Minggu, 02 November 2008

KARMA CINTA

Oleh: Alexandra Dewi


Vivi dan Sandra berteman baik. Mereka sudah kenal satu sama lain sejak masih di bangku SMA. Ini cerita yang diungkap Sandra tentang Vivi. Cerita dimulai saat Vivi pertama kali berjumpa dengan Andre. Saat pertemuan itu Vivi berusia 20 tahun. Sandra mengenal Vivi sebagai perempuan yang tipenya terbuka, spontan, dan cenderung wild. Kata Sandra, Vivi akan berusaha mencoba segala hal, setidaknya sekali saja. Tak heran jika Vivi sangat senang berpetualang. Termasuk ketika baru mengenal Andre, dia langsung berhasrat mengarungi samudera cinta bersama pria tersebut. Untuk petualangannya dengan Andre kali ini, Vivi seperti pakai kacamata kuda.

Vivi bukanlah tipe cewek pencemburu. Kalau Andre ingin pergi hanya dengan teman-teman prianya, Vivi selalu oke-oke saja. Vivi malah heran kalau ada perempuan yang tidak mau memberi “space” kepada pacarnya. Vivi bilang kepada Sandra, “San, biarin aja cowok kita ke sana ke mari, yang penting pulang ke tempat kita juga.”

Tapi berbeda dengan Vivi, Sandra ternyata sangat tidak setuju dengan pandangan tersebut. Bukannya Sandra tidak percaya kepada pacarnya, tapi dia tidak percaya pada lingkungannya. “Segerombol pria berduit, pergi ke klub-klub, mau ngapain kalau bukan mau cari ‘selingan’? Belum lagi nanti pengaruh alkohol. Apa saja bisa terjadi dalam situasi semacam itu,” ungkap Sandra.

Menurut Sandra, sebagian besar teman-teman perempuannya setuju dengan sikapnya tersebut. Walau begitu, Sandra salut pada sikap Vivi. Karena memang tidak mudah bisa punya ‘keyakinan’ seperti itu sekaligus membebaskan cowoknya berada di lingkungan yang penuh godaan.

Selama Vivi dan Andre pacaran, Sandra melihat mereka berdua merupakan pasangan yang sempurna. Tapi muncul tanya dalam benak Sandra, “Kapan ya mereka menikah?” Padahal, mereka sudah tinggal dalam satu rumah. Di Amerika tinggal serumah sebelum menikah adalah hal yang lumrah. Tidak seperti di Asia yang masyarakatnya lebih konservatif. Karena tinggal serumah dan sudah jadi pasangan selama lebih dari sepuluh tahun, Vivi dan Andre layaknya pasangan “suami-istri” saja. Hanya saja, mereka adalah pasangan suami-istri tanpa pesta pernikahan dan akte nikah. Jadi kalau ditanya kapan menikah, jangan heran kalau jawaban mereka begini; “Buat apa?” atau kadang-kadang, “Maybe next year...” Dari tahun ke tahun selalu begitu jawabannya, sekalipun satu demi satu teman seangkatannya telah menikah.

Selama mereka pacaran, Andre bukanlah tipe pria pelit. Apa saja yang diinginkan Vivi, asal Andre sanggup, pasti dibelikan. Mereka berdua juga sering traveling ke Eropa, Maldives, dan Jepang, pokoknya melebihi pasangan suami-istri yang sedang menikmati bulan madu. Keakraban, kedekatan, dan kemesraan mereka sebagai pasangan tampak begitu sempurna. Sampai suatu ketika, Andre dan Vivi putus hubungan setelah usia pacaran mereka melewati tahun kesebelas.

Menurut versi Andre, dia putus bukan karena Vivi tidak bisa punya anak. Tapi karena ada satu karakter Vivi yang—setelah Andre renungkan masak-masak—diyakininya akan sulit menjadikan mereka berdua sebagai pasangan yang berbahagia. Sebelas tahun mereka pacaran, Vivi sebenarnya pernah hamil. Karena waktu itu usia mereka berdua masih terlalu muda, Andre dan Vivi memutuskan untuk aborsi.

Ketika Vivi hamil yang kedua kalinya, mereka sepakat untuk aborsi lagi. Supaya tidak terjadi kehamilan berulang yang tak diinginkan, Vivi memutuskan pasang spiral, alat kontrasepsi yang dianggapnya aman dan mampu bertahan lima tahun. Ketika sampai waktunya spiral dilepas, ternyata tumbuh semacam kista atau infeksi dalam rahim Vivi. Akibatnya, kemungkinan Vivi hamil lagi tinggal sekitar sepuluh persen saja.

Sandra tahu betul kalau Vivi sangat suka terhadap bayi dan anak-anak. Kalau mereka jalan-jalan di mal dan menjumpai bayi atau anak kecil, Vivi selalu berhenti sejenak untuk bergurau dengan mereka. Saking demennya bercanda dengan anak orang, Sandra sampai mengingatkan Vivi demikian, “Vi, jangan pegang-pegang bayi orang! Belum tentu mamanya mengizinkan, lho!“ Tak diragukan sama sekali, Vivi sangat menyukai anak-anak. Maka ketika mendengar kabar kemungkinan dirinya bakal sulit punya anak, Vivi sangat sulit menerimanya.

Setelah putus dengan Andre, Vivi jadi sangat tertekan. Ia coba menghubungi orangtua Andre, saudara-saudara, dan juga teman dekat Andre. Siapa tahu salah satu di antara mereka mampu membuat Andre berubah pikiran? Tapi hasilnya nihil. Vivi berkeluh kesah kepada orang-orang itu, “Sebelas tahun aku habiskan waktuku bersama Andre. Kalau dia bilang aku bukan orang yang dia inginkan, mengapa tidak dia katakan waktu usiaku masih 25 tahun? Sekarang aku 31 tahun dan aku juga tidak bisa punya anak lagi. Dia mencampakkan aku begitu saja!”

Sandra mencoba menghubungi Andre. Ia sampaikan keluhan Vivi bahwa dirinya telah menghabiskan waktu sebelas tahun bersamanya. Andre menjawab enteng, “Yeah, me too!” Sandra merasakan betul kekecewaan Vivi. Menurutnya, ada perbedaan hasil akhir dalam sebelas tahun hubungan Andre dan Vivi. Kini Vivi adalah seorang perempuan berusia 31 tahun dan divonis bakal tidak bisa hamil lagi.

Sedangkan Andre, dia kan laki-laki, sekalipun berusia 35 tahun, dia tidak punya masalah soal bisa memberi keturunan atau tidak. Realistis saja, dan bukan pesimistis, siapa kelak yang mau menikahi Vivi? Adakah pria yang mau menikahi perempuan yang divonis bakal tidak bisa punya anak? “Kok enak ya jadi laki-laki?” protes Sandra.

Lalu, hanya beberapa bulan semenjak putusnya hubungan tersebut, Andre sudah menemukan pacar barunya. Sementara Vivi meninggalkan Amerika Serikat untuk pindah ke Hong Kong demi mengubur kenangan lamanya. Pacar baru Andre, Cindy namanya, ternyata kenalan Vivi juga. Cindy dan Vivi pernah makan malam semeja dengan Andre dan teman-teman mereka berdua. Vivi pun pernah menunjukkan kepada Sandra foto bersama mereka sebagai satu kelompok teman akrab. Saat foto itu diambil, Vivi sudah merasakan sesuatu yang ganjil. Walau begitu, Vivi tak menaruh curiga berlebihan.

Tapi yang menyedihkan adalah fakta bahwa Andre kenal Cindy pertama kali di sebuah klub malam, saat Andre ngeklub bersama teman-teman prianya alias “guys night out”. Padahal, waktu itu Vivi pernah bilang pada Sandra, “Biarlah laki-laki ngeklub bersama teman-teman prianya, toh mereka akan pulang juga ke tempat kita.”

Satu setengah tahun sejak Vivi dan Andre putus, Andre menikahi Cindy. Sebelas tahun Andre mengaku “belum siap“ dengan Vivi lalu tiba-tiba dia menyatakan sudah “siap” untuk menikah dengan Cindy. Bisa dibayangkan betapa sakit hatinya Vivi mengetahui sikap Andre itu.

Tiga tahun berikutnya, Sandra tidak pernah mendengar kabar dari Vivi. Semua email-nya tidak pernah dibalas. Tiba-tiba saja Vivi seperti hilang ditelan bumi. Tapi Sandra selalu mencoba menghubungi Vivi, just to show her bahwa dirinya masih peduli dan ingin berteman selamanya dengan Vivi. Sampai suatu kali, Vivi membalas email Sandra serta melampirkan sebuah foto. Dalam email-nya Vivi bercerita bahwa dirinya berjumpa dengan seorang pria Jerman. Laki-laki itu pernah menikah, tapi kemudian bercerai dan mendapatkan tiga orang anak dari pernikahan pertama tersebut. Dari foto bersama pacar barunya itu, tampak sekali Vivi is glowing. Begitulah raut muka orang yang sedang jatuh cinta.

Sandra hampir tak mempercayai kabar terakhir Vivi tadi. Tapi Tuhan memang Maha Penyayang. Vivi bertemu jodoh yang sempurna. Justru karena tidak bisa punya keturunan lagi, Vivi malah menemukan seorang laki-laki baik hati yang telah dikaruniai tiga orang anak yang lucu-lucu dari pernikahan sebelumnya.

Sementara kabar yang tampaknya bertolak belakang datang dari Andre. Setelah beberapa tahun menikahi Cindy, Andre tetap saja belum mendapatkan anak sebagaimana yang dia inginkan. Bukan karena tidak bisa punya anak, tapi karena ternyata Cindy menyatakan dirinya tidak suka dengan anak kecil. Cindy bersikukuh dirinya tidak ingin punya anak.

Sampai detik terakhir, Sandra sangat bahagia menerima kabar bahwa Vivi masih berbahagia bersama pacar barunya serta tiga anaknya yang lucu-lucu itu. Meresapi kisah sahabat-sahabatnya tadi, Sandra menuliskan kalimat-kalimat renungan dalam catatan hariannya.

“Untuk perempuan yang sudah berumur memang akan semakin sulit mendapatkan jodoh. Padahal, laki-laki berumur 50 tahun saja masih bisa mendapatkan jodoh yang jauh lebih muda. Banyak perempuan patah hati dan merasa dunianya sudah kiamat jika tidak segera mendapatkan jodoh. Namun, kisah Vivi di atas semoga dapat menguatkan hati kaum perempuan yang sedang patah arang dengan kehidupan cintanya. Tetaplah dalam keyakinan terdalammu! Akan tiba saatnya cinta itu datang kepadamu. Sebab dirimu sungguh berarti, karena Tuhan sungguh mencintaimu, dan dirimu sungguh layak untuk dicintai.”[ad]

* Alexandra Dewi adalah co-author buku laris “I Beg Your Prada” (GPU, 2006). Ia menaruh perhatian besar pada karir dan kehidupan para lajang metropolitan. Saat ini, buku keduanya yang berjudul “Get the Ring” sedang dalam proses penerbitan. Dewi dapat dihubungi melalui email: inthelalaland@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman