Minggu, 02 November 2008

HARGA DISKON: APA BETUL DISKON SUNGGUHAN?

Oleh: Undang A. Halim

“Akhir tahun, bonus, piknik, belanja, harga diskon, sale.. sale... sale!,” kata-kata itulah yang paling akrab di telinga kita menjelang akhir tahun. Tentunya selain acara Natalan untuk yang merayakannya.

Ya, teropong penulis ingin difokuskan ke acara belanja dengan harga diskon yang selalu meriah ini.

Harga diskon adalah senjata utama para peritel. Dengan makin membludaknya toko eceran saat ini, persaingan semakin ketat—terjadi adu balap hipermarket di mana mana—menyebabkan semua peritel harus mengeluarkan jurus ampuhnya masing-masing. Kalau tidak, kuburan menantinya. Sehingga promosi itu sudah menjadi keharusan.

Harga Diskon adalah yang paling umum dijadikan senjata, dan yang untung adalah konsumen, bisa pilih sana, pilih sini, yang paling murah.

Masalahnya adalah, apakah diskon itu benar-benar murni potongan harga atau polesan saja atau sekedar tipu-tipu pedagang. Jawabannya bisa semuanya benar. Itu sebabnya pembeli harus kenal betul, mana diskon murni, mana diskon aspal, dan mana diskon jadi-jadian.

Peritel itu mempunyai banyak cara untuk menggemukkan kas depositonya. Dan itu memang wajar, sebagai perusahaan, ya cari untung. Salah satu caranya adalah teknik subsidi silang atau price leader, bahasa sononya. Ada satu atau beberapa barang yang harganya dibanting, alias diturunkan harganya, kalau perlu sampai mentok harga modal.

Perusahaan rugi? Ya, jelas rugi untuk produk yang satu itu (misalnya sepatu). Tapi pembeli biasanya tidak hanya membeli sepatu itu saja, tapi juga belanja barang lainnya. Dan biasanya barang lainnya itu lebih banyak kuantitas rupiahnya dibanding barang yang dipromosikan tadi.

Singkatnya, mereka rugi untuk satu produk sepatu itu, tapi ditutup oleh keuntungan dari prnjualan barang-barang lainnya yang margin keuntungannya standar atau lebih tinggi. Dan ini biasanya secara akumulatif akan lebih menguntungkan, karena volume penjualan toko itu semakin tinggi.

Jadi barang price leader itu sebetulnya hanya “pemancing” saja, untuk meningkatkan traffic pengunjung, supaya konsumen makin banyak berdatangan ke tokonya. Ada pembeli yang militant, dia hanya belanja barang price leader itu saja ke setiap toko, dengan harga murah atau murah sekali. Sangat menguntungkan, kalau barangnya memang dibutuhkan, atau memang dibeli untuk dijual lagi.

Sayang sekali, atau untung sekali (buat toko), sebab konsumen umumnya selain membeli barang promosi, juga barang-barang lainnya yang tidak di “harga promosi”, kan? Maka margin yang tekor bisa ditutupi dari penjualan produk lainnya itu.

Keuntungan lain buat toko adalah, “menjebak” konsumen yang suka membeli secara impulsif, tanpa perencanaan. Dari rumah tak berniat membeli barang itu, tapi karena lagi promosi dan kelihatannya murah, menarik, maka disabet juga padahal barang itu tak diperlukan benar, dan duit di kantong tak siap untuk membeli barang itu. Akhirnya, ya ngutang...pakai kartu kredit. Padahal kadang-kadang barang itu baru dipakai setelah lewat setahun, atau malah kelupaan karena nyelip di lemari. Wah...! Masih ada barang lain yang dijual murah karena berbagai alasan. Barang bagus, tapi modelnya sudah out of date misalnya, juga dijual secara diskon. Besarnya bervariasi tergantung umur barang itu, biasanya 10% hingga 80%. Bagi orang yang tak terlalu care dengan mode, ini adalah lahan empuk, pesta barang murah.

Ada juga barang over stock (kelebihan produksi) dari pabrikan atau barang bekas display di toko yang kadang-kadang ada yang cacat kecil. Daripada ditumpuk di gudang, pabrik atau toko biasanya lebih memilih mengobralnya.

Yang perlu diingat adalah, hati-hati dengan barang sedikit cacat atau tak sempurna atau barang BS. Cermati saja. Kalau diskonnya 60% misalnya, sebanding tidak dengan cacatnya? Kalau cacatnya tak seberapa, lubang kancingnya tak simetris misalnya, dan kitanya cuek bebek, ya ambillah.

Nah, itu tadi adalah beberapa jenis promosi yang memang benar-benar potongan harga. Ada jenis promosi lainnya? Tentu saja banyak variasinya.

Penawaran promo memang bervariasi. Semua dibuat secara unik untuk memberikan kesan nilainya lebih besar. Terkadang berkesan bombastis! Coba saja cermati penawaran di bawah ini:

“Diskon besar minggu ini, 40% plus 50%!”

Bunyinya diatur sedemikian rupa supaya membuat kesan diskon sebesar 90%. Wow! Silahkan hitung lagi. Itu kan ternyata “hanya” diskon sebesar 70% karena diskon tambahan yang 50% itu adalah 50% dari sisa harga jual dikurangi diskon pertama, bukan 50% dari harga jual awal. Dengan hitungan yang sama, diskon 30% plus 60% itu riilnya hanya 72%.

Ya, memang angkanya besar sih. Tapi masih perlu dicermati, apakah harga ecerannya sama dengan harga regular? Tidak dinaikkan dulu seperti banyak dicurigai orang? Atau ini barang over stock, barang cacat? Di sinilah kuncinya.

Jenis lain promosi adalah, menawarkan diskon yang “mahabesar”, apakah itu 50%, 60% atau 70%. Apakah ini semua diskon betulan? Ataukah, lagi-lagi, ini hanya diskon rekayasa?

Untuk mengetahui jawabannya, sebaiknya kita melakukan pengamatan dahulu. Promosi dengan diskon yang sangat besar itu ada beberapa kemungkinan. Pertama, barang yang dijual adalah barang sisa stok lama atau barang BS atau sedikit cacat.

Kedua, mungkin tokonya mau tutup. Biasanya mereka akan cuci gudang dulu biar barangnya habis.

Ketiga, itu hanya diskon rekayasa, artinya “harga jual eceran”-nya palsu, jadi diskonnya kelihatan besar sekali.

Kalau produk diskon itu jumlahnya banyak, berderet-deret raknya, kualitas barangnya juga baru semua (bukan barang lama), dijual dengan diskon 60% atau lebih, itu hampir pasti diskon rekayasa. Margin barang fashion seperti itu biasanya sekitar 30%. Artinya, kalau didiskon 60% mereka rugi 30%. Rumus mana yang dipakai? Paling-paling ya harga jualnya palsu atau dinaikkan dulu.

Nah, amati saja pengunjung yang lewat di sana. Jika mereka ramai-ramai mengeroyok rak barang, itu berarti diskonnya mungkin OK. Tapi kalau para pengunjung yang lewat hanya cuek saja, cuma sedikit menoleh, atau bahkan mencibir sinis, itu tandanya sebaiknya lupakan saja diskon itu. Diskon itu mungkin “aspal”.

Harga diskon untuk barang elektronik, harus dicermati lebih teliti kualitasnya. Kadang toko mengobral TV dengan harga diskon 50%. Tapi biasanya suka diberi catatan ”Barang ex display,” itu tuh barang yang suka di-“on”-kan tiap hari. Anda tak kan tahu, sudah berapa lama barang itu dioperasikan setiap hari non stop. Jadi, membeli barang beginian mah harus ditemani kawan yang mengerti teknisnya, supaya tak terkecoh.

Untuk barang baru, tanya dulu ada garansinya tidak? Kalau ada, tanyakan dari perusahaan mana? Kalau perusahaan penggaransinya berbeda dengan si agen, kita harus lebih hati-hati. Ini perlu diketahui karena saat ini ada istilah black market. Digunakan untuk produk yang diimpor oleh perusahaan bukan agen resminya di Indonesia.

Mereka mengimport barang seperti tv, video, telepon genggam, dll secara gelap, tentunya dengan biaya lebih murah. Tapi konsekuensinya pelayanan purna jualnya belum tentu bisa segampang di agen resmi, karena mereka menangani sendiri urusan garansi dengan cara menunjuk perusahaan lainnya, berfungsi sebagai tukang service.

Yah, yang namanya tak resmi biasanya untung-untungan juga, kadang bagus servisnya, tapi kadang bermasalah. Tinggal kembali ke konsumennya, bila menginginkan harga yang lebih murah tapi garansinya “semoga bagus”, ya ambillah. Tapi kalau mau tidur lebih tenang, ambil saja yang keluaran agen resmi dengan harga standar, alias lebih mahalan.

Itulah beberapa contoh penjualan dengan harga diskon.

Untuk yang hobi berbelanja, silahkan simak beberapa tip di bawah ini.

• Sisihkan bonus atau THR Anda untuk membereskan aneka jenis utang dahulu, lalu berinvestasilah seperti untuk deposito, reksadana, asuransi dll. (Silahkan baca buku-buku karya Safir Senduk misalnya, dan ahli perencanan keuangan lainnya).

• Tentukan dulu, berapa budget untuk membeli barang yang dibutuhkan. Pegang angka ini dengan ketat.

• Selalu prioritaskan membeli barang kebutuhan utama dahulu, untuk menghindari pembelian tanpa direncanakan, karena tergiur promosi.

• Belilah barang promosi yang memang dibutuhkan. Jangan belanja karena menuruti perasaan kita saja sewaktu jalan-jalan keliling di toko (impulsif).

• Hati-hati membeli barang yang ada di sekeliling (di dekat) barang promosi yang mungkin marginnya terlalu tinggi.

• Periksa dulu barangnya, apakah betul-betul baru atau barang lama yang di clearance. Atau bisa juga tak ada Kartu garansinya.

• Untuk barang-barang tertentu, tanyakanlah ada jasa antaran atau tidak?

• Jangan membeli secara kredit kalau mampu membeli tunai.

• Sebaiknya lihat juga toko lainnya untuk membandingkan harga, terutama untuk barang baru yang tak kita kenal benar. Apakah betul-betul diskon besar?

• Jangan terlalu tergiur dengan tawaran “Harga murah! Ini hari terakhir...!”

• Hati-hati dengan masa kedaluarsa yang sudah mepet, untuk barang diskon produk makanan.

Selamat berbelanja, dengan harga murah dan aman![uah]

* Undang A. Halim adalah konsultan dan praktisi retail. Bukunya tentang cara belanja cerdas sedang dalam proses penerbitan. Ia dapat dihubungi di: ddanks@indosat.net.id

FORMASI V

Oleh: Ardian Syam

Pernah perhatikan angsa di daerah bermusim empat yang selalu terbang ke selatan ketika musim dingin? Mereka menggunakan formasi V. Ada angsa yang terbang paling depan dan di belakang angsa itu ada dua angsa dan di belakang masing-masing dari dua angsa tersebut ada satu ekor angsa dan terus sampai ke belakang. Biasanya jumlah angsa tersebut sampai 11 ekor dan membentuk huruf V.

Mengapa demikian? Kepak sayap dari angsa yang di depan akan mengelevasi angsa yang di belakangnya. Begitu juga dengan angsa di baris kedua, walaupun mengepakkan sayap dengan tenaga yang lebih ringan tetap saja akan dapat mengelevasi angsa di baris berikutnya. Ini mengakibatkan angsa yang paling belakang sama sekali tidak perlu mengepakkan sayap. Dia hanya perlu merentangkan sayap selebar mungkin untuk mendapatkan daya elevasi dan sayapnya yang aerodinamis tadi akan tetap membuatnya terbang.

Itu berarti semakin ke belakang maka akan semakin ringan beban untuk terbang. Ketika angsa terdepan mulai mengalami kelelahan maka dia akan menurunkan ketinggian terbangnya sehingga formasi itu melewatinya. Ketika itu pula salah satu dari dua angsa yang di belakangnya akan terbang lebih cepat untuk menjadi angsa terdepan. Barisan itu pun akan maju sehingga angsa yang terbang rendah tadi dapat masuk menjadi angsa paling belakang dari barisan itu.

Dengan demikian mereka dapat terbang cukup lama tanpa harus beristirahat. Mungkin ketika malam sudah terlalu larut saja mereka akan beristirahat untuk mengumpulkan tenaga yang akan mereka gunakan esok hari.

Pernahkah Anda menyadari bagaimana bila mereka terbang sendiri? Mungkin mereka akan terlalu lama berada di wilayah yang empat musim dan ketika salju mulai turun mereka belum sampai di selatan. Atau bahkan mereka sudah mati kelelahan karena tidak ada yang membantu.

Begitu pula dengan bisnis. Ketika seseorang hanya berbisnis sendiri maka dia harus berusaha sendiri. Mulai dari pembiayaan, pencarian sumber daya, pengolahan hingga pendistribusian dilakukan sendiri. Anda pasti akan kelelahan.

Belum lagi bila bisnis yang Anda masuki adalah bisnis yang diminati oleh banyak orang karena menghasilkan margin laba yang cukup tinggi. Anda akan benar-benar kelelahan, karena Anda juga harus sendirian berhadapan dengan kompetitor.

Seorang teman saya berbisnis garmen di Meulaboh. Sekedar informasi kepada Anda yang mungkin belum tahu, Meulaboh berada di pantai barat pulau Sumatra dan berada di wilayah Provinsi Naggroe Aceh Darussalam. Wilayah tersebut merupakan wilayah yang paling parah ketika ada bencana tsunami.

Tentu saja hal itu juga terjadi pada teman saya. Bukan hanya tokonya tetapi juga seluruh barang dagang yang ada juga habis dilanda tsunami. Dengan nilai persediaan hampir satu miliar rupiah habis. Memang tidak semua dari barang tersebut yang dia beli putus, tetapi tetap saja berarti dia berutang senilai tersebut tetapi tidak ada barang yang dapat dijual untuk membayar utang itu.

Mari kita lewatkan kesedihan ketika dia belum menemukan anggota keluarganya yang hilang. Mari kita bicara bisnis saja. Bagaimana cara membayar utang?

Ternyata seluruh pemasok barang dagangan tadi ketika dihubungi malah menyemangati teman saya itu. Mereka bilang, jangan patah, coba saja lagi usahakan lokasi toko yang baru, andai masih ingin buka toko di sana, juga silakan. Mereka bahkan bersedia mengirimkan barang senilai yang diinginkan teman saya itu.

Mulailah dia berusaha kembali dari nol, dari modal pinjaman yang sekarang sudah jauh melampaui nilai satu miliar rupiah. Memang teman-temannya tidak memberi penghapusan piutang, tetapi memberikan tambahan barang dagangan.

Apa yang terjadi kemudian? Setelah satu tahun lebih dia mulai kembali berusaha, maka seluruh utangnya yang lenyap dibantai tsunami sudah terbayar semua. Begitu pula utang yang timbul sejak dia mulai usaha lagi, pascatsunami pun telah terbayar. Kehidupan sudah normal lagi.

Sudah baca tulisan berjudul “Instrumen Orang Kaya” yang dimuat di Pembelajar.com dan di buku bisnis Kacamata Kuda? Saya ada bicara tentang bagaimana bila Anda merasa bahwa pasar sudah mulai terbatas dan terlihat mulai jenuh. Saya memberi saran agar membuat pasar, lengkapnya Anda baca saja dari tulisan tersebut.

Hal yang saya maksud di tulisan itu terbukti dengan pengalaman teman saya tadi. Karena teman-teman yang memiliki produk tetap mendukung dengan terus mengirimkan produk walaupun berarti utangnya bertambah, mereka tetap tenang. Karena mereka percaya bahwa dalam waktu dekat teman saya itu akan terus berusaha sampai mampu membayar semua utang dan dapat berdiri sendiri.

Tidakkah Anda belajar dari angsa? Tidakkah Anda belajar dari Purdi E Chandra dengan rumus MODOL-nya? Purdi menyatakan bahwa bisnis akan lebih mudah bila dengan MOdal Dari Orang Lain. Ketika Anda punya kemampuan berbisnis tetapi tidak memiliki modal untuk memulai usaha, maka MODOL.

Tetapi bagaimana bisa MODOL bila Anda tidak mempunyai kenalan? Itu berarti modal paling besar bagi Anda adalah kenalan, dan bangunlah networking.[as]

* Ardian Syam adalah penulis buku bisnis “Kacamata Kuda”. Ia dapat dihubungi di: ardian.syam@gmail.com

KARMA CINTA

Oleh: Alexandra Dewi


Vivi dan Sandra berteman baik. Mereka sudah kenal satu sama lain sejak masih di bangku SMA. Ini cerita yang diungkap Sandra tentang Vivi. Cerita dimulai saat Vivi pertama kali berjumpa dengan Andre. Saat pertemuan itu Vivi berusia 20 tahun. Sandra mengenal Vivi sebagai perempuan yang tipenya terbuka, spontan, dan cenderung wild. Kata Sandra, Vivi akan berusaha mencoba segala hal, setidaknya sekali saja. Tak heran jika Vivi sangat senang berpetualang. Termasuk ketika baru mengenal Andre, dia langsung berhasrat mengarungi samudera cinta bersama pria tersebut. Untuk petualangannya dengan Andre kali ini, Vivi seperti pakai kacamata kuda.

Vivi bukanlah tipe cewek pencemburu. Kalau Andre ingin pergi hanya dengan teman-teman prianya, Vivi selalu oke-oke saja. Vivi malah heran kalau ada perempuan yang tidak mau memberi “space” kepada pacarnya. Vivi bilang kepada Sandra, “San, biarin aja cowok kita ke sana ke mari, yang penting pulang ke tempat kita juga.”

Tapi berbeda dengan Vivi, Sandra ternyata sangat tidak setuju dengan pandangan tersebut. Bukannya Sandra tidak percaya kepada pacarnya, tapi dia tidak percaya pada lingkungannya. “Segerombol pria berduit, pergi ke klub-klub, mau ngapain kalau bukan mau cari ‘selingan’? Belum lagi nanti pengaruh alkohol. Apa saja bisa terjadi dalam situasi semacam itu,” ungkap Sandra.

Menurut Sandra, sebagian besar teman-teman perempuannya setuju dengan sikapnya tersebut. Walau begitu, Sandra salut pada sikap Vivi. Karena memang tidak mudah bisa punya ‘keyakinan’ seperti itu sekaligus membebaskan cowoknya berada di lingkungan yang penuh godaan.

Selama Vivi dan Andre pacaran, Sandra melihat mereka berdua merupakan pasangan yang sempurna. Tapi muncul tanya dalam benak Sandra, “Kapan ya mereka menikah?” Padahal, mereka sudah tinggal dalam satu rumah. Di Amerika tinggal serumah sebelum menikah adalah hal yang lumrah. Tidak seperti di Asia yang masyarakatnya lebih konservatif. Karena tinggal serumah dan sudah jadi pasangan selama lebih dari sepuluh tahun, Vivi dan Andre layaknya pasangan “suami-istri” saja. Hanya saja, mereka adalah pasangan suami-istri tanpa pesta pernikahan dan akte nikah. Jadi kalau ditanya kapan menikah, jangan heran kalau jawaban mereka begini; “Buat apa?” atau kadang-kadang, “Maybe next year...” Dari tahun ke tahun selalu begitu jawabannya, sekalipun satu demi satu teman seangkatannya telah menikah.

Selama mereka pacaran, Andre bukanlah tipe pria pelit. Apa saja yang diinginkan Vivi, asal Andre sanggup, pasti dibelikan. Mereka berdua juga sering traveling ke Eropa, Maldives, dan Jepang, pokoknya melebihi pasangan suami-istri yang sedang menikmati bulan madu. Keakraban, kedekatan, dan kemesraan mereka sebagai pasangan tampak begitu sempurna. Sampai suatu ketika, Andre dan Vivi putus hubungan setelah usia pacaran mereka melewati tahun kesebelas.

Menurut versi Andre, dia putus bukan karena Vivi tidak bisa punya anak. Tapi karena ada satu karakter Vivi yang—setelah Andre renungkan masak-masak—diyakininya akan sulit menjadikan mereka berdua sebagai pasangan yang berbahagia. Sebelas tahun mereka pacaran, Vivi sebenarnya pernah hamil. Karena waktu itu usia mereka berdua masih terlalu muda, Andre dan Vivi memutuskan untuk aborsi.

Ketika Vivi hamil yang kedua kalinya, mereka sepakat untuk aborsi lagi. Supaya tidak terjadi kehamilan berulang yang tak diinginkan, Vivi memutuskan pasang spiral, alat kontrasepsi yang dianggapnya aman dan mampu bertahan lima tahun. Ketika sampai waktunya spiral dilepas, ternyata tumbuh semacam kista atau infeksi dalam rahim Vivi. Akibatnya, kemungkinan Vivi hamil lagi tinggal sekitar sepuluh persen saja.

Sandra tahu betul kalau Vivi sangat suka terhadap bayi dan anak-anak. Kalau mereka jalan-jalan di mal dan menjumpai bayi atau anak kecil, Vivi selalu berhenti sejenak untuk bergurau dengan mereka. Saking demennya bercanda dengan anak orang, Sandra sampai mengingatkan Vivi demikian, “Vi, jangan pegang-pegang bayi orang! Belum tentu mamanya mengizinkan, lho!“ Tak diragukan sama sekali, Vivi sangat menyukai anak-anak. Maka ketika mendengar kabar kemungkinan dirinya bakal sulit punya anak, Vivi sangat sulit menerimanya.

Setelah putus dengan Andre, Vivi jadi sangat tertekan. Ia coba menghubungi orangtua Andre, saudara-saudara, dan juga teman dekat Andre. Siapa tahu salah satu di antara mereka mampu membuat Andre berubah pikiran? Tapi hasilnya nihil. Vivi berkeluh kesah kepada orang-orang itu, “Sebelas tahun aku habiskan waktuku bersama Andre. Kalau dia bilang aku bukan orang yang dia inginkan, mengapa tidak dia katakan waktu usiaku masih 25 tahun? Sekarang aku 31 tahun dan aku juga tidak bisa punya anak lagi. Dia mencampakkan aku begitu saja!”

Sandra mencoba menghubungi Andre. Ia sampaikan keluhan Vivi bahwa dirinya telah menghabiskan waktu sebelas tahun bersamanya. Andre menjawab enteng, “Yeah, me too!” Sandra merasakan betul kekecewaan Vivi. Menurutnya, ada perbedaan hasil akhir dalam sebelas tahun hubungan Andre dan Vivi. Kini Vivi adalah seorang perempuan berusia 31 tahun dan divonis bakal tidak bisa hamil lagi.

Sedangkan Andre, dia kan laki-laki, sekalipun berusia 35 tahun, dia tidak punya masalah soal bisa memberi keturunan atau tidak. Realistis saja, dan bukan pesimistis, siapa kelak yang mau menikahi Vivi? Adakah pria yang mau menikahi perempuan yang divonis bakal tidak bisa punya anak? “Kok enak ya jadi laki-laki?” protes Sandra.

Lalu, hanya beberapa bulan semenjak putusnya hubungan tersebut, Andre sudah menemukan pacar barunya. Sementara Vivi meninggalkan Amerika Serikat untuk pindah ke Hong Kong demi mengubur kenangan lamanya. Pacar baru Andre, Cindy namanya, ternyata kenalan Vivi juga. Cindy dan Vivi pernah makan malam semeja dengan Andre dan teman-teman mereka berdua. Vivi pun pernah menunjukkan kepada Sandra foto bersama mereka sebagai satu kelompok teman akrab. Saat foto itu diambil, Vivi sudah merasakan sesuatu yang ganjil. Walau begitu, Vivi tak menaruh curiga berlebihan.

Tapi yang menyedihkan adalah fakta bahwa Andre kenal Cindy pertama kali di sebuah klub malam, saat Andre ngeklub bersama teman-teman prianya alias “guys night out”. Padahal, waktu itu Vivi pernah bilang pada Sandra, “Biarlah laki-laki ngeklub bersama teman-teman prianya, toh mereka akan pulang juga ke tempat kita.”

Satu setengah tahun sejak Vivi dan Andre putus, Andre menikahi Cindy. Sebelas tahun Andre mengaku “belum siap“ dengan Vivi lalu tiba-tiba dia menyatakan sudah “siap” untuk menikah dengan Cindy. Bisa dibayangkan betapa sakit hatinya Vivi mengetahui sikap Andre itu.

Tiga tahun berikutnya, Sandra tidak pernah mendengar kabar dari Vivi. Semua email-nya tidak pernah dibalas. Tiba-tiba saja Vivi seperti hilang ditelan bumi. Tapi Sandra selalu mencoba menghubungi Vivi, just to show her bahwa dirinya masih peduli dan ingin berteman selamanya dengan Vivi. Sampai suatu kali, Vivi membalas email Sandra serta melampirkan sebuah foto. Dalam email-nya Vivi bercerita bahwa dirinya berjumpa dengan seorang pria Jerman. Laki-laki itu pernah menikah, tapi kemudian bercerai dan mendapatkan tiga orang anak dari pernikahan pertama tersebut. Dari foto bersama pacar barunya itu, tampak sekali Vivi is glowing. Begitulah raut muka orang yang sedang jatuh cinta.

Sandra hampir tak mempercayai kabar terakhir Vivi tadi. Tapi Tuhan memang Maha Penyayang. Vivi bertemu jodoh yang sempurna. Justru karena tidak bisa punya keturunan lagi, Vivi malah menemukan seorang laki-laki baik hati yang telah dikaruniai tiga orang anak yang lucu-lucu dari pernikahan sebelumnya.

Sementara kabar yang tampaknya bertolak belakang datang dari Andre. Setelah beberapa tahun menikahi Cindy, Andre tetap saja belum mendapatkan anak sebagaimana yang dia inginkan. Bukan karena tidak bisa punya anak, tapi karena ternyata Cindy menyatakan dirinya tidak suka dengan anak kecil. Cindy bersikukuh dirinya tidak ingin punya anak.

Sampai detik terakhir, Sandra sangat bahagia menerima kabar bahwa Vivi masih berbahagia bersama pacar barunya serta tiga anaknya yang lucu-lucu itu. Meresapi kisah sahabat-sahabatnya tadi, Sandra menuliskan kalimat-kalimat renungan dalam catatan hariannya.

“Untuk perempuan yang sudah berumur memang akan semakin sulit mendapatkan jodoh. Padahal, laki-laki berumur 50 tahun saja masih bisa mendapatkan jodoh yang jauh lebih muda. Banyak perempuan patah hati dan merasa dunianya sudah kiamat jika tidak segera mendapatkan jodoh. Namun, kisah Vivi di atas semoga dapat menguatkan hati kaum perempuan yang sedang patah arang dengan kehidupan cintanya. Tetaplah dalam keyakinan terdalammu! Akan tiba saatnya cinta itu datang kepadamu. Sebab dirimu sungguh berarti, karena Tuhan sungguh mencintaimu, dan dirimu sungguh layak untuk dicintai.”[ad]

* Alexandra Dewi adalah co-author buku laris “I Beg Your Prada” (GPU, 2006). Ia menaruh perhatian besar pada karir dan kehidupan para lajang metropolitan. Saat ini, buku keduanya yang berjudul “Get the Ring” sedang dalam proses penerbitan. Dewi dapat dihubungi melalui email: inthelalaland@yahoo.com

MANUSIA BESAR"

Oleh: Joshua W. Utomo


Judul tulisan saya ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan kompetisi binaraga ataupun dengan film-film Barat ala 'Rambo', 'Commander', atau 'Rocky' yang menonjolkan sosok-sosok manusia berbadan perkasa dan berotot kawat, berbalung besi itu.

Pembaca pun telah mafhum bahwa cukup sulit mencari manusia Indonesia yang berbadan seperti Arnold Schawerzerneger, 'Rambo' Stallone, atau Mike Tyson. Kalaupun ada, tidaklah begitu banyak jumlahnya.

Singkatnya, judul komentar diatas lebih menunjuk pada 'kebesaran' manusia pada sisi mentalitasnya (rohaninya). Kebesaran seseorang seperti yang telah dicatat dalam pena emas sejarah kemanusiaan selama ini, seringkali (kalau tidak boleh dikatakan sebagai selalu!)didasarkan pada kebesaran jiwa, dan keteguhan hati manusia yang bersangkutan.

Kebesaran sisi rohaniah dari manusia inilah yang mampu membuat sesuatu yang amat berbeda (make a difference) di bumi ini, seperti yang bisa kita temukan pada diri 'manusia-manusia besar' masa kini yang namanya sedemikian familiar di telinga kita: Ibu Teresa dari Kalkuta, Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Jr., dsbnya.

Lebih-lebih bila sikon dari komunitas yang kita huni ini dalam keadaan sekarat-bak hidup enggan, mati tak mau! Memang banyak sekali faktor penyebab yang bisa membawa suatu komunitas terjerembab kedalam sikon yang mengenaskan ini. Tapi salah satu faktor penyebab primernya tak lain dan tak bukan adalah si manusianya itu sendiri, yaitu manusia-manusia yang menganggap dirinya sendiri sebagai pemimpin diantara manusia lainnya. Manusia-manusia berhati kerdil yang adigang-adigung-adiguna itu.

Maka bila kita lihat lebih seksama lagi, kesekaratan roda kehidupan komunitas negeri yang kita cintai ini tak lain dan tak bukan disebabkan oleh 'kekerdilan' mental spiritualitas dari sebagian besar para pemimpinnya (pamong prajanya). Pamong praja yang seharusnya berjiwa besar, berhati suci, dan bermental unggul sebagaimana layaknya "sang pamong praja sejati" yang mampu momong--memperhatikan, merawat, dan mengutamakan kepentingan setiap warga yang dipimpinnya, tapi celakanya yang kita temui dan miliki saat ini adalah para pamong praja berjiwa kerdil, berlaku ala preman jalanan, berlagak bak penyamun galak yang brutal dan tak memiliki rasa kemanusiaan.

Para pamong praja yang bisanya hanya ngomong, nodong, nyolong, mbokong, menthung, nyolong, nylenthong dan kloyang-kloyong seperti tak ada kerjaan setiap harinya.

Kini kita dihadapkan pada dua buah pilihan. Dua pilihan yang sama-sama sulitnya (bagaikan buah simalakama) guna mengatasi kesekaratan roda hidup negeri ini. Sebuah negeri yang telah dihinggapi dan dibalut oleh kanker ganas yang teramat kronis. Siapkah anda mendengar kedua 'buah simalakama' tersebut? Kalau memang anda telah siap silahkan terus membaca hingga tuntas tulisan saya ini.

Pilihan pertama: Kita semua harus siap menjalani operasi besar-besaran. Operasi besar-besaran macam apakah ini? Operasi pembersihan secara total dari kankar ganas yang membalut sebagian besar pamong praja berjiwa kerdil itu (dan mungkin juga diri kita sendiri), seperti: KKN, gaya hidup ala selebriti Hollywood, cara pandang 'kemaruk' atas kekuasaan/pangkat dan status sosial, ketakprofesionalan cara kerja, dan mentalitas kacangan yang bersifat mementingkan diri sendiri dengan mengabaikan kepentingan orang lain, sifat dan sikap kemunafikan yang semakin hari semakin menebal dibalik jubah keagamaan, dan sebagainya.

Operasi pembersihan ini harus dilakukan secara tak pandang bulu dan hingga ke akar-akarnya. Sebab bila tidak, penyakit kronis yang ganas tersebut akan segera bermunculan kembali, takutnya menjadi berlipat ganda!

Pilihan kedua: Biarkan sikon yang ada sebagaimana adanya. Tunda setiap upaya operasi pembersihan dan aktifitas penegakan hukum. Dan niscaya, negeri tercinta inipun akan segera hilang dari peredaran-no more no less!

Mana yang hendak kita pilih, itu terserah kita semua. Hidup ini memang penuh dengan pilihan, tapi satu hal yang harus kita ingat: marilah berusaha memilih pilihan atau jalan yang terbaik yang sesuai dengan kehendak-Nya. Kalaupun disana nampaknya (seolah-olah) tak ada pilihan yang terbaik, marilah kita pilih secara hati-hati dan sebijaksana mungkin pilihan yang "the best among the worst".

Selamat merenungkan dan memilih secara hati-hati dan sebijaksana mungkin!

* Joshua W. Utomo, M.Div., D.Hyp., C.Ht., adalah seorang psikoterapis, penyair, corporate trainer/entertainer, motivator/hipnoterapis, dan penulis yang sekarang sedang berkelana di Boston, AS. Dia adalah pendiri Heal & Grow Center™ (www.healandgrowcenter.com) sebuah pusat penyembuhan holistik. Bersama istrinya (Cynthia C. Laksawana) mendirikan Sanggar Kinanthi™(www.sanggar-kinanthi.com) dan JW Utomo Productions™ (http://masterhypnotistusa.tripod.com) sebagai wahana mereka berseni-budaya dan berkiprah bagi kemanusiaan. Dia dapat dihubungi via prof_jw@yahoo.com.

RAHASIA KEKUATAN PERSONAL

Oleh: Stephen Barnabas


“Bandingkan dengan apa yang semestinya terjadi. Kita hanya setengah terjaga, kita sekarang hanya memanfaatkan sebagian kecil dari seluruh potensi mental kita.”
~ William James

Saya teringat suatu kejadian belasan tahun lalu. Saya bertemu dengan seseorang yang telah memberikan dampak sangat penting dalam kehidupan saya. Waktu itu adalah hari Jumat dan saya sedang dalam perjalanan pulang yang agak terlambat. Hari sudah sangat larut dan saya hanya sendirian dalam perjalanan itu. Selama beberapa waktu terakhir itu, saya sedang mengalami kemunduran pribadi dan keuangan yang sangat terbatas. Secara keseluruhan, keadaan nampak tidak menggembirakan; dan saya menghadapi beberapa masalah yang sangat serius.

Ketika sedang merenung dalam perjalanan itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang menyapa saya. Sungguh mengherankan karena saya merasa seperti sudah mengenal orang itu dengan akrab, padahal kami belum pernah bertemu sebelumnya. Lalu kami pun berkenalan dan berbincang-bincang selama perjalanan.

Dari pembicaraan tersebut, saya mengetahui bahwa saya sedang bercakap-cakap dengan seorang yang sangat mempesona. Dia memiliki kekuatan personal yang membuat kita merasa bahwa dia dapat melakukan hal-hal yang mustahil. Dalam pertemuan yang singkat itu, banyak pelajaran yang telah dia beri kepada saya melalui cerita tentang pengalaman hidupnya.

Ketika merenungkan kembali malam itu, maka saya menyadari bahwa keputusasaan dan keinginan keras untuk mendapatkan sesuatu yang dapat mengubah hidup itulah mungkin yang telah membuat kami saling tertarik untuk bercakap-cakap.

Dia tidak seperti orang biasa, karena dalam dirinya terpancar suatu kekuatan personal yang menakjubkan. Ada sesuatu yang mengesankan kepada saya bahwa dia bisa memberikan pemecahan masalah yang sedang saya hadapi.

Ketika kami masuk ke sebuah kedai makan, saya melihat bahwa perhatian mereka yang berada dalam kedai itu terpusat kepadanya. Saya merasa orang ini seperti memiliki kekuatan magis yang menarik perhatian orang lain dan mengaguminya. Setiap orang nampaknya menghormati dan melayaninya dengan baik—kelihatannya dia selalu memperoleh segala yang terbaik ke mana saja dia pergi.

Rahasia Tersembunyi Apakah yang Dimiliki Para Bintang Super Sukses?
Mungkin Anda pernah bertemu atau pernah mengenal orang dengan karakteristik seperti yang saya ceritakan di atas—Anda pernah bertemu dengan seseorang yang tampaknya bisa “memiliki segalanya”—uangnya banyak, bisa bepergian kemana pun ia mau, bisnisnya sukses, fisiknya bugar, keluarganya bahagia, ia tampak begitu dihormati, dan selalu mendapatkan pelayanan yang terbaik dari orang lain.

Sepanjang sejarah kita telah menyaksikan para pemimpin besar, pahlawan perang, atlet hebat, taipan bisnis, selebriti, dan juga salesman super yang kelihatannya bisa memukau, memotivasi dan mempengaruhi orang-orang dengan kekuatan ‘magis’.

Pernahkah Anda bertanya-tanya dalam hati apakah rahasia yang membuat para bintang ini sangat sukses dan dapat mempengaruhi kehidupan orang lain? Apakah rahasia tersembunyi dari KESUKSESAN SUPER tersebut?

Penelitian Ilmiah terhadap Rahasia Sukses
Banyak sekali orang telah berusaha menjelaskan mengenai rahasia kesuksesan, mereka mengidentifikasikannya dengan kata-kata seperti KHARISMA dan KEKUATAN PERSONAL.

Belakangan, orang-orang telah bisa memetakan kunci sukses tersebut. Para ahli pengembangan diri telah melakukan riset selama puluhan tahun. Pada tahun 1960-an sekelompok peneliti ilmiah di Newark College Of Engineering di New Jersey (New Jersey Institute Of Technology) telah menghabiskan waktu satu dasawarsa untuk mempelajari para Eksekutif Super Sukses untuk mengetahui apa perbedaan kualitas yang mereka miliki. Para ilmuwan tersebut menggunakan peralatan Elektronik modern dan alat riset. Mereka menemukan bahwa orang-orang SUPER SUKSES tersebut memiliki kemampuan mental istimewa yang tidak dimiliki orang biasa.

Apa sebenarnya perbedaan yang dimiliki oleh orang-orang yang SUPER SUKSES?

Penelitian menunjukkan bahwa para bintang super sukses melakukan pemikirannya pada tingkat gelombang otak alpha, yaitu dalam keadaan relaksasi sehingga mereka bisa menggunakan kedua wilayah otak mereka secara sinkron; otak kiri yang bersifat logis-matematis dan otak kanan yang intuitif dan kreatif.

ALPHA adalah suatu tingkat di mana gelombang otak bergerak lebih lambat sekitar setengah frekuensi keadaan normalnya. Dalam keadaan aktif kita melakukan empat belas hingga dua puluh satu denyut energi otak setiap detik. Keadaan ini disebut tingkat BETHA yang merupakan tingkat untuk beraktivitas. Ketika akan tidur, tubuh Anda menurunkan denyut otak ini.

Tingkat ALPHA telah ditemukan sebagai tingkat ideal untuk berpikir karena dapat mengaktifkan otak kanan yang kreatif dan intuitif, akan tetapi sangat disayangkan karena kebanyakan orang akan tertidur pada saat otak mereka memasuki tingkat ALPHA ini. Seperti kita ketahui bahwa otak kita memiliki dua belahan yang menjalankan fungsi berlainan. Otak kiri bersifat logis dan analitis sedangkan otak kanan bersifat intuitif, spontan dan sintetis.

Pada kebanyakan orang berpikir hanya dengan menggunakan otak belahan kiri dan jarang sekali menggunakan belahan otak sebelah kanan. Sekali waktu mereka menggunakan belahan otak kanan itu pun hanya untuk menjalankan hobi: seperti mendengarkan musik, mengapresiasi seni, dll.

Peraih Sukses Bekerja dengan Menggunakan Kedua Wilayah Potensi Otak
Mungkin Anda berpendapat bahwa para Bintang Super Sukses yang berpikir dengan menggunakan kedua wilayah otak, akan bisa mencapai kesuksesan dua kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang hanya menggunakan satu wilayah otaknya.

Kenyataannya, mereka mencapai lebih dari dua kali kesuksesan dibandingkan dengan orang yang hanya menggunakan otak kiri saja untuk berpikir.

Kita ambil contoh, cobalah bayangkan diri Anda sebagai seorang salesman yang menggunakan dua kaki untuk berjalan. Jika semua salesman lain berpikir bahwa mereka hanya bisa menggunakan satu dari kedua kaki mereka. Bayangkan saja kesulitan yang akan mereka hadapi ketika keluar dari mobil dan menaiki tangga, atau berjalan masuk kantor. Jika Anda sebagai seorang salesman bisa menggunakan kedua kaki untuk melakukan aktifitas, Anda tentu memiliki kemampuan yang jauh lebih besar. Dengan dua kaki, Anda bisa berjalan dengan lebih cepat dan membuat lebih banyak penjualan sementara yang lain sedang berjuang keras untuk melangkah. Anda bisa meliput wilayah yang jauh lebih luas dan memiliki lebih banyak prospek. Hal itu membuat Anda seakan-akan melakukan keajaiban dibandingkan orang lain.

Ketika Anda belajar menggunakan dua wilayah otak secara sinkron untuk berpikir, Anda akan memulai melakukan sesuatu yang akan Anda sebut keajaiban dibandingkan saat Anda hanya menggunakan wilayah otak kiri Anda untuk berpikir. Anda akan melihat peluang-peluang yang sebelumnya bahkan tidak pernah Anda pikirkan.

Untuk dapat mengaktifkan otak kanan, Anda harus rileks dan menenangkan pikiran. Seperti yang dikatakan Thomas Alva Edison: “Ketika Anda terdiam, itulah saat ketika Anda sedikit demi sedikit menyadari banyak hal”.

Berdasarkan riset psikologis serta berbagai studi atas para pemimpin dunia, ilmuwan, musisi, dokter, industrialis, penemu, dan orang-orang terkenal lainnya di dunia telah membuktikan bahwa potensi kekuatan ini telah mereka gunakan—secara sadar maupun tidak. Potensi kekuatan ini antara lain digunakan oleh Mozart, Einstein, Carnegie, Shakespeare, Emmerson, dan Edison. Rahasia untuk mengaktifkan kekuatan itu terletak dalam relaksasi—ketenangan pikian.

Dengan relaksasi dan ketenangan pikiran maka kita akan mengaktifkan otak kanan yang merupakan tempat beroperasinya alam bawah sadar, yang merupakan mastermind, dorongan besar dan kuat yang dimiliki manusia, serta pikiran yang kreatif. Bayangkanlah sebuah gunung es, anda tahu bahwa hanya 15 persen bagian gunung es itu yang tampak, sedangkan yang 85 persen berada di bawah permukaan laut, itu dapat disamakan dengan alam bawah sadar yang kreatif. Bagian kecil yang tampak dipermukaan yang 15 persen dapat disamakan dengan alam pikiran sadar kita.

Seorang penjelajah terkenal dan petugas yang memiliki kedudukan kuat pada pelayanan ekspedisi Antartika Amerika Serikat, Rear Admiral Richard Byrd, Pada malam keberangkatannya dari Antartika, mengatakan: “Justru pada malam-malam yang panjang dan sunyi di mana saya merasa sepi, selama berada di kutub selatan itulah saya mempelajari kekuatan yang timbul dari kesunyian. Nilai-nilai dan masalah-masalah kehidupan satu per satu terpecahkan ketika saya mencoba mendengarkan.”

Dengan mengetahui bahwa otak kanan akan aktif saat kita berpikir dengan tenang dan rileks maka Anda bisa mengembangkan kemampuan istimewa ini dengan memfungsikan secara sadar dan mencapai akses pada potensi pikiran Anda yang belum dimanfaatkan. Anda juga bisa belajar bagaimana berpikir dengan kedua otak Anda secara bersamaan.

Anda bisa mengembangkan kemampuan kreatif dan intuitif yang sama bahkan lebih besar dari yang dimiliki orang-orang SUPER SUKSES.

Orang-orang Besar dalam Sejarah
Pikirkan kehidupan orang-orang besar yang telah mempengaruhi dunia, dan dalam setiap peristiwa Anda akan mendapati bahwa masing-masing dari mereka telah menghabiskan banyak waktu dengan berada sendirian, merenung, dan berpikir. Para pemimpin agama banyak meluangkan waktu sendirian tanpa gangguan kehidupan.

Para pemimpin politik dan negara yang kata-kata dan tindakan terakhirnya membentuk jalannya sejarah, memperoleh wawasan dari kesunyian. Sir Winston Churchill, Disraeli, Roosevelt, Lincoln, bahkan sampai Bung Karno dan Bung Hatta, semua mengembangkan kapabilitas bawaan mereka dengan menggunakan waktu sendirian. Kadang-kadang periode-periode yang dijalankan di dalam penjara atau ketika mereka diasingkan oleh penjajah di sebuah pulau terpencil, telah membantu menciptakan ideologi mereka. Tanpa gangguan, mereka dapat merencanakan gerakan mereka di kemudian hari.

Bagaimana Anda Mengawali Hari Anda?
Setiap hari dalam waktu saya untuk menciptakan sebuah kehidupan, sedapat mungkin saya akan memulai hari saya dengan berdoa, menenangkan diri, merenungkan Firman Tuhan, memvisualisasikan apa yang akan saya lakukan sepanjang hari itu, serta meneguhkan visi saya dengan penegasan (affirmasi). Kemudian berdiam diri sejenak untuk menerima ide/jawaban atas permasalahan saya. Itulah saat-saat yang paling penting dimana ide-ide kreatif bermunculan, masalah demi masalah terpecahkan dengan sendirinya. Hanya dengan meluangkan waktu 30 menit sampai satu jam setiap pagi, lebih banyak hal bermanfaat yang dapat saya kerjakan sepanjang hari dibandingkan apabila saya bangun dengan tergesa-gesa dan langsung melakukan aktivitas/kesibukan.[sb]

* Stephen Barnabas adalah seorang Finance Accounting Manager di sebuah perusahaan di Jakarta. Ia tinggal di Cikarang, BEKASI, dan dapat dihubungi melalui email: crownedone_stp@yahoo.com, atau di handphone: 0812 811 9595 & 0813 1447 5838.

MENYIKAPI MARAKNYA VENDOR-VENDOR TRAINING

Oleh: Krisnawan Putra


Seiring ketatnya persaingan bisnis dewasa ini, banyak perusahaan berlomba menjadi yang terdepan, terbaik, dan terunggul. Berbagai strategi untuk memenangkan pasar digelar. Ada yang melakukan diversifikasi produk, memberi diskon harga lebih besar dari pesaing, membeli teknologi tercanggih, memborbadir konsumen dengan iklan, mengusung brand-brand yang sudah mendunia.

Bagaimana di bidang sumber daya manusia? Tidak bisa dimungkiri, banyak perusahaan yang berani menginvestasikan dananya untuk pengembangan kompetensi karyawan melalui kegiatan training. Mustahil memenangkan persaingan—sekalipun dengan segala macam keunggulan—bila tidak didukung keunggulan SDM. The Man Behind the Gun. Demikian yang menjadi reasion d’etrenya.

Gayung bersambut! Lahirlah berbagai lembaga/perorangan (vendor) yang menyediakan jasa training. Tidak sulit menemukan lagi alternatif lembaga penyedia jasa training di luar yang sudah bertahun-tahun berdiri, semacam PPM, Prasetiya Mulya, PQM, atau DDI. Hampir di koran/majalah/tabloid ternama memuat training promo dari penyedia-penyedia jasa ini. Sebuah perkembangan yang positif.

Namun demikian, perlu kiranya sikap kehati-hatian tetap kita kembangkan dalam menyikapi situasi ‘positif’ ini. Tidak jarang karyawan yang telah dikirim dalam suatu training belum dapat menunjukkan perbaikan kinerja seperti yang diharapkan. Banyak penyebab yang menjadikannya. Di samping oleh faktor karyawan sendiri yang untrainable, situasi lingkungan kerja yang tidak kondusif untuk diterapkannya knowledge dan skill baru hasil training, dapat juga disebabkan oleh ketidaktepatan dalam memilih vendor training.

Beberapa ‘penyakit’ terkait pemilihan vendor training yang perlu diwaspadai, sbb:

1. Tergiur oleh iklan training/seminar yang biasanya mempergunakan bahasa yang cukup ‘memerangkap’. Pada praktiknya tidak jarang peserta justru tidak mendapatkan banyak manfaat oleh karena pembahasan kurang fokus seperti iklan yang ditampilkan. Nama besar juga tidak selamanya menjamin, karena biasanya justru pembicara seperti ini akan mendongeng kisah-kisah sukses masa lalu, yang mana untuk diimplementasikan pada perusahaan peserta training sangat berbeda situasinya.

2. Sulitnya para pembicara mengembangkan materi training di luar yang sudah biasa diberikan, sementara kebutuhan untuk menambah knowledge dan skill baru karyawan lebih cepat perkembangannya. Yang terjadi biasanya adalah copy paste materi termasuk contoh-contoh/ilustrasi kasus yang dibahas.

3. Modul-modul training yang ada di market sangat generik. Terkadang peserta terjebak hanya pada judul modul tanpa mengklarifikasi dan mengkonfirmasi lebih lanjut sasaran training, topik-topik training, desain dan metode yang akan disajikan.

Strategi memilih vendor training yang baik:

1. Perkuat jaringan sesama pengelola training/HRD di perusahaan. Informasi dari rekan pengelola training/HRD perusahaan lain yang pernah menggunakan jasa vendor training tersebut sangatlah penting. Ini sangat powerfull untuk mengimbangi janji-janji yang ditabur vendor training pada kegiatan promosi mereka.

2. Menjadi observer langsung di kelas yang sedang diselenggarakan oleh vendor training tersebut. Ini semacam test food dalam pemilihan catering acara pesta pernikahan. Dengan melihat, merasakan dan mengamati langsung, maka kita akan memperoleh gambaran yang lebih spesifik dan nyata mengenai kualitas, kelebihan dan kekurangan dari vendor training yang akan kita pilih.

3. Pelajari detail materi (topik-topik training) yang akan diberikan, sasaran training yang akan diraih, desain dan metode training yang dikembangkan, yang tercantum pada brosur yang ditawarkan vendor. Setelah itu silahkan menghubungi vendor training dimaksud untuk mengadakan diskusi pendalaman melalui beberapa pertanyaan pancingan guna mendapat gambaran besarnya. Dan paling akhir, bandingkan dengan modul yang sama yang disediakan oleh vendor training lainnya.

4. Kenali segmen peserta mana yang akan kita ikutkan training, kemudian cocokkan dengan vendor trainingnya. Karena ada vendor training yang kompeten dan berpengalaman bidang manufaktur, ada yang tepat untuk jasa. Ada yang cocok untuk level pimpinan, ada juga yang hanya pas untuk segmen nonpimpinan.

5. Pelajari dan cari informasi mengenai spesialisasi dari vendor training. Biasanya suatu vendor training memiliki kekuatan atau keunggulan tertentu yang tidak dimiliki oleh vendor lain. Nah, pilih saja yang menjadi unggulannya tersebut. Bila di lain waktu ada kebutuhan tentang modul yang lain, maka kita tinggal cari vendor lain yang memiliki keunggulan untuk modul tersebut.

Akhirnya, maraknya vendor-vendor training dewasa ini di Indonesia dapat kita sikapi dengan cara pandang positif dan menggembirakan. Karena, sebagai konsumen kita akan lebih dipermudah dengan semakin banyaknya vendor training. Namun kuncinya, semua berpulang kembali pada kejelian dan kepekaan kita dalam memilih mana vendor training yang berkualitas dan mana yang hanya ’jualan kecap’ semata. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Anda, dan selamat memilih.[kp]

* Krisnawan Putra-Progresif Motivator, pernah memimpin tim training Gramedia Majalah-Kelompok Kompas Gramedia. Ia telah mendalami dunia training sebagai praktisi selama lebih dari 10 tahun. Sekarang ia berprofesi sebagai Freelance Trainer. Misi hidupnya adalah menyentuh dan mengembangkan banyak orang agar hidup mereka lebih bermakna. Ia dapat dihubungi di krisnawanputra@yahoo.co.id atau www.krisnandira.com

THE POWER OF SOUL

Oleh: Eni Kusuma


"Dengan kekuatan jiwa, kita bisa melakukan apa pun yang kita inginkan. Segala aktivitas kita ditentukan oleh kondisi jiwa kita."
~ Eni Kusuma

Kita sepakat bahwa keseimbangan jiwa digambarkan oleh rasa ikhlas, sabar, tenang, tentram, dan damai. Sedangkan jiwa yang tidak seimbang adalah jiwa yang digambarkan oleh rasa marah, benci, malu, tidak percaya bahwa dirinya bisa atau tidak yakin memiliki potensi dan lain-lain.

Kali ini, saya hendak menceritakan tentang kekuatan keseimbangan jiwa ini. Dengan jiwa yang dalam keadaan seimbang, kita bisa melakukan apa pun yang kita inginkan atas perintah otak kita (bukankah otak sebagai dirigen dari segala aktivitas kita? Jika otak kita memerintah jari tangan kita untuk memegang pulpen, maka jari tangan kita akan menurutinya). Sebaliknya, meskipun otak kita memberi instruksi untuk melakukan sesuatu, jika jiwa kita tidak dalam keadaan seimbang maka hasilnya tidak akan maksimal, bahkan gagal (saya akan mengaitkan hal ini dengan peristiwa patahnya pencil hanya dengan satu jari dalam sharing bersama seorang motivator, Johanes Ariffin Wijaya, di Hongkong baru-baru ini).

Namun sebelumnya, izinkan saya memberi contoh lain, mengenai kinerja otak dengan kekuatan jiwa. Ketika suatu saat kita mendapati seorang teman mengatakan pada kita bahwa kita sulit sukses. Parahnya bila hal ini didukung oleh tidak saja argumen yang masuk akal, namun juga didukung sepenuhnya oleh banyak data, testimoni, dan ilustrasi yang akurat mengenai alasan-alasan kenapa kita tidak akan menjadi sukses.

Misalnya, ini sekedar contoh, "Kamu seorang pembantu rumah tangga, lulusan SMU yang tingkat intelejensinya di bawah rata-rata. Mana mungkin bisa menjadi seorang penulis buku dan menjadi seorang pembicara? Apalagi kegiatan kamu yang menunjang untuk itu tidak ada sama sekali, bahkan secara fisik kamu lemah?"

Otak kita memang menerima ini, jika data-data yang tersampaikan memang cocok dengan keadaan kita yang sebenarnya. Namun, jika jiwa kita ikut menyetujuinya, maka kemungkinan besar kita tidak akan berubah atau tetap meyakini keyakinan itu sebagai suatu kebenaran. Sehingga kita akan terbelenggu oleh keyakinan yang salah.

Jika jiwa kita lemah, informasi dari otak tersebut akan membelenggu jiwa kita untuk "tidak percaya pada kemampuan diri". Apalagi jika selama ini kita membiarkan hal-hal negatif masuk ke dalam jiwa kita, misalnya rasa pesimis. Akibatnya, kita akan percaya bahwa kita "tidak bisa". Jika kita sudah percaya bahwa kita tidak bisa, maka kita tidak akan melakukan tindakan untuk mau belajar supaya bisa. Jiwa yang lemah menggambarkan jiwa yang tidak seimbang: penuh rasa pesimis, takut gagal, tidak bergairah dan mudah menyerah.

Lain halnya jika jiwa kita kuat, informasi dari otak tersebut akan dianalisa dahulu. Jiwa yang kuat akan selalu mengatakan "aku bisa". Kenapa? Karena dalam jiwa yang kuat selalu diisi dengan berbagai makanan positif, misalnya selalu mendengar kata-kata motivasi yang mengakibatkan kita selalu optimis. Jika kita sudah percaya bahwa kita bisa, maka kita akan selalu mencari jalan untuk tujuan sukses kita. Selalu belajar dan belajar bagaimana supaya bisa. Dan jiwa yang kuat ini menggambarkan jiwa yang seimbang: penuh rasa optimis, bergairah dalam meraih tujuan, tidak pernah ada rasa takut gagal karena baginya yang ada hanya belajar.

Yup, ini berarti dengan keseimbangan jiwa, kita bisa melakukan sekaligus mengontrol apa pun yang akan kita lakukan. Jika kita gagal maka kita akan menjadikan hal itu sebagai pembelajaran, bukannya merasa putus asa. Sehingga hasil yang kita dapatkan akan maksimal. Ini juga berarti bahwa segala aktivitas kita ditentukan oleh kondisi jiwa, yaitu bagaimana kondisi jiwa kita yang terpatri dalam alam bawah sadar kita ketika melakukan sesuatu.

Bagaimana pendapat Anda?

OK, sekarang saya akan menghubungkan kekuatan jiwa yang seimbang ini dengan peristiwa patahnya pencil hanya dengan satu jari.

Saya takjub sekaligus terkesima ketika saya bisa mematahkan pencil hanya dengan satu jari telunjuk saja (sesuatu hal yang semula menimbulkan kontroversi di otak saya). Ya, saya BISA. Saya belajar ini dari motivator, inspirator sekaligus pesulap motivasi Johanes Ariffin Wijaya (JAW) ketika sharing bareng pada Minggu, 21 Januari 2007 di lapangan rumput Victoria Park, Hongkong.

Sharing yang dihadiri teman-teman TKW berlangsung sangat meriah dan sangat antusias. Bahkan Johanes Ariffin Wijaya bersama istri beliau yang cantik, Mbak Mimi ditarik-tarik buat pose bersama.

Motivasinya diawali dengan kalimat motivasi dari Andrie Wongso, motivator no 1 Indonesia:

"Jika kita keras terhadap diri kita, maka kehidupan akan lunak terhadap kita. Sebaliknya, jika kita lunak terhadap diri kita, maka kehidupan akan keras terhadap diri kita."

Dan Johanes Ariffin Wijaya mengilustrasikan kalimat motivasi di atas dengan perihal patahnya pensil hanya dengan satu jari. Jika kita keras terhadap diri sendiri (yakin bisa dan tidak ragu-ragu) maka pensil akan patah (lunak). Begitu juga sebaliknya, jika kita terlalu lunak terhadap diri kita, maka pensil akan keras (tidak terpatahkan) dan justru akan membuat jari kita sakit.

Saya gagal dua kali. Pertama melakukan (atas bimbingan Johanes Ariffin Wijaya) jari telunjuk saya sakiiiiiit sekali, kedua melakukan, sakit sekaliiiiiiiii...dan setelah mencoba ketiga kalinya saya kaget, "Ih...sudah patah toh? Berarti saya BISA, dong?" Dan Johanes Ariffin Wijaya menggesturkan jempol tangannya untuk saya, maksudnya:"Luar Biasa!"

Terus apa hubungan antara kekuatan "jiwa yang seimbang" dengan peristiwa patahnya pensil dengan satu jari? Erat, sangat erat. Pengalaman inilah yang hendak saya ceritakan. Ketika jiwa saya tidak seimbang, saya tidak bisa mematahkan pensil tersebut, bahkan sampai gagal dua kali. Pada saat itu jiwa saya menggambarkan rasa takut: takut gagal, takut jari sakit, takut jari saya patah, takut nanti pulang ke Indonesia tanpa telunjuk, takut tidak bisa, tidak yakin bisa dan lain-lain. Sehingga jiwa saya penuh gejolak, kebimbangan atau tidak dalam keseimbangan. Hal ini bisa diilustrasikan dengan sebuah neraca. Jika jiwa tidak seimbang (jiwa yang bergejolak), ibarat neraca yang mengalami gerakan-gerakan naik turun (tidak imbang-imbang gitu, yah). Jika jiwa yang seimbang (tenang), ibarat neraca yang seimbang (tidak ada gerakan naik turun).

Mendapati kegagalan saya, apa yang saya lakukan? Saya segera ambil tindakan yaitu, membenahi jiwa saya terlebih dahulu yang saya sadari, masih lemah secara kualitas. Saya harus menguatkan jiwa saya. Saya harus yakin bahwa saya BISA. Saya harus menghancurkan opini-opini di otak saya yang berusaha melakukan upaya pembenaran tentang kegagalan saya.

Saya akhirnya mencoba untuk ketiga kalinya. Konsentrasi penuh dan melakukan afirmasi: "Tidak ada kata gagal. Yang ada hanya BISA atau belajar!" (pada waktu mengatakan ini saya penuh emosi). Kemudian saya melakukan afirmasi lagi: "Ah, cuma mematahkan sebatang pensil kok." "MUDAH bagi saya." (ketika mengatakan ini, saya tiba-tiba rileks...tenang gitu ya....karena sepertinya saya SUDAH BISA, sehingga berani bilang "mudah").

Daaaaaan.......PRAK.......(pensilnya patah). LUAR BIASA !!!

Terimakasih Johanes Ariffin Wijaya!!

Dalam kesempatan ini, saya juga akan menceritakan tentang berhasilnya saya dalam menghancurkan mental block, yaitu takut tampil di depan umum. Terus terang, ketakutan terbesar dalam hidup saya adalah tampil atau berbicara di depan umum. Ini sudah terbentuk dalam jiwa saya yang sudah terpatri dalam alam bawah sadar saya dan sudah mendapat persetujuan dari otak saya.

Saya berhasil, karena saya yakin BISA dan melakukan afirmasi penuh emosi: "Tidak ada kata gagal, yang ada hanya sukses atau belajar." Kemudian rileks dengan mengatakan dan membayangkan "Sudah Bisa". Di saat itu saya berada dalam ketenangan dan dengan mudah melakukan tindakan. Jika saya belum mempunyai pengalaman, kenapa saya tidak menciptakan pengalaman pertama?

Meskipun hasilnya masih belum seperti apa yang saya bayangkan. Namun bagi saya ini adalah kesuksesan pertama saya untuk tampil di muka umum, yang mana selama ini kegiatan saya hanya berada di dalam rumah yaitu melakukan tugas sebagai pembantu rumah tangga, serta belum memilki pengalaman dalam berkegiatan di luar rumah. Dan Johanes Ariffin Wijaya sempat "memuji" (bahasa orang negatif "menghina") saya: "Luar Biasa...bagi yang baru loncat"....he he he...

Saya percaya, jika kita percaya kita BISA dan sudah terbentuk hal ini dalam jiwa kita, maka kita akan BISA.

Terimakasih untuk Bapak Motivator No. 1 Indonesia, Andrie Wongso yang kata-kata motivasinya selalu akan saya patri dalam jiwa sepanjang perjalanan hidup saya. Salam Sukses dan Salam Luar Biasa![ek]

* Eni Kusuma adalah alumnus SMU 1 Banyuwangi yang saat ini bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga (TKW) di Hong Kong. Di sela-sela “kesibukannya” sebagai “pemburu devisa”, ia masih sempat aktif sebagai moderator milis Backhomers, serta jadi “aktivis” di milis De Kossta dan milis Penulis Best Seller. Eni adalah penggagas rubrik "So What Gitu Loh!" di majalah “PEDULI” yang terbit di Hongkong. Eni suka menulis cerpen, puisi, dan pernah menulis sebuah naskah novel. Puisi Eni bersama 100 penyair Indonesia dibukukan dalam buku berjudul "Jogja 5,9 Skala Richter". Eni suka menulis artikel yang ditulis berdasarkan pengalaman hidupnya sebagai pembantu rumah tangga, serta proses pembelajarannya melalui bahasa tulisan. Saat ini, kumpulan artikel motivasi Eni telah terbit menjadi sebuah buku berjudul “Anda Luar Biasa!!!” (Fivestar, 2007). Eni dapat dihubungi di: eni_kusumaw@yahoo.com

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman