Jumat, 31 Oktober 2008

JANGAN JADI DIRI SENDIRI

Oleh: Mugi Subagyo

Saya yakin bahwa Anda sering mendengar nasihat: “Jadilah dirimu sendiri”.

Entah bagaimana Anda menyikapinya, karena buat saya, itu berarti hidup apa adanya. Menjadi diri sendiri sesuai dengan keadaan, kondisi, sarana, mental dan spiritual seadanya. Dengan kata lain hidup tidak perlu macam-macam, jangan neko-neko. Jadilah orang biasa saja seperti apa adanya kamu sekarang. Bukankah seperti itu pemahamannya?

Atau mungkin juga yang dimaksud pesan tersebut adalah: Menjadi diri sendiri, sesuai dengan karakter serta jiwa yang sudah ada pada diri masing-masing individu. Namun jika memang seperti itu, siapa yang dapat menunjukkan tentang karakter Anda? Siapa yang dapat memberitahu jalan hidup Anda? Siapa yang dapat memperlihatkan masa depan Anda kelak? Bagaimana awal langkah untuk bisa menjadi diri sendiri?

Bertahun-tahun sudah saya jalani untuk menjadi diri sendiri, namun apa yang saya peroleh hanya keraguan, kebimbangan; akan jadi apa saya 5, 10, atau 20 tahun yang akan datang? Mungkin Anda juga termasuk dalam golongan orang-orang yang “belum menjadi diri sendiri”. Kita terbiasa mengerjakan apa yang biasa kita kerjakan, maka kita juga mendapatkan apa yang biasa kita dapatkan. Untuk itu, lakukan hal yang luar biasa (seperti judul buku karangan Eni Kusuma: Anda Luar Biasa!!!), maka Anda akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa pula.

Karena manusia hidup, bukan sebagaimana adanya, melainkan bagaimana seharusnya.

Jangan Jadi Diri Sendiri, Jadilah Peniru!

Hal yang menjadi dasar manusia dalam belajar adalah “sifat peniru”. Tuhan memberikan cahaya melalui matahari, manusia menirunya dengan membuat lampu. Tuhan buat hutan, manusia membuat taman. Tuhan tegakkan gunung-gunung sebagai tempat tinggal flora dan fauna, manusia ciptakan gedung-gedung. Tuhan ciptakan lapisan luar dari buah-buahan seperti: pisang, semangka, jeruk, kelapa; sebagai pembungkus yang sangat berkualitas, maka manusia ciptakan plastik. Tuhan ciptakan burung, manusia ciptakan pesawat. Sistem sonar pada lumba-lumba ditiru manusia. Pelukis meniru dari apa yang dilihatnya, dan masih banyak lagi contoh yang membuktikan bahwa kita belajar dengan meniru.

Meniru bukanlah merampok. Jika Anda mengambil tulisan orang lain dan mengakuinya sebagai buah karya Anda (plagiat), itu merampok; bukan meniru! Jika Anda mengambil ide orang lain, lalu membuatnya sama persis, itu mencuri! Anda bisa saja mengambil mutira dari kerang, lalu menunjukkan pada orang-orang yang tinggal di gunung, di mana mereka tidak pernah tahu tentang laut, kemudian Anda menyatakan bahwa mutiara itu Anda buat sendiri. Mungkin mereka percaya. Tapi sampai kapan? Anda tidak bisa memproduksi mobil memakai nama Anda, dengan meniru desain dari Toyota misalnya, karena orang akan tahu; produk Anda tidak akan laku dan itu menjiplak, bukan meniru! Meniru adalah kegiatan mencontoh dari apa yang kita lihat, rasakan, dan pelajari, untuk kemudian diperbaharui. Seiring waktu proses belajar yang Anda jalani, maka akan timbul dan lambat laun tercetak jelas warna dari karakter Anda sendiri.

Sebagai contoh: Sebagai penulis pemula, Anda menulis dengan meniru gaya penulisan, teknik penulisan, format penulisan, bahkan mungkin di tahap awal Anda juga meniru pola pikir penulis idola Anda; bukan menjiplak atau merampok! Sejalan dengan proses belajar menulis tersebut, Anda akan menemukan jiwa yang cocok dalam teknik menulis, akan Anda temukan nyawa tulisan Anda, dan akan Anda sadari bahwa ternyata Anda beda! Anda luar biasa!

Meniru “Sang Idola”, Menggenggam Kesuksesan

Saat ini banyak orang yang masih belum tahu, kapan cita-citanya terwujud. Banyak yang belum bisa dan bingung mengenai langkah-langkah yang harus ditempuh untuk meraih tujuannya; lebih parah lagi masih ada orang yang belum tahu mau jadi apa, apa cita-citanya, gelap dengan tujuan hidupnya.

Salah satu hal paling mudah untuk menentukan cita-cita atau tujuan hidup di masa depan, adalah kesukaan atau kegemaran (hobi). Jika Anda menyukai berdagang, jadilah pedagang yang sukses. Jika kegemaran Anda berkutat dengan komputer, jadilah ahli di bidangnya. Jika Anda merasa damai dengan melukis, mendesain; jadilah pelukis atau desainer. Dan jika Anda bangga menulis karena yakin tulisan Anda akan membantu banyak orang, ide Anda dapat dimanifestasikan orang lain meski di suatu saat, dan Anda masih tetap “hidup” meski telah tiada, maka jadilah penulis. Jadilah apa saja yang sesuai dengan kegemaran Anda. Karena orang yang melakukan kegemarannya sekaligus sebagai profesi pekerjaannya, dia akan jauh lebih berhasil dibandingkan orang yang melakukan aktivitas kerja karena terpaksa.

Langkah selanjutnya Anda cukup mencari idola, siapa yang Anda kagumi. Kemudian pelajari hal-hal yang membuat idola Anda tersebut bisa sukses, lalu tirulah! Tiru saja apa-apa yang menjadi langkah keberhasilannya, tiru semangatnya, tiru mental berpikirnya. Jangan buang percuma energi mental Anda untuk hal yang tidak ada hubungannya dengan tujuan Anda.

Anda akan menemukan bahwa apa-apa yang Anda tiru dan berhasil untuk sang idola, ternyata dapat lebih berhasil lagi dengan sentuhan pribadi. Karena kita semua tahu, bahwa apa yang baik dan berhasil dilakukan orang lain, belum tentu sukses untuk diri Anda. Di sini Anda akan temukan kekurangan ataupun kelebihan dari formula idola Anda. Anda cukup menambahkan, mengurangi atau mengganti idola dengan idola lain yang sama bidangnya.

Keuntungan lain dari meniru sang idola adalah waktu. Waktu yang ditempuh oleh idola Anda untuk sukses, bisa jadi sebagai waktu yang panjang, kesabaran, juga jerih payah yang berkelanjutan, hingga ia dapat menemukan cara yang tepat atau teknik yang langsung ke sasaran. Sedangkan dengan meniru, Anda sudah tahu ilmunya, dapat membaca langkahnya, dan cukup menambahkan atau mengurangi dari apa-apa yang tinggal kita ikuti, kita tiru. Selanjutnya, perkembangan karakter yang menunjukkan bahwa Anda beda, Anda luar biasa; tidak menjadi pikiran maupun halangan, karena itu terjadi dengan sendirinya selama proses Anda belajar dengan meniru. Bahkan mungkin tanpa sadar Anda sudah menjadi diri sendiri yang berbeda dengan sang idola.

Jadi bagaimana? Cukupkah menjadi diri sendiri? Itu artinya Anda terima keadaan sekarang, terima kenyataan bahwa setelah lahir, besar, sekolah, kerja, menikah kemudian punya anak dan.. mati! Atau jangan menjadi diri sendiri? Dengan meniru idola, mengikuti langkah-langkahnya dengan menjadikan idola Anda sebagai guru sekaligus rival. Anda menjadi seorang pembelajar, dengan menjadikan orang yang Anda kagumi, sebagai kelinci percobaan Anda yang telah berhasil menjalani eksperimen, atau percobaan-percobaan dalam mencari tujuan hidup.

Tidak perlu takut dengan pikiran bahwa Anda akan menjadi sama dengan idola Anda. Karena Tuhan menciptakan masing-masing individu berbeda satu dengan lainnya, bahkan jika Anda ternyata saudara kembar dari idola Anda, maka Anda tetap individu yang berbeda.

Jadilah peniru untuk menjadi diri sendiri, bukan langsung menjadi diri sendiri!

Salam Bahagia.

Jakarta, 27 Juni 2007

* Mugi Subagyo adalah praktisi SDM di perusahaan multinasional, pengamat Teknologi Informasi, graphic designer, senior di dunia percetakan, dan pemerhati bahasa & sastra Indonesia, serta alumnus Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) Angkatan II. Mugi dapat dihubungi melalui email: mugisby@yahoo.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman