Kamis, 13 November 2008

The Power Of Thinking



Oleh : Johanes Ariffin Wijaya


Prinsip paling mendasar dalam pemikiran selama ini adalah : “Bila Anda pikir Anda bisa, maka Anda bisa… tetapi bila Anda pikir Anda tidak bisa Anda tidak bisa.

Jadi apakah Anda akan berhasil atau gagal, sepenuhnya adalah tergantung pada diri Anda sendiri.

Kesuksesan atau kegagalan Anda sangat tergantung kepada keputusan mental yang Anda ciptakan di dalam pemikiran Anda sendiri.

Kesuksesan akan datang dalam bentuk “Bisa” sedangkan, kegagalan akan datang dalam bentuk “Tidak Bisa”.

Orang-orang yang sukses adalah mereka yang menggunakan seluruh potensi pikiran mereka yang sangat luar biasa, mereka selalu mengembangkan dan memaksimalkan potensi dirinya melalui pikiran untuk pencapaian tujuan mereka.

Mereka memliki pikiran yang positif dengan hasrat dan kepercayaan terhadap diri sendiri yang sangat luar biasa sekali, semangat mereka membara untuk mencapai tujuan mereka.

Biasanya mereka selalu memiliki pikiran yang positif dan jernih dalam melakukan segala perilaku dan tindakan.

Jika Anda dapat menggunakan kekuatan pikiran ini, maka kekuatan ini akan mengubah mental dan perilaku Anda, tentu saja kehidupan Anda akan berubah menjadi semakin baik dan positif.

Anda akan selalu terinspirasi dan termotivasi dengan pikiran positif Anda, tentu akan semakin banyak peluang-peluang positif dalam hidup Anda yang dapat ditemukan dalam kerajaan pikiran Anda yang sangat luar biasa ini.

Manfaatkanlah sepenuhnya kekuatan pemikiran ini untuk mewujudkan visi yang sangat luar biasa yang tentunya akan menunjang kehidupan Anda.

Anda adalah satu-satunya nahkoda atau penguasa pikiran Anda sendiri, oleh karena itu apa yang Anda pikirkan dan tindakan apa yang akan Anda lakukan setiap hari adalah pikiran Anda sendiri.

Buddha pernah berkata bahwa “Keberadaan kita adalah hasil dari pemikiran kita dan apa yang kita pikirkan akan membentuk dunia kita.”

Jadi jelaslah bahwa diri Anda adalah penguasa dari pikiran Anda sendiri, jika Anda berpikir hal-hal yang positif, hidup ini akan positif, begitu pula dengan sebaliknya.

Andaikata mengalami macet di jalan, tidak perlu berpikiran negative dengan mengomel atau menggerutu, sebetulnya itu adalah waktu yang sangat tepat untuk melakukan dan menambah pikiran positif dengan mendengarkan radio dengan segudang acaranya, seperti mendengarkan cerita-cerita bijaksana dari Bapak Andrie Wongso (Motivator No. 1 Indonesia), berita/informasi yang bermanfaat dan berguna, dll.

Inspirasi tentang pikiran, adalah pikirkan selalu yang positif dan selalu katakan “Bisa”, karena kegagalan akan datang pada orang yang mengatakan ”Tidak Bisa”, jadi lebih baik katakan “Bisa”, mungkin kalimat pentingnya bisa dirubah sedikit menjadi “Bila Anda pikir Anda bisa, maka Anda bisa… tetapi bila Anda tidak bisa Anda harus Pikir “Bisa”.

Semoga para pembaca www.pembejar.com bisa terinspirasi dengan tulisan saya dan semoga bisa selalu berpikiran “Bisa”.

*Johanes Arifin wijaya adalah penulis buku best seller “8 Kualitas Mental Positif untuk Meraih Sukses”.

Memulai Bisnis Tanpa Modal, Mungkinkah?



Oleh V.P. Purnomo


“Buku Rich Dad Poor Dad karya Kiyosaki memang bagus. Namun, ada beberapa hal yang tidak mungkin dipraktekkan di Indonesia. Misalnya, tentang pembelian rumah tanpa mengeluarkan uang dari kantong sendiri sama sekali”, tulis teman saya dalam e-mailnya.

Siapapun pasti mengenal nama Robert T. Kiyosaki dan bukunya, Rich Dad Poor Dad. Bukunya yang laris terjual dan sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa itu seakan-akan menjadi bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin berwirausaha. Penulis sendiri mempunyai tiga buku dari sekitar 10 judul buku yang ditulis oleh Pak Kiyosaki ini.

Salah satu pelajaran dari buku tersebut adalah kemungkinan mempunyai usaha sendiri tanpa mengeluarkan uang dari kantong sendiri. Kiyosaki mencontohkan dengan usaha propertinya, mulai dari penemuan rumah yang hendak dijual, biaya pengurusan yang didapat dari pinjaman atau calon pembeli sampai penutupan transaksi dan pengembalian pinjaman. Semuanya tampak begitu mudah dan menggiurkan.

Namun, seperti halnya memandang segala sesuatu yang tampak begitu mudah, kita menjadi bersikap skeptis dan mulai mempertanyakan, “Apa iya semudah itu ?”. “Pasti ada sesuatu yang belum diceritakan oleh Kiyosaki”, begitu mungkin pikiran kita. Benarkah ada yang disembunyikan oleh Kiyosaki ?.

Di kala pikiran penulis sedang diliputi pikiran untuk mendapatkan modal bagi usaha yang direncanakan oleh penulis, penulis mendapat undangan dari seorang teman yang kebetulan ingin tahu dan tertarik untuk ikut serta dalam usaha yang penulis tawarkan. Teman ini adalah salah seorang pemilik usaha jasa konsultasi bisnis yang cukup besar di Surabaya.

Setelah kita berbincang-bincang dan mempresentasikan usaha yang penulis rencanakan, teman tersebut menceritakan pengalamannya berbisnis ketika ia masih mahasiswa. Ia bercerita:

“Ketika saya mahasiswa, saya punya usaha dagang komputer. Awalnya, saya mendapat tawaran untuk pengadaan komputer sebanyak 100 komputer. Setelah saya buat kesepakatan dan berbekal uang 1 juta, saya langsung pergi ke toko komputer dan bilang pada pemilik tokonya : ‘Begini, Pak, saya ini punya usaha komputer dan omzet usaha saya ini adalah 100 komputer per bulan. Bapak bisa ndak menyediakan komputer sebanyak itu dengan harga yang murah. Dan saya minta pembayaran secara mundur’. Si pemilik toko setuju, kesepakatan terjadi dan 1 juta saya masih utuh. Dari transaksi ini, setidaknya saya untung 100 juta”.

Saya hanya mendengarnya sambil terngiang-ngiang dalam pikirannya saya dengan pelajaran Kiyosaki.

Berawal dari cerita teman saya itu, saya menemukan kisah-kisah lain yang seakan membenarkan pelajaran Kiyosaki.

“Seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdurrahma bin Auf, ketika berhijrah (pindah, red.) dari Makkah menuju ke Madinah, beliau tidak membawa bekal apapun. Seorang penduduk Madinah yang baik kemudian menawarkan sebidang kebun kurma untuk dikelola. Namun, Abdurrahman bin Auf menolaknya dan hanya meminta ditunjukkan jalan menuju ke pasar. Disanalah, Abdurrahman bin Auf berusaha dengan berjualan. Begitu sukses usahanya, sehingga ketika terjadi peperangan melawan kaum kafir, beliau menyedekahkan begitu banyak unta untuk tentara Muslim” (Malu Menjadi Benalu, KH. Abdullah Gymnastiar, 2003).

“Tidak ada yang pernah membahas bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad SAW adalah seorang wiraswastawan. Memulai dari penggembala kambing pada usia 8 tahun hingga menjadi pedagang yang melakukan perjalanan luar negerinya yang pertama pada usia 12 tahun, Nabi tumbuh menjadi pedagang yang sukses. Setelah melakukan 18 kali perjalan ke luar negeri, pada usia 25 tahun, beliau menikahi Siti Khadijah r.a. dengan mahar (maskawin, red.) 20 ekor unta muda. D Indonesia, rasanya tidak pernah ada yang memberi mahar sebesar itu”, (KH. Abdullah Gymnastiar, 2003)

Sebelumnya, penulis mohon maaf jika ada pembaca yang merasa seakan-akan penulis mengagungkan agama tertentu dengan kedua kisah itu. Penulis hanya menceritakan sebuah kisah yang moral story-nya cocok dengan tema yang kita bahas, dan kebetulan kedua kisah tersebut berhubungan dengan agama tertentu.

Sebenarnya, jika dirunut, ada banyak kisah serupa yang membuktikan pelajaran Kiyosaki itu. Purdie Chandra, bos Primagama, memulai usaha dengan modal 100 ribu rupiah. Andrie Wongso memulai usaha kartu ucapannya dari uang yang didapat dari mengajar kungfunya (Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah, Edy Zaqeus, 2004). Steve Jobs, CEO Apple, memulai usahanya dari garasi rumahnya tanpa modal sama sekali. Bill Gates memulai usahanya dari asrama dan kantor pertamanya adalah sebuah hotel murah tempat mesum (Pirates of Silicon Valley). Sederet nama dan kisah tidak akan cukup untuk ditulis di media ini.

Baiklah, kita percaya bahwa sangat mungkin untuk mempunyai usaha sendiri tanpa modal apapun. Dan boleh jadi, pendapat teman saya dalam e-mailnya adalah salah. Tapi, timbul dalam benak kita pertanyaan, “Dari mana memulainya ?”.

Si Ayah Kaya Kiyosaki mengajarkan bahwa “pikiranlah yang menjadikan seonggok batu menjadi sebongkah emas”. Artinya, dengan hanya berpikir, Anda dapat mengubah berbagai peluang yang melintas didepan Anda – entah itu peluang bagus atau jelek – menjadi sebuah potensi yang menguntungkan. Jadi, jika Anda ingin mempunyai sebuah usaha tanpa mengeluarkan modal, berpikirlah !.

Artikel ini saya tutup dengan sebuah pesan dari Bob Sadino berpesan, “Sebagian besar orang berpikir bahwa yang namanya modal itu pasti uang. Padahal, modal bentuknya bisa macam-macam. Kaki, tangan, dan pikiran pun bisa menjadi modal”.

* V.P. Purnomo, sarjana komputer dari Surabaya. Sudah berpengalaman dalam dunia ICT (Information and Communication Technology) selama 6 tahun, sebagai programmer dan system analyst. Bosan mengetik kode program, saat ini sedang tertarik untuk menjadi penulis, dan sedang menjadi murid dari Edy Zaques. Hasil tulisan arek Suroboyo ini sebagai bukti implementasi pelajaran pertama dari sang guru, yaitu menulis cepat. Ia dapat dihubungi melalui email: vita.prihatoni.p@telkom.net

Pendidikan Awal ‘Economics of Corruption’

Oleh: Kusuma Andrianto

(Resensi buku: Teaching Integrity to Youth: Examples from 11 Countries)

Umar, seorang guru di sebuah kota kecil di Pulau Sumatra beberapa waktu yang lalu dengan setengah bercanda menceritakan sebuah kisah menarik kepada penulis tentang pengalamannya mengajar. Mengapa sebuah cuplikan episode percakapan Umar dengan Penulis ini signifikan untuk disimak, paling tidak ada dua alasan utama.

Alasan pertama adalah karena Umar, tokoh pendidik kita ini merupakan contoh klasik kehidupan seorang guru di Indonesia. Hidupnya sangat sederhana, kalau tidak mau dikatakan miskin. Gajinya dipotong untuk ini-itu yang serba tidak jelas. Alhasil, Umar harus ngobyek mengajar les privat di sana-sini untuk mencari tambahan penghasilan. Patut dipuji, Umar bersikap untuk anti korupsi!

Namun yang menarik adalah - tentu saja ini sangat insidentil - nama lengkapnya adalah Umar Bakri!. Memang semata ini adalah unsur kebetulan, namun nama lengkap tokoh kita ini sangat mirip dengan judul sebuah lagu yang pertama kali populer di era 80-an, berisi balada kehidupan seorang guru yang bernasib malang.

Alasan kedua, Umar mengungkapkan ‘uneg-uneg’ tentang betapa sulitnya menjawab pertanyaan salah seorang siswa yang menanyakan apa yang dimaksud dengan istilah ‘korupsi waktu’. Si murid bertanya polos, “Apakah membolos atau terlambat masuk kelas, seperti perilaku kebanyakan siswa maupun guru sekolah dasar tempat Umar mengajar dapat digolongkan ke dalam korupsi waktu? Apakah hukuman yang layak diterima pelaku?”

Sebuah pertanyaan dilematis memang. Umar tidak bercerita lebih jauh jawaban apa yang diberikannya kepada siswa kritis tersebut. Mungkin karena dia tidak ingin jawabannya malah justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Umar memang kadang terlambat datang ke sekolah karena dia baru saja selesai mengajar privat di tempat lain yang memang letaknya agak jauh. Alasannya sederhana, kalau dia memilih tempat mengajar yang dekat-dekat, akan mudah diketahui orang.

Alasan lain mengapa Umar tak ingin mengulas istilah ‘korupsi waktu’ dengan panjang-lebar adalah karena dia tak ingin berpolemik dengan siswanya tersebut. Takut bila ditanya lebih jauh apakah anggota legislatif yang membolos atau terlambat datang sidang dapat juga dikatagorikan sebagai korupsi waktu.

Indonesia dan Korupsi Dunia
Pengalaman unik umar ini mungkin bisa menjadi kontribusi tersendiri bagi buku ‘Teaching Integrity to Youth – Examples from 11 Countries’ yang diterbitkan oleh Transparency Internation bulan Februari 2005 ini.

Komitmen lembaga nirlaba Transparency International terhadap pemberantasan korupsi memang patut dipuji. Berbagai cara dan kegiatan dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat internasional untuk mencegah korupsi yang semakin merajalela di mana-mana.

Transparency Internasional memiliki cabang-cabang di berbagai negara. Masing-masing insitusi tersebut memiliki kesibukan yang cukup tinggi. Penyelenggaraan berbagai seminar dan simposium, pengelolaan situs internet dan layanan SMS yuang menyorot berita korupsi, termasuk tentu saja publikasi dan penerbitan, adalah beberapa contoh kegiatan rutin yang ditekuni lembaga-lembada dibawah payung Transparency International. Tujuannya tidak lain adalah meningkatkan ‘kewaspadaan’ masyarakat agar semakin proaktif menyuarakan semangat anti-korupsi.

Suatu terobosan yang tidak ada salahnya ditiru, bahkan bila perlu dikembangkan dalam skala yang lebih besar. Khusus bagi negara yang berada dalam katagori rawan korupsi seperti Indonesia, penerbitan buku-buku yang memberikan pemahaman seluk-beluk korupsi sejak usia dini sudah sewajarnya menjadi prioritas utama.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indonesia merupakan salah satu negara terkorup di dunia. Tanyakan pada masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri. Sedemikian besarnya sorotan dunia terhadap penyelewengan dan korupsi, sehingga tidak jarang masyarakat profesional Indonesia yang berada di luar negeri butuh ‘kerja keras dua kali lipat’ untuk meyakinkan sesama kolega bahwa mereka tidak korupsi. Susah memang, karena cap sebagai negara terkorup tidak mudah dihilangkan begitu saja.

Ibarat gayung bersambut, dengan diterbitkannya buku pendidikan anti korupsi ini, diharapkan anak-anak dapat mempelajari sejak usia dini tentang apa yang dimaksud dengan ilmu ekonomi anti korupsi.

Meningkatkan ‘Awareness’
Ambil contoh misalnya pengalaman negara Kamboja (Integrating Anti-Corruption into School Curricula, hal. 53-59) yang mengintegrasikan pendidikan anti-korupsi ke dalam kurikulum pendidikan di negara tersebut. Mirip dengan pengalaman Amerika Serikat (Ethics at School: A Model Programme, hal. 38-44) dan Italia (Taking Anti-Corruption Heroes into Schools, hal. 25-29). Tulisan tentang tiga negara yang masing-masing mewakili tiga benua yang berbeda ini, Asia, Amerika, dan Eropa, menunjukkan betapa kewaspadaan akan bahaya korupsi memang seyogyanya diusahakan sejak usia dini peserta didik.

Tidak ada salahnya kita melihat sedikit lebih jauh pada negara Italia, salah satu negara Eropa yang terkenal ‘keras’ dalam mengatasi kejahatan. Terobosan dunia kependidikan di negara Italia terjadi sejak beberapa tahun sebelumnya. Sedemikian jengkelnya masyarakat Italia dengan perilaku kejahatan terorganisasi (yang biasa dikenal dengan istilah ‘mafia’), otoritas pendidikan Italia memutuskan untuk memasukkan mata pelajaran seputar kejahatan terorganisasi ke dalam kurikulum. Alasannya, karena seluk-beluk perilaku mafioso adalah persoalan seluruh lapisan masyarakat, mengapa tidak sebaiknya masyarakat diajak sekaligus terlibat langsung, yakni lewat pendidikan?

Tulisan selanjutnya yang tak kalah menariknya adalah betapa kegiatan anti korupsi dapat dilakukan dalam bermacam bentuk dan nyaris tak terhingga, tergantung kreativitas penyelenggara. Georgia dan Uganda menggunakan media jurnalisme, sementara Moldova memilih program pelatihan atau training. Sebagai salah satu negara Eropa Timur bekas Negara Serikat Rusia, Georgia membuktikan kembali ketajaman pena (Youth Against Corruption: A National Essay Contest, hal.45-52) yang memang harus diasah sejak usia muda. Demikian pula halnya dengan Uganda dengan program pendidikan wartawan usia belia (The Power of Information, Training Young Journalists, hal 60-73). Cerita mengenai pengalaman unik bagi pemudi-pemuda Moldova memiliki daya tarik tersendiri, saat mereka berpartisipasi dalam sebuah kegiatan training sehari penuh (An Anti-Corruption Day in a Youth Camp, hal.74-80).

Brazil, Zambia, dan Kolombia berusaha mengenalkan dunia ekonomi, pendidikan global dan kepemerintahan lewat Where Your Taxes Go: Fiscal Education for Citizenship (hal 11-16), Working With Universities: The Cátedra Programme (hal.17-24), dan Educating Future Leaders: Good Governance in Schools (hal. 30-37).

Sebagai cinderamata khusus, oleh-oleh dari Argentina yang berujudul Aulas Sin Fronteras: A National Contest (hal.66-73) dan Makau: Mr Pig and Superman William: Ethics Education for Primary Pupils (hal.5-10) yang sarat inspirasi dan gurih tanpa sadar membuat kita membaca sambil tersenyum-senyum sendiri.

Buku setebal 84 halaman ini sarat dengan foto, gambar, dan ilustrasi karya-karya asli siswa. Tidak pelak lagi, kumpulan tulisan berkaliber dunia ini merupakan materi yang sangat berguna bagi pendidikan anti korupsi dan untuk meningkatkan kepedulian kanak-kanak sejak usia dini.

Ilmu Ekonomi (Anti) Korupsi
Sudah selayaknya lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia menaruh satu buku ini di perpustakaan mereka. Ini berguna sekali untuk memberikan gambaran pada siswa sejak kecil bahwa pendidikan anti korupsi itu memang penting.

Selanjutnya, Indonesia memiliki pekerjaan besar, yakni bagaimana caranya mengintegrasikan ‘Economics of Corruption’ ke dalam kurikulum pendidikan. Penulis bukan seorang ahli bahasa, jadi mari kita serahkan kepada pakar untuk mencari istilah yang tepat untuk ‘Economics of Corruption’. Kalau terjemahannya kacau, ‘Economics of Corruption’ jangan-jangan bisa disalahkaprahkan dengan mempromosikan korupsi. Wah!, bisa celaka bangsa ini!

Penulis sendiri punya rencana khusus dengan ‘Teaching Integrity to Youth – Examples from 11 Countries’ ini. Sebagai kado istimewa untuk – siapa lagi kalau bukan – tokoh kita Umar Bakri yang disebutkan di bagian awal tadi. Sambil lalu, penulis berusaha menerjemahkan sedikit demi sedikit, agar Umar tidak usah bersusah payah mencari kamus – Umar terlalu sibuk mencari tambahan penghasilan, agar tidak korupsi, katanya.

Setuju!

Kita mahfum bahwa Umar memang tidak punya waktu lagi untuk kursus bahasa Inggris tingkat lanjut. Harapan kita, mudah-mudahan setelah membaca buku ini, Umar sanggup menjawab pertanyaan muridnya tadi dengan lebih lugas.

*Kusuma Andrianto Peneliti Leeds University Business School, Leeds, Inggris. Artikel ini pernah dimuat di harian Kompas, Minggu, 13 Maret 2005.

Pendidikan Awal ‘Economics of Corruption’

Oleh: Kusuma Andrianto

(Resensi buku: Teaching Integrity to Youth: Examples from 11 Countries)

Umar, seorang guru di sebuah kota kecil di Pulau Sumatra beberapa waktu yang lalu dengan setengah bercanda menceritakan sebuah kisah menarik kepada penulis tentang pengalamannya mengajar. Mengapa sebuah cuplikan episode percakapan Umar dengan Penulis ini signifikan untuk disimak, paling tidak ada dua alasan utama.

Alasan pertama adalah karena Umar, tokoh pendidik kita ini merupakan contoh klasik kehidupan seorang guru di Indonesia. Hidupnya sangat sederhana, kalau tidak mau dikatakan miskin. Gajinya dipotong untuk ini-itu yang serba tidak jelas. Alhasil, Umar harus ngobyek mengajar les privat di sana-sini untuk mencari tambahan penghasilan. Patut dipuji, Umar bersikap untuk anti korupsi!

Namun yang menarik adalah - tentu saja ini sangat insidentil - nama lengkapnya adalah Umar Bakri!. Memang semata ini adalah unsur kebetulan, namun nama lengkap tokoh kita ini sangat mirip dengan judul sebuah lagu yang pertama kali populer di era 80-an, berisi balada kehidupan seorang guru yang bernasib malang.

Alasan kedua, Umar mengungkapkan ‘uneg-uneg’ tentang betapa sulitnya menjawab pertanyaan salah seorang siswa yang menanyakan apa yang dimaksud dengan istilah ‘korupsi waktu’. Si murid bertanya polos, “Apakah membolos atau terlambat masuk kelas, seperti perilaku kebanyakan siswa maupun guru sekolah dasar tempat Umar mengajar dapat digolongkan ke dalam korupsi waktu? Apakah hukuman yang layak diterima pelaku?”

Sebuah pertanyaan dilematis memang. Umar tidak bercerita lebih jauh jawaban apa yang diberikannya kepada siswa kritis tersebut. Mungkin karena dia tidak ingin jawabannya malah justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Umar memang kadang terlambat datang ke sekolah karena dia baru saja selesai mengajar privat di tempat lain yang memang letaknya agak jauh. Alasannya sederhana, kalau dia memilih tempat mengajar yang dekat-dekat, akan mudah diketahui orang.

Alasan lain mengapa Umar tak ingin mengulas istilah ‘korupsi waktu’ dengan panjang-lebar adalah karena dia tak ingin berpolemik dengan siswanya tersebut. Takut bila ditanya lebih jauh apakah anggota legislatif yang membolos atau terlambat datang sidang dapat juga dikatagorikan sebagai korupsi waktu.

Indonesia dan Korupsi Dunia
Pengalaman unik umar ini mungkin bisa menjadi kontribusi tersendiri bagi buku ‘Teaching Integrity to Youth – Examples from 11 Countries’ yang diterbitkan oleh Transparency Internation bulan Februari 2005 ini.

Komitmen lembaga nirlaba Transparency International terhadap pemberantasan korupsi memang patut dipuji. Berbagai cara dan kegiatan dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat internasional untuk mencegah korupsi yang semakin merajalela di mana-mana.

Transparency Internasional memiliki cabang-cabang di berbagai negara. Masing-masing insitusi tersebut memiliki kesibukan yang cukup tinggi. Penyelenggaraan berbagai seminar dan simposium, pengelolaan situs internet dan layanan SMS yuang menyorot berita korupsi, termasuk tentu saja publikasi dan penerbitan, adalah beberapa contoh kegiatan rutin yang ditekuni lembaga-lembada dibawah payung Transparency International. Tujuannya tidak lain adalah meningkatkan ‘kewaspadaan’ masyarakat agar semakin proaktif menyuarakan semangat anti-korupsi.

Suatu terobosan yang tidak ada salahnya ditiru, bahkan bila perlu dikembangkan dalam skala yang lebih besar. Khusus bagi negara yang berada dalam katagori rawan korupsi seperti Indonesia, penerbitan buku-buku yang memberikan pemahaman seluk-beluk korupsi sejak usia dini sudah sewajarnya menjadi prioritas utama.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indonesia merupakan salah satu negara terkorup di dunia. Tanyakan pada masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri. Sedemikian besarnya sorotan dunia terhadap penyelewengan dan korupsi, sehingga tidak jarang masyarakat profesional Indonesia yang berada di luar negeri butuh ‘kerja keras dua kali lipat’ untuk meyakinkan sesama kolega bahwa mereka tidak korupsi. Susah memang, karena cap sebagai negara terkorup tidak mudah dihilangkan begitu saja.

Ibarat gayung bersambut, dengan diterbitkannya buku pendidikan anti korupsi ini, diharapkan anak-anak dapat mempelajari sejak usia dini tentang apa yang dimaksud dengan ilmu ekonomi anti korupsi.

Meningkatkan ‘Awareness’
Ambil contoh misalnya pengalaman negara Kamboja (Integrating Anti-Corruption into School Curricula, hal. 53-59) yang mengintegrasikan pendidikan anti-korupsi ke dalam kurikulum pendidikan di negara tersebut. Mirip dengan pengalaman Amerika Serikat (Ethics at School: A Model Programme, hal. 38-44) dan Italia (Taking Anti-Corruption Heroes into Schools, hal. 25-29). Tulisan tentang tiga negara yang masing-masing mewakili tiga benua yang berbeda ini, Asia, Amerika, dan Eropa, menunjukkan betapa kewaspadaan akan bahaya korupsi memang seyogyanya diusahakan sejak usia dini peserta didik.

Tidak ada salahnya kita melihat sedikit lebih jauh pada negara Italia, salah satu negara Eropa yang terkenal ‘keras’ dalam mengatasi kejahatan. Terobosan dunia kependidikan di negara Italia terjadi sejak beberapa tahun sebelumnya. Sedemikian jengkelnya masyarakat Italia dengan perilaku kejahatan terorganisasi (yang biasa dikenal dengan istilah ‘mafia’), otoritas pendidikan Italia memutuskan untuk memasukkan mata pelajaran seputar kejahatan terorganisasi ke dalam kurikulum. Alasannya, karena seluk-beluk perilaku mafioso adalah persoalan seluruh lapisan masyarakat, mengapa tidak sebaiknya masyarakat diajak sekaligus terlibat langsung, yakni lewat pendidikan?

Tulisan selanjutnya yang tak kalah menariknya adalah betapa kegiatan anti korupsi dapat dilakukan dalam bermacam bentuk dan nyaris tak terhingga, tergantung kreativitas penyelenggara. Georgia dan Uganda menggunakan media jurnalisme, sementara Moldova memilih program pelatihan atau training. Sebagai salah satu negara Eropa Timur bekas Negara Serikat Rusia, Georgia membuktikan kembali ketajaman pena (Youth Against Corruption: A National Essay Contest, hal.45-52) yang memang harus diasah sejak usia muda. Demikian pula halnya dengan Uganda dengan program pendidikan wartawan usia belia (The Power of Information, Training Young Journalists, hal 60-73). Cerita mengenai pengalaman unik bagi pemudi-pemuda Moldova memiliki daya tarik tersendiri, saat mereka berpartisipasi dalam sebuah kegiatan training sehari penuh (An Anti-Corruption Day in a Youth Camp, hal.74-80).

Brazil, Zambia, dan Kolombia berusaha mengenalkan dunia ekonomi, pendidikan global dan kepemerintahan lewat Where Your Taxes Go: Fiscal Education for Citizenship (hal 11-16), Working With Universities: The Cátedra Programme (hal.17-24), dan Educating Future Leaders: Good Governance in Schools (hal. 30-37).

Sebagai cinderamata khusus, oleh-oleh dari Argentina yang berujudul Aulas Sin Fronteras: A National Contest (hal.66-73) dan Makau: Mr Pig and Superman William: Ethics Education for Primary Pupils (hal.5-10) yang sarat inspirasi dan gurih tanpa sadar membuat kita membaca sambil tersenyum-senyum sendiri.

Buku setebal 84 halaman ini sarat dengan foto, gambar, dan ilustrasi karya-karya asli siswa. Tidak pelak lagi, kumpulan tulisan berkaliber dunia ini merupakan materi yang sangat berguna bagi pendidikan anti korupsi dan untuk meningkatkan kepedulian kanak-kanak sejak usia dini.

Ilmu Ekonomi (Anti) Korupsi
Sudah selayaknya lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia menaruh satu buku ini di perpustakaan mereka. Ini berguna sekali untuk memberikan gambaran pada siswa sejak kecil bahwa pendidikan anti korupsi itu memang penting.

Selanjutnya, Indonesia memiliki pekerjaan besar, yakni bagaimana caranya mengintegrasikan ‘Economics of Corruption’ ke dalam kurikulum pendidikan. Penulis bukan seorang ahli bahasa, jadi mari kita serahkan kepada pakar untuk mencari istilah yang tepat untuk ‘Economics of Corruption’. Kalau terjemahannya kacau, ‘Economics of Corruption’ jangan-jangan bisa disalahkaprahkan dengan mempromosikan korupsi. Wah!, bisa celaka bangsa ini!

Penulis sendiri punya rencana khusus dengan ‘Teaching Integrity to Youth – Examples from 11 Countries’ ini. Sebagai kado istimewa untuk – siapa lagi kalau bukan – tokoh kita Umar Bakri yang disebutkan di bagian awal tadi. Sambil lalu, penulis berusaha menerjemahkan sedikit demi sedikit, agar Umar tidak usah bersusah payah mencari kamus – Umar terlalu sibuk mencari tambahan penghasilan, agar tidak korupsi, katanya.

Setuju!

Kita mahfum bahwa Umar memang tidak punya waktu lagi untuk kursus bahasa Inggris tingkat lanjut. Harapan kita, mudah-mudahan setelah membaca buku ini, Umar sanggup menjawab pertanyaan muridnya tadi dengan lebih lugas.

*Kusuma Andrianto Peneliti Leeds University Business School, Leeds, Inggris. Artikel ini pernah dimuat di harian Kompas, Minggu, 13 Maret 2005

Peran Media dalam Personal Branding

Oleh: Her Suharyanto


Suasana hall di satu hotel bintang lima di Jakarta pagi itu, sekitar pertengahan tahun 90an terasa hangat, kendati suhu udara sangat dingin oleh pendingin buatan. Di bagian belakang ruang seminar hotel tersebut dibangun panggung untuk talkshow. Seperti biasa, kami para wartawan duduk di bagian belakang, dekat pintu, untuk lebih memudahkan perburuan sumber berita.

Tapi hari itu mata saya cukup santun, tidak jelalatan mencari “buruan”. Mengapa, karena di panggung ada seorang pembicara, perempuan, muda, yang sangat menarik perhatian.

Kalimat-kalimatnya jelas, cerdas, tegas dan teratur, memberikan gambaran transparan tentang kepribadian sekaligus kecerdasan intelektualnya. Para wartawan ekonomi yang meliput seminar itu saling berbisik, “siapa dia” karena pembicara itu, saat itu memang belum cukup dikenal. Karena sesama wartawan tidak bisa menjawab, saya bertanya pada peserta seminar yang duduk di depan saya. Peserta seminar itu membuka seminar-kit-nya dan menjawab, “Sri Mulyani Indrawati, dari FEUI.”

Seminar itu dihadiri oleh banyak sekali peserta, dan diliput puluhan wartawan. Bahkan dari media tempat saya bekerja ada tak kurang dari empat orang wartawan, karena media kami adalah media ekonomi. Kami langsung saling bisik, bahwa kami harus bisa mendapatkan nomor telepon kantor dan rumahnya.

Ternyata cukup banyak wartawan yang mempunyai instink jurnalistik yang sama. Usai seminar Sri Mulyani langsung dikerubuti oleh para wartawan, kendati tidak semuanya menulis tentang dia di koran terbitan hari berikutnya. Tetapi yang pasti di media tempat kami bekerja, itulah awal kami mengenal Sri Mulyani, yang di kemudian hari sempat menjadi salah satu direktur regional Dana Moneter Internasional (IMF) dan kemudian menjadi ketua Bappenas dalam kabinet pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mulai dari seminar itu Sri Mulyani menjadi nara sumber andalan kami, terutama untuk membantu memaknai peristiwa-peristiwa atau data-data ekonomi terbaru. Media-media lain pun, termasuk televisi, kemudian memberi panggung yang luas bagi Sri Mulyani untuk tampil di muka publik.

DALAM KONTEKS personal branding, Sri Mulyani adalah contoh yang pada hemat saya sangat menarik. Brand yang kuat adalah brand yang didukung oleh ciri intrinsik produk yang dicitrakan. Karena itu yang pertama harus diperhatikan dalam proses branding adalah kualitas personal yang hendak di-brand. Memang bisa saja orang membangun citra diri sebagai A atau B atau C, tetapi kalau faktanya dia adalah X suatu saat citra itu akan berangsur pudar, dan ciri X perlahan-lahan akan tampil juga. Kalau pun orang tetap mampu mempertahankan citra A, atau B atau C tersebut, terlalu besar energi dan sumber daya yang diperlukan untuk menjaga citra tersebut.

Karena itu sebelum melakukan proses branding memang penting bagi setiap orang untuk mengenal siapa dirinya, dan apa keunggulan-keunggulan yang dimilikinya. Normalnya setiap orang yang sehat pasti mengetahui dengan persis apa yang menjadi keunggulannya dibandingkan dengan orang lain. Kalau di sebuah kantor orang mengeluh mengapa si A “yang hanya gitu-gitu aja kok gajinya lebih gede,” itu berarti orang yang mengatakan itu merasa lebih unggul dibanding dengan si A, dan karenanya merasa punya hak untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Tetapi memang umumnya, terutama dalam budaya timur, orang tidak serta merta berani mengakui, apalagi mengklaim bahwa dirinya lebih unggul dibandingkan dengan orang lain. Orang merasa lebih sreg kalau keunggulan itu bukan sebuah klaim tetapi sebuah pengakuan dari luar.

Persis yang dialami oleh Sri Mulyani adalah pengakuan dari luar, yakni pengakuan dari media massa. Wartawan tahu bahwa Sri Mulyani mempunyai pemikiran-pemikiran ekonomi yang kritis, terutama dalam menilai kondisi perekonomian tanah air waktu itu, sehingga dengan senang hati media massa mengutip pernyataan-pernyataannya, bahkan memburunya, kalau perlu sampai menjelang tengah malam.

Di Indonesia, dalam hal personal branding, pola yang terjadi dengan Sri Mulyani inilah yang lebih umum terjadi. Orang mempunyai keunggulan tertentu, kemudian “dipergoki” oleh media massa, dan kemudian nama berikut pernyataannya menjadi judul-judul koran dan majalah, wajahnya menjadi familiar bagi penonton televisi, dan kemudian menjadi orang terkenal. Mungkin saja orang memang peduli dengan karir, tetapi jarang yang berpikir strategis, bahwa personal branding adalah bagian dari strategi menempuh karir. Kalau saja Sri Mulyani tidak pernah keluar kampus untuk berbicara di seminar-seminar, bisa jadi dia menjadi ketua jurusan, dekan atau bahkan rektor. Tetapi apakah dia akan sempat duduk di jajaran petinggi IMF dan kemudian menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan dan Ketua Bappenas?

MEMANG BERUNTUNG mereka yang secara personal mempunyai kapasitas yang langsung bisa menarik perhatian media massa. Tetapi tidak semua orang seberuntung itu. Sangat mungkin terjadi ada orang yang memiliki kemampuan hebat tetapi seumur hidup tidak pernah dipergoki wartawan. Sekali-sekali mungkin dia bertemu dengan wartawan, tetapi bidang dan keahliannya berbeda sekali dengan minat sang wartawan, sehingga tak sekali pun namanya terpajang di media massa. Apa yang hendak dilakukan?

Persis di sanalah soalnya, memang ada yang harus dilakukan. Orang harus mengambil langkah proaktif supaya namanya muncul di media massa. Sebab bagaimanapun juga, sesuai dengan namanya, media massa memberi kemungkinan untuk mereka yang berkualitas untuk mempromosikan dirinya. Kalau anda termasuk orang yang tidak didekati oleh wartawan, mengapa bukan anda yang mengambil inisiatif untuk mendekati media massa, dan mengambil menfaat dari pendekatan itu?

Selama belasan tahun menjadi wartawan, saya sering diperkenalkan dengan orang-orang yang sangat hebat. Pada kemudian hari saya tahu orang yang memperkenalkan saya dengan tokoh-tokoh tersebut memang seorang perantara. Tujuannya tidak lain agar saya mengenal orang itu, mewawancarainya, dan menuliskannya untuk media massa. Ada orang yang memang ingin memperjuangkan sesuatu, tetapi tidak sedikit orang yang sebenarnya sedang dalam proses branding.

Ada terlalu banyak kasus seperti ini. Salah satu yang masih saya ingat dengan jelas adalah tentang seorang ekonom, yang waktu itu, awal tahun 90-an, masih berstatus sebagai mahasiswa S2. Dia rajin sekali menelepon kami di koran, untuk bertanya tentang isyu-isyu terbaru, dan kemudian mengatakan, “Wah, itu mestinya ditulis. Kalau belum ada yang nulis, boleh deh saya tulis.” Maka muncullah tulisan dalam bentuk byline story (tulisan dengan nama penulis di bagian atas) atas nama teman itu. Dari teman-teman di media lain saya tahu, teman ini rajin melakukan hal yang sama bukan hanya di media tempat saya bekerja, tetapi juga di media-media lain. Dan upaya itu membuahkan hasil.

Dia berhasil menempatkan diri dalam jajaran ekonom muda papan atas di negeri ini. Dulu dia memang melakukan berbagai langkah proaktif untuk mendekati media.Tetapi sekarang pendulum bergerak ke arah yang berlawanan. Para wartawan mengejar dia untuk meminta komentar dan pendapat.

Contoh lain yang jelas sekali adalah tentang Sigit Pramono, yang saat tulisan ini dibuat masih menjadi Direktur Utama BNI 46. Para wartawan ekonomi mengenal dia, karena dia memang tergolong sukses sebagai seorang bankir. Tetapi tak banyak wartawan non ekonomi yang mengenal dia. Bertemu di mall-pun mungkin para wartawan tidak akan menegurnya. Itu pula yang terjadi dengan wartawan Kompas, Arbain Rambey. Wartawan foto ini tidak mengenal sang dirut bank BUMN tersebut. Tapi justru di sanalah proses branding baru itu diciptakan. Sigit Pramono, bersama seseorang menemui Arbain Rambey dan meminta agar sang wartawan menilai foto-foto karyanya. Kisahnya begitu mulus. Arbain menilai foto-foto Sigit Pramono memang bagus, sehingga berani memajang foto sang dirut di korannya, dan merekomendasikan agar foto-foto tersebut dipamerkan. Dan yang terjadi kemudian, dalam satu kesempatan, Sigit Pramono melelang fotonya, dan harga yang didapatkan dari fotonya mencapai rekor tertinggi yang pernah terjadi dalam sejarah fotografi di tanah air. Apa yang akan terjadi tanpa rujuk-puji (endorsement) sebuah media seperti Kompas?

DALAM PRAKTIKNYA memang cukup banyak orang yang tahu persis kemampuan media massa dalam melakukan endorsement bagi popularitas maupun bagi brand-nya. Kadang dalam tugas jurnalistik saya menemukan hal yang sangat mengesalkan terkait dengan hal ini. Seringkali ada rencana konferensi pers, tetapi konferensi pers itu mulur dari waktu yang ditentukan, hanya karena ada wartawan media besar, atau wartawan televisi tertentu, yang belum datang. Padahal waktunya sudah ngaret bukan main lamanya. Ada juga sumber yang diwawancarai dalam satu door-stop-interview (seorang menteri pernah menyindir saya dengan menyebut praktik ini sebagai jurnalisme cegatan) oleh sejumlah wartawan media cetak, dan memperlihatkan sikap ogah-ogahan. Tetapi setelah datang wartawan televisi beberapa menit kemudian, wajah masamnya langsung sumringah. Lebih banyak senyum yang ditebarkan, dan suaranya menjadi lebih jelas dan enak didengar.

Tetapi umumnya rasa kesal saya tidak berlangsung lama, karena kemudian saya sadar bahwa sumber itu memang sedang berperilaku sebagai manusia ekonomi. Diwawancarai media besar, apalagi televisi, akan jauh lebih menguntungkan dalam sisi branding, dibanding diwawancarai media kecil. Diwawancarai oleh media besar atau televisi akan mendongkrak popularitasnya.


* Her Suharyanto adalah penulis dan editor independen dengan pengalaman belasan tahun. Tulisannya tersebar di sejumlah media seperti Mingguan Hidup, Kedaulatan Rakyat, Bernas, Minggu Pagi, Utusan, dan Kompas. Sebelumnya, ia pernah bekerja di PH Idola Citra Utama, wartawan Indonesia Business Weekly, Bisnis Indonesia, dan Dow Jones Newswires. Ia memenangi beasiswa British Chevening Award dari British Council untuk studi jurnalistik di Cardiff, Wales, Inggris (1995). Hingga kini ia telah menulis 7 buku (4 atas nama sendiri, 3 sebagai ghost writer), 1500 straight news (berita pendek), 300 features, 100 artikel, 10 cerpen, 120 sandiwara radio, satu iklan televisi, 20 advertorial, 30 bahan presentasi seminar. Ia banyak diundang untuk berbicara dalam pelatihan-pelatihan jurnalistik dan kepenulisan di berbagai kalangan dan kelompok profesi. Kini Her Suharyanto adalah executive editor pada Scripta Production, rumah produksi yang menangani penulisan biografi dan manuscript buku populer. Ia dapat dihubungi melalui email: her_suharyanto@hotmail.com

Personal Branding: Mengendalikan Persepsi Publik

-

Oleh: Her Suharyanto


SUATU HARI saya pernah mendapatkan email, mungkin anda juga mendapatkan email yang sama. Email tersebut disertai satu file gambar, yang dimaksudkan sebagai lelucon. Dalam file itu tampak gambar Sumanto yang sedang tertawa (lebih tepatnya meringis), dan di sampingnya ada satu botol minuman dengan teks iklan: Apapun Makanannya, Minumannya Teh Botol Sosro…

Ingat nama Sumanto, bukan? Saat tulisan ini dibuat, dia masih berstatus sebagai nara pidana, karena kasus “makan jenazah manusia”. Dia memakan potongan jenazah tersebut setelah memasaknya lebih dulu. Bahkan dia sempat berbagi “makanan” itu dengan ayahnya sendiri, yang mengaku tidak tahu daging apakah yang telah dimakannya itu.

Peristiwa ini langsung menjadi santapan media massa, baik cetak maupun elektronik, sehingga terbangunlah satu brand atau citra: Sumanto sang pemakan (jenazah) manusia. Citra ini sedemikian meluas sehingga ibu-ibu menakut-nakuti anaknya yang nakal: awas nanti digigit Sumanto. Atau, orang-orang kantoran sering menempatkan “brand” Sumanto itu dalam humor: Gue kirim Sumanto lu, baru nyaho… dan sebagainya.

Sumanto adalah orang yang mempunyai brand dengan cakupan yang sedemikian luas. Brand Sumanto sebagai “pemakan jenazah” begitu cepat meluas karena beberapa alasan. Pertama, Sumanto mempunyai tingkat keunikan yang sangat tinggi. Dia adalah orang yang “luar biasa”. Jangankan memakan daging orang. Memakan daging-daging tertentu yang lain pun (anjing, kucing, kuda) oleh (sebagian) masyarakat kita ditabukan. Kalau pun tidak dianggap tabu, bagi sebagian orang ada semacam rasa tidak sampai hati untuk makan daging, katakanlah daging ular, katak, bekicot dll. Apalagi daging manusia, dan lebih-lebih lagi jenazah. Tetapi Sumanto justru telah memakan jenazah manusia dengan sadar dan merasa tidak ada yang salah dengan itu. Dan bagi Sumanto, berbeda dengan prinsip umum dalam masyarakat bukanlah suatu masalah. Maka jadilah keunikan itu sebagai sesuatu yang melekat kuat pada diri Sumanto.

Kedua, brand seperti itu langsung menjadi santapan media, karena fenomena Sumanto telah merebut tiga syarat berita sekaligus, yaitu faktor aktualitasnya (pada waktu itu), keunikannya, dan faktor human interest-nya. Pada saat peristiwa itu baru terjadi, tentu saja berita tentang Sumanto si pemakan jenazah adalah berita yang sangat aktual, dalam arti baru jerjadi. Di samping itu berita ini adalah unik, karena (hampir) tidak pernah terjadi dalam peradaban modern. Dan yang lebih menghentak lagi, ini menyangkut “perlawanan” terhadap sesuatu yang dianggap sakral dalam tata hidup bersama.

Maka itulah yang kemudian terjadi: Sumanto made headlines dan mendapatkan brand-nya, betapapun negatif dan tidak produktifnya brand tersebut.

SUMANTO ADALAH potret tragis kegagalan manusia untuk mengendalikan citra atau brand pribadinya. Dalam masyarakat kita terlalu banyak orang seperti Sumanto: tidak mampu mengendalikan citranya. Ada begitu banyak orang yang begitu “pasrah”, terserah orang mau bilang apa. Pencitraan oleh publik seperti ini sangat umum terjadi dalam berbagai masyarakat tradisional kita, tanpa yang bersangkutan sendiri mau mengubahnya. Di Jawa ada nama Joyo Gule di samping Joyo Pece karena yang satu adalah penjual gulai kambing, yang satu punya cacat penglihatan. Ada Pardi Keling dan Pardi Ludruk karena yang satu berkulit hitam dan yang satu pemain teater tradisional jawatimuran, ludruk. Orang menerima begitu saja brand yang dilekatkan oleh masyarakat, entah berdasarkan profesinya, kebiasaannya, bahkan berdasarkan ciri fisik yang paling menghina sekalipun.

Tentu tidak ada masalah ketika citra yang diterapkan oleh publik memang pas dengan citra yang ingin didapat oleh orang yang bersangkutan. Saya senang-senang saja ketika orang-orang sekomplek saya menyebut saya Her Wartawan. Tetapi saya mulai agak gerah ketika teman-teman wartawan menyebut saya Her Asuransi, karena semasa tergabung di media cetak liputan saya lebih luas dari sekadar asuransi. Maka jangan heran kalau ada orang yang mengganti nama. Mungkin saja ada orang yang mengganti nama untuk mendapatkan nama yang lebih bertuah dan sebagainya, tetapi cukup banyak yang bermaksud ingin membentuk brand pribadinya baru. Ini adalah awal dari sebuah personal branding. Cara menuliskan nama yang berbeda dengan nama dalam akte kelahiran, misalnya, juga merupakan bagian dari proses branding tersebut.

Proses personal branding di sini dimaksudkan sebagai langkah proaktif dari seseorang untuk membangun persepsi publik terhadap dirinya. Lebih dari sekadar proaktif, kalau perlu dalam proses ini orang bisa sampai pada tahap membentuk persepsi publik terhadap dirinya. Langkah seperti ini sangat umum dilakukan pada massa kampanye, terutama dalam kampanye pemilu yang baru lalu. Dalam pemilu 1999, yang dikampanyekan atau dipromosikan adalah nama partai. Tetapi dalam pemilu 2004, orang sudah mempromosikan nama diri, entah sebagai calon legislatif atau sebagai calon presiden. Promosi itu dilakukan dengan gencar, dengan biaya yang sangat mahal, karena kesuksesan atau kegagalan mereka ditentukan oleh persepsi publik. Semakin populer, semakin besar kemungkinan bagi mereka untuk menang. Dan itulah yang sungguh terjadi, terutama dalam proses pemilihan presiden.

Trend personal branding dalam konteks pemilu masih akan berjalan panjang, bahkan dalam ruang lingkup yang meluas, karena pemilihan kepala daerah pun akan dijalankan secara langsung. Di luar faktor politik uang, yang akan sangat menentukan siapa calon pemenang dalam Pilkada ini adalah soal bagaimana proses membangun citra tersebut.

DALAM DUNIA profesional, soal personal branding tidak kalah pentingnya. Siapa akan menjadi apa dalam banyak kasus sangat bergantung pada seberapa kuat personal brand yang berhasil dibentuknya. Dalam kasus politik, proses personal branding secara strategis memang cukup umum dilakukan. Tetapi dalam konteks profesional belum banyak orang yang melalukan itu. Dari sedikit orang itu, sebut saja Agnes Monica, artis remaja yang berani menyewa manajer yang sungguh peduli dan paham akan pentingnya personal brand. Selebihnya orang lebih mengandalkan proses branding yang alamiah, kalau tidak mau disebut pasif. Banyak artis yang coba nyanyi kesana kemari… siapa tahu ada produser yang mengajak rekaman. Kaum profesional ngobrol sana ngobrol kemari…. Siapa tahu ada yang mengundang sebagai pembicara seminar.

Setelah itu, siapa tahu ada wartawan yang mengutip pendapatnya, dan menjadikannya terkenal untuk kemudian layak jadi staf ahli presiden. Tapi apa yang dilakukan secara konkrfet? Nothing. Maka kita pasti tidak terkejut kalau ada begitu banyak ahli dan profesional di negeri ini yang setelah pensiun harus kesana kemari mencari pekerjaan dan tak ada yang mengenal nama dan keahliannya.

Hal ini terjadi karena orang memang tidak pernah melakukan proses branding. Mengapa? Bisa jadi ini adalah satu bentuk rendah hati yang salah kaprah. Orang merasa tidak pantas untuk menonjolkan keahliannya. Orang merasa perlu bersikap humble menerima diri apa adanya. Padahal branding adalah soal mengubah, membentuk dan membangun persepsi publik atas diri seseorang. Tetapi atas nama rendah hati tersebut orang sering terpaksa menjadi korban pencitraan yang sedemikian tidak benar, bahkan sering secara kejam, sehingga sulit bagi yang bersangkutan untuk merevisinya.

* Her Suharyanto adalah penulis dan editor independen dengan pengalaman belasan tahun. Tulisannya tersebar di sejumlah media seperti Mingguan Hidup, Kedaulatan Rakyat, Bernas, Minggu Pagi, Utusan, dan Kompas. Sebelumnya, ia pernah bekerja di PH Idola Citra Utama, wartawan Indonesia Business Weekly, Bisnis Indonesia, dan Dow Jones Newswires. Ia memenangi beasiswa British Chevening Award dari British Council untuk studi jurnalistik di Cardiff, Wales, Inggris (1995). Hingga kini ia telah menulis 7 buku (4 atas nama sendiri, 3 sebagai ghost writer), 1500 straight news (berita pendek), 300 features, 100 artikel, 10 cerpen, 120 sandiwara radio, satu iklan televisi, 20 advertorial, 30 bahan presentasi seminar. Ia banyak diundang untuk berbicara dalam pelatihan-pelatihan jurnalistik dan kepenulisan di berbagai kalangan dan kelompok profesi. Kini Her Suharyanto adalah executive editor pada Scripta Production, rumah produksi yang menangani penulisan biografi dan manuscript buku populer. Ia dapat dihubungi melalui email: her_suharyanto@hotmai.com.

BACK TO THE FLOOR

Oleh Arief Yuntanu


Ada sebuah acara stasiun TV swasta yang kebetulan saya lihat. Dalam acara tersebut ada seorang petinggi/direktur sebuah perusahaan jasa pemindahan barang yang cukup besar sedang melakukan pekerjaan survei. Ia mengangkat barang di rumah klien. Pokoknya dia melakukan pekerjaan yang dikerjakan oleh anak buahnya.

Walaupun agak segan melihat bosnya ikut dalam pekerjaan kasar, tetapi si pekerja tersebut semakin akrab dengan bosnya. Sampai akhirnya, keputusan-keputusan strategis yang diambil si bos berasal dari pengalamannya melakukan pekerjaan bersama anak buahnya.

Biasanya seseorang yang punya jabatan tinggi jarang sekali melihat secara langsung atau tahu proses pekerjaan yang dilakukan oleh bawahannya. Mereka hanya senang dan tenang berada di kursi empuk di balik meja kerjanya saja. Tak hanya itu, ruangan yang sejuk oleh ruangan AC tak jarang membuat mereka terlena untuk tidak meninggalkan ruangannya. Alasannya, sibuk mendisposisi surat, meeting, dan sebagainya. Dari kondisi tersebut tak banyak anak buah yang kenal dengan bosnya, demikian pula sebaliknya. Mereka hanya kenal namanya namun kompetensi dan hasil kerja tidak tahu sama sekali.

Pada saat penilaian kinerja karyawan ternyata hanya berdasarkan atas nilai kira-kira dan cenderung subyektif sehingga sangat besar pengaruh biasnya.

Perilaku back to the floor sepertinya layak untuk dilakukan oleh seorang manajer, direktur, petinggi perusahaan, atau para pembuat keputusan strategis lainnya. Baik keputusan-keputusan mengenai sumberdaya manusia maupun tentang strategi bisnis. Kalau saja mereka mau jujur, sebenarnya kontribusi karyawan dalam proses usaha perusahannya sangatlah besar. Sayangnya mereka tahu tetapi tidak mau tahu.

Perilaku yang biasa terjadi pada seorang pejabat, yang sudah mendarah daging, atau sudah jadi penyakit kronis. Yaitu menggunakan kekuasaan dan pengaruh bukan untuk kepentingan perusahaan tetapi untuk kepentingan karir pribadinya. Mereka menumpuk uang untuk disetor sebagai upeti ke atasan yang lebih tinggi demi kelancaran jabatannya. Hubungan kemanusiaan dengan karyawan yang mendukung dirinya malah diabaikan. Seorang dengan tingkat korupsi “tinggi” malah lancar sekali kariernya. Sedang karyawannya yang bekerja setengah mati memeras keringat tidak pernah dapat menikmati jenjang karier yang seharusnya dipikirkan oleh seorang pejabat atau petinggi perusahaan tersebut.

Kekuasaan dan pengaruh seorang manajer seharusnya dipergunakan secara tepat dan lebih luas untuk merujuk kemampuan manusia (karyawan) sebagai hasil dari perwujudan kompetensi manajer tersebut.

Seorang Akio Morita, pendiri perusahaan elektronik terkenal Sony Corp., mengatakan tidak ada keajaiban dalam sukses perusahaan maupun manajernya selain daripada bagaimana memberlakukan karyawan sebagai manusia. Filosofi dasar Sony tentang karyawan adalah mereka diperlakukan sebagai rekan dan asisten, bukan hanya sebagai sarana untuk mendatangkan keuntungan perusahaan saja. Karyawan merupakan faktor penting karena mereka adalah bagian permanen dari sebuah perusahaan.

Sukses yang diraih Sony membuktikan kebenaran pandangan Akio Morita. Morita menegaskan bahwa sumber daya manusia memang paling penting dalam suatu perusahaan. Apalagi mereka yang mampu memberikan kerja, talenta, kreatifitas, inovasi, dan semangat pada perusahaannya. Sangat logis jika salah satu tugas seorang manajer yang paling penting adalah memperhatikan hal-hal tersebut di lingkungan perusahaannya. Proses seleksi, pelatihan dan pengembangan karyawan tidak akan optimal jika seorang manajer tidak “Back To The Floor”

Manajer yang selalu menjadi legenda (dikenang dan dihormati) adalah orang yang selalu bisa mencetak generasi yang lebih baik, perilaku yang lebih baik, memberi bekal kail yang kokoh untuk mencari ikan. Bukan orang yang mudah bagi-bagi uang dan upeti.

Bagaimana dengan Anda?

* Arief Yuntanu adalah seorang pegawai BUMN di Pekanbaru, Riau.

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman