Senin, 20 Oktober 2008

MENJADI GURU POSITIF DENGAN TEKNOLOGI PIKIRAN

Oleh: Syahril Syam

Ketika Dr. Robert Hartley dari University of London sedang berjuang mengatasi prestasi akademis buruk dari anak-anak yang kurang beruntung, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ketika masih menjadi murid sekolah, Hartley mengalami kebuntuan ketika harus menulis esai yang penting. Akhirnya ia membayangkan seorang pembaca berita membahas topik itu. Inspirasi pun datang. Hartley muda yang putus asa membayangkan dirinya sebagai pengulas berita dan kalimat mulai mengalir. Dapatkah “berpura-pura” menggerakkan yang lain untuk mencapai kemajuan?

Hartley menghadapi anak-anak yang buruk dalam mengerjakan tes memasangkan gambar. “Coba bayangkan orang yang sangat pintar yang kamu kenal,” begitu kata dia kepada anak-anak itu. “Jadilah kamu aktor. Tutup matamu. Bayangkan bahwa kamu menjadi orang yang sangat pintar itu dan melakukan tes sebagaimana dia melakukannya.”

Anak-anak membayangkan dirinya sangat pintar dan menjadi pintar. Skor mereka naik secara signifikan. Prestasi “slow learners” tidak dapat lagi dibedakan dari anak-anak yang cerdas. Salah seorang di antara mereka tidak mempercayai nilainya. “Waw, ini bukan hasil aku,” katanya protes. “Itu pasti hasil orang pandai itu.” Langkah imajinatif berikutnya, Hartley mencatat, ialah memperbaiki citra diri yang buruk.

***

Anda baru saja membaca kisah yang dialami langsung oleh Dr. Robert Hartley dalam mendidik anak-anak yang kurang pandai atau “buruk”. Dapat Anda lihat bahwa kekuatan pikiran (salah satunya adalah imajinasi) dapat mengubah anak-anak yang “buruk” menjadi anak-anak yang cerdas. Jika dipandang dari sisi kerja pikiran dengan seperangkat hardware-nya (otak), maka tak satu pun anak itu dikatakan “bodoh”. Mari kita lihat penelitian terkini tentang kemampuan otak dan kerja pikiran manusia.

Otak manusia adalah suatu organ yang beratnya sekitar 1,5 kg atau sekitar 2% dari berat tubuh dan dioperasikan dengan bahan bakar glukosa dan oksigen. Saat bayi dilahirkan, otaknya telah berukuran ¼ dari ukuran otak orang dewasa. Semua manusia sejak dilahirkan telah memiliki 100.000.000.000 (seratus miliar) sel otak aktif dan didukung oleh 900.000.000.000 (sembilan ratus miliar) sel pendukung. Jadi, total ada 1 triliun sel otak. Apabila Anda merangkai seluruh sel otak tersebut membentuk barisan panjang, panjangnya akan menyamai jarak perjalanan pulang pergi ke bulan.

Setiap sel otak memiliki kemungkinan koneksi dari 1 hingga 20.000 koneksi. Kecerdasan seseorang tergantung dari seberapa banyak koneksi yang ada pada otaknya. Koneksi antarsel otak akan terjadi bila kita menggunakan dan melatih otak kita. Semakin sering kita kita menggunakan dan melatihnya, maka akan semakin banyak terjadi koneksi. Dengan kata lain, semakin sering proses belajar yang efektif yang dilakukan, maka akan semakin banyak koneksi antarsel yang tercipta (cerdas).

Lantas, bagaimana dengan berpikir? Ketika Anda melakukan proses berpikir, maka sebuah gelombang elektromagnetis bergerak turun ke cabang sel otak untuk melakukan koneksi dengan sel otak yang lain. Pada tahun 1960-an telah diteliti bahwa jumlah “jejak pikiran” (informasi yang telah diketahui, kebiasaan atau ingatan) bagi setiap manusia yang lahir/bayi adalah angka satu yang diikuti seratus angka nol. Angka ini lebih besar daripada jumlah puluhan ribu bintang di alam semesta.

Namun, perhitungan di tahun 1960-an tersebut keliru. Di awal tahun 1970-an diadakan perhitungan kembali, dan menjadi sebuah angka baru: angka satu diikuti oleh delapan ratus angka nol. Angka ini kira-kira sama dengan jumlah atom yang terdapat di Alam Semesta yang kita kenal.

Angka raksasa ini ternyata juga salah!

Sesaat sebelum meninggal di tahun 1974, Petr Anokhin, ilmuwan otak terkenal berkebangsaan Rusia dan murid utama Pavlov menghitung ulang angka tersebut. Dia berkata, dalam pernyataan terakhirnya kepada publik, bahwa semua angka terdahulu salah, dan bahwa sehubungan dengan kemampuan pembuatan pola dari otak bayi, atau tingkat kebebasan pikiran di seluruh otak, angka sebenarnya adalah: “… begitu besarnya sehingga jika ditulis dalam ukuran karakter teks normal akan membentuk deretan angka sepanjang lebih dari 10,5 juta kilometer! Dengan begitu banyaknya kemungkinan tersebut, otak manusia adalah sebuah keyboard yang dapat memainkan ratusan juta juta melodi – berbagai tingkah laku atau kecerdasan – yang berbeda. Tidak ada seorang pun yang masih hidup atau pernah hidup yang bahkan pernah mendekati penggunaan otak secara maksimal. Tidak ada pembatasan kekuatan otak manusia – kekuatan ini tidak terbatas.”

Untuk sebuah contoh sederhana akan kekuatan otak dan kemampuan berpikir manusia, kita ambil sebuah contoh serangga, yaitu lebah yang hanya memiliki tujuh ribu (7.000) sel otak. Lebah dapat melakukan kemampuan sebagai berikut: terbang, berkelahi, melihat, mendengar, mencium, mengecap, meraba, menyentuh, membangun, mengendalikan suhu, menghitung, melindungi, kemampuan bernavigasi, berjalan, berlari, mengingat, bermain, mengasuh, berkembang biak, bekerja secara konstruktif, dan kooperatif dalam sebuah komunitas. Jika Anda melihat kemampuan lebah ini, bayangkan dengan seorang manusia yang baru lahir, dengan kemampuan otak yang luar biasa!

Bukan hanya kemampuan di atas saja yang dimiliki manusia. Penelitian Roger Sperry membuktikan bahwa manusia pun memiliki dua belahan otak (kiri-kanan) yang mempunyai dua fungsi yang berbeda. Penelitian ini mengarahkan kita akan metode pembelajaran sinergis (berpikir dengan menggunakan seluruh bagian otak). Sebagai contoh akan pemikiran sinergis ini adalah Albert Einstein. Einstein memadukan kemampuan logika, numeris, dan analitis dengan kemampuan luar biasanya untuk berimajinasi dan berangan-angan.

Berkaitan dengan penemuan dua belahan otak–di paruh akhir abad kedua puluh–telah disadari bahwa manusia bukan hanya memiliki satu kecerdasan saja (IQ hanya berhubungan dengan kerja otak kiri saja). Telah ditemukan bahwa manusia memiliki lebih dari satu kecerdasan, yang sering disebut dengan kecerdasan majemuk.

Seperti yang telah kita lihat bahwa setiap manusia sungguh luar biasa. Tak satu pun anak yang harus disebut dengan kata “bodoh”. Kemampuan yang luar biasa ini – seperti yang telah terurai di atas – hanyalah berupa potensi. Kecerdasan adalah ketika setiap anak senantiasa melatih dirinya, dengan kata lain kecerdasan adalah terjadinya koneksi-koneksi antarsel otak. Oleh sebab itu, kecerdasan anak sangat berkaitan erat dengan metode pendidikan dari orangtua dan guru.

Banyak orangtua dan guru tidak menyadari bahwa tak satu pun anak yang bodoh. Kata “bodoh” seharusnya diganti dengan BELUM BISA. Artinya, ketika sang anak terus dilatih maka suatu saat akan tercipta koneksi dalam sel otaknya. Dan pada saat inilah, sesuatu yang masih BELUM BISA dikerjakan menjadi BISA dikerjakan.

Ke-BELUMBISA-an seorang anak sangat berkaitan erat dengan apa yang dilakukan oleh orangtua dan guru terhadap anak tersebut. Sebagai contoh: kreativitas anak ternyata sangat luar biasa. Anda bisa membayangkan seberapa kreatif seorang anak dengan kemampuan otak dan berpikir yang telah kita urai di atas. Namun, penelitian Dr. Amabile menyatakan bahwa tekanan psikologis yang mematikan kreativitas terjadi pada usia dini. Apa saja bentuk tekanan psikologis tersebut? Berikut uraiannya:

Pengawasan yang berlebihan terhadap anak.
Evaluasi: membuat anak khawatir tentang bagaimana orang lain menilai apa yang mereka kerjakan.
Hadiah: pemberian hadiah seperti bintang emas, uang, atau mainan yang berlebihan.
Kompetisi: menempatkan anak dalam situasi menang-kalah yang terlalu sengit, yakni hanya satu orang yang bisa meraih titik puncak.
Kontrol berlebihan: mengatakan kepada anak secara terperinci cara melakukan sesuatu – pekerjaan rumah mereka, tugas mereka di rumah, bahkan permainan mereka.
Membatasi pilihan: mengatakan kepada anak aktivitas mana yang harus mereka lakukan, alih-alih membiarkan mereka digiring oleh rasa ingin tahu dan kesukaan mereka.
Tekanan: menetapkan harapan besar pada kinerja anak.
Waktu: terlalu membatasi waktu akan kesenangan anak dalam menikmati dan menjelajahi aktivitas atau material tertentu sepuasnya.

Uraian Dr. Amabile ini juga mengisyarakan kepada kita – sebagai orangtua atau guru – akan pentingnya mendidik diri terlebih dahulu. Kenapa demikian? Bukankah kedelapan tekanan psikologis di atas sering kita alami waktu kita kecil dulu? Hal ini sering memicu kita – tanpa sadar – untuk mendidik anak kita dengan cara demikian pula. Oleh sebab itu, menjadi orangtua/guru positif adalah menjadi pendidik yang memiliki konsep diri positif. Dan salah satu teknik ampuh untuk memiliki konsep diri positif adalah dengan menggunakan teknologi pikiran (hasil riset ilmiah tentang kerja pikiran), seperti yang ditunjukkan oleh Hartley pada pembahasan kita di atas, yaitu dengan teknik imajinasi yang benar.

Sebagai penutup akan diskusi kita, saya ingin mengutipkan kepada Anda sebuah kutipan dari Jean Houston:

“Berapa banyak pemikir dan jiwa kreatif yang disia-siakan, berapa banyak kekuatan otak yang terbuang percuma karena pandangan kuno dan picik kita tentang otak dan pendidikan?”[ss]

* Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril_faqir@yahoo.com.

PERLUAS WAWASAN DENGAN MEMBACA DAN MENULIS

Oleh: Debbi Sianturi

Saya benar-benar kagum pada situs Andriewongso.com dan Pembelajar.com yang mana telah memunculkan banyak penulis anyar (baru) di dunia maya Indonesia. Dengan banyaknya penulis itu, walaupun masih amatir, maka sudah saatnya bangsa Indonesia tidak lagi mengeluh. Melainkan, apa pun yang terjadi di Indonesia ini perlu dimaknai, bahwa sesungguhnya ada arti di balik semua itu.

Menurut saya, salah satu penyakit kita di Indonesia ini, yang harus dibasmi adalah senang mengeluh. Akibatnya, kita selalu negatif dan apatis dalam hidup serta dalam pekerjaan. Perlu diketahui, jika mengeluh dijadikan kebiasaan, akhirnya bisa-bisa orang bertindak nekat, yaitu BUNUH DIRI. Dan, ini sudah tampak dari tindakan-tindakan ekstrim yang dilakukan warga Indonesia.

Dalam buku Hillary Clinton (calon presiden Amerika Serikat), Living History dan Women in Charge dikatakan bahwa kerabatnya, Vince Foster pun bunuh diri akibat frustrasi dan mengeluh dengan keadaan sekitarnya. Konon kabarnya, isteri Vince Foster sudah menganjurkan suaminya untuk menulis buku sebagai ungkapan kekecewaan dan mengungkap jalan keluar dalam masalah yang dihadapi.

Tidak mengherankan bila judul buku baru yang terbit di Amerika Serikat bisa mencapai di atas 50.000 judul. Sebab, setiap orang aktif mengungkapkan apa yang dialami, harapan-harapan, atau hal yang diinginkan dalam bentuk tulisan.

Dan dari informasi yang saya peroleh, di Indonesia baru menghasilkan 7.000 judul setiap tahunnya. Padahal, jumlah penduduk produktif 145 juta jiwa. Memang, ini hitungan secara kasar, tapi minimal kita mendapat gambaran bahwa Indonesia adalah lapangan yang luas untuk menulis buku. Beberapa orang berpendapat bahwa pembaca lebih berminat pada tulisan yang bersifat kontroversial. Namun, menurut penilaian saya, sudah saatnya bangsa Indonesia memperluas wawasan dengan membaca dan terus membaca, tidak hanya yang bersifat kontroversial.

Apalagi dengan perkembangan globalisasi seperti sekarang serta masuknya Indonesia ke pasar bebas tahun 2010, maka semua pihak haruslah memperluas terus wawasan. Membaca dan menulis dapat memperluas wawasan kita. Hanya saya perhatikan, banyak sekali orang mencari-cari alasan yang tidak masuk akal untuk tidak menulis. Memang, sangat sulit untuk mengubah paradigma seseorang jika sudah berpikiran negatif untuk suatu hal.

Netter yang budiman. Teruslah menulis dan tidak pernah berhenti untuk mengungkapkan pemikiran Anda. Membagi pengetahuan yang kita miliki adalah salah satu cara agar kita tetap bisa mengisi pemikiran kita dengan hal-hal yang baru. Bayangkan, otak kita bagaikan gelas yang diisi air, ada saatnya gelas menjadi penuh dan perlu dituang isinya ke gelas lain, dan kemudian diisi lagi. Dengan merenungi makna perumpamaan tadi, maka kita dapat merasakan bahwa kita berada dalam hidup yang sangat indah dan bermakna.

Salam sukses luar biasa dan teruslah menulis![ds]

* Debbie Sianturi adalah aktivis sebuah partai politik dan alumnus workshop Sekolah Penulis Pembelajar. Ia dapat dihubungi di nomor: 08881606587

BUDAYA INSTAN

Oleh: Agustinus Prasetyo

Keinginan untuk serba cepat tanpa mau menunggu sudah merambah seluruh bidang kehidupan kita. Coba tengok restoran-restoran fast food yang menyediakan makanan siap saji menjamur – mengolah makanan dianggap membuang waktu (meskipun para dokter mengatakan lebih sehat).

Bimbingan belajar yang menawarkan jurus-jurus ampuh menempuh UMPTN dan sekarang ujian nasional menjamur. Pendidikan seolah-olah hanya untuk mengejar nilai tanpa memahami betul prosesnya…

Dalam hal yang berkait dengan birokrasi pemerintah terdapat istilah jalur cepat dan jalur lambat. Contoh, dalam pengurusan KTP bila diurus sendiri (hal itu sangat baik karena merupakan ajang pertemuan camat dengan warganya) tapi dalam kenyataannya bila diurus sendiri sangat menyita waktu karena petugas datangnya siang dan sering tidak langsung bekerja (membaca koran/majalah atau membuat kopi dulu), sehingga kita mesti minta izin 3 jam pada atasan untuk pengurusannya.

Dalam melakukan pekerjaan pun kebiasaan ingin mudah atau ingin cepat kaya juga tampak jelas. Contoh yang paling jelas bagi masyarakat Jawa Timur adalah bencana lumpur Lapindo yang mengakibatkan ratusan rumah terendam lumpur, ratusan orang kehilangan pekerjaan karena pabrik terendam lumpur (pengusaha, buruh, tukang ojek, warung nasi, dll), puluhan pengemis berjajar di pinggir jalan yang macet, serta ribuan orang kehilangan waktu dalam perjalanan sehingga roda perekonomian tersendat.

Bila melihat cara petani bekerja tampak jelas bahwa alam mempunyai irama dalam mematangkan segala sesuatunya. Segala sesuatu harus melalui sebuah proses – tidak bisa langsung jadi. Benih harus dikubur dalam tanah dulu dan tidak tampak apa-apa di atas tanah selama beberapa hari. Lalu, ketika tampak ada tunas selalu dimulai dari tunas yang kecil yang harus dirawat agar dapat menjadi besar dan berbuah.

Meskipun saat ini di dunia pendidikan sedang gencar-gencarnya menstimulasi anak agar masa depannya lebih cerah, seorang wakil kepala sekolah (Bapak Ariesandi) mengatakan bahwa IQ memang dapat dikarbit, namun kematangan mental tetap mengikuti hukum alam (baca: tidak dapat dikarbit).

Demikian juga kita saat mengalami masalah dalam hidup juga berproses untuk mengerti hikmah dari peristiwa itu . Contoh: Suatu ketika saya mengalami kesulitan dalam membayar utang. Tadinya saya tenang-tenang saja karena ada piutang yang sudah lama jatuh tempo dijanjikan akan segera dibayar. Tetapi semakin mendekati hari H pembayaran utang, ternyata janji tersebut tinggal sekadar janji. Saya mencoba minta personal loan dari bank X, namun hasilnya nihil. Akhirnya, tinggal satu hari dan hampir saja saya pasrah pada nasib. Saat berdoa dan merenungi nasib, tiba-tiba terpikir suatu jalan. Singkat cerita saya berhasil lolos pada saat terakhir.

Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa Tuhan bukanlah tongkat ajaib yang siap sedia mengerjakan keinginan saya. Diperlukan kerja keras manusia (usaha tekun) karena Tuhan juga bekerja lewat pikiran, karya, dan talenta yang manusia miliki untuk mencapai apa yang manusia idamkan.

BE BETTER EVERYDAY[ap]

* Agustinus Prasetyo adalah karyawan.Saat ini sedang belajar menuliskan hikmah dari peristiwa sehari-hari. Dapat dihubungi di ag_prasetyo@hotmail.com.

REAKTIF IDENTIK DENGAN KEMISKINAN? -

Oleh: Riyanto B. Suwito

Kata tersebut sering digunakan untuk menyebut tindakan yang hanya didasarkan pada stimulus dari luar (eksternal), tindakan yang membabi buta, gelap mata dan lain-lain. Stimulus ini disebut aksi – untuk selanjutnya kita akan bereaksi. Begitulah proses yang terjadi dalam sebuah hubungan saling memengaruhi atau resiprokal. Adakah hal tersebut terkait dengan kemiskinan? Jawabannya bisa jadi sangat beragam.

Kita sering mendengar dari para pakar dan analis ekonomi maupun politik, istilah kebijakan pemerintah yang bersifat reaktif dan jangka pendek. Menariknya istilah ini sering kali dipergunakan untuk menyebut kebijakan pemerintahan negara berkembang atau miskin.

Di sisi lain kita juga mendengar tentang sikap reaktif orang “miskin”, saya beri tanda kutip karena ada beberapa sudut pandang dalam menyebut kata tersebut. Bagi pakar psikologi dan ilmu jiwa menyebut miskin bisa berkaitan dengan persoalan mental dan bukan semata-mata kondisi fisik dan materi. Sedangkan bagi kalangan lainnya menyebut miskin akan identik dengan kondisi prasejahtera – meskipun ada banyak versi dan indikator yang belum seragam – secara fisik dan materi.

Mereka - orang yang disebut miskin ini - sering kali bertindak otomatis begitu ada stimulus dari luar – kalau bahasa mereka disebut keterpaksaan. Kalau ditanya siapa yang memaksa? Jawabannya bisa macam-macam, tapi yang paling umum dituduh sebagai biangnya adalah “keadaan”. Misalnya mereka berutang yang pada akhirnya memberatkan atau malah menjerat mereka sendiri – walaupun mereka sadar konsekuensinya – tetapi tetap dilakukan dengan alasan dipaksa oleh keadaan.

Benarkah sesuatu yang bernama “keadaan” ini demikian kejamnya sehingga sering kali memaksa orang miskin atau negara miskin untuk melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan dan sukai? Untuk menjawab hal ini pun bisa diajukan pernyataan yang beragam.

Tapi coba kita lihat pada kasus yang lainnya – misalnya pengambilan keputusan dan tindakan karena ketidaktahuan – apakah mereka termasuk kategori “miskin”? sepertinya jawabannya adalah YA. Alasannya adalah – bahwa ketidaktahuan adalah bukti kemiskinan (kekurangan) informasi dan ilmu. Tetapi ada juga lho orang yang miskin data tapi bisa mengambil tindakan dengan bijak. Ini kasus lain, mereka biasanya adalah orang yang memiliki intuisi yang tajam – dan ini berkaitan dengan kapasitas diri yang mumpuni, bahkan bisa jadi berlebih.

Lantas bagaimana halnya dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa kemiskinan identik dengan kebodohan? Apakah hal tersebut salah? Ataukah hal itu merupakan salah satu dari pernyataan yang mendukung premis di atas? Saya akan balik bertanya, apakah kebodohan itu suatu kondisi “kekurangan” atau “kelebihan” ilmu? Jawabannya saya pastikan sudah di tangan Anda. Lantas bagaimana jika kemiskinan ilmu dan wawasan atau informasi digabungkan dengan kemiskinan materi? Sebuah kolaborasi mahadahsyat – yang sering kali dialami oleh mayoritas masyarakat atau negara miskin. Inilah jawaban mengapa sikap reaktif identik dengan kemiskinan. Karena dengan demikian lengkaplah sudah alasan kejamnya keadaan sebagai landasan untuk bertindak atau lebih tepatnya bereaksi terhadap keadaan tersebut.

Secara naluriah, orang yang mendapatkan tekanan dari keadaan mestinya dia akan menekan balik. Sayangnya tekanan balik yang ditunjukkan dari sikap reaktif sering kali justru terbalik – yaitu menekan diri sendiri dan bukan kepada pihak lain (lawannya).

Saya yakin, kalau dalam Tai Chi (ilmu beladiri dari China) – hal ini pasti dianggap sebagai sebuah kesalahan yang sangat mendasar. Karena mereka – para Tai Chi Master - justru menggunakan teknik menyerang balik dengan menggunakan tenaga (tekanan) dari lawan – sehingga semakin besar tekanan dari lawan, maka akan semakin hebat serangan balik yang bisa dilakukan.

Jika demikian, sikap reaktif sebenarnya bukanlah sebuah proses membela diri (defend) atau mencari selamat (survival) tetapi lebih tepat disebut sebagai tindakan bunuh diri (suicide). Coba kita periksa relevansinya dengan kasus nyata di negeri ini. Apakah kebijakan pemerintah yang bersifat reaktif (seperti pembatasan BBM, Listrik, pencabutan subsisdi di saat yang tidak tepat, kebijakan pembebasan bea impor bahan pangan tertentu, dll) apakah bisa disebut sebagai sebuah mekanisme bertahan hidup? Ataukah sedang mencoba untuk bunuh diri? Karena kekurangan kepercayaan diri dan ketakberdayaan (powerless) menghadapi keadaan atau pihak lain?

Bandingkan juga dengan sikap orang miskin yang berutang kepada rentenir atau “terpaksa” berutang untuk konsumsi, bisakah disebut sebagai tindakan bertahan hidup? Ataukah sedang berusaha untuk membunuh diri sendiri daripada dibunuh pihak lain? Lagi-lagi tidak tepat jika hal tersebut dikategorikan sebagai aksi heroik untuk mempertahankan hidup. Lebih tepat jika disebut sebagai tindakan bunuh diri yang terselubung.

Lantas apakah tindakan bunuh diri yang terang-terangan - seperti minum racun serangga rasa jeruk (bercanda, lho..), terjun dari gedung tinggi, menggantung diri, dll – apakah juga merupakan tindakan reaktif? Dan apakah mereka – yang melakukan hal tersebut – termasuk kategori miskin? Jawabannya saya yakin, YA. Bisa miskin harta, miskin ilmu, miskin mental, miskin teman (hubungan), miskin hati, miskin kepercayaan (baik terhadap diri maupun orang lain), miskin pertimbangan, miskin wawasan, miskin stimulus, miskin pujian, dan miskin-miskin yang lain.

Tetapi kata kunci yang menyebabkan mereka bertindak reaktif atau gelap mata tersebut tetaplah berakar dari kemiskinan atau kekurangan (poverty or lack) sesuatu atau bahkan sering kali lebih dari satu atau kolaborasi dari beberapa kemiskinan. Hati-hatilah terhadap kemiskinan, bantulah orang yang miskin dan kekurangan – begitu salah satu pesan orang bijak. Dan masih menurut orang bijak, salah satu cara untuk menolong orang miskin adalah dengan tidak menjadi bagian dari mereka. Sehingga menurut hemat saya – yang kebetulan belum bisa disebut orang bijak - mudahnya, cukup dengan tidak bertindak reaktif – itu sudah berarti turut membantu mereka, karena kita tidak menjadi seperti mereka. Termasuk dalam menyikapi tulisan singkat ini. Jangan reaktif! Lihat dulu judulnya.[rbs]

* Riyanto B. Suwito adalah entrepreneur, trainer, konsultan, dosen dan sedang belajar menulis. Dapat dihubungi di hp: 081 227 12426 atau email: riyantosuwito@gmail.com – aktif di PKPEK – fairbiz@indo.net.id . Salah satu trainer bersertifikat dari CRS-Links Certified Trainer on Financial Education for the Poor).

TEMUKAN ZONA NYAMAN ANDA

Oleh: Ahmad Arwani R.

“Yang pasti-pasti ajalah,” kata seorang teman pada saat meeting membahas perbaikan proses bisnis. “Belum tentu perbaikan ini akan memberikan dampak yang lebih signifikan dibanding sebelumnya,” tambahnya. Mungkin percakapan ini sering kita dapati di mana pun kita bekerja. Orang memang memiliki kecenderungan untuk malas berubah dan lebih memilih yang sudah berjalan seperti biasanya.

Atau, coba Anda perhatikan, Jika suatu saat Anda makan di sebuah restoran dan mengambil kursi yang paling pojok misalnya. Saat Anda kembali ke restoran tersebut pada lain waktu, Anda akan memilih meja yang sama dan makanan yang sama pula. Kenapa ini terjadi? Alasannya tetap sama, bahwa kita sudah terbiasa dengan pilihan tersebut. Karena, semua dari kita menyukai kebiasaan, kemapanan, dan kepastian.

Pernahkah Anda sadari bahwa setiap hari kejadian-kejadian tersebut banyak sekali terjadi. Kita berusaha menjaga segala sesuatu seperti yang pernah kita lihat, terlihat sama, dan konstan dari waktu ke waktu. Dengan memastikan segalanya tidak berubah, kita merasa aman dan nyaman. Keadaan ini sering disebut sebagai comfort zone dan sering dipersalahkan pada saat terjadi perubahan. Sehingga, dalam setiap training motivasi kita dianjurkan untuk keluar dari comfort zone (lebih tepatnya negative comfort zone) karena membuat kita menjadi konservatif dan tidak produktif.

Apakah memang benar demikian?

Cobalah bayangkan, di sebuah perusahaan yang sangat dinamis perubahan adalah sebuah kebiasaan (habbit) mengikuti trend industri. Proses bisa berubah sewaktu-waktu, struktur organisasi berganti secara tidak dinyana dan kebijakan bisa berubah haluan secara drastis, apakah karyawan mampu beradaptasi dengan baik?

Coba tanyakan pada diri sendiri, apa yang sebenarnya kita cari di dunia ini? Uang, kekuasaan, dan ketenaran? Belum tentu dengan uang kita merasa sukses jika kita tidak sehat. Kekuasaan tidak akan bisa kita rasakan jika kita dihantui oleh ketamakan dan kesewenang-wenangan. Dan, ketenaran tidaklah berguna jika kita tidak punya privacy dan waktu untuk orang-orang terkasih. Kalau kita tanyakan kembali, sebenarnya yang kita butuhkan adalah ketenteraman dan kenyaman hidup. Benar atau tidak?

Dalam kondisi nyaman dan aman tentunya seseorang akan lebih optimal dalam melakukan segala aktivitas karena tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kita akan bisa melakukan apa pun dan mencapai target jika kita merasa nyaman.

Sekarang marilah kita maknai dan ciptakan positive comfort zone tersebut agar memberikan daya lecut menuju kesuksesan kita.

Beberapa hal penting yang harus kita cermati dalam menciptakan positive comfort zone adalah sebagai berikut:

Definisikan ulang hidup Anda
Putuskan hidup seperti apa yang ingin Anda jalani, hidup yang penuh dengan warna-warni atau biarkan berlalu begitu saja. Kemudian tentukan nilai-nilai apa yang menurut Anda penting misalkan kejujuran, kebersamaan, kekeluargaan, kecukupan material spiritual, penghormatan, harga diri, dan lain sebagainya.

Pastikan bahwa nilai-nilai tersebut adalah identik dengan Anda, jadi di mana pun Anda berada, pekerjaan apa pun yang Anda pilih, maka nilai-nilai inilah yang akan menjadi pilar zona nyaman Anda. Jika nilai-nilai ini ada maka Anda akan eksis dan optimal, jika tidak maka buatlah itu ada atau berpindahlah ke lain tempat yang memungkinkan itu ada atau terjadi

Positive Comfort Zone adalah sebuah target yang dinamis dan upgradeable
Waktu selalu bergerak maju, perubahan tidak terelakkan lagi, dan usia pun sudah pasti merangkak naik. Pada saat itulah kita harus berkaca pada diri sendiri, apakah kita juga semakin beranjak dewasa, bertambah bijak, cerdas, dan secara spiritual lebih matang atau tidak? Pada tahapan ini Muhammad SAW mengingatkan kita bahwa orang yang beruntung adalah orang yang pada hari ini lebih baik dari kemarin. Apakah kita termasuk di dalamnya?

Selayaknya seperti target penjualan, yang dari waktu ke waktu selalu berubah begitu juga dengan comfort zone. Pada saat pengertian kita mengenai hidup semakin matang, pengalaman spiritual semakin meningkat kualitasnya maka dirasa atau tidak Anda sudah berpindah dari satu tingkatan positive comfort zone menuju ke tingkatan yang lebih tinggi.

Kalau awalnya ukuran nyaman masih dalam tataran keduniawian, sekarang beranjak ke dalam tataran pencapaian spiritual, dan begitu seterusnya. Saat kita sudah mencapai tingkat tertentu kita akan menentukan lagi tingkat positive comfort zone yang baru dan yang lebih tinggi tentunya.

Tidak selalu identik dengan uang, kekuasaan, dan ketenaran bukanlah ukuran yang sebenarnya. Pikirkanlah hal-hal seperti peluang pembelajaran, kemudahan berkomunikasi dengan sesama karyawan, kesempatan untuk mendapatkan karier yang lebih tinggi, kesempatan untuk menuangkan ide-ide kreatif untuk kemajuan perusahaan, waktu untuk bersama keluarga, kebersamaan dengan karyawan. Hal-hal tersebut bisa dijadikan sebagai indikator positive comfort zone.

Jika nilai-nilai tersebut tidak terpenuhi maka kita harus bersiap mencari solusinya sendiri dengan berpindah bagian, perusahaan, atau berpindah karier

Lihatlah dengan hati
Kondisi tingkat kenyamanan dan keamanan orang satu sama lain berbeda-beda. Karena kualitas dan target hidup berbeda dan tergantung dari kemampuan kita memaknai dan menjalani hidup. Namun satu yang pasti, perasaan nyaman dan aman hanya bisa diukur oleh hati. Bergelimpang harta dengan dikawal bodyguard sekampung belum tentu terasa nyaman jika selalu was-was akan kehilangan harta tersebut. Memiliki deposito dan investasi yang membanggakan belum tentu nyaman jika setiap saat kita khawatir akan risiko kehilangan investasi tersebut.

Maka belajarlah untuk selalu mendengar dan menuruti kata hati. Karena Tuhan berkomunikasi dengan kita setiap hari melalui segala kelembutan dan kejadian untuk kita ambil hikmah dengan akal dan hati. Segala perbuatan baik dan buruk hanya hati kita yang bisa menilai. Pastikan hati kita sejernih air telaga dan selembut kapas.[aar]

* Ahmad Arwani R lahir di Semarang pada 1 Juni 1977. Ia tinggal di Kompleks Mutiara Elok Blok B-16 Kreo Selatan, Ciledug, Tangerang, Banten.

MELONJAK, TERINJAK NAMUN TIDAK BERANJAK

Oleh: Saumiman Saud

Kondisi ekonomi yang semakin terpuruk membuat kehidupan masyarakat semakin memburuk. Mengapa demikian? Karena selama kita masih hidup di dalam dunia yang penuh ketidakpastian, maka kondisi kehidupan kita pun tidak pernah pasti. Oleh karena itulah sering kali manusia kehilangan pegangan tatkala berbagai kesulitan menyerang secara terus-menerus. Putus asa, frustasi, pasrah, itulah yang selalu menghantui kehidupan manusia. Di sisi lain pengangguran, kejahatan, dan narkoba merajarela. Berulang kali pula tatkala orang-orang menghadapi kesulitan seperti ini, maka “keadaan ekonomi” yang terpuruk itu yang dikambinghitamkan, padahal yang salah bukan kondisi itu, tetapi perilaku dan karakter manusia yang ada di dalamnya.

Di dalam Alkitab kita dapat menemukan seorang ahli strategi ekonomi. Di saat-saat keadaan ekonomi negara genting terpuruk, ia masih dapat berjaya; orang itu bernama Yusuf anak Yakub atau cicitnyanya Abraham. Perhitungannya sangat tepat. Dikatakan bahwa negeri Mesir akan berjaya dengan kelimpahan selama tujuh tahun berturut-turut, namun ingat setelah itu maka tujuh tahun ke depan berturut-turut akan terjadi masa-masa sengsara. Bagi Yusuf, strategi jitunya sangat sederhana; barangkali tanpa harus menyandang gelar sarjana ekonomi pun kita dapat melakukannya. Tatkala masa-masa jaya, jangan lupa harus menabung atau menyimpan bahan pangan di lumbung untuk berjaga-jaga agar pada waktu terpuruk masih ada persediaan yang cukup (Kejadian, 41 : 25-31).

Benar sekali apa yang diprediksikan oleh Yusuf itu terjadi. Pada saat masa sulit, mereka masih dapat menikmati makanan yang disimpan di lumbung itu. Tentu pula harga barang tersebut dijual dengan harga normal yang terjangkau oleh masyarakat luas, bahkan orang-orang Israel juga dapat menikmatinya. Sekarang timbul pertanyan, mengapa strategi ini begitu lancar dan nampak sangat sederhana? Apakah kondisi seperti ini masih berlaku saat ini?

Jelas sekali di sini, jaman semakin berubah, manusia hidup dalam situasi yang eksklusif, masing-masing hanya mengurus kepentingan sendiri. Dengan demikian jika ada keuntungan, maka ia mesti mengambilnya sendiri, jika ada kesempatan ia mesti merampasnya sendiri. Dan sebaliknya jika ada kerugian, urusannya diserahkan pada pada orang lain, kalau bisa jangan ditanggung sendiri. Orang-orang yang hidupnya terpengaruh pada kondisi seperti ini sangat sulit membagikan apa yang mereka miliki. Sehingga tidak heran ada orang yang walaupun keadaan kondisi ekonomi begitu terpuruk, ia masih dapat menumpuk harta kekayaan pribadi, dan demi kepentingan itu maka jatah kawan pun dikeruknya.

Jika hari ini para pengusaha yang kaya raya tidak mengelola usahanya dengan penuh kasih, maka yang kaya sudah pasti semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Yang kaya semakin berjaya, yang miskin semakin menderita. Tidak ada salahnya jika Anda yang sudah kaya-raya tetap mempertahankan kekayaan, namun bagi mereka yang miskin apa salahnya diberikan peluang untuk kesempatan itu juga. Tetapi dasar manusia itu tamak, maka untuk urusan kekayaan itu harus menjadi hal yang pribadi, hanya sisa remah-remahnya yang dibagikan kepada si miskin. Bahkan gara-gara masalah kekayaan, saudara dan orangtua kandung pun bila perlu disingkirkan.

Seorang penulis Rusia, Leo Tolstoy dalam bukunya Tuan dan Hamba mengisahkan suatu cerita sebagai berikut: Ada seorang petani miskin yang bernama Pak Khom, ia merasa iri pada kakak iparnya yang sangat kaya di kota. Suatu hari Pak Khom mendengar bahwa ada seorang tuan tanah yang bernama Starshina hendak menjual tanahnya. Pak Khom merasa tertarik untuk membeli tanah itu, agar dapat diolah dan ditanam sehingga ia juga menjadi orang yang kaya. "Berapa harga tanah engkau?" tanya Pak Khom. "Harga tanah," jawab Starshina “hanya 1.000 rubel sehari."

Pak Khom merasa bigung akan harga yang ditawarkan. "Berapa harganya yang benar?" Pak Khom ulang bertanya dengan serius."Saya tidak menghitung dengan cara itu,” kata Strarshina. "Saya akan menjual menurut harinya, artinya sebanyak tanah yang dapat engkau kelilingi selama satu hari; itulah ukuran yang engkau perlu bayar yakni 1.000 rubel."

Pak Khom terheran-heran dan dalam hatinya ia berkata: "Ah... saya pasti dapat mengelilingi seluas-luasnya dan saya akan menjadi orang yang paling kaya di desa ini." Selama satu malam, Pak Khom tidak dapat tidur nyenyak. Ia hanya membayangkan bahwa sebentar lagi ia akan menjadi tuan tanah yang kaya raya. "Saya akan membuat tanda patokan," kata Starshina "di sini saya memberi patokan kayu, tanda dimulai. Apabila matahari terbenam engkau sudah harus tiba kembali di sini. Itu berarti semua tanah yang engkau kelilingi itu mejadi milikmu." Pak Phom mulai berjalan, ia tidak berjalan dengan pelan-pelan, melainkan dengan penuh semangat dan tergesa-gesa. Ia tidak menghiraukan panas terik matahari, dalam benak pikirannya hanya satu yaitu sebentar lagi ia akan kaya-raya.

Satu jam, dua jam berlalu dengan cepatnya. Pak Khom berusaha dengan sekuat tenaga dan secepat mungkin untuk berjalan. Sehingga makan dan minum harus dilakukan sambil berjalan. Walaupun persediaan makanan dan minumannya tinggal sedikit, ia tetap berjalan terus. Pak Khom hanya melihat tanah-tanah yang subur, sungai-sungai yang jernih airnya, dan terus berjalan, sementara di atas gunung orang-orang melambai-lambaikan tangan padanya. Pak Khom sudah capek sekali, kakinya mulai lecet dan juga berdarah, rasanya ia seperti tidak sanggup lagi.

Melihat matahari sudah hampir terbenam, Pak Khom kembali memaksakan diri untuk berlari, dan ia terjatuh tepat pada patokan pertama; namun ia sudah tidak bernyawa lagi. "Ah anak muda," Starshina berseru. "Engkau dapat memenangkan banyak tanah hari ini." Teman-teman Pak Khom kemudian mengambil sebuah sekop dan mengorek lubang yang berukuran satu meter kali dua meter untuk menguburnya. Begitulah kira-kira orang yang telah kerasukan ketamakan. Apa artinya harta, bila karena itu nyawa melayang?

Coba sejenak kita kembali kepada Yusuf, tatkala barang-barang kebutuhan mulai krisis dan habis, Yusuf mengerahkan orang-orangnya membuka lumbung dan menjualnya ke masyarakat. Ia tidak perlu memasang harga yang tinggi seperti yang dilakukan para pedagang masa kini. Zaman sekarang monopoli dagang ada di mana-mana, tatkala diperkirakan harga jual bakal naik, maka yang dilakukan adalah menimbun barang-barang terlebih dahulu di gudang sendiri. Lalu begitu barang-barangnya habis, harga naik, maka si penjual pun menjual dengan harga sesuka-hatinya. Makanya jangan heran hari ini kita menyaksikan bahwa bila harga yang semakin melonjak, maka masyarakat yang miskin semakin merasa terinjak. Harga naik terus, gaji tetap bahkan mungkin dipotong. Apakah mereka mesti berpuasa? Ngomong-ngomong orang yang berpuasa juga harus makan pada malam harinya. Lalu kontrasnya, orang-orang di luar negeri merasa prihatin sekaligus heran dengan kondisi ekonomi di Tanah Air kita. Di satu pihak dikatakan keadaan ekonomi lagi krisis; namun di pihak lain berbondong-bondong masyarakatnya melancong ke luar negeri dan berfoya-foya di sana. Sulit dipercaya dan tidak masuk akal, bukan?

Memang tidak semua orang mau peduli dengan kondisi ini; namun jika Anda mengaku diri sebagai orang percaya, pengikut Kristus yang sejati, cinta Tuhan, maka Anda harus menjadi contoh teladan dalam keadaan ini. Jika tidak, siapa lagi yang dapat diandalkan. Yesaya 59:1 mencatat “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar.” Yakin sepenuh hati, Tuhan pasti menolong. Jadilah pengusaha yang memiliki hati kasih, bukan hati yang tamak. Ingat harta kekayaan dapat dicari, namun kesempatan untuk mengerjakan yang terbaik buat menolong orang lain tidak selalu ada. Porsi lauk-pauk yang dimakan oleh mereka yang kaya dan yang miskin adalah sama, oleh sebab itu jika Anda memiliki lebih, apa salahnya itu dibagikan kepada mereka yang kurang. “Kunci sukses seseorang bukan diukur dari seberapa banyak kekayaan yang ada, tetapi orang yang sukses dapat diukur dari bagaimana ia memakai kekayaannya menjadi berkat bagi orang lain.”

Hari ini kita sebagai manusia tidak dapat menghindari kondisi yang terpuruk itu. Harga-harga barang kebutuhan semakin hari semakin naik di negeri tercinta, celakanya setiap harga barang yang sudah naik sulit sekali untuk turun lagi. Dalam kondisi ini bagaimana sikap orang percaya? Orang percaya mesti harus tabah dan kuat. Orang percaya boleh miskin di dalam harta kekayaan, tetapi ia tidak boleh miskin dalam hal rohani. Bukankah Tuhan Yesus berkata apalah artinya engkau memiliki harta yang ada di seluruh dunia ini, namun Anda kehilangan nyawanya? (Matius 16:26 ) Di bagian lain Tuhan Yesus berkata lagi, “Barang siapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Dan barang siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 10: 39).

Maksudnya ialah, kalaupun kita harus kehilangan nyawa gara-gara kemiskinan itu tidak soal, namun integritas kita sebagai orang Kristen tetap dijaga dan dipelihara. Kita mungkin akan menjadi korban dan miskin terinjak karena harga barang semakin melonjak, namun iman kepercayaan ini tidak harus beranjak. Tuhan kita tidak pernah lalai memerhatikan kita. Dalam kitab Mazmur 37:23-24 “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” Orang miskin memang tidak popular, tidak terperhatikan, sering diabaikan, hina, rendah, papah, namun ingat Tuhan Yesus justru datang ke dunia mencari mereka yang terabaikan itu. Ia menjanjikan suatu kepastian keselamatan yang tidak dapar ditawarkan dan dimiliki oleh dunia ini.[ss]

* Saumiman Saud adalah seorang pendeta, alumni Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, saat ini bertugas di Washington. Beliau dapat dihubungi via email saumiman@gmail.com

PASRAH ITU NGGAK BIKIN REPOT

Oleh: Ahmad Abusali

Senin itu, seperti biasa Vina memulai aktivitasnya berangkat ke kantor. Dari rumah menuju kantor Vina menggunakan sebuah taksi. Hari itu kegiatan di kantornya sangat padat sehingga dia memilih berangkat lebih awal dari biasanya. Ketika hendak memasuki gerbang tol, Vina mulai melihat begitu banyak antrian kendaraan seolah mereka berlomba ingin cepat sampai tujuan. Saat itu, jam masih menunjukkan jam 06.10 pagi. Taksi yang ditumpangi terus melaju di tengah kerumunan mobil-mobil lain yang hendak menuju arah yang sama.

Ketika beberapa saat perjalanan, persis berada di tengah tol jembatan layang, taksi yang ditumpangi Vina sudah mulai berjalan tersendat, dan tak lama kemudian berhenti total. Vina sempat bertanya kepada sopir, “Kok kenderaan di depan sama sekali tidak bergerak ya, Pak?”

“Tidak tahu ya, Neng. Ini juga tidak seperti biasanya, mudah-mudah nggak ada apa-apa,” sahut sopir.

Beberapa saat kemudian, Vina mulai gelisah, khawatir akan terlambat tiba di kantor dan jam telah menunjukkan pukul 07.45. Posisi taksinya kurang lebih berada di tengah tol jembatan layang. Pak sopir mencari tahu penyebab kemacetan lewat radio panggil. Dari informasi yang didapat, ternyata ada truk kontainer yang berisi muatan penuh terbalik melintang di jalan sehingga menghalangi kenderaan lain yang mau lewat.

Mendengar kabar itu Vina mulai menunjukkan raut muka tegang. Rupanya, pagi itu ada jadwal rapat jam 08.30 bersama dewan direksi perusahaannya dengan CEO dari Holding Company yang ada di luar negeri. Jarak tempuh perjalanan dari rumah menuju kantornya yang biasa hanya 30-40 menit menjadi tidak berlaku.

Waktu terus berlalu, hingga menjelang waktu rapat. Vina yang seharusnya telah berada di kantor tapi masih terjebak didalam taksi yang sama sekali tidak bergerak. Dalam keadaan panik, Vina mencoba meraih handphone dari tasnya. Dan, ternyata handphone-nya pun menunjukkan low bath, lalu pelahan-lahan mati. Dia belum sempat men-charge HP-nya yang semalam digunakan untuk menghubungi adiknya yang baru bertugas di luar kota. Akibatnya, dia sama sekali tidak dapat berkomunikasi ke kantor untuk memberitahukan kondisinya. Dia berusaha menanyakan kepada sopir barangkali ada HP yang bisa dipinjam, tapi sopir tidak bawa HP.

Vina menunjukkan kepanikan yang luar biasa. Pikirannya berkecamuk, stres karena memikirkan rapat yang begitu penting tidak dapat dia diikuti. Vina dipercaya direksi untuk mempresentasikan kinerja perusahaan di hadapan CEO dari Holding Company sehingga kehadirannya pada rapat itu sangat diharapkan. Dia berpikir untuk ganti kenderaan, tapi tidak mungkin karena di tengah jalan layang tidak ada transportasi lain, seperti tukang ojek ataupun busway yang dapat dijadikan kenderaan alternatif. Akhirnya, Vina tidak memiliki pilihan lain kecuali pasrah pada Tuhan.

Pada saat itu, tiba-tiba terlintas dalam pikirannya bahwa dia pernah mendengar salah satu percakapan di sebuah stasiun radio, yang intinya adalah pada saat orang merasa tidak lagi memiliki pilihan, di situlah dibutuhkan kepasrahan kepada Tuhan. Orang betul-betul pasrah dan hanya berharap pada pertolongan dari Tuhan. Biasanya, mentalnya jauh lebih siap menghadapi dan menerima apa pun risiko yang akan terjadi. Terlebih lagi dia yakin dan percaya bahwa Tuhan akan selalu memberi yang terbaik baginya. Vina berusaha menjalankan nasihat ini. Beberapa saat kemudian dia merasa jauh lebih tenang. Dia hanya berdoa dan berprasangka baik pada Tuhan. Karena yakin, Tuhan Mahatahu apa yang terbaik bagi dirinya.

Tidak hanya itu, Vina pun masih merasa bersyukur karena ada bus angkutan umum yang persis berada di sekitar sana juga terjebak macet. Bus itu penuh sesak oleh penumpang dan sebagian banyak yang berdiri. Dari kenderaan yang dia ditumpangi, Vina dapat melihat jelas banyak penumpang yang kepanasan, bermandikan keringat, dan sebagian lagi turun dari dalam bus karena tidak mampu menahan panas. Sepertinya, bus itu juga tidak dilengkapi alat pendingin udara karena bus kelas ekonomi. Penumpang yang berada di luar bus pun tidak luput dari teriknya matahari, ditambah lagi polusi udara dari kenderaan yang ada di sekitarnya. Vina sadar betul akan beratnya penderitaan yang dialami penumpang bus itu, serta mereka pun mengalami hal yang sama terlambat menuju ke tempat beraktivitas.

Bila dibandingkan keadaan penumpang bus, Vina merasa kondisinya jauh lebih baik, lebih nyaman dan tidak capai berdiri. Malahan, dia berada di bawah hembusan udara dingin AC dan duduk di jok mobil yang empuk. Sepertinya, pantaslah bila dia banyak bersyukur.

Setelah beberapa jam berlalu, tiba-tiba taksi yang dia tumpangi pelan-pelan merayap dan akhirnya melewati kontainer yang menghalangi jalan. Di sana tampak petugas dan polisi yang sibuk mengatur lajunya kendaraan yang melintas.

Setibanya di kantor, Vina buruh-buruh menujuh meja rekannya untuk menanyakan rapat yang tidak dapat dia hadiri. Rupanya rapat yang semula akan dilaksanakan pada jam 08.30 diundur menjadi jam 14.00 disebabkan ada sesuatu dan lain hal. Vina pun masih penasaran dan bergegas menuju ruangan bosnya guna mengonfirmasi kebenaran penundaan rapat itu. Bosnya sadar bahwa Vina pasti merasa bersalah karena telah datang terlambat. Vina berusaha menjelaskan alasan dan akhirnya bos dapat memakluminya. Menurut bosnya, dia telah mencoba menghubungi Vina untuk memberitahukan penundaan rapat tapi HP-nya tidak bisa dihubungi karena mati. Vina sungguh merasa lega karena dia masih cukup waktu untuk mempersiapkan rapat akibat ditunda.

Vina kembali ke meja kerjanya dan sempat tertegun beberapa saat untuk merenungi kejadian apa yang dia alaminya pagi itu. Kini, Vina yakin dan sadar bahwa kejadian ini bukanlah secara tiba-tiba tapi peran campur tangan dari Tuhan. Inilah faktanya, bila orang telah menyerahkan diri pada Tuhan, maka uluran tangan Tuhan pun akan datang.

Ada beberapa hal pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, bahwa bila kepasrahan itu muncul dan memohon hanya pertolongan dari Tuhan, maka Tuhan pun tidak akan tinggal diam, dalam hal ini tidak ada kata yang tidak mungkin. Syaratnya hanya satu, yaitu yakin akan pertolongan-Nya. Ini berlaku bila orang telah memiliki spritulias tinggi. Hal lain adalah rasa syukur. Orang yang bersyukur selalu melihat apa yang telah dia dapatkan dan kelebihan yang telah dia dimiliki.[aa]

* Ahmad Abusali bekerja di sebuah bank asing. Ia adalah alumnus Sekolah Penulis Pembelajar dan dapat dihubungi pada email: ahmadabusali165@yahoo.co.id.

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman