Minggu, 02 November 2008

ANTARA KEMAUAN DAN KEHARUSAN

Oleh: Afra Mayriani

Hari ini kantor saya mengadakan casting untuk mencari seorang icon cilik. Icon yang akan mewakili perusahaan saya, yang kebetulan bergerak di dunia pertelevisian. Pesertanya lumayan banyak. Kesemuanya berasal dari dunia keartisan negeri ini. Rata-rata mereka pernah bermain sinetron. Di antaranya bahkan telah malang melintang sebagai ”bintang iklan” berbagai produk.

Banyak kejadian lucu dan tidak terduga selama casting berlangsung. Spontanitas dan keberanian mereka mengeluarkan berbagai ekspresi patut dibanggakan. Sebagai generasi muda, mereka sudah tidak malu atau sungkan lagi menuangkan gagasan dan isi kepala mereka. Tidak seperti zaman saya dulu. Paling malu jika sudah disuruh menyanyi atau bicara di depan kelas.

Para artis cilik ini terlihat sangat antusias dan semangat mengikuti casting. Walaupun mereka harus rela lama menunggu giliran untuk dipanggil. Namun, ada hal yang sangat tidak saya duga. Hampir keseluruhan peserta tidak mengetahui tujuan mereka mengikuti casting. ”Wah, Mama nggak kasih tahu tuh. Aku sih dibilangin ikut casting doang,” jawaban polos dan singkat.

Mereka rata-rata tidak mengetahui tujuan yang sesungguhnya dari kegiatan yang mereka ikuti barusan. Ironis, bukan? Bukankah seharusnya orangtua (dalam hal ini mama) memberikan informasi yang jelas tentang tujuan anak-anaknya melakukan suatu kegiatan tertentu? Tidak saja sekedar menyuruh ini dan itu tanpa disertai alasan yang jelas.

Tetapi, di sini kenyataan yang saya temui sungguh berbeda. Para ibu ini membuat deal tertentu tanpa sepengetahuan anaknya. Kemudian, mereka membuat jadwal temu casting pemilihan yang wajib diikuti anaknya. Lucunya, si anak tanpa tahu tujuan apa pun tetap saja ikut pergi dengan si mama. Semangat kemenangan dan antusiasme mereka pun terlihat jelas pada sinar bola mata kepolosan.

Kemauan dan keharusan menjadi tipis bedanya atau malah tidak berbeda lagi sekarang. Kemauan yang datang bukan dari si anak. Melainkan dari sang bunda. Dan, keharusan yang harus dilakoni si anak, keduanya melebur melahirkan nilai kehendak lebih pada diri si anak. Terutama kehendak yang telah menjadi keinginan terdalam untuk terpilih atau menang.

Dari kejadian tersebut, terpikir dalam benak saya, sebenarnya yang ingin jadi artis itu siapa? Si anak atau orangtua, ya? Bukankah seharusnya kemauan itu datangnya harus dari si anak? Dan, di sini orangtua hanyalah sebagai pendukung bukan pendorong. Ataukah sudah terbalik peranannya? Bagaimana menurut Anda?

Si anak terlihat sangat keras mempelajari materi yang saya berikan di awal. Mereka membaca dan menanyakan apa yang perlu mereka ketahui, secara langsung di tempat. Mereka belajar secara cepat. Mereka melakukan improvisasi bersamaan dengan saat kamera merekam. Tidak ada banyak waktu untuk belajar.

Di dunia entertainment ini memang harus langsung action. Di sini peranan sang bunda terlihat begitu menonjol. Bunda sebagai sosok utama yang mendorong serta menyemplungkan cita-cita dirinya ke dalam diri anak-anak mereka. Orangtua menjadi rancu akan cita-cita awal si anak. Mereka membalikkan cita-cita awal anak-anak tersebut, yang tadinya ingin jadi dokter atau astronot, kini berubah menjadi public figure.

Dalam kasus ini anak-anak dituntut untuk menjalani dua peranan sekaligus. Peran pertama adalah sebagaimana layaknya anak-anak. Yang harus bersekolah, mencapai nilai bagus, dan mengikuti berbagai les di luar sekolah. Peranan kedua adalah menjadi seorang artis yang laris dan menerima banyak tawaran di mana-mana.

Si anak harus belajar giat, tekun, sambil mengasah terus kemampuannya di bidang keartisannya. Tapi, bukankah orangtua mereka juga patut belajar? Belajar untuk menemukan apa yang benar-benar diingini oleh anak-anaknya. Belajar memahami, mendalami, dan mendengarkan keinginan-keinginan murni mereka. Belajar berkomunikasi dua arah dengan anak-anaknya. Dan, belajar menginformasikan segala sesuatu yang berkaitan apalagi dijalani oleh anak-anaknya.

Jika sudah begitu, maka tidak akan ada lagi dorongan yang sifatnya paksaan. Tidak ada lagi anak-anak yang diharuskan menjadi artis atau komoditas dunia hiburan. Anak-anak juga perlu tahu tujuan-tujuan dari apa yang mereka lakukan. Karena, hal itu berkaitan dengan tujuan hidup mereka ke depan. Siapkah Anda sebagai orangtua untuk mulai belajar? Bahwa, kemauan dan keharusan itu memang berbeda.[am]

* Afra Mayriani adalah seorang programer. Ia dapat dihubungi di email: aframayriani@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman