Selasa, 21 Oktober 2008

HIDUP ADALAH DJOEANG



Oleh: Leonarda Katarina Erika Untung

Baru-baru ini saya kehilangan seseorang yang pernah menjadi rekan saya dalam beberapa tim. Sungguh sebuah keberuntungan bagi saya karena pernah bekerjasama dengannya. Panggilannya adalah Imo.

Satu hal yang sangat terkenang bagi saya ketika saya tergabung dalam sebuah kepanitiaan event yang memegang tiga bidang (publikasi, dokumentasi, dan dekorasi) sekaligus dan berkesempatan ber-partnerdengan Imo. Ketika itu saya sedang berada dalam kondisi sangat lelah sekali karena tanpa sadar saya telah overload dalam mengikuti berbagai kegiatan.

Pada waktu itu saya ingin menyerah dan berhenti, saat itu juga, karena beban emosi yang berusaha saya anggap angin lalu, serta keterbatasan sumber daya manusia pada event tersebut. Saya telah pasrah, terserah mungkin orang akan menilai saya tidak bertanggungjawab. Saat itu, perasaan serta semangat saya sudah campur aduk, down sekali.

Setelah saya dapat menenangkan diri, saya tetap datang ke sekretariat. Dan, Imo telah berada di sana. Saya masuk dan dalam beberapa menit hanya terdiam melihat seonggok karton, kertas, botol air mineral, dll, yang bertebaran di lantai. Pada waktu itu, benar-benar tidak terlintas di benak saya bahwa seharusnya saya bertindak sebagai seorang pemimpin yang mendorong semangat partner saya.

“Erika, kemarin Imo ke sini... Tapi Erika nggak ada. Mau diapain lagi, nih?” tanya Imo. Dan, dia dengan sigapnya mencari gunting. “Mo… kamu capek nggak, sih? Kita sejauh ini cuman berdua. Yang lain tiba-tiba banyak yang menghilang dan liburan. Kita juga nyerah aja yuk…? Ngapain capek-capek?” timpal saya. Karena, toh kalau pekerjaan dikerjakan dengan beban dan kekurangan orang juga tidak akan maksimal hasilnya. Di satu sisi, saya sangat perfeksionis dan ingin yang terbaik. Ini juga karena rasa cinta saya pada organisasi tersebut. Namun di sisi lain, saya tidak dapat mengingkari bahwa saya lelah, terutama secara mental.

“Eh, nggak boleh gitu... Udah biarin aja yang lain... Gimana pun kita tetap berjuang melakukan yang terbaik donk… Nggak usa dipikirin yang negatif. Hidup adalah djoeang... ,“ kata Imo sambil tersenyum. Dan, ucapan dia itu membuat saya tertawa sekaligus mengembalikan semangat saya. Kenapa? Karena ‘Djoeang’ adalah bagian dari nama lengkap si Imo. Dan, jayusan itu (anggapan saya pada waktu itu) telah berulangkali dia lontarkan selama saya berkesempatan satu tim dengan dia. Saya cukup heran karena bagaimana mungkin si Imo ini tetap bersemangat di kala deadline bertumpuk? Padahal, kondisinya cukup melelahkan karena pekerjaan tiga bidang sebagian besar dilakukan oleh Imo dan saya saja.

Dan, saat itulah saya belajar dari seorang Imo. Bahwa, apa pun yang terjadi, the show must go on. Dan benar, bahwa hidup ini memang perjuangan. Ketika kita memilih mengawali perjuangan tersebut, maka kita pun harus berjuang untuk mengakhirinya dan melawan rintangan yang ada. Ketika rasa down, malas, dll merintangi kita, sebenarnya pada saat itu kita mempunyai dua pilihan. Pilihan untuk tetap maju dan mencapai garis akhir, atau menyerah di tengah jalan. Ketika kita menyerah di tengah jalan, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Yang ada hanyalah sebuah kegagalan, dan bukan hal mustahil apabila kita tetap terjebak ke dalam emosi negatif. Atau, kita dapat memilih mencari dan fokus pada hal positif, sekecil apa pun itu, dan memandang ke depan (bukan menoleh ke belakang). Kemudian, kita dapat berhasil mencapai target utama walaupun mungkin tidak sesempurna impian kita.

Selain itu , selelah apa pun Imo, dia memilih tersenyum, bukan mengeluh. Dan, senyum itu dapat mengandung berbagai macam makna bagi orang yang melihatnya. Semangat hidupnya menjadi sebuah pembelajaran yang berarti.

Hingga akhir hidupnya pun, Imo telah membuktikan bahwa hidup ini memang perjuangan. Dia memilih berjuang sendiri melawan penyakitnya dan tidak mengeluh. Ketika terakhir kali saya bertegur sapa dengan wajahnya yang cukup pucat, dia tetap tersenyum. Sungguh saya tidak mengira bahwa itulah senyuman terakhir yang dapat saya lihat darinya. “Hidup adalah Djoeang….”[lkeu]

~ Terinspirasi dari pengalaman pribadi. Djohanes Greimon Djoeang, terimakasih karena saya dapat mengenal dan belajar banyak selama hidupmu.

* Leonarda Katarina Erika Untung lahir di Jakarta, 24 Maret 1987 dan saat ini berstatus sebagai mahasiswa Universitas Bina Nusantara Jurusan Teknik Informatika. Tahun 2005-awal 2007 ia pernah aktif dan berprestasi sebagai story teller, scrabble player, dan tutor di Bina Nusantara English Club. Selain kuliah, ia adalah pengajar lepas komputer, desain, web freelancer, dan moderator di Jawaban.Com. Erika dapat dihubungi di: E-mail: erikauntung@yahoo.com atau blog: http://leoerk.multiply.com/

1 komentar:

  1. Kpd Yth. "The Owner of This Blog",

    Mas/Mbak.. Terimakasih karena Anda tertarik dengan artikel saya. Tapi sangat saya sayangkan bahwa Anda tidak mengkontak saya terlebih dahulu sebelum meng-copy paste artikel ini. Mudah-mudahan Anda dapat lebih menghargai buah pikiran orang lain untuk di kemudian hari.

    Regards,
    Erika
    www.otofriends.com | Indonesian Social Networking

    BalasHapus

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman