Oleh: Agustinus Prasetyo
Keinginan untuk serba cepat tanpa mau menunggu sudah merambah seluruh bidang kehidupan kita. Coba tengok restoran-restoran fast food yang menyediakan makanan siap saji menjamur – mengolah makanan dianggap membuang waktu (meskipun para dokter mengatakan lebih sehat).
Bimbingan belajar yang menawarkan jurus-jurus ampuh menempuh UMPTN dan sekarang ujian nasional menjamur. Pendidikan seolah-olah hanya untuk mengejar nilai tanpa memahami betul prosesnya…
Dalam hal yang berkait dengan birokrasi pemerintah terdapat istilah jalur cepat dan jalur lambat. Contoh, dalam pengurusan KTP bila diurus sendiri (hal itu sangat baik karena merupakan ajang pertemuan camat dengan warganya) tapi dalam kenyataannya bila diurus sendiri sangat menyita waktu karena petugas datangnya siang dan sering tidak langsung bekerja (membaca koran/majalah atau membuat kopi dulu), sehingga kita mesti minta izin 3 jam pada atasan untuk pengurusannya.
Dalam melakukan pekerjaan pun kebiasaan ingin mudah atau ingin cepat kaya juga tampak jelas. Contoh yang paling jelas bagi masyarakat Jawa Timur adalah bencana lumpur Lapindo yang mengakibatkan ratusan rumah terendam lumpur, ratusan orang kehilangan pekerjaan karena pabrik terendam lumpur (pengusaha, buruh, tukang ojek, warung nasi, dll), puluhan pengemis berjajar di pinggir jalan yang macet, serta ribuan orang kehilangan waktu dalam perjalanan sehingga roda perekonomian tersendat.
Bila melihat cara petani bekerja tampak jelas bahwa alam mempunyai irama dalam mematangkan segala sesuatunya. Segala sesuatu harus melalui sebuah proses – tidak bisa langsung jadi. Benih harus dikubur dalam tanah dulu dan tidak tampak apa-apa di atas tanah selama beberapa hari. Lalu, ketika tampak ada tunas selalu dimulai dari tunas yang kecil yang harus dirawat agar dapat menjadi besar dan berbuah.
Meskipun saat ini di dunia pendidikan sedang gencar-gencarnya menstimulasi anak agar masa depannya lebih cerah, seorang wakil kepala sekolah (Bapak Ariesandi) mengatakan bahwa IQ memang dapat dikarbit, namun kematangan mental tetap mengikuti hukum alam (baca: tidak dapat dikarbit).
Demikian juga kita saat mengalami masalah dalam hidup juga berproses untuk mengerti hikmah dari peristiwa itu . Contoh: Suatu ketika saya mengalami kesulitan dalam membayar utang. Tadinya saya tenang-tenang saja karena ada piutang yang sudah lama jatuh tempo dijanjikan akan segera dibayar. Tetapi semakin mendekati hari H pembayaran utang, ternyata janji tersebut tinggal sekadar janji. Saya mencoba minta personal loan dari bank X, namun hasilnya nihil. Akhirnya, tinggal satu hari dan hampir saja saya pasrah pada nasib. Saat berdoa dan merenungi nasib, tiba-tiba terpikir suatu jalan. Singkat cerita saya berhasil lolos pada saat terakhir.
Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa Tuhan bukanlah tongkat ajaib yang siap sedia mengerjakan keinginan saya. Diperlukan kerja keras manusia (usaha tekun) karena Tuhan juga bekerja lewat pikiran, karya, dan talenta yang manusia miliki untuk mencapai apa yang manusia idamkan.
BE BETTER EVERYDAY[ap]
* Agustinus Prasetyo adalah karyawan.Saat ini sedang belajar menuliskan hikmah dari peristiwa sehari-hari. Dapat dihubungi di ag_prasetyo@hotmail.com.
Senin, 20 Oktober 2008
REAKTIF IDENTIK DENGAN KEMISKINAN? -
Oleh: Riyanto B. Suwito
Kata tersebut sering digunakan untuk menyebut tindakan yang hanya didasarkan pada stimulus dari luar (eksternal), tindakan yang membabi buta, gelap mata dan lain-lain. Stimulus ini disebut aksi – untuk selanjutnya kita akan bereaksi. Begitulah proses yang terjadi dalam sebuah hubungan saling memengaruhi atau resiprokal. Adakah hal tersebut terkait dengan kemiskinan? Jawabannya bisa jadi sangat beragam.
Kita sering mendengar dari para pakar dan analis ekonomi maupun politik, istilah kebijakan pemerintah yang bersifat reaktif dan jangka pendek. Menariknya istilah ini sering kali dipergunakan untuk menyebut kebijakan pemerintahan negara berkembang atau miskin.
Di sisi lain kita juga mendengar tentang sikap reaktif orang “miskin”, saya beri tanda kutip karena ada beberapa sudut pandang dalam menyebut kata tersebut. Bagi pakar psikologi dan ilmu jiwa menyebut miskin bisa berkaitan dengan persoalan mental dan bukan semata-mata kondisi fisik dan materi. Sedangkan bagi kalangan lainnya menyebut miskin akan identik dengan kondisi prasejahtera – meskipun ada banyak versi dan indikator yang belum seragam – secara fisik dan materi.
Mereka - orang yang disebut miskin ini - sering kali bertindak otomatis begitu ada stimulus dari luar – kalau bahasa mereka disebut keterpaksaan. Kalau ditanya siapa yang memaksa? Jawabannya bisa macam-macam, tapi yang paling umum dituduh sebagai biangnya adalah “keadaan”. Misalnya mereka berutang yang pada akhirnya memberatkan atau malah menjerat mereka sendiri – walaupun mereka sadar konsekuensinya – tetapi tetap dilakukan dengan alasan dipaksa oleh keadaan.
Benarkah sesuatu yang bernama “keadaan” ini demikian kejamnya sehingga sering kali memaksa orang miskin atau negara miskin untuk melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan dan sukai? Untuk menjawab hal ini pun bisa diajukan pernyataan yang beragam.
Tapi coba kita lihat pada kasus yang lainnya – misalnya pengambilan keputusan dan tindakan karena ketidaktahuan – apakah mereka termasuk kategori “miskin”? sepertinya jawabannya adalah YA. Alasannya adalah – bahwa ketidaktahuan adalah bukti kemiskinan (kekurangan) informasi dan ilmu. Tetapi ada juga lho orang yang miskin data tapi bisa mengambil tindakan dengan bijak. Ini kasus lain, mereka biasanya adalah orang yang memiliki intuisi yang tajam – dan ini berkaitan dengan kapasitas diri yang mumpuni, bahkan bisa jadi berlebih.
Lantas bagaimana halnya dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa kemiskinan identik dengan kebodohan? Apakah hal tersebut salah? Ataukah hal itu merupakan salah satu dari pernyataan yang mendukung premis di atas? Saya akan balik bertanya, apakah kebodohan itu suatu kondisi “kekurangan” atau “kelebihan” ilmu? Jawabannya saya pastikan sudah di tangan Anda. Lantas bagaimana jika kemiskinan ilmu dan wawasan atau informasi digabungkan dengan kemiskinan materi? Sebuah kolaborasi mahadahsyat – yang sering kali dialami oleh mayoritas masyarakat atau negara miskin. Inilah jawaban mengapa sikap reaktif identik dengan kemiskinan. Karena dengan demikian lengkaplah sudah alasan kejamnya keadaan sebagai landasan untuk bertindak atau lebih tepatnya bereaksi terhadap keadaan tersebut.
Secara naluriah, orang yang mendapatkan tekanan dari keadaan mestinya dia akan menekan balik. Sayangnya tekanan balik yang ditunjukkan dari sikap reaktif sering kali justru terbalik – yaitu menekan diri sendiri dan bukan kepada pihak lain (lawannya).
Saya yakin, kalau dalam Tai Chi (ilmu beladiri dari China) – hal ini pasti dianggap sebagai sebuah kesalahan yang sangat mendasar. Karena mereka – para Tai Chi Master - justru menggunakan teknik menyerang balik dengan menggunakan tenaga (tekanan) dari lawan – sehingga semakin besar tekanan dari lawan, maka akan semakin hebat serangan balik yang bisa dilakukan.
Jika demikian, sikap reaktif sebenarnya bukanlah sebuah proses membela diri (defend) atau mencari selamat (survival) tetapi lebih tepat disebut sebagai tindakan bunuh diri (suicide). Coba kita periksa relevansinya dengan kasus nyata di negeri ini. Apakah kebijakan pemerintah yang bersifat reaktif (seperti pembatasan BBM, Listrik, pencabutan subsisdi di saat yang tidak tepat, kebijakan pembebasan bea impor bahan pangan tertentu, dll) apakah bisa disebut sebagai sebuah mekanisme bertahan hidup? Ataukah sedang mencoba untuk bunuh diri? Karena kekurangan kepercayaan diri dan ketakberdayaan (powerless) menghadapi keadaan atau pihak lain?
Bandingkan juga dengan sikap orang miskin yang berutang kepada rentenir atau “terpaksa” berutang untuk konsumsi, bisakah disebut sebagai tindakan bertahan hidup? Ataukah sedang berusaha untuk membunuh diri sendiri daripada dibunuh pihak lain? Lagi-lagi tidak tepat jika hal tersebut dikategorikan sebagai aksi heroik untuk mempertahankan hidup. Lebih tepat jika disebut sebagai tindakan bunuh diri yang terselubung.
Lantas apakah tindakan bunuh diri yang terang-terangan - seperti minum racun serangga rasa jeruk (bercanda, lho..), terjun dari gedung tinggi, menggantung diri, dll – apakah juga merupakan tindakan reaktif? Dan apakah mereka – yang melakukan hal tersebut – termasuk kategori miskin? Jawabannya saya yakin, YA. Bisa miskin harta, miskin ilmu, miskin mental, miskin teman (hubungan), miskin hati, miskin kepercayaan (baik terhadap diri maupun orang lain), miskin pertimbangan, miskin wawasan, miskin stimulus, miskin pujian, dan miskin-miskin yang lain.
Tetapi kata kunci yang menyebabkan mereka bertindak reaktif atau gelap mata tersebut tetaplah berakar dari kemiskinan atau kekurangan (poverty or lack) sesuatu atau bahkan sering kali lebih dari satu atau kolaborasi dari beberapa kemiskinan. Hati-hatilah terhadap kemiskinan, bantulah orang yang miskin dan kekurangan – begitu salah satu pesan orang bijak. Dan masih menurut orang bijak, salah satu cara untuk menolong orang miskin adalah dengan tidak menjadi bagian dari mereka. Sehingga menurut hemat saya – yang kebetulan belum bisa disebut orang bijak - mudahnya, cukup dengan tidak bertindak reaktif – itu sudah berarti turut membantu mereka, karena kita tidak menjadi seperti mereka. Termasuk dalam menyikapi tulisan singkat ini. Jangan reaktif! Lihat dulu judulnya.[rbs]
* Riyanto B. Suwito adalah entrepreneur, trainer, konsultan, dosen dan sedang belajar menulis. Dapat dihubungi di hp: 081 227 12426 atau email: riyantosuwito@gmail.com – aktif di PKPEK – fairbiz@indo.net.id . Salah satu trainer bersertifikat dari CRS-Links Certified Trainer on Financial Education for the Poor).
Kata tersebut sering digunakan untuk menyebut tindakan yang hanya didasarkan pada stimulus dari luar (eksternal), tindakan yang membabi buta, gelap mata dan lain-lain. Stimulus ini disebut aksi – untuk selanjutnya kita akan bereaksi. Begitulah proses yang terjadi dalam sebuah hubungan saling memengaruhi atau resiprokal. Adakah hal tersebut terkait dengan kemiskinan? Jawabannya bisa jadi sangat beragam.
Kita sering mendengar dari para pakar dan analis ekonomi maupun politik, istilah kebijakan pemerintah yang bersifat reaktif dan jangka pendek. Menariknya istilah ini sering kali dipergunakan untuk menyebut kebijakan pemerintahan negara berkembang atau miskin.
Di sisi lain kita juga mendengar tentang sikap reaktif orang “miskin”, saya beri tanda kutip karena ada beberapa sudut pandang dalam menyebut kata tersebut. Bagi pakar psikologi dan ilmu jiwa menyebut miskin bisa berkaitan dengan persoalan mental dan bukan semata-mata kondisi fisik dan materi. Sedangkan bagi kalangan lainnya menyebut miskin akan identik dengan kondisi prasejahtera – meskipun ada banyak versi dan indikator yang belum seragam – secara fisik dan materi.
Mereka - orang yang disebut miskin ini - sering kali bertindak otomatis begitu ada stimulus dari luar – kalau bahasa mereka disebut keterpaksaan. Kalau ditanya siapa yang memaksa? Jawabannya bisa macam-macam, tapi yang paling umum dituduh sebagai biangnya adalah “keadaan”. Misalnya mereka berutang yang pada akhirnya memberatkan atau malah menjerat mereka sendiri – walaupun mereka sadar konsekuensinya – tetapi tetap dilakukan dengan alasan dipaksa oleh keadaan.
Benarkah sesuatu yang bernama “keadaan” ini demikian kejamnya sehingga sering kali memaksa orang miskin atau negara miskin untuk melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan dan sukai? Untuk menjawab hal ini pun bisa diajukan pernyataan yang beragam.
Tapi coba kita lihat pada kasus yang lainnya – misalnya pengambilan keputusan dan tindakan karena ketidaktahuan – apakah mereka termasuk kategori “miskin”? sepertinya jawabannya adalah YA. Alasannya adalah – bahwa ketidaktahuan adalah bukti kemiskinan (kekurangan) informasi dan ilmu. Tetapi ada juga lho orang yang miskin data tapi bisa mengambil tindakan dengan bijak. Ini kasus lain, mereka biasanya adalah orang yang memiliki intuisi yang tajam – dan ini berkaitan dengan kapasitas diri yang mumpuni, bahkan bisa jadi berlebih.
Lantas bagaimana halnya dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa kemiskinan identik dengan kebodohan? Apakah hal tersebut salah? Ataukah hal itu merupakan salah satu dari pernyataan yang mendukung premis di atas? Saya akan balik bertanya, apakah kebodohan itu suatu kondisi “kekurangan” atau “kelebihan” ilmu? Jawabannya saya pastikan sudah di tangan Anda. Lantas bagaimana jika kemiskinan ilmu dan wawasan atau informasi digabungkan dengan kemiskinan materi? Sebuah kolaborasi mahadahsyat – yang sering kali dialami oleh mayoritas masyarakat atau negara miskin. Inilah jawaban mengapa sikap reaktif identik dengan kemiskinan. Karena dengan demikian lengkaplah sudah alasan kejamnya keadaan sebagai landasan untuk bertindak atau lebih tepatnya bereaksi terhadap keadaan tersebut.
Secara naluriah, orang yang mendapatkan tekanan dari keadaan mestinya dia akan menekan balik. Sayangnya tekanan balik yang ditunjukkan dari sikap reaktif sering kali justru terbalik – yaitu menekan diri sendiri dan bukan kepada pihak lain (lawannya).
Saya yakin, kalau dalam Tai Chi (ilmu beladiri dari China) – hal ini pasti dianggap sebagai sebuah kesalahan yang sangat mendasar. Karena mereka – para Tai Chi Master - justru menggunakan teknik menyerang balik dengan menggunakan tenaga (tekanan) dari lawan – sehingga semakin besar tekanan dari lawan, maka akan semakin hebat serangan balik yang bisa dilakukan.
Jika demikian, sikap reaktif sebenarnya bukanlah sebuah proses membela diri (defend) atau mencari selamat (survival) tetapi lebih tepat disebut sebagai tindakan bunuh diri (suicide). Coba kita periksa relevansinya dengan kasus nyata di negeri ini. Apakah kebijakan pemerintah yang bersifat reaktif (seperti pembatasan BBM, Listrik, pencabutan subsisdi di saat yang tidak tepat, kebijakan pembebasan bea impor bahan pangan tertentu, dll) apakah bisa disebut sebagai sebuah mekanisme bertahan hidup? Ataukah sedang mencoba untuk bunuh diri? Karena kekurangan kepercayaan diri dan ketakberdayaan (powerless) menghadapi keadaan atau pihak lain?
Bandingkan juga dengan sikap orang miskin yang berutang kepada rentenir atau “terpaksa” berutang untuk konsumsi, bisakah disebut sebagai tindakan bertahan hidup? Ataukah sedang berusaha untuk membunuh diri sendiri daripada dibunuh pihak lain? Lagi-lagi tidak tepat jika hal tersebut dikategorikan sebagai aksi heroik untuk mempertahankan hidup. Lebih tepat jika disebut sebagai tindakan bunuh diri yang terselubung.
Lantas apakah tindakan bunuh diri yang terang-terangan - seperti minum racun serangga rasa jeruk (bercanda, lho..), terjun dari gedung tinggi, menggantung diri, dll – apakah juga merupakan tindakan reaktif? Dan apakah mereka – yang melakukan hal tersebut – termasuk kategori miskin? Jawabannya saya yakin, YA. Bisa miskin harta, miskin ilmu, miskin mental, miskin teman (hubungan), miskin hati, miskin kepercayaan (baik terhadap diri maupun orang lain), miskin pertimbangan, miskin wawasan, miskin stimulus, miskin pujian, dan miskin-miskin yang lain.
Tetapi kata kunci yang menyebabkan mereka bertindak reaktif atau gelap mata tersebut tetaplah berakar dari kemiskinan atau kekurangan (poverty or lack) sesuatu atau bahkan sering kali lebih dari satu atau kolaborasi dari beberapa kemiskinan. Hati-hatilah terhadap kemiskinan, bantulah orang yang miskin dan kekurangan – begitu salah satu pesan orang bijak. Dan masih menurut orang bijak, salah satu cara untuk menolong orang miskin adalah dengan tidak menjadi bagian dari mereka. Sehingga menurut hemat saya – yang kebetulan belum bisa disebut orang bijak - mudahnya, cukup dengan tidak bertindak reaktif – itu sudah berarti turut membantu mereka, karena kita tidak menjadi seperti mereka. Termasuk dalam menyikapi tulisan singkat ini. Jangan reaktif! Lihat dulu judulnya.[rbs]
* Riyanto B. Suwito adalah entrepreneur, trainer, konsultan, dosen dan sedang belajar menulis. Dapat dihubungi di hp: 081 227 12426 atau email: riyantosuwito@gmail.com – aktif di PKPEK – fairbiz@indo.net.id . Salah satu trainer bersertifikat dari CRS-Links Certified Trainer on Financial Education for the Poor).
TEMUKAN ZONA NYAMAN ANDA
Oleh: Ahmad Arwani R.
“Yang pasti-pasti ajalah,” kata seorang teman pada saat meeting membahas perbaikan proses bisnis. “Belum tentu perbaikan ini akan memberikan dampak yang lebih signifikan dibanding sebelumnya,” tambahnya. Mungkin percakapan ini sering kita dapati di mana pun kita bekerja. Orang memang memiliki kecenderungan untuk malas berubah dan lebih memilih yang sudah berjalan seperti biasanya.
Atau, coba Anda perhatikan, Jika suatu saat Anda makan di sebuah restoran dan mengambil kursi yang paling pojok misalnya. Saat Anda kembali ke restoran tersebut pada lain waktu, Anda akan memilih meja yang sama dan makanan yang sama pula. Kenapa ini terjadi? Alasannya tetap sama, bahwa kita sudah terbiasa dengan pilihan tersebut. Karena, semua dari kita menyukai kebiasaan, kemapanan, dan kepastian.
Pernahkah Anda sadari bahwa setiap hari kejadian-kejadian tersebut banyak sekali terjadi. Kita berusaha menjaga segala sesuatu seperti yang pernah kita lihat, terlihat sama, dan konstan dari waktu ke waktu. Dengan memastikan segalanya tidak berubah, kita merasa aman dan nyaman. Keadaan ini sering disebut sebagai comfort zone dan sering dipersalahkan pada saat terjadi perubahan. Sehingga, dalam setiap training motivasi kita dianjurkan untuk keluar dari comfort zone (lebih tepatnya negative comfort zone) karena membuat kita menjadi konservatif dan tidak produktif.
Apakah memang benar demikian?
Cobalah bayangkan, di sebuah perusahaan yang sangat dinamis perubahan adalah sebuah kebiasaan (habbit) mengikuti trend industri. Proses bisa berubah sewaktu-waktu, struktur organisasi berganti secara tidak dinyana dan kebijakan bisa berubah haluan secara drastis, apakah karyawan mampu beradaptasi dengan baik?
Coba tanyakan pada diri sendiri, apa yang sebenarnya kita cari di dunia ini? Uang, kekuasaan, dan ketenaran? Belum tentu dengan uang kita merasa sukses jika kita tidak sehat. Kekuasaan tidak akan bisa kita rasakan jika kita dihantui oleh ketamakan dan kesewenang-wenangan. Dan, ketenaran tidaklah berguna jika kita tidak punya privacy dan waktu untuk orang-orang terkasih. Kalau kita tanyakan kembali, sebenarnya yang kita butuhkan adalah ketenteraman dan kenyaman hidup. Benar atau tidak?
Dalam kondisi nyaman dan aman tentunya seseorang akan lebih optimal dalam melakukan segala aktivitas karena tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kita akan bisa melakukan apa pun dan mencapai target jika kita merasa nyaman.
Sekarang marilah kita maknai dan ciptakan positive comfort zone tersebut agar memberikan daya lecut menuju kesuksesan kita.
Beberapa hal penting yang harus kita cermati dalam menciptakan positive comfort zone adalah sebagai berikut:
Definisikan ulang hidup Anda
Putuskan hidup seperti apa yang ingin Anda jalani, hidup yang penuh dengan warna-warni atau biarkan berlalu begitu saja. Kemudian tentukan nilai-nilai apa yang menurut Anda penting misalkan kejujuran, kebersamaan, kekeluargaan, kecukupan material spiritual, penghormatan, harga diri, dan lain sebagainya.
Pastikan bahwa nilai-nilai tersebut adalah identik dengan Anda, jadi di mana pun Anda berada, pekerjaan apa pun yang Anda pilih, maka nilai-nilai inilah yang akan menjadi pilar zona nyaman Anda. Jika nilai-nilai ini ada maka Anda akan eksis dan optimal, jika tidak maka buatlah itu ada atau berpindahlah ke lain tempat yang memungkinkan itu ada atau terjadi
Positive Comfort Zone adalah sebuah target yang dinamis dan upgradeable
Waktu selalu bergerak maju, perubahan tidak terelakkan lagi, dan usia pun sudah pasti merangkak naik. Pada saat itulah kita harus berkaca pada diri sendiri, apakah kita juga semakin beranjak dewasa, bertambah bijak, cerdas, dan secara spiritual lebih matang atau tidak? Pada tahapan ini Muhammad SAW mengingatkan kita bahwa orang yang beruntung adalah orang yang pada hari ini lebih baik dari kemarin. Apakah kita termasuk di dalamnya?
Selayaknya seperti target penjualan, yang dari waktu ke waktu selalu berubah begitu juga dengan comfort zone. Pada saat pengertian kita mengenai hidup semakin matang, pengalaman spiritual semakin meningkat kualitasnya maka dirasa atau tidak Anda sudah berpindah dari satu tingkatan positive comfort zone menuju ke tingkatan yang lebih tinggi.
Kalau awalnya ukuran nyaman masih dalam tataran keduniawian, sekarang beranjak ke dalam tataran pencapaian spiritual, dan begitu seterusnya. Saat kita sudah mencapai tingkat tertentu kita akan menentukan lagi tingkat positive comfort zone yang baru dan yang lebih tinggi tentunya.
Tidak selalu identik dengan uang, kekuasaan, dan ketenaran bukanlah ukuran yang sebenarnya. Pikirkanlah hal-hal seperti peluang pembelajaran, kemudahan berkomunikasi dengan sesama karyawan, kesempatan untuk mendapatkan karier yang lebih tinggi, kesempatan untuk menuangkan ide-ide kreatif untuk kemajuan perusahaan, waktu untuk bersama keluarga, kebersamaan dengan karyawan. Hal-hal tersebut bisa dijadikan sebagai indikator positive comfort zone.
Jika nilai-nilai tersebut tidak terpenuhi maka kita harus bersiap mencari solusinya sendiri dengan berpindah bagian, perusahaan, atau berpindah karier
Lihatlah dengan hati
Kondisi tingkat kenyamanan dan keamanan orang satu sama lain berbeda-beda. Karena kualitas dan target hidup berbeda dan tergantung dari kemampuan kita memaknai dan menjalani hidup. Namun satu yang pasti, perasaan nyaman dan aman hanya bisa diukur oleh hati. Bergelimpang harta dengan dikawal bodyguard sekampung belum tentu terasa nyaman jika selalu was-was akan kehilangan harta tersebut. Memiliki deposito dan investasi yang membanggakan belum tentu nyaman jika setiap saat kita khawatir akan risiko kehilangan investasi tersebut.
Maka belajarlah untuk selalu mendengar dan menuruti kata hati. Karena Tuhan berkomunikasi dengan kita setiap hari melalui segala kelembutan dan kejadian untuk kita ambil hikmah dengan akal dan hati. Segala perbuatan baik dan buruk hanya hati kita yang bisa menilai. Pastikan hati kita sejernih air telaga dan selembut kapas.[aar]
* Ahmad Arwani R lahir di Semarang pada 1 Juni 1977. Ia tinggal di Kompleks Mutiara Elok Blok B-16 Kreo Selatan, Ciledug, Tangerang, Banten.
“Yang pasti-pasti ajalah,” kata seorang teman pada saat meeting membahas perbaikan proses bisnis. “Belum tentu perbaikan ini akan memberikan dampak yang lebih signifikan dibanding sebelumnya,” tambahnya. Mungkin percakapan ini sering kita dapati di mana pun kita bekerja. Orang memang memiliki kecenderungan untuk malas berubah dan lebih memilih yang sudah berjalan seperti biasanya.
Atau, coba Anda perhatikan, Jika suatu saat Anda makan di sebuah restoran dan mengambil kursi yang paling pojok misalnya. Saat Anda kembali ke restoran tersebut pada lain waktu, Anda akan memilih meja yang sama dan makanan yang sama pula. Kenapa ini terjadi? Alasannya tetap sama, bahwa kita sudah terbiasa dengan pilihan tersebut. Karena, semua dari kita menyukai kebiasaan, kemapanan, dan kepastian.
Pernahkah Anda sadari bahwa setiap hari kejadian-kejadian tersebut banyak sekali terjadi. Kita berusaha menjaga segala sesuatu seperti yang pernah kita lihat, terlihat sama, dan konstan dari waktu ke waktu. Dengan memastikan segalanya tidak berubah, kita merasa aman dan nyaman. Keadaan ini sering disebut sebagai comfort zone dan sering dipersalahkan pada saat terjadi perubahan. Sehingga, dalam setiap training motivasi kita dianjurkan untuk keluar dari comfort zone (lebih tepatnya negative comfort zone) karena membuat kita menjadi konservatif dan tidak produktif.
Apakah memang benar demikian?
Cobalah bayangkan, di sebuah perusahaan yang sangat dinamis perubahan adalah sebuah kebiasaan (habbit) mengikuti trend industri. Proses bisa berubah sewaktu-waktu, struktur organisasi berganti secara tidak dinyana dan kebijakan bisa berubah haluan secara drastis, apakah karyawan mampu beradaptasi dengan baik?
Coba tanyakan pada diri sendiri, apa yang sebenarnya kita cari di dunia ini? Uang, kekuasaan, dan ketenaran? Belum tentu dengan uang kita merasa sukses jika kita tidak sehat. Kekuasaan tidak akan bisa kita rasakan jika kita dihantui oleh ketamakan dan kesewenang-wenangan. Dan, ketenaran tidaklah berguna jika kita tidak punya privacy dan waktu untuk orang-orang terkasih. Kalau kita tanyakan kembali, sebenarnya yang kita butuhkan adalah ketenteraman dan kenyaman hidup. Benar atau tidak?
Dalam kondisi nyaman dan aman tentunya seseorang akan lebih optimal dalam melakukan segala aktivitas karena tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kita akan bisa melakukan apa pun dan mencapai target jika kita merasa nyaman.
Sekarang marilah kita maknai dan ciptakan positive comfort zone tersebut agar memberikan daya lecut menuju kesuksesan kita.
Beberapa hal penting yang harus kita cermati dalam menciptakan positive comfort zone adalah sebagai berikut:
Definisikan ulang hidup Anda
Putuskan hidup seperti apa yang ingin Anda jalani, hidup yang penuh dengan warna-warni atau biarkan berlalu begitu saja. Kemudian tentukan nilai-nilai apa yang menurut Anda penting misalkan kejujuran, kebersamaan, kekeluargaan, kecukupan material spiritual, penghormatan, harga diri, dan lain sebagainya.
Pastikan bahwa nilai-nilai tersebut adalah identik dengan Anda, jadi di mana pun Anda berada, pekerjaan apa pun yang Anda pilih, maka nilai-nilai inilah yang akan menjadi pilar zona nyaman Anda. Jika nilai-nilai ini ada maka Anda akan eksis dan optimal, jika tidak maka buatlah itu ada atau berpindahlah ke lain tempat yang memungkinkan itu ada atau terjadi
Positive Comfort Zone adalah sebuah target yang dinamis dan upgradeable
Waktu selalu bergerak maju, perubahan tidak terelakkan lagi, dan usia pun sudah pasti merangkak naik. Pada saat itulah kita harus berkaca pada diri sendiri, apakah kita juga semakin beranjak dewasa, bertambah bijak, cerdas, dan secara spiritual lebih matang atau tidak? Pada tahapan ini Muhammad SAW mengingatkan kita bahwa orang yang beruntung adalah orang yang pada hari ini lebih baik dari kemarin. Apakah kita termasuk di dalamnya?
Selayaknya seperti target penjualan, yang dari waktu ke waktu selalu berubah begitu juga dengan comfort zone. Pada saat pengertian kita mengenai hidup semakin matang, pengalaman spiritual semakin meningkat kualitasnya maka dirasa atau tidak Anda sudah berpindah dari satu tingkatan positive comfort zone menuju ke tingkatan yang lebih tinggi.
Kalau awalnya ukuran nyaman masih dalam tataran keduniawian, sekarang beranjak ke dalam tataran pencapaian spiritual, dan begitu seterusnya. Saat kita sudah mencapai tingkat tertentu kita akan menentukan lagi tingkat positive comfort zone yang baru dan yang lebih tinggi tentunya.
Tidak selalu identik dengan uang, kekuasaan, dan ketenaran bukanlah ukuran yang sebenarnya. Pikirkanlah hal-hal seperti peluang pembelajaran, kemudahan berkomunikasi dengan sesama karyawan, kesempatan untuk mendapatkan karier yang lebih tinggi, kesempatan untuk menuangkan ide-ide kreatif untuk kemajuan perusahaan, waktu untuk bersama keluarga, kebersamaan dengan karyawan. Hal-hal tersebut bisa dijadikan sebagai indikator positive comfort zone.
Jika nilai-nilai tersebut tidak terpenuhi maka kita harus bersiap mencari solusinya sendiri dengan berpindah bagian, perusahaan, atau berpindah karier
Lihatlah dengan hati
Kondisi tingkat kenyamanan dan keamanan orang satu sama lain berbeda-beda. Karena kualitas dan target hidup berbeda dan tergantung dari kemampuan kita memaknai dan menjalani hidup. Namun satu yang pasti, perasaan nyaman dan aman hanya bisa diukur oleh hati. Bergelimpang harta dengan dikawal bodyguard sekampung belum tentu terasa nyaman jika selalu was-was akan kehilangan harta tersebut. Memiliki deposito dan investasi yang membanggakan belum tentu nyaman jika setiap saat kita khawatir akan risiko kehilangan investasi tersebut.
Maka belajarlah untuk selalu mendengar dan menuruti kata hati. Karena Tuhan berkomunikasi dengan kita setiap hari melalui segala kelembutan dan kejadian untuk kita ambil hikmah dengan akal dan hati. Segala perbuatan baik dan buruk hanya hati kita yang bisa menilai. Pastikan hati kita sejernih air telaga dan selembut kapas.[aar]
* Ahmad Arwani R lahir di Semarang pada 1 Juni 1977. Ia tinggal di Kompleks Mutiara Elok Blok B-16 Kreo Selatan, Ciledug, Tangerang, Banten.
MELONJAK, TERINJAK NAMUN TIDAK BERANJAK
Oleh: Saumiman Saud
Kondisi ekonomi yang semakin terpuruk membuat kehidupan masyarakat semakin memburuk. Mengapa demikian? Karena selama kita masih hidup di dalam dunia yang penuh ketidakpastian, maka kondisi kehidupan kita pun tidak pernah pasti. Oleh karena itulah sering kali manusia kehilangan pegangan tatkala berbagai kesulitan menyerang secara terus-menerus. Putus asa, frustasi, pasrah, itulah yang selalu menghantui kehidupan manusia. Di sisi lain pengangguran, kejahatan, dan narkoba merajarela. Berulang kali pula tatkala orang-orang menghadapi kesulitan seperti ini, maka “keadaan ekonomi” yang terpuruk itu yang dikambinghitamkan, padahal yang salah bukan kondisi itu, tetapi perilaku dan karakter manusia yang ada di dalamnya.
Di dalam Alkitab kita dapat menemukan seorang ahli strategi ekonomi. Di saat-saat keadaan ekonomi negara genting terpuruk, ia masih dapat berjaya; orang itu bernama Yusuf anak Yakub atau cicitnyanya Abraham. Perhitungannya sangat tepat. Dikatakan bahwa negeri Mesir akan berjaya dengan kelimpahan selama tujuh tahun berturut-turut, namun ingat setelah itu maka tujuh tahun ke depan berturut-turut akan terjadi masa-masa sengsara. Bagi Yusuf, strategi jitunya sangat sederhana; barangkali tanpa harus menyandang gelar sarjana ekonomi pun kita dapat melakukannya. Tatkala masa-masa jaya, jangan lupa harus menabung atau menyimpan bahan pangan di lumbung untuk berjaga-jaga agar pada waktu terpuruk masih ada persediaan yang cukup (Kejadian, 41 : 25-31).
Benar sekali apa yang diprediksikan oleh Yusuf itu terjadi. Pada saat masa sulit, mereka masih dapat menikmati makanan yang disimpan di lumbung itu. Tentu pula harga barang tersebut dijual dengan harga normal yang terjangkau oleh masyarakat luas, bahkan orang-orang Israel juga dapat menikmatinya. Sekarang timbul pertanyan, mengapa strategi ini begitu lancar dan nampak sangat sederhana? Apakah kondisi seperti ini masih berlaku saat ini?
Jelas sekali di sini, jaman semakin berubah, manusia hidup dalam situasi yang eksklusif, masing-masing hanya mengurus kepentingan sendiri. Dengan demikian jika ada keuntungan, maka ia mesti mengambilnya sendiri, jika ada kesempatan ia mesti merampasnya sendiri. Dan sebaliknya jika ada kerugian, urusannya diserahkan pada pada orang lain, kalau bisa jangan ditanggung sendiri. Orang-orang yang hidupnya terpengaruh pada kondisi seperti ini sangat sulit membagikan apa yang mereka miliki. Sehingga tidak heran ada orang yang walaupun keadaan kondisi ekonomi begitu terpuruk, ia masih dapat menumpuk harta kekayaan pribadi, dan demi kepentingan itu maka jatah kawan pun dikeruknya.
Jika hari ini para pengusaha yang kaya raya tidak mengelola usahanya dengan penuh kasih, maka yang kaya sudah pasti semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Yang kaya semakin berjaya, yang miskin semakin menderita. Tidak ada salahnya jika Anda yang sudah kaya-raya tetap mempertahankan kekayaan, namun bagi mereka yang miskin apa salahnya diberikan peluang untuk kesempatan itu juga. Tetapi dasar manusia itu tamak, maka untuk urusan kekayaan itu harus menjadi hal yang pribadi, hanya sisa remah-remahnya yang dibagikan kepada si miskin. Bahkan gara-gara masalah kekayaan, saudara dan orangtua kandung pun bila perlu disingkirkan.
Seorang penulis Rusia, Leo Tolstoy dalam bukunya Tuan dan Hamba mengisahkan suatu cerita sebagai berikut: Ada seorang petani miskin yang bernama Pak Khom, ia merasa iri pada kakak iparnya yang sangat kaya di kota. Suatu hari Pak Khom mendengar bahwa ada seorang tuan tanah yang bernama Starshina hendak menjual tanahnya. Pak Khom merasa tertarik untuk membeli tanah itu, agar dapat diolah dan ditanam sehingga ia juga menjadi orang yang kaya. "Berapa harga tanah engkau?" tanya Pak Khom. "Harga tanah," jawab Starshina “hanya 1.000 rubel sehari."
Pak Khom merasa bigung akan harga yang ditawarkan. "Berapa harganya yang benar?" Pak Khom ulang bertanya dengan serius."Saya tidak menghitung dengan cara itu,” kata Strarshina. "Saya akan menjual menurut harinya, artinya sebanyak tanah yang dapat engkau kelilingi selama satu hari; itulah ukuran yang engkau perlu bayar yakni 1.000 rubel."
Pak Khom terheran-heran dan dalam hatinya ia berkata: "Ah... saya pasti dapat mengelilingi seluas-luasnya dan saya akan menjadi orang yang paling kaya di desa ini." Selama satu malam, Pak Khom tidak dapat tidur nyenyak. Ia hanya membayangkan bahwa sebentar lagi ia akan menjadi tuan tanah yang kaya raya. "Saya akan membuat tanda patokan," kata Starshina "di sini saya memberi patokan kayu, tanda dimulai. Apabila matahari terbenam engkau sudah harus tiba kembali di sini. Itu berarti semua tanah yang engkau kelilingi itu mejadi milikmu." Pak Phom mulai berjalan, ia tidak berjalan dengan pelan-pelan, melainkan dengan penuh semangat dan tergesa-gesa. Ia tidak menghiraukan panas terik matahari, dalam benak pikirannya hanya satu yaitu sebentar lagi ia akan kaya-raya.
Satu jam, dua jam berlalu dengan cepatnya. Pak Khom berusaha dengan sekuat tenaga dan secepat mungkin untuk berjalan. Sehingga makan dan minum harus dilakukan sambil berjalan. Walaupun persediaan makanan dan minumannya tinggal sedikit, ia tetap berjalan terus. Pak Khom hanya melihat tanah-tanah yang subur, sungai-sungai yang jernih airnya, dan terus berjalan, sementara di atas gunung orang-orang melambai-lambaikan tangan padanya. Pak Khom sudah capek sekali, kakinya mulai lecet dan juga berdarah, rasanya ia seperti tidak sanggup lagi.
Melihat matahari sudah hampir terbenam, Pak Khom kembali memaksakan diri untuk berlari, dan ia terjatuh tepat pada patokan pertama; namun ia sudah tidak bernyawa lagi. "Ah anak muda," Starshina berseru. "Engkau dapat memenangkan banyak tanah hari ini." Teman-teman Pak Khom kemudian mengambil sebuah sekop dan mengorek lubang yang berukuran satu meter kali dua meter untuk menguburnya. Begitulah kira-kira orang yang telah kerasukan ketamakan. Apa artinya harta, bila karena itu nyawa melayang?
Coba sejenak kita kembali kepada Yusuf, tatkala barang-barang kebutuhan mulai krisis dan habis, Yusuf mengerahkan orang-orangnya membuka lumbung dan menjualnya ke masyarakat. Ia tidak perlu memasang harga yang tinggi seperti yang dilakukan para pedagang masa kini. Zaman sekarang monopoli dagang ada di mana-mana, tatkala diperkirakan harga jual bakal naik, maka yang dilakukan adalah menimbun barang-barang terlebih dahulu di gudang sendiri. Lalu begitu barang-barangnya habis, harga naik, maka si penjual pun menjual dengan harga sesuka-hatinya. Makanya jangan heran hari ini kita menyaksikan bahwa bila harga yang semakin melonjak, maka masyarakat yang miskin semakin merasa terinjak. Harga naik terus, gaji tetap bahkan mungkin dipotong. Apakah mereka mesti berpuasa? Ngomong-ngomong orang yang berpuasa juga harus makan pada malam harinya. Lalu kontrasnya, orang-orang di luar negeri merasa prihatin sekaligus heran dengan kondisi ekonomi di Tanah Air kita. Di satu pihak dikatakan keadaan ekonomi lagi krisis; namun di pihak lain berbondong-bondong masyarakatnya melancong ke luar negeri dan berfoya-foya di sana. Sulit dipercaya dan tidak masuk akal, bukan?
Memang tidak semua orang mau peduli dengan kondisi ini; namun jika Anda mengaku diri sebagai orang percaya, pengikut Kristus yang sejati, cinta Tuhan, maka Anda harus menjadi contoh teladan dalam keadaan ini. Jika tidak, siapa lagi yang dapat diandalkan. Yesaya 59:1 mencatat “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar.” Yakin sepenuh hati, Tuhan pasti menolong. Jadilah pengusaha yang memiliki hati kasih, bukan hati yang tamak. Ingat harta kekayaan dapat dicari, namun kesempatan untuk mengerjakan yang terbaik buat menolong orang lain tidak selalu ada. Porsi lauk-pauk yang dimakan oleh mereka yang kaya dan yang miskin adalah sama, oleh sebab itu jika Anda memiliki lebih, apa salahnya itu dibagikan kepada mereka yang kurang. “Kunci sukses seseorang bukan diukur dari seberapa banyak kekayaan yang ada, tetapi orang yang sukses dapat diukur dari bagaimana ia memakai kekayaannya menjadi berkat bagi orang lain.”
Hari ini kita sebagai manusia tidak dapat menghindari kondisi yang terpuruk itu. Harga-harga barang kebutuhan semakin hari semakin naik di negeri tercinta, celakanya setiap harga barang yang sudah naik sulit sekali untuk turun lagi. Dalam kondisi ini bagaimana sikap orang percaya? Orang percaya mesti harus tabah dan kuat. Orang percaya boleh miskin di dalam harta kekayaan, tetapi ia tidak boleh miskin dalam hal rohani. Bukankah Tuhan Yesus berkata apalah artinya engkau memiliki harta yang ada di seluruh dunia ini, namun Anda kehilangan nyawanya? (Matius 16:26 ) Di bagian lain Tuhan Yesus berkata lagi, “Barang siapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Dan barang siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 10: 39).
Maksudnya ialah, kalaupun kita harus kehilangan nyawa gara-gara kemiskinan itu tidak soal, namun integritas kita sebagai orang Kristen tetap dijaga dan dipelihara. Kita mungkin akan menjadi korban dan miskin terinjak karena harga barang semakin melonjak, namun iman kepercayaan ini tidak harus beranjak. Tuhan kita tidak pernah lalai memerhatikan kita. Dalam kitab Mazmur 37:23-24 “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” Orang miskin memang tidak popular, tidak terperhatikan, sering diabaikan, hina, rendah, papah, namun ingat Tuhan Yesus justru datang ke dunia mencari mereka yang terabaikan itu. Ia menjanjikan suatu kepastian keselamatan yang tidak dapar ditawarkan dan dimiliki oleh dunia ini.[ss]
* Saumiman Saud adalah seorang pendeta, alumni Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, saat ini bertugas di Washington. Beliau dapat dihubungi via email saumiman@gmail.com
Kondisi ekonomi yang semakin terpuruk membuat kehidupan masyarakat semakin memburuk. Mengapa demikian? Karena selama kita masih hidup di dalam dunia yang penuh ketidakpastian, maka kondisi kehidupan kita pun tidak pernah pasti. Oleh karena itulah sering kali manusia kehilangan pegangan tatkala berbagai kesulitan menyerang secara terus-menerus. Putus asa, frustasi, pasrah, itulah yang selalu menghantui kehidupan manusia. Di sisi lain pengangguran, kejahatan, dan narkoba merajarela. Berulang kali pula tatkala orang-orang menghadapi kesulitan seperti ini, maka “keadaan ekonomi” yang terpuruk itu yang dikambinghitamkan, padahal yang salah bukan kondisi itu, tetapi perilaku dan karakter manusia yang ada di dalamnya.
Di dalam Alkitab kita dapat menemukan seorang ahli strategi ekonomi. Di saat-saat keadaan ekonomi negara genting terpuruk, ia masih dapat berjaya; orang itu bernama Yusuf anak Yakub atau cicitnyanya Abraham. Perhitungannya sangat tepat. Dikatakan bahwa negeri Mesir akan berjaya dengan kelimpahan selama tujuh tahun berturut-turut, namun ingat setelah itu maka tujuh tahun ke depan berturut-turut akan terjadi masa-masa sengsara. Bagi Yusuf, strategi jitunya sangat sederhana; barangkali tanpa harus menyandang gelar sarjana ekonomi pun kita dapat melakukannya. Tatkala masa-masa jaya, jangan lupa harus menabung atau menyimpan bahan pangan di lumbung untuk berjaga-jaga agar pada waktu terpuruk masih ada persediaan yang cukup (Kejadian, 41 : 25-31).
Benar sekali apa yang diprediksikan oleh Yusuf itu terjadi. Pada saat masa sulit, mereka masih dapat menikmati makanan yang disimpan di lumbung itu. Tentu pula harga barang tersebut dijual dengan harga normal yang terjangkau oleh masyarakat luas, bahkan orang-orang Israel juga dapat menikmatinya. Sekarang timbul pertanyan, mengapa strategi ini begitu lancar dan nampak sangat sederhana? Apakah kondisi seperti ini masih berlaku saat ini?
Jelas sekali di sini, jaman semakin berubah, manusia hidup dalam situasi yang eksklusif, masing-masing hanya mengurus kepentingan sendiri. Dengan demikian jika ada keuntungan, maka ia mesti mengambilnya sendiri, jika ada kesempatan ia mesti merampasnya sendiri. Dan sebaliknya jika ada kerugian, urusannya diserahkan pada pada orang lain, kalau bisa jangan ditanggung sendiri. Orang-orang yang hidupnya terpengaruh pada kondisi seperti ini sangat sulit membagikan apa yang mereka miliki. Sehingga tidak heran ada orang yang walaupun keadaan kondisi ekonomi begitu terpuruk, ia masih dapat menumpuk harta kekayaan pribadi, dan demi kepentingan itu maka jatah kawan pun dikeruknya.
Jika hari ini para pengusaha yang kaya raya tidak mengelola usahanya dengan penuh kasih, maka yang kaya sudah pasti semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Yang kaya semakin berjaya, yang miskin semakin menderita. Tidak ada salahnya jika Anda yang sudah kaya-raya tetap mempertahankan kekayaan, namun bagi mereka yang miskin apa salahnya diberikan peluang untuk kesempatan itu juga. Tetapi dasar manusia itu tamak, maka untuk urusan kekayaan itu harus menjadi hal yang pribadi, hanya sisa remah-remahnya yang dibagikan kepada si miskin. Bahkan gara-gara masalah kekayaan, saudara dan orangtua kandung pun bila perlu disingkirkan.
Seorang penulis Rusia, Leo Tolstoy dalam bukunya Tuan dan Hamba mengisahkan suatu cerita sebagai berikut: Ada seorang petani miskin yang bernama Pak Khom, ia merasa iri pada kakak iparnya yang sangat kaya di kota. Suatu hari Pak Khom mendengar bahwa ada seorang tuan tanah yang bernama Starshina hendak menjual tanahnya. Pak Khom merasa tertarik untuk membeli tanah itu, agar dapat diolah dan ditanam sehingga ia juga menjadi orang yang kaya. "Berapa harga tanah engkau?" tanya Pak Khom. "Harga tanah," jawab Starshina “hanya 1.000 rubel sehari."
Pak Khom merasa bigung akan harga yang ditawarkan. "Berapa harganya yang benar?" Pak Khom ulang bertanya dengan serius."Saya tidak menghitung dengan cara itu,” kata Strarshina. "Saya akan menjual menurut harinya, artinya sebanyak tanah yang dapat engkau kelilingi selama satu hari; itulah ukuran yang engkau perlu bayar yakni 1.000 rubel."
Pak Khom terheran-heran dan dalam hatinya ia berkata: "Ah... saya pasti dapat mengelilingi seluas-luasnya dan saya akan menjadi orang yang paling kaya di desa ini." Selama satu malam, Pak Khom tidak dapat tidur nyenyak. Ia hanya membayangkan bahwa sebentar lagi ia akan menjadi tuan tanah yang kaya raya. "Saya akan membuat tanda patokan," kata Starshina "di sini saya memberi patokan kayu, tanda dimulai. Apabila matahari terbenam engkau sudah harus tiba kembali di sini. Itu berarti semua tanah yang engkau kelilingi itu mejadi milikmu." Pak Phom mulai berjalan, ia tidak berjalan dengan pelan-pelan, melainkan dengan penuh semangat dan tergesa-gesa. Ia tidak menghiraukan panas terik matahari, dalam benak pikirannya hanya satu yaitu sebentar lagi ia akan kaya-raya.
Satu jam, dua jam berlalu dengan cepatnya. Pak Khom berusaha dengan sekuat tenaga dan secepat mungkin untuk berjalan. Sehingga makan dan minum harus dilakukan sambil berjalan. Walaupun persediaan makanan dan minumannya tinggal sedikit, ia tetap berjalan terus. Pak Khom hanya melihat tanah-tanah yang subur, sungai-sungai yang jernih airnya, dan terus berjalan, sementara di atas gunung orang-orang melambai-lambaikan tangan padanya. Pak Khom sudah capek sekali, kakinya mulai lecet dan juga berdarah, rasanya ia seperti tidak sanggup lagi.
Melihat matahari sudah hampir terbenam, Pak Khom kembali memaksakan diri untuk berlari, dan ia terjatuh tepat pada patokan pertama; namun ia sudah tidak bernyawa lagi. "Ah anak muda," Starshina berseru. "Engkau dapat memenangkan banyak tanah hari ini." Teman-teman Pak Khom kemudian mengambil sebuah sekop dan mengorek lubang yang berukuran satu meter kali dua meter untuk menguburnya. Begitulah kira-kira orang yang telah kerasukan ketamakan. Apa artinya harta, bila karena itu nyawa melayang?
Coba sejenak kita kembali kepada Yusuf, tatkala barang-barang kebutuhan mulai krisis dan habis, Yusuf mengerahkan orang-orangnya membuka lumbung dan menjualnya ke masyarakat. Ia tidak perlu memasang harga yang tinggi seperti yang dilakukan para pedagang masa kini. Zaman sekarang monopoli dagang ada di mana-mana, tatkala diperkirakan harga jual bakal naik, maka yang dilakukan adalah menimbun barang-barang terlebih dahulu di gudang sendiri. Lalu begitu barang-barangnya habis, harga naik, maka si penjual pun menjual dengan harga sesuka-hatinya. Makanya jangan heran hari ini kita menyaksikan bahwa bila harga yang semakin melonjak, maka masyarakat yang miskin semakin merasa terinjak. Harga naik terus, gaji tetap bahkan mungkin dipotong. Apakah mereka mesti berpuasa? Ngomong-ngomong orang yang berpuasa juga harus makan pada malam harinya. Lalu kontrasnya, orang-orang di luar negeri merasa prihatin sekaligus heran dengan kondisi ekonomi di Tanah Air kita. Di satu pihak dikatakan keadaan ekonomi lagi krisis; namun di pihak lain berbondong-bondong masyarakatnya melancong ke luar negeri dan berfoya-foya di sana. Sulit dipercaya dan tidak masuk akal, bukan?
Memang tidak semua orang mau peduli dengan kondisi ini; namun jika Anda mengaku diri sebagai orang percaya, pengikut Kristus yang sejati, cinta Tuhan, maka Anda harus menjadi contoh teladan dalam keadaan ini. Jika tidak, siapa lagi yang dapat diandalkan. Yesaya 59:1 mencatat “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar.” Yakin sepenuh hati, Tuhan pasti menolong. Jadilah pengusaha yang memiliki hati kasih, bukan hati yang tamak. Ingat harta kekayaan dapat dicari, namun kesempatan untuk mengerjakan yang terbaik buat menolong orang lain tidak selalu ada. Porsi lauk-pauk yang dimakan oleh mereka yang kaya dan yang miskin adalah sama, oleh sebab itu jika Anda memiliki lebih, apa salahnya itu dibagikan kepada mereka yang kurang. “Kunci sukses seseorang bukan diukur dari seberapa banyak kekayaan yang ada, tetapi orang yang sukses dapat diukur dari bagaimana ia memakai kekayaannya menjadi berkat bagi orang lain.”
Hari ini kita sebagai manusia tidak dapat menghindari kondisi yang terpuruk itu. Harga-harga barang kebutuhan semakin hari semakin naik di negeri tercinta, celakanya setiap harga barang yang sudah naik sulit sekali untuk turun lagi. Dalam kondisi ini bagaimana sikap orang percaya? Orang percaya mesti harus tabah dan kuat. Orang percaya boleh miskin di dalam harta kekayaan, tetapi ia tidak boleh miskin dalam hal rohani. Bukankah Tuhan Yesus berkata apalah artinya engkau memiliki harta yang ada di seluruh dunia ini, namun Anda kehilangan nyawanya? (Matius 16:26 ) Di bagian lain Tuhan Yesus berkata lagi, “Barang siapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Dan barang siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 10: 39).
Maksudnya ialah, kalaupun kita harus kehilangan nyawa gara-gara kemiskinan itu tidak soal, namun integritas kita sebagai orang Kristen tetap dijaga dan dipelihara. Kita mungkin akan menjadi korban dan miskin terinjak karena harga barang semakin melonjak, namun iman kepercayaan ini tidak harus beranjak. Tuhan kita tidak pernah lalai memerhatikan kita. Dalam kitab Mazmur 37:23-24 “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” Orang miskin memang tidak popular, tidak terperhatikan, sering diabaikan, hina, rendah, papah, namun ingat Tuhan Yesus justru datang ke dunia mencari mereka yang terabaikan itu. Ia menjanjikan suatu kepastian keselamatan yang tidak dapar ditawarkan dan dimiliki oleh dunia ini.[ss]
* Saumiman Saud adalah seorang pendeta, alumni Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, saat ini bertugas di Washington. Beliau dapat dihubungi via email saumiman@gmail.com
PASRAH ITU NGGAK BIKIN REPOT
Oleh: Ahmad Abusali
Senin itu, seperti biasa Vina memulai aktivitasnya berangkat ke kantor. Dari rumah menuju kantor Vina menggunakan sebuah taksi. Hari itu kegiatan di kantornya sangat padat sehingga dia memilih berangkat lebih awal dari biasanya. Ketika hendak memasuki gerbang tol, Vina mulai melihat begitu banyak antrian kendaraan seolah mereka berlomba ingin cepat sampai tujuan. Saat itu, jam masih menunjukkan jam 06.10 pagi. Taksi yang ditumpangi terus melaju di tengah kerumunan mobil-mobil lain yang hendak menuju arah yang sama.
Ketika beberapa saat perjalanan, persis berada di tengah tol jembatan layang, taksi yang ditumpangi Vina sudah mulai berjalan tersendat, dan tak lama kemudian berhenti total. Vina sempat bertanya kepada sopir, “Kok kenderaan di depan sama sekali tidak bergerak ya, Pak?”
“Tidak tahu ya, Neng. Ini juga tidak seperti biasanya, mudah-mudah nggak ada apa-apa,” sahut sopir.
Beberapa saat kemudian, Vina mulai gelisah, khawatir akan terlambat tiba di kantor dan jam telah menunjukkan pukul 07.45. Posisi taksinya kurang lebih berada di tengah tol jembatan layang. Pak sopir mencari tahu penyebab kemacetan lewat radio panggil. Dari informasi yang didapat, ternyata ada truk kontainer yang berisi muatan penuh terbalik melintang di jalan sehingga menghalangi kenderaan lain yang mau lewat.
Mendengar kabar itu Vina mulai menunjukkan raut muka tegang. Rupanya, pagi itu ada jadwal rapat jam 08.30 bersama dewan direksi perusahaannya dengan CEO dari Holding Company yang ada di luar negeri. Jarak tempuh perjalanan dari rumah menuju kantornya yang biasa hanya 30-40 menit menjadi tidak berlaku.
Waktu terus berlalu, hingga menjelang waktu rapat. Vina yang seharusnya telah berada di kantor tapi masih terjebak didalam taksi yang sama sekali tidak bergerak. Dalam keadaan panik, Vina mencoba meraih handphone dari tasnya. Dan, ternyata handphone-nya pun menunjukkan low bath, lalu pelahan-lahan mati. Dia belum sempat men-charge HP-nya yang semalam digunakan untuk menghubungi adiknya yang baru bertugas di luar kota. Akibatnya, dia sama sekali tidak dapat berkomunikasi ke kantor untuk memberitahukan kondisinya. Dia berusaha menanyakan kepada sopir barangkali ada HP yang bisa dipinjam, tapi sopir tidak bawa HP.
Vina menunjukkan kepanikan yang luar biasa. Pikirannya berkecamuk, stres karena memikirkan rapat yang begitu penting tidak dapat dia diikuti. Vina dipercaya direksi untuk mempresentasikan kinerja perusahaan di hadapan CEO dari Holding Company sehingga kehadirannya pada rapat itu sangat diharapkan. Dia berpikir untuk ganti kenderaan, tapi tidak mungkin karena di tengah jalan layang tidak ada transportasi lain, seperti tukang ojek ataupun busway yang dapat dijadikan kenderaan alternatif. Akhirnya, Vina tidak memiliki pilihan lain kecuali pasrah pada Tuhan.
Pada saat itu, tiba-tiba terlintas dalam pikirannya bahwa dia pernah mendengar salah satu percakapan di sebuah stasiun radio, yang intinya adalah pada saat orang merasa tidak lagi memiliki pilihan, di situlah dibutuhkan kepasrahan kepada Tuhan. Orang betul-betul pasrah dan hanya berharap pada pertolongan dari Tuhan. Biasanya, mentalnya jauh lebih siap menghadapi dan menerima apa pun risiko yang akan terjadi. Terlebih lagi dia yakin dan percaya bahwa Tuhan akan selalu memberi yang terbaik baginya. Vina berusaha menjalankan nasihat ini. Beberapa saat kemudian dia merasa jauh lebih tenang. Dia hanya berdoa dan berprasangka baik pada Tuhan. Karena yakin, Tuhan Mahatahu apa yang terbaik bagi dirinya.
Tidak hanya itu, Vina pun masih merasa bersyukur karena ada bus angkutan umum yang persis berada di sekitar sana juga terjebak macet. Bus itu penuh sesak oleh penumpang dan sebagian banyak yang berdiri. Dari kenderaan yang dia ditumpangi, Vina dapat melihat jelas banyak penumpang yang kepanasan, bermandikan keringat, dan sebagian lagi turun dari dalam bus karena tidak mampu menahan panas. Sepertinya, bus itu juga tidak dilengkapi alat pendingin udara karena bus kelas ekonomi. Penumpang yang berada di luar bus pun tidak luput dari teriknya matahari, ditambah lagi polusi udara dari kenderaan yang ada di sekitarnya. Vina sadar betul akan beratnya penderitaan yang dialami penumpang bus itu, serta mereka pun mengalami hal yang sama terlambat menuju ke tempat beraktivitas.
Bila dibandingkan keadaan penumpang bus, Vina merasa kondisinya jauh lebih baik, lebih nyaman dan tidak capai berdiri. Malahan, dia berada di bawah hembusan udara dingin AC dan duduk di jok mobil yang empuk. Sepertinya, pantaslah bila dia banyak bersyukur.
Setelah beberapa jam berlalu, tiba-tiba taksi yang dia tumpangi pelan-pelan merayap dan akhirnya melewati kontainer yang menghalangi jalan. Di sana tampak petugas dan polisi yang sibuk mengatur lajunya kendaraan yang melintas.
Setibanya di kantor, Vina buruh-buruh menujuh meja rekannya untuk menanyakan rapat yang tidak dapat dia hadiri. Rupanya rapat yang semula akan dilaksanakan pada jam 08.30 diundur menjadi jam 14.00 disebabkan ada sesuatu dan lain hal. Vina pun masih penasaran dan bergegas menuju ruangan bosnya guna mengonfirmasi kebenaran penundaan rapat itu. Bosnya sadar bahwa Vina pasti merasa bersalah karena telah datang terlambat. Vina berusaha menjelaskan alasan dan akhirnya bos dapat memakluminya. Menurut bosnya, dia telah mencoba menghubungi Vina untuk memberitahukan penundaan rapat tapi HP-nya tidak bisa dihubungi karena mati. Vina sungguh merasa lega karena dia masih cukup waktu untuk mempersiapkan rapat akibat ditunda.
Vina kembali ke meja kerjanya dan sempat tertegun beberapa saat untuk merenungi kejadian apa yang dia alaminya pagi itu. Kini, Vina yakin dan sadar bahwa kejadian ini bukanlah secara tiba-tiba tapi peran campur tangan dari Tuhan. Inilah faktanya, bila orang telah menyerahkan diri pada Tuhan, maka uluran tangan Tuhan pun akan datang.
Ada beberapa hal pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, bahwa bila kepasrahan itu muncul dan memohon hanya pertolongan dari Tuhan, maka Tuhan pun tidak akan tinggal diam, dalam hal ini tidak ada kata yang tidak mungkin. Syaratnya hanya satu, yaitu yakin akan pertolongan-Nya. Ini berlaku bila orang telah memiliki spritulias tinggi. Hal lain adalah rasa syukur. Orang yang bersyukur selalu melihat apa yang telah dia dapatkan dan kelebihan yang telah dia dimiliki.[aa]
* Ahmad Abusali bekerja di sebuah bank asing. Ia adalah alumnus Sekolah Penulis Pembelajar dan dapat dihubungi pada email: ahmadabusali165@yahoo.co.id.
Senin itu, seperti biasa Vina memulai aktivitasnya berangkat ke kantor. Dari rumah menuju kantor Vina menggunakan sebuah taksi. Hari itu kegiatan di kantornya sangat padat sehingga dia memilih berangkat lebih awal dari biasanya. Ketika hendak memasuki gerbang tol, Vina mulai melihat begitu banyak antrian kendaraan seolah mereka berlomba ingin cepat sampai tujuan. Saat itu, jam masih menunjukkan jam 06.10 pagi. Taksi yang ditumpangi terus melaju di tengah kerumunan mobil-mobil lain yang hendak menuju arah yang sama.
Ketika beberapa saat perjalanan, persis berada di tengah tol jembatan layang, taksi yang ditumpangi Vina sudah mulai berjalan tersendat, dan tak lama kemudian berhenti total. Vina sempat bertanya kepada sopir, “Kok kenderaan di depan sama sekali tidak bergerak ya, Pak?”
“Tidak tahu ya, Neng. Ini juga tidak seperti biasanya, mudah-mudah nggak ada apa-apa,” sahut sopir.
Beberapa saat kemudian, Vina mulai gelisah, khawatir akan terlambat tiba di kantor dan jam telah menunjukkan pukul 07.45. Posisi taksinya kurang lebih berada di tengah tol jembatan layang. Pak sopir mencari tahu penyebab kemacetan lewat radio panggil. Dari informasi yang didapat, ternyata ada truk kontainer yang berisi muatan penuh terbalik melintang di jalan sehingga menghalangi kenderaan lain yang mau lewat.
Mendengar kabar itu Vina mulai menunjukkan raut muka tegang. Rupanya, pagi itu ada jadwal rapat jam 08.30 bersama dewan direksi perusahaannya dengan CEO dari Holding Company yang ada di luar negeri. Jarak tempuh perjalanan dari rumah menuju kantornya yang biasa hanya 30-40 menit menjadi tidak berlaku.
Waktu terus berlalu, hingga menjelang waktu rapat. Vina yang seharusnya telah berada di kantor tapi masih terjebak didalam taksi yang sama sekali tidak bergerak. Dalam keadaan panik, Vina mencoba meraih handphone dari tasnya. Dan, ternyata handphone-nya pun menunjukkan low bath, lalu pelahan-lahan mati. Dia belum sempat men-charge HP-nya yang semalam digunakan untuk menghubungi adiknya yang baru bertugas di luar kota. Akibatnya, dia sama sekali tidak dapat berkomunikasi ke kantor untuk memberitahukan kondisinya. Dia berusaha menanyakan kepada sopir barangkali ada HP yang bisa dipinjam, tapi sopir tidak bawa HP.
Vina menunjukkan kepanikan yang luar biasa. Pikirannya berkecamuk, stres karena memikirkan rapat yang begitu penting tidak dapat dia diikuti. Vina dipercaya direksi untuk mempresentasikan kinerja perusahaan di hadapan CEO dari Holding Company sehingga kehadirannya pada rapat itu sangat diharapkan. Dia berpikir untuk ganti kenderaan, tapi tidak mungkin karena di tengah jalan layang tidak ada transportasi lain, seperti tukang ojek ataupun busway yang dapat dijadikan kenderaan alternatif. Akhirnya, Vina tidak memiliki pilihan lain kecuali pasrah pada Tuhan.
Pada saat itu, tiba-tiba terlintas dalam pikirannya bahwa dia pernah mendengar salah satu percakapan di sebuah stasiun radio, yang intinya adalah pada saat orang merasa tidak lagi memiliki pilihan, di situlah dibutuhkan kepasrahan kepada Tuhan. Orang betul-betul pasrah dan hanya berharap pada pertolongan dari Tuhan. Biasanya, mentalnya jauh lebih siap menghadapi dan menerima apa pun risiko yang akan terjadi. Terlebih lagi dia yakin dan percaya bahwa Tuhan akan selalu memberi yang terbaik baginya. Vina berusaha menjalankan nasihat ini. Beberapa saat kemudian dia merasa jauh lebih tenang. Dia hanya berdoa dan berprasangka baik pada Tuhan. Karena yakin, Tuhan Mahatahu apa yang terbaik bagi dirinya.
Tidak hanya itu, Vina pun masih merasa bersyukur karena ada bus angkutan umum yang persis berada di sekitar sana juga terjebak macet. Bus itu penuh sesak oleh penumpang dan sebagian banyak yang berdiri. Dari kenderaan yang dia ditumpangi, Vina dapat melihat jelas banyak penumpang yang kepanasan, bermandikan keringat, dan sebagian lagi turun dari dalam bus karena tidak mampu menahan panas. Sepertinya, bus itu juga tidak dilengkapi alat pendingin udara karena bus kelas ekonomi. Penumpang yang berada di luar bus pun tidak luput dari teriknya matahari, ditambah lagi polusi udara dari kenderaan yang ada di sekitarnya. Vina sadar betul akan beratnya penderitaan yang dialami penumpang bus itu, serta mereka pun mengalami hal yang sama terlambat menuju ke tempat beraktivitas.
Bila dibandingkan keadaan penumpang bus, Vina merasa kondisinya jauh lebih baik, lebih nyaman dan tidak capai berdiri. Malahan, dia berada di bawah hembusan udara dingin AC dan duduk di jok mobil yang empuk. Sepertinya, pantaslah bila dia banyak bersyukur.
Setelah beberapa jam berlalu, tiba-tiba taksi yang dia tumpangi pelan-pelan merayap dan akhirnya melewati kontainer yang menghalangi jalan. Di sana tampak petugas dan polisi yang sibuk mengatur lajunya kendaraan yang melintas.
Setibanya di kantor, Vina buruh-buruh menujuh meja rekannya untuk menanyakan rapat yang tidak dapat dia hadiri. Rupanya rapat yang semula akan dilaksanakan pada jam 08.30 diundur menjadi jam 14.00 disebabkan ada sesuatu dan lain hal. Vina pun masih penasaran dan bergegas menuju ruangan bosnya guna mengonfirmasi kebenaran penundaan rapat itu. Bosnya sadar bahwa Vina pasti merasa bersalah karena telah datang terlambat. Vina berusaha menjelaskan alasan dan akhirnya bos dapat memakluminya. Menurut bosnya, dia telah mencoba menghubungi Vina untuk memberitahukan penundaan rapat tapi HP-nya tidak bisa dihubungi karena mati. Vina sungguh merasa lega karena dia masih cukup waktu untuk mempersiapkan rapat akibat ditunda.
Vina kembali ke meja kerjanya dan sempat tertegun beberapa saat untuk merenungi kejadian apa yang dia alaminya pagi itu. Kini, Vina yakin dan sadar bahwa kejadian ini bukanlah secara tiba-tiba tapi peran campur tangan dari Tuhan. Inilah faktanya, bila orang telah menyerahkan diri pada Tuhan, maka uluran tangan Tuhan pun akan datang.
Ada beberapa hal pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, bahwa bila kepasrahan itu muncul dan memohon hanya pertolongan dari Tuhan, maka Tuhan pun tidak akan tinggal diam, dalam hal ini tidak ada kata yang tidak mungkin. Syaratnya hanya satu, yaitu yakin akan pertolongan-Nya. Ini berlaku bila orang telah memiliki spritulias tinggi. Hal lain adalah rasa syukur. Orang yang bersyukur selalu melihat apa yang telah dia dapatkan dan kelebihan yang telah dia dimiliki.[aa]
* Ahmad Abusali bekerja di sebuah bank asing. Ia adalah alumnus Sekolah Penulis Pembelajar dan dapat dihubungi pada email: ahmadabusali165@yahoo.co.id.
JANGAN PERNAH MAKAN SENDIRI
Oleh: Berny Gomulya
“We have always found that people are most productive in small teams with tight budgets, time lines and the freedom to solve their own problems.”
~ John Rollwagen
“The ability to deal with people is as purchasable to a commodity as sugar of coffee, and I will pay more for that ability than for any other under the sun.”
~ John D. Rockefeller
Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya mendengar di salah satu stasiun radio, ada seorang karyawan menelepon. Dia mengeluh bahwa bosnya tidak pernah bisa mengerti perasaannya. Belum juga Sang Coach memberikan masukan terhadap si karyawan, seorang bos menelepon. Kali ini bos tersebut mengeluh karena dia merasa anak buahnya tidak bisa bekerja dengan baik dan tidak bisa bekerja seperti yang ia harapkan.
Ini mengingatkan saya ketika saya bekerja di PT Astra International Tbk, ada seorang kawan yang secara individu sangat hebat, prestasi akademiknya luar biasa, lulus dari perguruan tinggi terkenal dengan summa cum laude, tetapi jenjang kariernya lambat. Apa yang salah dengan dia sehingga kariernya kurang cepat? Ternyata, oleh atasannya dia dinilai tidak bisa bekerja sama dengan orang lain. Dia kurang bisa menghargai pendapat dan keahlian orang lain.
Sahabat yang lain lagi, dengan bakat dan potensi yang luar biasa, mengeluh karena lelah pindah-pindah kerja. Tadinya saya berpikir bahwa dia ingin mencoba tantangan baru di kantor lain. Tetapi setelah mendengar keluh kesahnya, ternyata dia selalu tidak cocok dengan lingkungan kerjanya.
Teman yang lainnya lagi mengeluh sudah empat kali bercerai tetapi tidak juga mendapatkan istri yang cocok. Yang lainnya lagi, sibuk berganti-ganti pacar sebanyak lima kali, tetapi juga belum mendapatkan perempuan yang pas untuk dijadikan istri.
Semua kejadian di atas berbicara mengenai betapa pentingnya menerima perbedaan dan melihat kerja sama sebagai suatu keharusan. Jika motivasi Anda mencari pasangan, entah itu pasangan hidup atau pasangan kerja, mencari orang yang cocok di semua bidang, lupakan saja.
Anda boleh memiliki pendapat berbeda, namun perjalanan hidup saya menunjukkan dukungan yang amat kuat tentang pentingnya bekerja sama. Di perusahaan, hampir tidak pernah saya bertemu pemimpin berhasil tanpa kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Di keluarga, tidak pernah saya temukan keluarga bahagia tanpa kesediaan untuk secara sengaja bekerja sama dengan anggota keluarga yang lain.
Ada sebuah cerita tentang seekor kelinci. Dia sedang duduk santai di tepi pantai, tiba tiba datang seekor rubah jantan besar yang hendak memangsanya, lalu kelinci itu berkata: "Kalau memang kamu berani, ayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang." Sang rubah jantan merasa tertantang, "Di mana pun jadi, masa sih kelinci bisa menang melawan aku?" Mereka pun masuk ke dalam sarang kelinci, Sepuluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam setangkai paha rubah dan melahapnya dengan nikmat.
Sang kelinci kembali bersantai, sambil memakai kaca mata hitam dan topi pantai, tiba tiba datang seekor serigala besar yang hendak memangsanya, lalu kelinci berkata: "Kalau memang kamu berani, ayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang." Sang serigala merasa tertantang, "Di mana pun jadi, masa sih kelinci bisa menang melawan aku?" Mereka pun masuk ke dalam sarang kelinci, lima belas menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam setangkai paha serigala dan melahapnya dengan nikmat.
Sang Kelinci kembali bersantai, sambil memasang payung pantai dan merebahkan diri di atas pasir, tiba tiba datang seekor beruang besar yang hendak memangsanya, lalu kelinci berkata: "Kalau memang kamu berani, ayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang." Sang beruang merasa tertantang, "Di mana pun jadi, masa sih kelinci bisa menang melawan aku?" Mereka pun masuk ke dalam sarang kelinci, tiga puluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam setangkai paha beruang dan melahapnya dengan nikmat.
Pohon kelapa melambai lambai, lembayung senja sudah tiba, habis sudah waktu bersantai, sang kelinci melongok ke dalam lubang kelinci, sambil melambai, "Hai, keluar, sudah sore, besok kita teruskan!" Keluarlah seekor harimau dari lubang itu, sangat besar badannya. Sambil menguap harimau berkata, "Kerjasama kita sukses hari ini, kita makan kenyang, dan saya tidak perlu berlari kencang untuk mengejar mangsa."
Moral dari cerita di atas adalah pemenang selalu berpikir mengenai kerja sama, sementara pecundang selalu berpikir bagaimana menjadi tokoh yang paling berjaya. Untuk membentuk hubungan yang saling menguntungkan, harus ada kerendahan hati dan keikhlasan bekerja sama, meskipun dengan seseorang yang kelihatannya tidak lebih baik dari kita.
Jika dua orang atau lebih, grup atau perusahaan bekerja sama menggunakan bakat dan kemampuan mereka untuk tujuan bersama, maka hasil yang dapat dicapai lebih maksimal. Kerja sama yang produktif adalah ketika senergi tercapai. Itu artinya kombinasi dari energi, sumber daya, bakat, dan usaha adalah lebih besar dari penjumlahan masing-masing bagian; ketika 1+1=3 (atau lebih). Hal yang paling mendasar dalam kerjasama adalah menerima perbedaan dan mentransformasikan perbedaan menjadi kekuatan yang lebih produktif. Sang harimau cerdik tidak bekerja sendirian, dia tidak pernah makan sendirian, tetapi mengajak sang kelinci sebagai satu tim. Hasilnya? Sangat produktif.
Bila Anda ingin lebih produktif, kembangkanlah sikap mau bekerja sama. Jangan pernah makan sendirian.
Tips meningkatkan produktivitas Anda:
1.Mengetahui kekuatan dan kelemahan setiap anggota tim.
2.Menyadari peran setiap anggota tim.
3.Saling menerima perbedaan.
4.Tentukan tujuan dan target yang harus dicapai oleh sebuah tim.
5.Jalin komunikasi yang baik antar anggota tim.[bg]
* Berny Gomulya adalah seorang penulis, pembicara seminar profesional, pelatih personal dan perusahaan dalam bidang productivity dan management system. Ia mendapatkan pengakuan tertinggi dari dunia otomotif internasional sebagai salah satu dari hanya delapan orang Indonesia sebagai Auditor TS 16949:2002 International Automotive Task Force (IATF). Setelah lulus sebagai Sarjana Elektro dan Magister Manajemen dari Universitas Indonesia, dia bekerja di PT Astra International Tbk dan Productivity Standard Board (PSB) di Singapore. Kini, Berny mendirikan sebuah lembaga di bidang personal productivity, organization productivity, dan management system. Berny juga alumnus Workshop SPP “Cara Gampang Menulis Artikel & Buku Bestseller” Angkatan Ke-5 dan dapat dihubungi melalui email ke bernygomulya@yahoo.com.
“We have always found that people are most productive in small teams with tight budgets, time lines and the freedom to solve their own problems.”
~ John Rollwagen
“The ability to deal with people is as purchasable to a commodity as sugar of coffee, and I will pay more for that ability than for any other under the sun.”
~ John D. Rockefeller
Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya mendengar di salah satu stasiun radio, ada seorang karyawan menelepon. Dia mengeluh bahwa bosnya tidak pernah bisa mengerti perasaannya. Belum juga Sang Coach memberikan masukan terhadap si karyawan, seorang bos menelepon. Kali ini bos tersebut mengeluh karena dia merasa anak buahnya tidak bisa bekerja dengan baik dan tidak bisa bekerja seperti yang ia harapkan.
Ini mengingatkan saya ketika saya bekerja di PT Astra International Tbk, ada seorang kawan yang secara individu sangat hebat, prestasi akademiknya luar biasa, lulus dari perguruan tinggi terkenal dengan summa cum laude, tetapi jenjang kariernya lambat. Apa yang salah dengan dia sehingga kariernya kurang cepat? Ternyata, oleh atasannya dia dinilai tidak bisa bekerja sama dengan orang lain. Dia kurang bisa menghargai pendapat dan keahlian orang lain.
Sahabat yang lain lagi, dengan bakat dan potensi yang luar biasa, mengeluh karena lelah pindah-pindah kerja. Tadinya saya berpikir bahwa dia ingin mencoba tantangan baru di kantor lain. Tetapi setelah mendengar keluh kesahnya, ternyata dia selalu tidak cocok dengan lingkungan kerjanya.
Teman yang lainnya lagi mengeluh sudah empat kali bercerai tetapi tidak juga mendapatkan istri yang cocok. Yang lainnya lagi, sibuk berganti-ganti pacar sebanyak lima kali, tetapi juga belum mendapatkan perempuan yang pas untuk dijadikan istri.
Semua kejadian di atas berbicara mengenai betapa pentingnya menerima perbedaan dan melihat kerja sama sebagai suatu keharusan. Jika motivasi Anda mencari pasangan, entah itu pasangan hidup atau pasangan kerja, mencari orang yang cocok di semua bidang, lupakan saja.
Anda boleh memiliki pendapat berbeda, namun perjalanan hidup saya menunjukkan dukungan yang amat kuat tentang pentingnya bekerja sama. Di perusahaan, hampir tidak pernah saya bertemu pemimpin berhasil tanpa kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Di keluarga, tidak pernah saya temukan keluarga bahagia tanpa kesediaan untuk secara sengaja bekerja sama dengan anggota keluarga yang lain.
Ada sebuah cerita tentang seekor kelinci. Dia sedang duduk santai di tepi pantai, tiba tiba datang seekor rubah jantan besar yang hendak memangsanya, lalu kelinci itu berkata: "Kalau memang kamu berani, ayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang." Sang rubah jantan merasa tertantang, "Di mana pun jadi, masa sih kelinci bisa menang melawan aku?" Mereka pun masuk ke dalam sarang kelinci, Sepuluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam setangkai paha rubah dan melahapnya dengan nikmat.
Sang kelinci kembali bersantai, sambil memakai kaca mata hitam dan topi pantai, tiba tiba datang seekor serigala besar yang hendak memangsanya, lalu kelinci berkata: "Kalau memang kamu berani, ayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang." Sang serigala merasa tertantang, "Di mana pun jadi, masa sih kelinci bisa menang melawan aku?" Mereka pun masuk ke dalam sarang kelinci, lima belas menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam setangkai paha serigala dan melahapnya dengan nikmat.
Sang Kelinci kembali bersantai, sambil memasang payung pantai dan merebahkan diri di atas pasir, tiba tiba datang seekor beruang besar yang hendak memangsanya, lalu kelinci berkata: "Kalau memang kamu berani, ayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang." Sang beruang merasa tertantang, "Di mana pun jadi, masa sih kelinci bisa menang melawan aku?" Mereka pun masuk ke dalam sarang kelinci, tiga puluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam setangkai paha beruang dan melahapnya dengan nikmat.
Pohon kelapa melambai lambai, lembayung senja sudah tiba, habis sudah waktu bersantai, sang kelinci melongok ke dalam lubang kelinci, sambil melambai, "Hai, keluar, sudah sore, besok kita teruskan!" Keluarlah seekor harimau dari lubang itu, sangat besar badannya. Sambil menguap harimau berkata, "Kerjasama kita sukses hari ini, kita makan kenyang, dan saya tidak perlu berlari kencang untuk mengejar mangsa."
Moral dari cerita di atas adalah pemenang selalu berpikir mengenai kerja sama, sementara pecundang selalu berpikir bagaimana menjadi tokoh yang paling berjaya. Untuk membentuk hubungan yang saling menguntungkan, harus ada kerendahan hati dan keikhlasan bekerja sama, meskipun dengan seseorang yang kelihatannya tidak lebih baik dari kita.
Jika dua orang atau lebih, grup atau perusahaan bekerja sama menggunakan bakat dan kemampuan mereka untuk tujuan bersama, maka hasil yang dapat dicapai lebih maksimal. Kerja sama yang produktif adalah ketika senergi tercapai. Itu artinya kombinasi dari energi, sumber daya, bakat, dan usaha adalah lebih besar dari penjumlahan masing-masing bagian; ketika 1+1=3 (atau lebih). Hal yang paling mendasar dalam kerjasama adalah menerima perbedaan dan mentransformasikan perbedaan menjadi kekuatan yang lebih produktif. Sang harimau cerdik tidak bekerja sendirian, dia tidak pernah makan sendirian, tetapi mengajak sang kelinci sebagai satu tim. Hasilnya? Sangat produktif.
Bila Anda ingin lebih produktif, kembangkanlah sikap mau bekerja sama. Jangan pernah makan sendirian.
Tips meningkatkan produktivitas Anda:
1.Mengetahui kekuatan dan kelemahan setiap anggota tim.
2.Menyadari peran setiap anggota tim.
3.Saling menerima perbedaan.
4.Tentukan tujuan dan target yang harus dicapai oleh sebuah tim.
5.Jalin komunikasi yang baik antar anggota tim.[bg]
* Berny Gomulya adalah seorang penulis, pembicara seminar profesional, pelatih personal dan perusahaan dalam bidang productivity dan management system. Ia mendapatkan pengakuan tertinggi dari dunia otomotif internasional sebagai salah satu dari hanya delapan orang Indonesia sebagai Auditor TS 16949:2002 International Automotive Task Force (IATF). Setelah lulus sebagai Sarjana Elektro dan Magister Manajemen dari Universitas Indonesia, dia bekerja di PT Astra International Tbk dan Productivity Standard Board (PSB) di Singapore. Kini, Berny mendirikan sebuah lembaga di bidang personal productivity, organization productivity, dan management system. Berny juga alumnus Workshop SPP “Cara Gampang Menulis Artikel & Buku Bestseller” Angkatan Ke-5 dan dapat dihubungi melalui email ke bernygomulya@yahoo.com.
RE-FREAMING
Oleh: M. Iqbal Dawami
Lelaki itu bernama Viktor Frankl, tahanan di kamp konsentrasi Auszwitch. Tak seperti kebanyakan tahanan yang kemudian mati karena putus asa, Frankl malah berhasil membangun kepercayaan diri atas keyakinan bahwa pasti ada makna dari semua kejadian ini. Ini sebuah skenario yang dirancang untuk mendewasakan orang.
Cerita lainnya, ada seseorang berdoa kepada Tuhan agar dijauhkan dari penderitaan dan kenistaan. Namun, Tuhan menolaknya sambil berkata bahwa justru penderitaan itulah yang membuat seseorang menjadi dewasa dan kuat. Penderitaan akan mengajari kita untuk mengerti apa arti kebahagiaan. Sama halnya dengan penyakit yang diderita akan mengajari apa arti kesehatan.
Dua kisah pendek di atas menceritakan tentang perlunya melakukan re-freaming dalam hidup. Taufik Pasiak mengatakan bahwa melakukan re-freaming memungkinkan mata kepala dan mata hati kita terasah dan tajam. Kita bisa melihat hal-hal yang semula tak terlihat. Anda pasti akan bisa bertahan hidup, malah akan semakin kuat, jika anda menyadari bahwa di setiap kejadian ada pelajaran dan hikmah, dan terutama ada makna.
Jika Anda tiba-tiba menjadi miskin dan menderita karena kehilangan harta, maka kelangsungan hidup Anda akan sangat ditentukan oleh seberapa besar Anda melihat dan menemukan arti dari semua kejadian itu.
Demikian halnya ketika Anda dicopot dari sebuah jabatan penting. Keyakinan kita akan adanya makna dari setiap peristiwa tidak saja membuat kita lebih arif. Lebih daripada itu, kita akan makin dewasa, rasional, dan memiliki kepribadian kuat. Banyak sekali contoh manusia-manusia besar yang lahir karena kehebatannya melakukan re-freaming ini.
Tuhan menciptakan sesuatu tanpa kesia-siaan. Artinya, kalau kita pandai mengambil hikmah, tak satu pun kejadian yang tak bermanfaat sebagai pembelajaran. Cara pengelolaan stressor yang positif ada tiga, yang sesungguhnya mirip dengan apa yang dikatakan Taufik Pasiak di atas, yakni dengan rasionalisasi, melakukan curahan hati (curhat) dan pandai mengambil hikmah. Kualitas seseorang sangat menentukan kualitas dari pengelolaan stressor itu.
Persoalannya, lanjut Taufik Pasiak, bersediakah kita melakukan re-freaming itu. Karena menurutnya, banyak sekali orang menolaknya. Mereka seperti mengenakan kacamata kuda yang hanya mampu melihat lurus ke depan. Perspektif mereka satu arah saja. “Jangan heran kalau orang-orang seperti ini gelisah, terasing, mudah bermusuhan, dan egoistik,” ujar Taufik, pakar Neurosaintis ini.
Anda tahu dengan kacamata kuda? Seorang kusir/sais delman (sado) akan memasang kacamata pada kudanya bila sang kuda akan dipakai untuk menarik delman. Tentu kacamata yang dipakaikan pada kudanya bukan semata-mata agar si kuda nampak gagah. Tapi, itu juga ada kepentingan yang jauh lebih penting, yaitu agar si kuda tidak menoleh ke kiri dan ke kanan, dan hanya bisa melihat bagian yang berada di depan kuda. Sehingga, kuda mau berjalan lurus ke depan dan tidak peduli pada kejadian yang terjadi di kiri dan kanan si kuda, yang bisa memengaruhi kuda dalam perjalanan menuju tujuan yang diharapkan si sais.
Tak dapat dimungkiri, dalam kehidupan kita, ada banyak orang yang sejak kecil sudah memakai kacamata kuda. kacamata ini memang sudah dipasang oleh keluarganya (orangtuanya) yang tentunya agar anak ini berjalan lurus ke depan sesuai dengan harapan-harapan orangtua. Hampir dipastikan orang yang sejak masa kanak-kanak memakai kacamata kuda, pola pandangnya hanya mampu melihat sesuatu yang berada di depan matanya. Anak ini tidak pernah bisa melihat sesuatu di sebelah kiri atau kanannya. Dimensi pandangnya menjadi sangat sempit, hingga suatu saat dia melihat kenyataan bahwa dunia ini ternyata bukan hanya apa yang nampak di depannya saja. Dunia ternyata multi dimensi, dan pun dia menjadi terperangah.
Terkadang kita tak menyadari bahwa kita sudah biasa mengenakan kacamata kuda itu, yang seakan sudah menjadi bagian dari diri kita, sehingga tak pernah sedikit pun terbesit untuk mencoba membuka kacamata kuda kita, dan kemudian melihat berbagai aspek dengan cara pandang baru.
Contoh konkretnya adalah saat kita memandang sebuah peristiwa yang menyedihkan kita, yang biasa kita sebut musibah. Musibah adalah sesuatu yang terjadi dari luar diri kita yang tidak kita inginkan. Ada orang yang mendapat musibah, lalu ia menjadikan musibah tersebut sebagai penderitaan. Tapi ada juga yang dengan musibah, tetap bisa merasakan kebahagiaan.
Musibah adalah sesuatu yang memang datang dari luar diri kita. Sedangkan kebahagiaan dan penderitaan adalah sesuatu yang muncul dari dalam diri kita sendiri, subjektif, tergantung bagaimana kita menata perasaan. Tergantung bagaimana kita menyikapi musibah tersebut. Sikap orang dalam menyikapi musibah berbeda-beda. Tergantung dari pemahaman, pengalaman, dan kepasrahan. Pemahaman akan musibah sebagai fase hidup, membuat seseorang dapat menerima musibah apa adanya, tidak berlebihan dalam menentukan sikap maupun pernyataan. Musibah yang dialami dan dipahami sebagai bagian dari ujian atas pilihan hidupnya. Musibah datang, tak lepas dari Kuasa Tuhan.
Bagi orang yang menjadikan hidupnya sebagai pengalaman (baca: hikmah) menganggap musibah yang dialami sebagai sebuah momentum yang memang harus dijalaninya. Mereka yang pandai mengambil hikmah dari setiap momen kehidupannya, tak akan merana dengan datangnya musibah. Bahkan musibah yang dialaminya dianggapnya sebagai ujian dalam menjalin cinta terhadap Tuhannya.
Kata lain dari musibah adalah cobaan. Dan, cobaan tidak identik dengan kesengsaraan, atau sesuatu yang tidak kita inginkan. Cobaan juga bisa berupa “sesuatu yang kita inginkan”, misalnya adalah mendapatkan barang yang sesungguhnya bukan hak kita, padahal kita sangat mengingkannya. Itu adalah cobaan yang kerap kali sulit kita elakkan. Tapi, bagi orang yang memahami bahwa di balik cobaan terdapat hikmah, ia tidak segan-segan meyakinkan dirinya untuk menolak cobaan yang jenis seperti itu. Karena ia meyakini bahwa ada makna di balik ujian tersebut, dan yakin ada balasan yang positif.
Dalam hal ini, orang yang mampu bersikap seperti itu berarti ia tidak memakai kacamata kuda dalam memandang sebuah peristiwa. Ia mampu melihat dari sisi lain, yang sangat positif. Dengan kata lain, ia melakukan re-freaming.
Di bawah ini saya cantumkan sebuah kisah tentang orang yang tidak memakai kacamata kuda dan justru melakukan re-freaming dalam memandang sebuah peristiwa yang tengah dialaminya.
Ada seorang penulis yang mendapatkan kabar mengejutkan dari rumahnya. Sebuah SMS dia terima dari kakaknya, yang mengabarkan bahwa dia mendapat kiriman wesel yang dialamatkan ke rumahnya untuk honor sebuah cerpennya yang telah dimuat--beberapa bulan sebelumnya--di sebuah koran.
Penulis itu terkejut, tidak percaya. Ada tiga alasan yang membuatnya tak percaya. Pertama, sejak ia hijrah ke Jakarta tiga tahun yang lalu, ia tak pernah mendapat wesel atau transfer untuk honor cerpennya yang dimuat di koran tersebut. Sebab, setiap kali ada cerpennya yang dimuat di koran itu, esok harinya atau beberapa hari kemudian ia langsung mengambil ke kantor koran tersebut. Jadi, tak mungkin kalau honor untuk cerpennya dikirimkan oleh bagian keuangan koran itu ke alamat rumah karena honor cerpen-cerpennya sudah ia ambil semua.
Kedua, selama sebelas tahun ia menulis ke beberapa media ia tidak pernah mencantumkan alamat untuk identitasnya dengan memakai alamat rumah di Jawa Tengah melainkan alamat Yogyakarta, karena ia dulu kuliah di Yogyakarta dan setelah ia hijrah ke Jakarta, ia pindahkan ke alamat Jakarta. Jadi, bagaimana mungkin bagian keuangan koran tersebut kemudian mengirimkan wesel untuk honor cerpennya itu ke rumah? Jelas, itu mustahil, pikir penulis itu.
Ketiga, ia mengira kakaknya iseng belaka saat mengirim sms itu, untuk sekadar menyindirnya. Karena pada bulan itu ia memang belum mengirim uang buat ibunya di rumah. Padahal, ia sudah berjanji akan mengirim uang satu juta rupiah untuk menutupi utang-utang ibunya yang harus ia bayar dengan harapan agar utang tersebut bisa segera lunas.
Tetapi ia segera menepis keraguannya itu. Pasalnya, ia yakin kakaknya tak mungkin berbuat jahat untuk sekadar membohonginya. Apalagi, selama ini ia tidak pernah menemui kakaknya berani berhohong, untuk urusan uang yang ia kirim buat ibunya ke rumah.
Ia pun mengambil inisiatif untuk menelepon kakaknya hendak bertanya apa benar dirinya telah mendapat wesel dari koran tersebut? Kakaknya pun menjawab dan meyakinkan bahwa wesel tersebut benar-benar ada, dan malah sedang digenggamnya. Setelah memutuskan telepon dengan kakaknya, ia pun langsung meng-SMS bagian keuangan koran itu, dan menceritakan bahwa ia sudah menerima semua honor cerpennya yang dimuat di koran ini, tapi kenapa tiba-tiba dibayar lagi lewat wesel dan anehnya dikirim ke alamat rumah.
Tak lama kemudian ada SMS balik bahwa honor untuk cerpennya ternyata dikirim ulang. Jadi ia mendapatkan honor ganda untuk sebuah tulisan cerpen. Dengan meminta maaf, orang itu meminta ia untuk mengembalikan honor itu dan ia tidak keberatan untuk mengembalikannya. Maka, ia pun segera mengirim SMS pada kakaknya untuk mengembalikan wesel tersebut.
Sehabis mengirim SMS, ia berpikir kenapa honor untuk cerpen itu bisa dikirim lagi? Kenapa koran itu mengirim honor melalui wesel ke alamat rumah bukan ke alamatnya di Jakarta? Ada apakah di balik kejanggalan wesel yang dikirim ke rumah tersebut? Ia meyakini bahwa honor itu adalah satu ujian dari Tuhan untuk "menguji" kejujurannya. Dan itu terjadi saat ia sedang tidak punya uang padahal sudah terlanjur berjanji pada ibunya untuk mengirim uang.
Tetapi, ia yakin suatu hari nanti Tuhan akan mengganti honor haram itu dengan honor yang halal. Ia juga yakin, Tuhan akan mengganti honor cerpennya itu dengan "honor halal" yang berlipat dan bahkan bisa jadi datangnya juga tak disangka-sangka. Karena, ia tak memiliki keraguan bahwa Tuhan itu Maha Kaya dan Maha Pemurah.
Seminggu kemudian, apa yang ia yakini ternyata menjadi kenyataan. Ia hanya terhenyak kaget saat menjumpai dua tulisannya tiba-tiba muncul di media massa. Lebih aneh lagi, dua tulisannya itu nyaris tidak pernah diprediksi akan dimuat karena memang sudah lama tidak ada kabar.[mid]
* M.Iqbal Dawami adalah alumni pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di sela-sela aktivitasnya mengajar di beberapa lembaga pendidikan dan mengabdi di masyarakat, ia juga merintis usahanya dalam bidang penetasan bebek dan budidaya lele. Penulis bisa dihubungi via email: iqbal_dawami@yahoo.com.
Lelaki itu bernama Viktor Frankl, tahanan di kamp konsentrasi Auszwitch. Tak seperti kebanyakan tahanan yang kemudian mati karena putus asa, Frankl malah berhasil membangun kepercayaan diri atas keyakinan bahwa pasti ada makna dari semua kejadian ini. Ini sebuah skenario yang dirancang untuk mendewasakan orang.
Cerita lainnya, ada seseorang berdoa kepada Tuhan agar dijauhkan dari penderitaan dan kenistaan. Namun, Tuhan menolaknya sambil berkata bahwa justru penderitaan itulah yang membuat seseorang menjadi dewasa dan kuat. Penderitaan akan mengajari kita untuk mengerti apa arti kebahagiaan. Sama halnya dengan penyakit yang diderita akan mengajari apa arti kesehatan.
Dua kisah pendek di atas menceritakan tentang perlunya melakukan re-freaming dalam hidup. Taufik Pasiak mengatakan bahwa melakukan re-freaming memungkinkan mata kepala dan mata hati kita terasah dan tajam. Kita bisa melihat hal-hal yang semula tak terlihat. Anda pasti akan bisa bertahan hidup, malah akan semakin kuat, jika anda menyadari bahwa di setiap kejadian ada pelajaran dan hikmah, dan terutama ada makna.
Jika Anda tiba-tiba menjadi miskin dan menderita karena kehilangan harta, maka kelangsungan hidup Anda akan sangat ditentukan oleh seberapa besar Anda melihat dan menemukan arti dari semua kejadian itu.
Demikian halnya ketika Anda dicopot dari sebuah jabatan penting. Keyakinan kita akan adanya makna dari setiap peristiwa tidak saja membuat kita lebih arif. Lebih daripada itu, kita akan makin dewasa, rasional, dan memiliki kepribadian kuat. Banyak sekali contoh manusia-manusia besar yang lahir karena kehebatannya melakukan re-freaming ini.
Tuhan menciptakan sesuatu tanpa kesia-siaan. Artinya, kalau kita pandai mengambil hikmah, tak satu pun kejadian yang tak bermanfaat sebagai pembelajaran. Cara pengelolaan stressor yang positif ada tiga, yang sesungguhnya mirip dengan apa yang dikatakan Taufik Pasiak di atas, yakni dengan rasionalisasi, melakukan curahan hati (curhat) dan pandai mengambil hikmah. Kualitas seseorang sangat menentukan kualitas dari pengelolaan stressor itu.
Persoalannya, lanjut Taufik Pasiak, bersediakah kita melakukan re-freaming itu. Karena menurutnya, banyak sekali orang menolaknya. Mereka seperti mengenakan kacamata kuda yang hanya mampu melihat lurus ke depan. Perspektif mereka satu arah saja. “Jangan heran kalau orang-orang seperti ini gelisah, terasing, mudah bermusuhan, dan egoistik,” ujar Taufik, pakar Neurosaintis ini.
Anda tahu dengan kacamata kuda? Seorang kusir/sais delman (sado) akan memasang kacamata pada kudanya bila sang kuda akan dipakai untuk menarik delman. Tentu kacamata yang dipakaikan pada kudanya bukan semata-mata agar si kuda nampak gagah. Tapi, itu juga ada kepentingan yang jauh lebih penting, yaitu agar si kuda tidak menoleh ke kiri dan ke kanan, dan hanya bisa melihat bagian yang berada di depan kuda. Sehingga, kuda mau berjalan lurus ke depan dan tidak peduli pada kejadian yang terjadi di kiri dan kanan si kuda, yang bisa memengaruhi kuda dalam perjalanan menuju tujuan yang diharapkan si sais.
Tak dapat dimungkiri, dalam kehidupan kita, ada banyak orang yang sejak kecil sudah memakai kacamata kuda. kacamata ini memang sudah dipasang oleh keluarganya (orangtuanya) yang tentunya agar anak ini berjalan lurus ke depan sesuai dengan harapan-harapan orangtua. Hampir dipastikan orang yang sejak masa kanak-kanak memakai kacamata kuda, pola pandangnya hanya mampu melihat sesuatu yang berada di depan matanya. Anak ini tidak pernah bisa melihat sesuatu di sebelah kiri atau kanannya. Dimensi pandangnya menjadi sangat sempit, hingga suatu saat dia melihat kenyataan bahwa dunia ini ternyata bukan hanya apa yang nampak di depannya saja. Dunia ternyata multi dimensi, dan pun dia menjadi terperangah.
Terkadang kita tak menyadari bahwa kita sudah biasa mengenakan kacamata kuda itu, yang seakan sudah menjadi bagian dari diri kita, sehingga tak pernah sedikit pun terbesit untuk mencoba membuka kacamata kuda kita, dan kemudian melihat berbagai aspek dengan cara pandang baru.
Contoh konkretnya adalah saat kita memandang sebuah peristiwa yang menyedihkan kita, yang biasa kita sebut musibah. Musibah adalah sesuatu yang terjadi dari luar diri kita yang tidak kita inginkan. Ada orang yang mendapat musibah, lalu ia menjadikan musibah tersebut sebagai penderitaan. Tapi ada juga yang dengan musibah, tetap bisa merasakan kebahagiaan.
Musibah adalah sesuatu yang memang datang dari luar diri kita. Sedangkan kebahagiaan dan penderitaan adalah sesuatu yang muncul dari dalam diri kita sendiri, subjektif, tergantung bagaimana kita menata perasaan. Tergantung bagaimana kita menyikapi musibah tersebut. Sikap orang dalam menyikapi musibah berbeda-beda. Tergantung dari pemahaman, pengalaman, dan kepasrahan. Pemahaman akan musibah sebagai fase hidup, membuat seseorang dapat menerima musibah apa adanya, tidak berlebihan dalam menentukan sikap maupun pernyataan. Musibah yang dialami dan dipahami sebagai bagian dari ujian atas pilihan hidupnya. Musibah datang, tak lepas dari Kuasa Tuhan.
Bagi orang yang menjadikan hidupnya sebagai pengalaman (baca: hikmah) menganggap musibah yang dialami sebagai sebuah momentum yang memang harus dijalaninya. Mereka yang pandai mengambil hikmah dari setiap momen kehidupannya, tak akan merana dengan datangnya musibah. Bahkan musibah yang dialaminya dianggapnya sebagai ujian dalam menjalin cinta terhadap Tuhannya.
Kata lain dari musibah adalah cobaan. Dan, cobaan tidak identik dengan kesengsaraan, atau sesuatu yang tidak kita inginkan. Cobaan juga bisa berupa “sesuatu yang kita inginkan”, misalnya adalah mendapatkan barang yang sesungguhnya bukan hak kita, padahal kita sangat mengingkannya. Itu adalah cobaan yang kerap kali sulit kita elakkan. Tapi, bagi orang yang memahami bahwa di balik cobaan terdapat hikmah, ia tidak segan-segan meyakinkan dirinya untuk menolak cobaan yang jenis seperti itu. Karena ia meyakini bahwa ada makna di balik ujian tersebut, dan yakin ada balasan yang positif.
Dalam hal ini, orang yang mampu bersikap seperti itu berarti ia tidak memakai kacamata kuda dalam memandang sebuah peristiwa. Ia mampu melihat dari sisi lain, yang sangat positif. Dengan kata lain, ia melakukan re-freaming.
Di bawah ini saya cantumkan sebuah kisah tentang orang yang tidak memakai kacamata kuda dan justru melakukan re-freaming dalam memandang sebuah peristiwa yang tengah dialaminya.
Ada seorang penulis yang mendapatkan kabar mengejutkan dari rumahnya. Sebuah SMS dia terima dari kakaknya, yang mengabarkan bahwa dia mendapat kiriman wesel yang dialamatkan ke rumahnya untuk honor sebuah cerpennya yang telah dimuat--beberapa bulan sebelumnya--di sebuah koran.
Penulis itu terkejut, tidak percaya. Ada tiga alasan yang membuatnya tak percaya. Pertama, sejak ia hijrah ke Jakarta tiga tahun yang lalu, ia tak pernah mendapat wesel atau transfer untuk honor cerpennya yang dimuat di koran tersebut. Sebab, setiap kali ada cerpennya yang dimuat di koran itu, esok harinya atau beberapa hari kemudian ia langsung mengambil ke kantor koran tersebut. Jadi, tak mungkin kalau honor untuk cerpennya dikirimkan oleh bagian keuangan koran itu ke alamat rumah karena honor cerpen-cerpennya sudah ia ambil semua.
Kedua, selama sebelas tahun ia menulis ke beberapa media ia tidak pernah mencantumkan alamat untuk identitasnya dengan memakai alamat rumah di Jawa Tengah melainkan alamat Yogyakarta, karena ia dulu kuliah di Yogyakarta dan setelah ia hijrah ke Jakarta, ia pindahkan ke alamat Jakarta. Jadi, bagaimana mungkin bagian keuangan koran tersebut kemudian mengirimkan wesel untuk honor cerpennya itu ke rumah? Jelas, itu mustahil, pikir penulis itu.
Ketiga, ia mengira kakaknya iseng belaka saat mengirim sms itu, untuk sekadar menyindirnya. Karena pada bulan itu ia memang belum mengirim uang buat ibunya di rumah. Padahal, ia sudah berjanji akan mengirim uang satu juta rupiah untuk menutupi utang-utang ibunya yang harus ia bayar dengan harapan agar utang tersebut bisa segera lunas.
Tetapi ia segera menepis keraguannya itu. Pasalnya, ia yakin kakaknya tak mungkin berbuat jahat untuk sekadar membohonginya. Apalagi, selama ini ia tidak pernah menemui kakaknya berani berhohong, untuk urusan uang yang ia kirim buat ibunya ke rumah.
Ia pun mengambil inisiatif untuk menelepon kakaknya hendak bertanya apa benar dirinya telah mendapat wesel dari koran tersebut? Kakaknya pun menjawab dan meyakinkan bahwa wesel tersebut benar-benar ada, dan malah sedang digenggamnya. Setelah memutuskan telepon dengan kakaknya, ia pun langsung meng-SMS bagian keuangan koran itu, dan menceritakan bahwa ia sudah menerima semua honor cerpennya yang dimuat di koran ini, tapi kenapa tiba-tiba dibayar lagi lewat wesel dan anehnya dikirim ke alamat rumah.
Tak lama kemudian ada SMS balik bahwa honor untuk cerpennya ternyata dikirim ulang. Jadi ia mendapatkan honor ganda untuk sebuah tulisan cerpen. Dengan meminta maaf, orang itu meminta ia untuk mengembalikan honor itu dan ia tidak keberatan untuk mengembalikannya. Maka, ia pun segera mengirim SMS pada kakaknya untuk mengembalikan wesel tersebut.
Sehabis mengirim SMS, ia berpikir kenapa honor untuk cerpen itu bisa dikirim lagi? Kenapa koran itu mengirim honor melalui wesel ke alamat rumah bukan ke alamatnya di Jakarta? Ada apakah di balik kejanggalan wesel yang dikirim ke rumah tersebut? Ia meyakini bahwa honor itu adalah satu ujian dari Tuhan untuk "menguji" kejujurannya. Dan itu terjadi saat ia sedang tidak punya uang padahal sudah terlanjur berjanji pada ibunya untuk mengirim uang.
Tetapi, ia yakin suatu hari nanti Tuhan akan mengganti honor haram itu dengan honor yang halal. Ia juga yakin, Tuhan akan mengganti honor cerpennya itu dengan "honor halal" yang berlipat dan bahkan bisa jadi datangnya juga tak disangka-sangka. Karena, ia tak memiliki keraguan bahwa Tuhan itu Maha Kaya dan Maha Pemurah.
Seminggu kemudian, apa yang ia yakini ternyata menjadi kenyataan. Ia hanya terhenyak kaget saat menjumpai dua tulisannya tiba-tiba muncul di media massa. Lebih aneh lagi, dua tulisannya itu nyaris tidak pernah diprediksi akan dimuat karena memang sudah lama tidak ada kabar.[mid]
* M.Iqbal Dawami adalah alumni pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di sela-sela aktivitasnya mengajar di beberapa lembaga pendidikan dan mengabdi di masyarakat, ia juga merintis usahanya dalam bidang penetasan bebek dan budidaya lele. Penulis bisa dihubungi via email: iqbal_dawami@yahoo.com.
Langganan:
Postingan (Atom)
instanx
Total Tayangan Halaman
Categories
- abdul muid badrun (2)
- Acha Septriasa (4)
- ade asep syafruddin (4)
- alexandra dewi (1)
- alpiyanto (1)
- andrew ho (91)
- Ardian syam (22)
- arief yuntanu (2)
- arif gunawan (40)
- arif yustanu (1)
- artikel (13118)
- bambang trim (1)
- beni bevly (1)
- berita (3795)
- BLOGERNAS (1)
- damardi darmawangsa (13)
- danang a akbarona (2)
- dany chandra (3)
- dewi lestari (1)
- Dian Sastro (1)
- didik darmanto (2)
- dodi mawardi (2)
- DOWNLOAD EBOOK GRATIS (234)
- edi zaqeus (1)
- edit (110)
- eko jalu santoso (1)
- eni kusuma (11)
- goenardjoadi goenawan (1)
- hari subagya (7)
- haryanto kandani (4)
- hendra (10)
- ida kuraeny (1)
- indra cahya (1)
- iqnatius muk kuang (8)
- jennie s bev (1)
- johanes koraang (1)
- joko susilo (47)
- joni liu (2)
- joshua w utomo (2)
- joycelina (1)
- kerjadarirumah (4)
- kristopher david (1)
- lamser aritonang (1)
- Luna maya (15)
- m ichsan (41)
- m ikbal (1)
- Mariana Renata (1)
- marsello ginting (1)
- marzuki usman (3)
- Mieke Amalia (1)
- mugi subagya (1)
- muk kuang (1)
- Mulan Jameela (1)
- original artikel (103)
- profil (3)
- pujiono (1)
- rab a broto (4)
- Revalina S. Temat (3)
- riyanto s (4)
- ronal frank (2)
- roni jamaludin (1)
- ruby herman (1)
- ruddy kusnadi (1)
- rudy lim (19)
- sansulung john sum (1)
- saumimam saud (1)
- stephen barnabas (1)
- suryanto wijaya (3)
- syahril syam (17)
- tan bonaventura andika sumarjo (1)
- tanadi santoso (1)
- tante girang (454)
- thomas sugiarto (8)
- tung desem waringin (4)
- undang a halim (1)
- walpaper (50)