Senin, 20 Oktober 2008

PIKIRANMU ADALAH DUKUNMU



Oleh Ade Asep Syarifuddin

TEMAN saya seorang ahli hypnotherapy. Tapi dia tetap berpenampilan alakadarnya, baik pakaian, rumah dan apapun yang dia kenakan. Tidak berpakaian ala dukun dengan wewangian yang menyengat Tapi orang-orang sekitar menyebut dia seorang dukun. Mengapa, karena orang-orang yang datang kepada dia, beberapa bulan kemudian hidupnya mengalami kemajuan. Apakah dagangnya semakin laris, karirnya semakin maju atau bahkan rumahnya semakin bagus.

Kabar tersebut sampai juga kepada seseorang yang cukup jauh. Karena Word of Mouth (WOM) orang tersebut sangat menyakini kesaktian teman saya tadi. Sampailah pada suatu hari ia datang ke teman saya. Sesampainya di dalam ruang tamu yang cukup terbuka, teman saya mulai membuka pembicaraan. "Apa yang bisa saya bantu Pak?" "Begini pak, saya sudah mengenal banyak tentang Bapak dari orang-orang yang saya kenal. Katanya bapak orang yang cukup pinter. Saya ingin dagangan saya laris karena selama ini terlalu banyak saingan. Intinya saya minta jimat," tutur tamu tadi tanpa ragu-ragu mengutarakan maksudnya.

Teman saya termenung sejenak. Entah siapa yang menyebarkan gosip tersebut. Sampai-sampai dirinya seakan-akan diberi gelar dukun di luar sana. "Tapi saya bukan dukun pak. Saya tidak bisa apa-apa. Saya memang banyak membantu orang, tapi tidak dengan cara demikian." Teman saya berkelit dan tidak mau untuk melakukan praktek perdukunan tadi. Tapi si tamu tadi tetap mendesak tidak mau menyerah dengan keyakinannya.

Dengan niat tidak mau mengecewakan tamunya, teman saya pergi ke belakang. Dia mencari kertas dan pulpen. Kertas tadi dipotong dua sebesar dua kali kartu nama. Kedua kertas tadi ditulis sebuah rumus relativitas Einstain E= mc2. Kemudian kertas tadi dibungkus kain putih dan dijahit. Sebelum diserahkan ditaburi minyak misik Arab. "Ini saya kasih rajah, yang satu ditaruh di dompet dan yang satunya dikubur di depan rumah. Insya Allah segala keinginan bisa tercapai. Demikian, dengan harapan tamuanya cepat pergi.

Ketika sampai di rumahnya, orang tadi membayangkan terus menerus segala keinginannya. Dia membayangkan banyak orang yang datang ke tokonya memborong semua barang yang ada. Dia juga membayangkan jumlah tabungannya terus menerus bertambah, dia membayangkan rumahnya menjadi baru dan sangat bagus, dia membayangkan kendaraannya ganti baru. Semua keinginannya dia bayangkan hampir setiap saat tanpa henti dengan gairah yang dalam dan keyakinan yang tinggi.

Tiba-tiba keajaiban terjadi. Dari bulan ke bulan omzet bisnisnya penjualannya terus menerus naik. Ada saja jalannya. Ada yang memesan barang dalam jumlah banyak, ada sekolah yang pesan buku, ada juga tetangga yang hajatan. Hampir setiap orang datang melakukan transaksi jual beli. Sampai-sampai tetangganya pada ngiri. "Wuih dukunnya dari mana ya. Mantap juga."

***

APA sesungguhnya yang terjadi dengan pedagang tadi? Apakah karena dia diberi jimat sehingga dagangannya laris? Atau ada faktor lain yang membuat hidupnya jauh lebih beruntung ketimbang waktu-waktu sebelumnya. Setelah diteliti, orang tersebut dulu pernah memiliki usaha yang besar juga. Tapi karena satu dan lain hal usahanya bangkrut. Satu hal yang hilang dalam dirinya, dia tidak mempunyai keyakinan yang kuat untuk membangunkan dirinya sendiri. Sampai suatu ketika ia meminta jimat dari teman saya tadi.

Apakah ada kaitannya antara jimat dengan keberuntungan? Inilah yang perlu dikupas oleh kita semua supaya kita memahami cara kerja pikiran. Sebelum datang ke teman saya pedagang tadi tidak memiliki keyakinan kuat untuk sukses karena trauma kebangkrutan. Setelah memperoleh jimat dengan serta merta dalam pikirannya muncul keyakinan kuat untuk sukses, citra dirinya menjadi positif, percaya dirinya tinggi, komunikasinya lancar dan visualisasinya positif juga. Jadi dalam hal ini "jimat" adalah pemicu untuk membuka keyakinan.

Artinya apa? Artinya, sesungguhnya yang membuat orang tersebut sukses bukan jimatnya, tapi keyakinannya. Memang jalannya diberi jimat, tapi bukan jimat itu sendiri yang menjadikannya sukses. Kalau demikian, kita bisa sukses tanpa jimat? Betul sekali. Saya punya cerita lain dari seorang Kiyai. Dia Kiyai yang cukup rasional. Tapi yang namanya orang awam, tetap saja meminta petunjuk-petunjuk praktis untuk mencapai keinginan-keinginannya.Suatu hari ada tamu yang datang kepada Kiyai tadi. Tamu tadi mau ziarah ke makam Wali Songo. Dia membeberkan segala keinginannya. Kemudian dia bertanya, "Pak Kiyai, bacaan apa yang bisa mengabulkan segala keinginan saya?" Kiyai tadi dengan enteng menjawab dalam bahasa Jawa, "Baca 'Sebisa bae' (sebisanya saja) pak.

Setelah itu tamu tadi datang ke makam Sunan Gunung Djati di Cirebon. Selama ziarah dia hanya mengcapkan kata-kata "Sebisae bae, sebisae bae, sebisae bae." Entah berapa ribu dia ungkapkan kata-kata 'Sebisae bae' selama ziarah dengan suatu keyakinan yang tinggi. Tiga bulan kemudian terjadi perubahan dalam hidupnya, lebih mujur, lebih makmur dan lebih baik dari sebelumnya. Sebagai ucapan terimakasih, dia datang ke Kiyai tadi. Kiyai tadi bertanya, "Wah hebat ya usahanya maju. Apa wiridannya?" Dengan polos pedagang tadi menjawab, " Saya wiridan 'Sebisae bae" Pak Kiyai. Alhamdulillah mujarab. Saya baca tidak kurang dari 1000 kali sehari setelah pulang ziarah," katanya.

Mendengar ucapan itu Kiyai tadi cukup kaget. Maksud dia bukan kata 'Sebisae bae' yang dijadikan wiridan, tapi bisanya apa. Mau Al Fatihah, Al Ikhlas, Ayat Kursi, tasbih dll. Tanpa mengurangi rasa hormat, Kiyai tadi menambahkan. Kalau mau lebih mantap dan maju usahanya wiridnya harus diganti. "Wirid apa Pak Kiyai, saya akan menjalankan segala perintah," katanya dengan antusias. "Yang dulu tinggalkan, ganti wiridnya dengan Subhanallah, Alhamdulillah, Laailahaillallah, Allahuakbar. Pasti akan lebih afdol.

***

Dua kejadian di atas benar-benar terjadi yang pernah saya dengar. Saya mencoba untuk merenungkan lebih dalam lagi yang intinya, segala keinginan manusia bisa tercapai asalkan kita mempunyai keyakinan. Persoalannya, keyakinan manusia tidak bisa datang dengan sendirinya, harus dipicu oleh sesuatu. Orang awam mungkin dengan jimat, orang beragama mungkin dengan wiridan, shalat sunnah dll. Pertanyaannya, orang yang sukses itu kan bukan hanya orang yang beragama. Orang yang tidak beragama pun bisa sukses juga, walaupun ukuran suksesnya jelas berbeda. Ini artinya, setiap orang sebenarnya memiliki potensi sukses yang luar biasa besar, tergantung bagaimana cara memanfaatkan pikirannya.

Bagi kelompok orang-orang rasional dan taat beragama bisa saja jimat-jimat pemicu keyakinan tadi diganti dengan beberapa ujud lain. Misalnya saja, yang menjalankan puasa sunah Senin-Kamis maka usahanya akan lancar, yang shalatnya khusuk maka akan dimudahkan dalam hidup, yang rajin shalat tahajud maka tidak ada yang bisa menghalangi keinginannya dll.

Tapi intinya harus ada pemicu pikiran di mana kita yakin akan mendapatkan sukses kalau menjalani sesuatu. Di sini dalam pikiran kita muncul hukum sebab akibat. Kalau menjalankan ini maka akan sukses. Keyakinan yang dimunculkan dalam bentuk kalimat, "Kalau menjalankan ini atau mempunyai ini maka akan sukses" itulah sejatinya yang menjadikan seseorang benar-benar sukses. Inilah yang dinamakan --dalam bahasa saya-- Jimat afirmasi, Jimat kata-kata. Setiap orang bisa membuat sesuai dengan tingkat keyakinannya.

Sebenarnya ini termasuk hukum universal, hukum pikiran yang berlaku bagi siapa saja. Siapa yang membayangkan dan menginginkan sesuatu secara sungguh-sungguh, maka yang dibayangkan tadi bisa terwujud. Belakangan populer dengan Hukum Tarik Menarik atau Law of Attraction (LoA). Hukum ini benar-benar menjadi inspirasi bagi semua orang bahwa segala yang terpikir di dalam pikiran kita, apakah sadar atau tidak kita memikirkan hal tersebut, maka yang kita pikirkan tadi bakal terwujud. Menarik bukan?

Walaupun hukum-hukum tersebut yang mempopulerkan adalah orang-orang yang datang dari Barat, pemikir sekuler, sebenarnya di Indonesia pun sudah ada sejak lama. Hanya kemasannya yang agak berbau mistik dan irasional. Padahal kalau kita kejar lebih jauh lagi, maka secara prinsip cara kerjanya tetap sama. Alhasil, dukun kita adalah pikiran dan hati kita sendiri.

Tidak usah jauh-jauh mencari dukun yang sakti. Apapun yang kita inginkan dapat tercapai. Ini berlaku untuk meningkatkan omzet perusahaan, modal bagi para pelaku marketing dalam menjalankan usahanya. Jadi sebelum bertemu orang, milikilah keyakinan akan berhasil dengan cara membayangkan terjadi deal-deal bisnis dengan orang yang kita tuju. Terimakasih. (*)

*) Penulis adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan. Bisa dihubungi di asepradar@gmail.com atau di http://hidupbermakna.wordpress.com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman