Selasa, 28 Oktober 2008

RENUNGAN PARA MANAJER SEBELUM AJAL

Oleh: Suyanto Suyadi

”Pekerjaan belum selesai kok ditinggal pulang... Perusahaan sudah memberikan segalanya, tetapi apa yang kita berikan kepada perusahaan?”

Saat keluar dari toilet (kamar kecil) setelah jam kerja usai pukul 17.45, tiba-tiba mata Edy, salah seorang manajer, tertuju pada tulisan menarik yang tertempel di papan pengumunan dekat dapur. ”Wah itu sih gambarnya manajer. Pasti yang buat juga manajer. Tapi, siapa yang punya pemikiran seperti itu?” tanya Edy pada dirinya sendiri.

Langsung saja Edy kembali keruangan kerjanya. Di situ ia masih melihat ada beberapa rekan manajer lain seperti Hendra dan Narso yang sudah hendak pulang. Di sudut ruangan lain terlihat pula satu manajer yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya. ”Terlihat sangat serius dan semoga saja memang sedang menyelesaikan pekerjaan yang tertunda atau memang harus selesai saat itu juga,” kata Edy.

”Apa kira-kira maksud tulisan itu?” tanya Edy kepada salah satu rekannya. Hendra yang belum membaca tulisan yang ada di dinding itu langsung ingin tahu lebih lanjut.

”Tulisan apa, sih? Heboh banget...?!” tanya Hendra.

”Itu yang ditempel di papan pengumunan dekat dapur,” jawab Edy. ”Tulisannya menarik, ada gambar orang bekerja dengan kertas kerja menumpuk dan satunya lagi siap-siap mau pulang. Di samping itu ada lagi yang lebih menarik...tulisan yang berbunyi; ’Pekerjaan belum selesai kok ditinggal pulang. Perusahaan sudah memberikan segalanya, tetapi apa yang kita berikan kepada perusahaan?’,” tambah Edy.

Kemudian Hendra menjelaskan, ”Memang benar, perusahaan sudah memberikan fasilitas mobil bagi setiap manajer, jaminan kesehatan, dan pinjaman uang. Tetapi, kata-kata ’Pekerjaan belum selesai kok ditinggal pulang. Perusahaan sudah memberikan segalanya tetapi apa yang kita berikan kepada perusahaan?’ seharusnya tidak boleh ada. Terlebih di pasang pada papan pengumumnan yang semua orang membacanya. Yang masang pasti belum pernah mengikuti pendidikan dan pemahaman tentang SATPAM.”

Tiba-tiba Narso ikut bertanya, ”Pendidikan SATPAM model apa bagi kita para manajer?”

”SATPAM maksudnya bukan Satuan Pengamanan. SATPAM itu sebuah akronim, yang intinya adalah faktor penting yang harus selalu menjadi acuan bagi kita semua sebagai manajer,” Hendra menjelaskan.

”Merenung adalah melakukan introspeksi diri tentang sesuatu yang telah dilakukan. Ini penting, terlebih sebelum ajal kita tiba. Berbicara tentang ajal, kita tidak tahu kapan dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Esa. Waktulah yang menentukan, apakah ajal kita habis hari ini, esok, lusa, atau kapan. Kita tidak tahu,” jelas Hendra.

”Yang pasti, di dalam hidup dan kehidupan ini kita harus selalu merenung untuk terus berbuat lebih baik lagi di masa mendatang. Sebagai manusia, harus saling berhubungan baik dengan manusia lainnya. Selalu menyenangkan orang lain, tidak saling menyerang, atau menjadikan persoalan sendiri menjadi konsumsi semua orang. Saling menghormati, saling membantu, dan tidak saling menyalahkan. Apabila merasa salah langsung minta maaf. Jangan gengsi hanya karena kedudukan,” lanjut Hendra.

”Kita ini,” kata Hendra sambil menatap Edy dan Larso, ”adalah manajer sehingga jangan mudah terpancing atau berpikir negatif, bahkan menanggapi suatu masalah secara emosional. Jangan karena melihat tulisan seperti tadi, atau hanya mendengar dari orang lain tanpa berdasarkan fakta, lalu menjadikannya perdebatan berkepanjangan. Akhirnya, kita malah saling menjatuhkan atau menarik perhatian atasan dengan cara-cara yang tidak sehat.”

”Kalaupun melihat tulisan seperti yang ada di dinding tadi, lebih baik masing-masing dari kita melakukan introspeksi. Bertanya pada diri sendiri, mengapa tulisan itu ada? Apa hikmah yang didapat dari tulisan itu? Adakah cara lain yang lebih terpuji?” jelas Hendra setengah bertanya.

PEKERJAAN BELUM SELESAI KOK … DI TINGGAL PULANG ...
PERUSAHAAN SUDAH MEMBERIKAN SEGALANYA ….
TETAPI, APA YANG KITA BERIKAN KEPADA PERUSAHAAN...?

Masalah pulang atau meneruskan pekerjaan—walapun jam kerja usai—itu adalah urusan masing-masing orang. Bisa saja sampai tengah malam, atau hari libur pun kalau perlu tetap kerja. Itulah salah satu bentuk tanggung jawab sebagai manajer.

Mari kembali kepada akronim SATPAM dan makna pentingnya. SATPAM itu berarti:

S – Sense of belonging and sense of responsibility, yang artinya setiap manajer harus mempunyai rasa ikut memiliki dan ikut bertanggung jawab terhadap maju mundurnya perusahaan. Ini tidak bisa ditawar lagi. Mereka harus memahami fungsi dan keberadaannya sebagai manajer secara utuh. Manajer harus paham dengan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya, termasuk mengelola sumber daya yang ada, kontrbusinya, serta memastikan bahwa kinerja yang dihasilkan terus memberikan perubahan ke arah positif.

A – Assure, yang artinya memberikan jaminan, memastikan bahwa setiap tugas dan tanggung jawab yang diberikan benar-benar sudah selesai secara prima. Excellence, bukan selesai ‘asal-asalan’. Ada hasil nyata. Di samping itu, ada mindset atau pola pikir bahwa apa yang telah diselesaikan adalah awal dari kegiatan orang lain. Ini berarti, manajer harus siap melayani orang lain.

T – Target oriented, artinya berorientasi pada target, bukan proses. Manajer harus berani membuat perencanaan yang relalistis, terukur, dan mempunyai komitmen tinggi untuk meraih serta merealisasikannya. Manajer pun sebaiknya tahu bagaimana menjadikan orang-orang di bawahnya mempunyai semangat untuk meraih sesuatu yang telah direncanakan dan dipahami bersama. Kalaupun mendapatkan kegagalan, itu berarti manajerlah yang pertama harus berani mengatakan, ”Saya gagal!” Bukan yang lainnya.

P – Punctuality, yaitu ketepatan waktu pembuatan laporan kepada atasan, berikut akurasinya, serta sistematis, terarah, dan terukur. Manajer selalu bicara dengan data serta berani menepati janji yang telah disampaikan, termasuk kepada bawahannya.

A – Acceptable, yaitu dapat diterima baik sikap, pemikiran, maupun tindakannya. Manajer harus punya spirit untuk menjadi pemain tim (team player), selalu menghargai orang lain, tidak mudah menyalahkan, serta mempunyai rasa empaty. Ibarat sebuah satuan mata rantai, maka manajer tidak boleh meninggalkan salah satu rantai yang paling lemah sekalipun.

M – Maturity level of thinking, yang artinya manajer senantiasa harus berpikir secara dewasa. Dalam berpikir dan bertindak dewasa, seorang manajer selalu memerhatikan untung ruginya. Apa pun tindakan yang dilakukan akan didasari dengan pemikiran yang rasional dan selalu mempertimbangkan dampaknya. Sebab, dalam mengelola bisnis yang paling rumit adalah mengatur dan mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan manusia, bukan yang lainnya.

“Jadi intinya…,” kata Hendra sambil melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 18.15, “tulisan tadi tidak perlu dibahas lebih lanjut. Kita ambil maknanya mengapa tulisan itu ada. Kalau kita ada masalah dengan sesama manajer atau dengan atasan, kita harus membicarakan pada tempat dan waktu yang tepat. Bukankah kalau kita menegur orang atau mengingatkan tentang kekeliruan orang lain, tidak harus diketahui banyak orang? Kalau memberikan pujian atau apresiasi atas keberhasilan, itu baru boleh di tempat umum. Mari kita renungkan bersama.”

Selanjutnya, Hendra mengajak Edy dan Narso pulang serta menyampaikan salam kepada seorang rekan di sudut ruangan yang masih bekerja, “Pulang duluan ya… Sampai besok.”[ss]

* Suyanto Suyadi adalah seorang trainer dan konsultan personal and organization management dari PT Sedya Sandika. Peserta ”Two Days Workshop: Writing for Managers and Executives Batch VIII”, ini sedang menulis sebuah buku tentang renungan bagi para manajer. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail: ss_otnay@yahoo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman