Minggu, 02 November 2008

MANUSIA BESAR"

Oleh: Joshua W. Utomo


Judul tulisan saya ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan kompetisi binaraga ataupun dengan film-film Barat ala 'Rambo', 'Commander', atau 'Rocky' yang menonjolkan sosok-sosok manusia berbadan perkasa dan berotot kawat, berbalung besi itu.

Pembaca pun telah mafhum bahwa cukup sulit mencari manusia Indonesia yang berbadan seperti Arnold Schawerzerneger, 'Rambo' Stallone, atau Mike Tyson. Kalaupun ada, tidaklah begitu banyak jumlahnya.

Singkatnya, judul komentar diatas lebih menunjuk pada 'kebesaran' manusia pada sisi mentalitasnya (rohaninya). Kebesaran seseorang seperti yang telah dicatat dalam pena emas sejarah kemanusiaan selama ini, seringkali (kalau tidak boleh dikatakan sebagai selalu!)didasarkan pada kebesaran jiwa, dan keteguhan hati manusia yang bersangkutan.

Kebesaran sisi rohaniah dari manusia inilah yang mampu membuat sesuatu yang amat berbeda (make a difference) di bumi ini, seperti yang bisa kita temukan pada diri 'manusia-manusia besar' masa kini yang namanya sedemikian familiar di telinga kita: Ibu Teresa dari Kalkuta, Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Jr., dsbnya.

Lebih-lebih bila sikon dari komunitas yang kita huni ini dalam keadaan sekarat-bak hidup enggan, mati tak mau! Memang banyak sekali faktor penyebab yang bisa membawa suatu komunitas terjerembab kedalam sikon yang mengenaskan ini. Tapi salah satu faktor penyebab primernya tak lain dan tak bukan adalah si manusianya itu sendiri, yaitu manusia-manusia yang menganggap dirinya sendiri sebagai pemimpin diantara manusia lainnya. Manusia-manusia berhati kerdil yang adigang-adigung-adiguna itu.

Maka bila kita lihat lebih seksama lagi, kesekaratan roda kehidupan komunitas negeri yang kita cintai ini tak lain dan tak bukan disebabkan oleh 'kekerdilan' mental spiritualitas dari sebagian besar para pemimpinnya (pamong prajanya). Pamong praja yang seharusnya berjiwa besar, berhati suci, dan bermental unggul sebagaimana layaknya "sang pamong praja sejati" yang mampu momong--memperhatikan, merawat, dan mengutamakan kepentingan setiap warga yang dipimpinnya, tapi celakanya yang kita temui dan miliki saat ini adalah para pamong praja berjiwa kerdil, berlaku ala preman jalanan, berlagak bak penyamun galak yang brutal dan tak memiliki rasa kemanusiaan.

Para pamong praja yang bisanya hanya ngomong, nodong, nyolong, mbokong, menthung, nyolong, nylenthong dan kloyang-kloyong seperti tak ada kerjaan setiap harinya.

Kini kita dihadapkan pada dua buah pilihan. Dua pilihan yang sama-sama sulitnya (bagaikan buah simalakama) guna mengatasi kesekaratan roda hidup negeri ini. Sebuah negeri yang telah dihinggapi dan dibalut oleh kanker ganas yang teramat kronis. Siapkah anda mendengar kedua 'buah simalakama' tersebut? Kalau memang anda telah siap silahkan terus membaca hingga tuntas tulisan saya ini.

Pilihan pertama: Kita semua harus siap menjalani operasi besar-besaran. Operasi besar-besaran macam apakah ini? Operasi pembersihan secara total dari kankar ganas yang membalut sebagian besar pamong praja berjiwa kerdil itu (dan mungkin juga diri kita sendiri), seperti: KKN, gaya hidup ala selebriti Hollywood, cara pandang 'kemaruk' atas kekuasaan/pangkat dan status sosial, ketakprofesionalan cara kerja, dan mentalitas kacangan yang bersifat mementingkan diri sendiri dengan mengabaikan kepentingan orang lain, sifat dan sikap kemunafikan yang semakin hari semakin menebal dibalik jubah keagamaan, dan sebagainya.

Operasi pembersihan ini harus dilakukan secara tak pandang bulu dan hingga ke akar-akarnya. Sebab bila tidak, penyakit kronis yang ganas tersebut akan segera bermunculan kembali, takutnya menjadi berlipat ganda!

Pilihan kedua: Biarkan sikon yang ada sebagaimana adanya. Tunda setiap upaya operasi pembersihan dan aktifitas penegakan hukum. Dan niscaya, negeri tercinta inipun akan segera hilang dari peredaran-no more no less!

Mana yang hendak kita pilih, itu terserah kita semua. Hidup ini memang penuh dengan pilihan, tapi satu hal yang harus kita ingat: marilah berusaha memilih pilihan atau jalan yang terbaik yang sesuai dengan kehendak-Nya. Kalaupun disana nampaknya (seolah-olah) tak ada pilihan yang terbaik, marilah kita pilih secara hati-hati dan sebijaksana mungkin pilihan yang "the best among the worst".

Selamat merenungkan dan memilih secara hati-hati dan sebijaksana mungkin!

* Joshua W. Utomo, M.Div., D.Hyp., C.Ht., adalah seorang psikoterapis, penyair, corporate trainer/entertainer, motivator/hipnoterapis, dan penulis yang sekarang sedang berkelana di Boston, AS. Dia adalah pendiri Heal & Grow Center™ (www.healandgrowcenter.com) sebuah pusat penyembuhan holistik. Bersama istrinya (Cynthia C. Laksawana) mendirikan Sanggar Kinanthi™(www.sanggar-kinanthi.com) dan JW Utomo Productions™ (http://masterhypnotistusa.tripod.com) sebagai wahana mereka berseni-budaya dan berkiprah bagi kemanusiaan. Dia dapat dihubungi via prof_jw@yahoo.com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman