Jumat, 31 Oktober 2008

PENDIDIKAN “TERAMPIL BERPIKIR”

Oleh: Roni Djamaloeddin


Pada umumnya, berpikir dianggap sebagai sebuah tuntutan/kebutuhan. Artinya, bila keadaan mengharuskan untuk berpikir, barulah (secara otomatis dan alami) pikiran bekerja. Misalnya, ketika menghadapi masalah, merencanakan sesuatu, maupun ketika bekerja yang memang memerlukan pemikiran (bukan pekerjaan yang monoton). Hal-hal seperti ini memang menuntut pikiran untuk bekerja. Namun bila keadaan biasa (santai), tidak menuntut aktivitas berpikir, hampir pasti pikiran tidak dibekerjakan—tidak diasah agar terampil dan tajam.

Pada sisi lain, banyak yang beranggapan bahwa kemampuan berpikir—atau tepatnya keterampilan berpikir—adalah merupakan “gawan bayi” (watak bawaan). Ia tidak bisa diubah ke arah yang lebih baik. Usaha apa pun yang dilakukan, diprasangka akan sia-sia. Tidak banyak berarti bagi perkembangan keterampilan berpikir seseorang.

Ironisnya, keterampilan berpikir ini umumnya disejajarkan dengan tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin baik keterampilan berpikirnya. Sebaliknya, rendahnya jenjang pendidikan, diasumsi rendah pula etos pikirnya.

Ironis lainnya, terampil berpikir ini disetarakan dengan terampil berbicara. Mereka yang terampil berbicara (di depan publik) dianggap pula terampil berpikir. Sedang yang kebetulan tidak pandai bicara, maka dianggaplah tidak terampil berpikir—walau ada kemungkinan sebagai pemikir yang baik.

Yang lebih parah lagi, serangkaian mata pelajaran di sekolah maupun berbagai mata kuliah di perguruan tinggi, disepadankan sebagai sarana melatih keterampilan berpikir. Kegiatan pembelajarannya pun kemudian diasumsikan sebagai sarana melatih keterampilan berpikir pula.

Apakah Memang Demikian?
Sama sekali tidak. Berpikir bukan hanya sekedar tuntutan/kebutuhan. Ia bisa diarahkan dan diubah menjadi sebuah keterampilan. Yaa, keterampilan berpikir namanya. Ia seperti halnya keterampilan-keterampilan lain pada umumnya. Keterampilan berenang, bernyanyi, akting, pidato, menulis buku, mengarang cerita, berjalan di atas tali, mengendarai sepeda roda satu, dan lain sebagainya. Kesemuanya butuh ”super serius” mempelajari dan mendalami agar menjadi terampil—dari peringkat sebelumnya yang sekadar bisa.

Keterampilan berpikir ini bisa didalami oleh siapa saja tanpa memandang usia. Ia bahkan bisa dilatihkan pada anak sejak usia dini—sebagaimana yang diajarkan Edward de Bono pada anak-anak usia 10 tahun (Erlangga, 1988). Keterampilan ini bukan sifat/watak bawaan. Ia tidak bisa disejajarkan dengan tingkat pendidikan. Belum tentu mereka yang tinggi pendidikannya (walaupun telah mengantongi berbagai gelar S3 di berbagai disiplin ilmu), tingkat berpikirnya mesti baik. Sebab, nyatanya, tidak sedikit di antaranya yang justru memprihatinkan cara berpikirnya. Dan belum tentu pula anak yang usianya baru 10 tahun itu mesti belum bisa berpikir.

Salah satu contoh pikiran yang telah terampil bekerja (berpikir) adalah sebagaimana pengalaman muridnya de Bono yang baru berumur 10 tahun—yang kalau di Indonesia umur-umur sekian itu masih duduk di kelas 4 SD—ketika diberi pertanyaan: “Bagaimana sikap dan tanggapan Anda bila para murid yang sedang belajar di sekolah itu digaji?” Pikiran terampilnya telah bisa mengapresiasi dengan “sempurna”. Di antara hasil pemikirannya:

“Sekolah itu (mencari ilmu agar pandai, cerdas, dan cakap) adalah butuhnya si murid, tidak sepantasnya bila ia mendapat gaji. Justru yang layak mendapat gaji adalah pengajarnya. Sebab merekalah yang telah bekerja keras, bersusah payah mendidik dan mencerdaskan para murid.”

“Dari pada dananya diberikan pada murid, lebih bijak bila dana tersebut dibelikan sarana pelengkap yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar. Toh para murid juga yang akan menuai hikmahnya, serta menjadikannya lebih pandai dan cerdas.”

“Pemberian gaji pada murid justru akan membelenggu dan meracuni pikiran si murid sendiri. Niatan belajarnya yang semula mencari ilmu, menambah wawasan dan pengetahuan, akan berubah menjadi mencari uang. Belajarnya kemudian tidak tulus dan tidak sungguh-sungguh, karena dalam hatinya hanya menanti gajian.”

Serta masih banyak lagi pikiran-pikiran terampil lainnya.

Namun, bagi pikiran yang belum terampil bekerja, tanpa berpikir panjang akan menjawab setuju. Menerima tawaran gaji dengan senang hati dan tangan terbuka. Senang bangga bahagia campur aduk menjadi satu, tanpa ada pemikiran terhadap pihak lain. Sama sekali tidak memikirkan dari mana asal dananya, mengapa mesti digaji, dan lain sebagainya. Selanjutnya berhayal yang bukan-bukan. Beli ini, beli itu, beli portabel, laptop, handphone 3G, dan seterusnya.

Bisa dibayangkan, pada taraf usia yang masih kanak-kanak, yang pada umumnya hanya bermain bermain dan bermain, masih sangat jauh dikatakan bisa “berpikir”, tapi nyatanya pikirannya di atas dewasa. Pikirannya benar-benar terampil, bahkan mendekati ”sempurna”. Tidak lagi dikuasi oleh ego dan nafsu. Malah sebaliknya, ego dan nafsunya telah ditundukkan oleh pikirannya dengan bijak—hikmah dari keterampilan berpikirnya.

Bagaimana bila mereka disuruh untuk memikirkan hal-hal lainnya, misalnya pendidikan, kenakalan remaja, atau bahkan korupsi yang merajalela? Saya optimis mereka mampu mengapresiasi dan memberi solusi dengan baik—sudah tentu erat kaitannya dengan referensi yang pernah dibaca dan kematangan psikologi kejiwaannya.

Keadaan pola pikir yang demikian ini, bagaimana bila dibandingkan dengan rata-rata pola pikir bangsa kita? Saya optimis, yang jenjang S1-S3 pun belum tentu “mampu” berpikir terampil seperti ini. Apalagi yang jenjang dasar dan menengah, sama sekali tidak ”nyambung”.

Benar-benar jauh berbeda. Bahkan bisa dikatakan bertolak belakang. Sebab, etos pikir bangsa kita rata-rata dijajah dan dibelenggu oleh ego dan nafsunya sendiri-sendiri. Oleh karenanya tidak heran bila negara kita sekarang mendapat gelar negara terkorup nomor dua di dunia.

Coba cermati. Yang katanya wakil rakyat, kumpulan orang-orang terhormat, begitu turun jabatan tidak sedikit yang justru masuk penjara. Yang namanya pejabat, mestinya melayani rakyat, tapi nyatanya tidak jarang yang malah menginjak-injak rakyat. Bahkan tidak sedikit yang justru mengambil alih hak mereka. Yang namanya mahasiswa, konon merupakan kumpulan masyarakat berpendidikan dan berlogika, nyatanya masih sering menyelesaikan masalah dengan tawuran, atau bahkan dengan “perang batu”.

Bagaimana Dengan Pendidikan?
Pendidikan yang ada selama ini sama sekali tidak mengarah (menyasar) pada keterampilan berpikir. Bisa dibuktikan sendiri, adakah di antara alumni pendidikan kita yang terampil berpikir sebagaimana muridnya de Bono di atas? (Kalau memang ada, tentunya menjadi manusia langka yang sangat berbahagia akibat mempunyai keterampilan berpikir. Saya salut kepada beliaunya.)

Pendidikan terlanjur identik dengan pengajaran serangkaian mata pelajaran di kelas. Pendidikan tingginya (seolah-olah) hanya disamakan dengan penguasaan materi bahan kuliah. Yang pada akhirnya, ending pendidikan hanyalah ”angka-angka” (nilai rapor dan ijazah).

Aneka cara modifikasi strategi dan pembaruan sistem pembelajaran, bongkar pasang kurikulum, tak banyak berarti bagi perkembangan keterampilan berpikir. Yang lebih ironis, banyak guru yang penerapan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) belum paham, sudah diganti dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). KTSP pun “nanti” belum berjalan sesuai harapan, (kira-kira saja) akan diganti lagi dengan KBLP (Kurikulum Berbasis Live Perfect), atau apa pun namanya. Begitu seterusnya, pergantian demi pergantian, perbaikan demi perbaikan, seolah tiada henti. Persis mottonya suzuki “inovasi tiada henti”. Namun sayang, hasilnya tak banyak berarti.

Akankah perbaikan demi perbaikan menjamin perubahan menuju masyarakat terdidik yang terampil berpikir? Wallahu a’lam. Namun, secara logika saya optimis hasilnya tidak banyak berubah. Sebab, para praktisi pendidikan sendiri, baik tingkat paling atas (pejabat struktural) sampai yang paling bawah (guru mata pelajaran), tidak banyak yang memahami apa itu keterampilan berpikir. (Jangankan memahami, mengerti saja mungkin belum.)

Penyebabnya, pendidikan yang dulunya telah diterima, tidak mengajarkan bagaimana keterampilan ini mesti dikembangkan. “Kurikulum Nasional”-nya (dulu) juga tidak menekankan bagaimana mencerdaskan diri, mengembangkan diri, serta mengkreasi diri untuk terampil berpikir. Pintu kran untuk hal-hal semacam ini tertutup erat. Terkondisikan karena perintah atasan. Bila atasan tidak memerintah, maka bawahan dilarang bertindak—beride pun (mungkin) juga dilarang. Sehingga kreativitas berpikir bawahan sangat kecil, bahkan bisa jadi tidak ada sama sekali.

Mereka juga tidak mengembangkan bagaimana berpikir yang kritis, cerdas, dan bijak itu mesti dilatih dan diterapkan. Sebagaimana kritik Hutabarat dkk dalam bukunya Logika (Erlangga, 1999), “Bahwa banyak di antara pelajar dan mahasiswa hanya dapat berpikir secara terpimpin, yaitu hanya sanggup menguasai/menghafal bahan-bahan kuliah dan diktat tanpa ada kemampuan berpikir secara kritis yang mutlak diperlukan dalam menuntut ilmu.” Satu-satunya penyebabnya, karena para guru/dosennya sendiri tidak mengajari yang demikian. Terpaku oleh aturan juklak dan juknis yang memang tidak mengatur hal demikian—konon aturan ini dijadikan pijakan utama dalam mengajar.

Lantas, solusinya?
Tak ubahnya tim sepak bola, agar diperoleh pemain-pemain yang terampil dalam bermain bola, maka pelatihan dan pendidikan persepakbolaan harus dimulai sejak dini. Dirikan sekolah sepak bola khusus untuk anak-anak. Datangkan para guru (pelatih) yang benar-benar mumpuni (profesional). Jangan asal comot dan asal pandai komentar.

Demikian halnya keterampilan berpikir. Agar diperoleh peserta didik yang terampil berpikir—sebagai generasi penerus bangsa yang kondisinya sangat memprihatinkan ini—, maka terapkan pendidikan terampil berpikir. Ajari mereka bagaimana berpikir yang baik. Kalau perlu—sebagaimana pengalaman de Bono—terapkan pelajaran baru. “Pelajaran Berpikir” namanya. Walau nampaknya asing, ia telah terbukti sangat ampuh digunakan oleh negara-negara maju.

Sebab, mata pelajaran ini telah diterapkan sebagai suatu subyek kurikulum pada ribuan sekolah di Inggris, Irlandia, Canada, Australia, Selandia Baru, USA, Malta, dan Israel. Dengan jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar, perguruan tinggi, hingga program latihannya sekelompok “milyarder”—yang masing-masing menangani lebih dari satu miliar dolar setahun. Bahkan, pelajarannya pun telah banyak dicari oleh berbagai perusahaan terkenal seperti IBM, Shell, Unilever, ICI, Dupon, dan sebagainya.

Tanpa ada keberanian merombak pola-pola pendidikan yang sudah ada, “mustahil” kiranya bangsa ini bangkit dari keterpurukan yang melanda semua sendi kehidupan. Sebaliknya, dengan memancang pondasi baru yang berupa “Pendidikan Terampil Berpikir”, sedikit demi sedikit namun pasti, bangsa ini akan mampu bangkit memperbaiki diri, mengembangkan diri, sekaligus mencerdaskan diri. Menuju bangsa madani yang merdeka sejati dan sempurna. Dan pada saatnya nanti—sebagaimana pengetahuannya para winasis—menjadi mercusuarnya dunia. [rj]

* Roni Djamaloeddin dapat dihubungi di ronijamal@yahoo.com.

SUKSES DENGAN MENCURI

Oleh: Eko Jaya Saputra

Mendengar kata mencuri, konotasi orang pasti negatif. Sebab mencuri adalah mengambil hak orang lain. Bagaimana dengan mencuri ilmu dan sukses orang lain? Apakah dua perbuatan ini melanggar hukum?

Sejauh ini saya belum pernah mendengar orang dipenjara karena mencuri ilmu dan sukses orang lain. Yang ada mencuri sendal, motor, uang, perhiasan dan lain-lain.

Untuk kasus pencurian tersebut, tidak akan dibahas dalam tulisan ini. Tapi kita akan melihat bagaimana proses mencuri ilmu dan sukses orang lain untuk mencapai sukses dan kebahagiaan kita.

Ini sebuah ceritanyata. Suatu sore, saya kedatangan tamu. Dia masih terbilang adik angkat. Dengan semangatnya dia mengatakan kalau ingin berhenti bekerja.

Mendengar perkataanya itu, saya sempat terkejut. Maklum, karena dia baru satu bulan bekerja di sebuah klinik pengobatan tersebut.

Alasannya, dia ingin membuka klinik sendiri. Saya tambah bingung dan terheran-heran, begitu nekatnya adik saya ini. Padahal, saya tahu dia tidak punya uang dan modal yang cukup untuk membuka klinik pengobatan.

Tanya punya tanya, rupanya dia sudah menguasai beberapa pengobatan alternatif. Di antaranya akupunktur, SEFT, hipnoterapi, pijat refleksi, dan meramu minuman herbal.

Hebatnya, dia hanya butuh waktu kurang dari satu bulan untuk mempelajari ilmu-ilmu itu. Kebetulan selama sebulan si adik ini “mencuri” ilmu sang dokter si pemilik klinik pengobatan tersebut.

“Memang saya tidak pernah belajar langsung pada dokter. Tapi saya selalu memperhatikan ketika dia sedang menangani pasien. Ternyata mengobati orang lain itu mudah. Saya sudah praktikkan ilmu-ilmunya pada orang lain. Ternyata hasilnya cespleng. Mengapa saya tidak buka sendiri?” tegasnya dengan nada penuh semangat.

Singkat cerita, keesokan harinya adik ini membuka pengobatan sendiri di rumahnya. Modalnya cuma papan nama bertuliskan Pusat Pengobatan Alternatif. Terus di papan nama itu ditulis juga berbagai penyakit yang bisa diatasi.

Marketingnya pun cukup sederhana. Dia hanya membuat brosur sebanyak satu rim. Brosur itu dibagikan kepada tetangga, di pasar, dan mal-mal.

Dalam brosur itu ditulis pengobatan gratis selama tiga hari untuk berbagai penyakit. Hasilnya?

Luar biasa! Setelah mengalakukan pengobatan gratis selama tiga hari, sedikitnya sepuluh pasien dari berbagai keluhan datang menemuinya. Dalam satu hari dia bisa mengantongi uang minimal Rp100 ribu. Artinya, dalam satu bulan dia rata-rata mendapat Rp3 juta.

Untuk seorang pria lanjang seperti dia, uang sejumlah itu sudah cukup besar. Penghasilan seperti ini belum pernah dia dapat selama meniti karir.

“Kalau saya tetap bekerja di klinik itu, penghasilan saya tidak lebih dari Rp1 juta. Dengan seperti ini, penghasilan saya dua kali lipat lebih besar,” kata dia.

Saya teringat filosofi tokoh Motivator No.1 Indonesia, Andri Wongso bahwa sukses adalah milik semua orang. Termasuk adik angkat saya itu.

Meski hanya tamatan SMA dia mampu merintis usaha menjadi seorang miliader muda dengan pengobatan alternatifnya. Itu pun dia tidak belajar langsung, hanya melalui sebuah proses “mencuri” ilmu dari orang lain.

Bicara masalah mencuri, saya juga teringat salah satu pengalaman Eni Kusuma, TKW yang sukses membuat buku best-seller berjudul Anda Luar Biasa!!!.

Menurut pengakuannya di buku itu, dia juga kerap “mencuri” waktu untuk bisa menyelesaikan bukunya itu. Caranya, dia menyempatkan diri browsing di internet untuk mencari bahan tulisan saat mengantar anak majikannya kursus bahasa Inggris.

Setelah sekian kali “mencuri” Eni akhirnya berhasil menyelesaikan bukunya. Dia juga mampu menggugah dunia dengan keteguhan dan semangatnya menyelesaikan buku Anda Luar Biasa!!! tersebut.

Eni sendiri mengaku suksesnya itu didapat lewat sebuah proses pembelajaran cukup panjang. Mulai dari hanya berkhayal sampai dengan mencuri ide-ide dari para penulis sukses.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana agar kita sukses “mencuri” dan meraih sukses lainnya? Coba simak ucapan seorang Mind Navigator dan Re-Educator, yang juga mentor saya, Adi W. Gunawan di website-nya http://www.adiwgunawan.com/:

Kunci sukses itu ada lima. Pertama adalah doa. Menurut sejumlah ahli psikologi, doa merupakan senjata paling hebat dimiliki manusia untuk mewujudkan impiannya.

Sayangnya, orang kerap melupakan dirinya kalau punya senjata ampuh tersebut. Kalaupun sadar punya senjata ampuh, dia tidak mampu menggunakannya dengan baik. Kalau mau mencuri ilmu agar doa kita bisa cespleng, baca buku-buku karangan Adi W. Gunawan atau browsing ke website-nya tersebut.

Kedua, kita harus memahami impian kita (dream building).

Ketiga, yakin. Maksudnya, kita harus yakin kalau impian kita itu bisa terwujud.

Keempat, kita harus banyak bersyukur atas nikmat melimpah yang telah diberikan Tuhan kepada kita.

Kelima, pasrah. Mas Adi mengatakan kunci sukses adalah tidak boleh terpaku pada impian kita. Kita harus benar-benar menyerahkan diri kita kepada Sang Pencipta alam semesta ini. Nah, masalahnya sejauh mana kita benar-benar memasrahkan diri kepada Tuhan?

Ternyata lewat mencuri kita bisa mengembangkan dan melakukan transformasi diri. Saya pun akhirnya berprinsip, akan selalu “mencuri” demi mewujudkan impian hidup.

Bahkan, untuk menyelesaikan tulisan ini, saya terpaksa mencuri tulisan Mas Adi tanpa sepengetahuan orangnya. Tapi saya yakin Mas Adi tak akan marah. Yang jelas, saya tidak melanggar hukum. Karena saya sudah menulis sumbernya. Betul, Mas Adi?

Saya juga teringat dengan ungkapan seorang teman pemasaran di kantor yang baru mengikuti pelatihan pemasaran di surat kabar harian Fajar.

Dia mengatakan, untuk menjadi sukses kita harus pandai-padai mencuri. Bagaimana caranya? Sangat mudah. ATM (Ambil Tiru Modifikasi) sesuatu yang baik milik orang lain.

Ya, banyak orang sukses karena menjalankan prinsip ATM. Anda juga mau sukses? Awalilah dengan “mencuri” ide orang lain. Lakukan modifikasi. Kemudian, yakinlah Anda sukses, banyaklah besyukur, pasrahkan semua kepada yang kuasa, dan jangan lupa berdoa.[ejs]

* Eko Jaya Saputra adalah Wakil Pimpinan Redaksi SKH “Rakyat Lampung”, praktisi hipnosis, professional stage hypnosis di “Siger TV” Lampung, SEFTER, dan Humas KONI Kota Bandarlampung. Ia dapat dihubungi melalui email: ekorakyat@yahoo.com

BELAJAR MEMAHAMI ORANG LAIN

Oleh: Nilna Iqbal


Tiap saat kita berhadapan dengan bermacam-macam situasi. Terutama ketika berhubungan dengan orang lain.

Sebagai pemimpin, mengertikah kita bagaimana cara `membakar’ motivasi para pegawai kita? Sebagai ibu, kita sering bingung nggak habis pikir plus pusing oleh watak keras kepala anak-anak kita. Tak jarang pula, sebagai suami kita terus-terusan bertengkar dengan istri yang padahal juga kita sayangi dan cintai. Adakah ‘zat kimia’ tertentu atau pola tertentu yang mempengaruhi sifat, sikap, serta reaksi kita, dan itu terasa dalam menghadapi berbagai situasi…? Sehingga, kita bisa lebih berdamai dan mengerti mengapa semua reaksi itu terjadi. Bukankah akan lebih nikmat hidup ini kalau kita satu sama lain saling memahami?

Florence Litteur, penulis buku terlaris Personality Plus menguraikan, ada empat pola watak dasar manusia. Kalau saja semua sudah kita pahami, kita akan sangat terbantu sekali dalam berhubungan dengan orang lain. Kita akan jadi mengerti mengapa suami kita tiba-tiba marah sekali ketika meja kerjanya yang berantakan kita atur rapi. Kita juga akan mudah memahami mengapa pegawai kita gampang sekali berjanji… Dan hebatnya, dengan mudah pula ia melupakannya. “Oh ya, saya lupa,” katanya sambil tertawa santai. Kita juga akan mudah mengerti mengapa istri kita tidak mau dengar sedikit pun mendengar pendapat kita, tak mau kalah, cenderung mempertahankan diri, selalu merasa benar dengan pendapatnya, dan makin sengit bertengkar kalau kita mau coba-coba untuk mengalahkannya.

Menurut Florence, golongan watak pertama adalah sanguinis, “yang populer”. Mereka ini cenderung ingin populer, ingin disenangi oleh orang lain. Hidupnya penuh dengan bunga warna-warni. Mereka senang sekali bicara tanpa bisa dihentikan. Gejolak emosinya bergelombang dan transparan. Pada suatu saat ia berteriak kegirangan, dan beberapa saat kemudian ia bisa jadi menangis tersedu-sedu.

Namun, orang-orang sanguinis ini sedikit agak pelupa, sulit berkonsentrasi, cenderung berpikir ‘pendek’, dan hidupnya serba tak beraturan. Jika suatu kali Anda lihat meja kerja pegawai Anda cenderung berantakan, agaknya bisa jadi ia sanguinis. Kemungkinan besar ia pun kurang mampu berdisiplin dengan waktu, sering lupa pada janji, apalagi bikin planning/rencana. Namun, kalau disuruh melakukan sesuatu, ia akan dengan cepat mengiyakannya dan terlihat sepertinya betul-betul hal itu akan ia lakukan. Dengan semangat sekali ia ingin buktikan bahwa ia bisa dan akan segera melakukannya. Tapi percayalah, beberapa hari kemudian ia tak lakukan apa pun juga.

Lain lagi dengan tipe kedua, golongan watak melankolis, “yang sempurna”. Agak berseberangan dengan si sanguinis. Cenderung serba teratur, rapi, terjadwal, dan tersusun sesuai pola. Umumnya mereka ini suka dengan fakta-fakta, data-data, angka-angka, dan sering sekali memikirkan segalanya secara mendalam. Dalam sebuah pertemuan, orang sanguinis selalu saja mendominasi pembicaraan. Namun, orang melankolis cenderung menganalisis, memikirkan, dan mempertimbangkan. Lalu, kalau bicara pastilah apa yang ia katakan betul-betul merupakan hasil yang ia pikirkan secara mendalam sekali.

Orang melankolis selalu ingin serba sempurna. Segala sesuatu ingin teratur. Karena itu jangan heran jika balita Anda yang ‘melankolis’ tidak akan bisa tidur hanya gara-gara selimut yang membentangi tubuhnya belum tertata rapi. Dan, jangan pula coba-coba mengubah isi lemari yang telah disusun istri ‘melankolis’ Anda. Sebab, betul-betul ia tata apik sekali, sehingga warnanya, jenisnya, dan klasifikasi pemakaiannya sudah ia perhitungkan dengan rapi. Kalau perlu ia tuliskan satu per satu tata letak setiap jenis pakaian tersebut. Ia akan dongkol sekali kalau susunan itu tiba-tiba jadi lain.

Ketiga, adalah manusia koleris, “yang kuat”. Mereka ini suka sekali mengatur orang, suka tunjuk-tunjuk atau perintah-perintah orang. Ia tak ingin ada penonton dalam aktivitasnya. Bahkan, tamu pun bisa saja ia ‘suruh’ melalukan sesuatu untuknya. Akibat sifatnya yang ‘bossy’ itu membuat orang-orang koleris tidak punya banyak teman. Orang-orang berusaha menghindar, menjauh agar tak jadi ‘korban’ karakternya yang suka ‘ngatur’ dan tak mau kalah itu.

Orang koleris senang dengan tantangan, suka petualangan. Mereka punya rasa, “Hanya saya yang bisa menyelesaikan segalanya; tanpa saya berantakan semua.” Karena itu mereka sangat goal oriented, tegas, kuat, cepat, dan tangkas mengerjakan sesuatu. Baginya tak ada istilah tidak mungkin. Seorang wanita koleris, mau dan berani naik tebing, memanjat pohon, bertarung ataupun memimpin peperangan. Kalau ia sudah kobarkan semangat “Ya pasti jadi...!” maka hampir dapat dipastikan apa yang akan ia lakukan akan tercapai seperti yang ia katakan. Sebab ia tak mudah menyerah, tak mudah pula mengalah.

Hal ini berbeda sekali dengan jenis keempat, yaitu sang flegmatis atau “cinta damai”. Kelompok ini tidak suka terjadi konflik, karena itu disuruh apa saja ia mau lakukan, sekalipun ia sendiri tidak suka. Baginya kedamaian adalah segala-galanya. Jika timbul masalah atau pertengkaran, ia akan berusaha mencari solusi yang damai tanpa timbul pertengkaran. Ia mau merugi sedikit atau rela sakit, asalkan masalahnya tidak terus berkepanjangan.

Kaum flegmatis kurang bersemangat, kurang teratur, dan serba dingin. Cenderung diam, kalem, dan kalau memecahkan masalah umumnya sangat menyenangkan. Dengan sabar ia mau jadi pendengar yang baik, tapi kalau disuruh untuk mengambil keputusan ia akan terus menunda-nunda. Kalau anda lihat tiba-tiba ada sekelompok orang berkerumun mengelilingi satu orang yang asyik bicara terus, maka pastilah para pendengar yang berkerumun itu orang-orang flegmatis. Sedang yang bicara tentu saja sang sanguinis.

Kadang sedikit serba salah berurusan dengan para flegmatis ini. Ibarat keledai, “kalau didorong ngambek, tapi kalau dibiarin nggak jalan”. Jadi kalau Anda punya staf atau pegawai flegmatis, Anda harus rajin memotivasi sampai ia termotivasi sendiri. Mencoba Mengerti Orang Lain
Nah, sekarang Anda masuk golongan mana? Coba amati istri, suami atau anak-anak Anda. Jangan-jangan Anda sekarang mulai mengerti mengapa suami, istri, anak, atau rekan Anda bertingkah laku “seperti itu” selama ini. Dan, Anda pun akan tertawa sendiri mengingat-ingat berbagai perilaku dan kejadian selama ini.

Ya, tapi apakah persis begitu? Tentu saja tidak. Florence Litteur, berdasarkan penelitiannya bertahun-tahun telah melihat bahwa ternyata keempat watak itu pada dasarnya juga dimiliki setiap orang. Yang beda hanyalah ‘kadarnya’. Oleh sebab itu muncullah beberapa kombinasi watak manusia.

Ada orang yang tergolong koleris-sanguinis. Artinya kedua watak itu dominan sekali dalam mempengaruhi cara kerja dan pola hubungannya dengan orang lain. Di sekitar kita banyak sekali orang-orang tipe koleris-sanguinis ini. Ia suka mengatur-atur orang, tapi juga senang bicara (dan mudah juga jadi pelupa).

Ada pula golongan koleris-melankolis. Mungkin Anda akan kurang suka bergaul dengan dia. Bicaranya dingin, kalem, baku, suka mengatur, tak mau kalah dan terasa kadang menyakitkan (walaupun sebetulnya ia tidak bermaksud begitu). Setiap jawaban Anda selalu ia kejar sampai mendalam. Sehingga kadang serasa diintrogasi, sebab memang ia ingin sempurna, tahu secara lengkap dan agak dingin. Menghadapi orang koleris-melankolis, Anda harus pahami saja sifatnya yang memang ‘begitu’ dan tingkatkan kesabaran Anda. Yang penting sekarang Anda tahu, bahwa ia sebetulnya juga baik, namun tampak di permukaan kadang kurang simpatik, itu saja.

Lain lagi dengan kaum flegmatis-melankolis. Pembawaannya diam, tenang, tapi ingat… semua yang Anda katakan akan ia pikirkan, ia analisis. Lalu, saat mengambil keputusan pastilah keputusannya berdasarkan perenungan yang mendalam dan ia pikirkan matang-matang.

Banyak lagi tentunya kombinasi yang ada pada tiap manusia. Akan tetapi yang penting adalah bagaimana memanfaatkannya dalam berbagai aktivitas hidup kita. Jika suami istri saling mengerti sifat dan watak ini, mereka akan cenderung berusaha ‘memaafkan’ pasangannya. Lalu, mereka akan berusaha untuk menyikapinya perbedaan watak itu secara bijaksana.

Begitu pula saat menerima calon pegawai. Untuk bidang-bidang yang membutuhkan tingkat ketelitian dan keteraturan yang tinggi, jauh lebih baik bila Anda tempatkan orang-orang yang melankolis sempurna. Sedang di bagian promosi, iklan, resepsionis, MC, humas, wiraniaga, tentu jauh lebih tepat anda tempatkan orang-orang sanguinis. Lalu jangan posisikan orang-orang flegmatis di bagian penagihan ataupun penjualan. Hasilnya pasti akan amat mengecewakan.

Begitulah, manusia memang amat beragam. Muncul sedikit tanda tanya, di antara semua watak itu, mana yang paling baik? Jawabannya, menurut Florence, tak ada yang paling baik. Semuanya baik. Tanpa orang sanguinis, dunia ini akan terasa sepi. Tanpa orang melankolis, mungkin tak ada kemajuan di bidang riset, keilmuan, dan budaya. Tanpa kaum koleris, dunia ini akan berantakan tanpa arah dan tujuan. Tanpa sang flegmatis, tiada orang bijak yang mampu mendamaikan dunia.

Yang penting bukan mana yang terbaik. Sebab kita semua bisa mengasah keterampilan kita berhubungan dengan orang lain (interpersonal skill). Seorang yang ahli dalam berurusan dengan orang lain, ia akan mudah beradaptasi dengan berbagai watak itu. Ia tahu bagaimana menghadapi sifat pelupa dan watak acaknya kaum sanguinis, misalnya dengan memintanya untuk selalu buat rencana dan memintanya melakukan segera. Ia jago memanas-manasi (menantang) potensi orang koleris mencapai goal-nya, atau `membakar’ sang flegmatis agar segera bertindak saat itu juga. “Inilah seninya dalam berinteraksi dengan orang lain,” kata Florence. Tentu saja awalnya adalah, “Anda dulu yang harus berubah.” Belajarlah jadi pengamat tingkah laku manusia…(lalu tertawalah)![ni]

* Nilna Iqbal adalah alumni Jurusan Astronomi ITB. Saat ini, pria kelahiran 8 Mei 1967 ini menekuni pekerjaanya sebagai penulis, trainer, dan entrepreneur. Nilna tercatat pernah aktif sebagai anggota redaksi sejumlah media serta mendapat tiga penghargaan penulisan tingkat nasional pada tahun 1990 hingga 1992. Ia dapat dihubungi di: nilnaiqbal@yahoo.com.

SUKSES MEMBAWA KEBAHAGIAAN?

Oleh: Mugi Subagyo


Pada saat mengikuti lomba memancing, saya diprotes seorang teman yang juga mengikuti lomba. Dia bilang bahwa saya tidak serius dalam berlomba, lebih banyak bersenang-senang daripada berjuang untuk memperoleh kemenangan. Saya katakan bahwa saya berbahagia dengan keadaan saya, tapi bukan berarti tidak berusaha memperoleh kemenangan. Berbagai cara memancing yang telah saya kuasai sudah dikerahkan seluruhnya, begitupula dalam hal meramu umpan. Kalau ternyata yang saya dapat hanya 6 ekor ikan, sementara teman saya tersebut memperoleh 16 ekor ikan, kenyataannya saya bahagia.

“Kalau kita bisa sukses memperoleh kemenangan, itu baru kebahagiaan sesungguhnya,” bantah teman tersebut. Karena, untuk memperoleh kemenangan seorang pemancing harus mendapat ikan yang paling besar atau terberat saat ditimbang. “Yang tertawa belakangan, itulah yang tertawa bahagia,” lanjutnya.

Makna Kebahagiaan
Benarkah yang dikatakan teman tersebut? Apakah kita harus sukses dahulu untuk mendapatkan kebahagiaan? Haruskah kita tertawa belakangan, dengan kata lain bahagia itu diperoleh belakangan? Di sini rupanya perlu kita benahi beda antara “kesenangan” dan “kebahagiaan”.

Sering kita dengar ungkapan, “Uang tak bisa membeli kebahagiaan”. Kenyataannya banyak orang kaya, hartanya berlimpah, namun tidak bahagia. Sementara ada orang yang tidak punya uang tapi bahagia. Banyak juga orang yang tidak punya uang juga tidak berbahagia. Karena harus diakui pula bahwa tidak punya uang juga bikin susah.

Kebahagiaan adalah suatu pandangan hidup, suatu sikap mental, buah pikiran dari sifat-sifat optimisme, ketekunan, cinta, dan pemenuhan. Kebahagiaan bukan berarti merasa senang terus-menerus, atau mengalami perasaan yang menyenangkan sepanjang waktu. Tapi, kebahagiaan tidak berubah meski situasi atau kondisi berubah.

Pada kasus di atas, teman saya tersebut memiliki tujuan jelas, mempersiapkan segala sesuatunya untuk sebuah kemenangan, hingga bisa pulang dengan rasa puas, menang, dan bahagia. Sehingga ia terjebak dalam perangkap kebahagiaan. Ia keluarkan biaya yang tidak sedikit untuk peralatan memancingnya, biaya yang banyak untuk umpan ikan, dan pikiran yang terus menerus terfokus pada kemenangan. Ia mencoba membeli kebahagiaan. Hasilnya, sampai kami pulang saat usai lomba, ia tidak berbahagia.

Bahagia Dahulu, Kemudian Sukses
Orang-orang bahagia menyadari bahwa kesusksesan adalah bukan tujuan akhir, hingga mereka selalu berpikiran positif. Berpikir positif terhadap cara atau jalan yang mereka tempuh, dan positif terhadap tujuan. Mereka tidak memetakan dalam pikiran, bahwa untuk bahagia harus menang, harus sukses, namun menyiapkan mental untuk berbahagia.

Mereka berbahagia bisa meluangkan waktunya yang sedikit, untuk melakukan kegemarannya. Mereka senang dapat bertemu dan berbincang dengan komunitasnya, saling bertukar pikiran dan pengalaman. Pikirannya tidak terbebani hal-hal yang memberatkan. Sehingga, meski mereka tidak memperoleh kemenangan, namun tetap dapat menikmati apa yang mereka jalani atau yang mereka perjuangkan.

Sementara, orang yang berpikir harus sukses baru bisa bahagia, kemudian tidak memperoleh apa yang dikejarnya, maka kita tahu apa yang diperolehnya: Kekalahan dan Ketidakbahagiaan.

Bukankah kesuksesan didapat bila kita dapat mencapai target? Artinya, jika target tersebut terpenuhi, maka kita sukses. Jadi, kalau target saya memancing adalah mendapatkan beberapa ekor ikan, tujuan saya adalah refreshing, melepaskan penat dari rutinitas yang membelenggu, bertemu dan berbincang dengan teman-teman untuk saling berbagi cerita. Dan, saat semua itu saya dapatkan, artinya saya sukses. Hal ini bukan berarti karena saya hanya mempunyai target yang lebih rendah dibanding teman saya tersebut; semua pemancing dalam lomba, menginginkan keluar sebagai pemenang. Tapi, saya tanamkan sejak awal, sebuah metal untuk berbahagia. Sehingga, saya tetap berbahagia kendati kalah. Karena, dalam pertandingan ada menang dan ada kalah.

Perangkap Kebahagiaan
Dengan uang, orang bisa saja membeli kesenangan, harta benda, keamanan, dan kekuasaan. Bahkan, status pun bisa dibeli di negeri ini. Tapi, mari kita perhatikan kenyataan yang ada.

Cara utama yang dilakukan kaum konglomerat dalam memperoleh kekayaannya adalah dengan mengorbankan kesenangan, juga kebebasannya. Mereka cenderung menghabiskan waktu untuk melipatgandakan hartanya untuk membeli kesenangan. Bila kesenangan itu terus menerus didapatkan, maka mereka akan terbiasa dalam kesenangan. Sehingga, kesenangan tersebut menjadi biasa dan akhirnya membosankan. Atau berapa banyak kaum selebritas kita yang terjebak dalam pesta minuman keras, narkoba, dan seks bebas. Mereka coba membeli kesenangan, sebuah cara yang sia-sia yang justru menjerumuskan mereka ke arah berlawanan.

Sedangkan kesenangan memiliki harta benda, layaknya menghilangkan dahaga dengan meminum air laut, maka berapa pun harta benda yang kita miliki, kita akan merasa kurang. Kalau harta benda dijadikan ukuran kebahagiaan, maka nota bene orang-orang kaya adalah orang yang paling berbahagia. Praktiknya, kebahagiaan mereka hanya sedikit di atas rata-rata. Rasa takut dan kekhawatiran atas kehilangan harta benda yang mereka miliki, membuat mereka membeli rasa aman, namun selalu timbul ketakutan dan kekhawatiran baru, terus berulang.

Kini kita perhatikan para penguasa di negeri ini. Bandingkan saat sebelum dan setelah mereka memperoleh kekuasaannya! Begitu orang berkuasa, maka dia akan kehilangan kekuasaan atas hidupnya sendiri. Karena, ada begitu banyak orang yang harus dibuat senang dan wajib ditemui. Ada banyak orang yang harus dilobi, dan ada banyak orang harus dibohongi. Sedangkan status atau jabatan mereka bagai telur di ujung tanduk. Mereka senantiasa resah akan ada yang menjegal untuk mengambil status yang dimiliki. Dan status, setinggi apa pun Anda mendaki, akan selalu ada orang di atas Anda.

Menjadi Orang yang Berbahagia
Orang yang berbahagia menyadari betul arti kesenangan, bahwa kesenangan adalah hal yang baik, tapi juga ibarat tanah tandus untuk kehidupan, bukan makanan. Orang-orang bahagia tahu, sebanyak apa pun uang yang mereka miliki, mereka membatasi harapan-harapannya. Karena, status kebendaan adalah kelemahan orang-orang yang takut melihat diri sendiri, hingga terus menghadapi rasa takut mereka yang sejati. Orang-orang yang berbahagia tidak hanya membangun kekuatan melulu, tetapi mereka juga mencari dan memperbaiki kelemahan maupun kesalahan di masa lalu. Mereka tidak mengubur kenangan buruk yang menimpanya, melainkan menjadikan kenangan buruk tersebut menjadi penyemangat hidupnya.

Orang-orang yang berbahagia tidak mengejar uang, mereka mengejar hasrat atau keinginan yang kuat. Mereka tidak mau disiksa oleh pikiran untuk mendapatkan lebih banyak uang. Status bagi orang-orang yang berbahagia adalah keyakinan terhadap Tuhannya, keluarga bahagia, teman-teman akrab, dan kebanggaan atas pekerjaan atau apa yang mereka kerjakan.

Jadi semua tergantung tujuan hidup Anda!

Anda ingin mengejar kesuksesan dahulu, baru kemudian merasa bahagia, atau ingin menjadi orang-orang yang berbahagia.

Semoga Berbahagia…[ms]

* Mugi Subagyo adalah praktisi SDM di perusahaan multinasional, pengamat Teknologi Informasi, graphic designer, senior di dunia percetakan, dan pemerhati bahasa dan sastra Indonesia. Mugi adalah alumnus Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) Angkatan 2. Ia dapat dihubungi melalui email: mugisby@yahoo.co.id

TEROBOSAN FINANCIAL

Oleh: Mario Einstain

Di pagi hari yang cerah dan sinar matahari yang menantang, saya berjanji untuk bertemu dengan salah satu jurnalis hebat dari surat kabar terkemuka di negeri ini. Saya ingin belajar banyak tentang keahlian menulis dari dia. Dia adalah seorang jurnalis hebat dan berbakat yang dimiliki oleh negeri ini. Yang menjadi pertanyaan saya dalam hati ialah, “Mengapa orang sehebat dia tidak terkenal dan hidup sangat berkekurangan dalam hal keuangan?”

Perbincangan saya dengan jurnalis hebat itu sangat mengasyikkan. Dan, saya sampai pada pemahaman bahwa kadang-kadang bakat yang hebat serta kemampuan yang luar biasa, bila tanpa disertai pengetahuan tentang menjual bakat dan keterampilan yang baik, adalah sesuatu “kebodohan”. Ada begitu banyak kita temukan orang-orang pandai, pintar, hebat, dan bahkan memiliki kemampuan luar biasa dibandingkan orang-orang pada umumnya. Dalam bidang keuangan, mereka masih bergelut pada kekuatan korporasi. Dan biasanya, orang-orang seperti itu selalu kekurangan dalam hal finansial, bahkan terjerat oleh kemiskinan.

Sama halnya dengan jurnalis hebat yang saya temui itu. Tiap bulannya dia bergelut untuk bisa bebas dari belunggu ekonomi yang sangat menyesakkan. Saya menyarankan kepada dia untuk belajar tentang penjualan dan marketing. Tetapi, dia malah menjadi marah pada saya. “Saya ini bukan lulusan fakultas ekonomi atau sekolah bisnis. Tetapi, saya hanya lulusan sekolah jurnalistik!”

Lalu, saya menanggapi ucapannya dengan berkata, “Lho, apa yang salah? Apakah berdosa jika lulusan jurnalistik mempelajari ilmu penjulan dan marketing?”

Coba Anda perhatikan Robert T. Kiyosaki. Dia sebenarnya bukan penulis hebat seperti kebanyakan penulis di Indonesia. Kiyosaki hanya seorang penjual yang baik. Namun, dia mampu menjual ide atau gagasannya kepada orang banyak. Dia juga mampu mengomunikasikan bakat dan kelebihannya dengan cara yang tepat, orang yang tepat, dan waktu yang tepat. Maka, tidak heran bila bukunya Rich Dad Poor Dad menjadi bestseller di seluruh dunia. Dia menjadi penulis bestseller, bukan menjadi best writer.

Buku pertama yang ditulis Kiyosaki berjudul If You Want To Be Rich And Happy, Don’t Go To School. Penerbitnya mengusulkan untuk mengganti judulnya menjadi “The Economics Of Education”. Kiyosaki mengatakan, kalau judulnya diganti seperti itu, kemungkinan bukunya hanya dibeli dua orang saja. Pertama adalah anggota kelurganya, dan kedua adalah sahabatnya. Dan, kedua orang tersebut pasti mengharapkan mendapat bukunya secara gratis.

Kiyosaki bukan anti terhadap pendidikan ekonomi di negaranya. Dia malah mendukung usaha peningkatan pendidikan finansial di Amerika Serikat. Tetapi, apa yang akan terjadi jika dia tidak dapat menjual ide atau gagasan dalam bukunya? Jika dia tidak belajar tentang penjulan dan marketing, mana mungkin bukunya menjadi bestseller di seluruh dunia? Bahkan, mungkin juga kita menemui Kiyosaki di pinggir jalan sebagai pengemis karena dia tidak bisa membiayai kebutuhan keluarganya.

Contoh lain adalah artis dunia yang terkenal dan memiliki bakat maupun keterampilan yang hebat, Vincent Van Gogh. Dia adalah sosok penjual yang payah. Dalam hidupnya dia tidak menjual satu pun karyanya kepada orang lain. Bahkan, untuk membiayayai pernikahannya pun ia tidak mampu. Dan sampai akhir hidupnya dia tidak menikah dan hidup miskin.

Van Gogh hidup dari pemberian saudaranya. Bahkan, saudaranya menjadi jauh lebih kaya dari sebelumnya karena dia memberi penghidupan kepada Van Gogh. Inilah letak kekuatan memberi. Memberi pasti menerima.

Belajar dari kedua tokoh terkenal tadi, Kiyosaki dan Van Gogh, serta teman saya yang jurnalis hebat itu, ada beberapa hal yang bisa kita pelajarai supaya bisa mencapai terobosan finansial (financial breakthrough).

1. Manage Your Financial Cash Flow. Pengaturan arus kas yang baik dapat menghindari Anda dalam kesulitan keuangan. Baik keuangan secara global (perusahaan dan bisnis) atau keuangan keluarga.

Pribadi yang bijak adalah pribadi yang mampu mengendalikan arus kas dalam kehidupan keuangannya sehari-hari. Kita harus mampu memiliki uang kas yang cukup untuk kehidupan kita minimal tiga bulan ke depan, tanpa mengurangi gaya hidup kita. Maka, kita sudah bisa dikatakana bebas secara finansial.

Ada banyak pandangan yang mengatakan bahwa pengeluran kita harus ditekan semaksimal mungkin. Sebenarnya, ini merupakan kesalahan yang sangat fatal. Sebab, bukan pengeluaran nya yang kita irit-irit sampai kita tidak bisa menikmati hidup ini. Dan, bahkan menyembah-nyembah uang bak dewa karena kita membutuhkannya. Yang betul ialah kita harus meningkatkan pendapatan kita semaksimal mungkin tanpa mengurangi gaya hidup kita sehari-hari. Jika Anda sudah mampu menerapkan hal ini, maka terobosan finansial dalam kehidupan keluarga Anda akan tercapai.

2. Manage Your System. Orang yang kaya raya dan sukses adalah orang yang pandai mengatur sistem. Karena, alam semesta bergerak menggunakan sistem. Sama seperti kehidupan ini. Orang yang pandai mengatur sistem dan belajar kepada alam semesta adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menjadi kaya raya dan sukses. Adapun sistem yang harus kita kontrol untuk mencapai kesuksesan—baik di organisasi ataupun keluarga—ialah sistem operasional, sistem keuangan, dan sistem penjulan atau marketing.

Baik sebagai pebisnis atau karyawan biasa, Anda harus mampu mengatur ketiga sistem tersebut. Karena, tanpa adanya sistem maka segala sesuatu akan berjalan dengan kacau dan tidak teratur. Jika Anda mampu mengatur ketiga sistem tadi, maka perusahaan/bisnis serta keluarga Anda akan dapat mencapai terobosan finansial secara optimal.

3. Manage Your Relationship. Hubungan yang baik dengan siapa saja dapat menjadikan Anda pribadi yang kaya raya dan sukses. Begitu juga dengan perusahaan yang baik adalah perushaan yang mampu menjaga hubungan yang harmonis antara supplier dan pembeli. Jika kedua hal ini berjalan dengan lancar maka keuntungan perusahaan akan meningkat. Sama halnya dengan diri Anda, baik sebagai pekerja atau karyawan. Pekerja yang bisa kaya raya dan sukses adalah pekerja yang bisa menjaga hubungan yang baik dan harmonis dengan sesama rekan kerja dan atasan. Selain itu, Anda harus bisa berprilaku yang menyenangkan kepada semua orang di kantor atau lingkungan kerja.

Begitu pula dengan kehidupan pribadi keluarga Anda. Keluarga yang harmonis dan sukses adalah keluarga yang dapat menjaga hubungan yang erat dan saling terbuka di antara semua anggota keluarga. Tanpa ada sesuatu yang ditutup-tutupi dan saling mengasihi sesama anggota keluarga. Selain itu, keluarga yang sukses dapat kita rasakan melalui adanya kerinduan untuk cepat-cepat pulang kerumah dan bertemu dengan seisi keluarga (karena sudah kangen dengan anak-anak, kakak, adik, ataupun orangtua kita).

Apa pun pekerjaan atau posisi Anda sekarang, sebagai karyawan, tukang parkir, penulis, petani, penjual jamu, tukang becak, presiden direktur, CEO, owner perusahaan, pejabat, menteri, bahkan presiden sekalipun, Anda harus memiliki terobosan finasial. Karena, dengan memiliki spirit ini maka kebebasan keuangan akan mengantarkan Anda menjadi pribadi yang bukan hanya menang dalam kehidupan ini, tetapi juga pribadi yang lebih dari pada pemenang, more than the champion.

Bagaimana pendapat Anda? Salam MANTAB (MAnusia TAnpa Batas).[me]

* Mario Einstain adalah anak seorang PNS. Saat ini sedang mempelajari masalah perbankan, perencaan keuangan, asuransi, investasi, pengembangan kepribadian, konseling keluarga dan percintaan. Ia adalah Young Motivator, Life Inspirator, dan alumnus Sekolah Penulis Pembelajar Angkatan 3. Mario dapat dihubungi di nomor telepon: 08159839928, 021-93087935, atau melalui email: mario_einstain@yahoo.com.

MENULIS SAMBIL MEMBERDAYA DIRI

Oleh: Adjie

“Gue denger mereka sudah ikut banyak program pelatihan,” kalimat yang terasa menggantung ini meluncur dari mulut seorang rekan. Ia seorang trainer dengan jam terbang yang panjang. Kami berbincang pada kesempatan rehat kopi saat memfasilitasi sekitar 100 orang dari sebuah perusahaan yang bergerak di bisnis distribusi otomotif.

Selintas pernyataannya menyiratkan keheranan, mengapa setelah banyak program pelatihan diikuti, orang-orang ini lagi-lagi hadir dalam pelatihan ke sekian. Keheranannya semakin bisa dipahami ketika kemudian saya menengok pada topik yang akan kami bawakan. Program dua hari itu akan membahas soal-soal generik, tema-tema mendasar semisal motivasi, kerja sama kelompok, dan komunikasi.

Mendengar ucapan kawan itu, saya senyum saja, diam dan menunggu cerita lebih lanjut darinya.

Dengan antusias lalu tersebutlah sejumlah nama trainer ternama kelas mahal yang pernah memberikan pelatihan pada orang-orang ini. Walau senang mendapatkan kesempatan menjadi fasilitator program macam ini, saya tak kalah heran dengan realitas di atas. Pertanyaan saya juga pertanyaan lama, ” Sungguhkah kita memerlukan itu semua?”

”Gue jadi heran, mau ngapain lagi mereka ikut pelatihan?” lanjut kawan bicara saya.

”Mungkin karena mereka melihat program-program yang mereka ikuti seperti menikmati kopi di kala suntuk. Jadi, kalau pas bete, mereka cari lagi kopi itu. Memang bisa kecanduan juga,” kata saya sambil tetap menjaga senyum

”Sebenarnya, ini pekerjaan rumah buat kita. Kita harus tahu apa yang sebenarnya mereka cari,” kali ini kawan saya melontarkan gagasan yang lebih menggerakkan. Ada pesan perubahan dan dorongan untuk bergerak di balik pernyataannya

Ketika mengomentari para peserta, pada dasarnya saya seperti membuat penilaian terhadap diri sendiri. Kalau terhadap pengalaman peserta di atas kami hanya sempat heran, maka saya lebih dari itu. Saya bahkan sedikit kecewa dan sempat menyesali banyak hal yang saya lewati, terutama yang berhubungan dengan keikutsertaan saya pada sejumlah program pelatihan. Sudah lumayan banyak program pengembangan diri yang saya ikuti, namun ketika saya melihat sejauh mana saya berubah dan bertumbuh, maka kadang saya kurang puas. Dinamika perasaan semacam itulah yang kemudian muncul kembali ketika hari itu saya tahu bahwa banyak peserta yang berulang kali mengikuti jenis pelatihan yang sama.

Mungkin tak ada yang salah dengan program yang ditawarkan. Setiap program yang dijual pasti mengusung niat untuk membantu orang supaya berkembang secara optimal dan mampu mengaktualisasikan potensi diri yang ada. Dengan asumsi demikian, maka semua program itu tentu menawarkan manfaat pada peserta. Pertanyaannya sekarang, manfaat macam apa yang benar-benar dinikmati peserta? Sejauh mana mereka berubah? Apakah pernah ada analisis tentang efektivitas program yang pernah mereka ikuti? Kalau tidak efektif, apa yang salah?

”Buat gue, justru setiap orang harus punya sistem sendiri untuk mengelola proses belajarnya. Nggak semua pendekatan cocok untuk orang yang berbeda,” kalimat ini meluncur ringan dari mulut saya. Seakan udara yang lama tertahan dalam sesak di dada. Mengucapkan kalimat itu membuat saya plong. Ada sebuah keyakinan kuat yang mendasari pernyataan tadi, dan itu yang kemudian membuat saya lega kala bisa mengungkapkannya pada orang lain.

Dan, pembicaraan kami waktu itu sempat melebar, menyinggung soal-soal lebih besar dalam dunia dan tema pengembangan sumber daya manusia.

”Buat loe sendiri bagaimana masa depan pelatihan?” tanya saya memancing.

”Besar sekali prospeknya. Contohnya, ya seperti ini. Banyak orang ikut terus program-program macam ini.”

Saya sempat terganggu mendengar ucapan kawan yang satu ini. Ada sinisme yang membuat mata saya membelalak, ”Jadi, kenyataan ini justru jadi peluang ya?”

Ada yang mengganjal mendengar responnya. Mungkin ganjalan itu muncul karena saya merasa tengah melawan idealisme yang sedang tumbuh. Buat saya, kita justru harus prihatin saat menyaksikan masih banyak orang yang terjebak pada lingkaran program berharga mahal. Keprihatinan yang semoga mendorong kita mencari solusi. Solusi yang ditawarkan pun sebisa mungkin jangan justru semakin membebani mereka. Paling tidak, masih terjangkau secara finansial.

Sebaliknya, saya khawatir cara pandang kawan saya karena dasar orientasi dan pertimbangannya lebih banyak pada soal mengeruk uang sebanyak mungkin dengan cara menjual program-program pelatihan dan pengembangan diri. Semoga bukan itu yang menjadi dasar berpikirnya, yang kemudian mengantarnya pada sebuah kesimpulan tentang peluang bisnis yang besar di bidang ini

Untuk tak terjebak pada sinisme yang makin menggunung, saya bertanya sana-sini. ”Topik apa yang menurut loe masih besar peluangnya?”

”Sekarang sih lagi musim tema change management.” Kawan saya pun mengurai alasannya mengapa topik manajemen perubahan menjadi isu yang masih hangat.

”Emangnya apa sih masalah besar mereka? Apa benar mereka demikian desperado dengan masalah yang dihadapi, sehingga harus mengeluarkan banyak uang dengan ikut program macam itu?” saya tak tahan bertanya lebih tajam. Saya ingin juga mendengar pandangannya tentang hal ini. Mencari tahu apakah orang-orang memang sudah sedemikian putus asa sehingga sangat membutuhkan program pelatihan jenis ini.

Lalu, pembicaraan kami terputus. Kelas harus segera dimulai lagi. Saya dan dia harus bekerja lagi, membimbing peserta mengikuti program. Saya dan kawan ini tampak tak bertemu pada satu titik ide yang sama. Tak apa, kami mungkin memang tengah bergerak dari arah berbeda. Atau sebaliknya, sebenarnya kami berangkat dari titik yang sama, yang sayangnya sedang menuju arah yang berbeda.

***

Hari ini, saya semakin yakin bahwa mestinya kita memang tak perlu terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk bisa bertumbuh secara optimal. Mestinya masalah manusia tak sedemikian kompleks dan ruwetnya, sehingga membutuhkan konsultan besar untuk bisa keluar dari kemelut persoalan yang ada.

Pada saat yang sama, kadang saya khawatir justru saat ini kita ternyata sudah teramat hebat dalam mendramatisir persoalan sederhana kita. Fakta yang biasa saja seringkali kita bingkai dengan kaca buram. Yang akibatnya justru tampak sebagai sebuah masalah besar dan rumit. Bukankah banyak fakta yang bukan masalah? Cara pandang kitalah yang kadang membuatnya jadi masalah.

Di tengah arus berpikir demikian dan dengan berkaca pada banyak kejadian, saya jadi semakin yakin untuk mendorong dan memantapkan gagasan tentang belajar dari keseharian kita.

Pengalaman keseharian kita adalah narasi terbaik yang kita punya. Dan kita bisa belajar dari narasi diri semacam itu, sebagaimana kita bisa belajar dari narasi dan kisah orang lain. Bukankah selama ini kita pernah teramat asyik membaca kisah orang-orang di luar sana? Jadi, pertama-tama kita harus mulai serius belajar tentang narasi diri. Perlahan, kita mulai mempertimbangkan langkah untuk belajar mengubah narasi itu. Bukankah kita sang pencipta narasi kehidupan itu? Kitalah yang memegang kuas untuk melukisi kanvas kehidupan pribadi kita

Kalau awalnya narasi adalah sekadar rekaman realitas lama kita, maka berikutnya narasi diharapkan mampu membantu kita dalam mencipta realitas baru. Ini sejalan dengan gagasan bahwa apa pun di luar sana adalah dunia akibat, sementara dunia sebab ada di dalam pikiran kita. Pikiran kitalah yang menjadi awal realitas di luar sana.

Narasi atau kisah atau tulisan adalah buah dari pikiran yang kita patri dan padatkan. Dengan begitu, menjadi logis saja jika kita berharap bahwa suatu saat narasi bisa menjadi titik tolak untuk mengubah realitas di luar sana. Narasi akan membantu kita untuk mengubah realitas masa depan kehidupan kita

Dengan begitu, menulis (misalnya menulis jurnal) dapat menjadi media yang akan membantu kita merekam, mengembangkan, dan mengubah narasi hidup keseharian kita. Pada titik ini, saya jadi teringat tulisan seorang rekan dalam sebuah komunitas penulisan, yang berujar sebagai berikut:

”Buat saya, menulis juga berbanding lurus dengan perjalanan menuju tingkat kedewasaan dan kematangan tertentu. Saat ini sambil terus belajar caranya menulis dengan baik, saya pikir, saya juga belajar bertumbuh menjadi dewasa. Dan karena saya pikir proses pendewasaan diri berlangsung seumur hidup, maka bisa jadi pelajaran menulis adalah kelas terpanjang yang pernah saya ikuti.”
~ Retnadi A.

Sejalan dengan pandangan kawan di atas, saya sendiri sejak lama mempertimbangkan aktivitas menulis sebagai salah satu jalan terbaik untuk memberdaya diri. Saya membayangkan betapa indah kalau kita mampu menuliskan apa-apa yang kita pelajari dan temukan dari perjalanan hidup di keseharian kita. Pasti ada banyak pelajaran dan hikmah dari kehidupan kita yang layak dituangkan ke dalam tulisan. Dan, tulisan-tulisan itu akan jadi narasi tentang sejauh mana kita belajar dari pengalaman.

Pada saat yang sama, saya juga mengangankan betapa hidup akan makin bermakna kalau kita sungguh mampu berubah sebanyak dan sepanjang tulisan yang sudah jadi buah perenungan kita. Sungguh disayangkan kalau ternyata kita hanya puas dan berhenti sampai pada mampu menuliskan hikmah kehidupan. Sayang kalau kita hanya mampu menuangkan refleksi menjadi narasi, lalu kemudian melupakan semua yang pernah kita tuliskan.

Akan ideal kalau kita sungguh belajar, belajar yang bermakna perubahan yang relatif menetap. Kalau kita mampu mencapai tahapan belajar semacam ini, maka tak ada lagi kisah tentang kita tercebur pada lubang kesalahan yang sama. Maka dengan begitu tulisan kita tak sekadar tinggal menjadi narasi yang menggelikan, seperti saat saya geli melihat betapa sulitnya kita tumbuh menjadi pribadi yang konsisten antara ucapan dan kelakuan.

Kalau kegiatan menulis semakin saya yakini akan menjadi sarana yang efektif untuk memberdaya diri, maka bukan berarti pendekatan lain kemudian menjadi tak berguna. Pada titik ini, saya lebih memilih dan memandang kegiatan menulis sebagai alat yang sangat compatible, bahkan sekadar melengkapi pendekatan pengembangan diri yang lain.

Sekadar contoh, kita dapat mengaitkan kegiatan pelatihan dengan journal writing. Jelas bahwa journal writing akan memberi manfaat jika dijadikan sebuah alat monitoring tentang sejauh mana kita berubah dan bertumbuh seusai mengikuti program pelatihan lain. Kita bisa mengungkap dan menuliskan apa yang terjadi saat sebelum dan sesudah kita mengikuti sebuah program pelatihan. Kita juga bisa mengangkat perenungan kita tentang kendala yang dihadapi dalam menerapkan ilmu dari pelatihan kita. Bisa juga diceritakan bagaimana reaksi lingkungan terdekat saat kita berupaya berubah dan menerapkan hasil dari pelatihan, dan seterusnya dan seterusnya.

Buat saya, contoh sederhana di atas seakan menegaskan bahwa ada sejumlah pilihan agar kita bisa memanfaatkan kegiatan menulis dalam kerangka dan untuk disandingkan dengan program lain. Jadi semakin jelas pula, sesungguhnya kita layak optimis bahwa menulis memang bisa menjadi pintu masuk yang layak diperhitungkan guna membantu kita mengembangkan diri.

Semoga.[adjie]

* Adjie adalah karyawan sebuah perusahaan multi-national. Sehari-hari, selain terus berlatih menulis, ia juga menempatkan diri sebagai Facilitator for Human Resiliency Development (FHRD). Ayah empat orang anak ini adalah peminat tema life balance dan mind empowerment. Ia dapat dihubungi di:

[

EKSISKAN JIWA LEWAT MENULIS



Oleh: Sofa Nurdiyanti

“Sungguh sebuah buku dapat mengubah jiwa dan nasib dunia…”
~ Mohammad Fauzil Adhim

“Menulis bisa menjadi sarana untuk mengungkapkan perasaan seseorang.” Ungkapan ini mungkin tidak asing lagi bagi kita semua. Pada saat tertentu, terkadang kita tidak bisa menceritakan perasaan kita pada orang lain. Nah, dengan menulis kita bisa belajar mengungkapkan perasaan lewat tulisan. Ya! Ungkapkanlah perasaan lewat tulisan. Eksiskan jiwa lewat menulis. Lewat tulisan kita bisa belajar tentang banyak hal.

Bisa jadi, menulis merupakan kegiatan sehari-hari yang terlewatkan begitu saja, tanpa kita tahu betapa berharganya sebuah tulisan. Padahal, menulis merupakan salah satu sarana pengembangan diri maupun pembentukan karakter seseorang. Lewat tulisan, kita bisa lebih arif dalam menentukan langkah-langkah dalam hidup kita.

Dunia tulis-menulis sudah dikenal sejak zaman sebelum masehi. Kita bisa tahu lewat prasasti yang ditinggalkan oleh peradaban zaman dulu. Prasastilah yang berbicara tentang peradaban suatu bangsa pada kita. Lewat prasasti pula kita tahu ternyata peradaban mereka tidak kalah maju dengan zaman kita sekarang (abad 21).

Barangkali, jika manusia zaman dahulu tidak memprakarsai dan menciptakan metode menulis untuk berkomunikasi, kita masih terkungkung oleh bahasa isyarat. Komunikasi kita akan terbatas dalam satu kelompok masyarakat saja, dan kita tidak bisa berkembang atau berinteraksi dengan masyarakat lainnya.

Mengapa harus dengan menulis? Hal inilah yang perlu kita cermati lebih lanjut. Menulis sama dengan mendokumentasikan fakta, pengetahuan, peristiwa penting, bahkan sejarah peradaban suatu bangsa sekalipun. Tanpa menulis, segala sesuatunya akan menguap begitu saja. Tidak tersampaikan, tersimpan, dan tidak diketahui oleh generasi yang akan datang. Padahal, sebuah tulisan dapat memberitahu fakta-fakta (informasi) yang berguna sebagai aset penting di masa yang akan datang.

Contoh, lewat prasasti yang ditemukan, kita dapat mengetahui peradaban bangsa Mesopotamia (sekarang lebih dikenal dengan nama Irak). Prasasti berhuruf paku itu berisi hukum dan undang-undang yang telah terbentuk sebelum masehi. Undang-undang tersebut dikenal dengan nama hukum Hammurabi (Codex Hammurabi).

Perkembangan bangsa Cina pun semakin pesat, terutama sejak ditemukannya cara pembuatan bubur kertas. Ditemukannya kertas jelas sangat mendukung kegiatan menulis, sekaligus merupakan cikal bakal perkembangan sastra di Cina yang begitu pesat. Banyak peradaban bangsa-bangsa sebelum masehi yang bisa kita teliti lewat prasasti dan bangunannya. Peradaban tersebut tidak akan kita ketahui kalau bangsa-bangsa itu tidak mendokumentasikannya melalui bahasa tulisan.

Manfaat menulis
Menulis, kadang menjadi kegiatan yang membosankan pada sebagian besar orang. Tak jarang pula, aktivitas menulis terkesan ekslusif untuk kalangan tertentu saja. Padahal, kegiatan menulis ini bisa dilakukan oleh semua orang. Dan, menulis merupakan salah satu kegiatan yang mempunyai dampak positif bagi kita.

Dari pengamatan saya, menulis mempunyai banyak manfaat sebagai berikut.

1. Menulis dapat melatih kepekaan kita. Hal ini terjadi karena, sebagai penulis, kita dituntut untuk peka dan tanggap terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Dengan menulis, indera kita akan menjadi semakin terasah dan jeli, terutama dalam melihat segala peristiwa yang dapat dijadikan sebagai bahan tulisan.

2. Dengan menulis, eksistensi kita akan diakui oleh masyarakat secara luas. Karena lewat tulisan, pembaca mengenal pribadi maupun gagasan-gagasan kita. Menulis membuat kita bisa memberikan sumbangsih bagi dunia. Asal, tulisan kita bersifat membangun dan bukan sekadar tulisan tanpa makna.

3. Menulis merupakan sarana refleksi dan perencanaan yang matang tentang hal-hal yang akan kita lakukan di masa mendatang. Banyak hal yang kita lakukan, namun terkadang terlepas dari refleksi diri. Akibatnya, kita sendiri jadi kurang menyadari apa yang telah maupun ingin kita lakukan. Jadi, buatlah rencana-rencana secara matang untuk setiap target hidup kita supaya hidup menjadi jelas dan terfokus.

4. Menulis merupakan sarana untuk melatih kemampuan mengomunikasikan ide-ide kita pada orang lain. Menyampaikan ide pada orang lain bukanlah hal yang mudah. Bisa jadi, apa yang kita pikirkan dan kita sampaikan menjadi tidak sesuai. Mungkin, ini karena kita jarang menyampaikan ide kepada orang lain. Akibatnya, kita jadi gagap saat harus mengutarakannya. Nah, belajar menulis bisa melatih kemampuan kita dalam memilih kosa kata, menata kalimat, atau membangun argumen sehingga orang mengerti apa yang ingin kita sampaikan.

5. Menulis juga merupakan sarana untuk melatih ego kita. Dalam menyampaikan ide kepada orang lain dalam bentuk tulisan, kadang kita terjebak untuk menuliskan banyak ide sekaligus dalam satu tulisan. Padahal, belum tentu ide-ide tersebut dapat kita satukan dalam sebuah topik tulilsan. Akibatnya, tulisan jadi tidak fokus dan tidak punya arah yang jelas. Pembaca pun jadi kurang paham dengan maksud tulisan tersebut.

Uraian di atas hanyalah sebagian kecil dari manfaat kegiatan menulis. Masih banyak lagi manfaat lainnya yang bisa kita gali.

Kiat menulis
Menulis bukanlah hal yang sulit dilakukan. Menulis bisa dilakukan oleh setiap orang, tanpa mengenal tingkat pendidikan, jabatan, rentang usia, atau strata sosial. Menulis bisa dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Menulis juga tidak memerlukan banyak biaya karena yang dibutuhkan hanyalah kemauan dan keseriusan untuk memulai serta berlatih. Jadi, siapa pun bisa menulis asal mau dan rajin berlatih. Nah, berikut adalah beberapa cara praktis berlatih menulis.

1. Mulailah menulis dari sekarang. Tidak perlu memikirkan tema-tema besar terlebih dahulu. Karena sekali lagi, ini adalah salah satu proses belajar yang tidak dapat dikuasai dalam sekejap. Menulislah dengan sepenuh hati. Jangan ragu memulai menuliskan kejadian-kejadian yang baru kita alami. Bandingkan pengalaman yang baru saja dialami dengan hasil tulisan; apakah tulisan ini sudah bisa menyampaikan sebagian besar maksud atau perasaan yang ingin disampaikan?

Jika belum, teruslah mencoba, mencari beberapa alur atau kosa kata yang spesifik dengan peristiwa terkait. Dalam latihan menulis, kejadian-kejadian keseharian merupakan salah satu tema yang mudah ditulis. Menulis diari adalah contoh yang bagus dalam proses belajar menulis.

2. Sediakan waktu minimal 30 menit setiap harinya untuk merefleksikan kejadian/ide yang ingin dituangkan dalam bentuk tulisan. Tumbuhkanlah motivasi dan semangat pantang menyerah untuk terus belajar dan belajar. Karena, sebrilian apa pun ide, cerita, atau artikel yang kita pikirkan, mereka tetap akan tersimpan dalam memori—atau bahkan terlupakan—jika kita memutuskan menyerah untuk menuliskannya.

Semakin sering kita berlatih, semakin banyak pula kosa kata yang kita kuasai. Dan, ini akan membuat tulisan kita punya ciri khas (spesifikasi) tersendiri. Minat yang ingin kita tekuni—entah jadi penulis buku motivasi, novel, skenario, cerpen, dll—akan semakin kelihatan.

3. Jika mengalami kesulitan dalam menuliskan alur cerita atau artikel, maka buatlah kerangka tulisan. Ini merupakan jembatan untuk mentransformasikan ide dalam bentuk tulisan. Kerangka tulisan tidak harus kaku atau tidak bisa diubah sama sekali. Kerangka tulisan harus bisa dikembangkan, sejalan dengan ide-ide baru yang mungkin muncul. Atau, mungkin juga berbagai data yang nantinya dapat dikaitkan dengan tulisan kita. Fungsi kerangka tulisan memang untuk memudahkan kita dalam menulis.

4. Saat menulis, kita tidak perlu memikirkan masalah editing terlebih dahulu. Keterampilan editing akan dikuasai sering semakin meningkatnya intensitas penulisan. Yang terpenting, pembaca mampu memahami maksud tulisan kita. Nah, manakala ide bisa tersampaikan melalui tulisan-tulisan, jangan ragu untuk meningkatkan kemampuan editing. Sebab, kemampuan ini penting sekali bagi seorang penulis.

5. Seraplah wawasan dan pengetahuan sebanyak mungkin. Ini akan sangat berguna sebagai referensi atau gudang ide dalam proses menulis. Menonton siaran berita di televisi, baca berita di koran dan majalah, baca berbagai jenis buku pengetahuan, dan browsing informasi terbaru di internet, semuanya sangat berguna bagi proses belajar kita.

6. Terakhir, kirimkan artikel, opini, cerpen, novel, atau berbagai bentuk tulisan lainnya ke media-media. Kita tidak akan pernah tahu kualitas tulisan yang kita buat bila tidak pernah berinisiatif mengirimkannya ke media massa. Ketika mengirimkan tulisan, jangan pernah takut mengalami penolakan. Sebab, penulis yang berhasil bukanlah mereka yang tidak pernah gagal sama sekali. Penulis yang berhasil adalah mereka yang terus belajar dari kesalahan atau kekurangan yang dibuat, dan kemudian mengambil langkah-langkah perbaikan.

Nah, buat Anda yang ingin keberadaanya diakui secara luas, menulis merupakan salah satu pilihan yang tepat. Eksiskan jiwa muda Anda dengan menulis. Jadikan aktivitas menulis sebagai sarana pengembangan diri. Sebab, mengembangkan diri tidaklah selalu berarti mencari sesuatu yang baru dari luar diri kita. Mengembangkan diri juga bisa dimulai dengan mengembangkan potensi yang ada dalam diri setiap orang.

Saya pun yakin, menulis merupakan potensi yang ada dalam setiap orang. Karena, pada dasarnya setiap orang mampu punya banyak ide berharga dan punya kemampuan menulis, sekecil apa pun itu. Jadi, berapa pun usia Anda sekarang—terlebih lagi jika masih berusia muda—kembangkan potensi tersebut dan teruslah berlatih menulis. Siapa tahu, dengan menulis kita bisa menginspirasi orang lain untuk maju dan berkembang.

Dan ingat, semangat jiwa muda akan selalu ada bukan karena hitungan usia. Namun, jiwa muda akan senantiasa bergelora karena ide-ide kita yang mengandung semangat untuk selalu eksis dan berkembang.[sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa semester tiga Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia suka membaca buku dan saat ini aktif menulis di majalah “eksis”, sebuah wadah jurnalistik Fakultas Psikologi, Sanata Dharma. Ia tengah semangat berlatih supaya kelak mampu menjadi penulis dan trainer. Email: nurrohmah_06@yahoo.com.

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman