Kamis, 09 Oktober 2008

Memerangi Tekanan Waktu




Dalam era yang menuntut kita untuk menyelesaikan segala hal dengan cepat seperti saat ini, kita akan sangat mudah terjebak dalam rutinitas yang padat. Anda atau diri saya sendiri mungkin sedang bekerja keras untuk mencapai suatu karir yang penting atau membesarkan usaha. Tak jarang kesibukan seperti itu menempatkan kita pada sebuah tekanan waktu.

Ada sebuah kisah tentang keluarga yang semula hidup sederhana. Berkat kerja keras pasangan suami istri itu dapat membangun sebuah bisnis yang cukup besar. Tetapi mereka lupa dan benar-benar terjebak dalam kesibukan yang sangat menyita waktu. Bahkan mereka menjadi sangat jarang berkomunikasi dengan Ani, 4 tahun, putri semata wayang mereka.

Suatu ketika Ani bermain dan melukis diri dan keluarganya. Kerinduan pada kehangatan kasih sayang sebuah keluarga ia luapkan pada lukisan yang ia goreskan pada mobil mahal kesayangan ayahnya. Ia tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan akan memancing amarah orang tuanya.

Tatkala sang ayah mengetahui mobil mahalnya penuh dengan goresan coretan-coretan, maka ia sangat marah. Dengan penuh amarah, sang ayah langsung menghukum Ani. Sampai-sampai pergelangan tangan kanan Ani terluka. Selama dua hari tak dihiraukannya, sampai pada akhirnya diketahui bahwa luka sudah parah dan baru segera dilarikan ke rumah sakit. Tetapi sudah terlambat, dokter mengatakan bahwa pergelangan tangan Ani harus diamputasi.

Pada saat Ani tersadar sedang dirawat di rumah sakit dan tangan kanannya tidak ada, ia menangis dan memohon ampun kepada ayahnya. Ia mengira tangan kanannya disembunyikan oleh ayahnya. Ia berkata, “Ayah, saya berjanji tidak akan mencorat-coret mobil Ayah lagi. Saya berjanji tidak akan nakal lagi. Tapi tolong Ayah, kembalikan tangan kanan saya.”

Sang ayah menangis mendengar kalimat-kalimat penyesalan yang terlontar dari mulut putrinya. Ia sangat menyesal karena telah menghukum Ani, putri yang sangat ia cintai. Padahal sebelumnya ia mengira bahwa kesuksesan yang berhasil ia bangun dan mobil mahal itu sangat berharga. Maka sejak kejadian itu ia merasa bahwa harta dan kesuksesan yang telah ia peroleh begitu hampa dan tidak berarti sama sekali. Akhirnya, ia bunuh diri karena tidak tahan menyadari kenyataan pahit tentang dirinya.

Sebenarnya bekerja keras hingga lupa waktu bukan hanya terjadi pada orang tua Ani saja. Banyak sekali orang-orang yang terlalu hanyut dengan pekerjaan untuk meningkatkan kualitas hidup, terutama orang-orang yang berada di kota-kota besar. Akibatnya, mereka menjadi buta karena kehilangan identitas dan cenderung bersikap reaktif karena tidak lagi peka pada hal-hal yang akan terjadi.

Dampak berikutnya yang mereka rasakan adalah kehidupan yang terasa begitu hampa. Hal itu merupakan realita yang tidak dapat disangkal lagi. Sebuah organisasi Tom Peters meneliti dan telah menemukan fakta bahwa lebih dari 50% pebisnis eksekutif di Amerika merasa ‘emptyness’ atau kehidupan yang hampa.

Pada dasarnya, berlomba-lomba berusaha keras bukanlah suatu hal yang keliru. Tetapi jangan sampai padatnya kesibukan menjadikan kita kehilangan identitas. Oleh sebab itu, jangan pernah lupa meluangkan waktu khusus untuk menyadari kenyataan tentang diri sendiri, yaitu hal-hal yang paling berharga bagi kita dan apa saja yang bisa kita lakukan.

Langkah seperti itu merupakan suatu bentuk refleksi diri dan akan sangat membantu kita dalam menempatkan prioritas. Bila kita benar-benar berkomitmen untuk mencapai prioritas tersebut maka kita akan mudah memerangi tekanan waktu, dimana kita lebih siap meningkatkan kemampuan, merespon keadaan atau tantangan yang semakin besar dengan baik serta menjadikan kehidupan kita semakin berarti.

Bacalah satu pesan di bawah ini :

Luangkan waktu untuk bekerja, Ia adalah hadiah bagi kesuksesan.
Luangkan waktu untuk saling mencintai, Ia adalah hidup yang suci.
Luangkan waktu untuk bermain, Ia merupakan rahasia dari awet muda.
Luangkan waktu untuk membaca, Ia adalah asas pengetahuan.
Luangkan waktu untuk membantu teman, Ia adalah sumber kegembiraan.
Luangkan waktu untuk impian, Ia menghidupkan harapan.
Luangkan waktu untuk tertawa, Ia merupakan bumbu kehidupan.
Luangkan waktu untuk iman, Ia jalan ketakwaan.
Luangkan waktu untuk berdoa, Ia mendekatkan dirimu dengan Tuhan dan membersihkan debu bumi dari matamu.

Selamat mencoba !

* Andrew Ho adalah motivator Asia dan penulis buku best seller Highway to Success.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman