Senin, 20 Oktober 2008

SEDIKIT ADALAH BANYAK

Oleh: Berny Gomulya

To say more, is to say less.
Harlan Ellison

Less is only more where more is no good.
Frank Lloyd Wright

Saya berhenti dan berpikir sejenak ketika saya membaca iklan sebuah merek rokok di billboard yang berada di perempatan jalan. Iklan tersebut berbunyi “Talk less, Do more (Sedikit bicara, banyak kerja).” Rasa penasaran membuat saya setiba di rumah membuka laptop dan mulai mencari tahu mengenai iklan tersebut di internet. Entah benar atau tidak, katanya iklan tersebut terilhami oleh sebuah band yang akan tampil di panggung. Para penonton menyambutnya dengan antusias dan histeris. Sang Vokalis kemudian menyapa penonton, makin histerislah penonton. Anggota band yang lain sudah siap tapi Sang Vokalis masih saja berbicara. Penonton kemudian berubah sebal, tak lagi antusias, karena kebanyakan bicara. Kemudian muncul teriakan oleh salah seorang penonton: Talk Less, Do More.

Tag line iklan rokok diatas mengingatkan saya dengan buku best seller yang ditulis oleh Jason Jennings, Less is More. Didalam bukunya, Jennings memaparkan bagaimana perusahaan-perusahaan yang luar biasa, menggunakan produktivitas sebagai sebuah keunggulan dalam bisnis. Dia melakukan riset ke sejumlah perusahaan yang paling produktif di dunia, dan dia mencari tau hal-hal apa yang membuat mereka sangat produktif. Dia menemukan beberapa keunggulan yang menjadi benang merah dari perusahan-perusahaan produktif tersebut, yaitu setiap orang fokus untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, merampingkan semua bidang, pemetaan setiap proses, menghilangkan pemborosan, membangun kultur perusahaan, dan memastikan setiap orang menuju pada arah yang sama. Less is More lebih dari sekedar ide, dia adalah sebuah alat yang dapat mengubah cara Anda melakukan bisnis, demikian kata Jason Jennings.

Tahukah Anda dari mana asal kalimat Less in More? Ternyata kalimat itu disebutkan pertama kali oleh seorang pelukis bernama Andrea del Sarto yang hidup pada tahun 1486-1531. Dia menyebut kalimat tersebut untuk menggambarkan istrinya yang cantik.

Less is More juga dikenal dalam dunia desain rumah minimalis. Desain rumah akhir-akhir ini mengalami perkembangan yang sangat cepat. Anda bisa mendapati berbagai jenis desain rumah yang berkembang di masyarakat dewasa ini, antara lain desain rumah minimalis, modern, mediterania, klasik dan sebagainya. Biasanya kalangan yang tertarik untuk menggunakan gaya minimalis adalah dari mereka yang masih berjiwa muda. Para eksekutif muda menyukai gaya minimalis, karena gaya yang ini dipandang praktis dan dapat mewakili gaya hidup modern mereka.

Sebenarnya, gaya minimalis bukanlah sebuah gaya arsitektur saja, namun dibalik itu, gaya ini memiliki jawaban atas tantangan jaman yaitu mendapatkan hasil maksimal dari sesuatu yang minimal. Gaya minimalis pada intinya merupakan suatu jawaban atas keadaan yang dicetuskan oleh orang-orang yang menganut paham minimalisme sebagai protes atas keadaan masyarakat yang tidak menghargai sumber daya alam dengan mengeksploitasi habis-habisan sumber daya alam untuk hal-hal yang tidak perlu dalam kehidupan sehari-hari. Gerakan minimalisme ini merupakan gerakan back to basic atau kembali kepada kesederhanaan, konon gerakan ini timbul di Amerika yang merupakan suatu hal yang dapat dianggap positif dari suatu gerakan jaman modern.

Bicara mengenai minimalis, saya langsung teringat dengan semut yang ukurannya sangat minimalis. Tapi dibalik ukuran minimalisnya, semut mempunyai lima filosofi yang luar biasa. Pertama, semut tidak pernah menyerah. Bila Anda menghalang-halangi dan berusaha menghentikan langkah mereka, mereka selalu akan mencari jalan lain. Mereka akan memanjat ke atas, menerobos ke bawah atau mengelilinginya. Mereka terus mencari jalan keluar. Suatu filosofi yang bagus, bukan? Jangan sekali-kali menyerah untuk menemukan jalan menuju tujuan Anda.

Kedua, semut menganggap semua musim panas sebagai musim dingin. Ini adalah cara pandang yang penting. Anda tidak boleh menjadi begitu naif dengan menganggap musim panas akan berlangsung sepanjang waktu. Semut-semut mengumpulkan makanan musim dingin mereka di pertengahan musim panas. Sebuah kisah kuno mengajarkan, "Jangan mendirikan rumahmu di atas pasir di musim panas." Mengapa kita membutuhkan nasehat tersebut? Karena sangat penting bagi kita untuk bersikap realitis. Di musim panas Anda harus memikirkan tentang halilintar. Anda seharusnya memikirkan badai sewaktu Anda menikmati pasir dan sinar matahari. Berpikirlah ke depan.

Ke tiga, semut menganggap semua musim dingin sebagai musim panas. Ini juga penting. Selama musim dingin, semut mengingatkan dirinya sendiri, "Musim dingin takkan berlangsung selamanya. Segera kita akan melalui masa sulit ini." Maka ketika hari pertama musim semi tiba, semut-semut keluar dari sarangnya. Dan bila cuaca kembali dingin, mereka masuk lagi ke dalam liangnya. Lalu, ketika hari pertama musim panas tiba, mereka segera keluar dari sarangnya. Mereka tak dapat menunggu untuk keluar dari sarang mereka.

Ke empat, seberapa banyak semut akan mengumpulkan makanan mereka di musim panas untuk persiapan musim dingin mereka? Semampu mereka! Filosofi yang luar biasa, filosofi "semampu mereka". Artinya semut akan berusaha dengan segenap usaha dan tenaga do their best mengumpulkan makanannya.

Terakhir, ke lima, semut itu mengumpulkan makanannya sedikit demi sedikit, tetapi lama-kelamaan menjadi banyak. Ya, sedikit adalah banyak.

Tips meningkatkan produktivitas Anda: 1. Hilangkan hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pemborosan.
2. Terus berjuang untuk menemukan jalan menuju tujuan Anda.
3. Berpikirlah ke masa depan.
4. Fokus terhadap hal yang Anda lakukan.

Berny Gomulya adalah seorang penulis, pembicara seminar profesional, pelatih personal dan perusahaan dalam bidang productivity dan management system. Ia mendapatkan pengakuan tertinggi dari dunia otomotif internasional sebagai salah satu dari hanya delapan orang Indonesia sebagai Auditor TS 16949:2002 International Automotive Task Force (IATF). Setelah lulus sebagai Sarjana Elektro dan Magister Manajemen dari Universitas Indonesia, dia bekerja di PT Astra International Tbk dan Productivity Standard Board (PSB) di Singapore. Kini, Berny mendirikan sebuah lembaga di bidang personal productivity, organization productivity, dan management system. Berny dapat dihubungi melalui email ke bernygomulya@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman