Jumat, 07 November 2008

JALUR A DAN JALUR B, PILIH MANA?

Oleh Eni Kusuma W


Tanggapan atas artikel Jennie S. Bev


Bagaikan menaiki sebuah tangga keberhasilan. Pastilah kita akan menaiki satu per satu tangga-tangga itu. Tangga- tangga yang kita buat sendiri atau mencari dan menaiki tangga-tangga yang sudah ada. Jika Jennie S. Bev menyebut “jalan”, saya menyebut “tangga”.

Jika posisi kita masih berada di tangga pertama yaitu tangga paling bawah, tentu susah sekali untuk langsung menuju puncak tangga yang kita inginkan. Apakah dengan meloncat ke atas? Tentu saja kita akan jatuh, bergelimpangan, memar, dan lebam-lebam. Karena bagaimanapun di tangga bawah adalah tempat orang-orang yang masih ber-skill minim, belum memiliki bekal cukup, dan masih belum terlatih.

Jennie S. Bev salah satu contoh pribadi yang membuat sendiri tangga profesinya sekaligus menciptakan sendiri jalur yang ditempuhnya.

Bagi saya, tiap tangga profesi yang kita pilih memiliki dua jalur yang berbeda arahnya, yang saya sebut Jalur A dan Jalur B. Atau kita membuat jalur sendiri seperti yang dilakukan Jennie? Untuk menggambarkan perumpamaan ini, saya akan memberi beberapa contoh (di antaranya kasus saya sendiri).

Saya saat ini sedang berada pada tangga profesi paling rendah. Itu jika dibandingkan dengan tangga-tangga profesi yang sudah ada. Saya hanya seorang pembantu rumah tangga. Namun di tangga ini saya memilih Jalur A, yaitu dengan menjadi pembantu rumah tangga di luar negeri, ketimbang misalnya menjadi pembantu rumah tangga di negeri sendiri (Jalur B). Karena jika sama-sama bisa mengerjakan pekerjaan sebagai pembantu, akan lebih menguntungkan bekerja di luar negeri. Di sana, di samping mendapat jatah libur, bonus, gaji juga lebih besar, saya juga bisa beraktivitas di luar pekerjaan. Meskipun sama-sama diomeli, dan sama-sama disuruh-suruh. Namanya juga pembantu.

Namun untuk memilih Jalur A tentu ada harga yang harus dibayar. Yaitu kualitas pelayanan yang memadai dan juga harus mau bersusah payah mempelajari bahasa majikan.

Seseorang yang memilih tangga profesi jual beli mobil, misalnya. Akan lebih enak baginya jika memilih Jalur A, yaitu menjual mobil baru dari pada menjual mobil bekas (Jalur B). Calon pembeli mobil baru tentunya adalah mereka yang mempunyai uang, sehingga akan lebih mudah membuat deal dengan mereka. Sambutannya juga lebih ‘wah’. Ketika kita bertandang ke kantor atau ke rumahnya yang umumnya ber-AC itu, tuan rumah akan memberi minum, minimal soft drink, atau teh botol, syukur-syukur dawet (es cendol). Alangkah enaknya. Dan kenyamanan-kenyamanan seperti ini sulit didapat jika seseorang memilih Jalur B, yaitu menjual mobil bekas. Dan tentulah seseorang yang memilih Jalur A harus diimbangi dengan kualitas pelayanannya.

Demikian juga jika kita memilih tangga profesi entrepreneur. Akan lebih indah jika kita memilih Jalur A. Kenapa? Karena Jalur A lebih menguntungkan dari pada Jalur B. Katakanlah kita memulai bisnis donat, burger, pisang goreng, combro dan lain-lain. Akan lebih menguntungkan dan lebih berkembang jika kita memilih “posisioning market” kelas menengah ke atas (Jalur A) daripada kelas menengah bawah (Jalur B). Karena konsumen pada jalur ini adalah orang-orang yang punya duit dan punya selera baik. Mereka biasanya tak keberatan membeli produk yang lebih mahal.

Tentunya, hal ini harus dibarengi oleh produk yang berkualitas, cita rasa maupun kemasannya, proses produksinya, aspek-aspek higienis mulai dari pra produksi, proses produksi, dan pasca produksi. Dan hal yang terpenting lagi, itu harus dibarengi dengan upaya membangun merek dagang, brand awarnes. Ini penting untuk membangun kepercayaan konsumen supaya tidak ada ketidakraguan untuk membeli.

Akan berbeda jika kita memilih Jalur B. Posisi pasar kelas menengah ke bawah ini ketat sekali persaingannya. Sehingga untuk bersaing dalam mendapatkan pembeli, banting harga pun tak terelakkan. Sedangkan bagi perusahaan, menurunkan harga jual akan berimbas pada kesulitan mengatur likuiditas usahanya. Sungguh suatu pilihan yang dilematis.

Jadi, tangga profesi apa pun yang Anda pilih atau Anda membuat sendiri tangganya, akan lebih menguntungkan apabila Anda memilih Jalur A ketimbang Jalur B. Atau lebih “gila” lagi, ciptakanlah tangga profesi sendiri sekaligus memilih jalur sendiri seperti yang telah dilakukan Jennie dan masih banyak lagi orang sukses lainnya. Jika begitu, sebutan yang cocok bagi mereka adalah “inventor”.[Bersambung]

* Eni Kusuma W adalah seorang TKW di Hongkong. Ia gemar menulis di buletin perkumpulan TKW Indonesia di Hongkong. Saat ini, buku kumpulan cerpennya akan segera terbit. Ia dapat dihubungi di: eni_kusumaw@yahoo.com.

Ngutang Saja Kok Repot!

Oleh: Didik Darmanto


Buku ini saya tulis dengan inspirasi awal banyaknya orang yang mengeluh tidak bisa berbisnis gara-gara ketiadaan modal. “Pingin sih punya usaha sendiri apalagi kerja kantoran juga sudah bosan. Tapi gimana ya, modalnya kagak ada!” begitulah ungkapan yang sering saya dengar.

Yah, lagi-lagi masalah uang. Tentunya Anda tidak mau dong menyerah begitu saja. Pengalaman saya sebagai seorang wartawan yang sering berinteraksi dengan pengusaha-pengusaha sukses menunjukkan, bahwa banyak di antara mereka yang mengawali bisnisnya dengan modal uang pinjaman alias ngutang. Lantas kenapa Anda tidak mengikuti jejak mereka?

Sebenarnya masalah keterbatasan modal bukanlah alasan untuk tidak segera berbisnis. Kalau memang tidak punya uang, ya solusinya pinjam uang saja. Toh banyak lembaga keuangan yang bersedia mengucurkan dana segarnya untuk Anda.

Gimana ya berbisnis kok dengan uang utangan, bisnis dengan uang sendiri saja rasanya berat? Jangan-jangan nanti tidak bisa bayar utang!? Masa sih harus berutang seperti orang melarat saja!?

Perasaan takut dan malu berutang inilah yang menjadi penghalang utama kesuksesan Anda. Selama ini utang selalu diidentikkan dengan kebangkrutan finansial. Sebenarnya anggapan semacam itu tidak selamanya benar. Acapkali orang yang berutang adalah orang yang sedang jaya-jayanya dalam berbisnis. Konsekuensinya, ia memerlukan suntikan modal untuk melakukan ekspansi bisnis.

Lagi pula, berutang sudah merupakan hal yang lumrah bagi para pebisnis sukses. Dapat dikatakan hampir semua orang kaya di dunia ini memiliki aset yang banyak, tapi sekaligus tercatat sebagai orang yang punya utang banyak. Jadi, kalau mau ikutan kaya seperti mereka jangan segan-segan untuk mencari pinjaman duit.

Tentunya Anda kenal Donald Trump, sang raja properti dari negeri Paman Sam (AS). Siapa sih yang menyangkal kalau sponsor acara reality show top dunia The Apprentice ini orang yang super kaya raya? Hampir separuh lebih properti Amerika di bawah kekuasaannya. Tapi meskipun sudah kaya raya, Trump tetap saja punya utang. Justru dari uang pinjaman itulah ia membangun kerajaan bisnisnya. Hingga sekarang ia terkenal piawai menyulap utang menjadi kekayaan (turn debt in to wealth).

Begitu pula dengan entrepreneur gila kita, Purdie E Chandra (Bos Primagama Group). Selain hobi main golf, ia mengaku juga hobi berutang. Kerajaan bisnisnya dibangun dengan uang pinjaman dari kiri-kanan. Coba bayangkan, berawal dari bisnis les privat kecil-kecilan di pojok kota Yogyakarta, ia kemudian bisa berkembang menjadi “raja bimbingan belajar” di Indonesia. Kata kunci kesuksesan bisnisnya tiada lain adalah rajin berutang.

Tak mengherankan kalau pendiri Entrepreneur University ini selalu mengompori orang lain untuk berutang. Dalam ceramah-ceramah entrepreurship yang diselenggarakannya, ia selalu bertanya kepada para peserta, “Kapan mobilmu disekolahkan?” Maksudnya, kapan mobil mereka bakal digadaikan untuk dijadikan modal usaha.

Lain Purdie, lain pula Miming Pangarah, Bos Indoprint, Offset & Printing Industries, Bandung. Miming termasuk orang yang merasakan manfaat ngutang. Berkat uang pinjaman ia bisa melejitkan asetnya dari ratusan juta menjadi Rp10 miliar hanya dalam tempo tiga tahun saja!

Begitu pula dengan Budi Utoyo, pengusaha Leha-leha Spa dan franchisor Clup-Clup, ini mampu menggandakan asetnya dari puluhan juta menjadi Rp3 miliar dalam waktu kurang dari satu tahun. “Bahkan saya bisa beli ruko senilai Rp470 juta tanpa pakai duit,” tukasnya saat saya temui di Hotel Le Meridien, Jakarta.

Dan lebih gila Masbukhin Pradana, pengusaha dengan julukan “raja voucher”, ini membeli kios hanya dengan menggunakan kartu belanja Carrefour. Kemampuan mengelola utang membuat asetnya bertambah secara cepat dengan memanfaatkan duit orang lain alias ngutang.

Cara berpikir orang-orang sukses seperti mereka bukannya bagaimana agar terbebas dari utang. Tapi, sebaliknya mereka justru berpikir bagaimana caranya supaya bisa memperbesar utang. Ketika Anda menerima utang, jangan Anda pikirkan bagaimana cara melunasinya, tapi pikirkan bagaimana cara memanfaatkan uang pinjaman tadi. Kalau uang itu sudah bekerja untuk Anda, maka Anda tidak perlu repot-repot lagi memikirkan cara melunasinya. Karena utang sudah dilunasi oleh orang lain yang memanfaatkan usaha Anda. Istilah Purdie, “Silahkan kamu berutang, biar konsumen yang melunasi.”

Sebenarnya, cara berpikir mereka sederhana sehingga membuat mereka berani berutang dan kemudian sukses. Yaitu, dengan modal seadanya saja sudah untung, apalagi kalau ada tambahan modal pasti akan lebih menguntungkan lagi. Memang benar, selama utang digunakan untuk usaha dan memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding bunga pinjamannya, maka dijamin bahwa semakin besar utang akan semakin besar pula keuntungan yang Anda peroleh. Misalkan pinjam uang Rp100 juta dengan bunga pinjaman 1,5 persen per bulan. Semantara keuntungan yang diperoleh dari bisnis yang dibiayai dengan uang pinjaman tadi sebesar 5 persen. Berarti ada selisih 3,5 persen dari Rp100 juta yang masuk ke kantong Anda. Coba kalau utangnya Rp500 juta, tentu akan lebih besar pula keuntungan yang Anda raih. Dengan begitu, semakin banyak utang otomatis akan semakin kaya!

Mengelola utang untuk menambah aset inilah yang sebenarnya dimaksud oleh Robert T Kiyosaki, bahwa uang bekerja untuk kita. Cukup dengan mencari utang kemudian Anda putar di dunia usaha, tiba-tiba aset Anda sudah bertambah dengan sendirinya. Anda tidak perlu memikirkan bagaimana mengembalikannya karena di belakang Anda sudah ada pelanggan yang siap melunasi. Kalau utang sudah terbukti bisa bikin kaya, lantas kenapa Anda tidak segera berutang?

* Didik Darmanto adalah mantan wartawan tabloid Bisnis Uang yang sekarang berkarir sebagai Perencana Pembangunan di Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Selain sebagai PNS, Didik juga menjadi wirausaha dan tercatat sebagai anggota Certified Wealth Managers’ Association (CWMA). Artikel ini merupakan bagian dari bukunya yang akan segera terbit dengan judul: “Kalau Mau Kaya Ngapain Takut Ngutang” (Bornrich, 2006). Ia dapat dihubungi di: didikdarmanto@gmail.com.

Gitar

Oleh: Ardian Syam


Lahir di Hampstead, London tanggal 23 Juli 1965 dan dibesarkan di Stoke-On-Trent, Staffordshire, Inggris. Ketika lahir diberi nama Saul Hudson. Lahir dari ibu yang turunan AfroAmerika dan ayah Inggris kulit putih. Sang ibu berpenghasilan dari kegiatan menjadi pendesain pakaian bagi entertainer seperti David Bowie.

Umur 11 tahun dia dan sang ibu pindah ke Los Angeles yang kemudian disusul oleh sang ayah. Keluarga Hudson sering didatangi para seniman seperti Iggy Pop, Ron Wood, David Bowie, David Geffen dan masih banyak seniman lain sehingga menularkan gaya hidup bohemia bagi Saul kecil. Sekitar saat itu pula Saul menggemari BMX (bicycle motorcrossing) dan sering kali berkendara tanpa menggunakan rem. Dia sering mendapatkan hadiah dan uang karena kegiatan ini.

Ketika berusia 15 tahun, sang nenek memberi gitar, walaupun hanya satu senar tetapi Saul tetap senang dengan gitar itu dan tetap bisa main. Pengaruh awal dari Led Zeppelin, Eric Clapton, Rolling Stones, Aerosmith, Jimi Hendrix, Jeff Beck, Neil Young benar-benar mengubah jalan hidup Saul. Dua belas jam setiap hari Saul bermain gitar. Semula dengan rambut panjang keriting dan gaya hidup bohemian, Saul dijauhi teman-teman. Begitu dia menunjukkan kepiawaian bermain gitar, teman-teman menganggap Saul cool dan pantas diajak bergaul.

Suatu saat Saul bertemu dengan Steven Adler dan membentuk Road Crew Band dan membutuhkan penyanyi. Dia bertemu dengan Izzy Stradlin yang menampilkan seorang penyanyi yang ingin diambil Saul dari Izzy. Saul mencari pemain bass dan menemukan Duff McKagan ketika Duff menjawab iklan yang dimuat di koran. Mulai terbentuklah gaya bermusik dari sekian banyak orang berbakat tadi. Masing-masing memberi warna, terbentuk pula warna yang khas dari sebuah band yang mereka namai Guns N’ Roses.

Sebagian dari Anda dapat saya pastikan sudah dapat menebak siapa yang sedang saya bicarakan. Ya, Slash. Gitaris yang mempunyai gaya bermusik yang khas, diimbuhi oleh W. Axl Rose yang mempunyai aksi panggung dan gaya bernyanyi yang khas pula. Seorang gitaris yang berambut keriting panjang. Anda bisa buka situs resmi klub penggemar Slash di http://www.snakepit.org/bio.html untuk sekedar memperhatikan wajah sang gitaris ketika muda.

Ya, karena sejak dia dikenal dengan GNR sangat jarang wajah sang gitaris terlihat penuh. Selalu saja hanya bagian hidung ke bawah yang terlihat, bagian lain dari wajah sang gitaris akan tertutup dengan rambut panjang nan keriting. Selain hal tersebut, ciri khas lain dari penampilan Slash adalah rokok yang selalu terjepit di sela kedua bibir. Bahkan ketika di panggung, akan ada orang yang membakarkan rokok tersebut dan menyediakan untuk dijepit kembali oleh bibir Slash bila rokok terdahulu sudah habis.

Apakah terjadi sesuatu dengan mata sang gitaris?

Coba saja lihat beberapa gambar dari situs ini:

• http://www.showbizireland.com/images/stars2/slash-velvetrevolver3.jpg
• www.snakepit.org/slash-rollingstone.jpg
• www.robertmknight.com/photos/various/20-slash.jpg, dll.

Anda akan benar-benar yakin tidak terjadi apa pun dengan mata sang gitaris. Sebuah mata yang dapat dikatakan normal. Kita memang tidak sedang ingin membicarakan mata Slash yang selalu tertutup oleh rambut keriting panjang itu. Kita juga tidak ingin membicarakan tentang kebiasaan sang gitaris di atas panggung dengan rokok yang selalu terjepit di sela bibir.

Kita sedang membicarakan tentang keseriusan. Tentang fokus. Indonesia juga tidak kekurangan orang-orang seperti ini. Titik balik awal selalu sama. Ada seseorang baik itu nenek, kakek, tante, oom, ayah, ibu, kakak yang menghadiahi mereka gitar dan karena itu mereka menjadi serius. Keseriusan untuk terus berlatih bermain gitar juga terjadi pada Dewa Bujana dan Tohpati. Keseriusan untuk terus berlatih sepak bola terjadi pada Ronaldinho dan banyak jago bola lain.

Betapa tidak, tidak satupun kompetensi di dunia ini yang tidak dapat dicapai dengan jam terbang. Semakin sering berlatih maka akan semakin cepat pula kompetensi kita meningkat. Lalu Anda mungkin bertanya bagaimana dengan orang-orang yang sering berpindah kantor?

Pernahkah Anda mencoba memperhatikan apa yang mereka kerjakan di banyak perusahaan tersebut? Sebagian besar orang yang berpindah perusahaan seringkali mencapai posisi tertinggi di tempat terakhir dia bekerja, karena mereka bekerja di jalur pekerjaan yang sama. Mereka baru benar-benar pindah jalur ketika sudah sampai di puncak.

Ada banyak contoh untuk itu. Cacuk Sudarjanto almarhum walaupun memiliki gelar kesarjanaan geologi tetapi fokus pada penjualan jasa di bisnis teknologi informasi. Baru di puncak beliau berpindah ke jalur telekomunikasi. Begitu pula dengan Arwin Rasyid yang berserius di bisnis jasa perbankan, ketika di puncak berpindah ke jalur telekomunikasi. Teddy P Rachmat terus berkarir di bisnis otomotif. Mochtar Rijadi terus berkarir di perbankan.

Suatu saat Anda mungkin pernah terseret ke pola pikir multi-kompetensi. Memang sangat bagus. Karena Anda bisa dipekerjakan di banyak proyek sekaligus. Tetapi fokus Anda bahkan tidak akan hilang. Bila Anda lulusan fakultas teknik informasi maka pada proyek apapun Anda dipekerjakan maka mau tidak mau yang paling awal Anda pertimbangkan adalah dukungan teknologi informasi. Bila Anda sarjana akuntansi maka di proyek mana pun Anda bekerja Anda tidak akan pergi jauh meninggalkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan, buku panduan utama para akuntan.

Lalu bila Anda memang tidak bisa jauh-jauh dari jalur yang sudah sejak awal Anda tempuh, mengapa Anda pergi terlalu jauh? Saya sangat menyarankan Anda untuk tetap memiliki multi-kompetensi, tetapi menjadi lebih seriuslah di jalur yang Anda pilih.

Kembali kepada Slash, tidak kah Anda lihat sikap pemusik satu ini? Tidak banyak gosip buruk yang kita dengar tentang dia. Mengapa bisa begitu? Kegiatan yang dia pilih, bermain gitar, sudah cukup membuat dia sibuk berlatih teknik-teknik bermain yang baru. Cara bermain yang menimbulkan bunyi-bunyi yang tidak biasa. Begitu pula bila Anda tetap fokus pada jalur yang Anda pilih. Anda akan terus berupaya untuk meningkatkan kompetensi Anda. Sehingga tidak banyak waktu tersisa untuk hal-hal lain yang tidak berguna bagi siapa pun.

Di akhir dari semua hal tersebut, kembali kepada Slash, sikap yang dia tunjukkan benar-benar hebat. Sebagai salah satu ‘dewa gitar’ dia benar-benar rendah hati. Benar-benar ilmu padi: semakin berisi semakin merunduk. Mengapa bisa demikian? Pada saat Anda terus mengejar peningkatan kompetensi Anda, maka Anda akan terus menerus bertemu dengan orang yang memiliki kompetensi yang lebih tinggi dari Anda. Seberapa tinggi pun kompetensi Anda saat naik, akan selalu ada yang lebih tinggi. Inilah yang memberi sikap rendah hati. Selamat mengikuti jejak Slash.[]

* Ardian Syam adalah seorang pendidik dan praktisi bisnis. Bukunya sedang dalam proses penerbitan dan akan segera beredar dalam waktu dekat. Ardian dapat dihubungi di: ardian.syam@gmail.com

This is Your Game

Oleh: Ignatius Muk Kuang


Permainan catur sudah saya kenal sejak saya masih berusia 6 tahun. Permainan di atas papan hitam dan putih ini membuat saya ingin terus bermain karena sangat menantang, penuh dengan strategi dan selalu bermain dengan pola pikir yang taktis. Meskipun saya tidak bisa dikatakan Grand Master untuk permainan ini, tapi saya mulai menyenangi permainan ini sejak saya masih kecil. Sebenarnya hidup ini sama seperti papan catur yang dimainkan.

Jika kita cukup smart dalam memainkannya, kita bisa menang. Jika kita terlalu cuek memainkannya, besar kemungkinan kita akan kalah. Jika kita membiarkan orang lain mendikte kita dalam bermain, maka kita telah membiarkan orang lain mengontrol kita dari sejak awal bermain.

Terlalu cuek, masa bodoh, tidak peduli, malas berpikir dan berusaha dalam hidup, semua sikap mental tersebut jika terus menerus dipelihara hanya akan membawa seseorang pada kondisi kemunduran.

Jika yang terjadi memang demikian, kita tidak mendapatkan ‘poin’ dan akan kalah dalam hidup ini. Ketika seseorang mulai menggantungkan hidup ini kepada orang lain tanpa sedikit pun kontrol yang dipegang, maka bukan lagi orang tersebut yang menentukan masa depan diri sendiri, melainkan orang lain yang menentukan ke mana dia akan pergi.

Seseorang harus menjadi nahkoda bagi kapal hidupnya sendiri, bukan pihak lain. Hal ini bukan semata-mata harus bekerja seorang diri dan tidak memperdulikan komunitas sekitar, tetapi proses kerjasama dan belajar dari orang lain tetap berjalan sejauh yang memegang kendali hidup diri sendiri.

Greg Hickman dalam artikelnya yang berjudul "Taking Charge and Taking Off", mengatakan "If you truly want to put some real power into your performance, you first need to understand who’s in charge of running your life. Just in case you haven't figured it out by now, that someone is YOU!".

Jika Anda ingin meletakkan kekuatan besar dalam kinerja Anda, Anda harus ketahui siapa yang bertanggung jawab dalam hidup Anda. Apabila Anda belum menemukannya, orang tersebut sebenarnya adalah Anda sendiri.

Karena hidup ini merupakan game bagi setiap orang, maka sudah seharusnya setiap individu bertanggung jawab penuh dalam proses perjalanan hidup masing-masing. Play your own game. Yang menentukan seberapa jauhnya langkah Anda untuk maju, adalah Anda sendiri lewat kerja keras, komitmen, sikap mental yang positif.

Siapa yang menentukan apakah Anda dapat sukses?
Siapa yang menentukan apakah Anda dapat menjual produk lebih banyak?
Siapa yang menentukan apakah akan sukses dalam karir Anda?
Jawabannya sangat sederhana, yaitu Anda!

So, it's the time to give scores in your life because this is your game!

Salam Sukses!

* Ignatius Muk Kuang: Trainer, Speaker (Motivation, Self-Development, Salesmanship, Presentation, Public Speaking) Actively write some articles related to People Development. Email: mukkuang@yahoo.com

Pembelajar Sejati

Oleh: Roni Djamaloedin


PEMBELAJAR sejati adalah mereka yang mencari "jawaban pasti" dan berusaha sungguh-sungguh dapat menuntaskan permasalahan; siapa saya, dari mana berasal, mengapa diberadakan di dunia, apa yang harus dilakukan, ke mana akan pulang (kembali), kepada siapa harus bertanggung jawab, dan siapa yang harus digugu dan ditiru (tutur kata dan perilakunya).

Proses dan waktu pencariannya dilakukan sepanjang hayat dikandung badan. Memenuhi sabda Nabi saw., carilah ilmu sejak ayunan sampai liang lahat (mati). Maksudnya, selama hidup di dunia waktunya digunakan untuk mencari ilmu di samping menjaga tegaknya hablun minallah dan hablun minanas. Wilayah pencariannya, sebagaimana perintah, "carilah ilmu sampai ke negeri Cina". Perintah ini "sangat rasional" bila diintegrasikan (menurut rumusan matematika) menjadi "carilah ilmu walau sampai ke penjuru dunia".

Sedangkan "kunci mutlak" untuk menemukan "jawaban pasti"-nya, pertama, mau mengakui kebodohan diri. Secara ksatria (lapang dada) mau menerima kenyataan bahwa sejak masih di alam kandungan sana telah divonis oleh-Nya zhaluman jahula (kejam lagi bodoh) (Q.S. 33:72). Menyadari pula bahwa bagaimanapun hebatnya akal pikiran (dalam menciptakan ilmu pengetahuan teknologi, maupun penguasaan empat kitab suci - beserta ribuan "kitab" derivasinya) tetaplah zhaluman jahula. Menerapkan ilmunya padi, semakin merunduk semakin berisi. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki, semakin "ngrumangsani" (merasai) kebodohan dan kekurangannya diri.

Kedua, karena masalahnya "melangit" maka memasyarakatkan untuk berguru (mencari guru) yang mengadanya di "langit". Sebab, sang "resi" ini di-"pingit" oleh Tuhan sendiri (Satriya Piningit). Mencontoh pengalaman Nabi Musa, sekalipun telah diangkat sebagai rasul/utusan-Nya (yang secara logika sudah sangat sempurna, tidak ada yang melebihi kesempurnaan ilmunya), ternyata masih bersedia ketika diperintah Tuhan berguru pada Nabi Khidhir -- walaupun akhirnya gagal (Q.S. 18:78). Memenuhi pitutur Sultan Agung dalam tembang "Dhandhang Gula". Lamun sira hanggeguru kaki. Amiliha manungsa kang nyata... Bila kamu hendak berguru/pilihlah manusia yang nyata, imamu mubin (imam yang nyata keimanannya istilah lain dari rasul/khalifah-Nya).

Ketiga, bersedia selalu meng-update ilmunya. Tidak pernah merasa puas atas ilmu (pengetahuan dan pengalaman) yang telah diterima. Ibarat berlayar, semakin jauh ke tengah samudra, semakin menyadari betapa luasnya samudra (ilmu) itu. Semakin menyadari pula betapa tak berdayanya diri di hadapan luasnya samudra ilmu Tuhan.

Rumusan pembelajar sejati
Secara sufism-experience rumusan pembelajar sejati atas tujuh permasalahan tadi adalah, pertama, siapa saya? Saya adalah kandungan makna di balik ungkapan "barang siapa mengetahui dirinya sendiri maka akan mengetahui Tuhannya dan barang siapa mengetahui Tuhannya tentu akan mengetahui bodohnya diri" (fatwa Imam Ali). Silogismanya, barang siapa mengetahui dirinya sendiri, tentu akan mengetahui bodohnya diri.

Sementara, kenyataannya, bodohnya diri belum diyakini dan dirasakan secara pasti. Ini menandakan kalau rahasia jati dirinya belum bisa diketahui. Penyebabnya, karena pengetahuan tentang Tuhan (dalam arti Wujud/Dzat, bukan nama/istilah/sebutan-nya) belum pernah dipelajari (digunakan). Sedangkan untuk mengetahuinya, harus digurukan (ditanyakan secara langsung) kepada yang hak dan sah menunjukkan rahasia Jati Diri-Nya.

Ilmunya (salah satu namanya), disebut ilmu zikir. Ilmu ini dijaga dan diturunkan sendiri oleh-Nya (Q.S. 15.9). Ia tidak ada di dalam buku maupun tulisan. Malah Alquran memerintahkan, "Bertanyalah kepada ahli zikir bila kamu tidak mengetahui (bagaimana caranya berzikir)." (Q.S. 21:7).

Ahli zikir adalah istilah lain bagi rasul/utusan-Nya. Adalah hamba pilihan Tuhan yang siang malam, hatinurani, roh, dan rasanya (dibuat Tuhan) tidak pernah lupa dari (mengingat-ingat zikirnya. Susah senang bahagia sengsara, bahkan tidur pun tidak pernah lengah dari zikir. Zikir sendiri adalah ingatnya hatinurani, roh, dan rasa pada Wujud/Zat Tuhan. Bukan ingatnya hati pada asma/nama-Nya dengan sebanyak-banyaknya, yang jumlahnya mencapai 99.

Sedangkan instrumen untuk mengenali Wujud/Dzat-Nya adalah hatinurani, roh, dan rasa. Bukannya otak/akal pikiran yang selama ini di-"dewa"-kan manusia. Sehingga, ketika pengenalan pada Zat Tuhan telah dapat dicapai dengan sebenarnya, permasalahan "siapa sebenarnya saya" dengan sendirinya dapat diketahui secara pasti.

Kedua, dari mana berasal? Saya (dan semua spesies manusia) berasal dari Fitrah Tuhan. Fithratallahi allati fatharannasa alaiha (QS. 30:30). Fitrah Allah-lah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Jelasnya, fitrah manusia itu merupakan "percikan" dari Fitrah Tuhan.

Andai "boleh" dimisalkan, manusia merupakan "satu partikel" cahaya yang terpancar sumber cahayanya (semisal matahari). Partikel cahaya (unsur dasar manusia) ini disebut rasa (Arab, sirr), yang kemudian sering disebut "perasaan". Rasa dibungkus oleh roh. Roh adalah daya dan kekuatan Tuhan yang dipinjamkan pada manusia, yang tersusun tujuh lapis. Roh-lah yang kemudian menjadikan manusia bisa berdaya, bertenaga, bernapas, berpikir, maupun beraktivitas lainnya. Roh ini dibungkus oleh hati nurani. Hati nurani kemudian dibungkus oleh jasad/raga (kulit daging) yang disempurnakan dengan prosesor 1 triliun sel (otak) lengkap dengan indra dan berbagai macam organnya.

Ketiga, mengapa saya diberadakan di dunia? Tidak lain ada¬lah hendak diuji oleh Tuhan. Seperangkat materi tes (rintangan) yang harus diselesaikan agar bisa pulang kembali kepada-Nya. Cara (satu-satunya) untuk menyelesaikannya adalah patuh dan tunduk terhadap rasul/utusan-Nya, sebagaimana patuh tunduknya malaikat dihadapan khalifah-Nya.

Mengapa diuji? Sebab, ketika masih di alam arwah dulu telah menyatakan sanggup memikul amanah dari-Nya. Padahal amanah tersebut sebenarnya tidak ditawarkan kepada manusia. Melainkan ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, yang mereka semua tidak bersedia menerimanya (Q.S. 33.72). Akan tetapi, tanpa disangka, makhluk kecil-mungil yang namanya manusia menyatakan sanggup menerimanya. Karena kesediaan itulah lalu turun vonis zhaluman jahula.

Andai seorang bayi yang sejak lahir diuji (dibuang) ke hutan (cerita Tarzan), tugas wajib si bayi adalah bisa pulang kembali pada orang tuanya. Pikirannya harus bisa bekerja bahwa kera, harimau, orangutan, gajah bukanlah orang tuanya. Mencari --hingga menemukan-- orang tuanya adalah segala-galanya. Bukannya bahagia/susah/sengsara apalagi terpesona atas kehidupan hutan (materi ujian) beserta komunitasnya.

Demikian halnya pada manusia, bila ujian (dunia) ini diselesaikan dengan sebaik-baiknya, besar kemungkinan ketika mati nanti tidak bisa pulang kepada-Nya. Terdampar di alam kesesatan (alam penasaran) menjadi wadyabalanya jin, setan, iblis, gendruwo, tuyul, dan sebangsanya.

Keempat, apa yang harus saya lakukan? Sedini mungkin mengokohkan niat untuk pulang kepada-Nya. Berlatih terus untuk selalu menyadari bahwa dunia dan seisinya ini merupakan wujud ujian. Harta, takhta, anak, istri, pekerjaan, dan sebangsanya semuanya ujian-Nya. Oleh karenanya, mereka semua harus bisa diselesaikan dengan cara menafikan (meniadakan) dari dalam hatinurani, roh, dan rasa, serta menetapkan Wujud/Dzat Tuhan sebagai satu-satunya yang harus diingat-ingat.

Namun demikian, secara lahiriah tetap lumrahnya manusia berdunia. Bekerja keras mengelola garapan dunia sesuai dengan "lakon" yang dihadapi dengan sebaik-baiknya, seprofesional mungkin. Kesemuanya dalam rangka "mancat" ke "langit", pulang kepada-Nya (mazroatul akhiran). Yang membedakan dengan kebanyakan manusia lainnya hanyalah niatannya.

Kelima, ke mana saya akan pulang (kembali)? Tidak lain kepada Zat Tuhan yang telah menciptakan manusia. Tempat ini harus bisa dikenali dengan pasti ketika hidup di dunia. Instrumen yang bertugas mengenali adalah hatinurani, roh, dan rasa. Bukannya otak dan akal pikiran. Sebab, otak hanya sebatas instrumen yang dapat menangkap kalau Dia itu ada. Tetapi perihal Wujud/Dzat-Nya, merupakan tugasnya hatinurani, roh, dan rasa.

Ibarat mau ke Bulan, sebelum berangkat dipersiapkan dulu ilmu pendukung, tata cara, sarana, arah/peta, akomodasi, maupun perlengkapan lainnya. Bila pengetahuan perihal ini -- beserta tata cara menuju ke arahnya -- tidak bisa dipelajari dan dipahami dengan pasti, bisa dipastikan tidak akan pernah sampai padanya, tersesat sejauh-jauhnya.

Keenam, kepada siapa saya harus bertanggung jawab? Secara vetikal, segala perbuatan langsung bertanggung jawab kepada Tuhan. Sedangkan secara horizontal, bertanggung jawab pada diri sendiri, masyarakat, atasan, maupun lingkungan kerja masing-masing sebagaimana peran fungsinya. Namun, di balik tanggung jawab horisontal ini ada tanggung jawab langsung kepada-Nya.

Ketujuh, siapa yang harus digugu dan ditiru (tutur kata dan perilakunya)? Satu-satunya yang "layak" digugu dan ditiru tutur kata dan perilakunya hanyalah rasul-Nya. Sebab, hanya beliaulah yang dijamin oleh-Nya "maksum" (terbebas dan segala kesalahan). Beliau ditugasi Tuhan untuk menyempurnakan akhlak manusia. Beliau juga ditugasi membimbing manusia berjalan "pulang" kepada-Nya.

Selain rasul, tidak ada jaminan kebenarannya. Sekalipun telah menyandang "ulama hebat" kondang sak jagad, tetap tidak ada jaminan maksum dari-Nya. Di lain pihak, yang namanya ulama (pewaris para nabi) ini masih diragukan keulamaannya. Apakah ia benar-benar mewarisi ilmunya para Nabi secara keseluruhan? Kalau secara parsial (bagian) memang sangat mungkin. Sedang seyogianya yang diwarisi meliputi: perkataan dan perbuatan, ilmu dan amalnya, lahir dan batinnya, terlebih hatinurani, roh, dan rasanya.

Namun demikian, pada mereka semua dapat diambil sari pati hikmahnya. Jangankan mereka yang pandai dan mengaku ulama, yang bodoh tidak pernah sekolah --apalagi mengikuti pelatihan manajemen dan kepemimpinan-- pun dapat diambil sari pati kebenarannya. Contohnya pada Nabi saw sendiri. Oleh karenanya, semua manusia diperintahkan, "Lihatlah (dengarkan) apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang bicara."

Walhasil, hanya orang cerdaslah yang dapat menemukan hikmah luar bisa di balik seonggok sampah (kotoran yang biasanya dibuang sia-sia). Hanya orang arif bijaksanalah yang mau berusaha keras menjadi "Pembelajar Sejati". Sebab, paham betul kalau semua waktu/kesempatannya berada dalam kerugian yang teramat besar, kecuali berajak-ajak dalam kebenaran dan berajak-ajak dalam kesabaran.[]

* Roni Djamaloedin adalah seorang penulis, dosen STT POMOSDA, Guru SMA POMOSDA bidang studi Matematika dan Ilmu Kependidikan. Catatan: tulisan ini pernah dimuat di harian Pikiran Rakyat, 24 April 2006

TANGGA-TANGGA PROFESI

Oleh: Eni Kusuma W


Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, bahwa bagi saya, tangga-tangga profesi berikut dengan jalur-jalurnya yang sudah ada itu, banyak sekali ragamnya. Yaitu, sejalan dengan jenis pekerjaan yang ada. Tangga profesi keartisan, jurnalis, entrepreneur, marketing, pembantu rumah tangga, dan masih banyak lagi deretannya. Bahkan profesi yang diklaim negatif oleh masyarakat pun mempunyai tangganya sendiri, seperti WTS (wanita tuna susila).

Khusus untuk pribadi-pribadi yang memilih (baca: terpaksa memilih) profesi sebagai WTS—baik dengan sadar, tanpa sadar maupun dengan paksaan orang lain—betapa pun mereka mendaki sampai tangga atas, mereka tidak pernah mendapatkan penghargaan dari masyarakat. Di Hongkong, para WTS ini diiklankan di majalah, koran, vcd, dan internet (ini adalah jalur A nya). Mereka hanya mendapatkan uang. Tak lebih. Dan sisanya hanyalah cibiran publik.

Dulu masyarakat memandang sebelah mata profesi sebagai pembantu. Karena memang profesi ini paling rendah derajatnya. Namun, sejak mereka bisa menulis, kini pelan-pelan tidak lagi, semoga.

Bagaimana dengan pribadi-pribadi yang berjalan pada lebih dari satu tangga profesi secara bersamaan? Bahkan satu pribadi dengan sederet profesi? Bagaimana penggambarannya? Mudah saja, karena penggambaran profesi berupa tangga, hanyalah sebuah teori. Tangga yang saya maksud ini tentulah bukan tangga yang sebenarnya, yang hanya mungkin didaki dengan dua kaki saja. Tetapi tangga sebuah penggambaran, yang tentu saja didaki dengan energi dan pikiran.

Pada setiap tangga profesi yang sudah ada ini, saya gambarkan tidak hanya satu orang saja yang mendaki di sana, di jalur masing-masing, (kecuali membuat sendiri tangganya). Namun banyak orang. Mereka saling bersaing untuk tetap bisa bergerak naik ke atas mencapai target yang diinginkan. Posisi yang paling apes, jika kita masih berada pada posisi tangga profesi paling rendah dan di jalur yang tak menguntungkan. Karena di posisi ini tempat orang-orang miskin, orang-orang yang tak tahu apakah besok ada makanan yang bisa dimakan menyambung hidup atau tidak untuk. Mereka terus mendaki, terseok-seok dan jika jatuh pun akan sangat mengenaskan. Mau tak mau, suka atau tidak suka, kita harus tetap mendaki menaiki tangga. Karena bagaimana pun perut harus tetap diisi. Jika berhenti berarti mati.

Akan sangat berbeda dengan mereka yang berada di tangga profesi kategori lumayan. Atau lebih indah lagi yang telah berada di tangga profesi kategori tinggi. Kalau pun jatuh, karena kalah bersaing, masih tetap punya uang dan masih tetap bisa liburan ke luar negeri.

Di jalur A, di posisi profesi paling rendah yang saya jalani, saya terus berjalan menaiki tangga. Saya harus mendaki sebaik-baiknya. Saya harus bekerja sebaik mungkin. Jika tidak, saya akan terlempar jatuh dan terpaksa harus bangkit lagi dan mulai mendaki lagi. Saya tak mau itu. Banyak sekali teman-teman saya yang mendaki di tangga ini dan di jalur ini, terlempar jatuh ke tangga di bawahnya. Ada yang mulai bangkit lagi. Namun tak jarang ada yang memilih menghentikan perjalanan dengan bunuh diri. Kenapa mereka sampai terlempar jatuh? Karena mereka –secara sadar atau tidak sadar—tidak mendaki (baca: bekerja) dengan baik. Hanya itu. Mereka tidak berusaha belajar bagaimana menjadi pembantu yang baik. Saya kok yakin, jika kita punya niat baik dan bekerja sebaik-baiknya, maka orang lain pun akan menghargai usaha kita. Bagaimanapun kejujuran membuahkan kejujuran. Dan ketulusan akan menghasilkan ketulusan pula. Inilah hukum yang saya percayai di mana pun saya berada.

Saya tidak pernah mengatakan pada diri, saya orang gagal. Saya lebih peduli dengan cara pandang saya terhadap diri sendiri daripada cara pandang orang lain terhadap diri saya. Yang selalu saya tekankan pada diri adalah bahwa saya harus banyak belajar, bukannya merasa gagal. Saya hanya memilih dan mendaki tangga profesi yang sesuai dengan kemampuan saya. Mendaki sebaik-baiknya dan belajar sebaik-baiknya. Sambil terus melirik kemungkinan ada peluang untuk mendaki di tangga profesi yang lebih baik alias memposisikan diri pada posisi yang lebih menguntungkan.

Sementara bagi mereka yang membuat sendiri tangga profesinya akan lebih leluasa dalam pendakian. Karena tidak ada pesaing yang bersama-sama naik ke tangga buatannya tanpa seizinnya. Profesi ini belum ada sebelumnya dan para pelakunya tentu saja sedang atau sudah mendaki di tangga profesi sebelumnya. Jika tidak, dari mana bekal untuk membuat dan membangun sendiri tangga profesinya? Baik itu bekal materi maupun non materi.

Merekalah para inventor yang penuh dengan inovasi itu. Dan mereka pada umumnya adalah pribadi-pribadi yang dipandang sebelah mata, diejek, dicibir bahkan dianggap setengah gila (jika saya boleh meminjam istilah ini dari Jennie S Bev) terhadap apa yang sedang mereka lakukan itu. Biasanya mereka akan diketahui keberadaannya setelah berhasil meraih puncak tangga. Suatu tanda keberhasilan atas usaha yang mereka lakukan. Pada saat inilah publik akan mencari tahu sejarah perjalanan hidupnya. Sejarah di mana mereka telah membuat dan membangun sendiri tangga baik suka maupun duka.

Siapa pun Anda, terutama yang masih berada di tangga profesi dan berada di jalur yang tidak menguntungkan, tetaplah mendaki sebaik-baiknya. Belajar sebaik-baiknya. Dan mencoba untuk dapat meraih posisi yang lebih baik. Karena bagaimanapun, apa yang kita kerjakan sekarang adalah bekal dan pembelajaran untuk langkah kita yang akan datang. Untuk mencari posisi tangga yang lebih baik dan memilih jalur yang menguntungkan dan siap berjuang mendaki di dalamnya.

* Eni Kusuma W adalah seorang TKI (pembantu rumah tangga) di Hongkong. Ia menyebut dirinya bukan pakar per"mutu"an, melainkan salah seorang yang melaksanakan program dari pembelajar.com, yaitu "rajin belajar". Ia suka menulis cerpen, artikel opini, dan sedang merampungkan novel keduanya. Eni dapat dihubungi di: eni_kusumaw@yahoo.com.

Pelayanan Topcer: Langkah-Langkah Praktis dan Konkrit (4)

Oleh: Joshua W. Utomo

“Treat every customer as if your world revolves around them…it does”
“The growth of any organization is nurtured one customer at a time.”

Lalu, hal-hal apa saja (yang praktis, dong) atau langkah-langkah apa saja (yang konkrit, pleaaase…) yang bisa Anda lakukan untuk menerapkan pelayanan konsumer topcer ini? Sebenarnya hal ini pun sudah pernah saya singgung dalam artikel yang lalu, tapi baiklah kali ini saya akan menuliskan semuanya dengan lebih to the point, praktis dan lebih konkrit lagi untuk lebih memudahkan Anda sekalian menerapkannya dalam aktifitas bisnis Anda sehari-hari.

Tapi sebelumnya, saya ingin mengajak Anda sekalian untuk jalan-jalan santai sembari menikmati keindahan alam dan merasakan secara langsung kesantunan masyarakat Bali tercinta di Pulau Dewata—the so-called Paradise on earth itu.

Omong-omong, pada bulan Juni-Juli yang lalu saya dan istri tercinta bersama rombongan kesenian Gamelan Galaktika dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) di kota Cambridge, USA berkunjung ke Bali dalam rangka mengikuti Pesta Kesenian Bali (PKB) XXVII tahun 2005 yang luar biasa itu. Saat itu saya hanya menemani istri (Cynthia C. Laksawana) yang selain berkarier di bidang sains (ahli kimia) juga memiliki hobi profesional sebagai penari dan koreografer tari Bali.

Sedikit cerita tentang PKB. Tahun 2005 lalu merupakan PKB yang ke-27. Ini adalah sebuah pesta seni budaya khas masyarakat Bali yang secara gemilang telah berhasil diselenggarakan setiap tahunnya oleh seluruh lapisan masyarakat di pulau Dewata itu. PKB ini adalah juga salah satu bentuk eskpresi dan manifestasi kebersamaan, kekerabatan, dan kesadaran warga Bali untuk tetap mau secara bersama-sama meleluri (melestarikan) dan mengembangkan kekayaan seni budaya peninggalan para leluhur. Ini adalah sebuah contoh yang baik sekali dan sepatutnya bisa kita tiru—semangat kerjasama, kerelaan dan kemauan secara terbuka untuk terus berkarya dan berkiprah bersama-sama bagi kebaikan semuanya. Pantas saja kalau pesta seni budaya edi peni lokal ini lalu mampu bergema ke tingkat internasional.

PKB ini merupakan aktifitas yang amat penting sebagai salah satu wahana terpuncak bagi pementasan karya seni budaya para seniman/wati di Bali. Maka tak heran bila setiap tahun warga Bali, khususnya para seniman/wati disana selalu menanti-nanti dan bersiap-siap menyongsong datangnya PKB ini. Lebih-lebih jika mereka diundang secara khusus untuk tampil dalam panggung utama di PKB itu, seperti halnya seorang penari balet yang diundang untuk manggung di Carnegie Hall, New York, sebuah kesempatan emas yang tak mungkin disia-siakan.

Baiklah, selama kurang lebih delapan tahun terakhir ini, istri sayalah yang bertanggung-jawab dan yang secara langsung menangani seksi seni tari Bali di Grup Gamelan Bali milik MIT ini sebagai Dance Director mereka, tak pelak lagi, lawatan budaya kali ini pun menjadi salah satu lawatan yang super-sibuk buat Diajeng Cynthia dan grup Gamelan MIT-nya itu. Dia harus tampil menari di pelbagai tempat di panggung-panggung utama PKB di sepenjuru Bali bersama dengan seniman/wati Bali lainnya.

Singkat kata, pada hari-hari tertentu ketika tidak ada jadwal pentas, kami berdua pun segera berkeliling ke tempat-tempat wisata alamiah yang hanya ada di Bali dan yang sungguh indah tak ada duanya di dunia itu. Tak lupa seperti biasanya—kami selalu berusaha mampir dan mencicipi menu-menu pelbagai rumah makan yang pernah kami kunjungi itu untuk kemudian hasil observasi kami itu pun kami jadikan sebagai semacam Zagat Survey ala JosCyn (Joshua-Cynthia) yang biasanya dengan senang hati lalu kami sharing-kan dengan jaringan pertemanan kami lainnya.

Ada banyak warung, rumah makan dan restoran yang kami kunjungi--semuanya memberikan dan meninggalkan kesan dan rasa yang unik. Tapi kali ini, saya hanya ingin membagi dua pengalaman jelajah menu boga itu sebagai contoh praktis dan konkrit bagi kita semua tentang betapa pentingnya pelayanan (service) topcer ini bagi kelangsungan bisnis Anda itu.

1. Contoh Pelayanan Nggak Topcer (PNT)
Pertama saya ingin berbagi pengalaman bersantap malam kami di salah satu restoran yang ada di Jalan Hanoman, Padang Tegal, Ubud yang mungkin sudah amat terkenal di tanah air itu. Ya benar, namanya: Restoran Bebek Bengil! Ini merupakan kunjungan kami pertama kalinya di restoran ini.

Telah banyak kami dengar dari banyak orang tentang restoran yang satu ini, bahwa banyak orang terkenal yang kalau ke Bali selalu menyempatkan diri makan di restoran Bebek Bengil ini.

”Kalau belum ke restoran Bebek Bengil, belum lengkap dech kunjungan ke Bali-nya!”, begitu komentar mereka.
”Benarkah begitu?”

Di senja yang indah itu, ketika sang mentari perlahan dengan gagahnya kembali ke peraduannya dan sang rembulan nampak bergemulai mempesona tak malu-malu mulai menampakkan dirinya, kami berenam (tujuh dengan bapak supir) pun bergegas menuju ke restoran yang berada di pojok jalan Hanoman itu.

Di halaman parkir yang tak seberapa luas dan kurang begitu dirawat itu sudah terparkir beberapa mobil pengunjung lainnya. Dengan bantuan bapak juru parkir yang baik dan ramah itu, pak supir kami pun akhirnya bisa menembus sudut tempat parkir yang sempit itu.

Bangunan restoran yang berukuran besar dan berarsitekturkan khas Bali yang menawan ini memang sangat apik dan atraktif. Suasana di bagian ruang penerimaan tamu di restoran ini tampak tenang, tak satu pun pengunjung tampak di sana. Yang kami jumpai di ruangan itu adalah mbak-mbak muda berseragam yang berjejer di salah satu undhak-undhakan dekat kolam buatan salah satu desain yang apik di restoran itu.

Tak banyak senyum yang terpampang di wajah mereka saat melayani kami sore itu, entah kenapa. Sikap mereka kaku, dingin, dan sangat angkuh. Kata-kata yang terlontar dari mulut mereka singkat-singkat dan terdengar ketus sekali.

“Tak apa, namanya juga manusia mungkin sore ini mereka pas lagi lelah, sehabis kerja seharian dan berdiri terus-terusan. Santai aja dan nikmati menu yang ada,” bisik-bisik kami saling menghibur diri.

Meja yang kami pesan untuk rombongan kami ternyata sudah tak tersedia lagi. Dengan dingin dan suara yang masih ketus hostess dan waitress kami mengatakan kalau meja sudah tak tersedia berarti memang sudah tidak tersedia lagi, walaupun tepat di belakang kami masih ada meja lesehan kosong yang sebenarnya kami pesan sebelumnya.

Pada saat itu sebenarnya, kami harus segera hengkang dari restoran yang pompous ini. Tapi karena ingin secara langsung membuktikan komentar tentang kelezatan dan kepopulerannya, maka kami putuskan untuk mengalah dan menerima meja besar yang terlalu besar bagi kami berenam yang berada tepat di tengah ruangan pusat lalu-lalang tamu-tamu yang datang dan pergi itu. Hingga rasa kedekatan dan percakapan hati ke hati kami pun amat sangat terganggu karenanya.

Selanjutnya, masih dengan sikap dingin, wajah tanpa senyum, dan kata-kata yang singkat-singkat dan suara yang ketus mbak waitress yang sebenarnya berwajah lumayan manis itu, tanpa ba-bi-bu dan seakan tak sabar menunggu langsung menodong kami serombongan untuk segera memesan menu dari buku menu yang belum semenit berada di tangan kami itu.

“Eh lha dalah, belum apa-apa kok sudah ditodong suruh cepetan order, dengan nada ketus lagi! Mbokya, diberi kesempatan duduk dulu, mbaca menu dan pikir-pikir barang 2-3 menit dulu, yok opo seh rek, rek…”, gumamku dalam hati.

“Mbak, kami belum siap pesan, tolong diberi kesempatan beberapa menit ya, terima kasih,” begitu permintaan kami dengan ramah (kami coba untuk sedikit bersabar).

“Eh, ketika kami telah siap memesan, ternyata ada beberapa menu utama yang tak tersedia, entah kenapa?”

Akhirnya makanan pesanan kami pun datang juga. Di tengah-tengah kami menikmati menu yang kami pesan itu (omong-omong ternyata menu restoran Bebek Bengil termasuk dalam kategori biasa-biasa saja, tidak se-spectacular seperti yang kami bayangkan) mendadak serombongan teman-teman bule dari Amerika pun datang ke restoran ini.

Betapa berbedanya pelayanan mbak-mbak staf di restoran Bebek Bengil itu pada mereka (konsumer asing mereka itu) dibandingkan ketika melayani kami (konsumer sesama anak negeri sendiri) beberapa menit sebelumnya.

Senyum manis, suara lembut dan kata-kata yang meluncur dengan nada halus pun tersedia dengan melimpah bagi konsumer asing teman-teman kami dari luar negeri itu.

”Duh, betapa prihatin dan menjerit hati kami saat itu! Tak heran jikalau bangsaku yang tercinta ini selalu terpuruk dan tersungkur di telapak kaki para penjajah, lha wong mentalnya mental penjilat!” teriakku dalam hati.

Dan yang lebih tak enak lagi adalah ketika tepat di depan batang hidung kami yang memang kalah mancung bila dibandingkan dengan teman-teman bule, hostess itu langsung berubah 180 derajat, jadi sangat ramah dan penuh senyum, mempersilakan tamu-tamu asing itu menempati meja lesehan yang seharusnya bagi kami itu.

Itu semua kami saksikan dengan mata dan kepala kami sendiri. Ini sudah sangat keterlaluan. Perlakuan diskriminasi ini sudah di luar batas. Tak bisa dibiarkan begitu saja. Enough is enough. Kalau diperlakukan seperti ini arek-arek asli Suroboyo pasti akan mbengok, ”Juangkriiikkkk!”

“Juangkriiikkk, edyaaaannnn! Pelayanan model apaan ini?!

Mbak-mbak itu itu agak salah tingkah ketika ternyata rombongan bule tamu yang mereka perlakukan sebagai raja dan ratu mulia itu, ternyata kawan-kawan serombongan kami dari luar negeri yang tak lebih pintar atau kaya daripada kami.

Setelah ngobrol singkat, saya langsung tanya kepada mereka kok tiba-tiba datang ke restoran ini, padahal tadinya nggak ada rencana makan di sini. Juga apakah mereka sudah me-reserve meja lesehan ke bagian reservation restoran yang satu ini?

“Enggak tuh,” begitu jawaban mereka.

“Memangnya kenapa?” tanya mereka pada kami.

“Nanti saja kami beritahu, nikmati dulu makan malam kamu. Enjoy your dinner…have a great meal!” begitu jawaban kami saat itu tak ingin merusak selera makan mereka.

Selera makan kami sendiri sudah hilang. Sekalipun masih tersisa banyak sajian makan malam yang kami pesan di atas meja kami yang besar itu, kami putuskan untuk segera pulang. Cari rumah makan lain dengan pelayanan yang lebih baik, yang topcer dan tak diskriminasi. Pelayanan topcer yang menerapkan Rahasia Satu dan Rahasia Dua itu.

Ternyata tak cukup hanya di situ saja, pengalaman jelajah menu boga kami yang sudah amat pahit dan sangat tidak nyaman serta sangat tidak enak di restoran Bebek Bengil yang katanya terkenal itu, ketika saatnya kami membayar (dengan kartu kredit) bill-nya lha kok nggak bisa-bisa. Dan yang amat tidak mengenakkan hati kami saat itu adalah: sikap dan kata-kata mbak-mbak staf restoran itu yang mengatakan kalau mungkin kartu kreditnya kosong alias nggak ada duitnya. Walah-walah kuwato…

“Juangkriikkkk! Enough is enough!”

Pada momen itu istri saya pun sudah tak tahan lagi, langsung angkat bicara dan menyerbu ke meja kasir restoran pompous yang pelayanannya amat sangat menyebalkan itu alias nggak topcer itu. Setelah istri saya menyampaikan keluhannya, bukannya ditanggapi dengan baik dan ramah, malah diperlakukan dengan kurang baik. Saya pun kini harus angkat suara…

Maka sekarang Anda saya ajak mengingat Prinsip Topcer yang satu ini: “Bila consumer Anda mengeluh, apa pun keluhannya (lebih-lebih bila mereka punya dasar yang kuat); tugas Anda adalah untuk sebisa mungkin menampung, menerima, dan menanggapi keluhan konsumer kita itu dengan sikap yang ramah, sopan dan setulus mungkin. Dan cari solusi yang terbaik dan secepatnya, supaya konsumer kita itu pun merasa puas dan tetap loyal pada kita. Peribahasanya--make a heaven on earth for your customers”.

Beranjak dari meja makan kayu besar itu saya pun menyusul istri ke meja kasir di ruang depan restoran itu. Lalu dengan tegas kami berdua ungkapkan ketaknyamanan, ketakadilan, dan ketidaknikmatan pengalaman yang baru saja kami rasakan sore itu di restoran mereka.

Lain kali kami tak akan datang makan lagi di restoran ini. Sudah kapok dan cukup sekali saja pengalaman pahit ini boleh terjadi. Sekali saja sudah cukup.

Catatan penting:
Perlu pembaca sekalian ingat bahwa tulisan ini berasal dari pengalaman penulis yang pernah dia alami saat kunjungan penulis di restoran Bebek Bengil di akhir bulan Juni 2005 lalu. Ini adalah semata-mata opini pribadi penulis. Harapan penulis: semoga Restoran Bebek Bengil dan para stafnya berkenan menerapkan Rahasia Satu dan Rahasia Dua. Dan semoga Restoran Bebek Bengil tetap populer dan sukses selalu! Ingat dan terapkan Pelayanan Topcer!

2. Contoh Pelayanan Topcer (PT)
Tiga hari sebelum kami mencoba menu dan service restoran Bebek Bengil yang telah saya singgung sebagai contoh Pelayanan Nggak Topcer (PNT) di atas, sebenarnya kami pun telah mencoba menu dan service salah satu restoran yang juga berada di kawasan Ubud, namanya: Café Wayan.

Namun, sebelum saya melanjutkan tulisan saya tentang Café Wayan ini, pertama-tama ingin saya sampaikan pada Anda sekalian bahwa saya tidak pernah memiliki hubungan bisnis atau jalinan kerjasama dengan restoran ini sama sekali. Tulisan yang akan Anda baca ini adalah semata-mata berangkat dari pengalaman pribadi, ketika saya berkunjung ke Café Wayan di akhir bulan Juni 2005 yang lalu. Pengalaman pribadi ini saya sampaikan hanya sebagai salah satu contoh yang konkrit tentang perusahaan yang dengan sungguh-sungguh telah menerapkan standar pelayanan topcer.

Keindahan alam di Ubud sungguh sangat terasa sekali kala pagi hari. Ketika sang surya mulai menyinsing, diiringi suara kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan dan kicauan merdu burung-burung liar di ladang dan lahan persawahan yang tampak ijo royo-royo dan tertata sangat rapi jali di sekeliling hotel tempat kami menginap itu. Sebuah pertunjukan orkestra alamiah yang luar biasa indahnya.

Sang bayu berhembus perlahan meniup batang-batang pepohonan, dedaunan dan warna-warni bunga di sekitar kolam renang di tengah-tengah kompleks hotel mengalirkan hawa segar yang masih bersih bagi organ-organ pernafasan kami (mudah-mudahan wabah ulah manusia modern—polusi udara tak bisa menembus the beautiful Ubud, semoga…).

Dan pada pagi itu kami pun menyempatkan diri berjalan-jalan santai dan secara khusus jelajah menu boga asli Bali yang sedap bin lezat di Café Wayan yang asri dan menawan itu.

Café Wayan ini terletak di tepi jalan Monkey Forest yang merupakan jalan utama di kawasan Ubud. Dari luar memang tampak asri membuat setiap turis yang lewat ingin segera singgah dan menikmati menu masakan yang sedap itu.

Satu hal lagi yang amat memikat dari Café Wayan ini adalah sikap dan pelayanan para stafnya yang siap sedia berdiri di ruang penerimaan tamu itu. Mereka ini tampak sangat ramah, so friendly, senyum nampak selalu mengembang di wajah mereka, dan tak lupa sapaan ucapan selamat datang yang terdengar tulus pun keluar merdu dari bibir-bibir mereka. Perhatian yang mereka berikan pada setiap tamu yang datang sangat fokus, tidak sambil lalu. Mau tak mau pelayanan topcer para staf Café Wayan ini pasti membuat setiap tamu yang singgah ke sana jadi betah dan mereka pasti akan datang lagi dengan setianya.

Pelayanan topcer mbak-mbak dan mas-mas para staf Café Wayan membuat pengalaman santap pagi setengah siang kami itu menjadi salah satu kenangan indah dan menyenangkan yang selalu kami kenang.

Tidak peduli kalau di pagi hari itu kami pesan menu lengkap Bebek Betutu dan beberapa menu lainnya yang tentu saja tidak umum bagi kebanyakan orang pesan menu sejenis itu di pagi hari, dengan senyum ramah Mbak Wayan dan Mas Putu mampu menyajikan menu buat pagi hari itu di atas meja lesehan kami.

Inilah contoh konkrit pelayanan topcer yang saya maksudkan. Pelayanan topcer yang mampu menciptakan rasa kenyamanan, suasana keramahan, nuansa kenikmatan dan aroma sedap bagi selera para konsumer.

Mereka yang telah mengerti apa itu pelayanan topcer pasti akan:
1. Siap sedia menyambut menyambut konsumer yang datang dengan senyum tulus dan ramah (tak peduli panas atau hujan),
2. Tak segan-segan mengucapkan ucapan salam (misalnya: “Selamat pagi, Pak…dsb.) lebih dahulu kepada setiap konsumer yang dijumpai (sekalipun dengan konsumer yang bawel dan cerewet),
3. Menyapa setiap konsumer dengan menyebut nama mereka dengan sopan dan ramah (Selamat pagi BuLu, oh, maaf Bu Lusi…),
4. Tak lupa bila saatnya berpisah, memberikan ucapan perpisahan yang berkesan (fond farewell), a warm good-bye sambil menyebut nama mereka.

Bila Anda/staf Anda mampu memberikan pelayanan topcer, maka saya jamin cepat atau lambat usaha Anda pasti akan terus berkembang, konsumer pasti akan berdatangan, dan konsumer Anda pun pasti akan tetap setia dengan Anda. Lebih daripada itu mereka pun pasti tak akan segan-segan untuk menjadi duta (ambassador) bagi usaha Anda.

Bila kebetulan Anda sekalian tamasya ke pulau Dewata, jangan lupa singgah ke Café Wayan di Jalan Monkey Forest yang menunya sungguh sedap bin nikmat itu. Dan satu hal lagi yang pasti akan Anda suka: para staf Café Wayan pasti akan memberikan pelayanan topcer kepada Anda. Kami telah mencobanya demikian juga beberapa teman kami lainnya. Kini saatnya bagi Anda untuk mencobanya…Bagaimana menurut pendapat Anda?[]

Catatan: Topcer diartikan handal, unggulan, nomer satu, hebat, luar biasa, pokoknya superior.

*Joshua W. Utomo, M.Div., D.Hyp., C.Ht., adalah seorang psikoterapis, penyair, corporate trainer/entertainer, motivator/hipnoterapis, dan penulis yang sekarang sedang berkelana di Boston, AS. Dia adalah pendiri Heal & Grow Center™ (www.healandgrowcenter.com) sebuah pusat penyembuhan holistik. Bersama istrinya (Cynthia C. Laksawana) mendirikan Sanggar Kinanthi™(www.sanggar-kinanthi.com) dan JW Utomo Productions™ (http://masterhypnotistusa.tripod.com) sebagai wahana mereka berseni-budaya dan berkiprah bagi kemanusiaan. Dia dapat dihubungi via prof_jw@yahoo.com

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman