Kamis, 13 November 2008

Muhidin M. Dahlan: Saya adalah Nabi Kegelapan






Berani! Itulah kesan yang tertangkap pada sosok anak muda asal Sulawesi ini. Muhidin M. Dahlan, novelis yang lahir tahun 1978, ini telah mewarnai dunia sastra Indonesia dengan torehan pena yang tajam. Mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ini memang telah gagal dalam menyelesaikan studinya di Universitas Negeri Yogyakarta dan IAIN Sunan Kalijaga. Namun, ia yang akrab dipanggil Gus Muh ini ternyata mampu berbicara melalui karya sastra.

Ia bahkan telah menggoresi hati sejumlah kalangan dengan beragam kesan. Betapa tidak? Penulis tak kurang dari tujuh novel ini sempat mengguncang dengan novel-novelnya seperti Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur (2003), Adam Hawa (2005), dan Kabar Buruk dari Langit (2005). Muhidin seperti membenarkan sinyalemen belakangan ini, bahwa telah muncul kembali cara-cara pemahaman dan penerjemahan nilai-nilai agama secara sempit atau sektarian.

Muhidin sendiri adalah “alumni” dari komunitas yang sangat membenci Pancasila dan menganggap membom gereja adalah sebuah prestasi. Tapi, ia berhasil memerdekakan diri dari belenggu indoktrinasi semacam itu. Berbekal kesadaran dan pencerahan yang diperolehnya, ia mulai melakukan otokritik. Namun, Muhidin tidak hendak menyatakan kritiknya itu dengan ramai-ramai demonstrasi di jalan. Ia memanfaatkan kekuatan dan ketajaman pena sebagai medium penggugah kesadaran dan penyebar daya otokritik. Muhidin menggugat dengan sastra, dengan tulisan, salah satu cara yang elegan dalam berpolemik.

Alhasil, dia bukan saja menerima komentar, sanggahan, atau kritikan, tapi juga memanen kecaman dan kutukan. Novelnya Adam dan Hawa telah membuat Majelis Mujahidin Indonesia gerah dan melayangkan somasi kepadanya. Lalu, di berbagai kesempatan bedah karyanya, Muhidin disumpahi dan dilaknat. Ia masih sedikit lebih beruntung ketimbang Ulil Abdala yang sempat dihadiahi fatwa hukuman mati oleh suatu kelompok muslim. Walau begitu, dalam sebuah diskusi karyanya Muhidin sempat dianugerahi gelar Nabi Kegelapan.Luar biasa!

Dengan segala kontroversinya, kehadiran Muhidin dengan karya-karya alternatifnya itu layak diapresiasi. Di tengah-tengah masyarakat yang lebih suka memaksakan “kaca buram” untuk melihat dan menilai diri sendiri, Muhidin membawakan semangkuk “air sastra” nan jernih yang bisa dipakai untuk berkaca dan mengkritisi diri. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari Pembelajar.com dengan Muhidin:

Anda dikenal sebagai salah satu penulis yang cukup berani “mengobok-obok” wilayah ketuhanan dalam novel-novel Anda. Mengapa mengambil posisi demikian?
Yang perlu ketahui awal-awal, saya dibesarkan di lingkungan masjid. Saya jadi takmir masjid beberapa tahun, dilatih berkhotbah, dan men-training anak-anak remaja untuk militan beragama. Dan, kalau bisa berprestasi membom gereja dan membenci Pancasila sedalam-dalamnya. Dan, pada satu titik balik, saya disadarkan bahwa apa yang saya lakukan adalah kebodohan diri saya sendiri yang memang tak kenal dunia luar. Tak kenal buku. Jogja telah memurtadkan saya atas semua apa yang saya panggul dari kemasalaluan saya, di kota udik Sulawesi sana.

Dalam beberapa karya Anda seperti Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, Adam Hawa dan Kabar Buruk dari Langit, Anda berani sekali melakukan semacam otokritik dan pembongkaran terhadap kepalsuan-kepalsuan dalam kehidupan religiusitas. Apa tujuan Anda?
Ya, seperti saya bilang dari awal. Tujuan saya adalah mendialogkan kembali apa-apa yang berlalu, yang saya alami, dan apa-apa yang berada di hadapan saya. Terlalu naif bila ada orang bilang saya merusak nilai-nilai agama, mendidik anak-anak muda untuk berpaling dari agamanya yang besar ini. Saya ini siapa? Saya ini nggak ada apa-apanya dibanding para pengkhotbah agama itu. Muhidin itu siapa toh?

Anda tidak takut menghadapi reaksi kelompok-kelompok tertentu yang tidak setuju dengan pandangan-pandangan Anda tersebut?
Saya menganggap kelompok ini teman-teman saya. Sebab, saya juga punya hubungan ke mereka. Maklum, saya pernah bergiat di kelompok-kelompok pengajian dengan tarikan garis yang sama-sama militan. Tapi awalnya saya merinding juga ketika saudara-saudara seiman saya itu mencerca. Misalnya, sewaktu salah satu pembicara dari kelompok Hizbut Tahrir menyerang saya secara terus-menerus dalam bedah buku Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! (TIAMP!) di Fakultas Hukum UGM. Sejak awal panitia sudah mentestimoni, bahwa diskusi akan panas. Sebab, beberapa hari sebelumnya sejumlah percetakan menolak mencetak pamflet diskusi buku itu. Dan benar saja, saya diserang dari samping dan depan. Hizbut Tahrir menuduh saya sebagai marxis dengan kebencian kepada agama yang aduhai... Saya adalah “nabi kegelapan”. Bahkan saya disumpahi masuk neraka dan murtad. Siapa yang nggak merinding dibilang murtad? Konsekuensi murtad itu berat lho! Mengikuti definisi salah satu intelektual Ikhwanul Muslimin, Yusuf Qardhawi, saya itu bila murtad akan diusir dari negara dan hak-hak saya dirampas paksa. Saya harus bercerai dengan istri saya, saya harus meninggalkan anak saya. Berat toh?! Dari peserta juga menyerang, membentak-bentak, dan suruh saya disembelih saja! Pusing saya menghadapinya. Bukan cuma itu, di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, saya dikeroyok oleh sekitar 1.500 peserta dan dikatai tukang fitnah yang kejam. Saya ini mereka tuduh telah mencemarkan kampus itu, yang mereka klaim sebagai latar cerita dan tokohnya kuliah di kampus itu. Dua kali saya disidang tim dosen untuk me-rechek soal kebenaran dalam buku itu. Setahun saya absen menulis gara-gara kasus buku ini. Setahun itu saya hanya sibuk menangkis serangan yang berulang-ulang dan itu-itu saja, ya di Jogja, Jakarta, Magelang, Malang, Jombang, Makassar, bahkan sampai Palu.

Lalu tentang Adam Hawa yang juga disomasi itu?
Ini yang tak terduga. Yang saya risaukan dan bikin saya deg-degan adalah nasib buku Kabar Buruk dari Langit, jangan-jangan diserang juga. Tapi tidak. Malah Adam Hawa yang kena jerat. Majelis Mujahiddin Indonesia yang memperkarakan novel itu dari resensi di Media Indonesia. Dan somasi itu bukan hanya kepada saya, tapi juga ke pemimpin redaksi Media Indonesia. Saya dituduh yang seram-seram, telah meneror Allah, menghina sejarah nabi, dan disuruh minta maaf. Siapa mau minta maaf? Enak saja mereka! Tapi nggak tahu kasusnya meredup gitu saja setelah kasus Lia Aminuddin membesar. Mungkin mereka sudah menangkap tokoh Taman Eden-nya di Jakarta Pusat, ha ha ha ha.

Pendapat Anda terkait ancaman hukuman mati terhadap Salman Rusdi, penulis novel Ayat-Ayat Setan atau kasus Ulil beberapa waktu lalu?
Ini soal kedewasaan beragama. Ini juga soal terlalu inferioritasnya umat Islam ini. Kalau memang agama ini kuat, masak hanya buku Rushdie dan ide nakal Ulil bisa luluh-lantak ini agama? Yang benar saja! Lemah betul ini agama kalau begitu... Bertandinglah yang fair. Jangan unjuk sana unjuk sini dengan menenteng pedang dan menggertak-gertak. Bantah dengan alat yang setimpal. Kalau Rushdie nulis buku, bantah dengan buku. Saya kira itu yang lebih dewasa. Tarunglah dengan buku, saudara...

Nilai-nilai apa yang sebenarnya Anda perjuangkan melalui novel-novel Anda selama ini?
Ingin menilai dan mengadili diri sendiri secara jujur dan terbuka. Bahwa, dalam tubuh umat Islam itu sendiri masalah bertumpuk-tumpuk dan boroknya juga banyak. Sejarah umat ini pun adalah sejarah yang dikobarkan dengan darah. Mengerikan sekali. Bahkan sisa-sisanya masih terlihat dengan banyaknya para penenteng pedang di pinggir-pinggir jalan.

Seberapa banyak penulis lokal yang memiliki pandangan atau visi perjuangan semacam itu?
Saya tak tahu persis. Tapi beberapa anak muda di NU dan Muhammadiyah juga gelisah dengan diri dan dalam perut organisasi yang selama ini melahirkan mereka. Dan ini sah-sah saja.

Dari sisi Anda sebagai seorang penulis, apa perbedaan utama di masa Orde Baru lalu dengan masa sekarang ini?
Kebebasan. Ya, kebebasan yang tiba-tiba saja datang membandang. Bahkan negara pun tak sanggup menahannya.

Dari sisi kebebasan berkarya, beraspirasi, dan beridiologi, apakah Anda melihat adanya tanda-tanda pergeseran otoritarianisme dari negara (vertikal) ke masyarakat (horisontal)?
Iya. Saya secara pribadi merasakannya bagaimana harus berhadapan langsung dengan masyarakat yang tiba-tiba lebih polisi dari polisi. Padahal, sejak kecil saya sudah takut lihat polisi, ha ha ha.... Tapi ini masih tataran wajar dalam sebuah masyarakat yang selama ini dikekang habis-habisan haknya untuk berpendapat. Ntar dewasa sendiri juga. Yang penting pemerintah harus kuat dan konsekuen dalam menegakkan hukum agar kepercayaan masyarakat ini kepada negara sebagai pelindung bisa pulih lagi.

Sekarang menyangkut proses kreatif. Faktor apa yang paling berpengaruh terhadap produktivitas menulis?
Ketegangan dalam diri sendiri. Kegelisahan yang mengambak-ngambak dalam pikiran. Semakin kuat keresahan itu, semakin mengalir tulisan itu. Lagi pula, saya nggak punya keterampilan lain selain menulis. Dan tentu saja bikin anak. Ha ha ha ha...

Dari mana ide-ide novel Anda datang?
Dari mana saja. Bahkan dari pertemuan tiba-tiba dengan seorang teman. Novel TIAMP! adalah novel yang jadi tatkala temanku yang berjilbaber pingin jadi pelacur. Lalu ia bercerita dengan sangat lancar seminggu lamanya di tiga kampus. Lalu saya tulis seminggu. Saya edit seminggu. Lalu jadi. Yang menguras tenaga banyak adalah Kabar Buruk dari Langit. Saya harus mendaki pundak Merapi. Di Kali Adem yang beberapa waktu lalu udah hangus itu, saya dirikan tenda kecil. Tiap hari begitu selama enam bulan, kecuali Minggu karena ramai,. Di sana saya mencatat kelebatan imajinasi dan juga catatan dari buku-buku sejarah tentang Islam Sufi di abad 17 di Indonesia. Novel Adam Hawa lebih ringan. Cukup saya duduk setiap malam selama sepekan di depan Benteng Vredeburg Jogja sampai subuh, lalu saya menulis ulang kisah Adam yang tak terceritakan dalam Kitab Suci. Dengan hati berbunga-bunga saya menuliskannya, bahkan tertawa terbahak-bahak sendiri seperti orang gila di Malioboro. Untuk menangkap bentuk Pohon Quldi, saya melihat secara seksama pohon beringin di depan kraton itu.

Anda termasuk cukup berani dan punya kekuatan dalam hal pemilihan judul-judul novel. Seberapa berpengaruhnya judul dalam sebuah novel?
Judul itu penting, tapi tak selamanya demikian. Ada juga judulnya biasa-biasa saja tapi menarik perhatian dan bahkan melegenda. Judul-judul buku Pram biasa-biasa saja, bukan? Tapi perbedaan karakter dan pengalaman setiap penulis menjadi pembeda bagaimana mereka menorehkan judul.

Anda percaya anggapan bahwa judul yang menohok atau kontroversial pasti menarik perhatian pembaca?
Bagi saya pribadi, judul-judul memukul dan mematikan yang demikian, seperti sudah sangat akrab dan mungkin menjadi karakter karya-karya saya. Bahkan dalam menuliskan esai sekalipun. Entah sebuah judul menarik perhatian pembaca atau tidak, saya tak terlalu memikirkannya. Karena sebelum bangunan cerita jadi, saya sudah mengutak-atik judul. Sebab, judul itu yang menjadi pemandu saya dalam menuliskan isi cerita itu. Jadi bukan tor atau bagan karangan kayak di SMP-SMA itu lho, tapi judul. Nah, untuk bisa sampai ke tangan pembaca, biarlah penerbit punya urusan itu. Sebab bagi saya, menulis itu kerjaan penulis. Mereka disebut penulis kalau menulis. Benar kan, begitu? Soal bagaimana judul, kembalikan ke setiap penulis yang macam-macam karakternya itu.

Siapa atau karya-karya apa yang paling mempengaruhi Anda?
Pramoedya Ananta Toer. Dia master saya. Mas Edy, saya itu sampai 2001 satu masih menyimpan ketaksukaan yang akut pada sastra. Bayangkan, sebelum-belum itu saya tak suka sastra. Kasihan sekali. Itulah, karena di sekolah STM dan dalam kelompok organisasi yang saya masuki itu, sastra itu nggak disentuh sama sekali. Bacaan sehari-hari ya Quran dan buku-buku agama. Itu pun buku fiqih. Juga ideologi kebencian terhadap ideologi Pancasila. Jadi wajar kalau di kampus dulunya saya heran, kenapa ada orang masuk jurusan sastra Indonesia? Memalukan sekali saya itu. Tapi Pram menyelamatkan saya dari kebencian barbar itu. Walau saya berbeda sama sekali dengan tema-tema yang dipilih Pram, tapi spirit menulisnya yang gigih dan tak kenal lelah menjadi pendorong untuk menulis cerita. Dan saya tahu, karya-karya saya nggak bagus. Tapi Pram menasehati, tulis terus apa yang kamu alami, jangan takut dikritik, lama-lama mereka juga akan melirikmu. Makanya, ketika master itu meninggal, saya dan beberapa kawan persembahkan sebuah buletin edisi khusus untuk Pram. Pengantar keberangkatan kepada seorang guru.

Dalam dunia kepenulisan, ada dikotomi klasik: penulis idealis dan penulis nonidealis alias pasar. Pendapat Anda?
Nggak ada! Dan saya tak percaya dengan dikotomis itu. Itu kerjaan kritikus. Dan itu hak mereka. Benar-benar saja. Kalau saya ditanya, ya semuanya saya perlakukan sama. Karya Akmal Basral yang intelektuil sama saja derajatnya dengan karya Fredy S yang sering membuat basah celana itu. Tinggal suka-suka pembaca memilih. Terkadang orang butuh kesegaran, maka mereka membaca yang ringan-ringan saja. Kan dunia ini tak harus dipenuhi oleh karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana yang supraberat itu, tapi juga novel Motinggo Busye yang sering bikin jakun naik-turun, itu harus ada. Untuk keseimbangan anatomi tubuh. Masalahnya, produksilah sebanyak-banyak buku, sebanyak-banyaknya cerita. Jangan takut overload. Kita butuh sebanyak-banyaknya penulis.

Sebagai penulis, Anda meletakkan diri di “posisi” mana?
Ha ha ha, saya ini hanya, kalau boleh meminjam pendapat Emha Ainun Nadjib, penulis kelas slilit. Tahu slilit, kan? Itu lho, sampah kecil yang menyergap di sela-sela gigi. Di situlah posisi saya. Kecil, jelek, ampas, bau, tapi jelas sangat mengganggu kenyamanan Anda sebelum ia dilenyapkan. Bahkan, bisa membuat Anda sakit gigi. Tapi walau begitu, slilit bisa menghidupi ribuan orang lho. Lha, sampai-sampai ada industri tusuk gigi kan? Ini juga soal, kenapa tidak dinamakan tusuk slilit? Kan yang ditusuk slilit. Bahkan menyebutnya pun orang malu. Nah, Mas Edy, di situ itu posisi saya. Menyebutnya pun orang malu.

Definisi penulis yang sukses dan berarti menurut Anda?
Kalau saya membikin Anda sakit gigi beberapa hari....ha ha ha .... Akhir cerita saya jarang berakhir bahagia, seperti orang sakit gigi.

Ok, karya apa lagi yang sedang Anda siapkan?
Novel psikologi. Beberapa waktu lalu saya berjumpa seorang perempuan cantik, putri kiai di pesantren Bekasi yang sekarang kuliah di Ciputat. Saya sudah mewawancarainya di Bogor. Diam-diam dia berencana membunuh ibunya sendiri. Itu tema yang sedang saya garap sekarang. Semoga slilit yang ini tak membikin orang sakit gigi. Judulnya: Kalian Harus Tahu Kenapa Aku Membunuh Ibuku.[ez]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman