Selasa, 16 Desember 2008

Kesalahan Fatal Kebanyakan Marketer (Freebie Inside)

Dear Kalian,

Buat kebanyakan orang yang mau membuat produk/jasa mereka
sendiri untuk dijual kepada konsumen => mereka pada umunya
membuat kesalahan yang fatal.

Apa kesalahan fatal tsb?

Kesalahannya adalah mereka membuat produk/jasanya terlebih
dahulu, lalu setelah produk/jasanya sudah ready, mereka
tanya kepada dirinya:
"Nah sekarang produk gue uda jadi, terus gue harus jual ke
siapa ya?"

Dulunya saya juga melakukan kesahalan seperti ini, tapi
untungnya dari kesalahan2 tsb, saya jadi belajar deh :)

Seharusnya mereka mencari target audience atau target pasar
untuk produk/jasa mereka terlebih dahulu sebelum membuat
produk tsb.

Lah, kalo uda cape2 buat produk terus ga ada yang minati
buat apa?

Kalau sudah dapat target audience, barulah buat produk/jasa
yang bisa menyelesaikan masalah2 mereka.

Tetapi gimana caranya untuk mengetahui masalah2 mereka?
Caranya adalah dengan menggunakan forum.

Saya telah membuat sebuah video yang membahas ini khusus untuk anda sebagai member Internet Marketing Newsletter saya, dan anda bisa
download secara GRATIS di:

==> Download Videonya Di Sini

Anda bisa menonton video tsb


Sukses Untuk Anda Kalian!
Welly Mulia

N.B. Jangan hanya download tetapi ga pernah dipelajari
video tsb ya. Ingat lakukan ACTION!

==> Download & Pelajari Videonya Sekarang


===================================

Apabila anda ada pertanyaan, silakan menggunakan support desk saya di
http://AskWellyMulia.com

JANGAN reply ke email ini karena tidak akan ada yang melihatnya.

Untuk memberi layanan yang lebih baik kepada anda, silakan menggunakan support desk saya di http://AskWellyMulia.com

===================================



















.

JL. Pluit Raya. No. 15
Jakarta 14450, Indonesia

You may unsubscribe or change your contact details at any time.

PILIH MENULIS ATAU MATI?

- 10 Desember 2008 - 18:24 (Diposting oleh: Editor)


Belum lama berselang, saya mengisi pelatihan (workshop) menulis untuk sebuah bank papan atas yang punya slogan “Melayani Negeri, Kebanggan Bangsa”. Para pesertanya datang dari berbagai kota di Indonesia, yang mana mereka adalah jajaran manajerial bank tersebut. Sehari-hari, para staf pilihan ini menangani publikasi, kehumasan, dan media internal perusahaan. Dan, bukan hal mudah mengisi lokakarya—yang idealnya hanya diikuti 10-20 orang itu—namun diikuti oleh 50 orang.

Tampil pada kesempatan pertama (sebelumnya ada sesi internal), saya dipaksa untuk memutar otak, bagaimana menaklukkan minat dan perhatian para peserta? Akhirnya, saya teringat dengan sebuah game penulisan yang saya praktikkan pada workshop SPP sebelumnya. Seingat saya, game ini baru sekali saja saya perkenalkan dan praktikkan, jadi pastilah belum banyak peserta yang tahu. Begini permainannya…

Saya perkenalkan diri dan umpamakan diri saya adalah Sang Malaikat Pencabut Nyawa. Peserta di hadapan saya, saya posisikan sebagai orang-orang yang hanya punya kesempatan sekali saja, untuk membujuk saya supaya tidak “mencabut nyawa” mereka dengan segera. Wah, ngeri ya…

“Saya Malaikat Pencabut Nyawa… Anda semua saya beri kesempatan, yang TERAKHIR kalinya, untuk menyampaikan satu pesan TERPENTING yang mesti Anda sampaikan kepada orang-orang terkasih, atau orang-orang yang paling Anda cintai. Renungkan pesan terakhir itu, tuliskan pesan itu, lalu SMS ke tiga nomor handphone saya ini…. Ingat, waktu Anda hanya 5 menit, tidak lebih, tidak kurang…. Mulai!”

Begitu kata ‘Mulai!’ saya teriakkan, saya lihat para peserta langsung pencat-pencet handphone. Mereka tampak serius sekali menuliskan pesan “terakhirnya”. Sambil mengamati aktivitas mereka itu, saya kembali ngomporin mereka. “Ingat, kita tidak tahu kapan Tuhan akan benar-benar memanggil kita ke pangkuan-Nya. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Jangan sampai pesan terpenting dalam hidup Anda tidak tersampaikan. Dan, jika pesan Anda benar-benar menyentuh, si ‘Malaikat Pencabut Nyawa’ ini pasti akan memberikan ‘sesuatu’ kepada Anda….”

Kurang dari 5 menit, kedua handphone yang saya bawa tak henti-hentinya bergetar. Pesan-pesan singkat masuk satu demi satu, sampai jumlahnya mencapai 50-an SMS. Rupanya, saya dapatkan pesan-pesan terpenting yang sangat bervariasi. Ada yang biasa saja, namun ada yang menurut saya sangat menyentuh. Berikut adalah seperlima dari seluruh yang masuk, dan saya pilih karena saya anggap memang penting dan cukup mengena di hati:

“Tiada kalimat yg paling indah di dunia ini selain doa.” (081234xxxxx)

“Hal yg terbaik dan yg terindah dalam hidup aku adalah mengenal kamu.”(0813494xxxxx)

“Untuk anak-anak bertiga seandainya mama meninggalkan kalian lebih dulu izinkan ayah menikah lagi.” (081210xxxxx)

“Ingatlah, hidup dan mati adalah kuasa Sang Pencipta sementara waktu terus berjalan dan tdk akan pernah bisa kembali lagi, maka sebelum terlambat berjalanlah terus di jalan Tuhan.” (081239xxxxx)

“Istriku tercinta, jika aku mati, bisakah engkau ikhlaskan bagian tubuhku yg msh bermanfaat engkau donorkan bagi org yg membutuhkan, semoga Allah meridoi kita di akherat.” (081217xxxxx)

“Anak-anakku hiduplah dgn penuh rasa syukur dan kebanggaan, bangga menjadi diri sendiri, bangga utk selalu memberi yg terbaik pada sesama.” (08118xxxxx)

“Ya Allah terima kasih atas berkah & kesempatan yg telah Kau berikan kepada kami. Byk kelokan perjalanan telah kita lalui. Anak-anakku ayah adalah makhluk langit yg dititipkan di bumi. Utk itu ingatlah bahwa apa yg kita punya adalah apa yg kita berikan. Berbagilah dgn sesama, jadilah anak sholeh.” (081226xxxxx)

“Anak-anakku bersyukurlah karena Allah memberi kita banyak kelebihan. Kita punya banyak hal baik yg dpt kita bagi pada sesama. Berbanggalah krn kita memiliki harga diri. Harga diri yg dibangun dari kejujuran, diperoleh dari kerja keras bukan kemalasan, ditempa melalui ujian, didasari dgn kerendah hatian bukan kesombongan. Karena kita tahu kita bukanlah apa2 dan bukan siapa2. Kita adalah makhluk Allah yg diberi kesempatan memaknai hidup.” (08118xxxxx)

“Hidup itu perjuangan, hadapi dengan tabah. Ingat Tuhan beserta kita. Dalam menjalani hidup ini tentunya banyak yang kita jumpai, suka, duka, sedih, senang, senyum dan air mata selalu saja kita jumpai, itulah kehidupan. Semuanya itu pasti akan berakhir, semua sudah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Kita yg mengerti akan itu yg mampu bertahan dan tegar jika tiba saatnya utk bertemu dgn perpisahan. Org tabahlah yg akan tetap kokoh tentunya selalu bersama Sang Pencipta.” (081278xxxxx)

“Tgl 19 November 2008 adalah hari yang bersejarah bagi kita.Waktu itu hari yang penuh kebahagiaan untukku, pada tahun ini perkawinan kita yang ke-13 thn, 2 anak telah kuberikan untuk mas, dan 13 thn hati ini telah kutempatkan utk suamiku, semoga tempat itu tetap di tempatnya walaupun banyak hal menggoyangkannya sehingga hati itu tdk tumpah atau jatuh dari tempatnya begitu pula sebaliknya. Jika saya tdk ada nanti semoga suamiku selalu ingat hari2 bersejarah kita dan anak2 kita karena tdk ternilai harganya walaupun dgn materi sekalipun dan tolong tetap jaga anak2 kita dengan kasih sayang, karena mrk adalah cahaya surga bagi kita, tolong didik atau ingatkan mrk selain ilmu dunia juga ingat akhirat sehingga menjadi anak sholeh dan sholeha, karena mrk yg akan mengirim doa pd kita nanti.” (081611xxxxx)

Bagaimana kesan Anda setelah membaca pesan-pesan singkat tersebut? Tersentuh, tertawa, terinspirasi, atau malah dapat ide untuk menulis buku kumpulan SMS “pesan terakhir”? Hehehe…. Saya sendiri cukup takjub dan terharu dengan pesan-pesan mereka itu. Sama persis ketika pertama kali memperkenalkan game tersebut ke peserta di SPP tahun lalu, di workshop ini saya rasakan, bahwa pada dasarnya kita semua ini adalah makhluk-makhluk Tuhan yang penuh kasih…

Nah, apa pesan yang ingin saya sampaikan melalui game tersebut? Ini dia… Saya tegaskan kepada seluruh peserta, bahwa sejatinya kita semua itu bisa menulis. Entah itu dengan cara dipaksa, ditugaskan, atau atas kesadaran sendiri dan motivasi-motivasi lainnya, pokoknya tidak ada orang yang tidak bisa menuliskan gagasannya. Dengan satu dan lain cara, pasti bisa, dan pasti ada caranya!

“Terbukti, kan? Anda semua pilih menulis daripada dicabut nyawanya, kan…?!” gurau saya, disambut ketawa para peserta. Beberapa dari mereka manggut-manggut dan mengacungkan jari untuk berkomentar.

Dari catatan saya, sejumlah peserta mengungkapkan, bahwa menuliskan pesan terakhir itu gampang-gampang susah. Namun, game itu memaksa mereka untuk jujur pada diri sendiri saat menulis. Game itu juga membuat mereka menulis dengan melibatkan emosi yang amat dalam. Bahkan, saya ingat ada seorang peserta, ibu-ibu, yang ketika menyampaikan komentarnya sempat agak tersendat-sendat karena sangat terharu. Sebab, pesan yang dia tulis itu betul-betul merupakan ungkapan hati yang paling dalam, yang sangat ingin dia sampaikan kepada orang yang dia cintai.

Saya ingin menggarisbawahi soal menulis dengan jujur ini. Menurut saya, menulis dengan jujur, dengan curahan isi hati, dengan dorongan emosi atau motivasi tertentu, sungguh bisa memberikan nyawa kepada tulisan kita. Karena punya nyawa, tulisan itu benar-benar akan hidup dan bicara, dan karena itulah bisa menimbulkan pengaruh dalam diri pembacanya. Saya pikir, inilah cara menulis yang paling indah, yang mungkin—sadar atau tidak sadar—digunakan oleh para penulis terbaik sepanjang zaman.

Lanjut dengan workshop yang saya ceritakan itu. Saya sampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada para peserta yang mau melakukan game tadi dengan serius. “Nah, karena Malaikat Pencabut Nyawa yang ini sangat baik hati, dan Anda sekalian sudah menyentuh hatinya. Maka, Anda semua mendapatkan kesempatan seumur hidup untuk terus menulis, melanjutkan pesan-pesan terpenting yang hendak Anda sampaikan, kepada orang-orang yang Anda cintai. Jadi, jangan berhenti menulis, teruslah berbagi kasih.”[ez]

* Edy Zaqeus adalah seorang penulis buku bestseller, editor profesional, penerbit, trainer, dan konsultan penulisan/penerbitan dari Bornrich Consulting. Kunjungi blognya: http://ezonwriting.wordpress.com

DI BALIK KESUKSESAN DAN KEBAHAGIAAN HIDUP PRIA DAN WANITA

- 15 Desember 2008 - 07:49 (Diposting oleh: Hendri Bun)


Ada cinta, perhatian dan penghargaan dibalik kesuksesan dan kebahagiaan pria dan wanita. Tak heran jika sampai ada pepatah mengatakan bahwa di belakang seorang pria hebat pasti ada seorang wanita yang hebat. Begitupun sebaliknya, karena wanita dan pria diciptakan untuk saling melengkapi.

Contohnya dalam kehidupan Barrack Husein Obama, presiden AS terpilih ke-44. Tak hanya satu tetapi 3 wanita yang berperan besar terhadap kehidupan pria yang sedang hangat dibicarakan dunia akhir-akhir karena begitu diharapkan mampu menyelesaikan masalah-masalah peperangan, inflasi, krisis keuangan global dan menorehkan sejarah baru di AS maupun dunia. Ibu, nenek dan istrinya sangat berpengaruh terhadap sikap, pola pikir, hingga proses ia terpilih menjadi presiden pada tanggal 5 Oktober 2008 lalu.

Barrack Husein Obama adalah putra Ann Dunham, seorang wanita asal Wichita Kansas. Ibunya dikenal pandai bergaul dan mengedepankan pendidikan putra-putrinya. Oleh sebab itu, pada tahun 1972 ia membawa Obama kembali ke Honolulu-Hawaii untuk belajar dan diasuh neneknya. Obama dianggap mewarisi kepintaran ibunya dalam bergaul dan berbahasa.

Madelyn Dunham adalah wanita yang banyak mempengaruhi pola pikir dan sikap Obama. Wanita tersebut sangat realitis, disiplin, dan hanya berbicara seperlunya. Sikap dan pola pikir Obama pun terbentuk tak jauh berbeda dengan perilaku neneknya itu.

Sedangkan Michelle Robinson adalah wanita yang dinikahi Obama pada tanggal 3 Oktober 1992. Wanita yang mendapat Juris Doctor (J.D) degree dari Sekolah Hukum Harvard dan B.A cum laude di Princenton University tahun 1985 itu sangat besar perhatiannya terhadap keluarga terutama terhadap pendidikan kedua putrinya dan karir Obama. Ia adalah motivator yang handal bagi Obama terlebih selama masa kampanye pemilihan presiden AS.

Sejak bulan Mei 2007, wanita kelahiran Chicago 17 Januari 1964 itu makin intensif mendampingi suaminya berkampanye. Bahkan pada bulan Februari, dalam 8 hari Michelle menghadiri 33 acara dan 2 kali tampil dalam acara Oprah Winfrey Show. Michelle dianggap sebagai figur publik yang kharismatik sejak awal kampanye. Setiap pidatonya, terutama pada malam konvensi tanggal 25 Agustus 2008, telah berhasil memikat hati publik. Obama sangat beruntung memiliki istri, ibu dan nenek yang sangat membantu meraih keberhasilannya.

Begitulah wanita memiliki kekuatan sekaligus kelembutan sehingga mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan kita. Tuhan menjadikan wanita mahkluk verbal, yang dapat menyebabkan orang lain merasa nyaman dan bahagia, tetapi juga dapat menyebabkan frustasi dan stres. Begitupun seorang pria, ia juga berperan besar memberikan efek positif ataupun negatif.

Masing-masing individu, pria atau wanita sama-sama berperan penting sebagai agen perubahan positif, dengan syarat harus ada nilai-nilai penghargaan, perhatian dan cinta yang terpelihara diantara keduanya. Wanita memerlukan cinta, perhatian dan penghargaan seperti membutuhkan udara untuk bernafas, begitupun laki-laki. Oleh sebab itu perlakukan pasangan dengan cinta, perhatian dan penghargaan yang ia butuhkan, sebab setiap orang diciptakan sama-sama memiliki kekuatan sekaligus harga diri.

Penghargaan meliputi perhatian terhadap apa yang mereka lakukan, membiarkan masing-masing menjadi diri mereka sendiri dan berbeda dari diri Anda. Laki-laki dan perempuan sama-sama ingin dimengerti dan dihargai atas apa yang telah mereka usahakan. Untuk itu berusahalah saling mengikuti harapan atau kebijaksanaan masing-masing. Bertumbuhlah bersama, termasuk dalam hal intelektual.

Sementara itu, laki-laki dan perempuan mempunyai bahasa yang berbeda dalam mengungkapkan cinta, perhatian dan penghargaan. Dalam banyak hal wanita dan pria juga mempunyai cara yang berbeda dalam mengekspresikan cinta, perhatian dan penghargaan. Oleh sebab itu buatlah jurnal atau catatan yang dapat mengingatkan Anda untuk menghargai cinta dan perhatian pasangan.

Tentu saja tanpa memberi cinta, perhatian dan penghargaan terhadap orang lain maka Anda akan kesulitan mendapatkan hal serupa. “Jika ingin mengambil, Anda harus memberi lebih dulu. Inilah awal mula kecerdasan,” kata Lao Tzu (600-531 SM), seorang filsuf Cina, penemu ajaran Taoisme. Oleh sebab itu jangan segan mengekspresikan cinta, perhatian, dan penghargaan yang tulus terhadap pasangan. Karena Anda juga akan mendapatkan cinta dan penghargaan, yaitu modal maya paling berharga dibalik keberhasilan dan kebahagiaan hidup Anda.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com

Kamis, 13 November 2008

Dewi Lestari (Dee): Tulisan Saya Harus Mencerdaskan






Ternyata Dewi Lestari atau Dee memiliki keprihatinan yang sama dengan sejumlah pekerja seni dan kalangan penggerak kreatifitas, bahwa di negeri ini sedang tumbuh suasana ‘tidak toleran’. Ada sebagian kelompok atau orang yang suka memaksakan kehendak, pikiran, pendapat, dan keyakinannya. Akibatnya, orang lain atau siapa saja yang tidak sependapat dengan kehendak dan pikiran kelompok tersebut, sepertinya harus segera ‘ditundukkan’ atau ‘dipaksa’ mengikuti kemauan mereka.

“Saya agak khawatir dengan adanya kelompok-kelompok ekstremis yang memaksakan nilai tertentu dalam kerangka berekspresi. Kalau dibiarkan bisa membawa kesenian Indonesia terpuruk mundur, bahkan bisa membentuk karakter masyarakat yang tidak lagi kondusif untuk berkesenian,” tegas Dewi kepada Pembelajar.com.

Dalam serial novel Supernova-nya maupun esai-esainya, Dee memang dikenal memiliki ketajaman berpikir dan beranalisis. Ada nuansa pendobrakan, anti kemapanan, kegelisahan dan pencarian hal-hal yang sangat substantif sifatnya. Dee memang suka berfilsafat, seperti yang dia perlihatkan dalam karya terbarunya berjudul Filosofi Kopi (True Books & Gagas Media, 2006). Dalam buku yang berisi esai dan cerita pendek ini ia seperti hendak menggoda pembacanya supaya tidak sekadar memandang segala sesuatu seperti di permukaannya saja.

Dalam Filosofi Kopi, kembali Dee yang kelahiran Bandung, 20 Januari 1976, ini mengajak kita untuk berpikir lebih menjorok ke ranah substantif. Istri dari penyanyi kenamaan Marcell ini juga mengajak pembacanya untuk jadi cerdas. Seperti yang dia ungkapkan sendiri, “Tulisan saya harus bisa mencerdaskan dan mengusik keingintahuan orang untuk belajar lebih banyak lagi.” Tak heran jika karya-karya best seller-nya banyak dipuji kritikus sastra serta beberapa kali masuk dalam nominasi Katulistiwa Literary Award, sebuah penghargaan bergengsi di bidang sastra.

Kepada Edy Zaqeus dari Pembelajar.com, Dee mengungkap proses kreatif di balik karya terbarunya, Filosofi Kopi. Ia juga mengungkap soal arti sukses dalam dunia kepenulisan dan pentingnya branding bagi seorang penulis, motivasi menulis, cara memperlakukan ide, termasuk keprihatinannya terhadap panggung kreatifitas di negeri kita akhir-akhir ini. Berikut petikannya:

Kalau diungkap dalam kalimat-kalimat sederhana, Filosofi Kopi itu buku tentang apa?
Filosofi Kopi pada dasarnya adalah kumpulan cerita yang saya kumpulkan dalam kurun waktu 10 tahun. Jadi isinya bermacam-macam. Setelah selesai mengompilasi barulah saya menyimpulkan sendiri bahwa benang merah cerita-cerita dalam buku ini adalah kisah tentang cinta yang bertransformasi, dari sekadar kumpulan emosi menjadi sebuah jatidiri.

Mengapa memilih judul Filosofi Kopi?
Filosofi Kopi saya pilih karena catchy saja. Asosiasinya ke suasana orang mengobrol, berfilsafat kecil-kecilan, sambil ngopi-ngopi sore. Dan pada momen seperti itu, kisah apa saja bisa jadi bahan obrolan. Jadi, judul tersebut memiliki ruang tafsir yang luas dan bisa memayungi cerita-cerita lain.

Hal baru apa yang ditawarkan?
Membuat kumpulan cerpen merupakan hal baru bagi saya, karena sebelumnya saya dikenal sebagai novelis, dan orang mengetahui saya selalu dari kerangka Supernova. Jadi bagi saya, maupun pembaca saya, buku ini bisa jadi refreshment. Sekalian menguak sisi-sisi dari Dewi Lestari yang belum diketahui. Formatnya yang beragam bisa juga jadi hal baru. Dalam Filosofi Kopi, ada prosa-prosa pendek juga. Jadi nggak selalu dalam bentuk cerpen sekalipun judulnya adalah kumpulan cerita. Variasi format ini saya dapat dari buku kumpulan cerita penulis favorit saya, Ana Castillo. Gara-gara baca bukunya saya jadi terinspirasi untuk membuat kumpulan cerita. Selama ini, soalnya saya terpentok soal format. Saya kalau bikin sesuatu susah patuh pada batasan format. Bikin cerpen suka kepanjangan. Bikin puisi yang keprosa-prosaan. Atau prosa yang kepuisi-puisian, dsb. Yang melatarbelakangi penulisan buku ini?
Pertama, untuk mengisi jeda waktu. Berhubung saya masih belum kelar menuntaskan Supernova Partikel. Selain itu juga untuk refreshing. Setelah saya bongkar-bongkar dokumen di komputer, saya menemukan banyak karya saya yang belum ‘keluar rumah’. Saya selalu mengibaratkan karya itu seperti anak. Supaya anak tumbuh sehat, dia harus keluar rumah, jangan dikurung terus, kenalan sama orang banyak. Nah, jadi ini kesempatan juga bagi karya-karya saya yang selama ini masih tersekap di komputer untuk berkenalan dengan publik.

Dari mana saja ide penulisannya?
Dari mana-mana. Ada dari kecoak, dari kopi, dari orang yang obsesi mencari Herman, kisah cinta sendiri, kisah cinta orang lain, dsb. Semua penulis itu pasti seorang pengamat juga. Dan saya semata-mata menuliskan apa yang saya amati dari hidup.

Masih ada benang merahnya dengan novel-novel terdahulu?
Secara tema nggak ada. Benang merahnya adalah sama-sama ditulis oleh Dewi Lestari. Hehehe....

Apa buku ini menyiratkan Dee “yang baru” saat ini?
Dibilang baru juga enggak ya, karena kumpulan cerita ini hasil dari sejak tahun 1995. Jadi justru memberikan gambaran Dewi yang dulu. Karya yang bisa dibilang baru, yakni 2003-2005 hanya ada tiga judul.

Ok, berapa lama buku ini dipersiapkan?
Saya melakukan penyuntingan ulang atas manuskrip yang lama, dan itu kira-kira empat bulan.

Apa hambatan yang paling sering ditemui?
Hambatannya justru dimulai begitu naskahnya jadi. Jadi hal-hal teknislah. Produksi, promosi, distribusi, dll. Cukup alot juga cari penerbit yang bisa diajak join-production, sampai akhirnya saya memutuskan untuk kerja sama dengan Gagas Media. Karena itu kan masalah trust, chemistry, dan kecocokan dalam bekerja, dll. Sampai sekarang pun masih proses sama-sama menjajaki. Saya juga orang yang perfeksionis masalah produksi, jadi sampai sekarang pun masih terus menyempurnakan kualitas kertas, cetak, dll.

Punya waktu-waktu paling cocok untuk menulis?
Malam sampai pagi hari. Pokoknya setelah semua tugas ‘duniawi’ selesai dan setelah semua orang tidur. Nggak mungkin menulis kalau HP masih krang-kring, atau harus main sama anak, dsb.

Bagaimana cara mengatasi problem kemacetan menulis?
Saya sih membiarkan saja writer’s block itu hilang dengan sendirinya. Dalam arti nggak usah dipaksa atau jadi frustrasi kalau lagi mandek. Justru saya memanfaatkan momen-momen seperti itu untuk istirahat. Menulis itu kan menguras stamina mental dan batin. Jadi kalau ada mandek justru kita bisa penyegaran. Tulisannya jangan dipikirin dulu, pikirin yang lain-lain aja. Kalau ide itu kuat, pasti akan kembali dan bertahan. Kalo ide itu nggak kuat, pasti gugur dan kita harus cari lagi. Jadi konsep ‘survival of the fittest’ itu juga berlaku untuk masalah ide, menurut saya.

Siapa penulis-penulis yang paling menginspirasi karya Anda?
Saya sempat terpengaruh sekali oleh Sapardi Djoko Damono. Saya juga suka tema kontemporer yang ditawarkan Seno Gumira Ajidarma. Dan saya mengagumi gaya menulis Ayu Utami dan kepiawaiannya dalam mengolah bahasa.

Hal apa saja yang paling memotivasimu untuk terus menulis?
Menulis bagi saya adalah kebutuhan, ya. Jadi theurapetic sifatnya. Untuk menjadi manusia seimbang ya saya harus menulis. Memang untuk beberapa karya, seperti Supernova, saya punya misi khusus. Tapi tanpa itu semua, saya pasti terus menulis, karena butuh.

Dee, novel-novel Anda laris sekali di pasaran. Selain faktor isi, tampaknya sosok Dee sebagai selebritis juga berpengaruh?
Pada awalnya pasti berpengaruh. Karena saya sudah jadi penyanyi lebih dulu, otomatis saya adalah bagian dari media hiburan. Jadi ketika saya menulis buku akhirnya mendapat liputan dari media hiburan, dan ini tidak didapatkan oleh semua penulis. Tapi pada akhirnya sih isi tulisan yang paling menentukan laku atau tidaknya sebuah buku. Kalau hanya faktor sensasi pasti tidak akan bertahan lama, karena orang beli buku kan karena isi. Mungkin apa yang saya tulis adalah sesuatu yang bisa ‘relate’ dengan orang banyak.

Seberapa penting sih peran branding bagi seorang penulis?
Dengan gaya marketing dan tren pasar yang mengedepankan image seperti sekarang, branding memang jadi penting. Tidak lantas jadi segala-galanya, tapi bisa sangat menunjang kalau memang pas. Penulis sih pada dasarnya akan selalu kembali ke kualitas dan isi tulisannya. Jadi branding itu semata-mata strategi di level superfisial saja. Ada baiknya penulis itu tahu cara memposisikan diri dan memainkan image-nya, karena sekarang untuk bisa mempromosikan buku kita bisa kolaborasi brand dengan produk-produk komersial. Dan untuk bisa seperti itu, pihak sponsor pasti akan tanya dulu branding kita seperti apa, selaras atau enggak dengan produknya, dsb.

Anda pernah di puncak popularitas saat Supernova meledak di pasaran. Apakah Anda memaknainya sebagai sebuah kesuksesan bagi seorang penulis?
Salah satu parameter kesuksesan penulis memang ada di kuantitas penjualan bukunya. Tapi menurut saya banyak aspek lain. Bagi saya lebih bermakna ketika tulisan saya bisa menyentuh orang lain, atau mengubah hidup seseorang. Jadi kesuksesan itu individual sifatnya. Hanya kalau dilihat dari perspektif industri perbukuan sajalah kesuksesan itu sama dengan laku atau tidaknya buku di pasar.

Penulis, sama seperti pegiat kreatifitas lainnya, membutuhkan ruang kebebasan yang seluas-luasnya. Bagaimana pandangan Dee terkait kondisi kebebasan berekspresi dalam masyarakat kita belakangan ini?
Saya agak khawatir dengan adanya kelompok-kelompok ekstremis yang memaksakan nilai tertentu dalam kerangka berekspresi. Kalau dibiarkan bisa membawa kesenian Indonesia terpuruk mundur, bahkan bisa membentuk karakter masyarakat yang tidak lagi kondusif untuk berkesenian. Saya percaya kok masyarakat sesungguhnya lebih pintar dari yang diduga. Jadi mereka sendiri punya mekanisme sendiri untuk memilah mana yang baik dan tidak. Tapi sayangnya, sebagian masyarakat yang ‘kurang pintar’ sedang mendapat angin segar karena lemahnya regulasi pemerintah. Jadi seolah-olah seluruh masyarakat Indonesia itu begitu bodohnya dan tak berakal budi sampai segala objek yang berkenaan dengan panca indera itu harus diatur. Pendekatan ini sungguh salah dan tidak dewasa. Pengendalian itu dari pikiran, bukan lantas objeknya yang dikendalikan.

Harapan Dee?
Saya hanya berharap bangsa ini bisa semakin open-minded, semakin cerdas, dan semakin bijaksana, terutama masalah lingkungan. Moga-moga karya-karya saya bisa menyumbang sedikit kontribusi, karena prinsip saya dalam menulis adalah tulisan saya harus bisa mencerdaskan dan mengusik keingintahuan orang untuk belajar lebih banyak lagi.

Karya-karya apa lagi yang sedang dan hendak digarap saat ini?
Saya sedang menggarap Supernova Partikel. Masih dalam fase riset. Selain itu juga akan ada proyek ganda buku-musik, tapi mungkin baru dimulai akhir tahun ini.[ez]

Foto: Majalah Lisa.

Andrea Hirata: Menulis untuk Menggerakkan






Kehadiran Andrea Hirata Seman, penulis novel debutan Laskar Pelangi (Bentang, 2005) tampaknya cukup memberi warna jagad sastra dan pernovelan di Indonesia. Novel yang bercerita tentang kehidupan sekitar sepuluh anak-anak dalam memperjuangkan sekolahnya itu seolah memberi setitik kesegaran di tengah-tengah dahaganya pembaca terhadap karya-karya bermutu. Banyak orang memuji novel memoar tersebut karena jalinan ceritanya yang memang begitu sekaligus penuh muatan nilai moral. “Menyentuh...” kata Garin Nugroho. “Mengharukan...” kata Korrie layun Rampan. “Menarik...” komentar Sapardi Djoko Damono. “Kemelaratan yang indah...” tulis Tempo. ”Novel tentang dunia anak-anak yang mencuri perhatian...” puji Gatra.

Andrea mengaku heran juga dengan sambutan publik yang begitu antusias atas novelnya yang sudah mengalami cetak ulang ke-3 dalam waktu tujuh bulan tersebut. Untuk ukuran novel “serius”, angka penjualan ini tentu menempatkannya dalam deretan buku best seller. Padahal, mungkin novel itu tidak akan pernah sampai ke tangan pembaca jika tidak ada seorang temannya yang diam-diam mengirimkan memoarnya tersebut ke sebuah penerbit. Tak heran jika novel Andrea ini dibilang “beruntung” oleh sebagian kalangan.

Namun, tak adil jika kelarisan novel bujangan kelahiran Belitong 24 Oktober ini, disebut hanya karena faktor beginner’s luck. Pujian dari sejumlah kalangan di atas sudah menjadi bukti bahwa novel ini benar-benar membekas di benak pembaca. Sebagai hadiahnya, buku ini ramai diperbimcangkan, diresensi, diulas di berbagai milis, dan akhirnya laris di pasar. Keseriusan Andrea dalam proses penulisan juga patut diperhatikan. Bagi pegawai PT Telkom Bandung yang alumnus (S-2) Sheffield Hallam University, Inggris dan Universite de Paris Sorbonne, ini menulis punya tujuan mulia. “Penulis yang sukses bagi saya adalah penulis yang mampu menggerakkan pembacanya untuk melakukan hal-hal yang luhur setelah membaca bukunya,” kata Andrea dalam wawancara tertulisnya dengan Edy Zaqeus dari Pembelajar.com. Berikut petikannya:

Sejumlah pembaca Laskar Pelangi mengaku novel ini menyegarkan sekaligus mengharukan. Ide apa yang melatarbelakangi penulisan novel ini?
Buku Laskar Pelangi (LP) pada awalnya bukan untuk diterbitkan. Niat saya untuk menulis buku ini sudah ada sejak saya kelas 3 SD, ketika saya demikian terkesan pada jerih payah kedua guru SD saya Ibu Muslimah dan Bapak Harfan Effendi, serta 10 sahabat masa kecil saya, yang disebut Kelompok “Laskar Pelangi”. Buku LP saya tulis sebagai ucapan terimakasih daan penghargaan kepada guru dan sahabat-sahabat saya itu. Seorang teman, tidak sengaja menemukan draft buku itu di kamr kos saya, dan diam-diam mengirimkannya pada penerbit. Sampai hari ini saya masih heran ternyata buku LP masih merupakan buku laris, dan telah dicetak tiga kali dalam waktu tujuh bulan. LP adalah novel pertama saya.

Dalam Laskar Pelangi terdapat lebih dari sepuluh karakter tokoh. Bukankah tidak mudah mengeksplorasi seluruh karakter tersebut?
Banyaknya karakter dalam LP merupakan salah satu kesulitan terbesar dalam menulis buku itu. Terutama memberi peran yang seimbang untuk setiap karakter. Karena karakter sahabat-sahabat saya yang unik. Saat ini saya sudah didekati beberapa produser untuk memfilmkan LP. Namun banyaknya karakter ini juga merupakan kesulitan bagi mereka. Barangkali berhubungan dengan budget. Saya rasa, saya dapat mengatasi persoalan menyeimbangkan peran setiap karakter dengan fokus kepada karakter Lintang dan Mahar.

Soal latar belakang dan lokasi kejadian, Anda cukup detail dalam novel ini... Semua nyata?
LP adalah sebuah memoar, oleh karena itu semua karakter dan kejadiaanya adalah nyata. Cara menulis saya memang cenderung detail, karena saya tertarik memberi gambaran yang filmis pada para pembaca.

Anda butuh survei data untuk penulisan novel ini?
Tentu saja, tetapi saya terbantu karena LP adalah memoar, artinya saya sudah memiliki informasi yang mengendap di kepala saya. Riset yang paling intensif adalah saya harus mengkonfirmasikan lagi beberapa hal yang berkenaan dengan Biologi, Fisika, dan Kimia waktu mendeskripsikan karakter Lintang yang jenius. Juga ketika mendeskripsikan anatomi kandungan material tambang di Belitong.

Menurut Anda, apakah sosok-sosok seperti Lintang ini banyak jumlahnya dalam kehidupan nyata?
Saya kira banyak … tetapi tidak terdeteksi, ter-manage, dan terabaikan.

Sejumlah pembaca Laskar Pelangi mengaku merasa kurang puas dengan ending novel ini. Sosok Lintang yang jenius hanya berakhir sebagai seorang pekerja kasar. Penjelasan Anda?
Saya mengerti pembaca menginginkan ‘pahlawan’, dan pembaca menginginkan ‘pahlawan’nya selalu menang dan hepi. Itulah kecenderungan orang terhadap fiksi atau karya-karya khayal. Tetapi LP adalah memoar. Dan itulah hidup dalam dunia nyata. Saya rasa pembaca dapat membedakan hal ini. Nasib Lintang begitulah adanya ….

Sekarang soal proses penulisan novel perdana Anda ini. Berapa lama Anda selesaikan novel ini?
Tiga minggu. Meskipun banyak yang mempertanyakan hal tersebut. Sampai dalam suatu forum milis dikatakan saya menulis dalam keadaan trance, di luar kemampuan saya. Apalagi mengingat novel itu sangat tebal 529 halaman. Dan saya tidak memiliki latar belakang sastra. Ini merupakan novel saya yang pertama. Namun kembali saya ingatkan LP adalah sebuah memoar. Oleh karena itu, setiap lembarnya sudah ada di kepala saya sejak lama.

Kapan saat-saat paling menyenangkan untuk menulis?
Kapan saja di luar jam kerja saya sebagai seorang pegawai BUMN. Saya saat ini bekerja di TELKOM. Dan saya berusaha mendidik diri saya sendiri untuk tidak tergantung pada mood. Saya kadang-kadang beranggapan bahwa mood adalah excuse bagi kemalasan.

Sekali duduk, biasanya berapa lembar bisa ditulis?
Bisa mencapai puluhan lembar. Saya kesulitan untuk berhenti jika sudah mulai menulis. Menulis menjadi kawan insomnia saya…

Apa hambatan terbesar yang Anda temui?
Keterbatasan waktu dan kondisi fisik yang tidak mampu menampung membludaknya ide dalam kepala saya.

Cara mengatasinya?
Saya mulai belajar untuk me-manage waktu dengan baik.

Bagaimana Anda menempatkan peran imajinasi dalam novel ini?
Novel adalah sebuah karya sastra, dan sastra tidak dapat dipisahkan dengan imajinasi. Imajinasi dalam LP tidak dimanifestasikan dalam bentuk mereka-reka karakter dan kejadian, tetapi di dalam cara menceritakan.

Ini novel debutan Anda. Menurut Anda, hal mendasar apa yang harus dikuasai oleh seorang penulis pemula saat membuat sebuah novel?
Saya orang yang belajar untuk menghargai semua genre tulisan sastra. Baik itu apa yang orang sebut chiklit, atau teenlit. Karena saya tahu menulis itu tidak mudah. Maka saya tidak punya pandangan tentang hal mendasar dalam teknis menulis. Pandangan saya adalah mengenai apresiasi. Dalam hal ini saya rasa karya dari seorang penulis bukan hanya persoalan bagaimana masyarakat akan menghargai tulisannya, tapi bagaimana ia sebagai penulis akan menghargai dirinya sendiri. Artinya, jika ia menghargai dirinya sendiri, hendaknya ia menulis sesuatu yang memiliki integritas. Tidak melulu patuh pada tuntutan pasar.

Apakah penulis pemula sudah harus menemukan ciri khasnya sendiri atau malah meniru penulis yang sudah sukses?
Menemukan ciri dalam menulis bukan persoalan gampang. Bahkan penulis yang sudah kawakan tak jarang tak kunjung memiliki identitas. Apalagi penulis yang baru. Namun penting sekali bagi seorang penulis untuk tidak meniru-niru orang lain.

Menurut Anda, definisi penulis yang sukses itu seperti apa?
Penulis yang sukses bagi saya adalah penulis yang mampu menggerakkan pembacanya untuk melakukan hal-hal yang luhur setelah membaca bukunya.

Saat ini sedang menggarap novel apa lagi?
Saya baru saja menyelesaikan novel kedua dari empat karya tetralogi Laskar Pelangi.

Kira-kira kapan novel tersebut terbit?
Novel kedua saya sedang dalam proses editing di penerbit. Insya Allah akan beredar bulan depan.[ez]

* Andrea Hirata dapat dihubungi melalui: pelangilintang@yahoo.com

Ade Kumalasari: Sekarang Ini Remaja Jadi Pelaku Budaya






Jagad pernovelan di Tanah Air belakangan benar-benar dimeriahkan oleh hadirnya pengarang-pangarang muda berbakat yang bila dilihat dari sisi produktivitas maupun variasi temanya, ternyata lumayan mencengangkan. Jumlah penulis-penulis bergenre teenlit (teen literatur) yang baru muncul, serta produktivitas mereka dalam menghasilkan karya, boleh dibilang agak meninggalkan rekan-rekan senior mereka yang bergerak di genre chiklitatau novel-novel dewasa lainnya.

Ade Kumalasari adalah satu di antara puluhan penulis baru di jagad penulisan novel-novel remaja ini. Baru-baru ini Mala, demikian panggilan akrabnya, meluncurkan novel keduanya yang berjudul Dengerin Dong, Troy! (Gramedia, 20067). Sebelumnya, alumnus MIPA UGM (2004) ini telah meluncurkan novel perdananya berjudul I’m Somebody Else (Kata-Kita, 2005). Mantan Pemimpin Redaksi koran kampus mingguan Bulaksumur Pos ini memandang bahwa pasar remaja memang sangat menantang untuk dimasuki. Ia juga menyambut baik banyaknya penulis remaja yang ikut meramaikan segmen ini. “Sekarang remaja jadi pelaku budaya, bukan penikmat saja,” komentar Mala.

Dalam wawancara dengan Edy Zaqeus dari Pembelajar.com, Mala yang kelahiran Muntilan 11 Desember 1979, ini membeberkan suka dukanya sebagai penulis baru. Salah satunya adalah perjuangannya dalam mengalahkan penyakit macet alias malas. Penulis yang mengaku tidak memiliki “darah menulis” ini punya kiat unik dalam mengatasi kemacetan, yaitu jauhi buku-buku bagus! Alasannya, itu akan semakin membuat kita frustasi manakala merasa tidak bisa menghasilkan karya “bagus”. Berikut petikan wawancara dengan ibu dari seorang anak ini:

Secara garis besar, apa isi novel terbaru Anda?
Dengerin Dong, Troy! berkisah tentang Cahaya Lintang, seorang ketua OSIS cewek, yang harus menghadapi banyak masalah menjelang peringatan lustrum sekolahnya. Mulai dari kegelisahannya karena belum pernah ada satu pun cowok yang naksir dia --kata sobatnya, karena Lintang terlalu pintar-- sampai cara menghadapi Troy, si komandan peleton inti di sekolahnya, yang ngotot mengadakan lomba baris berbaris yang potensial memicu tawuran sesudahnya.

Ide penulisan dari mana?
Tema besar tentang tawuran pelajar saya angkat dari pengalaman pribadi saya ketika menjadi ketua OSIS di SMA, dulu banget. Tapi ternyata tema tersebut masih relevan dengan kondisi sekarang. Masalah tawuran memang menjadi salah satu keprihatinan saya.

Berapa lama menggarap novel ini?
Sekitar tiga bulan, mulai dari menentukan tema besar, merancang tokoh-tokoh dan alur, menulis, sampai sentuhan akhir. Ini sudah termasuk ngambeknya juga loh!

Dikaitkan dengan proses penulisan, apa beda novel ini dengan novel sebelumnya?
Bedanya ada pada penokohan, sudut pandang atau point of view penceritaan dan tema. Novel saya terdahulu I’m Somebody Else tokohnya seorang artis remaja yang kuliah tingkat awal. Saya samapi harus baca-baca tentang gaya hidup remaja perkotaan sekarang dari majalah-majalah. Sementara tokoh novel saya yang baru adalah remaja biasa saja, dan dari desa. Ini sih bisa diingat-ingat dari kehidupan remaja saya dulu. Untuk penokohan, saya biasanya mengambil modeling tokoh tertentu di dunia nyata. Atau gabungan beberapa tokoh untuk lebih memudahkan menghidupkan sang tokoh dalam imajinasi.

Kalau dari sudut penceritaan, bedanya?
Saya memakai sudut pandang orang ketiga untuk novel pertama dan sudut pandang orang pertama atau aku untuk novel kedua. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Di novel pertama, saya bebas mengeksplorasi kejadian-kejadian yang menimpa tokoh-tokoh lain selain tokoh utama. Tapi eksplorasi perasaan si tokoh utama kurang maksimal. Sementara di novel kedua, saya bisa dengan detil menggambarkan pikiran dan perasaan tokoh utama. Tapi kejadian-kejadian yang tidak dialami langsung oleh tokoh utama jadi kurang tergarap.

Lagi-lagi cinta jadi tema utamanya, ya?
Saya selalu berusaha mengangkat tema yang tidak melulu soal cinta. Kisah cintanya tetap ada karena memang ini menjadi ‘bumbu wajib’ novel remaja. Tapi harus ada tema besar lain. Di novel pertama saya mengangkat masalah pencarian jati diri, sementara di novel kedua tentang tawuran pelajar.

Hambatan saat menyelesaikan novel-novel ini?
Seperti umumnya para penulis lain, saya kira adalah mengalahkan rasa malas! Kadang saya merasa “blank”, nggak tahu apa yang harus saya tulis selanjutnya. Tapi mestinya perasaan seperti itu harus dilawan.

Problem utamanya tetap kemacetan?
Ya, kalau boleh saya bilang sih, kemacetan sama dengan kemalasan. Ini saya nggak nyindir siapa-siapa, lho. Saya sendiri sering banget mengalami kemacetan.

Cara mengatasinya?
Saya punya trik begini. Biasanya kalau lagi macet atau malas menulis, saya membaca buku-buku. Satu, baca buku-buku bagus untuk mendapatkan inspirasi cara menulis atau bercerita dengan baik. Dua, baca buku-buku “jelek” untuk membangkitkan semangat, “Ah, kalok cuman gini sih, saya juga bisaaa!!!” Biasanya sih mood langsung bangkit lagi. Apalagi kalau buku yang dibaca bener-bener “cemen”. Saran saya sih, jangan cuma membaca buku-buku bagus saja. Nantinya malah semakin membuat frustasi bahwa Anda tidak bisa menulis sebagus itu. Lebih bagus kalau Anda bisa menemukan karya orang-orang yang Anda kenal. Misalnya, karya teman masa kecil Anda yang sama sekali nggak punya “potongan” untuk jadi penulis, waktu itu, sehingga bisa membuat Anda “kebakaran”.

Ada trik lain?
Masih banyak kok! Kalau bosan membaca, saya menonton film. Menonton gosip seleb atau surfing di internet. Ide novel pertama saya berawal dari nonton acara gosip, lho! Intinya, kita tidak bisa hanya diam dan menunggu ide, atau menunggu kata-kata bagus muncul. Kata-kata itu sebenarnya sudah beterbangan di udara, kok. Kita tinggal memaksakan diri untuk menangkapnya saja. Nasihat penting, terutama untuk diri saya sendiri, jangan memberi makan pada rasa malas!

Sebagai penulis pemula, apa dulunya kesulitan mendapatkan penerbit?
Alhamdulillah, saya tidak bermasalah dengan penerbit. Naskah pertama saya, begitu saya kirim, selang sehari kemudian langsung mendapat tanggapan positif dari penerbit. Mungkin karena saat itu belum banyak saingan, ya. Naskah kedua saya di penerbit besar ‘hanya’ sebulan masuk daftar tunggu. Malah, menurut saya, kesulitannya adalah masalah mental. Dulu, sebelum naskah saya selesai, saya sulit sekali menepis anggapan-anggapan: “Apa ada yang mau nerbitin karya saya ya?” “Ah, jangan-jangan naskahku ini jelek.” Penulis yang berkutat dengan perasaan negatif seperti itu nggak akan pernah selesai menulis.

Tanggapan Anda terhadap munculnya penulis-penulis muda di genre chiklit dan teenlit?
Saya senang sekali dengan munculnya banyak penulis-penulis muda sekarang ini. Semakin banyak malah semakin bagus. Munculnya karya-karya populer seperti ini sangat bagus untuk merangsang budaya membaca di kalangan anak-anak muda. Bahkan sekarang, enggak cuma membaca, tapi juga menulis. Akhirnya sekarang ini para remaja bisa menjadi pelaku budaya, bukan cuma penikmat saja.

Banyak sekali karya-karya lokal bermunculan. Apakah peluang pasar untuk novel-novel jenis ini masih lumayan?
Ya, saya rasa pasar untuk novel-novel remaja masih terbuka lebar. Saya termasuk orang yang optimis. Tapi untuk bisa bersaing dengan karya yang bergenre sama memang harus dibarengi dengan kualitas tulisan, serta tema yang menarik dan baru.

Apakah novel-novel yang muncul belakangan bakal sanggup menembus angka raihan novel-novel terdahulu seperti Eiffel I’m in Love, Fairish, atau Delaova?
Saya rasa ketiga novel tersebut bisa menembus angka penjualan yang spektakuler karena kasus khusus. Eiffel I’m in Love dan Dealova adalah novel-novel lokal remaja yang pertama memasuki pasar. Waktu itu belum ada saingan dan novel-novel jenis ini belum semeriah sekarang. Praktis mereka membukukan penjualan yang tinggi. Ditambah lagi efek dari popularitas film dan sinetron.

Kalau ingin benar-benar menembus angka penjualan yang tinggi memang tidak semudah novel-novel tersebut. Tapi saya rasa masih bisa, asalkan temanya benar-benar menarik, baru, dan didukung oleh promosi yang bagus.

Akan tahan berapa lama lagi tren novel-novel jenis ini?
Menurut saya, novel-novel jenis ini akan tetap ada sampai tahun-tahun mendatang. Karena memang ada kebutuhan bacaan untuk remaja. Yang berbeda mungkin bentuk dan temanya saja. Kita ingat dulu tahun 1980-an, remaja kita gandrung dengan serial Lupus dan juga novel-novel karya Gola Gong yang lebih “laki-laki”. Sekarang ini yang sedang booming adalah novel-novel yang “cewek banget”. Siapa tahu nantinya akan kembali lagi tren novel petualangan untuk cowok. Mengingat sekarang ini remaja cowok enggak punya bacaan. Alangkah mengerikan kalau mereka malah membaca bacaan pria dewasa. Atau mingkin tren bergeser ke arah novel grafis yang akan digencarkan oleh salah satu penerbit besar di sini. Tapi, pasar untuk bacaan remaja tetap akan ada.

Bagaimana dengan peluang novel metropop?
Novel metropop punya pangsa pasar tersendiri, yaitu para perempuan, dan sedikit laki-laki mungkin, yang sudah beranjak dewasa dan sudah mempunyai penghasilan sendiri. Peluang novel jenis ini masih terbuka lebar, terutama untuk para penulisnya. Karena memang belum banyak penulis lokal yang terjun ke novel jenis ini. Dari data lomba penulisan novel metropop di salah satu penerbit, peserta yang mengirim karya hanya seperlima dari peserta lomba penulisan novel remaja.

Kabarnya Ada juga menyasar novel anak. Seberapa prospektif segmen ini?
Pangsa pasar buku anak-anak punya keunikan tersendiri. Anak-anak mungkin punya pilihan sendiri, tapi yang menentukan untuk membeli adalah orang tuanya. Di pasaran saat ini, saya menemukan banyak novel anak yang ditulis orang dewasa, yang berkesan ingin menggurui, mengarahkan, dan memberi pesan moral. Memang orangtua punya kecenderungan untuk menasihati, ya? Saya tidak yakin anak-anak akan senang membaca novel-novel seperti itu. Saya rasa peluang untuk novel anak masih terbuka lebar, untuk cerita-cerita yang lebih imajinatif, misalnya petualangan. Lebih segar dan yang memberi pesan tanpa harus terkesan menggurui.

Sedang menggarap karya apa sekarang?
Sementara ini saya masih berkonsentrasi dengan novel remaja karena memang gaya penulisan saya cocok dengan jenis novel ini. Tapi saya juga bercita-cita untuk menulis skenario dan beranjak ke novel-novel “serius”. Setiap orang kan punya tahapan untuk berkembang. Sekarang ini saya masih dalam tahap belajar menulis. Suatu saat saya pasti akan sampai ke sana.

Terakhir, apa yang paling memotivasi Anda untuk terus menulis?
Yang paling memotivasi adalah momen ketika melihat orang-orang yang saya cintai membaca ucapan terima kasih di buku saya dan tersenyum bangga. Juga momen ketika saya membaca surat yang mengatakan, “Aku jadi semangat menulis karena terinspirasi tulisan Kak Mala.” Itulah hal yang paling saya inginkan dalam hidup: menjadi berarti, untuk diri sendiri dan untuk orang lain.[ez]

Catatan: Ade Kumalasari dapat dihubungi di: cikelin@yahoo.com atau blognya di: www.adekumalasari.com.

Muhidin M. Dahlan: Saya adalah Nabi Kegelapan






Berani! Itulah kesan yang tertangkap pada sosok anak muda asal Sulawesi ini. Muhidin M. Dahlan, novelis yang lahir tahun 1978, ini telah mewarnai dunia sastra Indonesia dengan torehan pena yang tajam. Mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ini memang telah gagal dalam menyelesaikan studinya di Universitas Negeri Yogyakarta dan IAIN Sunan Kalijaga. Namun, ia yang akrab dipanggil Gus Muh ini ternyata mampu berbicara melalui karya sastra.

Ia bahkan telah menggoresi hati sejumlah kalangan dengan beragam kesan. Betapa tidak? Penulis tak kurang dari tujuh novel ini sempat mengguncang dengan novel-novelnya seperti Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur (2003), Adam Hawa (2005), dan Kabar Buruk dari Langit (2005). Muhidin seperti membenarkan sinyalemen belakangan ini, bahwa telah muncul kembali cara-cara pemahaman dan penerjemahan nilai-nilai agama secara sempit atau sektarian.

Muhidin sendiri adalah “alumni” dari komunitas yang sangat membenci Pancasila dan menganggap membom gereja adalah sebuah prestasi. Tapi, ia berhasil memerdekakan diri dari belenggu indoktrinasi semacam itu. Berbekal kesadaran dan pencerahan yang diperolehnya, ia mulai melakukan otokritik. Namun, Muhidin tidak hendak menyatakan kritiknya itu dengan ramai-ramai demonstrasi di jalan. Ia memanfaatkan kekuatan dan ketajaman pena sebagai medium penggugah kesadaran dan penyebar daya otokritik. Muhidin menggugat dengan sastra, dengan tulisan, salah satu cara yang elegan dalam berpolemik.

Alhasil, dia bukan saja menerima komentar, sanggahan, atau kritikan, tapi juga memanen kecaman dan kutukan. Novelnya Adam dan Hawa telah membuat Majelis Mujahidin Indonesia gerah dan melayangkan somasi kepadanya. Lalu, di berbagai kesempatan bedah karyanya, Muhidin disumpahi dan dilaknat. Ia masih sedikit lebih beruntung ketimbang Ulil Abdala yang sempat dihadiahi fatwa hukuman mati oleh suatu kelompok muslim. Walau begitu, dalam sebuah diskusi karyanya Muhidin sempat dianugerahi gelar Nabi Kegelapan.Luar biasa!

Dengan segala kontroversinya, kehadiran Muhidin dengan karya-karya alternatifnya itu layak diapresiasi. Di tengah-tengah masyarakat yang lebih suka memaksakan “kaca buram” untuk melihat dan menilai diri sendiri, Muhidin membawakan semangkuk “air sastra” nan jernih yang bisa dipakai untuk berkaca dan mengkritisi diri. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari Pembelajar.com dengan Muhidin:

Anda dikenal sebagai salah satu penulis yang cukup berani “mengobok-obok” wilayah ketuhanan dalam novel-novel Anda. Mengapa mengambil posisi demikian?
Yang perlu ketahui awal-awal, saya dibesarkan di lingkungan masjid. Saya jadi takmir masjid beberapa tahun, dilatih berkhotbah, dan men-training anak-anak remaja untuk militan beragama. Dan, kalau bisa berprestasi membom gereja dan membenci Pancasila sedalam-dalamnya. Dan, pada satu titik balik, saya disadarkan bahwa apa yang saya lakukan adalah kebodohan diri saya sendiri yang memang tak kenal dunia luar. Tak kenal buku. Jogja telah memurtadkan saya atas semua apa yang saya panggul dari kemasalaluan saya, di kota udik Sulawesi sana.

Dalam beberapa karya Anda seperti Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, Adam Hawa dan Kabar Buruk dari Langit, Anda berani sekali melakukan semacam otokritik dan pembongkaran terhadap kepalsuan-kepalsuan dalam kehidupan religiusitas. Apa tujuan Anda?
Ya, seperti saya bilang dari awal. Tujuan saya adalah mendialogkan kembali apa-apa yang berlalu, yang saya alami, dan apa-apa yang berada di hadapan saya. Terlalu naif bila ada orang bilang saya merusak nilai-nilai agama, mendidik anak-anak muda untuk berpaling dari agamanya yang besar ini. Saya ini siapa? Saya ini nggak ada apa-apanya dibanding para pengkhotbah agama itu. Muhidin itu siapa toh?

Anda tidak takut menghadapi reaksi kelompok-kelompok tertentu yang tidak setuju dengan pandangan-pandangan Anda tersebut?
Saya menganggap kelompok ini teman-teman saya. Sebab, saya juga punya hubungan ke mereka. Maklum, saya pernah bergiat di kelompok-kelompok pengajian dengan tarikan garis yang sama-sama militan. Tapi awalnya saya merinding juga ketika saudara-saudara seiman saya itu mencerca. Misalnya, sewaktu salah satu pembicara dari kelompok Hizbut Tahrir menyerang saya secara terus-menerus dalam bedah buku Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! (TIAMP!) di Fakultas Hukum UGM. Sejak awal panitia sudah mentestimoni, bahwa diskusi akan panas. Sebab, beberapa hari sebelumnya sejumlah percetakan menolak mencetak pamflet diskusi buku itu. Dan benar saja, saya diserang dari samping dan depan. Hizbut Tahrir menuduh saya sebagai marxis dengan kebencian kepada agama yang aduhai... Saya adalah “nabi kegelapan”. Bahkan saya disumpahi masuk neraka dan murtad. Siapa yang nggak merinding dibilang murtad? Konsekuensi murtad itu berat lho! Mengikuti definisi salah satu intelektual Ikhwanul Muslimin, Yusuf Qardhawi, saya itu bila murtad akan diusir dari negara dan hak-hak saya dirampas paksa. Saya harus bercerai dengan istri saya, saya harus meninggalkan anak saya. Berat toh?! Dari peserta juga menyerang, membentak-bentak, dan suruh saya disembelih saja! Pusing saya menghadapinya. Bukan cuma itu, di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, saya dikeroyok oleh sekitar 1.500 peserta dan dikatai tukang fitnah yang kejam. Saya ini mereka tuduh telah mencemarkan kampus itu, yang mereka klaim sebagai latar cerita dan tokohnya kuliah di kampus itu. Dua kali saya disidang tim dosen untuk me-rechek soal kebenaran dalam buku itu. Setahun saya absen menulis gara-gara kasus buku ini. Setahun itu saya hanya sibuk menangkis serangan yang berulang-ulang dan itu-itu saja, ya di Jogja, Jakarta, Magelang, Malang, Jombang, Makassar, bahkan sampai Palu.

Lalu tentang Adam Hawa yang juga disomasi itu?
Ini yang tak terduga. Yang saya risaukan dan bikin saya deg-degan adalah nasib buku Kabar Buruk dari Langit, jangan-jangan diserang juga. Tapi tidak. Malah Adam Hawa yang kena jerat. Majelis Mujahiddin Indonesia yang memperkarakan novel itu dari resensi di Media Indonesia. Dan somasi itu bukan hanya kepada saya, tapi juga ke pemimpin redaksi Media Indonesia. Saya dituduh yang seram-seram, telah meneror Allah, menghina sejarah nabi, dan disuruh minta maaf. Siapa mau minta maaf? Enak saja mereka! Tapi nggak tahu kasusnya meredup gitu saja setelah kasus Lia Aminuddin membesar. Mungkin mereka sudah menangkap tokoh Taman Eden-nya di Jakarta Pusat, ha ha ha ha.

Pendapat Anda terkait ancaman hukuman mati terhadap Salman Rusdi, penulis novel Ayat-Ayat Setan atau kasus Ulil beberapa waktu lalu?
Ini soal kedewasaan beragama. Ini juga soal terlalu inferioritasnya umat Islam ini. Kalau memang agama ini kuat, masak hanya buku Rushdie dan ide nakal Ulil bisa luluh-lantak ini agama? Yang benar saja! Lemah betul ini agama kalau begitu... Bertandinglah yang fair. Jangan unjuk sana unjuk sini dengan menenteng pedang dan menggertak-gertak. Bantah dengan alat yang setimpal. Kalau Rushdie nulis buku, bantah dengan buku. Saya kira itu yang lebih dewasa. Tarunglah dengan buku, saudara...

Nilai-nilai apa yang sebenarnya Anda perjuangkan melalui novel-novel Anda selama ini?
Ingin menilai dan mengadili diri sendiri secara jujur dan terbuka. Bahwa, dalam tubuh umat Islam itu sendiri masalah bertumpuk-tumpuk dan boroknya juga banyak. Sejarah umat ini pun adalah sejarah yang dikobarkan dengan darah. Mengerikan sekali. Bahkan sisa-sisanya masih terlihat dengan banyaknya para penenteng pedang di pinggir-pinggir jalan.

Seberapa banyak penulis lokal yang memiliki pandangan atau visi perjuangan semacam itu?
Saya tak tahu persis. Tapi beberapa anak muda di NU dan Muhammadiyah juga gelisah dengan diri dan dalam perut organisasi yang selama ini melahirkan mereka. Dan ini sah-sah saja.

Dari sisi Anda sebagai seorang penulis, apa perbedaan utama di masa Orde Baru lalu dengan masa sekarang ini?
Kebebasan. Ya, kebebasan yang tiba-tiba saja datang membandang. Bahkan negara pun tak sanggup menahannya.

Dari sisi kebebasan berkarya, beraspirasi, dan beridiologi, apakah Anda melihat adanya tanda-tanda pergeseran otoritarianisme dari negara (vertikal) ke masyarakat (horisontal)?
Iya. Saya secara pribadi merasakannya bagaimana harus berhadapan langsung dengan masyarakat yang tiba-tiba lebih polisi dari polisi. Padahal, sejak kecil saya sudah takut lihat polisi, ha ha ha.... Tapi ini masih tataran wajar dalam sebuah masyarakat yang selama ini dikekang habis-habisan haknya untuk berpendapat. Ntar dewasa sendiri juga. Yang penting pemerintah harus kuat dan konsekuen dalam menegakkan hukum agar kepercayaan masyarakat ini kepada negara sebagai pelindung bisa pulih lagi.

Sekarang menyangkut proses kreatif. Faktor apa yang paling berpengaruh terhadap produktivitas menulis?
Ketegangan dalam diri sendiri. Kegelisahan yang mengambak-ngambak dalam pikiran. Semakin kuat keresahan itu, semakin mengalir tulisan itu. Lagi pula, saya nggak punya keterampilan lain selain menulis. Dan tentu saja bikin anak. Ha ha ha ha...

Dari mana ide-ide novel Anda datang?
Dari mana saja. Bahkan dari pertemuan tiba-tiba dengan seorang teman. Novel TIAMP! adalah novel yang jadi tatkala temanku yang berjilbaber pingin jadi pelacur. Lalu ia bercerita dengan sangat lancar seminggu lamanya di tiga kampus. Lalu saya tulis seminggu. Saya edit seminggu. Lalu jadi. Yang menguras tenaga banyak adalah Kabar Buruk dari Langit. Saya harus mendaki pundak Merapi. Di Kali Adem yang beberapa waktu lalu udah hangus itu, saya dirikan tenda kecil. Tiap hari begitu selama enam bulan, kecuali Minggu karena ramai,. Di sana saya mencatat kelebatan imajinasi dan juga catatan dari buku-buku sejarah tentang Islam Sufi di abad 17 di Indonesia. Novel Adam Hawa lebih ringan. Cukup saya duduk setiap malam selama sepekan di depan Benteng Vredeburg Jogja sampai subuh, lalu saya menulis ulang kisah Adam yang tak terceritakan dalam Kitab Suci. Dengan hati berbunga-bunga saya menuliskannya, bahkan tertawa terbahak-bahak sendiri seperti orang gila di Malioboro. Untuk menangkap bentuk Pohon Quldi, saya melihat secara seksama pohon beringin di depan kraton itu.

Anda termasuk cukup berani dan punya kekuatan dalam hal pemilihan judul-judul novel. Seberapa berpengaruhnya judul dalam sebuah novel?
Judul itu penting, tapi tak selamanya demikian. Ada juga judulnya biasa-biasa saja tapi menarik perhatian dan bahkan melegenda. Judul-judul buku Pram biasa-biasa saja, bukan? Tapi perbedaan karakter dan pengalaman setiap penulis menjadi pembeda bagaimana mereka menorehkan judul.

Anda percaya anggapan bahwa judul yang menohok atau kontroversial pasti menarik perhatian pembaca?
Bagi saya pribadi, judul-judul memukul dan mematikan yang demikian, seperti sudah sangat akrab dan mungkin menjadi karakter karya-karya saya. Bahkan dalam menuliskan esai sekalipun. Entah sebuah judul menarik perhatian pembaca atau tidak, saya tak terlalu memikirkannya. Karena sebelum bangunan cerita jadi, saya sudah mengutak-atik judul. Sebab, judul itu yang menjadi pemandu saya dalam menuliskan isi cerita itu. Jadi bukan tor atau bagan karangan kayak di SMP-SMA itu lho, tapi judul. Nah, untuk bisa sampai ke tangan pembaca, biarlah penerbit punya urusan itu. Sebab bagi saya, menulis itu kerjaan penulis. Mereka disebut penulis kalau menulis. Benar kan, begitu? Soal bagaimana judul, kembalikan ke setiap penulis yang macam-macam karakternya itu.

Siapa atau karya-karya apa yang paling mempengaruhi Anda?
Pramoedya Ananta Toer. Dia master saya. Mas Edy, saya itu sampai 2001 satu masih menyimpan ketaksukaan yang akut pada sastra. Bayangkan, sebelum-belum itu saya tak suka sastra. Kasihan sekali. Itulah, karena di sekolah STM dan dalam kelompok organisasi yang saya masuki itu, sastra itu nggak disentuh sama sekali. Bacaan sehari-hari ya Quran dan buku-buku agama. Itu pun buku fiqih. Juga ideologi kebencian terhadap ideologi Pancasila. Jadi wajar kalau di kampus dulunya saya heran, kenapa ada orang masuk jurusan sastra Indonesia? Memalukan sekali saya itu. Tapi Pram menyelamatkan saya dari kebencian barbar itu. Walau saya berbeda sama sekali dengan tema-tema yang dipilih Pram, tapi spirit menulisnya yang gigih dan tak kenal lelah menjadi pendorong untuk menulis cerita. Dan saya tahu, karya-karya saya nggak bagus. Tapi Pram menasehati, tulis terus apa yang kamu alami, jangan takut dikritik, lama-lama mereka juga akan melirikmu. Makanya, ketika master itu meninggal, saya dan beberapa kawan persembahkan sebuah buletin edisi khusus untuk Pram. Pengantar keberangkatan kepada seorang guru.

Dalam dunia kepenulisan, ada dikotomi klasik: penulis idealis dan penulis nonidealis alias pasar. Pendapat Anda?
Nggak ada! Dan saya tak percaya dengan dikotomis itu. Itu kerjaan kritikus. Dan itu hak mereka. Benar-benar saja. Kalau saya ditanya, ya semuanya saya perlakukan sama. Karya Akmal Basral yang intelektuil sama saja derajatnya dengan karya Fredy S yang sering membuat basah celana itu. Tinggal suka-suka pembaca memilih. Terkadang orang butuh kesegaran, maka mereka membaca yang ringan-ringan saja. Kan dunia ini tak harus dipenuhi oleh karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana yang supraberat itu, tapi juga novel Motinggo Busye yang sering bikin jakun naik-turun, itu harus ada. Untuk keseimbangan anatomi tubuh. Masalahnya, produksilah sebanyak-banyak buku, sebanyak-banyaknya cerita. Jangan takut overload. Kita butuh sebanyak-banyaknya penulis.

Sebagai penulis, Anda meletakkan diri di “posisi” mana?
Ha ha ha, saya ini hanya, kalau boleh meminjam pendapat Emha Ainun Nadjib, penulis kelas slilit. Tahu slilit, kan? Itu lho, sampah kecil yang menyergap di sela-sela gigi. Di situlah posisi saya. Kecil, jelek, ampas, bau, tapi jelas sangat mengganggu kenyamanan Anda sebelum ia dilenyapkan. Bahkan, bisa membuat Anda sakit gigi. Tapi walau begitu, slilit bisa menghidupi ribuan orang lho. Lha, sampai-sampai ada industri tusuk gigi kan? Ini juga soal, kenapa tidak dinamakan tusuk slilit? Kan yang ditusuk slilit. Bahkan menyebutnya pun orang malu. Nah, Mas Edy, di situ itu posisi saya. Menyebutnya pun orang malu.

Definisi penulis yang sukses dan berarti menurut Anda?
Kalau saya membikin Anda sakit gigi beberapa hari....ha ha ha .... Akhir cerita saya jarang berakhir bahagia, seperti orang sakit gigi.

Ok, karya apa lagi yang sedang Anda siapkan?
Novel psikologi. Beberapa waktu lalu saya berjumpa seorang perempuan cantik, putri kiai di pesantren Bekasi yang sekarang kuliah di Ciputat. Saya sudah mewawancarainya di Bogor. Diam-diam dia berencana membunuh ibunya sendiri. Itu tema yang sedang saya garap sekarang. Semoga slilit yang ini tak membikin orang sakit gigi. Judulnya: Kalian Harus Tahu Kenapa Aku Membunuh Ibuku.[ez]

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman