Minggu, 02 November 2008

MENGAPA PEJABAT MESTI BACA TULISAN BURUH?

Oleh: Bonari Nabonenar


Pasar buku kita, belakangan disemarakkan pula oleh buku-buku karya para buruh [terutama buruh migran]. Anda bisa membeli dan membaca buku Catatan Harian Seorang Pramuwisma karya Rini Widyawati [asal Malang], kumpulan cerpen Penari Naga Kecil karya Tarini Sorrita [Cirebon], kumpulan cerpen Majikanku Empu Sendok karya Denok Kanthi Rokhmatika [Malang], kumpulan cerpen Hong Kong Namaku Peri Cinta [Wina Karni, dkk], kumpulan cerpen Perempuan Negeri Beton karya Wina Karnie [Magetan], kumpulan cerpen Nyanyian Imigran [Etik Juwita, dkk]. Sekadar contoh, buku-buku itu lahir dari rahim para perempuan pekerja rumah tangga [PRT] asal Indonesia yang bekerja di Hong Kong. Oh, masih ada lagi, sebuah buku yang dirilis sebagai buku baru [Jawa Pos, Minggu 1 April 2007] berjudul Anda Luar Biasa!!! karya Eni Kusuma [Banyuwangi]. Eni Kusuma adalah PRT yang selama ini juga bekerja di Hong Kong. Dan Perlu diketahui pula, Anda Luar Biasa!!! itu adalah sebuah buku motivasi, yang tak sembarang penulis bisa melahirkannya.

Masih ada lagi. Dalam bulan April ini dari rahim kreativitas mantan TKI Hong Kong asal Wonosobo, Maria Bo Niok, akan lahir tiga buah buku sekaligus: sebuah kumpulan cerpen, sebuah novel, dan sebuah buku motivasi.

Saya sedang tidak begitu tertarik untuk mengampanyekan kadar kesastraan buku-buku karya para TKI itu, melainkan lebih ingin mengingatkan bahwa buku-buku itu adalah buku-buku yang wajib dibaca dengan sungguh-sungguh oleh para Bupati/Walikota, Gubernur—yang menguasai wilayah penyetor TKI—dan bahkan Presiden Republik Indonesia sebagai orang nomor satu di negara ''pengekspor'' tenaga kerja ini. Wajib juga dibaca dengan sungguh-sungguh oleh kepala departemen [baca menteri], kepala dinas tenaga kerja, dan siapa saja yang bergelut dengan urusan perburuhan [termasuk per-TKI-an]. Sebab apa? Buku-buku itu adalah sumber informasi otentik mengenai dunia perburuhan, adalah rekaman suara buruh [migran] yang sesungguhnya—tanpa memandang lebih rendah suara-suara buruh yang disampaikan dengan saluran lain, selain tulisan.

Melalui tulisan karya para TKI-HK itu, misalnya, kita akan tahu bahwa ternyata fenomena lesbianisme di antara perempuan-perempuan kita begitu pesat 'kemajuannya' di HK, banyak perempuan kita yang menikah dengan lelaki setempat sekadar untuk mendapatkan visa independen dan bukan atas dasar cinta, karena dengan visa independen itu mereka akan leluasa untuk mendapatkan pekerjaan di sektor formal [tidak lagi menjadi PRT] dengan gaji jauh lebih besar daripada gaji PRT. Tetapi, ternyata banyak kasus, setelah menjadi istri lelaki setempat justru lebih diper-babu-kan oleh suami sendiri yang lebih sewenang-wenang daripada majikan lain. Dan masih banyak lagi informasi, misalnya melalui cerpen “Kabut Bukit Lok Fu”, Tania Roos [Malang] bertutur tentang seorang PRT dengan majikan yang cerewetnya minta ampun, dan berupaya menjinakkan sang majikan ini dengan bantuan orang pintar [baca: dukun] di Tanah Air. Sang Dukun mengirimkan secarik gombal [robekan jarik entah jarik siapa] supaya dimasukkan ke dalam periuk sayur ketika sedang memasak. Celakanya, Si PRT lupa mengambil gombal itu ketika menghidangkan sayur buat majikannya. Ketahuan, bukannya sang majikan menjadi semakin 'jinak' malah Si PRT mendapat hadiah kejutan: diinterminit.

Wahai para pejabat [terutama yang mengemban amanat mengurusi soal-soal perburuhan, termasuk per-TKI-an] bacalah dengan sungguh-sungguh tulisan para buruh itu. Dengan begitu kita bisa memandang mereka sebagai manusia yang utuh dengan segenap potensi lahir-batin, jiwa-raga mereka, dan bukan hanya melihat mereka sebagai ''komoditas ekspor.''

Juga, apakah kita akan kembali merelakan persoalan yang satu ini [persoalan buruh kita] lebih dikuasai [baca: lebih dipahami] oleh orang asing, setelah pada sekian banyak persoalan kebudayaan kita, ternyata orang asing, para orientalis, jauh lebih memahaminya daripada kita sendiri. Tak perlu jauh-jauh ambil contoh: ternyata Elizabeth D. Inandiak yang asal Perancis itu jauh lebih paham apa yang mesti diperbuat dengan Serat Centhini daripada orang Jawa yang semestinya berada di urutan pertama daftar pewaris karya agung budaya Jawa itu.

Sekitar tiga bulan lalu saya mendapat kabar bahwa Tania Roos dan Tarini Sorrita hendak menerbitkan kumpulan cerpen dan novel berbahasa Inggris mereka di Hong Kong. Tarini Sorrita, bahkan pernah disosokkan, tampil sepenuh halaman South China Morning Post, ruang yang pernah memuat 'sosok' sastrawan Indonesia sekaliber Ayu Utami dan Sitok Srengenge. Begitulah, di 'luar', buruh yang menulis ternyata dipandang dengan begitu hormat. Bagaimana halnya dengan di kampung halaman mereka sendiri?

Jika Festival Sastra Buruh 2007 yang digelar di Blitar [30 April – 1 Mei] nanti berlangsung sukses, setidaknya kita boleh merasa mendapatkan secercah harapan baru. Sebab, kita pernah mengalami masa-masa ketika para buruh itu: membaca karyanya sendiri pun dilarang. [BN]

* Bonari Nabonenar adalah seorang budayawan, penggerak sastra buruh, dan penggagas Festival Sastra Buruh 2007. Karyanya antara lain; “Cinta Merah Jambu” (JP-Book,2005), “Mimpi dan Badai” (KLogung Pustaka, 2005), dan “Semar Super” (Alfina, 2006). Ia dapat dihubungi di: bonarine@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman