Selasa, 11 November 2008

Masa Depan Adalah Kebaikan Kehidupan

Oleh: Arif Yustanu


Apa yang anda ketahui tentang masa depan? Andai saja ada seorang peramal memberi tahu tentang masa depan anda, bagaimana tanggapan anda? Senang? Sedih? Yah, tentunya tergantung masa depan apa yang akan diberitahukan si peramal tadi. Kalau ramalannya menyatakan masa depan anda membahagiakan, tentu anda akan senang. Sebaliknya, jika masa depan anda diramal bakal suram, bagaimana langkah anda selanjutnya?

Banyak karangan atau film yang bercerita tentang masa depan. Masih ingat film Back to the Future-nya Micheal J Fox, film kuno The Time Tunnel, bahkan film Time Cop-nya Jean Claude Van Dame, Paycheck yang dibintangi Ben Affleck, atau Minority Report-nya Tom Cruise. Kesemuanya bercerita tentang masa depan.

Hampir secara absolut setiap manusia ingin masa depan yang cerah, dan tidak ada yang ingin masa depannya suram. Bagaimana kemungkinan masa depan anda? Baik atau suramkah? Kalau anda diberi kemampuan membaca masa depan, atau anda dibuatkan sebuah mesin untuk melihat masa depan, pikiran apa yang akan anda keluarkan?

Begini, saat anda mendapat informasi tetang masa depan anda, bahwa kelak anda akan menjadi general menajer atau direktur di sebuah perusahaan, apa yang akan anda lakukan? Atau apabila anda tahu bahwa di masa depan anda akan menjadi orang sengsara, bagaimana sikap anda?

Dalam konteks pengandaian bahwa anda akan menjadi orang bahagia, mungkin anda tidak akan melakukan apa-apa saat ini. Sebab, anda sudah tahu masa depan anda, misalnya akan jadi seorang direktur. Tetapi dalam konteks bahwa masa depan anda akan sengsara, pasti anda akan berusaha untuk mengubah ramalan tersebut supaya tidak terjadi.

Begitu pula dengan kematian. Jika anda sudah tahu bahwa pada tanggal sekian dan jam sekian anda akan mati, pasti anda akan bertobat dan jadi orang paling baik di dunia ini sebelum ajal datang.

Tapi mengapa Tuhan menjadikan masa depan sebagai sebuah misteri? Tentu saja agar kehidupan ini berjalan. Agar manusia tetap berusaha sekuat tenaga dalam hidupnya untuk mencapai masa depan yang masih serba misteri.

Bagaimana jika manusia tidak berusaha atau bekerja? Mereka bagaikan orang yang mati, tidak berguna, dan tidak membawa manfaat, baik untuk dirinya maupun alam ini.

Walaupun hidup ini ujungnya adalah kematian, namun ada yang perlu direnungkan; apakah nanti manusia mati dengan meninggalkan kebaikan atau kemudharatan? Pilihan itu ada pada diri manusia itu sendiri.

*Arief Yuntanu adalah pegawai PT PLN Sektor Pekanbaru, Riau.

Awas! Ada yang Mengendalikan Anda

Oleh: Hari Subagya


Ada seseorang yang mengontrol anda pada setiap gerakan. Ada seseorang yang mengontrol anda untuk sukses maupun gagal. Anda ingin terus atau memilih untuk menyerah.

Ada seseorang yang mengontrol anda mulai dari bangun pagi. Apa yang ingin anda minum, sarapan pagi, pakaian yang anda kenakan. Seseorang yang mengontrol, karir mana yang ingin anda lalui, teman mana yang anda pilih atau mengontrol anda apakah anda memilik sukses atau gagal.

Seseorang ini mengontrol segala yang anda lakukan. Seseorang itu adalah diri anda sendiri. Seseorang ini andalah asset yang paling berharga dalam kehidupan anda. Dialah yang mengontrol setiap aktivitas dan pilihan-pilihan kita.

Cara anda mengontrol diri anda sendiri di masa lampau, adalah cara yang menjadikan anda seperti sat ini. Anda senang cara dia mengontrol diri anda ? Atau anda sangat kecewa?

Anda harus menyadari cara anda mengontrol diri anda sendiri saat ini dan hari-hari mendatang bisa membawa diri anda kemanapun anda mau.

Tentukan arah, dan tanamkan komitmen yang tinggi secara konsisten. Jadikan diri anda sendiri sebagai pengontrol yang baik terhadap tujuan anda.

Setiap bangun pagi, katakan pada diri anda, apakah anda akan malas atau rajin? Maka pilihlah rajin. Anda akan bad mood atau good-mod? Maka pilihlah Good-mood. Anda akan cemberut atau tersenyum. Pilih tersenyum! Anda akan jalani hari dengan murung atau gembira? Pilihlah gembira! Anda akan berfikir dan bersikap positif atau negatif? Pilihlah Positif.

Lihatlah bahwa semua adalah pilihan anda. Semua di bawah kontrol anda. Semua di bawah pengawasan anda. Apakah anda akan menyalahkan orang lain jika dalam kehidupan anda sekarang belum sukses dan berhasil? Apakah begitu?

Anda berhak seratus persen atas diri anda sendiri. Andalah yang pantas disalahkan, karena anda yang memegang kendali. Anda bisa bilang “Ya” atau “Tidak” atas ide-ide dan anjuran orang lain, namun semua tetap anda yang menentukan.

Sekarang saatnya anda menyadari bahwa, kendali ada ditangan anda. Nasib anda ada ditangan anda sendiri. Kesuksesan anda ada seratus persen di tangan anda sendiri. Andalah yang menentukan.

“A man who doesn't trust himself can never really trust anyone else.”
--Cardinal De Retz

* Hari Subagya adalah Penulis buku Time To Change.

Senin, 10 November 2008

Timbangan Tanpa Keseimbangan

Oleh: Handy Pramudianto


Apakah arti “Timbangan” bagi anda? Hanya sekedar alat bantu beli gula, daging, beras, dan cabai merah keriting? Atau hanya penting bagi para wanita untuk tetap waspada terhadap serangan kegemukan?

Sadarkah anda bahwa timbangan itu merupakan Tujuan Hidup setiap mahluk yang bernafas ataupun bagi benda mati sekalipun, terutama manusia yang berakal?

Mengapa saya berkata demikian? Konsep adanya timbangan didasari pada proses aksi reaksi, di mana adanya tekanan di satu sisi akan menciptakan reaksi terhadap sisi lainnya, yang menjadi indikator penunjuk satuan berat sedemikian rupa, sehingga antara sisi yang satu dengan sisi yang lain saling menyeimbangkan, dan akhirnya terjadi suatu keadaan yang saling impas atau seimbang.

Baik, saya mungkin bukan seorang yang ahli dalam bidang Mekanika dan Fisika. Tetapi sadarkan anda, baik sadar ataupun tidak sadar kita sedang menuju ke arah keseimbangan seperti timbangan tersebut? Saya tidak akan berbicara mengenai konsep yang canggih ataupun teori-teori yang tidak terbantahkan. Tetapi saya mencoba untuk membuka pikiran kita secara simple bahwa apa pun yang dilakukan setiap orang, baik sendiri ataupun berkelompok yang biasa kita sebut berorganisasi, baik organisasi kecil ataupun organisasi dengan skala dunia, sedang mencari suatu keseimbangan yang terus mencari.

Pernahkah anda sadari, mengapa begitu banyak teori marketing yang bermunculan bahkan dari zaman batu dahulu hingga saat ini yang saling bergantian, dan tidak sedikit pula yang saling bertentangan? Dan mengapa banyak teori marketing yang dahulu muncul dan sangat populer, jika diterapkan saat ini, jangan harap bisa berhasil? Dan saya pun yakin 212 persennya Wiro Sableng, bahwa teori marketing saat ini, seperti Customer Centric, Blue Ocean Marketing, dan seluruh konsep marketing yang katanya modern itu tidak akan dapat digunakan kembali 3, 4 atau mungking 5 tahun lagi.

Jawabannya sangat simple sekali, Teman...

Semuanya berasal dari satu kata yang disebut “Keseimbangan”. Ha..ha.. Anda pasti bingung, kan? Bagus!.. anda sedang menuju ke bentuk keseimbangan otak anda antara jawaban ya dan tidak. Bahkan anda mungkin berpikir ini adalah tulisan sampah yang tidak menarik sama sekali, yang berarti kebingungan ini tidak merusak keseimbangan otak anda.

Mungkinkah terjadi yang namanya keseimbangan? Jawabannya mungkin sekali terjadi, tetapi tidak akan pernah ada yang namanya keseimbangan abadi terhadap satu hal. Penyebab utama yang paling mempercepat terjadinya ketidak keseimbangan adalah manusia itu sendiri dengan pikiran dan egonya yang mengklaim dirinya sebagai satu-satunya mahluk yang memiliki akal budi. Dan saya berbicara bukan hanya manusia perorangan, melainkan juga manusia secara keseluruhan. Selama manusia ada, tidak akan pernah terjadi keseimbangan yang abadi.

“Tidak ada satu pun hal yang abadi, karena yang abadi itu hanyalah perubahan.” Katanya... Oleh karena itu, teruslah berubah saudaraku. Jika ingin sukses dan unggul, jadilah aksi yang menciptakan suatu reaksi keseimbangan, dan janganlah selalu menunggu bereaksi terhadap aksi yang muncul. Percayalah, apa pun yang anda lakukan dalam segala hal, pasti akan timbul suatu keseimbangan di luar anda dengan berbagai bentuknya yang disebut reaksi, hingga akhirnya terjadi keseimbangan walaupun mungkin tidak akan pernah terjadi.

Jika anda bingung dengan tulisan saya ini, percayalah, saya pun juga masih bingung. Tetapi saya senang menjadi bingung, karena dengan merasa bingung ternyata saya dapat menikmati hidup yang indah ini. Keputusan yang menilai bahwa tulisan ini aksi yang besar atau aksi yang kecil adalah keputusan anda masing-masing untuk bereaksi terhadap tulisan ini.

Terakhir dari saya, “selamat menikmati timbangan hidup tanpa Keseimbangan, teman...” Ha..ha..

* Handy Pramudianto adalah lulusan Teknik Industri, Universitas Pelita Harapan, Jakarta. Saat ini bekerja sebagai Marketing Analis Divisi Regional I Sumatra, PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk

ABS BUKAN AMANAH

Oleh: Ardian Syam


Pasti banyak yang sudah tahu istilah Asal Boss Senang. Laporan yang hanya menyajikan keunggulan kinerja yang direkayasa untuk menjadi laporan yang baik, dapat dikategorikan ABS. Menyampaikan informasi yang direkayasa sehingga terlihat hanya yang dapat memuaskan atasan, dapat dikategorikan ABS. Memilih untuk mengikuti keinginan atasan walaupun berdampak buruk ke perusahaan, juga dapat dikategorikan ABS. Menyembunyikan hal-hal buruk untuk tidak dilaporkan ke atasan, juga berkategori ABS.

Jadi yang sedang kita bahas di sini adalah ABS yang berkonotasi negatif. Beberapa teman pernah ‘memplesetkan’ istilah ABS dengan maksud melaporkan setiap keberhasilan. Yang saya maksud dalam tulisan ini hanya ABS yang melaporkan laporan palsu sehingga bagi atasan seolah-olah tidak ada masalah yang terjadi di organisasi yang dia pimpin.

Beberapa unit organisasi seringkali berusaha menyenangkan atasan dengan memodifikasi laporan sehingga terlihat baik-baik saja. Hanya 2 hal yang mereka dapatkan (1) mereka tidak dimarahi atasan karena performansi yang buruk. (2) mendapatkan bonus karena performansi yang dilaporkan baik padahal secara real performansi mereka buruk.

Sekedar mengingatkan ada hal yang sangat baik dalam laporan yang buruk. Dari laporan yang buruk seluruh pimpinan dalam jalur unit kerja tersebut ke atas akan dengan segera mengetahui kelemahan perusahaan. Dengan laporan yang buruk maka akan segera dapat diketahui di faktor apa saja perbaikan perlu dilakukan. Dengan laporan yang buruk pula dapat ditentukan berapa biaya yang dibutuhkan untuk perbaikan. Sehingga laporan yang buruk dapat jadi pendamping untuk usulan permintaan penambahan anggaran.

Laporan yang buruk tentang penjualan beberapa jenis produk bahkan dapat menjadi indikasi tentang posisi produk tertentu dalam kurva product life cycle. Sehingga laporan yang buruk ini dapat membantu pimpinan dalam pengambilan keputusan apakah perusahaan akan terus menjual produk tersebut dengan beberapa perbaikan atau lebih baik produk tersebut tidak dijual lagi.

Pengusulan tambahan anggaran tanpa bukti bahwa memang ada hal yang perlu mendapat perhatian untuk segera diperbaiki, akan menyebabkan pengambil keputusan akan menunda pemberian tambahan anggaran yang diminta. Sehingga bila pengusulan tambahan anggaran bila didampingi oleh laporan yang buruk akan memudahkan pimpinan untuk memberikan tambahan anggaran.

Produk yang sudah mulai decline dalam product life cycle seringkali menyebabkan biaya yang dikeluarkan akan lebih besar dari pendapatan yang dapat diperoleh. Sehingga bila produk tersebut masih tetap dijual perusahaan akan banyak menanggung kerugian. Penghentian penjualan produk tersebut mungkin saja akan menyebabkan biaya yang cukup besar dalam proses pengehentian, tetapi sekaligus juga menghentikan biaya-biaya yang akan terus muncul untuk usaha mempertahankan produk tersebut tetap dapat dijual. Sehingga penghentian produk yang sudah decline akan mempertinggi laba yang dapat diraih perusahaan, berarti laporan yang buruk bahkan dapat meningkatkan laba perusahaan.

Dalam pelaporan keuangan, laporan yang buruk justru menjadi sangat penting. Laporan buruk tentang piutang usaha, dalam arti banyak piutang usaha yang sudah lama tidak tertagih akan menyebabkan perusahaan melakukan beberapa strategi yang cukup tepat untuk penagihan. Di sisi laporan laba rugi piutang akan diindikasikan dengan pendapatan tetapi pendapatan tersebut sama sekali masih semu, karena bila pendapatan tersebut tidak tertagih maka tidak ada uang yang masuk untuk digunakan membayar biaya operasi atau membayar gaji.

Begitu pula laporan yang buruk dalam persediaan barang dagang, dalam arti banyak persediaan yang belum terjual. Hal ini berarti akan muncul banyak biaya untuk penyimpanan, belum lagi resiko yang harus ditanggung karena telah banyak uang yang keluar sementara barang tersebut kemungkinan akan rusak dalam tempat penyimpanan. Dengan laporan yang buruk pimpinan perusahaan dapat mengambil keputusan apakah persediaan yang telah lama disimpan dapat segera dijual walau dengan harga yang rendah, bahkan di bawah biaya produksi agar dapat mengurangi resiko keluar biaya yang lebih besar untuk penyimpanan.

Maka seluruh laporan yang buruk dalam laporan keuangan sangat penting bagi perusahaan karena berarti pimpinan dapat segera mengambil keputusan untuk menyelamatkan keuangan perusahaan.

Posisi yang kita pegang dalam perusahaan berarti 2 hal. (1) Kita memiliki kompetensi dan sekaligus dipercaya untuk menjalankan fungsi yang diharapkan dari posisi tersebut. (2) diberi amanah oleh perusahaan untuk menjalankan fungsi yang diharapkan dari posisi tersebut.

Amanah yang kita emban pada saat kita menduduki posisi tertentu bukan hanya dari perusahaan. Setiap pejabat yang membuat laporan mendapat amanah dari perusahaan untuk menjaga perusahaan tetap menjadi wealth multiplying organization dengan mengusahakan perusahaan mendapatkan sustainable outstanding financial performance. Setelah mendapatkan sustainable outstanding financial performance, berarti perusahaan dapat meningkatkan laba karena berhasil mengambil keputusan yang tepat, maka perusahaan dapat memberikan tambahan penghasilan berupa bonus, jasa produksi, bahkan menaikkan gaji karyawan.

Dengan peningkatan pada penghasilan pribadi kita berarti kita juga sedang meningkatkan pemenuhan kebutuhan utama seluruh anggota keluarga kita, makanan yang baik-sehat-cukup jumlah untuk setiap anggota keluarga, pendidikan yang lebih layak untuk anak-anak, rumah yang lebih sehat dan banyak lagi kebutuhan utama yang sudah dapat kita penuhi karena tambahan penghasilan. Dengan demikian berarti kita juga memegang amanah dari keluarga untuk meningkatkan penghasilan yang akan digunakan untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan utama. Sehingga dengan laporan yang buruk, bahkan kita sedang berusaha menunaikan amanah kita terhadap keluarga.

Padahal dengan berbagai cara dan dari berbagai sisi laporan yang buruk justru akan berakhir pada kebaikan. Dengan melaporkan apa adanya maka kita justru sedang menunaikan banyak amanah yang kita emban. Sedangkan bila kita melaporkan dengan ABS atau laporan yang ada apa-apanya (bukan yang apa adanya) maka kita berarti sedang mengkhianati amanah yang kita emban.

Selain itu, melaporkan apa adanya berarti kita tidak sedang berbohong kepada siapapun, salah satu amanah yang diturunkan SANG PEMILIK KEHIDUPAN kepada kita.

Masih perlukah anda membuat laporan yang ABS?

* Ardian Syam menempuh pendidikan terakhir di Magister Akuntansi, UGM, Yogyakarta, 2004. Saat ini ia bekerja sebagai Financial Analyst di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., Divisi Regional I Sumatera, sekaligus menjadi dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ardian dapat dihubungi di: ardian.syam@gmail.com

Destiny

Oleh: Agung Prabowo, ObTpH


Everything that irritates us about others can lead us to an understanding of ourselves.
[Carl Jung]

Kerja! Kata yang begitu mempesonanya sehingga berpengaruh dalam urat nadi kehidupan kita. Ada sebagian diantara anda dan juga saya, rela menghabiskan waktunya di sekolahan sekedar sebagai penantian. Bisa penantian yang diisi sambil belajar, bergembira, berfoya-foya atau bisa juga merenung bahkan meratapi. Pastinya, penantian itu menghantar ke jurusan pintu gerbang yang disebut “kerja”. Mungkin sebagian dari anda pun ada yang sudah tak sabar menanti di bangku sekolah. Sehingga memutuskan untuk sekolah sembari bekerja. Juga tak sedikit yang langsung memutuskan untuk bekerja tanpa repot-repot menanti di sekolah.

Disisi lain, tak sedikit pula orang tua yang sibuk mengusung kata kerja sebagai gerbang keberhasilan anak-anaknya. Sampai-sampai ada orang yang harus rela membeli dengan kecongkakan selembar ijazah sebagai syarat untuk bekerja.

Begitu mempesonanya kerja itu sehingga (dalam kehidupan seperti tadi) tidak memberikan ruang-ruang kepada kita untuk sekedar mencicipi selain dari gerbang yang disebut kerja. Setiap kita bernafas, menoleh, berjalan, berlari, bercinta, makan, berbicara, bahkan tidur sekalipun selalu kita menjumpai gerbang mempesona yang disebut kerja. Saking mempesonanya kata “kerja”, sehingga begitu tidak banyaknya pilihan selain kata kerja sebagai pilihan hidup.

Anehnya, ketika kita sudah sampai dan masuk pada gerbang yang disebut kerja, tak sedikit diantara kita yang kemudian merasa kecewa. Bahwa yang terjadi bukan pesona kerja seperti yang dibayangkan saat menunggu di persekolahan. Malahan sebaliknya kerja bukan menjadi pesona lagi, malahan menjadi malapetaka dalam hidup kita.

Bagaimana itu bisa terjadi? Salah satu persoalannya adalah bahwa kerja itu tidak diresapi sebagai destiny (panggilan) kita. Sehingga kerja dimaknai sebagai rutinitas belaka, yang apabila hal itu terus-menerus terpupuk, bisa berujung pada virus keterpaksaan. Virus inilah yang harus kita cegah karena bisa menggerogoti keluhuran dari makna kerja yang mempesona itu.

Bagaimana kita mengantisipasi hal itu? Salah satunya adalah dengan menemukenali destiny kita. Bagaimana menemukenalinya? Jung, seorang pemikir dalam bidang psikologi menterjemahkannya dengan istilah yang lebih genuine, yakni kesadaran kolektif. Semacam kesadaran akan sesuatu yang kemudian juga disadari juga oleh orang lain. Sehingga membentuk pola dalam sebuah masyarakat.

Bentuk dari menemukenali destiny gaya Jung adalah dengan mencari persamaan karakter kita dengan tokoh-tokoh. Bisa tokoh dari dalam kisah kitab suci, pewayangan, komik, film kartun, tokoh-tokoh berpengaruh abad ini, bahkan orang yang kita jumpai dalam perjalanan hidup ini. Kita dapat menemukan karakter-karakter yang nyaris sempurna mirip dengan karakter kita.

Sahabat dan inspirator belajar saya(Andrias Harefa) dalam buku best seller-nya Sukses Tanpa Gelar, menuliskan 15 tokoh yang sukses tanpa gelar di dunia ini. Itu adalah cara praktis menemukenali destiny kita. Yang terpenting ketika kita menemukan kemiripan itu adalah timbul dalam diri kita kemiripan-kemiripan yang berbuah pada sebuah kesadaran. Dan ketika kita menemukan kesadaran itu, kita seperti dibimbing menuju pada destiny kita. Itulah salah satu cara menjaga makna kerja yang mempesona. Bagaimana dengan kita?

* AgUNg PrABOwO,ObTpH adalah alumnus Fakultas Psikologi Universitas Surabaya dan Pendidikan Sistem Bisnis Terapan jurusan Teknik Industri, ITS Surabaya. Ia suka menyandang gelar informal ObTpH [Orang Bodoh Tapi Pengen Hebat]. Bagong, demikian nama panggilannya, sekarang sedang menyelesaikan metode BAHASA IMAJINASI (Imagined Associate Program). Gagasan yang sempat ditelurkannya ke dalam buku adalah “Memimpin Perubahan” [Indybook press] dan sekarang sedang menuliskan konsep Bahasa Imajinasi. Ia dapat dihubungi di: bagong-obtph@cbn.net.id

Menjadi Penulis Bisakah Diandalkan? -

Oleh: M. Iqbal Dawami


Ajaib! Saya bisa menyelesaikan bacaan dalam waktu kurang dari tiga jam, yaitu sebuah buku yang berjudul Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang karya Andrias Harefa yang bertebal 105 termasuk daftar isi dan biografinya. Saya semangat membacanya karena dua hal: pertama, buku itu aku pinjam dari perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, jadi waktu dan pinjaman tersebut membuatku terpacu ingin cepat meyelesaikannya. Kedua, buku tersebut tentang menulis. Pasti saya akan semangat membacanya, karena itu akan membantu saya dalam menempuh impian. Impianku adalah ingin menjadi seorag penulis profesional. Saya berharap bisa mendapatkan uang dari menulis dan dijadikan sebagai karir. Selain itu karena penulisnya sangat terkenal di belantika tulis-menulis dan juga beliau seorang pakar motivasi. Semua itu menggerakanku untuk membaca dan ingin terus membacanya sampai-sampai aku tak bisa tidur karena tak tenang, karena belum selesai membacanya dan rasa penasarannya. Aku telah mengalami flow.

Ada beberapa hal yang kudapatkan dari bacaanku tadi. Jika saya membandingkan dengan buku-buku lain tentang motivasi menulis, buku ini terasa beda. Buku ini terasa membangkitkan semangat, terutama tentang “Menopang Hidup” bab ke 12. Tidak munafik, saya yakin semua orang—mayoritas—menerjunkan diri dalam dunia kepenulisan bukan hanya sekadar hobi tapi ada juga sisi lainnya yaitu ingin mendapatkan uang. Saya kira ini alasan yang logis selain tulisan kita dimuat di media massa. Dalam bab tersebut telah menjawab pertanyaanku yang selama ini saya cari, “Apakah menulis bisa diandalkan untuk menopang hidup, sebagai tempat mendapatkan rizki?”, Andrias menjawab, bahwa orang yang sudah profesional, menulis bisa dijadikan andalan untuk menopang hidup, bahkan gajinya lebih besar dengan manajer perusahaan atau seorang profesor, asalkan ia bisa menghasilkan, contohnya, 3 tulisan dalam satu minggu. 1 tulisan biasanya mendapatkan honor antara Rp.200.000 hingga Rp.600.000. Jika seandainya 1 minggu 3 tulisan, satu tulisan, misalnya, dihargai Rp.300.000, kemudian dikali 1 bulan, rinciannya (4 minggu X 12 X 300.000), berapa hayo?

Wah sangat menggiurkan bukan? Sungguh kalkulasi itu menggiurkan saya sebagai penulis pemula yang baru belajar (dari dulu-dulu). Ini membuatku semangat dan tak putus asa untuk tetap belajar menulis. Dia juga menceritakan kalau kita menulis itu harus disiplin, komitmen, atau janji pada diri sendiri. Belum lagi misalkan kalau kita menulis buku. Dari menulis buku kita akan mendapatkan royalti minimal (biasanya) 10% per eksemplar. Walau dia sendiri tidak menjamin kalau profesi menulis itu bisa menjamin kelangsungan hidup seorang pengarang, tetapi arah ke sana telah ada dan bahkan sangat memungkinkan karena jaman sekarang adalah zaman knowledge economy. Pengen bukti yang telah ada? Selain dirinya sendiri ada juga yang lainnya misalnya Iwan Gayo yang terkenal dengan Buku Pintar-nya, Ayu Utami dengan novel Saman-nya yang mendapat penghargaan, Dewi Lestari dengan Super Nova-nya, dan atau Helvi Tiana Rosa.

Saya kira itu merupakan bukti kalau jadi penulis pun bisa dijadikan andalan hidup kita, artinya, kita mencari rizqi bisa lewat menulis. Namun untuk menjadi penulis sebagai profesi tidaklah gampang, butuh pengorbanan yang banyak. Masalahnya adalah tulisan yang kita buat adalah untuk konsumsi orang lain, maka belum tentu bisa dimuat ketika mengirimkannya ke media massa atau penerbit. Ada beberapa hal yang saya salutkan dari Andrias mengenai latihan atau pun komitmennya yang tinggi untuk jadi penulis profesional. Dan kita patut mencontohnya. Di bawah ini adalah ungkapan-ungkapannya yang begitu menggugah saya:

“Apa yang disebut komitmen dapat dipahami sebagai “janji pada diri sendiri”. Dan mengarang akan gampang kalau kita mau berjanji pada diri sendiri, bahwa “saya akan menulis dan terus menulis sampai menjadi penulis profesional”.

“Saya berjanji pada diri sendiri untuk meluangkan waktu mengarang sedikitnya 1 halaman per hari, 7 halaman per minggu, selama 12 bulan. Kalau dalam satu hari saya sempat menyelesaikan satu artikel yang panjangnya 7 halaman, maka saya mengijinkan diri saya untuk “berlibur” 6 hari berikutnya. Kalau saya berhasil menyelesaikan beberapa artikel yang total berjumlah 30 halaman dalam seminggu, maka saya boleh cuti selama 3 minggu berikutnya. Itu saja janji atau komitmen saya."

Alangkah dahsyat kata-katanya itu, sampai-sampai saya begitu merinding membacanya. Ungkapan-ungkapannya itu telah merasuk dan mengalir dengan darah saya. Sekali lagi bahwa menjadi penulis pun kita bisa hidup. Sudah banyak orang-orang yang telah membuktikannya. Sekarang tinggal bagaimana kita berlatih, berlatih, sekali lagi berlatih menulis yang baik. Untuk menjadi penulis yang baik, Onno W. Purbo telah memberikan modalnya, yaitu (1) banyak membaca dan mendalami hal-hal yang kita sukai dan (2) fokus dan berdedikasi pada hal yang kita sukai.

Menurut novelis Amerika, William Faulkner, Menulis adalah 90 % kerja keras, 10 % bakat. Itu pendapat novelis terkenal lho? Lantas bagaimana menurut kita yang baru saja mau belajar menulis? Mungkin bagi saya menulis adalah 100% kerja keras dan 0% bakat. Bagaimana tidak? Saya semenjak SD belajar menulis hingga duduk di bangku kuliah masih saja selalu kesulitan menulis. Beberapa kali saya mengirimkan cerpen atau pun tulisan yang lain selalu saja ditolak. Tapi, aku selalu menghibur diri sendiri, mungkin bukan saat ini aku jadi penulis, mungkin suatu hari nanti, ya suatu hari nanti. Kata-kata itu selalu saya ucap dalam hati kala tulisan saya ditolak oleh media massa. Dan yang penting bagiku adalah selalu belajar, belajar dan belajar menulis hingga semua yang aku cita-citakan tercapai.

Kini peluang menjadi penulis sangat lebar sekali di tanah air kita. Berbagai media massa baik cetak maupun elektrik telah melimpah-ruah. Dan tinggal pilih saja media- media massa yang bisa memuat cerpen-cerpen kita. Kesempatan begitu luas untuk mengarah pada profesi penulis. Karena hampir semua—mayoritas—berbagai media massa memuat karya fiksi terutama cerpen. Sebut saja misalnya, Kompas, Republika, Koran Tempo, Jawa Pos, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, dan masih banyak lagi. Kemudian majalah-majalah seperti An Nida, Ummi, Sabili, Aneka Yess, Hai, Femina, Kartini, dan yang lainnya. Belum lagi tabloid-tabloidnya, belum lagi media-media elektrik di dunia cyber. Semuanya sedang menanti tulisan-tulisan kita. Yang pentiing bagi kita adalah siapkah kita menjadi seorang penulis profesional? Dalam arti siapkah kita melejitkan diri dalam menulis dengan cara terus belajar, menambah wawasannya, dan berdisiplin? Karena, sebagaimana perkataan Helvy Tiana Rosa bahwa belajar menulis adalah belajar seumur hidup, sampai kapanpun. Selamat berkarya dan ditolak!

*M. IQBAL DAWAMI Lahir di Pandeglang, 02 Mei 1982 telah menyelesaikan program pendidikan S-1 jurusan Bahasa dan Sastra Arab di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta . Pernah aktif di HMI cabang Yogyakarta komisariat fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan sebagai redaktur pelaksana bulletin Progress HMI. Selain itu juga pernah mengurus media kampus yaitu jurnal Wahatul Adab sebagai sekretaris redaksi. Sekarang mengurus lembaga penerjemahan Tape Translation, dan koordinator komunitas GARIS.

(2) Psikologi Duit: Konsisten Pangkal Kaya

Oleh: Rab A. Broto


Perubahan dari khawatir kondisi akan lebih buruk bila melakukan hal lain ke pola pikir ‘apa yang mungkin’ jelas memberi konsekuensi berbeda. Berpikir tentang ‘apa yang mungkin’ memperluas wawasan sadar dan bawah sadar tentang keberlimpahan. Kasus nyata bisa diamati adalah pada sejumlah anggota komunitas manusia perahu Vietnam yang berimigrasi ke AS. Banyak warga Amerika mengkhawatirkan dampak negatif yang bisa terjadi pada kesejahteraan dan layanan publik lainnya saat mereka masuk.

Tapi menariknya banyak imigran Vietnam yang masuk ke dunia bisnis dengan inisiatif sendiri sering akhirnya menuai kesuksesan besar. Jawaban jelas kenapa mereka sukses adalah bahwa para manusia perahu itu telah melampaui ambang batas ketertindasan.

Dari awalnya berada di negeri yang bila berkata salah saja konsekuensinya adalah kepalanya ditembus pelor, mereka kini masuk ke negeri di mana hal terburuk yang mungkin terjadi adalah orang akan menelepon atau menghinanya saat tak bayar utang.

“Jika Anda datang dari dunia di mana kematian adalah kenyataan yang sering sekali dihadapi ke dunia di mana pilihan tak terbatas, jelas sama sekali tak ada alasan untuk tidak mencoba berbagai kemungkinan yang tersedia.”

Jadi alih-alih marah atau nelangsa karena mesti meninggalkan negeri tumpah darahnya, mereka tampak sangat mensyukuri hidup. Alih-alih tenggelam dalam kesesalan atau mengasihani diri sendiri, banyak di antara manusia perahu mengadopsi sikap kreatif.

Sikap kreatif ini terutama berada di seputar pertanyaan ‘apa yang mungkin?’ Meskipun jelas saat di awal kedatangannya dua atau tiga keluarga harus berdesakan tinggal dalam satu apartemen sempit dan mendapat gaji minimum saat mulai mencari nafkah.

Kreatifnya dalam keterbatasan itu justru mereka mengumpulkan sisa gaji dari yang dibelanjakan bagi kebutuhan hidup rutin. Saat uang tabungan bersama itu mencapai jumlah cukup, mereka memutuskan memulai usaha sendiri dan semua keluarga membantu di situ.

Begitu bisnis berkembang dan memberikan hasil, mereka membeli aset properti untuk investasi. Begitu seterusnya. Bagi para mantan manusia perahu itu, sukses merupakan satu penegasan tentang apa yang mungkin bagi mereka.

Mereka mau dengan sepenuh hati menderita beberapa waktu untuk meraih tujuan jangka panjangnya agar makmur dan sejahtera. Ini jelas hanya masalah menentukan prioritas dan bagaimana mereka mengelompokkan sejumlah kemungkinan yang berbeda.

Jadi prinsipnya setiap orang bisa melakukan apapun yang diinginkan. Pertanyaannya: apa yang akan mereka lakukan untuk mendapatkan kemungkinan hasil tersebut?

Kesabaran menentukan
Dalam soal itu mungkin kebanyakan orang Jerman bisa diteladani. Merupakan satu hal yang lazim bagi kebanyakan orang Jerman untuk menabung uangnya sebelum melakukan pembelian barang yang mahal agar bisa membayar secara kontan pada saatnya.

Di Jerman, satu-satunya utang yang kebanyakan orang miliki adalah cicilan rumah dan mobilnya. Sementara di negeri ini sangat sering warganya menulis surat pembaca karena diperlakukan kasar debt collector karena tak bisa membayar cicilan minimum kartu kreditnya.

Tampaknya orang Jerman menikmati menabung sedikit demi sedikit untuk sesuatu yang spesial. Sebabnya mereka melihat jauh ke depan, pada ganjaran mendapatkan apa yang diinginkan. Segera setelah merasakan kepuasan, mereka segera mulai menabung lagi untuk barang mahal selanjutnya atau liburan petualangannya.

Fenomena warga Jerman yang berkemampuan menunda pemuasan segera yang bisa diberikan kartu kredit ini menarik. Mereka bisa melihat ke depan saat mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan degnan antisipasi dan rasa ekstase.

Mereka tak mengeluh sama sekali karena harus menyisihkan uang setiap waktu untuk bisa mencapai tujuan selanjutnya. Mereka bahkan memusatkan diri pada rasa betapa bersyukurnya mereka atas apa yang dimiliki dan dengan sabar terus melihat apa yang akan mereka dapat.

Kemampuan menunda pemuasan adalah keterampilan yang mumpuni. Menurut Daniel Goleman, penulis buku Emotional Intelligence pada 1995, ini merupakan satu kemenangan penalaran otak atas kehendak impulsif.

“Orang yang mampu mengasah kesabarannya dengan menunda pemuasan kebutuhannya seketika cenderung akan lebih berhasil dalam hidup,” tambah Goleman yang mengutip satu hasil penelitian pada 1960-an tentang sekelompok anak yang diberi melon untuk mengetes kesabarannya.

Anak-anak dalam eksperimen tersebut diundang satu per satu masuk ke satu ruangan oleh peneliti dan masing-masing diberi satu melon. Kamu bisa memiliki satu melon ini sekarang, kata si peneliti, tapi jika menunggu sesaat saat aku pergi kamu akan mendapat dua melon saat aku kembali. Dan si anak ditinggal pergi.

Sebagian anak langsung mengambil buah itu dan sebagian mau menunggu sebelum akhirnya tak bisa menahan godaan ingin segera memakannya. Tapi ada pula yang tetap menunggu. Mereka menutup mata, bersenandung, menundukkan kepala, bermain atau bahkan tidur. Mereka melakukan apa saja untuk bertahan.

Berdasarkan survei kepada orangtua dan guru, anak-anak yang dalam usia empat tahun berkemampuan menunggu beberapa waktu untuk mendapatkan melon kedua, itu memang beda. “Mereka biasanya tumbuh dengan adaptasi diri yang lebih baik, lebih populer, suka tantangan, percaya diri dan bisa diandalkan.”

Berdasarkan uraian Goleman, bukti ini memastikan bahwa kesabaran sepertinya memainkan peran penting dalam kesuksesan banyak orang. Terkait dengan mereka yang sudah dewasa, kemampuan untuk menolak atau mengendalikan hasrat (impuls) dapat dikembangkan lewat praktik.

Saat tiba-tiba dilanda godaan kuat membelanjakan uang untuk sesuatu yang tidak sungguh Anda perlukan, ingatkan pada diri tentang berbagai tujuan jangka panjang keuangan Anda. Benturkan pula dengan situasi keuangan saat ini dengan menyadari bahwa Anda menabung sungguh untuk masa depan yang sejahtera dan berkelimpahahan.

* Rab A. Broto adalah penulis dan editor alumni Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Pengembangan Yogyakarta (LP3Y) dengan pengalaman 10 tahun. Sebelumnya, ia bekerja sebagai wartawan dan redaktur di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia. Hingga kini ia telah menulis 2.000 straight news (berita pendek ekonomi, politik dan budaya), 400 features (ekonomi, psikologi, iptek dan kesehatan), 5 makalah seminar dan buku Parent Guide (bagian dari paket pendidikan anak My First One Year Activity Book produksi Pustaka Lebah). Kini Rab A. Broto adalah ketua dewan redaksi pada majalah bulanan Indonesian Tax Review Digest dan Buletin Bee Parent yang diterbitkan Lembaga Manajemen Formasi. Ia dapat dihubungi melalui e-mail: nauram@yahoo.com

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman