Minggu, 02 November 2008

MENYIKAPI MARAKNYA VENDOR-VENDOR TRAINING

Oleh: Krisnawan Putra


Seiring ketatnya persaingan bisnis dewasa ini, banyak perusahaan berlomba menjadi yang terdepan, terbaik, dan terunggul. Berbagai strategi untuk memenangkan pasar digelar. Ada yang melakukan diversifikasi produk, memberi diskon harga lebih besar dari pesaing, membeli teknologi tercanggih, memborbadir konsumen dengan iklan, mengusung brand-brand yang sudah mendunia.

Bagaimana di bidang sumber daya manusia? Tidak bisa dimungkiri, banyak perusahaan yang berani menginvestasikan dananya untuk pengembangan kompetensi karyawan melalui kegiatan training. Mustahil memenangkan persaingan—sekalipun dengan segala macam keunggulan—bila tidak didukung keunggulan SDM. The Man Behind the Gun. Demikian yang menjadi reasion d’etrenya.

Gayung bersambut! Lahirlah berbagai lembaga/perorangan (vendor) yang menyediakan jasa training. Tidak sulit menemukan lagi alternatif lembaga penyedia jasa training di luar yang sudah bertahun-tahun berdiri, semacam PPM, Prasetiya Mulya, PQM, atau DDI. Hampir di koran/majalah/tabloid ternama memuat training promo dari penyedia-penyedia jasa ini. Sebuah perkembangan yang positif.

Namun demikian, perlu kiranya sikap kehati-hatian tetap kita kembangkan dalam menyikapi situasi ‘positif’ ini. Tidak jarang karyawan yang telah dikirim dalam suatu training belum dapat menunjukkan perbaikan kinerja seperti yang diharapkan. Banyak penyebab yang menjadikannya. Di samping oleh faktor karyawan sendiri yang untrainable, situasi lingkungan kerja yang tidak kondusif untuk diterapkannya knowledge dan skill baru hasil training, dapat juga disebabkan oleh ketidaktepatan dalam memilih vendor training.

Beberapa ‘penyakit’ terkait pemilihan vendor training yang perlu diwaspadai, sbb:

1. Tergiur oleh iklan training/seminar yang biasanya mempergunakan bahasa yang cukup ‘memerangkap’. Pada praktiknya tidak jarang peserta justru tidak mendapatkan banyak manfaat oleh karena pembahasan kurang fokus seperti iklan yang ditampilkan. Nama besar juga tidak selamanya menjamin, karena biasanya justru pembicara seperti ini akan mendongeng kisah-kisah sukses masa lalu, yang mana untuk diimplementasikan pada perusahaan peserta training sangat berbeda situasinya.

2. Sulitnya para pembicara mengembangkan materi training di luar yang sudah biasa diberikan, sementara kebutuhan untuk menambah knowledge dan skill baru karyawan lebih cepat perkembangannya. Yang terjadi biasanya adalah copy paste materi termasuk contoh-contoh/ilustrasi kasus yang dibahas.

3. Modul-modul training yang ada di market sangat generik. Terkadang peserta terjebak hanya pada judul modul tanpa mengklarifikasi dan mengkonfirmasi lebih lanjut sasaran training, topik-topik training, desain dan metode yang akan disajikan.

Strategi memilih vendor training yang baik:

1. Perkuat jaringan sesama pengelola training/HRD di perusahaan. Informasi dari rekan pengelola training/HRD perusahaan lain yang pernah menggunakan jasa vendor training tersebut sangatlah penting. Ini sangat powerfull untuk mengimbangi janji-janji yang ditabur vendor training pada kegiatan promosi mereka.

2. Menjadi observer langsung di kelas yang sedang diselenggarakan oleh vendor training tersebut. Ini semacam test food dalam pemilihan catering acara pesta pernikahan. Dengan melihat, merasakan dan mengamati langsung, maka kita akan memperoleh gambaran yang lebih spesifik dan nyata mengenai kualitas, kelebihan dan kekurangan dari vendor training yang akan kita pilih.

3. Pelajari detail materi (topik-topik training) yang akan diberikan, sasaran training yang akan diraih, desain dan metode training yang dikembangkan, yang tercantum pada brosur yang ditawarkan vendor. Setelah itu silahkan menghubungi vendor training dimaksud untuk mengadakan diskusi pendalaman melalui beberapa pertanyaan pancingan guna mendapat gambaran besarnya. Dan paling akhir, bandingkan dengan modul yang sama yang disediakan oleh vendor training lainnya.

4. Kenali segmen peserta mana yang akan kita ikutkan training, kemudian cocokkan dengan vendor trainingnya. Karena ada vendor training yang kompeten dan berpengalaman bidang manufaktur, ada yang tepat untuk jasa. Ada yang cocok untuk level pimpinan, ada juga yang hanya pas untuk segmen nonpimpinan.

5. Pelajari dan cari informasi mengenai spesialisasi dari vendor training. Biasanya suatu vendor training memiliki kekuatan atau keunggulan tertentu yang tidak dimiliki oleh vendor lain. Nah, pilih saja yang menjadi unggulannya tersebut. Bila di lain waktu ada kebutuhan tentang modul yang lain, maka kita tinggal cari vendor lain yang memiliki keunggulan untuk modul tersebut.

Akhirnya, maraknya vendor-vendor training dewasa ini di Indonesia dapat kita sikapi dengan cara pandang positif dan menggembirakan. Karena, sebagai konsumen kita akan lebih dipermudah dengan semakin banyaknya vendor training. Namun kuncinya, semua berpulang kembali pada kejelian dan kepekaan kita dalam memilih mana vendor training yang berkualitas dan mana yang hanya ’jualan kecap’ semata. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Anda, dan selamat memilih.[kp]

* Krisnawan Putra-Progresif Motivator, pernah memimpin tim training Gramedia Majalah-Kelompok Kompas Gramedia. Ia telah mendalami dunia training sebagai praktisi selama lebih dari 10 tahun. Sekarang ia berprofesi sebagai Freelance Trainer. Misi hidupnya adalah menyentuh dan mengembangkan banyak orang agar hidup mereka lebih bermakna. Ia dapat dihubungi di krisnawanputra@yahoo.co.id atau www.krisnandira.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman