Senin, 20 Oktober 2008

PIKIRANMU ADALAH DUKUNMU



Oleh Ade Asep Syarifuddin

TEMAN saya seorang ahli hypnotherapy. Tapi dia tetap berpenampilan alakadarnya, baik pakaian, rumah dan apapun yang dia kenakan. Tidak berpakaian ala dukun dengan wewangian yang menyengat Tapi orang-orang sekitar menyebut dia seorang dukun. Mengapa, karena orang-orang yang datang kepada dia, beberapa bulan kemudian hidupnya mengalami kemajuan. Apakah dagangnya semakin laris, karirnya semakin maju atau bahkan rumahnya semakin bagus.

Kabar tersebut sampai juga kepada seseorang yang cukup jauh. Karena Word of Mouth (WOM) orang tersebut sangat menyakini kesaktian teman saya tadi. Sampailah pada suatu hari ia datang ke teman saya. Sesampainya di dalam ruang tamu yang cukup terbuka, teman saya mulai membuka pembicaraan. "Apa yang bisa saya bantu Pak?" "Begini pak, saya sudah mengenal banyak tentang Bapak dari orang-orang yang saya kenal. Katanya bapak orang yang cukup pinter. Saya ingin dagangan saya laris karena selama ini terlalu banyak saingan. Intinya saya minta jimat," tutur tamu tadi tanpa ragu-ragu mengutarakan maksudnya.

Teman saya termenung sejenak. Entah siapa yang menyebarkan gosip tersebut. Sampai-sampai dirinya seakan-akan diberi gelar dukun di luar sana. "Tapi saya bukan dukun pak. Saya tidak bisa apa-apa. Saya memang banyak membantu orang, tapi tidak dengan cara demikian." Teman saya berkelit dan tidak mau untuk melakukan praktek perdukunan tadi. Tapi si tamu tadi tetap mendesak tidak mau menyerah dengan keyakinannya.

Dengan niat tidak mau mengecewakan tamunya, teman saya pergi ke belakang. Dia mencari kertas dan pulpen. Kertas tadi dipotong dua sebesar dua kali kartu nama. Kedua kertas tadi ditulis sebuah rumus relativitas Einstain E= mc2. Kemudian kertas tadi dibungkus kain putih dan dijahit. Sebelum diserahkan ditaburi minyak misik Arab. "Ini saya kasih rajah, yang satu ditaruh di dompet dan yang satunya dikubur di depan rumah. Insya Allah segala keinginan bisa tercapai. Demikian, dengan harapan tamuanya cepat pergi.

Ketika sampai di rumahnya, orang tadi membayangkan terus menerus segala keinginannya. Dia membayangkan banyak orang yang datang ke tokonya memborong semua barang yang ada. Dia juga membayangkan jumlah tabungannya terus menerus bertambah, dia membayangkan rumahnya menjadi baru dan sangat bagus, dia membayangkan kendaraannya ganti baru. Semua keinginannya dia bayangkan hampir setiap saat tanpa henti dengan gairah yang dalam dan keyakinan yang tinggi.

Tiba-tiba keajaiban terjadi. Dari bulan ke bulan omzet bisnisnya penjualannya terus menerus naik. Ada saja jalannya. Ada yang memesan barang dalam jumlah banyak, ada sekolah yang pesan buku, ada juga tetangga yang hajatan. Hampir setiap orang datang melakukan transaksi jual beli. Sampai-sampai tetangganya pada ngiri. "Wuih dukunnya dari mana ya. Mantap juga."

***

APA sesungguhnya yang terjadi dengan pedagang tadi? Apakah karena dia diberi jimat sehingga dagangannya laris? Atau ada faktor lain yang membuat hidupnya jauh lebih beruntung ketimbang waktu-waktu sebelumnya. Setelah diteliti, orang tersebut dulu pernah memiliki usaha yang besar juga. Tapi karena satu dan lain hal usahanya bangkrut. Satu hal yang hilang dalam dirinya, dia tidak mempunyai keyakinan yang kuat untuk membangunkan dirinya sendiri. Sampai suatu ketika ia meminta jimat dari teman saya tadi.

Apakah ada kaitannya antara jimat dengan keberuntungan? Inilah yang perlu dikupas oleh kita semua supaya kita memahami cara kerja pikiran. Sebelum datang ke teman saya pedagang tadi tidak memiliki keyakinan kuat untuk sukses karena trauma kebangkrutan. Setelah memperoleh jimat dengan serta merta dalam pikirannya muncul keyakinan kuat untuk sukses, citra dirinya menjadi positif, percaya dirinya tinggi, komunikasinya lancar dan visualisasinya positif juga. Jadi dalam hal ini "jimat" adalah pemicu untuk membuka keyakinan.

Artinya apa? Artinya, sesungguhnya yang membuat orang tersebut sukses bukan jimatnya, tapi keyakinannya. Memang jalannya diberi jimat, tapi bukan jimat itu sendiri yang menjadikannya sukses. Kalau demikian, kita bisa sukses tanpa jimat? Betul sekali. Saya punya cerita lain dari seorang Kiyai. Dia Kiyai yang cukup rasional. Tapi yang namanya orang awam, tetap saja meminta petunjuk-petunjuk praktis untuk mencapai keinginan-keinginannya.Suatu hari ada tamu yang datang kepada Kiyai tadi. Tamu tadi mau ziarah ke makam Wali Songo. Dia membeberkan segala keinginannya. Kemudian dia bertanya, "Pak Kiyai, bacaan apa yang bisa mengabulkan segala keinginan saya?" Kiyai tadi dengan enteng menjawab dalam bahasa Jawa, "Baca 'Sebisa bae' (sebisanya saja) pak.

Setelah itu tamu tadi datang ke makam Sunan Gunung Djati di Cirebon. Selama ziarah dia hanya mengcapkan kata-kata "Sebisae bae, sebisae bae, sebisae bae." Entah berapa ribu dia ungkapkan kata-kata 'Sebisae bae' selama ziarah dengan suatu keyakinan yang tinggi. Tiga bulan kemudian terjadi perubahan dalam hidupnya, lebih mujur, lebih makmur dan lebih baik dari sebelumnya. Sebagai ucapan terimakasih, dia datang ke Kiyai tadi. Kiyai tadi bertanya, "Wah hebat ya usahanya maju. Apa wiridannya?" Dengan polos pedagang tadi menjawab, " Saya wiridan 'Sebisae bae" Pak Kiyai. Alhamdulillah mujarab. Saya baca tidak kurang dari 1000 kali sehari setelah pulang ziarah," katanya.

Mendengar ucapan itu Kiyai tadi cukup kaget. Maksud dia bukan kata 'Sebisae bae' yang dijadikan wiridan, tapi bisanya apa. Mau Al Fatihah, Al Ikhlas, Ayat Kursi, tasbih dll. Tanpa mengurangi rasa hormat, Kiyai tadi menambahkan. Kalau mau lebih mantap dan maju usahanya wiridnya harus diganti. "Wirid apa Pak Kiyai, saya akan menjalankan segala perintah," katanya dengan antusias. "Yang dulu tinggalkan, ganti wiridnya dengan Subhanallah, Alhamdulillah, Laailahaillallah, Allahuakbar. Pasti akan lebih afdol.

***

Dua kejadian di atas benar-benar terjadi yang pernah saya dengar. Saya mencoba untuk merenungkan lebih dalam lagi yang intinya, segala keinginan manusia bisa tercapai asalkan kita mempunyai keyakinan. Persoalannya, keyakinan manusia tidak bisa datang dengan sendirinya, harus dipicu oleh sesuatu. Orang awam mungkin dengan jimat, orang beragama mungkin dengan wiridan, shalat sunnah dll. Pertanyaannya, orang yang sukses itu kan bukan hanya orang yang beragama. Orang yang tidak beragama pun bisa sukses juga, walaupun ukuran suksesnya jelas berbeda. Ini artinya, setiap orang sebenarnya memiliki potensi sukses yang luar biasa besar, tergantung bagaimana cara memanfaatkan pikirannya.

Bagi kelompok orang-orang rasional dan taat beragama bisa saja jimat-jimat pemicu keyakinan tadi diganti dengan beberapa ujud lain. Misalnya saja, yang menjalankan puasa sunah Senin-Kamis maka usahanya akan lancar, yang shalatnya khusuk maka akan dimudahkan dalam hidup, yang rajin shalat tahajud maka tidak ada yang bisa menghalangi keinginannya dll.

Tapi intinya harus ada pemicu pikiran di mana kita yakin akan mendapatkan sukses kalau menjalani sesuatu. Di sini dalam pikiran kita muncul hukum sebab akibat. Kalau menjalankan ini maka akan sukses. Keyakinan yang dimunculkan dalam bentuk kalimat, "Kalau menjalankan ini atau mempunyai ini maka akan sukses" itulah sejatinya yang menjadikan seseorang benar-benar sukses. Inilah yang dinamakan --dalam bahasa saya-- Jimat afirmasi, Jimat kata-kata. Setiap orang bisa membuat sesuai dengan tingkat keyakinannya.

Sebenarnya ini termasuk hukum universal, hukum pikiran yang berlaku bagi siapa saja. Siapa yang membayangkan dan menginginkan sesuatu secara sungguh-sungguh, maka yang dibayangkan tadi bisa terwujud. Belakangan populer dengan Hukum Tarik Menarik atau Law of Attraction (LoA). Hukum ini benar-benar menjadi inspirasi bagi semua orang bahwa segala yang terpikir di dalam pikiran kita, apakah sadar atau tidak kita memikirkan hal tersebut, maka yang kita pikirkan tadi bakal terwujud. Menarik bukan?

Walaupun hukum-hukum tersebut yang mempopulerkan adalah orang-orang yang datang dari Barat, pemikir sekuler, sebenarnya di Indonesia pun sudah ada sejak lama. Hanya kemasannya yang agak berbau mistik dan irasional. Padahal kalau kita kejar lebih jauh lagi, maka secara prinsip cara kerjanya tetap sama. Alhasil, dukun kita adalah pikiran dan hati kita sendiri.

Tidak usah jauh-jauh mencari dukun yang sakti. Apapun yang kita inginkan dapat tercapai. Ini berlaku untuk meningkatkan omzet perusahaan, modal bagi para pelaku marketing dalam menjalankan usahanya. Jadi sebelum bertemu orang, milikilah keyakinan akan berhasil dengan cara membayangkan terjadi deal-deal bisnis dengan orang yang kita tuju. Terimakasih. (*)

*) Penulis adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan. Bisa dihubungi di asepradar@gmail.com atau di http://hidupbermakna.wordpress.com.

IF YOU WANT TO BE RICH, DON’T GO TO SCHOOL???



Oleh: Fani Kartikasari

“If you want to be rich, don’t go to school!”
“Buat apa sekolah tinggi-tinggi? Yang penting bisa cari duit!”
”Tidak perlu kuliah...duitnya buat bisnis saja!”

Dalam proses penulisan buku pertama saya ”Ingin Cumlaude Harus Smart”, kalimat-kalimat di atas sering ’menyerang’ saya dari berbagai arah. Hampir semua orang saat ini cenderung lebih menyukai topik membangun bisnis secara instan, kiat menjadi kaya dengan mudah, hingga cara memiliki kebebasan finansial. Jadi, apa pentingnya buku ini ditulis? Mengapa orang perlu membaca buku saya? Memangnya apa gunanya kuliah? Apa manfaatnya lulus dengan gelar cumlaude?

Jujur, saya sangat terinspirasi oleh kisah sukses fantastis orang-orang kaya dan terkenal yang memulai usaha dari nol, bahkan tanpa mengenyam pendidikan. Semangat hidup mereka menular kepada jutaan orang, termasuk saya. Teladan hidup mereka menjadi bukti bahwa orang bisa menjadi kaya dan berhasil tanpa harus melalui bangku sekolah. Saya sungguh salut dengan keberhasilan yang mereka capai. Two thumbs up!

Sayangnya, mahasiswa yang malas belajar bisa menginterpretasikan kalimat-kalimat di awal artikel ini secara salah. Karena tidak mau capek-capek belajar dan ogah repot dengan tugas-tugas kuliahnya, mereka menjadikan kalimat-kalimat tersebut sebagai alasan untuk drop out dari sekolah. Mereka mengambil kesimpulan bahwa kuliah hanya akan menghancurkan masa depannya. Sekolah hanya akan membuat orang menjadi miskin. Semua anggapan itu bisa menjadi ’mental block’ yang menghalangi mereka untuk meraih manfaat besar lewat pendidikan di bangku kuliah. Padahal, tidak semua orang bisa mendapat kesempatan untuk menikmati pendidikan tinggi tersebut.

Memang benar, sekolah tinggi tidak bisa menjamin orang menjadi kaya dan sukses. Tapi tanpa sekolah pun tidak bisa menjamin orang pasti kaya dan sukses. Keberhasilan seseorang dalam hidupnya lebih ditentukan oleh ’mindset’ yang dimilikinya.

Nah, mindset seperti apa yang dimaksud?

Pertama-tama, BERSYUKUR. Kita harus bisa mensyukuri apapun kondisi kita saat ini. Bersyukurlah bila kita memperoleh kesempatan melanjutkan sekolah. Bersyukurlah bila kita tidak memperoleh kesempatan itu.

Berikutnya, MANFAATKAN. Kita harus pintar-pintar memanfaatkan kondisi kita saat ini. Artinya, kalau kita belum mendapat kesempatan kuliah, lakukanlah apa yang bisa dilakukan sebaik-baiknya! Kesuksesan memang tidak tergantung pada bangku sekolah.

Sebaliknya, kalau saat ini kesempatan kuliah ada di tangan kita, pergunakan juga sebaik-baiknya! Investasikan waktu untuk membekali diri dengan ilmu dan belajar sebanyak mungkin. Kerjakan dengan sungguh-sungguh, jangan setengah-setengah! Jadilah yang terbaik! Jadilah ”mahasiswa plus”, yang tidak hanya pintar secara teori tapi selangkah lebih maju: belajar cari duit, belajar mengelola finansial, belajar bersosialisasi, dst.

Sama seperti bentuk investasi lain, mungkin waktu yang diinvestasikan untuk ilmu tidak secepat kilat langsung terasa manfaatnya. Waktu pulalah yang akan berbicara mengenai pentingnya ilmu bagi masing-masing individu. Ilmu memang tidak hanya didapat lewat bangku sekolah. Proses belajar berlangsung setiap hari, di mana saja, seumur hidup kita. Dan pembelajaran formal adalah suatu kesempatan yang sayang untuk disia-siakan![fk]

* Fani Kartikasari adalah penulis buku ”Ingin Cumlaude Harus Smart”. Ia dapat dihubungi melalui website: www.FaniKartikasari.com.

AYAT-AYAT SEMUT (5 PELAJARAN BERMAKNA DARI SEMUT)

-
Oleh: Ahmad Arwani R

Tahukah anda, siapa makhluk tuhan yang paling perkasa di dunia ini? Yang kuat mengangkat beban 10 kali lipat dibanding berat tubuhnya sendiri?

Terpikirkah oleh kita semua, siapakah makhluk di dunia ini yang paling sosial, solider, kompak dan rela mengorbankan nyawanya untuk kehidupan kaumnya?

Jawabannya hanya satu dialah semut. Mungkin sebagian dari kita terperangah karena tidak menyadarinya. Size doesn’t matter, demikian orang bule berbicara.

Mungkin sebelum ini jika kita membicarakan semut mungkin saja kita hanya teringat nyanyian anak-anak masa lalu “semut-semut kecil” yang sempat melegenda, atau mungkin saja kita tiba-tiba teringat di rumah yang banyak direpotkan oleh si kecil ini. Nah, sebenarnya semut memiliki hal-hal yang luar biasa untuk kita ambil hikmahnya.

Sebagai makhluk tuhan yang paling padat populasinya, dimana setiap 700 juta semut muncul didunia ini hanya terdapat 40 kelahiran manusia, dan dengan ukurannya yang sangat kecil ternyata merupakan makhluk yang luar biasa, sehingga diabadikan sebagai salah satu surat dalam Al-Qur’an. Tepatnya sebagai surat ke 27 disebut surat An-Naml.

Saking mulianya makhluk ini, pernah suatu waktu Raja Daud berpesan kepada puteranya,” Anakku jika engkau nanti menjadi seorang raja yang akan memimpin bangsamu, ajaklah rakyatmu belajar dari para semut." Bahkan Muhammad SAW tokoh terbesar dalam sejarah peradaban manusia mengapresiasikan kekagumannya dalam sabdanya : “Belajarlah dari semut, kesabaran, pengorbanan dan fidaa’.”

Ternyata dalam tubuhnya yang sangat kecil banyak hal yang bisa kita pelajari. Marilah kita belajar dari kearifan dan kegeniusan semut.

- Tekad Pantang Menyerah

Lihatlah gerak-gerik semut dalam kesehariannya. Cobalah halangi laju jalannya dengan batu misalnya. Akankah dia berhenti dan pulang begitu saja? Tentu tidak, dia akan tetap berusaha mungkin mendaki batu tersebut atau berputar mencari jalan sendiri.

Konsep “winner never quit and quitter never win” benar-benar diterapkan. Tidak pernah kita melihat putus asa saat kita halang-halangi jalannya. Bahkan dia siap bertempur hingga tetes darah penghabisan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Semut adalah tipe pekerja, yang tiada kenal lelah bekerja mengumpulkan makanan sebagai bekal pada musim dingin. Tidak pernah sekalipun dia mangkir dari pekerjaan walaupun tidak ada satu semut yang mensupervisinya. Semua sadar, bahwa mereka harus bekerja dengan keras untuk kepentingan bersama.

- Loyalitas dan Pengorbanan

Semut adalah makhluk yang sangat solider, setia kawan dan bersedia berkorban untuk kaumnya. Mari kita tengok jika suatu saat dalam perjalanan mereka pada saat mengumpulkan makan terhalang oleh air. Dan sudah tidak ada jalan alternatif lain guna mencapai titik tujuan, maka dengan serta merta sebagian dari mereka langsung tanpa dikomandoi membuat barisan jembatan hingga teman-temannya bisa menyeberang melewati tubuh mereka walaupun dengan resiko kehilangan nyawanya sendiri dan tenggelam. Mereka dengan sadar dan penuh keikhlasan mengorbankan diri mereka untuk kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan umatnya.

Bahkan dilain hal, Semut-semut juga saling melindungi satu sama lain. tidak ingin makhluk lain di luar memasuki sarang mereka, karena ia akan mengancam keselamatan mereka semua. Mereka tidak akan ragu-ragu untuk mebuat kegaduhan dan bersiap berperanguntuk melindungi sarang dan sahabat-sahabat mereka

- Organisasi yang solid

Semut memiliki sistem organisasi yang bagus dan tangguh. Organisasinya lengkap, ada pimpinan, prajurit, pekerja. Setiap semut mempunyai tugas masing-masing yang harus dilaksanakan dengan baik dan dengan penuh tanggung jawab. Ratu mempunyai peran menetaskan telur dan pembantunya memperhatikan setelah rumahnya dan membawa pesannya untuk mengistirahatkan tentaranya. Semut penjaga bertugas untuk melindungi sarang dari musuh dan mencari sarang yang baru. Sedangkan Semut pekerja adalah semut yang mandul yang bertugas membersihkan sarang, melayani ratu dan mencari makanan. Semua sudah ada tugas masing-masing, dan tidak pernah ada saling sikut dan menjatuhkan satu sama lain hanya untuk mendapat pujian dari sang ratu. Semua berjalan sesuai tugas dan jobdesknya.

- Perencanaan yang baik

Semut adalah binatang yang sangat bijaksana dan mampu mengendalikan diri. Mereka menyadari bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya. Mereka menyadari ada kalanya harus bekerja keras untuk mengumpulkan makanan dan ada waktunya untuk beristirahat. Ketika masa untuk bekerja datang, mereka akan menggunakannya untuk mengumpulkan bekal makanan. Karena mereka sadar ketika musim dingin tiba, mereka akan dapat beristirahat di dalam sarangnya yang hangat, dan penuh berkecukupan makanan.

Semut sangat jeli mengatur kepentingan dan kebutuhan mereka sendiri. Pernah sebagai utusan Tuhan, Sulaiman yang diberi kelebihan untuk berkomunikasi dengan semut melakukan “eksperimen” dengan meletakkan seekor semut dalam sebuah botol dan memintanya berapa banyak makanan yang dibutuhkan untuk bertahan. Si semut menjawab dua butir, maka dia memberikan dua butir, setelah satu tahun semut hanya memakan satu butir.

Sulaiman bertanya kepadanya mengapa tidak menghabiskan semua makanan tersebut? Semut menjawab, ketika dia berjalan karena Allah, dia mengetahui bahwa Allah tidak akan melupakannya, tetapi ketika Sulaiman memberikan makanan, dia mengetahui bahwa dia adalah manusia dan mungkin lupa – maka dia memakan satu butir dan meninggalkan yang lainnya untuk tahun berikutnya.

- Kerjasama team yang rapi

Semut tidak pernah bekerja untuk dirinya sendiri, mereka bekerja untuk tim. Kalau mendapatkan makanan yang ukurannya cocok bagi tubuhnya, biasanya semut membawanya sendirian. Kalau ukuran makanan terlalu besar atau kalau semut menemukan beberapa gundukan kecil makanan di suatu daerah, mereka mengeluarkan hormon beracun untuk mencegah semut lain agar tidak menghampiri daerahnya. Kemudian, mereka memanggil para pekerja lain, besar maupun kecil, untuk bersama-sama mengangkut makanan.

Dalam kehidupannya, semut juga mengenal pembagian tugas yang sangat sempurna. Semut besar memotong-motong makanan dan menjaganya dari hewan-hewan asing, sementara semut kecil membawa pulang makanan.

Berdasarkan pengamatan, ditemukan bahwa jika semut bekerja sama, mereka dapat mengangkat beban seberat 5000 kali berat yang dapat diangkat seekor semut pekerja. Seratus ekor semut dapat membawa seekor cacing besar di atas tanah dan bergerak dengan kecepatan 0,4 cm per detik.

Akankah kita kalah dari semut? Belajarlah dari mereka untuk mencapai kesuksesan hidup.

* Ahmad Arwani R lahir di Semarang pada 1 Juni 1977. Ia tinggal di Kompleks Mutiara Elok Blok B-16 Kreo Selatan, Ciledug, Tangerang, Banten

PILIH GINCU ATAU APEL?



Oleh: Victor Asih

Beli Gincu dapat Apel ? Apakah merupakan sebuah musibah atau anugerah ? Simak kisah nyata yang pernah saya alami dan petik manfaatnya sebagai tambahan motivitamin bagi kehidupan anda.

Sekitar 4 tahun yang lalu saya membeli sebuah pohon mangga cangkokan dengan harga yang cukup tinggi. Saya menanamnya ditengah halaman depan rumah saya. Saya membeli pohon mangga jenis Gedong Gincu asal Indramayu yang terkenal dengan rasa manisnya yang khas dan warnanya yang merah mencolok seperti gincu atau pemerah bibir (lipstick). Mangga jenis ini harganya relatif paling mahal dibandingkan dengan jenis mangga lokal lainnya, bisa mencapai Rp. 25.000 sampai 40.000,- per kilogramnya.

Saya menanamnya dengan suatu harapan nanti setiap tahun dapat menikmati panen buah mangga gedong gincu yang menjadi mangga favorit saya. Saya menyadari bahwa buah mangga yang diperoleh dari pohon yang saya tanam sendiri akan terasa lebih nikmat daripada mangga yang saya beli di pasar.

Pada bulan-bulan pertama pohon ini tumbuh subur tetapi tidak berbuah, hanya berdaun sangat lebat. Teman-teman dan saudara-saudara saya saat berkunjung ke rumah saya melihat pohon itu dan berkomentar bahwa pohon itu tidak akan berbuah. Mereka juga bercerita bahwa mereka telah sering membeli pohon mangga cangkokan walau pun telah berbuah saat di beli tetapi tidak pernah berbuah lagi setelah ditanam di rumah. Hanya berdaun lebat saja sampai bertahun-tahun. “Sebaiknya ditebang saja, diganti pohon lain yang mudah berbuah”, kata mereka.

Setelah ditunggu dengan kesabaran selama setahun, ternyata pohon itu mulai berbunga dan berbuah. Saya merasa sangat berbahagia dan mulai timbul suatu harapan.

Tetapi kemudian saya merasa sangat kecewa setelah mengetahui bahwa saya telah dibohongi oleh penjual pohon mangga. Ternyata pohon yang telah saya tanam bukan pohon mangga Gedong Gincu, tetapi pohon mangga Gedong Apel yang buahnya berbentuk bulat seperti buah Apel. Mangga Gedong Apel ini memang mirip seperti mangga Gedong Gincu. Yang membedakan adalah rasa buahnya yang masam kecut, serat buahnya yang lebih halus, dan bentuknya lebih bulat seperti buah apel. Pupus sudah harapan saya memiliki pohon mangga Gedong Gincu. Perasaan sangat kesal dan kecewa timbul dalam hati saya.

Ingin rasanya saya marah-marah dan memaki-maki penjual pohon mangga yang sekarang entah berada di mana. Mengingat saya telah selama setahun merawat pohon mangga tersebut dengan penuh perhatian, memberinya pupuk, menyiraminya, dengan harapan memiliki pohon berbuah mangga Gedong Gincu yang menjadi buah favorit saya.

Sempat terpikir untuk menebang pohon itu dan menggantinya dengan pohon buah yang lain. Tetapi kemudian saya berpikir bahwa hal ini terjadi bukan karena kesalahan pohon mangga tersebut. Dia juga makhluk hidup yang ingin tumbuh dan berkembang. Kasihan kalau ditebang.

Mungkin sebagian akan orang berpikir, “Pohon mangga saja kok dikasihani ?”. Tetapi itulah diri saya, senang mengasihi, termasuk kepada binatang mau pun tanaman. Apakah mungkin karena saya diberi nama Victor Asih, ya ? “Nama yang agak aneh”, kata beberapa orang yang bingung menebak apakah ini adalah nama pria atau wanita. Mungkin harapan orang tua saya, yang memberi nama itu, adalah supaya kelak saya menjadi orang yang penuh welas asih terhadap semua makhluk hidup ?

Anyway, akhirnya saya memutuskan untuk membiarkan pohon mangga itu tetap tumbuh subur di tengah halaman depan rumah. Saya juga tetap merawatnya dengan baik. Saya tetap memberinya pupuk, menyiraminya, dan terkadang menyiraminya dengan sisa air minum susu yang tidak dihabiskan oleh putri kecil saya yang cantik dan lucu.

Akhirnya saya hanya menikmati indahnya buah-buah mangga Gedong Apel yang berwarna merah mencolok seperti gincu dan berbentuk seperti apel bergelantungan di pohon. Begitu indah dilihat, bisa meredakan stress dan terlihat menggiurkan untuk dipetik dan disantap. Tetapi buah tersebut tidak pernah saya petik, karena saya pernah merasakan masam kecutnya mangga masak yang saya petik. Untuk dibuat rujak pun rasanya masih terlalu masam.

Sampai pada suatu saat, buah-buah mangga Gedong Apel itu berjatuhan sendiri karena sudah terlalu matang di pohon. Saya mengambil buah-buah mangga yang berjatuhan dan menyimpannya di lemari pendingin. Buah mangga itu saya berikan pada siapa pun yang mau menerimanya.

Suatu saat saya terkejut pada saat mengetahui bahwa orang-orang yang memakan buah mangga tersebut berkata bahwa mangganya sangat manis sekali dan begitu enak sekali rasanya. Rasanya sangat unik dan lezat. Saya lalu merasa penasaran mencobanya sendiri. Ternyata memang benar! Rasanya sangat manis lezat, jauh lebih enak daripada mangga Gedong Gincu yang biasa saya makan.

Tetapi anehnya, kalau buah mangga yang dipetik sewaktu masih bergelantungan di pohon terasa masam kecut walau pun sudah masak kuning kemerahan. Tetapi kalau buah mangga yang terjatuh sendiri karena terlalu masak di pohon terasa sangat manis dan lembut daging buahnya.

Sekarang saya menunggu buah mangga terjatuh dengan sendirinya untuk dapat menyantap buah mangga yang lezat dari pohon itu. Untungnya, pohon itu berbuah lebat, sehingga saya tidak harus menunggu lama pasti selalu ada yang terjatuh karena telah terlalu masak.

Sekarang pohon itu membuat halaman rumah saya semakin teduh. Dia berbuah lebat walau pohonnya tidak besar dan tingginya pun hanya sekitar 3 meter saja. Tiap saat selalu berbunga dan berbuah terus menerus sepanjang tahun tidak mengenal musim.

Melalui jendela ruang kerja saya, saya bisa merasakan keteduhan menatap pohon mangga sambil mengetik artikel ini di komputer notebook saya. Buah-buah mangga cantik yang bergantungan merupakan pemandangan indah yang menyenangkan hati saya. Saya bersyukur karena dahulu saya tidak menebang pohon mangga tersebut pada saat saya merasa kecewa dengan buahnya.

Saya mengambil suatu pelajaran berharga dari apa yang telah saya alami, bahwa “Semua akan menjadi indah tepat pada waktunya jika kita selalu berusaha memberi yg terbaik”. Seperti buah mangga Gedong Apel tadi yang menjadi sangat manis dan lezat tepat pada waktunya setelah menjadi masak dan terjatuh dari pohonnya.

Mungkin saja saat ini anda sedang mengalami persoalan hidup yang membuat anda kecewa dan sakit hati karena tidak sesuai dengan harapan anda. Tetapi tetaplah berusaha memberikan yang terbaik dan jangan melihat hasil saat ini, maka semua akan menjadi indah tepat pada waktunya. Semua bisa berubah. Apa yang kita tabur akan kita tuai. Apa yang telah kita “tanam” tidak akan menjadi sia-sia asalkan kita mau bertekun dalam memberi yang terbaik.

[Victor Asih, Founder Sekolah Bisnis Gratis USB, Mentor, Entrepreneur, Inspirator, Motivator, Software Engineer, Information Technology Consultant, Kolumnis, Penulis Buku Unik Bestseller “8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit”]. Penulis bisa dihubungi melalui email victorasih@yahoo.co.id atau website www.usbschool.com atau blog usbschool.blogspot.com

SEDIKIT ADALAH BANYAK

Oleh: Berny Gomulya

To say more, is to say less.
Harlan Ellison

Less is only more where more is no good.
Frank Lloyd Wright

Saya berhenti dan berpikir sejenak ketika saya membaca iklan sebuah merek rokok di billboard yang berada di perempatan jalan. Iklan tersebut berbunyi “Talk less, Do more (Sedikit bicara, banyak kerja).” Rasa penasaran membuat saya setiba di rumah membuka laptop dan mulai mencari tahu mengenai iklan tersebut di internet. Entah benar atau tidak, katanya iklan tersebut terilhami oleh sebuah band yang akan tampil di panggung. Para penonton menyambutnya dengan antusias dan histeris. Sang Vokalis kemudian menyapa penonton, makin histerislah penonton. Anggota band yang lain sudah siap tapi Sang Vokalis masih saja berbicara. Penonton kemudian berubah sebal, tak lagi antusias, karena kebanyakan bicara. Kemudian muncul teriakan oleh salah seorang penonton: Talk Less, Do More.

Tag line iklan rokok diatas mengingatkan saya dengan buku best seller yang ditulis oleh Jason Jennings, Less is More. Didalam bukunya, Jennings memaparkan bagaimana perusahaan-perusahaan yang luar biasa, menggunakan produktivitas sebagai sebuah keunggulan dalam bisnis. Dia melakukan riset ke sejumlah perusahaan yang paling produktif di dunia, dan dia mencari tau hal-hal apa yang membuat mereka sangat produktif. Dia menemukan beberapa keunggulan yang menjadi benang merah dari perusahan-perusahaan produktif tersebut, yaitu setiap orang fokus untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, merampingkan semua bidang, pemetaan setiap proses, menghilangkan pemborosan, membangun kultur perusahaan, dan memastikan setiap orang menuju pada arah yang sama. Less is More lebih dari sekedar ide, dia adalah sebuah alat yang dapat mengubah cara Anda melakukan bisnis, demikian kata Jason Jennings.

Tahukah Anda dari mana asal kalimat Less in More? Ternyata kalimat itu disebutkan pertama kali oleh seorang pelukis bernama Andrea del Sarto yang hidup pada tahun 1486-1531. Dia menyebut kalimat tersebut untuk menggambarkan istrinya yang cantik.

Less is More juga dikenal dalam dunia desain rumah minimalis. Desain rumah akhir-akhir ini mengalami perkembangan yang sangat cepat. Anda bisa mendapati berbagai jenis desain rumah yang berkembang di masyarakat dewasa ini, antara lain desain rumah minimalis, modern, mediterania, klasik dan sebagainya. Biasanya kalangan yang tertarik untuk menggunakan gaya minimalis adalah dari mereka yang masih berjiwa muda. Para eksekutif muda menyukai gaya minimalis, karena gaya yang ini dipandang praktis dan dapat mewakili gaya hidup modern mereka.

Sebenarnya, gaya minimalis bukanlah sebuah gaya arsitektur saja, namun dibalik itu, gaya ini memiliki jawaban atas tantangan jaman yaitu mendapatkan hasil maksimal dari sesuatu yang minimal. Gaya minimalis pada intinya merupakan suatu jawaban atas keadaan yang dicetuskan oleh orang-orang yang menganut paham minimalisme sebagai protes atas keadaan masyarakat yang tidak menghargai sumber daya alam dengan mengeksploitasi habis-habisan sumber daya alam untuk hal-hal yang tidak perlu dalam kehidupan sehari-hari. Gerakan minimalisme ini merupakan gerakan back to basic atau kembali kepada kesederhanaan, konon gerakan ini timbul di Amerika yang merupakan suatu hal yang dapat dianggap positif dari suatu gerakan jaman modern.

Bicara mengenai minimalis, saya langsung teringat dengan semut yang ukurannya sangat minimalis. Tapi dibalik ukuran minimalisnya, semut mempunyai lima filosofi yang luar biasa. Pertama, semut tidak pernah menyerah. Bila Anda menghalang-halangi dan berusaha menghentikan langkah mereka, mereka selalu akan mencari jalan lain. Mereka akan memanjat ke atas, menerobos ke bawah atau mengelilinginya. Mereka terus mencari jalan keluar. Suatu filosofi yang bagus, bukan? Jangan sekali-kali menyerah untuk menemukan jalan menuju tujuan Anda.

Kedua, semut menganggap semua musim panas sebagai musim dingin. Ini adalah cara pandang yang penting. Anda tidak boleh menjadi begitu naif dengan menganggap musim panas akan berlangsung sepanjang waktu. Semut-semut mengumpulkan makanan musim dingin mereka di pertengahan musim panas. Sebuah kisah kuno mengajarkan, "Jangan mendirikan rumahmu di atas pasir di musim panas." Mengapa kita membutuhkan nasehat tersebut? Karena sangat penting bagi kita untuk bersikap realitis. Di musim panas Anda harus memikirkan tentang halilintar. Anda seharusnya memikirkan badai sewaktu Anda menikmati pasir dan sinar matahari. Berpikirlah ke depan.

Ke tiga, semut menganggap semua musim dingin sebagai musim panas. Ini juga penting. Selama musim dingin, semut mengingatkan dirinya sendiri, "Musim dingin takkan berlangsung selamanya. Segera kita akan melalui masa sulit ini." Maka ketika hari pertama musim semi tiba, semut-semut keluar dari sarangnya. Dan bila cuaca kembali dingin, mereka masuk lagi ke dalam liangnya. Lalu, ketika hari pertama musim panas tiba, mereka segera keluar dari sarangnya. Mereka tak dapat menunggu untuk keluar dari sarang mereka.

Ke empat, seberapa banyak semut akan mengumpulkan makanan mereka di musim panas untuk persiapan musim dingin mereka? Semampu mereka! Filosofi yang luar biasa, filosofi "semampu mereka". Artinya semut akan berusaha dengan segenap usaha dan tenaga do their best mengumpulkan makanannya.

Terakhir, ke lima, semut itu mengumpulkan makanannya sedikit demi sedikit, tetapi lama-kelamaan menjadi banyak. Ya, sedikit adalah banyak.

Tips meningkatkan produktivitas Anda: 1. Hilangkan hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pemborosan.
2. Terus berjuang untuk menemukan jalan menuju tujuan Anda.
3. Berpikirlah ke masa depan.
4. Fokus terhadap hal yang Anda lakukan.

Berny Gomulya adalah seorang penulis, pembicara seminar profesional, pelatih personal dan perusahaan dalam bidang productivity dan management system. Ia mendapatkan pengakuan tertinggi dari dunia otomotif internasional sebagai salah satu dari hanya delapan orang Indonesia sebagai Auditor TS 16949:2002 International Automotive Task Force (IATF). Setelah lulus sebagai Sarjana Elektro dan Magister Manajemen dari Universitas Indonesia, dia bekerja di PT Astra International Tbk dan Productivity Standard Board (PSB) di Singapore. Kini, Berny mendirikan sebuah lembaga di bidang personal productivity, organization productivity, dan management system. Berny dapat dihubungi melalui email ke bernygomulya@yahoo.com

FOKUS PADA MASA SEKARANG

Oleh: Agustinus Prasetyo

Yesterday is a history
Today is a gift
Tomorrow is mistery
(Kung Fu Panda)

Anak kecil adalah contoh yang baik bagaimana menikmati masa sekarang. Buatlah janji membelikan mainan maka anak itu akan menuntut mainan tersebut ada segera. Juga kita sering terheran-heran karena anak kita yang kemarin berkelahi dengan temannya sekarang sudah bermain bersama lagi. Tadi pagi anak saya yang berumur 5 tahun tertarik untuk melihat isi lemari yang tingginya dua kali badannya. Alih-alih menunggu dua atau tiga tahun lagi saat badannys sudah tinggi, ia berlari ke kamar untuk mendorong kursi kayu yang jauhnya sekitar lima meter dan dengan naik kursi kayu tersebut anak saya dapat melihat isi lemari bagian atas.

Saat reuni, saya bertemu dengan teman lama yang delapan tahun yang lalu bergulat dengan maut melawan kanker getah bening. Sekarang teman saya sudah sembuh namun ada sesuatu yang hilang.. Seolah-olah ia berusaha melupakan kenyataan dengan menenggelamkan diri pada kesibukan pekerjaannya.

Sebaliknya ayah saya walaupun tidak pernah sembuh dari kanker prostat, bahkan meninggal setelah berjuang 3 tahun, namun sampai akhir hayatnya tidak pernah mengeluh akan penyakitnya dan selalu berusaha menolong orang lain yang membutuhkan dengan tindakan sederhana misalnya membantu membayarkan rekening air tetangga, yang rumahnya kosong karena ditinggal bekerja, pada kolektor PDAM atau memberi tumpangan kendaraan pulang pada ibu-ibu setelah persekutuan doa.

Hidup pada masa sekarang, bukan masa lalu atau masa depan, digambarkan dengan baik sekali oleh Anthony de Mello, SJ, Jalan Menuju Tuhan, Kanisius,1996, dengan analogi mengupas jeruk. Saat kita mengupas jeruk untuk dimakan mungkin pikiran kita tertuju hanya pada memakan jeruk itu. Para pembaca tahu apa yang terjadi ? Saat kita mengupas jeruk, kita tidak berada disana karena pikiran kita sudah berlari ke masa depan yaitu memakan jeruk dan saat kita makan jeruk mungkin kita tidak makan jeruk karena mungkin pikiran kita sudah berlari lagi ke masa depan misal mau beli jeruk lagi besok atau ke masa lalu karena kita mengingat keberhasilan kita untuk menawar jeruk ini tadi. Para pembaca mungkin terkejut karena ternyata waktu yang kita habiskan untuk masa sekarang demikian sedikit.

Bersyukur adalah salah satu cara untuk menghadirkan saat sekarang pada masa sekarang. Saat pagi hiruplah napas dalam-dalam dan ucapkan “Udara segar. Terima kasih Tuhan.“

Selamat mencoba dan menikmati hidup masa sekarang.

BE BETTER EVERYDAY

Agustinus Prasetyo adalah karyawan.Saat ini sedang belajar menuliskan hikmah dari peristiwa sehari-hari. Dapat dihubungi di agusprasetyo86@yahoo.com

MEMENANGKAN PERJUANGAN HIDUP




“Life is struggle. The one who enjoys this struggle is the real winner. – Hidup adalah perjuangan. Siapapun yang menikmati perjuangan tersebut adalah pemenang sejati.”
Anupama Kamble Pada bulan November 2007, saya kembali mengunjungi kota Banda Aceh untuk meresmikan kantor cabang yang baru dan menyelenggarakan kegiatan sosial pada sebuah yayasan anak yatim piatu. Saat berjalan-jalan di kota tersebut, saya teringat kedahsyatan tsunami meluluh lantakkan semuanya, termasuk korban jiwa lebih dari 200 ribu. Kedahsyatan kekuatan tsunami nampak jelas dari kapal PLN seberat 2600 ton yang terseret sepanjang 7 kilo meter ke tengah kota dan menindih lebih dari 30 orang.

Saat itu empati masyarakat di Indonesia maupun manca negara sangat besar untuk membantu korban bencana. Semua orang peduli dan ingin menolong, tanpa membedakan ras, agama, warna kulit, dan latar belakang, dan lain sebagainya. Saya dapat merasakan begitu besar kepedulian dan cinta kasih masyarakat negri ini kepada orang lain.

Walaupun masyarakat belum sepenuhnya terlepas dari trauma pasca bencana, saya meilhat masyarakat disana sudah bangkit. Banyak proyek pembangunan dilaksanakan. Diantaranya adalah proyek pembangunan Perkampungan Persahabatan Tiongkok – Indonesia, berupa 765 rumah sederhana bantuan dari Tiongkok yang berlokasi di atas bukit. Kegiatan ekonomi disana melaju cepat, bahkan jalanan di Banda Aceh mulai macet.

Saya terpana menyaksikan kemajuan Aceh yang sangat pesat tersebut. Saya kagum pada ketangguhan mental masyarakat menghadapi tantangan hidup sedahsyat tsunami Desember 2004. Itulah salah satu ‘badai’ yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan hidup manusia. Tetapi sebenarnya manusia juga mempunyai potensi yang super hebat untuk memenangkan perjuangan hidup tersebut dengan berbagai cara.

Salah satu cara memenangkan perjuangan hidup adalah memperkuat mental, dengan menjadikan tantangan hidup sebagai latihan mental. Semakin tinggi kesulitan hidup yang berhasil kita lewati, maka mental kita juga semakin kuat. “Problems are to the mind is what exercise to the muscles, they toughen and make strong. – Masalah-masalah merupakan latihan otot-otot pikiran agar mereka menjadi lebih kuat,” Norman Vincent Peale. Mental yang kuat lebih dapat diandalkan untuk memenangkan perjuangan hidup.

Memiliki visi yang benar dan jelas sangatlah penting untuk memenangkan perjuangan hidup. Banyak orang tidak berhasil menggunakan potensi yang sangat besar dalam dirinya, karena mereka mengabaikan visi atau impian. Sebaliknya, semangat kita untuk bangkit dan maju akan jauh lebih besar setelah mempunyai visi yang benar dan jelas.

Dalam setiap medan perjuangan, kemenangan hanya dapat diperoleh jika kita mempunyai peta kemenangan berdasarkan visi yang jelas. Perencanaan tersebut akan sangat membantu memperhitungkan setiap tindakan yang akan ditempuh. Jika kita konsisten melaksanakan rencana tersebut pasti kita berhasil menjadi pemenang dengan prestasi-prestasi atau karya-karya terbaik.

Keyakinan yang kuat adalah bagian penting lainnya setelah menciptakan visi. Karena keyakinan yang kuat dapat meraih kemenangan akan membuat seseorang mampu memetik pelajaran berharga dan bertindak lebih hati-hati, ketika harus berhadapan dengan kegagalan. Cara seperti ini memperbesar kemungkinan kemenangan segera tercapai.

Keyakinan juga sangat penting untuk membantu kita berpikir jernih dan positif. Misalnya kita tidak meratapi kekurangan atau sombong dengan kelebihan. Sebaliknya, kita menjadikan kekurangan maupun kelebihan tersebut sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas diri dan bekerja lebih giat agar segera memenangkan perjuangan hidup.

Entah apa visi rakyat di Aceh sehingga mereka begitu optimis, karena saya melihat mereka tidak berlama-lama meratapi kemalangan dan kepedihan akibat tsunami. Sebagian besar masyarakat sudah aktif membangun kehidupan mereka kembali. Ini nampak dari antusiasme mereka mengerjakan masing-masing peran dan tanggung jawab.

Selain kerja keras, kita juga perlu bekerja cerdas dan ikhlas. Sementara itu dibutuhkan pula landasan keimanan dan kejujuran. Etos kerja semacam itu merupakan salah satu cara jitu memenangkan perjuangan hidup.

Guna memenangkan perjuangan hidup dibutuhkan pula empati atau kepedulian terhadap manusia lain maupun lingkungan. NAD dan Sumatra Utara terpuruk akibat bencana alam, dan saat itu banyak orang berduyun-duyun memberikan pertolongan dalam aneka rupa bentuk. Perlahan-lahan masyarakat korban bencana bangkit, dan semua itu tak lepas dari dukungan dari orang lain. Begitupun empati kita terhadap orang lain akan mempererat hubungan sosial sehingga saling mensinergi satu sama lain diantara kita untuk meraih kemenangan bersama.

Layaknya pertandingan, memenangkan perjuangan hidup butuh persiapan, yaitu melakukan perubahan positif sedari sekarang. Misalnya menggunakan waktu lebih efektif, sehingga masih tersisa beberapa jam untuk berlatih meningkatkan kemampuan dan memperluas wawasan dengan ilmu pengetahuan. Berbenah diri terus menerus, sekalipun dalam skala kecil, merupakan salah satu cara penyempurnaan agar menang melawan tantangan hidup.

Sangat banyak yang bisa kita lakukan untuk memenangkan perjuangan hidup. Kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan adalah satu hal yang pasti kita dapatkan jika berhasil. Kemajuan pesat di Aceh adalah salah satu contohnya, maka pastikan Anda ada di urutan berikutnya. Jadi tetaplah bersemangat dan menikmati perjuangan hidup Anda.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com

[Pembelajar.Com::]

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman