Minggu, 02 November 2008

WIRASWASTA DAN WIRAUSAHA: TAMPAK SAMA NYATA BEDA

Oleh: Riyanto B. Suwito


Ketika seseorang bekerja (berusaha) sendiri, tidak menjadi pegawai baik negeri maupun swasta, baik pada usaha produksi, perdagangan ataupun jasa maka dia akan disebut sebagai wiraswasta. Itu terjadi di Indonesia sekitar sepuluh tahun yang lalu atau sebelumnya. Tetapi sepuluh tahun terakhir maka orang-orang seperti itu akan disebut sebagai wirausahawan atau istilah kerennya adalah entrepreneur.

Menurut kamus Bahasa Indonesia, wiraswasta berarti “jenis usaha berdikari atas dasar percaya pada diri sendiri (tanpa mengharapkan belas kasihan orang lain)”. Sedangkan wirausaha berarti, “usaha yang digerakkan oleh semangat keberanian dan kejujuran”. Dari definisi diatas jelaslah bahwa keduanya memang berbeda. Akan tetapi dalam pemaknaan sehari-hari tentu saja agak sulit untuk membedakan secara hitam dan putih.

Walaupun kalau kita berbicara asal katanya dari Bahasa Inggris yaitu entrepreneur, tidak ada bedanya dengan capitalist, industrialist, businessman, businesswoman, atau factory owner. Kembali kepada definisi menurut kamus Bahasa Indonesia diatas, sekarang ini orang lebih merasa “keren” dan percaya diri dengan menyandang sebutan wirausaha, bahkan ada juga orang yang menyebut wirausaha mandiri daripada disebut sebagai wiraswasta. Bahasa gaulnya kalau kita menyebut wiraswasta itu “jadul” (jaman dulu) banget, udah nggak up-to date.

Tentu saja bukan tanpa alasan kalau saat ini orang yang mempunyai usaha lebih merasa nyaman disebut sebagai wirausaha daripada wiraswasta, selain karena tren yang berlaku global di seluruh belahan dunia ini. Ada satu gerakan (atau budaya) baru dalam dunia usaha yang mulai mengarah kepada spiritualisasi usaha. Hal ini terkait dengan kecenderungan secara umum manusia dewasa ini yang sudah mulai jenuh dengan segala sesuatu yang hanya bersifat materialistis, dan terbukti tidak mampu memberikan ketenangan kepada jiwa mereka.

Nilai-nilai agama (spiritual) menjadi semangat baru dalam dunia usaha, sehingga kejujuran menurut pakar marketing Indonesia dari MarkPlus and Co, Hermawan Kertajaya adalah sebuah keunggulan kompetitif di tengah dunia usaha yang menghalalkan segala macam cara. Jadi keberanian dan kejujuran lebih tepat menjadi semangat baru dunia usaha selain tentu saja kreativitas, yang akhir-akhir ini pun banyak disebut orang. Apalagi berkaitan dengan isu pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Selama ini pelaku usaha konvensional yang sering disebut wiraswasta atau pengusaha biasa, di dalam operasinya melakukan berbagai tindakan yang seringkali tidak mengindahkan keberlanjutan, kelestarian lingkungan, kejujuran, dan persaingan sehat berbasis kreativitas apalagi keadilan. Mereka lebih banyak mencari keuntungan dengan menghalalkan berbagai cara dan menindas yang lemah, walaupun pada akhirnya mereka akan sampai pada suatu titik di mana keuntungan materi berupa uang dan barang berharga tidak mampu memenuhi batinnya.

Sehingga sangat wajar jika pelaku usaha (apalagi usaha kecil menengah) lebih suka disebut wirausaha daripada wiraswasta. Tentu saja bagi yang mengetahui definisi diatas, dan mungkin saja karena pengaruh tren yang sedang berkembang. Akan tetapi yang lebih penting bagi kita semua adalah mengembangkan segala bentuk usaha kecil dan menengah di negeri ini untuk membangkitkan perekonomian nasional yang memang sedang terpuruk ini. Tetapi ingatlah satu hal, apa pun nama, istilah, atau sebutannya, tetapi semangat keberanian, kejujuran dan kreativitas harus menjadi dasarnya. Dan tidak cukup hanya sekadar percaya pada diri sendiri.

Apalah arti sebuah nama, begitu istilah yang masyhur dari Shakespeare, tapi mengapa ada orang yang marah-marah (minimal sewot) kalau orang lain salah menyebut namanya. Untuk mengakhiri tulisan ini saya ingin mengajukan pertanyaan kepada pembaca yang budiman, apakah Anda ingin menjadi dan disebut sebagai wirausahawan ataukah wiraswastawan? Anda tahu perbedaannya bukan? [rbs]

* Riyanto B. Suwito adalah praktisi akuntansi , manajemen dan kewirausahaan. CRS-Link Certified Trainer on Financial Education for The Poor, Aktif di PKPEK Yogyakarta, dan dapat dihubungi melalui email: rushputty@yahoo.com atau hp: 081 227 12426.

NASI GORENG PETUALANGAN

Oleh: Ardian Syam


Anda yang pernah bersekolah di Yogyakarta terutama yang tidak tinggal di orangtua dan kos di tempat dengan fasilitas standar pasti tahu apa yang terjadi ketika Anda lapar di malam hari. Setelah Anda menyelesaikan tugas sekolah, Anda lapar dan tidak ada makanan yang tersedia di tempat kos Anda, tentu saja, itu kan tempat kos dengan fasilitas standar. Anda mungkin saja akan pergi ke luar rumah dan mencari warung makan, untuk sekedar mengisi perut agar Anda dapat tidur sehingga bangun dengan perasaan enak di pagi hari.

Tetapi ternyata Anda begitu kelelahan karena tugas sekolah yang Anda kerjakan. Bukan hanya itu, kebetulan warung terdekat membutuhkan waktu lebih dari sepuluh menit jalan kaki, itu berarti Anda butuh waktu dua puluh menit untuk menuju ke warung dan pulang ke kamar kos, belum termasuk waktu untuk makan di warung. Malam sudah terlalu larut dan Anda harus segera tidur karena pagi-pagi sekali esok hari Anda harus sudah tiba di sekolah karena ada beberapa persiapan presentasi karena tugas sekolah yang baru Anda selesaikan.

Belum lagi bila Anda tetap tidak bisa memilih makanan di sana karena sudah terlalu larut. Tetapi hal yang paling buruk adalah bahwa ternyata warung itu sudah kehabisan makanan. Benar-benar buruk. Sudah berjalan sepuluh menit dalam lapar, tiba di sana dan tahu bahwa tidak ada yang bisa dimakan. Pilihan Anda adalah menempuh sepuluh menit perjalanan pulang dalam lapar, atau berjalan lebih jauh untuk menemukan warung yang masih buka. Itu pun masih ada kemungkinan Anda akan menemukan nasib yang tidak berbeda.

Bagi Anda yang selalu berpikir positif mungkin tetap akan melanjutkan perjalanan ke warung berikut karena Anda begitu yakin Anda akan menemukan warung yang masih buka dan menyediakan makanan yang dapat dan suka Anda makan. Tetapi tidak begitu dengan yang lain. Mungkin akan segera pulang dan berharap akan dapat melupakan rasa lapar. Atau dengan sangat berharap akan menemukan pedagang keliling. Waduh, mengapa baru sekarang teringat kepada para pedagang keliling setelah menempuh waktu sepuluh menit berjalan kaki dalam lapar, ya?

Ya, pedagang keliling. Mungkin penjual mi godok gaya Yogya, mungkin pedagang nasi goreng atau pedagang sate dari Madura atau yang lain. Mereka berkeliling dengan gerobak makanan masing-masing dengan bentuk, rupa dan warna khas mereka masing-masing.

Tetapi bagi saya, bila berada dalam keadaan seperti tadi maka saya akan dengan tabah duduk di depan rumah kos memegang piring dan sendok menanti pedagang keliling. Mengapa piring dan sendok sendiri? Perasaan saya akan lebih nyaman untuk membeli makanan yang disajikan di piring sendiri, saat siap disajikan, saya bayar, masuk kamar dan proses memamah biak dapat saya lanjutkan tanpa harus ditunggui sang pedagang. Kasihan bila dia harus menunggu saya selesai makan, sementara bila tidak demikian mungkin dia sudah bisa langsung berangkat untuk melayani konsumen berikut.

Sebagai orang Indonesia yang selalu merasa belum makan bila belum menemukan nasi, maka saya lebih memilih untuk membeli nasi goreng. Selain itu, merekalah yang mendominasi supply. Pedagang makanan lain tidak akan terlalu banyak yang berkeliling. Namun apa yang sering saya temukan dari sebagian besar pedagang nasi goreng di sekitar kos saya? Nasi goreng petualangan.

Mengapa saya namakan nasi goreng petualangan? Mereka mungkin menjual nasi goreng karena memang mereka butuh penghasilan untuk kehidupan minimal mereka. Mereka bukan orang yang hobi memasak apalagi chef. Sementara bahan baku yang dibutuhkan, beras, termasuk komoditas yang mudah ditemukan di pasar manapun (beda dengan mi), atau tidak perlu pengolahan yang agak repot seperti lontong atau ketupat yang harus dimasukkan dulu ke dalam bungkus dulu.

Karena hal itu pula maka mereka bukan orang yang mampu memasak dengan baik. Ketika Anda memakan masakan para chef amatir tersebut maka Anda akan menemukan bahwa di suap pertama Anda akan kepedasan karena bagian itu mengandung banyak sambal, sementara di suap berikut Anda akan merasakan nasi tersebut terlalu asin, suap ke tiga mungkin Anda bahkan menemukan nasi yang sama sekali masih putih. Itu berarti mereka tidak benar-benar mampu mengaduk nasi untuk membuat nasi goreng.

Di situlah petualangan yang saya katakan. Anda tidak akan pernah tahu apa rasa nasi goreng dalam sendok yang akan Anda masukkan ke dalam mulut. Pedas, asin atau tanpa rasa sama sekali. Anda bahkan bisa main tebak-tebakan dengan rasa nasi yang ada di sendok Anda.

Mengapa mereka tetap eksis dengan rasa masakan yang pasti akan membuat para chef asli mengkerutkan dahi? Apakah mereka tidak ditinggalkan konsumen. Saya? Yang kelelahan karena tugas sekolah kemudian lapar karena banyak berfikir berani-berani meninggalkan mereka? Saya tahu benar bahwa risiko saya adalah harus berjalan beberapa menit dengan perut lapar dan belum tentu menemukan warung yang masih menjual makanan, lalu harus jalan lebih jauh atau pulang dengan rasa lapar yang belum hilang? Mana berani saya menempuh risiko itu.

Maka saya dan orang-orang yang setipe akan lebih memilih menunggu dengan tabah kesempatan emas untuk mendapatkan pengalaman penuh petualangan itu.

Begitulah bisnis, ketika konsumen tidak berani mengambil pilihan maka bisnis akan tetap eksis. Apapun kualitas yang kita sediakan untuk konsumen, mereka tidak akan pernah berpaling dari Anda. Andai itu monopoli, maka itulah monopoli yang sejati. Semua konsumen bisa menyalahkan Anda, tetapi tetap saja mereka akan membeli dari Anda. Sayang memang bahwa itu tidak dikuasai oleh satu pihak atau satu orang saja. Tetapi mari kita singgung soal monopoli itu.

Tetapi itu tidak akan pernah lama. Akan ada orang atau orang-orang yang tahu bagaimana melayani pelanggan. Kemudian orang-orang itu tahu pula bagaimana menghemat biaya-biaya yang tidak perlu, dan itu dimanfaatkan untuk menekan harga jual produk mereka. Kemudian mereka juga tahu bagaimana memberi tahu orang-orang semua tentang hal itu. Lalu mereka memelihara konsumen dengan baik sehingga semua konsumen mereka saling memberi tahu. Apa yang akan terjadi pada pembuat petualangan tersebut?

Di mana Anda sekarang berada, di mana sekarang Anda bekerja, bagaimana perusahaan Anda memperlakukan para konsumen?

Apakah konsumen Anda mendapatkan petualangan seperti saya dengan nasi goreng yang saya tunggu dengan tabah itu?

Ketika ada orang lain, pihak lain atau perusahaan lain yang mengetahui semua taktik itu, apa yang akan terjadi dengan perusahaan tempat Anda bekerja?

Ketika itu ada beberapa pedagang nasi goreng keliling yang tidak berhasil membuat petualangan. Setiap sendok akan sama, sama-sama tidak enak, atau bahkan sama-sama enak. Tetapi tidak banyak yang bisa saya kenali sebagai ciri khas mereka.

Ketika itu, terjepit di antara rasa lelah dan rasa lapar, kemudian terisilah perut dengan nasi goreng (penuh petualangan atau tanpa petualangan) dan diikuti dengan rasa mengantuk maka saya tidak dapat dengan mudah mengingat ciri-ciri khas tampilan gerobak mereka masing-masing. Buat saya ciri tampilan gerobak mereka tidak berbeda sama sekali.

Tetapi ketika sebuah perusahaan masuk ke bisnis yang dijalankan perusahaan tempat Anda bekerja, ketika mereka tahu kelemahan produk perusahaan Anda, maka mereka jelas tidak akan menggunakan ciri identitas yang mirip dengan ciri identitas dari perusahaan tempat Anda bekerja. Sehingga akan sangat jelas beda identitas antara perusahaan mereka dengan perusahaan tempat Anda bekerja.

Andai saja ketika itu pedagang yang mampu memasak dengan baik memiliki ciri identitas yang jelas pada gerobak mereka, misal menggunakan warna yang mencolok seperti jingga, merah atau kuning, saya mungkin akan mengingat-ingat ciri tersebut. Saya mungkin mengalami kesulitan untuk mengingat ciri pedagang yang memberi petualangan kepada saya. Tetapi paling tidak saya tidak akan membeli dari pedagang yang tidak menggunakan ciri gerobak berwarna mencolok.

Saya bahkan mungkin mengingat jam berapa si pedagang dengan gerobak berwarna mencolok itu lewat. Men-set reminder dan membeli pada saat dia lewat, dan menyimpan untuk saat-saat lapar beberapa menit kemudian. Lalu akankah Anda biarkan ketidakmampuan memuaskan pelanggan menyebabkan perusahaan Anda mati?[as]

* Ardian Syam adalah penulis buku “Kacamata Kuda”.

BEKERJA DENGAN LEBIH BAHAGIA

Oleh: Maeya


“Agar orang menemukan kegembiraan dalam pekerjaan mereka, dibutuhkan tiga hal berikut ini: Mereka harus cocok dengan pekerjaannya. Mereka tidak boleh bekerja terlalu banyak. Dan mereka harus memiliki perasaan bahwa mereka berhasil dalam pekerjaan tersebut.”
~ John Ruskin

Banyak orang yang bertahan dalam pekerjaan yang tidak disukai, tetapi karena tidak ada pilihan lain untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup dan tidak ada pilihan pekerjaan lain, akhirnya ia pun bertahan juga. Ada yang bertahan dan bekerja dengan sepenuh hati tetapi ada juga yang bertahan dengan bekerja setengah hati. Apakah Anda pernah atau sedang mengalaminya?

Jika Anda mengalami tiga sampai lima gejala dari beberapa gejala berikut ini, ada kemungkinan Anda kurang cocok dengan pekerjaan saat ini dan perlu menemukan solusi untuk bisa lebih puas dengan pekerjaan Anda atau menemukan pekerjaan lain yang lebih cocok dengan Anda:

1. Anda bangun tidur dengan perasaan sedih dan tertekan karena Anda teringat harus melakukan pekerjaan yang tidak Anda senangi.

2. Sudah lama Anda jarang tersenyum dan Anda menjadi sinis pada keindahan hidup.

3. Di malam hari Anda sulit untuk tidur nyenyak dan sering bermimpi buruk setiap kali teringat besok akan bekerja.

4. Tidak nafsu makan dan jarang merasa lapar atau sebaliknya nafsu makan Anda meningkat drastis tidak seperti biasanya.

5. Anda menjadi sering menghitung hari dan melihat jam, kapan pulang, kapan pulang, kapan pulang. Anda tidak betah berlama-lama di kantor, dan bawaannya ingin segera pulang saja.

6. Anda menjadi lebih sering mengeluh dan menceritakan hal negatif mengenai pekerjaan dibandingkan hal positif mengenai pekerjaan Anda.

7. Anda mulai sering berbohong/mencuri-curi waktu/bolos kerja/izin kerja untuk melakukan hal lain di luar pekerjaan.

8. Lebih sering membicarakan hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.

9. Senang sekali jika atasan tidak datang dan langsung berencana untuk “berpesta”.

10. Anda menjadi sensitif dan mudah sekali marah tanpa sebab yang jelas.

Pekerjaan adalah sebuah pilihan, bukan sebuah paksaan. Buat apa bertahan di satu pekerjaan yang terus membuat Anda kesal dan membenci hidup Anda? Lebih baik berhenti sejenak dan memilih pekerjaan mana yang lebih cocok untuk Anda. Kalau pun Anda memilih untuk bertahan di pekerjaan Anda, daripada terus mengeluh dan menceritakan hal negatif mengenai pekerjaan, lebih baik Anda belajar untuk terus menemukan sisi menyenangkan dari pekerjaan Anda.

Masalah yang sering dikeluhkan sebagai sumber ketidakpuasan bekerja adalah ketidakpuasan terhadap gaji, atasan, rekan kerja, dan tugas pekerjaan yang tidak sesuai dengan harapan. Banyak karyawan mengeluh di dalam hati atau mengeluh kepada orang lain, betapa kecilnya gaji saya, mana mungkin bisa menabung jika gaji saya hanya sekian rupiah. Kenyataan memang menunjukkan bahwa ada standard dari penggajian karyawan di perusahaan-perusahaan Indonesia.

Misalnya: untuk level fresh graduate S-1 antara Rp1,5–2 juta, sedangkan untuk level manager adalah antara Rp6–10 juta. Rentang perbedaan cukup jauh, tetapi bukanlah tidak mungkin bagi seorang fresh graduate S-1 untuk bisa mendapatkan gaji sebesar gaji level manager.

Sekarang yang harus Anda lakukan adalah bukanlah meratapi betapa minimnya gaji Anda, melainkan Anda perlu untuk menyiasati kondisi keuangan dengan cerdas. Saat ini juga jika Anda masih merasa tidak cukup dengan gaji Anda, coba mulai dengan menganalisis dan menghitung jumlah pengeluaran per bulannya. Banyak orang yang jarang menyadari besar pengeluaran setiap bulannya. Masalahnya, ukuran besar kecil gaji sangatlah relatif, ada seorang karyawan yang berpenghasilan sebesar Rp800 ribu/ bulannya, tetapi mampu menghidupi tiga orang anaknya yang masih kecil dan karyawan ini pun mampu menabung secara rutin. Di sisi lain, ada juga karyawan yang berpenghasilan Rp2 juta, belum menikah, tetapi tidak pernah bisa menabung secara rutin karena gajinya seringkali ludes untuk keperluan barang tertier dan pemenuhan gaya hidup mewah di luar kapasitas dirinya.

Kesalahan terbesar orang-orang yang tidak bisa kaya, menurut Tung Desem Waringin, dalam bukunya yang berjudul Financial Revolution, adalah ketika menghabiskan uang untuk membayar hutang kepada bank. Dalam hal ini, salah satu contohnya adalah menggunakan kartu kredit dengan cara yang kurang bijaksana, untuk bisa memenuhi keinginan supaya bisa bergaya seperti orang kaya. Gaya hidup pada akhirnya menjadi salah satu faktor penyebab mengapa gaji rasanya tidak pernah cukup dan mengapa tidak pernah ada sisa uang untuk ditabung secara rutin. Salah satu cara untuk mengakali masalah keuangan ini adalah dengan mulai mengurangi pengeluaran yang masih bisa ditunda, biasanya berkaitan dengan kebutuhan tertier (barang mewah, barang elektronik, atau kebutuhan untuk bersenang-senang). Sebagai gantinya, Anda bisa melakukan kegiatan lain yang tidak mengeluarkan banyak biaya, misalnya: jika Anda biasanya pergi ke coffee shop untuk refreshing bersama teman-teman, Anda bisa sesekali menggantinya dengan berkumpul di rumah Anda atau rumah teman Anda dengan menikmati kopi instan buatan sendiri.

Jika Anda ingin mengetahui apakah gaji Anda yang memang terlampau kecil atau apakah pengeluaran Anda yang memang terlampau batas kebutuhan normal, Anda perlu menganalisis dan mencatat secara detail pengeluaran Anda per bulannya. Jika ternyata gaji Anda memang terlampau minim dibandingkan dengan pengeluaran biaya kebutuhan primer Anda, Anda bisa mempertimbangkan pekerjaan sampingan untuk mendapatkan penerimaan tambahan atau mulai menemukan pekerjaan yang bisa memberikan gaji sesuai kebutuhan primer Anda dan kualifikasi Anda tentunya. Saat sekarang ini terbuka banyak kesempatan untuk melakukan pekerjaan sampingan yang tidak mengganggu jam kerja kantor Anda. Misalnya: menjadi agen asuransi, menjalankan bisnis marketing freelance, menjadi agen properti di akhir pekan, menjadi guru privat di luar jam kantor, atau menjadi penulis lepas jika Anda memiliki kemampuan dan bakat menulis.

Masalah lain yang sering diungkapkan oleh karyawan adalah tidak puas dengan atasannya atau tidak cocok dengan rekan kerjanya. Keluhan pun dimulai dari ketidakpuasan dengan sikap atasan yang kurang dewasa atau kurang bertanggung jawab, sampai dengan ketidaknyamanan bekerja dalam kondisi persaingan yang tidak sehat dengan rekan kerja. Jam makan siang menjadi ajang untuk membicarakan kejelekan orang lain (atasan atau rekan kerja) dan lambat laun kegiatan mengeluh menjadi kebiasaan rutin sehari-hari. Pertanyaannya, apakah ada manfaat yang berarti dengan mengeluhkan kejelekan atasan Anda atau menjelek-jelekkan rekan kerja Anda yang terobsesi untuk naik pangkat? Sekali lagi, tidak ada gunanya mengeluh dan membicarakan hal negatif mengenai pekerjaan Anda, karena lambat laun kebiasaan ini akan membuat Anda berpandangan negatif terhadap apa yang Anda kerjakan dan merusak jiwa positif dan kepribadian Anda.

Selain masalah ketidakpuasan mengenai gaji, atasan, dan rekan kerja, masalah terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah kecocokan seseorang dengan pekerjaan yang ia jalankan. Keluhan yang sering muncul adalah jenis pekerjaan terlalu menantang atau sebaliknya terlalu berat, tugas pekerjaan terlalu membosankan atau sebaliknya terlalu banyak tekanan. Ada kesulitan dan tantangan dari setiap profesi yang dipilih. Setiap orang memiliki porsi dan kemampuan masing-masing, tidak bisa dipaksakan untuk bekerja di profesi tertentu, ada orang yang cocok untuk melakukan pekerjaan administratif, tetapi ada juga orang yang lebih cocok untuk melakukan pekerjaan marketing yang dinamis dan tidak monoton. Untuk bisa menemukan pekerjaan yang cocok dengan karakter diri sendiri membutuhkan proses dan pembelajaran yang sabar dan telaten. Masalahnya, waktu terus berjalan dan waktu tidak akan menunggu Anda sampai menemukan pekerjaan yang cocok sesuai dengan harapan. Sebagai solusinya, terkadang kita perlu untuk belajar menyayangi pekerjaan yang ada di hadapan kita, sampai akhirnya kita mampu menentukan pekerjaan apa sebenarnya yang cocok dengan karakter kita. Pilihan pekerjaan berkaitan erat dengan karakter diri Anda dan juga goal yang ingin Anda capai dalam hidup ini. Untuk mempermudahnya, mula-mula kenali terlebih dahulu apa sifat positif dan negatif, hobi dan aktivitas yang Anda lakukan dan bisa membuat Anda bahagia. Anda juga bisa berkonsultasi kepada orang-orang yang sudah lebih dahulu berpengalaman dalam penentuan dan perencanaan karir seperti konselor karir/psikolog yang memang memahami teknik konseling karir dan penentuan pilihan pekerjaan untuk Anda.

Tidak pernah ada kata terlambat untuk mencoba hal baru yang sesuai dengan potensi dan minat Anda. Pekerjaan bukanlah paksaan, melainkan sebuah pilihan. Pilihlah pekerjaan yang memberikan kepuasan dan kebahagiaan bagi Anda. Anda pantas mendapatkan yang lebih baik jika memang Anda memiliki kualifikasi yang baik. Tentukan pilihan. Walau tidak sesuai dengan jurusan kuliah, bukanlah masalah, yang terpenting, terus kenali diri kita dan jalankan pilihan hidup secara maksimal. Hasilnya pun akan maksimal nantinya. Segala sesuatu yang dilakukan dengan perasaan terpaksa, biasanya hasilnya tidak cukup baik dan tidak maksimal.

Akhir kata, saya menyadari bahwa ada keterbatasan dalam segala aspek kehidupan, salah satunya adalah bahwa tidak semua hal di dalam hidup ini bisa dijawab dengan pikiran logis. Oleh karena itu ada saat dimana kita perlu mempercayakan semua itu pada kekuatan doa dan kemampuan pikiran alam bawah sadar untuk menjawab semua kebingungan itu. Doa yang secara rutin saya lanturkan adalah: “Semoga saya mampu memilih pekerjaan yang sesuai dengan panggilan hidup dan tugas kelahiran saya yang dapat mendukung tercapainya dunia yang damai dan tentram.”[mo]

* Mayasari Oey atau akrab dipanggil Maeya adalah alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (2000-2004). Saat ini, selain aktif menulis, sehari-hari ia bekerja sebagai guru Bahasa Inggris. Ia juga aktif di Lembaga Training Dynamic Life Solution. Tinggal di Jakarta Barat, ia dapat dihubungi di telp: 021-98014364, 081510107536, atau via email maerose11@yahoo.com.

MENGGEDOR KETERBATASAN DENGAN IMAJINASI YANG CERDAS

Oleh: Eni Kusuma


"Tetapkan mimpi Anda dan imajinasikan ke dalam otak Anda, maka otak Anda akan menyimpan perintah itu berupa energi yang akan mewujudkan mimpi Anda."
~ Eni Kusuma

Tahukah Anda bahwa otak kita dalam aktivitasnya adalah berupa sinyal-sinyal listrik yang akan menghasilkan gelombang energi dalam berbagai skalanya?

Analoginya sebagai berikut:
Ketika kita melihat wanita cantik dan seksi, maka bayangan wanita cantik dan seksi itu akan tetangkap oleh sel-sel retina mata kita, dan kemudian diubah menjadi sinyal-sinyal listrik yang dikirim ke otak kita. Sinyal-sinyal dari kiriman retina mata akan mengaktifkan sel-sel yang bertanggung jawab terhadap proses penglihatan tersebut. Maka kita bisa melihat wanita cantik dan seksi tersebut.

Jika Anda menginginkan untuk berkenalan dengan wanita tersebut dalam proses berpikir di otak. Maka pada saat proses berpikir itu, otak menghasilkan sinyal-sinyal listrik yang berpendar-pendar. Di sana bakal dihasilkan gelombang dengan energi tertentu. Otak adalah generator sinyal-sinyal listrik yang saling terangkai menjadi kode-kode keputusan.

Sinyal-sinyal listrik itu merambat ke seluruh tubuh, lewat komando otak, menghasilkan gerakan-gerakan, mimik, tingkah laku, atau tindakan sesuai keputusan atau perintah dari otak. Dan proses ini—dari melihat wanita tersebut sampai membuat keputusan untuk berkenalan—berlangsung hanya dalam beberapa detik saja. Luar biasa, semua terkomando dan terjadi atas "kehendak" kita saja.

Dari ilustrasi di atas saya hendak menyampaikan tentang kekuatan akan "sebuah kehendak". Jika kita "menghendaki" suatu keinginan atau suatu mimpi berarti kita sudah menanamkan "perintah" di dalam otak kita . Otak kita akan menyimpan perintah tersebut. Dan secara tidak sadar otak kita akan menanamkannya dalam pikiran bawah sadar kita. Maka hendaknya perintah tersebut harus spesifik dan jelas agar pikiran bawah sadar kita memiliki program yang jelas. Kenapa pikiran bawah sadar kita dikendalikan oleh otak? Karena otak adalah pusat dari segala aktivitas pikiran sadar dan pikiran bawah sadar kita.

Otak akan tetap bekerja meskipun kita tidak sedang dalam keadaan sadar. Ini berarti dalam keadaan tidur pun otak kita masih bekerja. Buktinya otak masih mengirimkan sinyal-sinyal untuk mengatur denyut jantung, pernafasan, suhu tubuh, hormon-hormon pertumbuhan, dan sebagainya.

"Dalam keadaan tidak berada dalam kesadaran, otak tetap memancarkan sinyal-sinyal listrik alias tetap bekerja sehingga program-program yang kita informasikan pada otak, secara otomatis otak akan menanamkannya dalam pikiran bawah sadar kita."

Oleh karena itu kita hendaknya menginformasikan perintah atau program kepada otak kita dengan jelas dan spesifik. Kenapa? Karena jika otak menerima perintah yang kurang jelas atau kita menginformasikan kehendak kita secara buram, maka otak tidak bisa menginformasikan pada pikiran bawah sadar kita secara jelas dan spesifik. Sehingga hasilnya tidak maksimal atau tidak menggiring kita ke arah sukses. Padahal yang menentukan kesuksesan kita adalah karena adanya program-program dan keyakinan-keyakinan yang ada di pikiran bawah sadar kita.

Contoh gampangnya begini, jika kita ingin menjadi kaya tetapi tidak diimajinasikan secara detail kaya yang bagaimana? Maka otak akan kesulitan untuk menterjemahkan makna dari perintah tersebut. Otak akan berkata: "Wah, yang ngasih perintah ini, goblok! Ingin kaya tetapi detailnya tidak ada.” Maka otak akan kesulitan mengirim informasi ke pikiran bawah sadar kita.

Lain halnya jika perintah itu benar-benar jelas dan spesifik misalnya pada kasus saya. Saya memerintahkan pada otak saya jika saya ingin menulis buku ke dua. Saya juga menjelaskan dengan sangat gamblang pada otak saya tentang tema atau topik pada proses pembuatan buku saya nanti. Saya juga menjelaskan: apa. bagaimana, umtuk apa, kapan, di mana, dalam waktu berapa lama proses buku saya tersebut. Bahkan saya juga menjelaskan secara detail buku-buku apa saja yang harus saya baca untuk menambah wawasan saya, siapa saja yang harus saya hubungi, dan siapa saja yang bisa membantu saya dalam mewujudkan impian saya.

Program ini saya informasikan ke otak yang secara otomatis terprogram juga dalam pikiran bawah sadar saya. Karena otak yang mengendalikan pikiran sadar dan pikiran bawah sadar kita. Ketika dalam proses berpikir, otak yang berupa sinyal-sinyal listrik mengirim kepada pikiran sadar dan pikiran bawah sadar kita, untuk selanjutnya diubah menjadi kode-kode makna. Ada orang berpendapat bahwa di sinilah letak jiwa kita. Ya, jiwa kita adalah kode-kode makna tersebut. Berarti pikiran sadar dan pikiran bawah sadar kita adalah jiwa kita.

Otak yang berupa sinyal-sinyal listrik berfungsi juga seperti antena yang menginformasikan ke seluruh alam semesta apa yang kita mau (apa yang sudah terprogram). So, jangan dibilang suatu "kebetulan" jika saya berhadapan dengan kejadian-kejadian yang "kebetulan" yang mengarah ke cita-cita saya tersebut. Karena alam semesta sebenarnya sudah diprogram dari Sang Pencipta untuk mendukung kesuksesan kita.

Jadi rugi dong jika kita memprogramkan sesuatu yang buram ke otak kita. Otak tidak bekerja secara maksimal dan tidak fokus. Karena kefokusan tergantung dari kejelasan suatu informasi. Jika sudah begini, siapa yang rugi?

Ketika buku pertama saya Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007) akan diterbitkan, saya ingat apa yang saya tulis dalam buku kecil saya beberapa tahun yang lalu. Ini yang saya tulis: "Maybe One Day I Will be Famous". Untuk memberi gambaran yang lebih spesifik kepada otak saya, saya bertanya pada diri sendiri tentang passion saya. Apa yang membuat saya bergairah dalam mengerjakannya sehingga saya merasa senang tanpa beban? Ternyata saya suka menulis. Inilah passion saya.

Maka saya sampaikan ke otak bahwa saya ingin menjadi seorang penulis. Saya menulis "skenario" tentang cita-cita saya tersebut. Saya menulisnya dalam bentuk cerita. Dan jadilah sebuah naskah novel. Cerita dalam naskah novel tersebut berisi tentang impian saya yang seorang pembantu rumah tangga menjadi seorang penulis terkenal. Cerita dalam naskah novel tersebut sangat spesifik dan sangat detail, sehingga tanpa saya sadari program yang sangat detail tersebut terpatri dalam pikiran bawah sadar saya. Keyakinan "bisa menjadi seorang penulis" demikian mengkristal dalam jiwa saya. Gelombang energi dari sinyal-sinyal listrik pada otak saya menyebar ke seluruh tubuh untuk mendukung cita-cita saya.

Semua kegiatan saya mengarah ke cita-cita saya tersebut. Ada energi yang luar biasa yang dapat menembus segala keterbatasan yang saya miliki. Dari proses berpikir, memahami, dan menganalisis makna yang saya dapatkan dari proses pembelajaran saya sampai saling bekerjasamanya seluruh anggota tubuh saya dalam mewujudkan keinginan saya tersebut, semua berpusat pada otak.

Seperti yang sudah saya uraikan di depan bahwa otak juga seperti antena yang berhubungan, menginformasikannya kepada alam semesta yang mana alam semesta sudah terprogram untuk mendukung kesuksesan kita. Maka jangan dianggap suatu kebetulan jika alam semesta mendukung saya dalam mewujudkan cita-cita saya tersebut.

Seperti begini: kebetulan ada teman saya yang mengajari saya email dan memperkenalkan milis-milis kepada saya. Kebetulan saya dikirimi buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller oleh seorang senior di milis. Kebetulan buku yang dikirim itu bukunya Edy Zaqeus yang nantinya menjadi mentor saya. Kebetulan artikel saya dimuat di situs Pembelajar.com sampai dibukukannya tulisan-tulisan saya. Serta serba kebetulan-kebetulan yang lain yang mendukung keinginan saya tersebut.

"Dan bukan suatu kebetulan jika impian-impian Anda menjadi kenyataan."

Jadi, tentukan impian Anda, tulis dan imajinasikan ke dalam otak Anda secara detail dan jelas. Maka otak akan bekerja, gelombang energinya akan:

1. Menanamkan ke pikiran sadar dan pikiran bawah sadar kita.

2. Menggerakkan kinerja tubuh sesuai perintah di otak.

3. Menginformasikan ke alam semesta yang sudah diprogram oleh Sang Pencipta untuk mendukung kesuksesan kita.

Tanamlah mimpi Anda mulai sekarang, tumbuh dan berkembanglah serta nikmati prosesnya! Semua terjadi hanya dengan "kehendak" Anda saja. Dan proses dari "ayam menjadi elang" bukan suatu yang luar biasa bagi kita. Bagaimana menurut Anda?[ek]

* Eni Kusuma adalah mantan pembantu rumah tangga (TKW) di Hong Kong yang kini tinggal di Banyuwangi. Ia berhasil menulis buku motivasi berjudul “Anda Luar Biasa!!!” yang diterbitkan oleh Fivestar Publishing. Belum lama ini, profilnya dimuat di harian “Jawa Pos”, “Kaltim Pos”, “Antara”, dll. Saat ini, Eni tengah mengembangkan diri sebagai seorang motivator (public speaker) dengan cara membagikan semangatnya melalui seminar-seminar untuk segala kalangan. Eni dapat dihubungi di HP: 081389641733 atau email: ek_virgeus@yahoo.co.id

LIFE BEYOND REASONS

Oleh: Nathalia Sunaidi


“Derma dan perbuatan kebajikan adalah bibit dari kekayaan dalam kehidupan ini dan kehidupan mendatang.”
~ Nathalia Sunaidi

Terkadang sangat aneh bila kita mengamati kenyataan yang terjadi dalam kehidupan ini. Ada seseorang yang sejak dilahirkan selalu berkelimpahan uang. Ia lahir di keluarga kaya, tumbuh dewasa dalam gemerlap harta dan setelah dewasa ia mewarisi perusahaan dan kekayaan keluarganya. Ia seperti hidup dalam surga dunia. Ada beberapa lahir di keluarga menengah tapi setelah tumbuh dewasa ia menikmati keberhasilan karir dan usaha. Ia menjadi sukses dengan usahanya sendiri. Ia seperti memiliki tangan emas, apa pun yang disentuhnya akan berubah menjadi emas. Bisnis apa pun yang ia jalankan atau perusahaan apa pun yang ia dirikan, di tangannya akan menjadi lahan penghasil uang yang sangat subur.

Tapi, ada juga orang-orang yang sangat merana hidupnya. Sejak kecil ia lahir di keluarga yang sederhana. Ia pintar, rajin, dan menyelesaikan pendidikannya. Setelah dewasa, ia mencoba untuk bekerja tapi semua pekerjaan yang ia dapatkan hanya memberikannya gaji yang pas-pasan. Ia pun mencoba usaha dan membangun bisnis kecil-kecilan tapi selalu bangkrut. Ia mencoba berdagang/membuka toko tapi tokonya sangat sepi. Ia mencoba bekerjasama dengan teman-temannya untuk berbisnis tapi bisnisnya gagal. Semua usaha yang dilakukannya gagal seolah-olah ia memiliki tangan pembawa sial, apa pun usaha yang disentuhnya selalu tidak berhasil.

Bila kita mau merenung akan terlihat ada yang aneh dalam kenyataan hidup ini. Seperti ada missing link yang terjadi dalam fenomena kehidupan. Banyak hukum alam yang sepertinya tidak berjalan dengan baik dalam kenyataan kehidupan ini. Ada orang-orang yang sangat baik dan tulus tapi selalu mengalami kegagalan dalam hidupnya walaupun ia sudah menerapkan berbagai hukum kesuksesan dalam tindakan dan usahanya. Tapi ada orang-orang yang seolah-olah dihujani oleh keberuntungan dalam setiap usaha yang ia lakukan.

Memang, life is beyond reasons, banyak pertanyaan yang tidak ada jawabannya dan menggugah kita untuk terus mencari.

Setelah mendalami Past Life Regression atau Regresi Kehidupan Lalu, saya baru benar-benar menemukan missing link dalam pertanyaan-pertanyaan saya. Ternyata semua kenyataan yang terjadi dalam kehidupan kita memiliki sebab dan sebab itulah yang membuat hidup kita menjadi seperti ini. Dan dari situ saya menemukan bahwa setiap perbuatan kebajikan pasti membawa kebahagiaan dan setiap perbuatan buruk akan membawa penderitaan yang menyengsarakan.

Ada seorang klien yang datang ke saya. Ia bercerita ia dilahirkan di keluarga yang miskin. Walaupun demikian, ia cukup pintar sehingga bisa menyelesaikan pendidikannya. Setelah itu ia mencoba berbagai usaha tapi usahanya sering gagal. Ia banyak mengikuti seminar motivasi dan kesuksesan. Nasihat dan hal-hal yang diajarkan dalam seminar-seminar itu ia terapkan dalam hidup dan usahanya tapi tetap saja keberuntungan belum datang kepadanya. Ia datang ke saya untuk mencari tahu mengapa nasibnya kurang beruntung.

Setelah diregresi, ia masuk ke salah satu kehidupan lalunya. Ia hidup sebagai seorang polisi di Amerika. Suatu hari ia menangkap buronan yang telah meninggal. Dalam saku buronan itu terdapat segepok uang. Tanpa sepengetahuan orang lain ia mengambil uang itu untuk dirinya sendiri, ia tidak melaporkan keberadaan uang itu kepada pihak yang berwenang.

Saya bertanya apakah hal tersebut yang menjadi sebab kemiskinan hidupnya sekarang. Ia berkata, “Pencurian adalah sebab bagi kemiskinan hidup. Pencurian itu mengakibatkan aku dilahirkan di keluarga miskin dan yang menyebabkan setiap usaha yang aku lakukan selalu gagal. Benar-benar setiap bentuk pencurian adalah sebab dari kemiskinan hidup.”

Setelah mengetahui hal tersebut, ia rajin sekali melakukan derma dan kegiatan-kegiatan sosial. Ia membuat kotak derma di kamarnya, ia berderma setiap hari dan setiap minggunya uang derma itu ia berikan kepada orang yang membutuhkan. Setelah beberapa lama melakukan hal itu, ia memberi kabar kepada saya bahwa beberapa bulan belakangan ini penghasilannya melesat berkali-kali lipat dan hidupnya menjadi lebih bahagia.

Seperti yang saya kisahkan dalam buku saya Journey To My Past Lives(Bornrich, 2007) derma dan perbuatan kebajikan adalah akar dari semua keberlimpahan hidup. Dalam buku dikisahkan seorang gadis yang dilahirkan di keluarga kaya, hidupnya penuh keberlimpahan dengan keluarga yang sangat harmonis. Ternyata di kehidupan lalunya ia adalah seorang yang selalu melakukan kebajikan setiap saatnya dan ia mendedikasikan hidupnya untuk menemukan obat yang bisa menyembuhkan orang banyak. Dari perbuatan-perbuatan kebajikan itulah ia sangat berkelimpahan harta di kehidupan sekarang ini.[ns]

* Nathalia Sunaidi adalah seorang hipnoterapis dengan spesialisasi Regresi Kehidupan Lalu (RKL). Ia telah menelurkan sebuah buku laris berjudul “Journey to My Past Lives” (Bornrich, 2007). Untuk membaca artikel-artikel Nathalia lainnya, silakan kunjungi www.nathaliasunaidi.com. Penulis dapat dihubungi nomor telepon 021-70929038 atau di email: nathaliasunaidi@yahoo.com.

MAU SUKSES? JANGAN MANJA!

Oleh: Muk Kuang


Salah seorang wirausaha sukses dari Singapura berbagi pengalaman hidupnya yang penuh dengan perjuangan. Beliau menyebutnya sebagai “pelajaran 10 sen”. Dalam kondisi demam yang tinggi, beliau menggunakan telepon umum untuk menelepon Ayahnya agar dijemput. Saat itu beliau masih berusia 10 tahun. Akan tetapi sang Ayah justru tidak terlalu kasihan dan sedih, melainkan menjawab dengan berkata, “Mengapa kamu menelepon? Mengapa kamu menghabiskan 10 sen hanya untuk hal ini? Apakah kamu bisa mendapatkan kembali uang 10 sen sekarang? Pulang sendiri. Kamu bukannya tidak bertenaga, kamu masih kuat.”

Terkesan memang agak keras didikannya, tapi pelajaran inilah yang justru membuat beliau akhirnya menyadari bahwa hidup ini harus berjuang dan kerja keras, bukan dengan sikap mental yang manja, dan pada akhirnya beliau tahu apa arti sukses.

Bagaimana dengan Anda?

Bagaimana dengan anak Anda?

Bagaimana dengan lingkungan sekitar Anda?

Apakah masih memelihara sikap mental tersebut?

Ayah saya pernah mengatakan, “Jika Anda mendapat sesuatu dengan mudah, maka Anda akan melepaskannya pun dengan mudah. Jika Anda mendapat sesuatu dengan kerja keras, maka Anda akan sangat menghargainya dan akan berpikir dua kali untuk menyia-nyiakannya.”

Pelajaran berharga ini yang selalu ditanamkan kepada anak-anaknya dan membuat saya menyadari bahwa hidup ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, kesuksesan tidak hanya bisa diraih dengan menekan tombol remote dan langsung jadi, tapi butuh sebuah usaha dan kegigihan dari setiap orang.

Selalu belajar untuk tidak menengadahkan tangan kita untuk meminta. Apabila itu adalah pemberian dari orang lain, syukurilah. Tapi jangan pernah meminta jika kita masih bisa melakukan sesuatu dan berusaha. Karena ketika seseorang sudah terbiasa meminta, maka sikap mental ini mulai tertanam dan akan menjadi enggan untuk bekerja keras, sebab segala sesuatunya dengan mudah didapatkannya.

Fenomena ini terkadang masih ada di sekitar kita, apapun yang diminta kepada orangtuanya akan selalu diberikan. Mau mobil baru bisa langsung dipesan, Mau ganti handphone baru bisa langsung dibelikan, dan semua hal yang diinginkan dengan mudah bisa diberikan oleh orangtuanya. Inilah sikap bergantung kepada orang lain. Inilah sikap manja yang justru tidak akan memberikan dampak yang positif kepada sang anak.

Mengutip sebuah pepatah yang sangat inspiratif yaitu, “One who has not tasted bitter, knows not what sweet is.” Seseorang yang tidak pernah mengecap rasa pahit, tidak tahu rasa manis seperti apa. Anda akan jauh menghargai sebuah kesuksesan jika Anda tahu betapa pentingnya sebuah keyakinan, kemauan keras, kerja keras, dan keteguhan hati dalam menjalani proses hidup.

If you want to get something, You have to fight for it.
If you don’t want to fight for it, Never expect anything

Salam Pemenang,
Muk Kuang
People Development Trainer
Co-Founder J&K Counsels (www.jkcounsels.com)
www.ignatiusmk.blogspot.com
mukkuang@gmail.com

MENGAPA PEJABAT MESTI BACA TULISAN BURUH?

Oleh: Bonari Nabonenar


Pasar buku kita, belakangan disemarakkan pula oleh buku-buku karya para buruh [terutama buruh migran]. Anda bisa membeli dan membaca buku Catatan Harian Seorang Pramuwisma karya Rini Widyawati [asal Malang], kumpulan cerpen Penari Naga Kecil karya Tarini Sorrita [Cirebon], kumpulan cerpen Majikanku Empu Sendok karya Denok Kanthi Rokhmatika [Malang], kumpulan cerpen Hong Kong Namaku Peri Cinta [Wina Karni, dkk], kumpulan cerpen Perempuan Negeri Beton karya Wina Karnie [Magetan], kumpulan cerpen Nyanyian Imigran [Etik Juwita, dkk]. Sekadar contoh, buku-buku itu lahir dari rahim para perempuan pekerja rumah tangga [PRT] asal Indonesia yang bekerja di Hong Kong. Oh, masih ada lagi, sebuah buku yang dirilis sebagai buku baru [Jawa Pos, Minggu 1 April 2007] berjudul Anda Luar Biasa!!! karya Eni Kusuma [Banyuwangi]. Eni Kusuma adalah PRT yang selama ini juga bekerja di Hong Kong. Dan Perlu diketahui pula, Anda Luar Biasa!!! itu adalah sebuah buku motivasi, yang tak sembarang penulis bisa melahirkannya.

Masih ada lagi. Dalam bulan April ini dari rahim kreativitas mantan TKI Hong Kong asal Wonosobo, Maria Bo Niok, akan lahir tiga buah buku sekaligus: sebuah kumpulan cerpen, sebuah novel, dan sebuah buku motivasi.

Saya sedang tidak begitu tertarik untuk mengampanyekan kadar kesastraan buku-buku karya para TKI itu, melainkan lebih ingin mengingatkan bahwa buku-buku itu adalah buku-buku yang wajib dibaca dengan sungguh-sungguh oleh para Bupati/Walikota, Gubernur—yang menguasai wilayah penyetor TKI—dan bahkan Presiden Republik Indonesia sebagai orang nomor satu di negara ''pengekspor'' tenaga kerja ini. Wajib juga dibaca dengan sungguh-sungguh oleh kepala departemen [baca menteri], kepala dinas tenaga kerja, dan siapa saja yang bergelut dengan urusan perburuhan [termasuk per-TKI-an]. Sebab apa? Buku-buku itu adalah sumber informasi otentik mengenai dunia perburuhan, adalah rekaman suara buruh [migran] yang sesungguhnya—tanpa memandang lebih rendah suara-suara buruh yang disampaikan dengan saluran lain, selain tulisan.

Melalui tulisan karya para TKI-HK itu, misalnya, kita akan tahu bahwa ternyata fenomena lesbianisme di antara perempuan-perempuan kita begitu pesat 'kemajuannya' di HK, banyak perempuan kita yang menikah dengan lelaki setempat sekadar untuk mendapatkan visa independen dan bukan atas dasar cinta, karena dengan visa independen itu mereka akan leluasa untuk mendapatkan pekerjaan di sektor formal [tidak lagi menjadi PRT] dengan gaji jauh lebih besar daripada gaji PRT. Tetapi, ternyata banyak kasus, setelah menjadi istri lelaki setempat justru lebih diper-babu-kan oleh suami sendiri yang lebih sewenang-wenang daripada majikan lain. Dan masih banyak lagi informasi, misalnya melalui cerpen “Kabut Bukit Lok Fu”, Tania Roos [Malang] bertutur tentang seorang PRT dengan majikan yang cerewetnya minta ampun, dan berupaya menjinakkan sang majikan ini dengan bantuan orang pintar [baca: dukun] di Tanah Air. Sang Dukun mengirimkan secarik gombal [robekan jarik entah jarik siapa] supaya dimasukkan ke dalam periuk sayur ketika sedang memasak. Celakanya, Si PRT lupa mengambil gombal itu ketika menghidangkan sayur buat majikannya. Ketahuan, bukannya sang majikan menjadi semakin 'jinak' malah Si PRT mendapat hadiah kejutan: diinterminit.

Wahai para pejabat [terutama yang mengemban amanat mengurusi soal-soal perburuhan, termasuk per-TKI-an] bacalah dengan sungguh-sungguh tulisan para buruh itu. Dengan begitu kita bisa memandang mereka sebagai manusia yang utuh dengan segenap potensi lahir-batin, jiwa-raga mereka, dan bukan hanya melihat mereka sebagai ''komoditas ekspor.''

Juga, apakah kita akan kembali merelakan persoalan yang satu ini [persoalan buruh kita] lebih dikuasai [baca: lebih dipahami] oleh orang asing, setelah pada sekian banyak persoalan kebudayaan kita, ternyata orang asing, para orientalis, jauh lebih memahaminya daripada kita sendiri. Tak perlu jauh-jauh ambil contoh: ternyata Elizabeth D. Inandiak yang asal Perancis itu jauh lebih paham apa yang mesti diperbuat dengan Serat Centhini daripada orang Jawa yang semestinya berada di urutan pertama daftar pewaris karya agung budaya Jawa itu.

Sekitar tiga bulan lalu saya mendapat kabar bahwa Tania Roos dan Tarini Sorrita hendak menerbitkan kumpulan cerpen dan novel berbahasa Inggris mereka di Hong Kong. Tarini Sorrita, bahkan pernah disosokkan, tampil sepenuh halaman South China Morning Post, ruang yang pernah memuat 'sosok' sastrawan Indonesia sekaliber Ayu Utami dan Sitok Srengenge. Begitulah, di 'luar', buruh yang menulis ternyata dipandang dengan begitu hormat. Bagaimana halnya dengan di kampung halaman mereka sendiri?

Jika Festival Sastra Buruh 2007 yang digelar di Blitar [30 April – 1 Mei] nanti berlangsung sukses, setidaknya kita boleh merasa mendapatkan secercah harapan baru. Sebab, kita pernah mengalami masa-masa ketika para buruh itu: membaca karyanya sendiri pun dilarang. [BN]

* Bonari Nabonenar adalah seorang budayawan, penggerak sastra buruh, dan penggagas Festival Sastra Buruh 2007. Karyanya antara lain; “Cinta Merah Jambu” (JP-Book,2005), “Mimpi dan Badai” (KLogung Pustaka, 2005), dan “Semar Super” (Alfina, 2006). Ia dapat dihubungi di: bonarine@yahoo.com

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman