Selasa, 04 November 2008

Kata-Kata Positif

Oleh: Joshua W. Utomo


Setiap pagi Stasiun Kereta Api Selatan (South Station) di kota Boston itu dipenuhi oleh ribuan manusia yang datang dari pelbagai wilayah di sekitar Metropolitan Boston.

Ribuan manusia dengan ribuan kepala dan ribuan ekspresi diri dan mimik muka tampak mewarnai Stasiun Kereta Api Selatan yang bila malam hari tampak lengang itu, kecuali pada saat badai salju dan hawa dingin menyerbu kota Boston, maka ratusan orang-orang gelandangan pun mencari perlindungan dan kehangatan di sana.

Kamis pagi ini pun tak jauh berbeda dengan pagi-pagi lainnya. Ribuan wajah menampilkan ribuan mimik muka yang menyimpan ribuan cerita dan suka dukanya masing-masing. Bila kita tidak sibuk memikirkan problem yang kita miliki, kita bisa melihat berbagai ekspresi wajah-wajah yang berlalu-lalang atau yang sedang duduk menanti kereta di Stasiun Selatan itu.

Wajah gembira dengan senyum dan tawanya ada di sana. Wajah kusut dalam kelelahan kerja ada di sana. Raut wajah duka dalam beban masalah rumah tangga ada di sana. Wajah putus asa dan tergesa ada di sana. Wajah berekspresi biasa atau bahkan tanpa ekspresi pun ada di sana. Anda pernah ke restoran dengan menu buffet kan? Nah, Stasiun Kereta Api Selatan di Boston ini mungkin tak jauh berbeda, hanya menu buffet-nya dalam skala yang jauh lebih besar--lha pilihannya ribuan, sih! Tahu maksudku, kan?! Sebab kalau sampek salah ngerti, bisa-bisa aku ini dianggap mempromosikan pola perilakunya si Sumanto yang kanibal itu. Kan bisa berabe nih!?

Temperatur Kamis pagi ini kembali jatuh hingga mencapai angka minus dalam derajat Celcius. Membuat sebagian dari ribuan wajah manusia di Stasiun Kereta Api Selatan Boston itu tak bisa kulihat dengan jelas. Karena sebagian besar telah menutup wajah-wajah mereka dengan kain-kain wool atau scarf demi melawan kerasnya angin dingin. Wajahku sendiri pun tampak tak begitu jelas, terkerudungi oleh scarf mbulak yang selalu setia menemaniku di saat hawa dingin datang mendera.

Hawa dingin membuat badanku yang sedikit letih ini semakin terasa lemah-lunglai saja. Kuayunkan langkah kakiku sedikit bergegas mencoba menerobos mencari jalan di antara ribuan manusia lainnya yang juga mulai tak tahan melawan angin dingin pagi ini. Sedikit sekali orang yang teribat dalam percakapan pagi ini. Masing-masing sibuk dengan diri mereka sendiri. Aku pun cukup sibuk dengan perjuangan melawan hawa dingin dan juga keletihan yang menyerang tubuhku pagi ini.

Sekitar sepuluh meter dari gerbong kereta api warna ungu, tiba-tiba aku dan ribuan manusia lainnya dikejutkan oleh suara merdu seorang laki-laki yang amat familiar menyapaku (dan tentu saja semua manusia lainnya pada pagi ini). Suara yang mirip suara penyiar radio terkenal atau pembaca berita di TV itu tidak hanya merdu sehingga enak didengar, tapi lebih daripada itu setiap kata dan ungkapan yang digunakan oleh si pemilik suara itu sangat menyegarkan dan seringkali terdengar kocak sekali. Setiap kali mendengar suara tak berwajah itu, aku hanya bisa tersenyum geli. Bahkan kadang aku tertawa terbahak (nggak keras-keras banget kok, bisa dianggap linglung nanti:) sendiri saat pemilik suara itu melemparkan humor-humor segarnya.

Wajah-wajah membisu dan membeku pun seketika mencair dan mulai menampakkan senyumnya. Suara merdu dan kata-kata penyiar radio lokal di Stasiun Kereta Api Selatan Boston yang positif, ringan dan menggelitik itu mengingatkanku pada betapa ampuhnya kata-kata itu. Kata-kata yang bernada positif mampu menguatkan kita pada saat lemah, dan menyegarkan pikiran kita kala kusut. Seperti yang dilakukan oleh suara penyiar radio lokal di stasiun kereta api selatan itu.

Dalam bukunya yang berjudul "Secrets From the Mountain" Pat Williams menceritakan sebuah percobaan yang dilakukan terhadap sekelompok pelajar. Percobaan itu adalah sebagai berikut:

“sekelompok pelajar itu diberitahu bahwa menurut hasil penelitian para ahli ilmu pengetahuan telah diketemukan bahwa anak-anak yang bermata coklat itu lebih pandai daripada anak-anak yang bermata biru.”

Tak seberapa lama kemudian, prestasi belajar anak-anak bermata coklat pun meningkat dengan drastisnya.

Beberapa Minggu kemudian, dikatakan lagi pada anak-anak pelajar itu bahwa ternyata hasil penelitian para ahli ilmu pengetahuan tersebut salah. Yang benar ternyata adalah bahwa anak-anak yang bermata birulah yang lebih pandai daripada anak-anak yang bermata coklat.

Alhasil, dalam waktu singkat berubah sudah prestasi anak-anak itu. Prestasi anak-anak yang bermata biru pun melesat dengan cepatnya, meninggalkan anak-anak yang bermata coklat.

Dari percobaan tersebut diketemukan bahwa kata-kata itu memang memiliki kekuatan yang mampu mempengaruhi perilaku dan sikap kita--baik ataupun buruk. Kata-kata itu tak hanya bisa mempengaruhi perilaku dan sikap anak-anak tapi juga perilaku dan sikap orang dewasa. Tidak percaya silahkan dicoba!

Nasihat untuk saling meneguhkan yang satu dengan yang lainnya dengan kata-kata jujur yang positif dan menghibur merupakan sebuah nasihat yang tak hanya praktis tapi juga sungguh mulia dan sangat mendalam maknanya dalam hidup kita ini.

Semoga kita dimampukan untuk bisa saling menguatkan dan meneguhkan sesama kita dengan menggunakan kata-kata yang positif (booster words) dan sikap yang tulus agar senyum pun bisa mengembang dimana-mana. Kalaupun ada air mata yang berlinang, semoga itu adalah air mata bahagia (bukan air mata duka apalagi air mata buaya!).

* Joshua W. Utomo, M.Div., D.Hyp., C.Ht., adalah seorang psikoterapis, penyair, corporate trainer/entertainer, motivator/hipnoterapis, dan penulis yang sekarang sedang berkelana di Boston, AS. Dia adalah pendiri Heal & Grow Center™ (www.healandgrowcenter.com) sebuah pusat penyembuhan holistik. Bersama istrinya (Cynthia C. Laksawana) mendirikan Sanggar Kinanthi™(www.sanggar-kinanthi.com) dan JW Utomo Productions™ (http://masterhypnotistusa.tripod.com) sebagai wahana mereka berseni-budaya dan berkiprah bagi kemanusiaan. Dia dapat dihubungi via prof_jw@yahoo.com

MENGEMBALIKAN HAKEKAT BERGURU

Oleh : Roni Djamaloeddin


Secara filosofis, guru berasal dari kata digugu dan ditiru. Refleksi dari ”sosok luhur” yang dapat digugu semua nasehat penjelasan perintah maupun larangannya, serta dapat ditiru semua tingkah laku perbuatannya. Singkatnya, guru adalah seseorang yang dapat dijadikan panutan dan teladan atas segala perkataan dan perbuatannya.

Filosofi yang sangat luhur ini nampaknya jauh beda dengan kenyataan sekarang.”Roh”-nya guru (sebagai panutan dan teladan) banyak yang bergeser dari tempatnya. Tidak sedikit guru yang terbias dari watak guru yang semestinya. Bahkan (mungkin) pangling dengan jati diri (profesi)-nya sendiri.

Sayangnya, UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen tidak membahas filosofi ini. Dijelaskan dalam pasal 1 ayat 1 bahwa “guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”. Jelas sekali bila definisi ini perlu “disempurnakan”.

Perlu upaya reorientasi dan rekonstruksi peran dan fungsi guru secara mendasar dan berkesinambungan. Sebab, disadari atau tidak, adanya kebobrokan moral anak bangsa, baik yang generasi tua (semisal kolusi, korupsi, nepotisme), apalagi generasi mudanya, penyebabnya (salah satunya) adalah faktor guru. Guru yang telah kehilangan ”roh”-nya dalam menjalankan tugas mulianya.

Konsep Dasar
Berguru, dalam konteks “tempo doeloe” populer dengan istilah “meguru”. Yaitu mencari seorang guru untuk ngangsu kawruh (belajar secara khusus) disertai sikap tawadhuk (hormat sepenuhnya). Ilmu yang di-angsu (diserap/dibelajari), biasanya ilmu-ilmu yang sesuai dengan kebutuhan pribadi, sedang ngetren, ataupun karena “warisan wajib” pendahulunya. Ilmu tersebut misalnya ilmu kebatinan, ilmu kesaktian, ilmu tenaga dalam, bela diri, sorogan (ngaji khos), dan lain sebagainya.

Tempat “KBM”-nya disebut “peguron”, “padepokan” (perguruan). Peguron ini umumnya memerintahkan santri/muridnya mondok (mengasrama). Jumlahnya (waktu itu) mencapai ratusan. Di antaranya peguron “tapak waja”, peguron “tapak suci”, peguron “setia hati”, peguron “ngelmu sejati”, peguron “bandung bondowoso”, serta ratusan yang lain.

Seiring perkembangan jaman, peguron-peguron tersebut jumlahnya makin berkurang. Penyebabnya, di samping ilmunya dianggap “kadaluwarsa”, kebergunaannya tidak relevan lagi, juga syarat dan lakon-nya dirasa sangat berat (untuk ukuran generasi belakangan). Peminatnya pun juga berkurang drastis. Oleh karenanya tidak sedikit peguron-peguron yang dulunya sangat terkenal (kondang), sekarang tinggal nama (tinggal cerita).

Era sekarang, istilah berguru sangat jarang dipakai—mungkin malah tak pernah digunakan. Terdiferensiasi oleh istilah lain yang lebih populer; bersekolah, berkursus, berpelatihan, ber-workshop, ber-training, dan lain sebagainya.

Namun sayang, “turunan istilah” ini baik substansi, realisasi, maupun “roh”-nya berbeda jauh dari aslinya. Nampaknya ikut lapuk ditelan jaman. Sehingga tidak senafas lagi dengan konsep dasarnya.

Pergeseran Makna
Sedikitnya ada lima hal yang menjadikan hakekat (makna) berguru ”lengser” dari konsep dasarnya. Pertama, materi yang diajarkan. Dalam berguru, materi yang diajarkan ditentukan oleh sang guru. Tidak ada “sharing” materi dengan institusi lain, apalagi kurikulum “titipan” dari pemerintah. Malah terkadang ada persaingan materi, persaingan pengikut, maupun persaingan ”keunggulan”.

Kedua, kesiapan mental si murid. Dalam berguru, mental si murid benar-benar disiapkan dengan matang. Semangat “tholabul ‘ilmi”-nya benar-benar bulat/utuh. Tidak terkontaminasi oleh isme-isme maupun iming-iming institusi lain. Oleh karenanya, selama pembelajaran berlangsung, apa yang disampaikan guru benar-benar diterima sepenuhnya. Tidak ada yang membantah sedikit pun, apalagi berani mengkritisi.

Ketiga, kepribadian guru. Sosok sang guru benar-benar mencerminkan figur yang dapat digugu dan ditiru. Pribadinya mulia. Seolah tak mengenal pamrih imbalan, sanjungan, penghargaan, dan apalagi tahta/kedudukan. Pas sekali bila kemudian lahir istilah “pahlawan tanpa tanda jasa”.

Kepribadian yang demikian, bila dibandingkan dengan kepribadian guru saat ini berbeda jauh sekali (mungkin mendekati 180 derajat). Ungkapan guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, sudah tidak relevan lagi. Tergusur oleh slogan “tenaga profesional yang butuh jasa”.

Keempat, tingkat kebutuhan. Dalam berguru, yang butuh ilmu (pengetahuan) adalah murid. Muridlah yang butuh guru. Demikian pula tingkat kebisaan/penguasaan materi ajarnya, muridlah yang butuh untuk bisa. Tetapi sekarang nampak tidak lagi demikian. Guru (melalui institusi lembaga) yang butuh murid. Guru pula yang kemudian “membutuhkan” muridnya agar cepat lulus ujian, tanpa mementingkan sejauh mana si murid benar-benar menguasai materi yang telah diajarkan.

Kelima, filosofi berguru. Filosofi ideal dalam berguru adalah bagaikan “timba yang mencari sumur”. Kenyataannya sekarang tidak demikian. Banyak timba yang tidak menyadari kalau posisinya adalah timba—yang seharusnya mencari sumur. Si sumur juga demikian, karena berbagai hal (tuntutan keadaan misalnya) tidak menyadari kalau dirinya adalah sumur yang seyogianya diangsu oleh timba. Karenanya, banyak sumur yang mendatangi timba. Memprivat, memberi bimbingan khusus, menjadi guru “panggilan”, dan sebagainya.

Akibat adanya pergeseran makna berguru ini, pertama, norma-norma luhur/mulia yang ditanamkan nenek moyang dalam bermurid-berguru makin sirna ditelan jaman. Tidak jarang ada murid yang berani melawan gurunya. Mengejeknya, bahkan sampai mengajak berantem dengannya.

Kedua, guru sebagai pendidik mulia berubah menjadi (salah satunya) pengajar. Tugas guru yang berupa mendidik norma-norma, susila, memberi keteladanan maupun menyampaikan ilmu pengetahuan berubah menjadi penyampai materi pelajaran—sebagaimana tertulis dalam buku ajar.

Ketiga, perguruan yang mestinya menjadi “basis intelektual” (pusat keilmuan), bergeser menjadi (di antaranya) “ladang bisnis”. Semua yang berhubungan dengan perguruan dibisniskan. Buku-bukunya (maupun sarana prasana lainnya) dijadikan bisnis. Penerimaan murid, juga dibisniskan. Tenaga pengajarnya sendiri, dijadikan bisnis. Bahkan, nilai/kelulusan pun diperjualbelikan.

Potensi yang Digurukan
Secara garis besar, potensi yang perlu digurukan dapat dipilah menjadi tiga. Pertama, potensi akal-pikiran. Yaitu dengan memberikan padanya ilmu pengetahuan yang sifatnya rasional (dapat ditangkap akal-pikiran). Ilmu ini pada umumnya diajarkan disekolah-sekolah maupun perguruan tinggi. Ia tertulis dalam buku-buku, media cetak dan elektronika, maupun media-media (pembelajaran) lainnya.

Namun demikian, bila potensi akal ini sudah bisa mandiri (sesuai tingkat perkembangan akal-pikiran), maka tanpa harus digurukan pun dimungkinkan dapat dipelajari sendiri. Tetapi bagi yang belum bisa mandiri, maka berguru merupakan pilihan yang terbaik.

Kedua, potensi skill (ketrampilan). Wilayah potensi ini meliputi semua anggota tubuh; tangan, kaki, kekuatan fisik, pita suara (menyanyi), perpaduan kombinasinya, dan lain sebagainya. Bahkan, berpikir pun, menurut Edward de Bono bisa dilatihkan menjadi sebuah ketrampilan (thinking skill).

Potensi skill ini agar dapat berkembang dengan baik, seyogianya memang digurukan. Seandainya tidak digurukan, dipelajari sendiri dari berbagai sumber misalnya, ataupun belajar otodidak, kemungkinan memang bisa. Tetapi hasilnya sangat minim, tidak bisa mencapai maksimal sebagaimana bila digurukan.

Misalnya ketrampilan menerbangkan F-16, bagi yang akal dan skill-nya sudah bisa mandiri, tanpa harus berguru pun dimungkinkan bisa. Tetapi bagi yang belum mampu mandiri, maka berguru adalah sebuah pilihan yang tidak bisa dihindari.

Ketiga, potensi hati nurani. Potensi ini agar dapat berkembang dengan baik, apalagi dapat “pandai dan cerdas”, wajib (harus) digurukan. Kepadanya harus diberi ilmu pengetahuan yang sesuai dengan fungsi dan tugas utamanya: mendzikiri, mengingat-ingat, menghayati dan merasa-rasakan Wujud Tuhan.

Ilmunya disebut Ilmu Dzikir. Yaitu ilmu tentang bagaimana agar hati dapat mendzikiri-Nya. Ilmu ini digenggam sendiri oleh Tuhan dan diturunkan secara langsung melalui rasul/utusan-Nya. Oleh karenanya, ia tidak ada di dalam buku maupun tulisan. Dalam Al Quran sendiri juga tidak ada. Karenanya diperintahkan "bertanyalah kepada ahli zikir bila kamu tidak mengetahui (bagaimana caranya berzikir)" (QS. 21:7).

Sedangkan bentuk/realisasi dari hati nurani yang pandai dan cerdas adalah hati yang selalu ajeg dalam mendzikiri-Nya, seiring dengan masuk dan keluarnya nafas; kapan saja, dimana saja, dan dalam keadaan yang bagaimanapun juga. Tidak kenal lagi dengan istilah pegel jibeg susah bungah kecewa bahagia, walaupun penderitaan yang dihadapi luar biasa beratnya.

Seperti yang dicontohkan Nabi SAW, beliau tidak kawatir was-was apalagi gundah gulana ketika sebilah pedang menempel di leher. Hati nurani beliau—saking pandai dan cerdasnya—kelet (mapan, terpatri) pada dzikir. Bahkan tidur pun tidak lepas dari dzikirnya. (Oleh karenanya beliau disebut pula “ahli dzikir”)

Ketiga potensi tersebut sangat perlu diberdayakan secara maksimal. Ia merupakan ciri utama yang membedakan beradabnya seseorang—bisa jadi suatu komunitas, atau bahkan sebuah kaum/negara—di hadapan sesamanya. Ia pula yang menjadi syarat untuk diangkat beberapa derajad disisi-Nya.

Adapun langkah memberdayakannya, bagaimanapun caranya tak jadi masalah. Bersekolah, berguru, ber-chating,, ber-netter, berjamaah tabligh, bertarekat, atau apapun nama istilahnya. Asalkan norma-norma bermurid-berguru tetap dijaga pada tempatnya.

* Roni Djamaloeddin adalah Dosen STT POMOSDA. Guru SMA POMOSDA bidang studi Matematika dan Ilmu Kependidikan. Alamat, Jln. Wakhid Hasyim 312 Tanjunganom Nganjuk. Hp 08123419879. Email: rjamal@plasa.com, ronijamal@yahoo.com.

POSITIF + NEGATIF = OBYEKTIF?

Oleh Eni Kusuma W


Saya menyadari arti kompetisi sejak SD. Saya selalu berusaha untuk menjadi yang terdepan. Atau paling tidak di posisi ke dua atau ketiga di kelas. Saya terus belajar dan berusaha sampai saya SMU. Namun setelah lulus SMU jangankan lolos PMDK, UMPTN saja tak tembus. Saya hanya mendapat tawaran tanpa tes untuk universitas-universitas swasta. Ini diluar target dan perkiraan saya semula. Yang berharap lolos universitas negeri, yang tentunya akan mudah memperoleh berbagai fasilitas termasuk keringanan biaya. Mengingat saya berasal dari keluarga yang tak mampu.

Tentu saja saya sedih. Apalagi dalam mencari pekerjaan saya selalu gagal. Meski sempat bekerja menjadi tenaga pembukuan selama satu setengah tahun di sebuah usaha dagang yang kemudian bangkrut. Sampai suatu saat saya mengalami titik jenuh dalam berpikir positif yang akrab dengan saya selama ini. Saya berkata, "Sudahlah, cukup sampai di sini, saya akan berhenti dengan segala harapan pencapaian target saya." Saya harus melihat kenyataan yang ada. Saya miskin dan tak cukup pintar. Dan inilah saya yang terjadi pada diri saya sekarang. Meski saya berusaha menekankan pada diri, saya bukan orang gagal tetapi masih harus banyak belajar. Namun jujur, perasaan itu selalu muncul.

Ternyata apa yang terjadi pada saya selanjutnya? Saya merasa tak terbebani sehingga memandang hidup ini terasa ringan dan mudah. Saya merasa lega bisa jujur kepada diri sendiri, siapa saya saat ini. Saya kira saya lebih obyektif dalam memandang diri saya sekarang. Tidak tenggelam dengan sesuatu yang tak mungkin bisa saya capai meski hati terus berkata,"Saya bisa". Namun kenyataannya saya belum bisa. Akhirnya saya putuskan untuk memulai dengan apa yang sekarang saya bisa lakukan dan berhenti berpikir positif. Sebagai gantinya saya justru berpikir negatif, yaitu selalu membayangkan kemungkinan terpahit. Mungkin hal ini lebih mengena untuk kasus seperti yang saya alami.

Kemudian saya katakan pada diri: “Ok, saya akan melamar pekerjaan sebagai pembantu.” Dan saya pikir saya pantas untuk menjadi pembantu di luar negeri. Meskipun saya tahu bahwa semua orang bisa lakukan pekerjaan ini bahkan di luar negeri sekalipun. Namun saya tetap berpikir kemungkinan saya tidak diterima. Apalagi mengingat tubuh saya yang kecil mungil. Jika ini terjadi pada diri saya, apa boleh buat, terpaksa di negeri sendiri. Dan memulai segalanya dari awal.

Ternyata saya diterima di negara tujuan saya, Hongkong. Dan mulailah saya bekerja. Dalam bekerja pun saya selalu membayangkan kemungkinan terpahit. Dimaki, diomeli atau dipecat. Ternyata benar, saya mengalami itu semua. Bahkan saya hampir dipecat. Saya bisa menerima dan berlapang dada, karena saya telah siap dengan perkiraan saya semula. Meskipun yang saya kerjakan benar, namun tetap salah dan tidak berkenan di hati majikan. Apa boleh buat, mau tidak mau, suka atau tidak suka saya harus menelan pil pahit ini dan terus bekerja sebaik-baiknya. Saya menganggap hal ini sebagai penggemblengan mental dan pembentukan karakter, meskipun caranya agak keras, hehehe. Sesuatu yang tidak saya dapatkan di sekolah mau pun di rumah. Apalagi saya anak paling bungsu.

Sekian lama saya tenggelam dengan pekerjaan saya. Saya hanya bekerja dan bekerja. Work-work-work and nothing. Saya hanya mendaki dan terus mendaki pada tangga profesi ini. Saya tidak menemukan sesuatu yang saya cari selama ini di sini. Yaitu kepuasan batin. Pada tahap ini saya kembali mengalami titik jenuh. Saya merindukan positive thinking yang dulu saya rasakan. Ada semangat, harapan dan cita-cita. Sampai akhirnya saya mulai untuk menulis. Dunia yang sebenarnya akrab dengan saya semenjak SMU. Pertama, saya menulis cerita yang akhirnya menjadi sebuah naskah novel. Saya terus belajar dengan membeli buku-buku motivasi. Hal yang tidak bisa saya lakukan ketika dulu. Karena saya tak memiliki uang untuk membeli buku-buku. Saya mencoba masuk ke berbagai peluang untuk mengarahkan cita-cita saya yang ingin menjadi penulis. Salah satu dari sekian banyaknya cita-cita saya sebenarnya...hehehe.

Saat ini saya memang sedang mendaki di tangga profesi penulis. Saya masih baru memulai tangga paling bawah. Namun saya rasa saya telah berada di jalur yang menguntungkan. Mungkin inilah jalur A nya.... hehehe(bersama penulis-penulis best seller). Dan mau tidak mau saya akan terus belajar meningkatkan kemampuan diri. Syukur-syukur bisa mendaki ke anak tangga berikutnya.

Ketika saya mengalami titik jenuh dengan berpikir positif yang tak mencapai target-target yang saya inginkan , saya justru berpikir kebalikannya. Negative thinking. Berpikir negatif tak selamanya buruk. Dengan menyelamatkan apa yang ada dan membayangkan kemungkinan terpahit akan membawa kedamaian dalam hati. Namun juga tidak boleh larut terlalu lama. Karena bagaimanapun sukses bisa dicapai dengan ber-positive thinking. Negative thinking hanyalah penyeimbang saja.

Kenapa? Jika kita hanya berpikir positif dengan membayangkan target-target yang akan kita capai. Namun pada kenyataannya terjadi sesuatu di luar perkiraan kita, kita akan kecewa dan larut didalamnya. Tetapi jika hal ini dibarengi oleh berpikir negatif juga, membayangkan hal terburuk. Kita bisa menerima. Perasaan antisipatif seperti ini akan membuat segalanya terasa mudah dan ringan.

Menurut saya, Positive Thinking Plus Negative Thinking is Equivalen Objective Thingking. Alias bisa mengantisipasi keadaan sekaligus perasaan. Inilah yang disebut Keseimbangan.[]

* Eni Kusuma W adalah seorang TKI di Hongkong. Ia menyebut dirinya bukan pakar, melainkan salah seorang yang melaksanakan program pembelajaran dari Pembelajar.com, yaitu "rajin belajar". Ia suka menulis cerpen dan sedang merampungkan novel keduanya. Eni dapat dihubungi di: eni_kusumaw@yahoo.com.

Challenge Yourself

Oleh: Ignatius Muk Kuang


Kejadian 1
Seorang salesperson di awal bulan diberi target untuk menjual 10 unit produk oleh atasannya, tapi salesperson tersebut merasa agak sulit menerimanya karena memang kondisi ekonomi yang ada sedang agak tidak stabil. Lalu si salespersonberkata, "Waduh Pak, jualan lagi susah, targetnya jangan besar-besar ya. Lima unit aja deh, Pak. Itu aja syukur sekali bisa terjual 5. Ok, Pak?”

Kejadian 2
Salespersondi awal bulan yang sama diberi target untuk menjual 10 unit oleh atasannya, dan salespersontersebut langsung menerimanya (senang ataupun tidak senang dengan target yang diberikan salespersontetap mengambilnya karena menganggap sebagai bentuk tanggung jawab).

Kejadian 3
Masih di awal bulan yang sama, salespersonyang lain juga diberi target yang sama yaitu menjual sebanyak 10 unit, dan mengambil tanggung jawab yang diberikan oleh atasannya. Tetapi dalam benak salespersonberkata, "Saya seharusnya bisa jual lebih dari 10 unit, target personal saya 12 unit, karena saya optimis bisa menjual lebih banyak."

Ketiga salespersontersebut diberikan sebuah tantangan yang sama, hanya respon yang diberikan berbeda. Ada 3 tipe manusia dalam merespon sebuah tantangan, yaitu:

1. Fear (Takut)
2. Face (Hadapi)
3. Create (Ciptakan)

Banyak orang ketika tantangan diberikan merasa tidak mampu dan akhirnya menurunkan standard yang diberikan. Takut bahwa tantangan tersebut tidak tercapai. Meskipun sudah ada orang yang mempercayai bahwa dia mampu, tapi kepercayaan dirinya belum muncul sehingga lebih memilih untuk tidak mengambil tantangannya. Inilah yang terjadi pada cerita pertama di mana salespersontersebut menawar target yang diberikan agar menjadi lebih kecil.

Tipe manusia yang kedua lebih baik dari yang pertama, karena dia mengambil tantangan yang diberikan, meskipun secara personal tidak terlalu senang tapi tetap akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi targetnya.

Tipe ketiga adalah yang cukup langka dan jauh lebih baik dari semuanya yaitu mereka yang mau menciptakan tantangan dalam hidupnya. Umumnya mereka merasa bisa lebih dari apa yang diberikan. Apakah ini sebuah sikap arogan? Tergantung bagaimana cara pandang orang. Mari lihat dari sisi yang positif. Salesperson pada cerita ketiga tetap menerima target yang diberikan perusahaan, tapi secara pribadi dia juga berhak punya targetnya sendiri, dan luar biasanya dia optimis mampu menjual lebih banyak. Dia merasa dengan menciptakan tantangan dalam diri akan lebih merasa termotivasi dan semakin antusias untuk mengejar target.

Anda termasuk golongan yang mana?

Salam Sukses!

* Ignatius Muk Kuang: Trainer, Speaker (Motivation, Self-Development, Salesmanship, Presentation, Public Speaking) Actively write some articles related to People Development. Email : mukkuang@gmail.com

PENGUSAHA BERANI BERINOVASI

Oleh: Efvy Zamidra Zam


Kunci sukses seorang pengusaha di dalam memenangkan pasar adalah kekuatan peranan dalam berinovasi dan menciptakan ide-ide brilian dalam menembus market share.

Pentingnya inovasi ini telah mengubah banyak segi kehidupan manusia saat ini. Coba Anda bayangkan apalah arti tanaman tanpa inovasi semuanya hanyalah alang-alang. Apalah arti semua mineral tambang tanpa inovasi, semuanya tak lebih hanyalah batu-batuan. Tanpa inovasi Anda tidak akan pernah belajar, pohon tidak akan pernah menjadi lembaran kertas.

Dari sekian banyak syarat pengusaha, inovasi adalah salah satu syarat mutlak dan akan menjadi penunjang keberhasilan seorang entrepreneur atau pengusaha. Seorang pengusaha menjadi sukses karena mampu menciptakan ide atau gagasan baru yang cemerlang. Misalnya, menciptakan gagasan baru dalam pengembangan produk atau terciptanya ide bagi peluang usaha baru yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain. Untuk mendukung kesuksesan dalam menciptakan ide ini, buatlah ide atau gagasan yang unik atau berbeda dari yang telah ada di pasaran.

Untuk memulai sebuah usaha, Anda jangan takut membuka sebuah usaha di tempat yang telah banyak pemainnya. Dengan banyak pemain pada sebuah lokasi, hal ini memiliki keuntungan yaitu diciptakan sebuah komunitas dan citra. Misalnya, untuk membeli handphone di Jakarta, seseorang akan selalu teringat dengan Roxy, untuk mencari buku di Jakarta Anda tinggal datang ke Kwitang–Senen, orang Yogyakarta akan menuju kawasan Shopping Center, untuk mencari jajanan khas Semarang orang akan terpikir untuk mencarinya di kawasan Jalan Pandanaran yang khusus menjaja makanan khas Semarang.

Lalu bagaimana mensiasati persaingan dengan banyaknya pemain lain di dalamnya. Yang diperlukan adalah sebuah inovasi dari pengusaha itu sendiri. Yang perlu diciptakan adalah bagaimana Anda membuat sebuah diferensiasi (perbedaan) atau keunikan usaha Anda. Sehingga Anda memiliki sebuah usaha yang berbeda dan akan dilirik oleh orang lain.

Untuk menjadi pengusaha sukses dan tangguh melalui inovasi, Anda harus menerapkan beberapa hal berikut:

1. Seorang pengusaha harus mampu beripikir secara kreatif, yaitu dengan berani keluar dari kerangka bisnis yang sudah ada. Untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

2. Seorang pengusaha juga harus bisa membaca arah perkembangan dunia usaha. Misalnya, saat ini sedang maraknya penggunaan Teknologi Informasi dalam dunia bisnis.

3. Seorang pengusaha harus dapat menunjukkan nilai lebih dari produk yang dimilikinya, agar konsumen tidak merasa produk yang ditawarkan terlalu mahal.

4. Seorang pengusaha perlu menumbuhkan sebuah kerjasama tim, sikap leadership, kebersamaan dan membangun hubungan yang baik dengan karyawannya.

5. Seorang pengusaha harus mampu membangun personal approach yang baik dengan lingkungan sekitarnya dan tidak cepat berpuas diri dengan apa yang telah diraihnya.

6. Seorang pengusaha harus selalu meng-upgrade ilmu yang dimilikinya untuk meningkatkan hasil usaha yang dijalankannya. Hal ini dapat ditempuhnya dengan cara membaca buku-buku, artikel, internet, ataupun bertanya pada ahlinya.

7. Terakhir dan yang terpenting, seorang pengusaha harus bisa menjawab tantangan masa depan dan mampu menjalankan konsep manajemen dan teknologi informasi. Hal ini bertujuan untuk mempelajari segala situasi bisnis atau usaha yang cepat berkembang dan berubah sangat cepat. Untuk itu perlunya daya kreativitas yang tinggi, analisis yang baik, intuisi yang tajam, kemampuan networking yang mendukung, serta strategi jitu dalam memasarkan produk atau jasa yang dimilikinya.

Inovasi bukanlah berarti menciptakan sebuah produk baru. Inovasi dapat berwujud apa saja, mulai dari, baik dalam bentuk jasa maupaun produk. Inovasi juga bisa dilakukan dengan mengamati produk atau jasa yang sudah ada, kemudian melakukan modifikasi untuk membuat hasil yang lebih baik. Atau dari modifikasi tersebut akan melahirkan sebuah produk baru lagi.

Cara berinovasi ala Jepang adalah dengan prinsip ATM; Amati, Tiru, Modifikasi. Itulah salah satu metode yang dapat dilakukan. Misalnya, dalam dunia otomotif, Jepang bukanlah negara yang menciptakan mobil, melainkan hanya dengan meniru bangsa lain yang menciptanya kemudian mereka membuat sendiri mobil hanya dengan sedikit modifikasi dan kreativitas, jadilah Jepang sebagai salah satu negara produsen mobil terbesar di dunia.

Kemampuan seorang entrepreneur dalam berinovasi sangat menentukan keberhasilan bisnis di masa depan. Karena mereka mampu menyikapi perubahan pelanggan, dan para pesaingnya dalam dunia bisnis. Oleh karena itu, jika Anda ingin sukses membangun usaha, jadilah individu atau pengusaha yang aktif dan kreatif sehingga dapat menyalurkan ide secepat mungkin sebelum didahului oleh orang lain.[]

* Efvy Zamidra Zam tinggal di Semarang. Direktur Pemasaran Penerbit Neomedia Press (Group) dan Editor Penerbit Vyctoria Group. Penulis sudah menulis 30 lebih judul buku tentang komputer dan IT. Ia dapat dihubungi di: efvy2k@yahoo.com

Meluruskan Sikap Wirausaha

Oleh: Riyanto Suwito


Artikel yang saya tulis ini lagi-lagi diilhami oleh pengalaman pribadi saat berinteraksi dengan berbagai macam orang. Salah satunya adalah karyawan yang lebih spesifik lagi karyawan yang nyambi (punya usaha sampingan). Dari proses interaksi dan pengamatan inilah dan dengan ditambah informasi dari orang lain, karyawan murni (tidak nyambi) serta pihak-pihak lain yang terkait, saya mencoba menuliskan gagasan saya dalam artikel singkat ini.

Dewasa ini bukan rahasia lagi jika banyak karyawan atau pegawai perusahaan yang keranjingan dengan tren baru yang bernama kewirausahaan atau entrepreneurship. Sebuah tren yang tentu saja tidak bisa lepas dari peranan para penulis, motivator, pembicara publik dan bahkan pemerintah maupun dunia pendidikan. Dari merekalah virus kewirausahaan tumbuh dan berkembang bak jamur di musim penghujan.

Dan yang tidak boleh dilupakan tentu saja adalah peranan para wirausahawan terdahulu yang menjadi model sekaligus mentor bagi perkembangannya hingga saat ini. Sebut saja untuk di Yogjakarta ada nama Purdi Chandra – pemilik Primagama Group dan bermacam usaha lainnya yang semuanya di mulai dari nol. Walaupun ada banyak faktor lain yang tidak kalah peranannya dalam membangkitkan semangat wirausaha ( entrepreneur) di negara kita ini. Bahkan krisis ekonomi dan moneter yang teradi sejak akhir 1997 turut andil besar dalam membangkitkan semangat kewirausahaan. Diakui atau tidak ini adalah tonggak dimulainya era kewirausahaan di negara ini.

Sebagai rujukan saya coba mengutip pendapat dari pakar manajemen bisnis, Dr. Rhenald Kasali yang mendefinisikan entrepreneur sebagai seseorang yang menyukai perubahan, melakukan temuan-temuan yang membedakan dirinya dengan orang lain, menciptakan nilai tambah, memberikan manfaat bagi dirinya dan orang lain, karyanya dibangun berkelanjutan (bukan ledakan sesaat), dan dilembagakan agar kelak dapat bekerja efektif di tangan orang lain. Dari definisi di atas saya melihat ada penyimpangan dalam sikap berwirausaha atau mungkin justru sebuah varian tersendiri dari konsep berwirausaha. Akan tetapi, itu tidak kita rujuk karena merupakan minoritas dan kalau kita nilai dengan perasaan dan hati kita yang paling dalam terasa ada yang menyimpang. Saya tetap terbuka kalau ada yang berpendapat lain.

Ini adalah sebuah kisah nyata dari seorang kawan yang kebetulan berstatus sebagai karyawan pada sebuah institusi. Sebut saja Pak X, adalah karyawan yang mempunyai usaha sampingan di rumahnya. Usahanya sudah berjalan cuku lama, dan dia tetap melakoni perannya sebagai seorang karyawan. Sepintas tampaknya sangat hebat, kalau merujuk kepada pendapat perencana keuangan ternama, Safir Senduk orang ini sudah menerapkan salah satu prinsip untuk mendapat penghasilan tambahan. Dia mendapat gaji sebagai karyawan di tempatnya bekerja, dan mendapat penghasilan tambahan dari hasil usaha sampingan di rumahnya, yang bisa jadi lebih besar dari gajinya sebagai karyawan.

Lantas pertanyaannya adalah, apa yang salah dengan orang ini? Sampai di sini tidak ada kesalahan yang dilakukannya. Tetapi coba kita lihat lebih jauh sepak terjangnya selama ini. Pak X ini menurut pengaduan dari rekan-rekan sekantornya, sering sekali meninggalkan tempat tanpa izin, terlebih bila tidak ada pengawasan dan tugas dari atasan. Memang setiap hari kerja dia hampir selalu datang ke kantor (jarang absen) bahkan seringkali lebih awal dari rekannya yang lain. Tetapi pada jam-jam tertentu menjelang siang sampai sore dia menghilang entah ke mana. Tahu-tahu dia kembali menjelang jam pulang kantor. Tapi tidak jarang juga dia tidak kelihatan sampai rekan-rekan yang lain pulang kantor. Mudah sekali menebak alasan perginya orang ini. Buat apalagi kalau bukan mengurusi bisnis pribadinya karena dia memang tidak mempekerjakan siapa pun untuk membantu usaha sampingannya tersebut.

Inilah yang saya sebut sebagai penyimpangan dari prinsip wirausaha yang seharusnya “memberikan nilai tambah bagi dirinya dan orang lain” serta pelembagaan bisnis agar dapat berjalan ditangan orang lain. Mungkin dia mampu memberi nilai tambah pada produknya tetapi dia membuat nilai minus di kantornya.

Selanjutnya ketika dia terus menjadi single fighter dalam bisnis sampingannya tersebut, saya berkeyakinan kalau binisnya hanya akan jalan di tempat kalau tidak sampai bangkrut. Secara keseluruhan nilai pribadi Pak X ini sebenarnya tidak akan meningkat, baik secara finansial maupun moral kecuali sedikit dalam jangka pendek. Dan dalam jangka panjang dapat diramalkan akan runtuhlah semuanya, integritas pribadi dan juga finansialnya.

Setidaknya ada dua implikasi yang akan dialami teman kita tadi tapi juga berimbas kepada lingkup yang lebih luas. Pertama dalam kehidupun karirnya (di kantor) dia akan mendapatkan nilai negativf dan tentu saja ini adalah hamabatan besar untuk karirnya. Banyak pihak yang merasa tidak suka dengan kehadirannya di kantor. Celakanya lagi, kalau kemudian banyak rekan karyawan dan mungkin atasan yang menjadi semakin anti dengan bisnis sampingan yang di asosiasikan dengan kewirausahaan. Pandangan miring akan tertuju kepada karyawan yang berniat menjalankan usaha sampingan sebagai batu loncatan menjadi wirausahawan pada saatnya nanti. Dan pada gilirannya kewirausahaan akan mendapat stempel buruk khususnya di kalangan karyawan. Tentu ini akan sangat kontra produktif dengan tujuan pengembangan kewirausahaan.

Implikasi kedua yaitu tidak tercapainya misi kewirausahaan yang secara umum bertujuan mencetak sebanyak mungkin wirausahawan baru, menggeliatkan sektor ekonomi riil yang diharapkan akan meningkatkan perekonomian bangsa secara keseluruhan. Hal ini terjadi karena proses duplikasi tidak berjalan sempurna. Kawan kita yang menjadi contoh di atas ternyata tidak menunjukkan kesuksesan seperti yang seharusnya karena ketidakmampuannya untuk melembagakan bisnis. Dengan alasan kondisi finansial yang belum mencukupi untuk membayar orang lain, atau ketakutan akan berkurangnya laba usaha untuk membayar pegawai atau partner, dia tetap berjalan sendiri dengan terseok-seok bahkan mendapat cibiran dari rekannya.

Tentu saja hal ini tidak menarik teman yang lain untuk mengikuti jejaknya, bahkan akan semakin mengentalkan sikap hidup sebagai karyawan yang nyaman dengan pendapatan pasti setiap akhir bulannya. Cerita seperti ini tidak hanya satu atau dua di lingkungan kita. Akan tetapi hampir sebagian besar karyawan yang mempunyai usaha sampingan mengalami kejadian yang hampir mirip.

Cerita akan menjadi berbeda jika teman kita itu mengambil sikap berani menempuh risiko sebagai salah satu sifat khusus seorang wirausaha, yaitu dengan keluar dari pekerjaannya dan menekuni atau konsentrasi pada usahanya sendiri. Atau mengambil jalan yang kedua yaitu dengan memanfaatkan tenaga orang lain, kalau meminjam istilahnya Pak Purdi yaitu BOTOL (Berani, Optimis, pakai Tenaga Orang lain). Artinya kawan kita tadi tidak harus keluar dari pekerjaannya tetapi dia bisa menjalankan usaha dengan menggunakan tenaga orang lain atau ahlinya yang tentu saja hasilnya akan lebih optimal. Sedangkan dia tetap dapat bekerja dan berprestasi dengan baik di kantornya dan mampu menjaga reputasi sebagai salah satu syarat wirausaha. Tentu saja dengan konsekuensi mengeluarkan biaya operasional yang lebih besar dan mampu membuat sistem pengawasan yang baik terhadap usahnya sendiri.

Kita seharusnya punya keyakinan diri positif bahwa kalau kita menjadi karyawan yang baik, suatu saat menjadi seorang wirausahawan dengan mempekerjakan orang lain juga bisa menjadi bos yang baik. Dan hasil yang akan kita panen adalah tergantung dari bibit yang kita tanam. Walaupun, kita juga harus menyiangi (memotong) rumput dan gulma yang mengganggu tetapi hasil yang kita peroleh menjadi lebih baik. Akhirnya saya ucapkan selamat berwirausaha dengan semangat, niat dan sikap yang lurus. Semoga bisa memberi manfaat pada diri sendiri dan orang lain.[]

* Riyanto Suwito adalah seorang praktisi akuntansi, konsultan independen, dan aktivis di PKPEK-Yogyakarta

MENTALITAS

Oleh: Ardian Syam


Lingkungan bisnis saat ini dipercaya sebagai sebuah lingkungan yang sangat keras. Ada begitu banyak penduduk di seluruh dunia, berarti ada begitu banyak calon konsumen atau pelanggan. Karena hal tersebut maka ada begitu banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Bila perusahaan Anda adalah perusahaan yang hanya melayani wilayah Indonesia saja maka berarti ada sekitar 250 juta calon konsumen atau calon pelanggan Anda, berarti ada sekitar 250 juta keinginan, kebutuhan yang perlu Anda penuhi. Bila setiap orang memiliki keinginan, kebutuhan yang unik, maka ada 250 juta jenis permintaan yang perlu Anda sediakan. Terbayangkah bagi Anda betapa sulit memenuhi permintaan dengan jenis yang begitu banyak?

Belum lagi strategi bisnis yang tidak bisa selalu sama dari tahun ke tahun. Strategi yang berhasil dijalankan lima tahun lalu tidak lagi berhasil bila dijalankan hari ini. Banyak yang bertambah, ada beberapa yang hilang dan berarti ada sedemikian banyak perubahan.

Belum lagi bila Anda pernah membaca Convergence Marketing karya Yoris (Jerry) Wind dan kawan-kawan. Masa kini sudah banyak informasi bahkan transaksi yang bisa diakses online. Tetapi di samping hal tersebut konsumen juga masih memanfaatkan informasi atau melakukan transaksi yang konvensional. Buku tersebut menyebutkan konsumen saat ini sebagai centaur. Sebagai manusia, konsumen masih menikmati cara-cara yang konvensional, tetapi teknologi masa kini telah membuat mereka mampu berlari secepat kuda.

Sehingga sangat mudah bagi para konsumen untuk memilih kualitas dan harga produk atau jasa yang mereka butuhkan. Bukan hanya hal tersebut, konsumen juga sekarang mampu merumuskan dengan baik apa yang benar-benar mereka butuhkan. Ada beberapa situs yang bahkan memberikan kemampuan bagi konsumen meramu sendiri produk yang akan diberi sesuai spesifikasi kebutuhan mereka. Misal, rambut manusia memang bisa dikategorikan dalam tiga kelompok besar; berminyak, kering dan normal tetapi tetap saja ada kondisi spesifik bagi rambut beberapa orang. Belum lagi aroma yang diinginkan. Sehingga sebuah produk shampo yang akan dibeli diatur sendiri oleh konsumen sesuai rambut mereka yang spesifik termasuk aroma yang diinginkan.

Dengan kebebasan memilih produk atau jasa sesuai dengan hal yang benar-benar mereka butuhkan, maka produsen yang sangat ingin memberikan sesuai kebutuhan konsumen juga perlu mewaspadai hal tersebut. Memang banyak sekali spesifikasi produk yang akan dihasilkan, jauh lebih banyak dari spesifikasi yang telah diproduksi saat ini. Semakin banyak spesifikasi yang diproduksi menyebabkan jumlah per jenis juga menjadi semakin kecil, hal ini dapat menyebabkan biaya per produk bisa menjadi semakin tinggi.

Memang bila perusahaan Anda memiliki sistem data yang cukup bagus sehingga catatan jumlah jenis produk, jumlah per jenis produk dan frekuensi permintaan per jenis produk tersimpan dengan sangat baik dapat membantu Anda memproduksi secara massal dan dapat melakukan penekanan biaya produksi. Tetapi apapun rencana Anda tetap saja dipahami bahwa akan ada perubahan kondisi dalam perencanaan produksi di perusahaan Anda.

Sebuah pelaksanaan produksi tetap berdampak atau mendapat dampak dari mentalitas personil yang berkaitan dengan pelaksanaan tersebut. Karena bila selama ini personil pelaksanaan produksi bekerja dalam tujuan untuk memproduksi secara massal sesuai rencana yang telah dibuat dengan spesifikasi produk yang telah dibuatkan oleh bagian riset dan pengembangan, maka sekarang mentalitas tersebut perlu diubah.

Sekarang pelaksana produksi mendapatkan dua masukan; pertama dari bagian riset dan pengembangan, kedua dari data konsumen. Setiap permintaan konsumen akan segera mengubah ( update) data kebutuhan konsumen.

Tetapi bila Anda menetapkan bahwa bila terjadi banyak keaneka ragaman spesifikasi produk menyebabkan peningkatan biaya produksi yang cukup tinggi, maka bisa saja Anda memutuskan untuk hanya memilih beberapa spesifikasi saja yang benar-benar dapat diproduksi secara massal dan tetap dapat menghemat biaya produksi. Karena hal ini, Anda perlu mewaspadai bahwa kebutuhan konsumen akan spesifikasi tertentu akan dipenuhi oleh perusahaan lain.

Mungkin terjadi beberapa konsumen meminta kebutuhan yang sama persis, tetapi ada kemungkinan pula terjadi permintaan kebutuhan yang sangat beragam. Pilihan yang dapat dilakukan oleh perusahaan Anda adalah bersiap untuk menyediakan semua keragaman produk yang dibutuhkan pelanggan, atau membiarkan perusahaan lain mengisi beberapa kebutuhan tertentu. Dalam hal ini Anda perlu mempersiapkan mentalitas pegawai di perusahaan Anda.

Bahwa akan terjadi perubahan dalam jenis produk yang diproduksi dan perubahan bisa terjadi dalam waktu yang sangat pendek dan disebabkan oleh data yang diterima dari kebutuhan konsumen. Mari kita berandai-andai bahwa ada sebuah sistem informasi berbasis data dan merupakan decision support system di perusahaan Anda. DSS Anda tadi diciptakan untuk langsung menghitung berapa kebutuhan untuk setiap spesifikasi yang diminta oleh konsumen dan bila telah mencapai jumlah permintaan tertentu bagi setiap spesifikasi akan langsung diberitahukan ke bagian produksi untuk langsung membuatkan produk dengan spesifikasi tersebut secara massal. Tentu saja jumlah yang akan diperhitungkan oleh DSS adalah jumlah yang dianggap bisa diproduksi secara massal dan tetap mempertahankan cost effectiveness. Sementara permintaan yang masih belum masuk jumlah tersebut akan diteruskan langsung ke bagian pengembangan sehingga bisa dipertimbangkan apakah dapat diproduksi sambil tetap mempertahankan cost effectiveness.

Ada dua mentalitas yang sangat perlu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. Dulu bagian riset dan pengembangan benar-benar berinovasi dalam menciptakan produk yang akan diproduksi secara massal dan menjadi tanggung jawab bagian pemasaran untuk mensosialisasikan kepada calon konsumen. Sekarang bagian riset dan produksi perlu juga untuk menerima informasi permintaan kebutuhan sesuai spesifikasi yang diinginkan konsumen. Berdasarkan spesifikasi yang diminta konsumen, bagian pengembangan memperhitungkan apakah produk tersebut dapat dibuat mengingat dampak dari percampuran beberapa sub spesifikasi produk, bahan baku yang digunakan, hingga ke cost effectiveness produksi. Bahkan andai spesifikasi yang diminta konsumen bertentangan dengan produk yang sedang dikembangkan.

Hal tersebut menjadi perubahan yang cukup besar bagi mentalitas bagian riset dan pengembangan. Sebuah perubahan yang tidak mudah, karena personil bagian riset dan pengembangan yang selama ini menjadi anak emas yang melakukan pekerjaan bukan berdasarkan pesanan pihak lain, tetapi bekerja sesuai ide yang muncul, sekarang perlu mempertimbangkan pesanan yang masuk dari konsumen.

Hal kedua terjadi pada personil di bagian produksi. Selama ini personil tersebut bekerja secara terpola dan perubahan hanya terjadi akibat pengembangan produk baru hasil dari proses riset di bagian riset dan pengembangan. Sekarang dapat terjadi perubahan spesifikasi produk karena permintaan yang datang dari konsumen. Karena informasi tentang spesifikasi tersebut disediakan langsung oleh DSS, maka mungkin terjadi spesifikasi yang muncul di masa produksi terdahulu bisa hilang dalam masa produksi saat ini.

Sehingga sangat perlu dipersiapkan para personil produksi untuk menghadapi pola produksi yang cepat berubah. Sesuatu yang tidak mudah juga karena para personil telah terbiasa bekerja seperti robot dan tidak siap untuk menerima spesifikasi yang bisa timbul-hilang-timbul. Selama ini spesifikasi produk selalu muncul dan kemudian hilang dan diganti dengan spesifikasi yang lain.

Hanya saja perubahan spesifikasi yang bisa timbul-hilang-timbul justru membuat para personil bekerja tidak seperti robot. Sehingga pola spesifikasi produk yang mengikuti permintaan konsumen telah memanusiakan manusia, dalam istilah Jawa ngewongke wong. Jadi tidak terlalu sulit untuk memahamkan bahwa perubahan pola produksi justru membuat para personil produksi lebih dianggap sebagai manusia.

Anda sebagai pemimpin perusahaan perlu menyadari bahwa perkembangan teknologi mengubah cara konsumen mendapatkan informasi tentang jenis, kualitas, spesifikasi dan harga produk atau jasa. Informasi tersebut mengubah cara konsumen memilih produk atau jasa yang dibutuhkan, termasuk cara konsumen memilih perusahaan yang menyediakan produk atau jasa. Cara konsumen memilih produk atau jasa atau perusahaan yang menyediakan hal tersebut kemudian mengubah cara perusahaan melakukan proses produksi. Itu bila perusahaan Anda tidak ingin kehilangan jumlah konsumen dan nilai pendapatan Anda.

* Ardian Syam adalah seorang akademisi, praktisi menajemen, dan penulis buku bisnis “Kacamata Kuda”. Ia dapat dihubungi diL ardian.syam@gmail.com

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman