Minggu, 02 November 2008

SIAPAKAH TERAPIS TERBAIK BAGI ANAK KITA?

Oleh: Ariesandi S.

”Halo, selamat siang Pak. Saya Indri pembaca buku Hypnoparenting. Saya ingin minta waktu Bapak untuk konsultasi tentang masalah anak saya. Apakah Bapak ada waktu?” demikian suara di seberang telepon. Setelah saya tanyakan apa masalahnya kemudian kami menyepakati jadwal bertemu.

Masalah Irwan, anak Ibu Indri, adalah masalah motivasi belajar. Irwan duduk di kelas dua sekolah dasar. Karena ”malas” belajar maka nilainya jelek dan akhirnya ia jadi minder di hadapan teman-temannya. Tidak berhenti sampai di situ saja. Ia sering berkelahi dengan temannya dan berselisih dengan guru dan orangtuanya. Ibu Indri sering dipanggil oleh guru Irwan dan sang guru sudah angkat tangan terhadap masalah tersebut.

Pada hari yang telah disepakati saya menemui Ibu Indri dan Irwan. Setelah ngobrol ringan beberapa saat saya mengetahui bahwa Ibu Indri dan suaminya adalah tipe orangtua ketiga. Orangtua tipe pertama adalah orangtua ”pencegah masalah”, orangtua tipe ini sering saya jumpai dalam seminar ataupun pelatihan intensif yang saya berikan. Orangtua tipe kedua adalah orangtua ”pencari solusi”. Mereka mencari solusi atas permasalahan anaknya. Tipe ini juga sering saya jumpai di seminar saya dan tak jarang berlanjut ke janji konsultasi dan terapi. Tipe ketiga adalah orangtua ”tahu beres”. Tipe ini hampir tidak pernah saya temui dalam seminar saya tetapi sering langsung datang ke ruang konsultasi dan terapi.

Orangtua tipe ketiga, seperti Ibu Indri dan suaminya, datang ke ruang terapi dengan harapan bahwa masalah anaknya langsung beres. Mereka berharap saya adalah makhluk ajaib yang langsung bisa menghipnosis anaknya untuk menuruti keinginannya.

Ketika mereka tahu bahwa proses perubahan anaknya menuntut proses perubahan diri mereka sendiri maka mereka jadi terheran-heran. Orangtua tipe ketiga sering tidak menyadari bahwa permasalahan anaknya bersumber dari pendekatan yang salah yang mereka lakukan sejak anak tersebut menjalani proses tumbuh kembangnya. Orangtua tipe ketiga sering menganggap bahwa anaklah yang sepenuhnya bertanggung jawab atas masalahnya. Mereka benar-benar susah untuk menerima kenyataan bahwa merekalah pemicu utama dari tindakan anak-anaknya.

Mengapa bisa begitu? Karena pada awal mulanya anak-anak hanya merespon sikap dan tindakan orangtuanya. Ketika orangtua mengulangi sikap dan tindakannya maka si anak juga mengulang respon yang sama. Dan akhirnya karena sering diulang maka hal ini menjadi kebiasaan dan karakter si anak.

Setelah saya memberikan masukan pada Ibu Indri dan suaminya tentang masalah Irwan kemudian saya mulai membantu Irwan secara pribadi untuk mulai mengubah cara pandangnya. Pada dasarnya ia anak yang sangat baik dan cukup punya pengertian tentang berbagai masalahnya. Ia mulai menyadari bahwa kejengkelan terhadap orangtuanya yang sering menjadi pemicu dari sikapnya. Saya meyakinkan padanya bahwa papa mamanya akan mengubah pendekatan mereka padanya. Setelah itu kami berpisah.

Satu bulan kemudian Ibu Indri menelepon saya untuk minta waktu lagi. Ia mengatakan bahwa perubahan anaknya hanya terjadi dua minggu saja. Setelah itu sikapnya balik lagi seperti semula.

Singkat cerita kami bertemu kembali. Dan saya tahu apa yang harus saya katakan pertama kali untuk memeriksa kembali kasus ini. Pertanyaan saya pertama adalah seberapa konsisten ibu Indri dan suaminya menjalankan apa yang saya minta. Mereka langsung mengatakan bahwa mereka susah sekali untuk mengubah pola pendekatannya ke Irwan. Mereka sering kembali lagi ke pola lama mereka yang menggunakan bentakan, cemoohan dan perkataan yang merendahkan secara tidak langsung. Mereka sering mengambil jalan pintas.

”Lalu saya harus bagaimana lagi. Saya sudah jengkel dan tak sabar melihat sikapnya. Saya kan masih banyak pekerjaan lain. Saya tidak mengurusi dia saja kan?” demikian Ibu Indri membela dirinya.

”Kalau begitu siapa yang harus mengurusi Irwan yang masih sekecil itu?” demikian saya ingin tahu jawabannya.

”Lha saya kan sudah sekolahkan dia. Saya sudah panggilkan guru les ke rumah untuk menemaninya belajar. Saya sudah sediakan pengasuh khusus untuknya. Apa lagi yang harus saya lakukan?” demikian katanya setengah putus asa.

”Hmmmm tapi bukan itu saja yang dibutuhkan Irwan. Mereka semua tidak bisa memenuhi tangki cinta Irwan. Hanya Ibu dan Bapak yang bisa melakukannya. Dan Irwan benar-benar mengharapkan hal itu dari Bapak dan Ibu tetapi ia jarang mendapatkannya. Kedekatan fisik Bapak Ibu tidak berarti kedekatan emosional. Masalah ini hanya bisa diselesaikan jika bapak Ibu berkomitmen pada diri sendiri untuk melakukan perubahan sehingga akhirnya Irwan akan meresponnya dengan cara berbeda pula. Bapak Ibulah yang menjadi terapis utama bagi Irwan bukan saya! Secanggih-canggihnya saya melakukan hipnoterapi pada Irwan tetapi jika Bapak Ibu di rumah, yang jelas lebih banyak berhubungan dengan Irwan, tidak mendukung tumbuhnya kebiasaan baru maka cepat atau lambat hasil terapi akan terkikis habis!” demikian saya menjelaskan.

Dari contoh kasus di atas jelas sekali bahwa peranan orangtua sebagai terapis bagi anaknya sendiri sangat besar. Orangtua adalah akar dari sebuah pohon yang akan menyerap segala nutrisi yang ada di sekitarnya dan kemudian menyalurkannya ke anak sebagai buah yang ada jauh di atas pohon. Untuk menghasilkan buah yang baik maka akarnya yang harus diperhatikan agar bisa menyalurkan nutrisi yang baik dan berguna bagi bakal buah yang akan berkembang. Ketika buah sudah sudah muncul maka perlakuan kita untuk mengubahnya hanya mempunyai pengaruh yang kecil atau bisa jadi terlambat.

Bagaimanakah dengan diri kita sendiri? Termasuk tipe orangtua manakah kita? Saya percaya artikel ini jatuh ke tangan orangtua tipe pertama dan kedua. Orangtua tipe ketiga yang tahu beres tidak akan mau repot membaca artikel ini. Oleh karena itu beritahukan hal ini pada mereka agar cepat sadar demi masa depan anak-anaknya. Salam hangat penuh cinta.[as]

* Ariesandi S.,CHt Mitra Pendiri Mathemagics dan Hypnoparenting Education and Therapy Center serta on-line course www.hypnoparenting.com bisa dihubungi di ariesandi@hypnoparenting.com atau ariesandi@mathe-magics.com

PERUMPAMAAN TENTANG BENIH

Oleh: Indra Cahya


”Try not to become a man of success, but rather a man of value.”
~ Albert Einstein

Alkisah, ada seorang penabur benih yang pergi membawa sekarung benih. Sepanjang perjalanannya, sebagian benih jatuh di pinggir jalan, setelah beberapa waktu, datanglah seekor burung dan memakannya. Sebagian lagi jatuh di tanah yang berbatu, yang tidak banyak tanahnya, dan benih itu pun segera tumbuh, tetapi tidak dapat bertahan lama karena tanahnya tipis, maka akarnya pendek, segeralah ia menjadi kering dan layu. Sebagian lagi jatuh di semak berduri, lalu seiring dengan pertumbuhan benih tersebut, ia terhimpit oleh semak belukar, sehingga ia tidak berbuah. Dan sebagian lainnya jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan subur dan banyak buahnya, dan menghasilkan banyak sekali panenan.

Benih hidup kita
Hidup manusia pun bisa dianalogikan seperti benih di atas. Seperti benih pertama, beberapa orang hidup tanpa berhasil mengaktualisasi potensi diri mereka atau bahkan tidak berhasil menemukannya. Mereka sama sekali tidak menghasilkan apa-apa dalam hidupnya, bahkan sampai mereka meninggal.

Beberapa seperti benih kedua, yang mampu berkembang dengan cepat dan pesat, namun sesungguhnya akarnya(hidupnya) sangat rapuh dan kering. Orang-orang sepertinya adalah orang yang tidak henti-hentinya bekerja secara terus menerus, tanpa mempedulikan kualitas kesehatan fisik, mental, ataupun sosial. Mereka memiliki kualitas hidup yang kurang baik, mungkin sakit-sakitan, memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah, ataupun terdapat ketidakharmonisan di keluarganya. Secara sekilas, mereka terlihat memiliki segalanya, tetapi sesungguhnya kehidupan mereka kering.

Beberapa seperti benih ketiga, walaupun mereka punya akar kuat dan mampu tumbuh tinggi, tetapi mereka tidak berbuah. Orang-orang seperti ini hanya hidup untuk dirinya sendiri, dan sesungguhnya mereka tidak memberikan ‘nilai’ yang berarti bagi orang-orang di sekitar mereka. Mereka hanya hidup untuk ambisi pribadi sendiri, tanpa memperdulikan orang lain. Mereka sama sekali tidak menghasilkan ‘buah’ yang bisa diberikan untuk orang lain.

Dan tentunya, sedikit orang seperti benih keempat, di mana mereka berhasil mempunyai tanah yang subur dengan mineral yang cukup, di mana akhirnya potensi dari benih tersebut bisa sampai maksimal dan juga menghasilkan buah bagi orang lain. Merekalah yang bisa menjaga keseimbangan di antara seluruh aspek hidup mereka, karena selain berbuah dengan baik, juga memiliki akar yang kuat.

Benih yang manakah kita?
Manakah benih yang paling menggambarkan hidup kita? Apakah hidup kita seperti benih yang pertama, yang hidup dengan sia-sia tanpa menghasilkan apa pun? Ataukah seperti benih kedua, yang dibutakan oleh harta semata tanpa mempedulikan kebahagiaan dan kesehatan kita? Dan akhirnya kita akan merasa hidup kita sia-sia dan kering? Ataukah seperti benih ketiga, yang hanya egois memperhatikan diri sendiri, tetapi tidak memberikan kontribusi(nilai) apa pun bagi sesama kita? Berbeda dengan benih, kita mempunyai kekuatan dan daya untuk menentukan hendak berada di tanah yang manakah kita berada. Jika pun kita telah berada di tanah yang salah, kita masih mempunyai kemampuan untuk berpindah. Tidak seperti benih yang hanya bisa pasrah, kita masih mempunyai ‘kaki’, pikiran, dan hati untuk meninggalkan tanah yang lama dan menuju tanah subur impian benih tersebut.

Jika kita merasa belum berada di tanah subur kita, maka jangan buang waktu lagi, carilah tanah tersebut. Tanamkanlah akar dengan kuat, tumbuhkanlah batang pohon kita dengan tinggi, dan yang paling penting: hasilkanlah buah yang manis untuk orang lain. Karena hanya dengan demikianlah, benih (orang) tersebut telah mengeluarkan potensi maksimal dalam dirinya. Benih yang berhasil menanamkan akar yang kuat, dan telah meumbuhkan batang yang menjulang tinggi, tapi tidak menghasilkan buah apapun, sama saja dengan tidak berguna. Ia akan ditebang dan dibuang, dan akan digantikan dengan pohon yang lain. [ic]

* Indra Cahya saat ini bekerja sebagai Management Development Trainee untuk sebuah bank swasta nasional terkemuka. Ia pernah menjabat Vice President Bina Nusantara English Club masa bakti 2005/2006. Saat ini, ia aktif mendalami dunia perbankan, keuangan, dan investasi. Penulis dapat dihubungi di HP: 0815.8848.567 atau email indra.cahya@gmail.com. Kunjungi pula website penulis yang beralamat di: www.indracahya.com.

PROBABILITAS PIKIRAN

Oleh: Syahril Syam


“Pembelajaran adalah perubahan. Bila tak ada waktu untuk berubah berarti tak ada pembelajaran yang sejati.
~ DAVE MEIER

“Setiap orang dapat mempelajari apa pun. Bedanya hanyalah ada yang perlu lebih banyak waktu daripada orang lain.”
~ Dr. Benjamin Bloom

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, Profesor Roger Sperry dan timnya melakukan beberapa percobaan yang luar biasa pada korteks serebral, bersamaan dengan Profesor Robert Ornstein. Mereka meminta para mahasiswa untuk melakukan berbagai tugas mental seperti melamun, menghitung, membaca, menggambar, berbicara, menulis, memberi warna berbagai bentuk, dan mendengarkan musik, sementara mereka mengukur gelombang otak mereka.

Hasilnya sungguh mengejutkan. Mereka mengamati bahwa, pada umumnya, korteks serebral membagi tugas ke dalam dua kategori utama, yaitu tugas otak kiri dan tugas otak kanan. Terlihat juga bahwa orang-orang yang telah dilatih dalam keterampilan-keterampilan yang lebih mengandalkan salah satu “sisi” otak, melanjutkannya dengan membentuk kebiasaan-kebiasaan dominan yang lebih memilih kegiatan yang dikendalikan sisi otak tersebut. Terlebih lagi, mereka bahkan menggambarkan dirinya dengan istilah-istilah dari sisi otak ini, seperti “akademik”, “intelektual”, dan “bisnis” untuk kegiatan belahan otak kiri, sementara “artistik", “kreatif”, dan “naluriah” untuk kegiatan belahan otak kanan.

Kajian lanjutan mengungkapkan bahwa kekuatan dan kelemahan yang berkelanjutan dari keterampilan kortikal pada setiap orang lebih merupakan fungsi kebiasaan daripada desain dasar otak. Bila Anda memiliki kelemahan pada area tertentu dilatih oleh pakar, keterampilan dan kekuatan Anda pada area tersebut akan meningkat, dan hebatnya lagi, kinerja Anda di area-area lain ikut menguat. Mengapa kinerja Anda pada area yang lain pun ikut meningkat?

Hal ini disebabkan karena otak bekerja berdasarkan dua prinsip penting, yaitu SINERGI dan PENGULANGAN. Sinergi berarti otak bekerja tidak berdasarkan sistem aritmetika, yaitu otak hanya memasukkan satu informasi setiap kali otak bekerja atau sistem pejumlahan matematika pada umumnya. Melainkan, setiap kali otak bekerja/Anda melakukan proses berpikir maka informasi yang masuk tidak hanya satu saja melainkan tak terbatas. Terlebih lagi jika Anda melakukan proses pengulangan terus-menerus, maka informasi yang Anda dapatkan bukan hanya tak terbatas tetapi juga semakin menguat alias Anda semakin pintar.

Jadi, dengan prinsip SINERGI dan PENGULANGAN Anda akan mendapatkan satu kenyataan yang luar biasa, yaitu:

“SEMAKIN BAIK ANDA MELAKUKAN SESUATU, MAKA SEMAKIN LEBIH MUDAH JADINYA UNTUK MELAKUKAN SESUATU TERSEBUT.”

Jika sesuatu adalah ingatan, maka semakin baik Anda melatih penggunaan ingatan, semakin banyak hubungan yang akan Anda buat di dalam otak Anda, dan ini akan semakin mempermudah Anda dalam mengingat sesuatu. Begitu juga, ketika tubuh Anda digunakan dengan baik, akan semakin sukses kinerjanya. Dan hal sama juga berlaku untuk kreativitas, pembelajaran, dan perkembangan semua ketrampilan mental dan fisik.

Ini juga berarti bahwa Anda semakin meningkatkan probabilitas (kemungkinan) pikiran Anda. Karena dengan semakin seringnya Anda melakukan pengulangan suatu pikiran, maka Anda semakin meningkatkan probabilitas dan ingat otak Anda juga bekerja berdasarkan prinsip sinergi, yang berarti Anda akan akan semakin luar biasa dan semakin unik. Dengan kata lain, semakin banyak Anda menggunakan otak Anda untuk memikirkan sesuatu, akan semakin mudah otak memikirkannya. Ini disebabkan karena hambatan biokomia terhadap pikiran tadi akan semakin berkurang.

Anda bisa melatih otak Anda untuk semakin kuat dalam:

1. Ingatan
2. Pembelajaran
3. Sukses
4. Kemajuan
5. Kreativitas
6. Kecerdasan
7. Pertumbuhan
8. Kekuatan Mental
Atau apa pun yang ingin Anda tingkatkan kemungkinan keberhasilannya.

INGAT!!!

Segala sesuatu yang Anda lakukan, katakan, pikirkan, atau rasakan meningkatkan probabilitas Anda melakukan, mengatakan, berpikir, atau merasa dengan cara yang sama lagi. Bila Anda melakukan segalanya dengan baik, bicara dan berpikir positif, dan pada umumnya merasa nyaman terhadap diri sendiri, orang lain, dunia, dan alam semesta, maka probabilitas Anda akan melakukan lebih baik, bicara dan berpikir lebih baik, merasa dan menjadi lebih baik akan terus meningkat.

Mari kita lihat contoh sederhana dari sistem kerja prinsip sinergi dan pengulangan ini. Anda mungkin masih mengingat ketika Anda pertama kali belajar mengendarai kendaraan roda dua untuk pertama kali. Biasanya kendaraan itu adalah sepeda roda dua. Anda juga mungkin masih mengingat ketika Anda terjatuh beberapa kali ketika belajar mengendarainya. Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena area otak yang mengkoordinasikan seluruh tubuh untuk mengendarai sepeda belum beradaptasi secara sempurna. Tangan masih terasa kaku, mata belum bisa fokus ke arah depan jalan, belum lagi kita harus mengontrol kaki kita untuk mengayuh sepeda.

Tapi, seiring dengan pengulangan yang terus-menerus, Anda menciptakan sinergitas antara seluruh tubuh Anda untuk bisa berkendara sepeda dengan lebih baik. Anda menciptakan probabilitas (kemungkinan) untuk bisa bersepeda. Dalam bahasa yang ilmiah, Anda telah menghilangkan hambatan biokomia di otak Anda tentang berkendara sepeda. Anda telah mengurangi hambatan dan membuka peluang untuk sebuah kebiasaan yang baru, yaitu kemampuan untuk berkendara sepeda.

Dan, perlu Anda ketahui bahwa peluang untuk menciptakan probabilitas/peluang yang baru itu TAK TERBATAS. Anda bisa menciptakan sebuah kebiasaan baru yang tak terbatas sesuai dengan yang Anda inginkan. Dengan kata lain, Anda bisa meraih apapun yang Anda inginkan. Anda bisa mencapai pretasi yang Anda inginkan, Anda bisa mencapai impian-impian Anda, Anda juga bisa meningkatkan kinerja kerja Anda. Luar biasa, bukan!

Pertanyaannya adalah: Kok, saya susah mencapai kesuksesan atau impian-impian saya atau mencapai prestasi seperti yang saya harapkan?

Seperti yang telah Anda lihat di atas tentang prinsip sinergitas, bahwa informasi yang masuk itu jumlahnya tak dapat dibatasi. Nah, yang penting untuk Anda ketahui bahwa informasi yang masuk ini, sayangnya, tidak hanya berupa informasi yang positif, melainkan juga informasi yang negatif. Jika informasi yang banyak masuk itu bersifat positif, maka tidak ada masalah. Bagaimana jika yang banyak masuk ke otak Anda itu informasi yang negatif, maka disinilah timbul masalah. Dengan kata lain, jawaban sederhana yang bisa kita utarakan di sini atas pertanyaan di atas adalah terlalu banyak informasi negatif yang masuk ke dalam otak Anda, sehingga melahirkan banyak kemandekan atas apa yang diinginkan. Informasi yang negatif itu sering disebut dengan: MENTAL BLOCK.[bersambung]

* Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, publik speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia sering disebut sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril_faqir@yahoo.com.

RENUNGAN BUAT PARA CALON SARJANA

Oleh: Abdul Muid Badrun

Dalam rentang waktu Januari-Februari 2007, saya tiga kali diundang oleh tiga perguruan tinggi berbeda di Yogyakarta dan Semarang. Ketiganya mengundang saya dalam kapasitas sebagai praktisi dan motivator entrepreneur untuk mengisi Kuliah Umum (studium general). Selama saya mengisi acara, ada “catatan besar” yang saya peroleh. Catatan besar itu lebih mengarah pada kegelisahan saya akan masa depan para mahasiswa kita. Terutama terkait dengan ke mana mereka akan berlabuh setelah mereka lulus kuliah. Artikel ini mencoba mengupasnya.

Disadari atau tidak, saat ini keadaan mahasiswa kita masih sangat mengkhawatirkan. Hal ini tidak saja karena tuntutan persaingan yang luar biasa, melainkan orientasi mahasiswa yang sangat praktis pragmatis. Coba tanya, ke mana mereka setelah lulus kuliah? Jawaban singkat yang muncul adalah “mencari kerja”.

Kata-kata “mencari” saya temukan dalam tiga kali pertemuan di tiga kampus yang berbeda. Mungkin sudah hal yang umum dan tidak ada yang aneh melihat jawaban para mahasiswa tersebut. Hanya saya khawatir, “mencari” adalah sama dengan “belum menemukan sesuatu”. Itu artinya mahasiswa kita selama 4-5 tahun kuliah tidak mendapatkan apa-apa. Bahkan, ilmu yang mereka dapatkan sering kali tidak sesuai dengan apa (pekerjaan) yang mereka cari. Misalnya, mahasiswa teknik bekerja di perbankan begitu pun sebaliknya. Itu artinya apa? Mahasiswa kita kebanyakan memperoleh ilmu yang setengah-setengah alias tidak matang. Untuk memahami masalah ini, saya kutipkan sebuah kisah inspiratif di bawah ini.

Diceritakan, ada seorang pemuda yang mengendap-endap untuk mencapai sebuah pohon mangga. Buah yang yang bergelantung membangkitkan seleranya. Beberapa saat kemudian, ia berusaha meraih beberapa buah untuk mengobati air liur yang mulai memenuhi mulutnya. Namun, sontak ia dikagetkan oleh suara ayahnya yang tiba-tiba saja muncul dari arah belakang. “Jangan anakkku, urungkan niatmu memetik buah itu!” tegur sang ayah bijak. Pemuda itu lantas berpaling ke arah ayahnya, sementara tangannya seperti kejang menggapai angin.

Dengan sigap dan penuh kelembutan, sang ayah meraih tangan anaknya. Lalu, membawanya berkeliling mengitari kebun pohon mangga. Sambil berjalan-jalan santai, ia mulai menasihati anaknya. “Anakku, memetik buah itu bukanlah tujuan yang hendak kita capai. Tujuan yang sebenarnya adalah mengambil manfaat dari buah itu setelah kita memetiknya. Ayah kira, buah yang belum matang itu tidak banyak memberikan manfaat bagi manusia. Oleh karena itu, tunggulah beberapa saat hingga buah itu matang dan kita dapat mengambil manfaat darinya.” Begitu nasihatnya.

Dari uraian kisah di atas, kita dapat mengambil makna bagaimana seseorang perlu bersabar dalam meraih kesuksesan. Sabar dalam pengertian ini adalah memahami apa (what), kapan (when), di mana (where) dan bagaimana (how) sebuah keputusan itu diambil. Selama ini, hidup kita lebih banyak didominasi oleh keputusan-keputusan yang dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat materi semata tanpa memahami akibat yang ditimbulkan. Mencari pekerjaan bertujuan untuk mendapatkan uang, mendirikan usaha bisnis juga untuk memperoleh uang, termasuk mencari ilmu (saat ini) entah itu kuliah S-1, S-2, atau S-3 tidak jauh dari tujuan utama untuk menghasilkan uang. Siangkatnya, uang saat ini sudah menjadi tujuan utama dalam hidup. Bahkan, karena uang, orang menjadi jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kesabaran.

Empat tahun seseorang dididik, diajarkan, dan dilatih untuk bisa menjadi seorang sarjana. Atribut sosial kesarjanaan selalu identik dengan status sosial. Ketika orang menjadi sarjana, maka ia sudah masuk di kelas menengah. Status sosial inilah yang mestinya disikapi secara cerdas oleh para mahasiwa kita saat ini. Jika tujuan utama kuliah adalah masih mencari kerja, maka yang ia dapatkan pun adalah kekecewaan. Barisan pengangguran yang terus bertambah jumlahnya tiap tahun memberi pelajaran berharga pada kita semua betapa kuliah ternyata tidak mampu menjawab masalah pengangguran. Kondisi ini mesti disikapi secara cerdas oleh para calon sarjana kita jika hendak lulus kuliah.

Ada tiga cara efektif dan cerdas agar kita tidak tergantung sebatas mencari kerja. Namun, setelah kuliah harus bisa menciptakan lapangan kerja. Cara cerdas ini antara lain: Pertama, mulailah dengan cinta. Mengapa cinta? Karena, dengan punya cinta maka segalanya akan terasa lebih mudah dan ringan. Jika Anda cinta musik, Anda punya peluang (opportunity) besar untuk buka usaha studio musik. Jika Anda cinta otomotif, Anda punya peluang besar untuk membuka bisnis bengkel atau cuci motor/mobil.

Jika Anda cinta memasak, maka Anda punya peluang besar untuk buka usaha rumah makan, restoran, atau kursus memasak. Jika Anda cinta menulis, maka Anda punya peluang besar untuk buka usaha kursus jurnalistik. Termasuk jika Anda cinta bahasa asing, maka Anda punya peluang besar untuk buka kursus bahasa asing. Dengan cinta itulah, minat dan hobi bisa berubah menjadi bisnis yang menggiurkan. Cobalah Anda mencintai apa yang menjadi minat dan hobi Anda.

Kedua, tindaklanjuti dengan aksi. Artinya, perlu tindakan konkret. Mencintai sesuatu tidak akan bermakna jika tidak ada langkah nyata. Wirausaha membutuhkan semangat aksi. Saya menganut ajaran: “Lakukan dulu, soal perencanaan dan lain sebagainya bisa dikerjakan belakangan.” Jika belum apa-apa sudah takut ini takut itu, maka bisnisnya tidak akan pernah jadi. Karena, sebenarnya ketakutan itu diciptakan sendiri oleh kita, bukan orang lain.

Ketiga, buktikan dengan budi pekerti. Artinya, setelah cinta mewujud menjadi aksi, maka wirausaha perlu budi pekerti yang baik. Berbisnis perlu aturan main yang baik, tidak boleh sikut sana sikut sini. Kejujuran dan keramahtamahan pada para konsumen akan semakin memikat dan mengikat mereka untuk kembali lagi bertransaksi dengan kita.

Ketiga cara di atas bisa dibuat formula sebagai berikut. Ibarat rumah, cinta adalah fondasi, tiangnya adalah aksi, atap-atapnya adalah budi pekerti. Karena itulah, untuk mereka yang akan lulus kuliah, melangkahlah dengan kaki keyakinan untuk menciptakan lapangan kerja dan tidak lagi mencari kerja. Jangan takut gagal, karena kegagalan adalah pintu memasuki keberhasilan. Selamat mencoba. Bagaimana menurut Anda?[amb]

* Abdul Muid Badrun adalah Motivator Entrepreneur dan Pembelajar di STIE Widya Wiwaha Yogyakarta. Ia bisa dihubungi di abdulmuidbadrun@yahoo.com

INDAHNYA UNIVERSITAS FORMAL, KERASNYA UNIVERSITAS KEHIDUPAN

Oleh: Tan Bun Heng


Kepatuhan pada orangtua
Kalau kita perhatikan tahapan hidup orang Indonesia secara umum dalam hal pendidikan, maka akan dijumpai suatu rutinitas pendidikan formal yang dimulai dari TK hingga akhirnya memasuki suatu masa yang namanya masa kuliah. Setiap tahun di kota-kota besar selalu disibukkan dengan orangtua yang memilih sekolah tinggi/universitas untuk putra-putri tercintanya. Bagi sebagian besar masyarakat yang cukup berada, gelar kesarjanaan merupakan suatu simbol diri bagi anak dan keluarga, suatu simbol Kesuksesan. Dengan ‘cinta kasih’ setiap orangtua berusaha memberikan pendidikan yang terbaik bagi putra-putranya hingga perguruan tinggi.

Anda hanya cukup fokus kuliah saja
Ada anggapan dari sebagian besar orangtua bahwa selama sekian tahun anaknya hanya cukup kuliah saja, tanpa perlu mengikuti kegiatan lain apalagi bekerja dengan alasan akan mengganggu konsentrasi anak dalam menyelesaikan kuliahnya. IP tinggi masih dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan seorang mahasiswa. Yang lebih ekstrim adalah munculnya larangan orangtua tertentu kepada anaknya agar tidak mengikuti kegiatan lainnya. Beberapa orang anak akan patuh terhadap pesan/‘ultimatum’ orangtuanya. Untuk kelangsungan kuliah sang anak, orangtua dengan rela menyediakan segala fasilitas yang dibutuhkan oleh anaknya dengan harapan anaknya lulus dengan IP tinggi. Bijaksanakah orangtua dengan cara begitu dan tepatkah sikap anak yang begitu menuruti keinginan orangtuanya ?

Sistem Pendidikan Perkuliahan secara umum di Indonesia
Umumnya pendidikan di perkuliahan tidak berbeda jauh dengan sekolah. Mahasiswa masih dihadapkan pada tugas untuk menghafal teori-teori ketika menjelang ujian/kuis. Artinya secara tidak langsung mahasiswa yang nantinya menjadi seorang sarjana akan menjadi sarjana yang ‘pintar’ hafal namun kurang berdaya dalam hal analisis dan mentalitasnya. Kalau kita perhatikan hari-hari menjelang ujian/kuis maka biasanya tempat fotokopi akan ramai oleh mahasiswa yang mencoba mencari kisi-kisi/‘bocoran’ soal. Selain itu hari-hari ujian merupakan hari-hari terberat bagi mahasiswa karena harus belajar menghafal buku-buku kuliah yang begitu tebal. Hari-hari ujian layaknya sudah seperti kehidupan di ‘neraka’. Budaya mengejar nilai tinggi masih menjadi fokus utama mahasiswa tanpa menyadari arti pendidikan dan kualitas diri yang sesungguhnya.

Universitas kehidupan sesungguhnya
Setiap tahun makin banyak sarjana yang menganggur setelah lulus dari perguruan tinggi. Kenapa hal itu terjadi?
1. Sistem pendidikan di negara ini cenderung mengajarkan seseorang untuk menjadi pekerja, bukan pembuat lapangan kerja baru.
2. Lapangan kerja yang tersedia terbatas.
3. Kualitas lulusan tidak siap menghadapi kehidupan nyata yang demikian keras dan penuh tantangan.

Berita Kompas, Rabu, 24 Januari 2007 menyajikan berita bahwa menurut Biro Pusat Statistik; jumlah pengangguran terbuka per Agustus 2006 berjumlah 10,93 juta orang. Sungguh suatu kenyataan yang bertolak belakang dengan harapan orangtua pada awalnya. Lulusan-lulusan tidak cukup bekal untuk menapaki ‘universitas kehidupan yang sesungguhnya’. Kehidupan begitu keras; terdapat berbagai karakter orang, ditambah masalah yang kompleks. Dunia yang sesungguhnya tidak semudah gambaran kita di atas kertas.

Kasih sayang orangtua yang salah
Kasih sayang setiap orangtua kepada anaknya tidak perlu kita ragukan ketulusannya. Setiap orangtua ingin anaknya meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Hanya terkadang orangtua lupa bahwa apa yang dilakukan belum tentu sesuai untuk anaknya. Definisi kebahagiaan dan kesuksesan orangtua belum tentu sama dengan definisi anaknya. Malah justru kadang orangtua secara tidak sadar memperlakukan anaknya seperti dirinya sendiri, ingin anaknya menjadi dirinya. Sering juga metode yang diterapkan oleh orangtua justru akan membawa jurang kehancuran bagi anaknya dan membuat anaknya hidup tapi sebetulnya sudah setengah mati.

Semuanya perlu dilakukan secara bertahap
Kehidupan setiap manusia adalah tahap demi tahap. Seseorang yang ingin bisa berenang, tentunya dia tidak harus menguasai semua teori berenang terlebih dahulu. Yang bijaksana dilakukan adalah dia belajar beberapa langkah, kemudian mulai mencoba; belajar berenang dari tempat yang dangkal, lebih dalam, baru ke tempat yang dalam; berenang dari jarak dekat, lebih jauh, baru kemudian jarak jauh. Kalau cara belajarnya terbalik, dia harus menguasai seluruh teori berenang dahulu, kemudian langsung disuruh berenang jarak jauh dan ditempat yang dalam, dapat dipastikan dia akan mati tenggelam. Hal demikian berlaku juga di dalam kehidupan nyata. Seorang mahasiswa yang ketika masa kuliahnya, kegiatannya sehari-hari hanya mengikuti kuliah saja, cenderung ketika dia lulus menjadi seorang sarjana, akan kebingungan dan tidak bisa apa apa ketika menghadapi dunia pekerjaan. Universitas formal sangat berbeda dengan dunia kerja/bisnis yang sesungguhnya. Sebagai contoh, apakah dalam bekerja/bisnis kita perlu menghafal mati seperti pada saat kuliah? Jawabannya adalah tidak. Sebaliknya yang lebih dibutuhkan adalah daya analisis dalam memecahkan problem yang ada yang dilakukan secara kreatif.

Kuliah adalah masa persiapan yang penting untuk terjun di kehidupan sesungguhnya
Masa kuliah merupakan masa yang penting bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi kehidupan bermasyarakat yang nantinya akan memikul tanggung jawab dan lepas dari orangtuanya. Merupakan hal yang positif sekali jika mahasiswa mulai mencari penghasilan tambahan untuk mengurangi beban orangtuanya apakah itu lewat pekerjaan part time, pekerjaan full time atau usaha yang dirintis. Selain itu bisa juga ikut aktif di kegiatan kemahasiswaan yang dapat menunjang bidang yang digelutinya. Jangan mengikuti kegiatan karena kesenangan sesaat, tetapi lihatlah kebutuhan yang sesungguhnya pada masa mendatang. Dengan demikian sedikit demi sedikit mahasiswa akan melihat dunia kehidupan yang sesungguhnya di mana setelah selesai kuliah sudah akan penuh dengan pengalaman dan sudah terbiasa. Orangtua juga sebaiknya tidak melarang anaknya untuk melakukan hal-hal tersebut dengan alasan mengganggu kuliahnya. Fakta menunjukkan bahwa banyak mahasiswa yang tetap lulus dengan nilai tinggi dan tepat waktu walaupun sudah bekerja full time sejak dari awal masuk kuliah.

Anda adalah penentu hidup Anda sendiri
Mungkin beberapa dari Anda sebagai mahasiswa ketika ditawari untuk aktif dalam sebuah organisasi atau suatu pekerjaan yang bermanfaat, menolak dengan alasan orangtua tidak mengijinkan dan tidak berani melanggarnya karena akan dianggap tidak patuh dan tidak menghargai. Justru penghargaan yang sesungguhnya kepada orangtua adalah ketika Anda bisa menunjukkan karya nyata yang betul-betul bermanfaat. Ketika kita bisa membenarkan orangtua dari pandangan yang keliru maka sesungguhnya itu adalah bakti nyata kita sebagai seorang anak. Kalau mau benar-benar jujur, betulkah alasan itu sesungguhnya yang membuat kita enggan? Banyak mahasiswa hidup dalam suatu zona kenyamanan yang telah terbentuk sejak kecil. Semua telah ada, telah disediakan dan tinggal dinikmati saja. Sulit sekali untuk lepas dari zona kenyamanan tersebut. Namun pernahkah Anda berpikir apa yang akan terjadi pada diri Anda seandainya suatu ketika karena ada sesuatu yang terjadi di mana orangtua Anda benar-benar tidak mampu membiayai Anda untuk kuliah, bahkan untuk makan pun tidak bisa. Saat itu apa yang akan Anda lakukan dengan bekal yang tidak cukup? Pepatah “Sedia payung sebelum hujan” hendaknya harus kita lakukan selagi kita memang bisa. Bagaimanapun aturan main yang telah ditetapkan oleh orangtua Anda, satu hal yang perlu Anda sadari adalah bahwa pada akhirnya tidak selamanya orangtua Anda selalu bersama Anda, tidak mungkin orangtua Anda membiayai hidup Anda selamanya. Suatu ketika Anda harus berjuang untuk menghidupi Anda sendiri, bahkan orang lain. Jadi hidup ini adalah Anda yang harus tentukan sendiri, bukan siapa-siapa, karena pada akhirnya Andalah yang akan menjalani kehidupan ini.[tbh]

* Tan Bun Heng adalah lulusan Fakultas Manajemen Informatika, Universitas Bina Nusantara (1998). Semasa kuliah aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, rohani, pengembangan diri, dan pernah menjabat Ketua Organisasi Rohani Kampus. Saat ini ia berprofesi sebagai motivator dan inspirator di Dynamic Life Solution dan Pengajar/Pembimbing Meditasi Kesehatan dan Ketenangan. Ia dapat dihubungi di 021-92770718,0815-139-99668.

ATASAN

Oleh: ADJIE


"Curious things, habits. People themselves never knew they had them."
~ Agatha Christie

Seorang kawan berkeluh kesah, “Yang bener aja Mas. Masa aku dimaki-maki di depan orang banyak. Kan dia punya ruang kerja, kenapa aku nggak dipanggil ke ruangannya. Kalau empat mata, silahkan kalau mau marah-marah.” Saat bercerita wajah gelapnya jadi makin buram. Tekanan katanya menegaskan betapa ia mencoba bertahan menekan perasaannya.

Aku mendengar baik-baik. Mencoba berempati atas kesal dan mungkin marahnya. Aku berpikir dalam, sambil terheran tak mengerti, mengapa masih saja ada atasan yang seperti ini. Aku mungkin bukan pendengar yang baik, karena saat mendengar hal demikian aku jadi ikutan emosi.

”Maaf Mas. Jujur saja aku ikut kesal mendengar hal macam ini. Hmmm, kalau aku yang dibegitukan, hmmmmm.” Aku tak bermaksud memperkeruh suasana, membuatnya makin panas atau bahkan memancing dan meninggikan emosinya. Aku hanya mencoba jujur, berbagi rasa. Aku pun pernah merasakan kesal sejenis, namun lebih karena beda prinsip. Namun tempat kerjaku sebelumnya sungguh mengajarkan aku untuk tak bermental tempe. Aku diajar oleh lingkungan untuk tidak cengeng. Keberanian dan kenekatanku bertumbuh saat aku bekerja bersama ribuan orang di tengah Papua.

Itu mengapa aku katakan bahwa aku bukan pendengar yang baik. Pendengar yang baik mestinya bisa menjaga jarak dan tak terlibat secara emosi. Dengan begitu diharapkan akan keluar pandagan dan saran yang membangun. Bukannya justru membuat orang makin kesal.

OK, tapi aku tak bermaksud cerita terlampau banyak tentang diriku sendiri. Yang lebih menarik dan mungkin kita bisa belajar adalah membahas kasus hubungan atasan dan bawahan sebagaimana sudah diungkap sedikit di atas.

Tergugah mendengar kisah penuh kesah kawan itu, aku mencoba mencari info lebih lanjut. Dalam peranku sekarang, aku memang tak bisa asal telan kabar yang aku dengar. Aku coba jajaki sumber informasi lain. Semacam cross check dan kaji ulang dari sumber yang berbeda.

Sialnya, sebelum aku bergerak mencari data di lapangan, seorang rekan justru datang tak diundang. Intinya, ia mengajukan surat pengunduran diri, hendak berhenti. Kebetulan yang tak mengenakan. Kebetulan karena aku memang butuh info darinya. Tak mengenakan karena berarti kami harus sibuk lagi mencari karyawan baru sebagai pengganti yang hendak keluar.

Ada banyak hal disampaikan. Aku lebih banyak mendengar. Namun aku belajar bahwa ada pemicu besar yang membuat kawan ini memutuskan resign, berhenti. ”Gayanya itu lho, ampun. Saya kan kerja cari ketenangan Pak. Nah ini, nggak pernah saya bisa santai. Tiap hari stres. Hubungan saya di rumah dengan istri juga terganggu.” Yang dimaksud hubungan dengan istri adalah perkara komunikasinya dengan pasangan, bukan perkara lain.

Lagi-lagi, orang yang sama yang jadi topik pembicaraan. Kami bicara tentang atasan yang sama, yang sebelumnya pernah dikeluhkan oleh kawan yang lain. ”Masa sih dia menegur saya di depan orang lain Pak. Yang saya kerjakan sepertinya tak ada yang baik. Semua salah. Dia hanya melihat sisi-sisi negatif dari apa yang saya kerjakan. Capek juga kalau begini terus Pak!”

Mestinya data macam ini sudah jadi sumber yang cukup. Temanya sejenis, bicara tentang orang yang sama, mengungkap persoalan yang tak juga berbeda. Ini juga mestinya tak perlu terlalu mengejutkan aku. Bukankah memang hal biasa kalau ada masalah hubungan atasan bawahan ? Bukankah memang juga biasa kalau kemudian yang menjadi ’korban’ adalah bawahan. Nyatanya tak semudah memahami teori dari buku. Mengalami langsung kejadian macam di atas nyatanya membutuhkan energi sendiri.

Aku beruntung memiliki akses dan mendapatkan ruang untuk mencari info lebih banyak. Aku berbincang langsung dengan orang yang dimaksud, dengan atasan yang dikeluhkan oleh anak buahnya. Agenda awal pembicaraan kami memang tentang hal lain. Namun aku bisa mencari selah dan celah untuk masuk ke tema yang aku sendiri memang ingin cari tahu.

Hampir tiga jam aku bicara ngalor ngidul, yang semuanya berujung pada pencerahan yang sederhana saja sebenarnya. ”Saya belajar begitu di tempat yang lama. Guru saya di perusahaan sebelumnya begitu mengajarkan saya. Terus terang, saya nyaris keluar di bulan-bulan awal. Tapi akhirnya saya bertahan. Maka saya jadi seperti ini. Kalau nggak ada guru-guru seperti mereka, saya belum tentu menjadi seperti ini,” sang atasan berbagi kisah. Aku tak tahu, apakah yang ia ungkapkan adalah pembenaran, atau sekedar ungkapan tanpa isi.

“Nah dari ratusan muridnya guru Anda itu, berapa banyak sih yang bertahan dan survive?” aku bertanya

Dia tersenyum. “Iya, ya. Mungkin nggak semua orang siap dan kuat,” katanya. Sebuah pernyataan yang sebenarnya tak cukup untuk membayar apa yang telah ia perbuat. Sudah ada korban berjatuhan sebagai akibat gaya pendekatannya.

”Kenapa sih, untuk sadar dan berubah kita harus menunggu korban?” pertanyaan lamaku kala melihat hal-hal lucu macam di atas. Dalam kasus atasan yang satu ini, untungnya ia terbuka dan terkesan menyadari apa yang terjadi. Apakah ia bersedia berubah, kita lihat saja nanti. Minimal aku sudah menyampaikan pandanganku, dan memberi masukan di batas yang bisa aku sampaikan.

Nah, contoh macam ini menjadi menarik, ketika kita lihat juga dalam perspektif kesadaran. Aku jadi khawatir, banyak di antara kita yang sesungguhnya memang kurang memberi perhatian pada diri sendiri, pada apa yang kita lakukan sehari-hari, pada kesadaran. Kita seakan terjebak menjadi makhluk otomatis yang tidak punya pilihan, tidak punya kebebasan memilih respons. Seperti mainan anak, yang kalau tombol ON-nya sudah ditekan, maka otomatis akan bergerak repetitif.

Ini jadi fakta ke sekian yang mengerikan. Mengerikan ketika tahu bahwa kita ternyata tak bertumbuh, tak berkembang. Alasannya? Hingga hari ini aku makin yakin bahwa sebuah pertumbuhan, sebuah perkembangan baru terjadi kala kita mulai belajar menyadari apa-apa yang selama ini tidak kita pedulikan, bahkan tidak kita sadari. Jadi kalau kita melakukan sesuatu demikian repetitif, otomatis dan seakan tanpa kesadaran maka sejatinya itu menjadi kabar yang mengerikan, karena kita tak bertumbuh.

Seorang guru berulang kali mengingatkan bahwa untuk memulai proses pertumbuhan, pertama-tama kita harus membangun niat (intention) untuk makin tanggap, sadar, aware atas kebiasaan-kebiasaan kita. Juga atas keyakinan dan nilai-nilai yang mengarahkan tindakan kita. Hidup dalam tekanan sana-sini, lalu terjebak rutinitas seringkali memang membuat kita tak lagi eling, tak lagi sadar.

Jadi, sebagaimana juga dipesankan oleh seorang guru, akan lebih baik jika kita mengintensifkan usaha mengasah kesadaran di atas. Bertanya tentang apa yang sudah dan akan kita lakukan adalah salah satu pintu masuk untuk sampai pada kesadaran macam itu. Refleksi harian atau mingguan juga bermanfaat, karena akan mengantar kita pada sebuah cara pandang baru. Kita seperti membaca sebuah narasi tentang orang lain. Kita membuat jarak dan belajar makin memahami diri sendiri, atas narasi kita sendiri. Membuat jarak bisa membukakan kaca mata baru, sehingga terbuka pilihan-pilihan baru di luar respon otomatis yang mungkin lama membelenggu kita.

Sebagai penutup coretan pendek ini, ada pesan menarik tentang kesadaran dan kebiasaan yang hendak aku coretkan di sini. Pertama, saat kita melakukan sesuatu tidak dengan kesadaran, maka sesungguhnya kita tak memiliki pilihan di sana. Sementara sudah jelas bahwa untuk bertumbuh kita harus mendapatkan kembali kekuatan kita untuk memilih.

Terakhir. "Everything is habit forming, so make sure what you do is what you want to be doing." Segala sesuatunya adalah perkara pembentukan kebiasaan. Jadi pastikan bahwa apa yang kita lakukan sungguh adalah yang memang ingin kita lakukan, begitu kata Wilt Chamberlain.[ad]

* Adjie adalah karyawan di sebuah perusahaan multi-national dalam industri kimia. Sehari-hari, selain terus berlatih menulis, Adjie juga menempatkan diri sebagai facilitator for Human Resiliency Development (FHRD). Ayah empat orang anak ini adalah peminat tema life balance dan mind empowerment. ‘Petualangan’ Profesionalnya, sebagai praktisi maupun independent facilitator, memberinya kesempatan untuk belajar dan berkarya di sejumlah perusahaan serta client. Ia pernah secara intensif memfasilitasi program outdoor-based training dan terlibat dalam sejumlah projek di area Competency-Based Assessment. Ia dapat dihubungi di:

EMPLOYEE OR ENTREPRENEUR

Oleh: Men Jung

Seorang rekan pernah menanyakan sebuah pertanyaan yang kira-kira bunyinya demikian, “Anda mau menjadi kepala ular atau ekor naga?” Pertanyaan ini memberikan dua pilihan kepada Anda. Ekor naga berarti Anda menjadi karyawan yang bekerja pada sebuah perusahaan dengan aturan main yang didefinisikan perusahaan yang bersangkutan. Sedangkan kepala ular berarti Anda menjadi seorang wirausaha yang mengelola perusahaan Anda sendiri meskipun bermula dari kecil.

Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Ketika Anda bekerja pada sebuah perusahaan, Anda tidak perlu repot-repot karena segala sesuatu sudah diatur untuk Anda. Anda memiliki kepastian, paling tidak setiap bulan Anda akan menerima pendapatan. Sementara konsekuensi menjadi seorang wirausaha, belum tentu Anda memiliki pendapatan yang pasti. Dari sisi waktu Anda memiliki aturan tetap from 9 to 5 ketika Anda menjadi seorang karyawan, Anda tidak bisa semaunya. Lain pula dengan wirausaha, Anda cukup fleksibel dengan waktu. Paling tidak itulah selintas yang terpikir ketika kita bicara tentang employee or entrepreneur?

Apa jawaban yang saya berikan ke rekan saya? Saya mau jadi kepala naga sambil tertawa. Pada artikel kali ini, bukan kedua fungsi tersebut yang mau saya bahas, karena masing-masing memiliki nilai tersendiri bagi para pelakunya. Saya coba mendekatinya dari sisi yang berbeda. Dari beberapa kali diskusi dengan banyak rekan, saya berkesimpulan bahwa masih banyak diantara kita yang mendasari pilihan menjadi employee atau entrepreneur semata-mata karena ingin memiliki penghasilan lebih atau memiliki kepastian pendapatan.

Berapa banyak di antara kita yang benar-benar melakoninya karena memang itulah passion kita? Banyak yang menjadi employee terpaksa semata-mata karena kebutuhan hidup. Beberapa mahasiswa saya bahkan melamar pekerjaan untuk posisi apa pun. Yang penting dapat pekerjaan dulu. Begitulah kira-kira yang ada di pikiran mereka. Ironis memang. Alhasil, tidak banyak yang benar-benar berhasil. Di sisi lain banyak juga entrepreneur yang tidak terlalu mencintai usahanya sehingga lebih banyak berorientasi pada profit semata tanpa memperdulikan nilai tambah. Bidang usaha yang digeluti belum tentu adalah hal yang benar-benar disenangi oleh wirausaha tersebut.

Keberhasilan atau sukses ukurannya tidak hanya pada seberapa banyak Anda dapat menghasilkan tapi pada seberapa Anda sungguh-sungguh menyenangi apa yang Anda lakukan. Anda tetap dapat berhasil baik sebagai employee atau entrepreneur. Apa pun yang Anda kerjakan saat ini, apakah itu sebagai seorang karyawan atau sebagai pengusaha, lakukanlah itu dengan semangat karena memang Anda menyenanginya. Jika Anda belum merasa bahwa itulah yang Anda sukai, ambil keputusan besar dalam hidup Anda saat ini juga. Life is too short. Go out and do something that you like![mj]

Catatan: Artikel ini dimuat di majalah People & Business, Edisi: April 2007

* Men Jung adalah Transformation Coach dan People Development Trainer yang dapat dihubungi melalui email di menjung@gmail.com atau untuk informasi lebih lanjut tentang Men Jung dapat mengunjungi website www.menjung.com.

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman