Oleh: Roni Djamaloeddin
Sejarah telah mencatat—sebagaimana diberitakan Alquran—bahwa sebelum diturunkannya agama (diasumsikan sebagai petunjuk dari Tuhan), pekerjaan manusia adalah merusak dan membunuh. Ini dapat diketahui dari protesnya para malaikat saat dimintai "pendapat" ketika Tuhan akan mengangkat seorang khalifah (wakil/rasul)-Nya. Protesnya: "Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah (wakil/rasul/utusan) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?" (QS.2:30).
Ungkapan protes ini jelas sekali menandakan bahwa sebelum sang khalifah/rasul/utusan (pembawa/pengajar) agama (Nabi Adam) diturunkan di muka bumi, perbuatan manusia adalah benar-benar merusak dan menumpahkan darah. Tidak beradab. Moralnya benar-benar tidak ada, rusak sama sekali. Seperti suku Barbar yang meluluhlantakkan peradaban suku mana pun yang dijumpainya.
Keadaan yang sangat kacau kalau dan carut marut inilah yang membuat malaikat—konon sebagai makhluk yang paling patuh dan mulia disisi-Nya—angkat bicara. Dengan ”sangat terpaksa” memberanikan diri menginterupsi kebijakan Tuhan. Seolah tak yakin—mungkin juga "gak gaduk" pikirannya—kalau manusia yang demikian "bobrok" moralnya ini bisa dipercaya membawakan misi (agama)-Nya, menjadi khalifah-Nya.
Kekhawatiran berlebihan tersebut nyatanya memang benar-benar terbukti. Setelah sang pembebas kegelapan benar-benar diturunkan, watak manusia ternyata tidak banyak berubah. Merusak dan membunuh masih kental sebagai kepribadiannya. Bukti riilnya justru terjadi pada putra Nabi Adam sendiri, peristiwa bunuh membunuh antara Qabil dan Habil. Padahal mereka berdua adalah orang yang paling dekat dan paling mungkin mengerti-memahami ajaran (agama) sang rasul.
Sangat ironis sekali. Yang paling dekat saja masih demikian ”bobrok” moralnya, bagaimana dengan yang jauh? Apalagi yang tidak pernah bertemu langsung dengan sang pembawa (pengajar) agama?
Mencermati hal ini, maka tidak heran bila pada zaman prasejarah dulu peradaban manusia dihiasi dengan penjajahan, peperangan, dan pembunuhan. Berbagai bentuk penindasan telah menjadi kebiasaan, telah menjadi napas dalam kehidupan. Berlanjut sampai masa awal peradaban Islam, masih adanya penjajahan hak asasi yang berupa sistem budak—memperlakukan manusia bagai binatang yang dipekerjakan maupun diperjualbelikan.
Lalu, Apa Hakekatnya Agama?
Mungkin sekali, ketika rasul Adam menjalankan misi Tuhan belum menggunakan istilah agama. Apalagi menamakan diri sebagai suatu agama, jelas tidak. Sebab, istilah agama sendiri lahir dari peradaban bangsa yunani, yang akar katanya: a tidak dan gama rusak. Sehingga, agama dapat dimaknakan menjadi seperangkat ajaran (sistem kepercayaan/keyakinan) yang dapat menjaga sekaligus mengantarkan pemakai (pemeluknya) agar tidak rusak.
Tentu saja istilah agama ini lahir pascakekhalifahan Adam. Sebab, logikanya, hanya melalui ajaran Adam-lah manusia mulai mengenal kebenaran. Manusia mulai mengenal istilah rusak tidak rusak. Mulai mengenal dari mana asalnya kebenaran, bagaimana ia musti terjadi, dan bagaimana pula mempraktikkannya dalam keseharian. Terlebih kebenaran mutlak wujud/zat-Nya—yang memang tidak mungkin dapat diselami tanpa melalui khalifah/wakil/rasul-Nya.
Entah apa nama agama beliau. Sejauh ini saya belum tahu pasti apa nama agamanya. Tampaknya memang belum ada penelitian yang komprehensif (menyeluruh) berkaitan dengan hal ini. Informasi-informasi yang berkaitan dengannya pun tidak banyak, kecuali yang tersurat dalam berbagai kitab Suci.
Namun yang jelas, sebagaimana keyakinan dan pengalaman saya, yang beliau ajarkan adalah ajaran ketuhanan. Ajaran tauhid. Ajaran yang mengarahkan, mengertikan, dan memahamkan bagaimana mentauhidkan zat, sifat, dan af'al-Nya. Sekaligus pula ajaran yang mengajarkan bagaimana me-Mahasucikan Diri-Nya dalam keseharian. Serta, ajaran yang menekankan bagaimana seharusnya berlaku sebagai hamba (makhluk) di hadapan penciptanya (khalik) dan bagaimana membawa diri menempati posisi yang semestinya ditempati.
Hakekat ajarannya sama dengan ajaran para rasul-Nya sesudahnya. Sama-sama mengajarkan tauhid. Sama-sama mengakui satu Tuhan. Sama-sama mengupayakan bagaimana meng-Esakan-Nya. Sama-sama mengajarkan kebaikan, perdamaian, pengakuan hak azasi setiap orang. Juga sama-sama mengakui kemerdekaan individu yang universal.
Yang membedakan hanyalah syariatnya. Kalau zaman rasul sesudahnya ada ibadah haji maupun salat, pada zaman Adam belum ada. Sebab ibadah haji diturunkan pada zamannya Nabi Ibrahim. Sedangkan ibadah salat diturunkan pada zaman Nabi Muhammad SAW. Demikian pula zamannya Nabi Isa, di sana pun belum ada ibadah salat. Sebab ibadah salat diturunkan pascakekalifahan Nabi Isa. Begitu seterusnya. Hakikat ajarannya yang sama, syariat (tata lahiriah)-nya saja yang mungkin bisa berbeda.
Terus, Mengapa Ada Banyak Agama?
Ada dua faktor (perspektif logika dan pemikiran) yang mendasari mengapa ini bisa terjadi. Pertama, faktor manusianya. Faktor ini lebih didominasi oleh wataknya manusia yang suka membuat kerusakan di atas. Oleh karenanya sangat mungkin bahwa pada generasi penerusnya melakukan hal yang sama, berani merusak ajaran rasul. Misalnya dengan mengadakan agama "tandingan". Atau mendirikan golongan-golongan baru, yang dalam jangka waktu tertentu mungkin jadi bisa berubah menjadi ”agama baru”.
Sebab, yang dikatakan merusak bukan hanya sekadar merusak hardware-nya bumi langit dan seisinya, melainkan merusak software-nya pula. Merusak ajaran kebenaran. Merusak sistem ber-Tuhan yang dibawa rasul. Merusak ”grand idea”(ide agung/mulia) atas penciptaan bumi langit dan seisinya—termasuk diciptakannya manusia. Maupun merusak kesanggupannya sendiri, yang berupa kesediaan memikul amanah dari-Nya (yang disanggupi oleh semua manusia tanpa kecuali ketika masih di alam arwah dulu).
Faktor kedua adalah karena kekuasaan Tuhan. Faktor ini tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun, termasuk para malaikat—sebagaimana kisah di awal tulisan ini. Menjadi hak mutlak-Nya bila Dia menurunkan agama baru—sebagai revisi terhadap agama sebelumnya. Sebagaimana yang jelas-jelas dapat dicermati, kisah penurunan agama Nasrani, dari komunitas agama yang sudah ada sebelumnya (Yahudi, maupun agama lain yang pernah turun lebih dulu). Demikian halnya penurunan agama Islam di lingkup berbagai macam agama yang sudah ada sebelumnya (Yahudi, Majusi, Nasrani, maupun agama lain yang lebih dulu ada).
Perlunya “revisi agama” terhadap agama-agama yang terdahulu ini tidak jauh beda dengan revisi undang-undangnya buatan manusia—baik yang UUD maupun UU lainnya. Karena dirasa tidak cocok lagi dengan zamannya (karena zaman telah berubah), bermuatan kolonialis, berindikasikan paham “kiri”, produk barat, atau karena kurang demokratis sehingga perlu ada revisi baik isi maupun substansinya.
Bila hal yang demikian (revisi undang-undang) menurut penciptanya sendiri adalah suatu yang niscaya, maka Tuhan pun lebih dari sekadar niscaya melakukan revisi atas agama yang pernah Dia turunkan di muka bumi. Dia Maha Niscaya. Dia Maha menentukan dan Maha mengubah segala sesuatunya, yang menurut pemikiran manusia dianggap tidak mungkin.
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa berapa pun banyaknya agama di muka bumi ini, bila Tuhan menghendaki, maka pasti terjadi. Manusia tidak akan sanggup memprediksinya. Contoh yang sangat kecil, bila Nabi SAW waktu itu memprediksi bahwa Islam nanti akan pecah menjadi 73 golongan, ternyata sekarang tidak lagi sedemikian jumlahnya. Telah mencapai ribuan bahkan mungkin jutaan pecahan baru.
Namun demikian, yang perlu dicatat adalah bahwa dari ribuan macam agama yang ada di bumi ini, yang benar dan sekaligus sempurna hanya satu. Yaitu agama yang di tengah komunitasnya ada khalifah/rasul/utusan-Nya. Kedudukan sang rasul ini sebagai "kabel" (penghubung) antara Tuhan dengan hamba-Nya. Sebagai "juru bicara"-Nya yang sekaligus "tangan kanan"-Nya, yang akan membimbing manusia pulang pada Diri-Nya.
Tidak peduli apakah agama "update" ini punya basis masa atau tidak. Tidak peduli apakah ia diterima oleh umat manusia atau malah sebaliknya, dilecehkan dan dianggap membuat agama baru—yang biasanya dilakukan oleh penganut agama pendahulu.
Bagaimanapun situasi dan keadaannya, proyek Tuhan mengentaskan kebodohan hamba-Nya tetap jalan terus. Tak ada agama mana pun—baik pemimpin maupun penganutnya—yang sanggup menghalanginya. Sekalipun semua agama yang telah ada di bumi ini bersatu padu untuk menentangnya, kekuasaan Tuhan (perihal ini) tak akan berhenti dan tak ada yang sanggup menghentikannya.
Lebih dari itu, Tuhan tidak bangga bila semua hamba-Nya mau mengakui agama yang ”selalu” Dia update ini. Dia juga tidak risih, tidak susah, dan tidak pula "ngenes" bila mereka berbalik memusuhi pembawa ajaran (misi)-Nya. Sebagaimana firman tegas-Nya: “barangsiapa ingin beriman berimanlah, barang siapa ingin kafir kafirlah” (QS.18:29).
Kesimpulan
Jadi, sejatinya, perlunya diturunkan agama oleh-Nya adalah agar makhluk-Nya yang namanya manusia tidak lagi berada dalam kegelapan. Tidak lagi terjebak dalam kerusakan. Tidak lagi merasa puas atas keyakinan yang pernah diterimanya. Tidak pula merasa puas berada di ”langit” ilmu pengetahuan-pengalaman yang selama ini diyakini. Sebab, ”di atas langit masih ada langit”. Di mana ada ilmu pengetahuan-pengalaman yang tinggi—termasuk pula dalam agama—masih ada lagi pengetahuan-pengalaman yang lebih tinggi. Yaitu pengetahuan-pengalaman yang langsung dari Zat Yang Maha Tinggi.
Kemudian mau mencari di mana al-haq (kebenaran sejati) itu berada. Tidak merasa paling benar sendiri, baik di hadapan sesamanya dan apalagi di hadapan penciptanya. Berusaha untuk tidak merasa dan mengakui bahwa agamanyalah agama yang paling benar dan paling ”diridhai” di sisi-Nya. Sebab, Tuhan nyatanya tidak memandang nama agamanya, melainkan memandang bagaimana beriman yang sejati kepada-Nya dapat diimplementasikan. ”Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS.2:62).
Selanjutnya, pikirannya mau menafakuri bahwa apa pun agama (keyakinan/paham) yang dipegang teguh selama ini, ada konsekuensi luar biasanya di hari akhir nanti. ”Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu” (QS. 22:17).
Yang pada akhirnya berani menerima kenyataan bahwa benar dalam pandangan manusia belum tentu benar menurut Tuhan. Sedang kebenaran mutlak-Nya mau tidak mau harus diterima oleh manusia, bila tidak ingin menanggung kerugian yang tak terhingga besar-beratnya di hari kiamat nanti. Sebagaimana pepatah timur tengah: ”yang benar akan selalu benar walaupun tidak seorang pun melakukan, yang salah tetap salah walau semua orang melakukan”.[rd]
* Roni Djamaloeddin dapat dihubungi di ronijamal@yahoo.com
Rabu, 29 Oktober 2008
RAHASIA SIMPAN TALI PUSAT TERKUAK
Oleh: Marsudijono
TERKAIT kehidupan manusia, masyarakat Jawa mempunyai tradisi mengadakan selamatan, dimulai sejak manusia masih berada dalam kandungan, lahir ke dunia, sampai dengan kematiannya. Salah satu selamatan tersebut dinamakan puputan.
Biasanya, bayi antara umur sepuluh hari sampai dua minggu, tali pusarnya sudah putus. Setelah tali pusar atau tali pusat putus, lalu diadakan selamatan yang dinamakan puputan atau pupak puser. Puputan asal kata dari puput (bahasa Jawa), yang artinya putus. Tujuan selamatan ini agar bayi selalu diberi kesehatan dan keselamatan dalam hidupnya. Kemudian tali pusat tersebut dikeringkan dan disimpan.
Ada kepercayaan bahwa tali pusat ini mempunyai kasiat untuk menyembuhkan. Bila sang empunya tali pusat sakit, maka tali pusat tadi direndam dengan air panas beberapa saat, kemudian air diminumkan. Dengan meminum air hangat bekas rendaman tali pusat tadi, diharapkan penderita sembuh.
Peranan Tali Pusat
Dalam buku berjudul Sembilan Bulan Pertama dalam Hidupku yang diterbitkan oleh Yayasan Cipta Loka Karya disebutkan, bahwa untuk pertumbuhan bayi, sang bayi harus mendapat sejumlah zat hidup yang cukup besar; makanan, zar asam, dan air. Semuanya ini disampaikan oleh ibunya melalui plasenta atau tembuni. Plasenta ialah alat yang memegang seluruh konsumsi bayi sampai saat kelahirannya. Plasenta memang merupakan kue bagi bayi dan bentuknya juga mirip bentuk kue. Plasenta itu berakar dalam selaput lendir rahim. Pada bulan keempat garis tengahnya kurang lebih delapan senti. Sesudah kelahiran, plesenta itu dilepaskan dan didorong keluar. Garis tengahnya bertambah menjadi kurang lebih 20 cm dan beratnya hampir setengah kilogram.
Plasenta adalah suatu alat yang sanggup menjawab berbagai kebutuhan, pendeknya serba guna. Plasenta dapat menjalankan bermacam-macam fungsi sekaligus seperti fungsi paru-paru, buah pinggang, usus, hati dan kelenjar hormon. Pula, plasenta menghasilkan zat untuk memberantas infeksi. Plasenta menjalankan fungsi paru-paru dewasa sebagai berikut; dalam plasenta karbon-dioksida (CO2) yang meninggalkan peredaran darah bayi ditukar dengan oksigen (O2), yang melalui peredaran darah ibu dibawa dari paru-paru kepada plasenta. Darah bayi mengalir melalui tali pusat ke plasenta dan tak pernah meninggalkan sistem pembuluh darah tertutup itu. Pertukaran karbondioksida dengan oksigen, dari bahan terpakai dengan bahan makan baru, diadakan melalui dinding pembuluh yang halus.
Pada saat tali pusat keluar, darah tidak lagi lewat jalan ini. Jika bayi sudah bernapas pertamakalinya, darah harus melalui paru-paru untuk mengambil oksigen di situ. Kini sebuah katup atau klep yang besar di jantung harus ditutup, sehingga darah yang sudah dipakai dipisahkan dari darah segar. Dalam beberapa menit sesudah kelahiran bayi harus mulai bernapas, supaya menerima oksigen. Darah terakhir dari plasenta yang masih mengandung oksigen diterima bayi pada saat ia dilahirkan. Peredaran darah dalam tali pusat terputus segera kalau kena udara. Alam menjaga penutupannya dengan zat semacam agar-agar yang terletak di sekeliling tiga batang pembuluh dari tali pusat. Zat ini membesar kalau kena udara dan menjepit pembuluh-pembuluh darah seperti sebuah jepitan. Pemotongan tali pusat tak berdarah. Juga kalau tidak diputuskan, tali pusat ini—serta plasenta di ujung lain—menjadi kering, dan lepas dengan meninggalkan bekas biasa, yaitu pusat. Pada umumnya plasenta dilahirkan segera sesudah bayi. Pada kelahiran, plasenta melepaskan diri dari semua ikatan. Tali pusat dan plasenta telah mengakhiri tugasnya masing-masing pada saat kelahiran.
Bank Darah Tali Pusat
Pemanfaatan darah tali pusat untuk terapi penyakit telah dimulai pada tahun 1988 di Perancis. Tali pusat bayi bisa berperan penting karena mengandung sel-sel induk. Sel induk (stem cell) yang diambil dari darah yang berasal dari tali pusat, dapat dimanfaatkan untuk pengobatan beberapa penyakit seperti diabetes, lupus, kanker payudara, kelainan darah seperti talasemia, dan leukimia (kanker darah).
Sel induk dapat digunakan dengan cara transpalasi sel dan terapi sel. Pada transpalasi, sel induk dimasukkan ke aliran darah pasien sehingga bermigrasi ke sumsum tulang dan berdiferensiasi menjadi tiga sel, yakni sel darah merah, darah putih, dan keping darah. Hal itu untuk dilakukan untuk menggantikan darah dan mengembalikan sistem kekebalan tubuh.
Sel induk disimpan dalam tabung bersuhu minus 196 derajat celcius dan secara teoretis dapat bertahan selama-lamanya. Volume darah pada tali pusat yang diambil sekitar 22,5 ml. Pada pemanfaatannya, sel induk dapat digunakan bagi saudara kandung pemilik tali pusat dengan kemungkinan kecocokan 50-70 persen. Sedangkan bagi orang tua, tingkat kecocokannya 25-50 persen.
Saat ini pengambilan dan penyimpanan darah tali pusat dapat dilakukan di Perancis, Singapura, maupun di Indonesia. Biaya pengambilan darah memerlukan dana sekitar Rp9 juta. Sedangkan biaya penyimpanan setahun dipungut kurang lebih Rp1,5 juta.
Penutup
Benda-benda yang terkait dengan kelahiran seorang manusia, seperti air ketuban, tali pusat, dan ari-ari mempunyai kedudukan yang unik bagi sebagian orang, khususnya suku Jawa. Pecahnya air ketuban sebagai pertanda akan adanya proses kelahiran. Tali pusat dirawat dan disimpan, karena dipercaya sebagai obat bagi si empunya tali pusat. Demikian juga dengan ari-ari, dirawat, lalu di kubur di depan atau di belakang rumah layaknya seorang manusia. Ada juga yang digantung di plafon. Ditanam di sekitar rumah atau digantung di atap rumah, dengan harapan pemilik ari-ari, kerasan tinggal di rumah atau tidak pergi jauh. Sebagian orang melarung atau menghanyutkan ari-ari di laut, dengan harapan agar si manusia baru ini menjadi perantau.
Beberapa tahun yang lalu ari-ari atau plasenta dimanfaatkan, di antaranya untuk bahan kosmetik, disusul kemudian dengan pemanfaatan darah tali pusat untuk terapi penyembuhan beberapa penyakit, bagi si pemilik tali pusat, maupun saudara-saudara kandungnya. Rahasia kebiasaan merawat dan menyimpan ari-ari dan tali pusat yang selama ini berdasarkan petunjuk turun-menurun dari leluhur—di mana belum memerhitungkan faktor higienis—saat ini telah terkuak secara ilmiah, di mana ternyata darah dari tali pusat secara medis mempunyai manfaat untuk pengobatan.[m]
* Marsudijono adalah karyawan Divisi Pemasaran BBM Industri dan Marine PT Pertamina. Ia juga alumni Sekolah Penulis Pembelajar yang saat ini sedang menyusun sebuah buku.
TERKAIT kehidupan manusia, masyarakat Jawa mempunyai tradisi mengadakan selamatan, dimulai sejak manusia masih berada dalam kandungan, lahir ke dunia, sampai dengan kematiannya. Salah satu selamatan tersebut dinamakan puputan.
Biasanya, bayi antara umur sepuluh hari sampai dua minggu, tali pusarnya sudah putus. Setelah tali pusar atau tali pusat putus, lalu diadakan selamatan yang dinamakan puputan atau pupak puser. Puputan asal kata dari puput (bahasa Jawa), yang artinya putus. Tujuan selamatan ini agar bayi selalu diberi kesehatan dan keselamatan dalam hidupnya. Kemudian tali pusat tersebut dikeringkan dan disimpan.
Ada kepercayaan bahwa tali pusat ini mempunyai kasiat untuk menyembuhkan. Bila sang empunya tali pusat sakit, maka tali pusat tadi direndam dengan air panas beberapa saat, kemudian air diminumkan. Dengan meminum air hangat bekas rendaman tali pusat tadi, diharapkan penderita sembuh.
Peranan Tali Pusat
Dalam buku berjudul Sembilan Bulan Pertama dalam Hidupku yang diterbitkan oleh Yayasan Cipta Loka Karya disebutkan, bahwa untuk pertumbuhan bayi, sang bayi harus mendapat sejumlah zat hidup yang cukup besar; makanan, zar asam, dan air. Semuanya ini disampaikan oleh ibunya melalui plasenta atau tembuni. Plasenta ialah alat yang memegang seluruh konsumsi bayi sampai saat kelahirannya. Plasenta memang merupakan kue bagi bayi dan bentuknya juga mirip bentuk kue. Plasenta itu berakar dalam selaput lendir rahim. Pada bulan keempat garis tengahnya kurang lebih delapan senti. Sesudah kelahiran, plesenta itu dilepaskan dan didorong keluar. Garis tengahnya bertambah menjadi kurang lebih 20 cm dan beratnya hampir setengah kilogram.
Plasenta adalah suatu alat yang sanggup menjawab berbagai kebutuhan, pendeknya serba guna. Plasenta dapat menjalankan bermacam-macam fungsi sekaligus seperti fungsi paru-paru, buah pinggang, usus, hati dan kelenjar hormon. Pula, plasenta menghasilkan zat untuk memberantas infeksi. Plasenta menjalankan fungsi paru-paru dewasa sebagai berikut; dalam plasenta karbon-dioksida (CO2) yang meninggalkan peredaran darah bayi ditukar dengan oksigen (O2), yang melalui peredaran darah ibu dibawa dari paru-paru kepada plasenta. Darah bayi mengalir melalui tali pusat ke plasenta dan tak pernah meninggalkan sistem pembuluh darah tertutup itu. Pertukaran karbondioksida dengan oksigen, dari bahan terpakai dengan bahan makan baru, diadakan melalui dinding pembuluh yang halus.
Pada saat tali pusat keluar, darah tidak lagi lewat jalan ini. Jika bayi sudah bernapas pertamakalinya, darah harus melalui paru-paru untuk mengambil oksigen di situ. Kini sebuah katup atau klep yang besar di jantung harus ditutup, sehingga darah yang sudah dipakai dipisahkan dari darah segar. Dalam beberapa menit sesudah kelahiran bayi harus mulai bernapas, supaya menerima oksigen. Darah terakhir dari plasenta yang masih mengandung oksigen diterima bayi pada saat ia dilahirkan. Peredaran darah dalam tali pusat terputus segera kalau kena udara. Alam menjaga penutupannya dengan zat semacam agar-agar yang terletak di sekeliling tiga batang pembuluh dari tali pusat. Zat ini membesar kalau kena udara dan menjepit pembuluh-pembuluh darah seperti sebuah jepitan. Pemotongan tali pusat tak berdarah. Juga kalau tidak diputuskan, tali pusat ini—serta plasenta di ujung lain—menjadi kering, dan lepas dengan meninggalkan bekas biasa, yaitu pusat. Pada umumnya plasenta dilahirkan segera sesudah bayi. Pada kelahiran, plasenta melepaskan diri dari semua ikatan. Tali pusat dan plasenta telah mengakhiri tugasnya masing-masing pada saat kelahiran.
Bank Darah Tali Pusat
Pemanfaatan darah tali pusat untuk terapi penyakit telah dimulai pada tahun 1988 di Perancis. Tali pusat bayi bisa berperan penting karena mengandung sel-sel induk. Sel induk (stem cell) yang diambil dari darah yang berasal dari tali pusat, dapat dimanfaatkan untuk pengobatan beberapa penyakit seperti diabetes, lupus, kanker payudara, kelainan darah seperti talasemia, dan leukimia (kanker darah).
Sel induk dapat digunakan dengan cara transpalasi sel dan terapi sel. Pada transpalasi, sel induk dimasukkan ke aliran darah pasien sehingga bermigrasi ke sumsum tulang dan berdiferensiasi menjadi tiga sel, yakni sel darah merah, darah putih, dan keping darah. Hal itu untuk dilakukan untuk menggantikan darah dan mengembalikan sistem kekebalan tubuh.
Sel induk disimpan dalam tabung bersuhu minus 196 derajat celcius dan secara teoretis dapat bertahan selama-lamanya. Volume darah pada tali pusat yang diambil sekitar 22,5 ml. Pada pemanfaatannya, sel induk dapat digunakan bagi saudara kandung pemilik tali pusat dengan kemungkinan kecocokan 50-70 persen. Sedangkan bagi orang tua, tingkat kecocokannya 25-50 persen.
Saat ini pengambilan dan penyimpanan darah tali pusat dapat dilakukan di Perancis, Singapura, maupun di Indonesia. Biaya pengambilan darah memerlukan dana sekitar Rp9 juta. Sedangkan biaya penyimpanan setahun dipungut kurang lebih Rp1,5 juta.
Penutup
Benda-benda yang terkait dengan kelahiran seorang manusia, seperti air ketuban, tali pusat, dan ari-ari mempunyai kedudukan yang unik bagi sebagian orang, khususnya suku Jawa. Pecahnya air ketuban sebagai pertanda akan adanya proses kelahiran. Tali pusat dirawat dan disimpan, karena dipercaya sebagai obat bagi si empunya tali pusat. Demikian juga dengan ari-ari, dirawat, lalu di kubur di depan atau di belakang rumah layaknya seorang manusia. Ada juga yang digantung di plafon. Ditanam di sekitar rumah atau digantung di atap rumah, dengan harapan pemilik ari-ari, kerasan tinggal di rumah atau tidak pergi jauh. Sebagian orang melarung atau menghanyutkan ari-ari di laut, dengan harapan agar si manusia baru ini menjadi perantau.
Beberapa tahun yang lalu ari-ari atau plasenta dimanfaatkan, di antaranya untuk bahan kosmetik, disusul kemudian dengan pemanfaatan darah tali pusat untuk terapi penyembuhan beberapa penyakit, bagi si pemilik tali pusat, maupun saudara-saudara kandungnya. Rahasia kebiasaan merawat dan menyimpan ari-ari dan tali pusat yang selama ini berdasarkan petunjuk turun-menurun dari leluhur—di mana belum memerhitungkan faktor higienis—saat ini telah terkuak secara ilmiah, di mana ternyata darah dari tali pusat secara medis mempunyai manfaat untuk pengobatan.[m]
* Marsudijono adalah karyawan Divisi Pemasaran BBM Industri dan Marine PT Pertamina. Ia juga alumni Sekolah Penulis Pembelajar yang saat ini sedang menyusun sebuah buku.
MUKJIZAT DOA DAN MENGUCAP SYUKUR
Oleh: Agustinus Hartono
Meskipun sejak kecil saya diajari untuk berterima kasih kalau diberi seseorang, dan kalau malam mengucap syukur untuk semuanya yang diterima untuk hari yang baru berlalu, ternyata itu tidak menjamin bahwa mengucap syukur menjadi habit saya.
Ketika mendengar Adi W. Gunawan mengatakan bahwa mengucap syukur adalah salah satu anak kunci dari Law of Attraction (LOA), saya berkata dalam hati, “Itu sih kecil… Dari dulu sudah saya lakukan.” Namun, saya masih bertanya-tanya mengapa hasil akhirnya berbeda.
Dalam salah satu seminarnya Adi W. Gunawan memberikan tips untuk meningkatkan rasa syukur. Setelah saya coba beberapa hari, saya ‘beruntung’ mendapat tempat parkir meskipun jam padat. Peserta seminar yang lain ada yang ‘beruntung’ karena tiba-tiba ada pendapatan tambahan.
Suatu hari, anak saya yang berumur empat tahun minta dibelikan boneka lagi. Saat itu dia sedang batuk yang dipicu ketidaksukaannya minum air putih. Saya mencoba untuk menanamkan habit baru pada anak saya. Maka, saya janjikan untuk memenuhi keinginan anak saya akan boneka bila dia mau minum air putih selama 21 hari (catatan: bagi pembaca yang bingung mengapa 21 hari silakan baca buku mengenai NLP). Anak saya setuju dan hari-hari pun berlalu.
Tepat tiga hari sesudahnya, anak saya pulang sekolah dengan membawa bungkusan hadiah dan ketika dibuka isinya adalah boneka.
Tiba-tiba, saya tersadar Tuhan memakai anak saya untuk menerangkan bagaimana sesungguhnya cara bersyukur dan berdoa. Saat pertama kali anak saya meminta boneka maka dia memang menangis untuk memintanya. Tetapi, setelah saya janji akan membelikannya bila selama 21 hari dia minum air putih, maka pada hari-hari berikutnya dia tidak pernah menyinggungnya lagi. Karena, dia PERCAYA akan menerimanya tanpa membatasi dengan cara bagaimana ia akan menerimanya. Dan, setelah tiga hari tiba-tiba pintu surga terbuka. Dan, boom….dia mendapat apa yang diinginkannya.
Saya terkejut dan mencari tahu mengapa anak saya mendapat boneka itu. Ternyata, alasannya sedikit di luar logika berpikir saya. Penasaran ingin tahu alasannya? Salah satu orangtua murid teman anak saya tiba-tiba berpikir untuk memberi kado ulang tahun pada setiap teman anaknya yang merayakan ulang tahun di sekolah dalam semester 1 ini.
Apa yang sering saya lakukan adalah saya berdoa berhari-hari, bukan karena saya dekat dengan Tuhan, tetapi karena saya KURANG PERCAYA bahwa permohonan itu akan dikabulkan. Hal lain yang saya sering lakukan adalah saya ‘menentukan’ dengan cara bagaimana permohonan saya akan dikabulkan. Padahal, Dia lebih tahu apa yang tepat untuk kita, juga waktu dan caranya.
Doa ternyata mempunyai fungsi sosial. Maksudnya, apabila doa itu ditujukan untuk kebaikan orang lain, maka doa itu akan lebih cepat dikabulkan. Ceritanya begini, kira-kira seminggu setelah peristiwa di atas, saya mendapat kabar bahwa adik saya mengalami kesulitan keuangan. Setelah berpikir sejenak maka saya mengirim SMS yang menyarankan agar adik saya mengambil personal loan di Bank X. Tidak ada tanggapan. Dua hari kemudian saya telepon adik saya untuk menjelaskan saran saya. Jawaban yang saya terima, “Belum ada waktu karena repot mau akhir bulan.” Ternyata, keesokan harinya karyawan Bank X menelpon adik saya untuk menawarkan personal loan. Doa saya terjawab.
BE BETTER EVERYDAY.[ah]
* Agustinus Hartono adalah seorang karyawan yang saat ini sedang belajar untuk menuliskan hikmah dari peristiwa sehari-hari . Ia dapat dihubungi di email: ag_prasetyo@hotmail.com.
Meskipun sejak kecil saya diajari untuk berterima kasih kalau diberi seseorang, dan kalau malam mengucap syukur untuk semuanya yang diterima untuk hari yang baru berlalu, ternyata itu tidak menjamin bahwa mengucap syukur menjadi habit saya.
Ketika mendengar Adi W. Gunawan mengatakan bahwa mengucap syukur adalah salah satu anak kunci dari Law of Attraction (LOA), saya berkata dalam hati, “Itu sih kecil… Dari dulu sudah saya lakukan.” Namun, saya masih bertanya-tanya mengapa hasil akhirnya berbeda.
Dalam salah satu seminarnya Adi W. Gunawan memberikan tips untuk meningkatkan rasa syukur. Setelah saya coba beberapa hari, saya ‘beruntung’ mendapat tempat parkir meskipun jam padat. Peserta seminar yang lain ada yang ‘beruntung’ karena tiba-tiba ada pendapatan tambahan.
Suatu hari, anak saya yang berumur empat tahun minta dibelikan boneka lagi. Saat itu dia sedang batuk yang dipicu ketidaksukaannya minum air putih. Saya mencoba untuk menanamkan habit baru pada anak saya. Maka, saya janjikan untuk memenuhi keinginan anak saya akan boneka bila dia mau minum air putih selama 21 hari (catatan: bagi pembaca yang bingung mengapa 21 hari silakan baca buku mengenai NLP). Anak saya setuju dan hari-hari pun berlalu.
Tepat tiga hari sesudahnya, anak saya pulang sekolah dengan membawa bungkusan hadiah dan ketika dibuka isinya adalah boneka.
Tiba-tiba, saya tersadar Tuhan memakai anak saya untuk menerangkan bagaimana sesungguhnya cara bersyukur dan berdoa. Saat pertama kali anak saya meminta boneka maka dia memang menangis untuk memintanya. Tetapi, setelah saya janji akan membelikannya bila selama 21 hari dia minum air putih, maka pada hari-hari berikutnya dia tidak pernah menyinggungnya lagi. Karena, dia PERCAYA akan menerimanya tanpa membatasi dengan cara bagaimana ia akan menerimanya. Dan, setelah tiga hari tiba-tiba pintu surga terbuka. Dan, boom….dia mendapat apa yang diinginkannya.
Saya terkejut dan mencari tahu mengapa anak saya mendapat boneka itu. Ternyata, alasannya sedikit di luar logika berpikir saya. Penasaran ingin tahu alasannya? Salah satu orangtua murid teman anak saya tiba-tiba berpikir untuk memberi kado ulang tahun pada setiap teman anaknya yang merayakan ulang tahun di sekolah dalam semester 1 ini.
Apa yang sering saya lakukan adalah saya berdoa berhari-hari, bukan karena saya dekat dengan Tuhan, tetapi karena saya KURANG PERCAYA bahwa permohonan itu akan dikabulkan. Hal lain yang saya sering lakukan adalah saya ‘menentukan’ dengan cara bagaimana permohonan saya akan dikabulkan. Padahal, Dia lebih tahu apa yang tepat untuk kita, juga waktu dan caranya.
Doa ternyata mempunyai fungsi sosial. Maksudnya, apabila doa itu ditujukan untuk kebaikan orang lain, maka doa itu akan lebih cepat dikabulkan. Ceritanya begini, kira-kira seminggu setelah peristiwa di atas, saya mendapat kabar bahwa adik saya mengalami kesulitan keuangan. Setelah berpikir sejenak maka saya mengirim SMS yang menyarankan agar adik saya mengambil personal loan di Bank X. Tidak ada tanggapan. Dua hari kemudian saya telepon adik saya untuk menjelaskan saran saya. Jawaban yang saya terima, “Belum ada waktu karena repot mau akhir bulan.” Ternyata, keesokan harinya karyawan Bank X menelpon adik saya untuk menawarkan personal loan. Doa saya terjawab.
BE BETTER EVERYDAY.[ah]
* Agustinus Hartono adalah seorang karyawan yang saat ini sedang belajar untuk menuliskan hikmah dari peristiwa sehari-hari . Ia dapat dihubungi di email: ag_prasetyo@hotmail.com.
MENULIS DENGAN PENUH PERCAYA DIRI
Oleh: Sofa Nurdiyanti
Sering kali orang punya ide atau gagasan yang bagus dan ingin mengungkapkannya dengan menulis. Namun, tak jarang semua ide brilian itu menguap begitu saja karena kurangnya rasa percaya diri.
Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Apakah sekadar kurangnya rasa percaya diri? Berikut ini contoh kalimat-klaimat yang menggambarkan hubungan antara menulis dan rasa percaya diri.
“Duh, aku nggak bisa nulis, nih!”
“ Duh, aku nggak tahu mau mulai dari mana...”
“Terus, aku nulis apa, dong?”
“Aku nggak yakin bakalan bisa nulis. Tulisanku kan jelek, ntar diketawain orang lagi!!!…”
Ungkapan-ungkapan di atas tentunya sering kita dengar, bukan? Orang sering kali mengeluh ketika berhadapan dengan suatu tugas yang mewajibkan mereka untuk menulis. Beragam alasan muncul sebagai dalih atas ketidakmampuan mereka dalam menulis. Mulai dari kurangnya ide, minimnya kosakata, cara merangkai suatu ide menjadi satu paragaraf, ketidakmampuan dalam hal editing, dsb.
Pernyataan-pernyataan tadi seakan menjadi benteng yang sulit untuk dilewati oleh setiap orang ketika mulai belajar menulis. “Nothing impossible to do.” Pernahkah kita menyadari arti ungkapan tersebut? Tidak ada hal yang mustahil untuk dikerjakan ketika kita mau berusaha.
Pikiran positif akan mendorong kita untuk berusaha lebih keras daripada yang kita pikirkan. Hasilnya akan membuat kita takjub karena sebenarnya kita bisa meraih hasil lebih daripada yang kita pikirkan. Keterbatasan yang ada bukan karena ketidakmampuan kita dalam menulis, namun pikiran kita yang menghambatnya. Ini diakibatkan oleh kurangnya rasa percaya diri pada individu itu sendiri.
Setiap orang berdalih tidak mampu menulis dan mengalami krisis kepercayaan diri. Fenomena seperti ini seakan menjadi hal yang dianggap wajar oleh sebagian besar orang. Memang hal yang aneh tentunya kalau ada orang—yang bisa membaca dan menulis selama bertahun-tahun sejak Sekolah Dasar—mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menulis.
Menulis selalu disalahartikan sebagai sesuatu yang sakral dan bersifat eksklusif. Eksklusif di sini dapat diartikan sebagai hal yang hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. Misalnya, menulis hanya dilakukan oleh pengarang buku, penulis skenario, sastrawan, atau pun orang-orang yang bekerja di bidang seni.
Perlu dipahami bahwa menulis merupakan hal yang dapat dilakukan oleh setiap orang dan tidak memandang latar belakang, status sosial, bahkan bakat. Menulis merupakan keterampilan yang dimiliki oleh masing-masing individu. Dan, menulis merupakan hal yang dapat dipelajari oleh semua orang.
Dengan belajar maka akan memudahkan setiap orang untuk terus menggali kemampuannya. Bakat bukanlah dewa yang harus ada dalam setiap individu. Keberhasilan sembilan puluh persen di antaranya ditentukan oleh kemampuan kita dalam berusaha, bukan soal bakat yang mendominasi kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu.
Menulis dapat dilakukan oleh semua orang karena menulis adalah salah satu bentuk kegiatan pengungkapan ide atau gagasan seseorang melalui sebuah media seperti buku, buletin, novel, skenario, makalah, laporan penelitian, majalah, koran, surat-surat, dsb. Pengungkapan ide ini tidak boleh dibatasi oleh rasa kurangnya kepercayaaan diri seseorang. Sebab, rasa percaya diri merupakan mesin penggerak utama sesorang dalam menulis.
Bila diibaratkan ide-ide yang ingin kita sampaikan itu adalah tujuan yang ingin dicapai, dan untuk sampai pada tujuan kita memerlukan sebuah sarana yang membantu kita, dalam hal ini tentu saja tingkat kepercayaan diri seseorang sangat berpengaruh dalam menentukan sampai tidaknya gagasan dan ide-ide kita dalam suatu tulisan.
Percaya diri adalah salah satu bentuk sikap yang sangat kita butuhkan dalam pengembangan diri kita melalui aktivitas menulis. Jika seseorang merasa tidak mampu menulis, maka ide-ide yang ada dalam pikirannya akan macet dan tidak bisa dituangkan dalam suatu bentuk tulisan.
Nah, mungkin Anda penasaran dengan apa yang dimaksud dengan rasa percaya diri seseorang sehingga berpengaruh besar dalam hidup kita. Percaya diri merupakan salah satu motor penggerak dan gerbang kebebasan kita dalam mengungkapkan ide dan imajinasi kita. Ingat, imajinasi kita tak terbatas. Rasa kurang percaya diri kitalah yang membuatnya menjadi terbatas.
Definisi percaya diri (self confidence) adalah sejauh mana Anda punya keyakinan terhadap penilaian atas kemampuan dan sejauh mana Anda bisa merasakan adanya “kepantasan” untuk berhasil. Self confidence merupakan kombinasi dari self esteem dan self-efficacy (James Neill, 2005). Self esteem adalah sejauh mana Anda punya perasaan positif terhadap diri; sejauh mana Anda punya sesuatu yang dirasakan bernilai atau berharga dari diri Anda; sejauh mana Anda meyakini adanya sesuatu yang bernilai, bermartabat, atau berharga di dalam diri Anda.
Sedangkan self efficacy adalah sejauh mana Anda punya keyakinan atas kapasitas yang Anda miliki untuk bisa menjalankan tugas atau menangani persoalan dengan hasil yang bagus (to succeed). Ini yang disebut dengan general self-efficacy. Atau juga, sejauh mana Anda meyakini kapasitas pada bidang Anda dalam menangani urusan tertentu. Ini yang disebut dengan specific self-efficacy.
Seperti apa yang disampaikan oleh Dr. Albert Bandura, bahwa self-efficacy yang bagus punya kontribusi besar terhadap motivasi seseorang. Ini mencakup antara lain: Bagaimana seseorang merumukan tujuan atau target untuk dirinya; Sejauh mana orang memperjuangkan target itu; Sekuat apa orang itu mampu mengatasi masalah yang muncul; Dan, setangguh apa orang itu bisa menghadapi kegagalannya.
Hal ini membuktikan bahwa rasa percaya diri saja ternyata tidak cukup kuat untuk merumuskan tujuan kita. Tetapkanlah target dan semangat yang kuat sehingga apa yang dicita-citakan dapat tercapai. Jangan pernah menyerah ketika menghadapi suatu rintangan. Perjuangkanlah apa yang menjadi tujuan Anda dan cobalah untuk meraihnya. Begitu juga soal rasa percaya diri dalam menulis, ternyata rasa ini akan sangat menunjang usaha kita dalam melatih keterampilan menulis.
Setiap orang tentu pernah mengalami krisis kepercayaan diri karena krisis ini dialami oleh hampir sebagian besar dari kita. Kurangnya rasa percaya diri ini membuat kita terpasung pada kondisi tetap, yang membuat kita tidak bisa bergerak dengan dinamis untuk menyalurkan segenap kemampuan kita.
Krisis ini dapat berdampak negatif jika kita tidak menyadari arti penting percaya diri dalam hidup kita. Perasaan tidak mampu mengerjakan suatu hal secara terus-menerus dapat mengakibatkan matinya kreativitas seseorang. Perlu langkah yang tepat agar kita bisa belenggu kurangnya rasa percaya diri.
Dan ternyata, salah satu cara untuk membantu kita menghilangkan belenggu rasa kurang percaya diri itu tak lain adalah dengan menulis. Ya, menulis. Jangan pernah ragu untuk mengungkapkan gagasan Anda dalam bentuk tulisan. Sebab, menulis apa yang ada dalam benak kita tanpa bermaksud menghapusnya adalah suatu bentuk apresiasi terhadap diri sendiri.
Jangan pernah ragu untuk menulis, apalagi tidak berani menulis hanya karena kita tidak mempunyai basic skill tentang menulis. Alasan klasik ini tidak dapat kita jadikan sebagai tameng terhadap keengganan kita dalam menulis. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, kita mampu mengerjakan sesuatu jika kita berpikir mampu dan kita gagal sebelum berusaha jika kita merendahkan kemampuan diri sendiri dengan mengatakan tidak mampu.
Hargailah diri Anda sendiri dan mulailah menulis. Intinya, saya menganjurkan kepada Anda untuk menulis. Tulislah apa saja yang ingin Anda tulis, tentang segala sesuatu yang pernah terlintas dalam benak Anda. Tumbuhkanlah motivasi pada diri Anda sendiri. Tingkatkan rasa percaya diri Anda untuk menulis saat ini juga. Dan, jangan membuang banyak waktu untuk berpikir “apakah saya bisa atau tidak”.
Persoalan selanjutnya mengenai apakah yang akan saya tulis, bagaimana saya meyampaikan ide, bagaimana mendeskripsikan sesuatu dan agar orang lain mengerti apa yang akan Anda tulis, serta hal teknis lainnya akan Anda kembangkan sendiri sesuai dengan sudut pandang dan kreativitas Anda.
Kembangkanlah kreativitas dan idealisme Anda dalam menulis. Buatlah sesuatu yang unik dan merupakan ciri khas Anda. Hal ini dimaksudkan supaya Anda mempunyai arah yang jelas serta tidak terjebak untuk meniru gaya penulisan orang lain yang belum tentu sesuai dengan pribadi Anda.
Menulis akan membantu Anda dalam meningkatkan kepercayaan diri. Sekali lagi, jangan pernah merendahkan diri sendiri dengan menganggap Anda tidak mampu. Saya yakin setiap orang mempunyai sisi berbeda dari segi ide, konsep, dan gaya penulisan yang menarik untuk dibagikan pada orang lain.
Jadi, jangan pernah takut dan menghapus apa yang sudah Anda tulis. Lihat dan cermati setiap tulisan Anda dan cobalah untuk menganalisisnya secara mandiri, baru kemudian meminta pendapat orang lain. Ini karena kita yang lebih mengetahui arah dan maksud tulisan kita. Orang lain yang memberikan kritik dapat kita jadikan perangsang dalam pengembangan keterampilan penulisan kita.
Analisis terhadap berbagai fenomena dan peristiwa yang tertuang dalam tulisan dapat kita jadikan sebagai sarana proses pembelajaran diri yang efektif. Sementara, kemampuan analisis internal bisa membuat kita belajar dalam melihat kekurangan yang kita miliki dan perlu diperbaiki, serta mengembangkan kelebihan yang sudah bisa kita capai.
Perasaan mampu atau tidak mampu akhirnya toh akan hilang. Dan, rasa percaya diri kita akan semakin tumbuh ketika kita mulai belajar menulis. Jangan pernah ragukan kemapuan diri Anda sendiri, bangunlah kepercayaan diri Anda, serta apresiasilah setiap kemajuan yang telah Anda capai. Hal ini akan menjadi penyemangat untuk terus maju dan mengembangkan kemampuan diri Anda. Selamat mencoba dan berusahalah membuat dunia menjadi berbeda dengan tulisan Anda.[sn]
* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Jurusan Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tapi, sekarang lagi “nyasar” ke psikologi. Nur aktif menulis di “eksis” sebuah wadah jurnalistik Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma. Ia sedang semangat berlatih untuk menjadi penulis profesional dan seorang trainer. Saat ini, Nur juga tengah menyusun sebuah buku tentang motivasi kepenulisan. Kunjungi blog-nya di: http://nurdiyanti.wordpress.com atau email: nurrohmah_06@yahoo.com.
Sering kali orang punya ide atau gagasan yang bagus dan ingin mengungkapkannya dengan menulis. Namun, tak jarang semua ide brilian itu menguap begitu saja karena kurangnya rasa percaya diri.
Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Apakah sekadar kurangnya rasa percaya diri? Berikut ini contoh kalimat-klaimat yang menggambarkan hubungan antara menulis dan rasa percaya diri.
“Duh, aku nggak bisa nulis, nih!”
“ Duh, aku nggak tahu mau mulai dari mana...”
“Terus, aku nulis apa, dong?”
“Aku nggak yakin bakalan bisa nulis. Tulisanku kan jelek, ntar diketawain orang lagi!!!…”
Ungkapan-ungkapan di atas tentunya sering kita dengar, bukan? Orang sering kali mengeluh ketika berhadapan dengan suatu tugas yang mewajibkan mereka untuk menulis. Beragam alasan muncul sebagai dalih atas ketidakmampuan mereka dalam menulis. Mulai dari kurangnya ide, minimnya kosakata, cara merangkai suatu ide menjadi satu paragaraf, ketidakmampuan dalam hal editing, dsb.
Pernyataan-pernyataan tadi seakan menjadi benteng yang sulit untuk dilewati oleh setiap orang ketika mulai belajar menulis. “Nothing impossible to do.” Pernahkah kita menyadari arti ungkapan tersebut? Tidak ada hal yang mustahil untuk dikerjakan ketika kita mau berusaha.
Pikiran positif akan mendorong kita untuk berusaha lebih keras daripada yang kita pikirkan. Hasilnya akan membuat kita takjub karena sebenarnya kita bisa meraih hasil lebih daripada yang kita pikirkan. Keterbatasan yang ada bukan karena ketidakmampuan kita dalam menulis, namun pikiran kita yang menghambatnya. Ini diakibatkan oleh kurangnya rasa percaya diri pada individu itu sendiri.
Setiap orang berdalih tidak mampu menulis dan mengalami krisis kepercayaan diri. Fenomena seperti ini seakan menjadi hal yang dianggap wajar oleh sebagian besar orang. Memang hal yang aneh tentunya kalau ada orang—yang bisa membaca dan menulis selama bertahun-tahun sejak Sekolah Dasar—mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menulis.
Menulis selalu disalahartikan sebagai sesuatu yang sakral dan bersifat eksklusif. Eksklusif di sini dapat diartikan sebagai hal yang hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. Misalnya, menulis hanya dilakukan oleh pengarang buku, penulis skenario, sastrawan, atau pun orang-orang yang bekerja di bidang seni.
Perlu dipahami bahwa menulis merupakan hal yang dapat dilakukan oleh setiap orang dan tidak memandang latar belakang, status sosial, bahkan bakat. Menulis merupakan keterampilan yang dimiliki oleh masing-masing individu. Dan, menulis merupakan hal yang dapat dipelajari oleh semua orang.
Dengan belajar maka akan memudahkan setiap orang untuk terus menggali kemampuannya. Bakat bukanlah dewa yang harus ada dalam setiap individu. Keberhasilan sembilan puluh persen di antaranya ditentukan oleh kemampuan kita dalam berusaha, bukan soal bakat yang mendominasi kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu.
Menulis dapat dilakukan oleh semua orang karena menulis adalah salah satu bentuk kegiatan pengungkapan ide atau gagasan seseorang melalui sebuah media seperti buku, buletin, novel, skenario, makalah, laporan penelitian, majalah, koran, surat-surat, dsb. Pengungkapan ide ini tidak boleh dibatasi oleh rasa kurangnya kepercayaaan diri seseorang. Sebab, rasa percaya diri merupakan mesin penggerak utama sesorang dalam menulis.
Bila diibaratkan ide-ide yang ingin kita sampaikan itu adalah tujuan yang ingin dicapai, dan untuk sampai pada tujuan kita memerlukan sebuah sarana yang membantu kita, dalam hal ini tentu saja tingkat kepercayaan diri seseorang sangat berpengaruh dalam menentukan sampai tidaknya gagasan dan ide-ide kita dalam suatu tulisan.
Percaya diri adalah salah satu bentuk sikap yang sangat kita butuhkan dalam pengembangan diri kita melalui aktivitas menulis. Jika seseorang merasa tidak mampu menulis, maka ide-ide yang ada dalam pikirannya akan macet dan tidak bisa dituangkan dalam suatu bentuk tulisan.
Nah, mungkin Anda penasaran dengan apa yang dimaksud dengan rasa percaya diri seseorang sehingga berpengaruh besar dalam hidup kita. Percaya diri merupakan salah satu motor penggerak dan gerbang kebebasan kita dalam mengungkapkan ide dan imajinasi kita. Ingat, imajinasi kita tak terbatas. Rasa kurang percaya diri kitalah yang membuatnya menjadi terbatas.
Definisi percaya diri (self confidence) adalah sejauh mana Anda punya keyakinan terhadap penilaian atas kemampuan dan sejauh mana Anda bisa merasakan adanya “kepantasan” untuk berhasil. Self confidence merupakan kombinasi dari self esteem dan self-efficacy (James Neill, 2005). Self esteem adalah sejauh mana Anda punya perasaan positif terhadap diri; sejauh mana Anda punya sesuatu yang dirasakan bernilai atau berharga dari diri Anda; sejauh mana Anda meyakini adanya sesuatu yang bernilai, bermartabat, atau berharga di dalam diri Anda.
Sedangkan self efficacy adalah sejauh mana Anda punya keyakinan atas kapasitas yang Anda miliki untuk bisa menjalankan tugas atau menangani persoalan dengan hasil yang bagus (to succeed). Ini yang disebut dengan general self-efficacy. Atau juga, sejauh mana Anda meyakini kapasitas pada bidang Anda dalam menangani urusan tertentu. Ini yang disebut dengan specific self-efficacy.
Seperti apa yang disampaikan oleh Dr. Albert Bandura, bahwa self-efficacy yang bagus punya kontribusi besar terhadap motivasi seseorang. Ini mencakup antara lain: Bagaimana seseorang merumukan tujuan atau target untuk dirinya; Sejauh mana orang memperjuangkan target itu; Sekuat apa orang itu mampu mengatasi masalah yang muncul; Dan, setangguh apa orang itu bisa menghadapi kegagalannya.
Hal ini membuktikan bahwa rasa percaya diri saja ternyata tidak cukup kuat untuk merumuskan tujuan kita. Tetapkanlah target dan semangat yang kuat sehingga apa yang dicita-citakan dapat tercapai. Jangan pernah menyerah ketika menghadapi suatu rintangan. Perjuangkanlah apa yang menjadi tujuan Anda dan cobalah untuk meraihnya. Begitu juga soal rasa percaya diri dalam menulis, ternyata rasa ini akan sangat menunjang usaha kita dalam melatih keterampilan menulis.
Setiap orang tentu pernah mengalami krisis kepercayaan diri karena krisis ini dialami oleh hampir sebagian besar dari kita. Kurangnya rasa percaya diri ini membuat kita terpasung pada kondisi tetap, yang membuat kita tidak bisa bergerak dengan dinamis untuk menyalurkan segenap kemampuan kita.
Krisis ini dapat berdampak negatif jika kita tidak menyadari arti penting percaya diri dalam hidup kita. Perasaan tidak mampu mengerjakan suatu hal secara terus-menerus dapat mengakibatkan matinya kreativitas seseorang. Perlu langkah yang tepat agar kita bisa belenggu kurangnya rasa percaya diri.
Dan ternyata, salah satu cara untuk membantu kita menghilangkan belenggu rasa kurang percaya diri itu tak lain adalah dengan menulis. Ya, menulis. Jangan pernah ragu untuk mengungkapkan gagasan Anda dalam bentuk tulisan. Sebab, menulis apa yang ada dalam benak kita tanpa bermaksud menghapusnya adalah suatu bentuk apresiasi terhadap diri sendiri.
Jangan pernah ragu untuk menulis, apalagi tidak berani menulis hanya karena kita tidak mempunyai basic skill tentang menulis. Alasan klasik ini tidak dapat kita jadikan sebagai tameng terhadap keengganan kita dalam menulis. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, kita mampu mengerjakan sesuatu jika kita berpikir mampu dan kita gagal sebelum berusaha jika kita merendahkan kemampuan diri sendiri dengan mengatakan tidak mampu.
Hargailah diri Anda sendiri dan mulailah menulis. Intinya, saya menganjurkan kepada Anda untuk menulis. Tulislah apa saja yang ingin Anda tulis, tentang segala sesuatu yang pernah terlintas dalam benak Anda. Tumbuhkanlah motivasi pada diri Anda sendiri. Tingkatkan rasa percaya diri Anda untuk menulis saat ini juga. Dan, jangan membuang banyak waktu untuk berpikir “apakah saya bisa atau tidak”.
Persoalan selanjutnya mengenai apakah yang akan saya tulis, bagaimana saya meyampaikan ide, bagaimana mendeskripsikan sesuatu dan agar orang lain mengerti apa yang akan Anda tulis, serta hal teknis lainnya akan Anda kembangkan sendiri sesuai dengan sudut pandang dan kreativitas Anda.
Kembangkanlah kreativitas dan idealisme Anda dalam menulis. Buatlah sesuatu yang unik dan merupakan ciri khas Anda. Hal ini dimaksudkan supaya Anda mempunyai arah yang jelas serta tidak terjebak untuk meniru gaya penulisan orang lain yang belum tentu sesuai dengan pribadi Anda.
Menulis akan membantu Anda dalam meningkatkan kepercayaan diri. Sekali lagi, jangan pernah merendahkan diri sendiri dengan menganggap Anda tidak mampu. Saya yakin setiap orang mempunyai sisi berbeda dari segi ide, konsep, dan gaya penulisan yang menarik untuk dibagikan pada orang lain.
Jadi, jangan pernah takut dan menghapus apa yang sudah Anda tulis. Lihat dan cermati setiap tulisan Anda dan cobalah untuk menganalisisnya secara mandiri, baru kemudian meminta pendapat orang lain. Ini karena kita yang lebih mengetahui arah dan maksud tulisan kita. Orang lain yang memberikan kritik dapat kita jadikan perangsang dalam pengembangan keterampilan penulisan kita.
Analisis terhadap berbagai fenomena dan peristiwa yang tertuang dalam tulisan dapat kita jadikan sebagai sarana proses pembelajaran diri yang efektif. Sementara, kemampuan analisis internal bisa membuat kita belajar dalam melihat kekurangan yang kita miliki dan perlu diperbaiki, serta mengembangkan kelebihan yang sudah bisa kita capai.
Perasaan mampu atau tidak mampu akhirnya toh akan hilang. Dan, rasa percaya diri kita akan semakin tumbuh ketika kita mulai belajar menulis. Jangan pernah ragukan kemapuan diri Anda sendiri, bangunlah kepercayaan diri Anda, serta apresiasilah setiap kemajuan yang telah Anda capai. Hal ini akan menjadi penyemangat untuk terus maju dan mengembangkan kemampuan diri Anda. Selamat mencoba dan berusahalah membuat dunia menjadi berbeda dengan tulisan Anda.[sn]
* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Jurusan Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tapi, sekarang lagi “nyasar” ke psikologi. Nur aktif menulis di “eksis” sebuah wadah jurnalistik Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma. Ia sedang semangat berlatih untuk menjadi penulis profesional dan seorang trainer. Saat ini, Nur juga tengah menyusun sebuah buku tentang motivasi kepenulisan. Kunjungi blog-nya di: http://nurdiyanti.wordpress.com atau email: nurrohmah_06@yahoo.com.
LAWAN = KAWAN
Oleh: Afra Mayriani
“Keep your friends close, but keep your enemies closer.”
~ Sicilian Proverb
Dalam hubungan antarmanusia yang terjalin, tentunya tidak semua berjalan dengan mulus. Baik itu hubungan antara kedua orang kekasih, kakak dengan adik, guru dengan murid, bahkan orangtua dengan anak. Tidak hanya itu, hubungan atasan dengan bawahan, dan hubungan antara sesama rekan kerja, yang biasanya juga sering mengalami berbagai hambatan.
Sikap kaku dan skeptis ketika menjalin hubungan dengan orang lain mungkin dapat menjadi titik mula datangnya kesulitan itu sendiri. Lalu, hal tersebut menjadi pemicu diri ketika berusaha membina suatu hubungan, baik dengan rekan kerja maupun dengan atasan.
Hal ini dialami juga oleh teman saya sendiri, Rico. Ia bekerja di salah satu bank swasta besar di Jakarta. Ia sudah menempati posisi yang dapat dibilang lumayan enak, yaitu sebagai asisten manajer akunting. Rico memiliki pengalaman bekerja selama kurang lebih empat tahun dan kemudian ia keluar untuk melanjutkan pendidikan S-2. Ia orang yang cerdas. Kepalanya selalu dipenuhi dengan berbagai ide segar yang dapat dimaksikmalkan. Selain itu, ia tipe pekerja keras. Motivasinya adalah melakukan yang terbaik hingga dapat menjadi yang terbaik.
Walau demikian, jalan memang selalu tidak mulus. Ada saja hambatan dan kesulitan yang ia alami. Salah satunya adalah kesulitan bekerja sama dengan atasannya sendiri. Manajernya selalu merasa paling pintar dan tidak pernah mau mendengarkan ide-ide dari bawahan ataupun rekan yang lainnya.
Pernah, dalam suatu meeting Rico mencoba mengemukakan pendapatnya tentang strategi promosi produk baru yang akan diluncurkan perusahaannya dalam waktu dekat.
“Gimana sih kamu Rico, kalau gak becus itu, ya sebaiknya diam saja! Tidak perlu ikut-ikutan ber-strategi. Saya kan sudah mencanangkan promosi yang paling tepat untuk produk baru kita itu! Memangnya kamu mau menentang saya?!” hardik atasanya.
Rico-pun segera menjawab, “Bukan begitu, Pak. Saya hanya mengemukakan bila gagasan Bapak digabungkan dengan gagasan saya, mungkin akan tercipta strategi baru, yang sebelumnya saya analisis belum pernah dilakukan oleh kompetitor kita. Sehingga, bisa saja menjadikan kita sebagai pioner di produk baru ini,” jelasnya dengan suara pelan. “Dan, saya tentunya akan meminta bimbingan serta keputusan Bapak, karena Bapak adalah atasan saya,” sambungnya.
Apa mau dikata, ternyata tetap saja atasannya itu tidak menyenangi Rico. Karena, makin hari Rico makin cemerlang dengan ide-ide luar biasanya itu. Mungkin saja dalam waktu singkat, seiring pemekaran departemen, karir Rico akan menanjak menyamai manajernya tersebut.
Akibatnya, lingkungan kerja menjadi tidak kondusif dan nyaman lagi untuk bekerja. Saling sikut dan bersaing tidak sehat sudah menjadi makanan sehari-hari di tempat kerja Rico. “Bayangkan, teman kerja saya yang sudah akrab bak sahabat selama lima tahun bekerja, ternyata tega sekali menjelekkan saya di depan direktur saya sendiri. Semua dilakukan hanya untuk mendapat ‘muka’ di depan atasannya itu,” serunya.
Jika sudah demikian, kawan adalah lawan Anda dalam persaingan di dunia kerja. Lalu, apa solusinya? Jangan berkecil hati. Jika Anda dalam posisi yang mungkin saja sama dengan Rico, ada beberapa hal yang bisa dijadikan acuan untuk mengatasinya. Berikut di antaranya. 1. Ciptakan hubungan “pertemanan” yang sama dengan setiap rekan kerja Anda.
2. Jangan terburu-buru untuk merasa dekat, apalagi memilih sahabat di tempat kerja. Analisis terlebih dahulu kecenderungan sifat dan sikap asli dari orang tersebut. 3. Open minded. Bersikaplah terbuka pada setiap masukan, dan peranan rekan kerja Anda dalam segala bentuk pekerjaan, jika memang diharuskan bekerja dalam sebuah teamwork.
Dari survei kecil yang saya lakukan, ada beberapa orang, yang mengalami permasalahan dengan rekan kerjanya sendiri di perusahaan mereka kerja saat ini. Rika misalnya, 29 tahun, yang bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi di Jakarta sebagai marketing executive. Dalam departemennya, terdapat kira-kira 15 orang dengan level posisi yang sama dengannya.
Mulanya, Rika menjalin hubungan baik dengan semua orang dalam perusahannya. Hingga suatu saat, ada salah seorang rekan kerjanya, yang lambat laun dekat berteman dengan dirinya. Sebut saja Santi. Santi duduk di posisi yang sama dengan Rika. Tetapi, Santi belum memiliki pengalaman kerja selama Rika, kira-kira baru satu tahunan lamanya.
Rika dan Santi, akhirnya menjadi akrab sekali hingga suatu waktu Rika menyadari, bahwa ternyata Santi memanfaatkannya. Seringkali Santi mengajak Rika berdiskusi mengenai pekerjaan, solusi dan pemecahan masalah termasuk ketika Santi menangani sebuah proyek. Tak disangka, Santi, seringkali menggunakan pemikiran-pemikiran Rika. Yang membuat Rika sakit hati, semua hasil pemikirannya itu disebut Santi sebagai hasil pemikirannya sendiri. Sehingga, keberhasilannya menangani suatu proyek menghantarkanya meraih promosi dari atasannya. Ia kini menjadi asisten manajer.
“Salah betul aku ini, terlena merasa bersahabat hanya dengan satu orang saja, yang ternyata orang itu justru menusukku dari belakang,” ungkapnya kepada saya, waktu menguraikan pengalaman pribadinya. Sungguh malang nasib Rika.
Berbeda dengan Rani. Seorang eksekutif berusia 25 tahun di perusahaan kosmetik. Rani, pernah memiliki kasus yang sama dengan Rika. Ia dimanfaatkan oleh rekan sekerjanya sendiri. Namun, ia segera menyadarinya sebelum terlarut akrab dengan rekan kerjanya itu. Ia pun mati-matian mulai menunjukkan keunggulan-keunggulan yang dimillikinya tanpa harus membantu seratus persen rekan kerjanya.
Rani tidak pelit informasi dan ilmu. Tapi, ia membagi pengetahuannya dengan rekan-rekannya hanya bagian terkecilnya saja. Sedangkan, bagian paling besar hingga penuntasannya, hanya ia yang mengetahui pasti. Dengan strategi demikian, Rani, tidak kehilangan teman rekan sekerjanya. Ia tetap menjalin pertemanan dengan mereka semua. Tapi, ia juga dapat mempertahankan prestasi kerjanya pada atasannya.
Menurut Ciara Woods dalam bukunya Everything You Need to Know at Work, yang telah dialihbahasakan dan diterbitkan oleh Erlanga, disebutkan bahwa sebuah tim yang efektif memiliki:
“Goal” (tujuan) yang sama, dan tidak ada di antaranya yang memiliki rencana sendiri.
Produktifitas menjadi lebih tinggi dan menyesuaikan dengan tenggat yang diberikan.
Adanya pembagian akan peranan dan tanggung jawab yang jelas kepada semua orang.
Komunikasi menjadi kunci utama, di mana prosesnya harus berjalan dua arah, mendengarkan dan didengarkan.
Hargai setiap individu sebagai pribadi yang baik di dalam tim. Setiap angggota berkesempatan untuk berkembang.
Binalah rasa saling menghormati antar setiap orang sehingga bekerja bersama akan terasa lebih menyenangkan.
Jadilah kelompok yang tidak menolak masukan, pengaruh, dan kritik yang dilontarkan dari luar.
Dalam lingkungan kehidupan di tempat kerja, memang hubungan antarrekan kerja itu sangat penting dijaga keharmonisannya. Sebab, hal itu menyangkut kinerja tim yang berujung pada kinerja diri kita sendiri. Semakin kita tidak dapat bekerjasama dengan anggota tim yang lain, menyebabkan mundurnya motivasi kerja yang ada.
Selalu, kita dihadapkan pada diversitas baik dari segi umur, budaya, dan latar belakang setiap individu dalam suatu perusahaan. Dari perbedaan tersebut, terkadang menyebabkan munculnya kotak-kotak kecil pergaulan dan hubungan antar rekan kerja. Kesamaan hobi, kesenangan yang sama, atau bahkan saya menjumpai ada lingkungan kerja teman saya yang mengelompokkan diri, karena mereka merasa berada dalam level dan kelas “gaul” yang sama. Sehingga, menghasilkan kelompok ekslusif, layaknya masa-masa sekolah dulu.
Idealnya, kita harus menjalin dengan relasi dengan siapa saja. Baik yang kita sukai karena memiliki nilai-nilai kesamaan tertentu. Ataupun yang tidak cocok dengan kita, baik dari segi sifat personal maupun dari segi kegemaran. Karena, dunia kerja bukanlah dunia main masa kanak-kanak. Semua harus dibangun secara profesional. Hasil akhir, merupakan orientasi yang perlu dikedepankan. Yaitu kesuksesan perusahaan tempat kita bekerja. Di situlah nilai prestasi kita sebagai karyawan terukur.
Masa depan tidak dapat diduga, oleh karena itu, bisa saja yang Anda anggap tidak “selevel” dengan kelas Anda dalam pergaulan di lingkungan kantor tempat Anda bekerja, ataupun rekan, dan atasan yang senang menjatuhkan Anda, justru suatu saat menjadi kawan baik Anda sendiri.
Seperti yang Rico alami. Akhirnya, setelah ia keluar kerja dari bank swasta tersebut untuk menjalankan usahanya sendiri, ia justru berteman akrab dengan mantan manajernya sewaktu itu. Dan, mereka menjalin hubungan bisnis yang baik hingga sekarang. Demikian juga dengan Rani, ia tetap menjalin pertemanan secara profesional dengan rekan-rekan kerjanya. Jadi, tunggu apa lagi, carilah lawan Anda dan jadikan mereka sahabat dalam pekerjaan ataupun bisnis Anda.
Tips Membuat Lawan Anda Menjadi Kawan:
1.Jalinlah relasi dengan semua orang.
2.Bersikap bersahabat, yang tidak berlebihan terhadap semua rekan kerja Anda di kantor.
3.Latihlah diri Anda agar tidak mudah tersinggung, sehingga Anda tidak memiliki perasaan dendam terhadap rekan kerja ataupun atasan yang menyakiti Anda.
4.Hargailah setiap rekan kerja Anda, karena masing-masing memiliki kelemahan juga keunggulannya sendiri-sendiri.
5.Jangan pernah menganggap remeh rekan kerja, bawahan, ataupun atasan Anda sendiri. Berusahalah mencari kesamaan walau kecil di antara jurang perbedaan yang besar.
6.Senantiasa berorientasi pada hasil akhir goal perusahaan, yakni kesuksesan di mana prestasi yang diukur adalah prestasi kerja tim yang solid.
7.Bersemangatlah!
~ Apa yang kita tanam, akan kita tuai. Maka janganlah berhenti untuk saling menghargai.[am]
* Afra Mayriani saat ini ia bekerja di salah satu perusahaan televisi berlangganan di Jakarta. Menjadi seorang penulis hebat adalah salah satu cita-citanya. Beberapa artikelnya pernah dimuat di Pembelajar.com. Alumi Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) ini tengah menyelesaikan naskah buku pertamanya yang bertema karier. Ia bisa dihubungi di email: aframayriani@yahoo.com atau melalui weblognya di http://aframayriani.wordpress.com.
“Keep your friends close, but keep your enemies closer.”
~ Sicilian Proverb
Dalam hubungan antarmanusia yang terjalin, tentunya tidak semua berjalan dengan mulus. Baik itu hubungan antara kedua orang kekasih, kakak dengan adik, guru dengan murid, bahkan orangtua dengan anak. Tidak hanya itu, hubungan atasan dengan bawahan, dan hubungan antara sesama rekan kerja, yang biasanya juga sering mengalami berbagai hambatan.
Sikap kaku dan skeptis ketika menjalin hubungan dengan orang lain mungkin dapat menjadi titik mula datangnya kesulitan itu sendiri. Lalu, hal tersebut menjadi pemicu diri ketika berusaha membina suatu hubungan, baik dengan rekan kerja maupun dengan atasan.
Hal ini dialami juga oleh teman saya sendiri, Rico. Ia bekerja di salah satu bank swasta besar di Jakarta. Ia sudah menempati posisi yang dapat dibilang lumayan enak, yaitu sebagai asisten manajer akunting. Rico memiliki pengalaman bekerja selama kurang lebih empat tahun dan kemudian ia keluar untuk melanjutkan pendidikan S-2. Ia orang yang cerdas. Kepalanya selalu dipenuhi dengan berbagai ide segar yang dapat dimaksikmalkan. Selain itu, ia tipe pekerja keras. Motivasinya adalah melakukan yang terbaik hingga dapat menjadi yang terbaik.
Walau demikian, jalan memang selalu tidak mulus. Ada saja hambatan dan kesulitan yang ia alami. Salah satunya adalah kesulitan bekerja sama dengan atasannya sendiri. Manajernya selalu merasa paling pintar dan tidak pernah mau mendengarkan ide-ide dari bawahan ataupun rekan yang lainnya.
Pernah, dalam suatu meeting Rico mencoba mengemukakan pendapatnya tentang strategi promosi produk baru yang akan diluncurkan perusahaannya dalam waktu dekat.
“Gimana sih kamu Rico, kalau gak becus itu, ya sebaiknya diam saja! Tidak perlu ikut-ikutan ber-strategi. Saya kan sudah mencanangkan promosi yang paling tepat untuk produk baru kita itu! Memangnya kamu mau menentang saya?!” hardik atasanya.
Rico-pun segera menjawab, “Bukan begitu, Pak. Saya hanya mengemukakan bila gagasan Bapak digabungkan dengan gagasan saya, mungkin akan tercipta strategi baru, yang sebelumnya saya analisis belum pernah dilakukan oleh kompetitor kita. Sehingga, bisa saja menjadikan kita sebagai pioner di produk baru ini,” jelasnya dengan suara pelan. “Dan, saya tentunya akan meminta bimbingan serta keputusan Bapak, karena Bapak adalah atasan saya,” sambungnya.
Apa mau dikata, ternyata tetap saja atasannya itu tidak menyenangi Rico. Karena, makin hari Rico makin cemerlang dengan ide-ide luar biasanya itu. Mungkin saja dalam waktu singkat, seiring pemekaran departemen, karir Rico akan menanjak menyamai manajernya tersebut.
Akibatnya, lingkungan kerja menjadi tidak kondusif dan nyaman lagi untuk bekerja. Saling sikut dan bersaing tidak sehat sudah menjadi makanan sehari-hari di tempat kerja Rico. “Bayangkan, teman kerja saya yang sudah akrab bak sahabat selama lima tahun bekerja, ternyata tega sekali menjelekkan saya di depan direktur saya sendiri. Semua dilakukan hanya untuk mendapat ‘muka’ di depan atasannya itu,” serunya.
Jika sudah demikian, kawan adalah lawan Anda dalam persaingan di dunia kerja. Lalu, apa solusinya? Jangan berkecil hati. Jika Anda dalam posisi yang mungkin saja sama dengan Rico, ada beberapa hal yang bisa dijadikan acuan untuk mengatasinya. Berikut di antaranya. 1. Ciptakan hubungan “pertemanan” yang sama dengan setiap rekan kerja Anda.
2. Jangan terburu-buru untuk merasa dekat, apalagi memilih sahabat di tempat kerja. Analisis terlebih dahulu kecenderungan sifat dan sikap asli dari orang tersebut. 3. Open minded. Bersikaplah terbuka pada setiap masukan, dan peranan rekan kerja Anda dalam segala bentuk pekerjaan, jika memang diharuskan bekerja dalam sebuah teamwork.
Dari survei kecil yang saya lakukan, ada beberapa orang, yang mengalami permasalahan dengan rekan kerjanya sendiri di perusahaan mereka kerja saat ini. Rika misalnya, 29 tahun, yang bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi di Jakarta sebagai marketing executive. Dalam departemennya, terdapat kira-kira 15 orang dengan level posisi yang sama dengannya.
Mulanya, Rika menjalin hubungan baik dengan semua orang dalam perusahannya. Hingga suatu saat, ada salah seorang rekan kerjanya, yang lambat laun dekat berteman dengan dirinya. Sebut saja Santi. Santi duduk di posisi yang sama dengan Rika. Tetapi, Santi belum memiliki pengalaman kerja selama Rika, kira-kira baru satu tahunan lamanya.
Rika dan Santi, akhirnya menjadi akrab sekali hingga suatu waktu Rika menyadari, bahwa ternyata Santi memanfaatkannya. Seringkali Santi mengajak Rika berdiskusi mengenai pekerjaan, solusi dan pemecahan masalah termasuk ketika Santi menangani sebuah proyek. Tak disangka, Santi, seringkali menggunakan pemikiran-pemikiran Rika. Yang membuat Rika sakit hati, semua hasil pemikirannya itu disebut Santi sebagai hasil pemikirannya sendiri. Sehingga, keberhasilannya menangani suatu proyek menghantarkanya meraih promosi dari atasannya. Ia kini menjadi asisten manajer.
“Salah betul aku ini, terlena merasa bersahabat hanya dengan satu orang saja, yang ternyata orang itu justru menusukku dari belakang,” ungkapnya kepada saya, waktu menguraikan pengalaman pribadinya. Sungguh malang nasib Rika.
Berbeda dengan Rani. Seorang eksekutif berusia 25 tahun di perusahaan kosmetik. Rani, pernah memiliki kasus yang sama dengan Rika. Ia dimanfaatkan oleh rekan sekerjanya sendiri. Namun, ia segera menyadarinya sebelum terlarut akrab dengan rekan kerjanya itu. Ia pun mati-matian mulai menunjukkan keunggulan-keunggulan yang dimillikinya tanpa harus membantu seratus persen rekan kerjanya.
Rani tidak pelit informasi dan ilmu. Tapi, ia membagi pengetahuannya dengan rekan-rekannya hanya bagian terkecilnya saja. Sedangkan, bagian paling besar hingga penuntasannya, hanya ia yang mengetahui pasti. Dengan strategi demikian, Rani, tidak kehilangan teman rekan sekerjanya. Ia tetap menjalin pertemanan dengan mereka semua. Tapi, ia juga dapat mempertahankan prestasi kerjanya pada atasannya.
Menurut Ciara Woods dalam bukunya Everything You Need to Know at Work, yang telah dialihbahasakan dan diterbitkan oleh Erlanga, disebutkan bahwa sebuah tim yang efektif memiliki:
“Goal” (tujuan) yang sama, dan tidak ada di antaranya yang memiliki rencana sendiri.
Produktifitas menjadi lebih tinggi dan menyesuaikan dengan tenggat yang diberikan.
Adanya pembagian akan peranan dan tanggung jawab yang jelas kepada semua orang.
Komunikasi menjadi kunci utama, di mana prosesnya harus berjalan dua arah, mendengarkan dan didengarkan.
Hargai setiap individu sebagai pribadi yang baik di dalam tim. Setiap angggota berkesempatan untuk berkembang.
Binalah rasa saling menghormati antar setiap orang sehingga bekerja bersama akan terasa lebih menyenangkan.
Jadilah kelompok yang tidak menolak masukan, pengaruh, dan kritik yang dilontarkan dari luar.
Dalam lingkungan kehidupan di tempat kerja, memang hubungan antarrekan kerja itu sangat penting dijaga keharmonisannya. Sebab, hal itu menyangkut kinerja tim yang berujung pada kinerja diri kita sendiri. Semakin kita tidak dapat bekerjasama dengan anggota tim yang lain, menyebabkan mundurnya motivasi kerja yang ada.
Selalu, kita dihadapkan pada diversitas baik dari segi umur, budaya, dan latar belakang setiap individu dalam suatu perusahaan. Dari perbedaan tersebut, terkadang menyebabkan munculnya kotak-kotak kecil pergaulan dan hubungan antar rekan kerja. Kesamaan hobi, kesenangan yang sama, atau bahkan saya menjumpai ada lingkungan kerja teman saya yang mengelompokkan diri, karena mereka merasa berada dalam level dan kelas “gaul” yang sama. Sehingga, menghasilkan kelompok ekslusif, layaknya masa-masa sekolah dulu.
Idealnya, kita harus menjalin dengan relasi dengan siapa saja. Baik yang kita sukai karena memiliki nilai-nilai kesamaan tertentu. Ataupun yang tidak cocok dengan kita, baik dari segi sifat personal maupun dari segi kegemaran. Karena, dunia kerja bukanlah dunia main masa kanak-kanak. Semua harus dibangun secara profesional. Hasil akhir, merupakan orientasi yang perlu dikedepankan. Yaitu kesuksesan perusahaan tempat kita bekerja. Di situlah nilai prestasi kita sebagai karyawan terukur.
Masa depan tidak dapat diduga, oleh karena itu, bisa saja yang Anda anggap tidak “selevel” dengan kelas Anda dalam pergaulan di lingkungan kantor tempat Anda bekerja, ataupun rekan, dan atasan yang senang menjatuhkan Anda, justru suatu saat menjadi kawan baik Anda sendiri.
Seperti yang Rico alami. Akhirnya, setelah ia keluar kerja dari bank swasta tersebut untuk menjalankan usahanya sendiri, ia justru berteman akrab dengan mantan manajernya sewaktu itu. Dan, mereka menjalin hubungan bisnis yang baik hingga sekarang. Demikian juga dengan Rani, ia tetap menjalin pertemanan secara profesional dengan rekan-rekan kerjanya. Jadi, tunggu apa lagi, carilah lawan Anda dan jadikan mereka sahabat dalam pekerjaan ataupun bisnis Anda.
Tips Membuat Lawan Anda Menjadi Kawan:
1.Jalinlah relasi dengan semua orang.
2.Bersikap bersahabat, yang tidak berlebihan terhadap semua rekan kerja Anda di kantor.
3.Latihlah diri Anda agar tidak mudah tersinggung, sehingga Anda tidak memiliki perasaan dendam terhadap rekan kerja ataupun atasan yang menyakiti Anda.
4.Hargailah setiap rekan kerja Anda, karena masing-masing memiliki kelemahan juga keunggulannya sendiri-sendiri.
5.Jangan pernah menganggap remeh rekan kerja, bawahan, ataupun atasan Anda sendiri. Berusahalah mencari kesamaan walau kecil di antara jurang perbedaan yang besar.
6.Senantiasa berorientasi pada hasil akhir goal perusahaan, yakni kesuksesan di mana prestasi yang diukur adalah prestasi kerja tim yang solid.
7.Bersemangatlah!
~ Apa yang kita tanam, akan kita tuai. Maka janganlah berhenti untuk saling menghargai.[am]
* Afra Mayriani saat ini ia bekerja di salah satu perusahaan televisi berlangganan di Jakarta. Menjadi seorang penulis hebat adalah salah satu cita-citanya. Beberapa artikelnya pernah dimuat di Pembelajar.com. Alumi Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) ini tengah menyelesaikan naskah buku pertamanya yang bertema karier. Ia bisa dihubungi di email: aframayriani@yahoo.com atau melalui weblognya di http://aframayriani.wordpress.com.
YOU ARE WHO YOUR FRIENDS ARE
Oleh: Hartati Nurwijaya dan Jack Canfield
Adalah penting untuk menyadari kekuatan dari positive thinking. Hal ini terjadi bukan hanya pada diri Anda, tetapi orang-orang di sekeliling Anda.
Perilaku sangat mudah dikenali. Baik itu positif maupun negatif, mereka melekat pada diri Anda. Jika Anda dikelilingi oleh orang yang suka mengeluh, suka menghakimi, menyebar gosip negatif, dan senang menyalahkan orang lain, berperan seolah-olah sebagai korban, oh.. jauhilah!
Siapakah orang yang dekat dengan Anda? Apakah mereka sudah mencapai impiannya atau orang suka mengeluh pada keadaan? Apakah mereka menyanjung orang yang punya cita-cita tinggi, atau mereka orang yang suka berolok-olok dan melecehkan? Bagaimana mereka memperlakukan Anda?
Jika Anda membuang waktu bersama orang yang tidak mendukung impian dan tujuan Anda, hal yang serius dan sudah waktunya Anda memikirkan siapa teman Anda itu.
Orang yang sukses dikelilingi oleh orang yang sudah sukses. Mudah dan gampang melihat ciri orang positif. Mereka senang di sekeliling oleh orang yang sedang berusaha meraih tujuan dan berusaha menjadikannya kenyataan. Mereka ingin mengetahui bagaimana strategi dan rahasia menjadi pemenang. Mereka tidak malu untuk berada di sekeliling orang yang belajar untuk sukses dan mencari rezeki yang halal.
Anda juga, perlu dan butuh dikelilingi oleh pengaruh yang positif. Bergabunglah dengan kelompok orang yang sukses, pelajari apa yang sudah dan sedang mereka pelajari. Tidak jadi masalah Anda dan orang tersebut berasal dari latar belakang yang berbeda. Tunjukkan dan pindahkan diri Anda menjadi seorang yang berjuang meraih tujuan. Sukses bukan hanya milik orang mudah meraihnya, orang yang sudah terlahir sebagai anak orang kaya atau orang yang punya pendidikan tinggi dan mahal. Sangat banyak orang miskin yang sukses dan mereka bisa menghadapi segala rintangan dan mereka berhasil mencapai tujuannya.
Orang yang sukses tidak mendapatkannya dari berteman dekat dengan orang suka menumpahkan energi negatif. Saya sempat berkenalan dengan Deddy Tjipto ketika bertemu di Woman Radio. Beliau ahli Prana. Kami diskusi masalah energi positif dan negatif. Intinya bahwa energi positif harus bertemu energi positif. Energi negatif dan energi positif, jika bertemu, akan menghasilkan sesuatu yang negatif. Carilah teman yang dapat mengalirkan energi positif, teman yang selalu berkata baik-baik, dan teman yang selalu menghibur maupun memberi dukungan.
Sebelum saya berkenalan dengan Ibrahim Isa, Edy Zaqeus, Jennie S Bev, Irvan Wirayudha, Ariana Peggy, Jonru, Catur Catriks, Rusdin Din, Eko Sugiarto, Ning Harmanto, dan beberapa penulis sukses lainnya, saya merasa kurang motivasi untuk menulis. Setelah dekat dengan teman alumni sekolah dan milis Penulis Bestseller yang banyak memberi dukungan, akhirnya buku saya dapat terbit.
Saya pernah dan sering dianggap sombong atau bahkan dianggap kurang pergaulan. Sebab, sejak saya kecil selalu memilih teman. Saya tidak suka teman yang senang menebarkan energi negatif. Saya tidak suka berteman dengan orang tidak bahagia dalam hidupnya.
Energi positif hanya datang dari orang yang menyalurkan energi positifnya. Pertama, ketika saya pertama kali menelepon Rosihan Anwar dari Yunani agar bersedia menjadi pembicara di peluncuran buku. Saya katakan dalam hati harus percaya diri dan bahwa beliau adalah teman saya. Beliau adalah energi positif yang akan membantu saya. Hal itu terbukti tanpa susah payah, beliau yang sudah berusia 80 tahun lebih bersedia hadir. Dan, bahkan beliau bersedia membagi ilmunya serta menulis sebuah artikel di tabloid Cek & Ricek tentang saya.
Kedua, ketika saya bertemu Jajang C Noer, beliau mengatakan bahwa muka saya cerah. Jajang berkata, ia menilai seseorang dari raut wajah. Lalu, saya katakan bahwa rahasia hidup saya adalah berpikir positif. Segala hal yang terjadi dan saya alami semua serahkan pada Allah SWT.
Saya menjadikan anak-anak saya sebagai sumber kebahagiaan. Anak yang sehat membuat saya senang. Selama ini saya disibukkan dengan urusan memelihara dan merawat anak, namun saya tidak merasa itu berat. Semua saya lakukan dengan senang hati.
Ketiga, ketika saya membaca buku Jeffrey Gitomer berjudul Yes Attitude. Salah satu hal negatif yang harus dihindari adalah uang. Jangan pernah merasa tidak pernah cukup dengan uang yang Anda miliki. Negatif adalah jika Anda ingin memiliki uang yang lebih lagi.
Bukan Jeffrey Gitomer melarang kita untuk kaya, tetapi ia memberi tahu bahwa pikiran negatif muncul adalah akibat seseorang selalu berpikir bahwa ia merasa kekurangan uang.
Hal ini sudah sejak lama saya terapkan tanpa saya sadari. Saya tidak pernah mengenalkan pada anak-anak bentuk uang. Saya tidak pernah memberitahu atau mengajarkan anak-anak saya bahwa uang adalah benda berguna. Saya bahkan tidak pernah memberi uang pada anak; sejak ia sekolah dan hingga kini sudah duduk di kelas empat SD.
Anak-anak saya lebih menghargai buku-bukunya daripada uang. Putra nomor dua bahkan diberi uang oleh Yaya (nenek dalam bahasa Yunani), ia sebutkan uang itu plastik. Ia diberi uang sebab membantu memungut buah zaitun ketika sedang panen. Uang dua lembar lima euro sampai lecek dan robek, sebab tidak seorang anak pun yang peduli pada uang. Akhirnya, saya masukkan uang itu dalam celengan mereka.
Sedangkan buku yang saya bawa dari Indonesia, selalu mereka letakkan dekat dengan tempat tidur dan minta dibacakan. Putra nomor dua baru berusia tiga setengah tahun dan si bungsu baru dua setengah tahun.
Setelah selesai acara roadshow buku, saya tercenung di bandara ketika merasa saya berhasil mencapai impian bahwa buku pertama saya sudah terbit dan laris. Saya dan buku diberitakan dalam media massa. Saya sudah dikenal masyarakat. Namun, ternyata saat itu saya merasa bahwa hal yang terindah dan paling bahagia adalah bercanda serta bergurau bersama anak-anak saya.
Beberapa hari saya sempat malas menulis lagi, hingga masuk email dari James Athur Ray berisi kutipan; bahwa kita jangan merasa sukses hanya dengan satu kesuksesan dan jangan patah semangat hanya karena gagal. Sama halnya dengan konsep Hadist yang menyebutkan, “Kejarlah duniamu seakan engkau akan hidup seribu tahun lagi, dan janganlah lupa akhiratmu seakan engkau akan mati esok.”
Sekarang, saatnya saya menulis lagi agar buku kedua dan ketiga bisa terbit tahun depan. Dan, niat saya akan membuat peluncuran buku yang akan mengundang anak-anak yang terlantar.[hwp&jc]
© Hartati Nurwijaya Papafragos & Jack Canfield
* Hartati Nurwijaya Papafragos adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Yunani. Ia adalah penulis buku “Perkawinan Antarbangsa: LOve & ShOck. Jack Canfield adalah motivator dan penulis bestseller internasional.
Adalah penting untuk menyadari kekuatan dari positive thinking. Hal ini terjadi bukan hanya pada diri Anda, tetapi orang-orang di sekeliling Anda.
Perilaku sangat mudah dikenali. Baik itu positif maupun negatif, mereka melekat pada diri Anda. Jika Anda dikelilingi oleh orang yang suka mengeluh, suka menghakimi, menyebar gosip negatif, dan senang menyalahkan orang lain, berperan seolah-olah sebagai korban, oh.. jauhilah!
Siapakah orang yang dekat dengan Anda? Apakah mereka sudah mencapai impiannya atau orang suka mengeluh pada keadaan? Apakah mereka menyanjung orang yang punya cita-cita tinggi, atau mereka orang yang suka berolok-olok dan melecehkan? Bagaimana mereka memperlakukan Anda?
Jika Anda membuang waktu bersama orang yang tidak mendukung impian dan tujuan Anda, hal yang serius dan sudah waktunya Anda memikirkan siapa teman Anda itu.
Orang yang sukses dikelilingi oleh orang yang sudah sukses. Mudah dan gampang melihat ciri orang positif. Mereka senang di sekeliling oleh orang yang sedang berusaha meraih tujuan dan berusaha menjadikannya kenyataan. Mereka ingin mengetahui bagaimana strategi dan rahasia menjadi pemenang. Mereka tidak malu untuk berada di sekeliling orang yang belajar untuk sukses dan mencari rezeki yang halal.
Anda juga, perlu dan butuh dikelilingi oleh pengaruh yang positif. Bergabunglah dengan kelompok orang yang sukses, pelajari apa yang sudah dan sedang mereka pelajari. Tidak jadi masalah Anda dan orang tersebut berasal dari latar belakang yang berbeda. Tunjukkan dan pindahkan diri Anda menjadi seorang yang berjuang meraih tujuan. Sukses bukan hanya milik orang mudah meraihnya, orang yang sudah terlahir sebagai anak orang kaya atau orang yang punya pendidikan tinggi dan mahal. Sangat banyak orang miskin yang sukses dan mereka bisa menghadapi segala rintangan dan mereka berhasil mencapai tujuannya.
Orang yang sukses tidak mendapatkannya dari berteman dekat dengan orang suka menumpahkan energi negatif. Saya sempat berkenalan dengan Deddy Tjipto ketika bertemu di Woman Radio. Beliau ahli Prana. Kami diskusi masalah energi positif dan negatif. Intinya bahwa energi positif harus bertemu energi positif. Energi negatif dan energi positif, jika bertemu, akan menghasilkan sesuatu yang negatif. Carilah teman yang dapat mengalirkan energi positif, teman yang selalu berkata baik-baik, dan teman yang selalu menghibur maupun memberi dukungan.
Sebelum saya berkenalan dengan Ibrahim Isa, Edy Zaqeus, Jennie S Bev, Irvan Wirayudha, Ariana Peggy, Jonru, Catur Catriks, Rusdin Din, Eko Sugiarto, Ning Harmanto, dan beberapa penulis sukses lainnya, saya merasa kurang motivasi untuk menulis. Setelah dekat dengan teman alumni sekolah dan milis Penulis Bestseller yang banyak memberi dukungan, akhirnya buku saya dapat terbit.
Saya pernah dan sering dianggap sombong atau bahkan dianggap kurang pergaulan. Sebab, sejak saya kecil selalu memilih teman. Saya tidak suka teman yang senang menebarkan energi negatif. Saya tidak suka berteman dengan orang tidak bahagia dalam hidupnya.
Energi positif hanya datang dari orang yang menyalurkan energi positifnya. Pertama, ketika saya pertama kali menelepon Rosihan Anwar dari Yunani agar bersedia menjadi pembicara di peluncuran buku. Saya katakan dalam hati harus percaya diri dan bahwa beliau adalah teman saya. Beliau adalah energi positif yang akan membantu saya. Hal itu terbukti tanpa susah payah, beliau yang sudah berusia 80 tahun lebih bersedia hadir. Dan, bahkan beliau bersedia membagi ilmunya serta menulis sebuah artikel di tabloid Cek & Ricek tentang saya.
Kedua, ketika saya bertemu Jajang C Noer, beliau mengatakan bahwa muka saya cerah. Jajang berkata, ia menilai seseorang dari raut wajah. Lalu, saya katakan bahwa rahasia hidup saya adalah berpikir positif. Segala hal yang terjadi dan saya alami semua serahkan pada Allah SWT.
Saya menjadikan anak-anak saya sebagai sumber kebahagiaan. Anak yang sehat membuat saya senang. Selama ini saya disibukkan dengan urusan memelihara dan merawat anak, namun saya tidak merasa itu berat. Semua saya lakukan dengan senang hati.
Ketiga, ketika saya membaca buku Jeffrey Gitomer berjudul Yes Attitude. Salah satu hal negatif yang harus dihindari adalah uang. Jangan pernah merasa tidak pernah cukup dengan uang yang Anda miliki. Negatif adalah jika Anda ingin memiliki uang yang lebih lagi.
Bukan Jeffrey Gitomer melarang kita untuk kaya, tetapi ia memberi tahu bahwa pikiran negatif muncul adalah akibat seseorang selalu berpikir bahwa ia merasa kekurangan uang.
Hal ini sudah sejak lama saya terapkan tanpa saya sadari. Saya tidak pernah mengenalkan pada anak-anak bentuk uang. Saya tidak pernah memberitahu atau mengajarkan anak-anak saya bahwa uang adalah benda berguna. Saya bahkan tidak pernah memberi uang pada anak; sejak ia sekolah dan hingga kini sudah duduk di kelas empat SD.
Anak-anak saya lebih menghargai buku-bukunya daripada uang. Putra nomor dua bahkan diberi uang oleh Yaya (nenek dalam bahasa Yunani), ia sebutkan uang itu plastik. Ia diberi uang sebab membantu memungut buah zaitun ketika sedang panen. Uang dua lembar lima euro sampai lecek dan robek, sebab tidak seorang anak pun yang peduli pada uang. Akhirnya, saya masukkan uang itu dalam celengan mereka.
Sedangkan buku yang saya bawa dari Indonesia, selalu mereka letakkan dekat dengan tempat tidur dan minta dibacakan. Putra nomor dua baru berusia tiga setengah tahun dan si bungsu baru dua setengah tahun.
Setelah selesai acara roadshow buku, saya tercenung di bandara ketika merasa saya berhasil mencapai impian bahwa buku pertama saya sudah terbit dan laris. Saya dan buku diberitakan dalam media massa. Saya sudah dikenal masyarakat. Namun, ternyata saat itu saya merasa bahwa hal yang terindah dan paling bahagia adalah bercanda serta bergurau bersama anak-anak saya.
Beberapa hari saya sempat malas menulis lagi, hingga masuk email dari James Athur Ray berisi kutipan; bahwa kita jangan merasa sukses hanya dengan satu kesuksesan dan jangan patah semangat hanya karena gagal. Sama halnya dengan konsep Hadist yang menyebutkan, “Kejarlah duniamu seakan engkau akan hidup seribu tahun lagi, dan janganlah lupa akhiratmu seakan engkau akan mati esok.”
Sekarang, saatnya saya menulis lagi agar buku kedua dan ketiga bisa terbit tahun depan. Dan, niat saya akan membuat peluncuran buku yang akan mengundang anak-anak yang terlantar.[hwp&jc]
© Hartati Nurwijaya Papafragos & Jack Canfield
* Hartati Nurwijaya Papafragos adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Yunani. Ia adalah penulis buku “Perkawinan Antarbangsa: LOve & ShOck. Jack Canfield adalah motivator dan penulis bestseller internasional.
MENJADI JUARA KEHIDUPAN
Oleh: Alpiyanto
“Mengapa orang yang dilahirkan dengan begitu banyak kelebihan sering kali hanya meraih begitu sedikit, sementara yang dilahirkan dengan begitu sedikit meraih begitu banyak? Jawabannya adalah keinginan kuat. Anda harus punya keinginan besar.”
~ Lou Holtz
Kita sebagai manusia dilahirkan begitu sempurna dengan berbagai kelebihan yang diberikan Allah, dan juga hidup kita didesain untuk menjadi sang juara dalam bidang dan potensi yang kita miliki. Bahkah setiap dari kita juga punya keinginan untuk menjadi juara, dan oleh karena itulah kita bertahan hidup. Namun dengan kesempurnaan dan potensi tersebut, terkadang tidak menjadikan kita seperti apa yang kita harapkan, justru sebaliknya. Banyak dari diri kita gagal mengemban misi suci keilahian dan gagal dalam bidang kehidupan kita. Jumlah orang-orang yang meraih kesuksesan dengan mudah dari kesempurnaan dan kelebihan yang dimilikinya, berkisar 10 persen. Tetapi selebihnya harus melalui proses. Jadi apa saja yang menyebabkan kegagalan dan sedikitnya orang menjadi juara? Berikut ini akan kita bahas satu per satu penyebabnya.
1. Tidak mengetahui kekuatan dan kelemahan diri
Bila kita ingin memenangi suatu kompetisi, maka kita terlebih dahulu harus mengetahui siapa dan apa kelebihan kita. Dan, dari kelebihan itulah kita bangun sebuah kekuatan yang kokoh. Kita hanya bisa menang bila kita berangkat dan membangun dari kekuatan diri kita sendiri. Akan tetapi, kemanangan sejati seorang juara adalah mengalahkan musuh yang ada pada dirinya sendiri. Yaitu mengalahkan ego dan keterbatasannya sendiri, bukan dengan mengalahkan orang lain.
Sedangkan kelemahan diri, merefleksikan bahwa hidup membutuhkan orang lain untuk saling mengisi dan berbagi, dan dengan begitulah terjadi reaksi dan sinergi bahwa kemanangan itu adalah untuk kemanangan bersama bagi kedamaian dan cinta sesama di muka bumi dalam misi keilahian. Kesadaran kelemahan seperti ini tidak menyebabkan sang juara menyombongkan diri dan bersifat individual, tetapi kemenangan kesemestaan yang universal. Untuk itulah kita diciptakan-Nya.
Oleh karena itu, sang sufi mengatakan, “Bila kita mengenal diri kita yang sesungguhnya, maka kita akan mengenal Tunah kita.” Dan, Muhammad SAW berkata, “Jangan serahkan suatu pekerjaan pada yang bukan ahlinya. Bila dikerjakan oleh yang bukan ahlinya, maka tunggu kehancuran.” Ungkapan ini mempunyai makna mendalam, bahwa kita tidak mungkin unggul bila kita tidak mengenal dan membangun keunggulan yang ada pada diri kita sendiri. Dan, kita tidak mungkin ahli bila kita tidak membangun keunggulan sesuai dengan potensi atau bakat yang kita miliki.
2. Tidak memiliki impian
Orang-orang sukses pasti punya impian (visi), meskipun tidak semua orang yang punya impian itu akan sukses. Namun dengan kita punya impian, berarti kita membentangkan jalan kehidupan yang akan kita tempuh. Jalan yang menjadikan kita ingin dikenang seperti apa, dan jalan yang menuntun kita ke mana akan berlabuh.
Kejelasan sebuah impian akan mendorong kita untuk bergerak dan bertindak mewujudkan impian tersebut. Impian besar yang jelas dan didasari oleh niat yang mulia adalah magnet, motivasi, keyakinan, fokus, dan power serta obat dari derita dan rasa sakit yang mendorong kita untuk melakukan apa pun untuk mewujudkannya.
Di sinilah pentingnya mempunyai dan mempertahankan impian besar yang jelas dan mulia agar kita tetap terjaga dan hidup melalui keyakinan dan nilai-nilai yang benar. Mewujudkan impian yang mulia akan menuntun kita pada pribadi yang berkarakter, tidak hanya mengantarkan kita untuk sukses dalam belajar, karier, bisnis, dan kekayaan, tetapi juga dapat menjadi manusia sejati yang berguna demi manusia lain. Hal ini dapat mengingatkan kita pada sosok pribadi yang memiliki fondasi pribadi yang kuat akan sebuah impian besar yang mulia dan menjadi sumber inspirasi oleh bagi sebagian pemimpin dunia, yaitu Nelson Mandela. Seperti diungkapkan dalam pidato pelantikannya sebagai Presiden pada tahun 1994, yang berbunyi:
“Kita bertanya pada diri sendiri, ‘Siapakah sebenarnya saya untuk bisa menjadi luar biasa, hebat, berbakat, terkenal?’ Sebenarnya, siapa Anda untuk tidak bisa menjadi seperti itu? Ketika kita memancarkan sinar pribadi kita sendiri, secara tidak sadar kita memberi izin kepada orang lain untuk melakukan hal yang sama. Ketika kita terbebas dari ketakutan kita, kehadiran kita secara otomatis membebaskan orang lain.”
Jika kita tidak memiliki impian atau impian kita tidak jelas, maka sama halnya kita berlayar tanpa arah, berjalan tanpa tujuan dan hidup tanpa makna. Artinya kita telah menggadaikan misi keilahian kita pada kehampaan yang tidak berarti, atau ibarat buih ke mana angin bertiup ke sana pula kita ikut terbawa. Maka tidak heran bila banyak yang menjadi “Pak Turut dan Bu Turut” dalam bidang kehidupan kita. Lebih celaka bila sebuah bangsa menjadi bangsa Pak Turut atau Bu Turut atau bangsa yang keinginannya (visi) diatur oleh bangsa lain alias tidak mandiri dan tidak percaya diri pada keunggulannya.
3. Tujuan tidak jelas
Tujuan adalah tempat di mana kita berlabuh sementara di pelabuhan-pelabuhan kecil untuk sekedar mensyukuri hasil perjalanan jangka pendek yang kita lalui sembari melepaskan lelah dan dahaga untuk menyiapkan perjalanan-perjalanan berikutnya. Tujuan adalah proses atau mata rantai dari sebuah impian, bukan segala-galanya. Dan, tujuan akan memandu kita untuk sampai kepada impian. Atau dengan kata lain, pepatah China mengatakan, “Perjalanan satu mil dimulai dari langkah pertama.”
Kendati tujuan merupakan pelabuhan-pelabuhan kecil yang harus disinggahi, tetapi tujuan mempunyai kekuatan yang jauh lebih besar kalau kita menjadikannya pribadi, menyatakan secara spesifik, menuliskannya, membuatnya serasi dengan nilai-nilai dan kemampuan serta potensi kita, menyatakannya dengan positif, dan menjadikannya cukup menantang untuk memotivasi kita untuk mencapainya.
Tujuan adalah kunci sukses. Jika kita tidak mempunyai tujuan yang Jelas—apalagi tidak punya tujuan sama sekali—kita tidak tahu kapan kita mencetak dan mengumpulkan skor kita. Kita ataupun pelajar terkadang jarang bahkan tidak susngguh-sungguh untuk mencapai sebuah tujuan. Bekerja atau belajar dilalui bagaikan air mengalir. Belajar bila ada tugas atau ketika kita akan menghadapi ulangan maupun ujian.
Ada pengalaman menarik ketika saya mengikuti konferensi pendidikan di kampus UII Yogyakarta. Seorang pembicara mengatakan perbedaan antara siswa Indonesia dengan siswa Inggris ketika dia berkunjung ke sekolah di sana. Si pembicara bertanya kepada salah seorang siswa setingkat SMA, “Hari ini kamu sedang belajar apa?” “Saya sedang belajar matematika untuk menjadi seorang ankuntan profesional di Bank Central,” jawab siswa tersebut. Ketika si pembicara pulang ke Yogyakarta, dia menanyakan pertanyaan yang sama pada seorang siswa SMA di Yoghyakarta. Apa jawaban siswa tersebut? “Saya belajar matematika, karena hari ini pelajaran matematika.” Inilah fenomena kebanyakan para pelajar kita bahkan sampai kuliah, dan tidak heran setelah selesai kuliah tidak bisa berbuat banyak alias pengangguran.
4. Mindset yang salah
Visi merupakan gambaran mental, dan gambaran mental adalah bahasa alam bawah sadar (subconscious). Sedangkan mindset adalah refleksi dari bahasa alam bawah sadar yang men-setting pikiran (conscious) untuk mencari cara menerjemahkan visi ke dunia aktual. Mindset sering terserang virus-virus dari realitas kehidupan yang salah melalui pancaindra. Baik dari apa yang kita lihat, dengar, rasakan, bau-bauan, maupun perabaan dari lingkungan kita yang akhirnya menjadi hambatan mental (mental blocking) yang membuat kita kehilangan spirit dan potensi serta peforma kita terbelenggu. Seperti disebutkan bahwa kita adalah apa yang kita pikirkan.
Semua berawal dari pikiran.
Bila Anda menabur pikiran, maka Anda akan menuai sikap.
Bila Anda menabur sikap, maka Anda akan menuai perbuatan.
Bila Anda menabur perbuatan, maka Anda akan menuai karakter.
Bila anda menabur karakter, maka Anda menuai nasib.
Meskipun kita adalah seperti apa yang kita pikirkan sebagaimana disebutkan, tetapi pikiran harus dikawal dan tunduk pada hati nurani, agar pikiran dapat berjalan dalam bimbingan moral dalam mencari cara atau jalan terbaik untuk mewujudkan impian kita. Pikiran yang dituntun hari nurani akan membuahkan sikap yang baik dalam mewujudkan impian yang mulia dan mengakhirinya dengan cara yang baik pula. Tetapi pikiran tanpa bimbinngan hati nurani sekalipun cerdas, banyak orang yang mengakhirinya dengan cara yang tidak baik. Kita boleh mengawali dari tempat yang sama, tetapi yang membedakan seorang juara adalah dari sikapnya memilih cara dan mengakhirinya.
Jika kita menjadikan hati nurani sebagai panglima dalam mengambil keputusan untuk bersikap, maka kita adalah seperti apa yang kita rasakan. Mengapa? Karena hati lebih peka untuk merasakan baik tidaknya, atau benar salahnya sesuatu. Hati atau jantung lebih tua umurnya dibandingkan pikiran, dan jantung yang memompa darah agar otak bisa bekerja untuk berpikir. Sejak kita berada dalam kandungan Allah berdialog dengan ruh atau hakekat kedirian kita yang sesungguhnya (lihat QS. 7:172). Sedangkan otak sebagai sarana berpikir mengalami masa pertumbuhan setelah lahir (diadaptasi dari Dr Robert).
Oleh karena itulah Muhammad SAW menyuruh kita untuk miminta fatwa kepada hati kita ketika kita ingin memutuskan sesuatu, karena hati adalah pusat spiritualitas atau God-Spot, “Mintalah fatwa kepada hatimu.” Allah berkomunikasi kepada kita melalui hati, dan hati dapat kita rasakan. Oleh karena itu dapat kita formulasi seperti berikut:
Semua berawal dari perasaan (alam perasaan/bawah sadar).
Bila Anda menabur perasaan, maka Anda akan menuai pikiran.
Bila Anda menabur pikiran, maka Anda akan menuai sikap.
Bila Anda menabur sikap, maka Anda akan menuai perbuatan.
Bila Anda menabur perbuatan, maka Anda akan menuai karakter.
Bila Anda menabur karakter, maka Anda akan menuai nasib.
Untuk sekadar memberi contoh, ketika kita haus, haus itu adalah rasa. Kemudian rasa itu direspon oleh pikiran. Pikiran bekerja bagaimana caranya untuk mendapatkan air agar rasa haus atau dahaga bisa hilang. Setelah pikiran menemukan caranya, maka kemudian diikuti oleh tindakan. Artinya pikiran diperintahkan oleh perasaan. Sedangkan hati sebenarnya bersifat fitrah, bila hati yang terkontaminasi maka dia akan memerintahkan pikiran untuk mencari jalan pintas di luar bimbingan moral. Demikian sebaliknya.
Hal ini dapat kita rujuk pemikiran Einstein--imajinasi juga adalah bahasa alam bawah sadar. “Imajinasi lebih penting dari pengetahuan”. Dan, “Urusan yang berhubungan dengan sarana logis sama sekali hampa Realitas”. Kemudian Einstein membubuhkan logika pada apa yang ke luar dari kran bawah sadarnya.
Sementara hasil penelitian atas otak menunjukan bahwa di dalam otak, neokorteks berhubungan dengan pengambilan keputusan berdasarkan pikiran, perencanaan dan pengambilan jalan keluar. Di bagian bawah neokorteks adalah otak bagian tengah, yang dapat membaca, menulis atau berpikir. Akan tetapi bagian ini merasakan emosi dan sering kali disebut otak “perasaan”. Apakah kita adalah orang yang mengatakan, “Saya bangga pada diri saya sendiri dalam membuat keputusan yang masuk akal.” Berikut kabar buruknya. Pada tahun 1996, ahli bedah saraf dari Iowa, Antonio Damasio menunjukan dalam salah satu penemuan paling penting dekade sebelumnya, bahwa bagian neokorteks tidak membuat keputusan sebelum “keluar” dari otak bagian tengah. Dengan pengertian lain, emosi adalah pusat untuk memperoses pikiran rasional. Jadi, perasaan kita adalah pusat bagi kebanyakan keputusan yang kita ambil. Hal yang mengubah diri kita adalah perasaan, bukan logika.
Demikian halnya juga, sebagaimana dikemukakan DR Ebrahim Karim, bahwa para ilmuan sudah menemukan “God-Spot” atau pusat spiritualitas di bagian temporal lobe otak manusia, sirkuit saraf ini, jika diaktifkan dapat berfungsi seperti antena yang membuat kita bisa “tersambung” dengan kekuatan ilahi.
Jadi, mindset yang benar adalah ketika kita memperoleh nilai 4 pada suatu mata pelajaran, misalnya, maka kita akan mengucapkan terimakasih atas nilai yang kita terima. Karena dengan nilai 4 ini adalah titik tolak bagi kita untuk memulai belajar lebih baik lagi ke depan, sehingga tidak terjadi hal yang sama untuk hasil pelajaran berikutnya. Lain halnya bila kita ber-mindset salah. Kita akan menyalahkan sesuatu yang ada di luar diri kita, seperti menyalahkan guru, sekolah, teman, orangtua bahkan keadaan dan sebagainya. Bisa juga menyalahkan diri sendiri, seperti, saya tidak berbakat dalam mata pelajaran ini, mungkin saya terlalu bodoh untuk sekolah dan lain sebagainya.
5. Tidak memiliki perencanaan yang spesifik
Orang manajemen mengatakan, bahwa perencanaan menyumbangkan 90 persen dari sebuah keberhasilan, dan 10 persen adalah action-nya. Mayoritas para siswa kita tidak memiliki self-management skill, bahkan sekolah juga tidak membekali mereka akan keterampilan yang satu ini. Bagaimana mungkin kita mengajarkan siswa kita, kita saja sebagai guru juga ketika membuat perencanaan pembelajaran atau RPP (leason plan) hanya sebatas untuk kelengkapan persyaratan administrasi? Ketika mengajar juga tidak dijadikan acuan untuk diikuti karena menganggap sudah diingat di luar kepala. Tidak heran ketika program sertifikasi guru digelar, mereka tidak mempunyai dokumen rencana pembelajaran. Bila guru dan siswanya sama-sama tidak memiliki rencana kerja dan rencana belajar, maka akan jadi seperti apa hasil pendidikannya?
6. Tidak mencintai apa yang dikerjakan dan mengerjakan apa yang tidak Dicintai
Jika kita tidak mencintai apa yang kita pelajari dan apa yang kita kerjakan, serta mempelajari dan mengerjakan apa yang tidak kita cintai, maka kita melalukannya dengan penuh rasa keterpaksaan dan merasa beban. Orang-orang seperti ini biasanya banyak mengeluh, tuntutan, terjebak pada rutinitas, pribadi yang tidak berkembang, menyalahkan nasib dan orang lain, dan banyak alasan untuk mencari pembenaran atas ketidak berhasilannya. Karena bukan dari hati, dan juga tidak sesuai dengan bakat atau potensi diri, atau ketidakmampuan kita untuk melihat dari perspektif lain dan mengaitkan antara visi pribadi (manfaatnya untuk kehidupan kita nanti) dengan visi sekolah.
Bila hal ini dipaksakan kita tidak bisa menjadi pribadi sebagaimana yang kita harapkan, atau hasil yang didapat tidak sesuai dengan pengorbanan yang kita keluarkan. Kita harus belajar dan bekerja dua kali lipat lebih ekstra bila dibandingkan kita belajar atau bekerja dengan apa yang menjadi keinginan kita. Karena bila kita belajar atau bekerja sesuai dengan apa yang kita inginkan atau sukai, maka kita akan mengerjakannya dengan penuh rasa suka cita dan mencurahkan segala daya dan upaya untuk melakukannya.
Kita tidak cukup hanya sekedar berpengetahuan, dan terampil, tetapi tidak pernah benar-benar mencintai apa yang kita kerjakan dengan tulus. Bagaimana mungkin kita bisa mengharapkan menjadi sang juara tanpa sepenuhnya kita mencurahkan cinta sepenuhnya terhadap belajar atau bekerj? Karena, cinta memberi nilai tambah yang luar biasa bagi keberhasilan kita.
Cinta hampir sama halnya dengan hobi, yaitu pada saat kita menekuni PEKERJAAN-BELAJAR yang berangkat dari hobi kita, kita berpotensi besar untuk berhasil, karena alasan yang sederhana yaitu ada CINTA yang terlibat di dalamnya. Karena, cinta mampu membuat kita bertahan dalam kondisi sulit, cinta mampu membuat kita untuk terus menerus menjadi romantis terhadap kerja-belajar kita, cinta mampu membuat perasaan rela berkorban, cinta membuat kita mau melakukan lebih baik dari hari ke hari dan cinta mampu membuat kita menembus semua halangan, keterbatasan dan persepsi gagal dan merubahnya menjadi sebuah perjalanan yang menyenangkan. Cinta dapat membimbing kita pada kerinduan untuk terus belajar, bertumbuh dan merenungkan bidang kita siang dan malam (Raja Daud).
7. Tidak punya mentor yang tepat
Mentor atau guru yang sesungguhnya adalah orang yang membimbing dan memberi arah yang benar ke mana kita harus melangkah. Karena, mereka tahu dan bisa melihat potensi ke depan kita seperti apa. Dan, mereka adalah orang yang berpengalaman dan banyak belajar dari kehidupan mereka. Saya mempunyai guru yang bisa membaca potensi ke depan saya. Saya sebenarnya suka membaca dan menulis, tapi saya belum pernah menulis buku. Suatu ketika saya bertemu dengan ketiga guru saya dalam bidang menulis pada acara pelatihan. Ketika saya mengutarakan ide saya dan mecoba untuk praktik menulis cepat, kemudian ide dan tulisan tersebut mereka komentari dengan memberikan saran-saran konstruktif. Saya merasakan saran ketiga guru saya ini benar-benar pas di hati saya dan memberi saya pencerahan yang luar biasa dalam menulis. Sehingga, keinginan menulis saya sampai tidak bisa terhentikan (unstoppable) siang (libur/minggu) dan malam. Inilah hasilnya, buku pertama yang saya tulis dalam waktu dua minggu, yang saya kerjakan malam hari, karena siangnya saya bekerja seperti biasa. Capek dan ngantuk seakan tidak ada. Kemudian dua minggunya saya gunakan untuk memperbaiki tulisan dan memperkaya dengan referensi-referensi lain yang mendukung.
Seandainya saja saya tidak bertemu dengan mentor atau guru yang tepat, maka potensi menulis saya tidak berkembang sebagaimana mestinya. Saya sangat bersyukur kepada Allah yang telah menunjukan dan mempertemukan saya kepada guru yang tepat dalam menulis, dan saya sangat berterimakasih kepada meraka bertiga, yaitu Andrias Harefa, Edy Zaqeus, dan Her Suryanto.
Bila potensi atau talenta kita berada di tangan atau dibimbing oleh guru yang tepat, maka pengembangan pribadi dan potensi kita akan tumbuh dan berkembang melesat. Seorang guru yang benar, menurut Einstein, ketika sang guru tidak dapat menjelaskan sesuatu pada anak 6 tahun, sesungguhnya guru itu sendiri tidak mengerti. Tidak ada siswa yang bodoh, kata Wiwoho, yang ada adalah guru yang tidak bisa mengajar.
Oleh karena itu, jika kita ingin pintar bergurulah kepada orang yang pintar, bila kita ingin sukses bergurulah kepada orang sukses, bila kita ingin kaya bergurulah pada orang kaya, dan bila kita ingin juara bergurulah kepada sang juara. Guru saya, Pak Aziz Zamzami, ketika di Madrasah Aliyah dulu menganalogikannya seperti orang pandai besi. Besi itu, katanya, berwarna hitam atau kecoklat-coklatan. Bila lama-lama dibakar dalam api, maka besi tadi akan sama merahnya seperti api. Artinya, bila kita berguru atau berteman dengan orang cerdas, meskipun kita tidak secerdas mereka, paling tidak kita mendekati atau sudah berguru atau berteman pada orang yang tepat. Dan, Tung Desem Waringin menyarankan 80 persen dari waktu kita harus digunakan seperti orang-orang tersebut, dan 20 persen pada yang lainnya bila ingin berhasil.
Sebaik apa pun potensi yang kita miliki tanpa guru yang tepat, kita akan menguras energi untuk mencapai keberhasilan, bahkan bisa jadi potensi luar biasa yang kita miliki sirna ditelan sikap dan kebiasaan negatif kita maupun lingkungan kita. Karena kebanyakan orang tidak suka melihat orang lain berhasil.[al]
* Alpyanto adalah seorang pendidik di Tunas Global School, Bekasi, Jawa Barat. Ia adalah alumnus SPP dan saat ini sedang merampungkan sebuah naskah buku tentang program sekolah unggulan. Alpyanto dapat dihubungi di email: alpiyanto@yahoo.co.id.
“Mengapa orang yang dilahirkan dengan begitu banyak kelebihan sering kali hanya meraih begitu sedikit, sementara yang dilahirkan dengan begitu sedikit meraih begitu banyak? Jawabannya adalah keinginan kuat. Anda harus punya keinginan besar.”
~ Lou Holtz
Kita sebagai manusia dilahirkan begitu sempurna dengan berbagai kelebihan yang diberikan Allah, dan juga hidup kita didesain untuk menjadi sang juara dalam bidang dan potensi yang kita miliki. Bahkah setiap dari kita juga punya keinginan untuk menjadi juara, dan oleh karena itulah kita bertahan hidup. Namun dengan kesempurnaan dan potensi tersebut, terkadang tidak menjadikan kita seperti apa yang kita harapkan, justru sebaliknya. Banyak dari diri kita gagal mengemban misi suci keilahian dan gagal dalam bidang kehidupan kita. Jumlah orang-orang yang meraih kesuksesan dengan mudah dari kesempurnaan dan kelebihan yang dimilikinya, berkisar 10 persen. Tetapi selebihnya harus melalui proses. Jadi apa saja yang menyebabkan kegagalan dan sedikitnya orang menjadi juara? Berikut ini akan kita bahas satu per satu penyebabnya.
1. Tidak mengetahui kekuatan dan kelemahan diri
Bila kita ingin memenangi suatu kompetisi, maka kita terlebih dahulu harus mengetahui siapa dan apa kelebihan kita. Dan, dari kelebihan itulah kita bangun sebuah kekuatan yang kokoh. Kita hanya bisa menang bila kita berangkat dan membangun dari kekuatan diri kita sendiri. Akan tetapi, kemanangan sejati seorang juara adalah mengalahkan musuh yang ada pada dirinya sendiri. Yaitu mengalahkan ego dan keterbatasannya sendiri, bukan dengan mengalahkan orang lain.
Sedangkan kelemahan diri, merefleksikan bahwa hidup membutuhkan orang lain untuk saling mengisi dan berbagi, dan dengan begitulah terjadi reaksi dan sinergi bahwa kemanangan itu adalah untuk kemanangan bersama bagi kedamaian dan cinta sesama di muka bumi dalam misi keilahian. Kesadaran kelemahan seperti ini tidak menyebabkan sang juara menyombongkan diri dan bersifat individual, tetapi kemenangan kesemestaan yang universal. Untuk itulah kita diciptakan-Nya.
Oleh karena itu, sang sufi mengatakan, “Bila kita mengenal diri kita yang sesungguhnya, maka kita akan mengenal Tunah kita.” Dan, Muhammad SAW berkata, “Jangan serahkan suatu pekerjaan pada yang bukan ahlinya. Bila dikerjakan oleh yang bukan ahlinya, maka tunggu kehancuran.” Ungkapan ini mempunyai makna mendalam, bahwa kita tidak mungkin unggul bila kita tidak mengenal dan membangun keunggulan yang ada pada diri kita sendiri. Dan, kita tidak mungkin ahli bila kita tidak membangun keunggulan sesuai dengan potensi atau bakat yang kita miliki.
2. Tidak memiliki impian
Orang-orang sukses pasti punya impian (visi), meskipun tidak semua orang yang punya impian itu akan sukses. Namun dengan kita punya impian, berarti kita membentangkan jalan kehidupan yang akan kita tempuh. Jalan yang menjadikan kita ingin dikenang seperti apa, dan jalan yang menuntun kita ke mana akan berlabuh.
Kejelasan sebuah impian akan mendorong kita untuk bergerak dan bertindak mewujudkan impian tersebut. Impian besar yang jelas dan didasari oleh niat yang mulia adalah magnet, motivasi, keyakinan, fokus, dan power serta obat dari derita dan rasa sakit yang mendorong kita untuk melakukan apa pun untuk mewujudkannya.
Di sinilah pentingnya mempunyai dan mempertahankan impian besar yang jelas dan mulia agar kita tetap terjaga dan hidup melalui keyakinan dan nilai-nilai yang benar. Mewujudkan impian yang mulia akan menuntun kita pada pribadi yang berkarakter, tidak hanya mengantarkan kita untuk sukses dalam belajar, karier, bisnis, dan kekayaan, tetapi juga dapat menjadi manusia sejati yang berguna demi manusia lain. Hal ini dapat mengingatkan kita pada sosok pribadi yang memiliki fondasi pribadi yang kuat akan sebuah impian besar yang mulia dan menjadi sumber inspirasi oleh bagi sebagian pemimpin dunia, yaitu Nelson Mandela. Seperti diungkapkan dalam pidato pelantikannya sebagai Presiden pada tahun 1994, yang berbunyi:
“Kita bertanya pada diri sendiri, ‘Siapakah sebenarnya saya untuk bisa menjadi luar biasa, hebat, berbakat, terkenal?’ Sebenarnya, siapa Anda untuk tidak bisa menjadi seperti itu? Ketika kita memancarkan sinar pribadi kita sendiri, secara tidak sadar kita memberi izin kepada orang lain untuk melakukan hal yang sama. Ketika kita terbebas dari ketakutan kita, kehadiran kita secara otomatis membebaskan orang lain.”
Jika kita tidak memiliki impian atau impian kita tidak jelas, maka sama halnya kita berlayar tanpa arah, berjalan tanpa tujuan dan hidup tanpa makna. Artinya kita telah menggadaikan misi keilahian kita pada kehampaan yang tidak berarti, atau ibarat buih ke mana angin bertiup ke sana pula kita ikut terbawa. Maka tidak heran bila banyak yang menjadi “Pak Turut dan Bu Turut” dalam bidang kehidupan kita. Lebih celaka bila sebuah bangsa menjadi bangsa Pak Turut atau Bu Turut atau bangsa yang keinginannya (visi) diatur oleh bangsa lain alias tidak mandiri dan tidak percaya diri pada keunggulannya.
3. Tujuan tidak jelas
Tujuan adalah tempat di mana kita berlabuh sementara di pelabuhan-pelabuhan kecil untuk sekedar mensyukuri hasil perjalanan jangka pendek yang kita lalui sembari melepaskan lelah dan dahaga untuk menyiapkan perjalanan-perjalanan berikutnya. Tujuan adalah proses atau mata rantai dari sebuah impian, bukan segala-galanya. Dan, tujuan akan memandu kita untuk sampai kepada impian. Atau dengan kata lain, pepatah China mengatakan, “Perjalanan satu mil dimulai dari langkah pertama.”
Kendati tujuan merupakan pelabuhan-pelabuhan kecil yang harus disinggahi, tetapi tujuan mempunyai kekuatan yang jauh lebih besar kalau kita menjadikannya pribadi, menyatakan secara spesifik, menuliskannya, membuatnya serasi dengan nilai-nilai dan kemampuan serta potensi kita, menyatakannya dengan positif, dan menjadikannya cukup menantang untuk memotivasi kita untuk mencapainya.
Tujuan adalah kunci sukses. Jika kita tidak mempunyai tujuan yang Jelas—apalagi tidak punya tujuan sama sekali—kita tidak tahu kapan kita mencetak dan mengumpulkan skor kita. Kita ataupun pelajar terkadang jarang bahkan tidak susngguh-sungguh untuk mencapai sebuah tujuan. Bekerja atau belajar dilalui bagaikan air mengalir. Belajar bila ada tugas atau ketika kita akan menghadapi ulangan maupun ujian.
Ada pengalaman menarik ketika saya mengikuti konferensi pendidikan di kampus UII Yogyakarta. Seorang pembicara mengatakan perbedaan antara siswa Indonesia dengan siswa Inggris ketika dia berkunjung ke sekolah di sana. Si pembicara bertanya kepada salah seorang siswa setingkat SMA, “Hari ini kamu sedang belajar apa?” “Saya sedang belajar matematika untuk menjadi seorang ankuntan profesional di Bank Central,” jawab siswa tersebut. Ketika si pembicara pulang ke Yogyakarta, dia menanyakan pertanyaan yang sama pada seorang siswa SMA di Yoghyakarta. Apa jawaban siswa tersebut? “Saya belajar matematika, karena hari ini pelajaran matematika.” Inilah fenomena kebanyakan para pelajar kita bahkan sampai kuliah, dan tidak heran setelah selesai kuliah tidak bisa berbuat banyak alias pengangguran.
4. Mindset yang salah
Visi merupakan gambaran mental, dan gambaran mental adalah bahasa alam bawah sadar (subconscious). Sedangkan mindset adalah refleksi dari bahasa alam bawah sadar yang men-setting pikiran (conscious) untuk mencari cara menerjemahkan visi ke dunia aktual. Mindset sering terserang virus-virus dari realitas kehidupan yang salah melalui pancaindra. Baik dari apa yang kita lihat, dengar, rasakan, bau-bauan, maupun perabaan dari lingkungan kita yang akhirnya menjadi hambatan mental (mental blocking) yang membuat kita kehilangan spirit dan potensi serta peforma kita terbelenggu. Seperti disebutkan bahwa kita adalah apa yang kita pikirkan.
Semua berawal dari pikiran.
Bila Anda menabur pikiran, maka Anda akan menuai sikap.
Bila Anda menabur sikap, maka Anda akan menuai perbuatan.
Bila Anda menabur perbuatan, maka Anda akan menuai karakter.
Bila anda menabur karakter, maka Anda menuai nasib.
Meskipun kita adalah seperti apa yang kita pikirkan sebagaimana disebutkan, tetapi pikiran harus dikawal dan tunduk pada hati nurani, agar pikiran dapat berjalan dalam bimbingan moral dalam mencari cara atau jalan terbaik untuk mewujudkan impian kita. Pikiran yang dituntun hari nurani akan membuahkan sikap yang baik dalam mewujudkan impian yang mulia dan mengakhirinya dengan cara yang baik pula. Tetapi pikiran tanpa bimbinngan hati nurani sekalipun cerdas, banyak orang yang mengakhirinya dengan cara yang tidak baik. Kita boleh mengawali dari tempat yang sama, tetapi yang membedakan seorang juara adalah dari sikapnya memilih cara dan mengakhirinya.
Jika kita menjadikan hati nurani sebagai panglima dalam mengambil keputusan untuk bersikap, maka kita adalah seperti apa yang kita rasakan. Mengapa? Karena hati lebih peka untuk merasakan baik tidaknya, atau benar salahnya sesuatu. Hati atau jantung lebih tua umurnya dibandingkan pikiran, dan jantung yang memompa darah agar otak bisa bekerja untuk berpikir. Sejak kita berada dalam kandungan Allah berdialog dengan ruh atau hakekat kedirian kita yang sesungguhnya (lihat QS. 7:172). Sedangkan otak sebagai sarana berpikir mengalami masa pertumbuhan setelah lahir (diadaptasi dari Dr Robert).
Oleh karena itulah Muhammad SAW menyuruh kita untuk miminta fatwa kepada hati kita ketika kita ingin memutuskan sesuatu, karena hati adalah pusat spiritualitas atau God-Spot, “Mintalah fatwa kepada hatimu.” Allah berkomunikasi kepada kita melalui hati, dan hati dapat kita rasakan. Oleh karena itu dapat kita formulasi seperti berikut:
Semua berawal dari perasaan (alam perasaan/bawah sadar).
Bila Anda menabur perasaan, maka Anda akan menuai pikiran.
Bila Anda menabur pikiran, maka Anda akan menuai sikap.
Bila Anda menabur sikap, maka Anda akan menuai perbuatan.
Bila Anda menabur perbuatan, maka Anda akan menuai karakter.
Bila Anda menabur karakter, maka Anda akan menuai nasib.
Untuk sekadar memberi contoh, ketika kita haus, haus itu adalah rasa. Kemudian rasa itu direspon oleh pikiran. Pikiran bekerja bagaimana caranya untuk mendapatkan air agar rasa haus atau dahaga bisa hilang. Setelah pikiran menemukan caranya, maka kemudian diikuti oleh tindakan. Artinya pikiran diperintahkan oleh perasaan. Sedangkan hati sebenarnya bersifat fitrah, bila hati yang terkontaminasi maka dia akan memerintahkan pikiran untuk mencari jalan pintas di luar bimbingan moral. Demikian sebaliknya.
Hal ini dapat kita rujuk pemikiran Einstein--imajinasi juga adalah bahasa alam bawah sadar. “Imajinasi lebih penting dari pengetahuan”. Dan, “Urusan yang berhubungan dengan sarana logis sama sekali hampa Realitas”. Kemudian Einstein membubuhkan logika pada apa yang ke luar dari kran bawah sadarnya.
Sementara hasil penelitian atas otak menunjukan bahwa di dalam otak, neokorteks berhubungan dengan pengambilan keputusan berdasarkan pikiran, perencanaan dan pengambilan jalan keluar. Di bagian bawah neokorteks adalah otak bagian tengah, yang dapat membaca, menulis atau berpikir. Akan tetapi bagian ini merasakan emosi dan sering kali disebut otak “perasaan”. Apakah kita adalah orang yang mengatakan, “Saya bangga pada diri saya sendiri dalam membuat keputusan yang masuk akal.” Berikut kabar buruknya. Pada tahun 1996, ahli bedah saraf dari Iowa, Antonio Damasio menunjukan dalam salah satu penemuan paling penting dekade sebelumnya, bahwa bagian neokorteks tidak membuat keputusan sebelum “keluar” dari otak bagian tengah. Dengan pengertian lain, emosi adalah pusat untuk memperoses pikiran rasional. Jadi, perasaan kita adalah pusat bagi kebanyakan keputusan yang kita ambil. Hal yang mengubah diri kita adalah perasaan, bukan logika.
Demikian halnya juga, sebagaimana dikemukakan DR Ebrahim Karim, bahwa para ilmuan sudah menemukan “God-Spot” atau pusat spiritualitas di bagian temporal lobe otak manusia, sirkuit saraf ini, jika diaktifkan dapat berfungsi seperti antena yang membuat kita bisa “tersambung” dengan kekuatan ilahi.
Jadi, mindset yang benar adalah ketika kita memperoleh nilai 4 pada suatu mata pelajaran, misalnya, maka kita akan mengucapkan terimakasih atas nilai yang kita terima. Karena dengan nilai 4 ini adalah titik tolak bagi kita untuk memulai belajar lebih baik lagi ke depan, sehingga tidak terjadi hal yang sama untuk hasil pelajaran berikutnya. Lain halnya bila kita ber-mindset salah. Kita akan menyalahkan sesuatu yang ada di luar diri kita, seperti menyalahkan guru, sekolah, teman, orangtua bahkan keadaan dan sebagainya. Bisa juga menyalahkan diri sendiri, seperti, saya tidak berbakat dalam mata pelajaran ini, mungkin saya terlalu bodoh untuk sekolah dan lain sebagainya.
5. Tidak memiliki perencanaan yang spesifik
Orang manajemen mengatakan, bahwa perencanaan menyumbangkan 90 persen dari sebuah keberhasilan, dan 10 persen adalah action-nya. Mayoritas para siswa kita tidak memiliki self-management skill, bahkan sekolah juga tidak membekali mereka akan keterampilan yang satu ini. Bagaimana mungkin kita mengajarkan siswa kita, kita saja sebagai guru juga ketika membuat perencanaan pembelajaran atau RPP (leason plan) hanya sebatas untuk kelengkapan persyaratan administrasi? Ketika mengajar juga tidak dijadikan acuan untuk diikuti karena menganggap sudah diingat di luar kepala. Tidak heran ketika program sertifikasi guru digelar, mereka tidak mempunyai dokumen rencana pembelajaran. Bila guru dan siswanya sama-sama tidak memiliki rencana kerja dan rencana belajar, maka akan jadi seperti apa hasil pendidikannya?
6. Tidak mencintai apa yang dikerjakan dan mengerjakan apa yang tidak Dicintai
Jika kita tidak mencintai apa yang kita pelajari dan apa yang kita kerjakan, serta mempelajari dan mengerjakan apa yang tidak kita cintai, maka kita melalukannya dengan penuh rasa keterpaksaan dan merasa beban. Orang-orang seperti ini biasanya banyak mengeluh, tuntutan, terjebak pada rutinitas, pribadi yang tidak berkembang, menyalahkan nasib dan orang lain, dan banyak alasan untuk mencari pembenaran atas ketidak berhasilannya. Karena bukan dari hati, dan juga tidak sesuai dengan bakat atau potensi diri, atau ketidakmampuan kita untuk melihat dari perspektif lain dan mengaitkan antara visi pribadi (manfaatnya untuk kehidupan kita nanti) dengan visi sekolah.
Bila hal ini dipaksakan kita tidak bisa menjadi pribadi sebagaimana yang kita harapkan, atau hasil yang didapat tidak sesuai dengan pengorbanan yang kita keluarkan. Kita harus belajar dan bekerja dua kali lipat lebih ekstra bila dibandingkan kita belajar atau bekerja dengan apa yang menjadi keinginan kita. Karena bila kita belajar atau bekerja sesuai dengan apa yang kita inginkan atau sukai, maka kita akan mengerjakannya dengan penuh rasa suka cita dan mencurahkan segala daya dan upaya untuk melakukannya.
Kita tidak cukup hanya sekedar berpengetahuan, dan terampil, tetapi tidak pernah benar-benar mencintai apa yang kita kerjakan dengan tulus. Bagaimana mungkin kita bisa mengharapkan menjadi sang juara tanpa sepenuhnya kita mencurahkan cinta sepenuhnya terhadap belajar atau bekerj? Karena, cinta memberi nilai tambah yang luar biasa bagi keberhasilan kita.
Cinta hampir sama halnya dengan hobi, yaitu pada saat kita menekuni PEKERJAAN-BELAJAR yang berangkat dari hobi kita, kita berpotensi besar untuk berhasil, karena alasan yang sederhana yaitu ada CINTA yang terlibat di dalamnya. Karena, cinta mampu membuat kita bertahan dalam kondisi sulit, cinta mampu membuat kita untuk terus menerus menjadi romantis terhadap kerja-belajar kita, cinta mampu membuat perasaan rela berkorban, cinta membuat kita mau melakukan lebih baik dari hari ke hari dan cinta mampu membuat kita menembus semua halangan, keterbatasan dan persepsi gagal dan merubahnya menjadi sebuah perjalanan yang menyenangkan. Cinta dapat membimbing kita pada kerinduan untuk terus belajar, bertumbuh dan merenungkan bidang kita siang dan malam (Raja Daud).
7. Tidak punya mentor yang tepat
Mentor atau guru yang sesungguhnya adalah orang yang membimbing dan memberi arah yang benar ke mana kita harus melangkah. Karena, mereka tahu dan bisa melihat potensi ke depan kita seperti apa. Dan, mereka adalah orang yang berpengalaman dan banyak belajar dari kehidupan mereka. Saya mempunyai guru yang bisa membaca potensi ke depan saya. Saya sebenarnya suka membaca dan menulis, tapi saya belum pernah menulis buku. Suatu ketika saya bertemu dengan ketiga guru saya dalam bidang menulis pada acara pelatihan. Ketika saya mengutarakan ide saya dan mecoba untuk praktik menulis cepat, kemudian ide dan tulisan tersebut mereka komentari dengan memberikan saran-saran konstruktif. Saya merasakan saran ketiga guru saya ini benar-benar pas di hati saya dan memberi saya pencerahan yang luar biasa dalam menulis. Sehingga, keinginan menulis saya sampai tidak bisa terhentikan (unstoppable) siang (libur/minggu) dan malam. Inilah hasilnya, buku pertama yang saya tulis dalam waktu dua minggu, yang saya kerjakan malam hari, karena siangnya saya bekerja seperti biasa. Capek dan ngantuk seakan tidak ada. Kemudian dua minggunya saya gunakan untuk memperbaiki tulisan dan memperkaya dengan referensi-referensi lain yang mendukung.
Seandainya saja saya tidak bertemu dengan mentor atau guru yang tepat, maka potensi menulis saya tidak berkembang sebagaimana mestinya. Saya sangat bersyukur kepada Allah yang telah menunjukan dan mempertemukan saya kepada guru yang tepat dalam menulis, dan saya sangat berterimakasih kepada meraka bertiga, yaitu Andrias Harefa, Edy Zaqeus, dan Her Suryanto.
Bila potensi atau talenta kita berada di tangan atau dibimbing oleh guru yang tepat, maka pengembangan pribadi dan potensi kita akan tumbuh dan berkembang melesat. Seorang guru yang benar, menurut Einstein, ketika sang guru tidak dapat menjelaskan sesuatu pada anak 6 tahun, sesungguhnya guru itu sendiri tidak mengerti. Tidak ada siswa yang bodoh, kata Wiwoho, yang ada adalah guru yang tidak bisa mengajar.
Oleh karena itu, jika kita ingin pintar bergurulah kepada orang yang pintar, bila kita ingin sukses bergurulah kepada orang sukses, bila kita ingin kaya bergurulah pada orang kaya, dan bila kita ingin juara bergurulah kepada sang juara. Guru saya, Pak Aziz Zamzami, ketika di Madrasah Aliyah dulu menganalogikannya seperti orang pandai besi. Besi itu, katanya, berwarna hitam atau kecoklat-coklatan. Bila lama-lama dibakar dalam api, maka besi tadi akan sama merahnya seperti api. Artinya, bila kita berguru atau berteman dengan orang cerdas, meskipun kita tidak secerdas mereka, paling tidak kita mendekati atau sudah berguru atau berteman pada orang yang tepat. Dan, Tung Desem Waringin menyarankan 80 persen dari waktu kita harus digunakan seperti orang-orang tersebut, dan 20 persen pada yang lainnya bila ingin berhasil.
Sebaik apa pun potensi yang kita miliki tanpa guru yang tepat, kita akan menguras energi untuk mencapai keberhasilan, bahkan bisa jadi potensi luar biasa yang kita miliki sirna ditelan sikap dan kebiasaan negatif kita maupun lingkungan kita. Karena kebanyakan orang tidak suka melihat orang lain berhasil.[al]
* Alpyanto adalah seorang pendidik di Tunas Global School, Bekasi, Jawa Barat. Ia adalah alumnus SPP dan saat ini sedang merampungkan sebuah naskah buku tentang program sekolah unggulan. Alpyanto dapat dihubungi di email: alpiyanto@yahoo.co.id.
Langganan:
Postingan (Atom)
instanx
Total Tayangan Halaman
Categories
- abdul muid badrun (2)
- Acha Septriasa (4)
- ade asep syafruddin (4)
- alexandra dewi (1)
- alpiyanto (1)
- andrew ho (91)
- Ardian syam (22)
- arief yuntanu (2)
- arif gunawan (40)
- arif yustanu (1)
- artikel (13118)
- bambang trim (1)
- beni bevly (1)
- berita (3795)
- BLOGERNAS (1)
- damardi darmawangsa (13)
- danang a akbarona (2)
- dany chandra (3)
- dewi lestari (1)
- Dian Sastro (1)
- didik darmanto (2)
- dodi mawardi (2)
- DOWNLOAD EBOOK GRATIS (234)
- edi zaqeus (1)
- edit (110)
- eko jalu santoso (1)
- eni kusuma (11)
- goenardjoadi goenawan (1)
- hari subagya (7)
- haryanto kandani (4)
- hendra (10)
- ida kuraeny (1)
- indra cahya (1)
- iqnatius muk kuang (8)
- jennie s bev (1)
- johanes koraang (1)
- joko susilo (47)
- joni liu (2)
- joshua w utomo (2)
- joycelina (1)
- kerjadarirumah (4)
- kristopher david (1)
- lamser aritonang (1)
- Luna maya (15)
- m ichsan (41)
- m ikbal (1)
- Mariana Renata (1)
- marsello ginting (1)
- marzuki usman (3)
- Mieke Amalia (1)
- mugi subagya (1)
- muk kuang (1)
- Mulan Jameela (1)
- original artikel (103)
- profil (3)
- pujiono (1)
- rab a broto (4)
- Revalina S. Temat (3)
- riyanto s (4)
- ronal frank (2)
- roni jamaludin (1)
- ruby herman (1)
- ruddy kusnadi (1)
- rudy lim (19)
- sansulung john sum (1)
- saumimam saud (1)
- stephen barnabas (1)
- suryanto wijaya (3)
- syahril syam (17)
- tan bonaventura andika sumarjo (1)
- tanadi santoso (1)
- tante girang (454)
- thomas sugiarto (8)
- tung desem waringin (4)
- undang a halim (1)
- walpaper (50)