Minggu, 02 November 2008

MENTAL BLOCK

Oleh: Syahril Syam


“Aset paling berharga (dalam belajar) yang Anda miliki adalah sikap positif.”
~ Bobbi DePorter
Pakar Quantum Learning

“Dari semua yang kami temukan dalam riset kami, mungkin yang paling penting adalah ini: citra diri kita mungkin adalah unsur terpenting dalam menentukan apakah kita adalah pelajar yang baik—atau, jujur saja, apakah kita baik di bidang yang lain.”
~ Colin Rose
Pakar Accelerated Learning

“Dalam setiap sistem yang terbukti berhasil—yang kami pelajari di seluruh dunia—citra diri ternyata lebih penting daripada materi pelajaran.”
~ Gordon Dryden dan Jeannette Vos
Penulis buku Learning Revolution

Untuk menjawab dengan lebih lengkap pertanyaan di atas, saya ingin mengajak Anda untuk melihat satu fenomena yang pernah kita (hampir semua dari kita) alami, baik saat ini maupun di kala kita kecil dulu.

Pada kebanyakan kasus, orangtua dalam memberikan reaksi kepada anaknya (yang juga pernah Anda rasakan dulu dan mungkin hingga sekarang atau reaksi Anda sekarang terhadap anak Anda) lebih mendominasi reaksi yang bersifat negatif dibandingkan yang bersifat positif, dengan kadar perbandingan 15:1, misalnya:

1. “Kamu anak nakal!”
2. “Jangan berisik!”
3. “Jangan pegang-pegang!”
4. “Jangan lari-lari!”
5. “Jangan bermain-main dengan makananmu!”
6. “Kamu payah!”
7. “Dasar idiot!”
8. “Bodoh!”
9. “Hentikan suara yang menyebalkan itu!”
10. “Tukang ganggu!”
11. “Berapa kali Ibu harus memberitahumu sampai kamu memasukkannya ke dalam otakmu…?”
12. “Jangan gugup!”
13. “Astaga, duduklah yang manis!”
14. “Kamu benar-benar menjengkelkan!”
15. “Tidak ada yang tertarik dengan apa yang kamu katakan!”

Berbanding satu reaksi positif;

16. “Ayah dan Ibu sayang kamu!”

Mari kita lihat sebuah contoh kasus yang dialami teman saya, Ariesandi S. dalam menangani anak-anak yang sering dikategorikan “bermasalah”:

Kevin, kelas 5 SD, mempunyai masalah dengan gurunya. Kevin tidak mau berbicara jika ditanya oleh gurunya juga tidak mau disuruh maju untuk mengerjakan sesuatu. Dia diam saja di bangkunya. Apa yang sesungguhnya terjadi? Ternyata, pada saat Kevin kelas 3 SD, dia pernah ditanya gurunya dan dia tidak bisa menjawab. Kemudian gurunya membentaknya dengan suara keras dan dengan kata-kata negatif. Sejak saat itu, pikiran bawah sadarnya telah menyadari satu hal, bahwa jika lain kali saya menjawab pertanyaan, kemungkinan kejadian seperti itu bisa terjadi lagi pada saya. Dan akhirnya, tanpa disadari oleh Kevin sendiri, telah terjadi suatu pola perilaku berupa penolakan untuk selalu menjawab pertanyaan guru. Karena jika dilakukan, maka kekhawatiran untuk dibentak dan dimarahi pun kemungkinan besar akan terjadi dan akibatnya sangat menyakitkan. Dan kali berikutnya, ketika gurunya mengajukan pertanyaan kepada dirinya, peristiwa yang menyakitkan itu langsung memicu dirinya untuk membuat benteng pertahanan diri berupa penolakan. Akhirnya, walaupun sudah duduk di kelas 5 SD, pola perilaku ini susah untuk dikendalikan oleh Kevin sendiri. Secara sadar Kevin tahu bahwa dia bisa menjawab dan seharusnya menjawab. Akan tetapi pikiran bawah sadarnya menolak karena khawatir, jangan-jangan peristiwa yang lalu akan menimpa kembali dirinya. Dan, jika belum diterapi, maka hal ini akan selamanya menjadi konflik internal dalam diri Kevin.

Anda bisa lihat sendiri, bagaimana bahaya dari seringnya informasi negatif yang masuk ke dalam otak. Dan kasus-kasus seperti ini seringkali terjadi pada hampir setiap anak, bahkan pada orangtua saat ini di saat mereka kecil dulu. Jadi, jangan heran kalau pola-pola pengasuhan negatif akan terjadi juga pada generasi berikutnya, karena terlalu seringnya dan begitu lamanya program mental block ini bercokol di otak.

Mental block itu sendiri terbagi atas dua bagian sistem yang saling terkait satu sama yang lainnya. Kedua sistem itu adalah:

1. Konsep diri
2. Sistem Kepercayaan

KONSEP DIRI
Konsep diri berbicara tentang bagaimana kita mengamati diri kita sendiri, bagaimana gambaran dan penilaian terhadap diri kita sendiri. Secara sederhana dapat kita defenisikan konsep diri itu sebagai berikut: pandangan dan perasaan kita tentang diri kita, dan persepsi tentang diri kita ini bersifat psikologi, sosial, dan fisis.

Bayangkan Anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini pada diri Anda sendiri:

• Bagaimana watak saya sebenarnya?
• Apa yang membuat saya bahagia atau sedih?
• Apa yang sangat mencemaskan saya?
• Bagaimana orang lain memandang saya?
• Apakah mereka menghargai atau merendahkan saya?
• Apakah mereka membenci atau menyukai saya?
• Bagaimana pandangan saya tentang penampilan saya?
• Apakah saya orang yang cantik atau jelek?
• Apakah tubuh saya kuat atau lemah?

Jawaban pada tiga pertanyaan yang pertama menunjukkan persepsi psikologis tentang diri kita; jawaban pada tiga pertanyaan kedua menunjukkan persepsi sosial tentang diri kita; dan pada tiga pertanyaan ketiga menunjukkan persepsi fisis tentang diri kita.

Konsep diri bukan hanya sekadar gambaran deskriptif, tetapi juga penilaian Anda tentang diri Anda. Jadi, konsep diri meliputi apa yang Anda pikirkan dan apa yang Anda rasakan tentang diri Anda plus apa yang Anda harapkan pada diri Anda sendiri.

Dengan demikian ada tiga komponen utama dari konsep diri itu: komponen kognitif, komponen afektif, plus komponen yang berhubungan dengan harapan-harapan/gambaran-gambaran ideal tentang diri Anda pada suatu hari kelak. Dalam psikologi sosial, komponen kognitif disebut citra diri (self image), dan komponen afektif disebut harga diri (self esteem).

Untuk mempermudah pemakaian istilah-istilah di atas, mari kita membuat sebuah contoh sederhana tentang bagaimana komponen-komponen tersebut bekerja pada diri Anda.

Misalkan saja, Anda menggambarkan diri Anda kelak sebagai orang yang memiliki kesuksesan yang luar biasa hebat. Gambaran Anda ini disebut sebagai diri ideal. Seiring dengan perjalanan waktu, ternyata apa yang Anda idealkan/harapkan tentang diri Anda belum juga terwujud. Dan hal ini terjadi sudah sangat lama. Dengan berbagai keadaan yang menimpa Anda, maka kemungkinan besar Anda akan menganggap/melihat diri Anda sebagai orang yang gagal. Pada saat Anda melihat diri Anda sebagai orang yang gagal, maka pada saat inilah Anda telah mempersepsikan diri Anda sebagai orang yang gagal. Dan inilah yang dimaksud dengan citra diri yang negatif. Secara kognitif (citra diri) Anda mungkin akan berkata kepada diri Anda sendiri: “Saya ini orang yang gagal.” Secara bersamaan pula harga diri Anda pun ikut memainkan peran pada diri Anda. Anda secara otomatis mulai merasakan harga diri Anda menjadi jatuh. Secara afektif (harga diri), Anda mungkin berkata pada diri Anda sendiri: “Saya sangat malu dan saya orang yang tidak berguna.” Anda mulai merasakan perasaan Anda menjadi rendah.

Nah, contoh di atas jika dibiarkan berlarut-larut maka akan melahirkan lingkaran setan. Dan semakin lama Anda akan semakin terpuruk. Orang yang sampai pada tingkat ekstrim, kemungkinan besar tidak hanya menyalahkan diri sendiri tapi juga menyalahkan orang lain dan bahkan Tuhan pun ikut disalahkan. Oleh sebab itu, berhati-hatilah Anda dalam menetapkan apa yang terbaik bagi Anda dan hindarilah sedapat mungkin penilaian negatif terhadap diri Anda sendiri.

Sayangnya, penetapan diri idel ini bukan hanya ditetapkan oleh diri sendiri, dan penilaian negatif ini bukan hanya dilakukan oleh diri sendiri, melainkan juga di luar diri kita sendiri. Dengan demikian, kita telah sampai pada faktor-faktor yang ikut mempengaruhi konsep diri:

1. Orang lain
Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain lebih dahulu. Bagaimana orang menilai diri Anda, akan membentuk konsep diri Anda. Jika Anda sering dinilai sebagai orang yang gagal (orang tua Anda mengatakan “Anda brengsek”, teman Anda suka menganggap remeh Anda, atau siapa pun yang Anda kenal yang sering menilai Anda buruk), maka sangat besar kemungkinan Anda pun akan menilai Anda gagal, buruk, pecundang, dan berbagai penilaian negatif lainnya. Hal ini akan berakibat pada “kemalasan” Anda untuk melakukan sesuatu yang baik bagi Anda, karena Anda sudah memulai suatu pekerjaan dengan diawali oleh berbagai sikap negatif.

Dan begitu pula sebaliknya, jika suatu ketika Anda bergaul di suatu tempat yang berbeda dengan lingkungan hidup Anda selama ini dan ternyata di lingkungan tersebut Anda diterima dan dinilai sangat baik (punya keahlian, punya kemampuan, punya berbagai skill yang mendukung), maka secara otomatis Anda pun akan merasa “berarti” dan tanpa Anda sadari ternyata hampir semua potensi terbaik Anda teraktual dengan sendirinya. Inilah yang menjadi salah satu alasan terkuat, bagaimana seorang anak yang “broken home” dan dianggap remeh di lingkungan rumah dan sekitarnya, tetapi menjadi “luar biasa” di lingkungan organisasi atau lingkuangan luar rumah yang mengakuinya bahwa ia “berarti”.

Tentu tidak semua orang lain mempunyai pengaruh yang sama terhadap diri kita. Ada orang yang paling berpengaruh, yaitu orang-orang yang paling dekat dengan diri kita. George Herbert Mead menyebut mereka significant others – orang lain yang sangat penting. Yang termasuk dalam kategori ini adalah orang tua, saudara-saudara kita, dan orang yang tinggal satu rumah dengan kita. Dalam perkembangannya, orang lain yang sangat penting ini pun meliputi guru, idola, atau siapapun yang memiliki ikatan emosional dan mempengaruhi perilaku, pikiran, dan perasaan kita.

2. Kelompok rujukan
Kelompok rujukan adalah kelompok di mana kita menjadi salah satu anggota di dalamnya. Dan sudah tentu setiap kelompok memiliki norma-norma tertentu. Nah, dalam norma-norma inilah kita dipengaruhi secara emosional sehingga mempengaruhi konsep diri kita.

Kelompok rujukan ini bisa saja yang bersifat formal, seperti Ikatan Dokter Indonesia, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia, Asosiasi Marketing; ataupun juga bersifat non formal, seperti kelompok-kelompok di mana Anda sering bergaul dan secara emosional senantiasa mempengaruhi konsep diri Anda.

Hal penting lain yang perlu Anda ketahui adalah bahwa konsep diri itu tidak kita peroleh/terbentuk pada saat kita lahir. Konsep diri akan terbentuk sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan kita melalui interaksi dengan lingkungan di mana kita bergaul.

Konsep diri ini juga akan semakin kuat dengan senatiasa terjadinya repetisi/pengulangan. Dengan kata lain, semakin sering Anda mengalami penilaian negatif ataupun positif, semakin kuat Anda menilai diri Anda sendiri. Anda pada akhirnya akan semakin cenderung untuk bertingkah laku sesuai dengan konsep diri Anda sendiri. Bila Anda berpikir bahwa Anda bodoh, Anda akan benar-benar menjadi orang bodoh. Bila Anda berpikir bahwa Anda “bisa”, maka apa pun yang Anda kerjakan Anda akan semakin yakin dan betul-betul “bisa” menyelesaikannya. Anda cenderung hidup sesuai dengan label yang Anda lekatkan pada diri Anda.

Menurut William D. Brooks dan Philip Emmert ada empat tanda orang yang memiliki konsep diri negatif:

1. Ia peka pada kritik. Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya, dan mudah marah atau naik pitam. Bagi orang ini, koreksi seringkali dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya. Orang ini juga cenderung menghindari dialog terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan justifikasi atau logika yang keliru.

2. Responsif sekali terhadap pujian. Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian. Buat orang-orang seperti ini, segala macam embel-embel yang menunjang harga dirinya menjadi pusat perhatiannya.

3. Bersamaan dengan kesenangannya terhadap pujian, mereka pun bersifat hiperkritis terhadap orang lain. Ia selalu mengeluh, mencela, atau meremehkan apa pun dan siapa pun. Mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain.

4. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan. Karena itulah ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh, sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan. Ia tidak akan pernah mempersalahkan dirinya, tetapi akan menganggap dirinya sebagai korban dari sistem sosial yang tidak beres.

5. Bersikap pesimis terhadap kompetensi seperti terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang pada akhirnya akan merugikan dirinya.

Di tempat lain, D.E. Hamachek menyebutkan sebelas karakteristik orang-orang yang mempunyai konsep diri positif, yaitu:

1. Ia meyakini betul nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya, walaupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat. Tetapi, dia juga merasa dirinya cukup tangguh untuk mengubah prinsip-prinsip itu bila pengalaman dan bukti-bukti baru menunjukkan ia salah.

2. Ia mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebih-lebihan, atau menyesali tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya.

3. Ia tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok, apa yang telah terjadi pada waktu yang lalu, dan apa yang sedang terjadi diwaktu sekarang.

4. Ia memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi persoalan, bahkan ketika ia menghadapi kegagalan atau kemunduran.

5. Ia merasa sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang keluarga, atau sikap orang lain terhadapnya.

6. Ia sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, paling tidak bagi orang-orang yang ia pilih sebagai sahabatnya.

7. Ia dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati, dan menerima penghargan tanpa merasa bersalah.

8. Ia cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya.

9. Ia sanggup mengaku kepada orang lain bahwa ia mampu merasakan berbagai dorongan dan keinginan, dari perasaan marah sampai cinta, dari sedih sampai bahagia, dari kekecawaan yang mendalam sampai kepuasan yang mendalam pula.

10. Ia mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatan yang meliputi pekerjaan, permainan, ungkapan diri yang kreatif, persahabatan, atau sekedar mengisi waktu.

11. Ia peka pada kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang telah diterima, dan terutama sekali pada gagasan bahwa ia tidak bisa bersenang-senang dengan mengorbankan orang lain.[ss]

* Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, publik speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia sering disebut sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril_faqir@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman