Senin, 20 Oktober 2008

BUDAYA INSTAN

Oleh: Agustinus Prasetyo

Keinginan untuk serba cepat tanpa mau menunggu sudah merambah seluruh bidang kehidupan kita. Coba tengok restoran-restoran fast food yang menyediakan makanan siap saji menjamur – mengolah makanan dianggap membuang waktu (meskipun para dokter mengatakan lebih sehat).

Bimbingan belajar yang menawarkan jurus-jurus ampuh menempuh UMPTN dan sekarang ujian nasional menjamur. Pendidikan seolah-olah hanya untuk mengejar nilai tanpa memahami betul prosesnya…

Dalam hal yang berkait dengan birokrasi pemerintah terdapat istilah jalur cepat dan jalur lambat. Contoh, dalam pengurusan KTP bila diurus sendiri (hal itu sangat baik karena merupakan ajang pertemuan camat dengan warganya) tapi dalam kenyataannya bila diurus sendiri sangat menyita waktu karena petugas datangnya siang dan sering tidak langsung bekerja (membaca koran/majalah atau membuat kopi dulu), sehingga kita mesti minta izin 3 jam pada atasan untuk pengurusannya.

Dalam melakukan pekerjaan pun kebiasaan ingin mudah atau ingin cepat kaya juga tampak jelas. Contoh yang paling jelas bagi masyarakat Jawa Timur adalah bencana lumpur Lapindo yang mengakibatkan ratusan rumah terendam lumpur, ratusan orang kehilangan pekerjaan karena pabrik terendam lumpur (pengusaha, buruh, tukang ojek, warung nasi, dll), puluhan pengemis berjajar di pinggir jalan yang macet, serta ribuan orang kehilangan waktu dalam perjalanan sehingga roda perekonomian tersendat.

Bila melihat cara petani bekerja tampak jelas bahwa alam mempunyai irama dalam mematangkan segala sesuatunya. Segala sesuatu harus melalui sebuah proses – tidak bisa langsung jadi. Benih harus dikubur dalam tanah dulu dan tidak tampak apa-apa di atas tanah selama beberapa hari. Lalu, ketika tampak ada tunas selalu dimulai dari tunas yang kecil yang harus dirawat agar dapat menjadi besar dan berbuah.

Meskipun saat ini di dunia pendidikan sedang gencar-gencarnya menstimulasi anak agar masa depannya lebih cerah, seorang wakil kepala sekolah (Bapak Ariesandi) mengatakan bahwa IQ memang dapat dikarbit, namun kematangan mental tetap mengikuti hukum alam (baca: tidak dapat dikarbit).

Demikian juga kita saat mengalami masalah dalam hidup juga berproses untuk mengerti hikmah dari peristiwa itu . Contoh: Suatu ketika saya mengalami kesulitan dalam membayar utang. Tadinya saya tenang-tenang saja karena ada piutang yang sudah lama jatuh tempo dijanjikan akan segera dibayar. Tetapi semakin mendekati hari H pembayaran utang, ternyata janji tersebut tinggal sekadar janji. Saya mencoba minta personal loan dari bank X, namun hasilnya nihil. Akhirnya, tinggal satu hari dan hampir saja saya pasrah pada nasib. Saat berdoa dan merenungi nasib, tiba-tiba terpikir suatu jalan. Singkat cerita saya berhasil lolos pada saat terakhir.

Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa Tuhan bukanlah tongkat ajaib yang siap sedia mengerjakan keinginan saya. Diperlukan kerja keras manusia (usaha tekun) karena Tuhan juga bekerja lewat pikiran, karya, dan talenta yang manusia miliki untuk mencapai apa yang manusia idamkan.

BE BETTER EVERYDAY[ap]

* Agustinus Prasetyo adalah karyawan.Saat ini sedang belajar menuliskan hikmah dari peristiwa sehari-hari. Dapat dihubungi di ag_prasetyo@hotmail.com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman