Kamis, 13 November 2008

Bambang Trim: Buku Kontroversi Tetap Jadi Primadona







Dalam jagad perbukuan dan penerbitan, nama Bambang Trim mungkin sudah tidak asing lagi. Bambang memang kenyang dengan pengalaman penulisan buku, editing, dan mengelola penerbitan. Dari tangan dingin Bambang pula, lahir racikan buku-buku bestseller terbitan MQS Publishing, seperti Aa Gym Apa Adanya, Setengah Kosong Setengah Isi, dan belakangan The True Power of Watter, yang telah terjual lebih dari 50.000 eksemplar dalam waktu kurang dari setahun.

“Dari awal menjadi pemimpin di penerbitan MQ saya sudah menetapkan visi dan misi yang menjadi mimpi saya di dunia buku,” ungkap Bambang. “Saya ingin membuktikan betapa penerbitan berbasis spiritual juga bisa tampil profesional dan menerapkan prinsip-prinsip yang benar tentang penerbitan buku,” jelasnya lagi. Tak heran bila dalam kendalinya, MQS Publishing kini tumbuh menjadi salah satu penerbitan baru yang cukup diperhitungkan kiprahnya.

Selain sebagai editor karier, Bambang Trim juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Tulisannya tersebar di berbagai media massa, seperti Mitra Desa, Hikmah, Hoplaa, Republika, Pikiran Rakyat, Kompas Matabaca, Medan Bisnis, dan Galamedia. Buku yang ditulisnya tak kurang dari 50 judul buku untuk berbagai penerbit. Ia pernah meraih Juara I Lomba Penulisan Buku Cerita Keagamaan Depag RI pada 2002, jadi Juara I Lomba Penulisan Artikel Perbukuan 50 Tahun IKAPI, dan banyak lagi prestasi lainnya.

Selain itu, Bambang juga aktif dalam menggerakkan dunia penulisan dan perbukuan. Ia sering mengadakan pelatihan-pelatihan penulisan, editing, dan penerbitan. Bambang punya visi yang maju perihal bidang yang ia geluti saat ini. Sebagai bukti atas visi dan komitmennya untuk memajukan dunia perbukuan dan penerbitan di Tanah Air, dalam waktu dekat ini, ia menggagas berdirinya Forum Editor Indonesia (FEI). Rencananya, FEI akan dideklarasikan di Bandung pada 18 November 2006 nanti. Inilah wadah pertama—dan mungkin satu-satunya—yang akan berperan aktif dalam merangsang dan memajukan peran para editor di Indonesia.

Berikut petikan perbincangan Edy Zaqeus dari Pembelajar.com dengan Bambang Trim, tentang kisah suksesnya mengelola MQS Publishing, serta pandangannya terhadap situasi perbukuan akhir-akhir ini:

Bagaimana sejarah berdirinya MQ Publishing (MQP)?
MQ Publishing awalnya didirkan pada 2003 yang kemudian dimerger dengan PT Mutiara Qolbun Saliim yang sebelumnya bergerak dalam bidang distribusi, pada 6 Agustus 2003. Jadilah kemudian nama yang digunakan adalah PT MQS Publishing. Nah, MQ Publishing kemudian menjadi salah satu lini penerbitan PT MQS. Core business PT MQS kemudian diubah menjadi book publishing.

Jelaskan, jenis buku-buku apa saja yang awalnya dibidik oleh MQSP?
Awalnya MQS menerbitkan buku dengan basis manajemen qolbu. Terbanyak adalah buku-buku pengembangan diri serta Islam yang ringan seperti halnya konsep dakwah KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Soalnya penerbit ini memang dibangun dari komunitas Pesantren Daarut Tauhiid dan awalnya berada dalam naungan MQ Corporation milik Aa Gym.

Apakah dalam perjalanan berikutnya ada pengembangan-pengembangan segmentasi dan jenis buku yang diterbitkan?
Dalam perjalanannya MQS memang mengembangkan beberapa imprint atau lini penerbitan, seperti Khansa untuk buku remaja dan kewanitaan, MQ Kecil untuk buku anak, Khas MQ untuk buku-buku bertema manajemen qolbu dari civitas Daarut Tauhiid, serta KOLBU untuk buku keterampilan dan wacana baca-tulis. Sesuai dengan blue print business plan-nya, MQS memang menargetkan punya varian produk yang lengkap hingga 2010, termasuk menggagas buku pendukung pelajaran, buku referensi, serta Quran.

Dalam sebulan, berapa banyak naskah yang masuk ke MQSP?
Naskah yang masuk ke MQS setiap bulannya rata-rata 10-20 naskah. Umumnya MQS sudah memprogramkan naskah (solicited) sehingga naskah yang masuk dalam arti kiriman insidental (unsolicited) memang bukan prioritas utama.

Apa kriteria-kriteria dasar naskah yang bisa diterbitkan di MQSP?
Kriteria umum tentu yang tidak bertentangan dengan asas keislaman, gagasan orisinal dan menarik atau bentuk lain gagasan yang lebih inovatif, ditulis dengan bahasa yang gamblang atau mudah untuk dicerna serta dinalar, dan terutama marketable.

MQSP berhasil meluncurkan buku-buku yang laris di pasaran, seperti “Aa Gym Apa Adanya”, “Setengah Kosong Setengah Isi”, dan terakhir buku “The True Power of Water”. Apa trik dan strateginya?
Buku-buku laris itu bisa lahir dari intuisi, bukan selalu mengikuti tren yang ada. Pendekatan spiritual memang bisa digunakan dalam kancah bisnis penerbitan seperti ini. MQS selalu melihat potensi dua hal terkait dengan naskah: pertama, potensi gagasannya; dan kedua, potensi penulisnya. Dua hal ini coba disatukan, lalu didiskusikan bagaimana potensinya bisa dioptimalkan sehingga menjadi buku yang powerful. Trik utama adalah selalu membuat perbedaan (diferensiasi), membawa isu menjadi gebyar, dan menggunakan kemampuan public speaking dari penulis atau orang yang ‘dipinjam’ untuk itu guna menyentuh hati para calon pembaca.

Contoh: Buku Aa Gym Apa Adanya adalah buku autobiografi yang disusun dengan ide buku autobiografi Muhammad Ali. Konsep dakwah Aa yang relatif sederhana dan mengena sangat cocok diterapkan dalam bentuk autobiografi per episode mirip penulisan feature singkat. Lalu, buku ini dipilihkan judul Aa Gym Apa Adanya yang menunjukkan kebersahajaan serta anak judul Sebuah Qolbugrafi sebagai eye catcher. Alhasil, buku ini pun muncul sebagai autobiografi yang lain daripada yang lain serta ditunggu orang yang ingin tahu riwayat da’i fenomenal ini.

Kami menerapkan konsep 4 C untuk suksesnya sebuah buku, yaitu Content, Context, Creativity, dan Community.

MQSP tampaknya sangat diuntungkan oleh popularitas Aa Gym. Benarkah demikian?
MQS adalah perusahaan penerbitan yang didirikan oleh Aa Gym. Popularitas Aa Gym secara langsung maupun tidak langsung pasti berimbas pada larisnya penerbitan MQS. Namun, yang sebenarnya dilakukan adalah optimalisasi potensi Aa Gym dalam dakwah oleh MQS. Dalam hal ini MQS pun tidak sepenuhnya menggantungkan penerbitan pada figur Aa Gym sehingga tetap dicari terobosan-terobosan baru.

Belakangan MQSP juga mengeluarkan buku-buku dengan kemasan yang lebih eksklusif. Apa sasarannya?
Sasarannya tentu kelas menengah Indonesia yang lebih smart dan perlu context (kemasan) yang meyakinkan. MQS tentu ingin memberikan kontribusi pengetahuan kepada kelas menengah Indonesia. Di samping itu, MQS juga punya komitmen membangun brand image sebagai penerbit profesional yang patut diperhitungkan.

MQSP juga rajin mengeluarkan buku-buku co-writing antara Aa Gym dengan beragam tokoh. Apa maksud strategi ini?
Kalau satu sudah powerful ditambah satu tentu semakin berdaya. Aa Gym tokoh yang sampai saat ini bisa diterima oleh berbagai kalangan dan multitalent. Sebagai salah satu program optimalisasi potensi Aa Gym maka kami pun mencoba menggabungkan ketokohan Aa Gym dengan tokoh lainnya. Yang sudah berjalan yaitu Aa Gym dan Hermawan Kartajaya serta Aa Gym dan Andrew Ho.

Menurut pendapat Anda, siapa saja yang paling berperan dalam suksesnya sebuah penerbitan?
Penerbitan merupakan perusahaan yang unik karena di dalamnya banyak profesi yang terlibat. Untuk bahan baku naskah berkualitas saja dibutuhkan kerja serius dari profesi penulis/pengarang. Jadi, sukses sebuah buku adalah keberhasilan sebuah tim, yang intinya adalah para penulis, editor, layouter/desainer, serta marketer. Kekompakan komponen profesional ini akan meniscayakan sukses sebuah buku.

Seperti apa sih idealnya peran seorang editor dalam sebuah penerbitan?
Editor semestinya profesi yang serbabisa dalam sebuah penerbit. Ia semestinya punya kemampuan sebagai problem solver, decision maker, public speaker, serta effective people. Di tangannya perencanaan sukses sebuah buku seharusnya terpetakan. Karena itu, peran editor sangat esensial dalam sebuah penerbitan. Sayangnya peran ini belum terdefinisikan jelas karena minimnya pengetahuan publishing science maupun editologi di lingkungan penerbit sendiri.

Bagaimana Anda memandang tren dunia perbukuan dewasa ini?
Tren atau kecenderungan perbukuan di Indonesia sangat dinamis dan cepat berganti. Setelah muncul sastra Islami, kemudian muncul tren teenlit dan chicklit, lalu entah apa lagi. Namun, yang pasti buku kontroversi tetap jadi primadona di Indonesia, seperti terjemahan The Da Vinci Code ataupun buku karya Habibie. Bahkan, MQS pun sempat mencoba kontroversi air lewat The True Power of Water yang telah terjual 50.000 eksemplar lebih dalam waktu kurang dari setahun.

Bagiamana pandangan Anda terhadap munculnya banyak sekali self/independent publishing?
Self-publishing di Amerika adalah tradisi yang mencerminkan kemajuan intelektual masyarakatnya. Kalau di Indonesia muncul tren self-publishing tentu itu hal yang baik asal diimbangi dengan pengetahuan yang memadai tentang book publishing—jadi tidak hanya semangat ingin menerbitkan. Semakin banyak penerbit berbiak tentu masyarakat semakin terjamin mendapatkan varian bacaan. Akan tetapi, tantangannya kerapkali self-publisher di Indonesia tidak paham betul proses sesungguhnya penerbitan buku sehingga persoalan kualitas menjadi abai. Lebih parah lagi kalau penerbitannya mulai menabrak-nabrak pakem copyright. Jadi, terkadang berdirinya self-publishing bukan menjadi berkah, melainkan menjadi mudharat yang merugikan banyak pihak.

Apakah kemunculan mereka bisa menjadi ancaman bagi penerbit-penerbit mapan?
Self-publisher boleh jadi lebih sukses dari perusahaan penerbit yang lebih besar. Kalau sukses, tentu lambat laun self-publisher juga akan menjadi perusahaan. Persaingan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Namun, melihat pembinaan yang kurang terhadap self-publisher ini, kemunculan mereka belumlah menjadi ancaman yang berarti. Kecuali para self-publisher membuat semacam asosiasi seperti IKAPI, lalu serius melakukan pembinaan SDM dan profesionalitas penerbitannya. Saya yakin para self-publisher juga bisa menggoyang eksistensi penerbit mapan.

Dari segi dampak terhadap perkembangan industri perbukuan?
Industri perbukuan, dengan kehadiran self-publisher, tentu akan semakin bergairah. Namun, jika tidak terkontrol dalam soal kualitas, masyarakat pembaca bisa protes dan ini merugikan penerbit secara keseluruhan. Indonesia tampaknya memang sudah perlu memiliki Menteri Perbukuan Nasional untuk menangani produksi buku bagi 200 juta lebih umat Indonesia ini, he.. he.. he...(ez)

Jennie S. Bev: Segala Sesuatu Itu Mudah, Tergantung Mindset Anda


-



Jennie S. Bev dikenal sebagai salah satu penulis, pengusaha, dan pengajar yang sukses berkarir di Amerika Serikat. Ia menjadi salah satu anak bangsa yang berhasil menaklukkan kerasnya medan persaingan di ranah global. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini sekarang mantap berkarir di Kalifornia, Amerika Serikat. Sejumlah perusahaan dot.com sedang dia garap dan besarkan, dan sejumlah bisnis offline lainnya juga tengah dalam masa inkubasi. Ia juga aktif menulis di berbagai media di Indonesia, Singapura, Amerika, Kanada, Inggris, Perancis, dan Jerman. Lebih dari 900 artikel dalam bahasa Inggris telah dia tulis, dan tak kurang dari 64 buku dalam bahasa Inggris sudah dia terbitkan. Hebatnya, itu semua dia kerjakan di tengah-tengah kesibukannya mengurus bisnis dan masa-masa merampungkan studi doktoralnya.

Belakangan, profilnya banyak menghiasi sejumlah media massa lokal seperti majalah Fit, Femina, Bisnis Kita, Intisari, Chic, dll. Sebelumnya, Jennie juga sudah beberapa kali tampil di media massa internasional seperti Entrepreneur, Teen, People, Dong, Home Business, Canadian Business, Audrey, The Independent, dan San Fransisco Chronicle. Dan pada September 2006 lalu, Jennie merilis buku pertamanya dalam bahasa Indonesia yang berjudul Rahasia Sukses Terbesar. Buku motivasi tersebut mendapat sambutan cukup hangat di Indonesia dan masuk kategori buku laris.

Banyak sekali yang ingin Jennie lakukan, raih, dan berikan kepada sesama, bangsa, dan dunia. Begitulah yang tergambar dalam setiap tulisan maupun wawancara-wawancara yang dia berikan. Orang akan mudah melihat betapa kuatnya karakter Jennie hanya melalui tulisan-tulisan maupun wawancaranya. Ia termasuk sosok yang—berulang-ulang dan tanpa bosan-bosannya—meneriakkan supaya kita, sebagai sebuah bangsa, berani menjadi bangsa yang dignified, sebuah bangsa yang punya “harga diri kesatriaan”. Begitulah istilah dia. Dan tampaknya, anjuran Jennie itu akan semakin berkumandang dan banyak didengar oleh khalayak.

Berikut adalah wawancara Jojo Raharjo, seorang penulis lepas, dengan Jennie S. Bev yang dihadirkan khusus untuk pengunjung setia Pembelajar.com.

Jennie, bisa Anda ceritakan, bagaimana kisah Anda meninggalkan Indonesia untuk memutuskan merantau ke Amerika Serikat?
Setelah lulus FHUI tahun 1994, saya berangkat dulu ke UC Berkeley, tepatnya di tahun 1995, kemudian sempat kuliah di beberapa institusi lainnya. Mungkin ini bersumber dari isi hati saya yang selalu mencari dan gelisah.
Saat itu keberangkatan saya dibarengi dengan kekhawatiran akan kakek saya yang sedang menderita colon cancer (kanker usus besar), maka tidak lama kemudian saya memutuskan kembali dan menemani kakek saya sampai beliau meninggal. Pada 1997 saya memutuskan menikah dengan Beni Bevlyadi, suami saya sekarang. Setahun kemudian dengan keadaan ekonomi Indonesia yang morat-marit (krismon), saya bertekat untuk memperbaiki kehidupan dengan memutuskan merantau. Amerika Serikat menjadi tujuan karena saya sudah kenal negeri ini cukup lama. Juga dengan kemampuan bahasa Inggris lisan dan tulisan yang lumayan, lebih mudah bagi saya untuk survive di sana dibandingkan dengan di Jerman, misalnya.
Sejak 1995 sampai masa krismon pra keberangkatan kedua saya untuk bermigrasi, saya aktif menulis di tabloid Kontan, The Jakarta Post, dan The Indonesian Observer untuk kolom opini. Ini juga dilakukan sambil bekerja di sebuah perusahaan printing dan publishing asal Jepang di Singapura dan juga mengajar di salah satu business college di Sunter, Jakarta. Saya ingat artikel pertama saya dimuat di The Jakarta Post, judulnya “End to Thesis Requirement Sets Us One Step Back.” Saya masih simpan fotokopinya. Namanya juga artikel pertama, jadi dikenang terus.
Bekal saya merantau saat itu hanyalah biaya hidup untuk satu tahun, TOEFL score nyaris sempurna, dan keyakinan membara bahwa di manapun saya berada, di situlah rumah saya dan di situlah sukses bisa diraih. Amerika Serikat sebagai negara adidaya dengan kaum intelektualnya yang sangat maju dalam banyak bidang merupakan daya tarik tersendiri bagi saya.
Bukankah untuk menjadi seekor singa, maka kita perlu bergaul dengan singa pula? Jadilah saya memilih Kalifornia, bukan negara bagian lainnya. Kalifornia sendiri adalah kekuatan ekonomi dunia nomor enam, dan satu-satunya yang bukan negara (hanya negara bagian). Di antara singa ini, terutama di Silicon Valley, saya bertarung. Menang atau kalah, sekarang sudah mulai bisa dijawab.

Banyak orang berpandangan sinis kepada orang Indonesia yang sukses dan tidak kembali ke Tanah Air. Sering terungkap kata-kata seperti “anasionalis” dan lain-lain. Bagaimana pandangan Anda terhadap anggapan seperti itu?
Saya mengerti pandangan seperti ini, karena saya juga sering “dituding” demikian. Pertama-tama, kita perlu melihat dengan jujur bagaimana Indonesia sebagai tempat untuk eksistensi. Sebagai contoh, seorang profesor ahli fusi maupun ahli kloning, misalnya, apa yang bisa ia lakukan di Indonesia? Tanpa ada laboratorium yang memadai, apa yang bisa diperbuat? Pemerintah Indonesia sendiri mungkin tidak punya dana untuk membangun laboratorium super canggih seperti itu.
Di sisi lain, banyak orang Indonesia yang sukses di luar negeri namun dipandang “anasionalis” tersebut sebenarnya merupakan duta bangsa Indonesia secara tak resmi. Bukankah dengan berkarya di bidangnya masing-masing, ia memberikan sumbangsih yang membawa nama harum bangsa Indonesia di dunia internasional? Daripada profesor ahli kloning itu kembali ke Indonesia dan malah cuma bekerja serabutan saja, bukankah ia lebih baik berkarya maksimal di laboratorium yang sungguh-sungguh istimewa dan lebih dari memadai untuk berkarya luar biasa? Siapa lagi yang bangga dengan keharuman nama profesor ahli kloning itu? Indonesia, bukan? Bukan Amerika Serikat lho, jangan salah.
Coba lihat betapa banyak ahli komputer asal India di Silicon Valley? Mereka sampai mati pun akan diidentifikasi sebagai orang India, bukan sebagai seorang Amerika karena mereka memang berasal dari India. Dengan keberhasilan mereka sebagai pekerja intelektual, nama India sampai sekarang demikian harum sebagai hub intelektual dunia yang sangat diperhitungkan. Dan mereka menjadi jembatan bagi perusahaan-perusahaan India yang reputasinya baik untuk bergerak di Amerika Serikat karena adanya dukungan moril.
Bagi Indonesia untuk sungguh-sungguh mengikuti perkembangan dunia dan supaya diperhitungkan dunia internasional, kita mesti bergerak dari luar Indonesia. Tujuannya tidak lain supaya dunia internasional mengenal Indonesia sebagai hub intelektual, bukan hanya pengekspor pembantu rumah tangga. Memang ini juga sudah baik, namun alangkah baiknya kalau Indonesia juga dikenal sebagai negara penghasil kaum intelektual?
Saya sendiri walaupun bukan profesor ahli fusi maupun kloning, mungkin adalah satu-satunya orang asal Indonesia telah memecahkan beberapa barrier sekaligus. Dalam beberapa bidang, karya saya jauh lebih baik dari mayoritas orang asal Amerika. Dan tentu saja, mereka juga tahu asal-muasal saya, yaitu saya orang yang dilahirkan di Indonesia. Mudah-mudahan karya-karya kecil saya memberi arti sedikit bagi Indonesia dan Asia.
Kembali ke soal nasionalisme, apakah dengan kembali ke Indonesia lantas kerja serabutan lebih baik daripada tinggal di luar negeri namun mengharumkan nama bangsa dengan karya-karyanya? Anda sendiri yang bisa menjawab.
Saya sendiri cinta Indonesia, terutama mereka yang kurang mampu dan terlantar. Sekarang, dengan penghasilan cukup di luar Indonesia, bukankah cukup banyak yang bisa saya lakukan? Misalnya, sekarang saya punya beberapa anak asuh dan bermaksud untuk menyumbangkan seluruh (100 persen) royalti dari buku Rahasia Sukses Terbesar bagi anak-anak yatim piatu dan terlantar. Saya tidak bisa lakukan banyak hal untuk kemanusiaan kalau saya masih kerja sebagai dosen di Indonesia, yang nota bene gajinya mungkin untuk biaya hidup pas-pasan saja.
Nasionalisme bukan berarti letak geografis seseorang, namun bagaimana arti sumbangsih seseorang terhadap Tanah Air dan dunia internasional. Harumkah nama Indonesia dengan Anda berada di Indonesia? Adakah manfaat nyata bagi Indonesia dengan Anda berada di Indonesia? Jika Anda bisa memilih hidup dan berkarya maksimal dengan pengakuan internasional di luar negeri, namun di Indonesia profesi Anda tidak bisa mendapatkan tempat berarti yang lantas membuat Anda kerja serabutan, mana yang dipilih? Anda pasti bisa menjawab.
Kapan saya kembali ke Indonesia? Dalam dua tahun ini, setelah kuliah yang sudah lama terbengkalai ini selesai dan setelah saya menyerap sudah cukup banyak ilmu yang pantas untuk dikontribusikan kembali kepada Indonesia. Saat ini saya sedang luar biasa sibuk dengan segala macam inkubasi bisnis, menulis disertasi, dan memperkuat fisik supaya lebih prima lagi. Dengan hidup gaya militan seperti ini, saya selalu terfokus dengan pencapaian setiap hari.
Nanti ketika saya kembali ke Indonesia, saya tidak akan tanggung-tanggung lagi. Tunggu tanggal mainnya, kawan. Kalau saya tidak akan kembali ke Indonesia, untuk apa saya memperkenalkan diri sekarang? Bukankah lebih baik saya “diam-diam” saja, toh prestasi saya sudah cukup lumayan di luar negeri?

Buku Rahasia Sukses Terbesar ini bukan buku pertama Anda. Bahkan, buku elektronik Guide to Become a Management Consultant menyabet finalis 2003 EPPIE Award. Sebenarnya, nilai-nilai apa yang Anda ingin sampaikan dalam setiap karya Anda?
Buku ini merupakan buku ke-64, ada beberapa buku lagi yang sedang diedit dan belum dirilis, namun kebanyakan dalam bahasa Inggris. Buku ini adalah buku pertama saya dalam bahasa Indonesia.
Setiap karya saya merupakan cernaan saya, biasanya saya mensimplifikasikan konsep-konsep rumit menjadi sederhana. Itulah sebabnya saya tidak pernah menyebut diri saya sebagai seorang jurnalis, karena saya mencerna dulu apa yang saya terima, baru dituangkan kembali dalam bentuk tulisan. Saya adalah an opinionated writer, kecuali ketika menulis artikel-artikel ilmiah.
Nilai yang ingin saya sampaikan hanya satu: segala sesuatu itu mudah, intinya adalah mindset dan bagaimana meng-approach sesuatu. Hal-hal yang rumit mesti disederhanakan dan dijalankan tanpa banyak neko-neko. Maju terus dengan hati yang lurus dan bersih. Bantu mereka yang kurang beruntung di sepanjang perjalanan, supaya bisa sama-sama mencapai gunung kesuksesan.

Apa cita-cita Anda pada masa kecil? Dan, saat ini, bagaimana perasaan Anda, ketika melihat pencapaian-pencapaian Anda? Apakah Anda merasa puas, menyesal, kurang optimal, atau yang lain?
Cita-cita saya tidak pernah tetap, selalu berganti-ganti. Terakhir saya memutuskan untuk menjadi seorang ahli hukum supaya bisa menegakkan keadilan. Ternyata, hukum tidak bisa menjamin keadilan (law is not justice), namun kepentingan-kepentingan para pihak yang dijustifikasikan (law is to justify actions).
Malah saya bisa lebih banyak berbuat tanpa dengan embel-embel “lawyer,” karena dengan menjadi diri sendiri, saya bisa bertindak dengan membawa misi dan visi sendiri, tidak dibatasi oleh satu perspektif saja (dalam hal ini hukum). Sebagai pemegang gelar Master di bidang pendidikan, saya merasa lebih berguna karena kita semua selama masih bernafas merupakan pembelajar. Kita selalu belajar setiap saat. Pendidikan MBA saya juga sangat berguna supaya bisa survive di dunia usaha, yang hasilnya juga bisa dinikmati oleh mereka yang sungguh-sungguh memerlukan bantuan.
Nggak perlu neko-neko, kerja, belajar, dan memberi. Begitu terus berulang-ulang, itulah pencapaian hidup saya yang terbesar.

Di antara berbagai kutipan orang-orang terkenal yang menjadi inspirasi Anda, ada juga yang berasal dari Soe Hok Gie, “Lebih baik menjadi orang yang diasingkan, daripada menjadi orang munafik.” Apa arti pernyataan itu bagi Anda?
Saya menjunjung tinggi kebenaran dan etika, itu juga salah satu “rahasia” saya bisa survive di negara asing, bahkan sudah cukup memadai dan kadang-kadang berkelimpahan. Saya tidak suka neko-neko, yes or no. Pertahankan itu. Jika tidak sesuai dengan kata hati, saya tidak akan berpura-pura, namun tentu saja saya tetap perlu sopan terhadap orang lain. Namun sikap saya yang tidak suka kemunafikan ini tidak bisa dibilang selalu menguntungkan saya, karena kadang kala jadi senjata makan tuan.
Tetapi saya puas karena saya tidak menipu diri sendiri. Lebih baik orang lain tidak suka kepada saya karena kejujuran saya, daripada saya tidak suka kepada diri sendiri karena kemunafikan. Bukankah begitu?

Anda membentuk komunitas tersendiri untuk mengapresiasi karya Anda. Semacam fans club. Apa visi dan tujuan dari kumpulan orang-orang dalam komunitas ini?
Saya manusia biasa, perlu motivasi hidup juga. Dengan kehadiran mereka yang menyambut positif karya-karya saya, semakin termotivasi untuk berkarya semakin baik dan semakin banyak. Mudah-mudahan mereka pun bisa saling belajar satu sama lain, sehingga bisa saling memperkaya batin.

Semakin hari, kecenderungan orang berkomunikasi dengan teknologi informasi semakin membesar. Saat ini, ribuan situs dibuat setiap harinya. Jarak menjadi bukan masalah dengan fasilitas internet. Bagaimana Anda menyikapi fenomena ini? Positively or Negatively?
Internet adalah femonena luar biasa. Dulu ketika aktif menulis untuk tabloid Kontan, saya pernah menulis tentang Universitas Virtual dan Menjadi Eksekutif Portabel. Kedua hal itu sekarang sedang saya lakoni dan menjadi kegiatan sehari-hari. Sepuluh tahun yang lalu, kedua konsep itu seperti hidup di awang-awang, malah tidak sedikit orang-orang dekat saya yang mencibirkan bibirnya mendengar pandangan saya tersebut.
Internet membuka demikian besar kesempatan untuk bergerak. Di mana pun berada. Indonesia pun bisa bergerak melalui Internet, sepanjang etika tertinggi dijunjung dan perkembangan teknologi diikuti dengan seksama. India dan Cina adalah contoh nyata, bahkan Filipina pun yang mungkin dulu tidak begitu diperhitungkan, sudah menjadi pelaku bisnis di Internet. Menjadi pemain global sudah bukan impian lagi, intinya tinggal mempelajari aspek-aspek nonteknis dalam bisnis, seperti mempelajari budaya, etika kerja, dan tata krama. Juga kemampuan berbahasa Inggris, yang merupakan bahasa utama di Internet.
Sudah saatnya kita tidak lagi memandang nasionalisme didasarkan dengan bahasa dan letak geografis, namun karya kita yang diakui dunia internasional dan bagaimana kita memberikan kontribusi kepada mereka yang sungguh-sungguh memerlukan uluran tangan dengan tulus. Kita semua bisa bergerak banyak melalui Internet, seperti Fatih Syuhud dengan blog-nya dalam bahasa Inggris dan Wimar Witoelar dengan situs Perspektif Baru-nya yang merupakan public education. Dengan Internet, ini juga merupakan cara mudah dan murah untuk mencapai pasar internasional. Tinggal apa dan bagaimana kita menjual karya atau produk kitalah yang menentukan hasilnya nanti.

Dalam buku Anda terbaru, Rahasia Sukses Terbesar, Anda menekankan pentingnya konsep memberi. Seberapa jauh konsep ini berpengaruh dan telah mengubah banyak hal dalam kehidupan Anda?
Sangat besar. Di negara asing, saya harus membangun hidup dari bawah titik nol. Tanpa kenal siapa pun, saya harus memperkenalkan diri sebagai orang yang bermutu, berprestasi, dan baik hati dengan etika kerja tinggi. Kalau tidak demikian, apa saya bisa bertahan hidup? Jelas tidak.
Di mana pun di dunia ini, orang beretika lebih mudah dipercaya. Apalagi orang yang senang memberi. Ketika saya belum mengenal satu media pun di Amerika Serikat, saya memperkenalkan diri sebagai penulis yang meresensi buku. Apa saja saya baca, sepanjang buku-buku tersebut dikirim ke alamat apartemen saya. Tujuannya supaya semakin banyak media yang kenal saya, dan mudah-mudahan semakin mudah saya mengetuk pintu. Sampai saat ini saya sudah membaca dan meresensi 1.200 buku dan sudah puluhan penerbit dan editor yang mengenal saya karena hasil “memberi keringat secara cuma-cuma ini”.
Sampai saat ini, saya memberi di dalam batas kemampuan saya, baik tenaga mau pun materi. Namun sebagai seseorang yang sangat disiplin dan keras hati, saya lebih suka memberi pancing satu kali daripada ikan siap saji berkali-kali. Dengan memberi pulalah kita mengingatkan diri kita sendiri akan kelimpahan kita, sehingga alam bawah sadar kita “mencetak” blue print pikiran berkelimpahan ini yang akan terproyeksi ke luar dalam segala bidang yang kita geluti.

Konon, salah satu kelemahan sebagian besar orang Indonesia adalah iri melihat kesuksesan orang lain dan suka melihat penderitaan orang lain. Apa sebenarnya yang terjadi dengan kebanyakan orang di sini, dan bagaimana mengubah mentalitas seperti itu?
Pernyataan ini sama sekali tidak benar, karena bukan orang Indonesia saja yang suka merasa kurang nyaman dengan kebahagiaan orang lain. Ini terjadi di mana saja, namun lebih tampak nyata di negara-negara yang secara ekonomi agak lemah. Ini adalah sifat manusia pada umumnya, mungkin mereka ini yang 80 persen pecundang. Ingat Teori Pareto: 80 persen dan 20 persen. Dua puluh persen yang pemenang meminimalisasi mentalitas seperti itu, namun sisanya kebanyakan ya begitu.
Ini perlu diakui dan disadari dulu, sebelum berusaha mengubahnya. Kita bisa mulai dari hal-hal kecil seperti meningkatkan dignity (harga diri kesatriaan) seseorang. Misalnya, jika tidak diberi, jangan meminta. Juga jangan mengambil melebihi yang diberi maupun yang dibutuhkan. Kalau saja para politisi kita punya mentalitas dignified seperti ini, korupsi dengan sendirinya tidak terjadi karena perbuatan korupsi merupakan perbuatan mengambil dan meminta.
Saya dan suami merantau dengan cara yang sangat mandiri. Suami saya berlari ke tempat kerja ketika kami belum mampu membeli mobil. Saya sendiri naik kendaraan umum sambil menggigil kedinginan di halte bus. Kami hidup super hemat karena saat itu kami tidak mampu untuk membeli barang-barang untuk kenikmatan, namun kami tidak pernah satu kali pun meminta dari orang lain, tidak juga dari tunjangan pemerintah AS yang dikenal cukup dermawan. Kami bekerja luar biasa giat, luar biasa cerdas, dan hidup luar biasa hemat tanpa melupakan dignity.
Intinya adalah harga diri dengan semangat kesatriaan. Dengan adanya hal ini, iri dan dengki berbalik menjadi semangat untuk maju dan memberi.

Apa saja sebenarnya faktor-faktor yang diperlukan untuk mencapai kesuksesan? Bagaimana peran mimpi, alias visi yang kita tanamkan sejak dini untuk memacu hidup kita?
Sukses sendiri perlu didefinisikan dengan benar. Menurut pandangan saya, sukses adalah mindset. Saya adalah sukses, sukses adalah saya. Bukan pencapaian materi. Bukan pula prestasi yang kasat mata. Sukses adalah tentang being and becoming. Seorang sukses adalah seseorang yang bisa bertahan hidup tanpa kehilangan dirinya sendiri di dalam segala situasi.
Saat tidak punya uang, seorang sukses tidak lantas menyebut dirinya “tidak sukses.” Sukses sebagai mentalitas alias mindset memberikan kekuatan untuk menanggung kegagalan, walaupun berkali-kali. Untuk apa berubah menjadi pesimistis kalau sukses adalah Anda sendiri? Apa pun yang Anda kerjakan, jika dilakukan dengan mindset sukses, akan memberikan buah sukses pula pada akhirnya.
Seperti saya dulu yakin sekali dengan kehebatan sekolah virtual dan kerja virtual walaupun dicerca habis-habisan, ini merupakan suatu visi yang menjadi “blue print” keberadaan saya sendiri. Saat itu saya belum terpikir untuk menjadi pelaku, namun dengan menjadikan keyakinan ini menjadi bagian penting dalam diri saya, sekarang saya menjadi pelaku yang cukup diperhitungkan di pusat intelektual dunia ini.

Anda juga memiliki ketertarikan yang kuat pada dunia film. Apa keinginan tertinggi untuk mengembangkan diri dalam bidang film? Menjadi produser atau penulis skenario misalnya.
Betul, saya sudah berguru kepada Robert McKee. Beliau ini pencetak pemenang Piala Oscar dengan puluhan eks muridnya yang berhasil gemilang di dunia perfilman. Saya sendiri sangat tertarik dengan film-film dokumenter atau film-film ala dokumenter.
Saya ingin memperlihatkan kepada dunia seperti apa dunia ini di mata saya. Saat ini saya sedang menegosiasikan pembuatan film di Perancis. Idealnya dalam dua tahun di muka, saya bisa berkarya di dunia perfilman di Indonesia, namun izinkan saya belajar dulu di Hollywood, karena sekali lagi pusat intelektual dunia letaknya di AS. Dengan belajar dari para pemenang ini, mungkin ada sedikit sumbangsih yang bisa saya tularkan ke Indonesia nanti.

Selama hampir 10 tahun berkelana di AS, bagaimana Anda melihat pola hidup dan tingkat disiplin orang Indonesia dan pekerja di negara barat pada umumnya—soal ketepatan waktu, kebiasaan mengeluh, inovasi, dll?
Kembali ke pribadi masing-masing, namun yang jelas pekerja-pekerja di negara barat kebanyakan mempunyai sifat yang grateful (bersyukur) selama masih ada pekerjaan dan lebih profesional dalam menjalankan tugas. Tentu saja tidak semua pekerja Indonesia buruk dan pekerja AS lebih baik, dan sebaiknya kita tidak men-stereotype pekerja asal Indonesia dan negara-negara lain.
Semangat belajarnya, mungkin, yang membedakan tingkat produktivitas. Etika kerja yang berasal dari “tidak mau mengambil apa yang bukan haknya atau miliknya” mungkin juga yang membedakan pekerja negara-negara maju dengan yang berasal dari Indonesia. Sekali lagi, hal ini mesti ditunjang dengan dignity alias harga diri kekesatriaan, yang mungkin perlu ditingkatkan lagi di Indonesia.

Dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia seperti saat ini, bagaimana Anda melihat prospek bangsa ini (Indonesia) ke depan? Anda optimis, negeri ini bisa bangkit bersaing dengan macan-macan Asia, dan negara-negara dunia ketiga lain yang terus berkembang?
Beberapa tahun lalu, Malaysia dan Vietnam belajar dari Indonesia soal membudidayakan padi. Namun, sekarang kita sudah ketinggalan dari mereka. Apa masalahnya? Mungkin bukan tempatnya saya untuk menunjukkan kepada siapa pun, namun izinkan saya untuk memberi masukan membangun.
Pertama, kestablian keamanan negara sangat menentukan perkembangan ekonomi. Kedua, pengembangan infrastuktur (jalan-jalan dan telekomunikasi) merupakan pendukung utama roda ekonomi dan kebudayaan. Ketiga, mindset sejajar dengan bangsa lain yang sungguh-sungguh didukung oleh prestasi anak negeri. Saat ini kebanggaan Indonesia kurang didukung dengan prestasi-prestasi nyata. Tidak perlu melulu dalam bidang olah raga, namun lebih penting lagi di bidang teknologi, komunikasi, dan intelektual.
Dan tentu saja tidak perlu tunggu bantuan pemerintah untuk berbuat sesuatu. Jalankan saja yang terbaik yang bisa Anda lakukan. Apabila Anda hanya bisa memasak, jadilah tukang masak yang paling baik selingkungan Anda. Jika Anda hanya pintar main gitar, jadilah pemain gitar paling sohor sekota tempat tinggal Anda. Intinya jadilah diri Anda yang terbaik, bukan hanya sekadar bernapas untuk hari ini.

Seluruh royalti dari buku ini akan Anda sampaikan kepada anak-anak terlantar yang membutuhkan bantuan. Apa misi di balik niat mulia ini?
Membangun awareness untuk memberi. Jika kita berkelimpahan, tunjukkan kelimpahan kita itu dengan memberi, bukan dengan menjadi super pelit dan sangat memproteksi kekayaan materi kita. Saya berharap supaya semakin banyak orang-orang yang merasa berkelimpahan untuk selalu memberi, bukan hanya ketika agama mengharuskan, namun karena panggilan hati.
Juga, dengan semakin banyak kita memberi bagi mereka yang sungguh-sungguh memerlukan, maka semakin mulia arti uang bagi kita semua. Selama ini orang memandang uang sebagai sebagai sesuatu yang negatif dan mengandung konotasi maksiat. Ini salah besar. Sebagaimana pisau, uang adalah netral. Bagaimana arti uang sebenarnya tergantung oleh apa yang kita perbuat dengan uang itu.
Tentu saja kita perlu selektif dalam memberi karena akan banyak semut yang mengerumuni gula, bukan? Hati-hatilah dalam memberi supaya kita tidak membangun bentuk kemalasan dan kepecundangan baru.

Banyak orang cenderung gamang menghadapi bisnis baru yang akan dirintisnya. Sering bayangan akan kegagalan lebih besar daripada optimisme akan keberhasilan. Ada tips untuk mereka?
Kembali lagi, sukses adalah mindset. Kegagalan di satu bidang atau satu kali saja, tidak membuat Anda seorang pecundang. Sambutlah kegagalan sebagai salah satu cara untuk belajar dan berkaca apa saja yang perlu diperbaiki lagi. Seorang sukses tidak pernah takut gagal, malah ia dengan suka cita dan rendah hati menggunakan kesempatan ini untuk belajar. Jangan takut gagal, karena dengan Anda takut gagal, sebenarnya Anda takut menjadi sukses.[jr]

Nathalia Sunaidi: Kita Punya Banyak Soulmate






Benarkah soulmate itu hanya satu atau justru tak terhitung banyaknya? Mengapa tak sedikit orang terobsesi mendapatkan soulmateatau cinta sejatinya? Bagaimana pula dengan orang yang bisa jatuh cinta kepada banyak orang? Mungkinkah soulmate kita berasal dari kehidupan lalu? Misteri apa yang ada di balik itu semua?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang coba dijawab oleh Nathalia Sunaidi, seorang hipnoterapis muda berbakat, yang awal Januari 2007 nanti akan meluncurkan buku berjudul Journey to My Past Lives (Bornrich, 2007). Dalam buku tersebut, Nathalia membeberkan hasil penelusurannya ke kehidupan lalunya melalui metode regresi kehidupan lalu berdasarkan hipnoterapi. Di Indonesia, tampaknya baru dialah yang berani membongkar misteri reinkarnasi dan menyusunnya ke dalam sebuah buku.

Tak kurang dari 12 cerita menarik yang berhasil digali oleh perempuan kelahiran Jakarta, 5 Januari 1981 itu. Misalnya, berdasarkan regresi kehidupan lalu, Nathalia berhasil melacak bahwa dirinya pernah hidup sebagai seorang biku di tahun 475, menjadi budak kulit hitam di Amerika, jadi nelayan biasa di Thailand, jadi prajurit angin bangsa indian, bahkan ia pernah menjadi pelayan kedai yang hampir saja dipaksa melacurkan diri.

Tak kalah menariknya, berdasar regresi itu pula Nathalia berhasil menelusuri sebab-musabab tantenya meninggal di usia muda akibat kanker otak. Ia pun berhasil menelusuri mengapa paman kekasihnya menderita penyakit HIV/AIDS. Dan tentu saja, Nathalia berhasil menyingkap misteri sosok soulmate yang sejati. Dari penelusurannya, ternyata kita semua memiliki seorang soulmate, bahkan kadang jumlahnya bisa lebih dari satu.

“Buku ini cenderung kontroversial,” komentar Andy F. Noya. “Namun, buku ini mampu menggoda pikiran kita untuk mencari jawaban atas pertanyaan: Siapakah aku ini?” lanjut Pemred Metro TV dan Host Kick Andy tersebut.

Nathalia banyak membuka tabir reinkarnasi dalam bukunya tersebut. Selain itu, ia juga membagikan banyak hikmah yang dia dapat dari proses penelusurannya. “Pokoknya, menelusuri kehidupan lalu itu bisa menjadi pengalaman spiritual yang menakjubkan. Banyak pelajaran berharga bisa diambil dari sana,” ujar Nathalia yang belajar hipnotis secara outodidak.

Nah, apa saja yang diungkap Nathalia dalam buku perdananya tersebut? Bagaimana pula ia menjelaskan soal soulmate yang begitu menarik bagi sebagian kalangan itu? Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari Pembelajar.com dengan Nathalia Sunaidi pada 15 Desember 2006:

Apa latar belakang penulisan buku Journey to My Past Lives ini?
Pertama, bikin buku ini kan—setelah saya lihat kehidupan lalu saya—ternyata perbuatan buruk itu benar-benar ada akibatnya. Juga perbuatan baik itu sungguh-sungguh ada akibatnya. Sehingga saya tulis buku ini untuk share bahwa suatu perbuatan baik atau buruk itu sungguh-sungguh ada akibatnya. Apabila perbuatan buruk kita lakukan dalam hidup kita, itu akibatnya sangat mengerikan. Tapi, kalau kita melakukan suatu perbuatan baik, buahnya itu juga sangat luar biasa. Membahagiakan.

Bagaimana proses penulisan buku Anda ini? Penuh tantangan?
Em...hambatan dalam proses penulisannya di waktu. Karena saya harus meregresi diri saya lagi untuk mendapatkan sebuah cerita kehidupan lalu yang komplit. Setelah itu saya harus konek dengan superconscious mind saya untuk mencari tahu apa pelajaran dari kehidupan lalu itu.

Dilihat dari gaya bahasa dan struktur kalimat, tulisan Anda bagus. Padahal ini pengalaman menulis buku yang pertama ya. Belajar menulis di mana?
Saya nggak pernah belajar menulis secara khusus. Tapi sejak SD sudah suka bikin puisi. Terus SMP dan SMA suka menulis artikel-artikel untuk majalah Budhis, untuk lingkungan terbatas.

Waktu menulis buku ini, Anda mendapat dorongan dari mana saja?
Yang paling mendorong, atau sebenarnya sih agak memaksa ya si Gunawan (pacar Nathalia: red) ha ha ha... Supaya bisa merampungkan buku ini secepatnya.

Topik yang Anda tulis, reinkarnasi, agak kontroversial bagi sejumlah kalangan. Anda sudah memikirkan risiko atau potensi kontroversinya nanti?
Tujuan terpenting dari penulisan buku ini adalah supaya saya bisa membagi kepada orang-orang, bahwa sesuatu hal yang baik itu membuahkan hasil yang baik. Dan, sesuatu yang buruk itu benar-benar ada hasil yang sangat buruk. Tujuannya sharing saja. Supaya orang bisa membaca dan kalau mereka bisa mengetahui soal perbuatan baik dan buruk itu, saya sudah cukup puas.

Dalam bahasa yang sederhana, regresi kehidupan lalu itu apa?
Regresi kehidupan lalu itu artinya kita melihat kembali ke kehidupan lalu kita, mengenai masalah-masalah di kehidupan yang sekarang ini, yang kita tidak bisa cari akar permasalahannya di kehidupan sekarang. Jadi, kita mencari akar permasalahannya—yang pada beberapa kasus—ternyata akar masalah kehidupan sekarang itu dibawa dari kehidupan lalu kita.

Soal reinkarnasi, sebagian orang percaya sebagian lagi tidak. Reinkarnasi dalam pandangan Anda itu seperti apa?
Reinkarnasi—saya lebih suka menyebutnya tumimbal lahir—itu sebenarnya hanyalah sebuah proses pembelajaran. Kita lahir dan mati, lalu kita lahir dan mati lagi. Tapi, selama jeda antara lahir dan mati itu adalah proses pembelajaran kita, supaya batin kita lebih mencapai yang namanya kesempurnaan. Jadi hanya itu, proses pembelajaran saja.

Jadi, reinkarnasi atau tumimbal lahir itu tidak seseram yang diperkirakan banyak orang?
Justru sebenarnya kita itu tumimbal lahir setiap saat. Apabila kita telah menjadi seseorang yang lebih baik, berarti batin kita yang buruk itu telah mati. Dan, kita telah tumbuh menjadi orang yang baik. Jadi, kita itu tumimbal lahir setiap saat.

Apa benar Anda berhasil menemukan beragam karakter diri Anda dan pernah hidup di berbagai zaman? Seperti yang Anda tilis di buku tersebut?
Kalau kita diregresi, seperti saya pas meregresi diri saya itu, kita bisa melihat kehidupan lalu kita seperti sedang menonton tv atau film. Jadi, gambaran-gambaran yang muncul di pikiran kita itu seperti kalau kita benar-benar melihat keadaan sebenarnya. Persis seperti nonton tv.

Apakah gambaran yang didapat itu benar-benar pernah kita alami? Kan susah dibuktikan?
Sebenarnya bisa dibuktikan kalau orang yang diregresi atau masuk ke kekhidupan lalu itu bisa akurat dalam menentukan tahun kejadiannya, menentukan nama tempat, nama kota. Dan, juga disertai bukti-bukti sejarah yang ada, itu sebenarnya bisa dibuktikan. Karena dalam beberapa kasus yang ada itu bisa dibuktikan. Tapi, yang paling penting dari regresi kehidupan lalu adalah di pelajarannya. Apabila di pelajarannya dari kehidupan lalu itu bisa membawa pencerahan, atau membawa kebijaksanaan dalam kehidupan yang sekarang, maka berarti kehidupan lalu itu benar adanya. Karena, hanya kebijaksanaanlah yang nyata dalam regresi kehidupan lalu ini.

Dalam buku ini ada 12 kisah kehidupan lalu. Anda jadi biku, hampir jadi pelacur, jadi budak, jadi orang indian, dll. Nah, yang paling mengesankan kisah yang mana?
Setiap regresi kehidupan lalu yang saya lakukan itu membawa suatu pelajaran yang unik. Jadi, semuanya memiliki bobot yang hampir sama untuk penyadaran di kehidupan saya sekarang ini. Tapi kalau boleh saya ceritakan, yang paling menyembuhkan saya ya itu, cerita tentang selingkuh itu. Karena regresi itu benar-benar menyembuhkan saya.

Bbagaimana jelasnya?
Waktu itu kan saya jatuh cinta pada cowok lain, dan pada saat itu juga Gunawan juga jatuh cinta kepada cewek lain. Waktu itu, kami benar-benar tidak menginginkan hal itu. Saya sendiri saat itu merasa sangat sakit, karena mengetahui bahwa Gunawan itu bisa mencintai orang lain selain saya. Setelah melihat dengan regresi, ternyata itu semua efek dari kehidupan lalu. Dan, kalau kami diam tidak bereaksi, maka perasaan-perasaan itu akan hilang dengan sendirinya. Seperti uap yang menguap begitu saja. Dari regresi itu saya benar-benar merasa tersembuhkan...

Dan perselingkuhan pun tidak berlanjut...?
Tidak. Stop di situ.

Anda sebutkan di buku ini, regresi kehidupan lalu bisa digunakan untuk mengetahui siapa soulmate seseorang. Bagaimana ceritanya?
Sebenarnya, soulmate itu adalah orang-orang yang dekat dengan kita dalam beberapa kehidupan. Karena dalam setiap kehidupan itu, kita seperti membawa suatu grup orang yang biasanya itu lahir kembali bersama kita. Tapi, peran mereka itu kadang berubah. Kadang perannya itu sebagai ayah kita, bisa sebagai ibu kita, atau sebagai pacar kita, kakak adik, teman...

Itu semua soulmate?
Semua soulmate.

Bagaimana dengan penemuan soulmatedalam pengertian pasangan hidup yang tak tergantikan? Regresi kehidupan lalu bisa membantu?
Regresi kehidupan lalu bisa dipakai untuk melihat soulmatekita di kehidupan lalu. Bisa. Tapi, begitu banyak kehidupan lalu yang kita miliki. Berarti, begitu banyak soulmateyang pernah menjadi soulmatekita, yang mungkin di kehidupan kita sekarang ini mereka eksis. Ada di antara kita. Tapi, mungkin soulmateitu tidak hanya satu orang. Mungkin ada satu orang, mungkin beberapa, atau mungkin malah banyak orang. Nah, mereka itu punya kemungkinan yang sama besar untuk menjadi belahan jiwa kita, atau dalam konteks ini menjadi suami atau istri kita. Yang paling menentukan adalah kebijaksanaan kita. Jika kebijaksanaan kita setara dengan salah satu soulmateitu, maka kita akan tertarik kepada dia. Tapi dalam perjalanan, kalau tingkat kebijaksanaan kita berubah, maka mereka pun mungkin tidak akan menjadi soulmatekita lagi.

Jadi, soulmate pun—yang katakanlah dari kehidupan lalu bertemu kita di kehidupan sekarang—tetap harus ada konteks atau situasi yang menentukan apakah dia akan menjadi soulmatekita di kehidupan sekarang atau tidak...?
Memang, untuk menjadi soulmatekita, itu memerlukan suatu kondisi. Suatu kondisi yang bisa menjadikan soulmatekita yang sejati adalah sama tingkat kebijaksanaannya, sama tingkat kemurahan hatinya, sama-sama ingin belajar, dan beberapa hal lainnya. Apabila mereka telah mencapai suatu level yang sama, mereka akan menjadi soulmate. Apabila level mereka berbeda, maka secara perlahan-lahan pun akan mengalami gesekan-gesekan atau pertengkaran-pertengkaran yang akhirnya menyebabkan perpisahan. Karena adanya perbedaan kebijaksanaan itu sendiri.

Jadi, soulmatepun bisa terpisahkah?
Bisa. Tidak ada yang abadi...

Bagaimana dengan orang yang punya kecenderungan memiliki banyak kekasih?
Seperti yang saya bilang, begitu banyak kehidupan lalu kita, begitu banyak soulmatekita. Berarti, mungkin banyak di antara soulmatekita itu di kehidupan sekarang ini berada di sekitar kita. Apabila kita bertemu dengan salah satu soulmatekita, pasti akan merasakan getaran. Kalau kita sesama jenis dengan soulmateitu, kita akan merasakan getarannya seperti sudah kenal lama. Langsung akrab jadi teman. Tapi lawan jenis, pasti getarannya rasa suka, rasa cinta. Apabila kita tidak bisa mengendalikan diri, mungkin saja ada keinginan untuk mengoleksi semua soulmateitu. Tapi sampai kapan? Kuncinya adalah di pengendalian diri dan komitmen untuk setia.

Bagaimana dengan orang yang bermimpi atau terobsesi untuk menemukan soulmate-nya? Dalam artian, figur yang paling cocok bagi kehidupan dia. Katakanlah maunya sehidup semati, belahan jiwa sejati...? Siap menunggu lama untuk soulmatenya? Sia-siakah?
Memang banyak kasus seperti itu. Ada juga beberapa orang yang datang kepada saya, mereka terus-menerus mencari soulmate. Mereka mengharapkan ada seorang soulmateyang bisa sehidup semati. Mengapa banyak orang yang tidak bisa menemukan soulmate—atau saya bilang di sini cinta sejati—setelah ditelaah kehidupan lalu mereka, ternyata di kehidupan lalu mereka itu banyak menyakiti orang lain atau makhluk lain. Sehingga di kehidupan sekarang ini, entah kenapa rasanya mereka itu sulit sekali menemukan cinta sejati. Kalau pun ada orang yang mencintai mereka, entah mengapa di tengah jalan orang itu tidak bisa memberikan cinta yang tulus kepada mereka. Nah, orang yang sulit mencari jodoh, apabila dicek kehidupan lalunya, banyak di antara mereka itu yang suka menyakiti orang lain atau makhluk lain. Bahkan, mereka yang seperti itu, kadang perlahan-lahan mereka itu akan melepas jodohnya sendiri.

Jadinya nggak ketemu-ketemu dengan cinta sejatinya...?
Ya. Ya. Ada semacam dorongan, suatu hambatan, atau suatu penghalang untuk orang lain memberikan cinta sejatinya kepada dia.

Dalam buku ini Anda sebutkan, regresi kehidupan lalu dapat menyembuhkan secara fisik maupun nonfisik. Penjelasannya?
Kalau yang nonfisik, secara emosional itu bisa, karena saya merasakannya sendiri. Juga dikisahkan di sini, kehidupan lalu itu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, yang juga menyembuhkan saya secara emosional. Kalau dari sisi fisik, ada orang-orang yang apabila di kehidupan sekarang itu menderita cacat, dia bisa melihat apa yang dia lakukan di kehidupan lalunya sehingga dia cacat di kehidupan yang sekarang. Kalau sudah cacat fisik, mungkin tidak bisa tersembuhkan secara fisik. Tapi secara emosional, mereka akan merasa lebih ringan, lebih baik. Karena sudah mengetahui akar permasalahannya dan mereka tahu pelajarannya, apa yang bisa dilakukan dalam kehidupan yang sekarang. Tapi ada beberapa kasus, di buku-buku yang saya baca, terutama kasus-kasus di Amerika. Ada satu orang yang menderita kanker. Dan setelah melihat kehidupan lalunya, beberapa waktu kemudian kankernya itu sembuh.

Di buku ini juga Anda sebutkan, regresi kehidupan lalu bisa dilakukan semua orang. Bagamana caranya?
Setiap orang punya kemungkinan untuk melihat kehidupan lalunya, jika mereka mau. Dan jika mereka mempunyai pertanyaan yang bagus, yang mau dicari jawabannya di kehidupan lalu dia sendiri. Semua orang bisa apabila dia menjalankan tahap-tahapnya. Bila di percobaan pertama, kedua, kelima, kesepuluh mereka belum bisa, kuncinya adalah di latihan. Karena, kuncinya ada di relaksasi, di kondisi ketenangan. Kebanyakan orang yang tidak bisa masuk ke kehidupan lalu adalah orang-orang yang tingkat ketenangannya belum bisa mencapai tingkat ketenanngan. Karena, mungkin sendang banyak pikiran atau stres dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan penting bagi orang yang ingin melihat kehidupan lalunya?
Semua orang bisa melihat kehidupan lalu. Tapi, kuncinya ada pada bagaimana kita mengolah hasil regresi. Bagaimana kita mengolah regresi kehidupan lalu itu untuk diambil pelajarannya, untuk membuat kehidupan yang sekarang ini menjadi lebih baik. Apabila kehidupan lalu yang kita lihat itu bisa membuat diri kita lebih baik di kehidupan sekarang, maka itu bagus. Tapi kalau kita tidak bisa mengambil pelajarannya dan membuat kita di kehidupan yang sekarang itu menjadi lebih buruk, maka kehidupan lalu itu akan membuat hidup kita lebih menderita.

Hikmah terbesar bagi Anda sendiri dari penulisan buku ini?
Hikmah terbesarnya adalah saya bisa membagikan pengalaman. Terutama, dengan regresi ini membuat saya bisa melihat dan merasakan kebijaksanaan-kebijaksanaan—yang mungkin tidak akan pernah saya lihat—bila saya tidak melihat kehidupan lalu saya. Dengan buku ini, semoga orang-orang bisa mengambil hikmah atau pelajaran dari buku ini, serta bisa membuat kehidupan mereka lebih bahagia.

Anda siap membantu mereka yang ingin melihat kehidupan lalunya?
Siap. Tapi, memang ada beberapa orang yang bila belum siap, mereka tetap tidak bisa melihat kehidupan lalunya.[ez]

Eni Kusuma: Belajar adalah Hak Saya!!! -







Profesi sebagai pembantu rumah tangga atau TKW di negeri orang, sering dipandang sebelah mata. Sekalipun, mereka adalah penyumbang devisa negara yang tidak bisa disepelekan jumlahnya. Mereka punya peran untuk keluarga maupun bangsanya, walau penghargaan maupun perlindungan terhadap mereka sangatlah minim. Tak heran jika yang sering kita dengar adalah kisah-kisah pilu tentang tidak berdayanya para TKW ini.

Namun, Eni Kusuma, membalikkan semua pandangan tersebut. Enam tahun menjalani profesi sebagai pembantu rumah tangga di Hong Kong, Eni berhasil pulang dengan membawa sesuatu. Bukan harta yang berlimpah, tetapi sebuah hasil proses pembelajaran yang sangat menakjubkan. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai pembantu rumah tangga, ia berhasil mengasah bakat menulisnya dan bergaul dengan komunitas yang lebih luas melalui internet.

Lulusan sebuah SMA di Banyuwangi, Jawa Timur, ini pun aktif di sejumlah mailing list penulisan. Di sana keterampilannya berkembang pesat dan ia mulai bergaul dengan sejumlah penulis sukses. Artikel-artikelnya pun tersebar dan semakin diapresiasi oleh khalayak. Sejumlah artikel motivasinya juga berhasil dimuat di situs motivasi dan pengembangan diri terpopuler, Pembelajar.com. Dari situlah akhirnya pada April ini Eni berhasil meluncurkan sebuah buku motivasi berjudul Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007).

Di Indonesia atau bahkan dunia, mungkin Anda Luar Biasa!!! adalah buku motivasi pertama yang ditulis oleh seorang pembantu rumah tangga. Dan, tak tanggung-tanggung, buku ini juga dikomentari oleh tak kurang dari 27 penulis, motivator, tokoh, atau aktivis yang punya nama. Mungkin, semua ini merupakan bentuk apresiasi atas semangat dan kemauan belajar penulisnya yang benar-benar menyentuh hati.

Eni yang kini berusia 30 tahun, terus belajar mengasah kemampuan menulisnya. Ia juga mulai membagikan semangatnya melalui forum-forum seminar, diskusi, serta talk show di radio-radio. Sasaran yang sedang dia bidik adalah seminar di berbagai kampus untuk menyemangati para mahasiswa atau generasi muda umumnya. Berikut adalah wawancara Edy Zaqeus dari Pembelajar.com dengan Eni Kusuma melalui email akhir Maret 2007 lalu.

Bagaimana perasaan Anda setelah buku pertama Anda terbit?
Berbunga-bunga. Ada mawar, anggrek, tulip, dan enceng gondok...he he he.

Bagaimana ceritanya sampai akhirnya Anda bisa menulis sebuah buku motivasi?
Awal cerita dari sebuah dream saya yang ingin diakui secara intelektual. Mulanya masih kabur. Sama halnya dengan seorang gadis yang bermimpi tentang pangeran pujaannya. Masih kabur. Namun, setelah bertemu dengan pria yang mendekatinya secara nyata, lama-lama bayangan itu semakin jelas. Karena dream saya masih kabur, awalnya saya belajar membuat naskah novel, cerpen, dan puisi. Ketika saya posting di milis kepenulisan yang saya ikuti bernama Kossta—milis untuk para TKW di Hongkong yang suka nulis—karya-karya saya banyak yang mengomentari. Setelah saya amati, saya rasa menjadi komentator itu lebih cerdas dan elegan. Maka saya BELEJAR "berkarier" di jalur ini. Banyak yang skeptis: "Who's talking? Emangnya Eni itu siapa?" Namun, seorang guru dan senior saya nekat mengirimi saya buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller, karya Edy Zaqeus. Mungkin, biar "kegilaan" saya semakin terasah.
Dari situ saya mengenal Pembelajar.com. “Korban” komentar saya yang pertama adalah artikel Jennie S. Bev, si penulis buku Rahasia Sukses Terbesar. Jennie adalah penulis wanita yang sukses di negeri Paman Sam. Dia terkenal karena menulis. Kenapa saya komentari dia? Karena saya ingin "dilihat". Inilah awal saya membuat artikel-artikel "motivasi"—yang istilahnya saja baru saya dengar setelah bergaul dengan komunitas Pembelajar.com.
Dengan diterbitkannya buku Anda Luar Biasa!!! ini, maka dream saya semakin jelas. Berapa banyak sih, orang yang "kenyataannya" sesuai dengan mimpinya? Saya mendapatkannya hanya dengan kerja keras dan kerja cerdas. Tanpa perlu menodongkan senjata tumpul kepada para intelektual supaya mereka mengakui kemampuan saya. Cieeee....

Pada waktu menyusun buku ini, Anda masih berprofesi sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong. Bagaimana bisa Anda meluangkan waktu untuk menulis?
Bisa. Saya memanfaatkan segala kesempatan di antara kesempitan. Saya mengalokasikan waktu satu jam sebelum tidur malam untuk menulis dengan tangan. Lalu, di saat libur tiba, saya ketik di komputer. Biasanya saya ngetik di perpustakaan, kantor pos, dan pusat perbelanjaan yang memberikan pelayanan internet gratis. Saya juga bisa akses internet di saat-saat menunggu anak asuh saya les. Atau, ketika saya belanja ke pasar.

Selama ini, pembantu rumah tangga selalu dikonotasikan sebagai orang tidak berpendidikan, minim keterampilan, dan hidup tanpa harapan dengan gaji yang sangat rendah. Pandangan Anda?
Saya tidak pernah memandang orang dari profesinya. Profesi hanya sementara. Sebagai batu loncatan saja untuk mendaki ke profesi yang lain yang lebih baik. Saya hanya memandang orang dari "kemauannya untuk belajar". Siapa pun dia! Meskipun dia seorang pejabat, anggota dewan yang terhormat, pembantu, pemulung, tukang kayu, dan tukang sapu jalan. Jika tidak mau BELAJAR, maka mereka termasuk yang tidak berpendidikan.
Banyak orang-orang dari profesi "terhormat" yang merugikan orang lain dan negara. Sebaliknya, tidak sedikit orang-orang dari profesi "rendahan" yang berguna bagi orang lain dan negara. Kami, para pembantu, tertawa saja melihat ulah birokrasi yang merugikan dan mempersulit kami. Padahal, semuanya bisa dipermudah. Atau sebagai orang miskin, kami geli dengan anggota dewan yang terhormat, protes atau demo karena diminta untuk mengembalikan uang rapelan.
Sekarang jelas bukan, siapa yang berpendidikan apa? Siapa yang lebih miskin? Siapa yang merasa lebih "rendah" gajinya? Saya justru termasuk pembantu dengan nomor urut ke sekian dari sekian banyak senior saya yang sukses menjadi pengusaha, wartawan, penulis, pengajar, investor, dll. Karena, mereka punya dream dan mau BELAJAR.

Apa komentar majikan Anda ketika Anda menulis artikel di website, hingga kemudian bisa jadi naskah buku?
Awalnya senang dan mendukung banget. Dan ini saya ceritakan dalam buku saya itu. Tapi, lama-kelamaan dia "uring-uringan". Yang saya kerjakan selalu salah. Dan, dia sering mengada-ada dalam memberikan perintah. Supaya "tenang", saya bilang padanya kalau saya sudah berhenti menulis. Lalu, saya melakukan aktivitas ini dengan sembunyi-sembunyi. Mungkin, dia takut saya akan menomorduakan tugas utama saya sebagai pembantu.
Tiba-tiba saya sadar dengan apa yang terjadi. Kesalahan terbesar saya soal aktivitas menulis saya ini adalah "kejujuran". Sama halnya dengan seorang pria yang diinterogasi dan dituduh selingkuh. Kesalahan terbesarnya adalah "kejujuran". Jadi, majikan saya tidak tahu tentang buku saya ini. Tapi, kami sering SMS-an sampai sekarang. Saya ingin mengirim buku ini padanya nanti. Meski dia tidak bisa baca tulisan Indonesia.

Sebenarnya, apa motivasi Anda menulis buku dengan judul Anda Luar Biasa!!! ini?
Saya ingin membuktikan bahwa hambatan apa pun bisa ditaklukkan. Asal, kita sadar akan keluarbiasaan potensi diri kita dalam mewujudkan dream kita. Yang membedakan manusia dari makhluk lainnya kan dream? Dan, dream milik semua orang. Dari segala macam profesi dan latar belakang. Saya berani bermimpi, bagaimana dengan Anda semua?

Kalangan mana saja yang ingin Anda sentuh dengan buku ini?
Semua kalangan yang bisa baca. Tanpa terkecuali. Dari semua profesi dan latar belakang. Seperti, para pembantu yang ada di dalam dan luar negeri. Atau, calon pembantu yang berada di yayasan-yayasan pengerah pembantu dan baby sitter. Juga mereka yang berada di PJTKI-PJTKI. Pemulung sampah Indonesia, asongan, tukang antar koran, guru, dosen, mahasiswa, pelajar, pejabat, anggota dewan yang terhormat, dll. Semua pribadi dari yang "acak adul" sampai pribadi yang terkendali. Pribadi yang "acak adul", seperti mereka yang belum dipenjara, akan dipenjara, sedang dipenjara, dan sudah dipenjara atau mantan narapidana. Semua saya sentuh.

Anda “hanya” lulusan SMA, sementara—dari komentar-komentar untuk buku Anda—tampak sekali bahwa Anda sangat cerdas dan berbakat. Bagaimana Anda mendapatkan semua itu?
Saya? Sangat? Cerdas dan berbakat? Salah tingkah saya....Eni salah tingkah.... Lipatan-lipatan otak kita—yang diciptakan oleh Yang Maha Cerdas—tidak terbentuk dengan sendirinya. Lipatan-lipatan itu terbentuk karena seringnya otak diajak berpikir dan menganalisis tentang hal-hal yang bermutu dan penuh makna. Semakin terlatih, semakin berkembang, dan semakin banyak lipatannya. Dan, cerdas hanyalah efek. Bakat apalagi. Cerdas secara emosional, intelektual, maupun spiritual.
Saya mendapatkannya, atau melatihnya, dengan membaca kitab suci. Makna dalam kitab suci adalah makanan jiwa yang sangat bergizi. Sedangkan buku-buku bermutu lain—baik yang saya pulung dari sampah bacaan, beli sendiri, pinjam, maupun dikasih oleh orang-orang tercinta—adalah pelengkap untuk menambah pengetahuan. Sementara, tingkah laku atau perilaku orang-orang di sekitar adalah sarana pembelajaran saya untuk menambah wawasan. Dari sanalah saya belajar.

Kabarnya waktu kecil Anda gagap bicara?
Saya jadi tersipu pilu nih... Ini kabar yang kurang berwibawa... Bukan hanya gagap akut. Selain kurang gizi dan ASI, berbagai penyakit kulit juga sempat jadi sahabat karib saya di waktu kecil. Kurap, kudis, jamur, dan gatal-gatal. Tanyalah pada orang-orang terdekat saya. Pasti mereka akan menjelaskan dengan sangat antusias. Sebenarnya, ini kurang elegan untuk dijadikan pesona, apalagi untuk mem-branding saya. Tapi, mungkin ini akan menjadi salah satu faktor keluarbiasaan diri saya...he he he....
Sebenarnya, gagap itu masalah psikis. Kondisi saya yang terlahir dari ortu yang "acak adul" secara emosi menjadikan saya gagap bicara, minder, tertutup, sekaligus cuek hingga remaja. Dan miskin adalah efeknya. Lima tahun lagi dalam kondisi yang sama, saya mungkin bisa menguasai 70 bahasa dari sepuluh negara dalam waktu bersamaan he he he.... Tragis memang! Setahu saya, dalam speech therapy ada dua mcam gagap, yaitu stuttering dan stammering. Stuttering adalah gagap atau kesulitan saat akan mulai bicara. Sedangkan stammering adalah gagap atau kesulitan saat akan mengakhiri suatu kalimat. Saya menderita stuttering ini.
Saya kerap mendapati kondisi rumah, berubah seperti menjadi ruang penyiksaan tawanan perang oleh “tentara” dari “sekte aliran sesat” ha ha ha.... Dan, jika kami, anak-anaknya, tidak menghindar, kami tentu akan menjadi objeknya. Saya masih belum tahu, apakah cacat pendengaran kakak perempuan pertama saya itu karena efek beruntun dari ritual tersebut. Terkadang, orangtua saya sangat dewasa dan bijaksana. Makanya, saya betah diskusi dengan ayahanda saya. Terkadang juga, mereka dapat menjadi pasangan “tentara gila” yang percaya ada sekawanan “serigala” dari planet lain, yang akan mengobrak-abrik wilayah kekuasaannya.
Saya menerapi diri saya sendiri. Saya memaklumi dan memaafkan mereka yang saya kasihi. Sehingga, secara bertahap pun saya mulai sembuh. Meski kadang agak terasa mengganggu jika bicara. Namun, secara umum tidak ada masalah dengan cara bicara saya sekarang. Pesan saya, berkembang dan bertumbuhlah dengan terus belajar. Itu supaya kita mendapat jiwa yang kuat dan emosi yang sehat, demi anak-anak kita, generasi yang akan datang, demi mewujudkan "Indonesia Bebas Gagap Bicara!"

Anda juga suka memulung sampah-sampah bacaan?
Sebenarnya, ini juga hal yang "aneh" untuk dijadikan pesona he he he.... Saya memang suka membaca. Berhubung tidak ada fasilitas bacaan untuk dibaca, maka sampah-sampah bacaan dari potongan-potongan buku, koran bekas, atau kartu motivasi Harvest di TPA menjadi “korban” saya. Kegitan saya sepulang sekolah memang memulung sampah. Setelah itu berangkat ngaji di surau.

Sekarang setelah kembali ke Indonesia, apa yang ingin Anda lakukan?
Belajar banyak hal. Sekarang lagi aktif menulis dan belajar menulis skenario. Dalam kesempatan ini saya hendak meminta kepada para penulis skenario profesional. Buatlah cerita yang masuk akal, mencerdaskan, dan memotivasi! Energi yang muncul dari cerita yang memotivasi pasti akan sangat dahsyat efeknya bagi perkembangan kualitas mental pemirsa. Jangan bikin yang sebaliknya. Karena, energi negatif dari suatu cerita yang sebaliknya, akan berdampak sama pula. Saya juga siap sharing kepada siapa saja.
Oya, seratus persen dari penjualan buku Anda Luar Biasa!!! ini akan masuk ke rekening yayasan Eni Kusuma Foundation, yang ingin saya dirikan untuk memberi pendidikan anak-anak miskin. Ini mimpi terbesar saya. Semoga. Tuhan memberkati kita semua. By the way, saya juga berkeinginan, suatu saat nanti saya diberi kesempatan berada di antara para anggota dewan yang terhormat. Sebenarnya, ada apa sih antara pemerintah dengan kondisi Indonesia saat ini?

Apa yang ingin Anda serukan kepada para pembantu rumah tangga di seluruh Indonesia, bahkan mungkin dunia?
Pesan saya, jadilah pembantu yang profesional. Bekerjalah sambil belajar. Dan, belajarlah dari orang-orang sukses. Untuk mempercepat, jangan belajar dari orang-orang “kebanyakan”. Banyaklah melihat dunia dengan membaca. Pembantu adalah profesi yang sangat terhormat, tanpa tanda kutip! Pembantu adalah profesi yang "kaya". Karena, itu profesi yang melambangkan kesabaran. Kesabaran adalah ibu dari kesuksesan. Pembantu yang baik adalah tangan Tuhan yang penuh dengan pengabdian. Beranilah bermimpi dan wujudkanlah apa yang kalian inginkan. Bukalah pikiran. Tuhan Memberkati.

Seruan Anda bagi generasi muda kita, terutama para mahasiswa?
Untuk para generasi muda, terutama untuk para mahasiswa, kendalikan emosimu! Banyaklah membaca dan belajar! Kenali minatmu sedini mungkin! Carilah mentor! Jika perlu, jadilah orang suruhan dari orang sukses di bidang yang engkau minati! Serap ilmunya! Bekerja samalah dan jual ide kamu pada mereka! Jangan pernah menyerah! Dan, sukses hanyalah efek! Tuhan memberkati!

Siapa guru-guru Anda dalam sekolah kehidupan ini?
Guru dari semua guru saya dalam sekolah kehidupan ini adalah Tuhan Yang Menciptakan Kehidupan ini. Dan, guru-guru saya yang lain adalah semua pribadi yang bijaksana. Saya ingin menjadi bijaksana seperti guru-guru saya itu.

Sekarang sedang menyiapkan buku apa lagi?
Buku “Chicken to Eagle”. Sebuah buku tentang mencerdaskan kesadaran yang lebih eksploratif lagi. Judul ini saya dapat dari Adi W. Gunawan. Ketika saya berkesempatan bincang-bincang dengan beliau. Juga buku "mencerdaskan kesadaran" yang lain, yaitu kumpulan cerita kocak. Saya sempat surprise ketika beberapa cerita itu saya posting di milis “Penulis Best Seller” ternyata membuat Edy Zaqeus tertawa. Luar Biasa! Ini hal yang membanggakan saya. Saya jadi ingin baca buku Zen seperti yang dia bilang.

Bila perjalanan hidup Anda dan nilai-nilai yang Anda pegang bisa dirumuskan dalam sebuah kalimat, bagaimana bunyinya?
BELAJAR ADALAH HAK SAYA!!! Perjalanan hidup saya adalah proses belajar itu sendiri. Dan, nilai-nilai yang saya pegang adalah hasil dari belajar saya tentang nilai-nilai.

Ok, semoga Anda sukses!
Terimakasih atas bimbingan Anda selama ini. Terimakasih pula wawancaranya. Terimakasih kepada seluruh pengunjung Pembelajar. com. Salam Sukses Luar Biasa!!![ez]

Gregorius Agung: Saya Yakin Seratus Persen Bisa Hidup dari Menulis


-




Anak muda yang satu ini bisa dibilang merupakan contoh sukses di bidang penulisan. Fokus dalam penulisan buku-buku komputer menjadikan Gregorius Agung seorang penulis buku komputer terkemuka di Tanah Air. Bukan itu saja, ia bahkan mampu mendirikan Jubilee Enterprise, sebuah perusahaan media content provider yang memasok penerbit dengan naskah-naskah buku komputer terbaru. Tak kurang dari 12 karyawan/penulis dipekerjakannya di bisnis tersebut. Dan, dalam kurun tiga bulan terakhir (Mei-Agustus 2007) tak kurang dari 40 judul buku telah ditulis untuk penerbit buku.

Di saat banyak penulis jatuh pesimis dengan dunia penulisan dan penerbitan—yang antara lain ditandai dengan “keyakinan” bahwa mustahil penulis bisa hidup dari hanya menulis, Gregorius Agung maju dengan bantahan yang konkrit. Greg, demikian nama panggilannya, justru mampu menjadikan dunia tulis-menulis sebagai sebuah industri yang benar-benar menguntungkan. Itu sebabnya, dia yakin seratus persen, setiap penulis mampu melakukannya.

Greg, yang beristrikan Mona Sondakh dan telah dikaruniai seorang putera bernama Vincentio Rexel Sultandhani, ini memulai karir menulisnya sejak masih berstatus mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sukses dengan buku pertamanya, Membuat Homepage Interaktif dengan CGI/Perl, Greg seperti “kesetanan” dalam menulis buku komputer. Sejak itu, enam hingga delapan buku berhasil dia tulis tiap bulannya.... Luar biasa! Greg membuktikan, menulis bisa memberikan kesejahteraan. Sesuatu yang masih sering dianggap mustahil di Indonesia. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari Pembelajar.com dengan Gregorius Agung via email baru-baru ini:

Bisa diceritakan proses belajar menulis Anda, belajar dari siapa, mulai kapan, dan bagaimana caranya?
Kebetulan, saya punya guru SMA yang sangat saya kagumi. Nama beliau St. Kartono, yang saat itu menjabat Wakil Kepala Sekolah SMU Kolese De Britto. Dari didikan beliaulah saya memiliki minat yang tinggi tentang dunia penulisan. Gaya mengajarnya menyenangkan. Pernah saat saya duduk di kelas 1, ketika itu di tahun 1994, guru saya tersebut menyuruh kami semua menulis karangan deskripsi tentang dirinya. Pas karangan saya diperiksa, mendadak dia berdiri dan memberi aba-aba untuk menenangkan seluruh kelas yang agak ribut. “Coba dengar tulisan yang dibuat si Greg. Jika Pak Kartono berjalan, langkahnya cepat dan lebar...,” kata guru saya yang juga penulis artikel di media massa tersebut, mengulangi tulisan deskripsi yang saya tulis.

“Kalau saya berjalan seperti ini,” Pak Kartono pun memperagakan orang yang melangkah cepat dan kakinya melangkah maju ke depan, “...maka itu disebut, langkahnya cepat dan...” Sekejap kelas pun terhening, “Panjaannng...,” sambungnya. “Kalau Greg menulis langkahnya cepat dan lebar, maka jalannya seperti ini...,” Pak Kartono pun memeragakan orang yang terkena ambeien atau baru sunatan sedang berjalan mekangkang! Seluruh kelas pun terbahak!

Waktu saya mengambil karangan tersebut, Pak Kartono tersenyum sinis sambil mewanti-wanti,”Kalau pilih kata yang hati-hati ya...!” Dari sinilah, saya menarik benang merah bahwa menulis itu menyenangkan dan bisa bikin satu kelas riuh rendah.

Kapan pertama kali menulis untuk tujuan komersial?
Sejak artikel pertama saya di Kedaulatan Rakyat dimuat, saat itu tujuan sebenarnya sudah komersial. Tapi puncaknya dimulai pada tahun 1999 ketika masih semester awal di perguruan tinggi. Saya punya keberanian untuk menulis buku komputer pertama kali yang langsung ditujukan ke PT Elex Media Komputindo. Saat itu, internet masih fresh from the oven dan tema buku yang saya buat berkaitan dengan pemrograman internet.

Bagaimana ceritanya sampai Anda terjun menjadi penulis spesialis buku-buku komputer?
Buku pertama saya berjudul Belajar Sendiri Membuat Homepage Interaktif dengan CGI/Perl, diterbitkan kalau tidak salah Mei 1999. Uniknya, saat saya mengajukan proposal penulisan buku tersebut, redaksi Elex langsung setuju. Setelah diterbitkan, dua bulan langsung ludes. Padahal, cetakan pertama saat itu 5.000 eksemplar. Jadilah buku tersebut bestseller. Dari situ, saya menemukan dunia penulisan buku komputer yang kemudian saya sambung dengan menulis buku Frontpage 2000 Webbot yang juga diterbitkan oleh Elex Media.

Sering menemui kendala-kendala dalam menulis buku-buku komputer?
Sejauh ini tidak.

Sampai sekarang, berapa banyak buku sudah Anda tulis?
Sudah tidak terhitung lagi. Jubilee Enterprise sendiri sudah menerbitkan 40 judul buku baru dalam rentang Mei 2007 sampai Agustus 2007. Belum judul-judul yang telah diterbitkan sebelumnya. Wah, tak terhitung lagi deh.

Buku mana yang paling mengesankan Anda?
Buku pertama sangat mengesankan, bukan saja karena buku tersebut adalah debut awal, tapi tingkat penjualannya yang fantastis membuat arah penulisan saya menjadi lebih jelas. Selanjutnya, proses penulisan buku menjadi lebih mengalir karena menjadi sudah terbiasa dengan dunia komputer.

Dari royalti buku-buku Anda, rata-rata rupiah Anda terima setiap semesternya?
Syukurlah, sampai sekarang saya dan Jubilee Enterprise masih menampuk pemegang royalti terbesar untuk kategori buku komputer dari penerbit Elex Media. Dari royalti tersebut, saya bisa mempekerjakan 12 pegawai yang hanya berkonsentrasi di dunia penulisan saja. Jadi kira-kira bisa dibayangkan sendiri, berapa yang kami dapat he he he.

Anda benar-benar yakin bisa hidup layak dari menulis?
Yakin seratus persen. Ada sentilan yang unik ketika saya selesai mengisi acara Kompas Gramedia Fair pada bulan Mei 2006 lalu. Saat itu, saya ditraktir oleh Manajer dan Redaksi Elex Media di Starbucks Coffee. Sembari menyeruput kopi yang menurut saya agak aneh rasanya, saya berdiskusi dengan Mas Arie, Manajer Redaksi, tentang dunia buku. Saat itu, beliau sempat berkata bahwa selama ini dia belum menemukan contoh kasus di mana orang bisa hidup layak hanya dari menulis saja. Ketika saya dan Jubilee Enterprise melakukan agresi penulisan buku, beliau ikut-ikutan yakin bahwa hidup makmur dari menulis bisa diraih.

Seorang Jenar Maesa Ayu sekalipun, dalam sebuah tayangan televisi, menyatakan, “Sulit bisa hidup hanya dari menulis.” Komentar Anda?
Kalau bicara tentang kemampuan diri sendiri, sepertinya pernyataan di atas sungguh tepat. Terlebih jika ia adalah penulis buku yang membidik segmen pasar yang sangat spesifik, misalnya sastra idealis atau buku anak-anak. Tetapi kalau kita berkolaborasi dengan orang lain untuk membuat buku, maka ceritanya bisa lain. Kita ambil contoh, seorang penulis sastra bisa pula menulis buku manajemen dan laku keras! Bagaimana caranya? Gampang saja. Ajak orang yang pintar teori atau praktik manajemen, dan tulislah pengalaman atau buah pikirannya itu. Kemudian, tawarkan ke penerbit.

Tapi bukan berarti teknik ini jauh dari risiko. Tantangannya menjadi sangat berbeda. Biasanya, penulis adalah pekerjaan yang individualistis. Sementara kalau bekerja sama dengan orang lain, otomatis sudah menjadi pekerjaan tim. Ini tidaklah mudah karena masing-masing punya ego, cara bekerja, dan pandangan yang berbeda yang acapkali di lapangan, perbedaan itu mudah mengancam jalannya proses penulisan buku. Tapi kalau berhasil, pendapatan dari penjualan buku sangatlah tinggi dan dia bisa hidup makmur dari metode di atas. Jika teknik di atas diulang ratusan kali, maka pernyataan “sulit bisa hidup hanya dari menulis” bolehlah dikoreksi.

Menurut pengalaman Anda, apa saja yang harus disiapkan, dilakukan, dan dibiasakan agar penulis bisa hidup layak dari menulis?
Pertama-tama, ubahlah mindset bahwa menulis hanyalah profesi sampingan. Jadikan menulis sebagai profesi utama sehingga pikiran kita selalu fokus untuk mencari ide-ide baru yang brilian dan marketable. Keuntungan fokus lainnya adalah, jika kita dihadang masalah, maka otak kita hanya seratus persen digunakan untuk menghancurkan atau mengatasi masalah itu. Dan yang terpenting, kita bisa menemukan cara kerja yang paling praktis untuk membuat buku secara konsisten. Saat ini, saya belum menemukan penulis, terutama buku komputer, yang concern terhadap penulisan buku saja. Kebanyakan, mereka masih menyambi sebagai dosen atau pengajar.

Pandangan Anda terhadap statement bahwa seorang penulis harus mampu “menjual” diri dan gagasannya?
Menjual gagasan sangat penting karena buku adalah gagasan kita. Kalau gagasannya jelek, bukunya nggak ada yang mau beli. Untuk yang satu ini, tidak perlu dibahas lagi karena core buku adalah ide atau gagasan. Sedangkan kalau bisa “menjual” diri, itu relatif. Jika ingin sukses, “menjual” diri itu penting baik dengan cara menjadi pembicara seminar, pengajar, atau konsultan. Tapi di dunia buku komputer, fenomenanya agak nyentrik. Orang beli buku komputer karena butuh. Jadi, walaupun si pengarang ngetopnya bukan main, tapi kalau bukunya nggak dibutuhkan, maka penjualannya pun tidak terdongkrak. Tapi mengenai hal ini, sifatnya masih bisa diperdebatkan karena belum ada penelitian yang spesifik.

Selain keuntungan royalti, hal apa saja yang Anda raih dari menulis?
Buku yang saya tulis bisa diibaratkan “kartu akses” untuk memasuki “wilayah” tertentu. Saya ambil contoh, beberapa bulan yang lalu saya berkeinginan mengajar Photoshop level advance di salah satu lembaga kursus paling top dan bergengsi yang kebetulan buka cabang di Yogyakarta. Karena saya sudah membuat banyak sekali buku Photoshop, maka tidak butuh surat lamaran, referensi, fotokopi ijazah, dan atribut-atribut lamaran lainnya untuk bergabung menjadi pengajar di lembaga kursus tersebut. Malah untuk honornya, bisa dinegosiasi he he he. Selain itu, saya juga punya kenalan orang-orang perbukuan dan pihak-pihak yang bergerak di industri software. Pernah ketika mengadakan seminar di UPH, salah satu petinggi Microsoft mentraktir kami makan siang sambil membahas kecanggihan Office 2007. Ini merupakan pengalaman yang menarik.

Bisa Anda tambahkan tentang Jubilee Enterprise?
Jubilee Enterprise merupakan hasil dari konsep industrialisasi penulisan yang telah saya pikirkan sejak lama. Awalnya, Jubilee Enterprise bergerak di bidang web design karena saat didirikan tahun 1999, era dotcom sedang seru-serunya. Tapi karena merasa bahwa bidang ini tidak menantang, maka saya ubah menjadi media content provider yang tujuan akhirnya adalah membuat buku-buku komputer secara massal lewat SOP yang saya ciptakan sendiri.

Berkaitan dengan menulis, adakah obsesi yang masih tersisa?
Dunia penulisan itu sangat luas. Saat ini saya memang berkonsentrasi di buku komputer. Tapi obsesi saya, saya atau Jubilee Enterprise harus memiliki kapabilitas untuk menulis materi non-TI, seperti buku manajemen atau skenario film. Kita sudah mengarah ke sana. Jika terwujud, ada dua efek yang terjadi. Pertama, ada banyak orang yang bisa saya pekerjaan lagi sehingga sedikit-sedikit membantu mengatasi masalah pengangguran. Kedua, slogan Jubilee Enterprise benar-benar akan terpenuhi. Ingin tahu slogan tersebut? Sederhana kok. “Explore Everything”![ez]

Made Ngurah Bagiana: Kunci Sukses Saya Cukup Fokus di Satu Bidang


-





Siapa yang tak kenal Edam Burger? Bila Anda kebetulan berbelanja di Alfamart atau Indomart, kemungkinan besar akan menemui gerai burger ini. Di sebagian besar Alfa atau Indomart, memang selalu ada Edam Burger khususnya di Jabotadebek. Ukuran gerainya kecil, hanya satu meter persegi. Penjualnya pun hanya satu orang, tapi selalu sigap menggoreng roti dan daging lalu menjepitnya, bila ada pelanggan memesan. Edam ada di mana-mana dan menjelma menjadi jaringan burger paling luas di Indonesia.

Tapi, siapa yang mengenal nama Made Ngurah Bagiana? Nama Edam memang lebih terkenal ketimbang Made Ngurah, sang pemilik. Padahal, Edam berasal dari kebalikan namanya. Made jadi Edam. Suatu hari, Made kedatangan seorang wartawan. Dia bertanya, “Dari siapa Anda tahu saya?” Sang wartawan menjawab, “Wah siapa yang tak kenal Bapak?” katanya yakin sambil tersenyum. Made menukas dengan cepat, “Siapa bilang semua orang kenal saya? Tetangga-tetangga di sekitar saya aja belum tentu kenal saya…” Wartawan itu melongo, dia tidak menyangka pujiannya justru jadi bumerang. Made memang suka ceplas-ceplos dalam berbicara dan tak suka dipuji berlebihan. Dia mau yang sederhana-sederhana saja, dalam segala hal. Walaupun prestasinya harus diakui… luar biasa! Edam bisa disebut sebagai ikon burger kelas menengah bawah di Indonesia. Bicara burger lokal memang tidak bisa lepas dari Edam. Iniah salah satu perusahaan burger paling fenomenal di Indonesia. Bayangkan… gerainya kini sudah menyentuh angka 3.000. Yang bisa menyamainya mungkin hanya gerai Indomaret digabung dengan Alfamart!!!

Made Ngurah Bagiana, kelahiran Bali 1956, memulai bisnis burger secara tidak sengaja pada 1990. Dia melihat pedagang keliling burger yang sering lewat rumahnya dan kemudian tertarik untuk mencobanya. Lalu, berubah bukan hanya mencoba mencicipi melainkan mencoba berjualan. Dari mengayuh sendiri, Made mengembangkan burger kelilingnya dari satu perumahan ke perumahan lain di wilayah Jakarta Timur. Perlahan tapi pasti, Made sukses membiakkan gerobak burger kelilingnya menjadi puluhan buah. Dan, dia pun pensiun menjadi pengayuh gerobak, lalu menjelma menjadi juragan burger.

Tentu kerja keras dan keuletan menjadi salah satu kunci keberhasilan Edam. Disamping kesederhanaan Made, yang mempertemukannya dengan maestro wirausaha Bob Sadino, yang memberinya banyak ilmu, motivasi serta pengalaman. Pengusaha ini hanya lulusan STM, tapi bisa membuktikan diri mampu menjadi pengusaha sukses dengan bekal keuletan, kerja keras dan kesederhanaan tadi.

Berikut hasil wawancara reporter Pembelajar.com, Dodi Mawardi, dengan Made Ngurah Bagiana di gerai kafenya di Malaka Raya Klender Jakarta Timur beberapa waktu lalu.

Apakah latar belakang keluarga Anda pedagang sehingga bisa menjadi pengusaha burger?
Oh, bukan. Dulu saya justru seperti preman. Tapi bukan preman kayak zaman sekarang. Dulu premannya saya paling-paling jarang bayar ongkos kalau naik bis, rambut digondrongin. Ya, nakal-nakal gitu aja. Saya pindah ke Jakarta dari Bali sempat juga jadi tukang cuci pakaian, jadi kuli bangunan, dan kondektur PPD. Semua dilakukan untuk mengisi perut, termasuk jadi preman itu.

Toh, akhirnya saya pensiun jadi preman. Gantinya, saya berjualan telur. Saya beli satu peti telur di pasar, lalu diecer ke pedagang-pedagang bubur. Ternyata, usaha saya mandek. Saya pun beralih menjadi sopir omprengan. Bentuknya bukan seperti angkot ataupun mikrolet zaman sekarang, masih berupa pick-up yang belakangnya dikasih terpal. Saya menjalani rute Kampung Melayu-Pulogadung-Cililitan. Selama setahun pahit getir menjadi sopir dan kenek saya nikmati bulat-bulat. Saya sangat menikmati prosesnya. Bagi saya, menjalani hidup itu enaknya sepeti air yang mengalir. Jalani saja tanpa perlu merencanakan menjadi apa kita nanti.

Terus bagaimana ceritanya bisa berbisnis burger?
Sepertinya tak ada usaha yang mudah saat itu. Semuanya dimulai dengan modal apa adanya. Saya teringat, waktu itu keluarga saya kesulitan ekonomi. Untuk makan saja sepertinya sudah pas-pasan. Tanpa sengaja, saya melihat orang berjualan burger di depan rumah saya di sekitar Perumnas Klender. Saya pikir, tak ada salahnya mencoba. Saya nekat meminjam uang ke bank, tapi tak juga diluluskan. Akhirnya saya kesal dan malah meminjam Rp1,5 juta ke teman untuk membeli dua buah gerobak dan kompor. Belakangan giliran bank-bank itu yang mengejar saya ha ha ha.

Lalu kenapa namanya Edam?
Awalnya bukan Edam. Dulu saya labeli Lovina, sesuai nama pantai di Bali yang sangat indah. Tapi kemudian berubah jadi Edam. Itu nama pemberian dari Bob Sadino. Saya kan lama menggunakan daging Kemchick. Mungkin karena track record yang bagus, cash flow yang baik dan volume yang terus meningkat, membuat Pak Bob tertarik untuk mengenal saya lebih jauh. Bob ingin bertemu dengan saya. Dari pertemuan itu, akhirnya terjalinlah hubungan kemitraan yang makin harmonis. Saya bernama Made, istri saya pun bernama Made. Oleh Pak Bob, diberi nama “Edam” yang artinya, ya, Made kalau dibaca dari kanan ha ha ha…

Bagaima ceritanya Edam bisa tersebar di mana-mana?
Wah, ceritanya panjang Mas. Banyak suka dan duka yang saya alami. Di awal-awal saya jualan, tak jarang tak ada satu pun pembeli yang menghampiri. Padahal, seharian saya mengayuh gerobak. Mereka mungkin berpikir, burger itu pasti mahal. Padahal, sebenarnya tidak. Saya hanya mematok harga Rp1.700 per buah. Baru setelah tahu murah, pembeli mulai ketagihan. Dalam sehari bisa laku lebih dari 20 buah. Susahnya kalau hujan turun, saya tak bisa jalan. Roti tak laku, akhirnya ya dimakan sendiri. Masih untung karena istri saya bekerja, setidaknya dapur kami masih bisa ngebul. Tapi pas hujan itu ada cerita yang membuat saya miris juga. Saya hampir mati disambar petir. Saya sudah tertelungkup di tanah dan basah kuyup.

Tahun 2000-an lah yang menjadi titik awal perubahan Edam. Ya sejak kenal dengan Bob Sadino. Lalu bekerja sama dengan Bogasari, Edam makin cepat berkembang. Saya pun mengajak banyak orang untuk bergabung sebagai mitra. Ya, saya nggak tahu sekarang berapa gerai yang sudah ada.

Kok bisa harga Edam lebih murah dibanding burger yang lain?
Burger ini kan makanan dari barat dan diposisikan di kelas atas. Dia tidak memosisikan di menengah dan ke bawah. Setelah saya coba ternyata cost-nya ini murah. Ini strategi pemasaran yang dianggap salah, tapi dibenarkan masyarakat. Bahkan di perkampungan di gang-gang itu Edam bisa hidup. Saya bikin roti cuma 500 perak, daging 700 perak. Beserta bumbu dan sayurnya cuma 2.000 perak. Kita mau cari untung 1.000 perak saja cuma 3.000. Jadi, mengapa dijual 10.000 perak? Jadi, saya memosisikan ini buat masyarakat di bawah.

Anda menggunakan konsep yang mirip waralaba, sebelum konsep ini marak di Indonesia. Belajar darimana?
Wah, awalnya saya ndak tahu istilah itu. Saya hanya jalan saja, lakukan saja. Ndak pakai mikir-mikir yang panjang. Waktu itu untuk mengembangkan usaha, saya mengajak ibu-ibu rumah tangga berjualan burger di depan rumah atau sekolah. Mereka ambil bahan dari saya dengan harga lebih murah. Sungguh luar biasa, upaya saya berhasil. Dalam dua tahun, gerobak burger saya beranak menjadi lebih dari 40 buah. Saya pun pensiun menjajakan burger berkeliling dan menyerahkan semua pada anak buah.

Anda sering menyebut waralaba ini sebagai franchise Pancasila. Apa maksudnya?
Saya hanya berikan keadilan bagi yang punya modal besar, modal kecil, bahkan tidak punya modal. Jadi saya sudah menjalankan sila kelima. Kalau sudah begini, maka sila pertama juga otomatis Tuhan akan bantu saya mengatasi kemelut persoalan yang saya alami. Franchise Pancasila ini tidak ada di mana pun di dunia ini. Kalau yang namanya franchise itu kan aturannya baku. Misalnya Rp10 juta dan ada orang tidak punya uang segitu ya tidak bisa. Kalau di sini ada yang mulai dari paket seharga Rp15 ribu. Kalau tidak punya yang dua juta, maka bisa ambil counter-nya saja. Kompor gas pakai punya sendiri. Nah, di sinilah kekuatan Edam, hingga tiap kabupaten minta.

Wah, ternyata Anda pengikut setia Pak Harto ya he he he. Kok bisa membuat franchise semacam itu?
Saya ini sudah membangun Edam sejak 1990, berarti 17 tahun. Saya bilang melayani orang berak itu tidak boleh sombong. Ya saya tidak franchise-kan. Jadilah saya franchise-kan dengan pemikiran saya itu. Bahwa uang itu bukan segala-galanya. Saya tidak mau meninggalkan masyarakat bawah yang pakai sendal jepit, karena saya dulu juga dari situ juga asalnya. Kalau saya franchise-kan seperti franchise-nya orang luar negeri, orang itu tidak bisa menemui saya dan membeli produk saya kecuali dengan membawa uang sekian juta. Sekarang mereka dengan 1.000 rupiah saja bisa. Silahkan datang ke tempat saya. Tapi yang jujur ya, soalnya banyak juga yang bohong.

Anda menyebut Edam Burger sebagai burger dengan cita rasa Indonesia. Bagaimana ceritanya?
Tahun 1996 saya mencoba membuat roti sendiri dan membuat inovasi cita rasa saus. Seminggu berkutat di dapur, hasilnya tak mengecewakan. Saya berhasil menciptakan resep roti dan saus burger bercita rasa lidah orang Indonesia. Rasanya jelas berbeda dengan burger yang dijual di berbagai restoran cepat saji. Ini bukan kata saya saja lho, tapi pendapat dari konsumen. Buktinya, Edam Burger disukai mereka. Tidak hanya sampai di situ. Saya juga bekerja sama dengan Bogasari untuk pengadaan roti yang bercita rasa khusus. Lalu kepada Pak Bob, saya memaparkan keinginan agar daging untuk burger saya mempunyai rasa yang berbeda. Pak Bob pun membuatkannya.

Seperti apa sih konkretnya burger cita rasa Indonesia itu?
Ya, sulit Mas menjelaskannya. Mas harus mencobanya. Tapi sebagai contoh saya punya rasa burger di tiap wilayah berbeda. Saya bikin burger di Yogya agak manis, Kalau di Padang agak pedas. Jadi ikuti selera penduduk setempat. Itu inovasi saya.

Oh, Anda juga suka berinovasi?
Inovasi itukan pelayanan. Mungkin sekarang burger bulat, jadi saya bikin lonjong, atau kalau perlu kotak. Sekarang ada burger namanya Blenger. Itu harganya Rp8.000-10.000, orang dewasa sekali makan langsung kenyang. Ok, saya tidak mau kalah, saya bikin burger Blengsek. Itukan lahir karena adanya kompetitor, maka saya bikin burger Blengsek. Jadi orang yang makan akan keblengsek.

Jadi sekarang berapa jumlah gerai Edam?
Wah, saya sendiri ndak tahu persis. Nggak sempat ngitung. Tapi hampir di semua kabupaten ada Edam. Setiap hari selalu ada permintaan. Saya juga ke sana ke mari berkeliling.

Sekalian jadi pembicara seminar juga, ya?
Sebenarnya saya ndak bisa ngomong. Saya kalau ngomong ya apa adanya. Ndak pakai teori-teori. Ini pengalaman saya, ya ini yang saya omongkan. Tapi katanya justru itu yang menarik. Saya diundang perusahaan, para pensiunan, malah sempat beberapa kali seminar di kampus. Saya senang banget, karena lulusan STM bisa mendikte calon dokter. Saya itu suka kalau disuruh jadi pembicara di kampus, karena saya kan dulu tidak kuliah. Jadi sekarang saya tanpa uang bisa masuk kampus, bahkan bisa jadi orang. Lucu jadinya.

Berkali-kali Edam mendapatkan penghargaan dari berbagai pihak. Apa maknanya buat Anda?
Jujur saja, saya tak pernah memimpikan bakal punya usaha sebesar ini. Dulu, ketika memulai, saya hanya memodalkan dua gerobak roti burger dengan modal apa adanya. Karena saya ulet, akhirnya usaha saya selama 17 tahun ini membuahkan hasil. Saya merasa ini sebagai karunia Tuhan yang patut saya syukuri.

Ini pertanyaan yang paling ingin diketahui banyak orang. Apa kunci sukses Anda?
Kuncinya tak banyak. Cukup fokus pada satu bidang, yaitu menjual roti burger berkualitas tinggi dengan harga terjangkau, ulet meluaskan pangsa pasar dan menjaga hubungan dengan para pelanggan. Saya yakin dengan filosofi menabur dan menuai. Siapa yang menabur kebaikan, pasti berbuah kebaikan juga. Saya juga tidak pernah malu dan gengsi mengerjakan apa pun asal halal dan terhormat. Bagi saya, kesuksesan itu seperti pintu yang bisa dilewati siapa saja, asal orang itu punya komitmen terhadap usahanya.

Edam sudah besar dan berbiak kemana-mana. Anda masih punya impian apalagi?
Saya ndak tahu mau apa nanti. Yang saya dapat ini juga tidak saya rencanakan. Edam ini kan bergerak di bidang makanan. Dan makanan itu kan tidak pernah berhenti. Di situ kan banyak potensi. Potensinya itu orang. Kalau saya punya usaha roti, maka potensinya adalah orang yang memakannya. Ke depannya saya akan mengurusi orang makan. Entah apa atau apa itu akan mengalir dan nanti seleksi alam. Harapan saya, di sini kan saya usaha burger. Dan ada roti, sayuran, dan daging. Di sini ada komposisi mineral karbohidrat dan protein. Ini agar orang-orang itu mengonsumsi makanan yang berprotein, mineral, dan karbohidrat. Jangan sampai kayak di Bogor banyak sayur, tapi orang Bogor kurang makan sayur. Ke depan saya ingin paling tidak orang Indonesia makan burger sebulan sekali lah. Tidak usah seminggu sekali.[dm]

* Dodi Mawardi dapat dihubungi di: dmawardi2000@yahoo.com

SEMANGAT PENGABDIAN



Oleh: Suyanto Suyadi

“Love your employees and respect them.
~ Cintailah dan berikan penghargaan kepada mereka.”

Loyaliyas - semangat pengabdian.

Semua kita setuju, manakala dikatakan bahwa kita harus customer oriented, berorientasi kepada pelanggan.

Pelanggan adalah nyawa atau sumber kehidupan bagi kita semua. Dengan mencintai pelanggan, Anda pun didorong untuk berkembang karena ketika Anda mencintai seseorang, pastilah Anda ingin memberikan yang terbaik. Dengan cinta pulalah, pelanggan kita akan menjadi orang-orang yang lebih loyal (customer loyalty) dan karyawan bekerja smart (cerdik) sehingga bisnis menjadi lebih sukses. Atasan menuntut setiap orang harus mencintai pelanggan dan membantunya. Pertanyaannya, bagaimana harus mencintai pelanggan kalau dirinya tidak diperhatikan atau dicintai atasannya?

Employees loyalty - kesetiaan keryawan.

Loyalty (loyalitas) berarti : kesetiaan, ketaatan, atau kepatuhan.

Timbul pertanyaan sekarang. Mengapa karyawan loyal? Atau sebaliknya, sering kita dengar betapa mudah seorang manajer mengatakan, ”Wah kalau itu sih … memang tidak ada loyalitasnya, motivasinya rendah, sering tidak masuk dengan berbagai alasan, sulit membantu pelanggan.”

Teringat acara service awards (acara pemberian penghargaan terhadap karyawan yang sudah bekerja dan setia memberikan pengabdiannya selama 25 tahun atau 9125 hari). Salah seorang penerima service award memberikan kesaksiannya, ”Sudah lebih dari 25 tahun saya menegabdi dan kalau saya bandingkan, jaman dulu rasa kebersamaan sesama karyawan tinggi sekali dan kita bekerja nggak kenal capai, serabutan, saling bantu satu sama lain. Sekarang … baru masuk sudah keluar lagi, gonta ganti manajer“.

Mengapa dahulu banyak karyawan yang patuh, taat, dan setia? Dan mengapa sekarang tidak? Bahkan masuk sebentar sudah keluar lagi untuk pindah ke tempat lain.

Masih bicara loyalitas, saya belajar dari puteri saya, Paramita (27 tahun) yang baru bekerja sebagai konsultan IT di sebuah perusahaan swasta di Jakarta selama tiga tahun. Selama tiga malam, dia tidak pulang dan memilih tidur di tempat kerja untuk menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan oleh atasannya. Pekerjaan yang dilakukannya adalah menyelesaikan proses perubahan sistem yang terintergrasi (integrated system ).

Saya mencoba menanyakan apa yang mendasarinya semua itu , dan jawabannya luar biasa !

“That is my responsibility,” katanya dengan santai.

Kemudian saya tanyakan kembali, “Apakah itu berarti kamu loyal kepada perusahaan?”

Ternyata jawabannya lebih menarik lagi.

“Bukan loyal, patuh, taat, atau setia pada perusahaan atau atasan … tetapi loyal terhadap diri sendiri. Bagaimana saat pertama bergabung sudah memberikan komitmen untuk memberikan yang terbaik. Keberadaan karyawan adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari keberhasilan organisasi,” katanya lebih lanjut.

Memang benar kita harus menyenangi pekerjaan yang diberikan di samping lingkungan kerja yang ada, seperti hubungan sesama rekan, terhadap bawahan maupun dengan atasan.

Masih belum puas, saya tanyakan kembali, “Bagaimana peranan atasan dalam membimbing timnya sehingga setiap orang bersedia melakukan itu semua?”

Puteri saya itu menambahkan, “Ya, itu karena contoh nyata. Walaupun sebagai owner sekaligus atasan atau pimpinan tim, dia selalu memberikan rasa hormat pada semua orang. Selain itu dia juga terbuka, mau menerima masukan dari semua orang, menghargai setiap individu, selalu memanggil nama, tidak menyalahkan serta menjadikannya setiap individu sebagai team player. Di samping itu, dia juga selalu membangkitkan semangat, memberikan dorongan bahwa di dalam hidup ini harus mampu berbuat sesuatu yang berarti untuk orang lain.”

Isteri saya yang pernah bekerja untuk pertama kali dan terakhir (pensiun dini selama dua puluh dua tahun di Astra), saya tanyakan hal yang sama tentang loyalitas karyawan.

”Bagaimana sampai bisa 22 tahun bertahan di Astra? Apa yang menyebabkan itu bisa terjadi?”

“Ya, pengabdian itu sebuah proses panjang. Yang saya rasakan, Astra hadir saat karyawan membutuhkan. Awal bekerja saja, banyak orang mengatakan: Enak ya bisa diterima di Astra, perusahaan yang mapan,” begitu ujarnya.

Lebih lanjut isteri saya mengatakan, ”Bekerja di Astra membuat semua orang betah dan merasa aman. Hal ini disebabkan oleh :
Gaji yang diberikan cukup untuk hidup, sehingga tidak merepotkan orang tua dan diberikan setiap bulan tidak pernah sekalipun terlambat
Penghargaan terhadap karyawan yang berprestasi dirasakan adil
Suasana kerja penuh keakraban, seperti berada di lingkungan keluarga, saling menghargai sesama rekan dengan atasan
Mendapatkan perlindungan saat karyawan sakit, biaya pengobatan diganti penuh, saat karyawan mengalami musibah kematian diberikan bantuan yang cukup
Ikatan karyawan yang menjadikan budaya apabila ada rekan yang dirawat di rumah sakit secara bersamaan mengunjunginya
Pemberian bonus dan tunjangan hari raya, yang memberikan tambahan penghasilan untuk kebutuhan lainnya atau untuk ditabung
Family day – hari bersama keluarga, bagi seluruh karyawan beserta keluarganya menikmati keceriaan

Saya pun merasakan itu, karena tahun 1975 sampai dengan 1985 di Astra lah tempat pertama bekerja. Setiap manajer mempunyai mind set – pola pikir mengikuti apa yang dilakukan oleh Oom William – panggilan akrab bapak William Suryajaya, pendiri Astra.

Setiap pagi sebelum menuju ke ruangannya, Oom William selalu ngobrol bersama orang-orang yang ditemuinya untuk menanyakan kesehatan baik dirinya maupun keluarganya. Bahkan makan siang bersama di kantin pun tidak ada sekat atau pemisah antara direksi dengan pengemudi. Semua makan dengan menu dan meja sang sama.

Makna Corporate Philosophy Astra
Filsafat perusahaan, yang merupakan nilai - nilai hakiki yang diyakini kebenarannya :
1. Best service to customer’s (memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan)
2. Respect for individual, not blame to the other’s (Menghargai sesama dan tidak saling menyalahkan)
3. Strive for excellence (Terus berusaha mencapai yang terbaik)
4. Improvement of team work (Meningkatkan kerja sama tim)

Untuk dapat memiliki loyalitas - semangat pengabdian, kesetiaan, adalah menanamkan semangat pada diri sendiri bahwa kita hadir di dalam organisasi untuk memberikan sesuatu yang kita miliki dan karena itulah kita mendapatkan imbalan .

Jadi jangan sekali-kali mempunyai pikiran bahwa kehadiran bekerja hanyalah “kuli “atau merendahkan diri. Disamping itu adalah pekerjaan itu sendiri. Kalau kita tidak meminati atau menyenangi tentu saja akan mengalami hambatan.

Teringat buku laris The 7 Habits of Highly Effective People – Stephen R. Covey, kemudian di dalam buku barunya The 8th habits. Habit – kebiasaan ke delapan yaitu “Find your Voice and Inspire Others to Find Theirs “.

Untuk mencapai greatness, anda harus bisa menemukan voice-suara anda, dan memberikan inspirasi kepada orang lain untuk menemukan voice nya masing-masing. Voice - adalah sesuatu yang unik yang dimiliki seseorang, dan itu bisa muncul ketika menghadapi tantangan besar .

Tantangan itulah yang menggerakkan kemampuan dan energi kita untuk mewujudkan suatu capaian yang luar biasa – greatness. Voice – merupakan potensi terpendam, dan ini merupakan energi spiritual yang menggerakkan, memotivasi, menumbuhkan kesetiaan untuk mencapai capaian luar biasa.

Istilah tidak loyal, harus terus dicari penyebabnya atau ditanyakan kembali kepada kita semua yang merasa menjadi manajer / atasan mereka.

Saat memberikan pelatihan di hero dan istirahat siang tiba – pukul 12.30, beberapa karyawan yang sedang mengikuti pelatihan membicarakan atasan mereka. Terdengar salah satu diantara mereka memberikan pertanyaan kepada temannya “ Eh, kamu sih enak sama Bapak Djibril, segala macam diajari , dia baik ya , gimana sih cara kamu melakukan pendekatan kepadanya ?” Tanyanya agak sewot.

Mendengar pertanyaan ini, teman yang satu ini dengan gampangnya menjawab “ Tergantung kita juga, setiap diberikan tugas, kita harus mengerti benar tentang apa yang harus dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, siapa saja atau unit mana yang terkait, kalau tidak selesai, apa dampaknya bagi orang lain ”. Jawab yang satunya.

“Pernahkah dimarahi atau dikatakan tidak loyal atau motivasinya rendah ?” tanyanya lagi dengan nada yang lebih tinggi.

Dengan santainya karyawan yang satu ini menjawab “ Orang dimarahi itu pasti ada sebabnya dan selama yang disampaikan atau penyampaiannya itu benar, kita harus menerimanya dengan senang hati dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama . Kalau dikatakan loyalitas atau motivasinya rendah belum pernah.” .

Selama tidak dilandasi oleh kesengajaan, semua orang bisa melakukan kesalahan. Manajer harus berani menegur, membimbing, mengarahkan serta memimpin bawahannya dengan situasi yang tepat, saat yang tepat serta derajat yang tepat ;

Sedangkan bawahan, harus memberikan rasa hormat dan secara tulus menerima semua pengarahan atau perbaikan yang diberikan oleh atasannya. Di dalam hidup ini harus saling mengingatkan, terlebih untuk menuju kebenaran dan menjadi orang yang sabar.

* Suyanto Suyadi adalah seorang trainer dan konsultan personal and organization development dari PT Sedya Sandika. Saat, ini sedang menulis sebuah buku tentang renungan bagi para manajer. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail: ss_otnay@yahoo.com

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman