Oleh: J. Marsello Ginting
"Akan kuhargai setiap detik,menit,dan jam.
Karena tidak sedikit pun dapat ditarik kembali.
Hari ini tidak akan kusia-siakan seperti waktu lalu,yang terbuang percuma.
Akan kupakai waktuku untuk membuat sesuatu yang kuidamkan terjadi."
Demikian empat kalimat syair yang saya dapatkan di internet beberapa hari sebelum menulis tulisan ini. Saya telah membaca beberapa buku yang bercerita tentang penggunaan waktu. Bermacam-macam judul buku. Ada manajemen waktu, penggunaan waktu, pengendalian waktu, dan lain-lain banyak lagi. Pada buku mereka, para pakar telah banyak mengemukakan pendapatnya tentang waktu. Juga, mereka memiliki bermacam-macam sudut pandang yang berbeda.
Allan Lakein, presiden dari satu-satunya perusahaan di AS yang secara khusus mencurahkan perhatiannya pada masalah manajemen waktu mengatakan, "Umumnya orang tidak berpikir dalam kerangka menit-demi-menit". Lebih lanjut dia mengatakan, ”Banyak orang menghabiskan waktu sisa hidupnya dengan melakukan berbabagi hal yang tidak ada kaitannya dengan sasarannya”.
Sedangkan Declan Treachy mencatat ada 10 pencuri waktu yang paling umum, yaitu: 1) Tak menemukan apa yang dicari. 2) Pertemuan. 3) Telepon. 4) Interupsi. 5) Penangguhan. 6) Kertas kerja yang kecil-kecil. 7) Kemelut. 8) Urutan pelimpahan yang terbalik. 9) Ingin segalanya sempurna. 10) Gangguan. Sepintas kelihatannya sepele, namun pencuri ini dapat merenggut waktu setiap orang. Tanpa disadari menelan milik manusia yang berharga itu. G.C.Robinson menyebutkan 'mengulur-ngulur waktu dan kesibukan tak menentu' sebagai pemborosan waktu.
Ternyata waktu sangat erat hubungannya dengan sasaran hidup seseorang. Masa depan merupakan sasaran setiap orang. Demikian sasaran seseorang itu ada di masa depan. Dengak kata lain, bila kita membicarakan waktu tidak terlepas dari sasaran.Kita tidak dapat membuat rencana ke masa lalu tetapi ke masa depan. Jim Dornan & DR. John C. Maxwell, dalam bukunya Strategi Menuju Sukses mengatakan, "Jika Anda menghargai waktu Anda, rencanakanlah lebih dahulu bagaimana Anda akan menghabiskan waktu Anda."
Lebih lanjut, Allan Lakein menjelaskan bahwa kita sering dengan cara serampangan menjalani sisa kehidupan ini. Bergerak tetapi tidak sampai ke tujuan. Hal ini erat sekali dengan apa yang dikatakan Declan Treacy tentang bagaimana kita menggunakan waktu. Kita harus memeriksa Masdep (masa depan) itu.Yang dimaksudkan adalah rencana ke depan. Peter Drucker, Bapak Manajemen Amerika, menegaskan, "Waktu adalah sumber yang paling langka dan tanpa dikelola dengan benar tidak ada hal apa pun yang bisa dikelola lagi."
Saat kita sedang tidur, duduk, atau sedang istirahat, bermalas-malas, waktu tetap berjalan. Waktu tidak pernah beristirahat. Tidak pernah lelah atau capek. Kehebatan lain dari waktu adalah tidak dapat dibeli dengan harga seberapa pun. Ketika seorang penemu, Thomas Alfa Edison ditanya tentang hal yang paling penting di dunia, dia menjawab," Waktu."
Kalau benar waktu tidak dapat dibeli, berarti waktu itu mahamahal. Dia termasuk keluarga maha, Mahakuasa yang selalu hidup dan bergerak ke depan. Kita mustahil dapat melawan yang memiliki predikat sebagai Mahakuasa. Kalau kita tidak dapat melawannya, apalagi kalahkan, sebaiknya kita jalin pertemanan. Kita berdamai dengannya, menjadikan dia sebagai sekutu untuk rencana masa depan. Kita perlu mengenali dan mempelajari sekutu kita.
Sebagai teman sekutu, kita harus mengenal sifatnya dengan baik. Kita tidak dapat mengabaikan waktu dalam gerak pencapaian tujuan. Kalau kita tidak menjadikan waktu itu sebagai sekutu yang baik, maka kita menjadikan dia sebagai lawan kita. Dia dapat menjadi lawan yang menghancurkan rencana masa depan kita. Sebuah penyelidikan para sarjana, dalam buku Dinamis dan Kreatif karangan Carl G. Goeller Cs, mengumumkan bahwa seorang anak menggunakan 12.000 jam di sekolah sepanjang umur hidupnya. Sedangkan, 15.000 jam untuk menonton televisi.
Wow,luar biasa.Ini suatu penelitian tahun 80-an. Tentu penggunaan waktu ini lebih gila lagi setelah seperempat abad belakangan ini. Hal ini sejajar dengan perkembangan media elektronik yang sudah mewabah di setiap pelosok dunia.
Sekali waktu Benyamin Franklin pernah bertanya kepada seseorang, "Apakah Anda mencintai kehidupan? Kalau jawabannya, "Ya" maka Anda jangan membuang-buang waktu. Karena, waktu adalah inti kehidupan. Kehidupan dalam diri kita adalah citra Allah. Sebagai gambar Allah, diri kita sudah ada komponen dasar yang tetap dan baku untuk mencapai kesuksesan. Dalam pemikiran Yunani pribadi atau diri kita, sebagaimana disebutkan Santo Paul memiliki tiga komponen yang satu padu: tubuh, jiwa, dan roh. Komponen ini merupakan gambaran, sekaligus sebagai sumber bahan dasar kesuksesan. Kita dapat mengkopi gambaran kesusksesan ini menjadi bahan pelajaran kesuksesan bagi diri kita masing-masing.
Kesuksesan atau kehancuran diri kita sangat tergantung bagaimana kita mengelola ketiga komponen itu dalam waktu tertentu. Ketiga komponen ini dapat diibaratkan warna dasar cat seorang pelukis, yaitu merah, biru, kuning, dan hitam. Pelukis yang pintar dan bodoh diukur dari waktu dan kemampuan mereka meracik ragam warna dasar pada kanvas.
Kesuksesan dalam memanfaatkan waktu selalu dengan langkah pertama, langkah kedua, langkah ketiga, dan seterusnya. Seperti urutan langkah, kesuksesan penggunaan waktu secara keseluruhan merupakan gambaran baku yang musti dilalui. Seperti Allan Lakein, Declan Treacy, Phil Murray, dan Santo Paul memiliki gagasan yang hampir sama dalam mencapai kesuksesan. Menurut mereka, minimal ada tiga unsur penggunaan waktu yang penting untuk mencapai kesuksesan.
Pertama, menetapkan tujuan. Apakah tujuan hidup Anda? Berdiamlah sejenak. Pikirkan secara mendalam. Tulis apa pun yang terlintas di dalam pikiran Anda, fisik, keluarga, sosial, keuangan, dan lain-lain. Lakein berkata, "Kekuatan yang besar akan timbul bila kita memiliki tujuan hidup yang jelas." Dalam kehidupan sehari-hari sering sesuatu hal yang sesunggungnya penting kelihatan biasa saja. "Kelihatannya", kata Schuller, "Sebagian besar manusia membiarkan hidupnya mengalir begitu saja. Hanya sedikit saja, sangat sedikit, memutuskan apa yang akan terjadi di dalam kehidupan mereka." Demikian Robert H.Schuller, pakar motivasi dan pendiri The Crystal Cathedral, Garden Grove California itu menambahkan.
Selaku teman sekutu, bersama waktu kita harus bergerak menuju sasaran. John Galsworty berkata, "Kalau Anda tidak memikirkan masa depan, Anda tidak akan mempunyai masa depan." Hampir senada dengan pendapat Galsworty, Hellen Keller, gadis buta yang menjamah dunia dengan dengan kisahnya, mengilhami ribuan orang. Ketika seseorang bertanya, "Menurut Anda, apa yang lebih buruk ketimbang menjadi buta? Dia dengan segera menjawab, "Tidak memiliki visi." Visi adalah sasaran yang jelas terlihat oleh mata pikiran kita. Nampaknya, Keller memahami benar betapa pentingnya memiliki suatu penglihatan ke masa depan yaitu tujuan hidup.
Kedua, memperlengkapi rencana-rencana tindakan atau team work.
Seperti sebuah kesebelasan pemain sepak bola harus memiliki tim yang solid. Memiliki kerja sama yang bagus, terarah, dan siap pakai. Membuat penerapan-penerapan gagasan yang mudah untuk mencapainya. Suatu tim kesebelasan sepak bola harus dapat mengukur jangka waktu pertandingan. Jangan sampai terjadi pemborosan waktu. Demikian dalam mencapai sasaran hidup, kita membutuhkan perencanaan waktu.
Susun rencana per hari, per minggu, per bulan dan seterusnya. Tuliskan janji-janji dan laksanakan dengan setia serta tepat waktu. "Membaca sebuah buku mengenai kesuksesan," kata Phil Murray, "Adalah selingan yang membuang-buang waktu bila Anda tidak mempraktikkan secara bijaksana pengetahuan yang baru saja Anda peroleh." Sangat mengesankan apa yang dituliskan oleh Nido R. Qubein. Dalam bukunya Langkah Praktis Menuju Sukses, dia mengatakan, "Rencana-rencana yang dibuat yang terbaik, rencana yang paling rumit dan teragung dari tujuan, tidak ada artinya kecuali seseorang membuatnya jadi kenyataan." Benar apa yang dia utarakan. Kita dapat membaca buku motivasi dan mendengarkan pidato-pidato yang memberi motivasi, dan mendengarkan kaset-kaset hingga ungkapan dengan nada tinggi keluar dari mulut kita seperti air terjun Siguragura. Tetapi tak ada yang berarti akan terjadi, sampai kita berbuat sesuatu tentang apa yang telah kita baca dan dengar itu.
Kebutuhan yang mendesak saat ini, menurut Qubein, bukanlah pengetahuan yang lebih banyak yang disebut "ledakan pengetahuan" yang telah menjamur begitu pesat. Apa yang dibutuhkan dunia adalah tindakan-tindakan yang membangun dengan orang-orang yang pandai dan kemauan baik. Menarik sekali apa yang dituliskan Johanes Lim, dalam bukunya No Pain No Gain bahwa "Ttidak banyak orang yang berjuang keras untuk merealisasikan tujuan hidupnya selangkah demi selangkah secara sadar. Sayang sekali, karena sedikit sekali." Demikian keluhannya. Dan itulah menurut dia salah satu penyebab mengapa orang sukses begitu sedikit sekali. Sedangkan orang marginal alias pinggirian begitu banyak.
Ketiga, kepemimpinan atau leadership. Gambaran, blue print kepemimpinan sebenarnya sudah tercipta dalam diri kita masing-masing atau kelompok saat bergerak menuju kesuksesan.
Diri kita masing-masing merupakan bagian terkecil dari kelompok. Bercermin dari susunan diri kita, yaitu tubuh, jiwa, dan roh tadi, maka terlihat bahwa posisi jiwa terdapat antara tubuh dan roh. Gambaran ini merupakan gambaranan kesuksesan penggunaan waktu. Roh keberhasilan merupakan tujuan. Dia merupakan cita-cita atau tujuan hidup dengan bermacam-macam bentuk dan ungkapan. Sebelum kita melangkah kepada tujuan, kita membutuhkan pemimpin tangguh. Pemimpin tangguh dalam diri kita adalah jiwa. Posisi dan tugas pemimpin dalam diri kita amat sangat menentukan tercapainya suatu tujuan. "Segala sesuatu berawal dan berakhir pada kepemimpinan," kata Jim Dornan & John C. Maxwell.
Sering kali kita terbalik menapaki waktu kesuksesan. Bertindak, kemudian berpikir. Bukan berpikir selanjutnya bertindak. Dua ribu tahun yang lalu Santo Paul sudah mengajarkan urutan sukses penggunaan waktu, yaitu: percaya dibarengi dengan perbuatan. Thomas sebagai duplikat manusia masa kini yang cenderung melihat dulu baru percaya Nabi Isa (Yesus) menegur Thomas agar berbalik dari kekeliruannya. Dia menghimbau agar kita mengubah cara kita menggunakan waktu menjadi percaya dulu baru melihat alias berpikir sebelum bertindak!
William James, Bapak Psikologi Amerika awal abad 20 mengatakan bahwa penemuan terbesar dunia saat itu bukanlah ilmu fisika, tetapi daya kekuatan pikiran (dalam jiwa). Seseorang dapat mengubah hidupnya dengan mengubah cara berpikirnya.Dalam diri kita,jiwa merupakan pemimpin utama.Jiwa yang memuat di dalamnya rumpun pikiran,kehendak,dan emosi menjadi bahan diskusi yang menarik sekali di abad modern ini juga perlu kita pelajari !
Mengapa kata 'jiwa' ditempatkan di tengah antara kata 'tubuh' dan 'roh'? Itu bukan suatu kebetulan, melainkan mempunyai makna tertentu. Itu suatu gambaran untuk dijadikan sebagai contoh bagi siapa saja berniat dan belajar jadi pemimpin. Pemimpin sukses selalu berada di tengah anggota. Dengan demikian dia mudah berhubungan ke atas dan ke bawah. Antara kepentingan tujuan dan bawahan. Jadi tidak melulu berorientasi ke tujuan, tetapi juga melihat kepentingan bawahan. Ini berlaku bagi pemimpin segala bentuk organisasi, perusahaan, dan negara sekalipun. Sebagai pemimpin yang ditengah dia bertanggungjawab membentuk mindset dan goal setting dalam pencapaian waktu kesuksesan. Dia harus mampu memberi semangat kepada bawahan agar jangan loyo sebelum mencapai cita-cita.
Dalam perjalanan pencapaian tujuan, kita sering cenderung mengabaikan jiwa. Kita mengedepankan kehendak tubuh. Misalnya, kalau melihat makanan yang dikemas dengan bagus dan indah, kita sering langsung mau mencoba menikmatinya. Kita lupa bertanya dalam hati kita, apakah itu berguna untuk kesehatan kita sendiri? Atau, ada apa di balik keindahan itu? Kita cenderung lupa meminta nasihat jiwa sebagai pemimpin. Sembilan puluh persen perkelahian dapat dihindarkan seandainya kita dapat berpikir sebelum berkelahi.
Dari uraian di atas kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa pengendalian waktu dan mengenal unsur penggunaan waktu sangat penting. Tahapan ini sangat penting bagi kita ketika kita membentuk team work dan mengambil tindakan guna mencapai tujuan. Unsur-unsur pencapaian sukses dalam diri kita atau kelompok memiliki suatu tahapan baku. Jiwa sebagai unsur ketiga menduduki tempat sentral, menempati posisi sangat strategis dan penting. Jiwa, sebagai pemimpin dapat mengarahkan kita terus-menerus secara terfokus kepada tujuan, yaitu kesuksesan. Kegiatan ini bergerak dalam waktu. Gambaran ini sederhana dan mudah dimengerti melalui susunan diri kita, sebagai citra Allah. Sudahkah kita menyadarinya dan menerapkannya?[jmg]
* J. Marsello Ginting lahir di Sibolangit Deli Serdang, Sumatera Utara, pada 19 April 1958. Penghobi bacaan, traveling, dan koleksi buku-buku, khusus tentang motivasi dan pengembangan diri. Telah dikaruniai empat anak, hasil perkawinannya dengan Henny Helena. Marsello Ginting memiliki pengalaman kerja yang beragam, mulai dari percetakan di Pangkal Pinang, Bangka, Social Worker for Galang Island Refugees, guru SMA negeri dan swasta di Bandung. Setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Filsafat Unpar Bandung (1988) ia kemudian hijrah ke Jakarta dan bekerja di Departemen Agama Pusat Jakarta. Karena tidak betah, ia kemudian bekerja sebagai Building Waterproofing Contractor. Ia pernah juga menjabat posisi manajerial di sejumlah perusahaan di Jakarta. Dua tahun terakhir ini ia dan beberapa rekannya telah mendirikan Yayasan Pondok Gede, Great House Management, untuk membantu masyarakat yang terkena PHK dan jobless. Ia dapat dihubungi di email: gintingshow@yahoo.com.
Senin, 03 November 2008
A SPLASH WATER: SEORANG PENJUAL KORAN
Oleh: Joycelina
Seminggu yang lalu, saya mendapat kiriman sms dari seorang teman saya, sebut saja dia si A. Isi sms tersebut membuat saya lebih aware tentang pentingnya menghargai orang sekitar dan terutama mitra usaha. Isi sms itu sebenarnya sangat sederhana, hanya menceritakan pengalaman si A pagi itu. Namun bagi saya, seperti percikan air dingin yang mengingatkan saya akan satu hal yang sempat terlupakan.
Cerintanya begini. Setiap sabtu dan minggu pagi, bapak penjual koran di sekitar kos si A mengantarkan koran ke depan pintu kamarnya. Karena berencana pindah kos ke daerah yang cukup jauh, si A menghentikan langganan korannya. Hari itu adalah hari minggu terakhir bulan November. Bapak penjual koran mengetuk pintu kamar si A (biasanya si Bapak ini hanya meletakan korannya di depan pintu saja). Maka, si A pun membuka pintu dan menemukan si bapak berdiri di depannya.
Si A pun menanyakan ada masalah apa kepada si Bapak penjual koran ini. Si Bapak dengan sikap yang rendah hati dan tulus berkata, “Maaf, Mas. Bapak cuma mau berterima kasih karena mas telah berlangganan koran. Hari ini kan hari yang terakhir, mohon maaf kalau selama ini ada yang salah...”
Saat bapak penjual koran selesai mengucapkan kata-katanya, langsung terbesit perasaan sedih dan haru di hati si A. Si A merasakan begitu berat untuk menghentikan langganannya walaupun dia memang sudah harus pindah.
Bukan hanya si A yang merasa terharu. Saya yang membaca smsnya saja merasa seperti disiram air dingin. Bekerja di perusahaan yang target tahunnya bermiliar-milyar rupiah, belum pernah saya mengucapkan terima kasih dan maaf yang begitu tulus kepada klien-klien saya. Begitu pula dengan teman-teman kerja saya, belum pernah saya dibuat sadar seperti ini. Sebagai informasi tambahan, nilai langganan si A selama setahun sekitar Rp400 – 500 ribu dan si A hanya bertahan selama 1 tahun di kos tersebut.
Lesson to be learned
Mungkin saja cerita ini begitu kecil bagi sebagian orang. Tapi mungkin sekedar untuk mengingatkan kita semua akan pentingnya rasa menghargai, cerita ini cukup bagus sebagai alarm bagi kita semua. Kapan terakhir kita benar-benar menghargai sahabat, hadiah, pekerjaan, atau klien yang kita miliki?
Banyak yang berkoar-koar tentang betapa pentingnya network, betapa luasnya network yang mereka miliki, tapi sebagian mungkin masih harus belajar dari si Bapak penjual koran di atas. Reaksi teman saya, si A adalah bukti paling nyata bahwa betapa pentingnya rasa dihargai bagi seorang klien. Saya yakin bila si A masih punya kesempatan, maka dia tidak akan menghentikan langganannya.
Bila Anda tidak percaya, cobalah lakukan dalam keseharian Anda. Perhatikan perubahan yang terjadi pada Anda dan orang-orang di sekitar Anda, klien-klien Anda. Mulailah dengan hal yang paling kecil, mengucapkan terima kasih dan maaf dengan tulus kepada siapa pun, bahkan seorang sopir, bawahan, penjual buah , dll.
Semoga langkah-langkah tersebut bisa membuat hidup Anda lebih berkualitas. Terima Kasih.[j]
* Joycelina saat ini adalah seorang marketing di sebuah perusahaan swasta. Di sela-sela kesibukannya tersebut, ia juga menjalankan profesi sebagai desainer grafis lepas. Semasa kuliah pernah aktif sebagai President of Bina Nusantara English Club periode 2004-2005. Joycelina dapat dihubungi di email: joyce@geosinindo.co.id.
Seminggu yang lalu, saya mendapat kiriman sms dari seorang teman saya, sebut saja dia si A. Isi sms tersebut membuat saya lebih aware tentang pentingnya menghargai orang sekitar dan terutama mitra usaha. Isi sms itu sebenarnya sangat sederhana, hanya menceritakan pengalaman si A pagi itu. Namun bagi saya, seperti percikan air dingin yang mengingatkan saya akan satu hal yang sempat terlupakan.
Cerintanya begini. Setiap sabtu dan minggu pagi, bapak penjual koran di sekitar kos si A mengantarkan koran ke depan pintu kamarnya. Karena berencana pindah kos ke daerah yang cukup jauh, si A menghentikan langganan korannya. Hari itu adalah hari minggu terakhir bulan November. Bapak penjual koran mengetuk pintu kamar si A (biasanya si Bapak ini hanya meletakan korannya di depan pintu saja). Maka, si A pun membuka pintu dan menemukan si bapak berdiri di depannya.
Si A pun menanyakan ada masalah apa kepada si Bapak penjual koran ini. Si Bapak dengan sikap yang rendah hati dan tulus berkata, “Maaf, Mas. Bapak cuma mau berterima kasih karena mas telah berlangganan koran. Hari ini kan hari yang terakhir, mohon maaf kalau selama ini ada yang salah...”
Saat bapak penjual koran selesai mengucapkan kata-katanya, langsung terbesit perasaan sedih dan haru di hati si A. Si A merasakan begitu berat untuk menghentikan langganannya walaupun dia memang sudah harus pindah.
Bukan hanya si A yang merasa terharu. Saya yang membaca smsnya saja merasa seperti disiram air dingin. Bekerja di perusahaan yang target tahunnya bermiliar-milyar rupiah, belum pernah saya mengucapkan terima kasih dan maaf yang begitu tulus kepada klien-klien saya. Begitu pula dengan teman-teman kerja saya, belum pernah saya dibuat sadar seperti ini. Sebagai informasi tambahan, nilai langganan si A selama setahun sekitar Rp400 – 500 ribu dan si A hanya bertahan selama 1 tahun di kos tersebut.
Lesson to be learned
Mungkin saja cerita ini begitu kecil bagi sebagian orang. Tapi mungkin sekedar untuk mengingatkan kita semua akan pentingnya rasa menghargai, cerita ini cukup bagus sebagai alarm bagi kita semua. Kapan terakhir kita benar-benar menghargai sahabat, hadiah, pekerjaan, atau klien yang kita miliki?
Banyak yang berkoar-koar tentang betapa pentingnya network, betapa luasnya network yang mereka miliki, tapi sebagian mungkin masih harus belajar dari si Bapak penjual koran di atas. Reaksi teman saya, si A adalah bukti paling nyata bahwa betapa pentingnya rasa dihargai bagi seorang klien. Saya yakin bila si A masih punya kesempatan, maka dia tidak akan menghentikan langganannya.
Bila Anda tidak percaya, cobalah lakukan dalam keseharian Anda. Perhatikan perubahan yang terjadi pada Anda dan orang-orang di sekitar Anda, klien-klien Anda. Mulailah dengan hal yang paling kecil, mengucapkan terima kasih dan maaf dengan tulus kepada siapa pun, bahkan seorang sopir, bawahan, penjual buah , dll.
Semoga langkah-langkah tersebut bisa membuat hidup Anda lebih berkualitas. Terima Kasih.[j]
* Joycelina saat ini adalah seorang marketing di sebuah perusahaan swasta. Di sela-sela kesibukannya tersebut, ia juga menjalankan profesi sebagai desainer grafis lepas. Semasa kuliah pernah aktif sebagai President of Bina Nusantara English Club periode 2004-2005. Joycelina dapat dihubungi di email: joyce@geosinindo.co.id.
AIM HIGH
Oleh: Ignatius Muk Kuang
"Bercita-citalah setinggi langit." ~ Pepatah Bijak
Kalimat ini sangat populer di telinga saya sejak masih SD. Dari dulu sebenarnya anak-anak sudah diajarkan secara tidak langsung untuk bermimpi besar, bercita-cita yang tinggi.
Tapi seiring berjalan waktu, dan semakin dewasa seseorang justru yang terjadi malah sebaliknya. Banyak orang justru tidak berani lagi bercita-cita setinggi langit saat ini, apalagi melihat situasi dan kondisi yang ada di lingkungannya, melihat keterbatasan dirinya, dan kekurangan lainnya yang dianggap sudah sangat tidak memungkinkan lagi untuk mempunyai tujuan yang besar.
Mengapa Anda menjadi khawatir menetapkan tujuan yang besar?
Apa yang membuat Anda takut untuk menetapkan target yang tinggi?
Ada yang mengatakan, "Untuk apa punya tujuan besar, nanti kalau tidak tercapai bisa stres. Istilahnya kalau mimpi sampai lantai 10 kalau tidak terjangkau dan jatuh akan sangat sakit sekali."
Dulu saya juga berpikir demikian, tapi kalau tidak pernah punya tujuan besar rasanya lebih menyedihkan karena tidak tahu harus mengejar apa dalam hidup ini.
Pikiran saya kalau tidak bisa sampai lantai 10, dan jatuh setidaknya nanti ada di lantai 9 atau 8. Daripada saya bermimpi di lantai 2 dan jatuh di lantai 1, kenapa tidak sekalian tinggi mimpinya.
Kemudian kembali saya berpikir, mengapa harus membayangkan akan jatuh dulu, mengapa harus membayangkan akan tidak tercapai? Mengapa tidak berpikir, kalau nanti tercapai apa tindakan selanjutnya?
Jadi fokus utama pemikiran kita akan mempengaruhi keputusan kita untuk menentukan tujuan. Jika fokusnya negatif maka kecenderungan tujuannya akan tidak besar, begitu pula sebaliknya jika fokus Anda positif maka tujuan yang akan Anda buat akan lebih tinggi.
Jangan pernah mau membatasi diri Anda oleh siapa pun, dan dalam kondisi apa pun. Buang semua fokus negatif, hambatan yang ada dalam pikiran, karena ini yang akan membuat Anda menghentikan atau mematikan tujuan besar dalam hidup Anda. Lakukan suatu yang luar biasa untuk hidup Anda.
If You Can Aim High, Why You Should Aim Low?
Salam Sukses!
* Ignatius Muk Kuang adalah seorang trainer, speaker (motivation, self-development, salesmanship, presentation, public speaking). Ia dapat dihubungi di email : mukkuang@gmail.com atau blog: http://ignatiusmk.blogspot.com
"Bercita-citalah setinggi langit." ~ Pepatah Bijak
Kalimat ini sangat populer di telinga saya sejak masih SD. Dari dulu sebenarnya anak-anak sudah diajarkan secara tidak langsung untuk bermimpi besar, bercita-cita yang tinggi.
Tapi seiring berjalan waktu, dan semakin dewasa seseorang justru yang terjadi malah sebaliknya. Banyak orang justru tidak berani lagi bercita-cita setinggi langit saat ini, apalagi melihat situasi dan kondisi yang ada di lingkungannya, melihat keterbatasan dirinya, dan kekurangan lainnya yang dianggap sudah sangat tidak memungkinkan lagi untuk mempunyai tujuan yang besar.
Mengapa Anda menjadi khawatir menetapkan tujuan yang besar?
Apa yang membuat Anda takut untuk menetapkan target yang tinggi?
Ada yang mengatakan, "Untuk apa punya tujuan besar, nanti kalau tidak tercapai bisa stres. Istilahnya kalau mimpi sampai lantai 10 kalau tidak terjangkau dan jatuh akan sangat sakit sekali."
Dulu saya juga berpikir demikian, tapi kalau tidak pernah punya tujuan besar rasanya lebih menyedihkan karena tidak tahu harus mengejar apa dalam hidup ini.
Pikiran saya kalau tidak bisa sampai lantai 10, dan jatuh setidaknya nanti ada di lantai 9 atau 8. Daripada saya bermimpi di lantai 2 dan jatuh di lantai 1, kenapa tidak sekalian tinggi mimpinya.
Kemudian kembali saya berpikir, mengapa harus membayangkan akan jatuh dulu, mengapa harus membayangkan akan tidak tercapai? Mengapa tidak berpikir, kalau nanti tercapai apa tindakan selanjutnya?
Jadi fokus utama pemikiran kita akan mempengaruhi keputusan kita untuk menentukan tujuan. Jika fokusnya negatif maka kecenderungan tujuannya akan tidak besar, begitu pula sebaliknya jika fokus Anda positif maka tujuan yang akan Anda buat akan lebih tinggi.
Jangan pernah mau membatasi diri Anda oleh siapa pun, dan dalam kondisi apa pun. Buang semua fokus negatif, hambatan yang ada dalam pikiran, karena ini yang akan membuat Anda menghentikan atau mematikan tujuan besar dalam hidup Anda. Lakukan suatu yang luar biasa untuk hidup Anda.
If You Can Aim High, Why You Should Aim Low?
Salam Sukses!
* Ignatius Muk Kuang adalah seorang trainer, speaker (motivation, self-development, salesmanship, presentation, public speaking). Ia dapat dihubungi di email : mukkuang@gmail.com atau blog: http://ignatiusmk.blogspot.com
HATI-HATI DENGAN LIDAH KONSUMEN
Oleh: Ardian Syam
Saya tidak sedang berniat menutup rezeki para bintang iklan. Tulisan ini juga sangat baik untuk dibaca para bintang iklan.
Teman saya punya anak perempuan. Teman saya menceritakan kata-kata sang anak perempuan kepada kami. Ada seorang bintang iklan yang cukup dikenal oleh semua orang termasuk anak-anak. Ketika dia mengiklankan produk lain, sama sekali tidak menjadi masalah. Masalah kemudian timbul ketika dia membintangi iklan produk makanan. Sang anak minta dibelikan makanan tersebut, ternyata buat cita rasa si anak perempuan, makanan tersebut tidak enak.
Lalu kemudian bintang tersebut mengiklankan produk minuman yang bisa dikonsumsi oleh anak-anak. Sang anak perempuan juga kali ini minta dibelikan, dan sekali lagi buat cita rasa sang anak, minuman tersebut tidak enak. Maka berkomentarlah sang anak, “Ma, ntar kalau si ... (nama sang bintang iklan terpaksa saya rahasiakan) iklan lagi, saya gak mau beli, ah”.
Menggelikan memang kalau kita yang menjadi konsumen, tetapi akan sangat berbahaya bagi kita sebagai produsen atau biro iklan. Benarkah bahwa makanan dan minuman tersebut memang tidak enak? Ataukah hanya cita rasa sang anak saja yang memang agak berbeda dengan cita rasa orang kebanyakan? Kita tidak pernah tahu tanpa survei.
Ketika kita melakukan survei untuk produk kita dengan mengundang banyak orang sekaligus ke satu tempat dan mencoba secara gratis produk kita maka perlu diwaspadai komentar dari para calon konsumen. Kebanyakan konsumen Indonesia bila diberikan produk secara gratis akan menjadi sungkan untuk memberikan komentar negatif.
Lebih baik mengkategorikan komentar hanya pada dua kelompok saja. Enak dan tidak enak. Bila konsumen memberi komentar bahwa rasa produk Anda hanya lumayan, maka kategorikan lah kepada tidak enak. Sayang sekali, komentar tipe ini tidak bisa kita tanya lebih jauh. Bila konsumen mengomentari bahwa produk Anda enak, tanya saja lebih jauh mengapa dia bilang rasa produk Anda enak, dan kalau dia tidak menjawab dengan jelas maka kategorikan saja bahwa dia menyatakan produk Anda tidak enak.
Ketika konsumen berkomentar bahwa rasa produk Anda tidak enak, kelompok ini juga bisa ditanya lebih jauh. Lebih baik catat secara rapi dan analisa kembali jawaban mereka. Inilah kelompok terbaik yang Anda harapkan. Karena jawaban mereka dapat Anda gunakan untuk memperbaiki kualitas rasa produk Anda.
Saya pernah lihat sebuah iklan yang menunjukkan bahwa sebuah kamera tersembunyi diarahkan kepada rak pajang yang memuat produk yang sedang diiklankan. Mudah-mudahan produk tersebut memang sedang melakukan survei sungguh-sungguh. Karena di iklan tersebut terlihat ada berapa banyak orang yang mengambil produk itu dalam satu jam saja. Cara begini juga baik untuk membuktikan bahwa produk Anda sudah diminati masyarakat. Tetapi ketika Anda mendapatkan bahwa produk Anda tidak diminati, Anda tidak dapat mencari tahu mengapa hal tersebut terjadi.
Balik lagi ke cara mengundang orang banyak untuk menikmati produk kita. Bila sedang mencoba produk minuman, maka di tempat yang tidak terlalu jauh sediakan pula meja yang menyajikan air minum dalam kemasan atau air minum dalam kemasan secara gratis dan upayakan tidak ada tanda-tanda bahwa meja itu disediakan oleh perusahaan Anda. Anda dapat menghitung berapa banyak orang yang mencoba produk Anda dan kemudian minta lagi serta berapa banyak yang kemudian minta air minum dalam kemasan tersebut.
Jangan berkecil hati, orang-orang yang meminta air minum dalam kemasan, secara implisit sedang menyatakan bahwa produk Anda tidak enak buat mereka. Tanpa perlu Anda tanyai, mereka akan berkomentar tentang produk minuman Anda ketika sedang minta air minum dalam kemasan. Sediakan saja alat perekam yang cukup baik sehingga Anda bisa melakukan analisa kemudian.
Ketika Anda sedang ingin mencobakan produk makanan, sama saja. Di meja lain yang tidak terlalu dekat tetapi juga tidak terlalu jauh Anda sediakan kue-kue kecil dari toko kue yang sudah dikenal mempunyai kue yang enak. Juga sediakan air minum dalam kemasan. Sama dengan minuman tadi, Anda dapat menghitung jumlah orang yang tidak mengambil lagi produk Anda melainkan mengambil kue atau air minum dalam kemasan tersebut dan pastikan ada rekaman yang bisa Anda analisa kemudian.
Berani mencoba yang lebih ekstrim untuk mendapatkan komentar yang jujur tentang produk Anda?
Bila Anda sedang masuk ke pasar yang sudah diisi oleh produk lain, percayalah bahwa sudah ada market leader yang sudah dikenal konsumen di pasar tersebut. Konsumen bukan hanya sudah mengenal produk sang market leader tetapi juga sudah mengenal ciri-ciri khas petugas mereka.
Turunkan tim dengan pakaian seragam yang mirip baik potongan, motif dan warna dengan seragam petugas dari sang market leader. Tentu saja Anda tidak dapat membiarkan tim menggunakan atribut atau logo khusus yang biasa dipakai mereka. Sebar tim Anda langsung di dekat-dekat supermarket dan secara tidak formal menanyai orang-orang yang lewat tentang produk Anda. Besar kemungkinan jawaban mereka seperti ini “Produk itu memang ... (murah/diberi kemasan yang menarik/dikemas dengan jumlah yang tidak terlalu banyak, atau hal lain yang memang menjadi unggulan produk Anda) tetapi rasa produk itu tidak begitu enak seperti produk kalian.”
Mengapa demikian? Tentu saja, konsumen mengira bahwa mereka sedang disurvey oleh tim yang sedang diturunkan oleh sang market leader. Tim Anda bisa meminta jawaban lebih menyeluruh tentang mengapa mereka menyatakan produk Anda tidak enak. Anda punya begitu banyak jawaban untuk dianalisa dan digunakan sebagai dasar memperbaiki kualitas rasa produk Anda.
Berbohong? Tidak juga, Anda tidak menyatakan bahwa tim tersebut adalah tim yang diturunkan oleh kompetitor Anda, karena tidak ada atribut, badge, kartu nama, atau logo sang kompetitor. Tim tersebut juga tidak menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang ditugaskan oleh kompetitor Anda. Tim tersebut juga tidak sedang menjelek-jelekkan produk kompetitor, tim tersebut bahkan sedang mengumpulkan komentar tentang kejelekan produk Anda. Andai pun kemiripan memang disengaja, tetapi hal tersebut toh tidak dalam tujuan untuk menjatuhkan nama produk atau nama sang kompetitor. Jadi mengapa tidak berani melakukan hal tersebut.
Hal yang lebih penting adalah ketika Anda sedang ingin membuat iklan di televisi. Produk Anda mungkin sudah melalui serangkaian survei-perbaikan yang berulang-ulang. Anda bahkan sudah yakin, berdasarkan survey terakhir, bahwa tidak ada lagi keluhan dari konsumen tentang kualitas rasa produk Anda. Ketahuilah bahwa televisi adalah sumber informasi yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat, terutama di Indonesia.
Pastikan bahwa calon bintang iklan Anda bukanlah orang yang pernah mengiklankan produk makanan atau minuman lain yang belum pernah Anda ketahui kualitas rasa produk mereka. Andai karena berbagai sebab Anda tidak mendapatkan calon bintang iklan lain, maka pastikan bahwa Anda memang sudah mencoba kualitas rasa dari produk yang dia iklankan sebelum dia Anda kontrak menjadi bintang iklan Anda.
Anda akan aman bila dia mengiklankan produk makanan atau minuman dari satu market leader karena tentu saja kualitas rasa produk mereka benar-benar telah melalui uji pasar. Jangan tergoda dengan bintang iklan dari orang-orang yang sudah dikenal di bidang lain seperti presenter, penyanyi, pelawak, atau apa saja. Tetap saja ada resiko bagi produk Anda yang baru masuk ke pasar langsung ditolak oleh konsumen, bila kasus seperti yang terjadi pada anak teman saya tersebut terjadi pada produk Anda.
Bisa Anda bayangkan bila berniat mengontrak bintang iklan tersebut sementara produk yang akan Anda dan dia iklankan adalah produk makanan atau minuman, padahal banyak yang sudah memberi cap bahwa produk makanan atau minuman yang dia iklankan tidak enak?
Saya tidak sedang berniat menutup rezeki para bintang iklan. Tulisan ini juga sangat baik untuk dibaca para bintang iklan. Anda bisa menutup rezeki Anda di iklan makanan dan minuman bila Anda mengiklankan lebih dari satu makanan dan atau minuman yang tidak enak. Maka berhati-hatilah menerima kontrak iklan. Coba dulu rasa produk tersebut baru tanda tangani kontrak.
Produsen baru, biro iklan bahkan bintang iklan memang lebih baik berhati-hati dengan iklan yang sudah ada. Bagi produsen baru, menggunakan bintang iklan yang sudah terlanjur dicap mengiklankan produk yang tidak enak akan menghancurkan image produk Anda, bahkan ketika produk tersebut belum mencapai pangsa pasar yang baik. Biro iklan yang sering menggunakan bintang iklan tertentu untuk produk sejenis juga perlu hati-hati, sejenis tidak lagi berarti sama-sama minuman berenergi, tetapi bisa saja makanan dari olahan daging dianggap sejenis dengan produk susu bagi para konsumen. Toh sama-sama produk yang dikonsumsi lewat mulut. Para bintang iklan juga perlu lebih selektif bila akan dikontrak untuk iklan sejenis dimaksud. Mari sama-sama kita menjaga kualitas masing-masing.[as]
* Ardian Syam adalah penulis buku “Kacamata Kuda”. Ia dapat dihubungi di: ardian.syam@gmail.com
Saya tidak sedang berniat menutup rezeki para bintang iklan. Tulisan ini juga sangat baik untuk dibaca para bintang iklan.
Teman saya punya anak perempuan. Teman saya menceritakan kata-kata sang anak perempuan kepada kami. Ada seorang bintang iklan yang cukup dikenal oleh semua orang termasuk anak-anak. Ketika dia mengiklankan produk lain, sama sekali tidak menjadi masalah. Masalah kemudian timbul ketika dia membintangi iklan produk makanan. Sang anak minta dibelikan makanan tersebut, ternyata buat cita rasa si anak perempuan, makanan tersebut tidak enak.
Lalu kemudian bintang tersebut mengiklankan produk minuman yang bisa dikonsumsi oleh anak-anak. Sang anak perempuan juga kali ini minta dibelikan, dan sekali lagi buat cita rasa sang anak, minuman tersebut tidak enak. Maka berkomentarlah sang anak, “Ma, ntar kalau si ... (nama sang bintang iklan terpaksa saya rahasiakan) iklan lagi, saya gak mau beli, ah”.
Menggelikan memang kalau kita yang menjadi konsumen, tetapi akan sangat berbahaya bagi kita sebagai produsen atau biro iklan. Benarkah bahwa makanan dan minuman tersebut memang tidak enak? Ataukah hanya cita rasa sang anak saja yang memang agak berbeda dengan cita rasa orang kebanyakan? Kita tidak pernah tahu tanpa survei.
Ketika kita melakukan survei untuk produk kita dengan mengundang banyak orang sekaligus ke satu tempat dan mencoba secara gratis produk kita maka perlu diwaspadai komentar dari para calon konsumen. Kebanyakan konsumen Indonesia bila diberikan produk secara gratis akan menjadi sungkan untuk memberikan komentar negatif.
Lebih baik mengkategorikan komentar hanya pada dua kelompok saja. Enak dan tidak enak. Bila konsumen memberi komentar bahwa rasa produk Anda hanya lumayan, maka kategorikan lah kepada tidak enak. Sayang sekali, komentar tipe ini tidak bisa kita tanya lebih jauh. Bila konsumen mengomentari bahwa produk Anda enak, tanya saja lebih jauh mengapa dia bilang rasa produk Anda enak, dan kalau dia tidak menjawab dengan jelas maka kategorikan saja bahwa dia menyatakan produk Anda tidak enak.
Ketika konsumen berkomentar bahwa rasa produk Anda tidak enak, kelompok ini juga bisa ditanya lebih jauh. Lebih baik catat secara rapi dan analisa kembali jawaban mereka. Inilah kelompok terbaik yang Anda harapkan. Karena jawaban mereka dapat Anda gunakan untuk memperbaiki kualitas rasa produk Anda.
Saya pernah lihat sebuah iklan yang menunjukkan bahwa sebuah kamera tersembunyi diarahkan kepada rak pajang yang memuat produk yang sedang diiklankan. Mudah-mudahan produk tersebut memang sedang melakukan survei sungguh-sungguh. Karena di iklan tersebut terlihat ada berapa banyak orang yang mengambil produk itu dalam satu jam saja. Cara begini juga baik untuk membuktikan bahwa produk Anda sudah diminati masyarakat. Tetapi ketika Anda mendapatkan bahwa produk Anda tidak diminati, Anda tidak dapat mencari tahu mengapa hal tersebut terjadi.
Balik lagi ke cara mengundang orang banyak untuk menikmati produk kita. Bila sedang mencoba produk minuman, maka di tempat yang tidak terlalu jauh sediakan pula meja yang menyajikan air minum dalam kemasan atau air minum dalam kemasan secara gratis dan upayakan tidak ada tanda-tanda bahwa meja itu disediakan oleh perusahaan Anda. Anda dapat menghitung berapa banyak orang yang mencoba produk Anda dan kemudian minta lagi serta berapa banyak yang kemudian minta air minum dalam kemasan tersebut.
Jangan berkecil hati, orang-orang yang meminta air minum dalam kemasan, secara implisit sedang menyatakan bahwa produk Anda tidak enak buat mereka. Tanpa perlu Anda tanyai, mereka akan berkomentar tentang produk minuman Anda ketika sedang minta air minum dalam kemasan. Sediakan saja alat perekam yang cukup baik sehingga Anda bisa melakukan analisa kemudian.
Ketika Anda sedang ingin mencobakan produk makanan, sama saja. Di meja lain yang tidak terlalu dekat tetapi juga tidak terlalu jauh Anda sediakan kue-kue kecil dari toko kue yang sudah dikenal mempunyai kue yang enak. Juga sediakan air minum dalam kemasan. Sama dengan minuman tadi, Anda dapat menghitung jumlah orang yang tidak mengambil lagi produk Anda melainkan mengambil kue atau air minum dalam kemasan tersebut dan pastikan ada rekaman yang bisa Anda analisa kemudian.
Berani mencoba yang lebih ekstrim untuk mendapatkan komentar yang jujur tentang produk Anda?
Bila Anda sedang masuk ke pasar yang sudah diisi oleh produk lain, percayalah bahwa sudah ada market leader yang sudah dikenal konsumen di pasar tersebut. Konsumen bukan hanya sudah mengenal produk sang market leader tetapi juga sudah mengenal ciri-ciri khas petugas mereka.
Turunkan tim dengan pakaian seragam yang mirip baik potongan, motif dan warna dengan seragam petugas dari sang market leader. Tentu saja Anda tidak dapat membiarkan tim menggunakan atribut atau logo khusus yang biasa dipakai mereka. Sebar tim Anda langsung di dekat-dekat supermarket dan secara tidak formal menanyai orang-orang yang lewat tentang produk Anda. Besar kemungkinan jawaban mereka seperti ini “Produk itu memang ... (murah/diberi kemasan yang menarik/dikemas dengan jumlah yang tidak terlalu banyak, atau hal lain yang memang menjadi unggulan produk Anda) tetapi rasa produk itu tidak begitu enak seperti produk kalian.”
Mengapa demikian? Tentu saja, konsumen mengira bahwa mereka sedang disurvey oleh tim yang sedang diturunkan oleh sang market leader. Tim Anda bisa meminta jawaban lebih menyeluruh tentang mengapa mereka menyatakan produk Anda tidak enak. Anda punya begitu banyak jawaban untuk dianalisa dan digunakan sebagai dasar memperbaiki kualitas rasa produk Anda.
Berbohong? Tidak juga, Anda tidak menyatakan bahwa tim tersebut adalah tim yang diturunkan oleh kompetitor Anda, karena tidak ada atribut, badge, kartu nama, atau logo sang kompetitor. Tim tersebut juga tidak menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang ditugaskan oleh kompetitor Anda. Tim tersebut juga tidak sedang menjelek-jelekkan produk kompetitor, tim tersebut bahkan sedang mengumpulkan komentar tentang kejelekan produk Anda. Andai pun kemiripan memang disengaja, tetapi hal tersebut toh tidak dalam tujuan untuk menjatuhkan nama produk atau nama sang kompetitor. Jadi mengapa tidak berani melakukan hal tersebut.
Hal yang lebih penting adalah ketika Anda sedang ingin membuat iklan di televisi. Produk Anda mungkin sudah melalui serangkaian survei-perbaikan yang berulang-ulang. Anda bahkan sudah yakin, berdasarkan survey terakhir, bahwa tidak ada lagi keluhan dari konsumen tentang kualitas rasa produk Anda. Ketahuilah bahwa televisi adalah sumber informasi yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat, terutama di Indonesia.
Pastikan bahwa calon bintang iklan Anda bukanlah orang yang pernah mengiklankan produk makanan atau minuman lain yang belum pernah Anda ketahui kualitas rasa produk mereka. Andai karena berbagai sebab Anda tidak mendapatkan calon bintang iklan lain, maka pastikan bahwa Anda memang sudah mencoba kualitas rasa dari produk yang dia iklankan sebelum dia Anda kontrak menjadi bintang iklan Anda.
Anda akan aman bila dia mengiklankan produk makanan atau minuman dari satu market leader karena tentu saja kualitas rasa produk mereka benar-benar telah melalui uji pasar. Jangan tergoda dengan bintang iklan dari orang-orang yang sudah dikenal di bidang lain seperti presenter, penyanyi, pelawak, atau apa saja. Tetap saja ada resiko bagi produk Anda yang baru masuk ke pasar langsung ditolak oleh konsumen, bila kasus seperti yang terjadi pada anak teman saya tersebut terjadi pada produk Anda.
Bisa Anda bayangkan bila berniat mengontrak bintang iklan tersebut sementara produk yang akan Anda dan dia iklankan adalah produk makanan atau minuman, padahal banyak yang sudah memberi cap bahwa produk makanan atau minuman yang dia iklankan tidak enak?
Saya tidak sedang berniat menutup rezeki para bintang iklan. Tulisan ini juga sangat baik untuk dibaca para bintang iklan. Anda bisa menutup rezeki Anda di iklan makanan dan minuman bila Anda mengiklankan lebih dari satu makanan dan atau minuman yang tidak enak. Maka berhati-hatilah menerima kontrak iklan. Coba dulu rasa produk tersebut baru tanda tangani kontrak.
Produsen baru, biro iklan bahkan bintang iklan memang lebih baik berhati-hati dengan iklan yang sudah ada. Bagi produsen baru, menggunakan bintang iklan yang sudah terlanjur dicap mengiklankan produk yang tidak enak akan menghancurkan image produk Anda, bahkan ketika produk tersebut belum mencapai pangsa pasar yang baik. Biro iklan yang sering menggunakan bintang iklan tertentu untuk produk sejenis juga perlu hati-hati, sejenis tidak lagi berarti sama-sama minuman berenergi, tetapi bisa saja makanan dari olahan daging dianggap sejenis dengan produk susu bagi para konsumen. Toh sama-sama produk yang dikonsumsi lewat mulut. Para bintang iklan juga perlu lebih selektif bila akan dikontrak untuk iklan sejenis dimaksud. Mari sama-sama kita menjaga kualitas masing-masing.[as]
* Ardian Syam adalah penulis buku “Kacamata Kuda”. Ia dapat dihubungi di: ardian.syam@gmail.com
YANG PASTI-PASTI AJA DEH?
Oleh: Kristopher David
“Di dunia ini, satu-satunya yang pasti adalah ketidakpastian.”
Siapa pun Anda harus yakin pada keputusan yang Anda buat. Betapa pun Anda tidak ahli, keputusan Anda memiliki bobot tersendiri yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun juga. Contoh konkrit adalah saat Anda memilih presiden dalam pemilu. Justru yang terpilih bukanlah pasangan ideal menurut para pengamat politik.
Dalam artikel saya sebelumnya, saya menganjurkan Anda untuk berpikir menurut kapasitas Anda. Jadi bukan sekedar memilih tanpa pertimbangan. Apakah Anda menuruti orang yang punya track record, atau orang yang sekedar fasih secara akademis, atau kombinasi pemikiran antara keduanya, beban pengambilan keputusan ada di tangan Anda.
Kali ini saya ingin mengingatkan para pembelajar tentang situasi yang perlu diperhatikan saat kita mengambil keputusan. Saya masih ingat kala pertama kali masuk kuliah, saat dosen-dosen saya berulangkali menanamkan konsep ketidakpastian. Sebenarnya ada tiga konsep mendasar yang melatarbelakangi pengambilan keputusan, dua yang lainnya adalah keragaman dan generalisasi, yang baru sempat saya bahas kapan-kapan.
Saat mengikuti OSPEK jurusan pun, para senior juga berulangkali menegaskan konsep ketidakpastian. Secara singkat, menyebutkan sesuatu secara pasti sangat tidak dianjurkan. Kami hanya boleh menyebut, kira-kira, dari sekian sampai sekian, yakin dalam taraf 95 % dan konsep semacam itu lainnya.
Kalau Anda seorang pengusaha, pasti sangat mengharapkan kepastian. Kepastian sangat diinginkan untuk memudahkan prediksi kedepan. Baik kepastian harga BBM, kepastian tidak ada perubahan regulasi, kepastian tidak ada demo buruh, kepastian nilai tukar rupiah, kepastian tidak ada pengeboman oleh teroris dsb.
Bentuk kepastian yang lain, diharapkan oleh para PNS. Di antaranya kepastian tidak akan dipecat, kepastian jaminan masa pensiun, kepastian dari asuransi kesehatan dan sebagainya.
Para peserta seminar motivasi, atau perusahaan yang mengirim karyawannya ke seminar semacam itu, menginginkan kepastian bahwa ada hasil konkrit selama sekian bulan setelah seminar tersebut.
Sayangnya, tidak ada sesuatu yang pasti, kecuali ketidakpastian. Mungkin saudara yang kritis akan mengatakan kalimat saya tersebut self-defeated. Jika semua tidak pasti, maka kalimat saya di atas juga tidak pasti. Nah, itu akan saya bahas kali lain saja. Sekarang kita anggap saja bahwa tidak ada sesuatu yang pasti.
Sebagian besar kita tidak menyukai ketidakpastian, karena kita ingin mengontrol segala hal dengan sumber daya yang ada pada kita. Kita ingin mengontrol anak, keluarga, pegawai, teman, pemerintah, rakyat, bahkan kita ingin mengontrol Tuhan. Kita ingin tahu apa syaratnya supaya Tuhan membuat kita sukses. Dengan menyederhanakan semua hal ke dalam hubungan sebab-akibat, kita bisa mengendalikan sebab dan mengendalikan hasilnya pula.
Saya menyarankan saudara untuk berhenti berharap segala sesuatu berjalan sesuai keinginan kita. Jika tidak, kita akan lebih banyak mengalami kekecewaan. Meski demikian, saya tetap berharap saudara percaya diri dengan apa yang saudara lakukan. Menghadapi ketidakpastian, Anda hanya perlu tahu harus menghubungi siapa untuk membantu Anda mengambil keputusan. Mengapa saya katakan membantu, karena Andalah Sang Tuan. Andalah yang harus mengambil keputusan. Perlu diketahui, hampir semua orang kaya tidak lebih ahli daripada para stafnya. Kalau Anda melihat Presiden SBY, hampir semua menterinya lebih ahli daripada beliau. Hampir semua bidang ada konsultannya, apalagi bagi Anda yang hidup di Jakarta.
Sekarang, bukan lagi saatnya Anda berkata, ‘yang pasti-pasti aja deh’.[kd]
* Kristopher David adalah mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Surabaya.
“Di dunia ini, satu-satunya yang pasti adalah ketidakpastian.”
Siapa pun Anda harus yakin pada keputusan yang Anda buat. Betapa pun Anda tidak ahli, keputusan Anda memiliki bobot tersendiri yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun juga. Contoh konkrit adalah saat Anda memilih presiden dalam pemilu. Justru yang terpilih bukanlah pasangan ideal menurut para pengamat politik.
Dalam artikel saya sebelumnya, saya menganjurkan Anda untuk berpikir menurut kapasitas Anda. Jadi bukan sekedar memilih tanpa pertimbangan. Apakah Anda menuruti orang yang punya track record, atau orang yang sekedar fasih secara akademis, atau kombinasi pemikiran antara keduanya, beban pengambilan keputusan ada di tangan Anda.
Kali ini saya ingin mengingatkan para pembelajar tentang situasi yang perlu diperhatikan saat kita mengambil keputusan. Saya masih ingat kala pertama kali masuk kuliah, saat dosen-dosen saya berulangkali menanamkan konsep ketidakpastian. Sebenarnya ada tiga konsep mendasar yang melatarbelakangi pengambilan keputusan, dua yang lainnya adalah keragaman dan generalisasi, yang baru sempat saya bahas kapan-kapan.
Saat mengikuti OSPEK jurusan pun, para senior juga berulangkali menegaskan konsep ketidakpastian. Secara singkat, menyebutkan sesuatu secara pasti sangat tidak dianjurkan. Kami hanya boleh menyebut, kira-kira, dari sekian sampai sekian, yakin dalam taraf 95 % dan konsep semacam itu lainnya.
Kalau Anda seorang pengusaha, pasti sangat mengharapkan kepastian. Kepastian sangat diinginkan untuk memudahkan prediksi kedepan. Baik kepastian harga BBM, kepastian tidak ada perubahan regulasi, kepastian tidak ada demo buruh, kepastian nilai tukar rupiah, kepastian tidak ada pengeboman oleh teroris dsb.
Bentuk kepastian yang lain, diharapkan oleh para PNS. Di antaranya kepastian tidak akan dipecat, kepastian jaminan masa pensiun, kepastian dari asuransi kesehatan dan sebagainya.
Para peserta seminar motivasi, atau perusahaan yang mengirim karyawannya ke seminar semacam itu, menginginkan kepastian bahwa ada hasil konkrit selama sekian bulan setelah seminar tersebut.
Sayangnya, tidak ada sesuatu yang pasti, kecuali ketidakpastian. Mungkin saudara yang kritis akan mengatakan kalimat saya tersebut self-defeated. Jika semua tidak pasti, maka kalimat saya di atas juga tidak pasti. Nah, itu akan saya bahas kali lain saja. Sekarang kita anggap saja bahwa tidak ada sesuatu yang pasti.
Sebagian besar kita tidak menyukai ketidakpastian, karena kita ingin mengontrol segala hal dengan sumber daya yang ada pada kita. Kita ingin mengontrol anak, keluarga, pegawai, teman, pemerintah, rakyat, bahkan kita ingin mengontrol Tuhan. Kita ingin tahu apa syaratnya supaya Tuhan membuat kita sukses. Dengan menyederhanakan semua hal ke dalam hubungan sebab-akibat, kita bisa mengendalikan sebab dan mengendalikan hasilnya pula.
Saya menyarankan saudara untuk berhenti berharap segala sesuatu berjalan sesuai keinginan kita. Jika tidak, kita akan lebih banyak mengalami kekecewaan. Meski demikian, saya tetap berharap saudara percaya diri dengan apa yang saudara lakukan. Menghadapi ketidakpastian, Anda hanya perlu tahu harus menghubungi siapa untuk membantu Anda mengambil keputusan. Mengapa saya katakan membantu, karena Andalah Sang Tuan. Andalah yang harus mengambil keputusan. Perlu diketahui, hampir semua orang kaya tidak lebih ahli daripada para stafnya. Kalau Anda melihat Presiden SBY, hampir semua menterinya lebih ahli daripada beliau. Hampir semua bidang ada konsultannya, apalagi bagi Anda yang hidup di Jakarta.
Sekarang, bukan lagi saatnya Anda berkata, ‘yang pasti-pasti aja deh’.[kd]
* Kristopher David adalah mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Surabaya.
GENJOT PENJUALAN LEWAT MILIS
Oleh: Didik Darmanto
Promosi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan omset. Tapi jangan sampai jor-joran, ongkos promosi itu mahal lho. Nah, kalau ingin menekan ongkos promosi Anda patut melirik milis. Lewat jaringan surat elektronik ini Anda bisa mempromosikan bisnis secara gampang dan murah.
Milis (mailing list) merupakan sebuah forum diskusi atau publikasi elektronik dengan memanfaatkan teknologi internet. Sejak dikenalnya internet, komunikasi lewat email menjadi pilihan menarik. Disamping murah, kualitas kirimannya juga bagus bahkan bisa dalam format audio-video.
Dengan semakin ramainya penggunaan email, grup-grup milis mulai bermunculan. Di mana masing-masing anggota dapat saling berkomunikasi dan bertukar informasi lewat surat elektronik. Di antara mereka ada yang bergabung dalam grup milis karena kesamaan hobi, profesi, satu alumni atau sekadar komunitas gaul.
Milis sebagai wadah berinteraksi di dunia maya semakin populer seiring dengan bertambahnya penyedia layanan ini. Sebut saja misalnya Yahoo! Groups, Topica serta layanan milis produksi dalam negeri seperti Plasa.com dan Groups.or.id.
Ongkos murah
Sampai dengan saat ini, belum banyak pebisnis yang memanfaatkan milis untuk mengembangkan bisnisnya. Padahal lewat milis Anda bisa berpromosi kepada para anggota grup. Promosi di milis ini terhitung murah dibandingkan dengan promosi di tv, koran, majalah, radio atau media massa lainnya.
Kegiatan promosi ini pasti dibutuhkan oleh setiap bisnis untuk memperkenalkan produk atau jasa yang ditawarkan. Tanpa promosi roda bisnis akan tersendat bahkan mandeg. CEO Let’s Go Indonesia, Valentino Dinsi, mengatakan bahwa omset penjualan tergantung dari besarnya prospek. Dan untuk memperbesar prospek Anda harus berpromosi.
Misalnya Anda memiliki minimarket terletak di sebuah kompleks dengan 1.000 orang penduduk. Maka 1.000 orang tersebut adalah prospek bisnis Anda yang berpotensi menjadi pembeli. Kalau ingin mendongkrak omset, lanjutnya, maka harus memperbanyak prospek. Salah satunya dengan berpromosi seperti menyebarkan brosur ke kompleks tetangga. Sehingga prospek dari minimarket Anda bukan hanya penduduk di lingkungan komplek saja.
Milis merupakan salah satu media yang bisa dipakai untuk meningkatkan prospek bisnis. Lewat milis Anda bisa memperkenalkan bisnis yang sedang digeluti kepada para anggota grup.
Promosi di milis memang belum lazim, kebanyakan para bebisnis masih menggunakan media konvensional seperti media cetak atau tv. Promosi dengan cara konvensional ini ongkosnya mahal. Semakin luas jangkauan medianya, semakin mahal pula ongkosnya. Tidak demikian halnya dengan milis. Di milis Anda bisa berpromosi murah-meriah dengan jangkauan global.
“Hal yang mendorong orang untuk berpromosi ke grup-grup adalah karena biayanya relatif murah jika dibandingkan dengan media konvensional,” kata penulis buku Panduan Penggunaan Milis untuk Memenangkan Bisnis, Arwin Soelaksono.
Jangan ikuti semua
Ketika Anda ingin memperkenalkan dan menjual produk kepada khalayak ramai, pasti akan memilih media yang tepat untuk berpromosi. Sebagaimana promosi lewat tv, radio, atau media cetak pasti akan dipilih berdasarkan kualitas. Begitu pula dengan promosi di milis, Anda harus pintar-pintar memilih grup untuk berpromosi.
Meskipun promosi di milis itu murah, tapi juga berpotensi untuk membobol kantong kalau Anda tidak selektif dalam mengikuti milis. Dari sekian banyak grup yang ada tidak harus semuanya diikuti. Pasalnya akan memboroskan waktu, biaya dan tenaga kalau Anda mau memasarkan bisnis kepada semua grup yang ada di dunia maya.
Lebih lanjut Arwin membagi grup-grup milis itu menjadi empat kategori. Pertama, grup profesi yaitu milis yang berisikan orang-orang dengan latar belakang profesi yang sama. Biasanya grup ini dimiliki oleh para profesional, karyawan, atau mahasiswa untuk mendiskusikan seputar masalah mereka. Misalkan perpajakanakutansi@yahoogroups.com, marketing-club@yahoogroups, dll.
Kedua, grup minat yaitu milis yang diprakarsai oleh orang-orang yang memiliki kesamaan minat untuk mendiskusikan suatu topik atau hobi. Seperti milis Safir senduk & Rkan (SSR) untuk orang-orang yang berminat membincangkan perencanaan keuangan keluarga, milis Ayah-Bunda-Anak@yahoogroups.com yang membahas seputar masalah keluarga, milis bisnis-smart@yahoogroups.com untuk komunitas pebisnis, dll.
Ketiga, grup persahabatan. Biasanya milis ini dimanfaatkan untuk memelihara tali silahturahmi atau ajang mencari teman baru. Misalnya milis alumni_fisipol-ugm@yahoogroups.com yang dibuat sebagai sarana komunikasi dan tukar-menukar informasi alumni Fisipol UGM.
Keempat, grup sekerja yaitu milis yang dimanfaatkan oleh sebuah kelompok kerja atau proyek demi keefektifan komunikasi. Anggota yang tergabung dalam milis ini hanyalah orang-orang yang berkepentingan dengan proyek tersebut. Sudah menjadi kelaziman bagi perusahaan-perusahaan modern untuk memiliki milis internal semacam ini.
Tentu tidak semua milis yang tersedia itu bermanfaat untuk bisnis Anda. Oleh karena itu, sebaiknya Anda menyeleksi milis yang sesuai. Kalau asal-asalan, promosi Anda bisa tidak tepat sasaran.
Misalkan begini, untuk menjual produk kebutuhan balita tentu akan lebih tepat kalau Anda memilih grup yang membahas tentang dunia anak, ketimbang berpromosi di grup yang mendiskusikan masalah polotik.
Identitas jelas
Selain kesesuaian grup dengan bisnis yang ditawarkan, Anda juga harus menilai kualitas dari grup tersebut. Kualitas grup ini salah satunya dapat dilihat dari keaktifan anggotanya untuk posting (mengirim email ke milis).
Anda pun juga harus memperhatikan jumlah anggotanya. Tentu akan menjadi mubazir manakala Anda berpromosi di grup yang miskin anggota dan miskin posting.
Sampai tidaknya pesan yang disampaikan tergantung dari kemampuan Anda dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, usahakan posting semenarik mungkin. Dan sebaiknya Anda tidak melulu berpromosi agar anggota yang lain tidak bosan dengan posting Anda.
Seiring dengan maraknya aksi penipuan di dunia maya, banyak orang yang tidak percaya dengan setiap bisnis yang ditawarkan di internet. Salah satu cara untuk membangkitkan kepercayaan orang terhadap bisnis yang Anda tawarkan, maka Anda perlu mengungkapkan identitas secara jelas.
Kejelasan identitas ini menjadi modal awal untuk membangun kepercayaan orang di internet. Maka jangan lupa untuk selalu mencantumkan nama, alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
“Bila tidak bersedia mengungkapkan alamat Anda secara jelas, siapa yang mau berbisnis dengan Anda?” tukas Arwin.[dd]
* Didik Darmanto adalah penulis buku laris Kalau Mau Kaya Ngapain Takut Ngutang (Bornrich, 2006), dan mantan wartawan yang kini berprofesi sebagai PNS di Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/BAPPENAS. Ia dapat dihubungi di: didikdarmanto@gmail.com.
Promosi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan omset. Tapi jangan sampai jor-joran, ongkos promosi itu mahal lho. Nah, kalau ingin menekan ongkos promosi Anda patut melirik milis. Lewat jaringan surat elektronik ini Anda bisa mempromosikan bisnis secara gampang dan murah.
Milis (mailing list) merupakan sebuah forum diskusi atau publikasi elektronik dengan memanfaatkan teknologi internet. Sejak dikenalnya internet, komunikasi lewat email menjadi pilihan menarik. Disamping murah, kualitas kirimannya juga bagus bahkan bisa dalam format audio-video.
Dengan semakin ramainya penggunaan email, grup-grup milis mulai bermunculan. Di mana masing-masing anggota dapat saling berkomunikasi dan bertukar informasi lewat surat elektronik. Di antara mereka ada yang bergabung dalam grup milis karena kesamaan hobi, profesi, satu alumni atau sekadar komunitas gaul.
Milis sebagai wadah berinteraksi di dunia maya semakin populer seiring dengan bertambahnya penyedia layanan ini. Sebut saja misalnya Yahoo! Groups, Topica serta layanan milis produksi dalam negeri seperti Plasa.com dan Groups.or.id.
Ongkos murah
Sampai dengan saat ini, belum banyak pebisnis yang memanfaatkan milis untuk mengembangkan bisnisnya. Padahal lewat milis Anda bisa berpromosi kepada para anggota grup. Promosi di milis ini terhitung murah dibandingkan dengan promosi di tv, koran, majalah, radio atau media massa lainnya.
Kegiatan promosi ini pasti dibutuhkan oleh setiap bisnis untuk memperkenalkan produk atau jasa yang ditawarkan. Tanpa promosi roda bisnis akan tersendat bahkan mandeg. CEO Let’s Go Indonesia, Valentino Dinsi, mengatakan bahwa omset penjualan tergantung dari besarnya prospek. Dan untuk memperbesar prospek Anda harus berpromosi.
Misalnya Anda memiliki minimarket terletak di sebuah kompleks dengan 1.000 orang penduduk. Maka 1.000 orang tersebut adalah prospek bisnis Anda yang berpotensi menjadi pembeli. Kalau ingin mendongkrak omset, lanjutnya, maka harus memperbanyak prospek. Salah satunya dengan berpromosi seperti menyebarkan brosur ke kompleks tetangga. Sehingga prospek dari minimarket Anda bukan hanya penduduk di lingkungan komplek saja.
Milis merupakan salah satu media yang bisa dipakai untuk meningkatkan prospek bisnis. Lewat milis Anda bisa memperkenalkan bisnis yang sedang digeluti kepada para anggota grup.
Promosi di milis memang belum lazim, kebanyakan para bebisnis masih menggunakan media konvensional seperti media cetak atau tv. Promosi dengan cara konvensional ini ongkosnya mahal. Semakin luas jangkauan medianya, semakin mahal pula ongkosnya. Tidak demikian halnya dengan milis. Di milis Anda bisa berpromosi murah-meriah dengan jangkauan global.
“Hal yang mendorong orang untuk berpromosi ke grup-grup adalah karena biayanya relatif murah jika dibandingkan dengan media konvensional,” kata penulis buku Panduan Penggunaan Milis untuk Memenangkan Bisnis, Arwin Soelaksono.
Jangan ikuti semua
Ketika Anda ingin memperkenalkan dan menjual produk kepada khalayak ramai, pasti akan memilih media yang tepat untuk berpromosi. Sebagaimana promosi lewat tv, radio, atau media cetak pasti akan dipilih berdasarkan kualitas. Begitu pula dengan promosi di milis, Anda harus pintar-pintar memilih grup untuk berpromosi.
Meskipun promosi di milis itu murah, tapi juga berpotensi untuk membobol kantong kalau Anda tidak selektif dalam mengikuti milis. Dari sekian banyak grup yang ada tidak harus semuanya diikuti. Pasalnya akan memboroskan waktu, biaya dan tenaga kalau Anda mau memasarkan bisnis kepada semua grup yang ada di dunia maya.
Lebih lanjut Arwin membagi grup-grup milis itu menjadi empat kategori. Pertama, grup profesi yaitu milis yang berisikan orang-orang dengan latar belakang profesi yang sama. Biasanya grup ini dimiliki oleh para profesional, karyawan, atau mahasiswa untuk mendiskusikan seputar masalah mereka. Misalkan perpajakanakutansi@yahoogroups.com, marketing-club@yahoogroups, dll.
Kedua, grup minat yaitu milis yang diprakarsai oleh orang-orang yang memiliki kesamaan minat untuk mendiskusikan suatu topik atau hobi. Seperti milis Safir senduk & Rkan (SSR) untuk orang-orang yang berminat membincangkan perencanaan keuangan keluarga, milis Ayah-Bunda-Anak@yahoogroups.com yang membahas seputar masalah keluarga, milis bisnis-smart@yahoogroups.com untuk komunitas pebisnis, dll.
Ketiga, grup persahabatan. Biasanya milis ini dimanfaatkan untuk memelihara tali silahturahmi atau ajang mencari teman baru. Misalnya milis alumni_fisipol-ugm@yahoogroups.com yang dibuat sebagai sarana komunikasi dan tukar-menukar informasi alumni Fisipol UGM.
Keempat, grup sekerja yaitu milis yang dimanfaatkan oleh sebuah kelompok kerja atau proyek demi keefektifan komunikasi. Anggota yang tergabung dalam milis ini hanyalah orang-orang yang berkepentingan dengan proyek tersebut. Sudah menjadi kelaziman bagi perusahaan-perusahaan modern untuk memiliki milis internal semacam ini.
Tentu tidak semua milis yang tersedia itu bermanfaat untuk bisnis Anda. Oleh karena itu, sebaiknya Anda menyeleksi milis yang sesuai. Kalau asal-asalan, promosi Anda bisa tidak tepat sasaran.
Misalkan begini, untuk menjual produk kebutuhan balita tentu akan lebih tepat kalau Anda memilih grup yang membahas tentang dunia anak, ketimbang berpromosi di grup yang mendiskusikan masalah polotik.
Identitas jelas
Selain kesesuaian grup dengan bisnis yang ditawarkan, Anda juga harus menilai kualitas dari grup tersebut. Kualitas grup ini salah satunya dapat dilihat dari keaktifan anggotanya untuk posting (mengirim email ke milis).
Anda pun juga harus memperhatikan jumlah anggotanya. Tentu akan menjadi mubazir manakala Anda berpromosi di grup yang miskin anggota dan miskin posting.
Sampai tidaknya pesan yang disampaikan tergantung dari kemampuan Anda dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, usahakan posting semenarik mungkin. Dan sebaiknya Anda tidak melulu berpromosi agar anggota yang lain tidak bosan dengan posting Anda.
Seiring dengan maraknya aksi penipuan di dunia maya, banyak orang yang tidak percaya dengan setiap bisnis yang ditawarkan di internet. Salah satu cara untuk membangkitkan kepercayaan orang terhadap bisnis yang Anda tawarkan, maka Anda perlu mengungkapkan identitas secara jelas.
Kejelasan identitas ini menjadi modal awal untuk membangun kepercayaan orang di internet. Maka jangan lupa untuk selalu mencantumkan nama, alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
“Bila tidak bersedia mengungkapkan alamat Anda secara jelas, siapa yang mau berbisnis dengan Anda?” tukas Arwin.[dd]
* Didik Darmanto adalah penulis buku laris Kalau Mau Kaya Ngapain Takut Ngutang (Bornrich, 2006), dan mantan wartawan yang kini berprofesi sebagai PNS di Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/BAPPENAS. Ia dapat dihubungi di: didikdarmanto@gmail.com.
Minggu, 02 November 2008
HARGA DISKON: APA BETUL DISKON SUNGGUHAN?
Oleh: Undang A. Halim
“Akhir tahun, bonus, piknik, belanja, harga diskon, sale.. sale... sale!,” kata-kata itulah yang paling akrab di telinga kita menjelang akhir tahun. Tentunya selain acara Natalan untuk yang merayakannya.
Ya, teropong penulis ingin difokuskan ke acara belanja dengan harga diskon yang selalu meriah ini.
Harga diskon adalah senjata utama para peritel. Dengan makin membludaknya toko eceran saat ini, persaingan semakin ketat—terjadi adu balap hipermarket di mana mana—menyebabkan semua peritel harus mengeluarkan jurus ampuhnya masing-masing. Kalau tidak, kuburan menantinya. Sehingga promosi itu sudah menjadi keharusan.
Harga Diskon adalah yang paling umum dijadikan senjata, dan yang untung adalah konsumen, bisa pilih sana, pilih sini, yang paling murah.
Masalahnya adalah, apakah diskon itu benar-benar murni potongan harga atau polesan saja atau sekedar tipu-tipu pedagang. Jawabannya bisa semuanya benar. Itu sebabnya pembeli harus kenal betul, mana diskon murni, mana diskon aspal, dan mana diskon jadi-jadian.
Peritel itu mempunyai banyak cara untuk menggemukkan kas depositonya. Dan itu memang wajar, sebagai perusahaan, ya cari untung. Salah satu caranya adalah teknik subsidi silang atau price leader, bahasa sononya. Ada satu atau beberapa barang yang harganya dibanting, alias diturunkan harganya, kalau perlu sampai mentok harga modal.
Perusahaan rugi? Ya, jelas rugi untuk produk yang satu itu (misalnya sepatu). Tapi pembeli biasanya tidak hanya membeli sepatu itu saja, tapi juga belanja barang lainnya. Dan biasanya barang lainnya itu lebih banyak kuantitas rupiahnya dibanding barang yang dipromosikan tadi.
Singkatnya, mereka rugi untuk satu produk sepatu itu, tapi ditutup oleh keuntungan dari prnjualan barang-barang lainnya yang margin keuntungannya standar atau lebih tinggi. Dan ini biasanya secara akumulatif akan lebih menguntungkan, karena volume penjualan toko itu semakin tinggi.
Jadi barang price leader itu sebetulnya hanya “pemancing” saja, untuk meningkatkan traffic pengunjung, supaya konsumen makin banyak berdatangan ke tokonya. Ada pembeli yang militant, dia hanya belanja barang price leader itu saja ke setiap toko, dengan harga murah atau murah sekali. Sangat menguntungkan, kalau barangnya memang dibutuhkan, atau memang dibeli untuk dijual lagi.
Sayang sekali, atau untung sekali (buat toko), sebab konsumen umumnya selain membeli barang promosi, juga barang-barang lainnya yang tidak di “harga promosi”, kan? Maka margin yang tekor bisa ditutupi dari penjualan produk lainnya itu.
Keuntungan lain buat toko adalah, “menjebak” konsumen yang suka membeli secara impulsif, tanpa perencanaan. Dari rumah tak berniat membeli barang itu, tapi karena lagi promosi dan kelihatannya murah, menarik, maka disabet juga padahal barang itu tak diperlukan benar, dan duit di kantong tak siap untuk membeli barang itu. Akhirnya, ya ngutang...pakai kartu kredit. Padahal kadang-kadang barang itu baru dipakai setelah lewat setahun, atau malah kelupaan karena nyelip di lemari. Wah...! Masih ada barang lain yang dijual murah karena berbagai alasan. Barang bagus, tapi modelnya sudah out of date misalnya, juga dijual secara diskon. Besarnya bervariasi tergantung umur barang itu, biasanya 10% hingga 80%. Bagi orang yang tak terlalu care dengan mode, ini adalah lahan empuk, pesta barang murah.
Ada juga barang over stock (kelebihan produksi) dari pabrikan atau barang bekas display di toko yang kadang-kadang ada yang cacat kecil. Daripada ditumpuk di gudang, pabrik atau toko biasanya lebih memilih mengobralnya.
Yang perlu diingat adalah, hati-hati dengan barang sedikit cacat atau tak sempurna atau barang BS. Cermati saja. Kalau diskonnya 60% misalnya, sebanding tidak dengan cacatnya? Kalau cacatnya tak seberapa, lubang kancingnya tak simetris misalnya, dan kitanya cuek bebek, ya ambillah.
Nah, itu tadi adalah beberapa jenis promosi yang memang benar-benar potongan harga. Ada jenis promosi lainnya? Tentu saja banyak variasinya.
Penawaran promo memang bervariasi. Semua dibuat secara unik untuk memberikan kesan nilainya lebih besar. Terkadang berkesan bombastis! Coba saja cermati penawaran di bawah ini:
“Diskon besar minggu ini, 40% plus 50%!”
Bunyinya diatur sedemikian rupa supaya membuat kesan diskon sebesar 90%. Wow! Silahkan hitung lagi. Itu kan ternyata “hanya” diskon sebesar 70% karena diskon tambahan yang 50% itu adalah 50% dari sisa harga jual dikurangi diskon pertama, bukan 50% dari harga jual awal. Dengan hitungan yang sama, diskon 30% plus 60% itu riilnya hanya 72%.
Ya, memang angkanya besar sih. Tapi masih perlu dicermati, apakah harga ecerannya sama dengan harga regular? Tidak dinaikkan dulu seperti banyak dicurigai orang? Atau ini barang over stock, barang cacat? Di sinilah kuncinya.
Jenis lain promosi adalah, menawarkan diskon yang “mahabesar”, apakah itu 50%, 60% atau 70%. Apakah ini semua diskon betulan? Ataukah, lagi-lagi, ini hanya diskon rekayasa?
Untuk mengetahui jawabannya, sebaiknya kita melakukan pengamatan dahulu. Promosi dengan diskon yang sangat besar itu ada beberapa kemungkinan. Pertama, barang yang dijual adalah barang sisa stok lama atau barang BS atau sedikit cacat.
Kedua, mungkin tokonya mau tutup. Biasanya mereka akan cuci gudang dulu biar barangnya habis.
Ketiga, itu hanya diskon rekayasa, artinya “harga jual eceran”-nya palsu, jadi diskonnya kelihatan besar sekali.
Kalau produk diskon itu jumlahnya banyak, berderet-deret raknya, kualitas barangnya juga baru semua (bukan barang lama), dijual dengan diskon 60% atau lebih, itu hampir pasti diskon rekayasa. Margin barang fashion seperti itu biasanya sekitar 30%. Artinya, kalau didiskon 60% mereka rugi 30%. Rumus mana yang dipakai? Paling-paling ya harga jualnya palsu atau dinaikkan dulu.
Nah, amati saja pengunjung yang lewat di sana. Jika mereka ramai-ramai mengeroyok rak barang, itu berarti diskonnya mungkin OK. Tapi kalau para pengunjung yang lewat hanya cuek saja, cuma sedikit menoleh, atau bahkan mencibir sinis, itu tandanya sebaiknya lupakan saja diskon itu. Diskon itu mungkin “aspal”.
Harga diskon untuk barang elektronik, harus dicermati lebih teliti kualitasnya. Kadang toko mengobral TV dengan harga diskon 50%. Tapi biasanya suka diberi catatan ”Barang ex display,” itu tuh barang yang suka di-“on”-kan tiap hari. Anda tak kan tahu, sudah berapa lama barang itu dioperasikan setiap hari non stop. Jadi, membeli barang beginian mah harus ditemani kawan yang mengerti teknisnya, supaya tak terkecoh.
Untuk barang baru, tanya dulu ada garansinya tidak? Kalau ada, tanyakan dari perusahaan mana? Kalau perusahaan penggaransinya berbeda dengan si agen, kita harus lebih hati-hati. Ini perlu diketahui karena saat ini ada istilah black market. Digunakan untuk produk yang diimpor oleh perusahaan bukan agen resminya di Indonesia.
Mereka mengimport barang seperti tv, video, telepon genggam, dll secara gelap, tentunya dengan biaya lebih murah. Tapi konsekuensinya pelayanan purna jualnya belum tentu bisa segampang di agen resmi, karena mereka menangani sendiri urusan garansi dengan cara menunjuk perusahaan lainnya, berfungsi sebagai tukang service.
Yah, yang namanya tak resmi biasanya untung-untungan juga, kadang bagus servisnya, tapi kadang bermasalah. Tinggal kembali ke konsumennya, bila menginginkan harga yang lebih murah tapi garansinya “semoga bagus”, ya ambillah. Tapi kalau mau tidur lebih tenang, ambil saja yang keluaran agen resmi dengan harga standar, alias lebih mahalan.
Itulah beberapa contoh penjualan dengan harga diskon.
Untuk yang hobi berbelanja, silahkan simak beberapa tip di bawah ini.
• Sisihkan bonus atau THR Anda untuk membereskan aneka jenis utang dahulu, lalu berinvestasilah seperti untuk deposito, reksadana, asuransi dll. (Silahkan baca buku-buku karya Safir Senduk misalnya, dan ahli perencanan keuangan lainnya).
• Tentukan dulu, berapa budget untuk membeli barang yang dibutuhkan. Pegang angka ini dengan ketat.
• Selalu prioritaskan membeli barang kebutuhan utama dahulu, untuk menghindari pembelian tanpa direncanakan, karena tergiur promosi.
• Belilah barang promosi yang memang dibutuhkan. Jangan belanja karena menuruti perasaan kita saja sewaktu jalan-jalan keliling di toko (impulsif).
• Hati-hati membeli barang yang ada di sekeliling (di dekat) barang promosi yang mungkin marginnya terlalu tinggi.
• Periksa dulu barangnya, apakah betul-betul baru atau barang lama yang di clearance. Atau bisa juga tak ada Kartu garansinya.
• Untuk barang-barang tertentu, tanyakanlah ada jasa antaran atau tidak?
• Jangan membeli secara kredit kalau mampu membeli tunai.
• Sebaiknya lihat juga toko lainnya untuk membandingkan harga, terutama untuk barang baru yang tak kita kenal benar. Apakah betul-betul diskon besar?
• Jangan terlalu tergiur dengan tawaran “Harga murah! Ini hari terakhir...!”
• Hati-hati dengan masa kedaluarsa yang sudah mepet, untuk barang diskon produk makanan.
Selamat berbelanja, dengan harga murah dan aman![uah]
* Undang A. Halim adalah konsultan dan praktisi retail. Bukunya tentang cara belanja cerdas sedang dalam proses penerbitan. Ia dapat dihubungi di: ddanks@indosat.net.id
“Akhir tahun, bonus, piknik, belanja, harga diskon, sale.. sale... sale!,” kata-kata itulah yang paling akrab di telinga kita menjelang akhir tahun. Tentunya selain acara Natalan untuk yang merayakannya.
Ya, teropong penulis ingin difokuskan ke acara belanja dengan harga diskon yang selalu meriah ini.
Harga diskon adalah senjata utama para peritel. Dengan makin membludaknya toko eceran saat ini, persaingan semakin ketat—terjadi adu balap hipermarket di mana mana—menyebabkan semua peritel harus mengeluarkan jurus ampuhnya masing-masing. Kalau tidak, kuburan menantinya. Sehingga promosi itu sudah menjadi keharusan.
Harga Diskon adalah yang paling umum dijadikan senjata, dan yang untung adalah konsumen, bisa pilih sana, pilih sini, yang paling murah.
Masalahnya adalah, apakah diskon itu benar-benar murni potongan harga atau polesan saja atau sekedar tipu-tipu pedagang. Jawabannya bisa semuanya benar. Itu sebabnya pembeli harus kenal betul, mana diskon murni, mana diskon aspal, dan mana diskon jadi-jadian.
Peritel itu mempunyai banyak cara untuk menggemukkan kas depositonya. Dan itu memang wajar, sebagai perusahaan, ya cari untung. Salah satu caranya adalah teknik subsidi silang atau price leader, bahasa sononya. Ada satu atau beberapa barang yang harganya dibanting, alias diturunkan harganya, kalau perlu sampai mentok harga modal.
Perusahaan rugi? Ya, jelas rugi untuk produk yang satu itu (misalnya sepatu). Tapi pembeli biasanya tidak hanya membeli sepatu itu saja, tapi juga belanja barang lainnya. Dan biasanya barang lainnya itu lebih banyak kuantitas rupiahnya dibanding barang yang dipromosikan tadi.
Singkatnya, mereka rugi untuk satu produk sepatu itu, tapi ditutup oleh keuntungan dari prnjualan barang-barang lainnya yang margin keuntungannya standar atau lebih tinggi. Dan ini biasanya secara akumulatif akan lebih menguntungkan, karena volume penjualan toko itu semakin tinggi.
Jadi barang price leader itu sebetulnya hanya “pemancing” saja, untuk meningkatkan traffic pengunjung, supaya konsumen makin banyak berdatangan ke tokonya. Ada pembeli yang militant, dia hanya belanja barang price leader itu saja ke setiap toko, dengan harga murah atau murah sekali. Sangat menguntungkan, kalau barangnya memang dibutuhkan, atau memang dibeli untuk dijual lagi.
Sayang sekali, atau untung sekali (buat toko), sebab konsumen umumnya selain membeli barang promosi, juga barang-barang lainnya yang tidak di “harga promosi”, kan? Maka margin yang tekor bisa ditutupi dari penjualan produk lainnya itu.
Keuntungan lain buat toko adalah, “menjebak” konsumen yang suka membeli secara impulsif, tanpa perencanaan. Dari rumah tak berniat membeli barang itu, tapi karena lagi promosi dan kelihatannya murah, menarik, maka disabet juga padahal barang itu tak diperlukan benar, dan duit di kantong tak siap untuk membeli barang itu. Akhirnya, ya ngutang...pakai kartu kredit. Padahal kadang-kadang barang itu baru dipakai setelah lewat setahun, atau malah kelupaan karena nyelip di lemari. Wah...! Masih ada barang lain yang dijual murah karena berbagai alasan. Barang bagus, tapi modelnya sudah out of date misalnya, juga dijual secara diskon. Besarnya bervariasi tergantung umur barang itu, biasanya 10% hingga 80%. Bagi orang yang tak terlalu care dengan mode, ini adalah lahan empuk, pesta barang murah.
Ada juga barang over stock (kelebihan produksi) dari pabrikan atau barang bekas display di toko yang kadang-kadang ada yang cacat kecil. Daripada ditumpuk di gudang, pabrik atau toko biasanya lebih memilih mengobralnya.
Yang perlu diingat adalah, hati-hati dengan barang sedikit cacat atau tak sempurna atau barang BS. Cermati saja. Kalau diskonnya 60% misalnya, sebanding tidak dengan cacatnya? Kalau cacatnya tak seberapa, lubang kancingnya tak simetris misalnya, dan kitanya cuek bebek, ya ambillah.
Nah, itu tadi adalah beberapa jenis promosi yang memang benar-benar potongan harga. Ada jenis promosi lainnya? Tentu saja banyak variasinya.
Penawaran promo memang bervariasi. Semua dibuat secara unik untuk memberikan kesan nilainya lebih besar. Terkadang berkesan bombastis! Coba saja cermati penawaran di bawah ini:
“Diskon besar minggu ini, 40% plus 50%!”
Bunyinya diatur sedemikian rupa supaya membuat kesan diskon sebesar 90%. Wow! Silahkan hitung lagi. Itu kan ternyata “hanya” diskon sebesar 70% karena diskon tambahan yang 50% itu adalah 50% dari sisa harga jual dikurangi diskon pertama, bukan 50% dari harga jual awal. Dengan hitungan yang sama, diskon 30% plus 60% itu riilnya hanya 72%.
Ya, memang angkanya besar sih. Tapi masih perlu dicermati, apakah harga ecerannya sama dengan harga regular? Tidak dinaikkan dulu seperti banyak dicurigai orang? Atau ini barang over stock, barang cacat? Di sinilah kuncinya.
Jenis lain promosi adalah, menawarkan diskon yang “mahabesar”, apakah itu 50%, 60% atau 70%. Apakah ini semua diskon betulan? Ataukah, lagi-lagi, ini hanya diskon rekayasa?
Untuk mengetahui jawabannya, sebaiknya kita melakukan pengamatan dahulu. Promosi dengan diskon yang sangat besar itu ada beberapa kemungkinan. Pertama, barang yang dijual adalah barang sisa stok lama atau barang BS atau sedikit cacat.
Kedua, mungkin tokonya mau tutup. Biasanya mereka akan cuci gudang dulu biar barangnya habis.
Ketiga, itu hanya diskon rekayasa, artinya “harga jual eceran”-nya palsu, jadi diskonnya kelihatan besar sekali.
Kalau produk diskon itu jumlahnya banyak, berderet-deret raknya, kualitas barangnya juga baru semua (bukan barang lama), dijual dengan diskon 60% atau lebih, itu hampir pasti diskon rekayasa. Margin barang fashion seperti itu biasanya sekitar 30%. Artinya, kalau didiskon 60% mereka rugi 30%. Rumus mana yang dipakai? Paling-paling ya harga jualnya palsu atau dinaikkan dulu.
Nah, amati saja pengunjung yang lewat di sana. Jika mereka ramai-ramai mengeroyok rak barang, itu berarti diskonnya mungkin OK. Tapi kalau para pengunjung yang lewat hanya cuek saja, cuma sedikit menoleh, atau bahkan mencibir sinis, itu tandanya sebaiknya lupakan saja diskon itu. Diskon itu mungkin “aspal”.
Harga diskon untuk barang elektronik, harus dicermati lebih teliti kualitasnya. Kadang toko mengobral TV dengan harga diskon 50%. Tapi biasanya suka diberi catatan ”Barang ex display,” itu tuh barang yang suka di-“on”-kan tiap hari. Anda tak kan tahu, sudah berapa lama barang itu dioperasikan setiap hari non stop. Jadi, membeli barang beginian mah harus ditemani kawan yang mengerti teknisnya, supaya tak terkecoh.
Untuk barang baru, tanya dulu ada garansinya tidak? Kalau ada, tanyakan dari perusahaan mana? Kalau perusahaan penggaransinya berbeda dengan si agen, kita harus lebih hati-hati. Ini perlu diketahui karena saat ini ada istilah black market. Digunakan untuk produk yang diimpor oleh perusahaan bukan agen resminya di Indonesia.
Mereka mengimport barang seperti tv, video, telepon genggam, dll secara gelap, tentunya dengan biaya lebih murah. Tapi konsekuensinya pelayanan purna jualnya belum tentu bisa segampang di agen resmi, karena mereka menangani sendiri urusan garansi dengan cara menunjuk perusahaan lainnya, berfungsi sebagai tukang service.
Yah, yang namanya tak resmi biasanya untung-untungan juga, kadang bagus servisnya, tapi kadang bermasalah. Tinggal kembali ke konsumennya, bila menginginkan harga yang lebih murah tapi garansinya “semoga bagus”, ya ambillah. Tapi kalau mau tidur lebih tenang, ambil saja yang keluaran agen resmi dengan harga standar, alias lebih mahalan.
Itulah beberapa contoh penjualan dengan harga diskon.
Untuk yang hobi berbelanja, silahkan simak beberapa tip di bawah ini.
• Sisihkan bonus atau THR Anda untuk membereskan aneka jenis utang dahulu, lalu berinvestasilah seperti untuk deposito, reksadana, asuransi dll. (Silahkan baca buku-buku karya Safir Senduk misalnya, dan ahli perencanan keuangan lainnya).
• Tentukan dulu, berapa budget untuk membeli barang yang dibutuhkan. Pegang angka ini dengan ketat.
• Selalu prioritaskan membeli barang kebutuhan utama dahulu, untuk menghindari pembelian tanpa direncanakan, karena tergiur promosi.
• Belilah barang promosi yang memang dibutuhkan. Jangan belanja karena menuruti perasaan kita saja sewaktu jalan-jalan keliling di toko (impulsif).
• Hati-hati membeli barang yang ada di sekeliling (di dekat) barang promosi yang mungkin marginnya terlalu tinggi.
• Periksa dulu barangnya, apakah betul-betul baru atau barang lama yang di clearance. Atau bisa juga tak ada Kartu garansinya.
• Untuk barang-barang tertentu, tanyakanlah ada jasa antaran atau tidak?
• Jangan membeli secara kredit kalau mampu membeli tunai.
• Sebaiknya lihat juga toko lainnya untuk membandingkan harga, terutama untuk barang baru yang tak kita kenal benar. Apakah betul-betul diskon besar?
• Jangan terlalu tergiur dengan tawaran “Harga murah! Ini hari terakhir...!”
• Hati-hati dengan masa kedaluarsa yang sudah mepet, untuk barang diskon produk makanan.
Selamat berbelanja, dengan harga murah dan aman![uah]
* Undang A. Halim adalah konsultan dan praktisi retail. Bukunya tentang cara belanja cerdas sedang dalam proses penerbitan. Ia dapat dihubungi di: ddanks@indosat.net.id
Langganan:
Postingan (Atom)
instanx
Total Tayangan Halaman
Categories
- abdul muid badrun (2)
- Acha Septriasa (4)
- ade asep syafruddin (4)
- alexandra dewi (1)
- alpiyanto (1)
- andrew ho (91)
- Ardian syam (22)
- arief yuntanu (2)
- arif gunawan (40)
- arif yustanu (1)
- artikel (13118)
- bambang trim (1)
- beni bevly (1)
- berita (3795)
- BLOGERNAS (1)
- damardi darmawangsa (13)
- danang a akbarona (2)
- dany chandra (3)
- dewi lestari (1)
- Dian Sastro (1)
- didik darmanto (2)
- dodi mawardi (2)
- DOWNLOAD EBOOK GRATIS (234)
- edi zaqeus (1)
- edit (110)
- eko jalu santoso (1)
- eni kusuma (11)
- goenardjoadi goenawan (1)
- hari subagya (7)
- haryanto kandani (4)
- hendra (10)
- ida kuraeny (1)
- indra cahya (1)
- iqnatius muk kuang (8)
- jennie s bev (1)
- johanes koraang (1)
- joko susilo (47)
- joni liu (2)
- joshua w utomo (2)
- joycelina (1)
- kerjadarirumah (4)
- kristopher david (1)
- lamser aritonang (1)
- Luna maya (15)
- m ichsan (41)
- m ikbal (1)
- Mariana Renata (1)
- marsello ginting (1)
- marzuki usman (3)
- Mieke Amalia (1)
- mugi subagya (1)
- muk kuang (1)
- Mulan Jameela (1)
- original artikel (103)
- profil (3)
- pujiono (1)
- rab a broto (4)
- Revalina S. Temat (3)
- riyanto s (4)
- ronal frank (2)
- roni jamaludin (1)
- ruby herman (1)
- ruddy kusnadi (1)
- rudy lim (19)
- sansulung john sum (1)
- saumimam saud (1)
- stephen barnabas (1)
- suryanto wijaya (3)
- syahril syam (17)
- tan bonaventura andika sumarjo (1)
- tanadi santoso (1)
- tante girang (454)
- thomas sugiarto (8)
- tung desem waringin (4)
- undang a halim (1)
- walpaper (50)