Selasa, 21 Oktober 2008

ONE EMPLOYEE ONE BLOG: LOOK AT THE BRIGHT SIDE OF BLOGGING AT WORK

Oleh: Adjie

Ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya, yang mengungkap serba sedikit tentang aktivitas blogging, khususnya oleh pekerja. Tulisan berikut coba menggali lebih dalam peluang apa saja yang bisa dimanfaatkan dari aktivitas blogging. Dan sebagaimana tulisan sebelumnya, saya menyamakan pengertian blogging dengan journal writing atau journaling. Sebagai acuan dasar, saya kutip pendapat D. Cleement sebagai berikut:

“Writing about whatever is important to you right then and there is journaling. Tracking what you have planted in your garden is journaling. Writing about the family holidays together, or coffee with a friend is journaling.”

Secara sederhana journaling berarti menuliskan apa saja yang Anda anggap penting. Begitu juga dengan blogging—yang adalah versi elektronik dari journaling–sebenarnya adalah kegiatan menuliskan apa saja yang menurut Anda menarik atau penting. Memang ada pendapat lain yang menegaskan perbedaan mendasar antara aktivitas journaling dengan kegiatan menulis biasa. Namun, saya tak hendak membahasnya pada kesempatan sekarang. Untuk kepentingan praktis, maka kerangka dasar di atas saya pikir sudah cukup sebagai panduan.

Sebelum lebih jauh bicara gambaran umum pemanfaatan blogging/journaling dalam dunia kerja, saya teringat kembali pada pengalaman pribadi sejauh ini. Sebagai pekerja, beberapa tahun terakhir saya memang mengambil manfaat dari aktivitas blogging/journaling ini. Ruting mencatat sejumlah kejadian yang menarik buat saya, membuat saya lebih terbuka pada banyak sudut pandang. Pemahaman saya terhadap kompleksitas persoalan dalam dunia kerja perlahan bertumbuh. Empati saya terhadap perbedaan sudut pandang dan kepentingan antarpekerja, atau antara pekerja dengan pengusaha juga membaik. Ini jelas memudahkan interaksi yang saya bangun. Pola ungkap saya semakin diwarnai pertimbangan dari banyak sudut pandang. Pendek kata, selain menjadi penyaluran untuk melepas ketegangan yang ada, journaling/blogging juga membantu saya untuk jadi lebih open mind.

Beranjak dari pengalaman pribadi itulah, saya meyakini ada banyak manfaat lain yang bisa diambil dari aktivitas blogging. Dan penelusuran saya pada sejumlah sumber sungguh membuat saya tercengang. Banyak ahli, praktisi, maupun konsultan yang ternyata sudah melakukan kajian lebih jauh dan lebih mendalam. Sejalan dengan itu, saya melihat gagasan mereka layak saya ungkap di sini. Pertama agar menguatkan keyakinan para blogger untuk lebih seksama memanfaatkan aktivitas blogging. Kedua, agar para pengusaha juga lebih terbuka terhadap peluang yang ada. Blogging tidak selalu jadi aktivitas yang menyita waktu dan fasilitas kantor. Ada sejumlah manfaat yang bisa diambil, dan itu baik untuk kinerja perusahaan secara umum.

Praktik Blogging/Journaling dalam Dunia Kerja
Sejauh yang saya rasakan, journaling memang membantu saya untuk melepas ketegangan. Dan, selaras dengan pengalaman itu, ada pandangan menarik berikut (yang maaf saya lupa sumbernya), yang menyebut bahwa:

“When people clear the mental clutter, they are freer to focus on the tasks at hand and devote themselves more fully to projects. The skills people learn in a journaling program are easily transferable to the workplace and can help morale and relationships on the job.”

Jika karyawan bisa melepaskan ketegangan, maka mereka bisa lebih fokus pada tugas yang ada. Mereka bisa lebih komit pada tugas yang ada. Dalam jangka panjang, journaling ini bisa meningkatkan moral/semangat pekerja dan hubungannya dengan kolega. Sungguh menarik.

James Pennebaker, seorang psychologist dan penulis pernah melakukan kajian yang membuktikan adanya hubungan antara pemanfaatan directed journal writing dengan penyembuhan trauma. Kajiannya menegaskan adanya peningkatan yang bermakna termasuk berkurangnya kecemasan (anxiety) dan juga penyakit fisik pada individu yang memanfaatkan journaling sebagai alat katarsis dan pengembangan diri. Terkait dengan aktivitas pembelajaran, saya pribadi melihat bahwa journaling adalah salah satu alat yang ampuh untuk mengakselerasi proses belajar kita. Tak berhenti pada aspek kognitif, journaling bahkan mampu mengantar individu untuk sampai pada penghayatan (aspek afektif). Ini yang kemudian meyakinkan saya untuk mengumandangkan tesis tentang manfaat journaling dalam pembelajaran pribadi para pekerja.

Saya beruntung, ketika kemudian saya menemukan pandangan yang menguatkan pengalaman saya di atas.

Vincent L. Cyboran, EdD pernah berujar sebagai berikut : ”Active reflection by employees, especially as practiced through journaling, has been shown to have a variety of positive outcomes, including improvements in learning, job performance, empowerment, and skill transfer from formal training sessions.”

Jelas dan tegas bahwa journaling (juga blogging dalam hal ini) bisa menjadi alat yang meningkatkan pembelajaran seseorang. Ia juga punya dampak positif terhadap kinerja, pemberdayaan, dan alih keahlian selepas dari ruang-ruang pelatihan (pengalaman sejenis inilah yang belakangan membuat saya lebih selektif ikut program pelatihan). Tentang ini, pada tulisan mendatang saya akan mengaitkan journaling dengan self directed learning.

Masih berhubungan dengan aktivitas pembelajaran, bertahun lalu saya pernah mempromosikan model coaching yang memanfaatkan blogging/journaling sebagai salah satu medianya (dan tampaknya masih butuh waktu menyadarkan banyak pihak untuk tak sekadar puas dengan kegiatan pembelajaran yang selama ini mereka tahu). Tentang journal coaching ini, saya sepakat dengan pendapat yang menyebut journal coaching sebagai metode yang memanfaatkan daya ubah kegiatan menulis (transformative power of writing) untuk membantu individu tak saja berhenti di tataran ide. Coaching memang membantu orang untuk bergerak dari ide ke tindakan.

Selain pemanfaatan journaling untuk pembelajaran dalam dunia kerja, maka perlu kita ingat pula bahwa salah satu hal yang penting dalam dunia kerja adalah cerita seputar karier. Dan, journaling/blogging bisa juga dirancang untuk tema ini. Maka muncullah Career Journal atau career blog.

Sama seperti saat saya me-review banyak target dan prioritas yang ada, maka dalam jurnal atau blog kita bisa amat leluasa memikirkan banyak hal seputar masa depan karier kita. Dalam tulisannya, Randall S. Hansen, Ph.D beruja bahwa memanfaatkan career journal memungkinkan Anda untuk memikirkan dengan seksama situasi karier Anda, termasuk di dalamnya Anda juga bisa melakukan brainstorming untuk menggali ide seputar karier. Saat menghadapi interview pekerjaan, ada baiknya Anda memanfaatkan career journal untuk menggali pendekatan yang lebih tepat. Anda juga bisa belajar dari pengalaman sebelumnya, lalu mencari solusi terbaik untuk melakukan perbaikan pada kesempatan yang kini di depan mata. Sekali lagi, journaling dan tentu juga blogging bisa menjadi alat untuk mengekspresikan emosi seputar masalah karier Anda.

Masih menurut Randall S. Hansen, career journal adalah alat yang bisa kita gunakan untuk mengelola karier kita. Ada banyak yang bisa dilakukan dalam career journal. Berikut adalah sebagian di antaranya:

Career journal menjadi alat untuk melakukan analisis terhadap situasi yang ada.
Career journal jadi alat saat melakukan brainstorming seputar masa depan karier.
Career journal menjadi tempat untuk menetapkan target atau aktivitas seputar karier.
Developing action plans to achieve your objectives and tasks.
Career journal sebagai alat untuk melakukan monitoring/tracking terhadap soal seputar karier.
Career journal juga bisa jadi alat untuk berlatih melakukan interview pekerjaan.
Career journal bisa menjadi tempat untuk catatan seputar data salary survey dan sejenisnya.

Saya sendiri pernah membahas mendalam bagaimana respon saya saat diwawancara. Saya belajar memetakan kekurangan yang ada. Dalam tulisan saya seputar karier saya juga jadi semakin sadar akan prioritas dan target karier saya. Saya lebih paham bagaimana membangun keseimbangan dalam banyak aspek kehidupan saya, dan tak semata menempatkan karier sebagai prioritas paling atas. Sungguh, saya juga merasakan manfaat saat membahas soal karier dalam jurnal pribadi saya.

Lepas dari pengalaman pribadi di atas , saya juga sepakat bahwa uraian di atas masih sangat ringkas dan belum mendalam. Saya yakin masih ada banyak ruang untuk pemanfaatan yang lainnya, yang sebagaimana jenis journal lainnya belum saya ungkap dengan gamblang pada tulisan ini. Sebagaimana saya sampaikan di muka tulisan ini memang masih sebuah pengantar umum tentang pemanfaatan blogging/journaling dalam dunia kerja.

Pada tulisan-tulisan akan datang, saya akan coba dalami tiap segi dari uraian umum tulisan ini. Jadi sambil menunggu tulisan mendatang, ayo mulai tulisi blog dan jurnal Anda sekarang. Dan sambil membayangkan Anda yang mulai asyik menulis, saya pun akan terus mengkampanyekan slogan: One Employee One Blog![adjie]

* Adjie adalah praktisi pengembangan SDM. Pernah bekerja di perusahaan tambang emas raksasa berpusat di USA. Sekarang bekerja di perusahaan bahan kimia yang berpusat di Jerman. Lebih dari 10 tahun memfasilitasi beberapa program pelatihan. Coretannya yang lain bisa dilihat di www.resilientindonesia.com ; ia juga bisa dihubungi di adjie@resilientindonesia.com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman