Selasa, 04 November 2008

MENGHIDUPKAN KEHIDUPAN DALAM DIRI

Oleh : Eko Jalu Santoso


“Dalam hidup ada kehidupan. Kalau ingin benar-benar hidup dalam kehidupan ini, maka hidupkanlah kehidupan dalam diri kita.”
~Anonim

Pernahkah Anda merasakan sebuah kebosanan, kehilangan spirit atau gairah dalam kehidupan Anda? Pernahkan Anda merasakan hidup Anda tidak berarti dan terasa hampa seperti kehilangan makna? Pernahkah Anda merasa sudah meraih prestasi yang Anda impikan dalam dunia profesional, dengan karier dan jabatan tinggi, namun tidak menemukan kepuasaan jiwa Anda?

Banyak manusia modern yang disibukan oleh dunia profesionalnya, kehidupan kariernya, dunia bisnisnya, sehingga menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya, namun pada akhirnya tidak menemukan ketenangan jiwanya. Mereka ada yang berhasil dalam kehidupan profesionalnya, namun merasa hidupnya tidak berarti dan kehilangan makna. Sebagian yang lain, merasakan kebosanan dalam hidupnya dan kehilangan gairah kehidupan. Mereka mengalami kegelisahan hati dan kehampaan jiwanya.

Inilah ciri orang-orang modern yang mengagungkan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga berhasil menciptakan lompatan luar biasa dalam kemajuan kehidupannya, tetapi kehilangan sentuhan revolusi dalam bidang spiritualnya. Keberhasilan hidup mereka sebelumnya seakan-akan tidak berarti, meskipun berhasil meraih impian tertinggi dalam kariernya, menjadi sangat kaya raya, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi.

Inilah ciri-ciri manusia modern yang mengedepankan logika dan rasionalitas dalam kehidupannya dengan mengabaikan hakekat dirinya sebagai makhluk spiritual. Mereka berhasil dalam melakukan revolusi industri, revolusi pengetahuan, revolusi dalam peradaban hidup, namun tidak mengimbangi dengan revolusi dalam bidang spiritual.

Menghidupkan Modal Spiritual
Hidup dengan mengesampingkan paradigma spiritualitas ketuhanan adalah hidup dengan tidak menghidupkan kehidupan dalam dirinya. Hidup seperti ini tidak memiliki makna bagi masa depannya. Mereka telah kehilangan sentuhan makna spiritual dalam hidupnya.

Lantas bagaimana menghidupkan kehidupan dalam diri kita? Mulailah dengan menghidupkan modal spiritual dalam diri kita sebagai bagian yang seimbang dalam menjalani kehidupan.

Dalam kehidupan ini, kita memiliki modal intelektual, modal emosional, modal sosial, modal fisik dan modal spiritual. Hidup yang hanya selalu meningkatkan modal intelektual dan modal emosional yang mengedepankan rasionalitas dan logika, tidak akan mengantarka manusia benar-benar hidup dalam kehidupannya. Hidup menjadi tidak bernilai tinggi meskipun keberhasilan luar mungkin didapatkannya.

Meskipun menjadi kaya dengan harta berlimpah, namun hartanya tidak memberikan keutamaan bagi kehidupannya. Meskipun memiliki kedudukan sebagai general manager, sebagai direktur, sebagai pengusaha, kedudukannya tidak akan meninggikan nilai dirinya dalam kehidupan. Meskipun seolah memiliki kehidupan luar yang mengagumkan, namun hatinya dipenuhi kegelisahan. Hidup seperti hampa dan memiliki kemiskinan hati.

Bagaimana Menghidupkan Modal Spiritual?
1. Menyadari posisi diri
Bertanyalah kedalam hati untuk mengenali hakekat kehidupan kita sesungguhnya. Bertanyalah kedalam hati, untuk apa kita hidup dan mengapa kita hidup di dunia ini. Apa yang sesungguhnya saya perjuangkan dalam kehidupan ini? Pertanyaan ini akan menggiring Anda menemukan siapa Tuhan kita sebenarnya dan apa tujuan tertinggi kehidupan kita.

Dengan mengenali siapa sebenarnya Tuhan kita dan apa tujuan tertinggi kehidupan kita, akan menuntun kita untuk menyadari posisi diri kita dalam kehidupan ini. Kita adalah "hamba" Tuhan Yang Maha Kuasa. Kesadaran posisi diri ini akan menuntun kita untuk memenuhi kehidupan hanya untuk "menghamba" atau mengabdi kepada Tuhan Sang Pencipta. Menggunakan hidup hanya untuk kepentingan ibadah kepada Allah SWT. Bekerja adalah ibadah. Berbisnis adalah ibadah. Inilah proses awal dari kehidupan spiritual dalam diri kita.

2. Menghidupkan talenta dan potensi diri kita
Manusia memiliki keunikan bakat, karakter, dan kepribadian yang tidak mungkin sama satu dengan lainnya. Menjadi kewajiban setiap individu untuk mengenali keunikan bakat, karakter dan potensi dalam dirinya, kemudian mengembangkannya dalam kehidupan ini. Menghidupkan talenta yang menjadi karunia dalam diri kita. Mengasah dan mempertajam potensi dalam diri kita untuk meraih prestasi terbaik di dunia untuk tujuan kehidupan selanjutnya.

Kehidupan tidak berhenti ketika kematian datang, namun akan diteruskan dalam kehidupan yang panjang di kehidupan selanjutnya. Pertanggungjawaban kita adalah pada hari akhir nanti di sidang Allah SWT. Maka gunakan prestasi kehidupan untuk menjadi bekal bagi pertanggungjawaban kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa di hari akhir nanti.

3. Menghargai kehidupan
Hidup bukan hanya untuk diri sendiri. Hidup bukanlah semata-mata untuk diri kita sendiri, melainkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain dan kehidupan. Hidup kita ini sangat mengagumkan dan kita perlu menghargai hidup ini. Menghargai HIDUP berarti menggunakan hidup untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Mereka yang menghargai HIDUP-nya, akan lebih dekat dengan kemudahan dan keberuntungan, sehingga membuat hidupnya menjadi lebih hidup. Sebaliknya mereka yang tidak menghargai HIDUP-nya, hanya memikirkan dirinya sendiri, akan lebih dekat dengan kesulitan dalam kehidupannya, sehingga hidupnya menjadi hampa.

Bagaimana caranya menghargai HIDUP kita? Apa yang harus dilakukan dalam menghargai HIDUP, sehingga membuat hidup menjadi lebih bermakna?

3.1. Mengubah orientasi hidup dengan memikirkan orang lain
Pikirkan sejenak, apakah Anda sering memikirkan diri sendiri dibandingkan orang lain? Misalnya berpikir bagaimana memenuhi keinginan sendiri, ingin rumah lebih mewah, ingin mobil lewah besar, ingin penghasilan lebih tinggi, ingin lebih kaya, dll. Kalau hal itu yang selalu memenuhi benak pikiran kita, itu artinya kita hanya berpusat pada diri sendiri. Hanya memikirkan dan mementingkan diri sendiri.

Mulailah mengubah pusat hidup kita menjadi banyak memikirkan orang lain. Misalnya memikirkan bagaimana membantu fakir miskin yang kesulitan membeli sembako, bagaimana membantu pekerjaan bagi pengangguran, membantu orang tak berdaya, memikirkan orang yang kurang rejeki, orang yang tidak pernah dibantu hidupnya. Itu artinya kita sudah mulai memikrikan orang lain. Ini akan membawa kita lebih dekat dengan kemudahan dan keberuntungan dalam hidup.

3.2. Meningkatkan empati kepada orang lain
Bersikap empati kepada orang lain merupakan salah satu cara menghargai HIDUP kita. Bersikap empati berbeda pengertiannya dengan sikap simpati. Sikap simpati lebih merupakan kesepakatan penilaian terhadap orang lain. Sedangkan sikap empati lebih menekankan pada mengerti orang lain, memahami kondisi orang lain secara emosional dan intelektual. Artinya kita menggunakan ketajaman mata hati untuk memperhatikan kebutuhan orang lain, berusaha melihat kesulitan orang lain.

Bersikap empati, sederhananya memandang keluar melalui kerangka pikiran orang lain, atau melihat dunia dan hubungan dengan orang lain melalui kaca mata orang lain.

Bagaimana caranya? Kita dapat memulainya dengan menumbuhkan pemahaman dan perasaan dari dalam jiwa kita. Menanamkan tekad dari dalam hati untuk mengutamakan kepentingan orang lain. Memiliki kerendahan hati, kesediaan berbagai kebaikan dengan orang lain. Memiliki kesediaan hati berbagai kegembiraan disaat memperoleh kemenangan dan memberikan dorongan disaat mengalami kesulitan.

3.3. Banyak melepaskan energi positif
Melepaskan energi positif artinya banyak melakukan pekerjaan dan tindakan positif. Memandang hidup ini dari kaca mata positif dan banyak melakukan hal-hal positif.

Pernahkah Anda merasakan kebahagiaan pada saat menolong orang yang mengalamai kesusahan? Pernahkan dan amerasakan kebahagiaan disaat dapat membantu kesulitan orang lain? Itulah sesungguhnya kebahagiaan yang menyentuh aspek spiritual. Kebahagiaan seperti ini akan memberikan arti bagi kehidupan dan makanan bagi jiwa kita. Menolong orang lain adalah pekerjaan positif, artinya kita melepaskan energi positif kepada orang lain.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk melepaskan energi positif ini, diantaranya mungkin anda punya semangat, punya ide, punya solusi bagi orang lain, maka berbagilah dengan orang lain. Semakin banyak anda melakukan pekerjaan positif, semakin banyak energi positif yang keluar dan semakin banyak yang akan kembali Anda terima. Mungkin anda akan menerimanya dalam bentuk kebahagiaan hati, kepuasaan jiwa, ketenangan hidup, keberhasilan, kemudahan rezeki, dll.

4. Bertawakal kepada Allah SWT
Hidup ini hanyalah ‘pemberian’ dari Yang Maha Kuasa. Dialah yang berkuasa mengambilnya kembali. Dia pulalah yang berkuasa memberikan kemudahan, keberhasilan atau kesulitan dalam kehidupan kita. Tentunya itu semua bermula dari bagaimana cara kita menghargai hidup yang sudah diberikan oleh-Nya.

Bertawakal artinya berserah diri kepada Allah SWT dan bersyukur menerima kehidupan ini sebagai karunia istimewa dari-Nya. Bersabar dalam menghadapi bergbagai ujian dan kesulitan kehidupan. Meskipun demikian, tidak berarti kita hanya menerima apa adanya, kemudian menyerah dengan keadaan. Namun tidak pernah berhenti dalam berikhtiar melalui usaha lahiriah yang cerdas dan keras untuk meraih prestasi kehidupan.

* Eko Jalu Santoso adalah founder Motivasi Indonesia. Ia dapat dihubungi di: motivasiindonesia@yahoogroups.com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman