itu. Tuhan tidak akan mengubah nasib sebuah kaum, sebelum mereka mau mengubah nasib diri mereka sendiri. Inilah yang dinamakan proses.

Bagi siapa pun yang kini sedang merasa terpuruk. Tak ada kata selain kita mesti bangkit. Membangun kembali keping-keping semangat yang masih ada. Memaksimalkan segenap potensi yang kita miliki. Mari sama-sama kita mengejar mimpi yang belum terwujudkan. Mimpi yang masih tertunda.

Kita mesti ingat, masa depan adalah apa yang kita rangkai hari ini. Selangkah demi selangkah, mari kita semai dan wujudkan mimpi-mimpi kita bersama. Semangat untuk berubah kita bangun kembali. Kali ini, kita memang perlu sepakat dengan kata para pakar pengembangan diri, sikap optimis. Ya, sebuah optimisme dalam diri kita. Sikap optimis itu perlu asal proporsional, asal tidak berlebihan. Optimisme perlu ada sebagai awal perubahan atas diri kita, bukan sebaliknya, selalu pesimis. Yang kita perlukan adalah optimisme, bukan pesimistis. Sebab sikap pesimis tidak akan pernah menghasilkan apa-apa. Percayalah![di]

* Duddy Indarto adalah alumnus STIE Perbanas Surabaya dan pengelola sanggar kreativitas anak Ciluuba (kecil-kecil luar biasa). Ia tinggal di Jalan Taman Indah II/20, Surabaya 60234. Duddy dapat dihubungi di telepon 031-8287161, flexi: 031-70069909, atau email: duddyspidey@yahoo.co.id.

Senin, 27 Oktober 2008

SIAP MENGAMBIL PELUANG

-Oleh: Ruddy Kusnadi

Ketika Indonesia menghadapi krisis ekonomi di tahun 1998, saya terkesan melihat sampul program Indonesia Forum pada saat itu. Pada bagian atas, di bawah logo berwarna merah putih, tercantum kalimat, “The waiting game is over”. Di bawahnya, dengan huruf yang lebih besar tertulis kalimat; “Now is the Time to Act”. Kemudian Bondan Winarno, ketua Indonesia Forum, dalam pengantarnya mengatakan bahwa saat ini kita harus bekerja dengan “sense of urgency”. Setiap detik harus dihitung dan setiap proses keruntuhan harus segera dihentikan. Kita tidak bisa lagi menunggu. Kita menentukan masa depan dan tujuan akhir yang kita inginkan. Kita tidak mungkin menggambar bintang apabila kita percaya bahwa langit akan runtuh. Kita harus segera bertindak, karena esok mungkin sudah terlambat. Dan Bondan benar, dalih bahwa kita tidak dapat membuat rencana karena ketidakpastian yang dihadapi, harus segera ditinggalkan. Meskipun situasi ekonomi dan sosial politik saat ini belum menentu, tugas dan pelayanan kita harus tetap berjalan.

Pada masa lalu, suatu organisasi akan berhasil apabila mereka mampu meramalkan masa depan yang diperkirakan akan terjadi. Atas dasar ramalan tersebut, organisasi akan dirancang dan dibangun. Berkaitan dengan itu, kita mengenal istilah-istilah merencanakan, mengoperasikan, mengendalikan, mengukur atau mengambil tindakan. Tetapi kini, semua itu seakan tidak berguna. Ketidakpastian membuat kita sulit meramalkan apa yang akan terjadi. Kalau begitu, bagaimana menghadapinya? Charles Handy, seorang filsuf bisnis dari Inggris, menyatakan bahwa kita harus belajar untuk hidup dalam kekacauan dan ketidakpastian. Kita harus mencoba tetap merasa nyaman dan tidak selalu mencari kepastian yang tidak akan ditemukan. Ia mengatakan bahwa satu-satunya yang dapat kita lakukan adalah mengikuti arus perubahan dan berusaha mengarahkannya, karena cara untuk membuat masa depan menjadi bermakna adalah dengan mengelolanya dan bukan bertindak reaktif terhadapnya.

Bagaimana kita dapat memahami perubahan yang terjadi dan mengarahkan yang relevan bagi kita? Mari belajar dari cerita tentang pelamar pekerjaan yang selalu waspada. Remy sudah lama ingin jadi markonis kapal laut dan kesempatan itu datang ketika ada lowongan untuk jabatan tersebut. Ketika menerima surat panggilan, ia segera pergi ke kantor perusahaan pelayaran yang memanggilnya. Ia disuruh menunggu di depan sebuah kamar tempat wawancara akan dilangsungkan. Ternyata Remy tidak sendirian. Di ruang tunggu, sudah banyak pelamar lain yang bergerombol dan asyik mengobrol di sela kebisingan suara radio, peluit kapal, dan hiruk-pikuk pelabuhan.

Remy agak cemas menyadari akan adanya persaingan dan pelamar lain telah datang lebih dulu. Ia mencoba menenangkan dirinya dan memerhatikan suasana yang ada. Tak lama setelah itu Remy masuk ruangan dan sepuluh menit kemudian ia keluar lagi dengan wajah berseri. Pelamar-pelamar lain menjadi bingung dan bertanya, “Apa yang terjadi?”

“Saya sudah diterima dan akan mulai berkerja bulan depan,” jawab Remy.

“Bagaimana mungkin?” tanya pelamar lainnya. Mereka mengaku tidak mendengar panggilan ataupun pengumuman petugas, selain suara radio dan peluit kapal yang sangat bising.

“Di situlah letak permasalahannya. Pada waktu peluit kapal dibunyikan berulang-ulang, saya memerhatikan dan menyadari bahwa peluit tadi menyiratkan nada morse, dan meminta agar pelamar yang mengerti makna nada tadi segera masuk ruangan wawancara,” jelas Remy.

Ternyata, di antara suara-suara bising dan tidak mengenakkan, Remy tetap waspada dan dapat memahami nada yang bermakna, yang akhirnya membawanya ke pekerjaan dan masa depan yang diidamkan.

Apa nada sandi yang bermakna bagi kita? Tom Peter dalam bukunya “Thriving on Chaos” mengutip pendapat Gubernur Maryland Don Shaefer, ketika ia masih menjadi mayor Baltimore, “Kalau mau menang, kita harus pergi ke tempat di mana suara letusan senjata terdengar.” Dalam bisnis, tempat ini adalah para pemercaya (stakeholders). Tanpa mengurangi makna yang lain, dua pemercaya yang penting adalah pelanggan dan karyawan. Untuk itu, menarik untuk mengkaji pendapat Skip Weitzen dalam membahas model pertumbuhan perusahaan abad XXI, yang menyatakan bahwa memahami kemauan pelanggan memerlukan riset yang mendasar. Menurutnya, pelanggan menghendaki realisasi moto, pelayanan prima, kualitas, filosofi, pendidikan dan pelatihan, integrasi fungsi dan gaya hidup, efisiensi, dan pelayanan masyarakat.. Pada pihak lain karyawan selaku sumber daya manusia adalah aset organisasi.

Menyadari semua itu, apa yang perlu kita perbuat? Mungkin kita telah memiliki moto kerja, tetapi apakah moto ini telah dihayati seluruh jajaran organisasi kita? Mungkin produk dan jasa kita tergolong berkualitas, tetapi apakah kualitas ini dapat ditingkatkan agar menjadi prima? Apakah telah meliputi kaidah lain di luar standar kualitas, seperti perilaku dan moralitas? Kita mungkin sudah memiliki visi dan misi, tetapi apakah ini telah dipahami bersama dan disosialisakan? Kita mungkin memiliki program pengembangan SDM, tetapi apakah program ini sesuai kebutuhan dan sudah dinikmati karyawan kita secara keseluruhan? Kita mungkin sudah memiliki model peran dan fungsi masing-masing unsur organisasi, tetapi apakah fungsi ini telah disesuaikan dengan perubahan gaya hidup masyarakat? Kita mungkin selalu menyusun program dan anggaran tahunan, tetapi apakah efisiensi sudah dicapai? Dan akhirnya, apakah kita sudah melayani masyarakat sesuai dengan pemahaman yang benar atas pemercaya kita?

Menjawab pertanyaan di atas akan memberikan nada sandi bagi kita untuk terus bekerja dalam kewaspadaan menghadapi ketidakpastian dan perubahan yang sedang terjadi. Selanjutnya, apabila kita menyadari masih banyak yang dapat disempurnakan, mari kita ingat bahwa masa menunggu sudah lewat, dan kita harus segera bertindak. Kita tidak dapat berjalan mundur ke masa depan dan masa depan akan lebih menggairahkan apabila kita dapat menentukan bentuknya. Marilah kita belajar dari kewaspadaan Remy dan memanfaatkan model-model analisis yang relevan bagi kita.[rk]

* Ruddy Kusnadi adalah dosen Universitas Indonesia dan alumnus workshop SPP ”Cara Gampang Menulis Buku Bestseller” Angkatan Ke-4.

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman