-
Oleh: Masbukhin Pradhana
Menurut klasifikasi penghasilan, ada orang yang bisa mendapatkan uang dengan cara bekerja dan ada orang yang bisa menghasilkan uang tanpa harus bekerja. Istilah kerennya adalah active income untuk pekerja dan passive income untuk orang yang bisa mengahasilkan uang tanpa bekerja.
Robert Kiyosaki membagi klasifikasi ini menjadi 4 kuadran. Ada kuadran kiri untuk active income dan ada passive income di kuadran kanan. Mereka yang di kuadran kiri adalah Employee (pekerja) dan Self Employee (Profesional). Sedangkan yang dikuadran kanan adalah Business Owner (Pemilik Bisnis yang memiliki sistem) dan Investor.
Kuadran kiri miskin waktu
Kuadran kiri menawarkan keamanan finansial. Kemanan finansial adalah kita berada di posisi yang nyaman dengan mengandalkan ketergantungan kita pada sandaran kita.
Sebagai karyawan, tentunya kita akan bersandar pada perusahaan tempat kita bekerja. Apakah perusahaan sedang untung sedikit atau untung banyak, maka kita akan tetap mendapatkan gaji atau upah. Dengan gaji inilah yang membuat posisi finansial kita aman.
Begitu juga profesional, mereka yang tergabung dalam kelompok ini adalah dokter, advokat, programmer lepas, artis, dosen terbang dan lainnya. Bisa juga seorang koki profesional yang memiliki bisnis dan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, mereka akan terjebak dalam posisi ini.
Dengan posisinya sebagai profesional ini, mereka akan mendapatkan imbalan sesuai dengan keahliannya. Mereka akan mendapatkan keamanan finansial dari keringat dan atau pikiran yang telah dikeluarkan.
Baik sebagai karyawan atau profesional, mereka harus bekerja dulu sebelum mendapatkan uang. Sehingga, seandainya mereka sudah mendapatkan uang yang banyak, mereka tetap akan kesulitan membagi waktu. Mereka punya uang tapi tidak memiliki waktu.
Ada kelompok yang menyedihkan adalah pekerja keras dengan gaji rendah. Mereka sudah tidak memiliki waktu karena dihabiskan untuk bekerja tapi penghasilannya juga sedikit. Mereka bisa dikategorikan tidak memiliki waktu dan tidak memiliki uang.
Dibandingkan pengangguran, mereka tentu lebih membanggakan karena mampu menghasilkan uang. Ada kelompok pengangguran yang mereka memiliki banyak waktu tapi tidak memiliki uang.
Kuadran Kanan
Kuadran kanan yang kita bahas di depan adalah kelompok yang memiliki uang dan memiliki waktu.
Memiliki uang dan memiliki waktu, “Enak dong?“ pikir Anda.
“Tentu saja“, jawabnya.
Seperti kata pepatah “Berakit rakit ke hulu, berenang-renang kemudian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang senang kemudian.“
Jadi tentu tidak ada kesenangan, keenakan yang didapatkan dengan mudah. Kecuali Anda adalah orang kaya. Tapi cobalah bertanya, apakah kekayaan dari orang tua atau dari keturunan keberapa itu diraih dengan mudah?
Nah, siapa sih mereka ini?
Mereka adalah Business Owner dan Investor. Kalau investor, mereka memiliki banyak uang untuk diinvestasikan, baik berupa properti, deposito atau pun saham. Dari investasi yang telah dikeluarkan ini, secara rutin mereka akan mendapatkan uang sewa, bunga deposito atau deviden (bagi hasil) dari sahamnya. Tentunya uang yang diinvestasikan haruslah besar, sehingga hasilnya pun bisa mencukupi biaya hidup bahkan lebih dan kelebihannya itu bisa dipakai untuk membeli aset yang lain yang berikutnya bisa menghasilkan passive income lagi.
Gabungan Kuadran
Tentu kita bisa saja merangkap berada di dua, tiga atau empat kuadran sekaligus. Bisa saja kita sebagai karyawan yang memiliki properti. Bisa juga profesional yang memiliki bisnis. Bisa juga sebagai profesional, karyawan, pemilik bisnis dan juga sebagai investor.
Pertanyaannya, bagaimana pembagian waktu kita ketika kita berada di 4 kuadran. Pada level tertentu, memang kita masih bisa membagi waktu yang kita miliki hanya 24 jam sehari untuk semua aktivitas. Namun, pada level yang lebih tinggi, tentu Anda sudah bisa memilih, penghasilan mana yang paling besar dan pekerjaan apa yang paling tidak menyita waktu. Bisa saja Anda meninggalkan pekerjaan atau mengurangi aktifitas profesional. Bisnis, pada posisi yang sangat baik dan stabil tentu juga bisa didelegasikan kepada karyawan yang profesional di bidangnya.
Ada senior yang pernah mengatakan “Pengusaha adalah orang yang memperbaiki usaha, bukan orang yang melakukan usaha“. Artinya, pengusaha tidak harus ikut dalam operasional, tapi ketika ada masalah dia bisa memberikan nasehat perbaikan atau pengambilan keputusan untuk memperbaiki bisnis itu.
Business Owner = Pengusaha
Business Owner adalah pemilik bisnis atau istilah keren-nya adalah pengusaha. Untuk menjadi pengusaha, tentu kita dituntut untuk berpikir dan berprilaku sebagai pengusaha. Pengusaha selalu melihat peluang, optimis, berani mengambil resiko, menggunakan insting bisnis, berpikir loncat-loncat dan mengaktualisasikan idenya.
Kalau awalnya kita bukan pengusaha, tentu akan kesulitan karena kita terbiasa berpikir terstruktur dan takut resiko. Pikiran dan tindakan inilah yang perlu diubah menjadi mirip seperti pengusaha.
Caranya? Membiasakan berpikir dan berprilaku seperti mereka dan berkumpul dengan pengusaha.
Pengusaha membangun bisnis, mempekerjakan karyawan, menyiapkan sistem dan memajukannya. Dengan tanpa dirinya, bisnisnya masih bisa berjalan.
Penghasilan bisnis bisa berlipat-lipat, berbeda dengan kenaikan gaji sebagai karyawan yang linier. Setelah bisnis berjalan dan menguntungkan, maka bisa dipergunakan untuk membeli aset yang bisa menghasilkan keuntungan bahkan passive income.
Pada akhirnya, pengusaha ini menjadi memiliki waktu dan memiliki banyak uang.
Penutup
Bagi Anda yang masih berpenghasilan aktif, tentu berkeinginan menjadi Investor. Bila kita belum mampu menjadi investor, ada baiknya menjadi pengusaha yang memiliki penghasilan berlipat dan tidak linier.
Pertanyaannya, apakah Anda berani berpikir dan bertindak seperti pengusaha?
Selamat Datang di dunia pengusaha.
* Masbukhin Pradhana adalah mentor Entrepreneur University, anggota komuinitas Kuadran Empat dan Jakarta Entrepreneur Club (Jakeb). Ia dapat dihubungi di email: bukhin@yahoo.com
Senin, 10 November 2008
Bangga Saya Jadi Orang Indonesia (2): Richard Kartawijaya Akhirnya Memilih
-
Oleh: Eben Ezer Siadari
Richard Kartawijaya tentu Anda kenal. Dulu dia pernah menjadi country manager Microsoft Indonesia. Kemudian sejak tahun lalu ia menjadi salah satu country manager Motorola di Indonesia. Namun, ketika saya menelepon dia beberapa hari lalu untuk berbincang-bincang, dia mengabari saya bahwa dia kini bukan lagi berkarier sebagai eksekutif profesional. Dia sudah 'pindah kuadran,' menjadi seorang entrepreneur.
Maka saya temui dia di kantornya, di gedung Adi Graha di Jl. Gatot Subroto. Kantornya itu di lantai 19, lantai paling tinggi di gedung itu. Ia kini menjadi entrepreneur, dengan membeli setengah kepemilikan dari sebuah perusahaan teknologi informasi penyedia solusi bisnis. Perusahaan itu baru seumur jagung dan Richard berharap dalam lima tahun ke depan sudah dapat mencatatkan perusahaan itu sebagai salah satu perusahaan domestik terkemuka di bidang bisnis yang ia tekuni.
Saya tak banyak menanyakan bisnis barunya itu. Saya lebih tertarik mengapa dia berhenti sebagai seorang country manager sebuah perusahaan multinasional.
Richard yang saya kenal ternyata memang belum berubah. Ia selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan kata-kata yang positif, walau pun maksudnya barangkali bersifat negatif. Kata Richard, dia berhenti karena sebagai eksekutif profesional di sebuah perusahaan multinasional yang sudah demikian mapan, ia ingin mendapatkan kebebasan. Jika ia menjadi eksekutif terus, ia tak akan mendapatkannya. Soalnya, hampir semua kebijakan yang harus ia tempuh sudah digariskan dari kantor pusat. Dan, ini, menyebabkan dia merasa bahwa kalau ia berlama-lama jadi eksekutif, ia akan kehilangan daya kreatifitasnya.
Apakah ini tidak Anda duga sebelumnya?, tanya saya. Sebab dalam hemat saya, tentu ia sudah berpengalaman jadi eksekutif di sebuah perusahaan profesional. Dan, tidakkah ia sudah mengantisipasi hal semacam ini sebelumnya?
Lagi-lagi Richard adalah orang yang selalu menjawab pertanyaan dengan jawaban yang positif.. Kata dia, mungkin dirinya harus banyak belajar lagi tentang dirinya karena ia memang tidak menduga bahwa kebebasan kreatif itu sedemikian berartinya bagi dirinya. Ia menyadari, bila semakin lama ia berada pada posisi itu, ia bisa menajdi tidak dirinya lagi. Itulah sebabnya, dengan sukarela ia mengundurkan diri. Dan, menurut dia, jabatan itu mungkin sudah sepatutnya dijabat orang lain.
***
Saya mengenal Richard kira-kira tiga tahun yang lalu. Majalah tempat saya bekerja menginginkannya menjadi salah seorang kolumnis kami untuk mengulas tentang berbagai hal di seputar marketing di dunia teknologi informasi. Richard memang menguasai bidang ini. Setidaknya menurut Dewan Redaksi kami.
Saya kemudian meneleponnya, membuat janji bertemu dan kemudian kami memang bertemu. Kami bertemu di kantornya, kala itu di sebuah perusahaan domestik di bidang teknologi informasi juga, yakni PT Integrasi (kini Tbk).
Perbincangan kami semula agak kaku karena kami belum saling mengenal latarbelakang. Tetapi pada pertemuan-pertemuan selanjutnya demikian mulusnya. Richard, di mata saya, adalah seorang eksekutif yang supersibuk, tetapi selalu merasa tertantang oleh pertanyaan-pertanyaan aneh dari kaum awam seperti saya.
Dalam menuliskan kolom-kolomnya, ia meminta saya untuk terlebih dahulu menentukan tema. Lalu saya juga diminta memecah-mecah tema itu ke dalam beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu lah yang ia jawab untuk kemudian 'dijahit lagi' menjadi sebuah tulisan kolom.
Richard ternyata adalah kawan kerja yang baik. Saya justru selalu kewalahan, karena kelupaan mengirimkan daftar pertanyaan kepadanya untuk dijawab dan kemudian dijadikan kolom. Tak jarang ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya kirimkan dari perjalanan bisnisnya di luar kota mau pun di luar negeri. Ia menjawab hampir semua pertanyaan atau kadang kala membetulkan pertanyaannya.
Ketika saya bertemu dia kembali baru-baru ini, ternyata Richard yang saya kagumi itu belum berubah. Ketika menceritakan perpindahan kariernya itu, tidak ada sedikit pun nada dramatisasi dalam pembicaraan kami. Senyumnya tetap seperti senyum yang pernah saya temui pada dirinya sebelum-sebelumnya.
Di masa-masa mendatang saya berharap ia akan berhasil dalam jalur entrepreneur yang dipilihnya. Tanda-tanda keberhasilan itu sepertinya sudah tercium ketika saya melihat suasana kantornya. Ruang kantor di perusahaan barunya itu jauh dari glamor. Kata efisien mungkin lebih tepat. Karyawan-karyawannya adalah orang-orang muda. Ruang rapat di sana adalah sebuah ruang terbuka, dimana hanya ada satu meja besar yang dikelilingi sejumlah kursi. Satu ruangan dengan ruangan lain hanya disekat oleh dinding pembatas tanpa pintu.
Barangkali Richard memang sedang membangun sebuah perusahaan yang benar-benar transparan. Ia sendiri berharap ia memberikan sesuatu yang bernilai bagi dunia bisnis. Karena menurut dia, dunia teknologi informasi harus terus dibangun. Jangan sampai Indonesia hanya dikenal dari ekspor bahan mentah belaka, seperti kecenderungan yang belakangan ini mulai muncul lagi.
Kalau melihat langkah-langkah yang ditempuh Richard Kartawijaya, saya jadi bangga menjadi teman sebangsa dia, bangsa Indonesia. Dia adalah orang Indonesia yang tidak kenal putus harapan. Mau mencoba dunia yang lain.[]
* Eben Ezer Siadari adalah wartawan, pemimpin redaksi majalah WartaBisnis dan BisnisKita, tinggal di Jakarta. Lahir di Sarimatondang, Sumatera Utara, 27 Juli 1966, ia menamatkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung. Menimba pengetahuan jurnalistik di Thomson Foundation, Cardiff, Inggris (1994), ia juga adalah alumni International Visitor Leader Program (1997) yang diselenggarakan oleh United States of Information Agency (USIA), Washington. Tercatat sebagai associate pada Pusat Kajian Komunikasi FISIP UI, karyanya sebagai penyunting antara lain Sketsa 50 Eksekutif Indonesia (1997), Gubernur Gorontalo menjawab Rakyat (2005) dan The Power of Value in Uncertainty World, Reflesi seorang CEO, Herris Simanjuntak (2005). Menikah, dengan satu putri (6 tahun) waktu senggangnya dihabiskan dengan tidur dan berburu makanan etnik murah dan ramah di sekitar tempatnya tinggal. Ia dapat dihubungi melalui email: ebenezersiadari@yahoo.com.
Oleh: Eben Ezer Siadari
Richard Kartawijaya tentu Anda kenal. Dulu dia pernah menjadi country manager Microsoft Indonesia. Kemudian sejak tahun lalu ia menjadi salah satu country manager Motorola di Indonesia. Namun, ketika saya menelepon dia beberapa hari lalu untuk berbincang-bincang, dia mengabari saya bahwa dia kini bukan lagi berkarier sebagai eksekutif profesional. Dia sudah 'pindah kuadran,' menjadi seorang entrepreneur.
Maka saya temui dia di kantornya, di gedung Adi Graha di Jl. Gatot Subroto. Kantornya itu di lantai 19, lantai paling tinggi di gedung itu. Ia kini menjadi entrepreneur, dengan membeli setengah kepemilikan dari sebuah perusahaan teknologi informasi penyedia solusi bisnis. Perusahaan itu baru seumur jagung dan Richard berharap dalam lima tahun ke depan sudah dapat mencatatkan perusahaan itu sebagai salah satu perusahaan domestik terkemuka di bidang bisnis yang ia tekuni.
Saya tak banyak menanyakan bisnis barunya itu. Saya lebih tertarik mengapa dia berhenti sebagai seorang country manager sebuah perusahaan multinasional.
Richard yang saya kenal ternyata memang belum berubah. Ia selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan kata-kata yang positif, walau pun maksudnya barangkali bersifat negatif. Kata Richard, dia berhenti karena sebagai eksekutif profesional di sebuah perusahaan multinasional yang sudah demikian mapan, ia ingin mendapatkan kebebasan. Jika ia menjadi eksekutif terus, ia tak akan mendapatkannya. Soalnya, hampir semua kebijakan yang harus ia tempuh sudah digariskan dari kantor pusat. Dan, ini, menyebabkan dia merasa bahwa kalau ia berlama-lama jadi eksekutif, ia akan kehilangan daya kreatifitasnya.
Apakah ini tidak Anda duga sebelumnya?, tanya saya. Sebab dalam hemat saya, tentu ia sudah berpengalaman jadi eksekutif di sebuah perusahaan profesional. Dan, tidakkah ia sudah mengantisipasi hal semacam ini sebelumnya?
Lagi-lagi Richard adalah orang yang selalu menjawab pertanyaan dengan jawaban yang positif.. Kata dia, mungkin dirinya harus banyak belajar lagi tentang dirinya karena ia memang tidak menduga bahwa kebebasan kreatif itu sedemikian berartinya bagi dirinya. Ia menyadari, bila semakin lama ia berada pada posisi itu, ia bisa menajdi tidak dirinya lagi. Itulah sebabnya, dengan sukarela ia mengundurkan diri. Dan, menurut dia, jabatan itu mungkin sudah sepatutnya dijabat orang lain.
***
Saya mengenal Richard kira-kira tiga tahun yang lalu. Majalah tempat saya bekerja menginginkannya menjadi salah seorang kolumnis kami untuk mengulas tentang berbagai hal di seputar marketing di dunia teknologi informasi. Richard memang menguasai bidang ini. Setidaknya menurut Dewan Redaksi kami.
Saya kemudian meneleponnya, membuat janji bertemu dan kemudian kami memang bertemu. Kami bertemu di kantornya, kala itu di sebuah perusahaan domestik di bidang teknologi informasi juga, yakni PT Integrasi (kini Tbk).
Perbincangan kami semula agak kaku karena kami belum saling mengenal latarbelakang. Tetapi pada pertemuan-pertemuan selanjutnya demikian mulusnya. Richard, di mata saya, adalah seorang eksekutif yang supersibuk, tetapi selalu merasa tertantang oleh pertanyaan-pertanyaan aneh dari kaum awam seperti saya.
Dalam menuliskan kolom-kolomnya, ia meminta saya untuk terlebih dahulu menentukan tema. Lalu saya juga diminta memecah-mecah tema itu ke dalam beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu lah yang ia jawab untuk kemudian 'dijahit lagi' menjadi sebuah tulisan kolom.
Richard ternyata adalah kawan kerja yang baik. Saya justru selalu kewalahan, karena kelupaan mengirimkan daftar pertanyaan kepadanya untuk dijawab dan kemudian dijadikan kolom. Tak jarang ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya kirimkan dari perjalanan bisnisnya di luar kota mau pun di luar negeri. Ia menjawab hampir semua pertanyaan atau kadang kala membetulkan pertanyaannya.
Ketika saya bertemu dia kembali baru-baru ini, ternyata Richard yang saya kagumi itu belum berubah. Ketika menceritakan perpindahan kariernya itu, tidak ada sedikit pun nada dramatisasi dalam pembicaraan kami. Senyumnya tetap seperti senyum yang pernah saya temui pada dirinya sebelum-sebelumnya.
Di masa-masa mendatang saya berharap ia akan berhasil dalam jalur entrepreneur yang dipilihnya. Tanda-tanda keberhasilan itu sepertinya sudah tercium ketika saya melihat suasana kantornya. Ruang kantor di perusahaan barunya itu jauh dari glamor. Kata efisien mungkin lebih tepat. Karyawan-karyawannya adalah orang-orang muda. Ruang rapat di sana adalah sebuah ruang terbuka, dimana hanya ada satu meja besar yang dikelilingi sejumlah kursi. Satu ruangan dengan ruangan lain hanya disekat oleh dinding pembatas tanpa pintu.
Barangkali Richard memang sedang membangun sebuah perusahaan yang benar-benar transparan. Ia sendiri berharap ia memberikan sesuatu yang bernilai bagi dunia bisnis. Karena menurut dia, dunia teknologi informasi harus terus dibangun. Jangan sampai Indonesia hanya dikenal dari ekspor bahan mentah belaka, seperti kecenderungan yang belakangan ini mulai muncul lagi.
Kalau melihat langkah-langkah yang ditempuh Richard Kartawijaya, saya jadi bangga menjadi teman sebangsa dia, bangsa Indonesia. Dia adalah orang Indonesia yang tidak kenal putus harapan. Mau mencoba dunia yang lain.[]
* Eben Ezer Siadari adalah wartawan, pemimpin redaksi majalah WartaBisnis dan BisnisKita, tinggal di Jakarta. Lahir di Sarimatondang, Sumatera Utara, 27 Juli 1966, ia menamatkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung. Menimba pengetahuan jurnalistik di Thomson Foundation, Cardiff, Inggris (1994), ia juga adalah alumni International Visitor Leader Program (1997) yang diselenggarakan oleh United States of Information Agency (USIA), Washington. Tercatat sebagai associate pada Pusat Kajian Komunikasi FISIP UI, karyanya sebagai penyunting antara lain Sketsa 50 Eksekutif Indonesia (1997), Gubernur Gorontalo menjawab Rakyat (2005) dan The Power of Value in Uncertainty World, Reflesi seorang CEO, Herris Simanjuntak (2005). Menikah, dengan satu putri (6 tahun) waktu senggangnya dihabiskan dengan tidur dan berburu makanan etnik murah dan ramah di sekitar tempatnya tinggal. Ia dapat dihubungi melalui email: ebenezersiadari@yahoo.com.
Gelombang Binal Konsumerisme
Oleh: Joshua W. Utomo
Perayaan hari-hari besar keagamaan dari hari ke hari semakin identik dengan 'perayaan' konsumerisme. Pasar swalayan, supermarket dan mal-mal menjadi lebih menarik untuk dikunjungi ketimbang tempat-tempat peribadatan. Bahkan tampaknya, pusat-pusat perbelanjaan ini telah menjadi 'wahana peribadatan' baru bagi para konsumer fanatik yang tergantung sekali pada merek-merek kondang itu. Belanja besar-besaran senyampang musim obralan merupakan ekspresi kerelijiusan mereka pada 'agama' mereka yang 'baru' ini.
Tak peduli sekalipun penghasilan dan anggaran keuangan tak mencukupi yang penting bisa memborong hal-hal yang diinginkan merupakan kepuasan pemeluk 'agama baru' ini. Decak kagum dan sorot mata kecemburuan dikombinasi dengan komentar 'wah' dari para tetangga mampu membawa mereka ke 'alam ekstasi"--sebuah nirwana bagi pemeluk gelombang 'agama baru' --konsumerisme ini.
Memang rasanya kurang tepat bila konsumerisme ini dikatakan sebagai sesuatu hal yang baru. Sebab pada dasarnya isme yang satu ini ternyata sudah lama ada dan sejak awal telah mengakar kuat didalam kemanusiaan kita (our humanity). Hal ini bisa kita lihat dari ekspresinya yang paling primitif hingga yang paling mutakhir di jaman modern ini. Tendensi yang ada dalam diri manusia untuk selalu tak pernah puas (never-ending-discontentment) dengan hal-hal yang telah mereka miliki, ditambah dengan dorongan kuat ambisi pribadi dan semangat kompetisi untuk mencapai sesuatu yang lebih daripada tetangga sebelah membuat pola hidup konsumerisme semakin subur dan berkembang amat cepat saja. Pola hidup konsumerisme ini tak ubahnya virus yang 'contagious' yang mampu menular dengan amat dari satu individu ke individu lainnya. Apalagi bila budaya 'gengsi', pamor dan status sosial-keningratan masih saja dileluri dan dijadikan patokan untuk menilai kemanusiaan seseorang.
Gelombang binal 'agama baru' (new-yet-old-ism)--konsumerisme ini telah mengubah banyak aspek dalam kehidupan manusia di jaman ini. Sayangnya perubahan yang terjadi ini, lebih menjurus pada hal-hal yang bersifat negatif dan menyengsarakan hidup manusia itu sendiri. Salah satu contoh perubahan image didunia konsumerisme ini adalah: sekitar sosok Santa Klaus (Sinterklas) yang menjadi maskot di bulan Desember saat perayaan Natal sedang marak-maraknya itu. Santa Klaus yang sesungguhnya adalah bernama Bapa Suci Nikolas, Episkop dari Gereja Kristen Orthodoks Timur di wilayah keuskupan Smyrna yang hidup sekitar abad ke-4 itu. Beliau memang adalah seorang pemimpin yang bijaksana dan baik hati serta selalu memperhatikan umatnya, tapi sosok Santa Klaus yang ada sekarang ini telah berubah dari sosok aslinya.
Bila kehadiran Bapa Episkop Nikolas itu dilakukan secara diam-diam, tanpa diiringi pesan sponsor dan aneka ragam promosi; kini kehadiran Santa Klaus--image beliau yang baru, ciptaan para produsen ternama ini selalu diiringi oleh pelbagai promosi dan pesan sponsor demi menarik minat para konsumen, terutama anak-anak. Pesan-pesannya dikemas sedemikian rupa oleh banyak produsen dan tak satupun yang ada hubungannya dengan pesan rohani.
Bila kita amati, rasanya lengkap sudah struktur 'agama baru'--konsumerisme ini:
1. Selain memiliki wahana buat segala aktifitasnya (viz. supermarket, mal, pasar swalayan,dsb),
2. Format ritualnya (viz. belanja seharian penuh, dorong-dorongan/rebutan barang yang populer, memborong hasil belanjaan dengan keringat bercucuran, dsb),
3. Sejumlah penganutnya (viz. konsumer fanatik),
4. Para pemimpin (viz. produsen, perusahaan ternama),
5. Musik dan lagu-lagu (silahkan datang aja ke mal, nanti khan anda bisa menikmati lagu-lagunya) dan
6. Figur/sosok yang dinanti-nanti (viz. Santa Klaus) plus
7. Usaha dakwah atau misinya dalam kemasan yang amat canggih dan menawan di setiap bentuk media, seakan tak mungkin lagi bagi kita untuk bisa melepaskan diri dari pengaruh pola hidup konsumerisme ini.
Pesan dan semangat serta makna terdalam relijiusitas Natal ataupun Perayaan-perayaan Hari besar agama-agama lainnya seakan tergantikan oleh pesan dan semangat binal dari gelombang konsumerisme ini. Perhiasan intan berlian, baju-baju bermerek, aksesori tubuh kelas dunia, anggur merah dan gelas-gelas champaigne serta menu gourmet kreasi master chef taraf internasional di Symphony Hall atau hotel-hotel berbintang empat yang berada dipusat kota sangatlah dinanti-nanti sebagai puncak dari aktifitas ritual konsumerisme dari para konsumen fanatik ini.
Apakah gelombang binal konsumerisme ini juga telah menerpa kita, yang tahu tentunya diri kita sendiri. Kalau memang ternyata kita tidak tahu, maka sekali lagi mari kita bersama Kang Ebiet G. Ade untuk bertanya pada rumput yang bergoyang....
* Joshua W. Utomo, psikoterapis, penyair, corporate trainer/entertainer, motivator/hipnoterapis, dan penulis yang sekarang sedang berkelana di Boston, AS. Dia adalah juga pendiri dari Heal & Grow Center™ (www.healandgrowcenter.com) sebuah pusat penyembuhan holistik. Bersama istrinya (Cynthia C. Laksawana) dia mendirikan Sanggar Kinanthi™(www.sanggar-kinanthi.com) dan JW Utomo Productions™ (http://masterhypnotistusa.tripod.com) sebagai wahana mereka berseni-budaya dan berkiprah bagi kemanusiaan. Dia dapat dihubungi di prof_jw@yahoo.com.
Perayaan hari-hari besar keagamaan dari hari ke hari semakin identik dengan 'perayaan' konsumerisme. Pasar swalayan, supermarket dan mal-mal menjadi lebih menarik untuk dikunjungi ketimbang tempat-tempat peribadatan. Bahkan tampaknya, pusat-pusat perbelanjaan ini telah menjadi 'wahana peribadatan' baru bagi para konsumer fanatik yang tergantung sekali pada merek-merek kondang itu. Belanja besar-besaran senyampang musim obralan merupakan ekspresi kerelijiusan mereka pada 'agama' mereka yang 'baru' ini.
Tak peduli sekalipun penghasilan dan anggaran keuangan tak mencukupi yang penting bisa memborong hal-hal yang diinginkan merupakan kepuasan pemeluk 'agama baru' ini. Decak kagum dan sorot mata kecemburuan dikombinasi dengan komentar 'wah' dari para tetangga mampu membawa mereka ke 'alam ekstasi"--sebuah nirwana bagi pemeluk gelombang 'agama baru' --konsumerisme ini.
Memang rasanya kurang tepat bila konsumerisme ini dikatakan sebagai sesuatu hal yang baru. Sebab pada dasarnya isme yang satu ini ternyata sudah lama ada dan sejak awal telah mengakar kuat didalam kemanusiaan kita (our humanity). Hal ini bisa kita lihat dari ekspresinya yang paling primitif hingga yang paling mutakhir di jaman modern ini. Tendensi yang ada dalam diri manusia untuk selalu tak pernah puas (never-ending-discontentment) dengan hal-hal yang telah mereka miliki, ditambah dengan dorongan kuat ambisi pribadi dan semangat kompetisi untuk mencapai sesuatu yang lebih daripada tetangga sebelah membuat pola hidup konsumerisme semakin subur dan berkembang amat cepat saja. Pola hidup konsumerisme ini tak ubahnya virus yang 'contagious' yang mampu menular dengan amat dari satu individu ke individu lainnya. Apalagi bila budaya 'gengsi', pamor dan status sosial-keningratan masih saja dileluri dan dijadikan patokan untuk menilai kemanusiaan seseorang.
Gelombang binal 'agama baru' (new-yet-old-ism)--konsumerisme ini telah mengubah banyak aspek dalam kehidupan manusia di jaman ini. Sayangnya perubahan yang terjadi ini, lebih menjurus pada hal-hal yang bersifat negatif dan menyengsarakan hidup manusia itu sendiri. Salah satu contoh perubahan image didunia konsumerisme ini adalah: sekitar sosok Santa Klaus (Sinterklas) yang menjadi maskot di bulan Desember saat perayaan Natal sedang marak-maraknya itu. Santa Klaus yang sesungguhnya adalah bernama Bapa Suci Nikolas, Episkop dari Gereja Kristen Orthodoks Timur di wilayah keuskupan Smyrna yang hidup sekitar abad ke-4 itu. Beliau memang adalah seorang pemimpin yang bijaksana dan baik hati serta selalu memperhatikan umatnya, tapi sosok Santa Klaus yang ada sekarang ini telah berubah dari sosok aslinya.
Bila kehadiran Bapa Episkop Nikolas itu dilakukan secara diam-diam, tanpa diiringi pesan sponsor dan aneka ragam promosi; kini kehadiran Santa Klaus--image beliau yang baru, ciptaan para produsen ternama ini selalu diiringi oleh pelbagai promosi dan pesan sponsor demi menarik minat para konsumen, terutama anak-anak. Pesan-pesannya dikemas sedemikian rupa oleh banyak produsen dan tak satupun yang ada hubungannya dengan pesan rohani.
Bila kita amati, rasanya lengkap sudah struktur 'agama baru'--konsumerisme ini:
1. Selain memiliki wahana buat segala aktifitasnya (viz. supermarket, mal, pasar swalayan,dsb),
2. Format ritualnya (viz. belanja seharian penuh, dorong-dorongan/rebutan barang yang populer, memborong hasil belanjaan dengan keringat bercucuran, dsb),
3. Sejumlah penganutnya (viz. konsumer fanatik),
4. Para pemimpin (viz. produsen, perusahaan ternama),
5. Musik dan lagu-lagu (silahkan datang aja ke mal, nanti khan anda bisa menikmati lagu-lagunya) dan
6. Figur/sosok yang dinanti-nanti (viz. Santa Klaus) plus
7. Usaha dakwah atau misinya dalam kemasan yang amat canggih dan menawan di setiap bentuk media, seakan tak mungkin lagi bagi kita untuk bisa melepaskan diri dari pengaruh pola hidup konsumerisme ini.
Pesan dan semangat serta makna terdalam relijiusitas Natal ataupun Perayaan-perayaan Hari besar agama-agama lainnya seakan tergantikan oleh pesan dan semangat binal dari gelombang konsumerisme ini. Perhiasan intan berlian, baju-baju bermerek, aksesori tubuh kelas dunia, anggur merah dan gelas-gelas champaigne serta menu gourmet kreasi master chef taraf internasional di Symphony Hall atau hotel-hotel berbintang empat yang berada dipusat kota sangatlah dinanti-nanti sebagai puncak dari aktifitas ritual konsumerisme dari para konsumen fanatik ini.
Apakah gelombang binal konsumerisme ini juga telah menerpa kita, yang tahu tentunya diri kita sendiri. Kalau memang ternyata kita tidak tahu, maka sekali lagi mari kita bersama Kang Ebiet G. Ade untuk bertanya pada rumput yang bergoyang....
* Joshua W. Utomo, psikoterapis, penyair, corporate trainer/entertainer, motivator/hipnoterapis, dan penulis yang sekarang sedang berkelana di Boston, AS. Dia adalah juga pendiri dari Heal & Grow Center™ (www.healandgrowcenter.com) sebuah pusat penyembuhan holistik. Bersama istrinya (Cynthia C. Laksawana) dia mendirikan Sanggar Kinanthi™(www.sanggar-kinanthi.com) dan JW Utomo Productions™ (http://masterhypnotistusa.tripod.com) sebagai wahana mereka berseni-budaya dan berkiprah bagi kemanusiaan. Dia dapat dihubungi di prof_jw@yahoo.com.
Bangga Saya jadi Orang Indonesia (03): Selalu Ada Pagi bagi Suwarti
Oleh: Eben Ezer Siadari
Tidak ada pagi yang tak cerah bagi Suwarti. Pagi adalah matahari bagi hidupnya. Angin yang basah dan dingin, mendung, kabut bahkan hujan, tak pernah menjadi penghalang baginya menyongsong pagi dan matahari hidupnya. Setiap pagi, tak pernah lewat dari pukul 6:30, ketika banyak ibu rumah tangga masih bersiap-siap memberangkatkan putra-putrinya ke sekolah, ketika orang-orang yang akan ke kantor mungkin masih belum menyiapkan baju kerjanya, Suwarti sudah beredar di jalanan kompleks perumahan kami di Ciputat. Suaranya yang nyaring tetapi dengan nada rendah sudah kami kenal dengan akrab. “Kue….kue….. Kue Pak? Kue Bu?” Suara itu berkumandang diiringi dengan langkah kakinya yang cepat dan suara sandalnya yang kadang seperti terseret. Menggendong kue jualannya, ia berjalan kaki sepanjang perumahan berisi ratusan rumah itu. Suaranya masih terdengar terus bahkan dari kejauhan.
Pertama kali saya tertarik pada Suwarti adalah karena wanita ini masih demikian muda, 30 tahun, tetapi ia benar-benar berwajah orang Jawa tempo dulu. Menggendong jualannya dengan busana seperti mbok-mbok jamu, dengan langkah yang gesit, dan, ya, ia selalu hadir dalam ukuran waktu yang tak pernah meleset. Tak urung saya menyetopnya sekali waktu, sepulang ia menjajakan jualannya. Dan, ia dengan kesopanan seorang ibu yang tak mau menaruh curiga kepada siapa pun, melayani pertanyaan-pertanyaan saya.
Suwarti adalah seorang wanita kelahiran Solo. Ibu dari dua orang anak, berumur 10 tahun dan enam tahun, ia bagi saya adalah potret wanita Indonesia yang seharusnya membuat kita selalu bangga jadi orang Indonesia. Tiga tahun terakhir ia jalani hidupnya dengan menjajakan kue di perumahan kami di Vila Dago Tol, dengan berjalan kaki. Dengan mengambil 150 potong kue dari juragannya yang tinggal di belahan lain daerah Ciputat, ia mengantongi keuntungan Rp25 ribu setiap hari. Dari rumah ia berangkat subuh-subuh, untuk mengejar pagi yang penuh rejeki di perumahan kami itu. Ketika hari sudah menunjukkan jam 10, ia biasanya menuntaskan ‘perjalanannya’ sebagai penjaja kue hari itu. Jam 11, ia sudah tiba di rumah kontrakannya seharga Rp200 ribu per bulan, untuk kembali sebagai ibu rumah tangga. Suaminya seorang pekerja bangunan yang rajin, tetapi tak selalu ada proyek yang membutuhkan tenaganya. Dengan kombinasi profesi yang demikian, ia dan suaminya bisa menyekolahkan kedua anaknya, satu di kelas empat SD satu lagi di kelas satu. Kedua anak itu dititipkan di kampung mertuanya, Purwodadi. Setiap bulan mereka mengirimkan uang untuk biaya sekolah anak-anaknya itu.
Suwarti dulunya adalah pembantu rumah tangga. Perkawinannya dengan suaminya yang dia kenal di Jakarta ini, membuat ia lama-lama berpikir untuk menyudahi saja pekerjaannya sebagai PRT, yang ia istilahkan ‘ikut orang.’ Setelah pernah mencoba berjualan macam-macam barang, akhirnya ia menemukan juragan kue yang bagi dia memberikan harapan. Dari juragannya itu ia mengambil kue setiap pagi lalu menjualnya dengan harga yang ia tetapkan sendiri. Setiap hari ia menyetor kepada juragannya Rp50 ribu. Kue yang tersisa dapat ia kembalikan. Dan ini, bagi Suwarti adalah sistem yang benar-benar ia sukai. Makin hari makin besar keuntungan yang ia peroleh. Tiga tahun terakhir ia rasakan sebagai tahun yang penuh pertumbuhan, menyebabkan ia selalu memandang pagi sebagai pagi yang penuh pengharapan.
Tidak menamatkan SD, anak bungsu dari empat bersaudara, pada tahun 1995 Suwarti meninggalkan orang tuanya di kampung halamannya yang hidup sebagai petani kecil. Seperti kebanyakan cerita orang-orang marginal, ia kala itu tak punya pilihan selain menjadi PRT untuk bisa bertahan di Jakarta. Kota ini bagi Suwarti adalah kota yang keras, tetapi kota yang selalu memberikan harapan. Hidup sebagai orang yang termarginalkan tidak dihabiskannya dengan kemarahan dan dendam kepada hidup. Ia, sebagaimana yang dapat saya lihat dari bagaimana ia bekerja, menjalani hari-harinya dengan ketekunan seorang yang menikmati apa yang dapat ia nikmati. Mensyukuri kesehatannya yang menyebabkan ia tampak tak pernah kelelahan di terik Jakarta. Dan, ia tak pernah merasa ada yang perlu ia menangkan karena ia tak pernah menganggap ada yang harus ia taklukkan.
Ketika makin banyak pedagang roti mengendarai motor bahkan mobil, ia tak merasa dagangannya bakal tersingkir. Justru dengan berjalan kaki, ia bisa mengetok pintu demi pintu, bisa berbicara dan berbasa-basi dengan tiap rumah. Ia tidak seperti pedagang roti yang mengendarai mobil, yang sapaannya terkadang terdengar angkuh lewat klakson atau lagu-lagu dari rekaman kaset yang membosankan. “Bu…. Kuenya Bu?” adalah sapaannya yang khas. Lalu dengan cepat ia akan membeberkan dagangannya dari gendongannya. Tahu dan tempe goreng, onde-onde, lepat pisang, lontong, kroket, dadar gulung, kue lapis, bertebaran tinggal pilih. Walau pun ia tahu, tak semua rumah akan sudi menyetopnya dan membeli dagangannya, senyumnya selalu mengembang. “Tiap orang ada rezekinya Pak. Alhamdulilah, selama tiga tahun ini, saya merasa makin banyak langganan. Makin hari makin baik-baik saja orang-orang kepada saya. Syukur alhamdulillah, tidak ada yang marah-marah. Tidak ada anjing yang mengejar-ngejar saya,” kata dia.
Pagi bagi Suwarti adalah harapan. Seburuk apa pun cuaca, seberat apa pun perjalanan yang harus ia tempuh, ia selalu pasti bahwa rezekinya ada pada pagi. Payungnya akan ia kembangkan manakala hujan turun kepagian. Ketika saya menduga bahwa hujan adalah malapetaka baginya karena itu akan menghambat perjalanannya, apalagi ia harus berjalan kaki memutar kompleks kami, ia malah tersenyum. “Justru kalau turun hujan Pak, orang malas keluar cari sarapan. Kue saya malahan lebih laku kalau turun hujan,” katanya. Sebuah jawaban yang bagi saya penuh optimisme dan pengharapan.
Pertanyaan klasik yang sesungguhnya tak perlu lagi dilontarkan manakala berkenalan dengan orang seperti Suwarti adalah untuk apa dan mengapa ia bekerja membanting tulang. Sudah barang tentu orang seperti dia harus membanting tulang. Untuk makan-minum dirinya. Untuk menyambung hidupnya anak beranak. Tetapi toh, saya harus menanyakan itu, untuk mengeksplorasi siapa tahu ada lagi yang membuat dirinya mempunyai energi yang luar biasa. Dan, ternyata memang ada.
Dua anaknya, semuanya diasuh oleh keluarga mertuanya dengan biaya dari suami dan dirinya, adalah energi yang tak pernah habis. Ia selalu membayangkan anak-anaknya itu kelak mendapat pendidikan yang baik. Ia ingin mereka kelak dapat menikmati hidup lebih dari yang dinikmatinya kini. Kemana pun dan sampai setinggi apa pun, ia ingin mendukung anak-anaknya, sepanjang itu berarti menempuh pendidikan yang baik dan lebih tinggi. “Saya sepenuhnya tergantung mereka. Kalau mereka bersekolah dengan baik, mereka belajar dengan baik, saya akan usahakan. Tidak ada kata berhenti bagi saya, Pak,” kata dia. Senyumnya pasti.
Tentulah berat bagi Suwarti menggali energi itu. Anak-anak itu tinggal di tempat yang jauh, yang mungkin hanya bisa ia temui sekali dalam setahun manakala lebaran tiba. Tetapi semakin ia pikirkan itu, semakin besar ia rasakan tenaga yang bisa ia gunakan. Ia bayar kerinduannya kepada anak-anaknya itu dengan bekerja lebih antusias. Menyapa anak-anak di kompleks kami seperti ia menyapa anaknya sendiri. Menjajakan kue kepada orang-orang dengan keyakinan kue-kue itu akan jadi sumber energi juga bagi orang-orang yang bekerja untuk anak-anak mereka.
Tidak kecewa dengan harga-harga yang mulai naik, dan BBM yang membubung?, tanya saya sedikit menggoda pemikirannya untuk berpikir menyalahkan keadaan. Tetapi Suwarti rupanya tak tertarik membicarakan apa yang ia rasa bukan urusannya. “Saya tidak mau memikirkan yang membuat pusing kepala saya Pak,” kata dia. Menurut dia, sepanjang ia masih bisa menabung, dan sepanjang uang yang harus ditabungnya setiap bulan tak berkurang, ia tak mau berpikir susah-susah. Walau pun untuk itu ia mungkin harus mencukupkan uang sisa setelah tabungan itu untuk makan ala kadarnya bersama suaminya. Dan, berarti juga, ia tak boleh sakit. Kalau pun sakit, ia harus berpura-pura tidak sakit.
Lebaran ini Suwarti tidak mudik. Menurut dia, beberapa bulan lalu suaminya telah mudik karena mertuanya laki-laki berpulang. Itu artinya sang suami telah mudik yang berarti pula kemewahan untuk mudik tahun ini telah terpakai, walau pun bukan pada waktunya. Kerinduannya kepada anak-anaknya, mungkin harus ia bayar pada lebaran tahun depan, atau di suatu masa di bulan-bulan depan, manakala ada rezeki yang berlebih.
Ketika saya mengatakan terimakasih banyak, sudah mau saya ajak berbincang-bincang, ia tersenyum dan juga mengucapkan terimakasih. Ketika saya silakan, teh manis yang disuguhkan istri saya ia habiskan sekali teguk, pertanda ia mungkin sudah kehausan sejak tadi. Saya menyalahkan diri sendiri, betapa egoisnya saya tak mempersilakannya minum dari tadi, dan lebih medahulukan kepentingan saya menanyai dia. Ia kemudian merapikan keranjang kuenya dan menggendongnya kembali. Hari masih jam 10 lewat sedikit, ketika ia akan pulang ke rumahnya, lebih kurang lima kilometer dari tempat kami. “Mari Pak,” katanya mengangguk. Senyumnya itu, akan selalu membuat saya bangga sebagai orang Indonesia.***
© Eben Ezer Siadari. Penulis adalah Siadari adalah wartawan, pemimpin redaksi majalah WartaBisnis dan BisnisKita, tinggal di Jakarta. Lahir di Sarimatondang, Sumatera Utara, 27 Juli 1966, ia menamatkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung. Menimba pengetahuan jurnalistik di Thomson Foundation, Cardiff, Inggris (1994), ia juga adalah alumni International Visitor Leader Program (1997) yang diselenggarakan oleh United States of Information Agency (USIA), Washington. Tercatat sebagai associate pada Pusat Kajian Komunikasi FISIP UI, karyanya sebagai penyunting antara lain Sketsa 50 Eksekutif Indonesia (1997), Gubernur Gorontalo menjawab Rakyat (2005) dan The Power of Value in Uncertainty World, Reflesi seorang CEO, Herris Simanjuntak (2005). Menikah, dengan satu putri (6 tahun) waktu senggangnya dihabiskan dengan tidur dan berburu makanan etnik murah dan ramah di sekitar tempatnya tinggal. Ia dapat dihubungi melalui email: ebenezersiadari@yahoo.com. Serial tulisannya Bangga Saya jadi Orang Indonesia dapat pula dibaca di www.banggaindonesia.blogspot.com
Tidak ada pagi yang tak cerah bagi Suwarti. Pagi adalah matahari bagi hidupnya. Angin yang basah dan dingin, mendung, kabut bahkan hujan, tak pernah menjadi penghalang baginya menyongsong pagi dan matahari hidupnya. Setiap pagi, tak pernah lewat dari pukul 6:30, ketika banyak ibu rumah tangga masih bersiap-siap memberangkatkan putra-putrinya ke sekolah, ketika orang-orang yang akan ke kantor mungkin masih belum menyiapkan baju kerjanya, Suwarti sudah beredar di jalanan kompleks perumahan kami di Ciputat. Suaranya yang nyaring tetapi dengan nada rendah sudah kami kenal dengan akrab. “Kue….kue….. Kue Pak? Kue Bu?” Suara itu berkumandang diiringi dengan langkah kakinya yang cepat dan suara sandalnya yang kadang seperti terseret. Menggendong kue jualannya, ia berjalan kaki sepanjang perumahan berisi ratusan rumah itu. Suaranya masih terdengar terus bahkan dari kejauhan.
Pertama kali saya tertarik pada Suwarti adalah karena wanita ini masih demikian muda, 30 tahun, tetapi ia benar-benar berwajah orang Jawa tempo dulu. Menggendong jualannya dengan busana seperti mbok-mbok jamu, dengan langkah yang gesit, dan, ya, ia selalu hadir dalam ukuran waktu yang tak pernah meleset. Tak urung saya menyetopnya sekali waktu, sepulang ia menjajakan jualannya. Dan, ia dengan kesopanan seorang ibu yang tak mau menaruh curiga kepada siapa pun, melayani pertanyaan-pertanyaan saya.
Suwarti adalah seorang wanita kelahiran Solo. Ibu dari dua orang anak, berumur 10 tahun dan enam tahun, ia bagi saya adalah potret wanita Indonesia yang seharusnya membuat kita selalu bangga jadi orang Indonesia. Tiga tahun terakhir ia jalani hidupnya dengan menjajakan kue di perumahan kami di Vila Dago Tol, dengan berjalan kaki. Dengan mengambil 150 potong kue dari juragannya yang tinggal di belahan lain daerah Ciputat, ia mengantongi keuntungan Rp25 ribu setiap hari. Dari rumah ia berangkat subuh-subuh, untuk mengejar pagi yang penuh rejeki di perumahan kami itu. Ketika hari sudah menunjukkan jam 10, ia biasanya menuntaskan ‘perjalanannya’ sebagai penjaja kue hari itu. Jam 11, ia sudah tiba di rumah kontrakannya seharga Rp200 ribu per bulan, untuk kembali sebagai ibu rumah tangga. Suaminya seorang pekerja bangunan yang rajin, tetapi tak selalu ada proyek yang membutuhkan tenaganya. Dengan kombinasi profesi yang demikian, ia dan suaminya bisa menyekolahkan kedua anaknya, satu di kelas empat SD satu lagi di kelas satu. Kedua anak itu dititipkan di kampung mertuanya, Purwodadi. Setiap bulan mereka mengirimkan uang untuk biaya sekolah anak-anaknya itu.
Suwarti dulunya adalah pembantu rumah tangga. Perkawinannya dengan suaminya yang dia kenal di Jakarta ini, membuat ia lama-lama berpikir untuk menyudahi saja pekerjaannya sebagai PRT, yang ia istilahkan ‘ikut orang.’ Setelah pernah mencoba berjualan macam-macam barang, akhirnya ia menemukan juragan kue yang bagi dia memberikan harapan. Dari juragannya itu ia mengambil kue setiap pagi lalu menjualnya dengan harga yang ia tetapkan sendiri. Setiap hari ia menyetor kepada juragannya Rp50 ribu. Kue yang tersisa dapat ia kembalikan. Dan ini, bagi Suwarti adalah sistem yang benar-benar ia sukai. Makin hari makin besar keuntungan yang ia peroleh. Tiga tahun terakhir ia rasakan sebagai tahun yang penuh pertumbuhan, menyebabkan ia selalu memandang pagi sebagai pagi yang penuh pengharapan.
Tidak menamatkan SD, anak bungsu dari empat bersaudara, pada tahun 1995 Suwarti meninggalkan orang tuanya di kampung halamannya yang hidup sebagai petani kecil. Seperti kebanyakan cerita orang-orang marginal, ia kala itu tak punya pilihan selain menjadi PRT untuk bisa bertahan di Jakarta. Kota ini bagi Suwarti adalah kota yang keras, tetapi kota yang selalu memberikan harapan. Hidup sebagai orang yang termarginalkan tidak dihabiskannya dengan kemarahan dan dendam kepada hidup. Ia, sebagaimana yang dapat saya lihat dari bagaimana ia bekerja, menjalani hari-harinya dengan ketekunan seorang yang menikmati apa yang dapat ia nikmati. Mensyukuri kesehatannya yang menyebabkan ia tampak tak pernah kelelahan di terik Jakarta. Dan, ia tak pernah merasa ada yang perlu ia menangkan karena ia tak pernah menganggap ada yang harus ia taklukkan.
Ketika makin banyak pedagang roti mengendarai motor bahkan mobil, ia tak merasa dagangannya bakal tersingkir. Justru dengan berjalan kaki, ia bisa mengetok pintu demi pintu, bisa berbicara dan berbasa-basi dengan tiap rumah. Ia tidak seperti pedagang roti yang mengendarai mobil, yang sapaannya terkadang terdengar angkuh lewat klakson atau lagu-lagu dari rekaman kaset yang membosankan. “Bu…. Kuenya Bu?” adalah sapaannya yang khas. Lalu dengan cepat ia akan membeberkan dagangannya dari gendongannya. Tahu dan tempe goreng, onde-onde, lepat pisang, lontong, kroket, dadar gulung, kue lapis, bertebaran tinggal pilih. Walau pun ia tahu, tak semua rumah akan sudi menyetopnya dan membeli dagangannya, senyumnya selalu mengembang. “Tiap orang ada rezekinya Pak. Alhamdulilah, selama tiga tahun ini, saya merasa makin banyak langganan. Makin hari makin baik-baik saja orang-orang kepada saya. Syukur alhamdulillah, tidak ada yang marah-marah. Tidak ada anjing yang mengejar-ngejar saya,” kata dia.
Pagi bagi Suwarti adalah harapan. Seburuk apa pun cuaca, seberat apa pun perjalanan yang harus ia tempuh, ia selalu pasti bahwa rezekinya ada pada pagi. Payungnya akan ia kembangkan manakala hujan turun kepagian. Ketika saya menduga bahwa hujan adalah malapetaka baginya karena itu akan menghambat perjalanannya, apalagi ia harus berjalan kaki memutar kompleks kami, ia malah tersenyum. “Justru kalau turun hujan Pak, orang malas keluar cari sarapan. Kue saya malahan lebih laku kalau turun hujan,” katanya. Sebuah jawaban yang bagi saya penuh optimisme dan pengharapan.
Pertanyaan klasik yang sesungguhnya tak perlu lagi dilontarkan manakala berkenalan dengan orang seperti Suwarti adalah untuk apa dan mengapa ia bekerja membanting tulang. Sudah barang tentu orang seperti dia harus membanting tulang. Untuk makan-minum dirinya. Untuk menyambung hidupnya anak beranak. Tetapi toh, saya harus menanyakan itu, untuk mengeksplorasi siapa tahu ada lagi yang membuat dirinya mempunyai energi yang luar biasa. Dan, ternyata memang ada.
Dua anaknya, semuanya diasuh oleh keluarga mertuanya dengan biaya dari suami dan dirinya, adalah energi yang tak pernah habis. Ia selalu membayangkan anak-anaknya itu kelak mendapat pendidikan yang baik. Ia ingin mereka kelak dapat menikmati hidup lebih dari yang dinikmatinya kini. Kemana pun dan sampai setinggi apa pun, ia ingin mendukung anak-anaknya, sepanjang itu berarti menempuh pendidikan yang baik dan lebih tinggi. “Saya sepenuhnya tergantung mereka. Kalau mereka bersekolah dengan baik, mereka belajar dengan baik, saya akan usahakan. Tidak ada kata berhenti bagi saya, Pak,” kata dia. Senyumnya pasti.
Tentulah berat bagi Suwarti menggali energi itu. Anak-anak itu tinggal di tempat yang jauh, yang mungkin hanya bisa ia temui sekali dalam setahun manakala lebaran tiba. Tetapi semakin ia pikirkan itu, semakin besar ia rasakan tenaga yang bisa ia gunakan. Ia bayar kerinduannya kepada anak-anaknya itu dengan bekerja lebih antusias. Menyapa anak-anak di kompleks kami seperti ia menyapa anaknya sendiri. Menjajakan kue kepada orang-orang dengan keyakinan kue-kue itu akan jadi sumber energi juga bagi orang-orang yang bekerja untuk anak-anak mereka.
Tidak kecewa dengan harga-harga yang mulai naik, dan BBM yang membubung?, tanya saya sedikit menggoda pemikirannya untuk berpikir menyalahkan keadaan. Tetapi Suwarti rupanya tak tertarik membicarakan apa yang ia rasa bukan urusannya. “Saya tidak mau memikirkan yang membuat pusing kepala saya Pak,” kata dia. Menurut dia, sepanjang ia masih bisa menabung, dan sepanjang uang yang harus ditabungnya setiap bulan tak berkurang, ia tak mau berpikir susah-susah. Walau pun untuk itu ia mungkin harus mencukupkan uang sisa setelah tabungan itu untuk makan ala kadarnya bersama suaminya. Dan, berarti juga, ia tak boleh sakit. Kalau pun sakit, ia harus berpura-pura tidak sakit.
Lebaran ini Suwarti tidak mudik. Menurut dia, beberapa bulan lalu suaminya telah mudik karena mertuanya laki-laki berpulang. Itu artinya sang suami telah mudik yang berarti pula kemewahan untuk mudik tahun ini telah terpakai, walau pun bukan pada waktunya. Kerinduannya kepada anak-anaknya, mungkin harus ia bayar pada lebaran tahun depan, atau di suatu masa di bulan-bulan depan, manakala ada rezeki yang berlebih.
Ketika saya mengatakan terimakasih banyak, sudah mau saya ajak berbincang-bincang, ia tersenyum dan juga mengucapkan terimakasih. Ketika saya silakan, teh manis yang disuguhkan istri saya ia habiskan sekali teguk, pertanda ia mungkin sudah kehausan sejak tadi. Saya menyalahkan diri sendiri, betapa egoisnya saya tak mempersilakannya minum dari tadi, dan lebih medahulukan kepentingan saya menanyai dia. Ia kemudian merapikan keranjang kuenya dan menggendongnya kembali. Hari masih jam 10 lewat sedikit, ketika ia akan pulang ke rumahnya, lebih kurang lima kilometer dari tempat kami. “Mari Pak,” katanya mengangguk. Senyumnya itu, akan selalu membuat saya bangga sebagai orang Indonesia.***
© Eben Ezer Siadari. Penulis adalah Siadari adalah wartawan, pemimpin redaksi majalah WartaBisnis dan BisnisKita, tinggal di Jakarta. Lahir di Sarimatondang, Sumatera Utara, 27 Juli 1966, ia menamatkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung. Menimba pengetahuan jurnalistik di Thomson Foundation, Cardiff, Inggris (1994), ia juga adalah alumni International Visitor Leader Program (1997) yang diselenggarakan oleh United States of Information Agency (USIA), Washington. Tercatat sebagai associate pada Pusat Kajian Komunikasi FISIP UI, karyanya sebagai penyunting antara lain Sketsa 50 Eksekutif Indonesia (1997), Gubernur Gorontalo menjawab Rakyat (2005) dan The Power of Value in Uncertainty World, Reflesi seorang CEO, Herris Simanjuntak (2005). Menikah, dengan satu putri (6 tahun) waktu senggangnya dihabiskan dengan tidur dan berburu makanan etnik murah dan ramah di sekitar tempatnya tinggal. Ia dapat dihubungi melalui email: ebenezersiadari@yahoo.com. Serial tulisannya Bangga Saya jadi Orang Indonesia dapat pula dibaca di www.banggaindonesia.blogspot.com
SISTEM INFORMASI
Oleh: Ardian Syam
Ada apa dengan informasi? Apakah anda mendefinisikan informasi sekedar data yang diolah? Pernahkah anda membedakan informasi dengan sampah? Saya ingin tanya anda yang memiliki e-mail address, pernahkah anda menerima kiriman e-mail yang berisi berita, iklan, dan hal lain yang sama sekali tidak anda perlukan atau tidak anda butuhkan?
Apakah content e-mail tadi menjadi informasi buat anda? Yakinkah anda bahwa itu informasi buat anda, bukan sampah? Saya ingin membuka sedikit wawasan fikiran tentang informasi. Banyak orang mengatakan bahwa sekarang mereka kebanjiran informasi. Oh ya? Saya pernah dengar bahwa Christianto Wibisono bilang orang yang memegang informasi akan mengendalikan dunia. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang kebanjiran informasi?
Beberapa teman saya telah mencoba meredefinisi informasi. Informasi adalah data yang diolah dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan individu atau kelompok. Dengan demikian informasi berkesan sangat individualis. Sesuai kebutuhan. Sesuatu yang tidak bermanfaat untuk individu atau kelompok bukanlah informasi. Karena itu apapun yang masuk ke dalam e-mail address anda tetapi tidak anda butuhkan, itu bukan informasi, itu sampah. Segera delete dan jangan simpan dalam e-mail address anda, karena bila penuh, justru e-mail yang lebih penting yang akan dihapus secara otomatis.
Dengan definisi baru ini, masih mungkinkah anda kebanjiran informasi. Informasi tentang penjualan produk di tempat anda, bagi kelompok marketing adalah informasi tetapi bagi kelompok manajemen SDM tidak ada manfaat.
Saya coba beri anda contoh. Di Yogyakarta, angkutan umum yang paling banyak adalah bis sebesar metro mini Jakarta. Di beberapa tempat sepanjang jalur masing-masing bis akan ada orang-orang yang dibayar untuk memberitahu supir atau kernet bis, ada bis apa saja yang sudah lewat di depan mereka dan berapa menit yang lalu bis tersebut lewat. Dengan demikian supir atau kernet bis dapat memutuskan apakah mereka akan terus berjalan atau menunggu beberapa menit. Mengapa?
Bila mereka segera jalan padahal bis sebelum mereka belum 10 menit yang lalu lewat tempat itu maka akan terjadi rebutan penumpang di jalur depan, dengan demikian mereka akan memutuskan untuk menunggu sebentar sehingga cukup jauh dengan bis terdahulu.
Para pekerja angkutan di Yogyakarta sangat mengerti arti berkompetisi tanpa saling membunuh. Dengan menunggu, maka mereka akan mendapatkan penumpang yang tidak dapat atau tidak sempat terangkut oleh bus di depan mereka. Dengan demikian pula maka mereka tidak perlu kebut-kebutan di jalan raya demi mendapatkan penumpang dan berarti mereka dapat melayani semua calon penumpang dengan baik. Karena tidak ada dua bis yang beriringan pada saat yang sama dan mengakibatkan penumpang akan menunggu cukup lama hingga datang bis yang ke tiga.
Satu lagi hal yang tadi saya belum sampaikan dalam definisi baru tentang informasi. Pengambilan keputusan. Sesuatu menjadi bermanfaat bila dapat membantu kita mengambil keputusan. Dari hal kecil seperti menunggu atau langsung menjalankan bis, hingga ke apakah kita akan melakukan discount akhir tahun di toko retail kita atau tidak.
Anda mungkin belum pernah mendengar kisah toko retail 7 eleven. Toko swalayan tersebut berhasil dengan memiliki perputaran persediaan barang cukup cepat dan berhasil mempercepat pendapatan di masing-masing outlet sehingga dapat meningkatkan laba mereka.
Data perputaran barang dagang benar-benar dimanfaatkan oleh toko swalayan ini. Berdasarkan data penjualan mereka, dapat diketahui dengan pasti barang-barang apa saja yang sering dibeli oleh konsumen pada jam-jam tertentu. Kemudian mereka berhasil mendapatkan pola pembelian barang untuk setiap 2 jam sekali. Dalam setiap periode 2 jam sekali hanya beberapa barang tertentu saja yang terbeli oleh konsumen.
Mereka tahu bahwa jam 8 hingga 10 lebih banyak dibeli produk makanan dan minuman untuk sarapan, karena para penghuni rumah baru saja selesai sarapan sehingga para ibu rumah tangga tahu bahwa makanan atau minuman yang mereka biasa sediakan untuk sarapan telah habis dan perlu dibeli kembali. Mereka juga menjadi tahu kapan para pegawai yang sibuk membutuhkan bahan bacaan yang ringan tapi bermanfaat seperti majalah.
Berdasarkan informasi tersebut maka mereka akan mengaturkan barang-barang tersebut berada di rak paling depan, dekat kasir pada jam yang tepat pula. Sehingga konsumen mereka bisa langsung menemukan barang yang dibutuhkan mengambil sesuai kebutuhan dan membawa ke meja kasir yang tidak jauh dari rak tempat barang-barang yang baru saja mereka ambil. Kemudian konsumen akan segera membayar dan membawa pulang barang tersebut.
Pernah Anda ingin masuk ke dalam sebuah toko swalayan yang terlalu penuh dan mengurungkan niat Anda untuk masuk dan tidak jadi berbelanja di toko itu? Itulah yang mereka berhasil hindarkan. Bila konsumen dapat langsung keluar dari toko swalayan begitu selesai membayar, maka toko tidak akan pernah terlihat terlalu ramai, karena konsumen tidak harus berkeliling toko hanya untuk mencari barang yang dibutuhkan.
Manfaat berikut yang didapat oleh toko itu adalah bahwa mereka tidak perlu menyediakan ruangan toko yang terlalu besar untuk menempatkan rak pajang mereka. Lalu karena mereka mengawasi inventory turn over dengan ketat, maka mereka lebih mudah mengendalikan waktu pemesanan, economic order quantity, dan reorder point dengan lebih akurat. Hal tersebut mengakibatkan mereka tidak perlu menyimpan terlalu banyak barang untuk tiap jenis produk. Itu juga berarti mereka tidak perlu menyediakan ruangan yang terlalu luas untuk tempat penyimpanan barang.
Karena mereka tidak perlu menyediakan ruangan yang luas maka mereka dapat menghemat biaya sewa gedung. Karena mereka tidak perlu menyimpan barang terlalu banyak maka mereka juga dapat menghemat biaya penyimpanan barang, dan mengurangi resiko barang rusak di penyimpanan.
Di sisi lain, ruangan toko mereka yang tidak pernah terlihat terlalu ramai akan memperbanyak orang yang masuk dan berbelanja. Dengan demikian akan semakin baiklah pendapatan mereka, dan bila biaya dapat mereka hemat, maka laba dapat ditingkatkan dengan lebih cepat.
Sekarang masihkah Anda akan mengabaikan informasi yang tersedia di sekitar Anda?
* Ardian Syam menempuh pendidikan terakhir di Magister Akuntansi, UGM, Yogyakarta, 2004. Saat ini ia bekerja sebagai Financial Analyst di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., Divisi Regional I Sumatera, sekaligus menjadi dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ia dapat dihubungi di: ardian.syam@gmail.com
Ada apa dengan informasi? Apakah anda mendefinisikan informasi sekedar data yang diolah? Pernahkah anda membedakan informasi dengan sampah? Saya ingin tanya anda yang memiliki e-mail address, pernahkah anda menerima kiriman e-mail yang berisi berita, iklan, dan hal lain yang sama sekali tidak anda perlukan atau tidak anda butuhkan?
Apakah content e-mail tadi menjadi informasi buat anda? Yakinkah anda bahwa itu informasi buat anda, bukan sampah? Saya ingin membuka sedikit wawasan fikiran tentang informasi. Banyak orang mengatakan bahwa sekarang mereka kebanjiran informasi. Oh ya? Saya pernah dengar bahwa Christianto Wibisono bilang orang yang memegang informasi akan mengendalikan dunia. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang kebanjiran informasi?
Beberapa teman saya telah mencoba meredefinisi informasi. Informasi adalah data yang diolah dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan individu atau kelompok. Dengan demikian informasi berkesan sangat individualis. Sesuai kebutuhan. Sesuatu yang tidak bermanfaat untuk individu atau kelompok bukanlah informasi. Karena itu apapun yang masuk ke dalam e-mail address anda tetapi tidak anda butuhkan, itu bukan informasi, itu sampah. Segera delete dan jangan simpan dalam e-mail address anda, karena bila penuh, justru e-mail yang lebih penting yang akan dihapus secara otomatis.
Dengan definisi baru ini, masih mungkinkah anda kebanjiran informasi. Informasi tentang penjualan produk di tempat anda, bagi kelompok marketing adalah informasi tetapi bagi kelompok manajemen SDM tidak ada manfaat.
Saya coba beri anda contoh. Di Yogyakarta, angkutan umum yang paling banyak adalah bis sebesar metro mini Jakarta. Di beberapa tempat sepanjang jalur masing-masing bis akan ada orang-orang yang dibayar untuk memberitahu supir atau kernet bis, ada bis apa saja yang sudah lewat di depan mereka dan berapa menit yang lalu bis tersebut lewat. Dengan demikian supir atau kernet bis dapat memutuskan apakah mereka akan terus berjalan atau menunggu beberapa menit. Mengapa?
Bila mereka segera jalan padahal bis sebelum mereka belum 10 menit yang lalu lewat tempat itu maka akan terjadi rebutan penumpang di jalur depan, dengan demikian mereka akan memutuskan untuk menunggu sebentar sehingga cukup jauh dengan bis terdahulu.
Para pekerja angkutan di Yogyakarta sangat mengerti arti berkompetisi tanpa saling membunuh. Dengan menunggu, maka mereka akan mendapatkan penumpang yang tidak dapat atau tidak sempat terangkut oleh bus di depan mereka. Dengan demikian pula maka mereka tidak perlu kebut-kebutan di jalan raya demi mendapatkan penumpang dan berarti mereka dapat melayani semua calon penumpang dengan baik. Karena tidak ada dua bis yang beriringan pada saat yang sama dan mengakibatkan penumpang akan menunggu cukup lama hingga datang bis yang ke tiga.
Satu lagi hal yang tadi saya belum sampaikan dalam definisi baru tentang informasi. Pengambilan keputusan. Sesuatu menjadi bermanfaat bila dapat membantu kita mengambil keputusan. Dari hal kecil seperti menunggu atau langsung menjalankan bis, hingga ke apakah kita akan melakukan discount akhir tahun di toko retail kita atau tidak.
Anda mungkin belum pernah mendengar kisah toko retail 7 eleven. Toko swalayan tersebut berhasil dengan memiliki perputaran persediaan barang cukup cepat dan berhasil mempercepat pendapatan di masing-masing outlet sehingga dapat meningkatkan laba mereka.
Data perputaran barang dagang benar-benar dimanfaatkan oleh toko swalayan ini. Berdasarkan data penjualan mereka, dapat diketahui dengan pasti barang-barang apa saja yang sering dibeli oleh konsumen pada jam-jam tertentu. Kemudian mereka berhasil mendapatkan pola pembelian barang untuk setiap 2 jam sekali. Dalam setiap periode 2 jam sekali hanya beberapa barang tertentu saja yang terbeli oleh konsumen.
Mereka tahu bahwa jam 8 hingga 10 lebih banyak dibeli produk makanan dan minuman untuk sarapan, karena para penghuni rumah baru saja selesai sarapan sehingga para ibu rumah tangga tahu bahwa makanan atau minuman yang mereka biasa sediakan untuk sarapan telah habis dan perlu dibeli kembali. Mereka juga menjadi tahu kapan para pegawai yang sibuk membutuhkan bahan bacaan yang ringan tapi bermanfaat seperti majalah.
Berdasarkan informasi tersebut maka mereka akan mengaturkan barang-barang tersebut berada di rak paling depan, dekat kasir pada jam yang tepat pula. Sehingga konsumen mereka bisa langsung menemukan barang yang dibutuhkan mengambil sesuai kebutuhan dan membawa ke meja kasir yang tidak jauh dari rak tempat barang-barang yang baru saja mereka ambil. Kemudian konsumen akan segera membayar dan membawa pulang barang tersebut.
Pernah Anda ingin masuk ke dalam sebuah toko swalayan yang terlalu penuh dan mengurungkan niat Anda untuk masuk dan tidak jadi berbelanja di toko itu? Itulah yang mereka berhasil hindarkan. Bila konsumen dapat langsung keluar dari toko swalayan begitu selesai membayar, maka toko tidak akan pernah terlihat terlalu ramai, karena konsumen tidak harus berkeliling toko hanya untuk mencari barang yang dibutuhkan.
Manfaat berikut yang didapat oleh toko itu adalah bahwa mereka tidak perlu menyediakan ruangan toko yang terlalu besar untuk menempatkan rak pajang mereka. Lalu karena mereka mengawasi inventory turn over dengan ketat, maka mereka lebih mudah mengendalikan waktu pemesanan, economic order quantity, dan reorder point dengan lebih akurat. Hal tersebut mengakibatkan mereka tidak perlu menyimpan terlalu banyak barang untuk tiap jenis produk. Itu juga berarti mereka tidak perlu menyediakan ruangan yang terlalu luas untuk tempat penyimpanan barang.
Karena mereka tidak perlu menyediakan ruangan yang luas maka mereka dapat menghemat biaya sewa gedung. Karena mereka tidak perlu menyimpan barang terlalu banyak maka mereka juga dapat menghemat biaya penyimpanan barang, dan mengurangi resiko barang rusak di penyimpanan.
Di sisi lain, ruangan toko mereka yang tidak pernah terlihat terlalu ramai akan memperbanyak orang yang masuk dan berbelanja. Dengan demikian akan semakin baiklah pendapatan mereka, dan bila biaya dapat mereka hemat, maka laba dapat ditingkatkan dengan lebih cepat.
Sekarang masihkah Anda akan mengabaikan informasi yang tersedia di sekitar Anda?
* Ardian Syam menempuh pendidikan terakhir di Magister Akuntansi, UGM, Yogyakarta, 2004. Saat ini ia bekerja sebagai Financial Analyst di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., Divisi Regional I Sumatera, sekaligus menjadi dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ia dapat dihubungi di: ardian.syam@gmail.com
Bangga Saya jadi Orang Indonesia (04) Seorang 'IBU' yang tak Pernah Pensiun -
Oleh: Eben Ezer Siadari
Televisi pertama kali masuk ke kampung kami kira-kira 25 tahun lalu. Waktu itu saya masih di kelas lima SD. Pemiliknya adalah tetangga dekat kami. Hampir semua orang di kampung itu memanggil pemilik rumah itu 'IBU.' Televisi itu 14 inci, hitam-putih. Sebelum ia bisa mengeluarkan gambar sebagaimana layaknya televisi, kerepotan demi kerepotan terjadi di sekitar rumah. Misalnya, di depan rumah IBU harus ditanamkan antena lebih kurang lima meter. Pohon cengkeh di depan rumah kalah sama itu antena. Kerepotan lain adalah menyambung-nyambungkan kabel. Melekatkannya di dinding rumah IBU yang besar itu.
Itu adalah tontonan yang menarik bagi anak-anak seusia saya. Kami mengerumuni para pekerja yang mengerjakannya. Melihat-lihat penuh rasa ingin tahu. Saya, didalam hati bahkan punya target sendiri: saya harus jadi saksi sejarah pertama melihat siaran televisi di kampung kami.
Ketika televisi itu kemudian menyala, hati saya bertempik sorak. Kawan-kawan dan saya segera menerobos masuk ke rumah IBU, dengan sedikit malu-malu, untuk menontonnya. Seingat saya, acara sore itu adalah paduan suara anak2 asuhan Pranajaya, dengan lagu: "Siapa yang paling manis, pasti mama tersayang….".
Lima menit setelah menyaksikannya, saya bergegas ke rumah. Memanggil adik perempuan saya (sekarang sudah almarhum) yang sedang memasak. Saya bilang, kamu harus lihat itu televisi. Bagus. Dan adik saya ikut berlari. Dan adik saya ikut menikmati keceriaan itu. Malamnya sebagai imbalan, kami kena marah ibu-bapak. Soalnya, adik saya meninggalkan tungku terlalu lama yang menyebabkan kami harus memakan nasi gosong berkerak malam itu…..
Sejak hari itu kami punya acara rutin setiap sore. Jam 5-6 sore, setelah pulang dari ladang dan mandi di sungai, rombongan saya dan kawan-kawan sudah akan berdiri di depan pintu rumah IBU. Mengetok pintu pelan-pelan dan setelah dibukakan, kami duduk bersila di tikar. Menonton televisi. Bila sudah jam 7 atau jam 8, tidak ada ampun, IBU akan berdiri. Mematikan televisi dan menyuruh kami pulang. "Pulang, kalian harus belajar," begitu selalu pesan IBU. Dan samasekali tak ada yang berani membantah.
Mungkin bagi yang tidak tahu riwayatnya, agak aneh kedengarannya, jika di Sarimatondang yang kebanyakan orang berbahasa daerah Batak, ibu itu mendapat julukan IBU, bukan Inang (dalam bahasa Batak Ibu =Inang). Tetapi tidak perlu heran. Julukan IBU itu melekat kepadanya karena beliau adalah guru pertama di kampung kami. Sebagian besar orang-orang tua di kampung kami masih mencicipi didikannya. Dan sebagaimana kita pernah dengar cerita orang tua dahulu, guru zaman dulu adalah guru 24 jam. Di rumah dan di sekolah ia tetap menunjukkan teladannya sebagai guru. Makanya panggilan IBU kepada sang IBU itu melekat terus, sampai kepada kami, anak-anak, yang sepantasnya memanggilnya nenek.
IBU adalah sosok yang terkenal dan berwibawa di kampung kami. Tidak terlalu banyak bicara, tidak suka ngerumpi tetapi ia dikagumi sekaligus ditakuti. Sebenarnya ia sudah lama pensiun dan putra-putrinya sudah jadi 'orang' semua. Tetapi kegiatan rutinnya tak berbeda jauh dengan orang-orang kebanyakan di kampung kami. Pagi-pagi sekali dia sudah bangun. Pergi ke kebun belakang rumahnya, menyiangi pohon cengkeh, menebang tanaman liar yang sering tumbuh tanpa permisi. Kalau hari Jumat, pagi-pagi sekali dia sudah menarik kereta dorong berisi beras, yang jadi dagangannya di pasar.
Tidak sekali-dua kali anak-anak muda di kampung kami kena damprat olehnya. Itu biasanya terjadi jika sedang musim ujian sekolah, ketika kampung kami mendadak sepi. Anak-anak sekolah mendekam di rumah, belajar (entah dengan serius atau tidak). Pada saat-saat semacam itu ada kalanya ada satu dua orang yang membandel, bermain-main gitar di pinggir jalan atau di depan warung sambil mencoba-coba menjadi The Mercys gadungan atau Panbers amatiran. Nah, orang-orang ini bersiap-siaplah kena damprat sang IBU. IBU akan marah besar karena melihat anak-anak itu tidak belajar. Ia juga lebih marah karena dengan bernyanyi-nyanyi begitu, orang yang belajar akan terganggu.
Kampung kami itu dikelilingi oleh enam Sekolah Dasar dan satu SMP Negeri. Banyak ibu guru yang tinggal di kampung kami, tetapi anehnya, hingga ketika IBU berpulang, belum ada satu pun Ibu Guru yang menggantikan posisi sang IBU untuk dipanggil IBU. Barangkali masih akan lama kami menemukan ibu yang sekaliber IBU.
IBU itu memang sudah menjadi ikon tentang bagaimana seharusnya seorang Ibu Guru. Dan yang membanggakan kami, ia bukan hanya Ibu Guru bagi orang lain, tetapi juga bagi dirinya sendiri dan anak-anaknya. Ia buktikan ajarannya di tengah keluarganya.
Tak mengherankan bila ketika jenazahnya disemayamkan di Rumah Duka, ratusan bahkan ribuan karangan bunga dukacita berbaris sepanjang jalan. Bukan hanya dari bekas murid-muridnya, tetapi terutama dari orang-orang yang mengucapkan ikut berdukacita kepada putra-putrinya. Putranya yang tertua adalah Prof. Dr. Bungaran Saragih, menteri pertanian pada Kabinet Gus Dur dan Megawati.
Tiap kali saya ingat IBU, saya selalu bersyukur bahwa ia adalah salah seorang dari banyak IBU di Indonesia. Bangga saya jadi orang Indonesia.
* Eben Ezer Siadari adalah wartawan, pemimpin redaksi majalah WartaBisnis dan BisnisKita, tinggal di Jakarta. Lahir di Sarimatondang, Sumatera Utara, 27 Juli 1966, ia menamatkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung. Menimba pengetahuan jurnalistik di Thomson Foundation, Cardiff, Inggris (1994), ia juga adalah alumni International Visitor Leader Program (1997) yang diselenggarakan oleh United States of Information Agency (USIA), Washington. Tercatat sebagai associate pada Pusat Kajian Komunikasi FISIP UI, karyanya sebagai penyunting antara lain Sketsa 50 Eksekutif Indonesia (1997), Gubernur Gorontalo menjawab Rakyat (2005) dan The Power of Value in Uncertainty World, Reflesi seorang CEO, Herris Simanjuntak (2005). Menikah, dengan satu putri (6 tahun) waktu senggangnya dihabiskan dengan tidur dan berburu makanan etnik murah dan ramah di sekitar tempatnya tinggal. Ia dapat dihubungi melalui email: ebenezersiadari@yahoo.com.
Televisi pertama kali masuk ke kampung kami kira-kira 25 tahun lalu. Waktu itu saya masih di kelas lima SD. Pemiliknya adalah tetangga dekat kami. Hampir semua orang di kampung itu memanggil pemilik rumah itu 'IBU.' Televisi itu 14 inci, hitam-putih. Sebelum ia bisa mengeluarkan gambar sebagaimana layaknya televisi, kerepotan demi kerepotan terjadi di sekitar rumah. Misalnya, di depan rumah IBU harus ditanamkan antena lebih kurang lima meter. Pohon cengkeh di depan rumah kalah sama itu antena. Kerepotan lain adalah menyambung-nyambungkan kabel. Melekatkannya di dinding rumah IBU yang besar itu.
Itu adalah tontonan yang menarik bagi anak-anak seusia saya. Kami mengerumuni para pekerja yang mengerjakannya. Melihat-lihat penuh rasa ingin tahu. Saya, didalam hati bahkan punya target sendiri: saya harus jadi saksi sejarah pertama melihat siaran televisi di kampung kami.
Ketika televisi itu kemudian menyala, hati saya bertempik sorak. Kawan-kawan dan saya segera menerobos masuk ke rumah IBU, dengan sedikit malu-malu, untuk menontonnya. Seingat saya, acara sore itu adalah paduan suara anak2 asuhan Pranajaya, dengan lagu: "Siapa yang paling manis, pasti mama tersayang….".
Lima menit setelah menyaksikannya, saya bergegas ke rumah. Memanggil adik perempuan saya (sekarang sudah almarhum) yang sedang memasak. Saya bilang, kamu harus lihat itu televisi. Bagus. Dan adik saya ikut berlari. Dan adik saya ikut menikmati keceriaan itu. Malamnya sebagai imbalan, kami kena marah ibu-bapak. Soalnya, adik saya meninggalkan tungku terlalu lama yang menyebabkan kami harus memakan nasi gosong berkerak malam itu…..
Sejak hari itu kami punya acara rutin setiap sore. Jam 5-6 sore, setelah pulang dari ladang dan mandi di sungai, rombongan saya dan kawan-kawan sudah akan berdiri di depan pintu rumah IBU. Mengetok pintu pelan-pelan dan setelah dibukakan, kami duduk bersila di tikar. Menonton televisi. Bila sudah jam 7 atau jam 8, tidak ada ampun, IBU akan berdiri. Mematikan televisi dan menyuruh kami pulang. "Pulang, kalian harus belajar," begitu selalu pesan IBU. Dan samasekali tak ada yang berani membantah.
Mungkin bagi yang tidak tahu riwayatnya, agak aneh kedengarannya, jika di Sarimatondang yang kebanyakan orang berbahasa daerah Batak, ibu itu mendapat julukan IBU, bukan Inang (dalam bahasa Batak Ibu =Inang). Tetapi tidak perlu heran. Julukan IBU itu melekat kepadanya karena beliau adalah guru pertama di kampung kami. Sebagian besar orang-orang tua di kampung kami masih mencicipi didikannya. Dan sebagaimana kita pernah dengar cerita orang tua dahulu, guru zaman dulu adalah guru 24 jam. Di rumah dan di sekolah ia tetap menunjukkan teladannya sebagai guru. Makanya panggilan IBU kepada sang IBU itu melekat terus, sampai kepada kami, anak-anak, yang sepantasnya memanggilnya nenek.
IBU adalah sosok yang terkenal dan berwibawa di kampung kami. Tidak terlalu banyak bicara, tidak suka ngerumpi tetapi ia dikagumi sekaligus ditakuti. Sebenarnya ia sudah lama pensiun dan putra-putrinya sudah jadi 'orang' semua. Tetapi kegiatan rutinnya tak berbeda jauh dengan orang-orang kebanyakan di kampung kami. Pagi-pagi sekali dia sudah bangun. Pergi ke kebun belakang rumahnya, menyiangi pohon cengkeh, menebang tanaman liar yang sering tumbuh tanpa permisi. Kalau hari Jumat, pagi-pagi sekali dia sudah menarik kereta dorong berisi beras, yang jadi dagangannya di pasar.
Tidak sekali-dua kali anak-anak muda di kampung kami kena damprat olehnya. Itu biasanya terjadi jika sedang musim ujian sekolah, ketika kampung kami mendadak sepi. Anak-anak sekolah mendekam di rumah, belajar (entah dengan serius atau tidak). Pada saat-saat semacam itu ada kalanya ada satu dua orang yang membandel, bermain-main gitar di pinggir jalan atau di depan warung sambil mencoba-coba menjadi The Mercys gadungan atau Panbers amatiran. Nah, orang-orang ini bersiap-siaplah kena damprat sang IBU. IBU akan marah besar karena melihat anak-anak itu tidak belajar. Ia juga lebih marah karena dengan bernyanyi-nyanyi begitu, orang yang belajar akan terganggu.
Kampung kami itu dikelilingi oleh enam Sekolah Dasar dan satu SMP Negeri. Banyak ibu guru yang tinggal di kampung kami, tetapi anehnya, hingga ketika IBU berpulang, belum ada satu pun Ibu Guru yang menggantikan posisi sang IBU untuk dipanggil IBU. Barangkali masih akan lama kami menemukan ibu yang sekaliber IBU.
IBU itu memang sudah menjadi ikon tentang bagaimana seharusnya seorang Ibu Guru. Dan yang membanggakan kami, ia bukan hanya Ibu Guru bagi orang lain, tetapi juga bagi dirinya sendiri dan anak-anaknya. Ia buktikan ajarannya di tengah keluarganya.
Tak mengherankan bila ketika jenazahnya disemayamkan di Rumah Duka, ratusan bahkan ribuan karangan bunga dukacita berbaris sepanjang jalan. Bukan hanya dari bekas murid-muridnya, tetapi terutama dari orang-orang yang mengucapkan ikut berdukacita kepada putra-putrinya. Putranya yang tertua adalah Prof. Dr. Bungaran Saragih, menteri pertanian pada Kabinet Gus Dur dan Megawati.
Tiap kali saya ingat IBU, saya selalu bersyukur bahwa ia adalah salah seorang dari banyak IBU di Indonesia. Bangga saya jadi orang Indonesia.
* Eben Ezer Siadari adalah wartawan, pemimpin redaksi majalah WartaBisnis dan BisnisKita, tinggal di Jakarta. Lahir di Sarimatondang, Sumatera Utara, 27 Juli 1966, ia menamatkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung. Menimba pengetahuan jurnalistik di Thomson Foundation, Cardiff, Inggris (1994), ia juga adalah alumni International Visitor Leader Program (1997) yang diselenggarakan oleh United States of Information Agency (USIA), Washington. Tercatat sebagai associate pada Pusat Kajian Komunikasi FISIP UI, karyanya sebagai penyunting antara lain Sketsa 50 Eksekutif Indonesia (1997), Gubernur Gorontalo menjawab Rakyat (2005) dan The Power of Value in Uncertainty World, Reflesi seorang CEO, Herris Simanjuntak (2005). Menikah, dengan satu putri (6 tahun) waktu senggangnya dihabiskan dengan tidur dan berburu makanan etnik murah dan ramah di sekitar tempatnya tinggal. Ia dapat dihubungi melalui email: ebenezersiadari@yahoo.com.
Ketika usiaku menjelang Pensiun
Oleh: Masbukhin Pradhana
Juli 2005 tanggal 20, kala itu pertama kali saya men-share pengalaman menjalani bisnis di kelas Entrepeneurship di perusahaan otomotif. Pesertanya rata-rata berusia 52 tahun yang berarti 3 tahun lagi akan pensiun. Usia peserta yang menjelang pensiun itu memang pantas menjadi bapak saya. Namun mereka mengakui telah kalah start dan setengah menyesal, “kenapa tidak memulai dari dulu...” Saya pun berpikir, “Gimana sih rasanya kalau tiga tahun lagi kita pensiun?”
Saya pun berkelana dengan mesin waktu ke tahun 2026. Ketika itu usia saya sudah 52 tahun dan tinggal punya sisa waktu 3 tahun untuk bekerja di perusahaan. Apa yang terjadi jika usia saya dipanjangkan sampai menjelang pensiun.
Kira-kira posisi saya ketika itu, apakah sudah menjadi supervisor, manager, general manager atau sudah director. Bukan kah makin tinggi jabatan, semakin kita merasa takut meniggalkan posisi tersebut. Kalau sebelum pensiun kita sebagai desecion maker dengan kekuasaan yang besar, namun tiba-tiba kekuasaan itu lepas, bukan kah malah terasa bahwa kita “sudah habis“? Mungkin itulah rasanya post power sindrome, gak enak rasanya.
Tapi saya pun berpikir, kalau saya masih menjabat sebagai supervisor apalagi masih menjadi staff, tentu betapa jelek prestasi saya di mata perusahaan, sehingga jabatan pun tak kunjung naik hingga menjelang pensiun. Sehingga terkadang pikiran jelek pun hinggap, kalau saya bekerja di perusahaan saja tidak bisa memberikan kontribusi yang baik padahal perusahaan tersebut didukung oleh tim, apalagi kalau saya sudah pensiun dan hidup sendiri tanpa tim, tentu betapa lebih payahnya hasil kinerja saya.
Apa yang harus dilakukan setelah pensiun? Apakah pulang kampung untuk menekan pengeluaran? Dengan pulang kampung, rasanya kembali ke masa kanak-kanak. Menikmati udara desa yang belum banyak tercampur asap kendaraan dan pabrik. Melihat hijaunya pepohonanan. Jalan pagi tanpa alas di rumput yang masih basah oleh embun.
Ataukah tetap di Jakarta karena sudah mengenal tetangga kanan kiri sejak mempunyai rumah sendiri. Menikmati usia tua bersama tetangga seusia.
“Itu kan masalah aktifitas harian dan lingkungan...,“ pikirku. Padahal masih banyak masalah yang lain.
Yang lebih menggelisahkan lagi, tidak bekerja berarti tidak ada penghasilan rutin.
Apakah saya melamar kerja harian. Kok kerja lagi yaaa...
Atau membuat bisnis? Bukan kah usiaku sudah terlalu tua untuk memulai?
Mungkin usiaku telah tua, tapi semangat harus tetap berkobar. Masak sih pengalaman hidup selama 50-an tahun tidak bisa dipakaia sebagai bekal berbisnis?
Saya pikir, saya harus mulai sekarang, sebelum semuanya terlambat. Masalahnya bukan terlambatnya, tapi mulai nanti atau sekarang adalah sama saja. Bukan kah kalau aku berniat berwira usaha, sekarang atau nanti sama saja?
Tapi kalau aku mulai sekarang, mungkin waktuku akan terbagi.
Tapi kalau tidak mulai, aku tidak akan bisa membuktikan bahwa bisnis adalah “menarik“. Kalau ditunda terus, tentu keberhasilan pun akan tertunda. Jika harus melewati kegagalan pun, tentu harus saya lewati segera, agar ketika saya pensiun, bisnisku sudah berjalan dengan lancar. Jangan sampai ketika aku sudah dapat surat pensiun, dan tidak bekerja lagi, aku baru memulai bisnis yang memang harus melewati jatuh, jatuh, jatuh dan bangun kembali untuk selanjutnya menuju Sukses.
Penutup
Aku pun tersadar. Kini usiaku baru beranjak 31-an.
Akupun berpikir “Apakah aku harus mulai membangun bisnis ketika usiaku 52 tahun atau dari sekarang ?“
Kenapa tidak sekarang ?!
* Masbukhin Pradhana adalah motivator bisnis yang bergabung dalam komunitas Jakarta Entrepreneur Club.
Juli 2005 tanggal 20, kala itu pertama kali saya men-share pengalaman menjalani bisnis di kelas Entrepeneurship di perusahaan otomotif. Pesertanya rata-rata berusia 52 tahun yang berarti 3 tahun lagi akan pensiun. Usia peserta yang menjelang pensiun itu memang pantas menjadi bapak saya. Namun mereka mengakui telah kalah start dan setengah menyesal, “kenapa tidak memulai dari dulu...” Saya pun berpikir, “Gimana sih rasanya kalau tiga tahun lagi kita pensiun?”
Saya pun berkelana dengan mesin waktu ke tahun 2026. Ketika itu usia saya sudah 52 tahun dan tinggal punya sisa waktu 3 tahun untuk bekerja di perusahaan. Apa yang terjadi jika usia saya dipanjangkan sampai menjelang pensiun.
Kira-kira posisi saya ketika itu, apakah sudah menjadi supervisor, manager, general manager atau sudah director. Bukan kah makin tinggi jabatan, semakin kita merasa takut meniggalkan posisi tersebut. Kalau sebelum pensiun kita sebagai desecion maker dengan kekuasaan yang besar, namun tiba-tiba kekuasaan itu lepas, bukan kah malah terasa bahwa kita “sudah habis“? Mungkin itulah rasanya post power sindrome, gak enak rasanya.
Tapi saya pun berpikir, kalau saya masih menjabat sebagai supervisor apalagi masih menjadi staff, tentu betapa jelek prestasi saya di mata perusahaan, sehingga jabatan pun tak kunjung naik hingga menjelang pensiun. Sehingga terkadang pikiran jelek pun hinggap, kalau saya bekerja di perusahaan saja tidak bisa memberikan kontribusi yang baik padahal perusahaan tersebut didukung oleh tim, apalagi kalau saya sudah pensiun dan hidup sendiri tanpa tim, tentu betapa lebih payahnya hasil kinerja saya.
Apa yang harus dilakukan setelah pensiun? Apakah pulang kampung untuk menekan pengeluaran? Dengan pulang kampung, rasanya kembali ke masa kanak-kanak. Menikmati udara desa yang belum banyak tercampur asap kendaraan dan pabrik. Melihat hijaunya pepohonanan. Jalan pagi tanpa alas di rumput yang masih basah oleh embun.
Ataukah tetap di Jakarta karena sudah mengenal tetangga kanan kiri sejak mempunyai rumah sendiri. Menikmati usia tua bersama tetangga seusia.
“Itu kan masalah aktifitas harian dan lingkungan...,“ pikirku. Padahal masih banyak masalah yang lain.
Yang lebih menggelisahkan lagi, tidak bekerja berarti tidak ada penghasilan rutin.
Apakah saya melamar kerja harian. Kok kerja lagi yaaa...
Atau membuat bisnis? Bukan kah usiaku sudah terlalu tua untuk memulai?
Mungkin usiaku telah tua, tapi semangat harus tetap berkobar. Masak sih pengalaman hidup selama 50-an tahun tidak bisa dipakaia sebagai bekal berbisnis?
Saya pikir, saya harus mulai sekarang, sebelum semuanya terlambat. Masalahnya bukan terlambatnya, tapi mulai nanti atau sekarang adalah sama saja. Bukan kah kalau aku berniat berwira usaha, sekarang atau nanti sama saja?
Tapi kalau aku mulai sekarang, mungkin waktuku akan terbagi.
Tapi kalau tidak mulai, aku tidak akan bisa membuktikan bahwa bisnis adalah “menarik“. Kalau ditunda terus, tentu keberhasilan pun akan tertunda. Jika harus melewati kegagalan pun, tentu harus saya lewati segera, agar ketika saya pensiun, bisnisku sudah berjalan dengan lancar. Jangan sampai ketika aku sudah dapat surat pensiun, dan tidak bekerja lagi, aku baru memulai bisnis yang memang harus melewati jatuh, jatuh, jatuh dan bangun kembali untuk selanjutnya menuju Sukses.
Penutup
Aku pun tersadar. Kini usiaku baru beranjak 31-an.
Akupun berpikir “Apakah aku harus mulai membangun bisnis ketika usiaku 52 tahun atau dari sekarang ?“
Kenapa tidak sekarang ?!
* Masbukhin Pradhana adalah motivator bisnis yang bergabung dalam komunitas Jakarta Entrepreneur Club.
Langganan:
Postingan (Atom)
instanx
Total Tayangan Halaman
Categories
- abdul muid badrun (2)
- Acha Septriasa (4)
- ade asep syafruddin (4)
- alexandra dewi (1)
- alpiyanto (1)
- andrew ho (91)
- Ardian syam (22)
- arief yuntanu (2)
- arif gunawan (40)
- arif yustanu (1)
- artikel (13118)
- bambang trim (1)
- beni bevly (1)
- berita (3795)
- BLOGERNAS (1)
- damardi darmawangsa (13)
- danang a akbarona (2)
- dany chandra (3)
- dewi lestari (1)
- Dian Sastro (1)
- didik darmanto (2)
- dodi mawardi (2)
- DOWNLOAD EBOOK GRATIS (234)
- edi zaqeus (1)
- edit (110)
- eko jalu santoso (1)
- eni kusuma (11)
- goenardjoadi goenawan (1)
- hari subagya (7)
- haryanto kandani (4)
- hendra (10)
- ida kuraeny (1)
- indra cahya (1)
- iqnatius muk kuang (8)
- jennie s bev (1)
- johanes koraang (1)
- joko susilo (47)
- joni liu (2)
- joshua w utomo (2)
- joycelina (1)
- kerjadarirumah (4)
- kristopher david (1)
- lamser aritonang (1)
- Luna maya (15)
- m ichsan (41)
- m ikbal (1)
- Mariana Renata (1)
- marsello ginting (1)
- marzuki usman (3)
- Mieke Amalia (1)
- mugi subagya (1)
- muk kuang (1)
- Mulan Jameela (1)
- original artikel (103)
- profil (3)
- pujiono (1)
- rab a broto (4)
- Revalina S. Temat (3)
- riyanto s (4)
- ronal frank (2)
- roni jamaludin (1)
- ruby herman (1)
- ruddy kusnadi (1)
- rudy lim (19)
- sansulung john sum (1)
- saumimam saud (1)
- stephen barnabas (1)
- suryanto wijaya (3)
- syahril syam (17)
- tan bonaventura andika sumarjo (1)
- tanadi santoso (1)
- tante girang (454)
- thomas sugiarto (8)
- tung desem waringin (4)
- undang a halim (1)
- walpaper (50)