Minggu, 02 November 2008

SERI BERPIKIR TERBALIK: ULANG TAHUN

Oleh: Mugi Subagyo


Ingat syair ini..?

Hari ini…
hari yang kautunggu...
bertambah satu tahun… usiamu…
bahagialah kamu….

Sepertinya, sebagian besar dari kita seragam pola pikirnya dengan lagu yang dipopulerkan oleh kelompok musik Jamrud tersebut. Setiap kita berulang tahun, berarti usia kita bertambah, sehingga membuat kita lebih dewasa, lebih maju dalam berpikir dan bertindak, lebih bijaksana, dan lebih banyak lagi harapan yang tidak jelas juntrungannya.

Benarkah usia kita bertambah 1 tahun saat berulang tahun? Siapa yang menjamin dengan bertambah umur, kita menjadi lebih dewasa? Lebih maju dalam berpikir atau bertindak? Lebih bijaksana? Kalau benar, bagaimana jalan ceritanya?

Bila Anda yang merasa bertambah dewasa, bijak, maju dalam berpikir, setelah meniup mati lilin lampu berbentuk angka yang menunjukkan umur, maka maaf saja bila saya meragukannya.

Pemikiran Terbalik
Setiap berulang tahun, sesungguhnya makin berkuranglah umur hidup kita.

Jadi, berapa umur kita yang tersisa? Kita buat perumpamaan, misalkan saat ini kita berulang tahun yang ke-38, batas umur tertinggi kita 65 (silahkan naikkan batas ini, tapi perlu diingat batas usia produktif manusia), maka usia tersisa tinggal 17 tahun. Sudah berhasil/sukseskah kita di usia sekarang? Kalau sudah, lalu apa? Berbuat apa lagi? Perlukah menembus ambang batas kesuksesan? Atau malah terperangkap? Bagaimana bila saat ini belum ada kesuksesan yang telah diraih? Berapa tahun lagi persiapan, usaha dan kerja keras untuk sukses? Kalau Anda seorang karyawan, mungkinkah mengalahkan pemikiran dan fisik karyawan lain yang jauh lebih muda dan energik? Kalau pun melamar pekerjaan ke perusahaan lain, perusahaan mana yang masih bersedia menerima karyawan dengan umur yang masuk dalam kategori “tua”? Bagaimana membuat dan atau meningkatkan skill yang dapat dijadikan penghasilan, baik sebagai sumber atau sampingan?

Dengan mengetahui bahwa tinggal sedikit umur kita yang tersisa, maka kita akan berpikir keras guna meningkatkan kualitas hidup, yang otomatis akan membawa kita pada kedewasaan. Sama halnya dengan ucapan seorang motivator tentang sebuah gelas berisi air setengahnya, dikatakan bahwa pemikir positif akan bilang bahwa “Masih ada air setengah gelas”, sementara si pemikir negatif bilang “Air di gelas tinggal setengah”.

Kondisi pemikiran seperti ini cenderung membuat orang berpikir dan bertindak tenang (atau santai?) karena “aman” dengan adanya setengah air dalam gelas. Jika berpikir terbalik, maka kita sudah sibuk memutar otak, untuk mengisi kembali gelas tersebut dengan air. Berpikir terbalik akan membuat otak bekerja lebih banyak dengan adanya faktor yang menjadi pendorong. Semakin sering otak berpikir, bukan semakin tumpul, justru sebaliknya.

Lebih banyak orang yang sukses, menjalani prosesnya dari bawah, dari kebertiadaan, bukan dari rasa tenang, aman dan jaminan hidup enak yang diwariskan orangtuanya. Orang-orang sukses tahu bahwa jalan menuju keberhasilan, bukanlah jalan terang yang lurus mulus. Melainkan jalan yang mesti dilalui setapak demi setapak, sambil terus menyusun langkah dan mengawasi jalan.

Proses menjadi orang yang sukses tidak dengan sendirinya terjadi bersamaan dengan bertambahnya usia, namun sebuah jalan yang sering dipenuhi penderitaan, penderitaan yang harus kita kalahkan dengan kesabaran. Kesabaran adalah hasil dari kesulitan, kesabaran tidak dihadiahkan Tuhan setiap kita berulang tahun, tapi harus dipelajari.

Semakin kita menyadari bahwa cuma tersisa sedikit usia, maka kita dapat bercermin diri tentang apa-apa yang sudah diperoleh, dan apa yang perlu dibuat untuk menghasilkan karya.

Mari Berkarya![ms]

* Mugi Subagyo dapat dihubungi melalui email: mugisby@yahoo.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman